Kebebasan Berekspresi di Media Sosial
Kebebasan Berekspresi di Media Sosial
DI MEDIA SOSIAL
Arif Maulana Yusuf (33030230024)
LATAR BELAKANG
Kendati demikian, aktivitas berekspresi di media sosial tidak sepenuhnya bebas dari
batasan hukum. Penerapan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)
menghadirkan sejumlah konsekuensi bagi masyarakat yang aktif berkomunikasi di dunia maya.
Walaupun regulasi tersebut bertujuan menjaga ketertiban dan melindungi publik dari informasi
yang merugikan, sebagian ketentuan di dalamnya dianggap membuka ruang tafsir yang luas.
Dalam sejumlah kasus, kritik warga atau keluhan yang disampaikan secara daring justru
berujung pada proses pelaporan dan penyelidikan hukum, sehingga menimbulkan kekhawatiran
bahwa kebebasan berekspresi dapat terhambat.
Berbagai fenomena terkini turut memperkuat kompleksitas persoalan ini. Contoh seperti
meluasnya kritik warga terhadap kebijakan pemerintah, somasi kepada tokoh publik atas
komentar daring, hingga popularitas satire di Twitter/X menunjukkan bahwa media sosial telah
berkembang menjadi panggung penting bagi pertarungan gagasan. Di satu sisi, platform digital
memberi kekuatan baru bagi masyarakat untuk mengawasi kinerja pemerintah dan institusi
publik. Namun, di sisi lain, sifat media sosial yang cepat, emosional, dan rentan disalahpahami
juga menimbulkan risiko konflik, penyebaran hoaks, serta penggunaan regulasi secara
berlebihan.
1
Dalam situasi tersebut, penting untuk memahami kebebasan berekspresi tidak hanya dari
sudut pandang regulasi, tetapi juga dari perspektif budaya digital. Rendahnya literasi digital,
kecenderungan polarisasi, serta lemahnya etika komunikasi menjadi faktor yang memperumit
dinamika ruang digital. Oleh karena itu, kajian mengenai kebebasan berekspresi di media sosial
diperlukan untuk menilai bagaimana hak ini dapat dijaga tanpa mengabaikan kebutuhan akan
ketertiban, keamanan, dan penghormatan terhadap hak orang lain. Pemahaman yang lebih
mendalam akan membantu memastikan bahwa ruang digital di Indonesia dapat berkembang
sebagai ruang publik yang sehat, inklusif, dan mendukung penguatan demokrasi.
ANALISIS
Kebebasan untuk mengekspresikan diri adalah salah satu hak fundamental yang diakui
dalam kerangka hak asasi manusia serta konstitusi Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945, di
Pasal 28E ayat (3), dengan jelas menyatakan bahwa setiap individu berhak untuk berkumpul,
berserikat, serta menyampaikan pendapat. 1 Dalam era digital, kebebasan ini mendapatkan aspek
baru yakni kebebasan untuk mengekspresikan ide melalui platform online seperti media sosial.
Sejalan dengan itu, kebebasan berpendapat berkembang menjadi platform partisipatif yang lebih
inklusif, yang memungkinkan orang biasa untuk menyampaikan pendapat, memberikan kritik,
atau membagikan informasi dengan jangkauan yang jauh lebih luas daripada media tradisional.
1
I Gede Pasek Eka Wisanjaya & Putri Bella Rosy Widodo, Freedom of Expression on Social Media in Indonesia:
Why are the limitations imposed?, Udayana Journal of Law and Culture, hlm. 109, 2024.
2
Alya Rahmadani, Monika Lisa Paramita, Shafa Haura & Firman Firman, Regulasi Digital dan Implikasinya
Terhadap Kebebasan Berpendapat Pada Undang-Undang ITE Pada Platform Media Sosial di Indonesia, Journal of
Social Contemplativa, hlm. 12–13, 2023.
