Stres Pengasuhan Ibu Karir vs Ibu Rumah Tangga
Stres Pengasuhan Ibu Karir vs Ibu Rumah Tangga
Skripsi
Disusun oleh:
DHIEYA ANABELLA
(30702100065)
FAKULTAS PSIKOLOGI
SEMARANG
2025
1
BAB 1
PEDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perubahan menjadi seorang ibu merupakan salah satu fase dalam kehidupan
seorang perempuan, yang ditandai dengan proses transformasi psikologis.
Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga mencakup
pembentukan identitas baru sebagai seorang ibu yang memengaruhi hubungan
sosial, dinamika emosional, serta peran dalam keluarga dan masyarakat. Berbagai
faktor termasuk dukungan sosial dan kemampuan dalam mengelola emosi.
(Babetin, 2020).
Data dari Badan Pusat Statistika (BPS) pada tahun 2014 menunjukkan
14,73% perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Data per tahun 2023,
sejumlah 12,73% perempuan indonesia atau 1-2 perempuan dari 10 orang menjadi
kepala rumah tangga (Ribka, 2024). Prosentase perempuan yang bekerja di
Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja berdasarkan
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2024 sebanyak 152,11
juta orang, naik 4,4 juta orang dibanding Agustus 2023. Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja (TPAK) naik sebesar 1,15% dibanding Agustus 2023 (Statistik,
2019). Terjadinya peningkatan yang signifikan pada perempuan yang memutuskan
untuk bekerja disetiap tahunnya.
Data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(PPPA) menunjukkan ada sejulamlah 68,66% perempuan yang bekerja adalah
perempuan menikah, sedangkan sekitar 35,91% perempuan usia kerja berperan
sebagai ibu rumah tangga (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak, 2022). Meningkatnya partisipasi perempuan dalam angkatan
kerja di Indonesia membawa dampak signifikan terhadap dinamika peran ibu dalam
keluarga. Ibu dengan peran ganda memiliki manajemen waktu agar dapat membagi
waktu antara pengasuhan dan pekerjaan dengan baik (Wibowo dkk., 2019).
2
Ibu bekerja memiliki keterbatasan waktu dalam pengasuhan. Ibu bekerja
menerapkan keseimbangkan antara pemberian batasan dan kebebasan, serta
membangun komunikasi yang terbuka dengan anak (Supriatin, dkk. 2024).
Penelitian Putra (2022) menemukan bahwa Sebagian yang ibu bekerja lebih
menggunakan pola pengasuhan otoritatif. Yakni tegas namun hangat, dengan fokus
pada kualitas waktu karena keterbatasan waktu akibat pekerjaan. Ibu bekerja
memiliki tanggung jawab ganda dan kurangnya komunikasi serta pembagian peran
yang setara dalam keluarga.
Ibu rumah tangga memiliki peran dalam keluarga. Ibu adalah pengasuh,
pendidik, dan pemandu utama bagi anak-anak dari balita hingga remaja, anak-anak
menghabiskan sebagian besar waktu bersama ibu. (Meliana, 2019). Peran ibu
rumah tangga sangat diperlukan, bukan sekadar aktivitas tanpa bobot. Pola pikir
yang mengaitkan keberhasilan hanya dengan pencapaian finansial seringkali
membentuk persepsi yang kurang akurat terhadap peran ibu rumah tangga.
Mengelola rumah tangga adalah tugas yang menuntut dedikasi tinggi dan
manajemen waktu intens, dan tanpa batasan jam kerja. Persepsi bahwa pekerjaan
ini lebih sederhana dibandingkan karier profesional. Peran ibu rumah tangga
melibatkan beragam fungsi dan kemampuan multi-tasking yang kompleks, dari
mengurus rumah tangga, memasak, mendidik, hingga mengelola logistik sehari-
hari (Junaidi, 2017).
Penelitian Deater & Deckard (2004) memunjukkan bahwa stres pengasuhan
adalah rangkaian proses yang menghasilkan reaksi psikologis dan fisiologis yang
tidak menyenangkan, timbul dari usaha untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan
menjadi orang tua. Orang tua dan anak seringkali terhubung dalam perasaan dan
keyakinan negatif. Seorang ibu sering kali lebih rentan mengalami stres ketika
mengasuh anaknya.
Tingkat stress pengasuhan ibu bekerja dan ibu rumah tangga menunjukkan
adanya perbedaan. Penelitian Hapidah (2018) menunjukkan bahwa ibu rumah
tangga memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dibanding dengan ibu yang bekerja
di Kecamatan Pantan Cuaca. Sumber stres yang mempengaruhi diantaranya
tekanan-tekanan pada diri, yang berasal dari lingkungan rumah yang menimbulkan
3
stres. Menutut penelitian Apreviadizy & Puspitacandri (2017) ibu yang bekerja
banyak mengalami stres dibandingkan denga ibu yang tidak bekerja. Pekerjaan
rumah tangga dapat menuntut untuk diselesaikan, begitu juga pekerjaan dikantor.
Menambah beban waktu, pikiran dan tenaga bagi ibu yang bekerja. Ibu rumah
tangga dapat mengalami stress yang lebih rendah, dikarenakan tekanan dan tuntutan
bersumber hanya pada lingkungan rumah tangga.
Stres yang dialami orang tua dalam membesarkan anak dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Fakto r demografi, seperti tingkat pendidikan yang rendah,
latar belakang budaya, kondisi ekonomi yang kurang memadai, usia anak, dan usia
ibu (Asiyadi & Jannah, 2021). Selain itu, faktor lain yang berperan dalam
menentukan tingkat stres adalah kemampuan regulasi emosi. Individu dengan
kemampuan regulasi emosi yang kuat cenderung mampu tetap tenang dalam
berbagai situasi, berpikir positif, bahkan mengubah situasi agar lebih nyaman.
Orang tua terutama ibu dapat terhindar dari stres saat mengasuh anak (Gina &
Fitriani, 2020).
Stress dalam pengasuhan dapat melibatkan sejumlah proses kompleks dan
dinamis yang mencakup keterkaitan antara anak dan perilakunya. Tuntutan yang
dirasakan dalam mengasuh anak yaitu, sumber daya yang tersedia untuk mengasuh
anak, reaksi fisiologis terhadap stres anak, kualitas hubungan orang tua dengan anak
dan anggota keluarga lainnya, serta hubungan dengan orang dan institusi di luar
rumah (Deater dkk., 2004). Stres pengasuhan dapat menyebabkan atau
memperburuk keadaan fisik dan mental ibu pengasuh. Stres yang muncul pada
orangtua terutama ibu, akan menyebabkan ibu untuk melakukan tindakan kekerasan
pada anak, baik secara fisik maupun mental. Stres pengasuhan juga terjadi karena
adanya perilaku negatif anak serta perasaan kurang nyaman anak kepada ibu
(Aisyah, 2024).
Ibu yang mengalami stres dapat berdampak pada pengasuhan seperti berkata
kasar, bersikap keras, tidak memberikan kasih sayang kepada anak, mengabaikan
anak, menghukum anak. Pelampiasan emosi negatif dari tekanan yang dialami oleh
ibu yang bekerja. Luapan emosi negatif dapat berdampak pada kesehatan fisik
maupun psikis anak. Anak menjadi tertekan, terluka, bahkan sampai mengalami
4
kematian. Keterampilan mengelola emosi atau regulasi emosi yang baik perlu
dimiliki oleh ibu (Anthony dkk., 2009).
Penelitian Eramadhani, dkk (2022) menunjukkan bahwa regulasi emosi
secara sangat signifikan mampu mempengaruhi parenting stress. Penelitian yang
dilakukan oleh Apprilianti (2024) menunjukkan bahwa hubungan negatif antara
regulasi emosi dengan stress pengasuhan pada ibu bekerja. Semakin tinggi regulasi
emosi, semakin rendah stress pengasuhan. Sebaliknya, semakin rendah regulasi
emosi maka semakin rendah stress pengasuhan pada ibu bekerja.
Kemampuan pengolahan emosi yang buruk dapat berdampak pada
perkembangan anak dan juga dapat mempengaruhi pengolajan emosi anak.
Regulasi emosi merupakan kemampuan yang digunakan untuk mengelola emosi
yang bertujuan untuk meminimalisir keluarnya emosi negative dan menjaga emosi
positif. Regulasi emosi mengacu pada proses seseorang dipengaruhi oleh emosi
yang dimilikinya, serta respon kita untuk meng ekspresikan emosi tersebut.
Regulasi emsoi juga melibatkan perubahan bagaimana cara merespon hal – hal yang
tidak terkait sebagai pengungkapan emosi (Gross, 2002). Jika individu memiliki
regulasi emosi yang baik, maka akan mampu untuk mengendalikan situasi,
menyeleksi situasi, mampu berfikir secara positif terhadap masalah yang sedang
dihadapi, serta dapat fokus pada penyelesaian masalah (Gross, 2007).
Webb, dkk (2010) menjelaskan bahwa ibu dengan regulasi emosi yang baik
memiliki kemampuan untuk mengelola stres pengasuhan lebih baik dibandingkan
dengan ibu yang memiliki regulasi emosi kurang baik. Regulasi emosi ibu berperan
sebagai salah satu faktor dalam mengelola stres dan tantangan pengasuhan sehari-
hari. Ibu yang mampu mengelola emosinya dengan baik cenderung memberikan
respons pengasuhan yang lebih positif. Masalah perilaku anak , seperti agresi,
ketidak patuhan, atau kesulitan emosional, seringkali berhubungan dengan tingkat
stres dan kemampuan regulasi emosi orang tua. Keberfungsian keluarga sebagai
faktor pendukung yang dapat membantu ibu dalam mengelola emosinya dan
mengurangi masalah perilaku anak. Dukungan sosial juga dapat membantu ibu
dalam mengelola emsoi.
