0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan127 halaman

Representasi Feminisme dalam Film Kampus

Skripsi ini mengkaji representasi feminisme dalam film "Demi Nama Baik Kampus" karya Andi T, yang berfokus pada isu pelecehan seksual di lingkungan pendidikan. Penelitian menggunakan metode analisis isi kualitatif untuk mengeksplorasi posisi dominasi, negosiasi, dan oposisi dalam konteks feminisme. Hasil menunjukkan bahwa film ini menggambarkan ketidakadilan yang dialami perempuan dan menyoroti perjuangan mereka melawan penindasan.

Diunggah oleh

Ester Tenteyali
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan127 halaman

Representasi Feminisme dalam Film Kampus

Skripsi ini mengkaji representasi feminisme dalam film "Demi Nama Baik Kampus" karya Andi T, yang berfokus pada isu pelecehan seksual di lingkungan pendidikan. Penelitian menggunakan metode analisis isi kualitatif untuk mengeksplorasi posisi dominasi, negosiasi, dan oposisi dalam konteks feminisme. Hasil menunjukkan bahwa film ini menggambarkan ketidakadilan yang dialami perempuan dan menyoroti perjuangan mereka melawan penindasan.

Diunggah oleh

Ester Tenteyali
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

REPRESENTASI FEMINISME PADA FILM “DEMI NAMA BAIK


KAMPUS” KARYA ANDI T

OLEH
AYU ULAN DARI
NIM: 19.3100.047

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PAREPARE
2023 M /1445 H
REPRESENTASI FEMINISME PADA FILM “DEMI NAMA
BAIK KAMPUS” KARYA ANDI T

OLEH

AYU ULAN DARI


NIM : 19.3100.047

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial ([Link])
Pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab
Dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Parepare

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PAREPARE
2023 M /1445 H

ii
iii
iv
KATA PENGANTAR

‫الر ِحي ِْم‬


َّ ‫الرحْ َم ِن‬
َّ ِ‫ْــــــــــــــــــم هللا‬
ِ ‫ِبس‬

‫علَى ا َ ِل ِه‬ َ ‫اء َو ْال ُم ْر‬


َ ‫س ِليْنَ َو‬ ِ ‫علَى أ َ ْش َر‬
ِ َ‫ف اْأل َ ْن ِبي‬ َ ‫سالَ ُم‬ َّ ‫ب ْالعَالَ ِميْنَ َوال‬
َّ ‫صالَة ُ َوال‬ ِ ‫ْال َح ْمدُ ِهللِ َر‬
ُ‫صحْ ِب ِه أَجْ َم ِعيْنَ أ َ َّما بَ ْعد‬
َ ‫َو‬
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah Swt. Atas Ridho-Nya saya dapat

menyelesaikan skripsi ini, salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana sosial

([Link]), fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

Parepare.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang

tua tercinta, Ibunda Kasma dan Ayahanda Sambas atas bimbingan dan doanya. Berkat

dukungan mereka, penulis dapat menyelesaikan tugas akademik tepat waktu.

Penulis telah menerima banyak bimbingan dan bantuan dari Ibu Nurhakki,

[Link], [Link] dan Ibu A. Dian Fitriana, [Link] selaku Pembimbing I dan Pembimbing

II, atas segala bantuan dan bimbingan yang telah diberikan, penulis ucapkan terima

kasih.

Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu, baik secara moral maupun material, hingga selesainya penulisan ini.

Semoga Allah balasan kebaikan sebagai amal yang akan terus memberikan pahala dan

rahmatnya.

Selanjutnya, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Hannani. [Link]. sebagai Rektor IAIN Parepare yang telah bekerja

keras mengelola pendidikan di IAIN Parepare.

2. Bapak Dr. A. Nurkidam, [Link]. sebagai “Dekan Fakultas Ushuluddin Adab

dan Dakwah atas pengabdiannya dalam menciptakan suasana pendidikan yang


v
positif bagi mahasiswa.

3. Ketua Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Ibu Nurhakki, [Link], [Link], dan para

dosen Komunikasi Penyiaran Islam, yang telah meluangkan waktu mereka

dalam mendidik penulis selama studi di IAIN Parepare.

4. Bapak/Ibu tenaga administrasi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah dengan

penuh ketulusan meringankan sistem administrasi mahasiswa baik dari awal

hingga pada penyelesaian studi.

5. Kepala perpustakaan IAIN Parepare beserta seluruh staf yang telah memberikan

pelayanan yang baik kepada penulis selama menjalani studi di IAIN Parepare,

terutama dalam penulisan skripsi ini.

6. Channel youtube Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI menjadi informan

penelitian.

7. Terimah kasih kepada keluarga terutama kepada Bapak (Sambas) dan Mama

(Kasma) yang telah menjadi alasan saya sehingga masih tetap semangat dalam

menyelesaikan studi saya di IAIN Parepare.

8. Terimah kasih juga kepada saudara dan ponakan saya Nursam Sk, Tias Sk,

Thasya Sk dan A. Nur Ramadhani yang telah menjadi support system untuk
kehidupan saya.

9. Kepada para sahabat saya KOPIKO (Kompak Tapi Kocak) Yulinar, Sri

Novianti, Juswanda Safitri, Lisanti, Muhammad Yusuf, Darwis, Syamsuriadi,

Amran yang senantiasa menemani saya dalam setiap proses yang saya lewati

selama berkuliah di IAIN pare-pare.

10. Semua teman-teman seperjuangan Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam

angkatan 2019 yang tidak bisa penulis sebut satu persatu yang telah memberi

vi
vii
viii
ABSTRAK

AYU ULAN DARI. Representasi Feminisme Pada Film “Demi Nama Baik Kampus”
Karya Andi T, (Dibimbing oleh Ibu Nurhakki dan Ibu A. Dian Fitriana).
Film “Demi Nama Baik Kampus” merupakan film yang bertemakan feminisme
tentang pelecehan seksual di kampus atau di lingkungan pendidikan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji representasi feminisme yang terdapat dalam film seperti
halnya ketidakadilan yang dirasakan seorang perempuan, Selain itu, penelitian ini juga
bertujuan untuk mengetahui Representasi Feminisme pada film “Demi Nama Baik
Kampus” dilihat dari Representasi Dominan, Representasi Negosiasi dan Representasi
Oposisi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode analisis isi kualitatif
yang dihasilkan dari mengamati dan merekam setiap adegan dan dialog yang ada di
sebuah film “Demi Nama Baik Kampus”. Teknik analisis data menggunakan metode
analisis isi kualitatif disusun dan dianalisis sesuai dengan masalah penelitian. Penelitian
ini menggunakan teori Representasi dan Feminisme.
Hasil penelitian ini menunjukkan representasi feminisme dilihat dari posisi
dominasi, dimana peran utama laki-laki selaku dosen mengancam dan menindas
mahasiswinya sedangkan posisi dominasi yang ditunjukkan oleh pak Rektor dengan
mengambil keputusan sepihak. Posisi negosiasi ketika Sinta mulai melaporkan kejadian
pelecehan seksual yang dialaminya ke pihak kampus dan Tim Satgas Pencegahan dan
Penanganan Kekerasan Seksual. Posisi Oposisi ketika Sinta bersih keras untuk tidak
menandatangani surat perjanjian yang diajukan oleh pak Rektor. Representasi
feminisme dalam film Demi Nama Baik Kampus adalah representasi feminisme Sosial .
Kata Kunci : Representasi; Feminisme; Film.

ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL..................................................................................................... ii
PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING ................................................................ iii
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI.......................... Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR .................................................................................................. v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .................................................................... viii
ABSTRAK ................................................................................................................... ix
DAFTAR ISI ................................................................................................................. x
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................... xv
PEDOMAN TRANSLITERASI DAN SINGKATAN .............................................. xvi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 7
D. Kegunaan Penelitian ................................................................................ 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 9
A. Tinjauan penelitian relavan...................................................................... 9
B. Tinjauan Teori ........................................................................................ 12
1. Teori Representasi ............................................................................. 12
2. Teori Feminisme ................................................................................ 26
C. Kerangka konseptual .............................................................................. 32
D. Kerangka Pikir ....................................................................................... 38
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................... 40
A. Pendekatan dan jenis penelitian ............................................................. 40
B. Lokasi dan Waktu penelitian ................................................................. 41
C. Fokus Penelitian ..................................................................................... 42
x
D. Jenis dan Sumber Data........................................................................... 43
E. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 44
F. Uji keabsahan Data ................................................................................. 45
G. Teknik Analisis Data ............................................................................. 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................... 48
A. Hasil Penelitian ...................................................................................... 48
1. Tokoh dan Karakter Film “Demi Nama Baik Kampus”. ................... 48
2. Representasi Feminisme Dominan, Negosiasi dan Oposisi............... 51
3. Analisis Latar, Teknik Pengambilan Gambar dan Editing ................ 58
B. Pembahasan............................................................................................ 86
BAB V PENUTUP .................................................................................................. 92
A. Simpulan ................................................................................................ 92
B. Saran ...................................................................................................... 94
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... I
LAMPIRAN-LAMPIRAN SCENE ............................................................................ IV
BIODATA PENULIS .................................................................................................. X

xi
DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Tabel Halaman

2.1 Daftar Pemain dan Kru 38

3.1 Rancangan Waktu Penelitian 45

4.1 Representasi Dominan 57

4.2 Representasi Negosiasi 62

4.3 Representasi Oposisi 65

xii
DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Gambar Halaman

2.1 Poster Demi Nama Baik Kampus 36

2.2 Bagan Kerangka Pikir 41

3.1 Teknik Content Analysis 44

4.1 Scene 1 dalam film DNBK 58

4.2 Scene 2 dalam film DNBK 59

4.3 Scene 3 dalam film DNBK 60

4.4 Scene 4 dalam film DNBK 61

4.5 Scene 5 dalam film DNBK 62

4.6 Scene 6 dalam film DNBK 63

4.7 Scene 7 dalam film DNBK 64

4.8 Scene 8 dalam film DNBK 72

4.9 Scene 9 dalam film DNBK 73

4.10 Scene 10 dalam film DNBK 74

4.11 Scene 11 dalam film DNBK 75

xiii
4.12 Scene 12 dalam film DNBK 76

4.13 Scene 13 dalam film DNBK 80

4.14 Scene 14 dalam film DNBK 81

4.15 Scene 15 dalam film DNBK 82

4.16 Scene 16 dalam film DNBK 83

4.17 Scene 17 dalam film DNBK 84

4.18 Scene 18 dalam film DNBK 85

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Lampiran Halaman

1. Scene-Scene Film Demi Nama Baik Kampus xv

2. Biodata Penulis xv

xv
PEDOMAN TRANSLITERASI DAN SINGKATAN

A. Transliterasi
1. Konsonan

Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan
dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan
sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian lain lagi dilambangkan dengan
huruf dan tanda.

Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin:

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama


‫ا‬ Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan
‫ب‬ Ba B Be
‫ت‬ Ta T Te
‫ث‬ Ṡa Ṡ Es (dengan titik di atas)
‫ج‬ Jim J Je
‫ح‬ Ḥa Ḥ Ha (dengan titik di bawah)
‫خ‬ Kha Kh Ka dan Ha
‫د‬ Dal D De
‫ذ‬ Dhal Dh De dan Ha
‫ر‬ Ra R Er
‫ز‬ Zai Z Zet
‫س‬ Sin N Es
‫ش‬ Syin Sy Es dan Ye
‫ص‬ Ṣad Ṣ Es (dengan titik di bawah)
‫ض‬ Ḍad Ḍ De (dengan titik di bawah)
‫ط‬ Ṭa Ṭ Te (dengan titik di bawah)
‫ظ‬ Ẓa Ẓ Zet (dengan titik di bawah)

xvi
xvii

‫ع‬ Ain N‘__ Koma Terbalik Keatas


‫غ‬ Gain G Ge
‫ف‬ Fa F Ef
‫ق‬ Qof Q Qi
‫ك‬ Kaf K Ka
‫ل‬ Lam L El
‫م‬ Mim M Em
‫ن‬ Nun N En
‫و‬ Wau W We
‫ه‬ Ha H Ha
‫ء‬ Hamzah __’ Apostrof
‫ي‬ Ya Y Ye
Hamzah (‫ )ء‬yang terletak diawal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda
apa pun. Jika ia terletak ditengah atau diakhir, maka ditulis dengan tanda (ʼ)

2. Vokal

Vokal tunggal (monoftong) bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau
harakat, transliterasinya sebagai berikut:

Tanda Nama Huruf Latin Nama


‫ٲ‬ Fathah A A
‫ٳ‬ Kasrah I I
‫ٱ‬ Dammah U U
Vokal rangkap (diftong) bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan
antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:

Tanda Nama Huruf Latin Nama


‫ي‬
ْ َ‫۔‬ Fathah dan Ya Ai a dan i
‫۔ َْو‬ Fathah dan Wau Au a dan u
Contoh:
xviii

َ‫ ڲڧ‬: kaifa

‫ َح ْو َل‬: haula

3. Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf,
transaliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

Harkat dan
Huruf Nama Huruf dan Tanda Nama

Fathah dan Alif


‫۔َي‬/‫۔َا‬ Ā a dan garis di atas
atau Ya
‫ي‬
ْ ِ‫۔‬ Kasrah dan Ya Ī i dan garis di atas

‫۔ ُْو‬ Dammah dan Wau Ū u dan garis di atas


Contoh:

َ‫َمات‬ : Māta

‫َر َمى‬ : Ramā

‫قِ ْي َل‬ : Qīla

ُ‫يَ ُم ْوت‬ : yamūtu

4. Ta Marbutah

Transliterasi untuk ta marbutah ada dua:

a. Ta marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan


dammah, transliterasinya adalah [t]
b. Ta marbutah yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya
adalah [h].
xix

Kalau pada kata yang terakhir dengan ta marbutah diikuti oleh kata yang
menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta
marbutah itu ditransliterasikan dengan ha (h).

Contoh:

‫ضةُالخَن ِة‬
َ ‫َر ْو‬ : Raudah al-jannah atau Raudatul jannah

ِ ‫ا َ ْل َم ِد ْينَةُ ْالف‬
‫َاضلَ ِة‬ : Al-madīnah al-fādilah atau Al-madīnatul fādilah

ُ‫ا َ ْل ِح ْك َمة‬ : Al-hikmah

5. Syaddah (Tasydid)

Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan
sebuah tanda tasydid (‫)۔‬, dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan
huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah. Contoh:

‫َربَّنَا‬ : Rabbanā

‫نَ َّخ ْينَا‬ : Najjainā

‫ْال َحق‬ : Al-Haqq

‫ْال َحخ‬ : Al-Hajj

‫نُ ِع َم‬ : Nu’ima

‫عدُو‬
َ : ‘Aduwwun

Jika huruf ‫ ى‬bertasydid diakhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah
(‫)۔ِي‬, maka ia transliterasi seperti huruf maddah (i).

Contoh:

‫ع َربِي‬
َ : ‘Arabi (bukan ‘Arabiyy atau ‘Araby)
xx

‫ع ِلي‬
َ :”Ali (bukan ‘Alyy atau ‘Aly)

6. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf ‫( ال‬alif lam
ma’rifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasikan seperti
biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf syamsiah maupun huruf qamariah. Kata
sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang
ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar
(‫)ـ‬. Contoh:

Contoh:

ُ ‫ا َ ْلش َْم‬
‫س‬ : al-syamsu (bukan asy-syamsu)

‫لز ْلزَ لَة‬


َّ َ ‫ا‬ : al-zalzalah (bukan az-zalzalah)

َ ‫ا َ ْلفَل‬
ُ‫سفَة‬ : al-falsafah

ُ‫ا َ ْل ِبالَد‬ : al-biladu

7. Hamzah
Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof (‘) hanya berlaku bagi
hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun bila hamzah terletak di awal
kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan arab ia berupa alif. Contoh:
َ‫تأ ُم ُر ْون‬ : ta’muruna
‫النَّ ْو ُء‬ : al-nau’
‫ش ْيء‬
َ : syai’un
ُ‫ا ُ ِم ْرت‬ : umirtu
8. Kata arab yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia
Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau
kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat
yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, tidak
xxi

lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya kata Al-Qur’an (dar Qur’an),
Sunnah.
Namun bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab
maka mereka harus ditransliterasi secara utuh. Contoh:
Fi zilal al-qur’an
Al-sunnah qabl al-tadwin
Al-ibarat bi ‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab
‫ل‬
9. Lafz al-jalalah (‫)ًّلا‬
Kata”Allah” yang didahuilui partikel seperti huruf jar dan huruf lainnya atau
berkedudukan sebagai mudaf ilahi (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf
hamzah. Contoh:
ِ ‫ ِد ْينُ ل‬dinullah
‫ًّلا‬ ِ‫ِبا لّلل‬ billah
Adapun ta marbutah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz al-jalalah,
ditransliterasi dengan huruf [t]. Contoh:
‫ُه ْم فِي َرحْ َم ِة ل‬
ِ‫ًّلا‬ hum fi rahmatillah
10. Huruf kapital
Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital, dalam transliterasi
ini huruf tersebut digunakan juga berdasarkan kepada pedoman ejaan Bahasa
Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan
huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan
kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan
huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.
Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut
menggunakan huruf kapital (Al-). Contoh:
Wa ma Muhammadun illa rasul
Inna awwala baitin wudi’a linnasi lalladhi bi Bakkata mubarakan
Syahru Ramadan al-ladhi unzila fih al-Qur’an
Nasir al-Din al-Tusi
xxii

Abu Nasr al-Farabi


Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibnu (anak dari) dan Abu
(bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus
disebutkan sebagai nama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi. Contoh:
Abu al-Walid Muhammad ibnu Rusyd, ditulis menjadi: Ibnu Rusyd, Abu al-
Walid Muhammad (bukan: Rusyd, Abu al-Walid Muhammad Ibnu)
Nasr Hamid Abu Zaid, ditulis menjadi Abu Zaid, Nasr Hamid (bukan: Zaid,
Nasr Hamid Abu)
1. Singkatan
Beberapa singkatan yang di bakukan adalah:
Swt = subhanahu wa ta ‘ala
Saw = sallallahu ‘alaihi wa sallam
a.s = ‘alaihi al-sallam
H = Hijriah
M = Masehi
SM = Sebelum Masehi
l. = Lahir Tahun

w. = Wafat Tahun

QS../..: 4 = QS al-Baqarah/2:187 atau QS Ibrahim/..., ayat 4

HR = Hadis Riwayat

Beberapa singkatan dalam bahasa Arab

‫ص‬ = ‫صفحة‬

‫دم‬ = ‫بدون مكان‬

‫صلعم‬ =‫صلى اللهعليهوسلم‬

‫ط‬ =‫طبعة‬

‫دن‬ =‫بدون ناشر‬


xxiii

‫الخ‬ =‫إلى آخره‬/‫ٳلى آخرها‬

‫ج‬ =‫جزء‬

beberapa singkatan yang digunakan secara khusus dalam teks referensi perlu
di jelaskan kepanjangannya, diantaranya sebagai berikut:

ed. : editor (atau, eds. [kata dari editors] jika lebih dari satu orang
editor). Karena dalam bahasa indonesia kata”edotor” berlaku
baik untuk satu atau lebih editor, maka ia bisa saja tetap
disingkat ed. (tanpa s).

et al. :: “dan lain-lain” atau” dan kawan-kawan” (singkatan dari et


alia). Ditulis dengan huruf miring. Alternatifnya, digunakan
singkatan dkk.(“dan kawan-kawan”) yang ditulis dengan
huruf biasa/tegak.

Cet. :: Cetakan. Keterangan frekuensi cetakan buku atau literatur


sejenis.

Terj :: Terjemahan (oleh). Singkatan ini juga untuk penulisan karya


terjemahan yang tidak menyebutkan nama penerjemahnya

Vol. :: Volume. Dipakai untuk menunjukkan jumlah jilid sebuah


buku atau ensiklopedia dalam bahasa Inggris. Untuk buku-
buku berbahasa Arab biasanya digunakan juz.

No. :: Nomor. Digunakan untuk menunjukkan jumlah nomor karya


ilmiah berkala seperti jurnal, majalah, dan sebagainya
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Film merupakan media yang populer serta kerap digunakan oleh

masyarakat universal, sehingga film telah menjadi bagian dari kehidupan kita

tiap hari. Pesan ataupun nilai yang tercantum dalam film bisa mempengaruhi

pemirsa secara kognitif, efisien serta secara konatif. Film merupakan sarana

untuk menyampaikan informasi serta pendidikan kepada penontonnya melalui

alur cerita. Kemampuan dan kekuatan film dapat mempengaruhi pada

penontonnya. Menurut Turner, pemaknaan film sebagai representasi realitas

sosial berbeda dengan film selaku refleksi realitas belaka. Sebagai gambaran

realitas, film sekadar memindahkan kenyataan ke layar tanpa mengubahnya.

