Desain Rusunawa Hijau Morosi
Desain Rusunawa Hijau Morosi
PROPOSAL
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Dalam Rangka Menyelesaikan Studi Pada
Program Sarjana Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Halu oleo Kendari
OLEH :
MUHAMAD AGUSTINO
E1B121069
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan
laporan Proposal Seminar yang berjudul “PERANCANGAN RUSUNAWA
PEKERJA INDUSTRI DI MOROSI, DENGAN PENDEKATAN
ARSITEKTUR HIJAU” dengan baik. Proposal ini disusun sebagai bagian dari
persyaratan akademik untuk menyelesaikan tahapan pendidikan di Program Studi
Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Halu Oleo.
Muhamad Agustino
ii
DA FTAR ISI
5. Kesimpulan ............................................................................................. 8
iii
5. Tata Ruang Rumah Susun ..................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 53
iv
DAFTAR GAMBAR
v
Gambar 2.31 Bangunan Park Royal ....................................................................... 40
Gambar 2.32 Balkon Park Royal ........................................................................... 41
Gambar 2.33 Denah Lantai Dasar Park Royal ....................................................... 42
Gambar 2.34 Denah Lantai 4-5 Park Royal ........................................................... 43
Gambar 2.35 Denah Lantai 6-12 Park Royal ......................................................... 43
Gambar 2.36 Denah Lantai 13 Park Royal ............................................................ 43
Gambar 3.1 Peta Kecamatan Morosi ..................................................................... 48
Gambar 2.2 Luas Wilayah Menurut Desa/Kelurahan ............................................ 49
vi
DAFTAR TABEL
vii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan industri di indonesia semakin pesat dalam beberapa tahun
terakhir, termasuk industri-industri penting seperti manufaktur, teknologi, dan
ekonomi digital. Inovasi, efisiensi, dan daya saing global semuanya meningkat
sebagai hasil dari trasformasi substansial yang dihasilkan oleh inisiatif pemerintah
seperti making Indonesia 4.0. Selain itu, pembangunan infrastruktur di indonesia
terus mengalami perkembangan, terutama di sektor perumahan dan kawasan
industri. Berdasarkan UU NO 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, pasal 1 ayat 2
mendefinisikan industri sebagai “segala bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah
bahan mentah dan/atau menggunakan sumber daya industri untuk menghasilkan
barang dengan nilai tambah atau manfaat yang lebih tinggi”, yang meliputi jasa
industri. Istilah industri, menurut Webster's New World Dictionary, merujuk pada
"manufaktur operasi produktif secara kolektif, terutama yang berbeda dengan
pertanian." Menurut sumber yang sama, industri juga mengacu pada “setiap
kegiatan bisnis berskala besar”, seperti industri makanan, industri tekstil, industri
internet, dan sebagainya. (Harahap et al., 2023).
Sulawesi Tenggara adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki
peran strategis dalam perkembangan sektor industri, khususnya dalam bidang
pertambangan, pengolahan nikel, dan industri pendukung lainnya. Hal ini didorong
oleh perkembangan berbagai Kawasan industri diberbagai daerah. Sehingga
menimbulkan tantangan besar untuk menyediakan hunian yang layak, aman, dan
terjangkau bagi para pekerja industri. Di banyak Kawasan industri, ketersediaan
lahan untuk perumahan sangat terbatas. Akibatnya, muncul masalah kepadatan
penduduk dan hunian tidak layak dikawasan perkotaan dan dipinggiran. Sehingga
banyak pekerja industri harus tinggal didaerah yang padat penduduk dengan
infastruktur yang kurang, kondisi ini menurunkan kualitas hidup pekerja dan dapat
menghambat produktifitas ditempat kerja mereka.
Permasalahan hunian di wilayah industri menjadi semakin mendesak,
terutama di wilayah yang mengalami pertumbuhan industri yang cepat. Banyak
pekerja industri berpenghasilan rendah hingga menengah sulit mendapatkan hunian
yang layak karena keterbatasan lahan dan biaya perumahan yang tinggi. Sebagai
1
Solusi hunian bagi pekerja industri, Pemerintah sendiri telah membuat program
pengembangan dan peningkatan kualitas perumahan dan permukiman dengan
membangun permukiman vertikal berupa Rumah Susun Sederhana Sewa atau
RUSUNAWA. (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, 2021)
Wilayah morosi memiliki posisi yang strategis untuk pengembangan
pemukiman vertikal. Karena morosi merupakan salah satu Kawasan industri yang
sedang berkembang pesat. Yang dimana kawasan ini menjadi pusat pengolahan
nikel, salah satu komoditas utama Indonesia. Berbagai Perusahaan besar seperti PT
Vertue Dragon Nickle Industry dan PT Obsidian Stainless Steel muncul dimorosi,
sehingga kawasan ini menarik ribuan pekerja dari berbagai wilayah.
Tercatat ada 2 industri terbesar yang ada dimorosi yaitu VDNI yang bergerak
dalam bidang pengolahan nikel dengan smelter besar dan OSS yang bergerak di
sektor pengolahan logam, khususnya nikel. Industri juga dapat diklasifikasikan
menurut ukurannya. Skala usaha industri dapat dibagi menjadi empat kategori,
yaitu: Industri Besar 100 orang pekerja atau lebih, Industri Sedang/Menengah 20-
99 orang pekerja, Industri Kecil 5-19 orang pekerja, dan Industri Mikro 1-4 orang
pekerja.( [Link]
Semakin berkembangnya industri dimorosi maka semakin bertambah pula
pekerja atau pendatang yang ada dimorosi. Menurut web site [Link] tahun
2021, kawasan industri morosi bakal menyerap 60.000 tenaga kerja lokal . Sehingga
kebutuhan akan hunian semakin meningkat hal ini berbanding terbalik dengan
kebutuhan lahan yang semakin terbatas. Untuk mengatasi masalah ini,
Pembangunan rusunawa dimorosi harus dilakukan dengan mempertimbangkan
kenyamanan fisik penghuni (thermal & visual).
Namun, pembangunan rusunawa bagi pekerja industri juga dihadapkan pada
sejumlah tantangan. Kawasan industri umumnya memiliki potensi polusi udara dan
kebisingan yang tinggi, serta cenderung memiliki suhu udara yang lebih panas
akibat aktivitas industri. Lingkungan seperti ini dapat berdampak negatif terhadap
kesehatan dan kenyamanan penghuni rusunawa jika tidak dirancang dengan baik.