2
reputasi dan keamanan individu; di sisi lain, dapat berpotensi dijadikan alat untuk membungkam
kritik dan pendapat sah yang disampaikan oleh warganet.3
Selain itu, tekanan regulasi terhadap kebebasan berekspresi digital dapat membatasi
ruang publik dengan cara yang lebih terselubung. Dalam disertasi terbaru, Devi Tri Indriasari
menunjukkan bahwa beberapa pasal dalam UU ITE pada awalnya tidak ditujukan untuk
mengatur ujaran kebencian atau kritik sosial, melainkan untuk mengawasi transaksi elektronik
dan materi pornografi. 4 Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, regulasi itu bertransformasi
menjadi sarana pengontrol ekspresi digital, yang berdampak menurunkan keberanian masyarakat
untuk berkomentar secara terbuka di platform online sebuah akibat yang dapat merusak
demokrasi digital.5
Media sosial telah berubah menjadi arena publik digital yang sangat aktif, di mana setiap
orang dapat berperan sebagai pencipta dan distributor informasi (user-generated content).
Platform seperti Twitter, Instagram, atau Facebook memberikan kesempatan bagi masyarakat
umum untuk mengekspresikan pandangan, membahas isu-isu publik, dan berkontribusi pada
3
Velly Al Zahsy, Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di Media Sosial: Antara Kebebasan Berekspresi dan
Batasan Hukum ITE, Jurnal Legalitas, hlm. 70–72, 2025.
4
Devi Tri Indriasari, Kebebasan Berekspresi dalam Tekanan Regulasi: Studi terhadap Undang-Undang Informasi
dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Jurnal Masyarakat Indonesia, hlm. 243, 2023.
5
Ibid., hlm. 250–255.
6
Triono Eddy & Onny Medaline, Strengthening The Right To Freedom Of Opinion On The Fundamental And
Constitutional Rights Of Social Media Users Based On Collaboration Of The 1945 Constitution And The Uu Ite In
Indonesia, International Journal of Educational Research & Social Sciences, hlm. 4, 2022.
3
pembentukan opini kolektif. Berdasarkan tinjauan literatur sistematis, media sosial saat ini
berfungsi menggantikan peran forum publik klasik dalam demokrasi kontemporer, karena
kemampuannya untuk mencapai interaksi partisipatif secara langsung dan antar kelompok. 7
Namun, sifat khusus media sosial kecepatan distribusi konten, cakupan yang sangat luas,
anonimitas yang relatif, dan interaksi secara langsung juga memunculkan risiko serius bagi mutu
diskursus publik. Contohnya, studi setelah Pemilu Indonesia menunjukkan bahwa algoritma
platform memperkuat fenomena “echo chamber” serta filter bubble, di mana pengguna
cenderung menerima konten yang memperkuat pandangan mereka, sehingga memperdalam
perpecahan sosial dan polarisasi.8 Pola ini menjadikan debat publik semakin terpisah; tidak
hanya menyulitkan diskusi kritis, tetapi juga menguatkan prasangka terhadap kelompok tertentu.
Selanjutnya, ruang digital tidak sepenuhnya aman atau setara. Berdasarkan studi
mengenai ujaran kebencian di dunia maya, keberadaan hate speech dan informasi yang salah di
media sosial menunjukkan bagaimana platform tersebut dapat menjadi arena pertempuran
identitas dan dominasi naratif. 9 Ketersegeraan dan tekanan dari publik di media sosial sering kali
mengurangi tanggung jawab sosial pengguna, sedangkan penyebaran konten negatif atau yang
berdampak besar bisa berlangsung dengan sangat cepat. Dengan demikian, media sosial sebagai
arena publik yang baru menawarkan paradoks: di satu sisi memungkinkan ekspresi demokratis,
tetapi di sisi lain menyimpan risiko konflik sosial dan disfungsi demokrasi jika tidak disertai
dengan literasi digital dan regulasi yang tepat.