Pada saat yang sama, sebagai representasi realitas, film membuat serta

menghasilkan realitas sesuai dengan norma budaya, tradisi, dan ideologi.1

Dalam dunia perfilman tentu banyak sekali macam-macam genre,

salah satunya film yang berkaitan dengan perempuan, banyak film yang
mengangkat tentang feminisme yang menitik beratkan pada perempuan. Jenis

jenis film feminisme yaitu, Film Kartini, Film Jamila dan Sang Presiden, film

7 hati 7 cinta 7 wanita, film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dan

masih banyak film lainnya.

Feminisme adalah gerakan atau paham/ pandangan dimana perempuan

berusaha memperjuangkan hak asasinya. Kaum feminis memperjuangkan

1
Sigit Surahman, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Indonesia’, Jurnal Ilmiah
LISKI (Lingkar Studi Komunikasi), 1.2 (2015).

1
2

haknya, bebas berekspresi dan berpendapat, hak atas kebebasan menentukan

nasib sendiri, serta hak atas pendidikan dan pekerjaan seperti laki-laki.2

Agama Islam tidak membedakan status antara pria dan wanita. Seperti

firman Allah SWT dalam Surat Al Hujurat (49) ayat 13, yang berbunyi:

َ َ‫شعُ ْوبًا َّوقَبَ ۤا ِٕى َل ِلتَع‬


‫ارفُ ْوا ۚ ا َِّن‬ ُ ‫اس اِنَّا َخلَ ْقن ُك ْم ِم ْن ذَ َك ٍر َّوا ُ ْنثى َو َجعَ ْلن ُك ْم‬
ُ َّ‫ٰٓياَي َها الن‬
‫ع ِليْم َخبِيْر‬َ َ‫ًّلا‬ ‫ا َ ْك َر َم ُك ْم ِع ْندَ ه‬
‫ًّلاِ اَتْقى ُك ْم ۗا َِّن ه‬

Terjemahan:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh,
Allah Maha Mengetahui, Maha teliti.3

Quraish Shihab dalam ayat ini menafsirkan bahwa ayat diatas

mengacu pada penjelasan tentang prinsip-prinsip dasar hubungan manusia.

Allah mengenai penciptaan manusia, baik itu perempuan dan laki-laki untuk

saling mengenal dan bertakwa. Dalam ayat ini, kita dapat melihat bahwa
Allah tidak membedakan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam meraih

kemuliaan di sisi-Nya, serta membuat bangsa yang berbeda dan kelompok

yang berbeda saling mengenal, saling membantu, melengkapi dan

mendukung.

2
Jennifer Brier and lia dwi jayanti,‘REPRESENTASI FEMINISME DALAM FILM A
SEPARATION (Analisis Semiotika)’, 21.1 (2020).
3
‘Qur’an Kemenag’ <[Link]
ayat/surah/49?from=1&to=18> [accessed 16 June 2023].
3

Karya Sastra sebagai gambaran kreatif yang menggunakan bahasa

untuk berbicara tentang kehidupan manusia dan realitas. Secara umum,

sebuah karya sastra memuat permasalahan yang dihadapi masyarakat.4

Banyak film yang secara tidak sadar menampilkan semacam hubungan bias

gender, seperti seakan-akan memandang perempuan sebagai makhluk yang

tidak berdaya (lemah) atau kurang berkuasa. Wanita seringkali diberi karakter

menjadi kaum tertindas, objek seksual laki-laki, sampai target pelecehan.

Bukan sekedar itu, wanita seringkali divisualisasikan oleh sutradara sebagai

sosok yang rendah dan cengeng.

Dalam perfilman Indonesia, tokoh perempuan diilustrasikan sebagai

orang yang, emosional, lemah, pelit, dan cuek. Namun, banyak film yang

menampilkan kekuatan, perjuangan, dan kerja keras perempuan agar dapat

merubah persepsi masyarakat terhadap perempuan, seperti film Maleficent,

Perempuan Berkalung Sorban dan Marlina si pembunuh dalam empat babak.

Film “Maleficent” karya Robert Stromberg, yang menceritakan sosok

penyihir yang jahat yang mengutuk putri Aurora anak dari raja Stefan.

Karakter Maleficent yang dulunya seorang perempuan yang baik hati berubah
menjadi penyihir yang jahat dan kejam akibat pengkhianatan yang dibuat oleh

sosok laki-laki yang bernama raja Stefan. Sedangkan film “Perempuan

Berkalung Sorban” karya Hanung Bramantyo, ingin memperoleh hak dan

keadilan perempuan. Perempuan sangat dibatasi dalam melakukan hal

pendidikan, pembagian pekerjaan, pada film ini seorang perempuan tidak

4
Karima, et al., ‘Citra Perempuan Dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat
Babak: Kajian Sastra Feminis Dan Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA’,
Institutional Repository, 2021.
4

dibolehkan lebih tinggi pendidikannya dibanding seorang laki-laki,

perempuan hanya dibolehkan bekerja didalam rumah dan mengurus anak-

anaknya.5 Pada film “Marlina si Pembunuh dalam empat babak” karya Mouly

Surya, berkisaha akan Seseorang perempuan bernama Marlina berstatus janda

yang dirampok oleh 7 orang dan diperkosa, dan berusaha mencari keadilan.6

Film yang disutradarai oleh Mouly Surya ini sukses menunjukkan

bahwasanya wanita bukanlah makhluk yang tidak berdaya, melainkan

memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki. Marlina mencontohkan

kekuatan, ketangguhan, keberanian, dan kemandirian dalam mengejar

keadilan sebagai seorang perempuan.

Perempuan adalah bagian dari realitas kehidupan, yang berperan besar

dalam membuat kehidupan lebih berwarna. Akibatnya, perempuan terkait

erat, bahkan di media. Fenomena yang menimpa perempuan menjadi

perbincangan yang menarik untuk diikuti. Wanita sepertinya identik dengan

kelemahan dan ketertindasan. Kehadiran media film yang bersinggungan

dengan feminisme dapat menyadarkan penonton akan bentuk-bentuk

ketidakadilan gender seperti marginalisasi, subjugasi, stereotyping, dan


sosialisasi ideologi nilai peran gender.

Beragam film berhubungan dengan perempuan, akan tetapi kurang

film yang menggambarkan kekuatan seorang perempuan. Salah satu film yang

menampilkan perjuangan seorang perempuan untuk mencari keadilan dan

5
Karomah ,Nur Isnaini, ‘Representasi Feminisme Pada Film Perempuan Berkalung
Sorban (Analisis Semiotik Pada Film Perempuan Berkalung Sorban Karya Hanung
Bramantyo)’, Institutional Repository, 8.5 (2019).
6
nurul Zahira, et al,. ‘Studi Semiotik Feminisme Tentang Film Marlina Si Pembunuh
Dalam Empat Babak’, Jurnal Ilmu Komunikasi, 4.1 (2021).
5

bertemakan feminisme adalah film Demi Nama Baik Kampus, ini diunggah

oleh kanal YouTube “Fitur Cerdas Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia”

yang dipersembahkan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian

Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Film ini tentang pelecehan seksual di

kampus atau di lingkungan pendidikan. Film Demi Nama Baik Kampus

merupakan film pendek, yang disutradarai Andi T. Film “Demi Nama Baik

Kampus” diangkat dari realitas yang ada dimasyarakat yang sering kali terjadi

diruang lingkup pendidikan. bahwa kasus kekerasan seksual di kampus

seringkali dibungkam demi menjaga nama baik institusi pendidikan, hal itu

yang membuat banyak korban takut untuk melaporkan kejadian kepada para

pejabat kampus. Film ini ditayangkan pertama kali pada 14 Desember 2021.

kini telah ditonton lebih dari 500.592 Ribu kali hanya dalam waktu setahun

sejak film tersebut pertama kali diunggah.

Demi Nama Baik Kampus diperankan oleh Sinta (Laras Ardhia), Abi

(Anne Yasmine), Arie (Bismo Satrio), Rektor (Tam Notosusanto), Wakil

Rektor ( Agus Andrian), Ibu Anisa (Mariana Resli), Ida (Ajeng Sharfina

Adiwidya), Andi (Faisal Aji Pratama), Ririn (Putricia Adelianti), Faisal (Ismu
Tanjung).

Film ini mengangkat isu pelecehan seksual yang biasa terjadi di

kampus maupun di lingkungan pendidikan, baik yang dilakukan oleh sesama

mahasiswa, dosen, maupun dosen dan mahasiswa. Film ini memperlihatkan

bahwa berbicara tentang pelecehan seksual sangatlah penting karena korban

pelecehan seksual biasanya adalah perempuan. Rendahnya margin

perempuan untuk menghadapi dan memenangkan kasus ini menyebabkan


6

sebagian korban pelecehan seksual memilih diam dan memilih untuk tidak

memperjuangkan haknya sebagai korban, serta minimnya perlindungan

hukum bagi perempuan korban di Indonesia.

Kasus-kasus seperti itu menarik perhatian penelitian tentang

feminisme. Selain itu film “Demi Nama Baik Kampus” merujuk pada

feminisme yang memperlihatkan perjuangan seorang perempuan untuk

mencari keadilan. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif

kualitatif dengan teknik analisis data yakni analisis isi kualitatif. Analisi Isi

kualitatif dapat mengidentifikasi pesan yang nampak dan tidak Nampak dari

dokumen yang sedang diteliti. Peneliti memilih judul penelitian

“Representasi Feminisme pada film “Demi Nama Baik Kampus” Karya

Andi T

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah disampaikan, maka dibuat

rumusan masalah penelitian yaitu:

1. Bagaimana Representasi Posisi Dominan Dalam Film Demi Nama Baik

Kampus?
2. Bagaimana Representasi Posisi Negosiasi Dalam Film Demi Nama Baik

Kampus?

3. Bagaimana Representasi Posisi Oposisi Dalam Film Demi Nama Baik

Kampus?
7

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang berkenaan dengan masalah di atas sebagai berikut:

1. Untuk memperjelas Representasi Posisi Dominan Dalam Film Demi

Nama Baik Kampus.

2. Untuk memperjelas Representasi Posisi Negosiasi Dalam Film Demi

Nama Baik Kampus

3. Untuk memperjelas Representasi Posisi Oposisi Dalam Film Demi Nama

Baik Kampus

D. Kegunaan Penelitian

Dengan dilakukan penelitian ini, penulis berharap penelitian ini dapat

bermanfaat baik pada manfaat teoritis maupun manfaat praktis.

1. Manfaat teoritis

Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberi

sumbangan referensi mengenai analisis isi dalam film. Selain itu hasil

penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman tentang

representasi feminisme dalam film. Serta sebagai perbandingan dan

referensi untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini dapat memberikan gambaran bahwa seorang

perempuan dapat bebas berekspresi, mengutarakan mimpinya tidak dibatasi

oleh ruang gerak. Selain itu peneliti dapat memberikan pemahaman kepada

masyarakat bahwasanya dalam sebuah film terdapat sebuah pesan atau

makna. Pelecehan seksual dimanapun itu terjadi menjadi masalah serius

dan tidak bisa dipandang sebelah mata hasil pengkajian ini diharapkan
8

mampu menyadarkan masyarakat bahwa apapun alasannya dan dimanapun

pelecehan terjadi, harus dihadapi dengan tangan terbuka dan fokus ke

penyelesaian masalah.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan penelitian relavan

Untuk membuat sebuah karya ilmiah yang baik, seorang peneliti harus

mencantumkan hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik

penelitiannya, sebagai berikut:

1. Pertama, penelitian dengan judul Representasi Feminisme Dalam Film

Maleficent (karya Joachim Ronning) yang ditulis Amanda Diani mahasiswi

dari Universitas Telkom pada tahun 2017. Amanda Diani memakai metode

kualitatif. Sedangkan untuk model analisisnya, Semiotika John Fiske adalah

tentang bagaimana televisi menggunakan kode-kode untuk menunjukkan

kontes sosial. Kode-kode ini dibagi menjadi tiga tingkatan realitas,

representasi, dan ideologi. Saudari Amanda Diani menemukan bahwa nilai-

nilai feminisme pada level realitas dapat terlihat dari cara seseorang

berpenampilan, merias diri, memilih pakaian, berbicara, lingkungan tempat

tinggal, dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. pada tingkatan

representasi nilai feminisme memperlihatkan dalam cara penggunaan kamera,

tindakan dan karakter para tokoh, serta konflik dan percakapan dalam cerita.

Pada level ideologi nilai feminisme Secara lebih sederhana, keyakinan feminis

tentang ekofeminisme menunjukkan hubungan yang kuat antara perempuan

dan alam, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.7

Perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian ini ialah model

analisisnya yang dipakai, pada penelitian ini memakai model analisis isi
7
Manda Diani, est al., Representasi Feminisme Dalam Film Maleficen, jurnal kajian
Yelevisi dan Film, Universitas Telkom, 1.2, (2017).
9
10

kualitatif sedangkan penelitian terdahulu menggunakan semiotika John Fiske

kontes sosial berdasarkan kode-kode televisi yang terbagi ke dalam tiga level

yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Penelitian terdahulu

berfokus pada kode penampilan, kostum, tata rias, kamera, karakter, aksi,

konflik dan dialog.

2. Kedua, penelitian dengan judul Representasi Feminisme Eksistensial Dibalik

Filmmarlinasi Pembunuh Dalam Empat Babak (karya Mouly Surya) yang

ditulis oleh saudari Ratu Balqis Ramli dari Universitas Negeri Makassar pada

tahun 2021. Ratu Bulkis Ramli menggunakan metode Kualitatif. Sedangkan

model Analisisnya, feminisme eksistensial Simone Beauvoir, berdasarkan

bentuk perlawanan perempuan, teks yang mengekspresikan bentuk perbedaan

perempuan dan bentuk perlawanan sebagai wujud eksistensi. Hasil dari

penelitian saudari Ratu Melalui film Marlina Si Pembunuh dalam Empat

Babak ini Mouly Surya mencoba mengekspresikan hal-hal dalam berbagai

adegan. Eksistensial feminisme menyatakan bahwa wanita memiliki

kesadaran sebagai subjek. Kesadaran itulah yang menempatkan perempuan

pada posisi yang mereka inginkan. Teks ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu,
karakteristik perempuan, tipe perempuan, dan bentuk perlawanan perempuan.8

Perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian ini ialah model

analisisnya yang dipakai, pada penelitian ini memakai analisis analisis isi

kualitatif sedangkan penelitian terdahulu menggunakan feminisme

8
Ratu Bulkis Ramli, Ahnsari Ahnsari, and . Juanda, ‘Representasi Feminisme
Eksistensial Di Balik Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak’, Lingue : Jurnal Bahasa,
Budaya, Dan Sastra, Universitas Negeri Makassar, 3.2 (2021).
11

eksistensial Simon Beauvoir, berdasarkan bentuk perlawanan perempuan,

teks yang mengekspresikan bentuk marginalisasi perempuan dan bentuk

perlawanan sebagai wujud eksistensi. Sedangkan peneliti menggunakan

tanda-tanda denotasi, konotasi dan mitos.

3. Ketiga, penelitian dengan Representasi Perempuan Dalam Film Spectre

(karya Sam Mendes) yang ditulis oleh Debby Dwi Elsha Dari Universitas

Teknologi Yogyakarta Pada Tahun 2020. Debby menggunakan metode

Kualitatif Deskriptif. Sedangkan model analisisnya Semiotika John Fiske.

John Fiske menjelaskan semiotika dalam tiga tingkatan yaitu level realitas,

level representasi, level ideologi. Secara sederhana, pada tingkat pertama,

realitas seperti sebuah kode. Bagian sosial yang mencakup penampilan seperti

makeup dan kostum. Lingkungan, perilaku, gerak tubuh, dan ekspresi. Level

kedua, representasi adalah kode. "Sosial" mengacu pada teknik yang

digunakan dalam pembuatan video, seperti pergerakan kamera, pencahayaan,

dan pengeditan. Tingkat ketiga membahas tentang ideologi, yaitu suatu aturan

sosial yang berlaku dalam masyarakat. Ini tentang ide-ide yang ada dalam

kehidupan masyarakat, seperti feminisme dan patriarki. Jenis kelamin dan


bagaimana ia berkembang.9

Perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian ini ialah model analisisnya

yang dipakai, pada penelitian ini memakai model analisis analisis isi kualitatif

sedangkan penelitian terdahulu menggunakan semiotika John Fiske kontes

sosial berdasarkan kode-kode televisi yang terbagi ke dalam tiga level yaitu

9
Debby Dwi Elsha, ‘Representasi Perempuan Dalam Film Spectre’, JURNAL PIKMA
PUBLIKASI ILMU KOMUNIKASI MEDIA DAN CINEMA, 1.2 (2020)
12

level realitas, level representasi dan level ideologi. Penelitian terdahulu

berfokus pada kode penampilan, kostum, tata rias, kamera, karakter, aksi,

konflik dan dialog.

B. Tinjauan Teori

1. Teori Representasi

Representasi merupakan cara menganalisis ulang suatu objek,

fenomena atau fakta, yang pemaknaannya tergantung seperti apa ia

diekspresikan melalui bahasa. Realitas dimaksudkan untuk mewakili sikap

atau tindakan kelompok atau kelas orang tertentu dalam masyarakat.10

Representasi menghubungkan makna dan bahasa. Stuart Hall

mengatakan bahwa “representasi” berarti menggunakan kata-kata atau gambar

untuk membicarakan sesuatu dan menjadikannya berarti bagi orang lain.

Representasi melibatkan penggunaan bahasa, gambar, atau simbol untuk

menunjukkan atau menjelaskan sesuatu.11

Stuart Hall memang mengemukakan bahwa ada dua aspek penting

dalam proses representasi, yaitu makna (meaning) dan bahasa (language).

a. Makna (Meaning)
Menurut Hall, makna bukanlah sesuatu yang inheren atau tetap,

tetapi dikonstruksi secara sosial dan budaya. Makna diproduksi melalui

interaksi antara simbol-simbol, tanda-tanda, dan konteks sosial yang ada.

Makna bukanlah sesuatu yang pasti atau baku, melainkan dapat beragam

10
Nurhakki Nurhakki and Islamul Haq, ‘Representasi Perempuan Di Masjid’, Jurnal
Askopis, 1.2 (2017).
11
Mochamad Rosy Ilhamsyah, ‘Representasi Muslimah Dalam Film
“Assalamualaikum Calon Imam”: Tinjauan Teori Representasi Stuart Hall’, 2019, 128.
13

tergantung pada perspektif, pengalaman, dan interpretasi individu atau

kelompok.

b. Bahasa (Language)

Bahasa merupakan sarana untuk mentransmisikan makna. Hall

menekankan bahwa bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi yang

sederhana, tetapi juga sebagai konstruksi sosial yang membentuk

pemikiran, persepsi, dan pemahaman kita tentang dunia. Bahasa

memainkan peran penting dalam proses representasi, karena melalui

bahasa, gagasan dan konsep dapat diungkapkan dan ditransfer kepada

orang lain.12
Dalam analisis Hall, representasi dipahami sebagai hasil dari

konstruksi sosial dan budaya yang melibatkan pemilihan, penekanan,

pengkodean, dan dekoding makna melalui bahasa. Representasi tidak bersifat

netral, tetapi mencerminkan kepentingan, perspektif, dan pengetahuan yang

ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, dalam pemahaman Hall, representasi

dapat dipertanyakan, dinegosiasikan, dan diinterpretasi oleh individu atau


kelompok dengan mengambil peran aktif dalam memahami dan memproduksi

makna.

Konsep utama teori representasi (Theory of Representation) adalah

menggunakan bahasa untuk mengkomunikasikan sesuatu yang bermakna

kepada orang lain. Representasi adalah bagian terpenting dari proses di mana

makna diciptakan dan dipertukarkan. Representasi artinya kita mengartikan

12
Sigit Surahman, ‘Representasi Perempuan Metropolitan Dalam Film 7 Hati 7
Cinta 7 Wanita’, Jurnal Komunikasi, 3.1 2017.
14

atau menggambarkan suatu ide dalam pikiran kita menggunakan kata-kata.

