0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan80 halaman

Stres Pengasuhan Ibu Karir vs Ibu Rumah Tangga

Dokumen ini membahas perbedaan tingkat stres pengasuhan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga, serta pengaruh regulasi emosi dan dukungan sosial terhadap stres tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa ibu rumah tangga cenderung mengalami stres lebih tinggi dibandingkan ibu bekerja, meskipun ibu bekerja juga menghadapi tantangan dalam manajemen waktu dan pengasuhan. Dukungan sosial dan kemampuan regulasi emosi berperan penting dalam mengelola stres pengasuhan pada kedua kelompok ibu.

Diunggah oleh

dhieyaanabella1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan80 halaman

Stres Pengasuhan Ibu Karir vs Ibu Rumah Tangga

Dokumen ini membahas perbedaan tingkat stres pengasuhan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga, serta pengaruh regulasi emosi dan dukungan sosial terhadap stres tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa ibu rumah tangga cenderung mengalami stres lebih tinggi dibandingkan ibu bekerja, meskipun ibu bekerja juga menghadapi tantangan dalam manajemen waktu dan pengasuhan. Dukungan sosial dan kemampuan regulasi emosi berperan penting dalam mengelola stres pengasuhan pada kedua kelompok ibu.

Diunggah oleh

dhieyaanabella1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERBEDAAN STRESS PENGASUHAN IBU SEBAGAI WANITA KARIR

DAN IBU SEBAGAI IBU RUMAH TANGGA DITINJAU DARI REGULASI


EMOSI DAN DUKUNGAN SOSIAL

Skripsi

Untuk memenuhi sebagai persyaratan

memperoleh derajat Sarjana Psikologi

Disusun oleh:

DHIEYA ANABELLA

(30702100065)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2025

1
BAB 1

PEDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perubahan menjadi seorang ibu merupakan salah satu fase dalam kehidupan
seorang perempuan, yang ditandai dengan proses transformasi psikologis.
Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga mencakup
pembentukan identitas baru sebagai seorang ibu yang memengaruhi hubungan
sosial, dinamika emosional, serta peran dalam keluarga dan masyarakat. Berbagai
faktor termasuk dukungan sosial dan kemampuan dalam mengelola emosi.
(Babetin, 2020).
Data dari Badan Pusat Statistika (BPS) pada tahun 2014 menunjukkan
14,73% perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Data per tahun 2023,
sejumlah 12,73% perempuan indonesia atau 1-2 perempuan dari 10 orang menjadi
kepala rumah tangga (Ribka, 2024). Prosentase perempuan yang bekerja di
Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja berdasarkan
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2024 sebanyak 152,11
juta orang, naik 4,4 juta orang dibanding Agustus 2023. Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja (TPAK) naik sebesar 1,15% dibanding Agustus 2023 (Statistik,
2019). Terjadinya peningkatan yang signifikan pada perempuan yang memutuskan
untuk bekerja disetiap tahunnya.
Data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(PPPA) menunjukkan ada sejulamlah 68,66% perempuan yang bekerja adalah
perempuan menikah, sedangkan sekitar 35,91% perempuan usia kerja berperan
sebagai ibu rumah tangga (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak, 2022). Meningkatnya partisipasi perempuan dalam angkatan
kerja di Indonesia membawa dampak signifikan terhadap dinamika peran ibu dalam
keluarga. Ibu dengan peran ganda memiliki manajemen waktu agar dapat membagi
waktu antara pengasuhan dan pekerjaan dengan baik (Wibowo dkk., 2019).

