0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan150 halaman

Pelatihan Dasar Mesin Diesel PT Intraco

Modul pelatihan Basic Engine Diesel di PT. Intraco Penta, Tbk bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang prinsip kerja mesin diesel dan kemampuan dalam merakit serta membongkar komponen mesin sesuai manual. Pelatihan ini berlangsung selama 4 hari dengan kapasitas 15-20 peserta dan menggunakan Engine Volvo D12C sebagai model. Peserta dinyatakan lulus jika kehadiran di atas 90% dan nilai akhir di atas 75 poin.

Diunggah oleh

Refiano Lokas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan150 halaman

Pelatihan Dasar Mesin Diesel PT Intraco

Modul pelatihan Basic Engine Diesel di PT. Intraco Penta, Tbk bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang prinsip kerja mesin diesel dan kemampuan dalam merakit serta membongkar komponen mesin sesuai manual. Pelatihan ini berlangsung selama 4 hari dengan kapasitas 15-20 peserta dan menggunakan Engine Volvo D12C sebagai model. Peserta dinyatakan lulus jika kehadiran di atas 90% dan nilai akhir di atas 75 poin.

Diunggah oleh

Refiano Lokas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BASIC MECHANIC COURSE

BASIC ENGINE DIESEL


BMC-BED01-01-10-0902

TECHNICAL TRAINING DEPARTMENT


TRAINING CENTER DIVISION
PT. INTRACO PENTA, TBK
JL. RAYA CAKUNG-CILINCING, KM. 3,5 JAKARTA UTARA
1
Page

[Link]

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Deskripsi Modul

Judul
Basic Engine Diesel

Training
Training Basic Mechanic Course yang dikelola oleh Departemen Technical Training Center
Division PT. Intraco Penta, Tbk

Tujuan Modul
Peserta training dapat memahami prinsip kerja engine diesel dan dapat melakukan
assembly dan disassembly komponen engine diesel sesuai manual book

Prasyarat pelatihan
Peserta telah mengikuti training dan memahami safety dan machine familiriazation

Kapasitas Peserta
Modul ini digunakan untuk pelatihan dengan kapasitas peserta 15 – 20 orang

Durasi
Lama waktu pelatihan 4 hari selama 8 jam per hari

Fasilitas pendukung
Materi ini disusun dengan acuan Engine Volvo D12C sebagai model contoh yang akan
diuraikan, dan materi yang terdapat pada Service manual atau materi training produk-
produk yang diageni oleh PT. Intraco Penta, Tbk.

Kriteria kelulusan
Peserta dapat dinyatakan telah lulus dalam training Basic Engine Diesel, bila kehadiran
peserta diatas 90% dan dalam pelatihan mendapatkan nilai rata-rata akhir (post test dan
praktek) diatas 75 point. Kelulusan peserta dapat dijadikan standar penilaian prestasi
kerja peserta yang berlaku di lingkungan PT. Intraco Penta, Tbk 2
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Pengantar
Materi Basic Hydraulic merupakan materi yang menjadi salah satu dasar bagi orang yang
berkecimpung dalam dunia Alat berat, karena hydraulic menjadi komponen yang penting dalam
menggerakkan fungsi attachment dan system mekanik dalam suatu unit alat berat. Materi yang
telah disusun ini merupakan panduan dan pegangan bagi mekanik yang akan menangani hidraulik
dalam pekerjaannya.
Penjelasan yang diberikan dalam materi ini disusun secara ringkas dan disertakan
dengan ilustrasi yang dapat membantu pemahaman peserta training. Peserta dapat memberikan
pertanyaan bila ada hal hal yang belum jelas dan dimengerti kepada Instruktur PT. Intraco Penta,
Tbk.
Dalam setiap kegiatan belajar instruktur berperan untuk:
 Memberikan arahan dan membimbing peserta untuk mencapai tujuan training yang telah
ditentukan di setiap pokok pembahasan modul ini.
 Membantu peserta dalam memahami konsep serta pembahasan baik teori maupun
praktik.
 Membantu peserta untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang
diperlukan untuk menambah dan memperkaya wawasan peserta training yang terkait
dengan materi dalam modul ini.
 Memberikan motivasi dan semangat peserta untuk menindaklanjuti hasil belajar yang
didapatkan setelah training ini berjalan.
Sedangkan untuk memperoleh hasil Training secara maksimal dalam mempelajari
materi modul ini, maka kepada peserta diharapkan untuk:
 Bacalah modul yang telah disusun ini secara seksama dan pahami pokok-pokok materi
yang menjadi penekanan dalam kesimpulan setiap materinya. Bila menemukan hal yang
kurang jelas atau membutuhkan penjelasan lebih lanjut kepada instruktur yang
menyampaikan materi training ini.
 Latihlah pemahaman anda dengan pengerjaan soal yang diberikan dalam materi training
ini sebagai bahan anda dalam menghadapi pre test dan post test dalam proses training
yang berlangsung.
 Jika belum menguasai tingkat materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar
sebelumnya atau bertanyalah kepada instruktur yang mengampu kegiatan pembelajaran
ini.
 Berikan umpan balik anda kepada penyusun modul ini bila menemukan kekurangan
dalam materi training yang telah diberikan, sebagai bahan untuk penyempurnaan modul
training ini di masa yang akan datang.
Materi yang kami susun ini masih jauh dari kesempurnaan maka segala masukan untuk
penyempurnaan modul ini di masa yang akan datang akan sangat kami harapkan, atas perhatian
dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.
Jakarta, 27 Agustus 2012
Program Developer Technical Training Center
PT. Intraco Penta
3
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Materi 1
Sejarah Dan Perkembangan Engine Diesel
Setelah mendapatkan materi ini, peserta mampu untuk menyebutkan serta menjelaskan
sejarah penemuan engine dan perkembangan engine diesel

1.1 SEJARAH PENEMUAN ENGINE

1. Pada tahun 1824, insinyur muda dari perancis Sadi


Carnot mengembangkan motor diesel
perbandingan kompresi udara murni yang
dimampatkan tersebut dengan perbandingan 15:1
yang menghasilkan udara yang panas untuk
menyalakan kayu kering.
Gambar 1 . Otto Langen 4 stroke engine
2. Pada tahun 1875, dua orang Jerman mempatenkan
engine pembakaran dalam (internal combustion)
pertama N.A. Otto dan E. Langen yaitu engine 4
langkah dengan bahan bakar gas lalu digantikan
dengan bensin.

3. Pada tahun 1892, Dr. Rudolf Diesel membuat


motor penyalaan kompresi berbahan bakar serbuk Gambar 2. Rudolf Diesel
batu bara menggunakan prinsip penyalaan bahan
bakar udara. Idealnya membuat engine yang
menggunakan bahan bakar lebih murah. Awalnya
dengan abu batu bara, namun kemudian beralih
pada bahan bakar cair.

4. Pada tahun 1927 ditemukan sistem pompa injeksi


oleh Robert Bosch yang beratnya ringan dan
governor yang menyatu (built-in) sehingga tidak ada Gambar 3. Engine Robert Bosch 1927
lagi sistem pengabutan udara yang memakan
banyak tempat untuk kompressor, pipa-pipa dan
pengontrol katup.

5. Engine untuk kendaraan dikenalkan pertama


kalinya sekitar tahun 1920-an. Mulanya
diperkenalkan oleh Benz pada 1922 yang
mempunyai 2 buah cylinder yang hanya
menghasilkan 22 Kw atau sekitar 30 Horse Power
Gambar 4. Engine Benz 1922
4
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
1.2 PERKEMBANGAN ENGINE DIESEL

Engine untuk alat berat pertama kali digunakan pada truck dan tractor
seperti yang tampak di bawah ini dibuat oleh Daimler-Benz pada tahun 1923.

Gambar 5. Engine alat berat traktor tahun 1923

Engine diesel yang pertama kali diluncurkan oleh volvo truck pada tahun
1946 mempunyai 6 silinder dan menghasilkan 71 Kilowatt (96 Horse Power) yang
diberi nama VDA (Volvo Diesel engine type A). Beberapa dekade selanjutnya sekitar
1933 volvo truck membuat desain engine yang sama dengan diesel engine. Engine
tersebut diberi nama Hessemen Engine dan berbahan bakar yang sama dengan
diesel engine tetapi menggunakan electrical ignition system. Engine Hessemen ini
sering disebut sebagai “semi-diesel’ engine. Volvo construction equipment
meluncurkan diesel engine tersebut pada tahun 1954, volvo penta meluncurkan
engine diesel pada tahun 1958 yang diberi nama MD1.
Generasi terdahulu telah bekerja keras mengembangkan engine diesel agar
lebih baik lagi dan hasilnya dapat kita lihat sperti pada engine VDA hampir sama
dengan engine pada umumnya saat ini. Hal sederhana dalam membandingkan
engine dapat dilihat dari tenaganya, contohnya engine VDA yang mempunyai
volume displacement 6,12 liter dan menghasilkan 71 Kw. Untuk engine saat ini
engine dibuat lebih kecil tetapi dengan menggunakan turbocharger dan intercoolar
menghasilkan tenaga lebih dari 150 Kw.

Gambar 6. Engine volvo terbaru


5
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Materi 2
Klasifikasi Engine
Objective-Setelah mendapatkan materi ini, peserta mampu mengidentifikasi,
membedakan dan menjelaskan klasifiksai engine

2.1 JENIS-JENIS ENGINE

Engine adalah suatu alat untuk merubah energi panas (heat energy) menjadi
energi gerak (mechanical energy) melalui proses pembakaran (combustion process).
Combustion engine (motor bakar) dapat dibedakan menjadi internal combustion
engine (motor bakar pembakaran dalam) dan external combustion engine (motor
bakar pembakaran dalam).

ENGINE

INTERNAL COMBUSTION EXTERNAL COMBUSTION

TURBINE RECIPROCATING ROTARY TURBINE PISTON


(Piston) (Wangkel)

GAS STEAM STEAM


DIESEL GASOLINE
TURBINE TURBINE MACHINE

2 4 STORKE 2 STROKE 4 STORKE


STROKE
Gambar 7. Jenis-jenis engine

Internal combustion engine merubah energi panas yang dibangkitkan dari


hasil pembakaran fuel menjadi energi mekanik yang langsung berhubungan dengan
pistonnya. Reciprocating engine adalah suatu alat yang digunakan untuk merubah
gerakan reciprocal (bolak-balik) menjadi gerakan rotational (putaran) dengan
menggunakan crank pada alat yang mempunyai bentuk prominence dan
deppression.
6
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
2.2 TIPE-TIPE ENGINE

Tipe-tipe engine berdasarkan susunan silinder :


1. In-line type engine
 Tipe engine yang masing-masing silinder
ditempatkan segaris, straight engine atau tipe
sejajar, dan biasanya memiliki 4 hingga 6
silinder.
 Kelemahan dimensinya makin panjang dan
butuh ruang mesin yang besar. Gerak kerjanya
makin berat. Gambar 8. In-line engine
 Keuntungannya perawatan mudah, biaya
murah, Konstruksinya sederhana

2. V-type engine
 Tipe engine yang dua baris membentuk sudut
satu sama lain.
 Desain ini banyak digunakan pada engine-
engine besar, ukuran silinder banyak menjadi
kompak. Bobot lebih ringan, output tenaga
lebih besar, dapat dicapai titik optimumnya di
putaran lebih rendah. Lebih halus Gambar 9. V- engine
 Kerugian mesin V perawatannya relative sulit,
biaya tinggi, dan membutuhkan mekanik ahli
dan trampil.

3. W-type engine
 Tipe dengan sebaris silinder diantara silinder
baris kiri dan kanannya.
 Konstruksi rumit, jumlah komponen berlipat- Gambar 10. W- engine
lipat dan digunakan untuk mesin-mesin
silinder ekstra banyak.
 Keuntungan dari mesin berkonfigurasi ini
adalah ringkas, meskipun jumlah silindernya
banyak, tapi dimensinya cukup kompak.
Centre of Gravity membantu kestabilan
mobilnya.

4. Horizontally-opposed type engine


Gambar 11. Horizontal-engine
 Tipe yang silinder-silinder disusun dalam dua
baris dan ditempatkan secara horizontal
7

berlawanan.
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
 Membutuhkan ruang yang relatif lebih
rendah. Output Tenaga lebih besar karena
gerak piston ke samping

5. Rotary type engine


 Tipe dengan rotor berbentuk segitiga yang
berputar di dalam silinder yang berbentuk
oval.
 Keuntungan bobotnya yang relatif lebih ringan
dan hanya membutuhkan sedikit komponen
bergerak.
 Kerugian adanya keausan dan kemampuan
menjaga kerapatan absolut antara piston
dengan dinding silinder yang sulit.
 Tidak menggunakan piston, silinder, katup,
bahkan camshaft. Mesin ini lebih responsif Gambar 12. Rotary engine
karena drive shaft langsung terhubung pada
rotor yang bekerja menghasilkan output
mesin.
 Sangat irit ruang karena bentuk kompaknya.

2.3 PERBEDAAN DIESEL ENGINE DAN GASOLINE ENGINE

1. Diesel Engine
Udara yang terhisap ke dalam ruang bakar dikompresi sehingga mencapai
tekanan dan temperatur yang tinggi. Bahan bakar (fuel) diinjeksikan dan
dikabutkan ke dalam ruang bakar sehingga terjadi pembakaran. Umumnya diesel
engine mempunyai compression ratio 13:1 sampai 20:1.
Keuntungan Diesel Engine :
1. Biaya pengoperasian lebih ekonomis, karena harga bahan bakar lebih murah.
2. Thermal efficiency tinggi (motor bensin adalah 20-30% dan motor diesel adalah
30–35%).
3. Bahaya kebakaran lebih rendah karena titik nyala (flashing point) fuel relative
lebih tinggi.
4. Tidak membutuhkan sistem penyalaan (ignition device) dan carburator.
5. Dapat menghasilkan tenaga yang besar pada putaran rendah.
Kerugian Diesel Engine :
1. Output horse power lebih tinggi.
2. Getaran selama operasi lebih besar dan suara lebih berisik (noise) lebih besar.
3. Start lebih sulit.
4. Biaya pembuatan (manufacturing) lebih tinggi.
8
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
2. Gasoline Engine
Karburator sebagai tempat pencampuran udara dan bahan bakar.
Campuran udara dan bahan bakar dihisap ke dalam ruang bakar dan
dikompresikan hingga mencapai tekanan dan temperatur tertentu. Pada akhir
langkah kompresi, busi memercikkan api sehingga terjadi pembakaran. Motor
bensin mempunyai compression ratio 8:1 sampai 11:1.

9
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
2.4 PRINSIP ENGINE 2 LANGKAH DAN 4 LANGKAH

 Prinsip dan Langkah kerja untuk engine 4 stroke


1. Langkah hisap (intake stroke)

Gambar 13. Langkah isap

Piston bergerak dari Titik Mati Atas (TMA) ke Titik Mati Bawah
(TMB). Intake valve terbuka dan exhaust valve tertutup, udara murni masuk
ke dalam silinder melalui intake valve.

2. Langkah kompresi (Compression stroke)

Gambar 14. Langkah kompresi

Udara yang berada di dalam silinder dimampatkan oleh piston yang


bergerak dari Titik MatiBawah (TMB) ke Titik Mati Atas (TMA), dimana
kedua valve intake dan exhaust tertutup. Selama langkah ini tekanan naik
30-40 kg/cm2 dan temperatur udara naik 400-5000C.
10
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
3. Langkah Kerja (power stroke)

Gambar 15. Langkah power

Pada langkah ini, intake valve dan exhaust valve masih dalam
keadaan tertutup, partikel-partikel bahan bakar yang disemprotkan oleh
nozzle akan bercampur dengan udara yang mempunyai tekanan dan suhu
tinggi, sehingga terjadilah pembakaran yang menghasilkan power/tenaga.
Akibat dari pembakaran tersebut, tekanan naik menjadi 80-110 kg/cm2 dan
temperatur naik menjadi 600-900 0C.

4. Langkah buang (exhaust stroke)

Gambar 16. Langkah buang

Exhaust valve mulai sesaat sebelum piston mencapai titik mati


bawah sehingga gas pembakaran mulai keluar. Piston bergerak dari TMB ke
TMA mendorong gas buang keluar seluruhnya.

Kesimpulan : Empat kali langkah piston atau dua kali putaran crank shaft,
menghasilkan satu kali pembakaran.
11
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
 Prinsip Kerja Engine 2 Langkah
1. Langkah piston ke atas ( Upward stroke )
Piston bergerak ke atas dari TMB menuju TMA,
campuran udara dan bahan bakar masih
mengalir ke dalam silinder melalui saluran (
scavenging passage ). Sebaliknya gas hasil
pembakaran secara terus menerus dikeluarkan
sampai lubang exhaust tertutup. Saat lubang
exhaust ditutup oleh gerakan piston yang
menuju TMA, campuran udara dan bahan
bakarditekan, sehingga tekanan dan
temperaturnya naik. Pada saat itu, lubang
intake terbuka pada akhir langkah kompresi
sehingga udara segar terhisap masuk ke dalam
Gambar 17. Upward stroke
crank case.

2. Langkah piston ke bawah ( Downward stroke )


Campuran udara dan bahan bakar yang
dimampatkan diberi percikan bunga api dari
busi yang menyebakan terjadinya pembakaran
sehingga tekanan dan temperatur diruang
bakarnaik. Dan piston terdorong kearah titik
mati [Link] akhir langkah piston, lubang
exhaust terbuka dan gas hasil pembakaran
mulai keluar, kemudian campuran bahan
bakardan udara yang berada di crankcase
masuk ke dalam silinder.

Kesimpulan : Dua kali langkah piston atau satu


kali putaran crank shaft, menghasilkan satu kali
Gambar 18. Downward stroke
pembakaran.

2.5 PRINSIP ENGINE DIESEL 2 LANGKAH DAN 4 LANGKAH

A. Diesel Engine 2 Stroke


12
Page

Gambar 19. Siklus engine 2 langkah

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
1. Intake & Exhaust stroke
Saluran udara masuk terbuka, Exhaust valve membuka, Udara bersih
ditiupkan masuk, Gas bekas terdorong keluar
2. Compression stroke
Exhaust valve menutup, Piston bergerak naik, Saluran udara masuk tertutup,
Udara dimampatkan timbul panas, Beberapa derajat sebelum TMA Bahan
bakar, disemprotkanPembakaran mulai terjadi
3. Power/ Stroke
Exhaust valve & saluran udara masuk tertutup, Pembakaran total / ledakan
terjadiPiston didorong turun, Tenaga disalurkan melalui Conrod ke crankshaft.

B. Diesel Engine 4 stroke


Model yang banyak digunakan pada mobil, truk, bus dan alat berat adalah
engine empat langkah.

Langkah 1. Pemasukan ( intake stroke )


Saat piston mulai bergerak turun, katup masuk ( intake
valve) membuka dan udara terhisap masuk ke dalam
[Link] langkah ini piston bergerak dari titik mati atas
menuju titik mati [Link] hisap terbuka sehingga
akibat kevakuman yang terjadi dari ekspansi volume pada
ruang bakar maka udara yang sudah disaring dari luar
dapat masuk ke dalam ruang bakar melalui katup hisap
(inlet) yang terbuka. Pada motor bakar yang dilengkapi
dengan turbocharger maka udara yang masuk ke ruang
bakar akan lebih banyak lagi dikarenakan adanya dorongan
Gambar 20. Intake Stroke dari sisi tekan impeller wheel pada turbocharger.
Penggunaan turobcharger meningkatkan output tenaga
engine.

Langkah 2. Kompresi ( compression stroke )


Piston bergerak ke atas dan kedua katup dalam keadaan
tertutup. Tekanan dan suhu udara meningkat. Pada akhir
langkah kompresi, suhu udara mencapi 12920 F ( 7000 C )
dan tekanannya mencapai 400 psi (28,12 kgf/cm2). Bahan
bakar diinjeksikan segera sebelum piston mencapai titik
teratasnya. Setelah piston mencapai titik mati bawah maka
arah piston akan berbalik menuju kembali ke titik mati
atas, hanya saja pada langkah ini tidak ada katup yang
membuka. Sebagai akibat dari mengecilnya volume ruang
13

bakar maka udara yang ada di dalam ruang bakar menjadi


Page

terkompresi. Dengan kompresi rasio yang berkisar antara


Gambar 21. Compression stroke 19 : 1 sampai 23 : 1 maka pengkompresian udara pada

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
ruang bakar akan menghasilkan panas kompresi (heat
compression) yang tinggi (kurang lebih berkisar 1000 oF).
Beberapa derajat sebelum piston mencapai titik mati atas
bahan bakar solar di-injeksikan melalui nozle ke dalam
ruang bakar, penginjeksiannya harus menggunakan
tekanan yang tinggi sehingga solar yang di semprotkan ke
dalam ruang bakar berubah menjadi butiran-butiran cairan
solar yang sangat halus seperti [Link] saat solar
disemprotkan maka campuran antara solar dan udara di
dalam ruang bakar mulai terbakar akibat terkena panas
yang dihasilkan oleh heat compression.

Langkah 3. Tenaga/Pembakaran ( combustion stroke )


Udara yang telah memiliki suhu yang tinggi akan
menyalakan bahan bakar dan tekanan yang terbangkit
akibat pembakaran akan mendorong piston ke bawah.
Proses pembakaran campuran solar dan udara terus
berlangsung sampai piston mencapai titik mati atas dan
selanjutnya kembali berubah arah kembali menuju titik
mati bawah. Beberapa derajat (+ 10o) setelah melewati
titik mati atas maka pembakaran yang terjadi telah
sempurna sehingga dihasilkan ledakan yang tekanan
ekspansinya memaksa piston untuk terus bergerak menuju
titik mati [Link] saat terjadinya pembakaran, suhu
Gambar 22. Combustion stroke mencapai 40000F (2.204,440C) dan dengan tekanan
sebesar 1450 psi (1.019.450,85 kgf/cm2)

Langkah 4. Buang ( exhaust stroke )


Segera sebelum piston mencapai titik terendah ( TMB ),
katup buang (exhaust valve) membuka. Saat piston
bergerak naik kembali, gas sisa pembakaran didorong
keluar lewat [Link] ini akan kembali berulang
kembali ke intake stroke dan siklus kerja kembali dimulai.
Setelah energi ledakan panas pada langkah power telah
berubah bentuk menjadi energi mekanis maka sisa proses
pembakaran yang ada harus dibuang. Proses ini terjadi
ketika piston bergerak dari titik mati bawah menuju titik
mati atas dengan kondisi katup buang membuka. Gas sisa
hasil pembakaran di dorong keluar oleh piston melalui
katup buang. Selanjutnya melalui mufler gas tersebut akan
dilepas ke atmosfir. Kecuali untuk motor bakar diesel yang
Gambar 23. Exhaust stroke
diperlengkapi dengan turbocharger maka sebelum masuk
14

ke dalam mufler gas tersebut masih dimanfaatkan untuk


memutarkan sudu- sudu turbin pada turbin wheel.
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Tabel Keuntungan dan Kerugian 4 Stroke dan 2 Stroke
Tipe Engine Keuntungan Kerugian
4 Stroke 1. Efisiensi kompresi lebih baik Ukuran dan berat lebih besar dan
2. Pembakaran lebih sempurna, Harga lebih mahal.
sehingga lebih ramah lingkungan
3. Umur komponen lebih panjang
4. Pemakaian bahan bakar lebih
hemat
5. Gas buang lebih bersih
6. Tidak berisik
7. Tidak perlu tenaga terbuang
untuk blower
8. Penggunaan fuel lebih ekonomis,
karena bahan bakar terbakar
lebih sempurna.
9. Tekanan kompresi lebih tinggi.
10. Efisiensi engine (ratio fuel
comsumption per output) lebih
tinggi.
2 Stroke 1. Bentuk lebih compact, lebih 1. Pembakaran tidak sempurna.
ringan/HP Karena tidak menggunakan
2. Percepatannya lebih cepat mekanisme valve maka gas
3. Biaya awalnya rendah hasil pembakaran tidak
4. Ukuran dan berat lebih kecil terbuang seluruhnya dan
5. Dapat menghasilkan tenaga yang menyebabkan pembakaran
lebih besar tidak sempurna
6. Harga lebih rendah karena tidak 2. Penggunaan fuel tidak
menggunakan valve dan struktur ekonomis karena sebagian
yang lebih sederhana campuran bahan bakar dan
7. Putaran lebih halus karena udara ikut keluar bersama
ukuran flywheel lebih kecil dengan gas buang (saat proses
exhaust)
3. Tidak dapat menaikkan tekanan
kompresi karena waktu untuk
langkah intake singkat sehingga
jumlah campuran yang masuk
sedikit
4. Efisiensi engine (ratio fuel
comsumption per output) lebih
rendah dibandingkan engine 4
langkah
5. Crank case harus rapat tidak
15

boleh ada kebocoran udara.