Stuart Hall secara tegas mendefinisikan representasi sebagai proses

penciptaan makna melalui penggunaan bahasa.13

Perbedaan proses representasi terutama dalam media menurut Stuart Hall

dan John Fiske, ialah dimana Stuart Hall hanya menjelaskan proses

representasi dalam media dengan konsep encoding atau decoding yang

menjelaskan proses sebuah peristiwa dimaknai oleh media dan khalayak,

yang mana penandaan terhadap sebuah peristiwa yang telah ditandai

kemudian dikelola agar sesuai yang diarahkan kepada khalayak dan dapat

diterima oleh khalayak serta memberikan efek seperti hiburan dan ajakan.

Konsep Stuart Hall mengenai proses representasi media yaitu konsep

encoding atau decoding yang menjelaskan bagaimana proses sebuah peristiwa

dimaknai oleh media maupun khalayak media. Proses encoding media

terhadap suatu realitas yang ada tidak terlepas dari aspek-aspek ideologi baik

bersifat institusional, personal maupun aspek-aspek lain yang berkaitan

dengan kondisi sosio-kultural. Dalam hal ini, seseorang akan terlibat dengan

politik penandaan ketika ia mencoba membuat gambaran tentang realitas yang


diangkatnya.

Pada proses encoding, nilai-nilai digunakan ketika seseorang

memberikan penandaan terhadap sebuah peristiwa. Dalam konsep Stuart

Hall, peristiwa yang telah “ditandai” tersebut diarahkan untuk memiliki

tingkat kesesuaian yang baik ketika dipahami oleh khalayak. Kesesuaian ini

dimaksud pada proses penerimaan (decode) serta adanya pengaruh “have an

13
Stuart Hall, Teori Representasi (Theory of Representation ).
15

effect” baik berupa masukan, hiburan, instruksi, atau ajakan yang tentu saja

memiliki kompleksitas aspek-aspek perseptual di dalamnya baik yang bersifat

kognitif, emosional, ideologis atau konsekuensi behavioral lainnya.14

Stuart Hall menjelaskan bahwa ada dua cara untuk merepresentasikan

sesuatu yaitu representasi makna dan bahasa "Representasi makna" adalah

cara kita memikirkan tentang "sesuatu" dalam pikiran kita. Ini juga bisa

disebut "peta konsep". Pikiran kita dapat membayangkan sesuatu secara

abstrak dan berbeda-beda. Kedua, "Representasi bahasa" adalah hal-hal yang

membantu kita memahami makna. Ide dasar dalam pikiran tersebut kemudian

diterjemahkan mudah dimengerti oleh banyak orang. Cara ini digunakan

untuk menghubungkan ide tentang suatu simbol. Media digunakan untuk

menyampaikan informasi tentang hal yang nyata. Dalam media, representasi

artinya cara menunjukkan pendapat atau konsep seseorang atau kelompok.15

Representasi adalah cara sesuatu ditampilkan atau digambarkan, dan

itu dilakukan melalui sistem tertentu sistem representasi ini terdiri dari dua

bagian penting, yaitu konsep dalam pikiran dan bahasa. Kedua komponen ini

saling terkait satu sama lain. Gagasan tentang sesuatu yang kita pikirkan
membantu kita memahami maknanya. Tapi, arti tidak bisa dipahami tanpa

menggunakan bahasa. Sebagai contoh sederhana, kita mengetahui konsep

'gelas' dan memahami maknanya. Kita harus bisa menjelaskan arti dari 'gelas'

dengan kata-kata yang dimengerti oleh orang lain agar bisa berkomunikasi.

Contohnya, gelas itu adalah benda yang digunakan untuk minum.

14
Hermayanthi, G. B. Representasi Kekerasan Pada Anak dalam Film Miss Baek
(Analisis Representasi Stuart Hall). 2021.
15
Rachma Ida, Metode Penelitian: Studi Media Dan Kajian Budaya (Kencana,
2014).
16

Menurut Stuart Hall dalam artikelnya, "things don't mean: we 25

construct meaning, using representational systems-concepts and signs. Oleh

karena itu, konsep (dalam pikiran) dan tanda (bahasa) menjadi bagian penting

yang digunakan dalam proses konstruksi atau produksi makna.

Jadi dapat disimpulkan bahwa representasi adalah suatu proses untuk

memproduksi makna dari konsep yang ada dipikiran kita melalui bahasa.

Proses produksi makna tersebut dimungkinkan dengan hadirnya sistem

representasi. Namun, proses pemaknaan tersebut tergantung pada latar

belakang pengetahuan dan pemahaman suatu kelompok sosial terhadap suatu

tanda. Suatu kelompok harus memiliki pengalaman yang sama untuk dapat

memaknai sesuatu dengan cara yang nyaris sama.16

Untuk menelaah kajian budaya dan media, salah satu metode yang

digunakan di dalam penelitian ini adalah representasi dengan encoding-

decoding. Kajian ini menggunakan model dari encoding-decoding Stuart Hall

dimana makna tertentu akan diproduksi melalui media film oleh pembuat film

(encoder) yang selanjutnya dikonstruksi lewat alur cerita. Makna yang

tercipta akan dimaknai sama dengan khalayak apabila berada dalam kultur
yang sama. Namun jika berbeda posisi kultur, maka khalayak akan memaknai

pesan yang disampaikan oleh encoder secara berbeda (decoding).

Pemaknaan khalayak kemudian dikelompokkan menjadi 3 kategori

posisi Hall

a. Dominant/Hegemonic (Posisi Dominan). Dominasi menurut Stuart Hall

merujuk pada ketimpangan kekuasaan dan pengaruh yang ada dalam

16
Wibowo, ‘Representasi Maskulinitas’, 2013, 159.
17

masyarakat. Dominasi merujuk pada situasi di mana satu kelompok atau

individu memiliki kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar dibandingkan

dengan kelompok atau individu lainnya. Secara umum, dominasi

melibatkan pengendalian dan penguasaan terhadap sumber daya,

keputusan, dan interaksi sosial dalam suatu konteks sosial atau politik.

Dominasi seringkali terkait dengan ketimpangan kekuasaan, di mana

kelompok yang mendominasi memperoleh keuntungan dan kendali yang

lebih besar atas sumber daya dan kesempatan dibandingkan dengan

kelompok yang berada dalam posisi subordinat. Dominasi dapat

menciptakan ketidaksetaraan, penindasan, dan ketidakadilan dalam

masyarakat.17

Stuart Hall adalah seorang kritikus budaya dan media yang terkenal

dengan kontribusinya dalam pemahaman tentang representasi, identitas,

dan kekuasaan dalam budaya dan masyarakat. Ia sering membahas konsep-

konsep seperti hegemoni, perlawanan, dan negosiasi makna. Meskipun

Hall tidak secara spesifik mengembangkan konsep "posisi dominan,"

kontribusinya yang signifikan adalah dalam memperjelas bagaimana


kekuasaan dan dominasi beroperasi dalam masyarakat melalui media,

representasi, dan produksi budaya. Ia menyoroti bagaimana kelompok yang

memiliki kontrol terhadap produksi media dan simbol-simbol budaya

memiliki kekuasaan untuk membentuk pandangan dunia, nilai-nilai, dan

norma yang mendominasi. Pemikiran Hall juga menekankan pentingnya

perspektif kritis dan pemahaman bahwa makna dan representasi tidaklah

17
Pujiati, H., Astutiningsih, I., & Sari, M. N. Representasi Wacana Fandom Dalam
Novel Fangirl Karya Rainbow Rowell. Publika Budaya, 3(2), 52-62. (2017).
18

tetap atau baku. Ia menyoroti bahwa makna dan representasi selalu terbuka

untuk negosiasi, konflik, dan tindakan perlawanan oleh kelompok-

kelompok yang berada di posisi subordinat atau non-dominan. Dalam

kesimpulannya, walaupun Hall tidak secara langsung membahas "posisi

dominan," kontribusinya dalam pemahaman kekuasaan, representasi, dan

produksi budaya memberikan wawasan penting tentang bagaimana

dominasi dan resistensi terjadi dalam masyarakat kontemporer.18

Menurut Stuart Hall, indikator posisi dominan merujuk pada kekuatan

dan pengaruh yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu dalam

masyarakat. Hall adalah kritikus seorang budaya dan sosial yang berfokus

pada studi kekuasaan dan dominasi dalam konteks budaya.

Dalam konteks cerita film, indikator posisi dominan menurut Stuart

Hall berkaitan dengan cara cerita film mencerminkan dan memperkuat

posisi dominan dalam masyarakat. Beberapa indikator yang dapat dikaitkan

dengan posisi dominan dalam cerita film adalah sebagai berikut:

1) Pemeran utama

Karakter pemeran utama dalam cerita film sering kali menjadi


perwakilan dari posisi dominan dalam masyarakat. Mereka mungkin

memiliki kekuasaan, kekayaan, atau status sosial yang memberikan

mereka keunggulan atau pengaruh yang lebih besar dalam cerita.

2) Plot dominan

18
Laksmana, et al,. Analisis Resepsi Diskriminasi Ageisme Dalam Film Sweet 20.
In SEMAKOM: SEMINAR NASIONAL MAHASISWA KOMUNIKASI (Vol. 1, No. 01, pp. 38-
42). (2023).
19

Cerita film seringkali mengikuti plot yang mencerminkan atau

memperkuat posisi dominan. Plot tersebut mungkin menekankan

penghormatan terhadap nilai-nilai atau norma-norma yang dominan

dalam masyarakat.

3) Konflik dan resolusi

Konflik dalam cerita film seringkali melibatkan pertarungan

antara posisi dominan dan non-dominan. Namun, dalam banyak kasus,

cerita film cenderung memberikan resolusi yang menguntungkan posisi

dominan dan mempertahankan status untuk mencapai keadilan,

kesetaraan, dan perubahan yang lebih baik dalam masyarakat.

4) Representasi yang mendukung dominasi

Representasi karakter, kelompok, atau identitas dalam cerita film

seringkali memperkuat posisi dominan dalam masyarakat. Representasi

ini dapat melibatkan stereotip atau penggambaran yang menguntungkan

dan memihak posisi dominan.

5) Norma dan nilai yang diakui

Cerita film seringkali menghormati norma dan nilai-nilai yang

diakui secara luas dalam masyarakat. Mereka mencerminkan pandangan

dunia yang mendukung dan memperkuat posisi dominan dalam hal

etika, moral, atau konvensi sosial.19

19
Pujiati, et al,. Representasi Wacana Fandom Dalam Novel Fangirl Karya Rainbow
Rowell. Publika Budaya, 3(2), 52-62. (2017).
20

b. Negotiated Reading (Posisi Negosiasi). Menurut Stuart Hall, konsep

"posisi negosiasi" mengacu pada cara individu atau kelompok dalam

masyarakat berinteraksi dengan dan merespons kekuasaan yang ada. Posisi

negosiasi melibatkan strategi dan tindakan yang dilakukan oleh kelompok

yang berada dalam posisi subordinat untuk mempengaruhi atau

menafsirkan kembali kekuasaan dan representasi yang didominasi.

Hall menyatakan bahwa individu dan kelompok dalam masyarakat

tidak hanya pasif menerima atau menolak kekuasaan yang ada, tetapi

mereka juga memiliki kapasitas untuk merespons, memperdebatkan, dan

memodifikasi makna yang terkait dengan posisi mereka. Posisi negosiasi

mencakup taktik-taktik kritis, seperti penggunaan bahasa, simbol, budaya,

dan strategi komunikasi untuk mempengaruhi cara kekuasaan

diinterpretasikan dan dijalankan. Dalam konteks produksi budaya, individu

dan kelompok yang berada dalam posisi subordinat dapat menggunakan

posisi negosiasi untuk mengartikulasikan perspektif mereka sendiri,

memperjuangkan kepentingan mereka, dan melawan representasi yang

stereotip atau merendahkan. Mereka dapat memanfaatkan ruang diskursif


untuk memperjuangkan perubahan, menyuarakan keberagaman, dan

menciptakan narasi alternatif yang mencerminkan pengalaman mereka. 20

Hall menganggap posisi negosiasi sebagai strategi penting dalam

perlawanan terhadap dominasi. Posisi negosiasi tidak selalu menghasilkan

perubahan dramatis atau transformasi sosial yang segera, tetapi mereka

memainkan peran penting dalam mengubah, merintis, dan mereformasi

20
Griselda Sampurno and others, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Serial
Layangan Putus’, Jurnal E-Komunikasi Universitas Kristen Petra, Surabaya, 10.2 (2022).
21

kekuasaan serta membuka jalan bagi perubahan sosial yang lebih besar.

Penting untuk dicatat bahwa posisi negosiasi tidak selalu berhasil atau

tanpa hambatan. Terkadang, kekuasaan yang dominan dapat menahan,

mengecilkan, atau menekan upaya-upaya negosiasi tersebut. Namun,

konsep posisi negosiasi membuka ruang bagi pemikiran kritis dan tindakan

perlawanan, serta memperlihatkan bahwa individu dan kelompok memiliki

peran aktif dalam pembentukan sosial dan budaya.21

Dalam pemikiran Hall tentang posisi negosiasi secara umum,

terdapat beberapa aspek yang dapat menjadi pertimbangan dalam

analisis posisi negosiasi dalam cerita film. Beberapa faktor yang relevan

dalam konteks cerita film yang dapat diasosiasikan dengan posisi

negosiasi adalah sebagai berikut:

1) Karakter dengan penentangan atau perlawanan

Identifikasi karakter dalam cerita film yang menunjukkan sikap

kritis, resistensi, atau tindakan perlawanan terhadap kekuasaan atau

representasi yang dominan. Karakter ini mungkin menggunakan strategi

komunikasi atau tindakan konkret untuk mempengaruhi, merespons,


atau menentang kondisi yang tidak adil atau merugikan.

2) Perubahan atau transformasi karakter

Tinjau perkembangan karakter dalam cerita film yang awalnya

mungkin berada dalam posisi subordinat atau pasif, namun kemudian

mengalami perubahan dan menunjukkan sikap negosiasi. Ini dapat

21
Tuffahati, S. T., & Claretta, D. Analisis Resepsi Penonton terhadap Mitos Menolak
Lamaran Pernikahan dalam Film Yuni. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(3), (2023).
22

mencakup kesadaran diri, penerimaan identitas, atau perubahan dalam

sikap dan tindakan mereka.

3) Aliansi dan solidaritas

Tinjau apakah ada pembentukan aliansi atau hubungan solidaritas

antara karakter-karakter yang berada dalam posisi subordinat dalam

upaya untuk mempengaruhi atau merespons dominasi. Ini dapat

mencakup kerjasama antara karakter-karakter untuk melawan

ketidakadilan atau membentuk gerakan kolektif.

4) Strategi komunikasi dan interaksi

Perhatikan bagaimana karakter-karakter dalam cerita film

menggunakan strategi komunikasi, retorika, atau taktik lainnya untuk

berinteraksi dengan kekuasaan atau representasi dominan. Ini dapat

mencakup penggunaan bahasa, simbol, atau strategi persuasif untuk

mempengaruhi persepsi atau menciptakan perubahan dalam pandangan

dan tindakan. 22

c. Posisi Oposisi. Representasi oposisi menurut Stuart Hall merupakan salah

satu elemen penting yang memberikan dinamika, ketegangan, dan konflik


dalam cerita. Oposisi menggambarkan pertentangan antara elemen-elemen

yang ada dalam narasi, seperti karakter, tema, nilai, dan ideologi.

Penggunaan representasi oposisi oleh penulis dapat memberika kedalaman

22
Meylani, R., Sulistyani, H. D., & Pradekso, T. Audience Reception of the Issue
of Mental Disability in the Korean Drama It’s Okay to Not be Okay. Interaksi Online, 11.
(2022).
23

dan kekayaan pada cerita, menghadirkan konflik yang menarik dan

mempengaruhi perjalanan karakter. 23

Representasi Oposisi menciptakan ketegangan dan konflik yang

menjadi pendorong utama dalam alur cerita. Ketegangan ini menarik

perhatian dan membuat mereka tertarik untuk terus mengetahui bagaimana

konflik tersebut akan dipecahkan. Representasi oposisi memungkinkan

untuk menggambarkan karakter dengan lebih mendalam dan kompleks.

Karakter yang berada dalam konflik seringkali mengalami perkembangan

dan perubahan, sehingga membentuk karakterisasi yang lebih kaya.

Penggambaran Antagonis, Representasi oposisi seringkali melibatkan

adanya karakter antagonis yang berlawanan dengan karakter utama.

Antagonis berperan sebagai pemicu konflik dan menjadi hambatan bagi

pencapaian tujuan karakter utama. Bentuk Konflik yang Beragam,

Representasi oposisi memungkinkan adanya beragam bentuk konflik,

seperti konflik fisik, emosional, intelektual, sosial, atau moral.

Keberagaman ini membuat cerita lebih menarik dan menggugah perasaan

pembaca maupun penonton. Puncak Dramatis, Konflik dalam representasi


oposisi sering mencapai puncak dramatis yang menarik pembaca ke dalam

cerita. Puncak dramatis ini sering diikuti oleh klimaks cerita, di mana

konflik mencapai titik kritis dan resolusi mulai diupayakan.24

23
Sinulingga, K.N.V.P. Analisis Resepsi Khalayak Terhadap Objektifikasi
Perempuan Dalam Serial Netflix “Squid Game” (Doctoral dissertation, FAKULTAS ILMU
SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO). (2023).
24
Anisa, A. R., & Winduwati, S. Pemaknaan Body Positivity dalam Film Imperfect
Pada Kalangan Remaja di Jakarta. Koneksi, 5(2), 427-433. (2021).
24

Indikator representasi oposisi Menurut Stuart Hall mencakup berbagai

elemen dan aspek yang menunjukkan adanya pertentangan atau konflik

antara elemen-elemen dalam cerita. Beberapa indikator utama yang dapat

menggambarkan representasi oposisi adalah:

1. Konflik Karakter

Konflik antara karakter utama dan karakter lain, termasuk

antagonis, teman, atau anggota keluarga, adalah salah satu indikator

utama representasi oposisi. Konflik ini mencerminkan perbedaan nilai,

tujuan, atau pandangan antar karakter yang menyebabkan konflik dalam

cerita.

2. Dialog Konflik

Dialog yang mengandung pertentangan dan ketegangan antara

karakter adalah indikator representasi oposisi. Dialog tersebut mungkin

berisi perselisihan, perbedaan pendapat, atau pertentangan ideologi

antara karakter-karakter tersebut.

3. Pertentangan Tema

Karya sastra yang mengandung tema-tema yang bertentangan atau


saling berlawanan dapat mencerminkan representasi oposisi. Misalnya,

tema kebebasan vs. penindasan, keadilan vs. ketidakadilan, cinta vs.

kebencian, dll.

4. Perbedaan Nilai atau Ideologi

Perbedaan nilai, keyakinan, atau ideologi antara karakter atau

kelompok dalam cerita dapat menjadi indikator oposisi. Konflik sering


25

kali muncul ketika nilai-nilai atau pandangan yang berbeda ini

bertabrakan dan menyebabkan ketegangan dalam narasi.

5. Bentrokan Fisik atau Emosional

Pertentangan fisik atau emosional antara karakter-karakter dalam

cerita juga menunjukkan adanya representasi oposisi. Bentrokan fisik

dapat berupa pertarungan, pertempuran, atau konfrontasi fisik lainnya.

Bentrokan emosional, di sisi lain, melibatkan perasaan dan emosi yang

intens, seperti amarah, kecemburuan, atau sakit hati.

6. Tegangan dan Perkembangan Karakter

Karakter-karakter dalam cerita yang mengalami perkembangan atau

perubahan dalam menghadapi konflik menunjukkan adanya representasi

oposisi. Ketegangan dan perubahan karakter ini menambah dimensi

dramatis dan psikologis dalam karya sastra.

Indikator-indikator ini bekerja bersama-sama untuk menciptakan

representasi oposisi yang kuat. Oposisi adalah pendorong utama dalam alur

cerita, memberikan dinamika dan ketegangan yang diperlukan untuk

menarik minat pembaca dan penonton mengeksplorasi berbagai aspek


konflik manusia.

Posisi oposisi, di sisi lain, merujuk pada sikap atau pendekatan di

mana pihak yang terlibat bertentangan atau saling berlawanan dalam hal

tujuan, kepentingan, atau pandangan. Dalam posisi oposisi, pihak-pihak

yang terlibat mungkin memiliki pandangan yang bertentangan dan

berusaha untuk mempertahankan kepentingan mereka sendiri tanpa


26

memperhatikan kepentingan pihak lain. Tujuan utama dalam posisi oposisi

adalah untuk menang atau mengalahkan pihak lain.25

2. Teori Feminisme

Teori feminisme merupakan teori sebagai upaya terhadap suatu

gerakan wanita yang menuntut emansipasi atau keselarasan dan

keseimbangan hak dengan pria. Kata "feminisme" dibuat oleh Charles

Fourier pada tahun 1837. Fourier adalah seorang aktivis sosialis utopis.