Oleh karena itu, dalam merancang rusunawa, pendekatan yang berfokus pada aspek
kesehatan dan kenyamanan penghuni sangat diperlukan.
2
Pendekatan arsitektur hijau dapat menjadi solusi yang tepat dalam
perancangan rusunawa untuk pekerja industri. Dengan konsep ini, perumahan dapat
dirancang untuk mengoptimalkan sirkulasi udara, pencahayaan alami, serta
pemanfaatan energi dan air secara efisien. Penggunaan material bangunan ramah
lingkungan, penerapan ruang terbuka hijau, dan pengelolaan limbah yang baik juga
menjadi bagian penting dari konsep arsitektur hijau. Melalui pendekatan ini,
rusunawa dapat menghadirkan hunian yang nyaman, sehat, dan berkelanjutan bagi
pekerja industri, sekaligus berkontribusi pada pengurangan dampak negatif
terhadap lingkungan di sekitar kawasan industri.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana menetukan tapak yang strategis untuk rusunawa pekerja
industri dimorosi ?
2. Bagaimana merancang rumah susun sederhana sewa (rusunawa) untuk
pekerja industri di Morosi ?
3. Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip arsitektur hijau pada rancangan
rumah susun sederhana sewa (rusunawa) ?
C. Tujuan dan Sasaran pembahasan
Adapun tujuan dan sasaran pembahasan dari permasalahan ini adalah sebagai
berikut :
1. Tujuan
a. Menghasilkan lokasi tapak yang sesuai dengan kondisi lingkungan
sekitar industri yang ada dimorosi
b. Menghasilkan rancangan rumah susun sederhana sewa untuk pekerja
industri di Morosi.
c. Menghasilkan rancangan rumah susun sederhana sewa di Morosi
dengan menerapkan prinsip-prinsip arsitektur hijau.
2. Sasaran
a. Mengoptimalkan tapak perancangan sesuai dengan kondisi kawasan
industri di Morosi yang berkembang pesat.
3
b. Memberikan solusi yang layak, nyaman, dan terjangkau bagi pekerja
industri.
c. Mengintegrasikan konsep arsitektur hijau guna menciptakan bangunan
yang ramah lingkungan, hemat energi, serta sehat bagi penghuninya.
D. Batasan dan Lingkup Pembahasan
1. Batasan Pembahasan
Batasan dalam penulisan ini adalah perancangan rumah susun
sederhana sewa (Rusunawa) bagi pekerja industri di Morosi dengan
penerapan prinsip Arsitektur Hijau. Pembahasan mencakup efisiensi energi,
penghawaan dan pencahayaan alami, penggunaan material ramah
lingkungan, pengelolaan air, serta penyediaan ruang terbuka hijau sebagai
bagian dari strategi perancangan berkelanjutan.
2. Lingkup pembahasan
Lingkup Pembahasan dalam penulisan ini adalah lebih ditekankan
pada aspek keilmuan arsitektur, khususnya dalam bangunan yang akan di
rencanakan. Sedangkan keilmuan yang lain yang dianggap penting dalam
perencanaan akan dibahas sesuai dengan permasalahan.
E. Metode dan Sistematika Pembahasan
1. Metode Pembahasan
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif. Metode ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam
tentang fenomena yang menjadi objek penelitian. Pendekatan deskriptif
memungkinkan peneliti untuk menggambarkan dan menginterpretasikan
fenomena berdasarkan data yang diperoleh, sehingga dapat memberikan
gambaran yang jelas dan mendalam tentang fenomena tersebut. Langkah-
langkah yang dilakukan antara lain :
a. Study Literatur
Studi Literatur adalah cara mengumpulkan data dan informasi dengan
membaca dan meninjau sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan
topik yang sedang diteliti. Sumber-sumber ini bisa berupa buku, jurnal,
artikel, laporan, atau dokumen lainnya yang mendukung penelitian.
4
b. Study Presedent
Study presedent adalah metode yang digunakan untuk mempelajari dan
menganalisis contoh-contoh karya, proyek, atau kasus yang sudah ada
sebelumnya dan relevan dengan proyek atau penelitian yang sedang
dilakukan.
c. Observasi
Observasi merupakan suatu metode pengumpulan data dimana peneliti
melakukan pengamatan secara langsung terhadap subjek, tingkah laku,
situasi, atau lingkungan yang menjadi objek penelitian. Yang
didalamnya terdapat wawancara dan dokumentasi.
2. Sistematika Pembahasan
Acuan perancangan ini disusun dengan sistematika pembahasan sebagai
berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab pendahuluan memuat sub bab mengenai latar belakang, rumusan
masalah, tujuan dan sasaran pembahasan, batasan pembahasan serta metode dan
sistematika penulisan yang digunakan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Menjelaskan uraian teori mengenai rumah susun sederhana sewa, pekerja
industri, Arsitektur hijau, pusta objek, pendekatan perancangan, dan studi
presenden yang kemudian dijadikan acuan dalam perancangan rusunawa pekerja
industri dimorosi dengan pendekatan arsitektur hijau.
BAB III TINJAUAN LOKASI PERENCANAAN
Pada bab ini mencakup tinjauan makro dan mikro yang ada pada perancangan
rusunawa pekerja industri dimorosi, yang dimana tinjauan makro mencakup
gambaran umum lokasi, sedangkan tinjauan mikro lokasi berisi tentang ketentuan
teknis site berdasarkan peraturan tata kota/rencana tata ruang seperti tata guna lahan
dan lain-lain.
5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjaun Judul Perancangan
1. Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa)
Rumah susun merupakan hunian vertikal yang diperuntukkan bagi
Masyarakat menengah kebawah agar hidup secara layak. Menurut UU NO 20
Tahun 2011 Pasal 1, rumah susun sederhana adalah bangunan bertingkat yang
secara fungsional diba gi menjadi beberapa unit baik secara horizontal maupun
vertikal, setiap unit dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, berfungsi
sebagai hunian yang memiliki bagian Bersama, benda Bersama dan tanah
Bersama.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05 Tahun 2007
tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana bertingkat
Tinggi, Rumah Susun Sederhana Sewa (RUSUNAWA) adalah hunian vertikal
yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dan
masyarakat berpenghasilan rendah, dengan status penguasaanya sewa, yang
dibangun dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) atau dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Menteri
Negara Perumahan Rakyat menetapkan bahwa Masyarakat Berpenghasilan
Rendah (MBR) adalah masyarakat dengan pendapatan diatas Rp. 1.000.000,-
sampai dengan Rp. 2.500.000,- per bulan. Sedangkan masyarakat
berpenghasilan menengah kebawah adalah masyarakat dengan pendapatan
diatas Rp. 2.500.000,- sampai dengan Rp. 4.500.000,- per bulan.