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Materi 3
Prinsip Kerja Engine Diesel
Setelah mendapatkan materi ini, peserta mampu untuk menjelaskan prinsip kerja dari
engine diesel

3.1 PRINSIP KERJA ENGINE DIESEL

Ada tiga faktor yang diperlukan untuk menghasilkan suatu pembakaran dalam
cylinder diperlukan,
1. Panas.
2. Bahan bakar.
3. Zat asam (oksigen atau O 2) yang diperoleh dari udara.

Panas  Udara  Bahan Bakar  Pembakaran

Udara dan bahan bakar yang dipanaskan akan menghasilkan pembakaran,


sehingga menghasilkan gaya yang diperlukan untuk memutarkan engine. Udara yang
mengandung bahan Oksigen diperlukan untuk membakar bahan bakar. Sementara
bahan bakar menghasilkan gaya. Ketika bahan bakar dikabutkan di ruang bakar maka
bahan bakar akan sangat mudah untuk dinyalakan dan akan terbakar dengan effisien.
Pembakaran dapat terjadi ketika campuran bahan bakar dan udara dikompresikan
sampai dihasilkan panas yang cukup (+ 1000oF) sehingga dapat menyala tanpa
bantuan percikan bunga api.
Selanjutnya dari ketiga faktor yang sudah disebutkan di atas maka terdapat
tiga faktor lagi yang mengontrol hasil pembakaran:
1. Volume udara yang dikompresikan. Makin banyak udara yang dikompresikan
maka makin tinggi temperatur yang dihasilkan. Apabila jumlah udara yang
dikompresikan mencukupi maka akan dihasilkan panas yang temperaturnya di
atas temperatur penyalaan bahan bakar.
2. Jenis bahan bakar yang dipergunakan jenis bahan bakar mempengaruhi karena
bahan bakar yang jenisnya berbeda akan terbakar pada temperatur yang
berbeda pula. Selain itu effesiensi pembakarannyapun juga berlainan.
3. Jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke ruang bakar. Jumlah bahan bakar yang
diinjeksikan juga dapat mengontrol hasil pembakaran. Makin banyak bahan
bakar diinjeksikan akan makin besar gaya yang dihasilkan.
Ada beberapa cara untuk menghasilkan pembakaran di engine. Pada engine
diesel, udara dikompresikan pada tekanan yang sangat tinggi. Udara menjadi
sangat panas hingga dapat menyalakan sendiri bahan [Link] engine diesel,
udara dan bahan bakar masuk ke dalam silnder secara [Link] engine bensin
pada umumnya, udara dan bahan bakar dicampur di dalam karburator dan
16

campuran udara dan bahan bakar tersebut dinyalakan oleh percikan bunga api
listrik. Banyak engine bensin model baru saat ini yang menggunakan injeksi bahan
Page

bakar, namun tetap membutuhkan percikan bunga api listrik, karena udara yang

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
terkompresi tidak mencapai suhu ‘penyalaan sendiri’( karena tekanan kompresi yang
rendah).
Pada motor diesel, Panas yang diperlukan untuk pembakaran diperoleh dari
panas kompresi +/- 1000 0F/538 0C, sehingga motor diesel tidak perlu dilengkapi
dengan busi (spark plug) untuk penyalaan.
Tingginya panas yang dihasilkan dari kompresi ditentukan oleh:
1. Kerapatan inlet & exhaust valve pada kedudukannya.
2. Kerapatan dari piston & piston ring dengan linernya.
3. Perbandingan kompresi yaitu perbandingan volume ruang bakar pada waktu
piston berada pada TMB (BDC) dan pada waktu berada di TMA (TDC).
4. Suhu udara yang akan dimampatkan.

Gambar 24. Proses Perpindahan Daya

Bahan bakar disemprotkan diruang bakar dalam bentuk partikel halus


(atomisasi) dan pada suhu yang tinggi & waktu yang tepat agar mudah terbakar &
terbakar seluruhnya untuk menghasilkan tenaga yang maksimum. Jumlah udara atau
zat asam / oksigen / O2 yang masuk ke ruang bakar akan menentukan jumlah bahan
bakar yang dapat terbakar. Pembakaran dari bahan bakar akan menghasilkan gaya
yang besar untuk mendorong piston bergerak turun. Pengerakan turun dari piston
disalurkan ke poros engkol (crankshaft) menjadi gerakan putar yang dapat digunakan
untuk menggerakkan (memutar) jalur penggerak-pengerak kendaraan (vehicle drive
line)
17

Gambar 25. Pergerakkan piston pada crankshaft

Pada engine diesel piston-piston bergerak di dalam silinder yang


Page

[Link] dan bahan bakar masuk ke dalam silnder dan dikompresikan ntuk

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
menghasilkan [Link] yang dihasilkan oleh kompresi akan menyalakan
bahan bakar. Perbandingan kompresi pada engine diesel jauh lebih besar dibanding
engine bensin.
Kecepatan atau RPM, pada engine diesel diatur oleh jumlah bahan bakar
yang diinjeksikan, Karena membutuhkan tekanan yang tinggi, dibutuhkan kerapatan
yang tinggi pada engine. Tekanan yang tinggi menghasilkan sejumlah besar
ketegangan mekanis pada engine. Tingkat kompresi yang tinggi juga berarti
pengoptimalisasian bahan bakar yang tinggi. Akibatnya, engine diesel memiliki
efisiensi yang lebih tinggi dibanding engine bensin.
Pergerakan piston yang diubah menjadi gerak putar dengan bantuan
connecting rod dan crankshaft. Gaya yang mendesak piston melalui proses
pembakaran yang kemudian ditransfer ke crankshaft. Dan gaya yang ditransfer itulah
yang digunakan untuk mendorong kendaraan.
Tenaga engine kemudian ditransfer dari crankshaft melalui transmisi dan
drive shaft menuju roda [Link] dan transmisi bersama-sama sering
dihubungkan sebagai single unit yang dikenal sebagai “drive line” nya kendaraan.

Gambar 26. Drive line enginne

Motor starter memutar flywheel dan crankshaft saat gigi-giginya terhubung.


Piston didorong dan ditarik oleh connecting rod hingga bergerak naik turun dan
menyebabkan terkompresinya udara. Saat piston mendekati posisi tertingginya,
bahan bakar diinjeksikan ke dalam ruang bakar oleh injection pump melalui injector,
yang kemudian menyala. Saat pembakaran terjadi di silinder (1), tekanan meningkat
dan menekan piston (2) ke bawah kembali. Gerakan ke arah bawah ini diteruskan ke
crankshaft (3) melalui connecting rod (4). Saat crankshaft mulai berputar, flywheel
18

(5) akan terbawa berputar bersamanya.


Tenaga yang meningkat akibat pembakaran kemudian diteruskan menuju
Page

torque converter, power transmission dan menuju axle untuk memutar roda-roda.

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Saat crankshaft berputar, camshaft (6) akan ikut berputar dengan bantuan timing
gear (7). Camshaft kemudian menekan valve lifter (8) dan push rod (9) hingga
rocker arm (10) membuka exhaust valve (katup buang)(11). Gas buang hasil
pembakaran kemudian disalurkan dari silinder melalui exhaust valve. Saat piston
bergerak turun kembali, katup buang menutup, saat berikutnya mekanisme katup
akan membuka inlet valve hingga memungkinkan udara segar kembali masuk ke
dalam silinder.

19
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Materi 4
Perhitungan Engine Diesel
Setelah mendapatkan materi ini, peserta mampu untuk menjelaskan piston displacement,
perbandingan kompresi, firing order dan table sequence

4.1 DISPLACEMENT /VOLUME LANGKAH TORAK (DP)

Gambar 27. Displacement / Volume Langkah Torak

TDC = Top Dead Center /titik mati atas, posisi paling atas dari gerakan piston.
BDC = Bottom Dead Center/titik mati bawah, posisi paling bawah dari gerakan
piston.
BA = Bore Area, luas penampang permukaan diameter liner
S = Stroke, panjang langkah piston dari titik mati atas ke titik mati bawah
TV = Total Volume, volume total ruang bakar yaitu volume langkah + volume
kompresi
CV = Compresson Volume, volume ruangan yang berada diatas piston pada saat
piston mencapai titik mati atas

Displacement(Dp) = Bore Area (luas penampang) X Stroke (untuk 1 silinder)

= Luas Alas x Tinggi x Jumlah Silinder

( ) ( )

4.2 PERBANDINGAN KOMPRESI ( COMPRESSION RATIO / CR )


20

Perbandingan kompresi adalah perbandingan antara volume silinder ketika


piston berada di TMB dengan volume silinder ketika piston berada di TMA.
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Compression ratio : Total volume (BDC)/compression volume (TDC).
( ) ( )
( )

Latihan 1
Data sebuah engine diesel, ada 6 silinder dengan masing-masing diameter silinder 144
mm dan langkah toraknya 165 mm, dan volume ruang bakarnya 1 liter.
a. Berapakah volume total displacement silindernya (dalam liter)?
b. Berapakah perbandingan rationya ?

Jawab :

1. Mengitung volume total displacement


Dari soal diketahui
Diameter silinder = 144 mm
Langkah torak = 165 mm
Jumlah silinder = 6 silinder

( ) ( )

2. Menghitung Perbandingan ratio kompresi


Dari perhitungan diatas,
Displacement total nya adalah 16 liter
Volume Ruang bakarnya 1 liter, berarti :

( ) ( )
( )

Sehingga, perbandingan rasio kompresinya adalah 17 : 1

4.3 FIRING ORDER


21

Firing Order adalah urutan pembakaran yang terjadi pada engine yang
mempunyai jumlah silinder lebih dari 1 ( satu ). Dalam engine enam silinder, engine
Page

Volvo seperti D1, D16F dan sebagainya, Firing ordernya (Ignition Order) adalah 1-5-3-

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6-2-4, dengan penghitungan silinder satu adalah yang terjauh dari flywheel. Putaran
engine arahnya berlawanan dengan arah jarum jam, jika dilihat dari flywheel.
Contoh : Engine dengan 6 silinder, mempunyai firing order ( F.O ) = 1-5-3-6-2-
4, maka proses pembakaran dimulai dari silinder 1, dilanjutkan silinder 5, Silinder 3,
silinder 6, silinder 2 dan silinder 4. Tujuannya adalah untuk meratakan hasil power,
agar gaya yang ditimbulkan oleh piston seimbang (balance). Pada saat kompresi,
maupun pembakaran, tidak menimbulkan puntiran pada getaran yang [Link]
order tersebut dua putaran penuh crankshaft untuk semua silinder lengkap dalam
satu langkah kerja.

4.4 TABLE SQUENCE

Tabel Squence Adalah suatu tabel yang menyatakan urutan langkah dan
urutan pembakaran yang terjadi pada engine, baik engine dengan satu silinder atau
[Link] engine Volvo seperti D1, D16F dan sebagainya, Firing ordernya (Ignition
Order) adalah 1-5-3-6-2-4, dengan penghitungan silinder satu yang terjauh dari
flywheel. Putaran engine arahnya berlawanan dengan arah jarum jam, jika dilihat
dari flywheel.

Gambar 28. Firing Order dan sudut crankshaft

22
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
4.5 ENGINE PERFORMANCE CURVE

Gambar 29. Kurva Karakteristik Torsi dan HP vs RPM

Keterangan:
TR = TorqueRise HC = HorsepowerCurve
Hp = HorsePower PT = Peak Torque
TC = TorqueCurve RT = Rated Torque
 Torque rise adalah penambahan torque yang terjadi pada saat engine lugged yaitu
dimana rpm engine turun dari rpm operasi. Dalam hal ini kenaikan torque akan
terjadi sampai pada penurunan RPM tertentu tercapai, setelah itu torque akan
turun dengan cepat. Pada saat torque mencapai harga tertinggi itulah disebut
Peak Torque.
 Horsepower: Horsepower adalah satuan tenaga yang dihasilkan oleh engine per
satuan waktu atau kemampuan melakukan kerja.

23

Gambar 30. Perhitungan Engine Torque


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
 Force/gaya adalah dorongan atau tarikan yang menggerakkan, menghentikan
atau merubah gerakan suatu benda. Daya ditimbulkan oleh pembakaran pada saat
langkah kerja. Semakin besar gaya yang ditimbulkan semakin besar pula tenaga
yang dihasilkan. Tekanan adalah ukuran gaya yang terjadi setiap satuan luas.
Sewaktu siklus empat langkah berjalan maka tekanan terjadi di atas piston pada
saat langkah kompresi dan langkah tenaga. Crankshaft membuat torque menjadi
gaya di flywhell, torque converter atau bagian mekanis lainnya untuk berputar.
Torque menentukan kemampuan mengalami pembebebanan, torque juga
merupakan ukuran kapasitas pembebanan dari engine.

24
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Materi 5
Dampak Lingkungan dan Emisi Kendaraan Engine Diesel
Setelah mendapatkan materi ini, peserta dapat menyebutkan dampak lingkungan dan
standar emisi kendaraan engine Diesel

5.1 GAS EMISI

Polusi udara adalah salah satu jenis penyebab utama masalah kesehatan dan
lingkungan dunia global, khususnya bagi perkotaan dan area-area padat. Emisi
dihasilkan utamanya dari pembakaran bahan bakar fosil dan biologi serta diproduksi
utamanya melalui industri, produksi energi, transportasi dan perumahan.
Polusi udara paling penting itu terdiri dari:
1. Sulfur Oksida (SOx) dari kandungan sulfur dalam fuel, emisi engine
2. Carbon Monoksida (CO) dari pembakaran yang tidak efisien
3. Carbon Dioksida (CO2) dari pembakaran penyebab green house gas (gas rumah
kaca)
4. Bahan-bahan partikel dari emisi diesel engine
5. Nitrogen oksida (NOx) dari emisi diesel engine
6. Hidrokarbon (HC) dari pembakaran yang tidak efisien

1. Carbon dioksida (CO2 )


Carbon dioksida tidak beracun, tetapi berkontribusi bagi efek rumah kaca,
juga penyebab dari pemanasan global (global warming). Bumi menjadi panas
ketika radiasi panas diperangkap oleh gas rumah kaca dalam atmosfer. Carbon
dioksida adalah salah satu bagian paling penting dari gas rumah kaca. Engine
diesel berisi hidrokarbon dan selama pembakaran menghasilkan carbon
dioksida. Jumlah gas CO2 yang dibuang dari engine diesel secara langsung
dikaitkan dengan seberapa banyak fuel itu dikomsumsi.

2. Hydrocarbon (HC)
Sebagian besar kendaraan dan engine digerakkan melalui hidrokarbon
yang menjadi dasar dari bahan bakar seperti bensin dan solar. Hasil polusi
hidrokarbon ketika tidak terbakar atau sebagian bahan bakar yang dibakar
diemisi dari engine sebagai exhaust dan juga ketika fuel menguap langsung ke
atmosfer. HC bisa berbentuk gas, partikel yang kecil, atau tetesan, yang datang
dari sebagian besar jenis industri dan proses alam. Dalam daerah urban
perkotaan tertentu, banyak berasal dari mobil, bus, truk, kendaraan konstruksi
dan kapal boat. Hidrokarbon didalamnya banyak senyawa racun (toxic) yang
menyebabkan kanker dan berefek kesehatan yang merugikan.
25

3. Nitrogen Oksida (NOx)


Nitrogen oksida (NOx) merupakan nama kolektif dari Nitrogen Moniksida
Page

(NO) dan Nitrogen Dioksida (NO2). Nitrogen dioksida berkontribusi ke sejumlah

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
isu lingkungan yang berbeda. Ini termasuk bentuk ozon tropospheric ozone dan
pengasaman tanah dan air. Nitrogen oksida juga menimbulkan penyakit ketika
dihirup dan bila dalam konsenstrasi tinggi yang menyebabkan kerusakan sistem
pernafasan. Dalam daerah dengan kendaraan bermotornya banyak, seperti di
kota besar, jumlah nitrogen dioksida yang dibuang ke atmosfer sangat signifikan.

Gambar 31. Prosentase jumlah polusi udara yang dihasilkan dari emisi gas buang

Nitrogen oksida dibentuk selama seluruh pembakaran saat udara itu ada.
Efisiensi tertinggi diesel engine yang diterima melalui tekanan tinggi, suhu tinggi
dan kelebihan udara selama pembakaran, demikian pula ketika jangkauan suhu
pembakaran yang tinggi cukup untuk membuat berbagai macam nitrogen oksida.
Bagaimanapun juga, pengembangan dalam teknologi engine memberikan arahan
untuk mengurangi secara drastis kandungan emisi NOx dari diesel engine.

4. Zat partikel dan sulfur


Partikel yang dimaksud sebagai zat partikel atau partikel halus,
merupakan partikel yang sangat kecil berupa padat atau cair yang menggantung
dalam udara. Beberapa partikel yang terjadi secara alami, awalnya berasal dari
gunung berapi, badai debu dan kebakaran hutan dan lain-lain. Beberapa aktivitas
manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dalam kendaraan, pembangkit
listrik dan jenis proses industri juga menghasilkan jumlah yang signifikan partikel
tersebut.
Ketika partikel itu dihirup dalam yang dimasukkan ke dalam paru-paru
yang membawa substansi yang berbawa. Peningkatan jumlah partikel halus di
udara yang dikaitkan dengan bahaya kesehatan seperti serangan jantung,
penurunan kerja paru-paru dan kanker paru-paru.
Zat partikel yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar yang tidak
sempurna, bagaimanapun pelumasan oli engine juga sebuah faktor. Partikel dari
diesel engine berisi utamanya jelaga, hidrokarbon dan belerang (sulfur). Berbagai
macam teknik pengukuran mengurangi bentuk partikel dalam engine diesel
26

modern. Kualitas bahan bakar yang baik dengan kandungan sulfur yang rendah
mengurangi bentuk partikel dan oksida sulfur dan jga sebagai syarat dari bentuk
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
tertentu seperti komponen exhaust after treatment, misalnya filter partikel
(penyaring partikel)

5.2 PERATURAN EMISI (EMISSION LEGISLATIONS)

Dampak lingkungan dari pengunaan kendaraan Construction equipment


merupakan penyebab utama dari emisi gas buang, sehingga peningkatan
pembatasan aturan gas buang dalam interval empat tahun diperkenalkan oleh pihak
berwenang. Level emisi yang diizinkan berbeda diatara negara-negara yang beragam.
Eropa dan Amerika (USA) memiliki pembatasan yang paling ketat tentang peraturan
emisi gas buang di dunia , walaupun level emisi di beberapa negara tidak mengatur
semuanya.
Jumlah hidrokarbon dan carbon monoksida yang dibuang melalui diesel
engine adalah rendah bila dibandingkan dengan yang dibuang oleh engine bensin
(otto). Walaupun tingkat emisi nitrogen dioksida NOx dan zat partikel (particulate
matter / PM) secara signifikan lebih tinggi. Sehingga, ketika berbicara diesel engine,
senyawa emisi NOx dan PM yang menjadi fokus pihak berwenang. Tabel berikut
menunjukkan penurunan dramatis tingkat NOx dan PM, menurut peraturan emisi
Eropa dari 1992 hingga 2013.

27
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Materi 6
Komponen Engine
Setelah mendapatkan materi ini, peserta dapat menyebutkan komponen-komonen yang
terdapat di engine serta fungsinya

6.1 VALVE COVER (PENUTUP KATUP)

 Mencegah masuknya kotoran ke dalam engine


dan mencegah oli pelumas menyembur keluar
 Melindungi (engine lid) engine yang didesain
untuk menutupi dan melapisi mekanisme valve
(katup) engine dari partikel dan serangan debu
yang dapat merusak engine.
 Dipasang pada bagian atas kepala silinder,
pengencangan di pinggirannya dengan baut yang
memiliki spring dan dibuat dari paduan plastik.
dilengkapi dengan tiga titik oil drain dan jalur
internal lubang untuk sistem ventilasi crankcase.
Gambar 31. Valve Cover
Terdapat juga seal yang terdiri dari sebuah seal
karet strip yang ditempatkan disepanjang alur di
dalam valve cover. Valve cover terpasang pada
valve cover base yang diikat pada bagian atas
cylinder head. Beberapa engine mempunyai lebih
dari satu cover.

6.2 CYLINDER HEAD (KEPALA SILINDER)

 Memberikan penyekatan yang sangat baik pada


bagian atas ruang pembakaran, dibutuhkan
penyekatan antara cylinder block dengan cylinder
headharus benar-benar [Link] head diikat
ke cylinder block dengan head bolt
[Link] saluran masuk dan saluran keluar
dimana valve-valve [Link] disediakan
jalur-jalur saluran untuk oli pelumas dan coolant
(air pendingin).
 Gasket dan Spacer plate yang terbuat dari
aluminium atau baja digunakan diantara cylinder Gambar 32. Cylinder head
head dan block untuk mengurangi kedalaman
counterbore pada cylinder [Link]
yang dalam akan menurunkan integritas struktur
pada block dan mudah retak.
28

 Pada cylinder head terdapat valve, injector atau


Page

pre-combustion chamber (bila digunakan), juga

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
saluran coolant, udara, valve train dan komponen
sistem bahan bakar.
 Cylinder head ada yang terdirii dari beberapa
bagian, ada pula yang cylinder head satu utuh
untuk semua cylinder seperti Pada engine Volvo
D6E untuk EC210B, Cylinder Head dibuat dari besi
cor. Didalamnya terdapat jalur pemasukan udara
(Air induction) masuk secara vertikal (A) dan
exhaustnya (B) secara horizontal. Valve Inlet dan
exhaust diperbesar untuk mengoptimalkan jalur
pertukaran udara dan proses pembakaran.
 Untuk coolant thermostat housingnya juga
diletakkan secara langsung ke dalam cylinder head
(A) dan diletakkan pada bagian sisi depan kanan. Gambar 33. Cylinder head
Masing-masing silinder dipisahkan jalur inlet pada
satu sisi dan jalur exhaustnya disisi yang lain, yang
disebut sebagai “Crossflow” (B).Jalur fuel untuk
unit injektornya pun dibor langsung secara
longitudinal melalui cylinder head dan memiliki
alur untuk seal ring di masing masing unit
injektornya(C). Disana juga ada plug (penutup)
untuk melakukan pengukuran tekanan oli pada
mekanisme rocker arm(D). Dan ada pula jalur
Gambar 34. Thermostat housing
pelumasan (E) untuk camshaft dan rocker arm
yang dibor di tengah cylinder head bagian kiri.

6.3 CYLINDER HEAD GASKET ( GASKET KEPALA SILINDER )

 Cylinder gasket digunakan untuk melapisi dan


menahan :
a. Tekanan tinggi di dalam cylinder
b. Coolant, yang juga berisi zat kimi addiktif
c. Engine oil, yang berisi zat kimia aditif
 Cylinder head gasket dibuat dari pelat baja. O-ring
(seal karet) yang dimasukkan untuk memastikan
sealing yang sempurna, untuk melapisi dan
melindungi jalur oli pelumasan dan coolant. Ketika
baut cylinder head akan dikencangkan, tonjolan
atau alur di dalam cylinder liner yang ditekan ke Gambar 35. Cylinder Head Gasket
dalam gasket memberikan sealing sempurna.
Bagaimanapun ratanya cylinder head, sangat sulit
 menjaga kerapatan akibat tekanan yang tinggi
yang terjadi selama pembakaran. Selama
29

pemasangan kepala silinder yang bisa saja


bergeser, maka gasket memiliki permukaan yang
Page

cembung sehingga gasket dapat tepat terpasang

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
pada kepala silinder tanpa merusak lapisan seal
karetnya.