Selain itu, banyak kisah menunjukkan bahwa perempuan seringkali terluka

dan diabaikan dalam segala bidang, terutama di masyarakat yang lebih

menghargai laki-laki. Feminisme berawal dari kata feminin yang artinya

kewanitaan atau hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Feminisme

adalah gerakan perempuan yang berjuang untuk mendapatkan hak-hak

mereka.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa

feminisme adalah gerakan perempuan yang menginginkan kesamaan hak

antara perempuan dan laki-laki.26 Feminisme bisa dijelaskan dalam berbagai

cara, seperti gerakan untuk membela hak-hak wanita atau usaha untuk
mengurangi tekanan yang dialami oleh wanita.27 Seiring waktu, perempuan

menjadi lebih bebas dan mandiri di era liberalisme di Eropa dan Revolusi

25
Ayomi, P. N. Gosip, Hoaks, dan Perempuan: Representasi dan Resepsi Khalayak
Terhadap Film Pendek “Tilik”. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi, 17(1), 51-61.
(2021).
26
Missheal Utama and Noeratri Andanwerti, ‘Pendekatan Feminisme Konsep Alpha
Female Untuk Desain Interior Toko Kosmetik Di Jakarta’, Seri Seminar Nasional Ke-IV
Universitas Tarumanagara, 2022,.
27
Sigit Surahman, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Indonesia (Analisis Semiotika
Terkait Feminisme Pada Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)’, Jurnal Liski, 1.2 (2015).
27

Prancis di abad ke-18. Mereka mulai menampakkan dirinya di depan umum

seperti yang biasa dilakukan laki-laki.28

Buku yang ditulis oleh Rosemarie Putnam Tong yang mengantarkan

kita pada pemahaman-pemahaman feminisme di dunia, yang kemudian

diterjemahkan Aquarini Priyatna Prabosmoro. Diterbitkan oleh Jalasutra,

Yogyakarta. Yang memuat perihal aliran feminisme, baik dari akar

feminisme tersebut sampai kepada kritik terhadap aliran Feminisme

Keberagaman Feminisme dalam versi Tong (2004) dibagi menjadi 8 yaitu:29

Feminisme Liberal, Feminisme Radikal, Feminisme Marxis dan Sosialis,

Feminisme Psikoanalisis dan Gender, Feminisme Eksistensialis, Feminisme

Pos-modern, Feminisme Multikultural dan Global, Ekofeminisme.


Dalam penelitian ini peneliti lebih berfokus pada feminisme Sosial.
Menurut teori Gilman, perempuan diperlakukan sebagai makhluk “inferior”.
Hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan hanya dimaksudkan untuk
menjunjung tinggi laki-laki. Perempuan menghadapi pelecehan seksual,
serangan seksual, dan kekerasan dalam rumah tangga, isu-isu tersebut masih
ada di masyarakat saat ini. Dalam masyarakat saat ini, perempuan masih
mengalami kasus pelecehan dan penyerangan seksual. Feminis sosialis
berusaha mengintegrasikan perjuangan untuk pembebasan perempuan
dengan perjuangan melawan sistem penindas lain yang berdasarkan pada ras,
kelas atau status ekonomi.30

28
Ni Komang Arie Suwastini, ‘Perkembangan Feminisme Barat Dari Abad Kedelapan
Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoretis’, Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora,
2.1 (2013).
29
Heriyanti, L., et al. Membaca Perempuan Di Titik Nol: Perspektif Feminisme
Eksistensialis. Jurnal Wanita dan Keluarga, 1(2), 35-44. (2020).
30
ThoughtC,.[Link]
3528987, diakses pada tanggal 21 juni 2023.
28

Gloria Steinem, seorang tokoh feminisme sosial yang berpengaruh,


memiliki fokus utama pada perjuangan untuk kesetaraan gender dan keadilan
sosial bagi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Beberapa fokus
utama dari Gloria Steinem dalam feminisme sosialnya adalah, Kesadaran
feminis, Gloria Steinem telah berjuang untuk meningkatkan kesadaran
perempuan tentang hak-hak mereka dan isu-isu feminis. Dia berpendapat
bahwa pendidikan dan kesadaran adalah langkah penting untuk mencapai
perubahan sosial yang lebih besar. Penentangan terhadap seksisme, Steinem
secara aktif menentang dan mengekspos berbagai bentuk seksisme yang
masih ada dalam masyarakat. Dia mendukung perjuangan melawan stereotip
gender dan diskriminasi yang dialami oleh perempuan. Isu-isu reproduksi
dan hak-hak reproduksi, Steinem telah lama berjuang untuk hak-hak
reproduksi perempuan, termasuk akses ke kontrasepsi dan aborsi. Dia
percaya bahwa keputusan tentang tubuh dan kesehatan reproduksi harus
menjadi hak individu perempuan. Gerakan solidaritas, Sebagai feminis
sosial, Steinem mendukung gerakan solidaritas dan kerja sama antara
kelompok-kelompok perempuan dan gerakan sosial lainnya. Dia menyadari
bahwa isu-isu gender terkait dengan isu-isu sosial dan politik yang lebih
luas. Advokasi dan aktivisme, Steinem telah menggunakan posisinya sebagai
aktivis, penulis, dan pembicara untuk mengadvokasi perubahan sosial yang
lebih adil dan kesetaraan gender. Dia berusaha untuk memberdayakan
perempuan untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan ketidakadilan.
Feminisme sosialis juga mengemukakan bahwa penindasan struktural

yang terjadi pada perempuan meliputi dua hal, yaitu penindasan di bawah

kapitalis dan penindasan di bawah patriarki, yang kemudian menjadi

penindasan kapitalis patriarki atau disebut dominasi. Feminisme sosialis


29

adalah gerakan untuk membebaskan para perempuan melalui perubahan

struktur patriarki. Perubahan struktur patriarki bertujuan agar kesetaraan

gender dapat terwujud. 31

Asumsi-asumsi dalam teori feminisme sosial mencakup beberapa

pandangan dasar tentang ketidaksetaraan gender dan peran aspek sosial

dalam masyarakat. Beberapa asumsi utama dari teori feminisme sosial antara

lain:

a. Ketidaksetaraan Gender sebagai Isu Struktural

Asumsi utama dari feminisme sosial adalah bahwa ketidaksetaraan

gender bukanlah hasil dari perbedaan individu antara pria dan wanita,

tetapi berasal dari struktur sosial dan sistem yang menguntungkan pria

dan membatasi perempuan. Ketidaksetaraan gender dipahami sebagai

konsekuensi dari dominasi patriarki yang ada dalam berbagai aspek

masyarakat.

b. Peran Struktur Sosial dan Kekuasaan

Teori feminisme sosial menganggap struktur sosial dan kekuasaan

sebagai elemen kunci dalam memahami ketidaksetaraan gender. Struktur-


struktur sosial seperti keluarga, ekonomi, politik, dan agama memiliki

peran penting dalam membentuk peran gender dan mempengaruhi akses

perempuan terhadap sumber daya dan peluang.

c. Kritik terhadap Patriarki

Asumsi lainnya adalah kritik terhadap patriarki sebagai sistem

dominasi yang memberikan kekuasaan lebih kepada pria dan

31
Syifa S. Mukrimaa and others, ‘“Kesetaraan Dalam Pernikahan” Pada Iklan Kecap
ABC’, Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, [Link] (2016), 128.
30

menguntungkan mereka dalam hampir semua aspek kehidupan.

Feminisme sosial berusaha untuk mengidentifikasi dan mengatasi

dinamika patriarki yang menyebabkan ketidaksetaraan dan penindasan

terhadap perempuan.

d. Interseksionalitas

Teori feminisme sosial mengakui bahwa ketidaksetaraan gender tidak

berdiri sendiri dan saling terkait dengan isu-isu lain seperti ras, kelas

sosial, orientasi seksual, dan disabilitas. Pendekatan interseksional

memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana

identitas dan pengalaman yang berbeda saling berpotongan dan

mempengaruhi pengalaman individu dalam konteks kesetaraan gender.

e. Perubahan Struktural dan Sosial

Asumsi feminisme sosial adalah bahwa untuk mencapai kesetaraan

gender, diperlukan perubahan struktural dan sosial yang lebih luas dalam

masyarakat. Ini mencakup mengubah norma sosial, kebijakan, dan sistem

yang menyebabkan ketidaksetaraan gender, serta meningkatkan kesadaran

dan partisipasi dalam mengatasi isu-isu gender.


f. Keseimbangan Kehidupan Pribadi dan Profesional

Feminisme sosial juga menekankan pentingnya keseimbangan antara

kehidupan pribadi dan profesional bagi perempuan. Asumsi ini

memandang bahwa perempuan harus memiliki kesempatan untuk

mengembangkan karir dan aspirasi pribadi tanpa harus mengorbankan

peran perawatan dan tanggung jawab rumah tangga.


31

Asumsi-asumsi tersebut membentuk dasar pandangan feminisme

sosial tentang ketidaksetaraan gender dan bagaimana mencapai kesetaraan

melalui perubahan sosial dan struktural yang lebih luas. Teori ini terus

berkembang dan beradaptasi dengan perkembangan sosial dan memainkan

peran penting dalam gerakan feminisme untuk mencapai kesetaraan gender

di seluruh dunia.

Pentingnya Feminisme Sosial. Feminisme sosial memiliki peran

penting dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan menciptakan

masyarakat yang lebih adil bagi semua orang. Dengan menekankan aspek

sosial dan ekonomi dari ketidaksetaraan gender, feminisme sosial berusaha

untuk mengatasi akar permasalahan ketidakadilan tersebut dan mendorong

perubahan yang lebih mendalam dalam struktur sosial dan ekonomi.

Feminisme sosial juga memahami bahwa ketidaksetaraan gender tidak

terpisah dari sistem yang lebih luas seperti kapitalisme, rasisme, dan

patriarki. Oleh karena itu, feminisme sosial berusaha untuk memahami dan

menghadapi kompleksitas ketidaksetaraan yang dialami oleh perempuan dari

berbagai latar belakang.32


Secara umum, feminisme sosial, menghapusan Kekerasan terhadap

Perempuan, Melawan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan,

termasuk kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, perdagangan

manusia, dan praktik kekerasan lainnya yang menargetkan perempuan.

Feminisme sosial tidak hanya berfokus pada perubahan individu, tetapi juga

bertujuan untuk mengubah struktur sosial, kebijakan, dan sistem yang

32
M. Taufiq Rahman, ‘Pemikiran Feminisme Sosialis Dan Eksistensialis’, Digital
Library UIN SUNAN GUNUNG DJATI, 2019.
32

menyebabkan ketidaksetaraan gender. Aliran ini mengakui bahwa perubahan

struktural adalah kunci untuk mencapai kesetaraan yang berkelanjutan dalam

masyarakat. Sebagai bagian dari gerakan feminisme, feminisme sosial terus

berupaya mengatasi tantangan dan kritik, serta bekerja untuk menciptakan

masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua orang tanpa memandang

gender.

C. Kerangka konseptual

1. Film Sebagai Media Massa

Seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi,

proses komunikasi dilakukan tidak hanya langsung (face to face,

interpersonal) namun telah menggunakan media Film berfungsi untuk

mengkomunikasikan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sehari

hari. Salah satu kekuatan film adalah dalam menggambarkan bagaimana

masyarakat itu sebenarnya.33

Film adalah bagian dari media massa yang sering digunakan

untuk menggambarkan kehidupan sosial dalam masyarakat. Film adalah

bagian dari media massa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan


efektif. Film adalah jenis kreasi budaya yang dapat memberikan

pelajaran penting dan pandangan sekilas tentang kehidupan kepada

pemirsa. Film juga bisa dipakai untuk mengkomunikasikan pesan

dengan sangat baik. Film adalah media yang sangat kuat untuk

membentuk cara berpikir masyarakat karena kualitas suara dan gambar

yang ditampilkan di dalamnya.

33
Adlina Ghassani and Catur Nugroho, ‘Pemaknaan Rasisme Dalam Film (Analisis
Resepsi Film Get Out)’, Jurnal Manajemen Maranatha, 18.2 (2019).
33

Wibowo mengatakan bahwa film adalah cara untuk

menyampaikan macam-macam pesan yang berbeda kepada orang-orang

melalui sebuah cerita dalam sebuah media. Film juga bisa digunakan

oleh para seniman dan orang yang bekerja di film untuk mengungkap

ide-ide dan cerita mereka. Film memiliki pengaruh yang kuat terhadap

masyarakat dan merupakan salah satu bentuk komunikasi massa yang

saling berhubungan dengan masyarakat.

Film adalah sebuah cara untuk berkomunikasi melalui suara dan

gambar yang dipadukan dalam cerita. Film bisa digunakan sebagai cara

untuk buat pesan agar mudah dipahami oleh penonton melalui

penjelasan cerita yang ditulis oleh penulis skenario. Film selaku media

massa mempunyai tiga fungsi yaitu menyampaikan informasi, edukasi

dan hiburan. Film adalah media yang digunakan untuk berkomunikasi

dan memengaruhi cara berpikir orang dengan berbagi cerita melalui

film. Film selain digunakan untuk berkomunikasi, juga bisa digunakan

untuk mengajarkan nilai-nilai dan publikasi.34

Film yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan ide bisa


memiliki berbagai bentuk, sesuai dengan tujuan film tersebut. Namun,

film biasanya dapat memberikan banyak pesan. Ada pesan tentang

pendidikan, hiburan dan juga informasi. Dalam film, pesannya

disampaikan dengan representasi yang ada di dalam akal manusia

seperti kata-kata, suara, dan percakapan. Film bisa jadi cara komunikasi

yang sangat baik dengan orang banyak karena isinya bisa didengar dan

34
Fred Wibowo, ‘Tenik Program Televisi. Yogyakarta: Pinus Book Publisher. Hal:196
1’, 2006.
34

dilihat. Film bisa mengisahkan banyak cerita dalam waktu singkat

dengan menggunakan gambar dan suara. Ketika menonton film, kita

merasa seolah-olah kita dapat masuk ke dalam cerita dan bahkan dapat

mempengaruhi audiens.35

Komunikasi massa menciptakan produk yang disebut pesan

komunikasi. Produk itu disebar dan didistribusikan secara teratur dan

terus menerus kepada banyak orang dengan jeda waktu yang sama

seperti setiap hari, setiap minggu, setiap dua minggu, atau setiap bulan.

Untuk membuat pesan yang dapat dilihat banyak orang, seseorang tidak

dapat melakukannya sendiri. Harus ada organisasi dan teknologi khusus.

Oleh karena itu, kebanyakan pesan yang disebarkan ke banyak orang

dilakukan oleh industri film.36

Karya Sastra sebagai gambaran kreatif yang menggunakan bahasa

untuk berbicara tentang kehidupan manusia dan realitas. Secara umum,

sebuah karya sastra memuat permasalahan yang dihadapi masyarakat. 37

Banyak film yang secara tidak sadar menampilkan semacam hubungan

bias gender, seperti seakan-akan memandang perempuan sebagai


makhluk yang tidak berdaya (lemah) atau kurang berkuasa. Wanita

seringkali diberi karakter menjadi kaum tertindas, objek seksual laki-

laki, sampai target pelecehan. Bukan sekedar itu, wanita seringkali

divisualisasikan oleh sutradara sebagai sosok yang rendah dan cengeng.

35
‘FILM SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI MASSA - E-JURNAL’ <[Link]
[Link]/2014/01/[Link]> [accessed 13 March 2023].
36
Romli Khomsahrial, ‘Komunikasi Massa, Jakarta: PT’, Gramedia Jakarta, 2016.
37
Karima, et al., ‘Citra Perempuan Dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat
Babak: Kajian Sastra Feminis Dan Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA’,
Institutional Repository, 2021.
35

Dalam perfilman Indonesia, tokoh perempuan diilustrasikan

sebagai orang yang, emosional, lemah, pelit, dan cuek. Namun, banyak

film yang menampilkan kekuatan, perjuangan, dan kerja keras

perempuan agar dapat merubah persepsi masyarakat terhadap

perempuan.

Kehadiran media film yang bersinggungan dengan feminisme

dapat menyadarkan penonton akan bentuk-bentuk ketidakadilan gender

seperti marginalisasi, subjugasi, stereotyping, dan sosialisasi ideologi

nilai peran gender Feminisme pun terus berkembang hingga saat ini.

Pada dasarnya tujuan feminisme itu sendiri adalah untuk menyamakan

hak dan kedudukan perempuan dan laki-laki, serta memperjuangkan

perempuan sebagai manusia yang memiliki kebebasan berpikir, emosi

dan tubuh yang sama dengan laki-laki. Feminisme percaya bahwa

perempuan memiliki hak untuk menyuarakan pemikirannya dalam

memperjuangkan haknya secara luas dan terbuka. Sejak feminisme lahir

dan berkembang, media film juga mengalami perkembangan yang sama.

Oleh karena itu media film sering dijadikan sebagai alat perjuangan
gerakan feminis ini. Film dianggap lebih mampu dan dapat digunakan

sebagai alat ideologis untuk melawan pandangan masyarakat yang

negatif tentang citra perempuan dalam masyarakat. Film juga dipandang

sebagai alat untuk memperkuat pandangan positif terhadap perempuan

yang selama ini dipandang negatif oleh masyaraka.38

38
Rena Azzahra Salsabila, Representasi Feminisme Di Korea Selatan Melalui Film
‘Kim Ji Young, Born 1982’, 2022.
36

2. Sinopsis Film Demi Nama Baik Kampus

Gambar 2.1 Poster Film Demi Nama Baik Kampus


([Link]

Judul Film Demi Nama Baik Kampus


Sutradara Andi T
Produksi Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud
(Kementrian Pendidikan dan Budaya)
Produser Aco Tenri
Penulis Andi T
Rilis 14 Desember 2021
Durasi 32 menit 16 detik
Kategori Film Pendek
Pemeran Laras Ardhia, Anne Yasmine, Bismo Satrio,
Mariana Resli, Tam Notosusanto, Ajeng
Sharfina Adiwidya, Fizal Aji Pratama, Ismu
Tanjung, Adelianti, Agus Andrian
Produser Aco Tenri
Sutradara dan penulis Andi T
Astrada Taufiq Nugraha
Director of photography Bambang Bembi Saputro, Gaffer - Aas Asari
Lighting man Endang 'Malih' Supriady
Line producer Allya Nissa
Unit production manager Rison Risdiantoro
Penata suara dan Asisten suara Wiansa Dewata, Ahmad Khomarudin
Wardrobe dan Asisten wardrobe Clara Jovita dan Corry Maria
Make up dan Asisten make up Vania Thufaila dan Annisa Nur Aisyah
Casting director Farrah Aulia Azliani
Talent coordinator Hafiezh Muhammady
Art director Farhan Arisyi
Standby set art M Nurul Yakin
Prop man dan Prop master Muhammad Faiz Ardan dan Fajar Setyo
Tuhu Grafis, Rizki Fadilah
Script continuity Felly Oktavia Syafani
Clapper M. Fikri
Location men Heru Pratama & Borris Hernandoe
Offline editor Khairun Na'im Kesuma
Assistant editor Raditia Mahardika
37

Colorist Klover Studio, Yulia Anggraeni


Sound engineer Wiansa Dewata
Motion graphics Anzhar Kesuma
Subtitles Cemara Weda

Table 2.1 Daftar pemain dan kru

“Demi Nama Baik Kampus” merupakan salah satu film pendek yang

dipersembahkan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan,

Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Film yang diangkat dari temuan di

lapangan tersebut disutradarai oleh Andi T. Yang dirilis pada 14 Desember

2021 dengan durasi 32 menit 15 detik.

