SKRIPSI
REPRESENTASI FEMINISME PADA FILM “DEMI NAMA BAIK
KAMPUS” KARYA ANDI T
OLEH
AYU ULAN DARI
NIM: 19.3100.047
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PAREPARE
2023 M /1445 H
REPRESENTASI FEMINISME PADA FILM “DEMI NAMA
BAIK KAMPUS” KARYA ANDI T
OLEH
AYU ULAN DARI
NIM : 19.3100.047
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial ([Link])
Pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab
Dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Parepare
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PAREPARE
2023 M /1445 H
ii
iii
iv
KATA PENGANTAR
الر ِحي ِْم
َّ الرحْ َم ِن
َّ ِْــــــــــــــــــم هللا
ِ ِبس
علَى ا َ ِل ِه َ اء َو ْال ُم ْر
َ س ِليْنَ َو ِ علَى أ َ ْش َر
ِ َف اْأل َ ْن ِبي َ سالَ ُم َّ ب ْالعَالَ ِميْنَ َوال
َّ صالَة ُ َوال ِ ْال َح ْمدُ ِهللِ َر
ُصحْ ِب ِه أَجْ َم ِعيْنَ أ َ َّما بَ ْعد
َ َو
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah Swt. Atas Ridho-Nya saya dapat
menyelesaikan skripsi ini, salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana sosial
([Link]), fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Parepare.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang
tua tercinta, Ibunda Kasma dan Ayahanda Sambas atas bimbingan dan doanya. Berkat
dukungan mereka, penulis dapat menyelesaikan tugas akademik tepat waktu.
Penulis telah menerima banyak bimbingan dan bantuan dari Ibu Nurhakki,
[Link], [Link] dan Ibu A. Dian Fitriana, [Link] selaku Pembimbing I dan Pembimbing
II, atas segala bantuan dan bimbingan yang telah diberikan, penulis ucapkan terima
kasih.
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu, baik secara moral maupun material, hingga selesainya penulisan ini.
Semoga Allah balasan kebaikan sebagai amal yang akan terus memberikan pahala dan
rahmatnya.
Selanjutnya, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Hannani. [Link]. sebagai Rektor IAIN Parepare yang telah bekerja
keras mengelola pendidikan di IAIN Parepare.
2. Bapak Dr. A. Nurkidam, [Link]. sebagai “Dekan Fakultas Ushuluddin Adab
dan Dakwah atas pengabdiannya dalam menciptakan suasana pendidikan yang
v
positif bagi mahasiswa.
3. Ketua Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Ibu Nurhakki, [Link], [Link], dan para
dosen Komunikasi Penyiaran Islam, yang telah meluangkan waktu mereka
dalam mendidik penulis selama studi di IAIN Parepare.
4. Bapak/Ibu tenaga administrasi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah dengan
penuh ketulusan meringankan sistem administrasi mahasiswa baik dari awal
hingga pada penyelesaian studi.
5. Kepala perpustakaan IAIN Parepare beserta seluruh staf yang telah memberikan
pelayanan yang baik kepada penulis selama menjalani studi di IAIN Parepare,
terutama dalam penulisan skripsi ini.
6. Channel youtube Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI menjadi informan
penelitian.
7. Terimah kasih kepada keluarga terutama kepada Bapak (Sambas) dan Mama
(Kasma) yang telah menjadi alasan saya sehingga masih tetap semangat dalam
menyelesaikan studi saya di IAIN Parepare.
8. Terimah kasih juga kepada saudara dan ponakan saya Nursam Sk, Tias Sk,
Thasya Sk dan A. Nur Ramadhani yang telah menjadi support system untuk
kehidupan saya.
9. Kepada para sahabat saya KOPIKO (Kompak Tapi Kocak) Yulinar, Sri
Novianti, Juswanda Safitri, Lisanti, Muhammad Yusuf, Darwis, Syamsuriadi,
Amran yang senantiasa menemani saya dalam setiap proses yang saya lewati
selama berkuliah di IAIN pare-pare.
10. Semua teman-teman seperjuangan Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam
angkatan 2019 yang tidak bisa penulis sebut satu persatu yang telah memberi
vi
vii
viii
ABSTRAK
AYU ULAN DARI. Representasi Feminisme Pada Film “Demi Nama Baik Kampus”
Karya Andi T, (Dibimbing oleh Ibu Nurhakki dan Ibu A. Dian Fitriana).
Film “Demi Nama Baik Kampus” merupakan film yang bertemakan feminisme
tentang pelecehan seksual di kampus atau di lingkungan pendidikan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji representasi feminisme yang terdapat dalam film seperti
halnya ketidakadilan yang dirasakan seorang perempuan, Selain itu, penelitian ini juga
bertujuan untuk mengetahui Representasi Feminisme pada film “Demi Nama Baik
Kampus” dilihat dari Representasi Dominan, Representasi Negosiasi dan Representasi
Oposisi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode analisis isi kualitatif
yang dihasilkan dari mengamati dan merekam setiap adegan dan dialog yang ada di
sebuah film “Demi Nama Baik Kampus”. Teknik analisis data menggunakan metode
analisis isi kualitatif disusun dan dianalisis sesuai dengan masalah penelitian. Penelitian
ini menggunakan teori Representasi dan Feminisme.
Hasil penelitian ini menunjukkan representasi feminisme dilihat dari posisi
dominasi, dimana peran utama laki-laki selaku dosen mengancam dan menindas
mahasiswinya sedangkan posisi dominasi yang ditunjukkan oleh pak Rektor dengan
mengambil keputusan sepihak. Posisi negosiasi ketika Sinta mulai melaporkan kejadian
pelecehan seksual yang dialaminya ke pihak kampus dan Tim Satgas Pencegahan dan
Penanganan Kekerasan Seksual. Posisi Oposisi ketika Sinta bersih keras untuk tidak
menandatangani surat perjanjian yang diajukan oleh pak Rektor. Representasi
feminisme dalam film Demi Nama Baik Kampus adalah representasi feminisme Sosial .
Kata Kunci : Representasi; Feminisme; Film.
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL..................................................................................................... ii
PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING ................................................................ iii
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI.......................... Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR .................................................................................................. v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .................................................................... viii
ABSTRAK ................................................................................................................... ix
DAFTAR ISI ................................................................................................................. x
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................... xv
PEDOMAN TRANSLITERASI DAN SINGKATAN .............................................. xvi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 7
D. Kegunaan Penelitian ................................................................................ 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 9
A. Tinjauan penelitian relavan...................................................................... 9
B. Tinjauan Teori ........................................................................................ 12
1. Teori Representasi ............................................................................. 12
2. Teori Feminisme ................................................................................ 26
C. Kerangka konseptual .............................................................................. 32
D. Kerangka Pikir ....................................................................................... 38
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................... 40
A. Pendekatan dan jenis penelitian ............................................................. 40
B. Lokasi dan Waktu penelitian ................................................................. 41
C. Fokus Penelitian ..................................................................................... 42
x
D. Jenis dan Sumber Data........................................................................... 43
E. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 44
F. Uji keabsahan Data ................................................................................. 45
G. Teknik Analisis Data ............................................................................. 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................... 48
A. Hasil Penelitian ...................................................................................... 48
1. Tokoh dan Karakter Film “Demi Nama Baik Kampus”. ................... 48
2. Representasi Feminisme Dominan, Negosiasi dan Oposisi............... 51
3. Analisis Latar, Teknik Pengambilan Gambar dan Editing ................ 58
B. Pembahasan............................................................................................ 86
BAB V PENUTUP .................................................................................................. 92
A. Simpulan ................................................................................................ 92
B. Saran ...................................................................................................... 94
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... I
LAMPIRAN-LAMPIRAN SCENE ............................................................................ IV
BIODATA PENULIS .................................................................................................. X
xi
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Tabel Halaman
2.1 Daftar Pemain dan Kru 38
3.1 Rancangan Waktu Penelitian 45
4.1 Representasi Dominan 57
4.2 Representasi Negosiasi 62
4.3 Representasi Oposisi 65
xii
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Gambar Halaman
2.1 Poster Demi Nama Baik Kampus 36
2.2 Bagan Kerangka Pikir 41
3.1 Teknik Content Analysis 44
4.1 Scene 1 dalam film DNBK 58
4.2 Scene 2 dalam film DNBK 59
4.3 Scene 3 dalam film DNBK 60
4.4 Scene 4 dalam film DNBK 61
4.5 Scene 5 dalam film DNBK 62
4.6 Scene 6 dalam film DNBK 63
4.7 Scene 7 dalam film DNBK 64
4.8 Scene 8 dalam film DNBK 72
4.9 Scene 9 dalam film DNBK 73
4.10 Scene 10 dalam film DNBK 74
4.11 Scene 11 dalam film DNBK 75
xiii
4.12 Scene 12 dalam film DNBK 76
4.13 Scene 13 dalam film DNBK 80
4.14 Scene 14 dalam film DNBK 81
4.15 Scene 15 dalam film DNBK 82
4.16 Scene 16 dalam film DNBK 83
4.17 Scene 17 dalam film DNBK 84
4.18 Scene 18 dalam film DNBK 85
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Lampiran Halaman
1. Scene-Scene Film Demi Nama Baik Kampus xv
2. Biodata Penulis xv
xv
PEDOMAN TRANSLITERASI DAN SINGKATAN
A. Transliterasi
1. Konsonan
Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan
dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan
sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian lain lagi dilambangkan dengan
huruf dan tanda.
Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin:
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama
ا Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan
ب Ba B Be
ت Ta T Te
ث Ṡa Ṡ Es (dengan titik di atas)
ج Jim J Je
ح Ḥa Ḥ Ha (dengan titik di bawah)
خ Kha Kh Ka dan Ha
د Dal D De
ذ Dhal Dh De dan Ha
ر Ra R Er
ز Zai Z Zet
س Sin N Es
ش Syin Sy Es dan Ye
ص Ṣad Ṣ Es (dengan titik di bawah)
ض Ḍad Ḍ De (dengan titik di bawah)
ط Ṭa Ṭ Te (dengan titik di bawah)
ظ Ẓa Ẓ Zet (dengan titik di bawah)
xvi
xvii
ع Ain N‘__ Koma Terbalik Keatas
غ Gain G Ge
ف Fa F Ef
ق Qof Q Qi
ك Kaf K Ka
ل Lam L El
م Mim M Em
ن Nun N En
و Wau W We
ه Ha H Ha
ء Hamzah __’ Apostrof
ي Ya Y Ye
Hamzah ( )ءyang terletak diawal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda
apa pun. Jika ia terletak ditengah atau diakhir, maka ditulis dengan tanda (ʼ)
2. Vokal
Vokal tunggal (monoftong) bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau
harakat, transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ٲ Fathah A A
ٳ Kasrah I I
ٱ Dammah U U
Vokal rangkap (diftong) bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan
antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ي
ْ َ۔ Fathah dan Ya Ai a dan i
۔ َْو Fathah dan Wau Au a dan u
Contoh:
xviii
َ ڲڧ: kaifa
َح ْو َل: haula
3. Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf,
transaliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Harkat dan
Huruf Nama Huruf dan Tanda Nama
Fathah dan Alif
۔َي/۔َا Ā a dan garis di atas
atau Ya
ي
ْ ِ۔ Kasrah dan Ya Ī i dan garis di atas
۔ ُْو Dammah dan Wau Ū u dan garis di atas
Contoh:
ََمات : Māta
َر َمى : Ramā
قِ ْي َل : Qīla
ُيَ ُم ْوت : yamūtu
4. Ta Marbutah
Transliterasi untuk ta marbutah ada dua:
a. Ta marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan
dammah, transliterasinya adalah [t]
b. Ta marbutah yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya
adalah [h].
xix
Kalau pada kata yang terakhir dengan ta marbutah diikuti oleh kata yang
menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta
marbutah itu ditransliterasikan dengan ha (h).
Contoh:
ضةُالخَن ِة
َ َر ْو : Raudah al-jannah atau Raudatul jannah
ِ ا َ ْل َم ِد ْينَةُ ْالف
َاضلَ ِة : Al-madīnah al-fādilah atau Al-madīnatul fādilah
ُا َ ْل ِح ْك َمة : Al-hikmah
5. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan
sebuah tanda tasydid ()۔, dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan
huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah. Contoh:
َربَّنَا : Rabbanā
نَ َّخ ْينَا : Najjainā
ْال َحق : Al-Haqq
ْال َحخ : Al-Hajj
نُ ِع َم : Nu’ima
عدُو
َ : ‘Aduwwun
Jika huruf ىbertasydid diakhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah
()۔ِي, maka ia transliterasi seperti huruf maddah (i).
Contoh:
ع َربِي
َ : ‘Arabi (bukan ‘Arabiyy atau ‘Araby)
xx
ع ِلي
َ :”Ali (bukan ‘Alyy atau ‘Aly)
6. Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf ( الalif lam
ma’rifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasikan seperti
biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf syamsiah maupun huruf qamariah. Kata
sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang
ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar
()ـ. Contoh:
Contoh:
ُ ا َ ْلش َْم
س : al-syamsu (bukan asy-syamsu)
لز ْلزَ لَة
َّ َ ا : al-zalzalah (bukan az-zalzalah)
َ ا َ ْلفَل
ُسفَة : al-falsafah
ُا َ ْل ِبالَد : al-biladu
7. Hamzah
Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof (‘) hanya berlaku bagi
hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun bila hamzah terletak di awal
kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan arab ia berupa alif. Contoh:
َتأ ُم ُر ْون : ta’muruna
النَّ ْو ُء : al-nau’
ش ْيء
َ : syai’un
ُا ُ ِم ْرت : umirtu
8. Kata arab yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia
Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau
kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat
yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, tidak
xxi
lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya kata Al-Qur’an (dar Qur’an),
Sunnah.
Namun bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab
maka mereka harus ditransliterasi secara utuh. Contoh:
Fi zilal al-qur’an
Al-sunnah qabl al-tadwin
Al-ibarat bi ‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab
ل
9. Lafz al-jalalah ()ًّلا
Kata”Allah” yang didahuilui partikel seperti huruf jar dan huruf lainnya atau
berkedudukan sebagai mudaf ilahi (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf
hamzah. Contoh:
ِ ِد ْينُ لdinullah
ًّلا ِِبا لّلل billah
Adapun ta marbutah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz al-jalalah,
ditransliterasi dengan huruf [t]. Contoh:
ُه ْم فِي َرحْ َم ِة ل
ًِّلا hum fi rahmatillah
10. Huruf kapital
Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital, dalam transliterasi
ini huruf tersebut digunakan juga berdasarkan kepada pedoman ejaan Bahasa
Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan
huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan
kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan
huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.
Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut
menggunakan huruf kapital (Al-). Contoh:
Wa ma Muhammadun illa rasul
Inna awwala baitin wudi’a linnasi lalladhi bi Bakkata mubarakan
Syahru Ramadan al-ladhi unzila fih al-Qur’an
Nasir al-Din al-Tusi
xxii
Abu Nasr al-Farabi
Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibnu (anak dari) dan Abu
(bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus
disebutkan sebagai nama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi. Contoh:
Abu al-Walid Muhammad ibnu Rusyd, ditulis menjadi: Ibnu Rusyd, Abu al-
Walid Muhammad (bukan: Rusyd, Abu al-Walid Muhammad Ibnu)
Nasr Hamid Abu Zaid, ditulis menjadi Abu Zaid, Nasr Hamid (bukan: Zaid,
Nasr Hamid Abu)
1. Singkatan
Beberapa singkatan yang di bakukan adalah:
Swt = subhanahu wa ta ‘ala
Saw = sallallahu ‘alaihi wa sallam
a.s = ‘alaihi al-sallam
H = Hijriah
M = Masehi
SM = Sebelum Masehi
l. = Lahir Tahun
w. = Wafat Tahun
QS../..: 4 = QS al-Baqarah/2:187 atau QS Ibrahim/..., ayat 4
HR = Hadis Riwayat
Beberapa singkatan dalam bahasa Arab
ص = صفحة
دم = بدون مكان
صلعم =صلى اللهعليهوسلم
ط =طبعة
دن =بدون ناشر
xxiii
الخ =إلى آخره/ٳلى آخرها
ج =جزء
beberapa singkatan yang digunakan secara khusus dalam teks referensi perlu
di jelaskan kepanjangannya, diantaranya sebagai berikut:
ed. : editor (atau, eds. [kata dari editors] jika lebih dari satu orang
editor). Karena dalam bahasa indonesia kata”edotor” berlaku
baik untuk satu atau lebih editor, maka ia bisa saja tetap
disingkat ed. (tanpa s).
et al. :: “dan lain-lain” atau” dan kawan-kawan” (singkatan dari et
alia). Ditulis dengan huruf miring. Alternatifnya, digunakan
singkatan dkk.(“dan kawan-kawan”) yang ditulis dengan
huruf biasa/tegak.
Cet. :: Cetakan. Keterangan frekuensi cetakan buku atau literatur
sejenis.
Terj :: Terjemahan (oleh). Singkatan ini juga untuk penulisan karya
terjemahan yang tidak menyebutkan nama penerjemahnya
Vol. :: Volume. Dipakai untuk menunjukkan jumlah jilid sebuah
buku atau ensiklopedia dalam bahasa Inggris. Untuk buku-
buku berbahasa Arab biasanya digunakan juz.
No. :: Nomor. Digunakan untuk menunjukkan jumlah nomor karya
ilmiah berkala seperti jurnal, majalah, dan sebagainya
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Film merupakan media yang populer serta kerap digunakan oleh
masyarakat universal, sehingga film telah menjadi bagian dari kehidupan kita
tiap hari. Pesan ataupun nilai yang tercantum dalam film bisa mempengaruhi
pemirsa secara kognitif, efisien serta secara konatif. Film merupakan sarana
untuk menyampaikan informasi serta pendidikan kepada penontonnya melalui
alur cerita. Kemampuan dan kekuatan film dapat mempengaruhi pada
penontonnya. Menurut Turner, pemaknaan film sebagai representasi realitas
sosial berbeda dengan film selaku refleksi realitas belaka. Sebagai gambaran
realitas, film sekadar memindahkan kenyataan ke layar tanpa mengubahnya.
Pada saat yang sama, sebagai representasi realitas, film membuat serta
menghasilkan realitas sesuai dengan norma budaya, tradisi, dan ideologi.1
Dalam dunia perfilman tentu banyak sekali macam-macam genre,
salah satunya film yang berkaitan dengan perempuan, banyak film yang
mengangkat tentang feminisme yang menitik beratkan pada perempuan. Jenis
jenis film feminisme yaitu, Film Kartini, Film Jamila dan Sang Presiden, film
7 hati 7 cinta 7 wanita, film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dan
masih banyak film lainnya.
Feminisme adalah gerakan atau paham/ pandangan dimana perempuan
berusaha memperjuangkan hak asasinya. Kaum feminis memperjuangkan
1
Sigit Surahman, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Indonesia’, Jurnal Ilmiah
LISKI (Lingkar Studi Komunikasi), 1.2 (2015).
1
2
haknya, bebas berekspresi dan berpendapat, hak atas kebebasan menentukan
nasib sendiri, serta hak atas pendidikan dan pekerjaan seperti laki-laki.2
Agama Islam tidak membedakan status antara pria dan wanita. Seperti
firman Allah SWT dalam Surat Al Hujurat (49) ayat 13, yang berbunyi:
َ َشعُ ْوبًا َّوقَبَ ۤا ِٕى َل ِلتَع
ارفُ ْوا ۚ ا َِّن ُ اس اِنَّا َخلَ ْقن ُك ْم ِم ْن ذَ َك ٍر َّوا ُ ْنثى َو َجعَ ْلن ُك ْم
ُ َّٰٓياَي َها الن
ع ِليْم َخبِيْرَ ًَّلا ا َ ْك َر َم ُك ْم ِع ْندَ ه
ًّلاِ اَتْقى ُك ْم ۗا َِّن ه
Terjemahan:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh,
Allah Maha Mengetahui, Maha teliti.3
Quraish Shihab dalam ayat ini menafsirkan bahwa ayat diatas
mengacu pada penjelasan tentang prinsip-prinsip dasar hubungan manusia.