2
Ibu bekerja memiliki keterbatasan waktu dalam pengasuhan. Ibu bekerja
menerapkan keseimbangkan antara pemberian batasan dan kebebasan, serta
membangun komunikasi yang terbuka dengan anak (Supriatin, dkk. 2024).
Penelitian Putra (2022) menemukan bahwa Sebagian yang ibu bekerja lebih
menggunakan pola pengasuhan otoritatif. Yakni tegas namun hangat, dengan fokus
pada kualitas waktu karena keterbatasan waktu akibat pekerjaan. Ibu bekerja
memiliki tanggung jawab ganda dan kurangnya komunikasi serta pembagian peran
yang setara dalam keluarga.
Ibu rumah tangga memiliki peran dalam keluarga. Ibu adalah pengasuh,
pendidik, dan pemandu utama bagi anak-anak dari balita hingga remaja, anak-anak
menghabiskan sebagian besar waktu bersama ibu. (Meliana, 2019). Peran ibu
rumah tangga sangat diperlukan, bukan sekadar aktivitas tanpa bobot. Pola pikir
yang mengaitkan keberhasilan hanya dengan pencapaian finansial seringkali
membentuk persepsi yang kurang akurat terhadap peran ibu rumah tangga.
Mengelola rumah tangga adalah tugas yang menuntut dedikasi tinggi dan
manajemen waktu intens, dan tanpa batasan jam kerja. Persepsi bahwa pekerjaan
ini lebih sederhana dibandingkan karier profesional. Peran ibu rumah tangga
melibatkan beragam fungsi dan kemampuan multi-tasking yang kompleks, dari
mengurus rumah tangga, memasak, mendidik, hingga mengelola logistik sehari-
hari (Junaidi, 2017).
Penelitian Deater & Deckard (2004) memunjukkan bahwa stres pengasuhan
adalah rangkaian proses yang menghasilkan reaksi psikologis dan fisiologis yang
tidak menyenangkan, timbul dari usaha untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan
menjadi orang tua. Orang tua dan anak seringkali terhubung dalam perasaan dan
keyakinan negatif. Seorang ibu sering kali lebih rentan mengalami stres ketika
mengasuh anaknya.
Tingkat stress pengasuhan ibu bekerja dan ibu rumah tangga menunjukkan
adanya perbedaan. Penelitian Hapidah (2018) menunjukkan bahwa ibu rumah
tangga memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dibanding dengan ibu yang bekerja
di Kecamatan Pantan Cuaca. Sumber stres yang mempengaruhi diantaranya
tekanan-tekanan pada diri, yang berasal dari lingkungan rumah yang menimbulkan

3
stres. Menutut penelitian Apreviadizy & Puspitacandri (2017) ibu yang bekerja
banyak mengalami stres dibandingkan denga ibu yang tidak bekerja. Pekerjaan
rumah tangga dapat menuntut untuk diselesaikan, begitu juga pekerjaan dikantor.
Menambah beban waktu, pikiran dan tenaga bagi ibu yang bekerja. Ibu rumah
tangga dapat mengalami stress yang lebih rendah, dikarenakan tekanan dan tuntutan
bersumber hanya pada lingkungan rumah tangga.
Stres yang dialami orang tua dalam membesarkan anak dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Fakto r demografi, seperti tingkat pendidikan yang rendah,
latar belakang budaya, kondisi ekonomi yang kurang memadai, usia anak, dan usia
ibu (Asiyadi & Jannah, 2021). Selain itu, faktor lain yang berperan dalam
menentukan tingkat stres adalah kemampuan regulasi emosi. Individu dengan
kemampuan regulasi emosi yang kuat cenderung mampu tetap tenang dalam
berbagai situasi, berpikir positif, bahkan mengubah situasi agar lebih nyaman.
Orang tua terutama ibu dapat terhindar dari stres saat mengasuh anak (Gina &
Fitriani, 2020).
Stress dalam pengasuhan dapat melibatkan sejumlah proses kompleks dan
dinamis yang mencakup keterkaitan antara anak dan perilakunya. Tuntutan yang
dirasakan dalam mengasuh anak yaitu, sumber daya yang tersedia untuk mengasuh
anak, reaksi fisiologis terhadap stres anak, kualitas hubungan orang tua dengan anak
dan anggota keluarga lainnya, serta hubungan dengan orang dan institusi di luar
rumah (Deater dkk., 2004). Stres pengasuhan dapat menyebabkan atau
memperburuk keadaan fisik dan mental ibu pengasuh. Stres yang muncul pada
orangtua terutama ibu, akan menyebabkan ibu untuk melakukan tindakan kekerasan
pada anak, baik secara fisik maupun mental. Stres pengasuhan juga terjadi karena
adanya perilaku negatif anak serta perasaan kurang nyaman anak kepada ibu
(Aisyah, 2024).
Ibu yang mengalami stres dapat berdampak pada pengasuhan seperti berkata
kasar, bersikap keras, tidak memberikan kasih sayang kepada anak, mengabaikan
anak, menghukum anak. Pelampiasan emosi negatif dari tekanan yang dialami oleh
ibu yang bekerja. Luapan emosi negatif dapat berdampak pada kesehatan fisik
maupun psikis anak. Anak menjadi tertekan, terluka, bahkan sampai mengalami