“Demi Nama Baik Kampus” menceritakan tentang seorang mahasiswi

bernama Sinta yang sedang dalam masa penelitian untuk tugas akhirnya. Ide

skripsinya mengangkat mengenai seorang R.A. Kartini. Ia merasa

penggambaran Kartini di media terlalu pasrah. Padahal ide-ide yang ada

dalam surat-suratnya sangat tajam dan berani mengkritik hal-hal yang

dianggap tidak adil bagi seorang wanita, baik dalam masyarakat, politik,

maupun budaya. 39

Idenya diterima dengan baik oleh dosen pembimbingnya, Arie


Santoso. Keduanya mulai membahas mengenai ide skripsi tersebut pada

malam hari karena Arie yang terlalu sibuk saat siang hari. Saat dalam proses

bimbingan tersebut, Arie yang awalnya duduk di seberang Sinta dan terhalang

meja kerja, mulai mendekati Sinta dan berbicara hal di luar skripsi serta ranah

pribadi. Sinta mulai tidak nyaman saat Arie menyentuhnya dan ia langsung

pamit pergi ke toilet. Namun, Arie memaksa masuk ke dalam toilet dan

39
Kompasiana,[Link]
5459183/belajar-dari-film-demi-nama-baik-kampus diakses pada tanggal 20 juni 2023.
38

mencoba melakukan pelecehan seksual, ia bahkan mengancam Sinta untuk

tidak membocorkan kejadian tersebut.

Sinta mengalami trauma dan sempat absen dari kuliahnya selama

beberapa hari. Abi, sahabatnya, mencoba untuk menenangkan Sinta dan

membantunya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka sudah mencoba

bertemu rektor dan membicarakan semuanya, namun keadaan malah

membalik membuat Sinta menjadi pihak yang disalahkan hanya karena

perkataan Arie yang dikenal sebagai dosen baik, sopan, dan rajin dan rektor

yang lebih mementingkan reputasi serta nama baik kampus. Rektor

memintanya untuk menarik segala tuduhan dan permintaan pemecatan Arie

karena tidak adanya saksi dan bukti dengan imbalan Sinta tidak akan dituntuk

atas pencemaran nama baik Arie dan kampus. Sinta semakin tertekan dengan

tersebarnya berita bahwa ia yang merayu Arie. Abi kembali membantu dan

mengatakan bahwa ada Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan

Seksual yang dapat membantu untuk mengurus kasus tersebut. Satgas yang

baru terbentuk itu berhasil membantu dan menangani kasus Sinta.

D. Kerangka Pikir
Objek peneliti pada penelitian ini adalah analisis Representasi

Feminime pada film Demi Nama Baik Kampus dengan menggunakan teori

representasi dengan melihat pada beberapa Scene-Scene dalam film yang

menggambarkan Feminisme dengan menggunakan analisis isi dengan

mengetahui makna dari scene tersebut. Adapun kerangka pikir dalam

penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini:


39

Film “Demi Nama Baik Kampus”

Representasi Feminisme Sosial

Posisi Dominasi
Posisi Negosiasi
Posisi Oposisi

Gambar 2.2 Bagan Kerangka Pikir


BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam proposal ini merujuk pada

pedoman penulisan karya ilmiah yang diterbitkan IAIN Parepare. Metode

penelitian dalam buku tersebut mencakup beberapa hal yang dijadikan sebagai

rujukan pada penelitian ini diantaranya yaitu pendekatan dan jenis penelitian,
lokasi penelitian, tehnik pengumpulan data, fokus penelitian, jenis dan sumber

data dan tehnik analisis data.

A. Pendekatan dan jenis penelitian

Metode Penelitian salah satu langkah atau sistem yang dipakai oleh

peneliti dalam mengumpulkan dan mengelola informasi atau sebuah data yang

telah diperoleh.40 Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

tipe penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode kualitatif merupakan

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari

orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Secara kualitatif, analisis isi dapat

melibatkan suatu jenis analisis, di mana isi komunikasi (percakapan, teks

tertulis, wawancara, fotografi dan sebagainya) dikategorikan dan


diklassifikasikan.41

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

analisis isi kualitatif. Analisis isi media kualitatif lebih banyak dipakai untuk

meneliti dokumen yang dapat berupa teks, gambar, simbol dan sebagainya.42

40
A FITRIANA, ‘Metode Penelitian Kuantitatif’, Repository IAIN Parepare, (2020).
41
Emzir, metodologi penelitian kualitatif ANALISI DATA, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada (2011).
42
Ahmad, J. Desain penelitian analisis isi (Content analysis). Research Gate, 1-20. .
(2018).
40
41

Metode analisis isi (content analysis) berfokus pada karakteristik bahasa sebagai

komunikasi dengan perhatian pada isi atau arti kontekstual teks. Analisis isi

kualitatif diartikan sebagai metode riset untuk interpretasi subjektif dari isi data

melalui proses klasifikasi sistematis koding dan indentifikasi tema atau pola.

Secara lebih jelas, alur analisis dengan menggunakan teknik contect analisis

terdapat pada Gambar 3.1.43

Klasifikasi Data
Menemukan Prediksi/Menganalisis
Berdasarkan
lambang/simbol Data
Lambang/Simbol

Gambar 3.1 Teknik Content Analysis

B. Lokasi dan Waktu penelitian

1. Lokasi penelitian

Pada penelitian ini, peneliti tidak memiliki lokasi fisik dikarenakan objek

yang diteliti berupa film dan kegiatan mengumpulkan data penelitian diambil

dari dokumentasi film tersebut.

2. Waktu penelitian

BULAN

NO KEGIATAN April Mei Juni Juli

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Pra Penelitian

1. Pemilihan ide

2. Perumusan Masalah

43
Irma Rumtianing UH, [Link], Analisis Isi Kualitatif Peran Jurnalis Televisi Dalam
Film Good Night And Good Luck, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2018. Hal 42
42

Penyusunan Teori
3.
dan Konsep

Penyusunan Metode
4.
Penelitian

Penelitian

Pengumpulan Data

5. Observasi

Dokumentasi

Pasca penelitian

6. Pengolahan Data

7. Analisis Data

8. Kesimpulan

Tabel 3.1 Rancangan waktu penelitian

Diperkirakan kurang lebih dua bulan lamanya untuk proses Pra Penelitian

termasuk pembuatan proposal dan waktu penelitian sampai pasca penelitian

sampai pasca penelitian dilaksanakan sekitar kurang lebih 2 bulan.

C. Fokus Penelitian
Berdasarkan judul penulis fokus penelitian berfokus pada representasi

feminisme pada film “Demi Nama Baik Kampus” karya Andi T dengan durasi 32

menit 15 detik. Berdasarkan judul yang diangkat maka penenlitian memfokuskan

penelitian yakni melakukan screenshoot setiap adegan yang berhubungan dengan

bagaimana bentuk representasi feminisme pada film “Demi Nama Baik Kampus”

dengan menggunakan analisis isi (contect analisis).


43

D. Jenis dan Sumber Data

Sumber data penelitian ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu sumber data

primer dan sumber data sekunder.

1. Data Primer

Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode

observasi dan dokumentasi. Observasi adalah teknik pengumpulan data yang

dilakukan melewati suatu peninjauan dan pencatatan secara sistematis,

terhadap fenomena yang diteliti untuk mendapatkan informasi yang

dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian. Di dalam penelitian,

observasi dapat dilakukan dengat teks, kuesioner, rekaman gambar dan

rekaman suara. Metode observasi penelitian ini dilakukan dengan

menganalisis secara seksama seluruh objek atau bahan penelitian, yaitu

bagian scene film Demi Nama Baik Kampus.

Setelah adegan yang mewakili feminisme didapatkan, metode

dokumentasi diterapkan. Peneliti memilih (meng-capture) adegan-adegan

yang berisi penggambaran feminisme. Selain itu, materi yang terkumpul dan

mewakili feminisme akan dianalisis menerapkan metode analisis isi (contect


analisis) dan kerangka teori yang ada untuk menarik hasil dari masalah

penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data tambahan yang digunakan sebagai referensi

dalam penelitian ini. Banyak informasi tambahan dapat ditemukan di buku,

majalah, dan internet yang terkait dengan subjek yang sedang dibahas. Data

sekunder adalah informasi tambahan yang dibutuhkan dalam penelitian.


44

E. Teknik Pengumpulan Data

Mengumpulkan data merupakan tindakan penting bagi peneliti untuk

mencapai tujuan penelitian yang sukses. Untuk mengetahui apakah sebuah

penelitian memiliki nilai yang valid, sangat bergantung pada data yang

digunakan. Peneliti akan mengumpulkan data dengan menggunakan teknik

dokumentasi. Dokumentasi adalah cara mengumpulkan informasi untuk

penelitian dengan mencari data dari film, buku, skripsi, jurnal, situs internet, dan

lain-lain yang dianggap penting untuk penelitian tersebut.

A. Observasi

Observasi atau peninjauan adalah ketika kita melakukan pengukuran

atau memeriksa sesuatu. Observasi dilakukan dengan cara mengamati film

Demi Nama Baik Kampus. Berdasarkan teknik analisis isi yaitu menemukan

lambang, klasifikasi data, menganalisis data yang merupakan alat ukur

penelitian pendekatan analisis isi dan menggunakan teori representasi yang

menggambarkan feminisme. Representasi film demi nama baik kampus

dilakukan dengan menentukan adegan keadegan mengamati alur dan isi

untuk mengungkap revresentasi yang relevan.


B. Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah proses pencarian informasi dari buku,

penelitian sebelumnya, dan sumber digital yang berhubungan dengan

proposal penelitian. Data yang diambil merupakan data dokumentasi di film

Demi Nama Baik Kampus karya Andi T yang dirilis pada tahun 2021.
45

C. Studi kepustakaan

Kajian ini mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seperti

buku, artikel, website, dan sumber lain yang relevan tentang masalah yang

sedang dibahas.

F. Uji keabsahan Data

Keabsahan data merupakan cara untuk menghindari kesalahan dalam

penelitian agar hasil penelitian menjadi lebih baik. 44 Selama proses pengecekan

keabsahan data, peneliti melakukan uji kredibilitas dengan menggunakan

berbagai teknik seperti yang diungkapkan sebelumnya oleh Sugiono. Beberapa

teknik tersebut adalah sebagai berikut:

a. Keterpercayaan (Credibility/ Validitas)

Penelitian kredibilitas adalah ukuran kebenaran data yang telah

dikumpulkan yang memberikan kesamaan konsep peneliti dengan hasil

penlitian. Jadi pada penelitian kuatitatif data dapat dinyatakan kredibel

apabila adanya persamaan antara yang dilaporkan oleh peneliti denga apa

yang sesungguhnya yang terjadi pada objek yang diteliti.

b. Keteralihan (Transferability/ Validasi Eksternal)


Pada penelitian kualitatif, nilai transferability tergantung pada

pembaca, untuk mengetahui sampai sejauh mana hasi penelitian tersebut

diterapkan pada konteks dan situasi sosial yang lain, jika pembaca

memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas tentang laporan peneliti

44
Suria Sunarti, ‘Strategi Pengelolaan Sumber Daya Manusia(Sdm) Dalam
Pelaksanaan Proses Pernikahan Dimasa Pandemi Covid-19 Di Kantor Urusan Agama (Kua)
Kec. Soreang Kota Parepare’, (Skripsi Sarjana; Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah, (Iain)
Parepare 2022), H. 41.
46

(kontes dan fokus peneliti).45 Oleh karna itu untuk menerapkan hasil

penelitian tersebut, maka peneliti dalam membuat laporan harus memberi

uraian yang jelas, rinci, jelas, sistematis, dan dapat di percaya. Sehingga

pembaca dapat memahami dengan jelas atas penlitian tersebut.

c. Ketergantungan (Dependability/ Reabilitas)

Dalam penelitian kuantitatif, uji dependability dilakukan dengan

melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Hasil penelitian

tidak dapat dikatakan depentable jika peneliti tidak membuktikan bahwa

telah dilakukannya proses penelitian secara umum. Mekanisme uji

dependabilitas dapat dilakukan melalui audit oleh pembimbing untuk

mengaudit keseluruhan rangkain proses penelitian

d. Kepastian (Confirmability/Objetivitas)

Dalam penelitian kualitatif, uji comfirmability mirip dengan uji

dependability, sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan.

Menguji compirmability berarti menguji hasil penelitian yang dikaitkan

dengan proses penelitian yang di lakukan. Bila hasil penelitian yang

dilakukan merupakan fungsi dari proses penelitian berarti penelitian tersebut


sudah memenuhi standar comfirmability.46

G. Teknik Analisis Data

Dalam mengkaji film Demi Nama Baik Kampus pada penelitian ini,

penulis menggunakan analisis isi untuk mengetahui Representasi Feminisme

45
Arnild Augina Mekarisce, ‘Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Pada Penelitian
Kualitatif Di Bidang Kesehatan Masyarakat’, Jurnal IImiah Kesehatan Masyarakat, 12.33
(2020).
46
Purnama Syae Purrohman, ‘Menulis Skripsi Dengan Metode Penelitian Kualitatif’,
Universitas Muhammadiyah, [Link] (2018).
47

dalam Film Demi Nama Baik Kampus. Pendekatan model analisis , juga dikenal

sebagai analisis konten, adalah metode yang digunakan untuk menganalisis dan

memahami isi dari teks atau dokumen tertentu. Teknik yang digunakan yaitu

pola, tema, atau karakteristik lainnya dalam data teks.

Maka secara rinci teknik analisis yang dipakai peneliti, yaitu:

a. Peneliti menonton film “ Demi Nama Baik Kampus” terlebih dahulu.

b. Melakukan pengamatan adegan atau hal-hal yang terjadi dalam Scene

tersebut.

c. Mengklasifikasi data dengan melakukan analisis dengan pengkodean.

d. Mengklasifikasi data melalui dialog dan visual dengan capture scene-scene

yang dianggap mempresentasikan, Posisi Dominan, Posisi Negosiasi, Posisi

Oposisi yang terkait Feminisme.

e. Tahap terakhir, peneliti menarik kesimpulan dari hasil analisis.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Data yang didapatkan setelah peneliti melakukan penelitian, yaitu

mengetahui bagaimana bentuk representasi feminisme dilihat dari posis dominan,

negosiasi dan oposisi dalam film “Demi Nama Baik Kampus”. Lalu di Analisis
melalui Bahasa Dan Makna menurut Stuart Hall. Selain dari analisis Representasi

peneliti juga menganalisis latar, toko, teknik pengambilan gambar dan editing.

Pada Film “Demi Nama Baik Kampus” (DNBK).

1. Tokoh dan Karakter Film “Demi Nama Baik Kampus”.

a. Laras Ardhia (Protagonis)

Gambar 4.1 Screenshot Youtube film “DNBK”

Laras Ardhia berperan sebagai Sinta, dia merupakan mahasiswi.

Sinta memerankan sosok perempuan yang tidak mudah menyerah dengan

keadaan.

48
49

b. Bismo Satrio (Antagonis)

Gambar 4.2 Screenshot Youtube film “DNBK”

Bismo Satrio berperan sebagai Arie, dia merupakan Dosen. Arie

memerankan sosok Laki-Laki yang arogan dan pembohong yang

menindas Mahasiswinya.

c. Anne Yasmin (Tritagonis)

Gambar 4.3 Screenshot Youtube film “DNBK”

Anne Yasmin berperan sebagai Abi, dia merupakan Sahabat Sinta.

Abi memerankan sosok yang memberikan motivasi kepada Sinta dan

membantu Sinta dalam keadaan yang sulit. Selain itu Abi merupakan

sahabat yang setia dan bertanggung jawab.


50

d. Tam Notosusanto (Tritagonis)

Gambar 4.4 Screenshot Youtube film “DNBK”

Tam Notosusanto berperan sebagai Rektor, memerankan sosok

yang mudah mengambil keputusan tanpa melihat akar permasalahan,

rektor merupakan seseorang yang tidak tegas dalam mengambil

keputusan pada suatu keadan yang tertentu, selain dari pada itu Rektor

tetap bertanggung jawab atas jabatannya dan sadar diri jika dia benar

salah dengan meminta maaf.

e. Mariana Resli, Ajeng Sharfina Adiwidya, Fizal Aji Pratama

(Tritagonis)

Gambar 4.5 Screenshot Youtube film “DNBK”


51

Mariana Resli, Ajeng Sharfina Adiwidya, Fizal Aji Pratama

berperan sebagai Ibu Anisa (Dosen), ida, (mahasiswi) Faisal (mahasiswa),

mereka bertiga merupakan Tim Satgas, yang menangani kasus pelecehan

Seksual yang dialami Sinta. Tim Satgas merupakan Organisasi yang

bertanggung jawab dan Adil.

2. Representasi Feminisme Dominan, Negosiasi dan Oposisi.


a. Representasi Posisi Dominan dalam Film Demi Nama Baik Kampus

Dominasi menurut Stuart Hall merujuk pada kekuatan dan pengaruh

yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu dalam masyarakat. Dominasi

terjadi ketika satu kelompok atau kelas memiliki kontrol yang lebih besar atas

sumber daya ekonomi, politik, dan budaya, serta mampu menentukan norma,

nilai, dan representasi yang diakui dalam masyarakat. Dominasi ini dapat

menyebabkan ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan penindasan. Namun, Hall

juga mengakui adanya ruang untuk resistensi dan negosiasi dari kelompok

atau individu yang berada dalam posisi subordinat. Representasi Dominan

pada film “Demi Nama Baik Kampus”, dan Stuart Hall membentuk
Representasi menjadi dua yaitu dalam bentuk Bahasa dan Makna.

1) Representasi Dominasi dalam bentuk Bahasa

Beberapa dialog yang mengandung representasi dominasi didalam

film demi nana baik kampus yaitu:

a) Representasi Dominasi yang ditunjukkan Sinta


“iya jadi gini yah, gue tuh udah baca semua surat-surat kartini. Bener-
bener pikiran aslinya dia itu benar-benar perempuan yang berani
banget ngritik hal-hal yang nggak adil buat perempuan baik itu
masyarakat, politik, budaya. kartini yang kita lihat dimedia tuh beda
banget. Ya Cuma kaya perempuan penurut dan sopan, gitu dengan
52

kebaya beludru dan kondenya aja. Sementara kayak ide-idenya, kritik-


kritik tajemnya, itu tuh nggak ditampilkan bahkan dilupain!”47
“kita bisa bahas skripsi saya saja Pak Ari?”48
Sinta menunjukkan ketegasan bahwa ada sesuatu yang

terlupakan dan seharusnya diungkap mengenai sosok Kartini. Dengan

tegas Sinta meminta Dosennya (pak Ari) untuk fokus membahas

skripsinya saja. Sinta menunjukkan sikap dominasi dimana dia bebas

dalam mengambil keputusan memilih judul skripsinya mengenai

Kartini. Posisi dominan memiliki kekuasaan dan kendali.

b) Representasi Dominasi yang ditunjukkan Pak Ari (Dosen)


“Saya bisa lho bantuin kamu kapan saja, 24 jam sehari. Saya bisa di
whatsapp kapan aja, yang penting skripsi kamu nih, spektakuler. Kamu
tuh punya potensi luar biasa Sinta, spesial, ayo dong harus lebih pede.
Biasa? Buat aku sih kamu ngak biasa Sinta udah pintar, cantik lagi,
Sinta kamu lakuin apa saja yang kamu perlukan. Kalo kamu baik sama
saya, saya akan lebih baik lagi sama kamu, kalau kamu sangan baik
sama saya wahh... nilai kamu bisa seratus, “pak” terus lo. Berasa tua
saya. Udah, panggil mas aja,”
“Buat saya sih kamu nggak biasa, Sinta, udah pintar, cantik lagi,”
“kelihatan banget hasilnya, bagus badan kamu padat. kayak model,”
“Duduk dulu disini ngak papa.”
“Sinta!, kamu sensi banget sihh? Saya nggak ngapa ngapain!, saya
mau masuk,”
“Kamu jangan pernah berani ngomong sama siapa-siapa. Kalau kamu
berani ngomong, habis kamu. Paham,” 49
“Saya akan memaafkan anda, jika anda tanda tangan ini,”50
“Jadi gue mau cium dia, dianya nggak mau, gue coba lagi, biasanya
cewek kalo bilang nggak, sebenarnya mau, Sal. Iya kan?, Mahasiswi
banyak yang mau sama gue. Cuma gue tawarin dapet nilai tinggi, gue
dapat lebih dari ciuman, Sal, Dia lari kekamar mandi. Kayak gue
kriminal aja.”51

47
Dialog Sinta Scene 1 dikutip pada tanggal 14 Juli 2023.
48
Dialog Sinta scene 2 dikutip pada tanggal 14 Juli 2023.
49
Dialog Pak Ari scene 2 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
50
Dialog pak Ari scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
51
Dialog Pak Ari scene 10 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
53

Ari memberitahukan Sinta untuk memanggilnya Mas saja agar

lebih akrab dengan Sinta. Ari mulai mengeluarkan kata-kata diluar

dari pembahasan pada saat bimbingan karena dia menganggap bahwa

dia bebas mengeluarkan kata-kata sesuai keinginannya karena Ari

merupakan Dosen dan memiliki kekuasaan dan pengaruh yang lebih

besar dibandingkan dengan Sinta mahasiswinya. Sehingga Ari bebas

dalam memasuki ruang privasi seseorang dengan menilai tubuh Sinta

dengan mengatakan badan Sinta padat seperti seorang model dan

memaksa Sinta untuk tetap duduk di sampingnya. Dominasi lain

ditunjukkan memaksa untuk masuk kedalam kamar mandi dan tidak

menghiraukan batasan-batasan yang ada. Ari sangat arogan dengan

mengancam Sinta untuk tidak memberitahukan kejadian tersebut

kepada orang lain.