Allah mengenai penciptaan manusia, baik itu perempuan dan laki-laki untuk
saling mengenal dan bertakwa. Dalam ayat ini, kita dapat melihat bahwa
Allah tidak membedakan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam meraih
kemuliaan di sisi-Nya, serta membuat bangsa yang berbeda dan kelompok
yang berbeda saling mengenal, saling membantu, melengkapi dan
mendukung.
2
Jennifer Brier and lia dwi jayanti,‘REPRESENTASI FEMINISME DALAM FILM A
SEPARATION (Analisis Semiotika)’, 21.1 (2020).
3
‘Qur’an Kemenag’ <[Link]
ayat/surah/49?from=1&to=18> [accessed 16 June 2023].
3
Karya Sastra sebagai gambaran kreatif yang menggunakan bahasa
untuk berbicara tentang kehidupan manusia dan realitas. Secara umum,
sebuah karya sastra memuat permasalahan yang dihadapi masyarakat.4
Banyak film yang secara tidak sadar menampilkan semacam hubungan bias
gender, seperti seakan-akan memandang perempuan sebagai makhluk yang
tidak berdaya (lemah) atau kurang berkuasa. Wanita seringkali diberi karakter
menjadi kaum tertindas, objek seksual laki-laki, sampai target pelecehan.
Bukan sekedar itu, wanita seringkali divisualisasikan oleh sutradara sebagai
sosok yang rendah dan cengeng.
Dalam perfilman Indonesia, tokoh perempuan diilustrasikan sebagai
orang yang, emosional, lemah, pelit, dan cuek. Namun, banyak film yang
menampilkan kekuatan, perjuangan, dan kerja keras perempuan agar dapat
merubah persepsi masyarakat terhadap perempuan, seperti film Maleficent,
Perempuan Berkalung Sorban dan Marlina si pembunuh dalam empat babak.
Film “Maleficent” karya Robert Stromberg, yang menceritakan sosok
penyihir yang jahat yang mengutuk putri Aurora anak dari raja Stefan.
Karakter Maleficent yang dulunya seorang perempuan yang baik hati berubah
menjadi penyihir yang jahat dan kejam akibat pengkhianatan yang dibuat oleh
sosok laki-laki yang bernama raja Stefan. Sedangkan film “Perempuan
Berkalung Sorban” karya Hanung Bramantyo, ingin memperoleh hak dan
keadilan perempuan. Perempuan sangat dibatasi dalam melakukan hal
pendidikan, pembagian pekerjaan, pada film ini seorang perempuan tidak
4
Karima, et al., ‘Citra Perempuan Dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat
Babak: Kajian Sastra Feminis Dan Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA’,
Institutional Repository, 2021.
4
dibolehkan lebih tinggi pendidikannya dibanding seorang laki-laki,
perempuan hanya dibolehkan bekerja didalam rumah dan mengurus anak-
anaknya.5 Pada film “Marlina si Pembunuh dalam empat babak” karya Mouly
Surya, berkisaha akan Seseorang perempuan bernama Marlina berstatus janda
yang dirampok oleh 7 orang dan diperkosa, dan berusaha mencari keadilan.6
Film yang disutradarai oleh Mouly Surya ini sukses menunjukkan
bahwasanya wanita bukanlah makhluk yang tidak berdaya, melainkan
memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki. Marlina mencontohkan
kekuatan, ketangguhan, keberanian, dan kemandirian dalam mengejar
keadilan sebagai seorang perempuan.
Perempuan adalah bagian dari realitas kehidupan, yang berperan besar
dalam membuat kehidupan lebih berwarna. Akibatnya, perempuan terkait
erat, bahkan di media. Fenomena yang menimpa perempuan menjadi
perbincangan yang menarik untuk diikuti. Wanita sepertinya identik dengan
kelemahan dan ketertindasan. Kehadiran media film yang bersinggungan
dengan feminisme dapat menyadarkan penonton akan bentuk-bentuk
ketidakadilan gender seperti marginalisasi, subjugasi, stereotyping, dan
sosialisasi ideologi nilai peran gender.
Beragam film berhubungan dengan perempuan, akan tetapi kurang
film yang menggambarkan kekuatan seorang perempuan. Salah satu film yang
menampilkan perjuangan seorang perempuan untuk mencari keadilan dan
5
Karomah ,Nur Isnaini, ‘Representasi Feminisme Pada Film Perempuan Berkalung
Sorban (Analisis Semiotik Pada Film Perempuan Berkalung Sorban Karya Hanung
Bramantyo)’, Institutional Repository, 8.5 (2019).
6
nurul Zahira, et al,. ‘Studi Semiotik Feminisme Tentang Film Marlina Si Pembunuh
Dalam Empat Babak’, Jurnal Ilmu Komunikasi, 4.1 (2021).
5
bertemakan feminisme adalah film Demi Nama Baik Kampus, ini diunggah
oleh kanal YouTube “Fitur Cerdas Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia”
yang dipersembahkan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian
Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Film ini tentang pelecehan seksual di
kampus atau di lingkungan pendidikan. Film Demi Nama Baik Kampus
merupakan film pendek, yang disutradarai Andi T. Film “Demi Nama Baik
Kampus” diangkat dari realitas yang ada dimasyarakat yang sering kali terjadi
diruang lingkup pendidikan. bahwa kasus kekerasan seksual di kampus
seringkali dibungkam demi menjaga nama baik institusi pendidikan, hal itu
yang membuat banyak korban takut untuk melaporkan kejadian kepada para
pejabat kampus. Film ini ditayangkan pertama kali pada 14 Desember 2021.
kini telah ditonton lebih dari 500.592 Ribu kali hanya dalam waktu setahun
sejak film tersebut pertama kali diunggah.
Demi Nama Baik Kampus diperankan oleh Sinta (Laras Ardhia), Abi
(Anne Yasmine), Arie (Bismo Satrio), Rektor (Tam Notosusanto), Wakil
Rektor ( Agus Andrian), Ibu Anisa (Mariana Resli), Ida (Ajeng Sharfina
Adiwidya), Andi (Faisal Aji Pratama), Ririn (Putricia Adelianti), Faisal (Ismu
Tanjung).
Film ini mengangkat isu pelecehan seksual yang biasa terjadi di
kampus maupun di lingkungan pendidikan, baik yang dilakukan oleh sesama
mahasiswa, dosen, maupun dosen dan mahasiswa. Film ini memperlihatkan
bahwa berbicara tentang pelecehan seksual sangatlah penting karena korban
pelecehan seksual biasanya adalah perempuan. Rendahnya margin
perempuan untuk menghadapi dan memenangkan kasus ini menyebabkan
6
sebagian korban pelecehan seksual memilih diam dan memilih untuk tidak
memperjuangkan haknya sebagai korban, serta minimnya perlindungan
hukum bagi perempuan korban di Indonesia.
Kasus-kasus seperti itu menarik perhatian penelitian tentang
feminisme. Selain itu film “Demi Nama Baik Kampus” merujuk pada
feminisme yang memperlihatkan perjuangan seorang perempuan untuk
mencari keadilan. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif
kualitatif dengan teknik analisis data yakni analisis isi kualitatif. Analisi Isi
kualitatif dapat mengidentifikasi pesan yang nampak dan tidak Nampak dari
dokumen yang sedang diteliti. Peneliti memilih judul penelitian
“Representasi Feminisme pada film “Demi Nama Baik Kampus” Karya
Andi T
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah disampaikan, maka dibuat
rumusan masalah penelitian yaitu:
1. Bagaimana Representasi Posisi Dominan Dalam Film Demi Nama Baik
Kampus?
2. Bagaimana Representasi Posisi Negosiasi Dalam Film Demi Nama Baik
Kampus?
3. Bagaimana Representasi Posisi Oposisi Dalam Film Demi Nama Baik
Kampus?
7
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang berkenaan dengan masalah di atas sebagai berikut:
1. Untuk memperjelas Representasi Posisi Dominan Dalam Film Demi
Nama Baik Kampus.
2. Untuk memperjelas Representasi Posisi Negosiasi Dalam Film Demi
Nama Baik Kampus
3. Untuk memperjelas Representasi Posisi Oposisi Dalam Film Demi Nama
Baik Kampus
D. Kegunaan Penelitian
Dengan dilakukan penelitian ini, penulis berharap penelitian ini dapat
bermanfaat baik pada manfaat teoritis maupun manfaat praktis.
1. Manfaat teoritis
Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberi
sumbangan referensi mengenai analisis isi dalam film. Selain itu hasil
penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman tentang
representasi feminisme dalam film. Serta sebagai perbandingan dan
referensi untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini dapat memberikan gambaran bahwa seorang
perempuan dapat bebas berekspresi, mengutarakan mimpinya tidak dibatasi
oleh ruang gerak. Selain itu peneliti dapat memberikan pemahaman kepada
masyarakat bahwasanya dalam sebuah film terdapat sebuah pesan atau
makna. Pelecehan seksual dimanapun itu terjadi menjadi masalah serius
dan tidak bisa dipandang sebelah mata hasil pengkajian ini diharapkan
8
mampu menyadarkan masyarakat bahwa apapun alasannya dan dimanapun
pelecehan terjadi, harus dihadapi dengan tangan terbuka dan fokus ke
penyelesaian masalah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan penelitian relavan
Untuk membuat sebuah karya ilmiah yang baik, seorang peneliti harus
mencantumkan hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik
penelitiannya, sebagai berikut:
1. Pertama, penelitian dengan judul Representasi Feminisme Dalam Film
Maleficent (karya Joachim Ronning) yang ditulis Amanda Diani mahasiswi
dari Universitas Telkom pada tahun 2017. Amanda Diani memakai metode
kualitatif. Sedangkan untuk model analisisnya, Semiotika John Fiske adalah
tentang bagaimana televisi menggunakan kode-kode untuk menunjukkan
kontes sosial. Kode-kode ini dibagi menjadi tiga tingkatan realitas,
representasi, dan ideologi. Saudari Amanda Diani menemukan bahwa nilai-
nilai feminisme pada level realitas dapat terlihat dari cara seseorang
berpenampilan, merias diri, memilih pakaian, berbicara, lingkungan tempat
tinggal, dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. pada tingkatan
representasi nilai feminisme memperlihatkan dalam cara penggunaan kamera,
tindakan dan karakter para tokoh, serta konflik dan percakapan dalam cerita.
Pada level ideologi nilai feminisme Secara lebih sederhana, keyakinan feminis
tentang ekofeminisme menunjukkan hubungan yang kuat antara perempuan
dan alam, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.7
Perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian ini ialah model
analisisnya yang dipakai, pada penelitian ini memakai model analisis isi
7
Manda Diani, est al., Representasi Feminisme Dalam Film Maleficen, jurnal kajian
Yelevisi dan Film, Universitas Telkom, 1.2, (2017).
9
10
kualitatif sedangkan penelitian terdahulu menggunakan semiotika John Fiske
kontes sosial berdasarkan kode-kode televisi yang terbagi ke dalam tiga level
yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Penelitian terdahulu
berfokus pada kode penampilan, kostum, tata rias, kamera, karakter, aksi,
konflik dan dialog.
2. Kedua, penelitian dengan judul Representasi Feminisme Eksistensial Dibalik
Filmmarlinasi Pembunuh Dalam Empat Babak (karya Mouly Surya) yang
ditulis oleh saudari Ratu Balqis Ramli dari Universitas Negeri Makassar pada
tahun 2021. Ratu Bulkis Ramli menggunakan metode Kualitatif. Sedangkan
model Analisisnya, feminisme eksistensial Simone Beauvoir, berdasarkan
bentuk perlawanan perempuan, teks yang mengekspresikan bentuk perbedaan
perempuan dan bentuk perlawanan sebagai wujud eksistensi. Hasil dari
penelitian saudari Ratu Melalui film Marlina Si Pembunuh dalam Empat
Babak ini Mouly Surya mencoba mengekspresikan hal-hal dalam berbagai
adegan. Eksistensial feminisme menyatakan bahwa wanita memiliki
kesadaran sebagai subjek. Kesadaran itulah yang menempatkan perempuan
pada posisi yang mereka inginkan. Teks ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu,
karakteristik perempuan, tipe perempuan, dan bentuk perlawanan perempuan.8
Perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian ini ialah model
analisisnya yang dipakai, pada penelitian ini memakai analisis analisis isi
kualitatif sedangkan penelitian terdahulu menggunakan feminisme
8
Ratu Bulkis Ramli, Ahnsari Ahnsari, and . Juanda, ‘Representasi Feminisme
Eksistensial Di Balik Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak’, Lingue : Jurnal Bahasa,
Budaya, Dan Sastra, Universitas Negeri Makassar, 3.2 (2021).
11
eksistensial Simon Beauvoir, berdasarkan bentuk perlawanan perempuan,
teks yang mengekspresikan bentuk marginalisasi perempuan dan bentuk
perlawanan sebagai wujud eksistensi. Sedangkan peneliti menggunakan
tanda-tanda denotasi, konotasi dan mitos.
3. Ketiga, penelitian dengan Representasi Perempuan Dalam Film Spectre
(karya Sam Mendes) yang ditulis oleh Debby Dwi Elsha Dari Universitas
Teknologi Yogyakarta Pada Tahun 2020. Debby menggunakan metode
Kualitatif Deskriptif. Sedangkan model analisisnya Semiotika John Fiske.
John Fiske menjelaskan semiotika dalam tiga tingkatan yaitu level realitas,
level representasi, level ideologi. Secara sederhana, pada tingkat pertama,
realitas seperti sebuah kode. Bagian sosial yang mencakup penampilan seperti
makeup dan kostum. Lingkungan, perilaku, gerak tubuh, dan ekspresi. Level
kedua, representasi adalah kode. "Sosial" mengacu pada teknik yang
digunakan dalam pembuatan video, seperti pergerakan kamera, pencahayaan,
dan pengeditan. Tingkat ketiga membahas tentang ideologi, yaitu suatu aturan
sosial yang berlaku dalam masyarakat. Ini tentang ide-ide yang ada dalam
kehidupan masyarakat, seperti feminisme dan patriarki. Jenis kelamin dan
bagaimana ia berkembang.9
Perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian ini ialah model analisisnya
yang dipakai, pada penelitian ini memakai model analisis analisis isi kualitatif
sedangkan penelitian terdahulu menggunakan semiotika John Fiske kontes
sosial berdasarkan kode-kode televisi yang terbagi ke dalam tiga level yaitu
9
Debby Dwi Elsha, ‘Representasi Perempuan Dalam Film Spectre’, JURNAL PIKMA
PUBLIKASI ILMU KOMUNIKASI MEDIA DAN CINEMA, 1.2 (2020)
12
level realitas, level representasi dan level ideologi. Penelitian terdahulu
berfokus pada kode penampilan, kostum, tata rias, kamera, karakter, aksi,
konflik dan dialog.
B. Tinjauan Teori
1. Teori Representasi
Representasi merupakan cara menganalisis ulang suatu objek,
fenomena atau fakta, yang pemaknaannya tergantung seperti apa ia
diekspresikan melalui bahasa. Realitas dimaksudkan untuk mewakili sikap
atau tindakan kelompok atau kelas orang tertentu dalam masyarakat.10
Representasi menghubungkan makna dan bahasa. Stuart Hall
mengatakan bahwa “representasi” berarti menggunakan kata-kata atau gambar
untuk membicarakan sesuatu dan menjadikannya berarti bagi orang lain.
Representasi melibatkan penggunaan bahasa, gambar, atau simbol untuk
menunjukkan atau menjelaskan sesuatu.11
Stuart Hall memang mengemukakan bahwa ada dua aspek penting
dalam proses representasi, yaitu makna (meaning) dan bahasa (language).
a. Makna (Meaning)
Menurut Hall, makna bukanlah sesuatu yang inheren atau tetap,
tetapi dikonstruksi secara sosial dan budaya. Makna diproduksi melalui
interaksi antara simbol-simbol, tanda-tanda, dan konteks sosial yang ada.
Makna bukanlah sesuatu yang pasti atau baku, melainkan dapat beragam
10
Nurhakki Nurhakki and Islamul Haq, ‘Representasi Perempuan Di Masjid’, Jurnal
Askopis, 1.2 (2017).
11
Mochamad Rosy Ilhamsyah, ‘Representasi Muslimah Dalam Film
“Assalamualaikum Calon Imam”: Tinjauan Teori Representasi Stuart Hall’, 2019, 128.
13
tergantung pada perspektif, pengalaman, dan interpretasi individu atau
kelompok.
b. Bahasa (Language)
Bahasa merupakan sarana untuk mentransmisikan makna. Hall
menekankan bahwa bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi yang
sederhana, tetapi juga sebagai konstruksi sosial yang membentuk
pemikiran, persepsi, dan pemahaman kita tentang dunia. Bahasa
memainkan peran penting dalam proses representasi, karena melalui
bahasa, gagasan dan konsep dapat diungkapkan dan ditransfer kepada
orang lain.12
Dalam analisis Hall, representasi dipahami sebagai hasil dari
konstruksi sosial dan budaya yang melibatkan pemilihan, penekanan,
pengkodean, dan dekoding makna melalui bahasa. Representasi tidak bersifat
netral, tetapi mencerminkan kepentingan, perspektif, dan pengetahuan yang
ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, dalam pemahaman Hall, representasi
dapat dipertanyakan, dinegosiasikan, dan diinterpretasi oleh individu atau
kelompok dengan mengambil peran aktif dalam memahami dan memproduksi
makna.
Konsep utama teori representasi (Theory of Representation) adalah
menggunakan bahasa untuk mengkomunikasikan sesuatu yang bermakna
kepada orang lain. Representasi adalah bagian terpenting dari proses di mana
makna diciptakan dan dipertukarkan. Representasi artinya kita mengartikan
12
Sigit Surahman, ‘Representasi Perempuan Metropolitan Dalam Film 7 Hati 7
Cinta 7 Wanita’, Jurnal Komunikasi, 3.1 2017.
14
atau menggambarkan suatu ide dalam pikiran kita menggunakan kata-kata.
Stuart Hall secara tegas mendefinisikan representasi sebagai proses
penciptaan makna melalui penggunaan bahasa.13
Perbedaan proses representasi terutama dalam media menurut Stuart Hall
dan John Fiske, ialah dimana Stuart Hall hanya menjelaskan proses
representasi dalam media dengan konsep encoding atau decoding yang
menjelaskan proses sebuah peristiwa dimaknai oleh media dan khalayak,
yang mana penandaan terhadap sebuah peristiwa yang telah ditandai
kemudian dikelola agar sesuai yang diarahkan kepada khalayak dan dapat
diterima oleh khalayak serta memberikan efek seperti hiburan dan ajakan.
Konsep Stuart Hall mengenai proses representasi media yaitu konsep
encoding atau decoding yang menjelaskan bagaimana proses sebuah peristiwa
dimaknai oleh media maupun khalayak media. Proses encoding media
terhadap suatu realitas yang ada tidak terlepas dari aspek-aspek ideologi baik
bersifat institusional, personal maupun aspek-aspek lain yang berkaitan
dengan kondisi sosio-kultural. Dalam hal ini, seseorang akan terlibat dengan
politik penandaan ketika ia mencoba membuat gambaran tentang realitas yang
diangkatnya.
Pada proses encoding, nilai-nilai digunakan ketika seseorang
memberikan penandaan terhadap sebuah peristiwa. Dalam konsep Stuart
Hall, peristiwa yang telah “ditandai” tersebut diarahkan untuk memiliki
tingkat kesesuaian yang baik ketika dipahami oleh khalayak. Kesesuaian ini
dimaksud pada proses penerimaan (decode) serta adanya pengaruh “have an
13
Stuart Hall, Teori Representasi (Theory of Representation ).