4
kematian. Keterampilan mengelola emosi atau regulasi emosi yang baik perlu
dimiliki oleh ibu (Anthony dkk., 2009).
Penelitian Eramadhani, dkk (2022) menunjukkan bahwa regulasi emosi
secara sangat signifikan mampu mempengaruhi parenting stress. Penelitian yang
dilakukan oleh Apprilianti (2024) menunjukkan bahwa hubungan negatif antara
regulasi emosi dengan stress pengasuhan pada ibu bekerja. Semakin tinggi regulasi
emosi, semakin rendah stress pengasuhan. Sebaliknya, semakin rendah regulasi
emosi maka semakin rendah stress pengasuhan pada ibu bekerja.
Kemampuan pengolahan emosi yang buruk dapat berdampak pada
perkembangan anak dan juga dapat mempengaruhi pengolajan emosi anak.
Regulasi emosi merupakan kemampuan yang digunakan untuk mengelola emosi
yang bertujuan untuk meminimalisir keluarnya emosi negative dan menjaga emosi
positif. Regulasi emosi mengacu pada proses seseorang dipengaruhi oleh emosi
yang dimilikinya, serta respon kita untuk meng ekspresikan emosi tersebut.
Regulasi emsoi juga melibatkan perubahan bagaimana cara merespon hal – hal yang
tidak terkait sebagai pengungkapan emosi (Gross, 2002). Jika individu memiliki
regulasi emosi yang baik, maka akan mampu untuk mengendalikan situasi,
menyeleksi situasi, mampu berfikir secara positif terhadap masalah yang sedang
dihadapi, serta dapat fokus pada penyelesaian masalah (Gross, 2007).
Webb, dkk (2010) menjelaskan bahwa ibu dengan regulasi emosi yang baik
memiliki kemampuan untuk mengelola stres pengasuhan lebih baik dibandingkan
dengan ibu yang memiliki regulasi emosi kurang baik. Regulasi emosi ibu berperan
sebagai salah satu faktor dalam mengelola stres dan tantangan pengasuhan sehari-
hari. Ibu yang mampu mengelola emosinya dengan baik cenderung memberikan
respons pengasuhan yang lebih positif. Masalah perilaku anak , seperti agresi,
ketidak patuhan, atau kesulitan emosional, seringkali berhubungan dengan tingkat
stres dan kemampuan regulasi emosi orang tua. Keberfungsian keluarga sebagai
faktor pendukung yang dapat membantu ibu dalam mengelola emosinya dan
mengurangi masalah perilaku anak. Dukungan sosial juga dapat membantu ibu
dalam mengelola emsoi.

5
Penelitian Fatkuriyah, dkk (2022) menjelaskan dari 118 responden,
sebanyak 76,3% ibu mengalami stres pengasuhan sedang, 3,6% mengalami stres
tinggi, dan hanya 10,1% yang mengalami stres rendah. Dukungan sosial yang
memadai menjadi salah satu faktor utama stress pengasuhan pada ibu rumah tangga.
Semakin rendah dukungan sosial, maka semakin tinggi stres pengasuhan pada ibu,
sedangkan semakin tinggi dukungan sosial, maka semakin rendah stres pengasuhan
pada ibu (Jessika dkk., 2022).
Dukungan sosial merupakan dukungan atau bantuan yang diperoleh secara
verbal atau tindakan nyata dari individu lain. Dukungan sosial mengacu pada
perasaan atau persepsi tentang kenyamanan, perhatian dan bantuan yang akan
tersedia saat dibutuhkan. Dukungan dapat diperoleh dari pasangan, keluarga, teman
atau organisasi masyarakat. Individu yang memiliki dukungan sosial percaya
bahwa dirinya dicintai, dihargai dan sebagai bagian dari lingkup sosial, seperti
keluarga atau organinasi masyarakat (Evalista dkk., 2022). Kurangnya dukungan
sosial dalam lingkungan keluarga dapat berdampak pada ibu. ketika tekanan, isolasi
sosial, keterbatasan pengetahuan, dan masalah yang bertumpuk, ibu dapat
kehilangan kotrol emosi ketika menghadapi anak.

