BAB II
KERANGKA TEORETIK
A. Tinjauan Teori Tentang Pembelajaran Berbasis Praktik
1. Pengertian Pembelajaran Berbasis Praktik
Secara etimologis kata pembelajaran berasal dari kata dasar belajar
yang merupakan turunan dari kata ajar dengan imbuhan be dan –ar. Dengan
demikian pembelajaran mencerminkan proses aktif untuk memperoleh dan
mengembangkan ilmu atau keterampilan melalui pengalaman, studi, atau
penelitan.1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemahaman adalah
proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. 2 Instruction atau
pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses
belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun
sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses
belajar.
Menurut Trianto, pembelajaran adalah aspek kegiatan yang kompleks
dan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya. Secara sederhana, pembelajaran
dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjtan antara pengembangan
dan pengalaman hidup. Pada hakikatnya, Trianto mengungkapkan bahwa
pembelajaran merupakan usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan
1
Pusat Bahasa Departemen Pendidi11!kan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008), 147.
2
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka, 2003), hal. 811
peserta didiknya (mengarahkan interaksi peserta didik dengan sumber belajar
lain) dengan maksud agar tujuannya dapat tercapai.3
Dari penjelasan diatas dapat diartikan bahwa pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik
agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta
didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta
didik agar dapat belajar dengan baik.4
Secara etimologis, kata praktik berasal dari bahasa Yunani praktikos,
yang berarti "berkaitan dengan tindakan" atau "siap untuk bertindak”. Ini
menunjukkan bahwa praktik merujuk pada tindakan nyata yang dilakukan
berdasarkan pengetahuan atau keterampilan tertentu. Dalam ranah pendidikan
maupun dunia kerja, penerapan praktik memiliki peran sangat penting dalam
menguji kebenaran suatu teori. Metode pembelajaran berbasis praktik
membuat proses belajar menjadi lebih optimal karena peserta didik secara
langsung mengaplikasikan teori yang telah mereka pelajari. Melalui kegiatan
praktik, siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga
memperoleh pemahaman mendalam melalui pengalaman nyata. Hal ini dapat
3
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif (Jakarta: Kencana, 2009),
hlm. 19.
4
Dr. Ahdar Djamaluddin, [Link]., [Link]., [Link].I & Dr. Wardana, [Link].I, Belajar dan
Pembelajaran (Yokyakarta : Kaffah Learning Center, 2019), 13.
memperkuat ingatan, melatih kemampuan berpikir kritis, serta menumbuhkan
rasa percaya diri dalam menerapkan ilmu di berbagai situasi praktis.5
Metode praktik langsung adalah metode yang dilakukan oleh guru
dengan cara melakukan praktik secara langsung sesuai dengan materi yang
akan disampaikan kepada anak-anak. Dengan penggunaan metode praktik
langsung siswa akan lebih mengaplikasikan materi yang disampaikan oleh
guru. Disamping itu siswa juga mampu membuktikan dan mempercayai
sebuah teori setelah ia melakukan praktik.6 Praktik langsung merupakan
pengalaman pendidikan yang melibatkan anak secara aktif dalam manipulasi
objek untuk menambah pengetahuan atau pengalaman. Kegiatan praktik
langsung adalah kegiatan menggunakan objek, berupa makhluk hidup maupun
benda mati, yang tersedia secara langsung untuk penelitian.
Dari penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa metode praktik
langsung ialah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada anak
secara langsung untuk memahami suatu teori serta mengeksplor
kemampuannya sendiri. pemahaman konsep tentang metode praktik
langsung dapat meningkatkan daya pikir anak sehingga mereka dapat
memahami materi dengan baik. Pemahaman konsep ini dapat diketahui
dari perilaku anak yang mampu memahami materi dengan baik dan mereka
bisa aktif serta mengingat daya fikir dengan baik. Dengan begitu anak dapat
6
Munthe, Z, Strategi Pembelajaran Aktif. (Yogyakarta: Pustaka Insan Madanis, 2008), 251
memiliki kemampuan untuk menjelaskan materi sesuai dengan konsep dan
teorinya.
Sedangkan yang disebut dengan pembelajaran berbasis praktik adalah
pendekatan yang paling relevan dalam menyiapkan peserta didik untuk
menghadapi tantangan nyata di dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini menekankan bahwa belajar tidak cukup hanya dengan
memahami teori, tetapi juga harus mampu menerapkannya dalam konteks
nyata. Dalam dunia yang terus berkembang, terutama di era revolusi industri,
kemampuan kognitif saja tidak lagi cukup; keterampilan praktis, berpikir kritis,
dan problem solving menjadi sangat penting.