6.4 VENTILASI CRANKCASE

 Menyeimbangkan tekanan dalam crankcase saat


hasil pembakaran masuk ke dalam crankcase.
Ketika didorong oleh piston dan ring piston (Blow-
by), tekanan udara harus dikeluarkan (ventilasi)
dari crankcase untuk menghindari kerusakan pada
komponen engine dan juga termasuk mencegah
terbentuk kabut oli dan kebocoran oli pada
permukaan lantai.
 Ventilasi crankcase berisi sebuah Oil separator
external dan dua oil trap, satu pada casing timing
gear paling atas dan satu lagi pada valve cover.
 Pada timing gear casing, oil trap dibentuk seperti
sebuah labirin dengan koneksi crankcase secara
langsung berlawanan dengan pusat penyetelan
gear transfer, saat perputaran gear terjadi sebuah Gambar 36. Ilustrasi ventilasi crankcase
ruangan bebas oli.

6.5 CYLINDER BLOCK

 Cylinder block merupakan dasar dimana engine


dibangun. Dibuat dari bahan besi tuang paduan
(cast-iron alloy) dan dibentuk menjadi satu
kesatuan untuk menahan ketegangan yang besar.
 Di bagian lubang untuk penempatan silinder,
terdapat saluran untuk coolant dan lubang-
lubang bagi oli untuk mencapai komponen engine
yang bergerak. Gambar 37. Cylinder Block
 terdapat lubang untuk pemasangan cylinder liner
dan tempat dudukan crankshaft. Blok mempunyai
tulangan yang memperkuat bentuknya, didesain
untuk meyakinkan kestabilan dan kekakukan torsi
yang baik dalam struktur bloknya. Ini menjaga
getaran untuk minimal dengan bising engine yang
lebih rendah sebagai hasil akhirnya. Tujuannya
untuk mencapai emisi bising yang paling rendah
jika memungkinkan, crank case didesain dengan
bentuk sisi lengkung. Blok cylinder bagian
belakang diadaptasi pada bagian ujung belakang
30

Gambar [Link] Cylinder Block


yang disesuaikan dengan gear train.
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
 Pada engine D16F ADT A40F,Liner : Engine
dipasangkan dengan liner tipe basah (wet liner)
yang bisa digantikan.
 Cooling jacket : Tipe cylinder dengan wet liner,
mempunyai pendinginan yang lebih baik dan
bersirkulasi.
 Main bearing : sebagai tempat crankshaft yang
dtopang dengan tujuah main bearing.
 Oil duct (saluran oli) : disana ada dua pelumasan
utama yang dilubangi secara longitudinal dalam
dinding blok, pada masing-masing sisi.
Gambar 39. Letak Stiffening Frame

6.6 STIFFENING FRAME

 Stiffening frame, dibuat dari pelat baja, yang


dipasang pada bagian kaki blok silinder untuk
mengurangi getaran dalam blok silinder dan untuk
mengurangi bising pada engine.

Gambar 40. Stiffening Frame


6.7 CYLINDER LINER

 Untuk memperpanjang usia dari cylinder block


dan untuk memudahkan pekerjaan rekondisi
engine, cylinder liner didesain agar dapat diganti
(replaceable). cylinder liner disebut juga sleeve.
 Engine dengan liner tipe “basah” seperti yang
digunakan Volvo umumnya,liner tersebut
mendapat kontak langsung dengan [Link]
tipe basah merupakan jenis yang paling umum
digunakan pada engine diesel untuk tugas berat.
Cylinder liner membentuk dinding water jacket Gambar 41. Letak Cylinder Liner
antara pendingin dan piston
 Liner tipe kering (Dry liner) dipasangkan secara
langsung pada cylinder block dengan
pengepresan. Hal ini menurunkan masalah
penyekatan diantara liner, block dan coolant.
Namuun, hal ini juga menurunkan efisiensi
pendinginan. sering digunakan untuk memperbaiki
engine parent bore, bila cylinder-nya rusak atau
mengalami keausan. Liner ini dikatakan dry
(kering) karena terpasang langsung pada block
31
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 42. Sleeve tipe basah dan kering Gambar 43. Jenis-jenis Sleeve

 Cylinder liner merupakan komponen combustion chamber yang berhubungan


dengan tekanan tinggi, dan beban gesek yang besar sebagai akibat gerak naik
turun piston. Cylinder liner harus tahan terhadap temperatur tinggi, tidak mudah
aus dan mampu menerima gaya yang besar dari piston. Ukuran cylinder liner
harus sesuai dengan ukuran piston dan ring piston. Liner harus mempunyai
kemampuan menyerap panas dan mentransfer seluruh panas dari permukaan
dalam liner ke permukaaan luar liner. Liner harus tahan karat karena pada
permukaan bagian luar berhubungan langsung dengan air pendingin. Untuk
menjamin efisiensi pendingin yang tinggi, ketebalan liner lebih kurang 5 - 10mm.

6.8 CYLINDER LINER SEAL RING

 Wet liner mempunyai o-ring untuk menyekat water jacket dan menjaga
kebocoran air pendingin (Gambar 7, kiri). Air pendingin untuk mendinginkan liner
disekat oleh leher/flange di bagian atas dan O-ring pada bagian bawah liner. Ring
seal liner harus mampu menyekat dengan baik, tahan terhadap oil dan air serta
tahan terhadap perubahan temperatur dan tekanan. 32

Gambar 44. Cylinder Liner Seal Ring


 O-ring digunakan untuk menyekat bagian bawah liner dengan ruangan air
Page

pendingin pada block. Liner band pada liner digunakan sebagai penyekat bagian

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
atas liner. Engine block yang kaku dan keras ini memungkinkan seal-seal ini tetap
duduk untuk memberikan penyekatan yang baik.

6.9 PISTON

Gambar 45. Piston

 Bagian atas piston berfungsi sebagai permukaan dasar ruang pembakaran


langsung berhubungan dengan gas pembakar dan menerima beban berat yang
disebabkan tekanan pembakaran. Piston bergerak berulang-ulang dengan
kecepatan tinggi sehingga menderita beban gesek yang [Link] engine Volvo,
seperti D16 generasi F, mempunyai piston yang ditempa dari baja padat dan
pendinginannya menggunakan oli. Piston merupakan komponen yang penting
untuk rancangan, usia pakai dan performa keseluruhan engine.
 Piston berfungsi sebagai:
1. Memindahkan tenaga hasil pembakaran ke connecting rod dan selanjutnya ke
crankshaft
2. Menyekat ruang bakar
3. Memindahkan/menyerap panas dari ruang bakar dan memindahkannya ke
cylinder liner yang selanjutnya dipindahkan ke air pendingin.
 Piston berfungsi memindahkan gaya hasil pembakaran, dibuat dari beberapa
komponen, yaitu :
 Crown, yang membentuk ruang pembakaran
 Ring groove dan alurnya (land) sebagai penahan ring piston
 Piston pin atau gudgeon pin bore sebagai penghubung piston dengan
connecting rod
 Retaining ring, mempertahankan agar piston pin selalu di dalam pin bore.
 Thrust skirt sebagai penahan beban samping
33
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 46. Ilustrasi belahan Piston
 Pada bagian dalam piston dan di bawah crown terdapat rongga (1) dan pada
beberapa piston terdapat lubang oli dibagian bawah piston crown (2).
 Cerukan dan titik di bagian atas piston didesain untuk menimbulkan pusaran
udara dan untuk memudahkan pencampurannya dengan bahan bakar untuk
mendapatkan pembakaran yang lebih baik.

Gambar 47. Contoh Piston

 Disamping menunjukkan 2 jenis piston:


1. Cylinder head yang menggunakan pre-combustion chamber, menggunakan
piston yang memiliki heat plug pada crown-nya (piston sebelah kanan)
2. Piston direct injection tidak mempunyai heat plug
34
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 48. Bagian-bagian pada piston

 Bentuk Luar dari Piston


Bentuk permukaan kepala piston dirancang untuk memperbaiki percampuran
udara dengan bahan bakar. Pemilihan bentuk permukaan piston top tergantung
dari tipe pembakaran, jenis nozzle, sudut penyemprotan bahan bakar dan sistem
lainnya.

Gambar 49. Tipe permukaan kepala piston

Piston dihubungkan dengan connecting rod melalui pin piston untuk mentransfer
tenaga. Ketebalan sisi dalam piston ditambah untuk menambah kekuatan pada sisi
samping sebagai tempat kedudukanpin piston. Cross section dari piston dibuat
dalam bentuk elliptical. Arah pin piston diameternya lebihkecil dibanding dengan
diameter yang tegak lurus dengan pin piston dengan tujuan pada saatkenaikan
temperatur piston ( 300º - 350 ºC pada top piston dan lebih kurang 150 ºC pada
35

bagian tengah piston ), cross section yang berbentuk elliptical akan tercapai
menjadi bulat (berdiameter sama ). Kepala piston yang kepalanya lebih kecil akan
Page

menjadi sama besar akibat pemuaian dan perbedaan temperatur antara atas dan

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
bawah piston. Oleh sebab itu bila mengukur diameter piston,arah dan posisinya
disesuaikan dengan spesifikasi pada maintenance standard.
 Radiasi Panas pada Piston
Jika piston mengalami overheat akan mengakibatkan pemuaian yang berlebihan
pada piston,terjadi carbonization oil pelumas, melekatnya permukaan yang
bergesekan, keretakan atau terbakar padakepala piston. Panas yang diterima
piston harus secepatnya dilepaskan. Bentuk piston dirancang untuk meningkatkan
kekuatan dan kemudahan penyebaran panas. Bentuk dari cross section piston
disebut thermal flow type dirancang sebagai penghantar panas dan pelumasan.

6.10 RING PISTON

 Untuk mencegah kebocoran kompresi, piston dilengkapi dengan piston ring.


Semua ring memiliki lapisan yang keras agar tahan lama. Setiap ring piston
mempunyai celah (gap) antara kedua ujung ring.

Gambar 50. Letak ring piston

 Untuk mencegah kebocoran, penempatan celah pada ujung setiap ring ini tidak
boleh disusun sebaris. Ke-3 ring piston dirancang untuk memberikan kompresi
yang sempurna dan pengaturan oli sambil mengurangi gesekan dan panas yang
ditimbulkan. Hasilnya, meningkatnya usia pakai piston, ring dan liner serta
mengurangi biaya perawatan sebelum [Link] piston terbuat dari nodular
iron agar kekuatan dan ketahanannya terjaga. Oil dan intermediate ring dilapisi
chrome, sedangkan top ring dilapisi dengan plasma. Kedua jenis lapisan ini
memberikan ketahanan terhadap keausan dan lecet (scuff) yang baik sekali.
Piston ring terbuat dari baja khusus dan paduan, yang membuatnya mengepres
ke dinding silinder.
36
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 51. Ring Piston
 Desain ring piston dengan cara memperkecil bergetarnya ring di dalam groove
selama piston bergerak reciprocating, tahan gesek, dan dapat mencegahnya
masuknya benda asing melalui ring ke dalam [Link] ring sering menerima
temperatur dan tekanan tinggi, beban gesek yang tinggi dan hentakan yang
disebabkan gerakan reciprocating dari piston. Untuk mengatasi kondisi yang
demikian piston ring dibuat dari special cast iron yang memiliki ketahanan
terhadap panas dan tahan gesek, dan dilapisi dengan chrome platina pada
lingkaran luarnya.
 Setiap piston memiliki dua ring piston atau lebih yang terletak pada groove
piston. Ring piston memiliki 3 fungsi utama:
 Menahan tekanan gas [Link]
Dimensicylinder dan mencegah kebocoran
Ring piston
kompresi.
 Mengatur pelumasan untuk dinding cylinderdan menyebarkan cukup
pelumasan menuju dinding silinder untuk alasan sealing dan pelumasan untuk
mengendalikan konsumsi oli dan menjaga ketebalan oilfilm pada dinding
cylinder.
 Mendinginkan piston dengan memindahkan panas yang dihasilkan pada saat
pembakaran dan mengendalikan suhu piston melalui perannya dalam heat
transfer dari piston ke dinding silinder dan lebih jauh lagi berarti sebagai
pendingin yang mentransfer panas dari piston ke cylinder liner.
 Menyekat ruang bakar dan sealing (menutup) clearance diantara piston dan
silinder, serta menahan tekanan gas silinder dan meminimalkan blow-by
(udara yang keluar akibat tekanan berlebih dari crankcase)
37
Page

Gambar 52. Bagian pada piston

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Masing-masing piston mempunyai dua ring kompresi dan ring untuk oil scrapper
(pengumpul) yang diletakkan di alur ring piston. Ring kompresi bagian atas
mempunyai sebuah bentuk trapesium yang bersilangan (tipe keystone). Ring
kompresi bagian bawah mempunyai bentuk kotak. Oil scraper ring di bagian
paling bawah mempunyai spring di dalamnya.

Gambar 53. Bentuk-bentuk belahan ring piston Gambar 54. Ring kompressi bagian atas
 Ring kompresi bagian paling atas, bentuknya yang seperti key-stone
memfasilitasi tekanan gas dari ruang pembakaran masuk kebelakang ring, yang
meningkatkan dorongan radial yang ditahan oleh dinding silinder.\
 Ring kompresi yang kedua, didesain untuk menjaga tekanan kompresi ring
dilengkapi dengan sebuah ridge (punggung) internal. Punggung ini menyebabkan
ring untuk menghasilkan putaran (twist) dalam alurnya sehingga itu
membersihkan (distribusi) oli saat piston itu bergerak ke bawah.
 Oil scraper ring (ring bawah), yang menjaga sejumlah oli dalam dinding silinder
didalam batas yang [Link] piston pindah ke bawah, ring membersihkan
dari kelebihan oli kemudian diarahkan kembali ke penampungan.

Gambar 55. Ring kompressi kedua

 Oil scraper ring, mengikis oli yang membasahi dinding silindermencegah oli
masuk ke dalam ruang pembakaran, yang bila terjadi dapat menimbulkan
kerusakan berupa timbulnya jelaga akibat terbakarnya oli, untuk mencegah oli
masuk ke dalam ruang bakar dan ikut terbakar, mengatur oil film pada dinding
cylinder saat piston bergerak naik turun untuk meminimalkan keausan pada
liner, piston dan ring. Oil control ring memiliki expander spring yang membantu
38

mengatur oil film dan menjaga ketebalan oil film.


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 56. Tipe-tipe ring piston

Gambar 57. Kombinasi tipe ring piston

6.11 CONNECTING ROD

 Connecting rod menghubungkan piston dengan crankshaft dan memindahkan


gaya hasil pembakaran ke [Link] rod menerima gerak
reciprocating dari piston dan diteruskan ke crankshaft untuk dirubahmenjadi
39

gerak putar. Connecting rod harus kuat menahan tekanan kompresi,


tekananpembakaran,tegangan beban yang berulang-ulang dan beban bengkok
Page

yang disebabkan inertiadari piston danconnecting rod pada putaran tinggi. untuk

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
memenuhi kebutuhan diatas, connecting rod dibuat darispecial baja tempa dan
mempunyai kekuatan special dalam batas kelelahan material. Saat
memasangconnecting rod hati–hati jangan sampai terdapat guratan (cacat)
khusus pada daerah melintang ataudaerah lekukan connecting rod, karena
connecting rod selalu bekerja berat, beban yang berulangulangdan konsentrasi
stress menyebabkan connecting rod mudah rusak.
 Bagian-bagian pada connecting rod terdiri dari:

Gambar 58. Bagian-bagian pada Connecting Rod


1. Rod eye, gudgeon-end atau small end sebagai penahan piston pin bushing.
Piston pin bushing.
2. Bushing merupakan jenis bearing yang men-distribusikan beban dan dapat
diganti bila aus.
3. Shank adalah bagian connecting rod antara small dan big end, berbentuk I-
beam yang kuat dan kaku.
4. Crankshaft journal bore dan cap terletak pada bagian ujung besar (big end)
connecting rod. Komponen ini membungkus crankshaft bearing journal dan
mengikatkan connecting rod ke crankshaft.
5. Bolt dan nut rod mengunci rod dan cap pada crankshaft, disebut crank end
atau big end dari connecting rod.
6. Big-end bearing connecting rod terdapat pada crank-end. Crankshaft berputar
didalam bearing connecting rod, yang membawa beban. Connecting rod
memindahkan gaya hasil pembakaran ke crankshaft dan merubah gerakan
naik turun menjadi gerak putar.
 Connecting rod merupakan besi tempa yang dikeraskan dan di-shot peen untuk
membuang tegangan. Ujungnya dirancang tirus untuk memberikan tambahan
bidang kontak antara pin dengan bore saat langkah tenaga. Ini menghasilkan
kekuatan dan ketahanan ekstra dari piston dan rod [Link] rod
meneruskan tenaga dari piston ke crankshaft ( poros engkol ) dan
memungkinkan kedua ujungnya bergerak bebas.
40
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 59. Bearing Connecting Rod

 Bearing connecting rod bagian atas terpasang pada connecting rod dan disebut
upper half shell. Setengah bagian lainnya terpasang pada cap dan disebut lower
half shell. Normalnya upper half shell menahan beban lebih besar. Locating lug
merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari bearing shell dan digunakan
untuk memastikan bearing duduk dengan benar pada connecting rod ataupun
cap.
 Bagian ujung atas dari connecting rod dipasangkan pada piston menggunakan
wrist pin (pen pergelangan). Bagian ujung bawah dipasangkan pada crankshaft
menggunakan bearing cap.

Gambar 60. Pin Piston


41
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 61. Connecting Rod

 Bushing connecting rod selalu menerima benturan keras, sehingga bushing


membutuhkan faktorkelelahan yang lebih tinggi. Untuk memperkuat bushing
dilakukan dengan memperbesar bidangpermukaan dan membuat double untuk
mengurangi terjadi keausan. Bushing dibuat dari phospor, bronze, kombinasi dari
timah dan bronze untuk menambah daya tahan dan tidak mudah aus.
 Bolt connecting rod untuk merapatkan connecting rod cap yang menghubungkan
connecting roddengan crankshaft. Bolt selalu menderita beban tegangan tinggi
yang berulang-ulang karena inertiadari piston dan connecting rod. Olaeh karena
itu pengencangan bolt kekencangan/torquenya harussesuai. Connecting rod
assembly bergerak reciprocating dengan kecepatan tinggi sehingga bilaberatnya
tidak tepat akan berpengaruh besar pada engine balancer. Berat connecting rod
assemblyharus sesuai dengan spesifik tolarace. Perbedaan berat antara
connecting rod satu dengan lainnya didalam engine tidak boleh melebihi batas
yang diizinkan.
 Pada engine Volvo, connecting rod ditandai dengan tanda “Front” yang berarti
tulisan itu menghadap ke bagian depan engine ketika memasang connecting rod.
42
Page

Gambar 62. Connecting Rod pada engine volvo

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
 Masing-masing bagian connecting rod ditandai dengan angka yang distempel pada
bagian partisi big-endnya untuk memastikan agar tidak tertukar dalam
pemasangan. Connecting rod ditempa dan ada belahan pada sisi keduanya (Big
End) menggunakan metode Breaking. Rod dan cap nya dikencangkan bersama
melalui empat baut, 4xM12. Permukaan partisi harus ditangani dengan hati-hati,
agar tidak merusak ketepatan [Link] membersihkan permukaan,
menggunakan udara compressor.
 Connecting rod ditempa dari baja paduan tinggi, material yang merupakan tahan
pada kondisi ekstrim, sehingga connecting rod keduannya menjadi kuat dan
[Link] rod ditempa dalam sebuah bentuk profil I. ini membuatnya
lebih ringan tetapi kuat dan cukup tahan terhadap tekanan yang berubaha-ubah
dibawah dorongan yang besar hasil combustion.

6.12 PISTON COOLING NOZZLE

 Piston mendapatkan panas yang sangat tinggi ketika engine dibawah beban yang
besar dan disana ada batasan jumlah panas yang ring piston dapat hilangkan.
Pada engine Volvo, disana terdapat pelumasan yang mendinginkan piston. Piston
cooling khusus mengalir dalam cylinder block mengarahlan oli menuju piston
cooling nozzle, satu untuk masing-masing silinder. Dari nozzle, sebuah oil jet
disemprotkan dibawah piston.
 Bagian small end dihubungkan ke piston melalui gudgeon pin, yang
pemasangannya dengan bushing bronze yang ditekan kedalam small end
connecting rod. Bagian Top end (small end) mempunyai sebuah bushing yang
diditekan kedalam gudgeon pin, yang dilumasi melalui sebuah lubang yang dibor
melalui rodnya. Bagian lower end connecting rod adalah mengarahkan jalan
crankshaft bearing journal dengan crankshaft bearing.

6.13 TRUST BEARING

 Untuk mengurangi gesekan dari journal dari connecting rod, crankshaft dan wrist
pin, dipasangkan sliding bearing (bantalan geser) diantara bidang kontak.
Sliding bearing ini dibaut dari bahan babbitt. Babbitt merupakan campuran
tembaga dengan timah (atau timah-kuningan). Sangat penting untuk menjaga
agar permukaan kontaknya selalu mendapatkan pelumasan saat engine bekerja
untuk mencegah keausan. Hal ini dimungkinkan dengan memberikan tekanan
pada oli yang masuk ke dalam lubang di dalam bearing. Pada bagian atas dari
connecting rod terdapat bushing (1). Bearing di bagian bawah connecting rod
terdiri dari dua keping (2).
43
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 63. Trust Bearing

6.14 PISTON GUDGEON PIN

 Pada engine Volvo, Gudgeon pin adalah bagian mekanisme crankshaft yang
dilakukan untuk beban dan tarikan yang berlebih. Gudgeon pin dibuat dari
material berkualitas tinggi, paling banyak biasanya baja mangan chrome dan
paduan baja chrome molybdenum. Gudgeon pin bentuknya turbular dalam
bentuk yang mengurangi berat. Gudgeon pin mengarahkan connecting rod dan
piston, menyambungkan connecting rod dan piston, memberikan floating fit
(keadaan mengambang) yang mebuat keduanya mudah bergerak. Gudgeon pin
dicegah dari perpindahan menuju dinding silinder melalui locking ring yang
dimasukkan ke dalam alur piston pada masing-masing gudgeon pin.

Gambar 64. Gudgeon Pin dan Locking Ring


44
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.15 CRANKSHAFT

Gambar 65. Crankshaft equipment

 Crankshaft berfungsi untuk memindahkan gerakan reciprocating (bolak-balik)


piston menjadi putaran crankshaft mempunyai “crank throws” atau “crankpins”,
penambahan permukaan bearing yang secara axis terdapat jarak offset dari
crank yang disebut dengan “big end” yang tersambung dengan connecting rod.

Gambar 66. Crankshaft

 Connecting rod bearing journal menentukan posisi piston dan kapan piston
tersebut berada pada posisi titik mati atas (top dead center). Beberapa
connecting rod bearing journal mempunyai lightening hole (lubang peringan)
45

untuk mengurangi berat dan membantu keseimbangan crankshaft . Crankshaft


memiliki lubang oli untuk mengalirkan oli dari main bearing journal menuju
Page

connecting rod journal bearing. Saluran-saluran ini tertutup pada salah satu

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
ujungnya menggunakan cup plug atau set screw. Counterweight digunakan
untuk membantu menyeimbangkan crankshaft dan mengurangi vibrasi (getaran)
saat engine [Link] dapat menjadi satu dengan crankshaft
ataupun terpisah dan diikat dengan baut dengan crankshaft.
 Permukaan main thrust bearing terletak pada satu dari main bearing
[Link] crankshaft pada sisi-sisi main bearing journal mempunyai
permukaan yang lebar yang membatasi pergerakan maju dan mundur
crankshaft, yang disebut end play.