Ari menggunakan kekuasaannya dengan menyuruh Sinta untuk

bertandatangan disurat perjanjian. Sikap dominasi yang ditunjukkan

Ari menganggap perempuan lemah dan dapat ditukarkan dengan


kekuasaan yang dimilikinya.

c) Representasi Dominasi yang ditunjukkan Rektor


“Sinta, anda lah yang berusaha merayu dan mencium Pak Ari, dalam
upaya meraih nilai tinggi,”
“Abi kalo kamu emosi begini, rapat kita hentikan sekarang juga.”
“Pak Ari adalah dosen yang paling disukai dikampus ini. Dia paling
rajin mengikuti segala kegiatan sosial dikampus dia mengajar dengan
baik dan dia membantu mengarumkan nama baik kampus kita,
bagaimana mungkin kita memecat dia?, tetapi tidak ada bukti terhadap
tuduhan anda, anda ngomong A pak Ari ngomong Z tidak ada saksi,
tidak ada bukti fisik maaf ya. Karena pekerjaan pak Ari selama ini
sudah sangat baik, saya harus percaya pada dia.”
54

“Abi diam kalau kamu bicara lagi kamu keluar saja dari ruangan ini.”
“Saya tidak mau lagi debat kusir, kita bisa selesaikan masalah ini
sekarang juga.”
“Sinta tolong tanda tangan ini sekarang. surat ini menarik tuduhan
anda terhadap Pak Ari dan juga menarik permintaan anda agar pak
Ari dipecat," sebagai imbalan pak Ari dan pihak kampus sudah
sepakat tidak akan menuntut ke pengadilan karena sudah
mencemarkan nama baik pak Ari dan mencemarkan nama baik
kampus, jadi masalahnya kita bisa selesaikan disini sekarang juga.”
“harus sinta DEMI NAMA BAIK KAMPUS, kalau tuduhan anda
seperti ini kita biarkan begitu saja bagaimana reputasi kampus ini?” 52
“Keputusan saya begini meskipun testimony dari saudari Sinta cukup
kuat, saya merasa tidak ada bukti memadai bahwa benar saudara Ari
menyerang saudari Sinta, karena itu, berat hati rekomenasi tim Satgas
agar pak Ari dipecat saya tolak. Begini loh saudara Ari ini adalah
Dosen yang terbaik menurut saya tidak mungkin dia berbuat seperti itu
kepada seorang mahasiswa, keputusan saya sudah jelas Pak Ari tidak
akan dipecat, nama baik Universitas tidak akan tercemar. Oleh
tuduhan yang tidak terverifikasi. Sinta harus minta maaf pada Pak Ari.
Ini sudah final.53
Rektor langsung menuduh Sinta tanpa ada bukti yang valid

dan hanya mendengarkan pendapat dari satu pihak saja, ini

menunjukkan sikap dominasi yang dimiliki Rektor dalam mengambil

keputusan dan tidak mendengarkan masukan dari mahasiswinya yang

berusaha untuk mencari keadilan. Karena hanya dosen tersebut

memiliki citra yang baik sehingga Rektor memilih untuk


mendengarkan Ari, selain itu Rektor hanya mementingkan citra

kampus ketimbang mencari kebenaran terlebih dahulu.

d) Representasi Dominasi yang ditunjukkan Ririn


“Lo nggak kasian sama Pak Ari? Dia baik banget, lho! Lho.”54

52
Dialog pak Rektor scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
53
Dialog Pak Rektor scene 10 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
54
Dialog Ririn Scene 5 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
55

Salah satu teman Sinta yaitu Ririn yang menunjukkan posisi

Dominasi dengan adanya penindasan terhadap Sinta dengan menuduh

seakan-akan Sinta yang bersalah atas kejadian tersebut. Ririn

menghakimi Sinta tanpa tau kebenarannya. Karena Ririn

menganggap bahwa dirinya mempunyai kekuasaan untuk

menghakimi Sinta.

2) Representasi Dominan dalam bentuk Makna

Beberapa Gambar yang mengandung representasi dominasi

didalam sebuah scene film demi nana baik kampus yaitu:

Tabel 4.1 Representasi Dominan

Visual Scene Representasi Dominan

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini
adalah tindakan yang dilakukan
Sinta, yang ingin meneliti skripsi
00:27 yang bertemakan Kartini.

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari mulai mengeluarkan
kata-kata menyanjung dan
04:02
mempresentasikan tubuh pemeran
utama perempuan, karena
pemerean laki-laki merasa
berkuasa dari mahasiswinya.
Tindakan seperti ini bisa saja
melanggar privasi seseorang.
56

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari menarik tubuh Sinta
05:06 untuk mendekat ketubuhnya dan
mencoba untuk mencium Sinta.

Representasi Dominan yang


04:49 ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari bertindak mendekati
Sintan dengan membisikaan
kalimat yang dapat mempengaruhi
Sinta.

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari melakukan penekanan
dan pengancaman kepada Sinta
06:08 serta memaksa untuk masuk ke
dalam kamar mandi dengan
menarik pintu. Ari ini merasa
berkuasa jadi nekat untuk ikut
masuk dalam kamar mandi.

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini
ketika Rektor mengambil
kesimpulan dan menuduh Sinta
tanpa mengetahui kebenarannya.
12:33
57

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini
ketika tindakan Rektor melarang
13:02 Abi untuk protes dan berbicara.

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini pada
saat Rektor membela Ari karena
alasan demi nama baik kampus dan
13:11 citra Ari selama menjadi Dosen.
Tindakan yang dilakukan Rektor
sangat tidak adil memberikan
keputusan hanya sepihak.

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini
ketika Rektor menyodorkan surat
perjanjian dan menyuruh Sinta
14:02 bertanda tangan tanpa mengetahu
permasalahan sebenarnya dan
menganggap dirinya berkuasa
sehingga dengan gampangnya
menyuruh seseorang bertanda
tangan.

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini pada
saat tindakan yang dilakukan
16:24 teman Sinta yaitu Ririn dengan
cara menelfon Sinta dan menuduh
Sinta tanpa bukti, Ririn merasa
berkuasa untuk menindas Sinta.
58

Representasi Dominan yang


ditunjukkan pada gambar ini
menunjukkan tindakan yang
25:08 dilakukan Rektor yang tetap
menolak hasil dari rekomendasi
dari Tim Satgas tanpa adanya
pertimbangan.

3. Analisis Latar, Teknik Pengambilan Gambar dan Editing

Gambar 4.1 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Cafe Sinta dan kedua temannya berada di cafe yaitu Ririn dan Abi.
Mereka bertiga berdiskusi mengenai topik penlitian yang akan
diangkat oleh Sinta Sambil menikmati minuman es teh mereka.
2) Waktu
 Percakapan antara Sinta dan kedua temannya terjadi pada siang hari
menampilkan suasana normal di lingkungan cafe
3) Suasana
 Suasan yang terjadi pada gambar diatas menciptakan suasana yang
santai pada saat membecirakan topik penelitian yang diangkat oleh
Sinta. Suasana cafe ramai oleh pengunjung lainnya.
b. Teknik Pengambilan Gambar
59

Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan


Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera medium
close up. Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Pedestal Up
pergerakan kamera dari bawah ke atas terlihat pada gambar diatas
ketika kamera mengzoom buku Kartini lalu bergerak keatas
mengambil ketiga objek yaitu Sinta dan kedua temannya.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.2 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan kantor Pak Arie. Sinta dan Arie berada dalam satu
ruangan
2) Waktu
 Percakapan antara Sinta dan Arie terjadi pada malam hari dilihat dari
potongan Scane yang ada pada gambar.
3) Suasana
 Suasan yang terjadi pada gambar diatas bermula berjalan lancar
seperti bimbingan pada umumnya tidak ada yang terjadi tetapi
semakin kesini pak Arie mulai mendekati Sinta sehingga
menciptakan suasana yang tegang karena pak Arie mulai meraba
60

badan dan mencoba mencium Sinta, selain itu pak Arie mengancam
Sinta untuk tidak memberitahukan kejadian tersebut ke orang lain.
Hal ini terjadi karena adanya kekuasaan sehingga Sinta tidak bisa
menolak bimbingan malam dan tidak bisa melawan pada saat di
sudutkan.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Long Shot.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu zoom in dan zoom out.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.3 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Toilet. Sinta dan Arie berada dalam toilet.
2) Waktu
 Terjadi pada malam hari dilihat dari potongan Scane yang ada pada
gambar.
3) Suasana
Suasan yang terjadi pada gambar sangat menegangkan karena
Arie mengikuti dan memaksa masuk kedalam toilet. Sehingga Sinta
61

sangat ketakutan. Arie berani melakukan itu karena dia mengganggap


dirinya mempunyai kekuasaan atas mahasiswinya.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium
Shot ketika berjalan menuju toilet dan medium close up ketika
menampilkan sisi dramatisnya ketika pak Arie mengancam Sinta.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Crab Right pada saat
mengikuti Sinta keluar dari ruangan Arie, dan Dolly/Track pada saat
mengikuti objek. Tilting Down pada saat memperliha kaki Arie
menahan pintu dan ketika Sinta duduk terpojokkan. Dolly menjahui
Obek pada saat Sinta Mundur.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya. Dan Cut
on action pada saat memperlihatkan tangan Sinta membuka pintu.

Gambar 4.4 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor. Sinta, Abi, Arie, Rektor dan Wakil Rektor
beradalam dalam satu ruangan
2) Waktu
62

 Terjadi pada pagi hari dilihat dari potongan Scane yang ada pada
gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi sangat menegangkan karena Rektor
sudah mulai membahas isu berita yang beredar di kalangan kampus.
tiba-tiba Rektor menuduh Sinta Bahwa Sintalah yang mencoba
merayu Arie, Sinta langsung memotong pembicaraan Rektor bahwa
semua itu tidak benar, tetapi Rektor menolak semua pernyataan Sinta
dan tetap membela Arie, karena status Arie dikampus sebagai dosen
yang baik.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium
Shot.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.5 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor. Sinta, Abi, Arie, Rektor dan Wakil Rektor
beradalam dalam satu ruangan.
63

2) Waktu
 Terjadi pada pagi hari dilihat dari potongan Scane yang ada pada
gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi sangat menegangkan karena Rektor
memerintahkan Sinta untuk bertanda tangan di surat perjanian tetapi
Sinta menolaknya karena merasa dia tidak bersalah atas kejadian
tersebut. Tetapi Rektor tetap memaksa Sinta untuk bertanda tangan
dengan alasa demi nama baik kampus dan citra Arie selaku Dosen.
Tetapi Sinta tetap tidak ingin bertanda tangan dan pergi dari ruangan.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah High Angle dan Eye Level Angle karena berada
diatas objek dan sejajar dengan objek, adapun Shot pada gambar
diatas merupakan Shot kamera Close Up. Pergerakan kamera yang
digunakan yaitu Tilting Up Down ketika Rektor mengajukan surat
perjanjian.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.6 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kosan Sinta.
64

2) Waktu
 Terjadi pada malam hari dilihat dari potongan Scane yang
menunjukkan jam pada layar telfon Sinta.
3) Suasana
Suasana yang terjadi sangat menyedihkan dan penuh haru
karena Sinta mendapatkan telefon dari temannya yaitu Ririn yang
membuat dirinya tersudutkan, karena Ririn ikut menuduh Sinta
melakukan hal yang buruk kepada Arie. Sinta sangat putus asa dan
mencoba untuk bunuh diri tetapi Sinta tiba-tiba melihat foto kedua
orang tuannya, sehingga mengurung niatnya untuk bunuh diri.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah High Angle karena berada diatas objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Close Up ketika
Sinta memegang fail proposal skripsinya dan pada saat melihat layar
telefonnya. Medium close up ketika Sinta melihat berita yang
tersebar. Pergerakan kamera yang digunakan Dolly/ Track mendekato
objek.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah The Cutaway
mengzoom pada bagian tertentu seperti pada saat mengzoom
headphone Sinta.

Gambar 4.7 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
65

1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor. Arie, Rektor Wakil Rektor dan Tim Satgas
beradalam dalam satu ruangan.
2) Waktu
 Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane yang
menunjukkan cahaya ruangan dikantor Rektor.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius karena
membahas kejadian pelecehan seksual yang terjadi dikampus, Tim
Satgas berusaha mencari kebenarannya tanpa memihak atau
menyudutkan pihak lain.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium
Close Up pada saat memperlihatkan Rektor, Arie dan Tim Satgas.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

b) Representasi Posisi Negosiasi Dalam Film Demi Nama Baik


Kampus

Pemahaman tentang negosiasi menurut Stuart Hall

menekankan pentingnya peran aktif individu dalam

menginterpretasikan, menafsirkan, dan merespons representasi

budaya serta mengupayakan perubahan dalam konteks sosial. Hal ini

membantu kita memahami dinamika kekuasaan, resistensi, dan


66

proses perubahan dalam masyarakat. dan Stuart Hall membentuk

Representasi menjadi dua yaitu dalam bentuk Bahasa dan Makna.

a. Representasi Negosiasi dalam bentuk Bahasa

Beberapa dialog yang mengandung representasi Negosiasi

didalam film demi nana baik kampus yaitu:

1) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Abi


“Lo mau gue temenin aja?,Sinta ayo buka pintunya, apa yang bisa
gue bantu? Tenang dulu. Tenang dulu ya. Nggak papa, sinta, ini
bukan salah lo. Dia yang nyerang lo, ya dia yang salah!, lo mau
gue bantuin nggak, buat ngelaporin dia ke kampu?, kalo lu udah
siap bertindak, apa pun itu keputusannya, udah jangan nangis
lagi,”55
“kita cari jalan keluar baraeng-bareng, masih ada harapan, gue
dengar pengumuman, baru-baru ini dibentuk satgas buat nanganin
kasus kekerasan seksual dikampus, kaya kasus lo gini, tapi
kayanya yang ini beda dari yang kemaren-kemaren, Sin, mayoritas
anggota perempuan, ada mahasiswanya juga di Satgas dan
ketuanya Bu Anisa, gue bisa dampingin lo ke sana, ya tapi
terserah lo sih, Sin kalo lo nggak mau, itu juga hak lo, gimana?”56
Posis Negosiasi yang ditunjukan pada dialog ketika Abi

ingin membantu Sinta untuk mencapai kesepakatan antara Sinta

dan Abi untuk memperjuangkan perlawanan terhadap dominasi.

Abi membujuk Sinta untuk melaporkan kejadian tersebut


kekampus, walaupun hasil yang diterima tidak sesuai kenyataan.

Sekali lagi Abi membujuk Sinta untuk melaporkan kejadian

pelecehan yang dialami ke Tim Satgas untuk mencari sebuah

keadilan yang menimpa seorang perempuan.

55
Dialog Abi scene 3 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
56
Dialog Abi Scene 5 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
67

2) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Sinta


“Tapi saya boleh pikir dulu ya, sebelum memilih media yang
mana?” biasa aja mas, saya akan berusaha, cukup baik aja udah
udah cukup Pak, buat saya, biasa aja mas, ngak-ngak usah,
Temenin gue aja. Bi, gue mikir dulu ya, Bi Satgas dari kampus?,
pasti belain kampus lah percuma”. 57
“ini prosesnya seperti apa ya, Bu?, baik Bu, saya setuju, pelakunya
Pak Ari Santoso Dosen pembimbing saya, saya harus berapa kali
menceritakan hal ini ya, Bu?, kebutuhan seperti apa ya, Mas? ,
sudah jelas, Bu. Terima kasih”58
Sinta bernegosiasi dengan Ari yang memiliki posisi yang

dominan untuk pemilihan media mana yang akan digunakan.

Sinta yang berada pada posisi subordinat mengalami perubahan

dan menunjukkan kepercayaan diri untuk melaporkan kejadian

tersebut ke Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan

Kekerasan Seksual.

3) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Rektor


“Tujuan hari ini adalah menemukan penyelesaian untuk masalah
ini secara damai dan cepat, tentu kita mau hasil yang seadil-
adilnya,”59
“Kami sudah memberhentikan Pak Ari, dia tidak bisa lagi
menyakiti siapapun dikampus ini.”60
Rektor menunjukkan sikap negosiasi dengan munculnya

kesadaran diri atau perubahan dalam sikap atas tindakannya

dengan memberhentikan Ari dari kampus untuk mencegah adanya

kekerasan seksual yang kemungkinan akan terjadi.

4) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Tim Satgas

57
Dialog Sinta scene 2 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
58
Dialog Sinta scene 6 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
59
Dialog Rektor scene 5 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
60
Dialog Rektor scene 13 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
68

“Kami bertiga terpilih untuk menjadi anggota Satgas karena


memiliki pengalaman untuk membantu penyintas kekerasan
seksual. baik, saya jelaskan dulu, ya, ditahap petama, Sinta perlu
memberikan persetujuan untuk menjelaskan kronologi kejadian
yang Sinta alami, kemudian menyampaikan datamu serta siapa
yang akan kamu laporkan. Semua informasi yang Sinta sampaikan
akan kami jaga kerahasiaannya, baik kami catat Sinta, kemudian
ditahap selanjutnya, Sinta bebas menceritakan kronologi kejadian
secara detail, dari awal sampai akhir, senyamannya saja, cukup
sekali saja, kami paham, pasti sangat berat kalau harus
menceritakan ini berulang kali, setelah itu kami akan pelajari
semua bukti yang mbak Sinta punya, dan juga dari saksi. Jadi
setelah itu, kami sendiri akan menanyakan kira-kira apa kebutuhan
Sinta saat ini, supaya bisa lebih efektif buat kita mendampingi,
melindungi dan juga membantu proses pemulihan Sinta sendiri,
kebutuhannya itu misalkan apakah sinta sedang berada dalam
tekanan dan butuh perlindunga?, atau juga misalnya Sinta butuh
konseling? baik. Nanti ditahap akhir, kami akan memberikan
informasi yang bisa membantu Sinta. Misalnya kira-kira apa saja
yang akan Sinta hadapi karena sudah melaporkan kasus ini,
kemudian bagaimana kami akan bekerja sama untuk
meminimalkan resiko itu bersama. Kira-kira apakah sudah jelas,
Sinta?, oke, setelah kami selesaikan tahap penyelidikannya, kami
akan kirim laporan ke Rektor ya, berisikan rekomendasi, termasuk
tindakan atau sanksi terhadap pelaku. Apakah Sinta sudah siap
untuk menceritakan kronologi kejadian dengan Pak Ari sekarang?,
baik kita mulai,”61
“Terima kasih, Pak Rektor, kami sangat menghargai waktu Bapak,
dan kami harap akan ada hasil yang positif hari ini, Pak Rektor
didalam laporan terdapat kesaksian yang sangat kuat dari Sinta
dan Abi, pendampingnya, Testimoni kesaksian mereka sudah kuat,
Pak. Mereka kami wawancarai secara terpisah, dan seluruh detail
dari kesaksian mereka sama persisi, tapi Sinta juga menunjukkan
gejala trauma yang sangat banyak, Bapak, semuanya sudah tertulis
di dalam laporan. Buktinya sudah sangat kuat, Pak!, Sinta nggak
seharusnya minta maaf, Pak, Pak Ari yang harusnya minta maaf
sama Sinta, Pak Rektor, apakah Bapak sudah membaca testimony
anonim di Appendix 1?, kesaksian ini kami terima langsung
setelah kai membuat pengumuman untuk mengajak para saksi
bicara kepada Satgas, bukan fitnah, Pak Ari dan identitas saksi
akan kai rahasiakan sesuai dengan peraturan Satgas, kami harus
61
Dialog Tim Satgas scene 6 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
69

melindungi semua saksi, Pak Ari, tapi kami menjamin kalau


seluruh kesaksiannya sudah kami verifikasi secara sangat teliti,
sehari setelah kami membuat pengumuman untuk permintaan
saksi seseorang menghubungi [Link] menerima kesaksiannya
persis seperti di Appendix 1, Pak.”62
Tim satgas ini merupakan salah salah satu wadah atau

gerakan melakukan perlawanan terhadap sikap yang

mendominasi, dengan menggunakan strategi komunikasi yang

konkret untuk menentang kondisi yang tidak adil atau merugikan.

