0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan12 halaman

Perancangan dan Analisis Balok Bertulangan

Dokumen ini membahas perancangan struktur balok beton bertulang, termasuk analisis kapasitas lentur dan perencanaan tulangan lentur. Terdapat asumsi dasar dalam perhitungan kekuatan lentur, serta penjelasan mengenai balok bertulangan tunggal, lemah, dan kuat. Selain itu, dokumen ini juga mencakup langkah-langkah perhitungan tulangan balok dan pelat lantai dalam konstruksi.

Diunggah oleh

megaseptiana61
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan12 halaman

Perancangan dan Analisis Balok Bertulangan

Dokumen ini membahas perancangan struktur balok beton bertulang, termasuk analisis kapasitas lentur dan perencanaan tulangan lentur. Terdapat asumsi dasar dalam perhitungan kekuatan lentur, serta penjelasan mengenai balok bertulangan tunggal, lemah, dan kuat. Selain itu, dokumen ini juga mencakup langkah-langkah perhitungan tulangan balok dan pelat lantai dalam konstruksi.

Diunggah oleh

megaseptiana61
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.3.

1 Perancangan Struktur Balok


Balok merupakan elemen struktur yang menanggung beban layan dalam arah
transversal yang menyebabkan terjadinya momen lentur dan gaya geser di sepanjang
bentangnya. Pada bagian ini akan dibahas lebih lanjut tentang tata cara analisis kapasitas
lentur dan perencanaan tulangan lentur pada elemen balok.
a. Asumsi-Asumsi dalam Perhitungan
Perhitungan kekuatan lentur penampang beton bertulang menggunakan asumsi-asumsi
dasar sebagai berikut:
1. Bentuk penampang melintang tetap berupa bidang datar, baik sebelum maupun sesudah
terjadi lenturan. Hal ini berarti berlakunya hukum Bernoulli dimana besarnya tegangan
yang terjadi di setiap titik pada penampang balok sebanding dengan jarak titik tinjau
terhadap garis netral, dengan anggapan adanya kesatuan antara beton dengan baja
tulangan secara monolit dan tidak terjadi slip.
2. Diagram hubungan tegangan-regangan baja tulangan telah diketahui secara pasti
melalui hasil uji tarik baja yang valid. Pada umumnya perilaku baja tulangan yang
diperhitungkan hanya sampai saat dicapainya tegangan leleh, hal ini dikarenakan
setelah fase leleh baja akan mengalami strain hardening, dimana peningkatan tegangan
disertai dengan terjadinya deformasi yang sangat besar.
3. Perilaku material beton yang sesungguhnya saat menerima tegangan tekan dapat
diketahui secara nyata baik dalam hal besaran maupun distribusinya, yang dapat
digambarkan dalam bentuk diagram tegangan-regangan beton dengan mengacu hasil-
hasil penelitian yang telah diakui secara luas. Beton hanya efektif menahan tegangan
tekan, sehingga kekuatan beton tidak diperhitungkan pada bagian penampang yang
menerima tegangan tarik.
4. Regangan maksimum yang dapat dimanfaatkan pada serat tekan beton terjauh harus
diambil sama dengan 0,003.
5. Tegangan pada tulangan yang nilainya lebih kecil daripada kuat leleh fy harus diambil
sebesar Es dikalikan regangan baja. Untuk regangan yang nilainya lebih besar dari
regangan leleh yang berhubungan dengan fy, tegangan pada tulangan harus diambil
sama dengan fy.
6. Hubungan antara distribusi tegangan tekan beton dan regangan beton boleh
diasumsikan berbentuk persegi, dan dapat dipenuhi oleh suatu distribusi tegangan beton
persegi ekuivalen yang ditunjukkan pada Gambar 4-1 dan didefinisikan sebagai berikut:
a. Tegangan beton sebesar 0,85 f'c diasumsikan terdistribusi secara merata pada
daerah tekan ekuivalen yang dibatasi oleh tepi penampang dan suatu garis lurus
yang sejajar dengan sumbu netral sejarak a = β1c dari serat dengan regangan
tekan maksimum.
b. Jarak c dari serat dengan regangan maksimum ke sumbu netral harus diukur
dalam arah tegak lurus terhadap sumbu tersebut.
c. Faktor β1 harus diambil sebesar 0,85 untuk beton dengan nilai kuat tekan
karakteristik f'c lebih kecil daripada atau sama dengan 30 MPa. Untuk beton
dengan nilai kuat tekan di atas 30 MPa, β1 harus direduksi sebesar 0,05 untuk
setiap kelebihan 7 MPa di atas 30 MPa, tetapi b1 tidak boleh diambil kurang.