Penyelenggaraan rumah susun dalam peraturan pemerintah NO 13 Tahun
2021 pasal 1 adalah kegiatan perencanaan, pembangunan, penguasaan dan
pemanfaatan, pengelolaan, pemeliharaan dan perawatan, pengendalian,
kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat yang
bertujuan untuk mewujudkan hunian yang layak dan terjangkau bagi MBR,
meningkatkan efisiensi dan efektifitas ruang dan lahan, menyediakan ruang
terbuka hijau dan memperbaiki pemukiman kumuh.
6
2. Pekerja Industri
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 menetapkan bahwa penggunaan
istilah pekerja selalu dibarengi dengan istilah buruh yang menandakan bahwa
kedua istilah ini memiliki arti harfiah yang sama. Dalam pasal 1 ayat 3 dituliskan
bahwa pengertian dari pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan
menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Sedangkan industri adalah kegiatan memproses atau mengolah barang
dengan menggunakan sarana dan peralatan, misalnya mesin. Berarti, pekerja
industri adalah orang yang bekerja dan menerima upah dalam suatu kegiatan
pemrosesan/pengolahan barang.
3. Kecamatan Morosi
Kecamatan Morosi merupakan sebuah kecamatan yang terletak di
Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Wilayah ini memiliki luas sekitar
130,10 km², mencakup 2,13% dari total luas Kabupaten Konawe. Morosi
berbatasan dengan Kecamatan Motui di utara, Kecamatan Bondoala di timur,
kecamatan sampara di selatan dan Kecamatan Amonggedo di barat. Sebagai
salah satu kecamatan yang berkembang, Morosi memiliki potensi dalam sektor
industri dan perkebunan, didukung oleh infrastruktur yang terus berkembang.
Kawasan ini juga menjadi perhatian dalam perencanaan tata ruang dan
pengembangan ekonomi di Sulawesi Tenggara.
4. Arsitektur Hijau
Arsitektur hijau, juga dikenal sebagai arsitektur berkelanjutan atau
bangunan hijau, adalah pendekatan desain dan konstruksi bangunan yang fokus
pada prinsip-prinsip ramah lingkungan. Pendekatan ini bertujuan untuk
menciptakan bangunan yang tidak hanya menghemat energi dan sumber daya,
tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar dan
penghuninya. Arsitektur hijau dirancang untuk meminimalkan konsumsi sumber
daya alam yang terbatas, seperti udara, energi, dan material bangunan, melalui
penggunaan teknologi modern, desain yang inovatif, dan praktik yang
berkelanjutan. Selain itu, konsep ini juga berupaya mengurangi emisi karbon,
limbah konstruksi, serta polusi.
7
5. Kesimpulan
Perancangan Rusunawa Pekerja Industri di Morosi dengan Pendekatan
Arsitektur Hijau adalah solusi strategis untuk menyediakan hunian layak,
nyaman, dan berkelanjutan. Konsep ini mengutamakan efisiensi energi,
pencahayaan alami, ventilasi optimal, dan penggunaan material ramah
lingkungan guna menciptakan lingkungan sehat. Seiring pesatnya pertumbuhan
industri di Morosi, kebutuhan hunian pekerja semakin mendesak. Rusunawa ini
tidak hanya menjadi solusi tempat tinggal terjangkau, tetapi juga bagian dari
perencanaan berkelanjutan yang mendukung keseimbangan industri dan
lingkungan, meningkatkan kesejahteraan pekerja, serta kualitas hidup
masyarakat sekitar.
8
2) Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami), rumah susun yang
dikelola oleh perhimpunan penghuni setelah seluruh unit terjual,
hak milik pribadi.
b. Klarifikasi Ruah Susun Berdasarkan Peruntukan :
Di dalam menentukan peruntukkan rumah susun untuk berbagai
golongan masyarakat, ada tiga pedoman/pegangan untuk dapat di
klasifikasikan menurut peruntukkannya, terutama untuk golongan
masyarakat ekonomi menengah ke bawah (rumah susun sederhana dan
rumahsusun sangat sederhana), yaitu :
Tabel 2.2 Rumah Susun Menurut Golongan
Golongan Type Spesifikasi
Rendah T-18 Bahan Bangunan
T-27 Sederhana
T-36
Menengah T-36 Bahan Bangunan
T-54 Berkualitas Baik
T-70
Atas T-Luas Lantai Diatas 100 Bahan Bangunan
m2 Berkualitas Tinggi
Sumber: Rumah Seluruh Rakyat, 1991 ; Siswono
9
Tabel 2.1 Klarifikasi Rumah Susun Sederhana Tipe A
Tipe/Luas Sarusun Jenis Ruang Standar
T-18 m2 R. Multi Fungsi 9
Kamar Mandi 2.25
T-27 m2 [Link] Fungsi 9
[Link] 9
Dapur 4
Kamar Mandi 2.25
Balkon/[Link] 3
T-36 m2 R. Multi Fungsi 9
R. Tidur 1 9
R. Tidur 2 6
Dapur 4
Kamar Mandi 2.25
Balkon/[Link] 3
10
Gambar 2.1 Rumah Susun Tipe Simplex
Sumber : Chiara, Julius, & Martin, 1995
2) Unit Duplex
Unit Duplex merupakan unit hunian yang terdapat dalam dua
lantai yangjuga terdiri dari beberapa unit hunian. Pada susunan unit
hunian ini tidak memerlukan koridor pada tiap lantainya, namun
membutuhkan tangga sebagai akses lantai satu dan lantai dua pada
tiap unit hunian.
3) Unit Triplex
Unit Triplex merupakan unit hunian yang terdapat dalam tiga
lantai yang juga terdiri dari beberapa unit hunian. Pada susunan unit
hunian ini tidak memerlukan koridor pada tiap lantainya, namun
membutuhkan tangga sebagai akses lantai satu, lantai dua, dan lantai
tiga pada tiap unit hunian.
