KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan karunia-Nya, dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran
Geologi Pertambangan untuk elemen Pemetaan Topografi ini dapat disusun dengan baik
untuk digunakan pada tahun pelajaran 2025/2026 di SMK Negeri 4 Palangka Raya.
RPP ini dirancang sebagai panduan pelaksanaan pembelajaran yang berkesadaran,
bermakna, dan menggembirakan sesuai dengan pendekatan deep learning, serta
mendorong peserta didik untuk aktif dalam memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan
pengetahuan dan keterampilannya. Proses pembelajaran dirancang kontekstual dengan
kondisi geografis dan lingkungan sekitar sekolah agar relevan dan nyata bagi siswa.
Selain membangun kompetensi teknis dalam bidang pemetaan topografi, pembelajaran ini
juga diarahkan untuk menumbuhkan 8 dimensi profil lulusan, yaitu: keimanan, kewargaan,
penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Harapannya, peserta didik tidak hanya terampil secara akademik dan vokasional, tetapi juga
memiliki karakter dan sikap yang dibutuhkan dalam dunia kerja dan kehidupan
bermasyarakat.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan
dan masukan, khususnya rekan guru kejuruan, tim kurikulum, dan pihak manajemen
sekolah.
Semoga RPP ini dapat menjadi acuan yang bermanfaat dalam mendukung pembelajaran
yang bermutu dan membentuk lulusan SMK yang unggul dan berdaya saing.
Palangka Raya, Juli 2025
Penyusun,
DEDE SUPRIANTO, ST
NI PPPK 19930321 202221 1 004
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geologi Pertambangan merupakan salah satu mata pelajaran kejuruan yang penting dalam
membekali peserta didik SMK kompetensi dasar dan lanjutan dalam memahami potensi
sumber daya geologi serta penerapannya dalam dunia pertambangan. Salah satu elemen
penting dalam mata pelajaran ini adalah Pemetaan Topografi, yang berperan sebagai
fondasi utama dalam kegiatan eksplorasi, perencanaan, hingga pelaksanaan kegiatan
penambangan.
Melalui pemetaan topografi, peserta didik dilatih untuk menguasai keterampilan teknis
seperti penggunaan alat ukur analog dan digital, pengolahan data lapangan, serta
pembuatan peta kontur. Keterampilan ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan
industri tambang, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kota Palangka Raya,
yang memiliki potensi geologi dan tambang yang besar.
Untuk mendukung ketercapaian pembelajaran yang bermakna, penyusunan RPP ini
menggunakan pendekatan deep learning yang berfokus pada proses belajar yang
berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, serta mendorong peserta didik untuk
aktif dalam memahami, mengaplikasi, dan merefleksi setiap tahapan pembelajaran. RPP
ini juga dirancang dengan memperhatikan konteks lokal, yakni lingkungan SMKN 4
Palangka Raya, agar siswa mampu mengaitkan materi yang dipelajari dengan realitas di
sekitar mereka.
1.2 Tujuan Penyusunan RPP
RPP ini disusun sebagai panduan operasional dalam proses pembelajaran Geologi
Pertambangan, khususnya elemen Pemetaan Topografi, dengan tujuan untuk:
1. Mengarahkan pembelajaran agar sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP) Fase
F Kurikulum Merdeka;
2. Memfasilitasi guru dalam merancang kegiatan belajar yang aktif, kolaboratif, dan
kontekstual;
3. Meningkatkan keterlibatan siswa secara menyeluruh, baik secara kognitif, afektif,
maupun psikomotorik;
4. Menanamkan nilai-nilai karakter dan keterampilan abad 21 melalui integrasi 8
dimensi profil lulusan;
5. Menyiapkan peserta didik agar memiliki keterampilan teknis dan sikap profesional
yang dibutuhkan dalam dunia kerja, khususnya di bidang geologi dan pertambangan.
1.3 Landasan Hukum
Penyusunan RPP ini berpedoman pada peraturan dan kebijakan pendidikan nasional yang
berlaku, antara lain:
● Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
● Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan
dan perubahannya;
● Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun
2024 tentang Kurikulum;
● Keputusan Kepala BSKAP Kemendikbudristek Nomor 032/H/KR/2024 tentang
Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka;
● Panduan Pembelajaran dan Asesmen pada Kurikulum Merdeka SMK.
2.1 Tujuan Pembelajaran Semester Ganjil (Juli–Desember 2025)
Peserta didik mampu:
1. Merancang rencana survei pemetaan area nyata (sekolah, kebun, permukiman).
2. Menggunakan alat ukur digital untuk pengukuran situasi dan detail.
3. Mengelola data hasil survei menggunakan komputer dan spreadsheet.
4. Membuat peta tematik berbasis data yang dikumpulkan.
5. Merefleksikan dampak pemetaan dalam kegiatan sosial dan pembangunan.
Ceklis Kesiapan Pengetahuan Siswa: Laboratorium Ukur Tanah 2
Ceklis ini digunakan untuk mengevaluasi pemahaman awal siswa terhadap materi
pengukuran poligon, tachymetri, garis kontur, dan penggunaan teodolit. Setiap pertanyaan
dijawab dengan "Ya" atau "Tidak", dengan skor 1 poin per pertanyaan (total 20 poin). Hasil
ceklis ini dapat digunakan untuk menentukan pengelompokan siswa berdasarkan tingkat
kesiapan.