2. Tujuan Pembelajaran Berbasis Praktik
Pembelajaran Berbasis Praktik adalah salah satu cara yang
ditempuh dalam mencapai tujuan pembelajaran dimana
seorang pendidik diharapkan menciptakan kondisi yang baik,
yang memungkinkan setiap peserta didik dapat
mengembangkan kreatifitasnya dengan efektif. Dalam
meningkatkan pemahaman ibadah, maka diperlukan teknik
dan metode yang mampu mengembangkan kemampuan
memahami ibadah yaitu dengan cara menerapkan
pembelajaran berbasis praktik.
Tujuan pembelajaran berbasis praktik yaitu agar siswa terampil
melakukan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Aspek psikomotor
dalam pengajaran agama dapat dibuat dengan mudah, yaitu menyebut bagian-
bagian pelajaran agama yang menyangkut keterampilan melakukan, seperti
keterampilan berwudlu‟, keterampilan melakukan gerakan shalat dan
keterampilan memandikan jenazah.7
Metode praktik langsung atau drill method adalah metode yang
membuat siswa aktif, Metode ini dikenal sebagai metode yang mengajarkan
latihan-latihan kepada siswanya. Tujuan dari metode ini adalah membuat anak
aktif.8 Metode praktik Langsung dipilih karena sesuai dengan karakter siswa
yang hiperaktif. Jika siswa hanya mendengarkan materi atau menyimak
pelajaran, pasti siswa tersebut tidak mampu menyelesaikan pelajaran dengan
baik.9
3. Macam-macam Pembelajaran Berbasis Praktik
Belajar di masa sekarang tidak cukup hanya memahami teori. Siswa
juga perlu mendapat pengalaman langsung dan keterampilan praktik. Hal ini
penting karena dunia kerja menuntut kemampuan berpikir kritis, kerja sama,
dan keterampilan teknis. Pembelajaran berbasis praktik menjadi solusi untuk
7
Ahmad Tafsir, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1990), 91.
8
Wati Istanti, "keefektifan Metode Praktik Langsung dan Metode Audio Lingual dalam
Pembelajaran BIPA Aspek Berbicara bagi Pemelajar BIPA 4 UNNES", Jurnal pendidikan bahasa dan
sastra Indonesia, Vol. 8 No. 2 (2019).21.
9
Setioko, Wahyu, dkk. Ruang belajar Kumpulan Metode Belajar Kreatif dan Penjuru
Nusantara. (Jakarta: PT Gramedia pustaka utama, 2015). 120.
menghubungkan pelajaran di kelas dengan situasi nyata. Dengan cara ini,
siswa bisa lebih mudah menerapkan apa yang telah mereka pelajari.
Selanjutnya, kita akan membahas berbagai jenis pembelajaran berbasis praktik
yang bisa diterapkan dalam pendidikan.
a. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi melibatkan guru dalam memperagakan suatu
proses atau keterampilan di depan siswa. Tujuannya adalah agar siswa
dapat memahami langkah-langkah secara konkret sebelum mencoba
sendiri. Menurut Djamarah, metode ini efektif untuk materi yang
memerlukan pemahaman prosedural dan visualisasi langsung.10
b. Metode Praktik Langsung
Metode ini melibatkan siswa dalam melakukan aktivitas atau tugas
secara langsung sesuai dengan materi yang dipelajari. Menurut Munthe,
praktik langsung memungkinkan siswa mengaplikasikan teori ke dalam
tindakan nyata, sehingga meningkatkan pemahaman dan keterampilan.11
c. Metode Simulasi
Simulasi adalah metode pembelajaran yang meniru situasi nyata
dalam lingkungan yang terkendali. Menurut Sanjaya, simulasi membantu
10
Djamarah, Syaiful Bahri & Zain, Aswan. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002). 120
11
Munthe, B. Desain Pembelajaran(Yogyakarta : Pustaka Insan Madani, 2008). 45
siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pengambilan
keputusan dalam konteks yang menyerupai dunia nyata.12
d. Metode Role Playing (Bermain Peran)
Metode ini melibatkan siswa dalam memainkan peran tertentu
untuk memahami perspektif dan emosi orang lain. Menurut Hamalik, role
playing efektif untuk mengembangkan empati, komunikasi, dan
pemahaman sosial.13
e. Metode Eksperimen
Metode eksperimen memungkinkan siswa untuk melakukan
percobaan guna menguji hipotesis atau memahami konsep ilmiah. Menurut
Sudjana, eksperimen meningkatkan keterampilan berpikir ilmiah dan
pemahaman konsep melalui pengalaman langsung.14
f. Metode Magang atau Praktik Kerja Lapangan
Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar
dalam lingkungan kerja nyata. Menurut Sutrisno, magang membantu siswa
mengembangkan keterampilan profesional dan memahami aplikasi teori
dalam praktik.15
12
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2006), 204.