Gambar 2.1 Distribusi Tegangan dan Regangan Balok


Persegi Bertulangan Tunggal
(Sumber: Gideon kusuma, 2016)

b. Balok Tulangan Tunggal


Suatu balok dinyatakan bertulangan tunggal jika pada penampang beton bertulang
tersebut hanya diperhitungkan terpasang baja tulangan pada satu sisi saja, yaitu pada bagian
serat yang menerima gaya tarik.
1. Keadaan regangan seimbang
Suatu keadaan yang sangat menentukan dalam analisis dan perencanaan beton
bertulang dengan metode kekuatan dan kemampuan layan adalah keadaan regangan
berimbang (balance).
Gambar 2.2 Tegangan dan Regangan Kondisi Berimbang
(Sumber: Gideon kusuma, 2016)

Dalam kondisi berimbang serat tekan ekstrim pada beton dan serat tarik pada baja
tulangan secara bersamaan mencapai regangan maksimum (ecu pada beton dan y pada baja
tulangan) sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 4-2. Untuk keadaan berimbang, secara
geometris dapat diperoleh:
Cb ε cu 0,003 600
= = =
d ε cu+ε cu fy 600+fy (2.1)
0,003+
Es
Dimana Es = 200.000 MPa dan Ecv = 0,003
Gaya-gaya dalam penampang yang bekerja ke arah horizontal dapat dihitung menurut
Persamaan (2.2) dan (2.3):

Cb 0,85.f '[Link] .b 0,85.f 'c.[Link] .b (2.2)

Tb [Link] b .[Link] (2. 3)

2. Balok bertulangan lemah (Under-reinforced)


Dalam kondisi penampang terpasang baja tulangan kurang dari rasio tulangan
maksimum (0,75 kali rasio tulangan dalam keadaan seimbang), baja tulangan akan lebih dulu
mencapai tegangan leleh fy sebelum beton mencapai kekuatan maksimumnya. Gaya tarik
baja tulangan tetap sebesar [Link] meskipun besaran beban terus bertambah. Bertambahnya
beban yang bekerja menyebabkan terjadinya perpanjangan (deformasi) palstis yang semakin
besar hingga mengakibatkan retak akibat lentur pada serat beton yang terkena tarik dan
bertambahnya regangan secara non-linear pada beton yang menerima gaya tekan hingga
berakibat terjadinya keruntuhan tarik.
Berdasarkan asumsi-asumsi yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, maka dapat
dihitung:

C 0,85.f'c.a.b (2.4)
T [Link] (2.5)

dimana:
C = gaya tekan pada beto, dihitung sebagai volume balok tekan ekuivalen pada atau
dekat keadaan batas
Y = gaya tarik pada baja tulangan
3. Balok bertulangan kuat (Over-reinforced)
Dalam kondisi penampang terpasang luasan baja tulangan melebihi batas luasan
tulangan maksimum (0,75 kali luas tulangan dalam kondisi seimbang), akan berakibat beton
mencapai regangan maksimum (0,003) lebih dahulu sementara baja tulangan belum mencapai
tegangan leleh (fs<fy), sehingga dengan analisis geometri pada diagram regangan dapat
diperoleh:
εs d−c
= (2.6)
0,003 c
Sehingga tegangan pada baja tulangan tarik dapat dihitung:
dc
fs=ε s x Es=0,003 E (2.7)
c