5
Penelitian Fatkuriyah, dkk (2022) menjelaskan dari 118 responden,
sebanyak 76,3% ibu mengalami stres pengasuhan sedang, 3,6% mengalami stres
tinggi, dan hanya 10,1% yang mengalami stres rendah. Dukungan sosial yang
memadai menjadi salah satu faktor utama stress pengasuhan pada ibu rumah tangga.
Semakin rendah dukungan sosial, maka semakin tinggi stres pengasuhan pada ibu,
sedangkan semakin tinggi dukungan sosial, maka semakin rendah stres pengasuhan
pada ibu (Jessika dkk., 2022).
Dukungan sosial merupakan dukungan atau bantuan yang diperoleh secara
verbal atau tindakan nyata dari individu lain. Dukungan sosial mengacu pada
perasaan atau persepsi tentang kenyamanan, perhatian dan bantuan yang akan
tersedia saat dibutuhkan. Dukungan dapat diperoleh dari pasangan, keluarga, teman
atau organisasi masyarakat. Individu yang memiliki dukungan sosial percaya
bahwa dirinya dicintai, dihargai dan sebagai bagian dari lingkup sosial, seperti
keluarga atau organinasi masyarakat (Evalista dkk., 2022). Kurangnya dukungan
sosial dalam lingkungan keluarga dapat berdampak pada ibu. ketika tekanan, isolasi
sosial, keterbatasan pengetahuan, dan masalah yang bertumpuk, ibu dapat
kehilangan kotrol emosi ketika menghadapi anak.
6
yang lebih sehat karena terciptanya lingkungan yang mendukung perkembangan.
(Evalista dkk., 2022).
Meskipun topik stres pengasuhan telah banyak diteliti, masih terdapat
kesenjangan dalam penelitian yang membahas perbandingan antara ibu bekerja dan
ibu rumah tangga, terutama dalam konteks regulasi emosi dan dukungan sosial.
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membandingkan ketiga aspek
tersebut pada dua kelompok ibu yang memiliki peran berbeda.
B. Rumusan Masalah
a) Apakah terdapat perbedaan tingkat stress pengasuhan pada ibu yang
bekerja dengan ibu rumah tangga?
b) Apakah dukungan sosial mempengaruhi tingkat parenting stress pada ibu
yang bekerja dan ibu rumah tangga?
c) Apakah regulasi emosi mempengaruhi Tingkat parenting stress pada ibu
ynag bekerja dan ibu rumah tangga ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a) Mengetahui perbedaan tingkat stress pengasuhan pada ibu yang bekerja
dan ibu rumah tangga.
b) Mengetahui perbedaan tingkat stress pengasuhan terhadap dukungan sosial
pada ibu yang bekerja dan ibu rumah tangga.
c) Mengetahui perbedaan tingkat stres pengasuhan terhadap regulasi emosi
pada ibu yang bekerja dan ibu rumah tangga.
D. Manfaat Penelitian
7
2. Memberikan landasan empiris bagi penguatan teori-teori yang berkaitan
dengan regulasi emosi, dukungan sosial, serta stres dalam pengasuhan anak.
8
BAB II
LANDASAN TEORI
Ibu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai wanita
yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat anak, serta bisa juga
berarti wanita yang mengambil peran tersebut meskipun tanpa hubungan
biologis. Peran ibu mencakup pengasuhan, pendidikan, dan ikatan emosional
mendalam dengan anak, menjadikannya sosok sentral dalam perkembangan awal
kehidupan seseorang.
Ibu yang tidak bekerja dapat lebih memahami bagaimana sifat dari anak-
[Link] sebagian besar waktu yang dimiliki ibu yang tidak bekerja
dihabiskan di rumah sehingga bisa memantau kondisi perkembangan anak.
Pekerjaan yang dilakukan ibu di rumah meliputi membersihkan, memasak, merawat
9
anak, berbelanja, mencuci pakaian, dan mendisiplinkan anak. Kebanyakan ibu
yang tidak bekerja seringkali harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah
sekaligus (Santrock, 2008)
Sementara itu, ibu rumah tangga merupakan ibu yang mengabdikan diri
pada pengelolaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Dengan lebih banyak waktu
yang dihabiskan di rumah, ibu rumah tangga dapat memahami kebutuhan dan
perkembangan anak secara lebih intens, meskipun aktivitas sehari-harinya kerap
melibatkan berbagai tugas domestik secara bersamaan (Santrock, 2008). Dengan
demikian, baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga sama-sama memiliki
kontribusi penting dalam keluarga, hanya berbeda dalam lingkup peran dan bentuk
pengabdian yang dijalani.
10
diri dengan tuntutan menjadi orang tua. Stres pengasuhan menurut Berry & Jones
(1995) ialah keadaan stres serta cemasan yang berlebihan terkait dengan peran
orangtua serta hubungan antara orang tua dan anak.
Stres pengasuhan menurut Abidin dkk. (1995) adalah kondisi tertekan yang
dialami orang tua ketika tuntutan pengasuhan anak dianggap melebihi sumber daya,
kapasitas, atau dukungan yang mereka miliki. Stres ini muncul dari interaksi antara
karakteristik orang tua, karakteristik anak, dan faktor lingkungan keluarga maupun
sosial.
11
tingkat stres pengasuhan yang lebih tinggi dibandingkan ibu rumah tangga,
terutama karena beban kerja yang padat (Blake Berryhill dkk., 2013).
Stres pengasuhan pada ibu rumah tangga lebih sering menghadapi stres
yang bersumber dari isolasi sosial, kurangnya dukungan emosional, serta
keterbatasan ruang aktualisasi diri. Karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk
mengurus rumah tangga dan anak, mereka lebih berisiko mengalami kejenuhan,
perasaan terasing, dan beban emosional yang berat ketika tidak mendapatkan
dukungan dari pasangan atau lingkungan sosial. Penelitian menegaskan bahwa
ketiadaan dukungan emosional dari pasangan dapat meningkatkan tingkat stres ibu
dalam menjalankan pengasuhan (Song dkk., 2020).
Tantangan dalam pengasuhan baik ibu yang bekerja maupun ibu rumah
tangga memiliki tantangan khas dalam menjalankan peran pengasuhan. Ibu bekerja
menghadapi tantangan berupa manajemen waktu, beban kerja yang menuntut, serta
tekanan sosial mengenai kualitas pengasuhan. Ibu rumah tangga lebih sering
menghadapi tantangan psikososial, seperti rasa kesepian, undervaluation (perasaan
tidak dihargai), dan keterbatasan kesempatan untuk pengembangan diri. Selain
faktor tersebut, rendahnya dukungan sosial juga terbukti memperburuk stres
pengasuhan yang dialami ibu, baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja (Blake
dkk., 2013).
12
Berry & Jones (1995) mengemukakan dua aspek yang mempengaruhi stress
pengasuhan, yaitu:
13
anak, atau ketika harapan orang tua tidak sesuai dengan perilaku anak, sehingga
hubungan terasa penuh ketegangan.
Aspek ini muncul ketika orang tua merasa hubungan dengan anak tidak
sesuai harapan. Misalnya, orang tua merasa tidak memperoleh umpan balik positif
dari anak, merasa anak sulit diatur, atau tidak mendapatkan kepuasan emosional
dari hubungan tersebut.
14
kurangnya dukungan sosial, keterbatasan finansial, konflik peran, maupun
ketidakpuasan dalam hubungan pernikahan.
15
Kondisi keuangan keluarga turut menyumbang terhadap beban stres.
Pendapatan yang rendah mempersempit kapasitas keluarga untuk mengakses
sumber daya, solusi, atau mekanisme coping, membuat orang tua lebih rentan
terhadap tekanan dalam perannya.
d. Maternal psychological well being
Kondisi mental dan emosional ibu, termasuk kestabilan psikologis secara
keseluruhan, berperan penting dalam menentukan seberapa besar stres yang
dirasakan saat mengasuh. Kesejahteraan psikologis rendah, beban peran sebagai
pengasuh menjadi lebih berat dan rentan terhadap stres.
Lestari (2012) mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat mendorong
timbulnya stres yang dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu:
a. Individu
Tingkat stres yang dialami individu dalam mengasuh anak dapat dipicu oleh
faktor pribadi, baik dari pihak orang tua maupun anak. Bagi orang tua, kesehatan
fisik seringkali menjadi pemicu utama, terutama jika mereka menderita penyakit
kronis jangka panjang. Di sisi lain, kesehatan mental dan emosional yang buruk
juga berkontribusi terhadap peningkatan stres. Sementara itu, bagi anak, faktor
individu yang memengaruhi stres pengasuhan anak meliputi masalah kesehatan
fisik dan masalah perilaku. Stres sehari-hari dalam mengasuh anak seringkali
bersumber dari masalah perilaku anak. Hal ini terutama berlaku bagi anak-anak
dengan disabilitas intelektual, yang pada dasarnya sulit diatur. Anak-anak ini
cenderung memberontak, seringkali menimbulkan kekacauan, bahkan kerusakan.