13
Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 30.
14
Sudjana, N. Metoda Statistika. (Bandung: Tarsito, 2005 ). 249–250.
15
Sutrisno, Edy. Manajemen Sumber Daya Manusia. (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2009). 221
Penelitian ini menerapkan metode praktik langsung karena dinilai
lebih mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa
dibandingkan metode lainnya.
4. Langkah-langkah Penerapan Metode Praktik Langsung
Langkah-langkah dalam menggunakan metode praktik langsung
disusun secara terstruktur guna memastikan peserta didik tidak hanya
memahami materi, tetapi juga mampu mengaplikasikannya. Setiap tahap
dirancang untuk mendorong siswa belajar secara aktif melalui keterlibatan
langsung dalam kegiatan praktik. Berikut adalah tahapan-tahapan yang
diterapkan dalam metode praktik langsung.
a. Langkah persiapan
1. Siapkan alat alat yang tepat untuk melakukan praktik
2. Jelaskan kepada murid gambaran umum praktik dan kaitannya
dengan topik yang sedang dipelajari , tujuan yang dicapai serta apa
yang diharapkan kepada murid.
b. Langkah Pelaksanaan
1. Instruksi kan kepada murid untuk melaksanakan langkah demi
langkah yang telah dijelaskan tadi.
2. Murid mulai melakukan praktik langsung
3. Ingatkan murid yang kurang serius agar fokus pada saat praktik
sedang berlangsung
4. Jika waktu masih tersedia, ulangi lagi sampai murid memahami
materi.
c. Langkah Evaluasi dan Penutup
1. Murid menanyakan hal yang belum dipahami tentang praktik tadi.
2. Guru memberikan kesimpulan dan memberikan tes evaluasi kepada
murid.16
5. Kelebihan dan Kelemahan Metode Praktik Langsung
Kelebihan dan kekurangan metode praktik langsung menurut Ilyas Al
Hamdulilah.
a. Kelebihan Metode Praktik Langsung
1. Siswa diberikan masalah sendiri dan diselesaikan sendiri.
2. Anak akan memiliki keterampilan yang tinggi karena telah
melaksanakan metode praktik langsung dalam pembelajaran.
3. Anak akan betul-betul memahami pemahaman materi.
4. Ranah psikomotor anak akan meningkat karena mereka telah mengalami
pembelajaran dengan praktik sehingga mereka sudah menghafal materi
dengan baik karena telah mengalami pembelajaran dan mendapatkan
pengalaman sendiri.
b. Kelemahan Metode Praktik Langsung
16
Gintings, Abdurokhman. Esensi Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta : Erlangga, 2010).
63-64.
1. Guru menyiapkan materi dan bahan bahan yang digunakan untuk
kegiatan praktik langsung.
2. Memerlukan guru yang pandai dalam memandu siswa melakukan
praktik secara langsung.
3. Siswa akan mendapatkan hasil belajar yang belum maksimal
dikarenakan mereka tidak percaya diri dan tidak berani.
4. Memerlukan waktu yang panjang.
5. Kesalahan praktik terletak pada kesimpulan pembelajaran.
Setiap metode pembelajaran mempunyai kelebihan dan
kekurangan tersendiri jadi, setiap guru harus mampu menyesuaikan
kebutuhan dan karakteristik anak didiknya agar pembelajaran dapat
tercapai secara optimal. Oleh sebab itu guru dalam memilih dan
menetapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.17
B. Tinjauan Teori Tentang Pemahaman Ibadah
1. Pengertian Pemahaman Ibadah
Pemahaman dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran. Karena itu
belajar berarti harus mengerti maksud dan implikasinya, sehingga
menyebabkan pembelajar dapat memahami suatu situasi. Pemahaman itu tidak
sekedar tahu, tetapi juga menghendaki agar pembelajar dapat memanfaatkan
bahan-bahan yang telah dipahami. Kalau sudah demikian, belajar akan bersifat
17
Ibid., 44.
