DUTCH CONE PENETROMETER
(PENYONDIRAN)
SNI 2827 : 2008
I. PENDAHULUAN
Penyondiran adalah proses pemasukan suatu batang tusuk ke dalam
tanah, dengan bantuan manometer yang terdapat pada alat sondir tersebut
kita dapat membaca atau mengetahui kekuatan suatu tanah pada kedalaman
tertentu. Sehingga, dapat diketahui bahwa dari berbagai lapisan tanah
memiliki kekuatan yang berbeda.
Penyelidikan dengan penyondiran disebut penetrasi, dan alat sondir
yang biasa digunakan adalah Dutch Cone Penetrometer, yaitu suatu alat yang
pemakaiannya ditekan secara langsung kedalam tanah. Ujung yang berbentuk
konus (kerucut) dihubungkan pada suatu rangkaian stang dalam casing luar
dengan bantuan suatu rangka dari besi dan dongkrak yang dijangkarkan ke
dalam tanah.
Ada dua macam ujung penetrometer, yaitu :
a. Standard Type (Mantel Conus)
Pada jenis ini yang diukur adalah perlawanan pada ujung (konus),
hal ini dilakukan hanya dengan menekan stang dalam yang segera
menekan konus tersebut ke bawah sedangkan seluruh casing luar tetap
di luar. Gaya yang dibutuhkan untuk menekan konus tersebut ke bawah
diukur dengan suatu alat pengukur. Alat pengukur yang akan diletakkan
pada kekuatan rangka didongkrak. Setelah dilakukan pengukuran, konus,
stang dalam, dan casing luar dimajukan sampai pada kedalaman
berikutnya dimana pengukuran selanjutnya dilakukan hanya dengan
menekan stang dalamnya saja.
b. Friction Sleeve ( Adhesion Jacket Type / Bikonus )
Pada jenis ini dapat diukur secara sekaligus nilai konus dan
hambatan lekatnya. Hal ini dilakukan dengan penekanan stang dalam
seperti biasa. Pembacaan nilai konus dan hambatan lekat dilakukan setiap
20 cm. Dengan alat sondir yang mungkin hanya mencapai pada kedalaman
30 cm atau lebih, bila tanah yang diselidiki adalah lunak. Alat ini sangat
cocok di Indonesia, karena disini banyak dijumpai lapisan lempung yang
dalam dengan kekuatan rendah sehingga tidak sulit menembusnya. Perlu
diketahui bahwa nilai konus yang diperoleh tidak boleh disamakan dengan
daya dukung tanah tersebut.
CARA PEMBACAAN MANOMETER PADA ALAT SONDIR
Setelah batang konus dimasukan pada kedalaman tertentu, pemutar
sondir diputar sebanyak 5 kali. Pada saat itu dilihat pada jarum manometer
terdapat dua nilai, nilai yang terbesar adalah jumlah perlawanan konus ( JPK )
dan nilai terkecil adalah perlawanan penetrasi konus ( PPK ).
Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung
konus pada saat dilakukan penetrasi.
Jumlah perlawanan konus adalah perlawanan geser terhadap konus pada
saat dilakukan penetrasi.
Hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus.
CATATAN :
1. Pekerjaan sondir ringan (2 Ton) dihentikan apabila pembacaan PPK ≥ 150
kg/cm², sebanyak 3 kali berturut-turut atau penetrasi konus telah mencapai
kedalaman 30m.
2. Pekerjaan sondir berat (5 Ton) dihentikan apabila pembacaan PPK ≥ 500
kg/cm2 sebanyak 3 kali berturut-turut atau penetrasi konus telah mencapai
kedalaman 50 m.
KEUNTUNGAN DARI PENGGUNAAN ALAT SONDIR
• Baik untuk lapisan tanah lempung.
• Dapat dengan cepat menentukan lapisan tanah keras.
• Dapat memperkirakan pernedaan lapisan tanah.
• Mengetahui daya dukung tanah dengan rumus empiris.
• Baik digunakan untuk menentukan letak muka air tanah.
KEKURANGAN DARI PENGGUNAAN ALAT SONDIR
• Tidak cocok digunakan pada lapisan tanah berbutir kasar ( kera
s)
• Hasil penyondiran diragukan apabila letak alat tidak vertikal atau
konus dan bikonus bekerja tidak baik.
S et i a p p en g g u n a a n a l a t s on d i r h a r u s d i l a k u k a n k a l i b ra s i d a n
pemeriksaan perlengkapan antara lain :
1. Manometer yang digunakan masih dalam keadaan baik sesuai dengan
standard yang berlaku.
2. Ukuran konus yang akan digunakan haus sesuai dengan ukuran standard
(d = 36 mm)
3. Jarum manometer harus menentukan awal nilai nol.
4. Dalam pembacaan harus hati – hati melihat apakah induk stang bor
sudah ikut terkena, karena akan mempengaruhi pembacaan manometer.
5. Apabila alat sondir mulai terangkat,sedangkan tekanan manometer belum
mencapai angka 150 kg/cm² untuk sondir ringan dan 500 kg/cm² untuk
sondir berat, maka alat sondir harus diberi pemberat.
II. MAKSUD DAN TUJUAN
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui perlawanan penetrasi
konus dan hambatan lekat tanah yang merupakan indikasi dari kekuatan tanah
tersebut dan menentukan dalamnya berbagai lapisan yang berbeda.
III. ALAT-ALAT
• Mesin sondir ringan kapasitas 2 Ton
• Seperangkat alat sondir lengkap dengan batang dalam dengan panjang 1m
• Angker
• Plat besi
• Konus dan bikonus
• Minyak hidraulic
• Manometer
• Kunci – kunci pipa dan lain – lain.
IV. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Masukkan angker ke dalam tanah pada titik yang ditentukan, minimal dua buah.
2. Pasang mesin sondir tepat diantara angker tersebut, kemudian stel sondir agar
berdiri tegak lurus.
3. Kunci mesin sondir pada angker dengan menggunakan plat besi.
4. Isi minyak hidraulic pada tempat pemasangan manometer sampai penuh dan
bebas dari udara ditandai dengan tidak ada gelembung udara lagi.
5. Pasang bikonus pada ujung pipa pertama, kemudian pasang rangkaian tersebut
pada mesin sondir.
6. Tekan batang dengan cara memutar stang pemutar yang berhubungan dengan
sisi yang menjalankan penekan stang luar untuk memasukan bikonus pada
kedalaman yang yang akan disondir dengan memasang tri-ker.
7. Tekan stang dalam untuk mencabut tri-ker sehingga ujung konus masuk
sedalam 4 cm dan baca manometer sebagai perlawanan penetrasi konus
(PPK). Penekanan selanjutnya akan menggerakkan konus beserta selubung
sedalam 8 cm dan baca manometer sebagai jumlah perlawanan konus (JPK)
8. Tekan pipa bersama batang sampai kedalaman yang akan diukur berikutnya.
Pembacaan dilakukan setiap kedalaman 20 cm.
9. Demikian selanjutnya hingga pembacaan perlawanan penetrasi konus (PPK)
mencapai nilai 150 kg/cm² sebanyak 3 kali.
10. Lalu penyondiran dihentikan dengan mencabut kembali pipa sondir dengan
memutar ke arah yang berlawanan
V. PERHITUNGAN
•
•