15
effect” baik berupa masukan, hiburan, instruksi, atau ajakan yang tentu saja
memiliki kompleksitas aspek-aspek perseptual di dalamnya baik yang bersifat
kognitif, emosional, ideologis atau konsekuensi behavioral lainnya.14
Stuart Hall menjelaskan bahwa ada dua cara untuk merepresentasikan
sesuatu yaitu representasi makna dan bahasa "Representasi makna" adalah
cara kita memikirkan tentang "sesuatu" dalam pikiran kita. Ini juga bisa
disebut "peta konsep". Pikiran kita dapat membayangkan sesuatu secara
abstrak dan berbeda-beda. Kedua, "Representasi bahasa" adalah hal-hal yang
membantu kita memahami makna. Ide dasar dalam pikiran tersebut kemudian
diterjemahkan mudah dimengerti oleh banyak orang. Cara ini digunakan
untuk menghubungkan ide tentang suatu simbol. Media digunakan untuk
menyampaikan informasi tentang hal yang nyata. Dalam media, representasi
artinya cara menunjukkan pendapat atau konsep seseorang atau kelompok.15
Representasi adalah cara sesuatu ditampilkan atau digambarkan, dan
itu dilakukan melalui sistem tertentu sistem representasi ini terdiri dari dua
bagian penting, yaitu konsep dalam pikiran dan bahasa. Kedua komponen ini
saling terkait satu sama lain. Gagasan tentang sesuatu yang kita pikirkan
membantu kita memahami maknanya. Tapi, arti tidak bisa dipahami tanpa
menggunakan bahasa. Sebagai contoh sederhana, kita mengetahui konsep
'gelas' dan memahami maknanya. Kita harus bisa menjelaskan arti dari 'gelas'
dengan kata-kata yang dimengerti oleh orang lain agar bisa berkomunikasi.
Contohnya, gelas itu adalah benda yang digunakan untuk minum.
14
Hermayanthi, G. B. Representasi Kekerasan Pada Anak dalam Film Miss Baek
(Analisis Representasi Stuart Hall). 2021.
15
Rachma Ida, Metode Penelitian: Studi Media Dan Kajian Budaya (Kencana,
2014).
16
Menurut Stuart Hall dalam artikelnya, "things don't mean: we 25
construct meaning, using representational systems-concepts and signs. Oleh
karena itu, konsep (dalam pikiran) dan tanda (bahasa) menjadi bagian penting
yang digunakan dalam proses konstruksi atau produksi makna.
Jadi dapat disimpulkan bahwa representasi adalah suatu proses untuk
memproduksi makna dari konsep yang ada dipikiran kita melalui bahasa.
Proses produksi makna tersebut dimungkinkan dengan hadirnya sistem
representasi. Namun, proses pemaknaan tersebut tergantung pada latar
belakang pengetahuan dan pemahaman suatu kelompok sosial terhadap suatu
tanda. Suatu kelompok harus memiliki pengalaman yang sama untuk dapat
memaknai sesuatu dengan cara yang nyaris sama.16
Untuk menelaah kajian budaya dan media, salah satu metode yang
digunakan di dalam penelitian ini adalah representasi dengan encoding-
decoding. Kajian ini menggunakan model dari encoding-decoding Stuart Hall
dimana makna tertentu akan diproduksi melalui media film oleh pembuat film
(encoder) yang selanjutnya dikonstruksi lewat alur cerita. Makna yang
tercipta akan dimaknai sama dengan khalayak apabila berada dalam kultur
yang sama. Namun jika berbeda posisi kultur, maka khalayak akan memaknai
pesan yang disampaikan oleh encoder secara berbeda (decoding).
Pemaknaan khalayak kemudian dikelompokkan menjadi 3 kategori
posisi Hall
a. Dominant/Hegemonic (Posisi Dominan). Dominasi menurut Stuart Hall
merujuk pada ketimpangan kekuasaan dan pengaruh yang ada dalam
16
Wibowo, ‘Representasi Maskulinitas’, 2013, 159.
17
masyarakat. Dominasi merujuk pada situasi di mana satu kelompok atau
individu memiliki kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar dibandingkan
dengan kelompok atau individu lainnya. Secara umum, dominasi
melibatkan pengendalian dan penguasaan terhadap sumber daya,
keputusan, dan interaksi sosial dalam suatu konteks sosial atau politik.
Dominasi seringkali terkait dengan ketimpangan kekuasaan, di mana
kelompok yang mendominasi memperoleh keuntungan dan kendali yang
lebih besar atas sumber daya dan kesempatan dibandingkan dengan
kelompok yang berada dalam posisi subordinat. Dominasi dapat
menciptakan ketidaksetaraan, penindasan, dan ketidakadilan dalam
masyarakat.17
Stuart Hall adalah seorang kritikus budaya dan media yang terkenal
dengan kontribusinya dalam pemahaman tentang representasi, identitas,
dan kekuasaan dalam budaya dan masyarakat. Ia sering membahas konsep-
konsep seperti hegemoni, perlawanan, dan negosiasi makna. Meskipun
Hall tidak secara spesifik mengembangkan konsep "posisi dominan,"
kontribusinya yang signifikan adalah dalam memperjelas bagaimana
kekuasaan dan dominasi beroperasi dalam masyarakat melalui media,
representasi, dan produksi budaya. Ia menyoroti bagaimana kelompok yang
memiliki kontrol terhadap produksi media dan simbol-simbol budaya
memiliki kekuasaan untuk membentuk pandangan dunia, nilai-nilai, dan
norma yang mendominasi. Pemikiran Hall juga menekankan pentingnya
perspektif kritis dan pemahaman bahwa makna dan representasi tidaklah
17
Pujiati, H., Astutiningsih, I., & Sari, M. N. Representasi Wacana Fandom Dalam
Novel Fangirl Karya Rainbow Rowell. Publika Budaya, 3(2), 52-62. (2017).
18
tetap atau baku. Ia menyoroti bahwa makna dan representasi selalu terbuka
untuk negosiasi, konflik, dan tindakan perlawanan oleh kelompok-
kelompok yang berada di posisi subordinat atau non-dominan. Dalam
kesimpulannya, walaupun Hall tidak secara langsung membahas "posisi
dominan," kontribusinya dalam pemahaman kekuasaan, representasi, dan
produksi budaya memberikan wawasan penting tentang bagaimana
dominasi dan resistensi terjadi dalam masyarakat kontemporer.18
Menurut Stuart Hall, indikator posisi dominan merujuk pada kekuatan
dan pengaruh yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu dalam
masyarakat. Hall adalah kritikus seorang budaya dan sosial yang berfokus
pada studi kekuasaan dan dominasi dalam konteks budaya.
Dalam konteks cerita film, indikator posisi dominan menurut Stuart
Hall berkaitan dengan cara cerita film mencerminkan dan memperkuat
posisi dominan dalam masyarakat. Beberapa indikator yang dapat dikaitkan
dengan posisi dominan dalam cerita film adalah sebagai berikut:
1) Pemeran utama
Karakter pemeran utama dalam cerita film sering kali menjadi
perwakilan dari posisi dominan dalam masyarakat. Mereka mungkin
memiliki kekuasaan, kekayaan, atau status sosial yang memberikan
mereka keunggulan atau pengaruh yang lebih besar dalam cerita.
2) Plot dominan
18
Laksmana, et al,. Analisis Resepsi Diskriminasi Ageisme Dalam Film Sweet 20.
In SEMAKOM: SEMINAR NASIONAL MAHASISWA KOMUNIKASI (Vol. 1, No. 01, pp. 38-
42). (2023).
19
Cerita film seringkali mengikuti plot yang mencerminkan atau
memperkuat posisi dominan. Plot tersebut mungkin menekankan
penghormatan terhadap nilai-nilai atau norma-norma yang dominan
dalam masyarakat.
3) Konflik dan resolusi
Konflik dalam cerita film seringkali melibatkan pertarungan
antara posisi dominan dan non-dominan. Namun, dalam banyak kasus,
cerita film cenderung memberikan resolusi yang menguntungkan posisi
dominan dan mempertahankan status untuk mencapai keadilan,
kesetaraan, dan perubahan yang lebih baik dalam masyarakat.
4) Representasi yang mendukung dominasi
Representasi karakter, kelompok, atau identitas dalam cerita film
seringkali memperkuat posisi dominan dalam masyarakat. Representasi
ini dapat melibatkan stereotip atau penggambaran yang menguntungkan
dan memihak posisi dominan.
5) Norma dan nilai yang diakui
Cerita film seringkali menghormati norma dan nilai-nilai yang
diakui secara luas dalam masyarakat. Mereka mencerminkan pandangan
dunia yang mendukung dan memperkuat posisi dominan dalam hal
etika, moral, atau konvensi sosial.19
19
Pujiati, et al,. Representasi Wacana Fandom Dalam Novel Fangirl Karya Rainbow
Rowell. Publika Budaya, 3(2), 52-62. (2017).
20
b. Negotiated Reading (Posisi Negosiasi). Menurut Stuart Hall, konsep
"posisi negosiasi" mengacu pada cara individu atau kelompok dalam
masyarakat berinteraksi dengan dan merespons kekuasaan yang ada. Posisi
negosiasi melibatkan strategi dan tindakan yang dilakukan oleh kelompok
yang berada dalam posisi subordinat untuk mempengaruhi atau
menafsirkan kembali kekuasaan dan representasi yang didominasi.
Hall menyatakan bahwa individu dan kelompok dalam masyarakat
tidak hanya pasif menerima atau menolak kekuasaan yang ada, tetapi
mereka juga memiliki kapasitas untuk merespons, memperdebatkan, dan
memodifikasi makna yang terkait dengan posisi mereka. Posisi negosiasi
mencakup taktik-taktik kritis, seperti penggunaan bahasa, simbol, budaya,
dan strategi komunikasi untuk mempengaruhi cara kekuasaan
diinterpretasikan dan dijalankan. Dalam konteks produksi budaya, individu
dan kelompok yang berada dalam posisi subordinat dapat menggunakan
posisi negosiasi untuk mengartikulasikan perspektif mereka sendiri,
memperjuangkan kepentingan mereka, dan melawan representasi yang
stereotip atau merendahkan. Mereka dapat memanfaatkan ruang diskursif
untuk memperjuangkan perubahan, menyuarakan keberagaman, dan
menciptakan narasi alternatif yang mencerminkan pengalaman mereka. 20
Hall menganggap posisi negosiasi sebagai strategi penting dalam
perlawanan terhadap dominasi. Posisi negosiasi tidak selalu menghasilkan
perubahan dramatis atau transformasi sosial yang segera, tetapi mereka
memainkan peran penting dalam mengubah, merintis, dan mereformasi
20
Griselda Sampurno and others, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Serial
Layangan Putus’, Jurnal E-Komunikasi Universitas Kristen Petra, Surabaya, 10.2 (2022).
21
kekuasaan serta membuka jalan bagi perubahan sosial yang lebih besar.
Penting untuk dicatat bahwa posisi negosiasi tidak selalu berhasil atau
tanpa hambatan. Terkadang, kekuasaan yang dominan dapat menahan,
mengecilkan, atau menekan upaya-upaya negosiasi tersebut. Namun,
konsep posisi negosiasi membuka ruang bagi pemikiran kritis dan tindakan
perlawanan, serta memperlihatkan bahwa individu dan kelompok memiliki
peran aktif dalam pembentukan sosial dan budaya.21
Dalam pemikiran Hall tentang posisi negosiasi secara umum,
terdapat beberapa aspek yang dapat menjadi pertimbangan dalam
analisis posisi negosiasi dalam cerita film. Beberapa faktor yang relevan
dalam konteks cerita film yang dapat diasosiasikan dengan posisi
negosiasi adalah sebagai berikut:
1) Karakter dengan penentangan atau perlawanan
Identifikasi karakter dalam cerita film yang menunjukkan sikap
kritis, resistensi, atau tindakan perlawanan terhadap kekuasaan atau
representasi yang dominan. Karakter ini mungkin menggunakan strategi
komunikasi atau tindakan konkret untuk mempengaruhi, merespons,
atau menentang kondisi yang tidak adil atau merugikan.
2) Perubahan atau transformasi karakter
Tinjau perkembangan karakter dalam cerita film yang awalnya
mungkin berada dalam posisi subordinat atau pasif, namun kemudian
mengalami perubahan dan menunjukkan sikap negosiasi. Ini dapat
21
Tuffahati, S. T., & Claretta, D. Analisis Resepsi Penonton terhadap Mitos Menolak
Lamaran Pernikahan dalam Film Yuni. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(3), (2023).
22
mencakup kesadaran diri, penerimaan identitas, atau perubahan dalam
sikap dan tindakan mereka.
3) Aliansi dan solidaritas
Tinjau apakah ada pembentukan aliansi atau hubungan solidaritas
antara karakter-karakter yang berada dalam posisi subordinat dalam
upaya untuk mempengaruhi atau merespons dominasi. Ini dapat
mencakup kerjasama antara karakter-karakter untuk melawan
ketidakadilan atau membentuk gerakan kolektif.
4) Strategi komunikasi dan interaksi
Perhatikan bagaimana karakter-karakter dalam cerita film
menggunakan strategi komunikasi, retorika, atau taktik lainnya untuk
berinteraksi dengan kekuasaan atau representasi dominan. Ini dapat
mencakup penggunaan bahasa, simbol, atau strategi persuasif untuk
mempengaruhi persepsi atau menciptakan perubahan dalam pandangan
dan tindakan. 22
c. Posisi Oposisi. Representasi oposisi menurut Stuart Hall merupakan salah
satu elemen penting yang memberikan dinamika, ketegangan, dan konflik
dalam cerita. Oposisi menggambarkan pertentangan antara elemen-elemen
yang ada dalam narasi, seperti karakter, tema, nilai, dan ideologi.
Penggunaan representasi oposisi oleh penulis dapat memberika kedalaman
22
Meylani, R., Sulistyani, H. D., & Pradekso, T. Audience Reception of the Issue
of Mental Disability in the Korean Drama It’s Okay to Not be Okay. Interaksi Online, 11.
(2022).
23
dan kekayaan pada cerita, menghadirkan konflik yang menarik dan
mempengaruhi perjalanan karakter. 23
Representasi Oposisi menciptakan ketegangan dan konflik yang
menjadi pendorong utama dalam alur cerita. Ketegangan ini menarik
perhatian dan membuat mereka tertarik untuk terus mengetahui bagaimana
konflik tersebut akan dipecahkan. Representasi oposisi memungkinkan
untuk menggambarkan karakter dengan lebih mendalam dan kompleks.
Karakter yang berada dalam konflik seringkali mengalami perkembangan
dan perubahan, sehingga membentuk karakterisasi yang lebih kaya.
Penggambaran Antagonis, Representasi oposisi seringkali melibatkan
adanya karakter antagonis yang berlawanan dengan karakter utama.
Antagonis berperan sebagai pemicu konflik dan menjadi hambatan bagi
pencapaian tujuan karakter utama. Bentuk Konflik yang Beragam,
Representasi oposisi memungkinkan adanya beragam bentuk konflik,
seperti konflik fisik, emosional, intelektual, sosial, atau moral.
Keberagaman ini membuat cerita lebih menarik dan menggugah perasaan
pembaca maupun penonton. Puncak Dramatis, Konflik dalam representasi
oposisi sering mencapai puncak dramatis yang menarik pembaca ke dalam
cerita. Puncak dramatis ini sering diikuti oleh klimaks cerita, di mana
konflik mencapai titik kritis dan resolusi mulai diupayakan.24
23
Sinulingga, K.N.V.P. Analisis Resepsi Khalayak Terhadap Objektifikasi
Perempuan Dalam Serial Netflix “Squid Game” (Doctoral dissertation, FAKULTAS ILMU
SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO). (2023).
24
Anisa, A. R., & Winduwati, S. Pemaknaan Body Positivity dalam Film Imperfect
Pada Kalangan Remaja di Jakarta. Koneksi, 5(2), 427-433. (2021).
24
Indikator representasi oposisi Menurut Stuart Hall mencakup berbagai
elemen dan aspek yang menunjukkan adanya pertentangan atau konflik
antara elemen-elemen dalam cerita. Beberapa indikator utama yang dapat
menggambarkan representasi oposisi adalah:
1. Konflik Karakter
Konflik antara karakter utama dan karakter lain, termasuk
antagonis, teman, atau anggota keluarga, adalah salah satu indikator
utama representasi oposisi. Konflik ini mencerminkan perbedaan nilai,
tujuan, atau pandangan antar karakter yang menyebabkan konflik dalam
cerita.
2. Dialog Konflik
Dialog yang mengandung pertentangan dan ketegangan antara
karakter adalah indikator representasi oposisi. Dialog tersebut mungkin
berisi perselisihan, perbedaan pendapat, atau pertentangan ideologi
antara karakter-karakter tersebut.
3. Pertentangan Tema
Karya sastra yang mengandung tema-tema yang bertentangan atau
saling berlawanan dapat mencerminkan representasi oposisi. Misalnya,
tema kebebasan vs. penindasan, keadilan vs. ketidakadilan, cinta vs.
kebencian, dll.
4. Perbedaan Nilai atau Ideologi
Perbedaan nilai, keyakinan, atau ideologi antara karakter atau
kelompok dalam cerita dapat menjadi indikator oposisi. Konflik sering
25
kali muncul ketika nilai-nilai atau pandangan yang berbeda ini
bertabrakan dan menyebabkan ketegangan dalam narasi.
5. Bentrokan Fisik atau Emosional
Pertentangan fisik atau emosional antara karakter-karakter dalam
cerita juga menunjukkan adanya representasi oposisi. Bentrokan fisik
dapat berupa pertarungan, pertempuran, atau konfrontasi fisik lainnya.
Bentrokan emosional, di sisi lain, melibatkan perasaan dan emosi yang
intens, seperti amarah, kecemburuan, atau sakit hati.
6. Tegangan dan Perkembangan Karakter
Karakter-karakter dalam cerita yang mengalami perkembangan atau
perubahan dalam menghadapi konflik menunjukkan adanya representasi
oposisi. Ketegangan dan perubahan karakter ini menambah dimensi
dramatis dan psikologis dalam karya sastra.
Indikator-indikator ini bekerja bersama-sama untuk menciptakan
representasi oposisi yang kuat. Oposisi adalah pendorong utama dalam alur
cerita, memberikan dinamika dan ketegangan yang diperlukan untuk
menarik minat pembaca dan penonton mengeksplorasi berbagai aspek
konflik manusia.
Posisi oposisi, di sisi lain, merujuk pada sikap atau pendekatan di
mana pihak yang terlibat bertentangan atau saling berlawanan dalam hal
tujuan, kepentingan, atau pandangan. Dalam posisi oposisi, pihak-pihak
yang terlibat mungkin memiliki pandangan yang bertentangan dan
berusaha untuk mempertahankan kepentingan mereka sendiri tanpa
26
memperhatikan kepentingan pihak lain. Tujuan utama dalam posisi oposisi
adalah untuk menang atau mengalahkan pihak lain.25
2. Teori Feminisme
Teori feminisme merupakan teori sebagai upaya terhadap suatu
gerakan wanita yang menuntut emansipasi atau keselarasan dan
keseimbangan hak dengan pria. Kata "feminisme" dibuat oleh Charles
Fourier pada tahun 1837. Fourier adalah seorang aktivis sosialis utopis.
Selain itu, banyak kisah menunjukkan bahwa perempuan seringkali terluka
dan diabaikan dalam segala bidang, terutama di masyarakat yang lebih
menghargai laki-laki. Feminisme berawal dari kata feminin yang artinya
kewanitaan atau hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Feminisme
adalah gerakan perempuan yang berjuang untuk mendapatkan hak-hak
mereka.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa
feminisme adalah gerakan perempuan yang menginginkan kesamaan hak
antara perempuan dan laki-laki.26 Feminisme bisa dijelaskan dalam berbagai
cara, seperti gerakan untuk membela hak-hak wanita atau usaha untuk
mengurangi tekanan yang dialami oleh wanita.27 Seiring waktu, perempuan
menjadi lebih bebas dan mandiri di era liberalisme di Eropa dan Revolusi
25
Ayomi, P. N. Gosip, Hoaks, dan Perempuan: Representasi dan Resepsi Khalayak
Terhadap Film Pendek “Tilik”. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi, 17(1), 51-61.
(2021).
26
Missheal Utama and Noeratri Andanwerti, ‘Pendekatan Feminisme Konsep Alpha
Female Untuk Desain Interior Toko Kosmetik Di Jakarta’, Seri Seminar Nasional Ke-IV
Universitas Tarumanagara, 2022,.
27
Sigit Surahman, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Indonesia (Analisis Semiotika
Terkait Feminisme Pada Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)’, Jurnal Liski, 1.2 (2015).