11
Gambar 2.3 Rumah Susun Tipe Triplex
Sumber : Chiara, Julius, & Martin, 1995
12
Gambar 2.4 Eksterior Corridor
Sumber : [Link]
T%2026712-Kajian%[Link]
Sumber : [Link]
T%2026712-Kajian%[Link]
13
Gambar 2.6 Koridor Terpusat
Sumber : [Link]
T%2026712-Kajian%[Link]
14
b. Kreteria Khusus
1) Rusuna bertingkat tinggi yang direncanakan harus
mempertimbangkan identitas setempat pada wujud arsitektur
bangunan tersebut.
2) Lantai dasar digunakan untuk fasilitas pendukung dan
pengelolaan, antara lain: Ruang Unit Usaha, Ruang Pengelola,
Ruang Bersama, Ruang Penitipan Anak, Ruang Mekanikal-
Elektrikal dan tempat penampungan sampah.
3) Lantai satu dan lantai berikutnya digunakan untuk hunian. Tiap
hunian terdiri atas : 1 (satu) Ruang Duduk, 2 (dua) Ruang Tidur,
1 (satu) Kamar Mandi/WC dan Ruang Servis (Dapur dan Cuci)
dengan total luas adalah 30 m2.
4) Luas sirkulasi, utilitas dan ruang bersama maksimum 30% dari
total luas lantai bangunan.
5) Denah harus fungsional dan memenuhi persyaratan penghawaan
dan pencahayaan.
6) Struktur utama bangunan harus kokoh, stabil, dan efisien
terhadap beban gempa.
7) Setiap 3 (tiga) lantai harus disediakan ruang bersama untuk
aktifitas bersosialisasi antar penghuni.
8) Lebar dan tinggi anak tangga memenuhi keselamatan dan
kenyamanan, dengan lebar tangga minimal 110 cm.
9) Penutup lantai tangga dan selasar menggunakan keramik,
sedangkan penutup lantai hunian menggunakan plester acian
tanpa keramik kecuali KM/WC.
10) Penutup dinding KM/WC menggunakan pasangan keramik
dengan tinggi 1.80 meter.
11) Material kusen pintu dan jendela menggunakan bahan
alluminium ukuran 3x7 cm.
12) Plafon memanfaatkan struktur pelat lantai tanpa penutup.
13) Seluruh instalasi utilitas harus melalui shaft, perencanaan shaft
harus memperhitungkan estetika dan kemudahan perawatan.
15
14) Ruang-ruang mekanikal dan elektrikal harus dirancang secara
terintegrasi dan efisien. Misalnya dengan system plumbing
dibuat dengan system positive suction untuk menjamin
efektifitas system.
15) Penggunaan lift direncanakan untuk lantai 6 keatas, bila
diperlukan dapat digunakan system pemberhentian lift di lantai
genap/ganjil.
Berikut contoh desain bangunan rumah susun sederhana bertingkat tinggi berlantai
20 dengan menggunakan batasan peraturan dalam PERMEN PU Nomor 5.
16
Gambar 2.8 Potongan Rusuna Bertingkat Tinggi
Sumber : PERMEN PU Nomor 05, 2007
17
`
18
4. Bentuk Bangunan Rumah Susun
19
c. Sirkulasi dan fasilitas parkir
1) Sirkulasi harus memiliki akses ynag mudah dan jelas. Sirkulasi
tersedia untuk trasportasi publik dan pribadi.
2) Terdapat sirkulasi untuk pejalan kaki, penyandang cacat dan
lanjut usia.
3) Terdapat sirkulasi darurat untuk pemadam kebakaran dan
kendaraan pelayanan lainnya.
4) Sirkulasi diberi tanda petunjuk jalan, rambu-rambu, papan
informasi sirkulasi dan elemen pengarah sirkulasi berupa
perkerasan dan tanaman.
5) Setiap bangunan rusuna diwajibkan menyediakan area parkir
dengan rasio satu lot parkir kendaraan untuk lima unit hunian
d. Pencahayaan ruang luar bangunan gedung
1) Pencahayaan ruang bangunan memperhatikan aspek lingkungan,
fungsi dan arsitektur bangunan.
2) Pencahayaan harus serasi dengan pencayaan dari dalam
bangunan dan dari jalan umum
3) Pencahayaan yang dihasilkan tidak berlebihan, silau,visual yang
tisak menarik dan memperhatikan aspek operasi dan
pemeliharaan.
5. Tata Ruang Rumah Susun
Perancangan Rumah Susun Sederhan Sewa harus memperhatikan
beberapa hal mengenai penataan fisik dan sarana bangunan. Seperti yang
diungkapkan Subkhan (Pradipta et al., 2014). pola penataan unit hunian pada
blok lingkungan sebaiknya memungkinkan terjalinnya hubungan sosial antar
penghuni. Hal ini dapat diwujudkan melalui :
a. Penciptaan selasar dimuka bangunan yang dapat pula berfungsi sebagai
teras
b. Pengadaan ruang-ruang bersama di setiap lantai dalam berbagai bentuk
dan fungsi seperti hall tangga, bordes, dan lain-lain.
c. Pemanfaatan lantai dasar bangunan sebagai fungsi publik yang
mendukung terjadinya interaksi sosial.
20
d. Pemanfaatan sebagian lantai dasar bangunan sebagai ruang komersial.
e. Penyiapan lokasi bagi pemanfaatan sarana lingkungan yang sifatnya
dekat dengan kegiatan usaha masyarakat berpenghasilan rendah dalam
bentuk penyediaan lokasi warung dan lapak.
f. Adanya ruang-ruang terbuka hijau/dengan perkerasan yang sifatnya
publik dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung
keberadaan ruang publik, seperti disediakannya bangku taman,
penerangan, perkerasan, tempat sampah, fasilitas
bermain/berolahraga/elemen peneduh (payung, tanaman/kanopi).
C. Tinjauan Tema Perancangan
1. Teori Arsitektur Hijau
Arsitektur Hijau dalam arti luas berarti arsitektur yang ramah terhadap
lingkungan. Arsitektur hijau merupakan sebuah konsep untuk menimalisir
pengaruh buruk antara lingkungan dan manusia untuk menciptakan kehidupan
yang lebih baik dan sehat dengan memanfaatkan sumber energi dan sumber daya
alam secara optimal dan efisien. (Mandani et al., 2023) Tujuan utama dari
arsitektur hijau adalah menciptakan eco desain, arsitektur ramah lingkungan,
arsitektur alami dan pembangunan berkelanjutan. Arsitektur hijau dapat
diterapkan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi, air dan pemakaian
bahan-bahan yang mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan. Tujuan ini
dicapai dengan cara salah satunya meminimalkan konsumsi sumber daya alam.