Instruksi: Beri tanda centang (✓) pada kolom "Ya" atau "Tidak" untuk setiap pertanyaan
berdasarkan pengetahuan Anda.
N Pertanyaan Ya Tidak
o
1 Apakah Anda memahami tujuan pengukuran poligon tertutup untuk
menentukan koordinat titik-titik ikat?
2 Apakah Anda mengetahui peralatan utama yang digunakan dalam
pengukuran poligon, seperti teodolit dan rambu ukur?
3 Apakah Anda dapat menyebutkan minimal tiga bahan yang diperlukan
untuk pengukuran poligon (misalnya, formulir ukur, peta wilayah, alat
tulis)?
4 Apakah Anda memahami prosedur penyetelan teodolit agar sumbu I
tegak lurus dengan sumbu II?
5 Apakah Anda tahu bahwa jarak antara dua titik poligon harus diukur
minimal dua kali untuk ketelitian?
6 Apakah Anda memahami metode Bowditch untuk koreksi absis dan
ordinat dalam pengukuran poligon?
7 Apakah Anda dapat menjelaskan perbedaan antara poligon terbuka dan
poligon tertutup secara geometris?
8 Apakah Anda mengetahui rumus untuk menghitung sudut jurusan
menggunakan koordinat dua titik (arctan)?
9 Apakah Anda memahami konsep tachymetri untuk mengukur posisi
planimetris (X, Y) dan ketinggian (Z)?
10 Apakah Anda tahu peralatan yang diperlukan untuk pengukuran
tachymetri, seperti statif dan pita ukur?
11 Apakah Anda memahami perbedaan antara sudut zenith dan sudut
inklinasi dalam pengukuran tachymetri?
12 Apakah Anda dapat menghitung jarak horizontal menggunakan bacaan
benang atas dan benang bawah pada rambu ukur?
13 Apakah Anda mengetahui bahwa pengukuran tachymetri cocok untuk
pemetaan daerah yang luas dan tidak beraturan?
14 Apakah Anda memahami fungsi garis kontur dalam menunjukkan
kemiringan dan bentuk permukaan tanah?
15 Apakah Anda tahu bahwa garis kontur tidak bercabang dan tidak
berpanggangan?
16 Apakah Anda memahami metode interpolasi linear untuk menentukan
posisi garis kontur?
17 Apakah Anda mengetahui pola pengukuran titik detail seperti pola
kotak-kotak (spot level) atau radial untuk garis kontur?
18 Apakah Anda dapat menyebutkan minimal tiga bentuk muka tanah yang
ditunjukkan oleh garis kontur (misalnya, lembah, punggungan, saddle)?
19 Apakah Anda memahami prosedur pengaturan teodolit untuk
memastikan gelembung nivo berada di tengah?
20 Apakah Anda tahu cara membaca skala sudut horizontal dan vertikal
pada teodolit Nikon NE 102?
Petunjuk Penilaian:
Skor 16-20: Tingkat kesiapan tinggi, cocok untuk kelompok mandiri atau pemimpin
kelompok.
Skor 11-15: Tingkat kesiapan sedang, cocok untuk kelompok dengan bimbingan
terbatas.
Skor 0-10: Tingkat kesiapan rendah, memerlukan bimbingan intensif dan kelompok
dengan pendampingan.
Gunakan hasil ceklis untuk mengelompokkan siswa berdasarkan skor mereka,
memastikan setiap kelompok memiliki kombinasi siswa dengan kesiapan tinggi,
sedang, dan rendah untuk mendukung pembelajaran kolaboratif.
Asesment Formatif Awal
Asesmen Pilihan Ganda: Dasar-dasar Matematika dalam Surveying
Berikut adalah 10 soal pilihan ganda yang dirancang untuk mengevaluasi
pemahaman konseptual peserta didik terhadap materi "Dasar-dasar Matematika
dalam Surveying". Soal-soal ini mengandung konteks nyata, mendorong eksplorasi
makna, keterhubungan, dan refleksi, serta memberikan ruang untuk pemahaman
orisinal.
Soal Pilihan Ganda
1. Seorang petani ingin menghitung luas lahan segi empat dengan
koordinat titik sudut (1,2), (3,2), (3,4), dan (1,4). Berapakah luas lahan
tersebut menggunakan rumus koordinat titik batas?
a. 4 m²
b. 6 m²
c. 8 m²
d. 10 m²
Jawaban: b. 6 m²
Penjelasan: Menggunakan rumus luas dari koordinat rectangular (halaman
14), luas dihitung sebagai ( L = \frac{1}{2} \left| (Y_1X_2 + Y_2X_3 + Y_3X_4
+ Y_4X_1) - (X_1Y_2 + X_2Y_3 + X_3Y_4 + X_4Y_1) \right| ). Substitusi
koordinat: ( L = \frac{1}{2} \left| (2 \cdot 3 + 2 \cdot 3 + 4 \cdot 1 + 4 \cdot 1) -
(1 \cdot 2 + 3 \cdot 4 + 3 \cdot 4 + 1 \cdot 2) \right| = \frac{1}{2} \left| (6 + 6 + 4
+ 4) - (2 + 12 + 12 + 2) \right| = \frac{1}{2} \left| 20 - 28 \right| = 6 ). Konteks
petani membuat soal relevan dengan kehidupan nyata.