3. Perhitungan Tulangan Balok


Balok merupakan batang horizontal dari rangka struktur yang memikul beban tegak
lurus sepanjang batang tersebut biasanya terdiri dari dinding, pelat atau atap bangunan dan
menyalurkannya pada tumpuan atau struktur dibawahnya.
Adapun urutan-urutan dalam menganalisis balok :
1. Gaya lintang design balok maksimum
U = 1,2 D + 1,6 L (2.8)
Keterangan :
U = gaya geser terfaktor pada penampang
D = beban mati terfaktor per unit luas
L = beban hidup terfaktor per unit luas
2. Momen design balok maksimum
Mu = 1,2 MDL + 1,6 MLL (2.9)
Keterangan :
Mu = momen terfaktor pada penampang
MDL = momen akibat beban mati
MLL = momen akibat beban hidup
3. Penulangan lentur lapangan dan tumpuan
a. Penulangan lentur lapangan
- Tentukan deff = h – p – Ø sengkang - ½ Ø tulangan
Muρ
K= → didapat nilai ρ (2.10)
∅ .b . d ²
As = ρ . b. d (2.11)
- Pilih tulangan dengan dasar As terpasang ≥ As direncanakan
b. Penulangan lentur pada tumpuan
Muρ
- K= → didapat nilai ρ (2.12)
∅ .b . d ²
As = ρ . b. d (2.13)
- Pilih tulangan dengan dasar As terpasang ≥ As direncanakan
Keterangan :
As = luas tulangan tarik non-prategang
ρ = rasio penulangan tarik non-prategang
Beff = lebar efektif balok
d = jarak dari serat tekan terluar ke pusat tulangan
tarik
. Tulangan geser rencana
- Vc = 0,17 λ√ f ' C bw d
(SNI 2847 – 2013 hal.89 pasal 11.2.1 butir 1)
- V ≤ Ø Vc (tidak perlu tulangan geser)
- Vu ≤ Ø Vn
- Vn = Vc + Vs
- Vu ≤ Ø Vc + Ø Vs
Av . fy . d
- Sperlu=
Vs
Keterangan :
Vc = kuat geser nominal yang disumbangkan beton
Vu = kuat geser terfaktor pada penampang
Vn = kuat geser nominal
Vs = kuat geser nominal yang disumbangkan tulangan
geser
Av = luas tulangan geser pada daerah sejarak s
d = jarak dari serat tekan terluar ke pusat tulangan
tarik
fy = mutu baja

c. Tulangan geser rencana


- Vc = 0,17 λ√ f ' C bw d
(SNI 2847 – 2013 hal.89 pasal 11.2.1 butir 1)
- V ≤ Ø Vc (tidak perlu tulangan geser)
- Vu ≤ Ø Vn
- Vn = Vc + Vs
- Vu ≤ Ø Vc + Ø Vs
Av . fy . d
- Sperlu=
Vs
Keterangan :
Vc = kuat geser nominal yang disumbangkan beton
Vu = kuat geser terfaktor pada penampang
Vn = kuat geser nominal
Vs = kuat geser nominal yang disumbangkan tulangan
geser
Av = luas tulangan geser pada daerah sejarak s
d = jarak dari serat tekan terluar ke pusat tulangan
tarik
fy = mutu baja

4. Menghitung beban ultimate (SNI 3.2.2 butir 1 dan 2)


U = 1,2 D + 1,6 L (2.14)
U = 1,05 (D + Lr ± E) (2.15)
U = 0,9 (D ± E) (2.16)
d. Menentukan d efektif
1
d = h - p - φSengkang - [Link]
2
1
d'= p + + [Link] + φSengkang
2