(Mauludi, 2020)
21
2) Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk
energi termal sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat
photovoltaic yang diletakkan di atas atap. Sedangkan atap dibuat
miring dari atas ke bawah menuju dinding timur-barat atau
sejalur dengan arah peredaran matahari untuk mendapatkan
sinar matahari yang maksimal.
3) Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitasnya
rendah.
4) Menggunakan sunscreen pada jendela yang secara otomatis
dapat mengatur intensitas cahaya dan energi panas yang
berlebihan masuk ke dalam ruangan.
5) Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak
menyilaukan, yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas
cahaya.
6) Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC)
dan lift.
b. Working With Climate (memperhatikan kondisi iklim)
Pendekatan green architecture bangunan berdaptasi dengan
lingkungannya, hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam,
iklim dan lingkungan sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian
bangunan, misalnya dengan cara :
1) Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
2) Menggunakan sistem air pump dan cross ventilation
untukmendistribusikan udara yang bersih dan sejuk ke dalam
ruangan.
3) Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim.
4) Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan
ditutup untuk mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai
kebutuhan.
c. Respect For Site (menanggapi keadaan tapak pada bangunan)
Perencanaan mengacu pada interaksi antar bangunan dan
tapaknya. Hal ini bertujuan keberadaan bangunan baik dari segi
22
konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak lingkungan
sekitar, dengan cara sebagai berikut :
1) Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang
mengikuti bentuk tapak yang ada.
2) Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan
mendesain bangunan secara vertikal.
3) Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak
lingkungan.
d. Respect For User (memperhatikan pengguna bangunan)
Pengguna dan green architecture memiliki hubungan yang sangat
penting. Desain bangunan hijau harus selalu mempertimbangkan
kebutuhan orang-orang yang akan menggunakannya, baik saat bangunan
dirancang maupun ketika sudah dioperasikan, agar tetap nyaman, sehat,
dan ramah lingkungan.
e. Limitting New Resources (meminimalkan sumber daya baru)
Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material
yang ada dengan meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada
akhir umur bangunan dapat digunakan kembali untuk membentuk
tatanan arsitektur lainnya
f. Menerapkan prinsip-prinsip green arsitektur secara keseluruhan/Holistic
Ketentuan diatas menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-
prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena
saling berhubungan satu sama lain.
3. Sifat-Sifat Arsitektur Hijau Pada Bangunan
Arsitektur hijau (green architecture) mulai tumbuh sejalan dengan
kesadaran dari para arsitek akan keterbatasan alam dalam menyuplai material
yang mulai menipis. Alasan lain digunakannya arsitektur hijau adalah untuk
memaksimalkan potensi site. Penggunaan material-material yang bisa didaur-
ulang juga mendukung konsep arsitektur hijau, sehingga penggunaan material
dapat dihemat. Green dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
23
a. Sustainable (berkelanjutan)
Sustainable yang berarti bangunan yang dirancang agar tetap
relevan dan berfungsi dengan baik selama bertahun-tahun. Konsepnya
selaras dengan alam, memanfaatkan sumber daya secara efisien, dan
tidak merusak lingkungan sekitarnya.
b. Earthfriendly (ramah lingkungan)
Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep
green architecture apabila bangunan tersebut tidak bersifat ramah
lingkungan. Maksud tidak bersifat ramah terhadap lingkungan disini
tidak hanya dalam perusakkan terhadap lingkungan, tetapi juga
menyangkut masalah pemakaian energi. Oleh karena itu bangunan
berkonsep green architecture mempunyai sifat ramah terhadap
lingkungan sekitar, energi dan aspek aspek pendukung lainnya.
c. High performance building (bangunan dengan performa yang baik)
Bangunan berkonsep green architecture mempunyai satu sifat yang
tidak kalah pentingnya dengan sifat-sifat lainnya. Sifat ini adalah “high
performance building”. Sifat ini penting, karena salah satu fungsinya
untuk meminimalisir penggunaan energi dengan memanfaatkan energi
yang berasal dari alam (energy of nature) dan dipadukan dengan
teknologi tinggi (high technology performance). Contohnya :
1) Penggunaan panel surya (solar cell) untuk memanfaatkan energi
panas matahari sebagai sumber pembangkit tenaga listrik
rumahan
2) Penggunaan material yang dapat didaur ulang, penggunaan
konstruksi maupun bentuk fisik dan fasad bangunan yang dapat
mendukung konsep green architecture.
24
a. Hemat Energi: Desain bangunan harus mengoptimalkan pencahayaan
dan ventilasi alami untuk mengurangi kebutuhan energi. Penggunaan
pencahayaan hemat energi, serta sistem pendinginan pasif seperti
ventilasi silang, akan mengurangi penggunaan listrik secara signifikan.
b. Pertimbangkan Kondisi Iklim: Penting untuk mempertimbangkan iklim
setempat dalam desain. Misalnya, penggunaan bahan isolasi untuk atap
dan dinding dapat mengurangi panas di dalam gedung. Selain itu,
penerapan vegetasi seperti taman vertikal atau dinding hijau dapat
membantu menurunkan suhu dan memberikan kenyamanan termal.
c. Menanggapi Kondisi Lokasi Bangunan: Bangunan harus dirancang
dengan memperhatikan topografi dan karakteristik lahan. Pengelolaan air
hujan, misalnya dengan sistem infiltrasi, dapat meminimalkan genangan
air dan memaksimalkan manfaat air secara alami.
d. Memperhatikan Pengguna Bangunan: Kenyamanan penghuni adalah
prioritas. Oleh karena itu, desain harus mencakup ruang terbuka, jalur
pejalan kaki, dan fasilitas umum yang mendukung interaksi sosial dan
kesehatan fisik.
e. Minimalkan Sumber Daya Baru: Gunakan material daur ulang atau lokal
untuk konstruksi bila memungkinkan. Selain itu, sistem daur ulang air
dan energi terbarukan seperti panel surya dapat mengurangi penggunaan
sumber daya yang berlebihan.
f. Holistik: Desain harus terpadu, di mana semua elemen dari manajemen
energi hingga fasilitas hijau bekerja sama untuk menciptakan lingkungan
yang berkelanjutan. Mendidik penghuni tentang cara memelihara dan
memanfaatkan bangunan juga merupakan bagian dari pendekatan
holistik ini.