27
Prancis di abad ke-18. Mereka mulai menampakkan dirinya di depan umum
seperti yang biasa dilakukan laki-laki.28
Buku yang ditulis oleh Rosemarie Putnam Tong yang mengantarkan
kita pada pemahaman-pemahaman feminisme di dunia, yang kemudian
diterjemahkan Aquarini Priyatna Prabosmoro. Diterbitkan oleh Jalasutra,
Yogyakarta. Yang memuat perihal aliran feminisme, baik dari akar
feminisme tersebut sampai kepada kritik terhadap aliran Feminisme
Keberagaman Feminisme dalam versi Tong (2004) dibagi menjadi 8 yaitu:29
Feminisme Liberal, Feminisme Radikal, Feminisme Marxis dan Sosialis,
Feminisme Psikoanalisis dan Gender, Feminisme Eksistensialis, Feminisme
Pos-modern, Feminisme Multikultural dan Global, Ekofeminisme.
Dalam penelitian ini peneliti lebih berfokus pada feminisme Sosial.
Menurut teori Gilman, perempuan diperlakukan sebagai makhluk “inferior”.
Hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan hanya dimaksudkan untuk
menjunjung tinggi laki-laki. Perempuan menghadapi pelecehan seksual,
serangan seksual, dan kekerasan dalam rumah tangga, isu-isu tersebut masih
ada di masyarakat saat ini. Dalam masyarakat saat ini, perempuan masih
mengalami kasus pelecehan dan penyerangan seksual. Feminis sosialis
berusaha mengintegrasikan perjuangan untuk pembebasan perempuan
dengan perjuangan melawan sistem penindas lain yang berdasarkan pada ras,
kelas atau status ekonomi.30
28
Ni Komang Arie Suwastini, ‘Perkembangan Feminisme Barat Dari Abad Kedelapan
Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoretis’, Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora,
2.1 (2013).
29
Heriyanti, L., et al. Membaca Perempuan Di Titik Nol: Perspektif Feminisme
Eksistensialis. Jurnal Wanita dan Keluarga, 1(2), 35-44. (2020).
30
ThoughtC,.[Link]
3528987, diakses pada tanggal 21 juni 2023.
28
Gloria Steinem, seorang tokoh feminisme sosial yang berpengaruh,
memiliki fokus utama pada perjuangan untuk kesetaraan gender dan keadilan
sosial bagi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Beberapa fokus
utama dari Gloria Steinem dalam feminisme sosialnya adalah, Kesadaran
feminis, Gloria Steinem telah berjuang untuk meningkatkan kesadaran
perempuan tentang hak-hak mereka dan isu-isu feminis. Dia berpendapat
bahwa pendidikan dan kesadaran adalah langkah penting untuk mencapai
perubahan sosial yang lebih besar. Penentangan terhadap seksisme, Steinem
secara aktif menentang dan mengekspos berbagai bentuk seksisme yang
masih ada dalam masyarakat. Dia mendukung perjuangan melawan stereotip
gender dan diskriminasi yang dialami oleh perempuan. Isu-isu reproduksi
dan hak-hak reproduksi, Steinem telah lama berjuang untuk hak-hak
reproduksi perempuan, termasuk akses ke kontrasepsi dan aborsi. Dia
percaya bahwa keputusan tentang tubuh dan kesehatan reproduksi harus
menjadi hak individu perempuan. Gerakan solidaritas, Sebagai feminis
sosial, Steinem mendukung gerakan solidaritas dan kerja sama antara
kelompok-kelompok perempuan dan gerakan sosial lainnya. Dia menyadari
bahwa isu-isu gender terkait dengan isu-isu sosial dan politik yang lebih
luas. Advokasi dan aktivisme, Steinem telah menggunakan posisinya sebagai
aktivis, penulis, dan pembicara untuk mengadvokasi perubahan sosial yang
lebih adil dan kesetaraan gender. Dia berusaha untuk memberdayakan
perempuan untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan ketidakadilan.
Feminisme sosialis juga mengemukakan bahwa penindasan struktural
yang terjadi pada perempuan meliputi dua hal, yaitu penindasan di bawah
kapitalis dan penindasan di bawah patriarki, yang kemudian menjadi
penindasan kapitalis patriarki atau disebut dominasi. Feminisme sosialis
29
adalah gerakan untuk membebaskan para perempuan melalui perubahan
struktur patriarki. Perubahan struktur patriarki bertujuan agar kesetaraan
gender dapat terwujud. 31
Asumsi-asumsi dalam teori feminisme sosial mencakup beberapa
pandangan dasar tentang ketidaksetaraan gender dan peran aspek sosial
dalam masyarakat. Beberapa asumsi utama dari teori feminisme sosial antara
lain:
a. Ketidaksetaraan Gender sebagai Isu Struktural
Asumsi utama dari feminisme sosial adalah bahwa ketidaksetaraan
gender bukanlah hasil dari perbedaan individu antara pria dan wanita,
tetapi berasal dari struktur sosial dan sistem yang menguntungkan pria
dan membatasi perempuan. Ketidaksetaraan gender dipahami sebagai
konsekuensi dari dominasi patriarki yang ada dalam berbagai aspek
masyarakat.
b. Peran Struktur Sosial dan Kekuasaan
Teori feminisme sosial menganggap struktur sosial dan kekuasaan
sebagai elemen kunci dalam memahami ketidaksetaraan gender. Struktur-
struktur sosial seperti keluarga, ekonomi, politik, dan agama memiliki
peran penting dalam membentuk peran gender dan mempengaruhi akses
perempuan terhadap sumber daya dan peluang.
c. Kritik terhadap Patriarki
Asumsi lainnya adalah kritik terhadap patriarki sebagai sistem
dominasi yang memberikan kekuasaan lebih kepada pria dan
31
Syifa S. Mukrimaa and others, ‘“Kesetaraan Dalam Pernikahan” Pada Iklan Kecap
ABC’, Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, [Link] (2016), 128.
30
menguntungkan mereka dalam hampir semua aspek kehidupan.
Feminisme sosial berusaha untuk mengidentifikasi dan mengatasi
dinamika patriarki yang menyebabkan ketidaksetaraan dan penindasan
terhadap perempuan.
d. Interseksionalitas
Teori feminisme sosial mengakui bahwa ketidaksetaraan gender tidak
berdiri sendiri dan saling terkait dengan isu-isu lain seperti ras, kelas
sosial, orientasi seksual, dan disabilitas. Pendekatan interseksional
memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana
identitas dan pengalaman yang berbeda saling berpotongan dan
mempengaruhi pengalaman individu dalam konteks kesetaraan gender.
e. Perubahan Struktural dan Sosial
Asumsi feminisme sosial adalah bahwa untuk mencapai kesetaraan
gender, diperlukan perubahan struktural dan sosial yang lebih luas dalam
masyarakat. Ini mencakup mengubah norma sosial, kebijakan, dan sistem
yang menyebabkan ketidaksetaraan gender, serta meningkatkan kesadaran
dan partisipasi dalam mengatasi isu-isu gender.
f. Keseimbangan Kehidupan Pribadi dan Profesional
Feminisme sosial juga menekankan pentingnya keseimbangan antara
kehidupan pribadi dan profesional bagi perempuan. Asumsi ini
memandang bahwa perempuan harus memiliki kesempatan untuk
mengembangkan karir dan aspirasi pribadi tanpa harus mengorbankan
peran perawatan dan tanggung jawab rumah tangga.
31
Asumsi-asumsi tersebut membentuk dasar pandangan feminisme
sosial tentang ketidaksetaraan gender dan bagaimana mencapai kesetaraan
melalui perubahan sosial dan struktural yang lebih luas. Teori ini terus
berkembang dan beradaptasi dengan perkembangan sosial dan memainkan
peran penting dalam gerakan feminisme untuk mencapai kesetaraan gender
di seluruh dunia.
Pentingnya Feminisme Sosial. Feminisme sosial memiliki peran
penting dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan menciptakan
masyarakat yang lebih adil bagi semua orang. Dengan menekankan aspek
sosial dan ekonomi dari ketidaksetaraan gender, feminisme sosial berusaha
untuk mengatasi akar permasalahan ketidakadilan tersebut dan mendorong
perubahan yang lebih mendalam dalam struktur sosial dan ekonomi.
Feminisme sosial juga memahami bahwa ketidaksetaraan gender tidak
terpisah dari sistem yang lebih luas seperti kapitalisme, rasisme, dan
patriarki. Oleh karena itu, feminisme sosial berusaha untuk memahami dan
menghadapi kompleksitas ketidaksetaraan yang dialami oleh perempuan dari
berbagai latar belakang.32
Secara umum, feminisme sosial, menghapusan Kekerasan terhadap
Perempuan, Melawan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan,
termasuk kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, perdagangan
manusia, dan praktik kekerasan lainnya yang menargetkan perempuan.
Feminisme sosial tidak hanya berfokus pada perubahan individu, tetapi juga
bertujuan untuk mengubah struktur sosial, kebijakan, dan sistem yang
32
M. Taufiq Rahman, ‘Pemikiran Feminisme Sosialis Dan Eksistensialis’, Digital
Library UIN SUNAN GUNUNG DJATI, 2019.
32
menyebabkan ketidaksetaraan gender. Aliran ini mengakui bahwa perubahan
struktural adalah kunci untuk mencapai kesetaraan yang berkelanjutan dalam
masyarakat. Sebagai bagian dari gerakan feminisme, feminisme sosial terus
berupaya mengatasi tantangan dan kritik, serta bekerja untuk menciptakan
masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua orang tanpa memandang
gender.
C. Kerangka konseptual
1. Film Sebagai Media Massa
Seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi,
proses komunikasi dilakukan tidak hanya langsung (face to face,
interpersonal) namun telah menggunakan media Film berfungsi untuk
mengkomunikasikan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sehari
hari. Salah satu kekuatan film adalah dalam menggambarkan bagaimana
masyarakat itu sebenarnya.33
Film adalah bagian dari media massa yang sering digunakan
untuk menggambarkan kehidupan sosial dalam masyarakat. Film adalah
bagian dari media massa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan
efektif. Film adalah jenis kreasi budaya yang dapat memberikan
pelajaran penting dan pandangan sekilas tentang kehidupan kepada
pemirsa. Film juga bisa dipakai untuk mengkomunikasikan pesan
dengan sangat baik. Film adalah media yang sangat kuat untuk
membentuk cara berpikir masyarakat karena kualitas suara dan gambar
yang ditampilkan di dalamnya.
33
Adlina Ghassani and Catur Nugroho, ‘Pemaknaan Rasisme Dalam Film (Analisis
Resepsi Film Get Out)’, Jurnal Manajemen Maranatha, 18.2 (2019).
33
Wibowo mengatakan bahwa film adalah cara untuk
menyampaikan macam-macam pesan yang berbeda kepada orang-orang
melalui sebuah cerita dalam sebuah media. Film juga bisa digunakan
oleh para seniman dan orang yang bekerja di film untuk mengungkap
ide-ide dan cerita mereka. Film memiliki pengaruh yang kuat terhadap
masyarakat dan merupakan salah satu bentuk komunikasi massa yang
saling berhubungan dengan masyarakat.
Film adalah sebuah cara untuk berkomunikasi melalui suara dan
gambar yang dipadukan dalam cerita. Film bisa digunakan sebagai cara
untuk buat pesan agar mudah dipahami oleh penonton melalui
penjelasan cerita yang ditulis oleh penulis skenario. Film selaku media
massa mempunyai tiga fungsi yaitu menyampaikan informasi, edukasi
dan hiburan. Film adalah media yang digunakan untuk berkomunikasi
dan memengaruhi cara berpikir orang dengan berbagi cerita melalui
film. Film selain digunakan untuk berkomunikasi, juga bisa digunakan
untuk mengajarkan nilai-nilai dan publikasi.34
Film yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan ide bisa
memiliki berbagai bentuk, sesuai dengan tujuan film tersebut. Namun,
film biasanya dapat memberikan banyak pesan. Ada pesan tentang
pendidikan, hiburan dan juga informasi. Dalam film, pesannya
disampaikan dengan representasi yang ada di dalam akal manusia
seperti kata-kata, suara, dan percakapan. Film bisa jadi cara komunikasi
yang sangat baik dengan orang banyak karena isinya bisa didengar dan
34
Fred Wibowo, ‘Tenik Program Televisi. Yogyakarta: Pinus Book Publisher. Hal:196
1’, 2006.
34
dilihat. Film bisa mengisahkan banyak cerita dalam waktu singkat
dengan menggunakan gambar dan suara. Ketika menonton film, kita
merasa seolah-olah kita dapat masuk ke dalam cerita dan bahkan dapat
mempengaruhi audiens.35
Komunikasi massa menciptakan produk yang disebut pesan
komunikasi. Produk itu disebar dan didistribusikan secara teratur dan
terus menerus kepada banyak orang dengan jeda waktu yang sama
seperti setiap hari, setiap minggu, setiap dua minggu, atau setiap bulan.
Untuk membuat pesan yang dapat dilihat banyak orang, seseorang tidak
dapat melakukannya sendiri. Harus ada organisasi dan teknologi khusus.
Oleh karena itu, kebanyakan pesan yang disebarkan ke banyak orang
dilakukan oleh industri film.36
Karya Sastra sebagai gambaran kreatif yang menggunakan bahasa
untuk berbicara tentang kehidupan manusia dan realitas. Secara umum,
sebuah karya sastra memuat permasalahan yang dihadapi masyarakat. 37
Banyak film yang secara tidak sadar menampilkan semacam hubungan
bias gender, seperti seakan-akan memandang perempuan sebagai
makhluk yang tidak berdaya (lemah) atau kurang berkuasa. Wanita
seringkali diberi karakter menjadi kaum tertindas, objek seksual laki-
laki, sampai target pelecehan. Bukan sekedar itu, wanita seringkali
divisualisasikan oleh sutradara sebagai sosok yang rendah dan cengeng.
35
‘FILM SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI MASSA - E-JURNAL’ <[Link]
[Link]/2014/01/[Link]> [accessed 13 March 2023].
36
Romli Khomsahrial, ‘Komunikasi Massa, Jakarta: PT’, Gramedia Jakarta, 2016.
37
Karima, et al., ‘Citra Perempuan Dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat
Babak: Kajian Sastra Feminis Dan Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA’,
Institutional Repository, 2021.
35
Dalam perfilman Indonesia, tokoh perempuan diilustrasikan
sebagai orang yang, emosional, lemah, pelit, dan cuek. Namun, banyak
film yang menampilkan kekuatan, perjuangan, dan kerja keras
perempuan agar dapat merubah persepsi masyarakat terhadap
perempuan.
Kehadiran media film yang bersinggungan dengan feminisme
dapat menyadarkan penonton akan bentuk-bentuk ketidakadilan gender
seperti marginalisasi, subjugasi, stereotyping, dan sosialisasi ideologi
nilai peran gender Feminisme pun terus berkembang hingga saat ini.
Pada dasarnya tujuan feminisme itu sendiri adalah untuk menyamakan
hak dan kedudukan perempuan dan laki-laki, serta memperjuangkan
perempuan sebagai manusia yang memiliki kebebasan berpikir, emosi
dan tubuh yang sama dengan laki-laki. Feminisme percaya bahwa
perempuan memiliki hak untuk menyuarakan pemikirannya dalam
memperjuangkan haknya secara luas dan terbuka. Sejak feminisme lahir
dan berkembang, media film juga mengalami perkembangan yang sama.
Oleh karena itu media film sering dijadikan sebagai alat perjuangan
gerakan feminis ini. Film dianggap lebih mampu dan dapat digunakan
sebagai alat ideologis untuk melawan pandangan masyarakat yang
negatif tentang citra perempuan dalam masyarakat. Film juga dipandang
sebagai alat untuk memperkuat pandangan positif terhadap perempuan
yang selama ini dipandang negatif oleh masyaraka.38
38
Rena Azzahra Salsabila, Representasi Feminisme Di Korea Selatan Melalui Film
‘Kim Ji Young, Born 1982’, 2022.
36
2. Sinopsis Film Demi Nama Baik Kampus
Gambar 2.1 Poster Film Demi Nama Baik Kampus
([Link]
Judul Film Demi Nama Baik Kampus
Sutradara Andi T
Produksi Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud
(Kementrian Pendidikan dan Budaya)
Produser Aco Tenri
Penulis Andi T
Rilis 14 Desember 2021
Durasi 32 menit 16 detik
Kategori Film Pendek
Pemeran Laras Ardhia, Anne Yasmine, Bismo Satrio,
Mariana Resli, Tam Notosusanto, Ajeng
Sharfina Adiwidya, Fizal Aji Pratama, Ismu
Tanjung, Adelianti, Agus Andrian
Produser Aco Tenri
Sutradara dan penulis Andi T
Astrada Taufiq Nugraha
Director of photography Bambang Bembi Saputro, Gaffer - Aas Asari
Lighting man Endang 'Malih' Supriady
Line producer Allya Nissa
Unit production manager Rison Risdiantoro
Penata suara dan Asisten suara Wiansa Dewata, Ahmad Khomarudin
Wardrobe dan Asisten wardrobe Clara Jovita dan Corry Maria
Make up dan Asisten make up Vania Thufaila dan Annisa Nur Aisyah
Casting director Farrah Aulia Azliani
Talent coordinator Hafiezh Muhammady
Art director Farhan Arisyi
Standby set art M Nurul Yakin
Prop man dan Prop master Muhammad Faiz Ardan dan Fajar Setyo
Tuhu Grafis, Rizki Fadilah
Script continuity Felly Oktavia Syafani
Clapper M. Fikri
Location men Heru Pratama & Borris Hernandoe
Offline editor Khairun Na'im Kesuma
Assistant editor Raditia Mahardika
37
Colorist Klover Studio, Yulia Anggraeni
Sound engineer Wiansa Dewata
Motion graphics Anzhar Kesuma
Subtitles Cemara Weda
Table 2.1 Daftar pemain dan kru
“Demi Nama Baik Kampus” merupakan salah satu film pendek yang
dipersembahkan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Film yang diangkat dari temuan di
lapangan tersebut disutradarai oleh Andi T. Yang dirilis pada 14 Desember
2021 dengan durasi 32 menit 15 detik.
“Demi Nama Baik Kampus” menceritakan tentang seorang mahasiswi
bernama Sinta yang sedang dalam masa penelitian untuk tugas akhirnya. Ide
skripsinya mengangkat mengenai seorang R.A. Kartini. Ia merasa
penggambaran Kartini di media terlalu pasrah. Padahal ide-ide yang ada
dalam surat-suratnya sangat tajam dan berani mengkritik hal-hal yang
dianggap tidak adil bagi seorang wanita, baik dalam masyarakat, politik,
maupun budaya. 39
Idenya diterima dengan baik oleh dosen pembimbingnya, Arie
Santoso. Keduanya mulai membahas mengenai ide skripsi tersebut pada
malam hari karena Arie yang terlalu sibuk saat siang hari. Saat dalam proses
bimbingan tersebut, Arie yang awalnya duduk di seberang Sinta dan terhalang
meja kerja, mulai mendekati Sinta dan berbicara hal di luar skripsi serta ranah
pribadi. Sinta mulai tidak nyaman saat Arie menyentuhnya dan ia langsung
pamit pergi ke toilet. Namun, Arie memaksa masuk ke dalam toilet dan
39
Kompasiana,[Link]
5459183/belajar-dari-film-demi-nama-baik-kampus diakses pada tanggal 20 juni 2023.
38
mencoba melakukan pelecehan seksual, ia bahkan mengancam Sinta untuk
tidak membocorkan kejadian tersebut.
Sinta mengalami trauma dan sempat absen dari kuliahnya selama
beberapa hari. Abi, sahabatnya, mencoba untuk menenangkan Sinta dan
membantunya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka sudah mencoba
bertemu rektor dan membicarakan semuanya, namun keadaan malah
membalik membuat Sinta menjadi pihak yang disalahkan hanya karena
perkataan Arie yang dikenal sebagai dosen baik, sopan, dan rajin dan rektor
yang lebih mementingkan reputasi serta nama baik kampus. Rektor
memintanya untuk menarik segala tuduhan dan permintaan pemecatan Arie
karena tidak adanya saksi dan bukti dengan imbalan Sinta tidak akan dituntuk
atas pencemaran nama baik Arie dan kampus. Sinta semakin tertekan dengan
tersebarnya berita bahwa ia yang merayu Arie. Abi kembali membantu dan
mengatakan bahwa ada Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan
Seksual yang dapat membantu untuk mengurus kasus tersebut. Satgas yang
baru terbentuk itu berhasil membantu dan menangani kasus Sinta.