C. Studi Kasus
Pembahasan kasus studi diperluas untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam
tentang dinamika kebebasan berpendapat di media sosial. Tiga contoh kasus berikut akan
7
Mona Nofita Sari & Jhon Veri, Peran Media Sosial dalam Komunikasi Publik di Era Digital: Kajian Literatur
Sistematis Berbasis PRISMA, Jurnal Daya Saing, hlm. 15-16, 2024.
8
Rangga Gumelar, Iman Mukhroman & Ikhsan Ahmad, Media Sosial dan Demokrasi Digital: Opini Publik atau
Polarisasi Pasca Pemilu 2024?, JRK (Jurnal Riset Komunikasi), hlm. 94–95, 2025.
9
Eko Pamuji, Ujaran Kebencian pada Ruang-Ruang Digital, Jurnal Kajian Media, hlm. 45–46, 2024.
4
dianalisis tidak hanya dari segi peristiwa, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap diskursus publik,
aspek hukum, dan pandangan Masyarakat.
Komentar tokoh publik yang berakibat pada somasi menjadi trend yang kian sering
terjadi dalam dunia digital Indonesia. Sebagai orang yang berpengaruh, setiap pernyataan mereka
baik itu kritik, opini, atau keluhan pribadi sering kali dipandang sebagai representasi suara
publik. Akan tetapi, posisi strategis ini membuat setiap pernyataan mereka selalu menjadi
perhatian publik dan pihak-pihak yang merasa dirugikan, sehingga sering muncul reaksi berupa
somasi atau laporan hukum. Hal ini terjadi karena publik figur dianggap memiliki pengaruh yang
kuat dalam membentuk opini, sehingga dampak dari pernyataan mereka dianggap lebih besar
dibandingkan dengan individu biasa.10
10
Siti Fatimah & Iman Satria, Analisis Kritik Publik Figur di Media Sosial dalam Perspektif Etika Komunikasi
Digital, Jurnal Komunikasi Nusantara, 2023, hlm. 44–45.
11
Ria Wulandari, Dinamika Viralitas dan Dampaknya terhadap Sengketa Digital, Jurnal Media dan Masyarakat,
2024, hlm. 102–104.
5
orang lain lebih besar dibandingkan pengguna biasa. Studi di area hukum komunikasi
menyatakan bahwa tokoh publik memiliki “tanggung jawab sosial digital” yang melekat, yaitu
kewajiban untuk memastikan bahwa pandangan yang disampaikan tidak menjadi sumber
kebingungan atau merugikan pihak lain. 12
Di Indonesia, beberapa kasus menunjukkan bahwa resolusi konflik antara tokoh publik
dan pelapor dapat diselesaikan melalui mediasi atau klarifikasi publik, tetapi banyak juga yang
berlanjut ke tahap penyidikan. Penelitian hukum siber menunjukkan adanya ketidaksamaan akses
terhadap mekanisme hukum dalam kasus pencemaran nama baik digital baik antara tokoh publik
dan institusi besar, maupun institusi besar dan masyarakat umum yang dapat memengaruhi hasil
penyelesaian sengketa tersebut.13 Fenomena ini menunjukkan bahwa garis pemisah antara
kebebasan berpendapat dan perlindungan nama baik semakin kabur, sehingga dibutuhkan
pengaturan yang lebih seimbang serta peningkatan pemahaman digital masyarakat untuk
menghindari kriminalisasi atas pendapat yang valid.14
Kritik masyarakat yang populer di media sosial terhadap kebijakan pemerintah menjadi
fenomena penting dalam demokrasi digital saat ini. Masyarakat umum melalui video, tulisan,
atau hashtag menyampaikan isu-isu nyata yang mereka hadapi, seperti infrastruktur yang tidak
memadai, pelayanan publik yang mengecewakan, atau kebijakan yang dianggap memberatkan.