mendasar. Kemudian perlu juga ditegaskan bahwa pemahaman bersifat
dinamis dan kreatif.18
Menurut Winkel dan Mukhtar dalam buku Sudaryono, mengatakan
bahwa pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk menangkap makna
dan arti dari bahan yang dipelajari, yang dinyatakan dengan menguraikan isi
pokok dari suatu bacaan atau mengubah data yang disajikan dalam bentuk
tertentu ke bentuk yang lain.19 Sementara Benjamin S. Bloom dalam buku
Anas Sudijono, mengatakan bahwa pemahaman (Comprehension) adalah
kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu
itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengerti
tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi.20
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwasanya
pemahaman disini dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk dapat
memahami atau menguasai suatu bahan materi ajar dalam suatu pembelajaran.
Pemahaman bukan hanya sekedar tahu, tetapi juga menginginkan siswa yang
belajar dapat memanfaatkan atau mengaplikasikan apa yang telah
dipahaminya. Apabila siswa tersebut memahami apa yang telah dipelajarinya,
maka siswa tersebut akan siap untuk menjawab pertanyaan yang diberikan
pada saat belajar.
18
Abdul Haling, Belajar dan Pembelajaran, (Makassar: Badan Penerbit UNM, 2006), hal:7
19
Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: CV. Graha Ilmu, 2012),
hal: 44
20
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009),
hal: 50
Ibadah secara etimologis berasal dari bahasa arab yaitu (– َعَبَد – َيْعُبُد
)ِع َباَدًةyang artinya melayani patuh, tunduk. Sedangkan menurut terminologis
ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai allah azza
wa jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzhahir maupun yang
bathin.21 Ibadah sendiri secara umum dapat dipahami sebagai wujud
penghambaan diri seorang makhluk kepada Sang Khaliq. Penghambaan itu
lebih didasari pada perasaan syukur atas semua nikmat yang telah dikaruniakan
oleh Allah padanya serta untuk memperoleh keridhaannya dengan
menjalankan titahnya sebagai Rabbul ‘Alamin.
Beberapa pendapat mengenai pengertian Ibadah adalah sebagai
berikut:
1. Ulama tauhid mengertikan Ibadah dengan beberapa pengertian, yaitu:
a. Ibadah dapat diartikan sebagai tujuan kehidupan manusia, sebagai
bentuk dan cara manusia berterima kasih kepada pencipta, sebagaimana
terdapat dalam surat Az-zariyat ayat 56:
وما خلقت الجن واالنس االليعبدون
Artinya: “ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka berIbadah kepada-ku.” (Q.S. Az-zariyat:56).22
21
Amin Syukur. Pengantar Studi Islam.( Semarang : CV. Bima Sakti, 2003), 80.
22
Anonim, Qur’an Hafalan Mudah,( Cordoba, Bandung 2019), Hal .523
b. Ibadah diartikan sebagai bentuk mengesakan Allah, dan tidak ada
sesuatu yang menyerupai-nya, sehingga hanya kepada Allah berIbadah,
sebagaimana terdapat dalam surat An-Nahl ayat 36:
ولقد بعثنا في كل امة رسوال ان اعبدوالل واجتنبوا الطغوت فمنهم من
هدى الل ومنهم منحقت عليه الضللة فسيروافى االرض فانظرواكيف كان
عقبة المكذب
Artinya:“dan sungguh, kami telah mengutus rasul untuk setiap umat
(untuk menyerukan), ‘sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut itu,
kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada
pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu dibumi dan
perhatikanlah bagaimana kesudahan sorang yang mendustakan
(rasulrasul) (Q.S. An-Nahl : 36). 23
Semua bentuk objek yang disembah manusia selain Allah,
merupakan thaghut, jalan setan yang mengajak ke dalam siksa api
neraka. Mengesakan Allah artinya mengagungkan dan meyakini
ketunggalan-nya serta menghinakan diri kita dan menundukan jiwa
kepadanya. Dengan demikian, Ibadah adalah tauhid, artinya
mengesakan Allah, Tuhan yang disembah , ketauhidan pada zat sifat dan
af ‘al-nya.
c. Ibadah diartikan sebagai upayah menjauhkan diri dari perbuatan syirik,
sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat Al-Isra’ ayat 23:
23
Anonim, Qur’an Hafalan Mudah,( Cordoba, Bandung 2019), Hal .271
23 ):وقضى ربك االتعبدوآاال اياه وبالوالدين احسنا (اإلسراء
Artinya:”dan Tuhanmu telah memerintakan agar kamu jangan
menyembah selain dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibuk bapak.”