Akibatnya, orang tua yang menghadapi situasi seperti itu rentan terhadap stres
pengasuhan anak.
b. Keluarga
Pada tingkatan ini masalah keuangan dan struktur keluarga merupakan
faktor-faktor yang mendorong timbulnya stres pengasuhan. Aspek ini juga dapat
berupa pengasuhan anak yang dilakukan sendiri tanpa keterlibatan pasangan atau
karena menjadi orang tua tunggal. Selain itu hubungan yang penuh dengan konflik,
baik antar pasangan maupun antara orang tua- anak, sangat berpotensi
menimbulkan stres pengasuhan.
16
c. Lingkungan
Stres dalam pengasuhan anak dapat muncul sebagai kondisi jangka pendek,
situasional, atau bahkan insidental, terutama jika pemicunya terutama berasal dari
lingkungan. Namun, jika kondisi ini tidak segera ditangani atau dikelola secara
efektif, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi masalah jangka panjang.
Martin & Colbert (1997) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi
stres pengasuhan, diantaranya:
Kepribadian ketika menjadi orang tua, individu akan membawa sifat – sifat
pribadi dan melakukan pengasuhan sesuai dengan kepribadian mereka.
1) Developmental history
Gaya pengasuhan yang diadopsi oleh orang tua dapat dibentuk melalui
pembelajaran langsung atau dipengaruhi oleh pengalaman hubungan awal yang
membentuk perkembangan sosial dan emosional mereka. Secara umum, orang tua
cenderung membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang serupa dengan cara
mereka dibesarkan semasa kecil.
2) Belief
3) Pengetahuan
17
Orang tua memperoleh pengetahuan dari buku, orang dewasa lainnya,
majalah, dan sumber lainnya. Dari beberapa penelitian, menunjukkan bahwa
orang dewasa dengan pengalaman merawat anak mempunyai pengetahuan yang
lebih tinggi, dan lebih baik dalam pemecahan masalah yang terjadi dalam
hubungan orang tua – anak.
b. Karakter anak
1) Tempramen, seorang anak yang pendiam dan penurut serta mudah
beradaptasi akan mendapat pengasuhan yang berbeda dari anak yang
rewel dan kaku.
2) Jenis kelamin, jenis kelamin akan mempengaruhi proses menjadi orang
tua, karena orang tua dan masyarakat memilki harapan yang berbeda
untuk anak laki – laki dan perempuan
3) Kemampuan, kemampuan anak dapat membuat perbedaan dalam
bagaimana orang tua berinteraksi dengan anak – anak. Terkait dengan
kemampuan kognitif, motorik halus dan motorik kasar, emosi, serta
kemampuan anak dalam bersosialisasi.
4) Usia, usia anak merupakan faktor yang penting untuk dipertimbangkan
dalam proses pengasuhan karena mempengaruhi tugas membesarkan
anak dan harapan orang tua. Perkembangan fisik, intelektual, dan social
anaknya menentukan tingkat kemandirian dan kemampuan untuk
berkomunikasi dan sejauh mana anak dipengaruhi oleh orang – orang
disektitarnya.
c. Karakter demografik
1) Sosial – budaya, perkembangan orang tua dan anak dipengaruhi oleh
konteks yang meliputi hubungan dengan orang lain, aturan dan nilai –
nilai budaya. Mengacu pada nilai – nilai budaya dan adat istiadat yang
mempengaruhi orang tua dalam melakukan pengasuhan.
2) Status sosial – ekonomi, status social ekonomi yang dilihat dari
pekerjaan, pendapatan, dan pendidikan orang tua. Mempengaruhi proses
18
pengasuhan yang disebabkan oleh sikap keuangan dan berbagai
pengasuhan
3) Struktur keluarga, ukuran keluarga, usia, jarak anak – anak dalam
keluarga, jumlah orang tua di rumah dan urusan kelahiran anak – anak
menggambarkan apa yang dikenal sebagai sebuah keluarga. Sebagai
contoh, perlakuan orang tua terhadap anak sulung dan anak bungsu
berbeda, begitu pula harapan orang tua pada anak sulung dan anak
bungsu yang juga berbeda.
4) Dukungan sosial, ada beberapa alasan dukungan social dapat
mempengaruhi stres pengasuhan, pertama, ketika orang tua dapat berbagi
pikiran dan perasaan tentang pengasuhan dan masalah kehidupan lainnya
dengan orang lain, mereka cenderung merasa lebih baik tentang diri
mereka sendiri. Kedua, peran jaringan social menawarkan dukungan
seperti bantuan perawatan anak dan saran tentang pengasuhan. Ketiga,
teman dan keluarga berfungsi sebagai model pengasuhan.
5) Hubungan pernikahan, kualitas hubungan pernikahan akan
mempengaruhi kesejahteraan emosional dari orang tua. Salah satu
pasangan dapat saling memberi saran tentang pengasuhan dan berbagi
peran dalam pengasuhan anak.
Stres pengasuhan merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh
beragam faktor, baik yang bersumber dari orang tua, anak, maupun lingkungan sekitar.
Johnston (2003) menekankan empat faktor utama yang menentukan persepsi dan
tingkat stres pengasuhan, yaitu child behavioral problems (perilaku anak yang
menantang), family cohesion (kohesi atau keharmonisan keluarga), family income
(kondisi ekonomi keluarga), dan maternal psychological well-being (kesejahteraan
psikologis ibu). Faktor-faktor ini menggambarkan keseimbangan antara tantangan
eksternal yang muncul dari anak dan kondisi internal keluarga serta ibu sebagai
pengasuh utama.
Lestari (2012) menjelaskan bahwa stres pengasuhan dapat muncul dari tiga
tingkatan, yakni individu (meliputi kondisi fisik dan mental orang tua maupun anak),
19
keluarga (misalnya keuangan, konflik, atau peran sebagai orang tua tunggal), dan
lingkungan (situasi sosial yang menekan baik jangka pendek maupun panjang).
Sementara itu, Martin dan Colbert (1997) menguraikan lebih rinci dengan
mengelompokkan faktor ke dalam tiga kategori besar: karakter orang tua (riwayat
perkembangan, keyakinan, pengetahuan, dan kepribadian), karakter anak
(temperamen, usia, jenis kelamin, dan kemampuan), serta faktor demografik (nilai
sosial-budaya, status sosial ekonomi, struktur keluarga, dukungan sosial, dan kualitas
hubungan pernikahan).
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa stres pengasuhan tidak hanya
dipengaruhi oleh satu aspek tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi
multidimensional antara karakteristik anak, kondisi internal orang tua, dinamika
keluarga, dan faktor sosial-demografik yang lebih luas. Pemahaman komprehensif
mengenai faktor-faktor ini sangat penting agar intervensi pengasuhan dapat
disesuaikan dengan kebutuhan nyata keluarga, baik melalui penguatan dukungan
sosial, peningkatan kesejahteraan psikologis orang tua, maupun pengelolaan perilaku
anak.
5. Dampak Stres Pengasuhan
20
berupa pelatihan pengasuhan positif terbukti meningkatkan efikasi orang tua
sehingga mampu mengurangi stres pengasuhan (Sari & Andayani, 2021)
Bagi anak, stres pengasuhan ibu berpengaruh pada pola perilaku sehari-
hari. Anak prasekolah yang diasuh dengan pola kurang konsisten atau penuh
tekanan lebih sering menunjukkan temper tantrum. Penelitian di Bengkulu
menegaskan bahwa pola asuh demokratis mampu menurunkan risiko tantrum,
sementara pola otoriter dan permisif justru memperburuk kondisi tersebut (Sari.,
dkk 2022)
Selain tantrum, stres orang tua juga berkaitan dengan kebiasaan makan
anak. Sebuah studi di Taman Kanak-kanak Arengkoe Pagal mengungkapkan
bahwa gaya pengasuhan berkorelasi kuat dengan munculnya masalah makan pada
anak prematur. Anak-anak yang dibesarkan dengan pendekatan otoriter atau
permisif lebih cenderung menolak makanan, dibandingkan dengan mereka yang
dibesarkan secara demokratis (Nggarang & Bodus, 2019).
perilaku anak yang sulit seperti sering tantrum atau menolak makan
menambah beban emosional ibu, sehingga memperkuat stres pengasuhan. Jika
lingkaran ini tidak diputus, maka terjadi siklus negatif yang merugikan baik ibu
maupun anak. Intervensi berbasis positive parenting terbukti dapat memutus
siklus ini dengan cara meningkatkan kelekatan ibu-anak dan memperkuat
kemampuan ibu dalam menghadapi perilaku anak secara lebih adaptif (Sari &
Andayani, 2021)
21
Kesenjangan dalam temuan terkait faktor perantara dan pelindung.
Beberapa studi menunjukkan bahwa ketahanan keluarga mampu memperlemah
dampak negatif stres pengasuhan terhadap perkembangan anak, sementara studi
lain menekankan pentingnya pola asuh demokratis dan intervensi positive
parenting sebagai faktor protektif. Menunjukkan bahwa tidak semua keluarga
dengan tingkat stres tinggi otomatis menghasilkan dampak buruk pada anak,
karena adanya variasi dalam sumber daya keluarga, dukungan sosial, serta strategi
pengasuhan yang digunakan.
B. Regulasi Emosi
1. Pengertian Emosi
Salovey & Sluyter (dalam Nisfiannoor & Kartika, 2004) mengukur emosi
adalah perasaan atau pengaruh yang meliputi campuran antara sifat fisiologis
(contohnya, detak jantung yang cepat) dan tingkah laku yang terlihat (contohnya,
senyuman atau seringai).
22
kondisi fisiologis, dan perilaku, serta berperan besar dalam membentuk pengalaman
dan interaksi sosial manusia.