Studi oleh Abduh dan Cangara menunjukkan bahwa media sosial menciptakan ruang
hyperpersonal bagi masyarakat untuk menyusun pesan secara lebih strategis, tanpa adanya
12
Bima Pratama, Kebebasan Berekspresi dan Tanggung Jawab Hukum di Era Media Sosial, Jurnal Hukum dan
Ruang Publik, 2022, hlm. 67–69.
13
Laksmi Dewi & Rahmat Yulianto, Penyelesaian Sengketa Pencemaran Nama Baik melalui UU ITE: Analisis
Kasus Publik Figur, Jurnal Hukum Siber Indonesia, 2025, hlm. 120–122.
14
Ahmad Fadli, Transformasi Ruang Publik Digital dan Batas-batas Ekspresi, Laksana Press, 2021, hlm. 150–153.
6
batasan waktu dan tempat, sehingga aspirasi warga dapat dirumuskan dan disampaikan secara
bersama-sama dengan lebih mudah.15
Akan tetapi, tanggapan pemerintah terhadap kritik seperti itu tidak selalu positif.
Penelitian oleh Hardiyati dan Multazam mengungkapkan adanya ketidakjelasan dalam garis
pemisah antara kritik yang valid dan pencemaran nama baik, terutama saat UU ITE diterapkan.16
Ketegangan ini sering timbul saat tekanan masyarakat mendorong pemerintah untuk segera
bertindak, sementara aparat lebih memilih pendekatan hukum atau intimidasi daripada dialog.
Strategi semacam ini dapat menyebabkan efek "chilling effect", di mana masyarakat enggan
mengemukakan kritik karena khawatir akan dampak hukum atau sosial.
Walaupun ada risiko kriminalisasi, kritik masyarakat yang menjadi viral juga
memberikan dampak positif bagi pengelolaan pemerintahan. Pertama, dorongan publik lewat
media sosial dapat mempercepat tanggapan dan perbaikan kebijakan, seperti yang terlihat dalam
kasus perubahan kebijakan pelayanan publik yang viral. Kedua, fenomena "kebijakan berbasis
viral" menunjukkan bahwa opini digital kini dapat langsung memengaruhi kebijakan publik
menjadikan masyarakat sebagai aktor pengawas publik yang sejati.17 Dengan demikian, media
sosial telah menjadi lahan pengawasan sosial yang kuat, selagi kebebasan berpendapat dijaga dan
diperlakukan secara adil.
Sindikasi sosial atau satire di Twitter/X muncul sebagai salah satu bentuk ekspresi utama
dalam diskursus publik digital, khususnya dalam menanggapi kritik terhadap isu sosial, ekonomi,
dan politik. Teknik-teknik seperti sarkasme, parodi, atau ironi sering digunakan oleh warganet
untuk memperlihatkan ketidakpuasan dengan cara yang halus tetapi tajam. Studi oleh Muntaha
15
Ichsan Muhammad Abduh & Hafied Cangara, Kritik Sosial Kebijakan Pemerintah dalam Platform Media Sosial
dengan Pendekatan Komunikasi Hyperpersonal, Jurnal Nomosleca, hlm. 10–12, 2024.
16
Aisyah Dwi Putri Hardiyati & M. Tanzil Multazam, Freedom of Speech Boundaries in Criticizing Government on
Social Media, Indonesian Journal of Public Policy Review, hlm. 45–48, 2024.
17
M. Fadli Etadhin, Aura Syaziya Aulia, Rehan Yuli Setiawan, Azizah Marctha Syhara & M. Alfarel D., Strategi
Komunikasi Pemerintah dalam Menghadapi Kritik Viral di Media Sosial, Prosiding SENANTIAS, hlm. 605–607,
2025.