Tim Satgas melawan representasi yang stereotip atau

merendahkan. Pada saat tim satgas bertemu dengan Rektor

mewakili Sinta untuk menyelesaikan permasalahannya. Melawan

posisi yang mendominasi.

5) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Faisal


“Apa benar ini kantor Satgas anti kekerasan seksual?, saya dan Ari
ketemu di kafe dua hari setelah tanggal kejadian, yang disebutkan
di papan pengumuman Satgas,“Saya punya informasi tentang Ari
Santoso, tapi saya tidak mau kalau dia tahu saya yang cerita.”63
Faisal mendatangi Tim Satgas untuk memberikan

informasi mengenai pelecehan seksual yang dialami oleh Sinta.

Faisal bekerja sama dengan Tim Satgas untuk mengungkap

ketidakadilan yang ada dilingkungan kampus.

b. Representasi Negosiasi dalam bentuk Makna

Beberapa Gambar yang mengandung representasi Negosiasi

didalam sebuah scene film demi nana baik kampus yaitu:

62
Dialog Tim Satgas scene 10 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
63
Dialog Faisal scene 11 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
70

Tabel 4.2 Representasi Negosiasi


Visual Scene Representasi Negosiasi

Representasi Negosiasi yang


01:26 ditunjukkan pada gambar ini
dilihat dari tindakan Abi yang
menawarkan bantuan kepada
Sinta.

Representasi Negosiasi yang


02:52 ditunjukkan pada gambar ini
ketika Sinta bernegosiasi
untuk pemilihan media yang
akan dilakukan untuk
kepentingan Skripsinya.

Representasi Negosiasi yang


03:32 ditunjukkan pada gambar ini
ketika, Ari bernegosiasi dan
mendekat ke arah Sinta
dengan strategi dapat
dihubungi 24 jam sehari.

Representasi Negosiasi yang


10:00 ditunjukkan pada gambar ini
pada saat Abi bertindak untuk
menenangkan Sinta yang
bersedih atas apa yang
menimpanya.
71

Representasi Negosiasi yang


10:28 ditunjukkan pada gambar ini
Abi membujuk Sinta untuk
melaporkan kejadian yang
menimpanya ke pihak
kampus. Abi siap buat bantu
Sinta apapun keputusan
nantinya diambil Sinta.

Representasi Negosiasi yang


11:15 ditunjukkan pada gambar ini
yaitu tindakan yang diambil
Sinta dan Abi untuk datang
melaporkan kejadian
pelecahan yang dialami Sinta
ke pihak kampus.

Representasi Negosiasi yang


14:25 ditunjukkan pada gambar ini
tindakan Sinta menentang
kondisi yang tidak adil dan
merugikan.

Representasi Negosiasi yang


18:52 ditunjukkan pada gambar ini
pada saat Abi bertindak
membujuk Sinta untuk
melapor kejadian tersebut ke
Tim Satgas dan membujuk
sinta untuk mempercayai
pihak kampus.
Representasi Negosiasi yang
27:34 ditunjukkan pada gambar ini
merupakan tindakan
perlawanan terhadap
dominasi dengan mendatangi
Tim Satgas pencegahan dan
penangulangan kekerasan
seksual, membantu korban
yang mendapatkan pelecehan
72

seksual dengan
mengungkapkan kebenaran
yang nyata.

4. Analisis Latar, Teknik Pengambilan Gambar dan Editing

Gambar 4.8 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Cafe Sinta dan kedua temannya berada di cafe yaitu Ririn dan Abi.
Mereka bertiga berdiskusi mengenai topik penlitian yang akan
diangkat oleh Sinta Sambil menikmati minuman es teh mereka.
Suasana cafe ramai oleh pengunjung lainnya.
2) Waktu
 Percakapan antara Sinta dan kedua temannya terjadi pada siang hari
menampilkan suasana normal di lingkungan cafe
3) Suasana
 Suasan yang terjadi pada gambar diatas menciptakan suasana yang
santai pada saat membicirakan topik penelitian yang diangkat oleh
Sinta. Suasana cafe ramai oleh pengunjung lainnya.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan Angle
kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek, adapun Shot
pada gambar diatas merupakan Shot kamera medium close up. Pergerakan
kamera yang digunakan yaitu Pedestal Up pergerakan kamera dari bawah
73

ke atas terlihat pada gambar diatas ketika kamera mengzoom buku Kartini
lalu bergerak keatas mengambil ketiga objek yaitu Sinta dan kedua
temannya.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.9 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan kantor Pak Arie. Sinta dan Arie berada dalam satu
ruangan
2) Waktu
 Percakapan antara Sinta dan Arie terjadi pada malam hari dilihat dari
potongan Scane yang ada pada gambar.
3) Suasana
 Suasan malam yang sunyi seperti yang terjadi pada gambar diatas
bimbingan berjalan lancar seperti pada umumnya dimana Arie
berdiskusi dengan Sinta masalah topik penelitian yang akan
dilakukan untuk memfokuskan lagi penelitiannya. Arie mulai
bernegosiasi dengan Sinta dengan penawaran diluar dari topik skripsi
tetapi menuju ke hal yang bersifat pribadi.
b. Teknik Pengambilan Gambar
74

Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan


Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Tilting Down .
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.10 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kosan Sinta.
2) Waktu
 Terjadi pada siang hari dilihat dari potongan Scane yang
menunjukkan Abi membawakan makanan siang kepada Sinta.
3) Suasana
Suasana yang terjadi sangat menyedihkan dan penuh haru
karena Sinta mulai bercerita kepada sahabatnya Abi tentang apa yang
dirasakan Sinta pada saat malam bimbingan proposal, dengan berat
hati Sinta tetap menceritakan kejadian tersebut. Abi tetap
menyemangati Sinta bahwa ini bukan Salah Sinta.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena berada sejajar dengan objek
dan over Shoulder diambil dari arah belakang bahu Sinta, adapun
75

Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Close Up ketika


Sinta sedih, menampilkan sisi dramatis apa wajah Sinta.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.11 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor. Arie, Rektor Wakil Rektor, Sinta dan Abi.
2) Waktu
 Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane yang
menunjukkan cahaya ruangan dikantor Rektor.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius karena
membahas kejadian pelecehan seksual yang terjadi dikampus, Rekor
bernegosiasi dengan Sinta untuk bertanda tangan surat perjanjian
untuk menjaga nama instansi.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Long Shot pada
saat memperlihatkan Rektor, Arie, Sinta dan Abi. Pergerakan kamera
yang digunakan yaitu Tilting Down mengikuti Sinta pada saat ingin
76

duduk. Panning/pan Left dan Right pada saat berfokus pada Abi dan
perpindah ke Sinta begitupun sebaliknya.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Jump Cut pada saat Sinta dan Abi masuk kedalam ruangan Rektor.

Gambar 4.12 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Tim Satgas.
2) Waktu
 Terjadi pada Siang hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Tim Satgas sangat serius
karena faisal datang untuk memberikan informasi tambahan atas isu
kejadian pelecehan seksual yang ada dikampus.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up
pada saat memperlihatkan Faisal dan Tim Satgas. Pergerakan kamera
yang digunakan yaitu Dolly/Track.
c. Editing/ Cut
77

Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut


merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

c) Representasi Posisi Oposisi Dalam Film Demi Nama Baik Kampus

Secara sederhana, posisi oposisi menurut Stuart Hall merujuk pada

posisi atau sikap yang berlawanan atau menentang terhadap status

kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Posisi oposisi, di sisi lain,

merujuk pada sikap atau pendekatan di mana pihak yang terlibat

bertentangan atau saling berlawanan dalam hal tujuan, kepentingan, atau

pandangan. Dalam posisi oposisi, pihak-pihak yang terlibat mungkin

memiliki pandangan yang bertentangan dan berusaha untuk

mempertahankan kepentingan mereka sendiri tanpa memperhatikan

kepentingan pihak lain. Tujuan utama dalam posisi oposisi adalah untuk

menang atau mengalahkan pihak lain. dan Stuart Hall membentuk

Representasi menjadi dua yaitu dalam bentuk Bahasa dan Makna.

a. Representasi Oposisi dalam bentuk Bahasa

Beberapa dialog yang mengandung representasi Oposisi didalam

film demi nana baik kampus yaitu:


1) Representasi Oposisi yang ditunjukkan Pak Ari
“saya akan memaafkan anda jika anda ingin bertanda tangan”64.
“Kamu jangan bohong Sinta, Saya Cuma mau membantu skripsi anda,
kenapa anda jadi menuduh saya begini?,”65
Ari mempertahankan argumennya berusaha untuk meraih

kemenangan atas pihak lain, agar Sinta terlihat salah dan dia yang

terlihat benar dengan cara mengungkapkan niat baiknya untuk

64
Dialog Pak Ari scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
65
Dialog Pak Ari scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
78

membantu Sinta dalam bimbingan skripsi. Ari berusaha keras untuk

melindungi dirinya dengan cara pencitraan.

2) Representasi Oposisi yang ditunjukkan Sinta


“apa ini, Pak?, Saya tidak bisa tanda tangan, Itu ngak benar pak dia
yang menyerang saya,” 66
Sinta berusaha memperjuankan kepentingannya untuk

mencapai keadilan atas kejadian pelecehan seksual yang menimpa

dirinya, Sinta tidak mudah untuk bertanda tangan dan tidak tinggal

diam ketika tuduhan tersebut berbalik kepada dirinya. Sinta

menunjukkan posisi oposisi sebagai bentuk perlawanan untuk

menciptakan perubahan. Sinta melawan narasi yang mendukung

dominasi.

b. Representasi Oposisi dalam bentuk Makna

Beberapa Gambar yang mengandung representasi Oposisi didalam

sebuah scene film Demi Nama Baik Kampus yaitu:

Tabel 4.3 Representasi Oposisi


Visual Scene Representasi Oposisi

Representasi Oposisi yang


12:34 ditunjukkan pada gambar ini
ketika Sinta tidak terima
tuduhan yang ditujukan
kearahnya.

66
Dialog Sinta scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
79

12:52 Representasi Oposisi yang


ditunjukkan pada gambar ini
Ari tetap tidak ingin
mengakui kesalahannya tetapi
bagaimana cara untuk
menjatuhkan Sinta
Representasi Oposisi yang
ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari menuduh balik
Sinta karena Ari merasa
dirinya benar terlebih lagi
Ari di dukung oleh Rektor.
Ari merasa tidak bersalah
sehingga menyuruh Sinta
untuk bertanda tangan disurat
perjanjian.

Representasi Oposisi yang


14:25 ditunjukkan pada gambar ini
ketika Sinta tetap bersih keras
tidak ingin bertandatangan di
atas kertas perjanjian yang
diberikan Rektor.

Representasi Oposisi yang


20:45 ditunjukkan pada gambar ini
Sinta melakukan tindakan
perlawanan terhadap
kekuasaan atau posisi yang
dominan.
80

Representasi Oposisi yang


24:37 ditunjukkan pada gambar ini
pada saat Tim Satgas
membantu Sinta untuk
melawan ketidak adilan yang
dirasakan dengan cara
menemui Rektor.

Representasi Oposisi yang


ditunjukkan pada gambar ini
tindakan yang benar yang
dilakukan Rektor keputusan
29:54 untuk memecat Ari.

Gambar 4.13 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
 Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius Sinta
tetap memertahankan kepentingannya sendiri tidak ingin menyerah
81

dengan cara tidak menerima tuduhan yang menyerang dirinya, Sinta


tetap melakukan perlawanan dengan cara tidak diam saat disudutkan.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up
pada saat memperlihatkan Sinta dan Abi yang duduk di sofa.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Tilting Down.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.14 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
 Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor menegangkan karena
Arie tetap bertahan pada keyakinan bahwa dirinya tidak bersalah agar
kebohongannya tidak terungkap. Arie sangat menjaga citranya di
depan Rektor agar dirinya tidak disalahkan atas kejadian pelecehan
tersebut.
b. Teknik Pengambilan Gambar
82

Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan


Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Shot pada
saat Arie, Sinta Abi dan Rektor duduk di sofa.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.15 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
 Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius Sinta
tetap memertahankan kepentingannya sendiri tidak ingin menyerah
dengan cara tidak bertanda tangan di surat perjanjian tersebut. Sinta
tetap melakukan perlawanan dengan cara pergi dari ruangan
meninggalkan Rektor dan Arie.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up
83

pada saat memperlihatkan Rektor, Arie, Sinta dan Abi yang duduk di
sofa.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.16 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Tim Satgas.
2) Waktu
 Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Tim Satgas sangat serius
karena Sinta mendatangi Tim Satgas untuk melaporkan kejadian
tersebut untuk mencari solusi atau keadilan atas pelecehan yang
dirasakan.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Shot pada
saat memperlihatkan Tim Satgas, Sinta dan Abi yang duduk di sofa.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Zoom in dan Zoom Out.
c. Editing/ Cut
84

Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.

Gambar 4.17 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
 Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar dan
cahay yang masuk pada ruangan Rektor.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius karena
Tim Satgas datang ke ruangan Rektor untuk melaporkan hasil
investigasinya atas kejadian pelecehan seksual yang ada dikampus
tanpa memihak pada siapapun.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Long Shot pada
saat memperlihatkan Tim Satgas, Rektor dan Arie yang duduk di
sofa.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
85

Gambar 4.18 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”


a. Latar
1) Tempat
 Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
 Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar dan
cahaya yang masuk pada ruangan Rektor.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor membawa kebahagian
karena keputusan yang tepat telah dilakukan Rektor dengan memecat
Arie sebagai dosen dikampus agar tidak ada lagi korban selanjutnya.
Selain itu Rektor juga meminta maaf atas kejadian tersebut yang
telah mengambil keputusan yang salah pada saat pelaporan kasus
pelecehan yang ada dikampus.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up
pada saat memperlihatkan Rektor duduk di sofa kursinya dan long
Shot pada saat Ibu Anisa, Sinta dan Abi memasuki ruangan Rektor.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
86

B. Pembahasan

Dalam analisis isi (content analysis) merupakan metode yang digunakan

untuk menganalisis dan memahmi isi dari teks atau dokumen tertentu seperti

tema, karakter, dialog, plot, genre, pesan sosial dan politik. Dalam film “Demi

Nama Baik Kampus” merupakan kategori film Feminisme sosial yang

direpresentasikan melalui tiga representasi yaitu, Representasi Dominan,

Representasi Negosiasi dan Representasi Oposisi.

Bentuk Representasi dalam film “Demi Nama Baik Kampus”. Dilihat dari

Representasi Dominan dimana merujuk pada ketimpangan kekuasaan dan

pengaruh yang ada dalam masyatakat. Dominan merujuk pada situasi dimana

satu kelompok atau individu memiliki kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar

dibandingkan individu lainnya. Representasi dominasi dalam film “Demi Nama

Baik Kampus” dilihat dari pemeran utama laki-laki merupakan seorang Dosen

dan Rektor yang mendominasi mahasiswinya yang berada di posisi subordinat.

Dilihat dari Posisi Dominan yang ditunjukkan Pak Ari dia berusaha mengancam

Sinta untuk tidak menyebarkan informasi ini ke siapapun. Dengan dominan Pak

Ari menggunakan kekuasaannya dengan mengancam. Sikap dominan juga di


tunjukkan oleh Pak Rektor pada saat pemgambilan keputusan sepihak yang

memaksa Sinta untuk bertanda tangan dengan alasan demi nama baik kampus

dan citra kampus tanpa memperdulikan korban. Dominasi yang dilakukan Pak

Ari itu merupakan pelecehan Verbal, kekerasan seksual, intimidasi verbal,

sedangkan Pak Rektor pengambilan keputusan yang tidak adil. Dimana peran

laki-laki didalam film ini sangat arogansi karena dia merasa bahwa dia

mempunyai kekuasaaan yang cukup dominan dilingkungan kampus sehingga


87

dapat menindas mahasiswanya, selain itu dia memandang wanita hanya sebagai

objek seksual dan lemah. Bukan hanya Pak Ari dan Rektor yang menunjukkan

sikap dominan tetapi sikap dominan juga ditunjukkan oleh teman Sinta yang

mengintimidasi dengan cara menelfon dan mencelah Sinta seolah-olah semua

kesalahan diberikan kepada Sinta keadaan juga menunjukkan dominasi dimana

berita-berita yang bermunculan dan tersebar di Twitter bahwa Sinta yang

melecehkan Dosennya.

Representasi Negosiasi merujuk pada merespon kekuasan yang ada,

tindakan yang dilakukan oleh kelompok yang ada dalam posisi subordinat untuk

melawan adanya kekuasaan yang mendominasi untuk memperjuangkan

kepentingan mereka dan melawan representasi yang stereotip atau merendahkan,

untuk memperjuangkan perubahan. Dilihat dari Posisi Negosiasi yang

ditunjukkan oleh Abi sahabat Sinta membujuk Sinta untuk melaporkan kejadian

tersebut ke pihak kampus untuk mencari keadilan. Melalui negosiasi yang

dilakukan Abi kepada Sinta Akhirnya Sinta sudah memberanikan dirinya untuk

bertemu dan melaporkan kejadian yang merugikan dirinya dengan pihak

Kampus, walaupun hasil yang didapatkan Sinta kurang memuaskan, Sinta tetap
berusaha mencari keadilan dengan mendatangi Tim Satgas untuk melawan

Subordinat yang dilakukan oleh pihak dominan. Sinta membuat keputusan yang

berani untuk melaporkan kejadian pelecehan yang terjadi pada dirinya kepada

Tim Satgas, karena untuk melaporkan hal tersebut memerlukan keberanian besar

untuk mengungkap kasus pelecehan seperti itu. Sinta sudah siap melaporkan

kejadian tersebut ke Tim Satgas dengan menanyakan bagaimana prosedur dalam

pelaporan dan apa saja yang perlu dilakukan. Tim Satgas adalah salah satu wadah
88

yang terbentuk untuk menangani kekerasan dan pelecehan seksual. Tim Satgas

yang membantu Sinta untuk menangani kasus pelecehan tersebu. Sinta sudah

mulai menumbuhkan kepercayaan dirinya kembali untuk melawan ketidak adilan

yang dirasakan karena Sinta tau bahwa dirinya tidak bersalah.

Dalam Film “Demi Nama Baik Kampus” pihak kampus menjaga nama

baiknya dengan cara memecat Pak Ari sebagai Dosen agar tidak ada lagi korban

pelecehan yang terjadi. Tim Satgas merupakan salah satu wadah untuk mencari

keadilan tanpa membeda-bedakan perempuan dan laki-laki seperti pandangan

Agama Islam tidak membedakan status antara pria dan wanita. Seperti firman

Allah SWT dalam Surat Al Hujurat (49) ayat 13, yang berbunyi:

َ َ‫شعُ ْوبًا َّوقَبَ ۤا ِٕى َل ِلتَع‬


‫ارفُ ْوا ۚ ا َِّن‬ ُ ‫اس اِنَّا َخلَ ْقن ُك ْم ِم ْن ذَ َك ٍر َّوا ُ ْنثى َو َجعَ ْلن ُك ْم‬
ُ َّ‫ٰٓياَي َها الن‬
‫ع ِليْم َخبِيْر‬َ َ‫ًّلا‬ ‫ا َ ْك َر َم ُك ْم ِع ْندَ ه‬
‫ًّلاِ اَتْقى ُك ْم ۗا َِّن ه‬
Terjemahan:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-
bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh,
Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.67
Ayat diatas mengacu pada penjelasan tentang Allah menciptakan

manusia, baik itu perempuan dan laki-laki untuk saling mengenal dan bertakwa.

Dalam ayat ini, kita dapat melihat bahwa Allah tidak membedakan kedudukan

laki-laki dan perempuan dalam meraih kemuliaan di sisi-Nya, serta membuat

bangsa yang berbeda dan kelompok yang berbeda saling mengenal, saling

membantu, melengkapi dan mendukung.

67
‘Qur’an Kemenag’ <[Link]
ayat/surah/49?from=1&to=18> [accessed 16 June 2023].
89

Representasi Oposisi yaitu melibatkan konflik yang tajam dan tidak ada

usaha untuk mencari kesepakatan atau kompromi serta hadirnya Tim Satgas yang

menjembatangi kasus pelecehan tersebut tanpa memihak pada satu pihak.