23
3. Apek-aspek Regulasi Emosi
24
d. Acceptance of emotional response (acceptance)
Gross & Thompson (2007) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
regulasi emosi seseorang, di antaranya adalah:
a. Individu
25
emosional yang positif. Faktor lain seperti jenis kelamin dan kondisi psikologis-
biologis juga penting. Laki-laki sering kali didorong norma sosial untuk menekan
emosi, sementara perempuan lebih ekspresif namun lebih rentan terhadap
rumination. Individu dengan gangguan depresi atau kecemasan pun mengalami
kesulitan menggunakan strategi adaptif karena pola pikir yang kaku atau
hipersensitivitas terhadap ancaman.
26
mengatur respons fisiologis, misalnya melalui latihan relaksasi dan pernapasan.
Setiap strategi memiliki dampak yang berbeda. Reappraisal umumnya
meningkatkan kesehatan psikologis, sementara suppression cenderung
berhubungan dengan peningkatan stres fisiologis dan relasi sosial yang lebih buruk.
d. Faktor Interpersonal
Regulasi emosi juga terjadi melalui interaksi sosial, bukan hanya proses
internal individu. Anak kecil, misalnya, mengandalkan orang tua untuk
menenangkan emosinya, sebuah proses yang disebut co-regulation. Pada orang
dewasa, berbagi pengalaman emosional dengan teman atau pasangan (social
sharing) sering kali membantu mengurangi intensitas emosi negatif. Dalam
hubungan romantis, regulasi emosi bahkan bersifat timbal balik, di mana pasangan
saling memengaruhi keadaan emosional masing-masing. Dukungan interpersonal
ini menjadi kunci penting dalam menjaga keseimbangan emosional dan mencegah
penggunaan strategi maladaptif.
27
3. Memahami Emosi
4. Mengatur Emosi
28
menghadapi perilaku anak, memiliki tingkat stres pengasuhan yang lebih rendah.
Sebaliknya, ibu dengan regulasi emosi yang lemah lebih rentan mengalami
kelelahan emosional dan konflik dengan anak (Gina & Fitriani, 2020)
Dampak positif regulasi emosi ibu juga terlihat dalam pola asuh yang
diterapkan. Ibu dengan regulasi emosi adaptif cenderung menerapkan pola asuh
demokratis, yang mendorong komunikasi dan empati dalam interaksi dengan
anak. Mengurangi risiko munculnya perilaku bermasalah, seperti tantrum atau
penolakan makan. Sebaliknya, regulasi emosi yang buruk dapat memicu pola asuh
otoriter atau permisif, yang justru memperburuk perilaku bermasalah anak (Sari
dkk., 2022)
Bagi anak prasekolah, regulasi emosi orang tua, khususnya ibu, berperan
langsung terhadap perkembangan kemampuan emosi mereka. Studi tentang
respon ibu terhadap emosi negatif anak menemukan bahwa respon suportif,
seperti memberi kenyamanan atau membantu anak memahami perasaannya,
berkorelasi positif dengan kemampuan regulasi emosi anak. Sebaliknya, respon
yang tidak suportif, misalnya mengabaikan atau memarahi anak saat marah,
membuat anak kesulitan belajar mengenali dan mengendalikan emosinya
(Herdiana dkk., 2023)
Regulasi emosi anak prasekolah yang baik berkontribusi pada kemampuan
sosial, seperti berbagi, bekerja sama, dan membentuk relasi positif dengan teman
sebaya. Diperkua t oleh penelitian mengenai mindful parenting, yang menekankan
bahwa kesadaran emosional ibu dalam berinteraksi dengan anak membantu anak
mengembangkan kelekatan emosional yang sehat dan keterampilan sosial yang
matang (Rahayu & Wulan, 2025)
Regulasi emosi ibu tidak hanya berdampak pada kesehatan psikologis ibu
sendiri, tetapi juga memengaruhi kualitas pengasuhan dan perkembangan emosi
anak prasekolah. Ibu mampu mengelola emosinya dengan baik, anak lebih mudah
belajar regulasi emosi dan mengembangkan keterampilan sosial yang sehat.
Sebaliknya, regulasi emosi yang buruk pada ibu berpotensi menciptakan pola asuh
tidak adaptif, yang dapat menghambat perkembangan emosional anak.
29
C. Dukungan Sosial
1. Pengertian Dukungan Sosial
Dukungan sosial adalah persepsi individu mengenai ketersediaan dukungan
dari tiga sumber penting: keluarga, teman, dan orang penting lainnya (significant
others) ketika mereka membutuhkan (Zimet dkk., 1988).
Wills, sebagaimana dikutip dalam Sarafino dan Smith (2014), menjelaskan
bahwa dukungan sosial melibatkan perasaan nyaman, perhatian, apresiasi, atau
bantuan yang diberikan oleh individu atau kelompok lain. Dukungan ini dapat
berasal dari berbagai sumber, mulai dari pasangan, anggota keluarga, teman dekat,
rekan kerja, hingga dokter atau organisasi masyarakat. Dengan dukungan semacam
ini, seseorang dapat merasa dicintai, diperhatikan, dan dihargai.
Sementara itu, Uchino (dalam Sarafino & Smith, 2014) menyatakan bahwa
dukungan sosial merupakan bentuk penerimaan dari orang atau kelompok lain,
yang diwujudkan dalam perasaan nyaman, perhatian, apresiasi, atau bantuan
lainnya. Individu merasa dicintai, diperhatikan, dan dibantu. Kehadiran dukungan
sosial ini juga menciptakan perasaan dicintai, diperhatikan, dan menjadi bagian
integral dari suatu kelompok, termasuk saling mendukung saat dibutuhkan.
Dengan mempertimbangkan berbagai definisi tersebut, penelitian ini
merujuk pada definisi dukungan sosial Uchino sebagaimana dikutip dalam Sarafino
dan Smith, yaitu penerimaan dari orang atau kelompok lain dalam bentuk
kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan lain yang membuat seseorang
merasa dicintai, diperhatikan, dan dibantu. Dukungan ini pada akhirnya membuat
seseorang merasa dicintai, diperhatikan, dan terintegrasi dalam kelompok, dengan
saling membela ketika dibutuhkan.
2. Aspek-aspek Dukungan Sosial
Aspek – aspek dukungan sosial terdiri dari tiga dimensi utama Zimet,
dkk.(1988), yaitu:
a. Dukungan dari Keluarga (Family Support)
Aspek ini merujuk pada sejauh mana individu merasa bahwa keluarganya
memberikan perhatian, kasih sayang, dan bantuan yang dibutuhkan. Dukungan dari
30
keluarga sering kali menjadi dasar utama dalam pembentukan kepercayaan diri,
kesejahteraan psikologis, serta adaptasi sosial.
b. Dukungan dari Teman (Friends Support)
Aspek aspek dukungan sosial menurut House (dalam Andarini & Fatma,
2013), yaitu:
31
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek dukungan sosial
keluarga yaitu dukungan emosional dan penghargaan, dukungan instrumental,
dukungan informatif, dukungan persahabatan, dukungan jaringan dan dukungan
tidak terlihat.
a. Dukungan Emosional
32
b. Dukungan Penghargaan
c. Dukungan Informasional
d. Dukungan Instrumental
Dukungan yang timbul dari keberadaan jaringan sosial, yaitu rasa memiliki
kelompok atau komunitas yang dapat menjadi tempat berbagi pengalaman,
memberi rasa keterhubungan, serta memperluas sumber daya sosial dan emosional.
33
Sejalan dengan itu, Taylor (2009) menekankan bahwa dukungan sosial tidak
hanya bersifat emosional, tetapi juga mencakup penghargaan, informasi, bantuan
instrumental, hingga dukungan jaringan sosial. Kombinasi dari berbagai bentuk
dukungan tersebut dapat meningkatkan rasa dicintai, memperkuat harga diri,
memberikan arahan dalam memecahkan masalah, serta menyediakan bantuan nyata
dan rasa keterhubungan. Dengan demikian, dukungan sosial dapat dipahami
sebagai hasil interaksi antara kesiapan individu, ketersediaan pemberi bantuan,
serta kualitas hubungan sosial yang terjalin, yang secara keseluruhan berfungsi
melindungi individu dari tekanan psikologis dan meningkatkan kesejahteraan.
34
anak usia 3–5 tahun berperan penting dalam membantu anak mengembangkan
regulasi emosi. Menunjukkan bahwa dukungan sosial tidak hanya melindungi
kesehatan psikologis ibu, tetapi juga berkontribusi langsung pada perkembangan
emosi anak.
35
pengasuhan. Temuan tersebut diperkuat oleh Apprilianti (2024) yang menemukan
adanya hubungan negatif antara regulasi emosi dan stres pengasuhan pada ibu
bekerja, di mana semakin tinggi regulasi emosi maka semakin rendah tingkat stres
pengasuhan yang dialami. Dengan demikian, regulasi emosi dapat berfungsi
sebagai mekanisme internal yang melindungi ibu dari dampak negatif tekanan
pengasuhan.