(Q.S. Al-Isra’:23).24
d. Ibadah artinya membedakan kehidupan ilahiah dengan penganut Agama
selain Islam dan dengan orang-orang musyrik, sebagaimana disebutkan
dalam surat Al-Kafirun ayat 3 sebagai berikut:
وآلانتم عبدون مااعبد
Artinya:“Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.”
(Q.S. Al-Kafirun:3)
2. Ulama` akhlak menurut Hasbi Ash- Hidieqie mengertikan Ibadah sebagai
berikut.
a. Melaksanakan semua perintah Allah dalam peraktik Ibadah jasmani dan
rohani dengan berpegang teguh pada syari ‘at Islam yang benar. Ibadah
dalam arti taat sepenuh jiwa dan raga.
العمل بالطاعا ت البد نية والقيام بالشرائع
Artinya:“mengerjakan dengan penuh ketaatan jasmani dan
menegakan (amalanamalan) dengan syari ‘at.”
Dalam perspektif ilmu akhlak, Ibadah merupakan potret moralitas hamba
Allah yang tunduk dan patuh kepada semua perintah-nya dengan
24
Ibid. Hal .284
melaksanakan Ibadah jasmanilah yang dibenarkan oleh syari ‘at.
Misalnya, perintah mendirikan shalat maka pelaksanan shalat harus
mengikuti petunjuk Al-Quran dan As-Sunnah, mulai dari takbiratul ihram
sampai dengan mengucapkan salam terakhir.
b. Ibadah diartikan sebagi pencarian harta duniawi yang halal.
تسعة منها فى طلب الحالل,العادة عشرةأجراء
Artinya: “Ibadah itu sepuluh suku. Sembilan suku darinya terletak
dalam mencari harta yang halal.” (Riwyat As-Suyuthi)
3. Ulama tasawuf mengertikan Ibadah sebagai berikut.
a. ketundukan mutlak kepada Allah dan menjauhkan diri dari tundukan
pada hawa nafsu.
فعل المكلف على خال ف هوى نفسه تعظيمالربه
Artinya: “perbuatan mukalaf yang bertentangan degan hawa
nafsunya untuk mengagumkan kepada Tuhannya.”
b. Ibadah diartikan perbuatan yang menepati janji, menjaga perbuatan
yang melewati batas syari ‘at Allah, dan bersabar menghadapi
musibah.
c. BerIbadah berarti mengharap keridaan Allah mengharapkan pahala-
nya dan menghindarkan diri dari siksa-nya .
d. Ibadah diartikan sebagai upaya mewujudkan kemuliaan rohani yang
diciptakan dalam kadaan suci.
e. Ibadah dalam arti menjalankan kewajiban karena Allah berhak
disembah, tanpa ada pamrih sedikitpun.25
4. Pengertian menurut fuqaha.
Para fuqaha mengartikan Ibadah sebagai berikut.
a. Ketaatan hamba Allah yang mukallaf yang dikerjakan mencapai
keridaan Allah dan mengharapkan pahala-nya di akhirat.
b. Ibadah ialah melaksanakan segala hak Allah. Pekataan “ta’abbud”
diambil dari perkataan “abbudiyah” (menghambakan diri). Semua
bentuk ketaatan yang bersifat demikian (yakni dikejakan semata-mata
karena mencari keridaan Allah dan merupakan pekerjaan hati yang yang
bersifat rahasia dinamakan Ibadah.
Perbedaan definisi-definisi di atas seketika dapat dimengerti karena
belatar belakang pada kedisiplinan ilmu mereka. Hal ini bukan berarti pula
perbedaan yang berseberangan, perbedaan itu justru dapat dilihat pada
persamaan mereka yang terfokus pada diri manusia yang melakukan kebaikan.
Dengan pengetian-pengetian di atas, dapat disimpulkan bahwa makna
Ibadah adalah ketundukan manusia kepada Allah yang dilaksanakan atas dasar
keimanan yang kuat dengan melaksanakan semua perintahnya dan
meninggalkan larangan dengan tujuan mengharapkan keridaan Allah, pahala
25
Abu Hashr as-Sarraj. Al-Luma’ ( Risalah Gusti: 2002) Hal 39
surga, dan ampunannya. Beribadah kepada Allah harus diaksanakan
dengan ikhlas , dan ikhlas merupakan pekerjaan hati yang bersifat rahasia.