7
dan Arianto (2024) mengungkapkan terdapat tujuh teknik humor politis yang umum dipakai
dalam satire digital di Twitter, seperti ironi, parodi, dan metafora, yang memungkinkan kritik
dibenarkan dalam bentuk yang “lebih ringan” namun tetap substansial. 18
Namun, meskipun bentuknya cenderung humoris, satire tak selalu dianggap hanya
sebagai lelucon. Dalam beberapa situasi, postingan satir menerima reaksi hebat karena dianggap
merendahkan kelompok tertentu atau bertentangan dengan norma sosial dan politik. Studi
tentang gaya bahasa di Twitter menunjukkan bahwa ironi, sarkasme, dan sinisme dapat dilihat
sebagai sindiran yang berbahaya atau menggugah, bukan hanya sekadar bentuk ekspresi
kreatif.19 Ketegangan ini semakin terlihat ketika kritik satir menjadi populer, diikuti oleh reaksi
atau langkah hukum dari pihak yang merasa tersindir.
Selain itu, satire di Twitter/X dapat menjadi ekspresi dari kekecewaan bersama
masyarakat. Dalam situasi politik dan sosial yang rumit, warganet memanfaatkan sindiran sosial
untuk mengekspresikan kemarahan terhadap kebijakan publik, ketidakadilan struktural, atau
tokoh publik. Artefak digital seperti meme atau utas satir berevolusi menjadi “katarsis digital”:
instead of taking direct action, users prefer to laugh at the situation as a form of critique. Studi
semiotik mengenai meme satir menemukan bahwa meme tidak sekadar menyuguhkan humor,
tetapi juga simbol-simbol sociopolitik yang mencerminkan kegelisahan nyata dari masyarakat.20
Sebaliknya, satire juga memiliki potensi menjadi sarana pendidikan masyarakat yang
efisien. Karena karakteristiknya yang mudah dijangkau dan menarik, sindiran sosial mampu
menyampaikan masalah kompleks dengan cara yang lebih ringan dan menarik. Contohnya, studi
mengenai political memes di Twitter menunjukkan bahwa meme berfungsi secara strategis
dalam menciptakan kesadaran kolektif, memicu pembicaraan kritis, dan menyederhanakan narasi
18
Muntaha & Puput Arianto, Political Satire on Social Media Responding to the Constitutional Court's Decision on
Vice President Age Eligibility for the 2024 Elections, Nivedana: Jurnal Komunikasi dan Bahasa, hlm. 128–129,
2024.
19
Ika Damayanti & Lilis Suryani, Gaya Bahasa Sindiran pada Akun Twitter Fufufafa: Ironi, Sinisme, dan Sarkasme,
Diksatrasia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, hlm. 45–50, 2022.
20
Ahmad Zuhdi Nizar & Nur Maghfirah Aesthetika, Analisis Semiotika Meme Satir di Akun Twitter @memefess,
Interaction Communication Studies Journal, hlm. 161–165, 2024.
8
politik yang rumit agar lebih jelas bagi masyarakat umum.21 Dengan demikian, satire menjadi
semacam kanal “komunikasi tidak formal” yang memperkaya demokrasi digital.
Namun, peran satire juga menghadapi kemungkinan terjadinya konflik sosial. Karena
keberagaman latar belakang pengguna dan sensitivitas budaya, sesuatu yang dianggap lucu atau
kritis oleh satu kelompok mungkin dianggap ofensif atau provokatif oleh kelompok lainnya.
Studi mengenai gaya bahasa sindiran di akun-akun Twitter menunjukkan bahwa ironi atau
sarkasme dapat menyebabkan kesalahpahaman atau bahkan “reaksi sosial negatif” jika tidak
dilengkapi dengan konteks yang jelas.22 Maka dari itu, meskipun satire merupakan bentuk
ekspresi kreatif yang signifikan, hal tersebut harus dilaksanakan dengan kesadaran akan
tanggung jawab agar tidak memicu polarisasi atau perpecahan dalam ruang publik digital.