D. Kerangka Pikir
Objek peneliti pada penelitian ini adalah analisis Representasi
Feminime pada film Demi Nama Baik Kampus dengan menggunakan teori
representasi dengan melihat pada beberapa Scene-Scene dalam film yang
menggambarkan Feminisme dengan menggunakan analisis isi dengan
mengetahui makna dari scene tersebut. Adapun kerangka pikir dalam
penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
39
Film “Demi Nama Baik Kampus”
Representasi Feminisme Sosial
Posisi Dominasi
Posisi Negosiasi
Posisi Oposisi
Gambar 2.2 Bagan Kerangka Pikir
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam proposal ini merujuk pada
pedoman penulisan karya ilmiah yang diterbitkan IAIN Parepare. Metode
penelitian dalam buku tersebut mencakup beberapa hal yang dijadikan sebagai
rujukan pada penelitian ini diantaranya yaitu pendekatan dan jenis penelitian,
lokasi penelitian, tehnik pengumpulan data, fokus penelitian, jenis dan sumber
data dan tehnik analisis data.
A. Pendekatan dan jenis penelitian
Metode Penelitian salah satu langkah atau sistem yang dipakai oleh
peneliti dalam mengumpulkan dan mengelola informasi atau sebuah data yang
telah diperoleh.40 Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tipe penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode kualitatif merupakan
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Secara kualitatif, analisis isi dapat
melibatkan suatu jenis analisis, di mana isi komunikasi (percakapan, teks
tertulis, wawancara, fotografi dan sebagainya) dikategorikan dan
diklassifikasikan.41
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
analisis isi kualitatif. Analisis isi media kualitatif lebih banyak dipakai untuk
meneliti dokumen yang dapat berupa teks, gambar, simbol dan sebagainya.42
40
A FITRIANA, ‘Metode Penelitian Kuantitatif’, Repository IAIN Parepare, (2020).
41
Emzir, metodologi penelitian kualitatif ANALISI DATA, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada (2011).
42
Ahmad, J. Desain penelitian analisis isi (Content analysis). Research Gate, 1-20. .
(2018).
40
41
Metode analisis isi (content analysis) berfokus pada karakteristik bahasa sebagai
komunikasi dengan perhatian pada isi atau arti kontekstual teks. Analisis isi
kualitatif diartikan sebagai metode riset untuk interpretasi subjektif dari isi data
melalui proses klasifikasi sistematis koding dan indentifikasi tema atau pola.
Secara lebih jelas, alur analisis dengan menggunakan teknik contect analisis
terdapat pada Gambar 3.1.43
Klasifikasi Data
Menemukan Prediksi/Menganalisis
Berdasarkan
lambang/simbol Data
Lambang/Simbol
Gambar 3.1 Teknik Content Analysis
B. Lokasi dan Waktu penelitian
1. Lokasi penelitian
Pada penelitian ini, peneliti tidak memiliki lokasi fisik dikarenakan objek
yang diteliti berupa film dan kegiatan mengumpulkan data penelitian diambil
dari dokumentasi film tersebut.
2. Waktu penelitian
BULAN
NO KEGIATAN April Mei Juni Juli
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pra Penelitian
1. Pemilihan ide
2. Perumusan Masalah
43
Irma Rumtianing UH, [Link], Analisis Isi Kualitatif Peran Jurnalis Televisi Dalam
Film Good Night And Good Luck, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2018. Hal 42
42
Penyusunan Teori
3.
dan Konsep
Penyusunan Metode
4.
Penelitian
Penelitian
Pengumpulan Data
5. Observasi
Dokumentasi
Pasca penelitian
6. Pengolahan Data
7. Analisis Data
8. Kesimpulan
Tabel 3.1 Rancangan waktu penelitian
Diperkirakan kurang lebih dua bulan lamanya untuk proses Pra Penelitian
termasuk pembuatan proposal dan waktu penelitian sampai pasca penelitian
sampai pasca penelitian dilaksanakan sekitar kurang lebih 2 bulan.
C. Fokus Penelitian
Berdasarkan judul penulis fokus penelitian berfokus pada representasi
feminisme pada film “Demi Nama Baik Kampus” karya Andi T dengan durasi 32
menit 15 detik. Berdasarkan judul yang diangkat maka penenlitian memfokuskan
penelitian yakni melakukan screenshoot setiap adegan yang berhubungan dengan
bagaimana bentuk representasi feminisme pada film “Demi Nama Baik Kampus”
dengan menggunakan analisis isi (contect analisis).
43
D. Jenis dan Sumber Data
Sumber data penelitian ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu sumber data
primer dan sumber data sekunder.
1. Data Primer
Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode
observasi dan dokumentasi. Observasi adalah teknik pengumpulan data yang
dilakukan melewati suatu peninjauan dan pencatatan secara sistematis,
terhadap fenomena yang diteliti untuk mendapatkan informasi yang
dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian. Di dalam penelitian,
observasi dapat dilakukan dengat teks, kuesioner, rekaman gambar dan
rekaman suara. Metode observasi penelitian ini dilakukan dengan
menganalisis secara seksama seluruh objek atau bahan penelitian, yaitu
bagian scene film Demi Nama Baik Kampus.
Setelah adegan yang mewakili feminisme didapatkan, metode
dokumentasi diterapkan. Peneliti memilih (meng-capture) adegan-adegan
yang berisi penggambaran feminisme. Selain itu, materi yang terkumpul dan
mewakili feminisme akan dianalisis menerapkan metode analisis isi (contect
analisis) dan kerangka teori yang ada untuk menarik hasil dari masalah
penelitian.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data tambahan yang digunakan sebagai referensi
dalam penelitian ini. Banyak informasi tambahan dapat ditemukan di buku,
majalah, dan internet yang terkait dengan subjek yang sedang dibahas. Data
sekunder adalah informasi tambahan yang dibutuhkan dalam penelitian.
44
E. Teknik Pengumpulan Data
Mengumpulkan data merupakan tindakan penting bagi peneliti untuk
mencapai tujuan penelitian yang sukses. Untuk mengetahui apakah sebuah
penelitian memiliki nilai yang valid, sangat bergantung pada data yang
digunakan. Peneliti akan mengumpulkan data dengan menggunakan teknik
dokumentasi. Dokumentasi adalah cara mengumpulkan informasi untuk
penelitian dengan mencari data dari film, buku, skripsi, jurnal, situs internet, dan
lain-lain yang dianggap penting untuk penelitian tersebut.
A. Observasi
Observasi atau peninjauan adalah ketika kita melakukan pengukuran
atau memeriksa sesuatu. Observasi dilakukan dengan cara mengamati film
Demi Nama Baik Kampus. Berdasarkan teknik analisis isi yaitu menemukan
lambang, klasifikasi data, menganalisis data yang merupakan alat ukur
penelitian pendekatan analisis isi dan menggunakan teori representasi yang
menggambarkan feminisme. Representasi film demi nama baik kampus
dilakukan dengan menentukan adegan keadegan mengamati alur dan isi
untuk mengungkap revresentasi yang relevan.
B. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah proses pencarian informasi dari buku,
penelitian sebelumnya, dan sumber digital yang berhubungan dengan
proposal penelitian. Data yang diambil merupakan data dokumentasi di film
Demi Nama Baik Kampus karya Andi T yang dirilis pada tahun 2021.
45
C. Studi kepustakaan
Kajian ini mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seperti
buku, artikel, website, dan sumber lain yang relevan tentang masalah yang
sedang dibahas.
F. Uji keabsahan Data
Keabsahan data merupakan cara untuk menghindari kesalahan dalam
penelitian agar hasil penelitian menjadi lebih baik. 44 Selama proses pengecekan
keabsahan data, peneliti melakukan uji kredibilitas dengan menggunakan
berbagai teknik seperti yang diungkapkan sebelumnya oleh Sugiono. Beberapa
teknik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Keterpercayaan (Credibility/ Validitas)
Penelitian kredibilitas adalah ukuran kebenaran data yang telah
dikumpulkan yang memberikan kesamaan konsep peneliti dengan hasil
penlitian. Jadi pada penelitian kuatitatif data dapat dinyatakan kredibel
apabila adanya persamaan antara yang dilaporkan oleh peneliti denga apa
yang sesungguhnya yang terjadi pada objek yang diteliti.
b. Keteralihan (Transferability/ Validasi Eksternal)
Pada penelitian kualitatif, nilai transferability tergantung pada
pembaca, untuk mengetahui sampai sejauh mana hasi penelitian tersebut
diterapkan pada konteks dan situasi sosial yang lain, jika pembaca
memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas tentang laporan peneliti
44
Suria Sunarti, ‘Strategi Pengelolaan Sumber Daya Manusia(Sdm) Dalam
Pelaksanaan Proses Pernikahan Dimasa Pandemi Covid-19 Di Kantor Urusan Agama (Kua)
Kec. Soreang Kota Parepare’, (Skripsi Sarjana; Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah, (Iain)
Parepare 2022), H. 41.
46
(kontes dan fokus peneliti).45 Oleh karna itu untuk menerapkan hasil
penelitian tersebut, maka peneliti dalam membuat laporan harus memberi
uraian yang jelas, rinci, jelas, sistematis, dan dapat di percaya. Sehingga
pembaca dapat memahami dengan jelas atas penlitian tersebut.
c. Ketergantungan (Dependability/ Reabilitas)
Dalam penelitian kuantitatif, uji dependability dilakukan dengan
melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Hasil penelitian
tidak dapat dikatakan depentable jika peneliti tidak membuktikan bahwa
telah dilakukannya proses penelitian secara umum. Mekanisme uji
dependabilitas dapat dilakukan melalui audit oleh pembimbing untuk
mengaudit keseluruhan rangkain proses penelitian
d. Kepastian (Confirmability/Objetivitas)
Dalam penelitian kualitatif, uji comfirmability mirip dengan uji
dependability, sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan.
Menguji compirmability berarti menguji hasil penelitian yang dikaitkan
dengan proses penelitian yang di lakukan. Bila hasil penelitian yang
dilakukan merupakan fungsi dari proses penelitian berarti penelitian tersebut
sudah memenuhi standar comfirmability.46
G. Teknik Analisis Data
Dalam mengkaji film Demi Nama Baik Kampus pada penelitian ini,
penulis menggunakan analisis isi untuk mengetahui Representasi Feminisme
45
Arnild Augina Mekarisce, ‘Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Pada Penelitian
Kualitatif Di Bidang Kesehatan Masyarakat’, Jurnal IImiah Kesehatan Masyarakat, 12.33
(2020).
46
Purnama Syae Purrohman, ‘Menulis Skripsi Dengan Metode Penelitian Kualitatif’,
Universitas Muhammadiyah, [Link] (2018).
47
dalam Film Demi Nama Baik Kampus. Pendekatan model analisis , juga dikenal
sebagai analisis konten, adalah metode yang digunakan untuk menganalisis dan
memahami isi dari teks atau dokumen tertentu. Teknik yang digunakan yaitu
pola, tema, atau karakteristik lainnya dalam data teks.
Maka secara rinci teknik analisis yang dipakai peneliti, yaitu:
a. Peneliti menonton film “ Demi Nama Baik Kampus” terlebih dahulu.
b. Melakukan pengamatan adegan atau hal-hal yang terjadi dalam Scene
tersebut.
c. Mengklasifikasi data dengan melakukan analisis dengan pengkodean.
d. Mengklasifikasi data melalui dialog dan visual dengan capture scene-scene
yang dianggap mempresentasikan, Posisi Dominan, Posisi Negosiasi, Posisi
Oposisi yang terkait Feminisme.
e. Tahap terakhir, peneliti menarik kesimpulan dari hasil analisis.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Data yang didapatkan setelah peneliti melakukan penelitian, yaitu
mengetahui bagaimana bentuk representasi feminisme dilihat dari posis dominan,
negosiasi dan oposisi dalam film “Demi Nama Baik Kampus”. Lalu di Analisis
melalui Bahasa Dan Makna menurut Stuart Hall. Selain dari analisis Representasi
peneliti juga menganalisis latar, toko, teknik pengambilan gambar dan editing.
Pada Film “Demi Nama Baik Kampus” (DNBK).
1. Tokoh dan Karakter Film “Demi Nama Baik Kampus”.
a. Laras Ardhia (Protagonis)
Gambar 4.1 Screenshot Youtube film “DNBK”
Laras Ardhia berperan sebagai Sinta, dia merupakan mahasiswi.
Sinta memerankan sosok perempuan yang tidak mudah menyerah dengan
keadaan.
48
49
b. Bismo Satrio (Antagonis)
Gambar 4.2 Screenshot Youtube film “DNBK”
Bismo Satrio berperan sebagai Arie, dia merupakan Dosen. Arie
memerankan sosok Laki-Laki yang arogan dan pembohong yang
menindas Mahasiswinya.
c. Anne Yasmin (Tritagonis)
Gambar 4.3 Screenshot Youtube film “DNBK”
Anne Yasmin berperan sebagai Abi, dia merupakan Sahabat Sinta.
Abi memerankan sosok yang memberikan motivasi kepada Sinta dan
membantu Sinta dalam keadaan yang sulit. Selain itu Abi merupakan
sahabat yang setia dan bertanggung jawab.
50
d. Tam Notosusanto (Tritagonis)
Gambar 4.4 Screenshot Youtube film “DNBK”
Tam Notosusanto berperan sebagai Rektor, memerankan sosok
yang mudah mengambil keputusan tanpa melihat akar permasalahan,
rektor merupakan seseorang yang tidak tegas dalam mengambil
keputusan pada suatu keadan yang tertentu, selain dari pada itu Rektor
tetap bertanggung jawab atas jabatannya dan sadar diri jika dia benar
salah dengan meminta maaf.
e. Mariana Resli, Ajeng Sharfina Adiwidya, Fizal Aji Pratama
(Tritagonis)
Gambar 4.5 Screenshot Youtube film “DNBK”
51
Mariana Resli, Ajeng Sharfina Adiwidya, Fizal Aji Pratama
berperan sebagai Ibu Anisa (Dosen), ida, (mahasiswi) Faisal (mahasiswa),
mereka bertiga merupakan Tim Satgas, yang menangani kasus pelecehan
Seksual yang dialami Sinta. Tim Satgas merupakan Organisasi yang
bertanggung jawab dan Adil.
2. Representasi Feminisme Dominan, Negosiasi dan Oposisi.
a. Representasi Posisi Dominan dalam Film Demi Nama Baik Kampus
Dominasi menurut Stuart Hall merujuk pada kekuatan dan pengaruh
yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu dalam masyarakat. Dominasi
terjadi ketika satu kelompok atau kelas memiliki kontrol yang lebih besar atas
sumber daya ekonomi, politik, dan budaya, serta mampu menentukan norma,
nilai, dan representasi yang diakui dalam masyarakat. Dominasi ini dapat
menyebabkan ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan penindasan. Namun, Hall
juga mengakui adanya ruang untuk resistensi dan negosiasi dari kelompok
atau individu yang berada dalam posisi subordinat. Representasi Dominan
pada film “Demi Nama Baik Kampus”, dan Stuart Hall membentuk
Representasi menjadi dua yaitu dalam bentuk Bahasa dan Makna.
1) Representasi Dominasi dalam bentuk Bahasa
Beberapa dialog yang mengandung representasi dominasi didalam
film demi nana baik kampus yaitu:
a) Representasi Dominasi yang ditunjukkan Sinta
“iya jadi gini yah, gue tuh udah baca semua surat-surat kartini. Bener-
bener pikiran aslinya dia itu benar-benar perempuan yang berani
banget ngritik hal-hal yang nggak adil buat perempuan baik itu
masyarakat, politik, budaya. kartini yang kita lihat dimedia tuh beda
banget. Ya Cuma kaya perempuan penurut dan sopan, gitu dengan
52
kebaya beludru dan kondenya aja. Sementara kayak ide-idenya, kritik-
kritik tajemnya, itu tuh nggak ditampilkan bahkan dilupain!”47
“kita bisa bahas skripsi saya saja Pak Ari?”48
Sinta menunjukkan ketegasan bahwa ada sesuatu yang
terlupakan dan seharusnya diungkap mengenai sosok Kartini. Dengan
tegas Sinta meminta Dosennya (pak Ari) untuk fokus membahas
skripsinya saja. Sinta menunjukkan sikap dominasi dimana dia bebas
dalam mengambil keputusan memilih judul skripsinya mengenai
Kartini. Posisi dominan memiliki kekuasaan dan kendali.
b) Representasi Dominasi yang ditunjukkan Pak Ari (Dosen)
“Saya bisa lho bantuin kamu kapan saja, 24 jam sehari. Saya bisa di
whatsapp kapan aja, yang penting skripsi kamu nih, spektakuler. Kamu
tuh punya potensi luar biasa Sinta, spesial, ayo dong harus lebih pede.
Biasa? Buat aku sih kamu ngak biasa Sinta udah pintar, cantik lagi,
Sinta kamu lakuin apa saja yang kamu perlukan. Kalo kamu baik sama
saya, saya akan lebih baik lagi sama kamu, kalau kamu sangan baik
sama saya wahh... nilai kamu bisa seratus, “pak” terus lo. Berasa tua
saya. Udah, panggil mas aja,”
“Buat saya sih kamu nggak biasa, Sinta, udah pintar, cantik lagi,”
“kelihatan banget hasilnya, bagus badan kamu padat. kayak model,”
“Duduk dulu disini ngak papa.”
“Sinta!, kamu sensi banget sihh? Saya nggak ngapa ngapain!, saya
mau masuk,”
“Kamu jangan pernah berani ngomong sama siapa-siapa. Kalau kamu
berani ngomong, habis kamu. Paham,” 49
“Saya akan memaafkan anda, jika anda tanda tangan ini,”50
“Jadi gue mau cium dia, dianya nggak mau, gue coba lagi, biasanya
cewek kalo bilang nggak, sebenarnya mau, Sal. Iya kan?, Mahasiswi
banyak yang mau sama gue. Cuma gue tawarin dapet nilai tinggi, gue
dapat lebih dari ciuman, Sal, Dia lari kekamar mandi. Kayak gue
kriminal aja.”51
47
Dialog Sinta Scene 1 dikutip pada tanggal 14 Juli 2023.
48
Dialog Sinta scene 2 dikutip pada tanggal 14 Juli 2023.
49
Dialog Pak Ari scene 2 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
50
Dialog pak Ari scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
51
Dialog Pak Ari scene 10 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
53
Ari memberitahukan Sinta untuk memanggilnya Mas saja agar
lebih akrab dengan Sinta. Ari mulai mengeluarkan kata-kata diluar
dari pembahasan pada saat bimbingan karena dia menganggap bahwa
dia bebas mengeluarkan kata-kata sesuai keinginannya karena Ari
merupakan Dosen dan memiliki kekuasaan dan pengaruh yang lebih
besar dibandingkan dengan Sinta mahasiswinya. Sehingga Ari bebas
dalam memasuki ruang privasi seseorang dengan menilai tubuh Sinta
dengan mengatakan badan Sinta padat seperti seorang model dan
memaksa Sinta untuk tetap duduk di sampingnya. Dominasi lain
ditunjukkan memaksa untuk masuk kedalam kamar mandi dan tidak
menghiraukan batasan-batasan yang ada. Ari sangat arogan dengan
mengancam Sinta untuk tidak memberitahukan kejadian tersebut
kepada orang lain.
Ari menggunakan kekuasaannya dengan menyuruh Sinta untuk
bertandatangan disurat perjanjian. Sikap dominasi yang ditunjukkan
Ari menganggap perempuan lemah dan dapat ditukarkan dengan
kekuasaan yang dimilikinya.
c) Representasi Dominasi yang ditunjukkan Rektor
“Sinta, anda lah yang berusaha merayu dan mencium Pak Ari, dalam
upaya meraih nilai tinggi,”
“Abi kalo kamu emosi begini, rapat kita hentikan sekarang juga.”
“Pak Ari adalah dosen yang paling disukai dikampus ini. Dia paling
rajin mengikuti segala kegiatan sosial dikampus dia mengajar dengan
baik dan dia membantu mengarumkan nama baik kampus kita,
bagaimana mungkin kita memecat dia?, tetapi tidak ada bukti terhadap
tuduhan anda, anda ngomong A pak Ari ngomong Z tidak ada saksi,
tidak ada bukti fisik maaf ya. Karena pekerjaan pak Ari selama ini
sudah sangat baik, saya harus percaya pada dia.”