3. Tujuan Pemahaman Ibadah
Ibadah adalah aspek utama dalam kehidupan Muslim yang tidak hanya
berupa ritual, tetapi juga memiliki tujuan mendalam untuk mendekatkan diri
kepada Allah. Memahami tujuannya dengan baik penting agar ibadah
memberi dampak positif dan keberkahan dalam hidup. Adapun tujuan-tujuan
utama dalam pemahaman ibadah.
a. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT (Taqarrub ilallah)
Pemahaman terhadap ibadah membuat seseorang menyadari bahwa
ibadah adalah inti dari penciptaan manusia. Ibadah bukan sekadar kegiatan
ritual, tetapi merupakan manifestasi ketaatan dan pengakuan terhadap
keesaan Allah. Tanpa pemahaman, ibadah bisa menjadi formalitas yang
kosong dari makna. Dengan memahami tujuan ibadah, seorang hamba akan
melakukannya dengan hati yang tunduk dan penuh kesadaran spiritual.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56,
bahwa manusia dan jin diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada-Nya.
b. Menumbuhkan Kesadaran Moral dan Etika
Ibadah yang dipahami maknanya akan memberikan dampak positif
terhadap perilaku dan akhlak seseorang. Salat, misalnya, bukan hanya
kewajiban, tetapi sarana pembinaan diri. Orang yang memahami salat akan
berusaha menjauhi perbuatan keji dan mungkar, karena ia sadar bahwa
salat adalah benteng moral. Begitu juga zakat yang mengajarkan empati,
serta puasa yang menanamkan nilai kejujuran dan kesabaran.
c. Menghindari Kesalahan dalam Praktik Ibadah
Kesalahan dalam pelaksanaan ibadah bisa terjadi jika tidak ada
pemahaman yang benar. Banyak praktik ibadah yang tidak sah atau bahkan
menyimpang dari ajaran Islam karena dilakukan tanpa ilmu. Oleh karena
itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami tata cara, syarat, dan
rukun ibadah dari sumber yang shahih, agar amal ibadahnya diterima oleh
Allah SWT.
d. Membangun Keikhlasan dan Khusyuk
Keikhlasan adalah syarat utama diterimanya ibadah. Dengan
memahami tujuan dan hikmah ibadah, seseorang akan beribadah karena
Allah semata, bukan karena paksaan atau kebiasaan. Hal ini juga akan
menumbuhkan kekhusyukan dalam hati, karena ibadah yang disadari
maknanya akan menggugah perasaan dan menjauhkan dari kepura-puraan
(riya).
e. Menjadikan Ibadah sebagai Sarana Transformasi Sosial
Ibadah tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada
masyarakat. Zakat membantu pemerataan ekonomi, salat berjamaah
membangun solidaritas, dan haji menyatukan umat Islam dari berbagai
belahan dunia. Dengan pemahaman ini, ibadah akan dipandang sebagai
sarana untuk memperbaiki kondisi sosial dan memperkuat ukhuwah
Islamiyah.
f. Menjadi Jalan Menuju Kedamaian dan Kebahagiaan Hidup
Ibadah yang dipahami dan dijalankan dengan kesadaran penuh akan
membawa ketenangan batin. Koneksi spiritual yang kuat dengan Allah
menjadi sumber kedamaian yang tidak tergoyahkan oleh kondisi dunia.
Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa orang yang religius cenderung
lebih bahagia, optimis, dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
4. Macam-macam Ibadah
Ibadah dalam Islam mencakup lebih dari sekadar ritual, melibatkan
seluruh aspek kehidupan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Dengan
pemahaman yang tepat, kita dapat menjalankan amalan dengan benar dan
semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Penting untuk memahami berbagai
jenis pemahaman ibadah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Ibadah Mahdhah
Ibadah mahdhah atau ibadah khusus ialah ibadah yang apa saja
yang telah ditetapkan Allah akan tingkat, tata cara dan perincian-
perinciannya. Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah :
Wudhu,Tayammum, hadats, Shalat, Shiyam ( Puasa ), Haji, dan Umrah.
Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip:
a. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-
Quran maupun al- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh
ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya. Haram kita melakukan
ibadah ini selama tidak ada perintah.
b. Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan
diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan
izin Allah (QS. 64)
Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah,
dan apa yang dilarang, maka tinggalkanlah ( QS. 59: 7).
c. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini
bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah
wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang
disebuthikmah tasyri’. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah
mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau
tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari’at,
atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang
ketat.
d. Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah
ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa
yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan
dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama
diutus Rasul adalah untuk dipatuhi.