2. Dalam proyek konstruksi jalan, seorang surveyor mengukur jarak vektor
antara dua titik A(2,3) dan pusat koordinat O(0,0). Berapakah panjang
vektor OA?
a. 2 m
b. 3 m
c. √13 m
d. 5 m
Jawaban: c. √13 m
Penjelasan: Berdasarkan halaman 11, panjang vektor ( J_v = \sqrt{X_A^2 +
Y_A^2} ). Untuk A(2,3): ( J_v = \sqrt{2^2 + 3^2} = \sqrt{4 + 9} = \sqrt{13} ).
Soal ini menghubungkan konsep vektor dengan proyek konstruksi,
mendorong pemahaman geometri.
3. Mengapa penting untuk menyatakan posisi titik dalam bentuk koordinat
rectangular atau polar dalam pemetaan?
a. Untuk mempercepat proses pengukuran
b. Untuk memastikan posisi titik dapat dihitung dan digambarkan dengan
akurat
c. Untuk mengurangi biaya survey
d. Untuk menentukan warna peta
Jawaban: b. Untuk memastikan posisi titik dapat dihitung dan digambarkan
dengan akurat
Penjelasan: Halaman 18 menekankan bahwa posisi titik dalam koordinat
rectangular atau polar memungkinkan perhitungan sudut dan jarak yang
akurat. Soal ini mendorong refleksi tentang pentingnya sistem koordinat
dalam pemetaan.
4. Seorang surveyor menghitung sudut α antara sumbu X positif dan
vektor OA untuk titik A(3,4). Berapakah sudut α?
a. 30°
b. 45°
c. 53.13°
d. 60°
Jawaban: c. 53.13°
Penjelasan: Berdasarkan halaman 11, ( \tan \alpha = \frac{Y_A}{X_A} ),
sehingga ( \alpha = \arctan \left( \frac{Y_A}{X_A} \right) ). Untuk A(3,4): ( \tan \
alpha = \frac{4}{3} ), maka ( \alpha = \arctan \left( \frac{4}{3} \right) \approx
53.13^\circ ). Soal ini mendorong pemahaman trigonometri dalam konteks
survey.
5. Dalam survey pemetaan sawah, seorang surveyor menggunakan
segitiga siku untuk menghitung ketinggian titik B dari titik A dengan
sudut elevasi 45° dan jarak horizontal 50 m. Berapakah ketinggiannya?
a. 25 m
b. 50 m
c. 75 m
d. 100 m
Jawaban: b. 50 m
Penjelasan: Berdasarkan halaman 5, untuk segitiga siku, ( \tan \alpha = \
frac{\text{sisi tegak}}{\text{sisi datar}} ). Dengan sudut 45° dan jarak horizontal
50 m: ( \tan 45^\circ = 1 ), sehingga ketinggian = ( 50 \cdot \tan 45^\circ = 50 )
m. Konteks sawah relevan untuk kehidupan peserta didik.
6. Seorang kontraktor ingin menghitung volume tembok dengan ukuran
luar 10 m × 5 m × 2 m dan ukuran dalam 9 m × 4 m × 2 m. Berapakah
volume tembok tersebut?
a. 10 m³
b. 20 m³
c. 28 m³
d. 38 m³
Jawaban: c. 28 m³
Penjelasan: Berdasarkan halaman 22, volume tembok dihitung sebagai ( V =
(P_1 \cdot L_1 \cdot t) - (P_2 \cdot L_2 \cdot t) ). Substitusi: ( V = (10 \cdot 5 \
cdot 2) - (9 \cdot 4 \cdot 2) = 100 - 72 = 28 ) m³. Soal ini menghubungkan
matematika dengan konstruksi nyata.
7. Apa keuntungan menggunakan proyeksi orthogonal dalam pemetaan
situasi?
a. Mengurangi biaya alat survey
b. Memungkinkan penggambaran posisi titik dari pandangan atas atau
samping
c. Meningkatkan kecepatan pengukuran
d. Mengubah skala peta
Jawaban: b. Memungkinkan penggambaran posisi titik dari pandangan atas
atau samping
Penjelasan: Halaman 10 menjelaskan bahwa proyeksi orthogonal digunakan
untuk penggambaran situasi (atas) dan profil (samping), memudahkan
visualisasi. Soal ini mendorong refleksi tentang penerapan proyeksi.
8. Dalam survey konstruksi, mengapa penting untuk memilih titik bidikan
dengan cermat?
a. Untuk mengurangi jumlah pengukuran
b. Untuk memastikan hubungan akurat antara obyek nyata dan bentuk
matematis
c. Untuk menghemat baterai alat
d. Untuk mempercepat pembuatan peta
Jawaban: b. Untuk memastikan hubungan akurat antara obyek nyata dan
bentuk matematis
Penjelasan: Halaman 23 menekankan bahwa ketepatan memilih titik bidikan
memengaruhi ketelitian hasil survey. Soal ini mendorong refleksi tentang
kecermatan surveyor.