Selain regulasi emosi, faktor eksternal berupa dukungan sosial juga
memainkan peran penting dalam menurunkan tingkat stres pengasuhan. Dukungan
sosial mencakup bantuan emosional, informasi, maupun instrumental yang
diberikan oleh pasangan, keluarga, teman sebaya, serta lingkungan sosial yang lebih
luas (Evalista dkk., 2022). Dukungan ini memberikan rasa aman, dihargai, serta
keyakinan bahwa ibu tidak sendirian dalam menghadapi peran pengasuhan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ibu yang memperoleh dukungan sosial
memadai cenderung memiliki tingkat stres pengasuhan yang lebih rendah
(Fatkuriyah dkk., 2022; Vitoasmara dkk., 2024). Bahkan, meskipun stres
pengasuhan tinggi, dukungan sosial yang kuat terbukti dapat menurunkan dampak
negatif stres terhadap kesejahteraan psikologis ibu (Evalista dkk., 2022). Dengan
demikian, dukungan sosial dapat dipandang sebagai faktor protektif eksternal yang
memperkuat kemampuan ibu dalam mengelola tekanan pengasuhan sehari-hari.
Keterkaitan antara stres pengasuhan, regulasi emosi, dan dukungan sosial
bersifat dinamis dan saling melengkapi. Regulasi emosi berfungsi sebagai
mekanisme internal yang memungkinkan ibu merespons secara adaptif terhadap
tuntutan pengasuhan, sementara dukungan sosial menyediakan sumber daya
eksternal yang memperkuat resiliensi ibu dalam menghadapi tekanan. Apabila
regulasi emosi rendah dan dukungan sosial terbatas, maka risiko munculnya stres
pengasuhan yang tinggi semakin besar. Sebaliknya, kombinasi regulasi emosi yang
baik dan dukungan sosial yang memadai akan menurunkan tingkat stres
pengasuhan secara signifikan serta menciptakan pola pengasuhan yang lebih sehat
dan responsif terhadap kebutuhan anak.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa regulasi emosi dan
dukungan sosial memiliki kontribusi penting dalam menentukan tinggi rendahnya
36
stres pengasuhan. Kedua faktor ini perlu dipertimbangkan secara bersamaan karena
tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi psikologis ibu, tetapi juga terhadap
kualitas pengasuhan dan perkembangan anak. Oleh sebab itu, penelitian mengenai
stres pengasuhan pada ibu bekerja dan ibu rumah tangga menjadi relevan untuk
dilakukan, terutama dalam konteks membandingkan peran regulasi emosi dan
dukungan sosial dalam menurunkan beban stres yang dialami ibu dalam
menjalankan fungsi pengasuhan.
E. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan kerangka konsep yang telah dijelaskan pada
pembahasan sebelumnya, maka rumusan hipotesis pada penelitian ini adalah:
“Ada perbedaan antara stres pengasuhan pada ibu rumah tangga dan ibu yang
bekerja ditinjau dari regulasi emosi dan dukungan sosial”
37
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variable
B. Definisi Oprasional
1. Stres Pengasuhan
Stres pengasuhan ialah keadaan stres serta cemas yang berlebihan terkait
dengan peran orang tua serta hubungan antara orang tua dan anak. Stres pengasuhan
juga diartikan kondisi tertekan yang dialami orang tua ketika tuntutan pengasuhan
anak dianggap melebihi sumber daya, kapasitas, atau dukungan yang mereka miliki.
Stres ini muncul dari interaksi antara karakteristik orang tua, karakteristik anak, dan
faktor lingkungan keluarga maupun sosial (Abidin dkk., 1995; Berry & Jones,
1995). Pengukuran skala stres pengasuhan akan diukur dengan skala stres
pengasuhan dari Berry & Jones (1995), Parental Stress Scale (PSS) memiliki dua
dimensi, yaitu dimensi positif (pleasure) aspek ini menggambarkan pengalaman
positif yang diperoleh orang tua selama mengasuh anak, seperti rasa bahagia,
kedekatan emosional, kasih sayang, dan kepuasan batin dan dimensi negatif (strain)
aspek strain merujuk pada pengalaman negatif atau tekanan yang dirasakan dalam
menjalankan tanggung jawab pengasuhan. Ini meliputi perasaan kewalahan,
kurangnya fleksibilitas, beban finansial, kesulitan mengatur waktu, serta
ketidaknyamanan atau rasa malu terhadap perilaku anak.
38
Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek berarti semakin tinggi stres
pengasuhan pada ibu, sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh subjek berarti
semakin rendah stres pengasuhan pada ibu.
2. Regulasi Emosi
Secara umum, skor regulasi emosi yang tinggi menunjukkan bahwa ibu
semakin terampil dalam mengelola dan mengendalikan emosinya. Sebaliknya,
skor yang rendah menunjukkan bahwa ibu mengalami kesulitan dalam hal ini.
3. Dukungan Sosial
39
Konsep ini lebih lanjut merujuk pada perasaan atau persepsi seseorang tentang
ketersediaan kenyamanan, perhatian, dan bantuan saat dibutuhkan. Dukungan ini
dapat datang dari pasangan, anggota keluarga, teman, atau bahkan organisasi
masyarakat. Orang yang mengalami dukungan sosial yang kuat cenderung percaya
bahwa mereka dicintai, dihargai, dan merupakan bagian integral dari jaringan
sosial, seperti keluarga atau komunitas, sebagaimana diusulkan oleh Evalista dan
rekan-rekannya pada tahun 2022.
Untuk mengukur hal ini, skala dukungan sosial yang dikembangkan oleh
Zimet dan timnya pada tahun 1988 digunakan. Skala ini menilai beberapa sumber
dukungan, termasuk dukungan dari keluarga, yang mencakup kualitas hubungan
dan kedekatan dengan mereka; dukungan dari teman, yang mengukur kepuasan
terhadap persahabatan mereka; dan dukungan dari orang terdekat, yaitu bantuan
yang diterima dari orang spesial yang dianggap penting dalam hidup.
Secara umum, jika seseorang memiliki skor dukungan sosial yang tinggi,
tingkat stres pengasuhan ibu cenderung lebih rendah. Sebaliknya, skor yang rendah
dapat membuat seorang ibu lebih rentan terhadap stres dalam mengasuh anak.
2. Sample
40
diperoleh dari sampel dapat diterapkan pada populasi. Sampel dari populasi harus
benar-benar representatif. Populasi penelitian ini cukup besar, maka untuk
menghasilkan data valid menggunakan perhitungan sampel oleh Isaac dan
Michael. Sampel menggunakan tabel penentuan jumlah sampel yang
dikembangkan Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan 1% (Sugiyono, 2013).
3. Sample
41
1. Stres Pengasuhan
Variable stres pengasuhan akan diukur menggunakan skala Kumalasari,
dkk (2022) yang didasari oleh dua aspek Berry & Jones (1995) yaitu, Pleasure
(kepuasan pengasuhan) dan Strain (tekanan pengasuhan).
Penelitian ini menggunakan skala likert yang tersusun dalam bentuk suatu
pernyataan favorable dan unfavorable. Skala likert adalah skala pengukuran yang
dikembangkan oleh Likert yang terdiri dari setidaknya empat pernyataan yang
digabungkan menjadi skor/nilai yang mewakili karakteristik individu seperti
pengetahuan, sikap dan perilaku (Sugiyono, 2013). Setiap item pernyataan
memiliki empat kemungkinan jawaban: Sangat Sesuai, Sesuai, Tidak Sesuai dan
Sangat Tidak Sesuai. Aitem favorable pilihan Sangat Sesuai akan mendapat skor
empat, pilihan Sesuai mendapat skor tiga, pilihan Tidak Sesuai mendapat skor dua,
dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor satu. Aitem unfavorable pilihan
Sangat Sesuai akan mendapat skor satu, pilihan Sesuai mendapat skor dua, pilihan
Tidak Sesuai mendapat skor tiga, dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor
empat. Skala stres pengasuahan dapat dilihat pada tabel 1:
Tabel 1. Blueprint Skala Stres Pengasuhan
Aitem
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Pleasure - 9 9
2. Strain 9 - 9
Total 18
2. Regulasi Emosi
42
memiliki empat kemungkinan jawaban: Sangat Sesuai, Sesuai, Tidak Sesuai dan
Sangat Tidak Sesuai. Aitem favorable pilihan Sangat Sesuai akan mendapat skor
empat, pilihan Sesuai mendapat skor tiga, pilihan Tidak Sesuai mendapat skor dua,
dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor satu. Aitem unfavorable pilihan
Sangat Sesuai akan mendapat skor satu, pilihan Sesuai mendapat skor dua, pilihan
Tidak Sesuai mendapat skor tiga, dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor
empat. Skala regulasi emosi dapat dilihat pada tabel 2:
Tabel 2. Blueprint Skala Regulasi Emosi
Aitem
No Aspek Jumlah
Favorable
1. Cognitive Reapraisal 6 6
2. Expressive Suppresion 4 4
Total 10
3. Dukungan Sosial
Variable dukungan sosial diukur menggunakan skala dukungan sosial
Sulistiani, dkk (2022) yang didasari oleh tiga aspek Zimet, dkk (1988) yaitu
Dukungan dari Keluarga (Family Support), Dukungan dari Teman (Friends
Support) dan Dukungan dari Orang yang Spesial (Significant Other Support).