Rumus Ibadah Mahdhah adalah = ”KA + SS” (Karena Allah + Sesuai
Syariat).26
2. Ibadah Ghairu Mahdah
Ibadah ghairu mahdhah atau umum ialah segala amalan yang diizinkan
oleh Allah. misalnya ibadaha ghairu mahdhah ialah belajar, dzikir, dakwah,
tolong menolong dan lain sebagainya. Prinsip-prinsip dalam ibadah ini ada
empat, antara lain:
a. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang.
Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini
boleh diselenggarakan. Selama tidak diharamkan oleh Allah, maka
boleh melakukan ibadah ini.
b. Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya
dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada
yang menyebut nya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka
bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah
disebut bid’ah dhalalah.
c. Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya,
manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika.
Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat,
maka tidak boleh dilaksanakan.
26
Sahriyanshah, Ibadah dan Akhlak, (Yogyakarta : IAIN ANTASARI PRESS, 2014), 1-2.
d. Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh
dilakukan.
Rumus Ibadah Ghairu Mahdhah = ”BB + KA” (Berbuat Baik + Karena
Allah).27
5. Bentuk-bentuk Ibadah
Penelitian ini fokus pada tiga bentuk ibadah utama yang dianggap
paling penting dalam praktik keagamaan. Tujuannya adalah untuk
menganalisis dampaknya terhadap kehidupan spiritual dan sosial umat
Muslim. Ketiga bentuk ibadah tersebut sebagai berikut:
a. Shalat
Shalat menurut bahasa berasal dari bahasa arab yaitu As-sholah,
yang berarti doa.28 Sedangkan menurut istilah, para ahli fiqh
mendefinisikan shalat adalah serangakaian ucapan dan kegiatan yang
diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan
ketentuan dan syarat-syarat tertentu.29
b. Puasa
Puasa menurut bahasa arab adalah menahan dari segala sesuatu,
seperti makan, minum, nafsu, menahan bicara yang tidak bermanfaat dan
sebagainya. Menurut istilah yaitu “menahan diri dari segala sesuatu yang
27
Sahriyanshah, Ibadah dan Akhlak, (Yogyakarta : IAIN ANTASARI PRESS, 2014), 2-3.
28
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah
(Thaharah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji), Penerjemah: Kamran As’at Irsyady, dkk, (Jakarta: Bumi
Aksara,2013), 145.
29
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002), 53.
membatalkannya, dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat
dan beberapa syarat.30
Syarat-syarat sahnya puasa terdapat empat perkara yaitu beragama
Islam, berakal, suci dari haid dan nifas, serta waktu diperbolehkannya
puasa. Dalam berpuasa juga terdapat rukun yang harus dijalankan dan
tidak boleh ditinggalkan, rukun puasa itu sendiri meliputi niat dan
menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, baik berupa
syahwat perut dan kemaluan dari terbit fajar hingga terbenamnya
matahari.31
Berdasarkan hukumnya puasa dibagi menjadi 4, yaitu: (a) Puasa
wajib meliputi, puasa di bulan Ramadhan, puasa kafarat, dan puasa nadzar.
(b) Puasa sunah, antara lain: puasa senin dan kamis, enam hari pada bulan
Syawal, 10 Muharram dan tiap tanggal tiga belas, empat belas dan
limabelas Qomariah. (c) Puasa makruh, yaitu puasa dalam keadaan
sakit dan puasa sunnat pada hari Jum‟at atau hari Sabtu saja. (d) Puasa
haram, puasa yang dilakukan terus-menerus, puasa hari tasyrik dan
puasanya wanita yang sedang haid dan nifas.32
c. Tadarus Al-Qur`an
30
Sulaiman Rasid, Fiqih Islam, (Bandung:Sinar Baru Algesindo,2012), 220.
31
Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu 3, terj. Abdul Hayyie al- Kattani,
dkk( Depok:Gema Insani, 2011), 20-66.
32
Katolani, Ibadah Ritual dalam Menanamkan Akhlak Remaja, Inject, Interdisciplinary
Journal of Communication, Vol. 1, No. 2, Desember 2016:127-144.
Tadarus menurut kamus bahasa Arab adalah bentuk masdar dari
kata darosa yang artinya belajar. Tadarus berdasarkan wazan tafa’ala
menjadi tadarrosa. Kata kerja (fi’il) yang mengikuti wazan ini diantaranya
mempunyai makna lilmusyarakah (saling), dimana subyek (fa’il) dan
obyek (maf‟ul) secara aktif melakukan perbuatan secara bersamaan,
sehingga maknanya adalah saling mempelajari atau belajar bersama.