9. Seorang surveyor menghitung luas selimut kerucut dengan jari-jari alas
3 m dan panjang sisi miring 5 m. Berapakah luas selimutnya?
a. 15π m²
b. 20π m²
c. 25π m²
d. 30π m²
Jawaban: a. 15π m²
Penjelasan: Berdasarkan halaman 21, luas selimut kerucut adalah ( L = \pi \
cdot r \cdot s ), dengan ( r = 3 ) m dan ( s = 5 ) m: ( L = \pi \cdot 3 \cdot 5 =
15\pi ) m². Soal ini menghubungkan konsep geometri dengan aplikasi nyata.
10. Dalam survey kuantitas, seorang surveyor membayangkan bendungan
sebagai prisma dengan alas segitiga (luas 20 m²) dan tinggi rata-rata 5
m. Berapakah volume bendungan tersebut?
a. 50 m³
b. 75 m³
c. 100 m³
d. 125 m³
Jawaban: c. 100 m³
Penjelasan: Berdasarkan halaman 17, volume prisma dihitung sebagai ( V = \
text{luas alas} \cdot \text{tinggi rata-rata} ). Substitusi: ( V = 20 \cdot 5 = 100 )
m³. Konteks bendungan mendorong pemahaman aplikatif dan refleksi tentang
survey kuantitas.
Asesmen Pilihan Ganda: Teknik Penggunaan Alat dan Pengukuran GPS
Berikut adalah 10 soal pilihan ganda yang dirancang untuk mengevaluasi
pemahaman konseptual peserta didik terhadap materi "Teknik Penggunaan Alat dan
Pengukuran GPS". Soal-soal ini mengandung konteks nyata, mendorong eksplorasi
makna, keterhubungan, dan refleksi, serta memberikan ruang untuk pemahaman
orisinal.
Soal Pilihan Ganda
1. Seorang nelayan menggunakan GPS untuk menentukan posisi kapalnya
di laut. Dalam sistem apa posisi tersebut ditentukan oleh GPS?
a. Datum lokal
b. WGS 84
c. UTM
d. Geosentrik
Jawaban: b. WGS 84
Penjelasan: Berdasarkan halaman 2, GPS memberikan posisi global dalam
datum WGS 84. Konteks nelayan membuat soal relevan dengan kehidupan
nyata, mendorong pemahaman tentang sistem referensi GPS.
2. Apa fungsi utama dari segmen sistem kontrol dalam operasi GPS?
a. Mengirim sinyal ke pengguna
b. Mengelola dan memantau satelit
c. Menentukan posisi pengguna
d. Mengurangi multipath
Jawaban: b. Mengelola dan memantau satelit
Penjelasan: Halaman 4 menyebutkan segmen sistem kontrol sebagai bagian
dari GPS yang bertanggung jawab untuk pengelolaan satelit. Soal ini
mendorong refleksi tentang struktur sistem GPS.
3. Dalam survey hutan, seorang surveyor menggunakan receiver GPS tipe
navigasi. Berapakah ketelitian yang dapat diharapkan?
a. Hingga 1 cm
b. Hingga 15 meter
c. Hingga 1 meter
d. Hingga 10 cm
Jawaban: b. Hingga 15 meter
Penjelasan: Berdasarkan halaman 17, receiver GPS tipe navigasi memiliki
ketelitian hingga 15 meter, cocok untuk survey pendahuluan seperti di hutan.
Konteks survey hutan relevan untuk aplikasi nyata.
4. Apa yang menjadi sumber kesalahan utama dari satelit GPS dalam
pengukuran posisi?
a. Internal noise receiver
b. Jam satelit
c. Efek troposfer
d. Multipath
Jawaban: b. Jam satelit
Penjelasan: Halaman 8 menyebutkan bahwa kesalahan dari satelit GPS
termasuk jam satelit. Soal ini mendorong pemahaman tentang sumber
kesalahan dalam pengukuran GPS.
5. Seorang surveyor melakukan pengukuran posisi absolut untuk navigasi
kendaraan proyek. Berapa receiver GPS yang diperlukan?
a. Minimal 2 receiver
b. Hanya 1 receiver
c. Minimal 3 receiver
d. Tidak memerlukan receiver
Jawaban: b. Hanya 1 receiver
Penjelasan: Berdasarkan halaman 14, metode absolut (point positioning)
hanya memerlukan satu receiver GPS. Konteks kendaraan proyek
menghubungkan materi dengan aplikasi nyata.
6. Mengapa metode relatif lebih akurat dibandingkan metode absolut
dalam survey pemetaan?
a. Karena hanya menggunakan satu receiver
b. Karena menggunakan differencing process untuk mengurangi kesalahan
c. Karena tidak memerlukan data fase
d. Karena jarak ke satelit lebih pendek
Jawaban: b. Karena menggunakan differencing process untuk mengurangi
kesalahan
Penjelasan: Halaman 19 dan 21 menjelaskan bahwa metode relatif
menggunakan differencing process untuk mengeliminasi atau mereduksi
kesalahan, meningkatkan ketelitian. Soal ini mendorong refleksi tentang
keunggulan metode relatif.