Gambar 67. Permukaan Trust Bearing Gambar 68. Trust Bearing

 Terdapat dua bagian pada setiap main bearing yang disebut shell (Gambar 20).
Shell bagian bawah terpasang pada main bearing cap dan shell bagian atas
terpasang pada main bearing bore pada block. Shell bagian atas mempunyai
lubang dan alur oli sehingga oli mengalir terus pada main bearing journal.

Gambar 69. Main bearing shell Gambar 70. Main bearing bore

 Main bearing dan connecting rod atau biasa disebut dengan metal bearing
terpasang dengan paspada masing-masing main journal dan crank pin journal.
Bearing adalah yang mendukung langsungpada bagian yang bergesekan dari
crankshaft dan selalu menerima tekanan pada permukaannya dangesekan
dengan kecepatan [Link] harus tetap kedudukannya bearing juga
harus memilikikekuatan yang besar dan dapat menyesuaikan.
 Pada metal bearing terdapat oil groove yang tujuannya untuk membawa oli ke
seluruh permukaanbearing dan membuat pergerakan atau gesekan menjadi
lembut. Selain itu, oil groove juga sebagai penampung oli pada saat engine mati
untuk menjaga persentuhan yang baik pada permukaan shaft. Untuk menjaga
46

kehalusan crankshaft bearing harus dibuat lebih lunak tetapi kuat dan
permukaan dapat menyesuaikan, dengan demikian bearing dibuat dari material
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
yang berbeda untuk memenuhi persyaratan diatas dan bearing ada yang
mempunyai lebih dari dua jenis material.

Gambar 71. Oil groove pada crankshaft

 Crank Shaft didesain dengan posisi crank berbeda satu sama lain agar tercipta
perubahan gerak bolak balik menjadi gerak berputar. Sebagai contoh crankshaft
yang mempunyai 6 cylinder mempunyai sudut 1200. Membentuk pola piston 1 dan
6 berputar bersama, piston 2 dan 5 berputar bersama, piston 3 dan 4 berputar
bersama.

Gambar 72. Posisi crank dengan 6 silinder

 Ketidakseimbangan crankshaft memberikan beban stress yang besar bagi


crankshaft dan menimbulkan getaran bagi engine. Hal yang mendasar bahwa
crankshaft dibuatkan agar seimbang secara [Link] berdampak
ketika shaft lebih berat daripada yang seharusnya. Crankshaft diseimbangakan
dengan mesin [Link] itu untuk menunjukkan jumlah gram (material) yang
berlebihan dan lokasi tepatnya pada crankshaft. Ketidakseimbangan diperbaiki
dengan melubangi beberapa bahan dari crank atau counterweight.
47
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 73. Balancing Cuts

6.16 VIBRATION DAMPER

 Vibration damper dipasangkan di bagian depan crankshaft. Gunanya adalah


untuk meniadakan atau menetralkan osilasi ( goyangan ) yang terjadi pada
crankshaft saat piston bergerak naik turun. Crankshaft selalu menerima gaya
puntir pada saat tekanan pembakaran yang dihasilkan di dalam cylinder
diteruskan ke crankshaft sehingga menyebabkan bergetarnya crankshaft. Jika
terjadi getaran resonan antara getaran crankshaft dan getaran pembakaran akan
membangkitkan getaran yang lebih kuat dan dapat mengganggu gerakan
crankshaft. Untuk mengatasi hal itu dipasangn vibration damper. Type vibration
damper ada yang berupa rubber damper dan viscous damper yang
menggunakan silicon oil high viscosity. Damper memafaatkan inertia dari
pemberatnya dan inertiadari crankshaft untuk mengimbangi getaran/vibrasi.

`Gambar 74. Vibration Dumper

 Vibration damper jenis viscous atau rubber dipasangkan pada bagian depan
crankshaft. Mengingat torsional vibration berbeda pada setiap rancangan
engine, vibration damper dibuat disesuaikan dengan karakter masing-masing
engine.
Ada dua jenis vibration damper yaitu:
1. Rubber damper menggunakan karet untuk menyerap vibrasi
2. Viscous damper menggunakan oli berat dan free-floating steel ring untuk
48

menyerap vibrasi.
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 75. Rubber Dumper Gambar 76. Viscous Dumper

Rubber damper terbuat dari inner iron-alloy steel flange yang memiliki dudukan
dan outer cast-iron weight assembly (inertial mass). Flange bagian dalam diikat
dengan pemberat bagian luar menggunakan campuran karet. Viscous damper
mempunyai dua rumah (housing). Pemberat (inertial mass) dan cairan sejenis
grease terdapat pada kedua housing yang dilas menjadi satu. Lebar celah antara
housing dan pemberat adalah sekitar 0,010 in (0,25 mm). Celah inilah yang diisi
dengan viscous fluid atau cairan kental. Viscous damper harus ditangani dengan
[Link] penyok maka harus diganti.

Gambar 77. Rubber Dumper

Ketika crankshaft berputar, detak torsi yang dihasilkan di dalam crankshaft melalui
langkah power pada piston. Oli silicon dengan viskositas tinggi memperlembut
pergerakan antara putaran crankshaft dan setiap putaran dari berat inersia, yang
mengurangi tensi [Link] ini harus ditangani dengan perhatian
baik-baik.
49
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.17 FLYWHEEL

Flywheel terdiri dari:


1. Flywheel
2. Ring gear, yang terdapat disekeliling flywheel dan digunakan untuk men-start
engine
3. Flywheel housing

Gambar 78. Flywheel

 Flywheel merupakan komponen penghubung antara engine dan beban. Flywheel


diikat pada bagian belakang crankshaft. Crankshaft memutar flywheel pada
langkah tenaga, dan momentum pada flywheel membuat crankshaft berputar
dengan halus selama terjadinya 3 langkah lain pada setiap cylinder pada engine
ber-cylinder banyak.

Gambar 79. Ilustrasi pemasangan Flywheel pada crankshaft

 Flywheel berfungsi untuk:


1. Menyimpan tenaga untuk momentum diantara langkah tenaga.
2. Meminimalkan goyangan torsional atau rotational pada crankshaft
3. Memindahkan tenaga ke machine, torque converter, beban atau peralatan
transmissi lainnya.
50
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.18 TIMING GEAR

 Timing gear dapat diartikan sebagai gigi penghubung untuk mentransfer putaran
crankshaft keperlengkapan engine yang membutuhkan tenaga [Link]
mendapatkan operasi kerja engine yang tepat, dibutuhkan sejumlah sistem
seperti pendinginan, pelumasan, injeksi bahan bakar dan lain-lain. Semua sistem
tersebut memperoleh tenaga dari [Link] gear dan injection pump driving
gear menentukan valve timing dan injection timing.

Gambar 80. Timing Gear

 Seluruh engine Volvo menggunakan gigi helik yang bertujuan agar mereka
berputar dengan lebih tenang dan lebih sedikit mengalami keausan, serta
mengurangi kehilangan gesekan saat engine drop. Semua gigi berbentuk helical
untuk mengurangi keausan dan mengurangi kebisingan kerja. Timing-gear
mendapatkan pelumasan dari sistem pelumasan engine.

6.19 VALVE MECHANISM ( MEKANISME KATUP)

 Pada umumnya terdapat dua konfigurasi valve dan camshaft pada engine diesel,
51

yang yang terpasang di cylinder block (engine block mounted) dan overhead
camshaft design. Semua unit Volvo construction menggunakan model engine
Page

block mounted.

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 81. Valve Mechanism

 Gambar di atas menunjukkan engine yang mempunyai system empat valve dan
sebuah single overhead camshaft. Disana dua inlet dan dua exhaust valves per
silinder, yang diaktivasi dalam sepasang floating type yoke (yoke tanpa guide-
pin) dan ditutup oleh gaya balik spring. Camshaft yang dikeraskan secara induksi
(induction hardened) dan mempunyai tiga cam lobes per silinder. Dalam
penambahan, selain untuk inlet dan exhaust juga cam lobes untuk unit injektor.
 Rocker arm yang dipasang pada rocker arm shaft ditekan dalam bushing. Rocker
arm yang bertemu dengan camshaft yang terjadi melalui roller menuju valve
stem yoke dengan sebuah ball socket.

6.20 CAMSHAFT

 Camshaft terbuat dari alloy steel khusus yang ditempa dan dikeraskan agar
handal dan tahan lama. Camshaft gear dipanaskan dan di press pada saat
pemasangannya. Seluruh camshaft memiliki bearing journal dan lobe untuk
setiap atau sepasang valve dan fuel injector. Camshaft mengatur proses buka
dan tutup intake dan exhaust valve dan pada beberapa aplikasi, juga mengatur
fuel injector. Komponen ini dinamakan camshaft karena lobe-nya berbentuk
telur atau cam. Saat camshaft berputar, cam akan bergerak naik-turun, menekan
cam follower dan komponen valve train untuk membuka dan menutup valve
engine. Pada saat cam diatas, valve akan membuka penuh.
52
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 82. Bagian-bagian Lobe

Saat crankshaft berputar, putaran diteruskan ke camshaft. Pada bidang camshaft


terdapat sejumlah tonjolan yang eksetris, atau disebut lobe. Lobe tersebut telah
didesain dengan teliti untuk memastikan valve membuka dan menutup pada
saat tertentu. Jarak antara diameter base circle dan bagian atas nose disebut lift
dan ini menentukan seberapa jauh valve membuka.

Gambar 83. Lobe

Bentuk ramp menentukan seberapa cepat valve membuka atau menutup dan
bentuk nose menentukan berapa lama valve bertahan dalam posisi membuka.

1. Fast opening (membuka dengan cepat)


2. Long open period (posisi membukanya lama)
3. Fast close (menutup dengan cepat)
4. Slow close (menutup dengan lambat)
 Camshaft terdiri dari cam gear sebagai penggerak, journal yang didukung oleh
bushing dan cam sebagai pengontrol terbuka dan tertutupnya valve. Cam shaft
berfungsi untuk membuka dan menutup valve intake dan valve exhaust sesuai
timmingnya. Camshaft dipasang pada engine block pada friction bearing yang
mendapat pelumasan oli. Camshaft disangga pada bagian depan dengan thrust
53

washer. Camshaft terpasang di dalam cylinder block dan didukung oleh bushing
yang duduk pada [Link] bearing dipasang diantara cam gear dan journal
Page

pada piston nomor satu untuk melicinkangerakan shaft bila ada beban axial.

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Untuk lubrikasinya, Oil dari pump dialirkan dengan tekanan melalui cylinder
block atau main gallery kemudian masuk kecam shaft melalui lubang bushing
journal. Bila mengganti bushing harus meluruskan kembali lubangyang ada pada
cylinder block dengan lubang yang ada di bushing.
 Camshaft ditempatkan di cylinder head dan dilengkapi pengubah putaran dari
crankshaft ke camshaft (gear). Type dari camshaft yang putaran camnya
dihubungkan ke valve melalui tappet, pushrod dan rocker arm, akan terjadi
inertia pada mecahnisme perantara dan membuat valve sulitmengikuti
kecepatan putar cam. Untuk menjamin berhasilnya kerja valve pada putaran
tinggi dengancara mengecilkan jarak antara cam dengan valve atau dengan cara
menempatakan camshaft padacylinder head (type OHC/Over head Cam) dan
menempatkan camshaft diatas cylinder block (typeHC/High Cam). Pada
umumnya pada kendaraan sport memakai type OHC dan DOHC
(DoubleOverhead Cam) yang dihubungkan dengan rantai atau belt sebagai
penggeraknya.

6.21 VALVE LIFTER (PENGANGKAT KATUP) DAN PUSH ROD

 Valve lifter dan push rod meneruskan gerakan lobe camshaft ke rocker arm
(penumbuk katup). Bagian bawah dari valve lifter dibuat dari bahan yang yang
sangat kuat agar tahan keausan akibat gesekan dengan camshaft. Valve lifter
tertentu memiliki roller untuk lebih mengurangi gesekan dan keausan.
 Push rod dibuat kokoh dari bahan logam bulat panjang yang ringan dengan
bagian ujungnya dikeraskan. Bagian bawah dari push rod dibuat membulat agar
terpasang tepat pada valve lifter. Di bagian atasnya berceruk, untuk pemasangan
bagian yang membulat dari rocker arm. Dengan cara seperti ini rocker arm
tetap pada tempatnya.

6.22 ROCKER ARM

 Rocker arm, yang terpasang pada rocker arm shaft, menekan valve-valve ke arah
bawah saat melakukan gerakan membuka. Valve spring dipasangkan diantara
rocker arm dan cylinder head yang berguna untuk menutup valve kembali.
Adjuster screw (sekrup penyetel ) di bagian belakang rocker arm digunakan
untuk menyetel celah valve.
 Rocker arm terpasang pada rocker arm shaft dan dihubungkan dengan push rod
yang menggerakan valve intake dan exhaust. Pergerakan vertikal dari push rod
mengikuti gerak putar camshaft dan ditransfer melalui rocker arm ke valve stem
dengan arah yang berlawanan Kerenggangan antara rocker arm dan valve stem
dirancang untuk mengatasi pemuaian dari mekanisme penggerak.
 Penyetelan valve clearance dilakukan dengan mengendorkan lock nut dan
memasukkan feeler gauge antara rocker arm dan valve stem dengan ketebalan
sesuai ukuranstandard kemudian putar screw bolt untuk menyesuaikan
54

kerenggangan. Untuk penyetelan modelempat valve, yang distel kerenggangan


antara rocker arm dengan cross [Link] dari cylinder block mengalir melalui
Page

lubang pada cylinder dan rocker arm bracket kemudianmasuk ke rocker arm

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
shaft dan melumasi seluruh rocker arm. Lubang oil yang terdapat padarocker
arm untuk melumasi rocker arm shaft ke valve stem, valve guide dan bushing

Gambar 84. Bagian-bagian Rocker Arm

 Rocker arm (Gambar 84) terdiri dari:


1. Screw penyetel (adjusting screw) untuk menyetel valve lash, yaitu celah antara
rocker arm dan valve bridge untuk memastikan valve dapat menutup dengan
sempurna.
2. Lock nut, untuk mengunci screw pada posisinya setelah penyetelan dilakukan
3. Wear seat, insert yang dikeraskan agar tahan lama
4. Rocker shaft bushing yang berfungsi sebagai bantalan antara rocker arm dan
shaft.
 Komponen-komponen tersebut menghubungkan camshaft atau valve train
dengan valve dan mengubah gerakan putar camshaft menjadi gerakan naik-turun
pada valve. Saat rocker arm terdorong keatas pada satu ujung, ujung lainnya akan
terdorong kebawah, mendorong dan membuka valve.

6.23 VALVE

Gambar 85. Valve

 Valve dipasang pada cylinder head. Karena merupakan bagian dari ruang bakar,
valve harus memberikan penyekatan yang baik selama engine bekerja. Valve
55

terbuat dari baja paduan khusus untuk dapat beroperasi pada suhu yang tinggi
selama pembakaran. Valve terbuka dan tertutup secara teratur untuk
Page

memasukkan udara ke dalam cylinder dan membuang gas bekas pembakaran

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
keluar. Pergerakan valve dari putaran camshaft yang dirubah menjadi gerakan
vertical melalui push rod ditransfer melalui rocker arm dan diterusakan ke valve.
Valve juga sebagai permukaan ruang bakar yang selalu menerima beban panas
yang tinggi oleh karena itu dibuat dari material yang tahan gesek dan tahan panas.
Untuk memungkinkan terjadinya gerakan naik-turun yang lancar, valve meluncur
pada valve guide.

Gambar 87. Bagian-bagian valve

Gambar 86. Tipe Valve

 Valve guide sebagai penuntun pergerakan valve secara sliding antara permukaan
stem dan valve guide dengan gerakan vertikal dan juga sebagai pengontrol
pelumasan pada valve stem. Dengan demikian dibutuhkan celah yang tepat antara
stem dan guide, sehingga tidak terjadi kebocoran udara dan oli ke dalam air intake
dan exhaust gas. Valve guide dan valve dibuat dari bahan yang tahan [Link]
bergerak naik dan turun di dalam valve guide) yang berada didalam cylinder head.
Valve guide menjaga pergerakan valve tetap lurus dan membantu menyerap
panas dari valve. Valve stem memanjang keluar dari guide di bagian atas cylinder
head.
 Valve seat/insert adalah suatu ring yang tahan terhadap panas dan benturan.
Valve insert dipasang diantara permukaan valve yang bersentuhan dengan
cylinder head. Permukaan valve yang bersentuhan dengan cylinder head selalu
menerima benturan dan gas panas yang tinggi sehingga valve seat harus tahan
panas, kuat dan tidak mudah aus terutama pada bagian exhaust valve. Bila terjadi
kerusakan pada valve insert dapat diganti tanpa mengganti cylinder head.
 Valve spring mengangkat valve hingga merapat pada valve seat saat valve sedang
menutup. Valvespring juga bekerja mengembalikan rocker arm, push rod dan
tappet ke posisi normal dengan cepat. Push rod dan tappet selama operasi
menimbulkan inertia yang menyebabkan valve memberikan gaya balik pada saat
engine putaran tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan.
56
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 88. Posisi valve pada silinder

a. Two valve type cylinder head dan four valve type cylinder head
Two valve cylinder head, hanya mempunyai satu intake valve dan satu exhaust
valve. Untuk four valve type cylinder head mempunyai dua intake valve dan
dua exhaust valve. Dalam langkah pemasukan, udara segar harus masuk
sebanyak mungkin dalam waktu tertentu untuk memperbaiki campuran udara
dengan bahan bakar yang diinjeksikan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut
intake dan exhaust valve dibuat besar. Four valve type lebih efektif digunakan
jika tempat valve yang sempit atau ruangan tidak cukup. Four valve type
strukturnya yang lebih rumit, tetapi jumlah udara yang dimasukkan lebih
banyak.
b. Sectional type dan solid type
Solid type cylinder head bila satu cylinder head digunakan untuk menutupi
seluruh bagian atas cylinder block, sedangkan sectional cylinder head jika satu
cylinder head hanya menutupi satu atau lebih bagian atas dari cylinder block
(atau cylinder head yang terpisah). Sectional type cylinder head mempunyai
efek lebih kecil internal stress atau thermal stress dan mudah dalam
pemasangan, oleh karena itu sectional type cylinder head cocok dipasang pada
engine yangbertekanan besar. Sectional type cylinder head juga dapat
digunakan engine yang berbeda jumlah cylinder tetapi ukuran head yang sama.
Sedangkan engine kecil cukup dipasang cylinder head solid type.
57
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.24 UNIT INJECTOR

Gambar 89. Unit Injector

 Unit injecktor diletakkan secara vertikal di tengah masing masing silinder, diantara
empat valve. Clamp Unit injector diletakkan dengan clamp. Pada injector sleeves
terdapat sleeve diantara bagian bawah injector dan cylinder head. Di bagian
bawah sleeve yang diperbesar dengan sebuah drift (arah) dan di bagian atasnya
terdapat bagian seal O-ring. Injector sleeves dibuat dari baja Stainless steel, dan
desain terbaru, dengan bentuk dasar kerucut terbalik terhadap unit injektornya.
Sleeve (dan alat untuk mencocokkannya) harus mutlak tidak bisa ditukar dengan
jenis lainnya. O-ring yang baru harus terpasang pada sleeve dan injektor ketika
dirakir ke dalam engine. O-ring harus dilumasi sebelum diassembling untuk
menghindari kerusakan.

6.25 EXHAUST AND INLET MANIFOLD

 Tipe cylinder head tipe Cross Flow masing-masing silinder mempunyai sebuah
pembatas jalur inlet pada satu sisi cylinder head dan pembatas jalur exhaust di sisi
yang lain. Inlet manifold terbuat dari aluminium pressure die cast, satu buah
desain open box, dan dilokasikan pada sisi lengan kiri cylinder head. Exhaust
manifold dibuat dari besi tuang tahan panas, paduan SiMo. Yang dibuat dalam tiga
bagian yang dicover dua exhaust por masing-masing. Diantara cylinder head dan
pinggiran manifold ada gasket graphite-coated yang digunakan untuk mencegah
kebocoran exhaust.
58
Page

Gambar 90. Manifold

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.26 FUEL FEED CHANNEL

Gambar 91. Fuel Feed Channel

 Fuel channel untuk unit injector dalam bentuk lubang longitudinal melewati
cylinder head, dan disekitarnya dilakukan proses pemesinan membentuk Ring
shaped recess di sekeliling masing-masing unit injektor.

6.27 ENGINE EQUIPMENT

59
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 92. Engine Equipment

60

Gambar 93. Engine Equipment


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.28 CYLINDER BLOCK EQUIPMENT

61

Gambar 92. Cylinder Block Equipment


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.29 CYLINDER LINER & PISTON

Gambar 95. Cylinder liner & Piston Equipment

6.30 VALVE MECHANIS EQUIPMENT

62
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 96. Valve Mechanics Equipment

6.31 TIMING GEAR CASING & GEARS

63
Page

Gambar 97. Timing Gear Casing & Gears

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.32 CAMSHAFT & EQUIPMENT

Gambar 98. Camshaft Equipment

6.33 CRANKSHAFT EQUIPMENT

Gambar 99. Crankshaft Equipment


64
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.34 OIL SUMP EQUIPMENT

Gambar 100. Oil sump Equipment


65
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
6.35 ENGINE MOUNTING EQUIPMENT

Gambar 101. Engine Mounting Equipment


66
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Materi 7
Air Induction System
Setelah mendapatkan materi ini, peserta dapat menjelaskan tentang sistem
pemasukan udara pada engine diesel

7.1 AIR INDUCTION SYSTEM

7.2.1 Pengertian Air induction System

Air induction system adalah sistem pada engine diesel yang berfungsi
untuk memperoleh udara yang mencukupi untuk proses pembakaran seluruh
bahan bakar di dalam silinder, sehingga dapat menghasilkan tenaga yang
maximum seperti yang diharapkan.

Gambar 102. Air Induction System

7.2.2 Jalur Udara Masuk

Udara lingkungan yang sudah disaring dihisap menuju kompresor


turbocharger kemudian dipompa ke dalam engine dengan tekanan yang
meningkat, hasilnya dalam massa yang lebih besar udara/oksigen masuk ke
dalam silinder selama langkah hisap. Turbocharger merupakan small radial fan
pump (pompa kipas radial kecil) yang dikendalikan oleh energi gas exhaust dan
berisi sebuah turbin dan compressor dalam shaft yang sama. Turbin mengubah
panas exhaust, mengalir dan menggerakkan gerak putar, yang kemudian
digunakan untuk menggerakkan kompresor. Selama kompresi, suhu udara akan
meningkat, sehingga setelah melewati kompresor turbocharger, sebuah
pengisian pendingin udara (intercooler) digunakan untuk mengembalikan
udara ke suhu yang lebih rendah. Intercooler juga meningkatkan kerapatan
udara dan juga jumlah massa oksigen.
67
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 103. Sirkulasi Intercooler

Setelah melewati intercooler, udara masuk ke inlet manifold,


komponen yang digunakan untuk mengumpulan kemudian mendistribusikan
udara ke masing-masing jalur intake port di dalam cylinder head. Setiap
distribusi penting untuk mengoptimalkan efisiensi dan performa engine. Udara
hasil pemompaan udara oleh turbocharger yang mengalami peningkatan suhu,
akan disalurkan menuju intercooler melalui intake manifold. Intercooler
dilengkapi dengan elemen pendingin udara yang memanfaatkan efek
pendinginan coolant. Panas udara dilepaskan ke coolant hingga mencapai 60C.
Dengan penurunan suhu tersebut, partikel oksigen dalam udara menjadi lebih
padat dan panas gas buang dapat ditekan serendah mungkin untuk mengurangi
kandungan Nox.

Gambar 104. Sirkulasi udara dalam Intercooler


68
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Di dalam intercooler terdapat pula heating element yang dengan
bantuan energi listrik berguna untuk memanaskan udara masuk saat start
dingin.