Penelitian ini menggunakan skala likert yang tersusun dalam bentuk suatu
pernyataan favorable dan unfavorable. Skala likert adalah skala pengukuran yang
dikembangkan oleh Likert yang terdiri dari setidaknya empat pernyataan yang
digabungkan menjadi skor/nilai yang mewakili karakteristik individu seperti
pengetahuan, sikap dan perilaku (Sugiyono, 2013). Setiap item pernyataan
memiliki empat kemungkinan jawaban: Sangat Sesuai, Sesuai, Tidak Sesuai dan
Sangat Tidak Sesuai. Aitem favorable pilihan Sangat Sesuai akan mendapat skor
empat, pilihan Sesuai mendapat skor tiga, pilihan Tidak Sesuai mendapat skor dua,
dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor satu. Aitem unfavorable pilihan
Sangat Sesuai akan mendapat skor satu, pilihan Sesuai mendapat skor dua, pilihan
Tidak Sesuai mendapat skor tiga, dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor
empat. Skala regulasi emosi dapat dilihat pada tabel 3:
43
Tabel 3. Blueprint Skala Dukungan Sosial
Aitem
No Aspek Jumlah
Favorable
1. Family Support 4 4
2. Friends Support 4 4
3. Significant Other Support 4 4
Total 12
1. Validitas
Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi. Validitas isi
adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur apa isi atau konsep yang akan
diukur (Azwar, 2012).. Keputusan validitas isi dilakukan dengan meminta
penilaian dari pihak kompeten (experts judgement) seperti para ahli. Experts
judgment dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing skripsi.
2. Reliabilitas
Reliabilitas dalam konteks pengukuran mengacu pada tingkat keandalan
atau konsistensi hasil yang diperoleh, yang menunjukkan seberapa akurat
instrumen tersebut bekerja, sebagaimana dijelaskan oleh Azwar pada tahun 2012.
Sugiyono (2013) menambahkan bahwa reliabilitas dapat didefinisikan sebagai
kemampuan suatu instrumen untuk memberikan data yang serupa ketika
digunakan berulang kali pada objek yang sama. Menurut Azwar (2012),
44
reliabilitas ini dinyatakan melalui koefisien numerik yang berkisar antara 0 hingga
1. Semakin dekat koefisien dengan 1, semakin tinggi tingkat reliabilitasnya,
sedangkan semakin dekat dengan 0, semakin rendah reliabilitasnya.
Dalam penelitian ini, pengujian reliabilitas dilakukan dengan
menggunakan koefisien Cronbach's Alpha, dibantu dengan perangkat lunak SPSS
versi 27.0. Metode ini digunakan untuk mengestimasi nilai koefisien reliabilitas
keseluruhan dan untuk menilai tingkat reliabilitas setiap item.
F. Teknik Analisis
45
BAB IV
46
a. Persiapa Perizinan
47
Tabel 4. Distribusi Penomoran Skala Stres Pengasuhan
Aitem
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Pleasure - 1, 2, 5, 6, 7, 8, 8
17, 18
2. Strain 3, 4, 10, 11, - 10
12, 13, 14,
15, 16
Total 18
Total 10
48
Tabel 6. Distribusi Penomoran Skala Dukungan Sosial
Aitem
No Aspek Jumlah
Favorable
1. Family Support 3, 4, 8, 11 4
2. Friends Support 6, 7, 9, 12 4
3. Significant Other Support 1, 2, 5, 10 4
Total 12
c. Uji Daya Beda Item
Uji daya beda item bertujuan menilai kemampuan tiap butir dalam
membedakan responden berkemampuan tinggi atau rendah, sehingga hanya butir
dengan daya pembeda baik yang dipertahankan. Daya beda aitem dikatankan tinggi
apabila koefisien korelasi aitem ≥ 0,30 (Azwar, 2016). Berikut penjabaran tiap
variable
1. Stres Pengasuhan
Hasil analisis daya beda menunjukkan bahwa dari 18 aitem, 14 aitem memiliki
daya beda tinggi dengan keofisien berkisar antara 0,307 hingga 0,621 dan 4 aitem
memiliki daya beda rendah antara 0,151 hingga 0,247. Reliabilitas dengan 18 aitem
menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,842. Reliabilitas Cronbach’s Alpha
meningkat menjadi 0,854 dengan 14 aitem. Pengujian setelah eliminasi aitem gugur
juga menunjukkan peningkatan korelasi antar aitem, dengan nilai berkisaran 0,330
hingga 0,621.
Total 18
*aitem gugur
49
2. Regulasi Emosi
Hasil analisis daya beda menunjukkan bahwa 10 aitem memiliki daya beda yang
tinggi dengan koefisien 0,441 hingga 0,584. Seluruh aitem menunjukkan kualitas
deskriminatif yang baik. Reliabilitas skala stres pengasuhan dengan 10 item
menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,822.
Total 10
3. Dukungan Sosial
Hasil analisis daya beda menunjukkan bahwa 10 aitem memiliki daya beda yang
tinggi dengan koefisien 0,373 hingga 0,728. Seluruh aitem menunjukkan kualitas
deskriminatif yang baik. Reliabilitas skala stres pengasuhan dengan 12 item
menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,911.
50
B. Hasil Penelitian
dianalisis meliputi usia, pekerjaan, pendidikan, jumlah anak dan lama menikah.
menjadi peserta posyandu di Desa Sendangagung berada pada rentang usia 30–39
tahun dengan persentase sebesar 49,8%, diikuti oleh kelompok usia 20–29 tahun
51
sebanyak 45,3%, sedangkan kelompok usia di atas 40 tahun hanya sebesar 4,9%.
Menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia produktif dan
masih aktif dalam mengasuh anak balita. Berdasarkan status pekerjaan, lebih dari
setengah responden merupakan ibu rumah tangga yaitu sebesar 59,7%, sementara
sisanya sebesar 40,3% adalah ibu bekerja. Kondisi ini menggambarkan bahwa
kegiatan posyandu di desa tersebut banyak diikuti oleh ibu yang memiliki waktu
SMA sebanyak 42%, diikuti oleh lulusan S1 sebesar 28,8%, dan SMP sebesar
pengetahuan dan sikap mereka dalam mengasuh anak. Berdasarkan jumlah anak,
responden dengan satu anak menempati proporsi terbesar yaitu 43,6%, diikuti oleh
dua anak sebesar 39,9%, sedangkan ibu dengan tiga anak atau lebih memiliki
persentase yang jauh lebih kecil. Kondisi ini mencerminkan bahwa sebagian besar
keluarga di wilayah tersebut cenderung memiliki jumlah anak yang relatif sedikit.
Selain itu, jika dilihat dari lama pernikahan, mayoritas responden telah
menikah selama 1–5 tahun dengan persentase 58%, diikuti oleh 6–10 tahun sebesar
21,8%, dan lebih dari 10 tahun sebesar 20,2%. Temuan ini menunjukkan bahwa
sebagian besar responden termasuk dalam kelompok ibu muda yang baru menjalani
kehidupan rumah tangga, sehingga kemungkinan besar mereka masih aktif dalam
52
mencari informasi dan mengikuti kegiatan posyandu untuk mendukung tumbuh
dalam penelitian ini, yaitu Stress Pengasuhan (Y), Dukungan Sosial (X1) dan
Regulasi Emosi (X1). Statistik deskriptif seperti rata-rata, median, modus, dan
responden dalam penelitian ini adalah 243 orang. Variabel stres pengasuhan (Y)
memiliki nilai minimum sebesar 14 dan maksimum 68, dengan nilai rata-rata
(mean) sebesar 42,65 dan standar deviasi 11,642. Nilai rata-rata ini menunjukkan
bahwa tingkat stres pengasuhan pada ibu di Desa Sendangagung berada pada
kategori sedang, yang berarti sebagian besar ibu mengalami stres pengasuhan dalam
tingkat yang wajar. Meskipun demikian, nilai standar deviasi yang relatif besar
menunjukkan adanya keragaman yang cukup tinggi di antara responden dalam hal
53
Selanjutnya, pada variabel dukungan sosial (X2) diperoleh nilai minimum 27
dan maksimum 84, dengan rata-rata sebesar 61,88 dan standar deviasi 11,168. Nilai
mendapatkan dukungan sosial yang baik, baik dari keluarga, pasangan, teman,
berpotensi menjadi faktor pelindung terhadap stres pengasuhan yang dialami oleh
para ibu.
Sementara itu, variabel regulasi emosi (X1) memiliki nilai minimum 28 dan
maksimum 70, dengan nilai rata-rata sebesar 47,45 serta standar deviasi 8,553.
berada pada tingkat sedang, yang berarti sebagian besar ibu mampu mengelola
emosi dengan cukup baik dalam menghadapi situasi pengasuhan anak. Nilai standar
a. Uji Validitas
54
Pertanyaan 4 0.000 0.496 0.138 Valid
Pertanyaan 5 0.000 0.516 0.138 Valid
Pertanyaan 6 0.000 0.643 0.138 Valid
Pertanyaan 7 0.000 0.626 0.138 Valid
Pertanyaan 8 0.000 0.628 0.138 Valid
Pertanyaan 9 0.000 0.619 0.138 Valid
Pertanyaan 10 0.000 0.651 0.138 Valid
Pertanyaan 11 0.000 0.659 0.138 Valid
Pertanyaan 12 0.000 0.668 0.138 Valid
Pertanyaan 13 0.000 0.652 0.138 Valid
Pertanyaan 14 0.000 0.691 0.138 Valid
Sumber: Data Primer di Olah SPSS
item pernyataan menunjukkan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.000 dengan nilai r-
hitung berkisar antara 0.458 hingga 0.691. Jika dibandingkan dengan nilai r-tabel
sebesar 0.138, seluruh item memiliki r-hitung yang lebih besar dari r-tabel dan nilai
dinyatakan valid. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh item dalam instrumen
mengukur tingkat stres yang dialami ibu di posyandu Desa Sendangagung. Artinya,
55
Pertanyaan 4 0.000 0.761 0.138 Valid
Pertanyaan 5 0.000 0.754 0.138 Valid
Pertanyaan 6 0.000 0.750 0.138 Valid
Pertanyaan 7 0.000 0.673 0.138 Valid
Pertanyaan 8 0.000 0.773 0.138 Valid
Pertanyaan 9 0.000 0.708 0.138 Valid
Pertanyaan 10 0.000 0.757 0.138 Valid
Pertanyaan 11 0.000 0.731 0.138 Valid
Pertanyaan 12 0.000 0.495 0.138 Valid
Sumber: Data Primer di Olah SPSS
diperoleh bahwa seluruh 12 item pernyataan memiliki nilai signifikansi 0.000 dan
nilai r-hitung antara 0.495 hingga 0.775, yang seluruhnya lebih besar daripada nilai
r-tabel sebesar 0.138. Dengan demikian, seluruh item pertanyaan dinyatakan valid.