7. Dalam proyek pembangunan jembatan, seorang surveyor menggunakan
metode Real Time Kinematics (RTK). Apa keunggulan utama metode
ini?
a. Tidak memerlukan receiver tambahan
b. Memberikan hasil posisi secara langsung di lapangan
c. Hanya menggunakan data pseudorange
d. Tidak terpengaruh oleh ionosfer
Jawaban: b. Memberikan hasil posisi secara langsung di lapangan
Penjelasan: Halaman 31 menyebutkan metode RTK (Real Time Kinematics)
yang memungkinkan penentuan posisi secara real-time. Konteks jembatan
mendorong pemahaman aplikasi praktis.
8. Apa efek ionosfer terhadap sinyal GPS?
a. Mempercepat carrier phase dan memperlambat code
b. Memperlambat carrier phase dan mempercepat code
c. Tidak memengaruhi sinyal
d. Menghentikan sinyal sepenuhnya
Jawaban: a. Mempercepat carrier phase dan memperlambat code
Penjelasan: Berdasarkan halaman 12, ionosfer (50-300 km dari bumi)
mempercepat carrier phase dan memperlambat code. Soal ini menguji
pemahaman tentang perjalanan sinyal GPS.
9. Seorang petani menggunakan DGPS untuk menentukan batas lahan
pertaniannya. Apa yang membedakan DGPS dari metode absolut?
a. Menggunakan satu receiver tanpa base station
b. Menggunakan differencing process dengan base station
c. Tidak memerlukan satelit
d. Hanya digunakan untuk navigasi kapal
Jawaban: b. Menggunakan differencing process dengan base station
Penjelasan: Halaman 30 menyebutkan DGPS (Differential GPS) sebagai
metode relatif yang menggunakan base station untuk differencing process,
meningkatkan ketelitian. Konteks petani relevan untuk kehidupan nyata.
10. Dalam survey geodesi, seorang surveyor menggunakan metode relatif
untuk menentukan posisi pilar batas. Berapa ketelitian yang dapat
dicapai?
a. Hingga 15 meter
b. Hingga 10 meter
c. Hingga cm sampai mm
d. Hingga 1 meter
Jawaban: c. Hingga cm sampai mm
Penjelasan: Berdasarkan halaman 21, metode relatif dapat mencapai
ketelitian tinggi (cm hingga mm), cocok untuk survey geodesi seperti
penentuan pilar batas. Soal ini mendorong refleksi tentang aplikasi survey
presisi tinggi.
Asesmen Pilihan Ganda: Sistem Koordinat dan Pengetahuan Peta
Berikut adalah 10 soal pilihan ganda yang dirancang untuk mengevaluasi
pemahaman konseptual peserta didik terhadap materi "Sistem Koordinat dan
Pengetahuan Peta". Soal-soal ini mengandung konteks nyata, mendorong eksplorasi
makna, keterhubungan, dan refleksi, serta memberikan ruang untuk pemahaman
orisinal.
Soal Pilihan Ganda
1. Seorang kepala desa ingin membuat peta desa untuk menentukan batas
wilayah. Sistem koordinat apa yang paling sesuai untuk digunakan di
Indonesia berdasarkan dokumen?
a. Koordinat Cartesian
b. Koordinat Bujur-Lintang
c. Koordinat Polar
d. Koordinat Lokal
Jawaban: b. Koordinat Bujur-Lintang
Penjelasan: Berdasarkan halaman 40, sistem koordinat Bujur-Lintang
(koordinat geografis) dan UTM cocok digunakan di Indonesia. Namun, untuk
peta desa, koordinat Bujur-Lintang relevan karena mengacu pada bentuk
bumi yang mendekati bola. Konteks kepala desa membuat soal relevan
dengan kebutuhan nyata.
2. Apa fungsi utama peta desa menurut dokumen?
a. Menampilkan data geologi
b. Memberikan informasi batas wilayah, sarana prasarana, dan penggunaan
lahan
c. Menunjukkan kepadatan penduduk
d. Menggambarkan iklim daerah
Jawaban: b. Memberikan informasi batas wilayah, sarana prasarana, dan
penggunaan lahan
Penjelasan: Halaman 11 menyebutkan bahwa peta desa memberikan
informasi seperti batas wilayah, sarana prasarana, bangunan, dan
penggunaan lahan. Soal ini mendorong pemahaman tentang tujuan peta
desa.
3. Dalam peta Rupabumi Indonesia (RBI), apa yang dimaksud dengan
unsur toponimi?
a. Simbol garis untuk jalan
b. Penamaan unsur-unsur geografi
c. Skala peta
d. Grid koordinat
Jawaban: b. Penamaan unsur-unsur geografi
Penjelasan: Halaman 45 mendefinisikan toponimi sebagai ilmu tentang
penamaan unsur-unsur geografi. Soal ini menguji pemahaman konsep dasar
toponimi.
4. Seorang surveyor menggunakan peta citra desa dengan skala 1:5.000.
Berapa interval grid yang sesuai berdasarkan spesifikasi teknis?
a. 250 m
b. 500 m
c. 1000 m
d. 2000 m
Jawaban: b. 500 m
Penjelasan: Berdasarkan tabel pada halaman 55, untuk skala 1:5.000,
interval grid adalah 500 m dengan penulisan angka tiap 500 m. Konteks
surveyor membuat soal aplikatif.