54
“Abi diam kalau kamu bicara lagi kamu keluar saja dari ruangan ini.”
“Saya tidak mau lagi debat kusir, kita bisa selesaikan masalah ini
sekarang juga.”
“Sinta tolong tanda tangan ini sekarang. surat ini menarik tuduhan
anda terhadap Pak Ari dan juga menarik permintaan anda agar pak
Ari dipecat," sebagai imbalan pak Ari dan pihak kampus sudah
sepakat tidak akan menuntut ke pengadilan karena sudah
mencemarkan nama baik pak Ari dan mencemarkan nama baik
kampus, jadi masalahnya kita bisa selesaikan disini sekarang juga.”
“harus sinta DEMI NAMA BAIK KAMPUS, kalau tuduhan anda
seperti ini kita biarkan begitu saja bagaimana reputasi kampus ini?” 52
“Keputusan saya begini meskipun testimony dari saudari Sinta cukup
kuat, saya merasa tidak ada bukti memadai bahwa benar saudara Ari
menyerang saudari Sinta, karena itu, berat hati rekomenasi tim Satgas
agar pak Ari dipecat saya tolak. Begini loh saudara Ari ini adalah
Dosen yang terbaik menurut saya tidak mungkin dia berbuat seperti itu
kepada seorang mahasiswa, keputusan saya sudah jelas Pak Ari tidak
akan dipecat, nama baik Universitas tidak akan tercemar. Oleh
tuduhan yang tidak terverifikasi. Sinta harus minta maaf pada Pak Ari.
Ini sudah final.53
Rektor langsung menuduh Sinta tanpa ada bukti yang valid
dan hanya mendengarkan pendapat dari satu pihak saja, ini
menunjukkan sikap dominasi yang dimiliki Rektor dalam mengambil
keputusan dan tidak mendengarkan masukan dari mahasiswinya yang
berusaha untuk mencari keadilan. Karena hanya dosen tersebut
memiliki citra yang baik sehingga Rektor memilih untuk
mendengarkan Ari, selain itu Rektor hanya mementingkan citra
kampus ketimbang mencari kebenaran terlebih dahulu.
d) Representasi Dominasi yang ditunjukkan Ririn
“Lo nggak kasian sama Pak Ari? Dia baik banget, lho! Lho.”54
52
Dialog pak Rektor scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
53
Dialog Pak Rektor scene 10 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
54
Dialog Ririn Scene 5 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
55
Salah satu teman Sinta yaitu Ririn yang menunjukkan posisi
Dominasi dengan adanya penindasan terhadap Sinta dengan menuduh
seakan-akan Sinta yang bersalah atas kejadian tersebut. Ririn
menghakimi Sinta tanpa tau kebenarannya. Karena Ririn
menganggap bahwa dirinya mempunyai kekuasaan untuk
menghakimi Sinta.
2) Representasi Dominan dalam bentuk Makna
Beberapa Gambar yang mengandung representasi dominasi
didalam sebuah scene film demi nana baik kampus yaitu:
Tabel 4.1 Representasi Dominan
Visual Scene Representasi Dominan
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini
adalah tindakan yang dilakukan
Sinta, yang ingin meneliti skripsi
00:27 yang bertemakan Kartini.
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari mulai mengeluarkan
kata-kata menyanjung dan
04:02
mempresentasikan tubuh pemeran
utama perempuan, karena
pemerean laki-laki merasa
berkuasa dari mahasiswinya.
Tindakan seperti ini bisa saja
melanggar privasi seseorang.
56
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari menarik tubuh Sinta
05:06 untuk mendekat ketubuhnya dan
mencoba untuk mencium Sinta.
Representasi Dominan yang
04:49 ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari bertindak mendekati
Sintan dengan membisikaan
kalimat yang dapat mempengaruhi
Sinta.
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari melakukan penekanan
dan pengancaman kepada Sinta
06:08 serta memaksa untuk masuk ke
dalam kamar mandi dengan
menarik pintu. Ari ini merasa
berkuasa jadi nekat untuk ikut
masuk dalam kamar mandi.
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini
ketika Rektor mengambil
kesimpulan dan menuduh Sinta
tanpa mengetahui kebenarannya.
12:33
57
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini
ketika tindakan Rektor melarang
13:02 Abi untuk protes dan berbicara.
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini pada
saat Rektor membela Ari karena
alasan demi nama baik kampus dan
13:11 citra Ari selama menjadi Dosen.
Tindakan yang dilakukan Rektor
sangat tidak adil memberikan
keputusan hanya sepihak.
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini
ketika Rektor menyodorkan surat
perjanjian dan menyuruh Sinta
14:02 bertanda tangan tanpa mengetahu
permasalahan sebenarnya dan
menganggap dirinya berkuasa
sehingga dengan gampangnya
menyuruh seseorang bertanda
tangan.
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini pada
saat tindakan yang dilakukan
16:24 teman Sinta yaitu Ririn dengan
cara menelfon Sinta dan menuduh
Sinta tanpa bukti, Ririn merasa
berkuasa untuk menindas Sinta.
58
Representasi Dominan yang
ditunjukkan pada gambar ini
menunjukkan tindakan yang
25:08 dilakukan Rektor yang tetap
menolak hasil dari rekomendasi
dari Tim Satgas tanpa adanya
pertimbangan.
3. Analisis Latar, Teknik Pengambilan Gambar dan Editing
Gambar 4.1 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Cafe Sinta dan kedua temannya berada di cafe yaitu Ririn dan Abi.
Mereka bertiga berdiskusi mengenai topik penlitian yang akan
diangkat oleh Sinta Sambil menikmati minuman es teh mereka.
2) Waktu
Percakapan antara Sinta dan kedua temannya terjadi pada siang hari
menampilkan suasana normal di lingkungan cafe
3) Suasana
Suasan yang terjadi pada gambar diatas menciptakan suasana yang
santai pada saat membecirakan topik penelitian yang diangkat oleh
Sinta. Suasana cafe ramai oleh pengunjung lainnya.
b. Teknik Pengambilan Gambar
59
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera medium
close up. Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Pedestal Up
pergerakan kamera dari bawah ke atas terlihat pada gambar diatas
ketika kamera mengzoom buku Kartini lalu bergerak keatas
mengambil ketiga objek yaitu Sinta dan kedua temannya.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.2 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan kantor Pak Arie. Sinta dan Arie berada dalam satu
ruangan
2) Waktu
Percakapan antara Sinta dan Arie terjadi pada malam hari dilihat dari
potongan Scane yang ada pada gambar.
3) Suasana
Suasan yang terjadi pada gambar diatas bermula berjalan lancar
seperti bimbingan pada umumnya tidak ada yang terjadi tetapi
semakin kesini pak Arie mulai mendekati Sinta sehingga
menciptakan suasana yang tegang karena pak Arie mulai meraba
60
badan dan mencoba mencium Sinta, selain itu pak Arie mengancam
Sinta untuk tidak memberitahukan kejadian tersebut ke orang lain.
Hal ini terjadi karena adanya kekuasaan sehingga Sinta tidak bisa
menolak bimbingan malam dan tidak bisa melawan pada saat di
sudutkan.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Long Shot.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu zoom in dan zoom out.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.3 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Toilet. Sinta dan Arie berada dalam toilet.
2) Waktu
Terjadi pada malam hari dilihat dari potongan Scane yang ada pada
gambar.
3) Suasana
Suasan yang terjadi pada gambar sangat menegangkan karena
Arie mengikuti dan memaksa masuk kedalam toilet. Sehingga Sinta
61
sangat ketakutan. Arie berani melakukan itu karena dia mengganggap
dirinya mempunyai kekuasaan atas mahasiswinya.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium
Shot ketika berjalan menuju toilet dan medium close up ketika
menampilkan sisi dramatisnya ketika pak Arie mengancam Sinta.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Crab Right pada saat
mengikuti Sinta keluar dari ruangan Arie, dan Dolly/Track pada saat
mengikuti objek. Tilting Down pada saat memperliha kaki Arie
menahan pintu dan ketika Sinta duduk terpojokkan. Dolly menjahui
Obek pada saat Sinta Mundur.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya. Dan Cut
on action pada saat memperlihatkan tangan Sinta membuka pintu.
Gambar 4.4 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor. Sinta, Abi, Arie, Rektor dan Wakil Rektor
beradalam dalam satu ruangan
2) Waktu
62
Terjadi pada pagi hari dilihat dari potongan Scane yang ada pada
gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi sangat menegangkan karena Rektor
sudah mulai membahas isu berita yang beredar di kalangan kampus.
tiba-tiba Rektor menuduh Sinta Bahwa Sintalah yang mencoba
merayu Arie, Sinta langsung memotong pembicaraan Rektor bahwa
semua itu tidak benar, tetapi Rektor menolak semua pernyataan Sinta
dan tetap membela Arie, karena status Arie dikampus sebagai dosen
yang baik.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium
Shot.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.5 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor. Sinta, Abi, Arie, Rektor dan Wakil Rektor
beradalam dalam satu ruangan.
63
2) Waktu
Terjadi pada pagi hari dilihat dari potongan Scane yang ada pada
gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi sangat menegangkan karena Rektor
memerintahkan Sinta untuk bertanda tangan di surat perjanian tetapi
Sinta menolaknya karena merasa dia tidak bersalah atas kejadian
tersebut. Tetapi Rektor tetap memaksa Sinta untuk bertanda tangan
dengan alasa demi nama baik kampus dan citra Arie selaku Dosen.
Tetapi Sinta tetap tidak ingin bertanda tangan dan pergi dari ruangan.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah High Angle dan Eye Level Angle karena berada
diatas objek dan sejajar dengan objek, adapun Shot pada gambar
diatas merupakan Shot kamera Close Up. Pergerakan kamera yang
digunakan yaitu Tilting Up Down ketika Rektor mengajukan surat
perjanjian.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.6 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kosan Sinta.
64
2) Waktu
Terjadi pada malam hari dilihat dari potongan Scane yang
menunjukkan jam pada layar telfon Sinta.
3) Suasana
Suasana yang terjadi sangat menyedihkan dan penuh haru
karena Sinta mendapatkan telefon dari temannya yaitu Ririn yang
membuat dirinya tersudutkan, karena Ririn ikut menuduh Sinta
melakukan hal yang buruk kepada Arie. Sinta sangat putus asa dan
mencoba untuk bunuh diri tetapi Sinta tiba-tiba melihat foto kedua
orang tuannya, sehingga mengurung niatnya untuk bunuh diri.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah High Angle karena berada diatas objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Close Up ketika
Sinta memegang fail proposal skripsinya dan pada saat melihat layar
telefonnya. Medium close up ketika Sinta melihat berita yang
tersebar. Pergerakan kamera yang digunakan Dolly/ Track mendekato
objek.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah The Cutaway
mengzoom pada bagian tertentu seperti pada saat mengzoom
headphone Sinta.
Gambar 4.7 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
65
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor. Arie, Rektor Wakil Rektor dan Tim Satgas
beradalam dalam satu ruangan.
2) Waktu
Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane yang
menunjukkan cahaya ruangan dikantor Rektor.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius karena
membahas kejadian pelecehan seksual yang terjadi dikampus, Tim
Satgas berusaha mencari kebenarannya tanpa memihak atau
menyudutkan pihak lain.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek,
adapun Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium
Close Up pada saat memperlihatkan Rektor, Arie dan Tim Satgas.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
b) Representasi Posisi Negosiasi Dalam Film Demi Nama Baik
Kampus
Pemahaman tentang negosiasi menurut Stuart Hall
menekankan pentingnya peran aktif individu dalam
menginterpretasikan, menafsirkan, dan merespons representasi
budaya serta mengupayakan perubahan dalam konteks sosial. Hal ini
membantu kita memahami dinamika kekuasaan, resistensi, dan
66
proses perubahan dalam masyarakat. dan Stuart Hall membentuk
Representasi menjadi dua yaitu dalam bentuk Bahasa dan Makna.
a. Representasi Negosiasi dalam bentuk Bahasa
Beberapa dialog yang mengandung representasi Negosiasi
didalam film demi nana baik kampus yaitu:
1) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Abi
“Lo mau gue temenin aja?,Sinta ayo buka pintunya, apa yang bisa
gue bantu? Tenang dulu. Tenang dulu ya. Nggak papa, sinta, ini
bukan salah lo. Dia yang nyerang lo, ya dia yang salah!, lo mau
gue bantuin nggak, buat ngelaporin dia ke kampu?, kalo lu udah
siap bertindak, apa pun itu keputusannya, udah jangan nangis
lagi,”55
“kita cari jalan keluar baraeng-bareng, masih ada harapan, gue
dengar pengumuman, baru-baru ini dibentuk satgas buat nanganin
kasus kekerasan seksual dikampus, kaya kasus lo gini, tapi
kayanya yang ini beda dari yang kemaren-kemaren, Sin, mayoritas
anggota perempuan, ada mahasiswanya juga di Satgas dan
ketuanya Bu Anisa, gue bisa dampingin lo ke sana, ya tapi
terserah lo sih, Sin kalo lo nggak mau, itu juga hak lo, gimana?”56
Posis Negosiasi yang ditunjukan pada dialog ketika Abi
ingin membantu Sinta untuk mencapai kesepakatan antara Sinta
dan Abi untuk memperjuangkan perlawanan terhadap dominasi.
Abi membujuk Sinta untuk melaporkan kejadian tersebut
kekampus, walaupun hasil yang diterima tidak sesuai kenyataan.
Sekali lagi Abi membujuk Sinta untuk melaporkan kejadian
pelecehan yang dialami ke Tim Satgas untuk mencari sebuah
keadilan yang menimpa seorang perempuan.
55
Dialog Abi scene 3 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
56
Dialog Abi Scene 5 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
67
2) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Sinta
“Tapi saya boleh pikir dulu ya, sebelum memilih media yang
mana?” biasa aja mas, saya akan berusaha, cukup baik aja udah
udah cukup Pak, buat saya, biasa aja mas, ngak-ngak usah,
Temenin gue aja. Bi, gue mikir dulu ya, Bi Satgas dari kampus?,
pasti belain kampus lah percuma”. 57
“ini prosesnya seperti apa ya, Bu?, baik Bu, saya setuju, pelakunya
Pak Ari Santoso Dosen pembimbing saya, saya harus berapa kali
menceritakan hal ini ya, Bu?, kebutuhan seperti apa ya, Mas? ,
sudah jelas, Bu. Terima kasih”58
Sinta bernegosiasi dengan Ari yang memiliki posisi yang
dominan untuk pemilihan media mana yang akan digunakan.
Sinta yang berada pada posisi subordinat mengalami perubahan
dan menunjukkan kepercayaan diri untuk melaporkan kejadian
tersebut ke Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan Seksual.
3) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Rektor
“Tujuan hari ini adalah menemukan penyelesaian untuk masalah
ini secara damai dan cepat, tentu kita mau hasil yang seadil-
adilnya,”59
“Kami sudah memberhentikan Pak Ari, dia tidak bisa lagi
menyakiti siapapun dikampus ini.”60
Rektor menunjukkan sikap negosiasi dengan munculnya
kesadaran diri atau perubahan dalam sikap atas tindakannya
dengan memberhentikan Ari dari kampus untuk mencegah adanya
kekerasan seksual yang kemungkinan akan terjadi.
4) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Tim Satgas
57
Dialog Sinta scene 2 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
58
Dialog Sinta scene 6 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
59
Dialog Rektor scene 5 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
60
Dialog Rektor scene 13 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
68
“Kami bertiga terpilih untuk menjadi anggota Satgas karena
memiliki pengalaman untuk membantu penyintas kekerasan
seksual. baik, saya jelaskan dulu, ya, ditahap petama, Sinta perlu
memberikan persetujuan untuk menjelaskan kronologi kejadian
yang Sinta alami, kemudian menyampaikan datamu serta siapa
yang akan kamu laporkan. Semua informasi yang Sinta sampaikan
akan kami jaga kerahasiaannya, baik kami catat Sinta, kemudian
ditahap selanjutnya, Sinta bebas menceritakan kronologi kejadian
secara detail, dari awal sampai akhir, senyamannya saja, cukup
sekali saja, kami paham, pasti sangat berat kalau harus
menceritakan ini berulang kali, setelah itu kami akan pelajari
semua bukti yang mbak Sinta punya, dan juga dari saksi. Jadi
setelah itu, kami sendiri akan menanyakan kira-kira apa kebutuhan
Sinta saat ini, supaya bisa lebih efektif buat kita mendampingi,
melindungi dan juga membantu proses pemulihan Sinta sendiri,
kebutuhannya itu misalkan apakah sinta sedang berada dalam
tekanan dan butuh perlindunga?, atau juga misalnya Sinta butuh
konseling? baik. Nanti ditahap akhir, kami akan memberikan
informasi yang bisa membantu Sinta. Misalnya kira-kira apa saja
yang akan Sinta hadapi karena sudah melaporkan kasus ini,
kemudian bagaimana kami akan bekerja sama untuk
meminimalkan resiko itu bersama. Kira-kira apakah sudah jelas,
Sinta?, oke, setelah kami selesaikan tahap penyelidikannya, kami
akan kirim laporan ke Rektor ya, berisikan rekomendasi, termasuk
tindakan atau sanksi terhadap pelaku. Apakah Sinta sudah siap
untuk menceritakan kronologi kejadian dengan Pak Ari sekarang?,
baik kita mulai,”61
“Terima kasih, Pak Rektor, kami sangat menghargai waktu Bapak,
dan kami harap akan ada hasil yang positif hari ini, Pak Rektor
didalam laporan terdapat kesaksian yang sangat kuat dari Sinta
dan Abi, pendampingnya, Testimoni kesaksian mereka sudah kuat,
Pak. Mereka kami wawancarai secara terpisah, dan seluruh detail
dari kesaksian mereka sama persisi, tapi Sinta juga menunjukkan
gejala trauma yang sangat banyak, Bapak, semuanya sudah tertulis
di dalam laporan. Buktinya sudah sangat kuat, Pak!, Sinta nggak
seharusnya minta maaf, Pak, Pak Ari yang harusnya minta maaf
sama Sinta, Pak Rektor, apakah Bapak sudah membaca testimony
anonim di Appendix 1?, kesaksian ini kami terima langsung
setelah kai membuat pengumuman untuk mengajak para saksi
bicara kepada Satgas, bukan fitnah, Pak Ari dan identitas saksi
akan kai rahasiakan sesuai dengan peraturan Satgas, kami harus
61
Dialog Tim Satgas scene 6 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
69
melindungi semua saksi, Pak Ari, tapi kami menjamin kalau
seluruh kesaksiannya sudah kami verifikasi secara sangat teliti,
sehari setelah kami membuat pengumuman untuk permintaan
saksi seseorang menghubungi [Link] menerima kesaksiannya
persis seperti di Appendix 1, Pak.”62
Tim satgas ini merupakan salah salah satu wadah atau
gerakan melakukan perlawanan terhadap sikap yang
mendominasi, dengan menggunakan strategi komunikasi yang
konkret untuk menentang kondisi yang tidak adil atau merugikan.
Tim Satgas melawan representasi yang stereotip atau
merendahkan. Pada saat tim satgas bertemu dengan Rektor
mewakili Sinta untuk menyelesaikan permasalahannya. Melawan
posisi yang mendominasi.
5) Representasi Negosiasi yang ditunjukkan Faisal
“Apa benar ini kantor Satgas anti kekerasan seksual?, saya dan Ari
ketemu di kafe dua hari setelah tanggal kejadian, yang disebutkan
di papan pengumuman Satgas,“Saya punya informasi tentang Ari
Santoso, tapi saya tidak mau kalau dia tahu saya yang cerita.”63
Faisal mendatangi Tim Satgas untuk memberikan
informasi mengenai pelecehan seksual yang dialami oleh Sinta.
Faisal bekerja sama dengan Tim Satgas untuk mengungkap
ketidakadilan yang ada dilingkungan kampus.
b. Representasi Negosiasi dalam bentuk Makna
Beberapa Gambar yang mengandung representasi Negosiasi
didalam sebuah scene film demi nana baik kampus yaitu:
62
Dialog Tim Satgas scene 10 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
63
Dialog Faisal scene 11 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
70
Tabel 4.2 Representasi Negosiasi
Visual Scene Representasi Negosiasi
Representasi Negosiasi yang
01:26 ditunjukkan pada gambar ini
dilihat dari tindakan Abi yang
menawarkan bantuan kepada
Sinta.