Karakter atau gagasan dalam representasi ini berada dalam posisi yang

bertentangan satu sama lain, dan konflik, cenderung bersifat tidak dapat

didamaikan. yang ditunjukkan oleh pemeran utama perempuan dan pemeran

utama laki-laki yang saling mempertahankan argumentasinya dan

memperjuangkan kepentingan masing-masing dan ketika Sinta mendatangi Tim

Satgas untuk melaporkan kejadian pelecehan yang dialami, dan Tim Satgas

menemui Rektor untuk melaporkan hasil yang telah di analisis Tim Satgas.

Filim “Demi Nama Baik Kampus” termasuk dalam kategori feminisme

Sosial, film Demi Nama Baik Kampus yang mengisyaratkan bahwa si pemeran

laki-laki memiliki kekuasaan dan menganggap wanita hanya sebagai objek

seksual yang lemah. Dalam salah satu hadis Rasulullah saw pernah berkata,
“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah swt dan paling dekat tempat
duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia yang
paling dibenci Allah dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang
zalim.” (HR At-Tirmidzi).
Dalam hadis tersebut memberikan peringatan tentang pemimpin yang

tidak adil seperti yang dialami pemeran utama dalam film Demi Nama Baik

Kampus dimana rektor mengambil keputusan yang sepihak, membela Dosen

yang telah melakukan pelecehan hanya dengan alasan citra dari dosen tersebut

dan citra nama baik kampus.

Sinta Bertemu Rektor untuk mencari keadilan tetapi malah sebaliknya

peran perempuan sangat ditindas dan tidak mendapatkan keadilan atas kejadian

yang menimpa dirinya. Hal ini masuk dalam kategori feminisme Sosial memiliki
90

fokus utama pada perjuangan untuk kesetaraan gender dan keadilan sosial bagi

perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.68 Hal ini sama dengan apa yang

terjadi dalam film Demi Nama Baik Kampus yang mengisyaratkan bahwa Sinta

berusaha membela dirinya dengan memotong pembicaraan rektor yang

menyudutkan dirinya dan memilih untuk pergi dari ruangan tanpa menyetujui

tanda tangan surat yang diajukan oleh pak Rektor.

Pemeran utama wanita tidak putus asa atas hasil yang diberikan Rektor,

walapun Sintah sempat merasakan depresi akibat banyak tuntutan yang

menyudutkan disekitarnya yang membuat dirinya terpuruk, tetapi itu bukan

penghalang bagi dirinya untuk mencari keadilan, scene ini termasuk dalam teori

feminisme yang dikemukakan oleh Charles Fourier, upaya gerakan wanita untuk

menuntut emansipasi atau keselarasan dan keseimbangan hak dengan pria.69

Dilihat dari pemeran utama wanita dalam film Demi Nama Baik Kampus

bentuk perlawanan yang dilakukan Sinta yaitu berusaha untuk mencari keadilan

dengan tidak menandatangani surat perjanjian yang diberikan oleh Rektor kepada

dirinya dan menemui dan mempercayai Tim Satgas yang ada dikampusnya untuk

menanngani kasus pelecehan yang dialami walaupun itu merupakan langkah


atau keputusan yang cukup berat yang diambil oleh Sinta sebagai korban

pelecehan, tidak hanya itu Sinta sudah mulai bangkit dari keterpurukannya, mulai

percaya diri dan mengatasi mentalnya, merupakan salah satu bentuk perjuangan

melawan ketidak adilan yang dirasakan akibat perlakuan yang tidak baik

menimpa dirinya.

68
M Akbar Januar Pratama, Teori Feminisme, Universitas 17 Agustus 1945
Surabaya, 2022.
69
Sigit Surahman, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Indonesia (Analisis Semiotika Terkait
Feminisme Pada Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)’, Jurnal Liski, 1.2 (2015).
91

Tim Satgas dengan membantu Sinta mencari keadilan. Tim Satgas

mewakili Sinta yang datang untuk menemui Pak Rektor dan dosen yang

melakukan pelecehan terhadap mahasiswinya dengan membawa surat

rekomendasi dari Tim Satgas. Peran tim Satgas hadir untuk mencari keadilan

bagi korban pelecehan seksual yang dialami oleh Sinta. perempuan yang ditindas

oleh seorang laki-laki Tim Satgas menangani kasus ini dengan teliti dan hati-hati

dalam menentukan sebuah keputusan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk mencari

keadilan yang telah diperbuat si pelaku. Jika dilihat dari sosial masyarakat

mayoritas yang mendapatkan pelecehan yaitu seorang perempuan dilingkungan

masyarakat karena perempuan kadang kala dilihat sebagai sosok yang lemah dan

penurut serta tidak sedikit yang memandang perempuan sebagai suatu objek

seksual.

Akhirnya Sinta berhasil membuktikan bahwa dirinya tidak salah dan

perjuangannya untuk mencari keadilan tidak sia-sia dan rektor yang

menggambarkan sosok Kartini dan juga Sinta sebagai perempuan yang hebat.

Menggambarkan seseorang yang tidak mudah putus asa dan pantang menyerah

untuk mencari keadilan serta menggambarkan bahwa perempuan tidak selemah


yang dipikirkan dan mampu melawan ketertindasan yang dialami. Terdapat

banyak hal-hal yang menginspirasi dalam film ini, seperti perjuangannya yang

mendorong dan menggerakan perempuan untuk bisa maju bukan hanya

memajukan kesejahteraan hidup tetapi juga pemikiran orang lain. dan bagaimana

seorang perempuan dengan berani melawan pelecehan yang dialami tidak takut

untuk mengungkit kenyataan dan perempuan tidak dibungkam.


BAB V
PENUTUP
A. Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dianalisis oleh peneliti terhadap

ketidakadilan yang menimpa perempuan dan perjuangan perempuan. Penelitian

yang dilakukan oleh peneliti mengenai representasi feminisme yang terkandung

dalam film “Demi Nama Baik Kampus” (DNBK) .

1. Representasi feminisme yang terdapat dalam film “Demi Nama Baik

Kampus”. Dilihat dari Representasi Bahasa dan Makna yang meliputi Posisi

Dominan, bagaimana kekuasaan yang mendominasi atau seseorang yang

melanggar privasi atau mengambil hak orang lain seperti dalam film demi

nama baik kampus dimana Pak Ari memaksa masuk kedalam kamar mandi

dan mecoba mencium Sinta, Pak Rektor yang mengambil keputusan sepihak,

2. Posisi Negosiasi gerakan perlawanan terhadap dominasi seperti halnya

melaporkan sesuatu yang tidak adil atau merugikan seperti kejadian Sinta

yang berani melaporkan kejadian pelecehan yang dialami ke pihak Satgas

penanganan kekerasan seksual,

3. Posisi Oposisi sekelompok orang atau individu melawan penindasan

menggunakan jalur politik atau lembaga-lembaga politik untuk menghasilkan

perubahan dimana mempertahankan atau memperjuangkan kepentingan

masing-masing pihak secara tegas. Pihak-pihak berusaha untuk meraih

kemenangan atas pihak lain dalam konflik Seperti Tim Satgas yang

menjembatani atas kasus pelecehan yang terjadi tanpa memihak siapapun .

92
93

Dilihat dari Alur cerita pada film “Demi Nama Baik Kampus”

menunjukan Feminisme Sosial yang memandang perempuan tidak mendapat

kesempatan untuk menggambarkan dan memposisikan dirinya dan

mamberikan perlawanan. Feminisme Sosial berjuangan untuk kesetaraan

gender dan keadilan sosial bagi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Peneliti dapat menyimpulkan bahwa feminisme yang terdapat dalam film

Demi Nama Baik Kampus ialah feminisme Sosial dimana perempuan

mencoba untuk mencari keadilan atas penindasan yang mendominasi. Alur

cerita di mana seorang perempuan mengalami pelecehan seksual dan

melakukan perlawanan dengan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kampus

dan tim satgas penanganan kekerasan dan pelecehan seksual. Feminisme

sosial dilihat dari Sinta yang berusaha untuk Mencari Keadilan untuk

mencapai kesetaraan gender dan mengatasi ketidakadilan sosial. Melaporkan

pelecehan seksual ke pihak kampus dan tim satgas penanganan kekerasan dan

pelecehan seksual merupakan tindakan yang bertujuan mencari keadilan sosial

dan memastikan bahwa pelaku dihadapkan pada konsekuensi atas tindakan

mereka.
Peneliti menggunakan Teori Representasi dan Teori Feminisme Sosial

dimana teori Representasi dianalisis menggunakan dua pembagian menurut

Stuart Hall yaitu Bahasa dan Makna lalu dikategorikan dan dianalisis

menggunakan tiga indikator Stuart Hall yakni posisi Dominan, posisi

Negosiasi dan Posisi Oposisi. Teori Feminisme Sosial dianalisis ketidak

adilan yang dirasakan perempuan atas subordinat. Feminisme Sosial juga

mengkritik pemikiran patriarki dan dominasi serta kesetaran gender.


94

B. Saran

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti mengenai

represantasi feminisme yang terkandung dalam film “Demi Nama Baik Kampus”

dilihat dari Representasi dan Feminisme menggunakan analisis isi maka peneliti

menuliskan saran khususnya untuk khalayak bahwa kita sebagai penonton harus

lebih selektif dalam memilih tontonan yang mengandung nilai edukasi dan moral

kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Serta film pendek

yang mengedukasi sebaiknya ditayangkan dalam sebuah pertelevisian agar pesan

yang disampaikan bisa tersalurkan dan mengangkat banyak isu film mengenai

feminisme yang mengangkat perjuangan seorang perempuan. Untuk perguruan

tinggi sebaiknya menyediakan Tim Satgas penaganan kekerasan dan pelecehan

seksual di kampus.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an, Al-Karim
B.G Hermayanthi, Representasi Kekerasan Pada Anak dalam Film Miss Baek
(Analisis Representasi Stuart Hall). 2021.
Brier, Jennifer, and lia dwi jayanti, ‘REPRESENTASI FEMINISME DALAM FILM
A SEPARATION (Analisis Semiotika)’, 21.1 2020
D, Claretta & T.S Tuffahati, Analisis Resepsi Penonton terhadap Mitos Menolak
Lamaran Pernikahan dalam Film Yuni. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan, 6(3), 2023.
Elsha, Debby Dwi, ‘Representasi Perempuan Dalam Film Spectre’, JURNAL PIKMA
PUBLIKASI ILMU KOMUNIKASI MEDIA DAN CINEMA, 1.2 2020.
‘FILM SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI MASSA - E-JURNAL’ <[Link]
[Link]/2014/01/[Link]> [accessed 13
March 2023]
FITRIANA, A, ‘Metode Penelitian Kuantitatif’, Repository IAIN Parepare, 2020
Ghassani, Adlina, and Catur Nugroho, ‘Pemaknaan Rasisme Dalam Film (Analisis
Resepsi Film Get Out)’, Jurnal Manajemen Maranatha, 18.2 2019.
Hall, Stuart, ‘BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Representasi (Theory of
Representation ) Teori Representasi. 2020.
Ida, Rachma, Metode Penelitian: Studi Media Dan Kajian Budaya (Kencana, 2014)
Ilhamsyah, Mochamad Rosy, ‘Representasi Muslimah Dalam Film
“Assalamualaikum Calon Imam”: Tinjauan Teori Representasi Stuart Hall’,
2019.
Ahmad, J. Desain penelitian analisis isi (Content analysis). Research Gate, 1-20.
2018.
Karima, et al, ‘Citra Perempuan Dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat
Babak: Kajian Sastra Feminis Dan Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di
SMA’, Institutional Repository, July, 2021.
Karomah, Nur Isnaini, ‘REPRESENTASI FEMINISME PADA FILM
PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN (Analisis Semiotik Pada Film
Perempuan Berkalung Sorban Karya Hanung Bramantyo)’, Institutional
Repository, 8.5 2019.
Khomsahrial, Romli, ‘Komunikasi Massa, Jakarta: PT’, Gramedia Jakarta, 2016.
Kompasiana,[Link]
59183/belajar-dari-film-demi-nama-baik-kampus diakses pada tanggal 20 juni
2023.

I
Laksmana, et al,. Analisis Resepsi Diskriminasi Ageisme Dalam Film Sweet 20.
In SEMAKOM: SEMINAR NASIONAL MAHASISWA KOMUNIKASI (Vol. 1,
No. 01, pp. 38-42). 2023.
Heriyanti, L., et al. Membaca Perempuan Di Titik Nol: Perspektif Feminisme
Eksistensialis. Jurnal Wanita dan Keluarga, 1(2), 35-44. 2020.
Manda Diani, Martha Tri Lestari, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Maleficent’,
Jurnal Kajian Televisis Dan Film, 1.2 2015.
Mekarisce, Arnild Augina, ‘Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Pada Penelitian
Kualitatif Di Bidang Kesehatan Masyarakat’, Jurnal IImiah Kesehatan
Masyarakat, 12.33 2020.
Mukrimaa, Syifa S., Nurdyansyah, Eni Fariyatul Fahyuni, ANIS YULIA CITRA,
Nathaniel David Schulz, ‫ غسان‬.‫د‬, and others, ‘“Kesetaraan Dalam Pernikahan”
Pada Iklan Kecap ABC’, Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
[Link] 2016.
Nurhakki, Nurhakki, and Islamul Haq, ‘Representasi Perempuan Di Masjid’, Jurnal
Askopis, 1.2 2017
Nugroho Catur and Ghassani Adlina, ‘Pemaknaan Rasisme Dalam Film (Analisis
Resepsi Film Get Out)’, Jurnal Manajemen Maranatha, 18.2 2019.
N.P Ayomi. Gosip, Hoaks, dan Perempuan: Representasi dan Resepsi Khalayak
Terhadap Film Pendek “Tilik”. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi,
Animasi, 17(1), 51-61. 2021.
Rumtianing Irma. Analisis Isi Kualitatif Peran Jurnalis Televisi Dalam Film Good
Night And Good Luck, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2018.
Purrohman, Purnama Syae, ‘Menulis Skripsi Dengan Metode Penelitian Kualitatif’,
Universitas Muhammadiyah, [Link] 2018.
Pujiati, et al,. Representasi Wacana Fandom Dalam Novel Fangirl Karya Rainbow
Rowell. Publika Budaya, 3(2), 52-62. 2017.
P.V.N.K, Sinulingga. Analisis Resepsi Khalayak Terhadap Objektifikasi Perempuan
Dalam Serial Netflix “Squid Game” (Doctoral dissertation, FAKULTAS ILMU
SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO). 2023.
‘Qur’an Kemenag’ <[Link]
ayat/surah/49?from=1&to=18> [accessed 16 June 2023]
Rahman, M. Taufiq, ‘Pemikiran Feminisme Sosialis Dan Eksistensialis’, Digital
Library UIN SUNAN GUNUNG DJATI, 2019.
Ramli, Ratu Bulkis, Ahnsari Ahnsari, and . Juanda, ‘Representasi Feminisme
Eksistensial Di Balik Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak’,
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, Dan Sastra, 3.2 2021.
SALSABILA, RENA AZZAHRA, REPRESENTASI FEMINISME DI KOREA
SELATAN MELALUI FILM ‘KIM JI YOUNG, BORN 1982’, 2022.
Sampurno, Griselda, Jandy Edipson Luik, & Desi, and Yoanita Prodi, ‘Representasi
II
Feminisme Dalam Film Serial Layangan Putus’, E-Komunikasi Universitas
Kristen Petra, Surabaya, 10.2 2022.
Sigit Surahman, ‘Representasi Perempuan Metropolitan Dalam Film 7 Hati 7 Cinta 7
Wanita’, Jurnal Komunikasi, 3.1 2017.
Sunarti, suria, ‘strategi pengelolaan sumber daya manusia(sdm) dalam pelaksanaan
proses pernikahan dimasa pandemi covid-19 di kantor urusan agama (kua) kec.
Soreang kota parepare’, undergraduate thesis, iain parepare., 2021.
Surahman, Sigit, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Indonesia (Analisis Semiotika
Terkait Feminisme Pada Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)’, Jurnal Liski, 1.2 2018.
Suwastini, Ni Komang Arie, ‘Perkembangan Feminisme Barat Dari Abad Kedelapan
Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoretis’, Jurnal Ilmu Sosial
Dan Humaniora, 2.1 2017.
S Winduwati & Anisa, A. R., Pemaknaan Body Positivity dalam Film Imperfect
Pada Kalangan Remaja di Jakarta. Koneksi, 5(2), 427-433. 2021.
ThoughtC,.[Link]
3528987, diakses pada tanggal 21 juni 2023.
Utama, Missheal, and Noeratri Andanwerti, ‘Pendekatan Feminisme Konsep Alpha
Female Untuk Desain Interior Toko Kosmetik Di Jakarta’, Seri Seminar
Nasional Ke-IV Universitas Tarumanagara, 2022.
Wibowo, ‘Representasi Maskulinitas’, 2018.
Wibowo, Fred, ‘Tenik Program Televisi. Yogyakarta: Pinus Book Publisher. Hal:196
1’, 2010.
Zahira, nurul, ‘Studi Semiotik Feminisme Tentang Film Marlina Si Pembunuh Dalam
Empat Babak’, Jurnal Ilmu Komunikasi, 4.1 2021.

III
LAMPIRAN-LAMPIRAN SCENE

IV
Tabel Scene-Scene yang ada di Film Demi Nama Baik Kampus

Visual Durasi Keterangan

00 : 37 Abi, Ririn dan sinta bertemu di


tempat makan dan sinta
membicarakan kekagumannya
dengan sosok Kartini.

Gambar 4.2

01 : 57 Sinta mendatangi ruangan pak


Ari, untuk bimbingan skripsinya.

Gambar 4.3

05 : 34 Pak Ari memaksa masuk


kedalam kamar mandi dan
mengancam Sinta.

V
07 : 11 Abi datang untuk mengunjungi
Sinta yang tidak masuk kuliah,
dan menenangkannya.

gambar 4.4
11 : 18 Abi dan Sinta datang keruangan
Rektor untuk membahas
kejadian pada saat malam
bimbingan skripsi.

Gambar 4.5

VI
15 : 26 Sinta mulai mengalami depresi
karena tuduhan yang dialami
melalui media sosial, dan
mencoba bunuh diri.

Gambar 4.6
20 : 27 Abi dan Sinta mendatangi
ruangan Satgas buat nanganin
kekerasan seksual yang dialami
sinta.

gambar 4.7
24 : 00 Pak Ari bertemu dengan
Mahasiswanya.

gambar 4.8

VII
24 : 10 Kepercayaan diri sinta mulai
kembali.

gambar 4.9
24 : 26 Ibu Anisa mulai menganalisis
kasus Sinta.

gambar 4.10
25 : 01 Tim Satgas bertemu Rektor dan
Pak Ari untuk menyampaikan
hasil Analisis kasus yang
ditangani.

gambar 4.11
27 : 44 Saksi bertemu dengan Ibu Anisa
untuk memberikan informasi.

gambar 4.12

VIII
28 : 08 Ari bertemu dengan temannya
dan menceritakan kejadian pada
saat malam bimbingan.

gambar 4.13
29 : 47 Sinta, Dita dan Ibu Anisa
bertemu dengan Rektor
membahas hasil keputusan yang
diambil mengenai kasus
pelecehan seksual. Dan rektor
meminta maaf kepada sinta.

gambar 4.14

IX
BIODATA PENULIS

Ayu Ulan Dari, Lahir di Sidrap, Sulawesi Selatan. Pada tanggal


15 September 2000 merupakan anak ke dua dari Bapak Sambas
dan Ibu Kasma. Penulis Berkebangsaan Indonesia dan beragama
Islam. Penulis mulai memasuki jenjang pendidikan Sekolah
Dasar di MI DDI Palirang, Madrasah Tsanawiyah di MTS DDI
Palirang, Sekolah Menengah Atas di SMKN 4 Pinrang. Setelah
itu penulis melanjutkan di Perguruan Tinggi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Parepare, dengan Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam. Semasa perkuliahan
banyak pengalaman penulis yang di dapatkan baik dari pemikiran dosen maupun
teman-teman. Penulis pernah ikut berkontribusi dalam salah satu Lembaga intra
kampus yaitu KSR PMI UNIT 01 IAIN PAREPARE dan Lembaga Ekstra kampus
yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Penulis mengajukan judul
skripsi sebagai tugas akhir yaitu “Representasi Feminisme Pada Film “Demi Nama
Baik Kampus” Karya Andi T”. Penulis melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan
(PPL) di Kementrian Agama Kota Parepare, dan melaksanakan Kuliah Pengabdian
Masyarakat (KPM) di Desa Padaelo Kecamatan Mattiro Bulu Kabupaten Pinrang,
Provinsi Sulawesi Selatan.

Anda mungkin juga menyukai