5. Apa keunggulan utama proyeksi silinder untuk wilayah Indonesia?
a. Menggambarkan daerah kutub dengan akurat
b. Menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa dengan distorsi minimal
c. Menghasilkan peta tanpa grid
d. Mengurangi biaya pembuatan peta
Jawaban: b. Menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa dengan distorsi
minimal
Penjelasan: Halaman 34 menyebutkan bahwa proyeksi silinder cocok untuk
menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa, seperti Indonesia, dengan
distorsi minimal. Soal ini mendorong refleksi tentang proyeksi peta.
6. Dalam penyusunan peta desa, mengapa partisipasi masyarakat penting?
a. Untuk mengurangi biaya survey
b. Karena sebagian besar informasi berasal dari pengetahuan masyarakat
setempat
c. Untuk mempercepat proses cetak peta
d. Untuk menghindari penggunaan citra satelit
Jawaban: b. Karena sebagian besar informasi berasal dari pengetahuan
masyarakat setempat
Penjelasan: Halaman 11 menekankan bahwa informasi peta desa berasal
dari pengetahuan masyarakat setempat, sehingga partisipasi mereka penting.
Soal ini mendorong refleksi tentang pemetaan partisipatif.
7. Apa yang dimaksud dengan proyeksi azimuthal orthografik?
a. Proyeksi dengan sumber sinar dari pusat bumi
b. Proyeksi dengan sumber sinar dari titik jauh tak terhingga
c. Proyeksi dengan bidang menyinggung ekuator
d. Proyeksi yang hanya digunakan untuk daerah tropis
Jawaban: b. Proyeksi dengan sumber sinar dari titik jauh tak terhingga
Penjelasan: Halaman 36 menjelaskan bahwa proyeksi azimuthal orthografik
memiliki sinar proyeksi sejajar dengan sumbu bumi, seolah-olah dari titik jauh
tak terhingga. Soal ini menguji pemahaman tentang jenis proyeksi.
8. Dalam peta RBI, bagaimana penulisan nama geografis untuk sungai
harus dilakukan?
a. Mendatar sejajar dengan meridian
b. Mengikuti arah atau bentuk sungai
c. Menggunakan huruf tegak lurus
d. Ditulis dalam dua kata
Jawaban: b. Mengikuti arah atau bentuk sungai
Penjelasan: Halaman 46 menyebutkan bahwa nama geografis seperti sungai
dapat ditulis mengikuti arah atau bentuk sungai sesuai kaidah kartografi. Soal
ini menguji pemahaman kaidah toponimi.
9. Seorang petani ingin membaca peta desa untuk mengetahui batas
lahannya. Datum horizontal apa yang digunakan untuk peta desa sesuai
dokumen?
a. WGS 84
b. SRGI 2013
c. Datum lokal
d. Datum global
Jawaban: b. SRGI 2013
Penjelasan: Halaman 53 menyebutkan bahwa datum horizontal untuk peta
desa adalah SRGI 2013 dengan parameter spheroid tertentu. Konteks petani
membuat soal relevan dengan kehidupan nyata.
10. Apa yang dimaksud dengan interpretasi citra dalam penyusunan peta
desa?
a. Menghitung jarak antar titik koordinat
b. Menafsir dan mengenali objek pada citra untuk menilai arti pentingnya
c. Membuat simbol peta
d. Menentukan skala peta
Jawaban: b. Menafsir dan mengenali objek pada citra untuk menilai arti
pentingnya
Penjelasan: Halaman 58 mendefinisikan interpretasi citra sebagai kegiatan
menafsir dan mengenali objek pada citra serta menilai arti pentingnya. Soal
ini mendorong pemahaman tentang proses interpretasi citra.
Asesmen Pilihan Ganda: Pemanfaatan Drone untuk Pemetaan
Berikut adalah 20 soal pilihan ganda yang dirancang untuk mengevaluasi
pemahaman konseptual peserta didik terhadap materi "Pemanfaatan Drone untuk
Pemetaan". Soal-soal ini mengandung konteks nyata, mendorong eksplorasi makna,
keterhubungan, dan refleksi, serta memberikan ruang untuk pemahaman orisinal.
Soal Pilihan Ganda
31. Apa keunggulan utama penggunaan drone untuk pemetaan
dibandingkan wahana udara berawak?
a. Biaya lebih tinggi
b. Harga lebih murah dan mudah dioperasikan
c. Membutuhkan pilot berlisensi
d. Tidak memerlukan sensor
Jawaban: b. Harga lebih murah dan mudah dioperasikan
Penjelasan: Halaman 6 menyebutkan bahwa drone lebih murah dan mudah
dioperasikan secara otomatis dibandingkan pesawat berawak (Valavanis dan
Vachtsevanos, 2015).
32. Komponen utama drone yang berfungsi sebagai penggerak adalah...
a. Flight controller
b. Propeller
c. Payload bay
d. Sensor
Jawaban: b. Propeller
Penjelasan: Halaman 7 menjelaskan bahwa propeller adalah komponen
penggerak drone, menghasilkan gaya angkat untuk terbang.