25
D. Studi Presenden
1. Bangunan Rusunawa Pekerja Industri
a. Rusunawa Rawa Bebek, Jakarta Timur
Diskripsi
1) Lokasi : Kawasan Cakung, Jakarta Timur
2) Luas : 17 hektar
3) Tahun Berdiri : 2015
4) Fasilitas Pendukung : drainase, pedestrian, area parkir,
mushola, lapangan olahraga dan taman.
26
Gambar : 2.14 Block Plan Rusunawa Rawa Bebek
Sumber : [Link]
27
Gambar 2.16 Tampak Rawa Bebek
Sumber : [Link]
Terdapat beberapa fasilitas yang ada pada rusunawa rawa bebek yaitu
: ruang pengurus RT, ruang pengelola, ruang pembayaran retribusi, ruang
serbaguna, ruang duka, unit difabel, ruang keamanan, musholla, gedung,
lapangan olahraga, RPTRA hingga ruang komersial.
Utilitas yang tersedia pada rusunawa rawa bebekdiantaranya Terdapat
sistem keamanan yang mencakup CCTV, detektor asap, alarm, dan
pemadam otomatis di setiap tower. Ada juga lift, area parkir, kios mart, dan
layanan feeder bus gratis yang terhubung ke jaringan TransJakarta untuk
memudahkan mobilitas penghuni.
Selain itu, unit-unit ini dilengkapi aliran gas, akses air bersih, serta
sambungan listrik yang siap digunakan, termasuk outlet untuk televisi dan
perangkat elektronik lainnya. Setiap blok juga dirancang dengan area
jemuran dan ruang terbuka untuk mendukung kenyamanan penghuninya.
28
b. Rusunawa di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)
Diskripsi
1) Lokasi : Kabupaten Batang, Jawa Tengah
2) Luas : 5.735 meter persegi
3) Tahun Berdiri : 2021
4) Fasilitas Pendukung : jalan lingkungan, drainase, pedestrian,
area parkir, mushola, lapangan olahraga dan taman.
29
Gambar 2.18 Prespektif Rusunawa Terpadu Batam
Sumber : [Link]
Rumah KIT Batang dibangun setinggi 5 lantai untuk tiap towernya dengan
kapasitas masing-masing tower sekitar 257 orang. Pembangunan rusun KIT
Batang terbagi menjadi tiga paket pekerjaan yaitu :
1) Paket I sebanyak 4 tower setinggi 5 lantai dengan jumlah unit 88
barak.
2) Paket II sebanyak 3 tower setinggi 5 lantai dengan jumlah unit 66
barak, dan
3) Paket III sebanyak 3 tower setinggi 5 lantai dengan jumlah unit 66
barak.
Unit yang ada 3 tipe antara lain :
1) Tipe I berukuran 8,4 x 6 m
2) Tipe II berukuran 12,6 x 6 m
3) Tipe III berukuran 16,8 x 6 m
Dengan penyediaan fasilitas umum untuk mendukung kenyamanan
para penghuni antara lain jalan lingkungan, jaringan air bersih, dan
sanitasi,area parkir tempat ibadah, sarana olahraga, dan taman. Setiap tower
dilengkapi dengan utilitas dasar seperti jaringan listrik, sistem penyediaan
air bersih, dan sistem drainase yang memadai.
30
c. Rusunawa Penjaringan Sari 3, Rungkut, Surabaya
Diskripsi
1) Lokasi : Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya,
Jawa Timur
2) Luas : -
3) Tahun Berdiri : 2009
4) Fasilitas Pendukung : Tempat Parkir, BLC, Koperasi, Mushola,
PAUD, Puskesmas, Taman, Taman Baca, Dan Lapangan
olahraga.
31
khusus penyandang cacat,tempat parkir, dan gudang. Sedangkan
untuk lantai 2-5 terdiri dari hunian- hunian.
32
2. Bangunan Dengan Konsep Arsitektur Hijau
a. Green Office Park 1
1) Architects : Pomeroy Studio Singapore
2) Lokasi : BSD, Indonesia
33
untuk mengoptimalkan cahaya alami dan ventilasi ke bagian dalam tempat
kerja dan menyediaakan iklim mikro yang kondusif bagi orang-orang ketika
bekerja dan beristirahat.
34
Gambar 2. 23 Denah Green Office Park 1.
Sumber: [Link]
zSistem Sirkulasi
35
Jika dilihat pada gambar denah Green Office Park 1 menggunakan
sistem struktur rigid frame yang dikombinasikan dengan core. Core
bangunan difungsikan sebagai sirkulasi vertikal sebanyak 4 buah lift
pengguna, 1 lift barang dan 1 buah tangga darurat dan area servis seperti
toilet dan ruang lainnya yang terletak di tengah tiap massa bangunan
(Selatan dan Utara). Penempatan lift dan tangga di area core saling
berseberangan serta terdapat 2 buah tangga darurat yang terletak di kanan
dan kiri masing-masing massa bangunan.
b. Bosco Verticale
1) Architects : Stefano Boeri
2) Lokasi : Milan, Italia
36
Gambar : 2.26 Bosco Verticale, Water Supply System
Sumber : [Link], 2019
Yang terdiri dari dua menara setinggi 80 meter dan 112 meter,
kompleks apartemen ini memiliki 113 unit dengan balkon yang menonjol di
setiap unitnya. Keunikan Bosco Verticale terletak pada keberagaman
vegetasi yang ditampungnya. Bangunan ini menampung 480 pohon besar
dan sedang, 300 pohon kecil, 11.000 tanaman tahunan serta tanaman
penutup tanah, dan 5.000 semak belukar. Dengan konsep ini, Bosco
Verticale berperan dalam menjaga ruang hijau di tengah kepadatan kota.
37
Gambar : 2.28 vegetasi Bosco Verticale
Sumber: [Link]
38
Gambar : 2.29 balkon Bosco Verticale
Sumber: [Link]
39
Gambar : 2.30 Detail Bosco Verticale
Sumber: [Link]
c. Parkroyal di Pickering
1) Architects : WOHA Architect
2) Lokasi : Singapura
40
memiliki 367 kamar yang mewah, dengan fasilitas hotel yaitu area
kesehatan, spa, dan infinity pool pada outdoornya yang memiliki
pemandangan 360 derajat menghadap jantung kota Singapura.