UU ITE berfungsi sebagai instrumen hukum utama yang mengatur konten digital di
Indonesia, terutama terkait pencemaran nama baik, ujaran kebencian, serta penyebaran informasi
yang tidak benar. Akan tetapi, sejumlah pasal dalam UU ini sering mendapatkan kritikan akibat
sifatnya yang dapat ditafsirkan secara berbagai cara, terutama pasal-pasal terkait pencemaran
nama baik. Studi yuridis normatif mengungkapkan bahwa ambiguitas elemen tindak pidana
dalam pasal tersebut seperti istilah “menggangu kehormatan atau reputasi” membuka peluang
interpretasi yang luas dan berisiko disalahgunakan untuk menjerat kritik yang sah di platform
media sosial. 23 Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa UU ITE bisa digunakan lebih sebagai
alat represif daripada protektif terhadap kebebasan berpendapat.
Pembaruan UU ITE sudah dilakukan untuk memperbaiki celah hukum tersebut, namun
dalam praktiknya, masalah interpretasi dan ketidakonsistenan penegakan hukum masih tetap ada.
21
Angga Pranata & Rendra Widyatama, The Representation of Political Memes on Social Media X (Twitter): A
Semiotic Analysis of Popular Culture Products, Communications, hlm. 130–135, 2025.
22
Siska Lutfi Yani, Sarkasme pada Media Sosial Twitter dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia
di SMA, Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya, hlm. 270–272, 2021.
23
Velly Al Zahsy, Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di Media Sosial: Antara Kebebasan Berekspresi dan
Batasan Hukum ITE, Jurnal Legalitas, hlm. 70–72, 2025.
9
Sebagai contoh, analisis mengenai nilai-nilai demokrasi digital menunjukkan bahwa walaupun
revisi membatasi ruang interpretasi, penegak hukum belum selalu menerapkan norma baru
dengan konsisten, dan masih ada ketidakseimbangan antara hak pelapor dan hak terlapor.24
Selanjutnya, pendekatan regulasi publik melalui UU ITE perlu diimbangi dengan perlindungan
hak asasi manusia agar penegakan hukum tidak mengurangi hak mendasar untuk menyampaikan
pendapat di ruang digital.
Selain faktor hukum, budaya digital juga berperan penting dalam menentukan kualitas
kebebasan berekspresi. Saat literasi digital rendah, banyak pengguna media sosial mengalami
kesulitan dalam memahami konteks dari unggahan apakah itu sarkasme, kritik, atau informasi
serius yang dapat menyebabkan kesalahpahaman. Hal ini diperburuk oleh tren penyebaran hoaks;
penelitian empiris menunjukkan bahwa kurangnya kemampuan literasi digital berhubungan
dengan tingginya keterpaparan terhadap konten negatif dan informasi palsu di media sosial. 25 Di
samping itu, rendahnya literasi digital juga berkaitan dengan polarisasi pendapat dan timbulnya
serangan personal, sebab pengguna tidak selalu memiliki kemampuan kritis untuk menyaring dan
menanggapi konten yang bermasalah.26
Namun, di tengah berbagai tantangan, budaya digital yang positif juga terus berkembang.
Terdapat upaya edukatif melalui rangkaian informasi, kampanye literasi digital, dan kolaborasi
netizen dalam melakukan pemeriksaan fakta serta memantau kebijakan publik. Sebagai contoh,
program pendidikan literasi digital di sekolah yang dipadukan dengan pendidikan
kewarganegaraan telah terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi kritis masyarakat di
24
Afisa Afisa, Zuly Qodir, Akhmad Habibullah & Unggul Sugiharto, Analysis of the ITE Law on Digital Rights and
Democratic Values in Indonesia, The Journal of Society and Media, hlm. 430–435, 2024.
25
Najla Amaly & Armiah Armiah, Peran Kompetensi Literasi Digital Terhadap Konten Hoaks dalam Media Sosial,
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, hlm. 45, 2021.
26
Hafri Yuliani, Literasi Digital dalam Menangkal Berita Hoax di Media Sosial, Jurnal MADIA, hlm. 10–11, 2024.
10
media sosial.27 Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan berpendapat tidak hanya bisa menjadi
kekuatan yang signifikan, tetapi juga landasan untuk demokrasi digital yang sehat jika didukung
oleh kemampuan literasi digital yang baik dan etika komunikasi yang kuat.