33. Frekuensi radio yang umum digunakan untuk komunikasi drone
adalah...
a. 100 MHz, 1 GHz, 2 GHz
b. 900 MHz, 2.4 GHz, 5.8 GHz
c. 10 GHz, 20 GHz, 30 GHz
d. 50 MHz, 100 MHz, 150 MHz
Jawaban: b. 900 MHz, 2.4 GHz, 5.8 GHz
Penjelasan: Halaman 8 menyebutkan frekuensi radio 900 MHz, 2.4 GHz, dan
5.8 GHz digunakan untuk mengontrol drone.
34. Jenis drone apa yang memiliki konfigurasi motor dan propeller di bagian
belakang?
a. Rotary Wing
b. Fixed Wing (Pusher)
c. VTOL (Hybrid)
d. Multirotor
Jawaban: b. Fixed Wing (Pusher)
Penjelasan: Halaman 9 menjelaskan bahwa drone fixed wing dengan
konfigurasi pusher memiliki motor dan propeller di bagian belakang.
35. Apa yang dimaksud dengan kesegarisan (kolinearitas) dalam proyeksi
perspektif terpusat?
a. Garis lurus antara titik objek, pusat perspektif, dan titik pada foto
b. Penyusutan foto udara
c. Penentuan skala peta
d. Pengaturan jalur terbang
Jawaban: a. Garis lurus antara titik objek, pusat perspektif, dan titik pada foto
Penjelasan: Halaman 12 menyebutkan bahwa kesegarisan adalah kondisi
geometri di mana titik objek, pusat perspektif, dan titik pada foto membentuk
garis lurus.
36. Apa fungsi tie points dalam proses fotogrametri?
a. Menentukan ketinggian drone
b. Menghubungkan foto-foto yang bertampalan
c. Mengatur resolusi kamera
d. Menentukan arah utara
Jawaban: b. Menghubungkan foto-foto yang bertampalan
Penjelasan: Halaman 13 menjelaskan bahwa tie points menghubungkan foto-
foto yang bertampalan sesuai aturan Von Gruber.
37. Sensor apa yang digunakan untuk mendukung triangulasi udara
modern?
a. Sensor suhu
b. Receiver GNSS dan sensor IMU
c. Sensor tekanan udara
d. Sensor inframerah
Jawaban: b. Receiver GNSS dan sensor IMU
Penjelasan: Halaman 14 menyebutkan bahwa receiver GNSS dan sensor
IMU digunakan untuk mendukung triangulasi udara.
38. Apa tujuan dari Bundle Adjustment (BA) dalam pengolahan data
fotogrametri?
a. Menghapus semua tie points
b. Mengoptimalkan parameter orientasi untuk meminimalkan error
c. Menentukan skala foto
d. Membuat peta kontur
Jawaban: b. Mengoptimalkan parameter orientasi untuk meminimalkan error
Penjelasan: Halaman 21 menjelaskan bahwa Bundle Adjustment adalah
optimasi non-linear untuk meminimalkan reprojection error.
39. Apa yang dimaksud dengan point cloud dalam pemetaan drone?
a. Kumpulan titik 2D pada peta
b. Kumpulan titik 3D dengan informasi posisi (X, Y, Z)
c. Foto udara yang belum diolah
d. Jalur terbang drone
Jawaban: b. Kumpulan titik 3D dengan informasi posisi (X, Y, Z)
Penjelasan: Halaman 19 mendefinisikan point cloud sebagai kumpulan titik
3D dengan informasi posisi (X, Y, Z).
40. Algoritma apa yang digunakan untuk menghilangkan outlier dalam
image matching?
a. Kalman Filter
b. RANSAC
c. Least Squares
d. Gaussian Elimination
Jawaban: b. RANSAC
Penjelasan: Halaman 20 menyebutkan bahwa RANSAC digunakan untuk
menghilangkan outlier dalam image matching.
41. Apa perbedaan utama antara DSM dan DTM?
a. DSM hanya mencakup permukaan tanah
b. DTM mencakup semua fitur di atas tanah
c. DSM mencakup semua fitur, DTM hanya permukaan tanah
d. DSM dan DTM sama
Jawaban: c. DSM mencakup semua fitur, DTM hanya permukaan tanah
Penjelasan: Halaman 22 menjelaskan bahwa DSM mencakup semua fitur,
sedangkan DTM hanya permukaan tanah.
42. Apa tujuan dari orthorektifikasi dalam pembuatan orthomosaic?
a. Menambahkan warna pada foto
b. Menghilangkan efek displacement akibat permukaan tanah dan objek
c. Mengatur jalur terbang
d. Menentukan GSD
Jawaban: b. Menghilangkan efek displacement akibat permukaan tanah dan
objek
Penjelasan: Halaman 25 menyebutkan bahwa orthorektifikasi menghilangkan
efek displacement untuk menghasilkan orthomosaic.
43. Berapa nilai CE90 untuk peta dasar skala 1:5.000 menurut BIG?
a. 1 m
b. 2 m
c. 3 m
d. 4 m
Jawaban: b. 2 m
Penjelasan: Halaman 26 menyebutkan bahwa CE90 untuk skala 1:5.000
adalah 2 m.