Royal Park ini menggunakan konsep dengan Desain yang
berlandaskan konsep biophilia, disebut desain biophilic dikarenakan dengan
menghadirkan ruang hijau untuk meningkatkan kualitas hidup yang
mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan fisiologis maupun psikologis
manusia. Konsep bangunan ini yaitu arsitektur hijau dengan ditumbuhi
banyakanya taman di Taman langit besar yang melengkung, ditumbuhi
tanaman tropis dan mendukung, tanaman tanaman dan pohon palem,
dikantilever di setiap tingkat, di antara blok-blok kamar tamu. Tanaman
hijau tumbuh subur di seluruh kompleks, dan pepohonan serta taman hotel
tampak menyatu dengan taman di sebelahnya sebagai satu kesatuan taman
kota yang berkesinambungan.
41
sebuah kota hijau yang ideal." Ruang hijau ini dilengkapi dengan
permukaan berkontur yang membentuk podium bangunan. Dimodelkan
pada topografi lanskap alam, permukaan ini menembus dinding luar
berlapis kaca dan berlanjut melalui ruang penerimaan di permukaan tanah.
a) Utilitas Air
Semua saluran penampang air hujan dihubungkan kedalalam tangki
pengumpul greywater untuk mengairi seluruh taman, dan tenaman tersebut
diairi dengan sistem irigasi yang didorong oleh gravitasi, dan juga
digunakan panel surya pada atap untuk menyediakan energi pada proses ini
dan juga pencahayaan lampu, sehingga menjadikan taman dengan nol
energi yang dipakai.
b) Struktur
Bangunan ini terdiri dari 12 lantai yang merumahkan kamar tamu,
podium 5 lantai yang mendukung teras taman, fitur air, dan kolam renang
tanpa batas. Podium, terdiri dari lempengan beton berlapis menyerupai
medan organik, membentuk atap portecochere kebesaran. Diposisikan di
nexus dari dua wilayah yang berbeda dari kota, WOHA menggambarkan
struktur yang rumit ini sebagai "gerbang seremonial," menjembatani
Pecinan ke Hong Lim Park dan distrik komersial. Bangunan ini dibuat
dengan beton bertulang. Dengan Sistem core dan Rigid Frame.
42
Gambar : 2.34 Denah Lantai 4-5 Park Royal
Sumber: [Link]
43
3. Resume Studi Preseden
Tabel 2.3 Resume Studi Preseden Rusunawa Pekerja Industri
No Analisa Rusunawa Rawa Rusunawa di Rusunawa
Bebek,Jakarta Kawasan Penjaringan Sari 3,
Industri Terpadu
Timur Batang,jawa Rungkut, Surabaya
tengah
khususnya kawasan
didaerah industri pengembangan
industri
2. Bentuk Bentuk bangunan Bentuk bangunan Bentuk bangunan
bangunan dan
simetris dan simetris dan simetris dan
jumlah lantai
terdapat 5 lantai terdapat 6 lantai, gedung rusunawa
masing-masing yang terdiri 10 ps3 ini memiliki
gedung dari 6 blok block dan terdapat hunian sebanyak
dan terdapat 2 tipe 2 tipe bangunan 96 unit, dengan
bangunan tipe tipe tower, dan tipe unit 4x6 m
tower, dan keluarga. tiap huniannya
keluarga. tipe 24
3. Fasilitas -Unit Hunian 1 -Unit Hunian 3 -Unit Hunian 1
Tipe Tipe Tipe
-Unit Hunian di -Mushola -Unit hunian
Fable -Ruang difable
-Mushola Pertemuan -Mushola
-Ruang Pertemuan -Ruang Komersil -Ruang terbuka
-Ruang Komersil - -Parkir Kenderaan - Parkir sepeda &
-Parkir Kenderaan -Taman dan motor didalam
Ruang Hijau bangunan
44
4. Lansekap/Ruang Memiliki area Memiliki area Memiliki area
luar
taman taman taman untuk
untuk lapangan untuk lapangan lapangan bermain
bermain, dan juga bermain, dan juga dan juga fasilitas
fasilitas olahraga fasilitas olahraga olahraga
5. Matrerial Perpaduan antara Perpaduan antara Perpaduan antara
dinding beton dan dinding beton dan dinding beton dan
Alumunium. Alumunium. Alumunium
6. Skala bangunan Skala Ruang Kota Skala Ruang Kota Skala Ruang Kota
7. Hubungan ruang Public-semi Public-semi Public-semi
public- public- public-
privat privat privat
8. Aspek -Bentuk bangunan -Bentuk - Fasilitas
Penerapan
-Fasilitas Bangunan -Pola Ruang dalam
dalam bangunan
-Lansekap/Ruang -Fasilitas
Luar -Hubungan Ruang
-Material -Alur Kegiatan
-Hubungan Ruang
45
Tabel 2.4 Resume Studi Preseden Konsep Arsitektur hijau
(38.000m2)
Luas bangunan
(17.000m2)
2. Lokasi BSD City, Pusat kota Milan, Pusat Kota,
Tangerang Selatan, Italia
Singapura
Indonesia
sederhana Bertingkat
46
6. Poin inti Konsep hotel
Konsep Konsep hutan
Perkantoran Hijau vertikal dalam taman
lingkungan kota
E. Ide Rancangan
Berikut merupakan garis besar ide/gagasan yang dikembangkan dengan
mengaitkan teori-teori yang sudah dibahas sebelumnya, Maka ide rancangan pada
perancangan rusunawa pekerja industri dimorosi dengan pendekatan arsitektur
hijau, yaitu :
1. Penerapan Ruang Terbuka Hijau Multifungsi sebagai Ruang Sosial dan
Relaksasi.
2. Penerapan Sistem Vegetasi Vertikal di Fasad dan Balkon untuk Mereduksi
Polusi Udara dan Suhu.
3. Optimalisasi Tata Ruang Hunian dan Sirkulasi Udara untuk Kenyamanan
Thermal.
4. Pengelolaan Air Hujan dan Pemanfaatan Air Daur Ulang untuk Kebutuhan
Sanitasi dan Penyiraman.