Representasi Negosiasi yang
02:52 ditunjukkan pada gambar ini
ketika Sinta bernegosiasi
untuk pemilihan media yang
akan dilakukan untuk
kepentingan Skripsinya.
Representasi Negosiasi yang
03:32 ditunjukkan pada gambar ini
ketika, Ari bernegosiasi dan
mendekat ke arah Sinta
dengan strategi dapat
dihubungi 24 jam sehari.
Representasi Negosiasi yang
10:00 ditunjukkan pada gambar ini
pada saat Abi bertindak untuk
menenangkan Sinta yang
bersedih atas apa yang
menimpanya.
71
Representasi Negosiasi yang
10:28 ditunjukkan pada gambar ini
Abi membujuk Sinta untuk
melaporkan kejadian yang
menimpanya ke pihak
kampus. Abi siap buat bantu
Sinta apapun keputusan
nantinya diambil Sinta.
Representasi Negosiasi yang
11:15 ditunjukkan pada gambar ini
yaitu tindakan yang diambil
Sinta dan Abi untuk datang
melaporkan kejadian
pelecahan yang dialami Sinta
ke pihak kampus.
Representasi Negosiasi yang
14:25 ditunjukkan pada gambar ini
tindakan Sinta menentang
kondisi yang tidak adil dan
merugikan.
Representasi Negosiasi yang
18:52 ditunjukkan pada gambar ini
pada saat Abi bertindak
membujuk Sinta untuk
melapor kejadian tersebut ke
Tim Satgas dan membujuk
sinta untuk mempercayai
pihak kampus.
Representasi Negosiasi yang
27:34 ditunjukkan pada gambar ini
merupakan tindakan
perlawanan terhadap
dominasi dengan mendatangi
Tim Satgas pencegahan dan
penangulangan kekerasan
seksual, membantu korban
yang mendapatkan pelecehan
72
seksual dengan
mengungkapkan kebenaran
yang nyata.
4. Analisis Latar, Teknik Pengambilan Gambar dan Editing
Gambar 4.8 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Cafe Sinta dan kedua temannya berada di cafe yaitu Ririn dan Abi.
Mereka bertiga berdiskusi mengenai topik penlitian yang akan
diangkat oleh Sinta Sambil menikmati minuman es teh mereka.
Suasana cafe ramai oleh pengunjung lainnya.
2) Waktu
Percakapan antara Sinta dan kedua temannya terjadi pada siang hari
menampilkan suasana normal di lingkungan cafe
3) Suasana
Suasan yang terjadi pada gambar diatas menciptakan suasana yang
santai pada saat membicirakan topik penelitian yang diangkat oleh
Sinta. Suasana cafe ramai oleh pengunjung lainnya.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan Angle
kamera adalah Eye Level Angle karena sejajar dengan objek, adapun Shot
pada gambar diatas merupakan Shot kamera medium close up. Pergerakan
kamera yang digunakan yaitu Pedestal Up pergerakan kamera dari bawah
73
ke atas terlihat pada gambar diatas ketika kamera mengzoom buku Kartini
lalu bergerak keatas mengambil ketiga objek yaitu Sinta dan kedua
temannya.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.9 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan kantor Pak Arie. Sinta dan Arie berada dalam satu
ruangan
2) Waktu
Percakapan antara Sinta dan Arie terjadi pada malam hari dilihat dari
potongan Scane yang ada pada gambar.
3) Suasana
Suasan malam yang sunyi seperti yang terjadi pada gambar diatas
bimbingan berjalan lancar seperti pada umumnya dimana Arie
berdiskusi dengan Sinta masalah topik penelitian yang akan
dilakukan untuk memfokuskan lagi penelitiannya. Arie mulai
bernegosiasi dengan Sinta dengan penawaran diluar dari topik skripsi
tetapi menuju ke hal yang bersifat pribadi.
b. Teknik Pengambilan Gambar
74
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Tilting Down .
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.10 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kosan Sinta.
2) Waktu
Terjadi pada siang hari dilihat dari potongan Scane yang
menunjukkan Abi membawakan makanan siang kepada Sinta.
3) Suasana
Suasana yang terjadi sangat menyedihkan dan penuh haru
karena Sinta mulai bercerita kepada sahabatnya Abi tentang apa yang
dirasakan Sinta pada saat malam bimbingan proposal, dengan berat
hati Sinta tetap menceritakan kejadian tersebut. Abi tetap
menyemangati Sinta bahwa ini bukan Salah Sinta.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena berada sejajar dengan objek
dan over Shoulder diambil dari arah belakang bahu Sinta, adapun
75
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Close Up ketika
Sinta sedih, menampilkan sisi dramatis apa wajah Sinta.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.11 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor. Arie, Rektor Wakil Rektor, Sinta dan Abi.
2) Waktu
Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane yang
menunjukkan cahaya ruangan dikantor Rektor.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius karena
membahas kejadian pelecehan seksual yang terjadi dikampus, Rekor
bernegosiasi dengan Sinta untuk bertanda tangan surat perjanjian
untuk menjaga nama instansi.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Long Shot pada
saat memperlihatkan Rektor, Arie, Sinta dan Abi. Pergerakan kamera
yang digunakan yaitu Tilting Down mengikuti Sinta pada saat ingin
76
duduk. Panning/pan Left dan Right pada saat berfokus pada Abi dan
perpindah ke Sinta begitupun sebaliknya.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Jump Cut pada saat Sinta dan Abi masuk kedalam ruangan Rektor.
Gambar 4.12 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Tim Satgas.
2) Waktu
Terjadi pada Siang hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Tim Satgas sangat serius
karena faisal datang untuk memberikan informasi tambahan atas isu
kejadian pelecehan seksual yang ada dikampus.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up
pada saat memperlihatkan Faisal dan Tim Satgas. Pergerakan kamera
yang digunakan yaitu Dolly/Track.
c. Editing/ Cut
77
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
c) Representasi Posisi Oposisi Dalam Film Demi Nama Baik Kampus
Secara sederhana, posisi oposisi menurut Stuart Hall merujuk pada
posisi atau sikap yang berlawanan atau menentang terhadap status
kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Posisi oposisi, di sisi lain,
merujuk pada sikap atau pendekatan di mana pihak yang terlibat
bertentangan atau saling berlawanan dalam hal tujuan, kepentingan, atau
pandangan. Dalam posisi oposisi, pihak-pihak yang terlibat mungkin
memiliki pandangan yang bertentangan dan berusaha untuk
mempertahankan kepentingan mereka sendiri tanpa memperhatikan
kepentingan pihak lain. Tujuan utama dalam posisi oposisi adalah untuk
menang atau mengalahkan pihak lain. dan Stuart Hall membentuk
Representasi menjadi dua yaitu dalam bentuk Bahasa dan Makna.
a. Representasi Oposisi dalam bentuk Bahasa
Beberapa dialog yang mengandung representasi Oposisi didalam
film demi nana baik kampus yaitu:
1) Representasi Oposisi yang ditunjukkan Pak Ari
“saya akan memaafkan anda jika anda ingin bertanda tangan”64.
“Kamu jangan bohong Sinta, Saya Cuma mau membantu skripsi anda,
kenapa anda jadi menuduh saya begini?,”65
Ari mempertahankan argumennya berusaha untuk meraih
kemenangan atas pihak lain, agar Sinta terlihat salah dan dia yang
terlihat benar dengan cara mengungkapkan niat baiknya untuk
64
Dialog Pak Ari scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
65
Dialog Pak Ari scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
78
membantu Sinta dalam bimbingan skripsi. Ari berusaha keras untuk
melindungi dirinya dengan cara pencitraan.
2) Representasi Oposisi yang ditunjukkan Sinta
“apa ini, Pak?, Saya tidak bisa tanda tangan, Itu ngak benar pak dia
yang menyerang saya,” 66
Sinta berusaha memperjuankan kepentingannya untuk
mencapai keadilan atas kejadian pelecehan seksual yang menimpa
dirinya, Sinta tidak mudah untuk bertanda tangan dan tidak tinggal
diam ketika tuduhan tersebut berbalik kepada dirinya. Sinta
menunjukkan posisi oposisi sebagai bentuk perlawanan untuk
menciptakan perubahan. Sinta melawan narasi yang mendukung
dominasi.
b. Representasi Oposisi dalam bentuk Makna
Beberapa Gambar yang mengandung representasi Oposisi didalam
sebuah scene film Demi Nama Baik Kampus yaitu:
Tabel 4.3 Representasi Oposisi
Visual Scene Representasi Oposisi
Representasi Oposisi yang
12:34 ditunjukkan pada gambar ini
ketika Sinta tidak terima
tuduhan yang ditujukan
kearahnya.
66
Dialog Sinta scene 4 dikutip pada tanggal 14 juli 2023
79
12:52 Representasi Oposisi yang
ditunjukkan pada gambar ini
Ari tetap tidak ingin
mengakui kesalahannya tetapi
bagaimana cara untuk
menjatuhkan Sinta
Representasi Oposisi yang
ditunjukkan pada gambar ini
ketika Ari menuduh balik
Sinta karena Ari merasa
dirinya benar terlebih lagi
Ari di dukung oleh Rektor.
Ari merasa tidak bersalah
sehingga menyuruh Sinta
untuk bertanda tangan disurat
perjanjian.
Representasi Oposisi yang
14:25 ditunjukkan pada gambar ini
ketika Sinta tetap bersih keras
tidak ingin bertandatangan di
atas kertas perjanjian yang
diberikan Rektor.
Representasi Oposisi yang
20:45 ditunjukkan pada gambar ini
Sinta melakukan tindakan
perlawanan terhadap
kekuasaan atau posisi yang
dominan.
80
Representasi Oposisi yang
24:37 ditunjukkan pada gambar ini
pada saat Tim Satgas
membantu Sinta untuk
melawan ketidak adilan yang
dirasakan dengan cara
menemui Rektor.
Representasi Oposisi yang
ditunjukkan pada gambar ini
tindakan yang benar yang
dilakukan Rektor keputusan
29:54 untuk memecat Ari.
Gambar 4.13 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius Sinta
tetap memertahankan kepentingannya sendiri tidak ingin menyerah
81
dengan cara tidak menerima tuduhan yang menyerang dirinya, Sinta
tetap melakukan perlawanan dengan cara tidak diam saat disudutkan.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up
pada saat memperlihatkan Sinta dan Abi yang duduk di sofa.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Tilting Down.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.14 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor menegangkan karena
Arie tetap bertahan pada keyakinan bahwa dirinya tidak bersalah agar
kebohongannya tidak terungkap. Arie sangat menjaga citranya di
depan Rektor agar dirinya tidak disalahkan atas kejadian pelecehan
tersebut.
b. Teknik Pengambilan Gambar
82
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Shot pada
saat Arie, Sinta Abi dan Rektor duduk di sofa.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.15 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius Sinta
tetap memertahankan kepentingannya sendiri tidak ingin menyerah
dengan cara tidak bertanda tangan di surat perjanjian tersebut. Sinta
tetap melakukan perlawanan dengan cara pergi dari ruangan
meninggalkan Rektor dan Arie.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up
83
pada saat memperlihatkan Rektor, Arie, Sinta dan Abi yang duduk di
sofa.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.16 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Tim Satgas.
2) Waktu
Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Tim Satgas sangat serius
karena Sinta mendatangi Tim Satgas untuk melaporkan kejadian
tersebut untuk mencari solusi atau keadilan atas pelecehan yang
dirasakan.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Shot pada
saat memperlihatkan Tim Satgas, Sinta dan Abi yang duduk di sofa.
Pergerakan kamera yang digunakan yaitu Zoom in dan Zoom Out.
c. Editing/ Cut
84
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
Gambar 4.17 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar dan
cahay yang masuk pada ruangan Rektor.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor sangat serius karena
Tim Satgas datang ke ruangan Rektor untuk melaporkan hasil
investigasinya atas kejadian pelecehan seksual yang ada dikampus
tanpa memihak pada siapapun.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Long Shot pada
saat memperlihatkan Tim Satgas, Rektor dan Arie yang duduk di
sofa.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut
merupah potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
85
Gambar 4.18 Screenshot salah satu adegan di film “DNBK”
a. Latar
1) Tempat
Kampus ruangan Rektor.
2) Waktu
Terjadi pada Pagi hari dilihat dari potongan Scane pada gambar dan
cahaya yang masuk pada ruangan Rektor.
3) Suasana
Suasana yang terjadi di ruangan Rektor membawa kebahagian
karena keputusan yang tepat telah dilakukan Rektor dengan memecat
Arie sebagai dosen dikampus agar tidak ada lagi korban selanjutnya.
Selain itu Rektor juga meminta maaf atas kejadian tersebut yang
telah mengambil keputusan yang salah pada saat pelaporan kasus
pelecehan yang ada dikampus.
b. Teknik Pengambilan Gambar
Tenik pengambilan gambar pada gambar diatas berdasarkan
Angle kamera adalah Eye Level karena sejajar dengan objek, adapun
Shot pada gambar diatas merupakan Shot kamera Medium Close Up
pada saat memperlihatkan Rektor duduk di sofa kursinya dan long
Shot pada saat Ibu Anisa, Sinta dan Abi memasuki ruangan Rektor.
c. Editing/ Cut
Cut yang ada dalam gambar diatas adalah standar cut merupah
potongan biasa yang tidak memiliki efek ke take berikutnya.
86
B. Pembahasan
Dalam analisis isi (content analysis) merupakan metode yang digunakan
untuk menganalisis dan memahmi isi dari teks atau dokumen tertentu seperti
tema, karakter, dialog, plot, genre, pesan sosial dan politik. Dalam film “Demi
Nama Baik Kampus” merupakan kategori film Feminisme sosial yang
direpresentasikan melalui tiga representasi yaitu, Representasi Dominan,
Representasi Negosiasi dan Representasi Oposisi.
Bentuk Representasi dalam film “Demi Nama Baik Kampus”. Dilihat dari
Representasi Dominan dimana merujuk pada ketimpangan kekuasaan dan
pengaruh yang ada dalam masyatakat. Dominan merujuk pada situasi dimana
satu kelompok atau individu memiliki kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar
dibandingkan individu lainnya. Representasi dominasi dalam film “Demi Nama
Baik Kampus” dilihat dari pemeran utama laki-laki merupakan seorang Dosen
dan Rektor yang mendominasi mahasiswinya yang berada di posisi subordinat.
Dilihat dari Posisi Dominan yang ditunjukkan Pak Ari dia berusaha mengancam
Sinta untuk tidak menyebarkan informasi ini ke siapapun. Dengan dominan Pak
Ari menggunakan kekuasaannya dengan mengancam. Sikap dominan juga di
tunjukkan oleh Pak Rektor pada saat pemgambilan keputusan sepihak yang
memaksa Sinta untuk bertanda tangan dengan alasan demi nama baik kampus
dan citra kampus tanpa memperdulikan korban. Dominasi yang dilakukan Pak
Ari itu merupakan pelecehan Verbal, kekerasan seksual, intimidasi verbal,
sedangkan Pak Rektor pengambilan keputusan yang tidak adil. Dimana peran
laki-laki didalam film ini sangat arogansi karena dia merasa bahwa dia
mempunyai kekuasaaan yang cukup dominan dilingkungan kampus sehingga
87
dapat menindas mahasiswanya, selain itu dia memandang wanita hanya sebagai
objek seksual dan lemah. Bukan hanya Pak Ari dan Rektor yang menunjukkan
sikap dominan tetapi sikap dominan juga ditunjukkan oleh teman Sinta yang
mengintimidasi dengan cara menelfon dan mencelah Sinta seolah-olah semua
kesalahan diberikan kepada Sinta keadaan juga menunjukkan dominasi dimana
berita-berita yang bermunculan dan tersebar di Twitter bahwa Sinta yang
melecehkan Dosennya.
Representasi Negosiasi merujuk pada merespon kekuasan yang ada,
tindakan yang dilakukan oleh kelompok yang ada dalam posisi subordinat untuk
melawan adanya kekuasaan yang mendominasi untuk memperjuangkan
kepentingan mereka dan melawan representasi yang stereotip atau merendahkan,
untuk memperjuangkan perubahan. Dilihat dari Posisi Negosiasi yang
ditunjukkan oleh Abi sahabat Sinta membujuk Sinta untuk melaporkan kejadian
tersebut ke pihak kampus untuk mencari keadilan. Melalui negosiasi yang
dilakukan Abi kepada Sinta Akhirnya Sinta sudah memberanikan dirinya untuk
bertemu dan melaporkan kejadian yang merugikan dirinya dengan pihak
Kampus, walaupun hasil yang didapatkan Sinta kurang memuaskan, Sinta tetap
berusaha mencari keadilan dengan mendatangi Tim Satgas untuk melawan
Subordinat yang dilakukan oleh pihak dominan. Sinta membuat keputusan yang
berani untuk melaporkan kejadian pelecehan yang terjadi pada dirinya kepada
Tim Satgas, karena untuk melaporkan hal tersebut memerlukan keberanian besar
untuk mengungkap kasus pelecehan seperti itu. Sinta sudah siap melaporkan
kejadian tersebut ke Tim Satgas dengan menanyakan bagaimana prosedur dalam
pelaporan dan apa saja yang perlu dilakukan. Tim Satgas adalah salah satu wadah
88
yang terbentuk untuk menangani kekerasan dan pelecehan seksual. Tim Satgas
yang membantu Sinta untuk menangani kasus pelecehan tersebu. Sinta sudah
mulai menumbuhkan kepercayaan dirinya kembali untuk melawan ketidak adilan
yang dirasakan karena Sinta tau bahwa dirinya tidak bersalah.
Dalam Film “Demi Nama Baik Kampus” pihak kampus menjaga nama
baiknya dengan cara memecat Pak Ari sebagai Dosen agar tidak ada lagi korban
pelecehan yang terjadi. Tim Satgas merupakan salah satu wadah untuk mencari
keadilan tanpa membeda-bedakan perempuan dan laki-laki seperti pandangan
Agama Islam tidak membedakan status antara pria dan wanita. Seperti firman
Allah SWT dalam Surat Al Hujurat (49) ayat 13, yang berbunyi:
َ َشعُ ْوبًا َّوقَبَ ۤا ِٕى َل ِلتَع
ارفُ ْوا ۚ ا َِّن ُ اس اِنَّا َخلَ ْقن ُك ْم ِم ْن ذَ َك ٍر َّوا ُ ْنثى َو َجعَ ْلن ُك ْم
ُ َّٰٓياَي َها الن
ع ِليْم َخبِيْرَ ًَّلا ا َ ْك َر َم ُك ْم ِع ْندَ ه
ًّلاِ اَتْقى ُك ْم ۗا َِّن ه
Terjemahan:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-
bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh,
Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.67
Ayat diatas mengacu pada penjelasan tentang Allah menciptakan
manusia, baik itu perempuan dan laki-laki untuk saling mengenal dan bertakwa.
Dalam ayat ini, kita dapat melihat bahwa Allah tidak membedakan kedudukan
laki-laki dan perempuan dalam meraih kemuliaan di sisi-Nya, serta membuat
bangsa yang berbeda dan kelompok yang berbeda saling mengenal, saling
membantu, melengkapi dan mendukung.
67
‘Qur’an Kemenag’ <[Link]
ayat/surah/49?from=1&to=18> [accessed 16 June 2023].
89
Representasi Oposisi yaitu melibatkan konflik yang tajam dan tidak ada
usaha untuk mencari kesepakatan atau kompromi serta hadirnya Tim Satgas yang
menjembatangi kasus pelecehan tersebut tanpa memihak pada satu pihak.
Karakter atau gagasan dalam representasi ini berada dalam posisi yang
bertentangan satu sama lain, dan konflik, cenderung bersifat tidak dapat
didamaikan. yang ditunjukkan oleh pemeran utama perempuan dan pemeran
utama laki-laki yang saling mempertahankan argumentasinya dan
memperjuangkan kepentingan masing-masing dan ketika Sinta mendatangi Tim
Satgas untuk melaporkan kejadian pelecehan yang dialami, dan Tim Satgas
menemui Rektor untuk melaporkan hasil yang telah di analisis Tim Satgas.