Gambar 105. Ilustrasi Intercooler Gambar 106. Turbulensi Udara

Udara yang masuk ke dalam silinder didesain sedemikian rupa supaya


berpusar saat memasuki ruang bakar. Pada bagian kepala piston terdapat
cerukan untuk menghasilkan pusaran pada solar yang diinjeksikan. Tujuannya
adalah agar solar yang kemudian diinjeksikan akan ‘teraduk’ bersama dengan
udara, sehingga pembakaran dapat terjadi dengan serempak dan cepat.
Kerapatan udara dipengaruhi oleh ketinggian suatu tempat dari level
permukaan air laut sehingga kerja engine pada suatu ketinggian tertentu juga
akan ikut terpengaruh, dimana nilai kompresi engine menjadi berkurang. Hal ini
mengakibatkan power enginepun menjadi berkurang. Besarnya nilai
prosentasi penurunan kompresi dari data spesifikasi dapat dihitung dengan
mengetahui ketinggian permukaan tempat engine bekerja dari permukaan laut,
dimana setiap ketinggian 100 meter tekanan kompresi engine akan turun 1%.
Exhaust manifold mengumpulkan exhaust engine dari semua cylinder dan
mengalirkannya menuju turbin turbocharger, untuk menggerakkan compressor
melalui shaft (poros) yang sama, dan dari sana menuju muffler dan akhirnya
keluar melalui tail pipe.

7.2.3 Macam-Macam Cara Sistem Pemasukan Udara

Sistem pemasukan udara pada engine bermacam-macam sesuai


dengan kebutuhan serta power/ukuran dari engine, yaitu:
a. Naturally Aspirated ( NA ), dimana pemasukan udara ke dalam silinder
adalah secara alami.
b. Turbocharger (T), dimana pemasukan udara ke dalam silinder dibantu
69

olehTurbocharger/Blower.
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
c. Turbocharger & Aftercooler/Inercooler ( TA ), dimana pemasukan udara ke
dalam silinder dibantu oleh Turbocharger dan selanjutnya didinginkan oleh
Aftercooler.

7.2.4 Komponen-Komponen Air Induction System

1. Pre-cleaner/strainer

Pre-cleaner digunakan untuk memisahkan


partikel kasar yang ikut beterbangan bersama
udara seperti wood chip (serpihan kayu
gergaji). Pre Cleaner, dapat berupa Net dari
kawat kasar atau Cyclone/Full View. Dengan
fasilitas cyclone yang dapat berputar, partikel
Gambar 107. Pre Cleaner
tersebut akan terlempar ke sisi tepi dari pre
cleaner dan tidak ikut terbawa aliran udara
masuk, sehingga air filter menjadi lebih awet.

2. Air cleaner / air filter tipe bath tube

Bath tube type air cleaner merupakan


komponen opsional yang berguna untuk
menangkap partikel debu yang ikut
beterbangan bersama udara masuk, seperti
cement. Dengan konstruksinya, udara yang
bercampur dengan debu akan memasuki filter
dengan arah vertikal (1) dan akan kembali
berbelok ke atas. Di bagian bawah filter Gambar 108. Air Cleaner
terdapat mangkuk berisi engine oil (5) yang
akan menangkap debu yang karena gaya
gravitasi, mengalami kesulitan untuk bergerak
naik kembali. Debu yang masih lolos (karena
ukurannya relaif lebih halus) akan tertangkap
pada spons (3) dan kasa (4) dan keluar (2)
menuju air filter.

3. Main Filter

Main Filter berfungsi memisahkan partikel-


partikel yang ikut terbawa oleh udara dan tidak
terpisahkan oleh Precleaner sebelum masuk ke
ruang bakar, sehingga diperoleh udara yang Gambar 109. Main Filter
benar-benar bersih dari kotoran. Komponen ini
terbuat dari kertas yang berpori-pori halus dan
70

diperkeras serta dilipat membentuk sudut,


dengan tujuan:
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
a. Dapat memperluas permukaan saringan, sehingga akan memperbanyak
udara bersih yang akan masuk ke dalam silinder.
b. Memperpanjang umur filter, karena kemungkinan tersumbatnya akan
lebih lama.
Untuk mendapatkan pemasukan udara yang lebih bersih, biasanya pada
engine-engine tertentu, filternya dilengkapi dengan Elemen Kedua
(Secondary Filter) yang disebut sebagai Safety Elemen. Safety Elemen
bentuknya ada 2 macam, yaitu: Lingkaran (Circle) dan Rata (Panel)

4. Turbocharger

Gambar 110. Turbo Charger

Turbocharger berfungsi mendorong lebih banyak udara ke dalam


silinder lebih dari yang diperoleh dengan hisapan alami piston. Karena lebih
banyak udara yang masuk ke dalam silinder, maka lebih banyak bahan bakar
dapat dibakar.
Komponen ini terbagi 2 bagian utama yang berputar pada satu shaft,yaitu:
a. Turbine Wheel, berputar karena gaya dorong gas sisa hasil pembakaran
dan selanjutnya dibuang melalui Muffler, kemudian putarannya
diteruskan ke Impeller Wheel.
b. Impeller Wheel, putarannya akan menghisap udara yang masuk ke
dalam silinder melalui air filter, intercooler dan intake manifold.
Hal ini mengakibatkan output engine dapat ditingkatkan tanpa
mengubah ukuran silinder. Keuntungan turbocharger dengan cara seperti
ini adalah tidak dibutuhkannya tambahan tenaga dari engine untuk
menggerakkannya. Gas buang menggerakkan turbin rotor hingga mencapai
kecepatan tinggi lebih dari 85.000 Rpm pada saat beban maksimum.
Pada sisi yang lain dari shaft turbin rotor dipasangkan compressor
rotor. Saat compressor rotor berputar cepat, udara dipompakan ke dalam
silinder untuk mencapai tekanan lebih banyak. Pembakaran menjadi efisien
dan menghasilkan gas buang yang lebih bersih dan mengurangi polusi.
Turbo juga berfungsi sebagai peredam suara ekstra baik di sisi pemasukan
maupun pembuangan udara.
71
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 111. Schematic Air Flow Diagram Gambar 112. Compressor Rotor

Jika engine sering dimatikan tanpa menunggu turbo mencapai


kecepatan rendah dan suhu rendah terlebih dahulu, turbo akan mengalami
kerusakan karena kurangnya pelumasan. Hal ini sering menjadi kesalah
pahaman karena dianggap komponen yang bersangkutan bermutu buruk.

Gambar 113. Bagian-bagian Turbocharger

5. Intake Manifold

Udara yang menuju ke silinder-silinder didistribusikan melalui


intake manifold. Manifold tersebut dibuat dari aluminium tuang atau besi
tuang dan telah didesain dengan hambatan aliran udara sekecil mungkin.

6. Aftercooler / Intercooler

Komponen ini dipergunakan untuk mendinginkan udara sebelum


72

masuk ke dalam silinder dengan tujuan mendapatkan kerapatan molekul-


molekul udara yang semakin rapat, sehingga volumenya menjadi
Page

bertambah. Ini diperlukan mengingat bahwa udara tersebut dialirkan

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
melalui turbocharger yang bekerjanya karena gas buang sehingga
menjadi sangat panas. Pada Aftercooler/Intercooler udara didinginkan
dengan media air pendingin dari radiator atau dengan udara dari kipas
radiator.

7. Air Cleaner Service Indicator

Komponen ini digunakan untuk menditeksi kondisi dari air filter


apabila mengalami kebuntuan sehingga perlu dibersihkan atau diganti
dengan yang baru.

Gambar 114. Air Cleaner Service Indicator


Catatan:
Diperiksa kelancaran kerja Switch Indicator dan tersumbatnya Air Cleaner
ini setiap 2000 Hourmeter.

8. Muffler

Komponen ini digunakan untuk meredam suara engine dan


mengarahkan gas buang.

9. Waste Gate

Gambar 115. Muffler

Wastegate adalah suatu komponen yang terdapat pada


turbocharger yang menentukan performance kerja suatu engine. Wastegate
73

terpasang pada turbocharger, dimana valve wastegate terpasang pada sisi


Page

turbin dari turbocharger yang dihubungkan oleh rod actuator sedangkan


pada ujung sebelahnya dari rod actuator ada diaphragm yang dihubungkan

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
pada sisi intake manifold. Wastegate yang terdapat pada turbocharger
berfungsi untuk membatasi boost pressure pada sisi intake manifold disaat
engine mendapat beban maksimum maupun beban minimum maupun pada
engine rpm rendah. Tekanan pada sisi intake manifold dibatasi dengan cara
membuka atau menutup valve wastegate.

Gambar 116. Wastegate

Bila tekanan udara pada sisi intake manifold naik, maka tekanan
udara tersebut digunakan untuk mendorong diafragma lalu akan
mendorong actuator dan seterusnya mendorong valve wastegateterbuka,
sehingga tenaga gas buang tidak seluruhnya digunakan untuk memutar
turbin. Sebagian dari gas buang langsung keluar, sedangkan sebagian lagi
digunakan untuk memutar turbin sehingga kecepatan turbin dapat
terkontrol, akibatnya turbin udara pada sisi intake terkontrol juga.
Bila valve wastegate tertutup, maka seluruh gas buang digunakan
untuk memutar turbin, sehingga tekanan udara pada sisi intake akan naik,
akibatnya berat udara persatuan volumenya akan naik pula dan tenaga
engine akan bertambah juga, maka kecepatan turbin dan tekanan udara
pada intake manifold tidak terkontrol yang dapat merusak daya tahan dari
engine. Rusaknya wastegate dapat mengurangi daya tahan suatu engine
akibat dari naiknya tekanan didalam cylinder dan terjadinya panas yang
berlebihan yang diakibatkan tekanan pada intake manifold maupun exhaust
yang tidak benar, sehingga emission yang terjadi tidak ramah lingkungan. 74
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
10. Smoke Limiter/ Air Fuel Ratio Control.

Gambar 117. Smoke Limiter

Smoke limiter dipasang pada pompa injeksi dengan tujuan


membatasi jumlah bahan bakar yang akan disemprotkan ke dalam silinder
melalui mekanisme kerja dari kontrol Rack sehingga mencegah pemborosan
bahan bakar. Ini terjadi disaat engine baru start/operator menginjak pedal
bahan bakar ( tekanan udara masih rendah/jumlah udara masih kurang ).

7.2.5 Exhaust Pressure Gorvernor

Gambar 118. Exhaust Pressure Governor

Exhaust Pressure Governor (EPG) adalah valve yang diaktifkan secara


pneumatik atau oleh udara yang dikompresikan. Valve ini untuk menghambat
aliran udara exhaust melalui sistem exhaust selama engine brake. Selama
engine brake bekerja, valve menutup dan memberikan engine dengan back
pressure, sehingga meningkatkan kekuatan pengereman. EPG dipasang pada
bagian outlet exhaust turbocharger.
75
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.2.6 Exhaust Brake atau Engine Brake

Engine brake seperti yang diaplikasikan di beberapa unit seperti Volvo


yang dikenal dengan Volvo Engine Brake (VEB). Pada ADT A40F berisi dua
sistem engine brake yaitu, EPG (Exhaust Pressure Governor) dan VCB (Volvo
Compression Brake). Ada pula unit yang memiliki VGT (Variable Geometry
Turbocharger). Exhaust brake berguna untuk memberikan efek perlambatan
(pengereman pada roda-roda) dengan menghambat aliran gas buang (exhaust
gas) hingga menimbulkan back pressure di dalam silinder. Back pressure
tersebut akan menghambat gerakan piston untuk bergerak naik dan karena
saat unit sedang berjalan, roda-roda dan engine masih terhubung, terjadi
perlambatan (deselerasi) pada semua komponen yang terhubung dengan
crankshaft engine.

Gambar 119. Engine Brake

Exhaust brake memanfaatkan pressure dari air compressed system


(sistem udara bertekanan). Udara hasil pemompaan kompresor (4) disalurkan
ke dalam compressed air tank (6) dan siap digunakan setelah diatur tekanannya
oleh pressure regulator dan dibatasi oleh safety valve. Pressure retaining valve
memungkinkan hanya mengalirkan udara bertekanan bila tekanan udara telah
memenuhi syarat kerja.
ECU berdasarkan input dari vehicle speed sensor, engine speed sensor,
switch SW 105 akan memutuskan diaktifkannya solenoid valve MA 49. saat MA
49 aktif, udara bertekanan akan mengalir menuju exhaust brake pressure
chamber dan menekan exhaust valve untuk menutup aliran gas buang.
76
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 120. Engine Brake

Gambar 121. Bagian dari Variable Geometry Turbocharger

Variable Geometry Turbocharger (VGT), digunakan pada engine D11H,


D13H dan dilengkapi dengan engine brake, VGT digunakan untuk menghambat
Exhaust manifold selama engine brake. VGT mempunyai satu set vanes (baling-
baling) dan ring nozzle (katup) yang bisa bergeser untuk menjaga back pressure
77

di exhaust manifold serta mengkontrol back pressure exhaust untuk


meningkatkan engine brake. Melalui mekanisme katup (nozzle) yang tertutup
Page

sempurna, turbocharger memberikan sebuah exhaust brake.

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.2 COOLING SYSTEM

7.2.1 Pengertian Cooling System

Cooling system/sistem pendinginan pada engine diesel berfungsi:


1. Mendinginkan engine untuk mencegah over heating.
2. Memelihara suhukerja engine.
3. Mempercepat dan meratakan pemanasan engine.
Panas yang dihasilkan dari proses pembakaran dapat mencapai
3000ºF (1560ºC) yang terbagi masing-masing 1/3 untuk tenaga mekanis, 1/3
diserap oleh bagian bagian engine untuk didinginkan dan 1/3 sisanya dibuang
bersama exaust gas melalui muffler. Atau untuk lebih jelas seperti pada gambar
berikut :

Gambar 122. Presentase Engine Kehilangan Panas

Berbagai sistem pendinginan banyak kita temukan menggunakan


media yang beranekaragam seperti: air, minyak, udara dan kombinasiantara
air dan udara dan lain-lain. Namun untuk engine yang beroperasi pada daerah
yang banyak air, dan berjalan lambat serta banyak kita jumpai di dunia alat
berat / otomotif digunakan media air dan udara untuk sistem
pendinginannya. Oleh karena itu bahasan di sini kita batasi pada water cooling
System dan Air Cooling System.
Keuntungan-keuntungan dengan water cooling system:
78

1. Pendinginan lebih merata.


2. Mengurangi kebisingan suara.
Page

3. Perawatan sistem pendinginan lebih mudah.

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Ada 2 jenis Water cooling system:
1. Pressurized cooling system( sistem bertekanan )
2. Non Pressurized cooling system( sirkulasi alami )
Umumnya engine - engine menggunakan pressurized cooling
system, karena mempunyai keuntungan-keuntungan :
1. Titik didih air dalam engine naik, sehingga selama beroperasi air tidak
mendidih, sehingga terjadinya gelembung udara dapat dihindari, hal ini
akan:
a. Mencegah cavitasi pada pompa
b. Meratakan pendinginan sehingga dapat mencegah keretakan.
c. Aman dioperasikan pada dataran yang tinggi ( tekanan udara yang lebih
rendah ).
d. Memperkecil terjadinya penguapan , sehingga level air tidak cepat
berkurang/penambahan air relatif kecil/jarang.
2. Memaksa gelembung udara yang terjadi untuk naik ke permukaan air.
3. Memaksa air untuk masuk ke semua celah-celah sempit yang memerlukan
pendinginan.

7.2.2 Skematik Sistem Pendinginan

Gambar 123. Skema Sistem Pendinginan

Coolant dipompa mengalirkan masuk ke distribution jacket yang


letaknya dibawah cover di sisi blok silinder, tempat yang sama oil cooler
ditempatkan. Jumlah terbesar coolant mengalir menuju pinggiran oil cooler dan
didistribusikan melalui jalur A kebagian atas cylinder liner sedangkan sebagian
79

kecil lainnya dibagi ke bagian bawah liner melalui lubang (B) dari liner cooling
Page

jaket, dan coolant mengalir menuju jalur (C) di atas cylinder head
mendinginkan area panas disekitar pintu exhaust dan injector dan akhirnya

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
menuju thermostat. Thermostat merupakan tempat coolant untuk keluar dari
engine. Kompresor udara mendinginkan coolant melalui jalur eksternal yang
terpisah.
Coolant dipompa dari pompa coolant (1) ke atas menuju oil cooler (3),
yang dibaut dengan oil cooler cover. Dari sana, kemudian coolant dijalankan
menuju cylinder liner luar bagian bawah cooling jaket melalui lubang (2),
kemudian sebagian besarnya melewati lubang (4) di sisi atas cooling jaket
cylinder liner. Dari sana, coolant menuju cylinder head melalui jalur channel
(5). Cylinder head mempunyai sebuah dinding pembagi horizontal yang
memberikan dorongan coolant melewati daerah paling panas untuk efisiensi
transfer panas. Coolant kemudian mengalir menuju thermostat (6), yang
mengembalikan coolant menuju pompa melewati radiator atau melalui pipa
bypass (7). Jalur yang diambil oleh coolant tergantung pada suhu coolant. Air
Compressor (8) didinginkan melalui sebuah pipa eksternal dan kembali
mengalir diarahkan ke suction side pompa.

Gambar 124. Skema Sistem Pendinginan

Pada low emission engine, digunakan twin pump (pompa ganda)


dimana sistem pendinginan utama dilayani sebuah pompa yang
mensirkulasikan coolant dari dan ke water jacket pada engine block, dan
coolant pump khusus untuk intercooler.
80
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 125. Diagram Sistem Pendinginan

7.2.3 Komponen-Komponen Dalam Cooling System

1. Radiator
Radiator merupakan bagian yang dapat meradiasikan/melepas
panas yang dibawa oleh air pendingin dari mantel Pendingin dan bagian-
bagiannya ke udara luar. Pada radiator terdapat bagian-bagian penting:
a. Filler Cap
Filler cap merupakan tutup radiator yang dilengkapi dengan
Relief Valve dan Vacum Valve yang berfungsi untuk menghindari
kevakuman dan membuat sistem pendinginan agar selalu bertekanan .
Dan diatas kedua katup tersebut juga terdapat lubang/saluran
pembuangan yang berfungsi untuk membuang kelebihan air /expansi
selama engine beroperasi. 81

Gambar 126. Filler Cap


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
b. Radiator Core/Tube
Radiator merupakan pipa-pipa yang terbuat dari tembaga/plat
besi yang memecahkan/membagi-bagi aliran air pendingin dari radiator
bak atas untuk proses pendinginan ke radiator bak bawah. Bentuk core
umumnya berupa pipa pipih/oval agar permukaan pendinginan lebih
baik.
c. Radiator Fin
Radiator fin merupakan kisi-kisi tipis di luar core yang disusun
dengan berbagai bentuk pada posisi melintang untuk penyerapan panas
yang baik , sehingga dapat mempercepat proses [Link]
engine-engine yang baru untuk mempermudah service, radiator corenya
dibagi dalam modul atau bagian-bagian atau block-block.

Gambar 127. Radiator Fin

2. Radiator Fan
Radiator fan merupakan kipas udara yang difungsikan untuk
mempercepat proses peradiasian/pembuangan panas ke udara. Dalam hal
ini proses pendinginan dilakukan menggunakan udara yang mengalir
dengan arah tiupan angin seperti pada blower atau dengan arah menghisap
(suction), tergantung kebutuhan. Arah tiupan dan kecepatan angin juga
akan menentukan efektifitas proses pendinginan.
Mekanisme putaran dari radiator fan dapat diperoleh dari:
a. Drive Pulley dari Crankshaft engine melaluicouple fan belt (TaliKipas)
b. Hydraulic motor
c. Electric Motor
82
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 128. Electric Gambar 129. Hydraulic

3. Water Pump
Water pump merupakan pompa centrifugal ( non positif
displacement ) yang digunakan untuk memompa/mensirkulasikan air
keseluruh sistem pendinginan engine. Water pump diputar oleh belt melalui
pully atau drive gear dari engine.
a. Water pump dengan penggerak pully

Gambar 130. Water pump dengan penggerak pulley

b. Water Pump dengan Penggerak Drive Gear


83
Page

Gambar 131. Water pump dengan penggerak drive gear

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Coolant pump pada eninge D16F pada ADT A40F seperti pada
gambar; Coolant pump mempunyai sebuah casing alumunium (1), yang
berisi sebuah impeller plastic (2), shaft seal (3), bearing (4) dan pulley (5).
Bearing shaft dilumasi secara permanen kombinasi dengan roller bearing.
Antara shaft seal dam bearing, ada ruang ventilasi (6) dengan sebuah tell-tell
hole (7) yang dapat menunjukkan adanya kebocoran coolant atau oli. Bagian
belakang dari pump housing (8) dibaut pada cylinder block.

4. By pass tube/line
By pass tube adalah pipa/saluran yang mengalirkan air dari water
pump ke engine untuk selanjutnya dikembalikan ke pompa tanpa melalui
radiator pada saat engine masih dingin, sehingga dapat mempercepat
proses pemanasan engine untuk mencapai suhu kerja engine.

5. Thermostat ( Water Temperature Regulator )


Thermostat adalah komponen yang mengatur arah aliran/sirkulasi
air pendingin, yang bekerjanya tergantung dari suhu air pendingin.
Thermostat mengarahkan aliran coolant dari cylinder block menuju ke
radiator atau kembali ke pompa bergantung suhu dari coolant tersebut.

Gambar 132. Thermostat


Saat coolant masih dingin, thermostat menutup, melangsungkan
coolant secara langsung menuju sisi hisap pompa, melalui jalur (A), untuk
mempersingkat pemanasan engine. Ketika engine mencapai suhu kerja
maka thermostat akan mulai membuka, jalur pompa coolant yang bertahap
menutup dan di beberapa waktu membuka untuk coolant mengalir menuju
radiator. Di atas suhu coolant tertentu, seluruh coolant langsung menuju
84

radiator.
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 133. Cara kerja Thermostat

Saat suhu coolant rendah, wax di dalam thermostat mengerut


hingga volumenya menyusut, menyebabkan needle tertarik ke arah atas.
Saat ini kedua sisi valve menyatu dan menutup aliran coolant menuju ke
radiator dan mengalihkannya kembali ke pompa, dengan tujuan untuk
mempercepat pemanasan engine. Saat suhu coolant telah mencapai suhu
kerja engine, wax akan mulai mengembang dan mendorong needle ke arah
bawah dan memisahkan kedua sisi valve dan menyebabkan coolant
diarahkan menuju radiator untuk mulai diturunkan suhunya.

Gambar 134. Skema Aliran Coolant

Hanya sejumlah kecil coolant yang masih mengalir menuju pompa


untuk mencegah kavitasi. Jadi fungsi thermostat di sini adalah:
1. Mempercepat tercapainya suhu kerja engine.
85

2. Mengatur/menjaga temperatur engine pada temperatur kerjanya


Terdapat juga thermostat yang dipasang ganda/double
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 135. Cara kerja Thermostat

Thermostat mempunyai beberapa type, yaitu


1. Bellows
2. Sleeve
3. Butterfly

Gambar 136. Tipe Thermostat

6. Water temperature gauge


Water temperature gauge merupakan alat untuk mengukur
temperatur air pendingin selama engine dioperasikan berupa sensor yang
akan mendeteksi setiap kondisi suhu dari air pendingin, dan nilainya akan
ditunjukkan oleh indicator suhu panas engine pada instrument [Link]
diingat bahwa air pendingin engine selain dipergunakan untuk
mendinginkan bagian-bagian engine juga dipergunakan untuk
mendinginkan udara pada intercooler, oil pelumas pada oil cooler engine,
transmisi, kompresor dan lain-lain.
Pada beberapa engine yang dioperasikan pada tempat tertutup
86

atau tidak bergerak, komponen radiator dan cooling fan dapat diganti
dengan sistem heat exchanger dimana air pendingin engine didinginkan
Page

dengan menggunakan media air dari luar (tanpa radiator), yaitu berupa

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
cooling tower atau memanfaatkan air sungai atau air laut seperti pada
engine-engine marine.