5. Menentukan Momen Rencana


- Momen kombinasi akibat beban mati dan beban hidup
Mk1 = 1,[Link] + 1,[Link]
- Momen kombinasi akibat beban mati dan beban gempa
Mk2 = 0,[Link] + ME
- Momen kombinasi akibat beban mati, bebna hidup dan gempa
Mk2 = 1,05.(MD + 0,[Link] + ME)

6. Menentukan ρsyarat untuk menentukan Rn


Tulangan Tumpuan Negatif
+ ¿tumpuan
M
ρ ' /ρ = −¿tumpuan ¿ (2.17)
M ¿
ρ ' /ρ =0,5 (persyaratan gempa)
Mu
Rn = 2 (2.17)
b.d

ρmin =
√f ;c (diambil yang terkecil)
4 fy
1, 4
ρmin = (2.18)
4 fy
Tulangan tumpuan positif
+ ¿tumpuan
M
ρ ' /ρ = −¿tumpuan ¿ (2.19)
M ¿
ρ ' /ρ =1 (persyaratan gempa)
Mu
Rn = 2 (2.20)
b.d

ρmin =
√f ;c (diambil yang terkecil)
4 fy
1, 4
ρmin = (2.21)
4 fy
7. Menghitung tulangan yang dibutuhkan
As= ρ.b.d < As ada
As’=0,5 As

8. Perencanaan tulangan geser


Vub−Vub terpakai
v ujung= Vub – ( ln (2.22)
d
Vubterpakai
Vs = (2.23)

d
S< (2.24)
4
(Gideon kusuma “ Desain Struktur Rangka Beton Bertulang di Daerah
Rawan Gempa)

2.2.3. Pekerjaan Pelat Lantai


Pelat lantai merupakan konstruksi pemisah ruang secara mendatar pada gedung
bertingkat. Pelat lantai berfungsi menerima dan menyalurkan beban dan membagi ruang.
Sejak digunakannya beton bertulang modern untuk pelat, hampir semua gedung
menggunakan material ini sebagai elemen pelat. Pelat dapat ditumpu diseluruh tepinya, atau
hanya pada titik tertentu (misalnya: oleh kolom-kolom).
Mementukan tebal minimum pelat dapat dilihat pada persamaan 2.25 di bawah :
fy
h> Ln [0 , 8+ ]
1500 (2.25)
(36 +9 β)

Dimana:
Ln = Panjang bentang bersih pelat setelah dikurangi tebal balok (cm).
Fy = Tegangan leleh baja untuk pelat.
αm = Koefisien jepit pelat.
β = Lnmemanjang (cm)/ Lnmelintang (cm)

Tabel berikut ini merupakan tabel koefisien momen untuk pelat lantai, dapat dilihat
pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Tabel koefisien momen untuk pelat lantai
(Sumber: SNI 2847-2013)
Momen positif pada bentang-bentang ujung :

2
Tumpuan ujung terletak bebas W u ln
11

2
Tumpuan ujung menyatu dengan struktur pendukung W u ln
14

2
Momen positif pada bentang-bentang dalam W u ln
16

Momen negatif pada sisi luar dari tumpuan dalam pertama:

2
Dua bentang W u ln
9

2
Lebih dari dua bentang W u ln
10

2
Momen negatif pada sisi-sisi lain dari tumpuan-tumpuan W u ln
dalam 11

Momen negatif pada sisi semua tumpuan untuk:

2
Pelat dengan bentang tidak lebih dari 3m dan balok dengan W u ln
rasio dari jumlah kekauan kolom terhadap kekakuan balok 12
melebihi delapan pada masing-masing tumpuan.