Filim “Demi Nama Baik Kampus” termasuk dalam kategori feminisme
Sosial, film Demi Nama Baik Kampus yang mengisyaratkan bahwa si pemeran
laki-laki memiliki kekuasaan dan menganggap wanita hanya sebagai objek
seksual yang lemah. Dalam salah satu hadis Rasulullah saw pernah berkata,
“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah swt dan paling dekat tempat
duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia yang
paling dibenci Allah dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang
zalim.” (HR At-Tirmidzi).
Dalam hadis tersebut memberikan peringatan tentang pemimpin yang
tidak adil seperti yang dialami pemeran utama dalam film Demi Nama Baik
Kampus dimana rektor mengambil keputusan yang sepihak, membela Dosen
yang telah melakukan pelecehan hanya dengan alasan citra dari dosen tersebut
dan citra nama baik kampus.
Sinta Bertemu Rektor untuk mencari keadilan tetapi malah sebaliknya
peran perempuan sangat ditindas dan tidak mendapatkan keadilan atas kejadian
yang menimpa dirinya. Hal ini masuk dalam kategori feminisme Sosial memiliki
90
fokus utama pada perjuangan untuk kesetaraan gender dan keadilan sosial bagi
perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.68 Hal ini sama dengan apa yang
terjadi dalam film Demi Nama Baik Kampus yang mengisyaratkan bahwa Sinta
berusaha membela dirinya dengan memotong pembicaraan rektor yang
menyudutkan dirinya dan memilih untuk pergi dari ruangan tanpa menyetujui
tanda tangan surat yang diajukan oleh pak Rektor.
Pemeran utama wanita tidak putus asa atas hasil yang diberikan Rektor,
walapun Sintah sempat merasakan depresi akibat banyak tuntutan yang
menyudutkan disekitarnya yang membuat dirinya terpuruk, tetapi itu bukan
penghalang bagi dirinya untuk mencari keadilan, scene ini termasuk dalam teori
feminisme yang dikemukakan oleh Charles Fourier, upaya gerakan wanita untuk
menuntut emansipasi atau keselarasan dan keseimbangan hak dengan pria.69
Dilihat dari pemeran utama wanita dalam film Demi Nama Baik Kampus
bentuk perlawanan yang dilakukan Sinta yaitu berusaha untuk mencari keadilan
dengan tidak menandatangani surat perjanjian yang diberikan oleh Rektor kepada
dirinya dan menemui dan mempercayai Tim Satgas yang ada dikampusnya untuk
menanngani kasus pelecehan yang dialami walaupun itu merupakan langkah
atau keputusan yang cukup berat yang diambil oleh Sinta sebagai korban
pelecehan, tidak hanya itu Sinta sudah mulai bangkit dari keterpurukannya, mulai
percaya diri dan mengatasi mentalnya, merupakan salah satu bentuk perjuangan
melawan ketidak adilan yang dirasakan akibat perlakuan yang tidak baik
menimpa dirinya.
68
M Akbar Januar Pratama, Teori Feminisme, Universitas 17 Agustus 1945
Surabaya, 2022.
69
Sigit Surahman, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Indonesia (Analisis Semiotika Terkait
Feminisme Pada Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)’, Jurnal Liski, 1.2 (2015).
91
Tim Satgas dengan membantu Sinta mencari keadilan. Tim Satgas
mewakili Sinta yang datang untuk menemui Pak Rektor dan dosen yang
melakukan pelecehan terhadap mahasiswinya dengan membawa surat
rekomendasi dari Tim Satgas. Peran tim Satgas hadir untuk mencari keadilan
bagi korban pelecehan seksual yang dialami oleh Sinta. perempuan yang ditindas
oleh seorang laki-laki Tim Satgas menangani kasus ini dengan teliti dan hati-hati
dalam menentukan sebuah keputusan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk mencari
keadilan yang telah diperbuat si pelaku. Jika dilihat dari sosial masyarakat
mayoritas yang mendapatkan pelecehan yaitu seorang perempuan dilingkungan
masyarakat karena perempuan kadang kala dilihat sebagai sosok yang lemah dan
penurut serta tidak sedikit yang memandang perempuan sebagai suatu objek
seksual.
Akhirnya Sinta berhasil membuktikan bahwa dirinya tidak salah dan
perjuangannya untuk mencari keadilan tidak sia-sia dan rektor yang
menggambarkan sosok Kartini dan juga Sinta sebagai perempuan yang hebat.
Menggambarkan seseorang yang tidak mudah putus asa dan pantang menyerah
untuk mencari keadilan serta menggambarkan bahwa perempuan tidak selemah
yang dipikirkan dan mampu melawan ketertindasan yang dialami. Terdapat
banyak hal-hal yang menginspirasi dalam film ini, seperti perjuangannya yang
mendorong dan menggerakan perempuan untuk bisa maju bukan hanya
memajukan kesejahteraan hidup tetapi juga pemikiran orang lain. dan bagaimana
seorang perempuan dengan berani melawan pelecehan yang dialami tidak takut
untuk mengungkit kenyataan dan perempuan tidak dibungkam.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dianalisis oleh peneliti terhadap
ketidakadilan yang menimpa perempuan dan perjuangan perempuan. Penelitian
yang dilakukan oleh peneliti mengenai representasi feminisme yang terkandung
dalam film “Demi Nama Baik Kampus” (DNBK) .
1. Representasi feminisme yang terdapat dalam film “Demi Nama Baik
Kampus”. Dilihat dari Representasi Bahasa dan Makna yang meliputi Posisi
Dominan, bagaimana kekuasaan yang mendominasi atau seseorang yang
melanggar privasi atau mengambil hak orang lain seperti dalam film demi
nama baik kampus dimana Pak Ari memaksa masuk kedalam kamar mandi
dan mecoba mencium Sinta, Pak Rektor yang mengambil keputusan sepihak,
2. Posisi Negosiasi gerakan perlawanan terhadap dominasi seperti halnya
melaporkan sesuatu yang tidak adil atau merugikan seperti kejadian Sinta
yang berani melaporkan kejadian pelecehan yang dialami ke pihak Satgas
penanganan kekerasan seksual,
3. Posisi Oposisi sekelompok orang atau individu melawan penindasan
menggunakan jalur politik atau lembaga-lembaga politik untuk menghasilkan
perubahan dimana mempertahankan atau memperjuangkan kepentingan
masing-masing pihak secara tegas. Pihak-pihak berusaha untuk meraih
kemenangan atas pihak lain dalam konflik Seperti Tim Satgas yang
menjembatani atas kasus pelecehan yang terjadi tanpa memihak siapapun .
92
93
Dilihat dari Alur cerita pada film “Demi Nama Baik Kampus”
menunjukan Feminisme Sosial yang memandang perempuan tidak mendapat
kesempatan untuk menggambarkan dan memposisikan dirinya dan
mamberikan perlawanan. Feminisme Sosial berjuangan untuk kesetaraan
gender dan keadilan sosial bagi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.
Peneliti dapat menyimpulkan bahwa feminisme yang terdapat dalam film
Demi Nama Baik Kampus ialah feminisme Sosial dimana perempuan
mencoba untuk mencari keadilan atas penindasan yang mendominasi. Alur
cerita di mana seorang perempuan mengalami pelecehan seksual dan
melakukan perlawanan dengan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kampus
dan tim satgas penanganan kekerasan dan pelecehan seksual. Feminisme
sosial dilihat dari Sinta yang berusaha untuk Mencari Keadilan untuk
mencapai kesetaraan gender dan mengatasi ketidakadilan sosial. Melaporkan
pelecehan seksual ke pihak kampus dan tim satgas penanganan kekerasan dan
pelecehan seksual merupakan tindakan yang bertujuan mencari keadilan sosial
dan memastikan bahwa pelaku dihadapkan pada konsekuensi atas tindakan
mereka.
Peneliti menggunakan Teori Representasi dan Teori Feminisme Sosial
dimana teori Representasi dianalisis menggunakan dua pembagian menurut
Stuart Hall yaitu Bahasa dan Makna lalu dikategorikan dan dianalisis
menggunakan tiga indikator Stuart Hall yakni posisi Dominan, posisi
Negosiasi dan Posisi Oposisi. Teori Feminisme Sosial dianalisis ketidak
adilan yang dirasakan perempuan atas subordinat. Feminisme Sosial juga
mengkritik pemikiran patriarki dan dominasi serta kesetaran gender.
94
B. Saran
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti mengenai
represantasi feminisme yang terkandung dalam film “Demi Nama Baik Kampus”
dilihat dari Representasi dan Feminisme menggunakan analisis isi maka peneliti
menuliskan saran khususnya untuk khalayak bahwa kita sebagai penonton harus
lebih selektif dalam memilih tontonan yang mengandung nilai edukasi dan moral
kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Serta film pendek
yang mengedukasi sebaiknya ditayangkan dalam sebuah pertelevisian agar pesan
yang disampaikan bisa tersalurkan dan mengangkat banyak isu film mengenai
feminisme yang mengangkat perjuangan seorang perempuan. Untuk perguruan
tinggi sebaiknya menyediakan Tim Satgas penaganan kekerasan dan pelecehan
seksual di kampus.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an, Al-Karim
B.G Hermayanthi, Representasi Kekerasan Pada Anak dalam Film Miss Baek
(Analisis Representasi Stuart Hall). 2021.
Brier, Jennifer, and lia dwi jayanti, ‘REPRESENTASI FEMINISME DALAM FILM
A SEPARATION (Analisis Semiotika)’, 21.1 2020
D, Claretta & T.S Tuffahati, Analisis Resepsi Penonton terhadap Mitos Menolak
Lamaran Pernikahan dalam Film Yuni. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan, 6(3), 2023.
Elsha, Debby Dwi, ‘Representasi Perempuan Dalam Film Spectre’, JURNAL PIKMA
PUBLIKASI ILMU KOMUNIKASI MEDIA DAN CINEMA, 1.2 2020.
‘FILM SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI MASSA - E-JURNAL’ <[Link]
[Link]/2014/01/[Link]> [accessed 13
March 2023]
FITRIANA, A, ‘Metode Penelitian Kuantitatif’, Repository IAIN Parepare, 2020
Ghassani, Adlina, and Catur Nugroho, ‘Pemaknaan Rasisme Dalam Film (Analisis
Resepsi Film Get Out)’, Jurnal Manajemen Maranatha, 18.2 2019.
Hall, Stuart, ‘BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Representasi (Theory of
Representation ) Teori Representasi. 2020.
Ida, Rachma, Metode Penelitian: Studi Media Dan Kajian Budaya (Kencana, 2014)
Ilhamsyah, Mochamad Rosy, ‘Representasi Muslimah Dalam Film
“Assalamualaikum Calon Imam”: Tinjauan Teori Representasi Stuart Hall’,
2019.
Ahmad, J. Desain penelitian analisis isi (Content analysis). Research Gate, 1-20.
2018.
Karima, et al, ‘Citra Perempuan Dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat
Babak: Kajian Sastra Feminis Dan Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di
SMA’, Institutional Repository, July, 2021.
Karomah, Nur Isnaini, ‘REPRESENTASI FEMINISME PADA FILM
PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN (Analisis Semiotik Pada Film
Perempuan Berkalung Sorban Karya Hanung Bramantyo)’, Institutional
Repository, 8.5 2019.
Khomsahrial, Romli, ‘Komunikasi Massa, Jakarta: PT’, Gramedia Jakarta, 2016.
Kompasiana,[Link]
59183/belajar-dari-film-demi-nama-baik-kampus diakses pada tanggal 20 juni
2023.
I
Laksmana, et al,. Analisis Resepsi Diskriminasi Ageisme Dalam Film Sweet 20.
In SEMAKOM: SEMINAR NASIONAL MAHASISWA KOMUNIKASI (Vol. 1,
No. 01, pp. 38-42). 2023.
Heriyanti, L., et al. Membaca Perempuan Di Titik Nol: Perspektif Feminisme
Eksistensialis. Jurnal Wanita dan Keluarga, 1(2), 35-44. 2020.
Manda Diani, Martha Tri Lestari, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Maleficent’,
Jurnal Kajian Televisis Dan Film, 1.2 2015.
Mekarisce, Arnild Augina, ‘Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Pada Penelitian
Kualitatif Di Bidang Kesehatan Masyarakat’, Jurnal IImiah Kesehatan
Masyarakat, 12.33 2020.
Mukrimaa, Syifa S., Nurdyansyah, Eni Fariyatul Fahyuni, ANIS YULIA CITRA,
Nathaniel David Schulz, غسان.د, and others, ‘“Kesetaraan Dalam Pernikahan”
Pada Iklan Kecap ABC’, Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
[Link] 2016.
Nurhakki, Nurhakki, and Islamul Haq, ‘Representasi Perempuan Di Masjid’, Jurnal
Askopis, 1.2 2017
Nugroho Catur and Ghassani Adlina, ‘Pemaknaan Rasisme Dalam Film (Analisis
Resepsi Film Get Out)’, Jurnal Manajemen Maranatha, 18.2 2019.
N.P Ayomi. Gosip, Hoaks, dan Perempuan: Representasi dan Resepsi Khalayak
Terhadap Film Pendek “Tilik”. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi,
Animasi, 17(1), 51-61. 2021.
Rumtianing Irma. Analisis Isi Kualitatif Peran Jurnalis Televisi Dalam Film Good
Night And Good Luck, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2018.
Purrohman, Purnama Syae, ‘Menulis Skripsi Dengan Metode Penelitian Kualitatif’,
Universitas Muhammadiyah, [Link] 2018.
Pujiati, et al,. Representasi Wacana Fandom Dalam Novel Fangirl Karya Rainbow
Rowell. Publika Budaya, 3(2), 52-62. 2017.
P.V.N.K, Sinulingga. Analisis Resepsi Khalayak Terhadap Objektifikasi Perempuan
Dalam Serial Netflix “Squid Game” (Doctoral dissertation, FAKULTAS ILMU
SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO). 2023.
‘Qur’an Kemenag’ <[Link]
ayat/surah/49?from=1&to=18> [accessed 16 June 2023]
Rahman, M. Taufiq, ‘Pemikiran Feminisme Sosialis Dan Eksistensialis’, Digital
Library UIN SUNAN GUNUNG DJATI, 2019.
Ramli, Ratu Bulkis, Ahnsari Ahnsari, and . Juanda, ‘Representasi Feminisme
Eksistensial Di Balik Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak’,
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, Dan Sastra, 3.2 2021.
SALSABILA, RENA AZZAHRA, REPRESENTASI FEMINISME DI KOREA
SELATAN MELALUI FILM ‘KIM JI YOUNG, BORN 1982’, 2022.
Sampurno, Griselda, Jandy Edipson Luik, & Desi, and Yoanita Prodi, ‘Representasi
II
Feminisme Dalam Film Serial Layangan Putus’, E-Komunikasi Universitas
Kristen Petra, Surabaya, 10.2 2022.
Sigit Surahman, ‘Representasi Perempuan Metropolitan Dalam Film 7 Hati 7 Cinta 7
Wanita’, Jurnal Komunikasi, 3.1 2017.
Sunarti, suria, ‘strategi pengelolaan sumber daya manusia(sdm) dalam pelaksanaan
proses pernikahan dimasa pandemi covid-19 di kantor urusan agama (kua) kec.
Soreang kota parepare’, undergraduate thesis, iain parepare., 2021.
Surahman, Sigit, ‘Representasi Feminisme Dalam Film Indonesia (Analisis Semiotika
Terkait Feminisme Pada Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)’, Jurnal Liski, 1.2 2018.
Suwastini, Ni Komang Arie, ‘Perkembangan Feminisme Barat Dari Abad Kedelapan
Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoretis’, Jurnal Ilmu Sosial
Dan Humaniora, 2.1 2017.
S Winduwati & Anisa, A. R., Pemaknaan Body Positivity dalam Film Imperfect
Pada Kalangan Remaja di Jakarta. Koneksi, 5(2), 427-433. 2021.
ThoughtC,.[Link]
3528987, diakses pada tanggal 21 juni 2023.
Utama, Missheal, and Noeratri Andanwerti, ‘Pendekatan Feminisme Konsep Alpha
Female Untuk Desain Interior Toko Kosmetik Di Jakarta’, Seri Seminar
Nasional Ke-IV Universitas Tarumanagara, 2022.
Wibowo, ‘Representasi Maskulinitas’, 2018.
Wibowo, Fred, ‘Tenik Program Televisi. Yogyakarta: Pinus Book Publisher. Hal:196
1’, 2010.
Zahira, nurul, ‘Studi Semiotik Feminisme Tentang Film Marlina Si Pembunuh Dalam
Empat Babak’, Jurnal Ilmu Komunikasi, 4.1 2021.
III
LAMPIRAN-LAMPIRAN SCENE
IV
Tabel Scene-Scene yang ada di Film Demi Nama Baik Kampus
Visual Durasi Keterangan
00 : 37 Abi, Ririn dan sinta bertemu di
tempat makan dan sinta
membicarakan kekagumannya
dengan sosok Kartini.
Gambar 4.2
01 : 57 Sinta mendatangi ruangan pak
Ari, untuk bimbingan skripsinya.
Gambar 4.3
05 : 34 Pak Ari memaksa masuk
kedalam kamar mandi dan
mengancam Sinta.
V
07 : 11 Abi datang untuk mengunjungi
Sinta yang tidak masuk kuliah,
dan menenangkannya.
gambar 4.4
11 : 18 Abi dan Sinta datang keruangan
Rektor untuk membahas
kejadian pada saat malam
bimbingan skripsi.
Gambar 4.5
VI
15 : 26 Sinta mulai mengalami depresi
karena tuduhan yang dialami
melalui media sosial, dan
mencoba bunuh diri.
Gambar 4.6
20 : 27 Abi dan Sinta mendatangi
ruangan Satgas buat nanganin
kekerasan seksual yang dialami
sinta.
gambar 4.7
24 : 00 Pak Ari bertemu dengan
Mahasiswanya.
gambar 4.8
VII
24 : 10 Kepercayaan diri sinta mulai
kembali.
gambar 4.9
24 : 26 Ibu Anisa mulai menganalisis
kasus Sinta.
gambar 4.10
25 : 01 Tim Satgas bertemu Rektor dan
Pak Ari untuk menyampaikan
hasil Analisis kasus yang
ditangani.
gambar 4.11
27 : 44 Saksi bertemu dengan Ibu Anisa
untuk memberikan informasi.
gambar 4.12
VIII
28 : 08 Ari bertemu dengan temannya
dan menceritakan kejadian pada
saat malam bimbingan.
gambar 4.13
29 : 47 Sinta, Dita dan Ibu Anisa
bertemu dengan Rektor
membahas hasil keputusan yang
diambil mengenai kasus
pelecehan seksual. Dan rektor
meminta maaf kepada sinta.
gambar 4.14
IX
BIODATA PENULIS
Ayu Ulan Dari, Lahir di Sidrap, Sulawesi Selatan. Pada tanggal
15 September 2000 merupakan anak ke dua dari Bapak Sambas
dan Ibu Kasma. Penulis Berkebangsaan Indonesia dan beragama
Islam. Penulis mulai memasuki jenjang pendidikan Sekolah
Dasar di MI DDI Palirang, Madrasah Tsanawiyah di MTS DDI
Palirang, Sekolah Menengah Atas di SMKN 4 Pinrang. Setelah
itu penulis melanjutkan di Perguruan Tinggi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Parepare, dengan Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam. Semasa perkuliahan
banyak pengalaman penulis yang di dapatkan baik dari pemikiran dosen maupun
teman-teman. Penulis pernah ikut berkontribusi dalam salah satu Lembaga intra
kampus yaitu KSR PMI UNIT 01 IAIN PAREPARE dan Lembaga Ekstra kampus
yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Penulis mengajukan judul
skripsi sebagai tugas akhir yaitu “Representasi Feminisme Pada Film “Demi Nama
Baik Kampus” Karya Andi T”. Penulis melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan
(PPL) di Kementrian Agama Kota Parepare, dan melaksanakan Kuliah Pengabdian
Masyarakat (KPM) di Desa Padaelo Kecamatan Mattiro Bulu Kabupaten Pinrang,
Provinsi Sulawesi Selatan.