44. Mengapa area pemotretan harus 15% lebih luas dari area pemetaan?
a. Untuk mengurangi biaya
b. Untuk menghindari gap data di tepi area
c. Untuk mempercepat pemotretan
d. Untuk meningkatkan resolusi
Jawaban: b. Untuk menghindari gap data di tepi area
Penjelasan: Halaman 29 menjelaskan bahwa area pemotretan diperluas 15%
untuk mencegah gap data di tepi.
45. Berapa jumlah minimal GCP yang diperlukan untuk pemetaan drone?
a. 3
b. 5
c. 7
d. 12
Jawaban: b. 5
Penjelasan: Halaman 30 menyebutkan bahwa minimal 5 GCP diperlukan
untuk pemetaan.
46. Aplikasi apa yang direkomendasikan untuk membuat desain jalur
terbang?
a. QGIS
b. DroneDeploy
c. Agisoft Metashape
d. DJI GO 4
Jawaban: b. DroneDeploy
Penjelasan: Halaman 31 merekomendasikan DroneDeploy untuk desain jalur
terbang.
47. Berapa nilai front overlap yang direkomendasikan untuk pemetaan?
a. 50-60%
b. 60-70%
c. 80-85%
d. 90-95%
Jawaban: c. 80-85%
Penjelasan: Halaman 38 menyebutkan front overlap direkomendasikan 80-
85%.
48. Apa fungsi gimbal lock pada drone?
a. Mengatur kecepatan drone
b. Menjaga stabilitas kamera selama transportasi
c. Mengontrol arah terbang
d. Menyimpan data foto
Jawaban: b. Menjaga stabilitas kamera selama transportasi
Penjelasan: Halaman 44 menjelaskan bahwa gimbal lock digunakan untuk
menjaga kamera tetap stabil selama transportasi.
49. Apa yang harus dilakukan jika notifikasi "Inconsistent Firmware Found"
muncul pada DJI GO 4?
a. Abaikan notifikasi
b. Lakukan update firmware
c. Ganti baterai drone
d. Kalibrasi kamera
Jawaban: b. Lakukan update firmware
Penjelasan: Halaman 52 menyebutkan bahwa notifikasi tersebut memerlukan
update firmware.
50. Apa tujuan dari klasifikasi ground points dalam pembuatan DTM?
a. Menghapus semua titik pada point cloud
b. Mengelompokkan titik-titik yang merepresentasikan permukaan bumi
c. Menambahkan tekstur pada mesh
d. Mengatur skala peta
Jawaban: b. Mengelompokkan titik-titik yang merepresentasikan permukaan
bumi
Penjelasan: Halaman 81 menjelaskan bahwa klasifikasi ground points
mengelompokkan titik-titik yang merepresentasikan permukaan bumi untuk
pembuatan DTM.
Catatan untuk Pendidik
Konteks Nyata: Soal-soal menggunakan skenario seperti surveyor, operator
drone, dan proses pemetaan untuk menghubungkan materi dengan aplikasi
praktis.
Eksplorasi Makna dan Keterhubungan: Soal seperti nomor 5, 8, dan 12
mendorong pemahaman tentang konsep fotogrametri (kesegarisan, Bundle
Adjustment, orthorektifikasi) dan keterkaitannya dengan pemetaan.
Refleksi: Soal nomor 14 dan 15 mendorong refleksi tentang pentingnya
perencanaan area pemotretan dan jumlah GCP untuk akurasi pemetaan.
Pemahaman Orisinal: Pilihan jawaban dirancang untuk menguji analisis dan
penerapan konsep, seperti penggunaan RANSAC, klasifikasi ground points,
dan pengaturan jalur terbang, bukan sekadar hafalan.
NAMA 1 A B C D 26 A B C D
1 A B C D 26 A B C D 2 A B C D 27 A B C D
2 A B C D 27 A B C D 3 A B C D 28 A B C D
3 A B C D 28 A B C D 4 A B C D 29 A B C D
4 A B C D 29 A B C D 5 A B C D 30 A B C D
5 A B C D 30 A B C D 6 A B C D 31 A B C D
6 A B C D 31 A B C D 7 A B C D 32 A B C D
7 A B C D 32 A B C D 8 A B C D 33 A B C D
8 A B C D 33 A B C D 9 A B C D 34 A B C D
9 A B C D 34 A B C D 10 A B C D 35 A B C D
10 A B C D 35 A B C D 11 A B C D 36 A B C D
11 A B C D 36 A B C D 12 A B C D 37 A B C D
12 A B C D 37 A B C D 13 A B C D 38 A B C D
13 A B C D 38 A B C D 14 A B C D 39 A B C D
14 A B C D 39 A B C D 15 A B C D 40 A B C D
15 A B C D 40 A B C D 16 A B C D 41 A B C D
16 A B C D 41 A B C D 17 A B C D 42 A B C D
17 A B C D 42 A B C D 18 A B C D 43 A B C D
18 A B C D 43 A B C D 19 A B C D 44 A B C D
19 A B C D 44 A B C D 20 A B C D 45 A B C D
20 A B C D 45 A B C D 21 A B C D 46 A B C D
21 A B C D 46 A B C D 22 A B C D 47 A B C D
22 A B C D 47 A B C D 23 A B C D 48 A B C D
23 A B C D 48 A B C D 24 A B C D 49 A B C D
24 A B C D 49 A B C D 25 A B C D 50 A B C D
25 A B C D 50 A B C D
NAMA