Istilah ini biasa diartikan dan digunakan dengan pengertian khusus, yaitu
membaca al-Qur’an semata-mata untuk ibadah kepada Allah dan
memperdalam pemahaman terhadap ajaran al-Qur’an.33
6. Implementasi Ibadah dalam Kehidupan Manusia
Islam adalah sebuah agama yang lengkap dan paripurna. Ia
mencakup segala aspek kehidupan mulai dari do`a bangun tidur di pagi hari
sampai tata cara dan adab tidur pada malam hari. Dari ide tentang penciptaan
manusia hingga hukum dan filosofi pemerintahan dan hubungan antar negara.
Bahkan, islam berkembangdalam perbandingan yang lurus dengan logika dan
ilmu pengetahuan. Maka sepantasnya seseorang yang mengaku sebagai umat
islam yang baik juga adalah seorang ideologis dan berilmu karena islam tidak
bisa diterapkan tanpa ilmu. Baik dalam aspek ibada, sama-sama tidak bisa
diterapkan tanpa ilmu pengetahuan. Karenanya, islam selalu memilki
rasionalisasi atas segala ajarannya dan selalu bisa dihadapkan dengan oposisi
biner baik dalam bentuk agama lain ataupun ilmu pengetahuan sekuler.
33
Ahsin W. al- Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2008), 280.
Ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepada manusia tidak
hanya mengenai ibadah kepadanya dengan selalu beramal kepada Allah SWT.
menaati perintah dan menjauhi larangannya. Manusia ditetapkan oleh Allah
SWT. sebagai makhluk paling mulia dan diutus ke muka bumi sebagai
pemimpin atau khalifah dan menjadi rahmatan lil `alamin. Manusia
merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa adanya manusia
lainnya. Untuk itu, Allah telah menetapkan amal-amal yang harus dikerjakan
manusia untuk manusia lainnya, dan memang sudah menjadi kodrat manusia
untuk selalu berbuat dan berakhlak baik kepada dirinya sendiri maupun
manusia lainnya. Contoh ibadah sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari,
bahkan pada saat kita menuanaikan ibadah yang bersifat hablum minallah,
seperti sholat. Pada saat kita memulai ibadah sholat, melakukan takbiratul
ikhram, kita melafalkan takbir “Allahu Akbar”, Allah Maha Besar, suatu
ucapan yang mengagungkan dan membesarkan nama Allah SWT. sehingga
hal ini termasuk ibadah hamblum Minallah. Sedangkan ketika mengakhiri
sholat kita mengucapkan salam “Assalamu`alaikum warahmatullah”, semoga
kedamaian di limpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari allah dan juga
barokah dari Allah untuk mu. Ucapan ini dapat di klasifikasikan sebagai
ucapan ibadah kepada sesama manusia karena salam tersebut ditujukan
keapada sesama muslim.
Allah SWT menetapkan ibadah ini sebagai wujud keharusan kepada
manusia agar memiliki kehidupan sosial terhadap manusia lainnya. Selain itu,
islam juga mengenal sistem ekonomi yang berlandaskan syari`at islam yang
mengharamkan riba` sehingga tidak membebani orang-orang yang kurang
mampu, sistem ekonomi ini dikenal dengan sebutan sistem ekomi syari`ah
atau sistem ekonomi muamalah. Contoh-contoh memperlihatkan bahwa
ibadah tak dapat dipisahkan dari keseharian umat manusia. Allah SWT. telah
menetapkan dan mengatur hubungan baik sesama manusia dan secara kodrati,
manusia memang memilki hasrat dan keinginan untuk berbuat baik diantara
mereka dan bersama-sama menuju suatu tujuan bersama.
Hal inilah yang kemudian mendasari terbentuknya masyarakat.
Secara sosial, manusia-manusia seabagai anggota masyarakat akan memilki
peranan, tugas, dan kewajibannya masing-masing bergantung kepada
kapasitas anggota masyarakat tersebut. Peranan perseorangan dalam
mewujudkan kewajibannya di dalam masyarakat merupakan cerminan amal
ibadah seseorang terhadap masyarakat atau manusia lainnya. Dengan kata
lain, dengan menunaikan kewajibannya di masyarakat, seseorang telah
beribadah.34
34
Yusuf Al-Qardhawi, Al-`Ibadah fi Al-Islam, (Beirut : Muassasah Al-Risalah, 1979), 32-
33.