Gambar 137. Sistem Intercooler

Untuk unit yang dilengkapi dengan sistem pemanas pada ruang


kabinnya, maka posisikan switch pemilih ukuran pemanasnya berada pada
posisi panas maksimum ketika melakukan pembuangan atau penggantian air
pendingin engine.
Begitu juga untuk engine-engine yang air pendinginnya dilengkapi
dengan campuran khusus, maka harus diperhatikan merek dan jumlah
takaran yang dianjurkan untuk dipakai sesuai dengan petunjuk yang
diberikan oleh pabrik. Serta waktu penggantiannya. Karena ini semua
menyangkut dengan perawatan dari engine tersebut agar dapat dipakai
dalam jangka waktu yang lama.

7.2.4 Istilah-IstilahDalam Cooling System

1. Non Positif Displacement Pump : pompa yang apabila out putnya di


block, maka fluida hanya bersikulasi di sekitar sudut pompa tanpa
menimbulkan tekanan yang terus meningkat.
2. Cavitasi : kevacuman pada bagian input pompa karena adanya hambatan
dalam sistem.
3. Over Heating : temperatur engine apabila melebihi temperatur kerja
maksimum yang diijinkan.
4. Over Cooling : temperatur engine apabila kurang dari temperatur kerja
minimum yang diijinkan.
5. P H : nilai derajat keasaman dari air pendingin.
87
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.2.5 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Cooling System

1. Agar sistem pendingin bekerja dengan Pressurized System, usahakan


agar Filler Cap Radiator dalam kondisi baik dan selalu terpasang dengan
rapat dan benar.
2. Check level air pada radiator secara berkala dan tambahkan air jika kurang,
bila perlu campur dengan cairan Additive sesuai dengan buku petunjuk agar
sistem tidak terkorosi.
3. Ganti air dengan air yang benar sesuai buku petunjuk secara berkala, dengan
ketentuan:
a. Air yang baik adalah air bersih, jerih dan tidak asam dan berlumpur
dengan PH= 7.
b. Bersihkan dengan cara membilas (Run engine tanpa beban pada Low Idle)
c. Gunakan selang yang tidak terlalu besar saat mengisi air untuk
menghindari terjadinya gelembung-gelembung udara dan kemudian
terperangkap di dalam sistem/celah-celah engine.
4. Check dan perbaiki kebocoran-kebocoran yang mungkin timbul.
5. Bersihkan radiator secara berkala dengan mencucinya agar terlepas dari
kotoran-kotoran yang dapat menghambat proses pendinginan air pendingin.
6. Gunakan cairan pencegah karat sesuai dengan rekomendasi pada buku
petunjuk.
7. Jangan membuka Filler Cap tanpa pelindung tangan dan muka pada waktu
engine baru dimatikan/masih panas, karena sistem masih bertekanan dan
air pendingin masih panas.
8. Apabila terjadi Over Heating sehingga kekurangan air, lepaskan beban
engine sampai putaran engine rendah ( Low Idle ), kemudian buka Filler
Cap dengan pelindung kain/sarung tangan, lalu mulai tambahkan air secara
perlahan sedikit demi sedikit sampai penuh.
9. Jangan membiarkan udara panas radiator masuk kembali ke dalam engine,
karena kerusakan atau putaran Cooling Fan yang terbalik, hal ini akan
menyebabkan Over Heating.

7.3 LUBRICATING SYSTEM

7.3.1 Pengertian Sistem pelumasan

Sistem pelumasan merupakan sistem pada engine diesel yang dapat


merawat kerja diesel engine agar dapat berumur panjang, dengan memberikan
pelumasan pada bagian-bagian engine yang saling bergerak/mengalami
gesekan. Adapun secara terperinci fungsi dari sistem pelumasan adalah :
Fungsi Pelumas Pada Engine:
1. Sebagai Pelumas ( Lubricant )
88

Pelumas akan membentuk oil film pada permukaan komponen yang


bergesekan (clearence) dan menerobos celah - celah komponen yang
Page

memerlukan pelumasan, maka pelumas harus mempunyai sifat-sifat:

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
 Oli harus mempunyai kekentalan/viskositas tertentu.
 Viskositas oli stabil terhadap perubahan temperatur ( Viscosity Index ).
 Oli tidak berbusa.

2. Sebagai Pendingin ( Coolant )


Pelumas akan membantu menyerap panas yang dialami komponen-
komponen engine yang timbul karena proses pembakaran atau karena
gesekan dari komponen-komponen yang saling bergerak dan tidak dapat
dijangkau oleh sistem pendinginan, misalnya: piston dan bagian-bagiannya,
bearing, turbocharger, mekanik katup dan lain-lain, maka pelumas harus
mempunyai suhu yang stabil, sehingga sistem harus dilengkapi dengan
pendingin oli ( Oil Cooler ).
3. Sebagai Pembersih ( Cleaner )
Pelumas akan membersihkan geram-geram/kotoran/endapan asam
yang terjadi akibat gesekan, proses pembakaran atau karena terbawa
oleh udara atau bahan bakar, khususnya dalam menetralisir asam belerang
( Acid ) yang terjadi dari proses pembakaran karena kandungan Belerang
dalam bahan bakar. Karena asam ini dapat mengikis permukaan logam.
Untuk mendukung fungsi kerja tersebut, maka sistem pelumasan dilengkapi
dengan Filter.
4. Sebagai penyekat ( Sealing )
Oli juga meningkatkan penyekatan (sealing). Cylinder liner telah
didesain sedemikian rupa sehingga selalu terdapat lapisan yang melekat
pada dinding. Hal ini memudahkan piston ring untuk memberikan efek
penyekatan pada ruang bakar.
5. Sebagai Penghantar panas
Oli juga berguna untuk menghantarkan panas dari bagian dalam
engine
6. Sebagai peredam suara
Oli juga berguna juga untuk memberikan efek peredaman suara.
89
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.3.2 Jalur Aliran Oli Pelumas

Gambar 138. Jalur aliran oli pelumas


Engine diberikan pelumasan dengan dorongan tenaga dari gear
pump yang digerakkan melalui putaran crankshaft. Dua jalur longitudinal
untuk oli pelumasan yang melewati lubang menuju cylinder blok, main oil
gallery terhubung menuju jalur cast-in yang melumasi timing gear bearing.
Ditengahnya ada lubang jalur yang melumasi cylinder block dan cylinder head
menuju valve VCB pada jalur lubang didalam shaft rocker arm, sekaligus
melewati camshaft bearing dan rocker arm bearing.

90
Page

Gambar 139. Diagram VCB Sistem Pelumasan

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Sistem pelumasan dilengkapi 4 buah
valve, yaitu :
a. Relief valve, yang berfungsi
membatasi tekanan maksimum sistem
pelumasan.
b. oil cooler by-pass valve, yang
berfungsi memby-pass oil cooler saat
suhu engine masih rendah.
c. oil filter by-pass valve, yang berguna
untuk memby-pass full flow filter saat
filter tersumbat karena kotoran.
d. Piston cooling valve, yang berguna
untuk memasok oli untuk pendinginan Gambar 140. Sistem Pelumasan
piston saat RPM engine di atas 1400
RPM.

Gambar 141. Diagram Sistem Pelumasan

Oli dihisap melalui strainer (1) melalui saluran plastic (2) dari
penampungan (Sump) ke pompa oli (3), akan dipompakan ke oli melewati
pipa bertekanan menuju jalur ke dalam cylinder block. Valve pengurang
tekanan (pressure reduction valve) (A), digabungkan dalam oil pump, dijaga
pada tekanan oli yang ditetapkan. Di baut dalam sisi engine blok, secara
langsung setelah reduction valve (A), adalah safety valve (B) untuk melindungi
oil pump, filter dan oil cooler dari kelebihana tekanan ketika viskositas oli
masih tinggi selama start dingin.
Jika oli sudah panas (sekitar 1040 C), valve thermostat menutup dan
91

oli akan mengalir menuju oil cooler (5), kemudian melewati filter housing
yang terpasang di engine (6), pada pengendali filter housing untuk
Page

penyaringan. Jika oli masih dingin, itu akan diarahkan oleh thermostat valve

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
(C) yang terbuka menuju filter, tidak melalui oil cooler lagi. Ini akan
mempercapat tahapan pemanasan engine. Setelah disaring melalui full flow
filter (7), oli melewati sebuah saluran penghubung menuju jalur main gallery
pelumasan (8) di dalam cylinder block untuk penyaluran ke seluruh bagian
pelumasan engine dan juga turbin (8) untuk mengendalikan pembatas
ventilasi crankcase.
Oil pump (1) digerakkan oleh timing gear, menghisap oli dari oil pan
(2). Oli kemudian mengalir melalui strainer (3) yang berada pada oil pan dan
pompa, dan kemudian dipompakan melewati relief valve (4). Oli yang
kembali ke oil pan melalui oil cooler (5) untuk didinginkan. Saat engine
distart, oli masih dingin, oli tidak akan mengalir oil cooler melainkan langsung
melalui bypass valve (6) untuk mempercepat proses pemanasan engine untuk
mencapai suhu kerjanya.
Saat tekanan oli mencapai harga tertentu, piston cooling valve (9)
membuka dan mengalirkan oli ke piston cooling jet (10). Oli mengalir dari
filter menuju jalur utama oli (11) yang dibuat sepanjang cylinder block. Dari
jalur tersebut oli didistribusikan lewat lubang-lubang menuju camshaft
bearing (12), main bearing (13) dan ke crankshaft. Sebagian oli dipompakan
menuju rocker arm shaft (16). Akibatnya, mekanisme valve terlumasi.
Sebelum mencapai turbocharger (17), oli mengalir melewati pipa external /
external pipe (18) yang terhubung dengan cylinder block.
Turbocharger membutuhkan banyak oli karena unit turbin
beroperasi dengan kecepatan yang sangat tinggi, lebih dari 85.000 RPM. Fuel
injection pump dan air compressor mendapatkan pelumasan dari pipa
eksternal pula. Karena salah satu dari timing gear (19) terhubung dengan
saluran sistem pelumasan, oli juga didistribusikan padanya dengan
semburan (splashing).

7.3.3 Komponen-Komponen Lubrication System

1. Oil strainer
Sebelum mencapai oil pump, oli harus melalui strainer terlebih
dahulu yang terdapat di bagian bawah oil pan. Dari strainer , oli lewat
saluran pemasukan menuju pompa.
92
Page

Gambar 142. Oil pump

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
2. Oil Tank / Oil Pan / Karter
Oil tank merupakan tempat penampungan engine oil dan
pendinginan oil sementara, selama oil masih berada di Karter dan belum
dialirkan ke sistem. Karter diletakkan pada bagian paling bawah dari block
engine. Periode penggantian engine oil tergantung dari kapasitas volume
engine oil dan lamanya waktu pengoperasian engine.
Pada oil tank dilengkapi dengan Drain/Tapping Valve yang
berfungsi untuk membuang oli secara berkala sesuai dengan periode
penggantiannya. Deepstick/Dipstick yang berfungsi untuk mengukur level
oil yang dilakukan pada saat engine tidak beroperasi.

3. Oil Pump
Oil pump adalah pompa yang berfungsi mensuplai oli ke
bagian-bagian engine yang memerlukan Pelumasan. Biasanya digunakan
jenis Gear atau Gearotor Pump, yang diletakkan pada Bagian bawah
engine ( di dalam Karter ) dan pada bagian hisapnya dipasang saringan
kasar( Strainer ) untuk menghindari benda-benda kasar masuk ke dalam
sistem. Pada beberapa engine, oil pumnya mempunyai 2 pasang gear (
Double Pump ), dimana sepasang pump untuk main pump dan yang
satunya sebagai scavenging pump yang berfungsi untuk selalu mensuplai
oil agar tetap Stand By di saluran hisap Main Pump.

Gambar 143. Oil pump


4. Oil Filter
Salah satu tugas dari sistem pelumasan adalah untuk menyapu
semua kotoran dari titik-titik pelumasan engine dan permukaan bearing.
Oli kemudian menjadi kotor dan harus dibersihkan sebelum kembali ke
titik-titik pelumasan tersebut. Oli telah disaring saat melalui strainer pada
93

pompa oli. Untuk menangkap partikel kotoran yang lebih halus, sistem
pelumasan dilengkapi dengan tiga filter, tergantung pada tipe engine. Oil
Page

filter terdiri dari cartridge (wadah) filter yang dapat diganti (replaceable)

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
yang berisi lipatan kertas. Semua oli dari pompa harus melewati filter-
filter tersebut untuk dibersihkan sebelum memasuki engine kembali. Bila
terjadi penyumbatan pada oil filter, oli yang belum disaring dapat menuju
ke engine melalui by-pass valve. By-pass valve ini terletak pada bracket
dari filter.

Gambar 144. Oil Filter


Penempatan oil filter di sistem terbagi atas 3 macam:
a. Penempatan filter sebelum ke sistem ( Bypass Oil Filter ).
b. Penempatan filter setelah dari sistem ( Full Flow Oil Filter ).
c. Penempatan filter sebelum dan setelah ke system.
Oil Filter By Pass Valve/Safety valve merupakan oil filter yang
dilengkapi valve yang dapat membuka untuk membypass flow oilke
sistem tanpa melalui penyaringan, apabila filter tersebut memblock,
terutama pada saat engine running.

Gambar 145. Prinsip kerja Bypass Oil Filter Gambar 146. Prinsip kerja Full Flow Oil Filter

5. Oil Cooler
Oil cooler merupakan pendingin oil yang didalamnya
94

menggunakan air sebagai media pendingin, sehingga panas engine dan


bagian-bagiannya yang dibawa oleh oil ke karter akan dinetralisir sebelum
Page

diteruskan ke sistem untuk pelumasan. Oil cooler membantu melepaskan


panas dari bagian interior engine. Inti dari oil cooler dihubungkan ke

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
sistem pendinginan engine. Oli bersirkulasi di sekitar inti dan
memindahkan panas ke [Link] cooler menyerap 10 – 15% panas
engine.

Gambar 147. Oil Cooler

Oil Cooler By pass Valve merupakan valve yang terdapat pada


Oil Cooler, berfungsi mem-bypass aliran oil apabila terjadi
Block/terhambatnya aliran oil karena kekentalannya disaat engine masih
dingin.

6. Jet Spray
Jet spray merupakan jet yang berfungsi menyemprotkan
aliran oil secara langsung ke masing-masing piston untuk
pendingin/pelumasan piston, ring piston dan linernya pada putaran
tertentu atau saat tekanan oli sangat tinggi, misalnya di atas putaran 1000
RPM. Untuk setiap silinder mempunyai satu unit Jet Spray. Piston akan
menjadi sangat panas saat engine bekerja, dimana pada engine tertentu
membutuhkan pendinginan tambahan. dimana piston-cooling valve pada
engine block terbuka. Oli dipaksa keluar dari lubang di engine block
melalui cooling jet, pada tiap-tiap piston. Oli disemprotkan pada bagian
bawah piston.

Gambar 148. Jet Spray

7. Oil Pressure Gauge


95

Oil pressure gauge merupakan alat yang digunakan untuk


Page

mendeteksi berapa nilai tekanan oil disaat sistem bekerja. Ada pula

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
engine yang menggunakan Oil Filter Differential Pressure Gauge untuk
mendeteksi filter Block dengan memanfaatkan nilai pressure aliran oil saat
sebelum dan sesudah melewati oil filter.
8. Oil pump dan cooler

Gambar 149. Oil pump & cooler


Pada engine volvo, oil pump merupakan jenis gear pump yang
diletakkan di bagian belakang engine dan dibaut dengan empat baut untuk
main bearing cap. Hal ini digerakkan oleh sebuah gear (1) langsung dari
crankshaft gear. Pompa mempunyai roda gerigi helical untuk mengurangi
getaran, dan shaftnya dipasang dalam set bearing ke dalam pump housing,
yang aluminium. Pressure reducing valve (2) dipasang pas ke dalam oil
pump dan mengkontrol tekanan oli pelumasan.
Oil strainer (3) yang diinjeksikan dalam cetakan dan ditempelkan
pada stiffening frame dengan tiga baut (screw) dan dihubungkan dengan
oil pump dengan sebuah intermediate steel pipe (3) dengan seal karet stik
solusi di ujung keduanya. Pipa bertekanan adalah sebuah baja

7.3.4 Pelumasan Dengan Centrifugal Oil Separator

Sistem pelumasan ini dilengkapi dengan oil seperator pada filter


olinya, dengan tujuan dapat memisahkan/mengendapkan kotoran-kotoran
yang terbawa bersama-sama oli.
96
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 150. Sistem pelumasan dengan Centrifugal Oil Separator

Cara Kerja:
Oil Separator terpasang secara By Pass pada filter utama, dimana oli
dari pompa setelah melewati saringan utama kira-kira 10 % dari jumlah
tersebut akan terambil masuk ke dalam rotor centrifugal oil separator untuk
proses pemisahan oli dengan kotoran, ini akan menyebabkan rotor berputar
secara dinamis kira-kira 3000 s/d 8000 rpm karena tekanan dari pompa.
Sesudah bersirkulasi di dalam rotor untuk mengendapkan kotoran-kotoran,
oli terus dialirkan ke tangki oli ( sump ). Dengan menggunakan sambungan T
pada saluran pemasukan udara, maka akan meningkatkan pengosongan /
kevakuman oli yang menuju ke tangki, sehingga oli akan menjadi lebih cepat
untuk kembali ke tangki.
Pada sambungan T saluran pemasukan udara pada saluran masuk
penunjang saringan dipasang Non Return Valve, dengan tujuan untuk
mencegah oli kembali naik ke atas sewaktu terjadi kevakuman. Aliran udara di
97

dalam pipa tersebut sangat kecil kira-kira 0,05 % dari keseluruhan aliran oli
engine. Sedangkan non return valve bekerjanya diatur oleh tekanan dari
Page

turbocharger.

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.3.5. Beberapa Istilah Yang Terdapat Dalam Lubrication System

1. Viscosity
Viscosity adalah sifat fisik oil yang berkaitan dengan nilai
kekentalannya, ditentukan dengan nilai SAE ( Society OF Automotif
Engineer ), dimana semakin tinggi nila SAE maka akan semakin besar
nilai kekentalannya.
2. Viscosity Index
Viscosity index adalah nilai kestabilan kekentalan oil terhadap
perubahan temperatur.
3. Sulfuric Acid
Sulfuric acid adalah Asam Sulfat yang terbentuk karena
pembakaran asam belerang yang terkandung. dalam bahan bakar
diesel/solar, asam ini mempunyai sifat korosif yang dapat membuat
keausan komponen engine lebih cepat.
4. Alkali
Alkali adalah zat yang dicampur ke dalam oil untuk
menetralisir sifat asam ( Acid), sehingga keausan komponen karena asam
dapat dicegah/diperkecil.

5. Po sitif Displacement Pump


Positif Displacement Pump adalah pompa yang apabila out
putnya di block, fluida akan tetap dialirkan sehingga tekanannya akan
semakin tinggi sampai tidak terbatas, karena setiap langkah pompa
tersebut adalah flow/aliran.
7.3.6 Hal – Hal Yang Perlu Diperhatikan Pada Lubrication System

1. Ganti oil sesuai schedule yang ditetapkan pada Maintenance Guide


(Petunjuk Pemeliharaan).
2. Gunakan oil yang cocok untuk Diesel Engine ( Direkomendasikan ) baik
kekentalannya, typenya ( mengandung Alkali ) ataupun merknya, dan
jangan mencoba untuk mengganti ataumencampur jenis yang satu
dengan yang lain pada pelumasan di Unit/Mesin.
3. Perhatikan kebersihan selama pengisian oil.
4. Ganti filter ( Elemen ) sesuai schedule yang ditetapkan atau karena
petunjuk dari indikator yang menunjukkan filter Block.
98
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.4 SISTEM BAHAN BAKAR ENGINE DIESEL

7.4. 1 Pengertian Sistem Bahan Bakar Engine Diesel

Sistem bahan bakar adalah sistem yang terdapat pada engine


diesel yang berfungsi untuk mensuplay bahan bakar dari tangki ke masing-
masing silinder melalui injector, sesuai jumlah dan waktu yang tepat
dalam bentuk partikel yang sangat halus/kabut, sehingga menghasilkan
pembakaran yang sempurna untuk mendapatkan power/tenaga yang
maksimum.

Gambar 151. Sistem bahan bakar

7.4.2 Jalur Aliran Bahan Bakar Diesel

Bahan bakar dihisap dari fuel supply pump dari tangki. Bahan bakar
itu kemudian dihisap melalui pre-filter dengan water trap (pemisah air dan
bahan bakar) melalui jalur pendinginan untuk ECU (Engine Control Unit) dan
bersama-sama kembali mengalir dari injektor menuju sisi suction (sisi hisap).
Dari sana fuel kemudian didorong melalui main filter dan kemudinan menuju
99

unit injektor feed channel yang memanjang secara longitudinal lubangnya


melalui cylinder head. Sebuah overflow valve yang ditempatkan di ujung akhir
Page

feed channel untuk menjaga feed pressure yang dibutuhkan injektor.

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Unit injektor ditempatkan di cylinder head, satu untuk masing-
masing cylinder. Dalam unit injektor, elemen pompa dan injektor dirakit
dalam kesatuan dan ditempatkan di sisi dalam bodi injektor. Injektor secara
elektronik dikendalikan dan dialirkan sampai mencapai kurang lebih 2000 bar
tekanan injeksinya dan mempunyai kemampuan kendali yang sangat tinggi
terhadap waktu penginjeksian dan jumlah bahan bakarnya.

Gambar 152. Diagram Alur Sistem bahan bakar

Fuel dihisap oleh feed pump (1) melalui sebuah strainer (2) di dalam
combined tank unit, naik menuju cooling loop (10), yang mendinginkan
engine control unit (6), dan kemudian menuju fuel filter housing (3). Di fuel
filter, bahan bakar melewati non-return valve (11) untuk hand pump pada
jalan menuju pre-filter (4) dengan water separator dan melewati cup (13).
Setelah penyaringan, bahan bakar diarahkan ke sisi hisap pompa.
100

Feed pump (1) dipompakan untuk mengisi bahan bakar menuju main
filter (5) naik ke jalur injektor longitudinal (9) di dalam cylinder head. Dari
jalur ini, unit injektor (8) mengisi melalui jalur berbentuk ring di sekeliling
Page

masing-masing injektor menuju ke dalam cylinder head. Overflow valve (7)

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
menjaga kecukupan mengisi tekanan ke injektor. Pengembalian fuel dari
cylinder head (9) mengalir kembali ke sisi hisap pompa. Disana ada dua valve
yang ditempatkan di dalam feed pump. Safety valve (14) menjadikan bahan
bakar bersikulasi di dalam pompa ketika tekanan menjadi terlalu tinggi,
contoh ketika fuel filter mengalami kebuntuan. Non-return valve (15)
membuka ketika hand pump (12) dipakai, sehingga fuel dapat diby-pass fuel
pump selama manual bleeding, ketika engine mati. Hand pump (12) yang
ditempatkan pada fuel filter housing dan hanya digunakan untuk mengalirkan
ke sistem dalam hal bahan bakar mengalami darurat.
Pada cylinder head terdapat air bleed valve (16) . Valve ini bersama-
sama dengan valve (20) mensirkulasikan sistem secara otomatis, ketika
engine start. Banyak udara dalam sistem yang mengalir, bersama dengan
sejumlah kecil fuel, kembali ke tanki (2) melalui pipa alir yang terhubung ke
dua valve ini. Ketika filter dibuka, katup valve (18 dan 19) akan menutup
otomatis untuk mencegah bahan bakar terjatuh ketika fuel filter akan dilepas.
Setelah pergantian filter, sistem akan dialiri otomatis melalui valve (18, 19
dan 20), hanya menjalankan engine pada idle kira-kira satu menit.
Terdapat sensor tekanan bahan bakar (21) di dalam fuel filter
housing yang mengukur feed pressure setelah main fuel filter. Kode error
ditunjukkan pada instrument panel jika feed pressure jatuh terlalu rendah.
Plugged outlet (22) di dalam fuel filter housing digunakan untuk mengukur
feed pressure secara manual. Sensor Air dalam bahan bakar (23) yang
diletakkan di dalam water separator cup (13) mengirim sinyal ke driver jika
disana ada air dalam sistem. Cup ini secara manual didrain melalui plug (25).
Sebagai pilihan, disana juga ada sebuah fuel heater (26) yang tersedia, itu
untuk dipasang di dalam water separator cup (13).