KESIMPULAN
Rangkaian studi kasus yang dibahas menunjukkan betapa rumitnya persoalan tersebut.
Fenomena somasi terhadap publik figur, misalnya, memperlihatkan konsekuensi besar dari
pernyataan yang diunggah individu dengan pengaruh yang luas, sehingga diperlukan kehati-
hatian dan tanggung jawab dalam berkomunikasi di dunia digital. Sementara itu, fenomena kritik
warga yang viral menegaskan bagaimana media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk
menekan pemerintah agar responsif, namun pada saat yang sama memunculkan ancaman
kriminalisasi ketika regulasi tidak diterapkan secara proporsional. Tren satire di Twitter/X juga
memperlihatkan bahwa kreativitas dalam menyampaikan kritik tetap diperlukan, tetapi tetap
menimbulkan potensi gesekan sosial akibat perbedaan persepsi dan sensitivitas antar kelompok.
Dari perspektif hukum, UU ITE masih menjadi tantangan utama dalam penjaminan
kebebasan berpendapat. Walaupun telah mengalami revisi, beberapa ketentuan yang multitafsir
dan pelaksanaannya yang tidak seragam menimbulkan kekhawatiran akan potensi
penyalahgunaan untuk membatasi kritik publik. Oleh karena itu, diperlukan penegakan hukum
27
Elfrida Hariawati Fudzni & Syifa Siti Aulia, Penguatan Literasi Digital Untuk Mendukung Hak Warga Negara di
Media Sosial Melalui Pembelajaran PPKn, Didactica: Jurnal Kajian Pendidikan dan Pembelajaran, hlm. 8–9, 2023.
11
yang lebih transparan, konsisten, dan berorientasi pada perlindungan hak asasi manusia agar
keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan nama baik dapat terjaga.
Pada akhirnya, kualitas kebebasan berekspresi tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi
juga sangat dipengaruhi oleh budaya digital masyarakat. Literasi digital yang memadai,
kemampuan memahami konteks, serta etika berkomunikasi menjadi faktor penting dalam
menciptakan ruang digital yang sehat. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan platform
digital sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa media sosial dapat berkembang sebagai
ruang publik yang aman, inklusif, serta mendorong tumbuhnya praktik demokrasi yang lebih
matang di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Afisa Afisa, Zuly Qodir, Akhmad Habibullah & Unggul Sugiharto, Analysis of the ITE Law on
Digital Rights and Democratic Values in Indonesia, The Journal of Society and Media,
2024.
Ahmad Fadli, Transformasi Ruang Publik Digital dan Batas-batas Ekspresi, Laksana Press,
2021.
Ahmad Zuhdi Nizar & Nur Maghfirah Aesthetika, Analisis Semiotika Meme Satir di Akun
Twitter @memefess, Interaction Communication Studies Journal, 2024.
Aisyah Dwi Putri Hardiyati & M. Tanzil Multazam, Freedom of Speech Boundaries in
Criticizing Government on Social Media, Indonesian Journal of Public Policy Review,
2024.
Alya Rahmadani, Monika Lisa Paramita, Shafa Haura & Firman Firman, Regulasi Digital dan
Implikasinya Terhadap Kebebasan Berpendapat Pada Undang-Undang ITE Pada
Platform Media Sosial di Indonesia, Journal of Social Contemplativa, 2023.
Angga Pranata & Rendra Widyatama, The Representation of Political Memes on Social Media X
(Twitter): A Semiotic Analysis of Popular Culture Products, Communications, 2025.
12
Bima Pratama, Kebebasan Berekspresi dan Tanggung Jawab Hukum di Era Media Sosial, Jurnal
Hukum dan Ruang Publik, 2022.
Devi Tri Indriasari, Kebebasan Berekspresi dalam Tekanan Regulasi: Studi terhadap Undang-
Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Jurnal Masyarakat Indonesia,
2023.