47
BAB III
TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN
A. Tinjauan Makro Lokasi Perencanaan
Kecamatan morosi merupakan salah satu kecamatan yang terletak
dikabupaten konawe, provinsi sulawesi tenggara. Kawasan ini memiliki peran
strategis dalam pengembangan industri diwilayah tersebut, didukung oleh
karakteristik geografis dan topografi yang mendukung pembangunan serta
pengembangan wilayah hunian pekerja. Berikut gambar peta ruang kecamatan
morosi.
1. Letak Geografis
Kecamatan Morosi adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten
Konawe, Sulawesi Tenggara. Luas wilayah Kecamatan Morosi mencapai
130,10 kilometer persegi atau 2,13% dari luas Kabupaten Konawe. Dengan
batasan sebagai berikut:
48
2. Letak Astronomis
Secara astronomis, kecamatan morosi terletak dibagian Selatan
Khatulistiwa, melintang dari Utara ke Selatan antara 30.30’ dan 40.30’ LS,
membujur dari Barat ke Timur antara 1220 hingga 1230 BT. Letak astronomis
ini menetapkan kecamatan morosi dizona tropis, dengan intensitas sinar
matahari yang tinggi sepanjang tahun.
3. Luas Wilayah
Luas Wilayah kecamatan morosi adalah 130,10 km2 atau 2,13 persen sari
luas kabupaten konawe. Desa yang terluas adalah desa tondowatu dengan luas
wilayah 43,62 km2 atau 33,53 persen dari luas kecamatan,sedangkan desa
terkecil adalah desa puuruy. Berikut gambar luas perdesa/kelurahan yang ada
dikecamatan morosi
49
Tabel 3.1 Luas daerah menurut desa/kelurahan
4. Keadaan Iklim
Keadaan musim didaerah kecamatan morosi, pada umumnya sama seperti
daerah lain di indonesia yang mempunyai dua musim, yakni musim hujan dan
musim [Link] karakteristik iklimnya adalah
a. Suhu Rata-Rata, Suhu rata-rata permukaan berkisar 26-28°C dan
diprediksi pada Dasarian III November 2024 berkisar 26-30°C, Prediksi
suhu minimum berkisar 22-27°C dan Prediksi suhu maksimum berkisar
31 - 37°C. dengan kelembapan yang relatif tinggi, yaitu sekitar 66-71%.
b. Curah Hujan Tinggi, dengan rata-rata curah hujan per tahun mencapai
1.500 hingga 2.000 mm, terutama selama bulan nonember hingga april.
c. Angin Muson, angin yang bertiup dalam skala regional (skala benua)
yang berubah arah azimut minimal 120 derajat dan terjadi secara
50
periodik (6 bulan sekali). Indonesia terkena dampak dari 2 tipe angin
Monsun, yaitu Monsun Timuran dan Monsun Baratan.
5. Kondisi Topografi
Wilayah kecamatan morosi didominasi oleh dataran rendah dan beberapa
area perbukitan dengan ketinggian rata-rata antara 10 hingga 50 meter diatas
permukaan laut (mdpl).
1. Eksisting Kondisi
Existing mengacu pada kondisi atau situasi yang sudah ada di lokasi
proyek atau di sekitar lokasi proyek pada saat pembangunan rumah susun
sederhana sewa (rusunawa) untuk pekerja industri. Hal ini mencakup sejumlah
faktor yang harus diperhatikan dan diperiksa sebelum merancang bangunan,
antara lain:
51
mendapatkan hunian yang layak dan terjangkau, sehingga keberadaan
Rusunawa sangat dibutuhkan untuk menyediakan tempat tinggal yang
nyaman, aman, dan sesuai standar.
b. Minimnya Lahan untuk Hunian di Kawasan Industri
Morosi merupakan kawasan industri dengan tingkat kebutuhan lahan yang
tinggi, baik untuk fasilitas produksi maupun tempat tinggal. Pembangunan
Rusunawa dengan konsep vertikal adalah solusi efektif untuk mengatasi
keterbatasan lahan, sekaligus mengoptimalkan penggunaan ruang.
c. Meningkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Pekerja
Hunian yang dekat dengan lokasi kerja dapat mengurangi waktu dan biaya.
d. Lingkungan Industri yang Ramah Lingkungan
Dengan pendekatan arsitektur hijau, Rusunawa dapat dirancang untuk
mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, seperti polusi udara dan
gangguan. Solusi ini melibatkan penggunaan material ramah lingkungan,
pengelolaan limbah yang baik, penerapan ruang hijau, serta efisiensi energi
melalui pencahayaan dan ventilasi.
52
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ching, F. D. K. (2014). Architecture: Form, Space, & Order. Hoboken, NJ: Wiley
Yeang, K. (2006). Bioclimatic Skyscrapers. New York: Springer.
Gehl, J. (2010). Cities for People. Washington, DC: Island Press.
Vale, B., & Vale, R. (1991). Green Architecture: Design for a Sustainable Future.
London: Penguin Books.
Steele, J. (2005). Ecological Architecture: A Critical History. London: Thames &
Hudson.
Murcutt, G. (2008). Thinking Drawing / Working Drawing. Sydney: Drawing
Institute.
Brown, G. Z., & DeKay, M. (2014). Passive Design: Strategies for Energy Efficient
Architecture. Hoboken, NJ: Wiley.
Alexander, C. (1977). A Pattern Language: Towns, Buildings, Construction. New
York: Oxfor
Karyono Tri Harso (2010). Green Architecture : Pengantar Pemahaman Arsitektur
Hijau di Indonesia. Jakarta : Rajagrafindo Perkasa.
Larasati Zr, Dewi & Suhendri, Suhendri & Nugrahanti, Fathina & Reztrie,
Noveryna & Lubis, Irma & Alprianti, Rea. (2018). ARSITEKTUR HIJAU.
JURNAL
Harahap, N. A. P., Al Qadri, F., Harahap, D. I. Y., Situmorang, M., & Wulandari,
S. (2023). Analisis Perkkembangan Industri Manufaktur Indonesia. El-Mal:
Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam, 4(5), 1444–1450.
[Link]
Mandani, S., Mustaqimah, U., & Marlina, A. (2023). Penerapan Prinsip Arsitektur
Hijau Pada Desain Rusunawa Di Kabupaten Pati. Juli, 6(2), 739–750.
[Link]
53
Indonesia Nomor 13 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Rumah Susun.
Penyelenggaraan Rumah Susun, 085147, 1–124.
54