7.4.3 Komponen-Komponen Pada Fuel Sistem

1. Fuel Tank (Tangki Bahan Bakar)


Fuel tank berguna untuk menyimpan sejumlah bahan bakar.
Kapasitas tangki umumnya untuk 1 hari operasi (± 10 jam kerja ), tetapi
ada juga yang memiliki kapasitas yang lebih besar, seperti pada Stationer
Engine. Fuel tank biasanya dilengkapi dengan sending unit, pick up tube
dan vent. Sending unit biasanya berupa pelampung, yang berhubungan
dengan rheostat (variable resistor) yang mengirimkan besaran listrik
(tegangan) menuju fuel gauge (meter penunjuk bahan bakar) di dashboard.
Pada tangki bahan bakar terdapat bagian-bagian:
101
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 153. Fuel Tank

Gambar 154. Bagian-bagian Fuel Tank

a. Filler Cap ( Tutup Tangki )

Filler cap merupakan tutup yang dilengkapi dengan lobang


pernapasan yang berfungsi untuk mencegah kevakuman dan
tekanan yang berlebihan di dalam tangki, lobang pengisian biasanya
dilengkapi dengan Strainer yang berfungsi untuk menyaring kotoran-
kotoran yang terbawa bahan bakar selama pengisian.

b. Drain Valve

Drain valve merupakan lubang untuk menguras tangki atau


membuang endapan kotoran-kotoran/air dari dalam tangki.

c. Stand Pipe

Stand pipe merupakan pipa hisap transfer pump yang ujungnya


diletakkan ± 5 cm di atas dasar tangki, agar endapan kotoran/air tidak
masuk ke dalam sistem.

d. Baffle

Baffle merupakan penyekat yang berfungsi untuk menjaga


permukaan bahan bakar pada Stand Pipe selalu standby pada saat
unit/mesin beroperasi pada medan bergelombang/Off Road.
102
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
2. Primary Fuel Filter/Water Separator

Gambar 155. Primary Fuel Filter

a. Fuel filter housing valves


Filter housing mempunyai kesatuan valve di pre dan main filter
nipple. Valve mencegah fuel spillage selama pergantian filter. Valve
dalam nipple main filter juga memfasilitasi sebuah sistem fungsi bleed
otomatis.
b. Valve in pre-filter nipple
Di dalam pre-filter, disana ada sebuah valve (A), yang bertujuan
dengan beratnya jatuh ke bawah mencegah fuel untuk didrain ketika
filter diganti atau dikosongkan. Pada engine yang mulai valve akan
diangkat dari dudukannya oleh aliran fuel dan udara.
c. Valve ini main filter nipple
Di dalam nipple main filter, disana ada fungsi ganda valve (B)
yang berisi sebuah non return valve (sama dengan pre-filter) dan sebuah
penambahan sleeve untuk sistem bleeding otomotif. Valve dan sleeve (B)
dapat diasumsikan tiga posisi seperti yang ditunjukkan di gambar
Komponen ini berfungsi menyaring partikel kotoran yang
kasar/air agar tidak ikut terbawa bahan bakar ke dalam sistem, dengan
tujuan melindungi Transfer Pump dari partikel kasar/melindungi
komponen dari kemungkinan karat. Elemen filter ini terbuat dari
strainer/kawat halus yang dapat dibersihkan, sedangkan untuk water
separatornya digunakan hanya untuk sekali pakai.
103
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 156. Sedimen filter Gambar 157. Filter separator

Gambar 158. Fuel filter instalation

3. Fuel Transfer Pump/Feed Pump


Feed pump merupakan pompa yang berfungsi untuk mentransfer
bahan bakar dari tangki ke Fuel Injection Pump/Unit Injector. Fuel feed
pump akan memompakan sejumlah bahan bakar ke injection pump pada
tekanan tertentu. Fuel injection pump mendapat pasokan bahan bakar dari
fuel feed pump yang memperoleh bahan bakar dari fuel tank.
Fuel feed pump umumnya merupakan pompa Positif
Displacement Pump dengan type Fixed (dimana flownya tidak dapat
diatur) bentuknya berupa: Gear Pump, Vane Pump, Plunger Pump dan lain-
lain. Dilengkapi dengan hand priming pump yang digunakan untuk
memompa bahan bakar dengan tangan saat fuel tank kehabisan bahan
bakar dan telah diisi kembali.
104
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
4. Fuel Priming Pump

Gambar 159. Fuel filter instalation

Fuel primming pump merupakan pompa tangan yang


dipergunakan untuk membantu memompakan bahan bakar dari tangki ke
filter dan Fuel Injection Pump secara manual, untuk mengisi kekosongan
bahan bakar pada komponen-komponen tersebut pada waktu selesai
diganti/dipasang atau membuang angin yang masuk ke dalam sistem agar
engine mudah dihidupkan.

Gambar 160. Pompa suplai tipe KE


105

Gambar 161. Prinsip kerja Fuel Priming Pump


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Dengan menggunakan hand priming pump, kita dapat membuang
udara yang masuk dalam sistem bahan bakar bersamaan dengan mengisi
bahan bakar kembali ke jalur-jalurnya, dengan membuka air venting screw
pada bracket dari fuel flter.

5. Secondary Fuel Filter


Secondary fuel filter merupakan filter bahan bakar yang berfungsi
menyaring partikel-partikel kotoran yang lebih halus sebelum bahan bakar
masuk ke dalam Fuel Injection Pump. karena kotoran dapat merusak fuel
pump dan injector dan dapat menyebabkan masalah/gangguan pada
operasi engine, bahkan kerusakan besar pada engine. Filter-filter yang
digunakan disebut spin-on filter yang berisi kertas yang berlipat-lipat.

Gambar 162. Secondary Fuel Filter

Ada 2 jenis filter :


a. Spin On
Spin on adalah jenis filter yang Elemen dan Housingnya menjadi satu
komponen, sehingga penggantiannya dilakukan dengan housingnya (
satu assy).
b. Catridge
Catridge adalah jenis filter yang elemen-elemennya dapat dipisahkan
dari housingnya, sehingga penggantiannya cukup elemennya saja.
106

Gambar 163. Fuel Filter Gambar 164. Agglomerate Secondary Filter


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Bahan bakar harus benar-benar bersih sebelum memasuki fuel
pump, karena kotoran dapat merusak fuel pump dan injector dan dapat
menyebabkan masalah/gangguan pada operasi engine, bahkan kerusakan
besar pada engine. Filter-filter yang digunakan disebut spin-on filter yang
berisi kertas yang berlipat-lipat.
6. Pressure Relief Valve
Pressure relief valve merupakan valve yang berfungsi membatasi
tekanan bahan bakar di dalam sistem dan akan mengembalikan kelebihan
flow bahan bakar yang disuplay oleh Transfer Pump untuk dikembalikan ke
tangki.
7. Bleeding Valve
Bleeding valve merupakan valve untuk membuang udara yang
terperangkap di dalam sistem agar engine mudah dihidupkan.
8. Fuel Return Line/Overflow Line
Overflow line adalah saluran pengembalian kelebihan bahan bakar
ke tangki.
9. Fuel Pressure Gauge
Fuel pressure gauge adalah alat untuk mengukur tekanan flow
bahan bakar, yang dipasang setelah bahan bahan bakar melewati filter,
sehingga secara tidak langsung juga dapat digunakan untuk mendeteksi
filter block.
10. Fuel Injection Pump
Fuel injection pump merupakan komponen yang berfungsi untuk
mendistribusikan fuel dengan tekanan tinggi ke dalam masing-masing
silinder melalui Injector sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan dan waktu
yang tepat ( Injection Timing ) serta urutan pembakaran (Firing Order).
Bahan bakar yang telah bersih kemudian dikirim ke fuel injection pump.
Kebanyakan unit alat berat menggunakan pompa model in-line ( rotary
pump hanya digunakan pada engine ukuran kecil ).
107
Page

Gambar 165. Prinsip kerja Fuel Priming Pump

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Control rod mengendalikan jumlah bahan bakar yang akan dikirim
ke injector untuk diinjeksikan ke dalam ruang bakar. Saat operator
menginjak accelerator pedal (pedal gas), control rod akan bekerja
mengubah-ubah jumlah bahan bakar yang dikirim. Pengendalian
pemompaan ini dipengaruhi oleh preset timing (dari posisi timing gear),
pressure udara di dalam intake manifold (smoke limiter), RPM engine
(injection timing advancer), suhu start (cold start device) dan beban engine
(mechanical governor). Injection pump digerakkan oleh engine melalui
timing gear assembly dan diperantarai oleh injection timing advancer. Tipe
yang digunakan di engine Volvo adalah in-line dimana jumlah plunger sama
dengan jumlah silinder engine.
Dilihat dari segi pengaturan konsumsi bahan bakarnnya, Injection
Pump terbagi atas:
a. Scroll Type
Scroll type merupakan bentuk pengaturan jumlah konsumsi
bahan bakar yang akan diinjeksikan ke dalam silinder ditentukan oleh
posisi Rack. Gerakan yang diberikan tergantung dari jenis Helix Plunger
yang digunakan.

Gambar 166. Bagian-bagian Plunger

Gambar 167. Mekanisme perputaran plunger


108
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 168. Control rod or rack used to control fuel delivery

b. Sleeve Metering
Sleeve metering merupakan bentuk pengaturan jumlah
konsumsi bahan bakar yang akan diinjeksikan ke dalam silinder
ditentukan oleh posisi sleeve.

Gambar 169. Sleeve matering fuel pump operation

7.4.4 Komponen pada Fuel Injection Pump

109
Page

Gambar 170. Sistem bahan bakar

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Bagian dalam dari fuel injection pump terdiri
dari : (1) injection pump camshaft (2) tappet dan
roller, (3) plunger dan barrel, (4) return spring, (5)
control rod, (6) pressure valve, dan pressure valve
spring (7).
Plunger bergerak naik turun di dalam barrel
oleh dorongan dari camshaft melalui perantaraan
tappet dan roller untuk mengurangi gesekan dan
memperhalus gerakan. Untuk mengembalikan
plunger ke posisi TMB, digunakan return spring.
Plunger duduk pada plunger holder yang salah satu
bagiannya dikaitkan dengan control rod. Gerakan
control rod secara translasional menyebabkan
plunger holder berputar secara aksial, sambil
bergerak naik-turun, yang dapat mengubah posisi
control groove relatif terhadap delivery hole.
Barrel bertindak sebagai silinder dimana
terdapat lubang pemasukan solar (delivery hole) yang
mendapat pasokan dari delivery chamber–fuel feed
pump. Barrel dapat disetel perkaitannya dengan
injection pump housing untuk mengatur jumlah
bahan bakar secara [Link] valve berfungsi
Gambar 171. Bagian Fuel
untuk memungkinkan solar mengalir menuju injektor
Injection Pump
dengan suatu tekanan dan mencegah solar dari pipa
tekanan tinggi terhisap kembali oleh plunger. Valve
tersebut segera menutup aliran begitu tekanan solar
drop.

1. Plunger
Plunger bertindak sebagai pompa yang menginjeksikan fuel,
dengan gerakan turun untuk hisap dan gerakan naik untuk
penginjeksian, serta gerakan berputar untuk menentukan jumlah yang
akan dikonsumsikan ke dalam silinder.
110
Page

Gambar 172. Plunger

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 173. Helix Plunger

Gambar 174 Diagram ciri-ciri jumlah injeksi

Plunger bergerak naik-turun di dalam barrel. Barrel dilengkapi


dengan lubang pemasukan (delivery hole) yang akan memasok solar saat
plunger berada pada posisi terendahnya (TMB). Pada saat ini lubang
pemasukan terbuka dan solar dengan tekanan rendah mengisi ruangan di
atas plunger (1). Saat plunger bergerak naik, sebagian solar akan kembali
keluar dari barrel hingga lubang pemasukan tertutup sepenunya oleh
plunger. Solar yang terjebak akan naik pressure-nya dan mulai membuka
pressure valve melawan spring (2). Solar akan terus disalurkan ke injector
selama plunger bergerak naik (3).
111
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 175. Pergerakkan plunger dalam barrel

Ketika control groove bertemu dengan lubang pemasukan, solar


dapat kembali keluar dari barrel dan pressure-nya langsung drop karena
kebocoran kompresi. Saat ini pemompaan solar berakhir walaupun plunger
tetap bergerak ke atas. Dengan memutar posisi plunger, maka pertemuan
control groove dengan delivery hole dapat berubah, yang berarti
mengubah volume solar yang dipompakan tiap langkahnya.

Gambar 176. Control groove

2. Rack/Sleeve
Rack/sleeve merupakan komponen yang posisinya menentukan
jumlah konsumsi fuel yang akan diinjeksikan ke dalam silinder, sesuai
dengan gerakan:
a. Rack : Bergerak ke kiri atau kanan untuk menentukan posisi plunger
saat diperlu- kan perubahan konsumsi fuel yang akan diinjeksikan.
112
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
b.
c.
d.
e. Gambar 177 Injection pump with Gambar 178. Sleeve Matering fuel pump
control rack and gear segment

b. Sleeve : Bergerak naik dan turun untuk menentukan posisi plunger


saat diperlukan perubahan konsumsi fuel yang akan diinjeksikan.
3. Barrel
Barrel merupakan housing dari plunger yang dilengkapi dengan
lubang pemasukan dan pembuangan fuel.
4. Check Valve/Delivery Valve
Check valve merupakan katup yang berfungsi memberikan
tekanan tinggi bahan bakar ke injector melalui pipa tekanan tinggi (
Injection Line ), dan mencegah aliran balik bahan bakar dari pipa tekanan
tinggi ke barrel.

Gambar 179. Check Valve


113
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 180. Delivery valve

5. Cam Shaft
Camshaft merupakan komponen yang mendorong masing-
masing Plunger melalui Tapet melawan spring mendorong Plunger
bergerak naik untuk melakukan pemompaan fuel sesuai dengan waktu
yang tepat ( Injection Timing ) serta urutan pembakaran (Firing Order )
yang ditunjukkan oleh konstruksi dari Cam Shaft itu sendiri. Camshaft
diputar oleh Drive GearEngine.

Gambar 181. Tipe camshaft


114
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.4.5 Fungsi dan Cara Kerja Governor

Governor adalah komponen yang berfungsi:


1. Mengatur putaran engine agar konstan.
2. Merubahputaran engine sesuaidengan power yang dinginkan.
3. Mengaturrespon engine.
Governor akan mempertahankan RPM engine saat terjadi perubahan
load ( beban ) pada engine. Dengan mengindera RPM engine, governor akan
memberi sedikit lebih banyak bahan bakar bila beban meningkat dan RPM
turun, dan mengurangi jumlah bahan bakar sedikti bila beban berkurangi agar
RPM relatif tetap stabil.

Gambar 182. Letak governor pada engine


Untuk melakukan fungsinya tersebut, governor mengatur langsung
jumlah konsumsi fuel yang akan diinjeksikan ke dalam silinder melalui
pengaturan posisi rack/sleeve.

Keterangan gambar :

1. Injection pump control rod


2. Equalizing spring
3. Setting nut
4. Governor spring
5. Centrifugal weight
6. Angle arm
7. Pressure ring
8. Sprung governor sleeve
9. Full load stop
10. Link rod
11. Governor arm
12. Guide plunger
13. Linkage
115

14. Cam plate

Gambar 183. Bagian-bagian Governor


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Posisi rack/sleeve yang menentukan jumlah konsumsi bahan bakar
yang akan diinjeksikan ke dalam silinder diatur oleh keseimbangan gaya
antara governor spring dan flyweight, dengan ketentuan:
1. Apabila gaya spring lebih besar dari gaya flyweight (GS> GF), maka
Rack/Sleeve akan bergerak pada posisi menambah fuel, sehingga putaran
engine menjadi naik.
2. Apabila Gaya Spring sama dengan Gaya Flyweight (GS = GF), maka
Rack/Sleeve akan diam tetap pada posisinya, sehingga putaran engine
menjadi tetap.
3. Apabila Gaya Spring lebih kecil dari Gaya Flyweight (GS < GF), maka
Rack/Sleeve akan bergerak pada posisi mengurangi fuel, sehingga
putaran engine menjadi menurun.
Perbedaan antara Gaya Spring dan Gaya Flyweight akan terjadi apabila:
a. Terjadi pengaturan Gaya Spring/Putaran engine oleh operator (putaran
naik/turun).
b. Penambahan/pengurangan beban, sehingga menurunkan/menaikkan
putaran engine yang mengakibatkan terjadinya perubahan Gaya pada
Flyweight.

Gambar 184. Prinsip kerja governor

1. Saat engine hidup tanpa beban


Saat engine hidup tanpa beban dan kecepatannya dinaikkan
hingga 2000 RPM dengan perantaraan handle gas (throttle lever) yang
digerakkan ke kiri, control rod terdorong ke kiri untuk memberikan solar
yang lebih banyak. Saat ini camshaft berputar dengan kecepatan
setengahnya yaitu 1000 RPM. Putaran camshaft ini menyebabkan
flyweight mengembang ke arah luar melawan spring karena gaya
centrifugal. Hal ini mengakibatkan sprung governor sleeve akan tertarik ke
arah kiri dan mengayunkan governor arm ke arah kanan dengan handle gas
(throttle lever) sebagai titik tumpunya (fulcrum). Gerakan governor arm ini
116

menyebabkan control rod tertarik ke kanan ke arah pengurangan suplai


hingga terjadi kesetimbangan (saat akselerasi, kuantitas solar yang
diinjeksikan sedikit lebih banyak dibanding saat RPM yang diinginkan telah
Page

tercapai).

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 185. Saat engine hidup tanpa beban

2. Saat engine diberi beban


Engine tersebut kemudian diberi beban (dengan menghubungkan
dengan sistem pemindah tenaga/drivetrain). Beban menyebabkan
terjadinya penurunan RPM engine (menjadi 1800 RPM), yang berdampak
pada penurunan RPM camshaft (900 RPM). Saat penurunan RPM terjadi,
gaya centrifugal yang terbangkit pada flyweight berkurang dan flyweight
menguncup oleh tegangan spring. Saat ini sprung governor sleeve
terdorong ke arah kanan dan menyebabkan control rod terdorong ke kiri
melalui governor arm. Hal ini menyebabkan terjadinya penambahan
kuantitas solar yang dipompakan plunger. Dengan kuantitas solar yang
lebih banyak, RPM engine akan kembali terdongkrak kembali ke 2000 RPM.
Pada kondisi ini, handle gas ( throttle lever) mengalami perubahan posisi.

117

Gambar 186. Saat engine diberi beban


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
3. Saat beban dilepaskan dari engine
Saat beban dilepaskan dari engine, dengan pasokan solar yang
lebih banyak, RPM engine meningkat (hingga 2200 RPM) dan berdampak
pula pada RPM camshaft. Centrifugal weight mengembang berlebihan
melawan spring dan menyebabkan sprung governor sleeve tertarik kembali
ke kiri dan menggerakkan control rod bergerak ke kanan untuk mengurangi
pasokan solar. Hal ini terjadi untuk menurunkan kembali RPM engine
kembali ke 2000 RPM hingga kesetimbangan terjadi.

Gambar 187. Saat beban dilepaskan dari engine

7.4.6 Macam – macam Cara Kerja Governor

Ada beberapa jenis governor yang dibagi menurut mekanisme kerjanya:


1. Mechanical Governor
Mechanical governor adalah governor yang bekerja secara full mekanis
untuk mengatur Rack/Sleeve.

118
Page

Gambar 188. Mechanical governor

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
2. Hydraulic Governor
Hydraulic governor adalah governor yang bekerja secara full hidrolis,
melalui out put linkage untuk mengatur Rack/Sleeve.

Gambar 189. Hydraulic Governor


3. Hydra Mechanical Governor
Hydra mechanical governor adalah Governor yang bekerja secara
mekanis dan hidrolis untuk mengatur Rack/Sleeve.

Gambar 190. Hydra Mechanical Governor

4. Pneumatic Governor
Adalah Governor yang bekerja secara pneumatic untuk mengatur
119

Rack/Sleeve, yang bekerja berdasarkan mekanisme terbukanya Throttle.


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 191. Pneumatic Governor Control

Gambar 192. Pneumatic Governor


120
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 193. Pneumatic Governor

5. Electronic Governor
Adalah Governor yang bekerja secara elektronik untuk mengatur
Rack/Sleeve, dilengkapi dengan actuator yang bekerja secara Electro Hydra
Mechanical.
Bagian-bagian dari Governor:
a. Drive Gear/Magnetic Pick Up
Adalah komponen yang dapat mendeteksi/mengetahui kecepatan putaran
engine.
b. Flyweight
Adalah komponen yang berfungsi merubah gaya putar engine (Gaya
Sentrifugal) menjadi gaya Translasi.
c. Governor Spring
Adalah spring yang berfungsi membalance/mengimbangi gaya translasi
Flyweight, sehingga didapatkan posisi-posisi tertentu yang stabil sesuai
dengan putaran engine.
d. Lever
Adalah bagian yang dihubungkan secara mekanis dengan pedal throttle
untuk mengatur speed (menambah/mengurangi) putaran/power engine.
e. Output Linkage
Adalah bagian yang dihubungkan dengan mekanisme perubah jumlah
konsumsi fuel pada Injection Pump (Rack/Sleeve).
121
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.4.7 Mekanisme Kerja Governor Kecepatan Variabel

Gambar 194. Governor Kecepatan Variabel

Konstruksi dari governor kecepatan variabel diperlihatkan pada gambar.


Putaran dari drive shaft yang dilengkapi dengan dua rubber damper berputar
secara beriringan melalui sebuah gigi akselerasi (acceleration gear) ke flyweight
yang terpasang pada governor shaft. Empat buah flyweight terpasang pada
flyweight holder, bila diputar akan menggerakan governor sleeve mendorong
governor lever assembly. Governor level assembly terdiri dari corrector lever,
tention lever, start lever, start spring dan ball joint.
Fulcrum (titik tumpu corrector lever) M1 dipegang oleh sebuah pivot bolt
pada housing pompa dan bagian bawahnya ditekan oleh sebuah spring yang berada
pada distributor head sedangkan bagian atasnya ditekan oleh full-load adjusting
screw, jadi corrector lever tidak dapat bergerak sama sekali.
Starting system tidak menyentuh tention lever akibat starting spring hanya
pada saat mesin distart dan akan menggerakan governor sleeve untuk menutup
flyweight. Sebagai akibatnya maka ball joint yang terletak di bawah starting lever
akan memutar tention dan starting lever pada poros M 2 sebagai titik tumpunya dan
menggerakan control sleeve ke arah penambahan bahan bakar yaitu ke arah letak
distributor head untuk memudahkan start. Selama mesin hidup, starting lever dan
tention lever akan saling bersentuhan dan bergerak bersama-sama seolah-olah
seperti satu komponen. Bagian atas tention lever berhubungan dengan kontrol
lever melalui governor spring. Sebuah idling spring dipasang pada retaining pin yang
122

terletak pada bagian atas dari tntion lever. Konstruksi governor tersebut
sedemikian rupa dan dapat mengatur pada semua tingkat kecepatan mesin dengan
menggunakan semua spring yang telah disebutkan di atas.
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
1. Saat Engine Dihidupkan
Untuk memenuhi syarat yang diperlukan saat mesin akan dihidupkan,
bahan bakar sebanyak yang diperlukan untuk menghidupkan mesin harus
terpenuhi. Bila pedal gas ditekan sewaktu mesin dalam keadaan putaran
terendah, starting lever akan berpisah dengan tention lever akibat gaya pegas
starting spring dan akan bergerak mendorong governor sleeve. Control sleeve
tersebut akan digerakan ke kanan ke arah jumlah injeksi maksimum oleh starting
lever dan berputar pada poros M2. Oleh sebab itu dengan menginjak pedal gas
sedikit saja mesin sudah dapat distart.
Setelah mesin hidup, gaya sentrifugal dibangkitkan oleh flyweight,
governor sleeve akan menekan starting spring yang lemah gaya pegasnya dan
starting lever ditekan ke arah tention lever. Melalui gerakan ini, control sleeve
digerakan ke arah pengurangan bahan bakar, penginjeksian dikembalikan pada
batas sebanyak injeksi full-load dan pengiriman bahan bakar yang berlebihan
untuk menghidupkan mesin dihentikan. Pada saat tersebut, tention lever dan
starting lever akan bertemu pada titik A, bergerak bersama seperti satu
komponen.