Momen negatif pada sisi dalam dari tumpuan yang untuk komponen
struktur yang dibuat menyatu (monolit) dengan struktur pendukung :

2
Struktur pendukung adalah kolom W u ln
16

2
Gaya geser pada sisi dari tumpuan dalam pertama 1, 15 W u l n
2

2
Gaya geser pada sisi dari semua tumpuan-tumpuan lainnya W u ln
2

Beban Qu pada pelat dihitung dengan rumus :


Qu = 1,2 DD + 1,6 LL (2.26)
DD adalah beban pelat akibat beban mati dan L L bebena pelat akibat beban hidup.
Perencanaan tebal pelat dapat menggunakan tabel pada SNI-2013. Desain pelat, untuk
penulangan dapat dihitung dengan menggunakan lengan momen (d-a/2) atau 0,9 d se[erti
pada desain balok bertulang tunggal atau dengan menggunakan rumus :
F’c <30 Mpa maka dapat digunakan persamaan 2.27.
Mu fy
2
=0 ,8. ρ . fy (1−0,588 ρ . ' ) (2.27)
b.d f c
Keterangan :
Mu = Momen ultimit
Fy = Kuat leleh tulangan baja, Mpa
F’c = Kuat tekan beton, Mpa
ρ = Rasio tulangan
d’ = Tinggi as tulangan
b = Lebar balok
Rumus akan diperoleh nilai ρ sehingga luas tulangan yang diperluakn adalah :
As = ρ . b . d
Keterangan :
ρ = Rasio tulangan.
d’ = Tinggi as tulangan.
b = Lebar balok.
Penulangan pada pelat harus memenuhi syarat ρmin < ρ < ρmax , dimana :
ρmin = 00,0018 untuk Fy=400 Mpa dan ρmin =0,0025 untuk Fy= 240 Mpa.
ρmax = 0,75. ρb
Pada pelat, gaya geser tidak diperhitungkan untuk menahan susut dan tegangan akibat
perubahan suhu, maka perlu dipasang tulangan susut/tulangan bagi dalam arah tegak lurus
tulangan utama. Besarnya tulangan susut/tulangan bagi menurut SNI-2013 pasal 3.16.12
adalah :
0 , 18 b . h
Fy 400 Mpa, As= (2.29)
100
0 , 25 b . h
Fy 240 Mpa, As= (2.30)
100
Semua beban hidup mempunyai karakteristik dapat pindah atau bergerak dan secara
khas beban ini bekerja vertical ke bawah, tetapi kadang-kadang dapat berarah horizontal.
Kombinasi beban ultimit yang dipakai pada persamaan dibawah:
U1 = 1,4 D (2.31)
U2 = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 ( A atau R ) (2.32)
U3 = 1,2 D +1 L +1,6 + 0,5 ( A atau R ) (2.33)
U4 = 0,9 D + 1,6 W (2.34)
U5 = 1,2 D + 1 L + 1 e (2.35)
U6 = 0,9 D + 1 e (2.36)
Keterangan :
U = Ultimit.
D = Beban mati.
L = Beban hidup.
e = Beban gempa.
W = Beban angin.
A = Beban atap.
r = Beban hujan.
SNI T-15-1991-03 pasal 3.2.2 untuk pelat yang sederhana berlaku rumus pada
persamaan :
WU = 1,2 WD + 1,6 WL
Keterangan :
Wu = Beban ultimit (kg/cm2).
WD = Beban mati.
WL = Beban hidup.
Menurut peraturan SK SNI T-15-1991-03 tabel 3.2.5 (b), batas lendutan maksimum
l
adalah bentang. Lendutan yang terjadi akibat beban merata dapat dilihat pada persamaan
480
2.37 dan 2.38.
4
α xW ux b
δ=
D
3
Ec x h
D= 2
12 x (1−µ )
Keterangan :
δ = Lendutan yang terjadi.
α = Loefisien lendutan.
D = Momen akibat lentur untuk pelat ([Link]).
Wu = Beban ultimit (kg/cm2)
µ = Nilai poison rasio.
Ec = Modulus elastistas beton.
h = Tebal pelat.
b = Lebar pelat.

Anda mungkin juga menyukai