Hasil ini menunjukkan bahwa setiap pernyataan yang digunakan dalam mengukur
tingkat dukungan sosial dari keluarga, teman, maupun lingkungan telah terbukti
Dengan kata lain, instrumen ini dapat dipercaya untuk menilai sejauh mana
Sendangagung.
56
Pertanyaan 8 0.000 0.587 0.138 Valid
Pertanyaan 9 0.000 0.626 0.138 Valid
Pertanyaan 10 0.000 0.664 0.138 Valid
Sumber: Data Primer di Olah SPSS
bahwa seluruh 10 item pertanyaan memiliki nilai signifikansi sebesar 0.000 dan
nilai r-hitung berkisar antara 0.587 hingga 0.686. Seluruh nilai r-hitung tersebut
lebih tinggi dari r-tabel 0.138, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua butir
antara regulasi emosi dengan stres pengasuhan pada ibu di Desa Sendangagung.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas diterapkan untuk mengetahui konsisten alat ukur, alat ukur
yang dipakai dapat diandalkan dan tetap stabil jika pengukuran tersebut diulang.
Pengujian yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan teknik alpha cronbach.
Reliabilitas instrumen dianggap terbukti jika memiliki koefisien reliabilitas > 0,7.
57
Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada Tabel 4.6, diketahui bahwa seluruh
variabel penelitian memiliki nilai Cronbach’s Alpha di atas batas minimal 0,7,
0,854,Variabel Dukungan Sosial (X2) yaitu 0,911, dan variabel regulasi emosi (X1)
sebesar 0,832. Secara keseluruhan, hasil uji reliabilitas ini memperkuat keyakinan
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dalam pemelitian ini untuk mengetahui apakah data pada
variabel berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini
bahwa nilai signifikansi pada ketiga variabel lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05).
58
b. Uji Homogenitas
data bersifat sama (homogen) atau tidak. Uji ini menggunakan Levene’s Test of
• Jika nilai signifikansi (Sig.) < 0,05 → varians data tidak homogen.
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas pada Tabel 4.8, terlihat bahwa nilai
signifikansi berdasarkan mean sebesar 0,002 (< 0,05). Menunjukkan bahwa varians
antar kelompok tidak homogen. Dengan demikian, asumsi homogenitas juga tidak
terpenuhi.
berdistribusi normal dan tidak homogen, maka analisis tidak dapat dilanjutkan
59
Uji Kruskal–Wallis dipilih karena mampu menguji perbedaan median
Uji ini dilakukan secara terpisah untuk masing-masing variabel bebas, karena
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui pengaruh regulasi emosi (X1) dan
dukungan sosial (X2) terhadap stres pengasuhan (Y) pada ibu di Desa
Sendangagung. Karena data tidak berdistribusi normal dan varians antar kelompok
Berdasarkan hasil uji Kruskal–Wallis pada Tabel 4.9, diperoleh nilai Chi-
Square (H) sebesar 36.963 dengan derajat bebas (df = 2) dan nilai signifikansi p <
0.001. Karena nilai p lebih kecil dari 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
60
perbedaan tingkat stres pengasuhan yang signifikan berdasarkan kategori regulasi
emosi.
kemampuan ibu dalam mengatur emosi, maka semakin rendah tingkat stres
Berdasarkan tabel diatas, diketahui hasil uji Kruskal–Wallis pada Tabel 4.10
menunjukkan bahwa nilai Chi-Square (H) sebesar 8.832 dengan df = 2 dan nilai
signifikansi p = 0.012. Karena p < 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
sosial.
yang lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang memiliki dukungan sosial rendah.
61
c. Pengaruh Regulasi Emosi*Dukungan Sosial dengan Stres Pengasuhan
Berdasarkan hasil uji Kruskal–Wallis pada Tabel 4.11, diperoleh nilai Chi-
Square (H) sebesar 56.017 dengan derajat bebas (df = 8) dan nilai signifikansi p <
0.001. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05, maka terdapat perbedaan
antara regulasi emosi dan dukungan sosial terhadap stres pengasuhan diterima.
Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat stres pengasuhan ibu tidak hanya dipengaruhi
oleh satu faktor secara terpisah, tetapi juga oleh kombinasi keduanya. Ibu dengan
regulasi emosi tinggi dan dukungan sosial tinggi cenderung memiliki stres
62
C. Pembahasan
pengasuhan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga jika ditinjau dari regulasi
alternatif dari ANOVA faktorial untuk menguji perbedaan tiga variabel bebas secara
dalam tingkat stres pengasuhan berdasarkan regulasi emosi, dukungan sosial, serta
status pekerjaan ibu. Dengan nilai signifikansi di bawah 0,05, maka seluruh
Hasil uji menunjukkan nilai p = 0.000 < 0.05, yang berarti terdapat
perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Berdasarkan nilai mean rank,
ibu bekerja memiliki rata-rata stres pengasuhan yang lebih tinggi dibandingkan ibu
rumah tangga. Ibu bekerja menghadapi beban psikologis yang lebih besar karena
Temuan ini sejalan dengan penelitian Apreviadizy & Puspitacandri (2017) yang
menyebutkan bahwa ibu bekerja mengalami stres lebih tinggi dibandingkan ibu
tidak bekerja karena tuntutan waktu dan energi yang lebih berat.
63
emosi. Ibu dengan regulasi emosi rendah memiliki stres pengasuhan tertinggi,
sedangkan ibu dengan regulasi emosi tinggi memiliki stres pengasuhan terendah.
Eramadhani dkk. (2022) dan Apprilianti (2024) yang membuktikan bahwa semakin
baik kemampuan regulasi emosi, semakin rendah tingkat stres pengasuhan yang
dialami ibu, karena individu mampu mengubah cara pandang terhadap situasi
perbedaan yang signifikan. Ibu dengan dukungan sosial rendah memiliki tingkat
stres pengasuhan yang paling tinggi. Ibu dengan dukungan sosial tinggi memiliki
stres pengasuhan yang rendah. Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian
Fatkuriyah dkk. (2022) dan Vitoasmara dkk. (2024) yang menegaskan bahwa
terhadap stres pengasuhan. Kelompok ibu bekerja dengan regulasi emosi rendah
dan dukungan sosial rendah menunjukkan skor stres pengasuhan paling tinggi.
Sebaliknya, ibu rumah tangga dengan regulasi emosi tinggi dan dukungan sosial
64
pengasuhan merupakan hasil interaksi antara faktor internal (kemampuan regulasi
dukungan sosial sebagai coping eksternal yang membantu ibu mengurangi tekanan
dari luar.
ibu rumah tangga lebih banyak menghadapi tekanan emosional akibat rutinitas, rasa
bosan, atau kurangnya pengakuan sosial. Regulasi emosi dan dukungan sosial
tinggi, kedua kelompok ini mampu menekan stres pengasuhan hingga tingkat
minimal
D. Kelemahan
dukungan sosial pada saat itu saja. Perubahan yang mungkin terjadi seiring waktu,
misalnya akibat faktor perkembangan anak atau kondisi pekerjaan, tidak dapat
terpantau.
65
b. Instrumen Pengukuran Menggunakan Self-Report
masyarakat.
Sampel penelitian diambil hanya dari satu wilayah, yaitu Desa Sendangagung,
di wilayah lain kemungkinan berbeda, sehingga hasil penelitian ini belum dapat
66
BAB V
A. KESIMPULAN
1. Terdapat perbedaan tingkat stres pengasuhan antara ibu bekerja dan ibu rumah
tangga. Ibu bekerja menunjukkan tingkat stres pengasuhan yang lebih tinggi
dibandingkan ibu rumah tangga. Disebabkan oleh peran ganda yang harus
Ibu dengan dukungan sosial tinggi dari pasangan, keluarga, atau teman
4. Terdapat interaksi antara regulasi emosi dan dukungan sosial terhadap stres
67
regulasi emosi rendah dan dukungan sosial rendah menghasilkan stres
B. SARAN
melihat dinamika stres pengasuhan, regulasi emosi, dan dukungan sosial dalam
latar sosial-budaya
pendekatan kuantitatif dan kualitatif, agar hasil analisis lebih kaya dan mampu
pengasuhan.
2. Saran bagi Ibu Rumah Tangga dan Ibu Sebagai Wanita Karir
3) Menjaga kualitas waktu bersama anak lebih penting daripada jumlah waktu
semata.
68
b. Bagi Ibu Rumah Tangga
memiliki nilai dan kontribusi penting bagi keluarga, sehingga tidak merasa
di luar rutinitas rumah tangga agar tidak merasa terisolasi secara sosial.