Gambar 195. Governor Kecepatan Variabel saat engine dihidupkan

2. Saat Engine Idling


123

Bila mesin telah hidup, kemudian padal gas dikembalikan kedudukannya


yang semula, control lever juga akan kembali ke-kedudukannya yang semula,
Page

maka gaya tarikan dari governor spring menjadi “O”. Selanjutnya flyweight akan

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
mulai membuka, menekan starting lever kea rah tention lever, maka idling spring
mulai ditekan akibatnya control sleeve akan bergerak kea rah pengurangan
bahan bakar dan berhenti bergerak setelah gaya sentrifugal flywheight dan gaya
pegas dari idling spring telah seimbang. Pada posisi tersebut maka putaran
mesin terendah yang stabil dapat tercapai.

Gambar 196. Governor Kecepatan Variabel saat idling

3. Kontrol Kecepatan Maksimum Beban Penuh ( Full Load )


Sewaktu pedal gas diinjak penuh dan control lever telah bertemu
dengan maksimum speed adjusting screw, tention lever akan bertemu pin (M 3)
yang dipasang dipress pada housing pompa (yaitu saat dimana jumlah bahan
bakar injeksi telah tercapai) dan tidak dapat digerakan lagi. Pada saat tersebut
gaya pegas governor spring adalah maksimum. Idling spring ditekan penuh dan
flyweight akan menutup karena oleh governor sleeve. Setelah itu, walaupun
gaya sentrifugal flyweight dari flyweight bertambah karena bertambahnya
putaran mesin, flyweight tidak dapat menggerakan governor spring dapat
terlampaui.
124
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 197. Governor Kecepatan Variabel
Kontrol Kecepatan Maksimum tanpa beban

4. Kontrol Kecepatan Maksimum Tanpa Beban


Selanjutnya dengan bertambahnya kecepatan mesin, sesudah keduanya
seimbang gaya sentrifugal flyweight akan melampaui gaya pegas governor
spring, dan akan menarik spring sewaktu governor lever assembly digerakan
Selain itu jumlah pengiriman bahan bakar akan berkurang dan
pegontrolan bahan bakar akan berkurang dan pengontrolan bahan bakar akan
diatur sedemikian rupa agar tidak melebihi kecepatan maksimum yang telah
ditentukan. Apabila pedal akselerator tidak ditekan secara penuh, gaya pegas
governor spring kekuatannya akan berubah-rubah secara bebas sehingga
governor dapat mengontrol atas dasar masukan yang diberikan oleh pengendara
melalui pedal akselerasi. Pengiriman bahan bakar pada full-load adjusting screw
diputar ke dalam. Bila full-load adjusting screw diputar ke dalam, corrector
lever akan berputar ke kiri (ke arah yang berlawanan dengan jarum jam)
mengelilingi titik M1, maka control sleeve akan bergerak kea rah penambahan
bahan bakar. Bila full-load adjusting screw dikendurkan control sleeve akan
digerakan kea rah pengurangan bahan bakar.
125
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 198. Diagram of Complete Fuel System
126
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.4.8 PT. Pump

Gambar 199. PT (type G) vs Fuel pump cross section and fuel flow

Gambar 200. Governor Assembly


127
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
128

Gambar 201. Fuel Pump Equipment


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 202. Simplified Injector and Gambar 203. Fuel Injection Cycle of PT
Operating Mechanism Injector Cummin

Gambar 204. Shut Down Valve

7.4.9 Unit Injector Dengan Control Unit

129
Page

Gambar 205. Unit Injector

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Pada engine ADT A40F, dengan engine D16F, unit injector ditempatkan di
tengah silinder antara empat valve dan diletakkan dengan sebuah yoke (B). Pada
bagian bawah injector dipisahkan dari cooling jaket dengan sebuah cooper sleeve
yang bentuknya melebar di bagian bawah dan ada seal dengan sebuah O ring pada
bagian atasnya. Ruang bentuk ring pada masing-masing injector dilindungi dengan
dua seal O ring.

1. Feed pump
2. Hand pump
3. Filter
4. Control unit (E-ECU)
5. Cooling circuit
6. Water trap
7. Tank fixture
8. Overflow valve
9. Unit injectors
10. Non-return valve
11. Overflow valve
12. Automatic air drain
13. Overflow valve
14. Air bleeder nipple
15. Air bleeder nipple
16. Drain nipple Gambar 206. Diagram Fuel system

Fuel dihisap oleh feed pump (1) dari tangki (7) menuju ke water trap yang
memisahkan fuel dengan air (6) dengan hand pump (19), melalui cooling circuit (5)
pada engine control unt (4), naik menuju overflow valve (8) dan dari sana, fuel
bersama-sama kembali melalui overflow valve mejuju sisi hisapan dari feed pump.
Pompa menekan fuel menuju filter housing, melalui non return valve (10) pada
hand pump (2) dan melalui filter (3) menuju saluran pada cylinder head.
Pada masing-masing injector terdapat alur berbentuk ring (9). Overflow
valve (8) menjaga pressure yang keluar dari injector tetap konstan. Terdapat tiga
valve pada feed pump. Pada reduction valve (11) mengatur fuel mengalir kembali
ke sisi hisapan ketika tekanan terlalu tinggi. Non return valve (13) membuka ketika
hand pum(2) digunakan. Dengan menggunakan valve (12) udara secara otomatis
udara keluar secara langsung menuju ke fuel tank. Terdapat tiga nipple yang
digunakan untuk membuang fuel pada fuel system yaitu pada cylinder head (14),
filter bracket (15) dan pada pree filter (17).
130
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.4.10 Injector Phase

a. Filling phase
Kondisi ini terjadi pada saat plunger
piston berada di atas. Fuel valve
terbuka karena tidak terdapat
tegangan listrik yang mengalir melalui
solenoid valve. Bahan bakar mengalir
dari feed channel melalui valve dan
menuju ke plunger cylinder.

Gambar 207. Filling Phase

b. Spill Phase
Ketika pump piston bergerak ke
bawah, ketika tidak ada tegangan yang
terjadi pada solenoid valve, fuel valve
terbuka dan fluel mengalir kembali ke
saluran feed channel

Gambar 208. Spill Phase


c. Injection Phase

Pada saat pump piston masih bergerak


ke bawah, solenoid telah menerima
tegangan dari Engine Electronic
Control Unit. Valve cone terangkat dan
valve menutup. Karena fuel tidak
dapat mrngalir melalui valve, tekanan
terbangkitkan dengan cepat pada saat
nozzle needle dan injeksi terjadi.
Penginjeksian berlangsung sepanjang
valve masih tertutup dan plunger
piston bergerak ke bawah. Panjangnya
131

elektrik pulse menentukan injection


timing dan fuel quantity. Electronic
Gambar 209. Injection Phase
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Control Unit ini menentukan ukuran
pulse information yang diterima dari
sistem.

d. Pressure Reduction Phase


Pada saat pump piston masih berada
di bawah, control unit mengakhiri
electrical pulse nya ketika engine telah
menerima sejumlah bahan bakar yang
dibutuhkan. Fuel valve membuka dan
bahan bakar sekali lagi mengalir
melalui feed channel. Tekanan
kemudian menjadi mengecil dengan
Gambar 210. Pressure Reduction Phase
cepat dan nozzle needle menjadi
tertutup.

7.4.11 Smoke limiter dan Cold Starr Devices

a. Smoke Limiter
Variasi tekanan pada turbocharger digunakan untuk mengatur smoke
limiter. Saat engine mendapat beban yang berat, ditandai dengan menurunnya
RPM, terdapat kemungkinan besar terjadi asap hitam. Ini disebabkan karena
sebagian bahan bakar tidak terbakar.

Gambar 211. Letak Smoke Limiter pada Engine

Smoke limiter mencegah fuel injection pump memberikan suplai


bahan bakar yang sangat besar saat kondisi ini terjadi, hingga engine mencapai
RPM normalnya kembali. Jika engine dilengkapi dengan cold start device
132

(perangkat start dingin), perangkat tersebut terpasang di dalam smoke limiter.


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 212. Smoke limiter

Gambar 213. Keadaan Smoke limiter saat pressure udara rendah

Saat pressure udara rendah, spring akan mendorong membran ke arah


atas dan menyebabkan linkage bergerak ke kanan membatasi gerakan control
rod. Saat pressure udara tinggi, pressure tersebut cukup kuat untuk melawan
spring hingga linkage bergerak ke kiri dan membebaskan control rod untuk
bergerak ke arah penambahan pasokan solar
133

Gambar 214. Keadaan Smoke limiter saat pressure udara tinggi


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
b. Cold Start Device
Cold start device berguna untuk
memberikan pasokan solar yang lebih
banyak (over-injection) saat engine distart
dingin. Dengan menarik tuasnya ke arah
luar, control rod akan diposisikan pada over-
injection. Saat engine distart, RPM akan
langsung meninggi untuk memanaskan blok
engine terlebih dahulu. Untuk me-release
cold start device, cukup dengan mengubah
posisi throttle lever (menginjak pedal gas).
Gambar 215. Cold Start Device
Penggunaan cold start device hanya dalam
waktu singkat saja.

Gambar 216. Cara kerja Cold Start Device

7.4.12 Injection Timing Advance

Injection timing advancer berguna untuk memajukan saat injeksi solar


pada RPM engine tinggi. Tujuannya adalah agar tekanan pembakaran maksimum
hasil pembakaran tetap terjadi pada sekitar 10 setelah TMA di awal langkah
power walaupun durasi pembakaran menjadi lebih pendek pada RPM engine
tinggi.
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
Bila pada 1000 RPM, solar diinjeksikan pada 8 sebelum TMA. Solar kemudian
bercampur dengan oksigen dan berikutnya terjadi pembakaran (reaksi kimia
diantara keduanya akibat pemanasan) dan tekanan pembakaran maksimum
terjadi di 10 setelah TMA, maka proses pembakaran berlangsung selama :
8 + 10 = 18 crankshaft
1 putaran engine ditempuh dalam waktu : 60 : 1000 = 0,06 detik (360) dan 18
ditempuh selama : 18/360 x 0,06 detik = 0,003 detik. Waktu inilah yang
dibutuhkan oleh solar dan udara untuk bereaksi hingga menghasilkan tekanan
134

pembakaran maksimum, dan nilainya relatif tetap pada berbagai RPM engine.
Bila engine berputar pada 1400 RPM, satu putaran engine ditempuh dalam waktu:
60 : 1400 = 0,043 detik
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Dan 0,003 detik terjadi pada :
0,003/0,043 x 360 = 25 crankshaft
Agar tekanan pembakaran maksimum tetap terjadi di 10 sesudah TMA, maka
injeksi solar harus terjadi pada :
25 - 10 = 15 sebelum TMA

Gambar 217. Injection Timing Advancer

Konsep pemajuan saat injeksi (injection timing)


Konsep kerja injection timing advancer adalah sebagai berikut :
Bila sebuah shaft statis berada di dalam sebuah silinder, dan pada shaft
tersebut terdapat pin yang berada pada alur silinder, maka bila shaft digerakkan
secara translasional, gerakan pin menyebabkan silinder berputar beberapa derajat
mengikuti kemiringan alur.

Gambar 218. Konsep kerja injection timing advancer

Prinsip kerja injection timing advancer


Injection timing advancer dihubungkan dengan oil pump engine dimana
135

pasokan olinya bervariasi pada perubahan RPM engine. Bila hambatan aliran oli
tetap, maka pressure-nya akan meningkat saat RPM engine tinggi. Di dalam
Page

injection timing advancer terdapat rotary piston yang menghubungkan putaran

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
engine lewat timing gear menuju injection pump camshaft. Piston tersebut
ditopang oleh spring.
Pada bagian luar dari piston, terdapat gigi-gigi melingkar atau helical
gear, yang berkait dengan housingnya. Piston berada diantara dua ruangan
(chamber) yang berisi oli yang bertekanan. Saat engine berputar pada low idle,
control weight berada pada posisi membuka aliran oli dari chamber kembali ke
karter oli engine, karena gaya centrifugal yang terbangkit masih relatif kecil.
Control sleeve masih membuka hubungan antar kedua chamber dan piston tetap
pada posisi rest-nya.
Saat RPM engine meningkat, gaya centrifugal meningkat dan
menyebabkan control weight menutup jalur pengembalian oli. Disamping itu pula
karena pasokan oli meningkat, pressure kemudian meningkat dan mendorong
control sleeve ke arah penyekatan kedua chamber. Saat berikutnya, terjadi
kenaikan pressure di chamber kanan dan mendorong piston ke kiri melawan
spring. Saat piston bergerak ke kiri, terjadi puntiran pada housingnya yang
terhubung dengan injection pump camshaft. Hal ini menyebabkan injection pump
camshaft berputar sedikit searah putaran timing gear hingga cam mendorong
plunger lebih awal.

136

Gambar 219. Delivery pipes


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Beberapa Model Injection Timing Advancer
1. In-Line Pump

Gambar 220. Inline injection pump

2. Distributor Pump

Gambar 221. Sistem bahan bakar


137
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 222. Distributor fuel injection pump for four cylinder engine

Gambar 223. Timing Control Injection


138
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
3. Electronic Injection Timing Control

Gambar 224. The Electronic Injection Timing Control


System

139

Gambar 225. Hydraulic Timing Advancer


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 226. Injection Timing Control Minimum Advance

Gambar 227. Injection Timing Control Maximum Advance


140
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 228. Pemajuan Minimum

Gambar 229. Pemajuan Maksimum


141
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.4.13 Heigh Pressure Fuel Line/Delivery Valve

High Pressure Fuel Line/Delivery Valve adalah pipa penyalur bahan


bakar yang bertekanan tinggi dari Fuel Injection Pump ke Injector untuk masing-
masing silinder. Delivery pipes dibuat dari pipa baja tebal untuk mengantisipasi
tekanan yang tinggi agar tidak mengembang, yang akan mempengaruhi ketelitian
injeksi bahan bakar. Diameter dalam pipa telah disesuaikan dengan tipe engine.
Bila pipa ini dibengkokkan atau rusak, serpihan logam di dalam pipa dapat
menyumbat injector.

Gambar 230. Delivery Pipe

High Pressure Fuel Line mempunyai beberapa syarat:


1. Mempunyai diameter lubang yang sama.
2. Pipanya berdinding tebal.
3. Mempunyai panjang yang sama.

7.4.14 Injector Atau Spray Nozzles ( Nosel Penyemprot )

Injector dipasangkan dengan erat pada cylinder head. Komponen ini


menginjeksikan bahan bakar ke dalam ruang bakar dengan tekanan yang tinggi
hingga bahan bakar teratomisasi. Tekanan injeksi, pada engine Volvo, mencapai
3500 psi (246,07 kgf/cm2). Tekanan tersebut ditingkatkan untuk mendapatkan
engine dengan gas buang yang lebih bersih. Makin tinggi tekanan , makin baik
pencampuran antara bahan bakar dan udara dan makin sempurna proses
pembakaran.
142

Gambar 231. Injector


Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 232. Prinsip Kerja Injector
Injektor mengatomisasikan solar dari injection pump ke dalam ruang
bakar dengan pressure yang tinggi agar mudah bercampur dengan udara dan
mudah terbakar dengan sempurna. Dilengkapi dengan nozzle dimana terdapat
lubang pengabutan, yang selalu tertutup oleh ujung needle(2) dengan tekanan
spring (4) melalui pressure pin(7). Solar masuk dari bagian atas (5) dan akan
mengisi ruangan di dalam nozzle. Sebagian solar akan mengangkat needle
melawan spring. Bila pressure solar meningkat hingga harga tertentu, needle
mulai terangkat dan lubang pengabutan terbuka, memungkinkan sejumlah solar
keluar dengan pressure yang tinggi.
Solar yang mengangkat needle akan kembali ke tangki melalui lubang
pengeluaran (overflow port) Spray nozzle harus menyerap sejumlah panas dari
ruang bakar, untuk menghantarkan panas tersebut, injektor dipasangkan pada
sleeve (selubung ) terbuat dari tembaga. Sebagian bahan bakar yang disuplai ke
nozzle akan bocor dan melewati nozzle needle (jarum nosel) dan injector sleeve
untuk mendinginkan serta melumasi nozzle tersebut. Kelebihan bahan bakar
tersebut kemudian dikembalikan ke fuel tank melalui return line (jalur pipa
kembali).
Pengabutan yang dihasilkan oleh injector ditentukan oleh:
1. Tingginya tekanan bahan bakar/Valve Nozzle membuka.
2. Jumlah lubang Nozzle.
3. Arah, bentuk dan ukuran partikel yang disemprotkan.
Jenis-jenis Nozzle terbagiatas:
1. Capsul
Adalah Nozzle yang berbentuk pendek dan tidak dapat disetel.
2. Pencil
Adalah Nozzle yang berbentuk lebih panjang dan dapat disetel.
143
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 233. Tipe injector

Gambar 234. Injector Assembly


144
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 235. Injector Assembly

Gambar 236. Injector Operation


145
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 237. Dismantled unit Injector
Assembly

Gambar 238. Spray from a single hole injector nooxle


showing good, fair and bad condition
146
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
7.4.15 Pemeriksaan dan Kalibrasi Injector

Pemeriksaan dan kalibrasi injector harus dilakukan dengan minyak solar


dengan “0” % kandungan air dan bebas dari kotoran/melalui proses penyaringan.
1. Pemeriksaan Visual
Periksa nozzle dan unit holder untuk menentukan bagian-bagian yang
dapat dipakai lagi dari: goresan, karatan, bekas pukulan, patah, retak, lubang-
lubang kecil atau rusak karena bahan-bahan lain dalam bahan bakar. Bagian-
bagian yang diberi garis pada gambar harus diperiksa secara hati-hati dan
cermat.
2. Pengujian Luncur Nozzle
Rendam jarum dan nozzle dalam minyak, pasang kembali dan sisipkan
jarum masuk penuh ke dalam bodi, kemudian angkat jarum sepertiganya dan
lepaskan, maka jarum harus meluncur dengan mudah masuk ke dalam bodi
karena beratnya sendiri.
Nozzle yang gagal harus diganti.

Gambar 239. Nozzle holder tipe setelan dengan shim


Assembly
147
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 240. Nozzle holder tipe setelan dengan sekrup
Assembly
3. Pemeriksaan dan Penyetelan Tekanan Pembukaan Nozzle
a. Nozzle holder tipe setelan shim
1) Pasang nozzle dan unit holder pada penguji nozzle, dan pilih katup meter
tekanan dan gerakan tuas cepat-cepat untuk mengeluarkan udara.
2) Buka katup meter pengatur tekanan dan gerakan tuas penguji sekali
setiap detik dan periksa tekanan pembukaan, bila tekanan pembukaan
nozzle tidak sesuai dengan spesifikasi, buka nozzle dan unit holder dan
ganti shim dengan yang baru sbb:
 Gunakan shim yang lebih tebal bila tekanan lebih rendah dari
spesifikasi.
 Gunakan shim yang lebih tipis bila tekanan lebih besar dari
spesifikasi.

4. Nozzle holder tipe setelan sekrup


a. Sama dengan atas.
b. Sama dengan atas, jika minyak hanya menyemprot pada 4 lubang dari
lubang yang ada, bongkar lagi nozzle dan unit holder dan bersihkan lubang
semprotan dengan needle yang bersih.
c. Buka katup meter tekanan dan putar masuk perlahan-lahan sekrup setelan
sambil mengerak-gerakkan tuas, kalau tekana pembukaan sudah sesuai
dengan sopesifikasi kencangkan mur kunci atau cup nut dan pasang skrup
setelan.
148
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
Gambar 241. Injector Tester

5. Pemeriksaan Kebocoran antara Jarum nozzle dan Lubang Semprot Nozzle


holder tipe setelan shim dan sekrup.
a. Gerakkan tuas penguji nozzle pada kondisi katup meter tekanan terbuka
sampai diperoleh tekanan misalnya 190 bar.
b. Tahan tuas penguji perhatikan jarum penunjuk tekanan sambil
memperhatikan jarum detik pada jam, maximum waktu untuk penurunan
tekanan yang diizinkan dari 190 bar ke 150 bar harus lebih besar dari 5 detik.
c. Lakukan sekali lagi dengan tekanan misalnya 100 bar, maka maksimum
waktu untuk penurunan tekanan yang diizinkan dari 100 bar ke 70 bar harus
lebih besar dari 6 detik.

6. Pemeriksaan Kebocoran antara Jarum nozzle dan Barel ( rumah jarum nozzle )
tipe setelan shim dan sekrup.
a. Gerakkan tuas penguji nozzle 1 kali pada kondisi katup meter tekanan
terbuka sampai diperoleh nilai suatu tekanan.
b. Tahan tuas dan perhatikan nilai penurunan tekanan yang terjadi dari nilai
tekanan sebelumnya, maksimum waktu penurunan tekanan yang diizinkan
setiap 20 bar adalah harus lebih besar dari 2 detik.

7. Penggantian dan Kalibrasi dari suatu Injector


149

a. Penggantian adalah hal yang biasa untuk mendapatkan nilai tekanan yang
stabil kembali, umumnya nilainya akan berkurang sebesar 10 % dari kalibrasi
Page

aslinya baik dengan suku cadang yang baru atau biasa, misalnya untuk

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812
sebuah spring yang baru pada kondisi terpasang pada injector, maka
tekanan yang diperoleh umumnya akan berkurang sebesar 10 % dari
tekanan semestinya, misalnya 255 bar menjadi 220 bar.
b. Apabila fungsi kerja engine normal baik kemampuannya maupun
temperaturnya, maka tidak perlu dilakukan pengkalibrasian pada injector,
kecuali jika engine telah terjadi keausan dan besar tekanan injector kurang
dari 10 %, maka injector tersebut perlu dikalibrasi atau diganti.

7.4.16 Istilah-istilah lain dan hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Fuel System:

A. Istilah-istilah lain dalam fuel system adalah:


1). Injection Timing (Waktu Injeksi)
Adalah saat yang tepat untuk menyemprotkan bahan bakar, agar
pembakaran terjadi sempurna dan dapat menghasilkan power yang
maksimum. Injection Timing dinyatakan dalam Derajat (º) sebelum
mencapai TMA/TDC.
2). Advance
Adalah apabila waktu penginjeksian fuel terjadi lebih cepat/awal
dari waktu yang standar.
3). Retard
Adalah apabila waktu penginjeksian fuel terjadi lebih lambat dari
waktu yang standar.

B. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Fuel System:

1). Gunakan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan,
misalnya: Cetan Number (maximum/minimum), Pour Point (Titik Tuang),
Cloud Point ( Titik Kristalisasi ) dan Kadar Belerangnya.
2). Kuraslah Fuel Tank secara berkala/rutin.
3). Check terhadap kelainan suara engine/pincang, karena Nozzle tidak
bekerja normal.
4). Check tekanan bahan bakar, sebagai indikasi apakah Filter Block.
5). Ganti Fuel Filter/Elemen sesuai indicator secara berkala.
6). Isi bahan bakar pada waktu setelah selesai operasi, hal ini untuk
menghindari terjadinya pengembunan fuel di dalam tangkit
150
Page

Basic Mechanic Course / Basic Engine Diesel Training Center PT. Intraco Penta, Tbk
BMC-BED-01-10-0812

Anda mungkin juga menyukai