Eko Pamuji, Ujaran Kebencian pada Ruang-Ruang Digital, Jurnal Kajian Media, 2024.
Elfrida Hariawati Fudzni & Syifa Siti Aulia, Penguatan Literasi Digital Untuk Mendukung Hak
Warga Negara di Media Sosial Melalui Pembelajaran PPKn, Didactica: Jurnal Kajian
Pendidikan dan Pembelajaran, 2023.
Hafri Yuliani, Literasi Digital dalam Menangkal Berita Hoax di Media Sosial, Jurnal MADIA,
2024.
I Gede Pasek Eka Wisanjaya & Putri Bella Rosy Widodo, Freedom of Expression on Social
Media in Indonesia: Why are the limitations imposed?, Udayana Journal of Law and
Culture, 2024.
Ichsan Muhammad Abduh & Hafied Cangara, Kritik Sosial Kebijakan Pemerintah dalam
Platform Media Sosial dengan Pendekatan Komunikasi Hyperpersonal, Jurnal
Nomosleca, 2024.
Ika Damayanti & Lilis Suryani, Gaya Bahasa Sindiran pada Akun Twitter Fufufafa: Ironi,
Sinisme, dan Sarkasme, Diksatrasia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa & Sastra
Indonesia, 2022.
Laksmi Dewi & Rahmat Yulianto, Penyelesaian Sengketa Pencemaran Nama Baik melalui UU
ITE: Analisis Kasus Publik Figur, Jurnal Hukum Siber Indonesia, 2025.
M. Fadli Etadhin, Aura Syaziya Aulia, Rehan Yuli Setiawan, Azizah Marctha Syhara & M.
Alfarel D., Strategi Komunikasi Pemerintah dalam Menghadapi Kritik Viral di Media
Sosial, Prosiding SENANTIAS, 2025.
13
Mona Nofita Sari & Jhon Veri, Peran Media Sosial dalam Komunikasi Publik di Era Digital:
Kajian Literatur Sistematis Berbasis PRISMA, Jurnal Daya Saing, 2024.
Muntaha & Puput Arianto, Political Satire on Social Media Responding to the Constitutional
Court's Decision on Vice President Age Eligibility for the 2024 Elections, Nivedana:
Jurnal Komunikasi dan Bahasa, 2024.
Najla Amaly & Armiah Armiah, Peran Kompetensi Literasi Digital Terhadap Konten Hoaks
dalam Media Sosial, Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 2021.
Rangga Gumelar, Iman Mukhroman & Ikhsan Ahmad, Media Sosial dan Demokrasi Digital:
Opini Publik atau Polarisasi Pasca Pemilu 2024?, JRK (Jurnal Riset Komunikasi), 2025.
Ria Wulandari, Dinamika Viralitas dan Dampaknya terhadap Sengketa Digital, Jurnal Media
dan Masyarakat, 2024.
Siska Lutfi Yani, Sarkasme pada Media Sosial Twitter dan Implikasinya terhadap Pembelajaran
Bahasa Indonesia di SMA, Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan
Pengajarannya, 2021.
Siti Fatimah & Iman Satria, Analisis Kritik Publik Figur di Media Sosial dalam Perspektif Etika
Komunikasi Digital, Jurnal Komunikasi Nusantara, 2023.
Triono Eddy & Onny Medaline, Strengthening The Right To Freedom Of Opinion On The
Fundamental And Constitutional Rights Of Social Media Users Based On Collaboration
Of The 1945 Constitution And The Uu Ite In Indonesia, International Journal of
Educational Research & Social Sciences, 2022.
Velly Al Zahsy, Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di Media Sosial: Antara Kebebasan
Berekspresi dan Batasan Hukum ITE, Jurnal Legalitas, 2025.
Velly Al Zahsy, Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di Media Sosial: Antara Kebebasan
Berekspresi dan Batasan Hukum ITE, Jurnal Legalitas, 2025.
14