69
LAMPIRAN
70
Lampiran 2. Hasil Analisis Statistik Deskriptif
71
Variabel Dukuangan Sosial (X2)
72
Lampiran 4. Uji Reliabilitas
73
Lampiran 7. Hasil Uji Kruskal-Wallis H
74
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah. (2024). Gambaran parenting stres pada ibu yang menikah di usia muda
terhadap perilaku kekerasan pada anak usia dini. Indonesian Journal of
Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini, 1(1), 123–129.
[Link]
Andarini, S. R., & Fatma, A. (2013). Hubungan antara distress dan dukungan
sosial dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa dalam menyusun
skripsi. Jurnal Psikologi, 2(2), 159–179.
Anthony, L. G., Antonius, B., Glanville, D. N., & Naiman, D. (2009). The
relationship between parenting stress, parenting behaviour and
preschoolers' social competence and behaviour problems in the classroom.
Infant and Child Development, 18(6), 238–254. [Link]
Apreviadizy, P., & Puspitacandri, A. (2017). Perbedaan stres ditinjau dari ibu
bekerja dan ibu tidak bekerja. Jurnal Psikologi Tabularasa, 9(1), 58–65.
[Link]
.pdf
Asiyadi, I. P., & Jannah, M. (2021). Hubungan antara parenting stress dengan
parenting self-efficacy pada ibu yang memiliki anak disabilitas intelektual.
Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(5), 1–11.
[Link]
Azwar, S. (2016). Penyusunan skala psikologi (Edisi ke-2, pp. 1–169). Pustaka
Pelajar.
75
Berry, J. O., & Jones, W. H. (1995). The Parental Stress Scale: Initial psychometric
evidence. Journal of Social and Personal Relationships, 12(3), 463–472.
[Link]
Cao, Y., Zhang, Q., & Zhao, L. (2024). Association between parents’ perceived
social support and children’s psychological adjustment: A cross-sectional
study. BMC Psychology, 12(1), 135. [Link]
01217-9
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering
hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310–357.
[Link]
Eramadhani, G. F., & Fitriani, Y. (2022). Regulasi emosi dan parenting stress pada
ibu bekerja. Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan, 1(1), 96.
[Link]
Evalista, M., Razak, A., & Lukman. (2022). Pengaruh stres pengasuhan dan
dukungan sosial keluarga sebagai variabel moderator terhadap
kebahagiaan ibu. Metapsikologi: Jurnal Ilmiah Kajian Psikologi, 1(1), 1–
8. [Link]
Fatkuriyah, L., Madyaning Nastiti, E., Putri, K. A. K., Sudhana, H., & Rosalina, A.
B. (2022). Factors related to parenting stress among mothers with preschool
aged children. Jurnal Kesehatan Dr. Soebandi, 10(1), 7–16.
[Link]
Gina, F., & Fitriani, Y. (2020). Regulasi emosi dan parenting stress pada ibu
bekerja. Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan, 2(2), 96–102.
76
Gross, J. J. (2002). Emotion regulation: Affective, cognitive, and social
consequences. Psychophysiology, 39(3), 281–291.
[Link]
Gross, J. J., & Ford, B. Q. (Eds.). (2024). Handbook of Emotion Regulation (3rd
ed.). Guilford Press.
Gross, J. J., & John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion regulation
processes: Implications for affect, relationships, and well-being. Journal of
Personality and Social Psychology, 85(2), 348–362.
[Link]
Hapidah. (2018). Perbedaan tingkat stres kerja antara ibu rumah tangga pekerja
publik dan pekerja domestik. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 7(2), 87–
94.
Herdiana, D., Agustiani, H., & Qodariah, L. (2023). Respon ibu menghadapi emosi
negatif anak dan regulasi emosi anak usia 3–5 tahun. Martabat: Jurnal
Perempuan dan Anak, 6(2), 271–294.
[Link]
Jessika, A., Nurwidawati, Riskiana, L., Indrawati, E. S., Evalista, M., Razak, A., ...
Ruhadini, A. (2022). Hubungan antara dukungan sosial orangtua dengan
regulasi emosi pada siswa kelas VIII MTsN Bawu Jepara. Jurnal EMPATI,
1(1), 1–5. [Link]
Johnston, C., Hessl, D., Blasey, C., Eliez, S., Erba, H., Dyer-Friedman, J., Glaser,
B., & Reiss, A. L. (2003). Factors associated with parenting stress in
mothers of children with fragile X syndrome. Journal of Developmental &
Behavioral Pediatrics, 24(4), 267–275. [Link]
200308000-00009
Kim, H. J., Park, E., & Lee, K. (2022). The moderating effect of social support on
parental stress and depression among mothers of children with disabilities.
77
International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(4),
2238. [Link]
Leung, D. W., & Tsang, S. K. (2010). The relationship between parental stress and
child behavior problems: The mediating role of parenting style. Journal of
Child and Family Studies, 19(6), 682–689. [Link]
009-9350-6
Meliana, O. (2019). Perlukah pendidikan tinggi bagi seorang ibu rumah tangga?
Binus University. [Link]
tinggi-bagi-seorang-ibu-rumah-tangga/
Nggarang, B. N., & Bodus, O. J. (2019). Hubungan pola asuh orang tua dengan
perilaku sulit makan anak usia prasekolah di Taman Kanak-Kanak
Arengkoe Pagal. Jurnal Wawasan Kesehatan, 4(1), 15–22.
Nisfiannoor, M., & Kartika, Y. (2004). Hubungan antara regulasi emosi dan
penerimaan kelompok teman sebaya pada remaja. Jurnal Psikologi, 2(2),
160–178.
Pan, B., Gong, Y., Wang, Y., Miao, J., Zhao, C., & Li, Y. (2025). The impact of
maternal parenting stress on early childhood development: The mediating
role of maternal depression and the moderating effect of family resilience.
BMC Psychology, 13(1), 15. [Link]
Putra Hayat, A. (2022). Persepsi pola pengasuhan ibu bekerja dan tidak bekerja:
Studi kasus di Gondokusuman Kota Yogyakarta. Jurnal Pelita PAUD, 6(2),
310–320. [Link]
Putri, R. A. (2022). Peran dukungan sosial terhadap stres pengasuhan pada ibu
dengan anak usia dini. Jurnal Empati, 11(2), 112–121.
78
Rachmayani, F. (2018). Stres pengasuhan pada ibu bekerja ditinjau dari konflik
peran ganda dan dukungan sosial. Jurnal Psikologi Insight, 10(1), 14–25.
Rahayu, S., & Wulan, H. (2025). Dampak mindful parenting terhadap regulasi
emosi anak dalam pola asuh orang tua. Asian Journal of Multidisciplinary
Research, 1(3), 114–121. [Link]
Radde, H. A., Nurrahmah, A. N., & Saudi, N. A. (2021). Uji validitas konstruk dari
Emotion Regulation Questionnaire versi Bahasa Indonesia dengan
menggunakan confirmatory factor analysis. Jurnal Psikologi Karakter,
1(2), 156–160.
Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2014). Health psychology (8th ed.). John Wiley &
Sons.
Sari, D. R. A., Ramlis, R., & Sutrisna, M. (2022). Hubungan pola asuh orang tua
dengan kejadian temper tantrum pada anak prasekolah (usia 3–6 tahun) di
PAUD IT Auladuna 1 Kota Bengkulu. Journal of Nursing and Public Health,
10(1), 1–8.
Sari, N., & Rachmawati, R. (2020). Hubungan dukungan sosial dan stres
pengasuhan pada ibu anak prasekolah. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan,
8(2), 95–104.
Song, S., Yamashita, N., & Kim, J. (2020). Bodeum: Encouraging working parents
to provide emotional support for stay-at-home parents in Korea.
Proceedings of the 14th International Conference on Pervasive Computing
Technologies for Healthcare (pp. 38–49). ACM.
[Link]
Sugiyono, D. (2013). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan.
Alfabeta.
Supriatin, S., Halimah, A., Yudistira, Leksonowati, S. S., & Erawan, T. (2024). The
influence of parenting styles of working and non-working mothers on
79
children’s independence. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 10(2), 851–858.
[Link]
Utami, R. (2020). Dukungan sosial, regulasi emosi, dan stres pengasuhan pada ibu
bekerja. Psikostudia: Jurnal Psikologi, 9(1), 23–32.
[Link]
Vitoasmara, K., Saputri, M. E., Larasati, N., Putri, N. K., & Ratnawati, O. (2024).
Parenting stres ibu bekerja pada kesehatan mental anak. Jurnal Mahasiswa
Ilmu Kesehatan, 2(4), 15–26.
Webb, L. K., Stone, P. R., & Johnson, D. (2010). Pengaturan emosi ibu dan
masalah perilaku anak dalam keluarga dengan anak kecil. Jurnal Isu
Keluarga, 31(10), 1293–1314.
Wibowo, A., & Saidiyah, S. (2019). Proses pengasuhan ibu bekerja. Jurnal
Psikologi Integratif, 1(1), 105–123.
Yuliani, F. (2019). Pengaruh regulasi emosi dan dukungan sosial terhadap stres
pengasuhan pada ibu dengan anak usia prasekolah. Jurnal Psikologi
Pendidikan dan Perkembangan, 8(3), 198–209.
Zhang, W., Liu, H., & Chen, L. (2020). Emotion regulation and parent distress:
Getting at the heart of parenting. Frontiers in Psychology, 11, 1453.
[Link]
Zimet, G. D., Dahlem, N. W., Zimet, S. G., & Farley, G. K. (1988). The
Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Journal of Personality
Assessment, 52(1), 30–41. [Link]
80