Penelitian yang di lakukan Vitoasmara, dkk (2024) menejelaskan bahwa ibu


yang memiliki dukungan sosial yang baik cenderung memiliki stres pengasuhan
yang lebih rendah. Ibu yang bekerja penting untuk dapat mengelola stres yang
efektif dan pencarian dukungan sosial untuk mengurangi dampak negatif stres
pengasuhan. Evalista, dkk (2022) menunjukkan bahwa bahwa ibu yang mengalami
stres pengasuhan tinggi memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah namun,
walaupun stres pengasuhan tinggi, jika ibu mendapatkan dukungan sosial dari
keluarga yang tinggi, maka stres pengasuhan tidak akan menunrunkan tingkat
kebahagiaan yang dirasakan ibu.
Dukungan sosial dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam menghadapi
stres pengasuhan. Dengan memiliki dukungan jaringan yang baik, ibu dapat lebih
mudah mengatasi kesulitan dan menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi.
Ibu yang memiliki dukungan sosial yang baik cenderung lebih mampu berinteraksi
secara positif dengan anak-anak mereka. Anak dapat berkembang dilingkungan

6
yang lebih sehat karena terciptanya lingkungan yang mendukung perkembangan.
(Evalista dkk., 2022).
Meskipun topik stres pengasuhan telah banyak diteliti, masih terdapat
kesenjangan dalam penelitian yang membahas perbandingan antara ibu bekerja dan
ibu rumah tangga, terutama dalam konteks regulasi emosi dan dukungan sosial.
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membandingkan ketiga aspek
tersebut pada dua kelompok ibu yang memiliki peran berbeda.

B. Rumusan Masalah
a) Apakah terdapat perbedaan tingkat stress pengasuhan pada ibu yang
bekerja dengan ibu rumah tangga?
b) Apakah dukungan sosial mempengaruhi tingkat parenting stress pada ibu
yang bekerja dan ibu rumah tangga?
c) Apakah regulasi emosi mempengaruhi Tingkat parenting stress pada ibu
ynag bekerja dan ibu rumah tangga ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a) Mengetahui perbedaan tingkat stress pengasuhan pada ibu yang bekerja
dan ibu rumah tangga.
b) Mengetahui perbedaan tingkat stress pengasuhan terhadap dukungan sosial
pada ibu yang bekerja dan ibu rumah tangga.
c) Mengetahui perbedaan tingkat stres pengasuhan terhadap regulasi emosi
pada ibu yang bekerja dan ibu rumah tangga.
D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam


pengembangan ilmu psikologi, khususnya di bidang psikologi keluarga dan
perkembangan, dengan cara:

1. Memperluas pemahaman mengenai bagaimana perbedaan status pekerjaan


ibu bekerja dan ibu rumah tangga memengaruhi kemampuan regulasi emosi,
persepsi dukungan sosial, dan tingkat stres pengasuhan.

7
2. Memberikan landasan empiris bagi penguatan teori-teori yang berkaitan
dengan regulasi emosi, dukungan sosial, serta stres dalam pengasuhan anak.

3. Menjadi referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang ingin


mengkaji variabel-variabel psikososial dalam konteks peran ibu dan
pengasuhan anak.

8
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Stres Pengasuhan Pada Ibu

1. Pengertian Ibu Sebagai Wanita Karir dan Ibu Rumah Tangga

Ibu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai wanita
yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat anak, serta bisa juga
berarti wanita yang mengambil peran tersebut meskipun tanpa hubungan
biologis. Peran ibu mencakup pengasuhan, pendidikan, dan ikatan emosional
mendalam dengan anak, menjadikannya sosok sentral dalam perkembangan awal
kehidupan seseorang.

Ibu dalam mejalankan perannya dapat diwujudkan melalui dua pilihan,


yakni sebagai ibu bekerja maupun sebagai ibu rumah tangga. Ibu bekerja adalah ibu
yang melakukan suatu kegiatan di luar rumah dengan tujuan untuk mencari nafkah
untuk keluarga. Selain itu salah satu tujuan ibu bekerja adalah suatu bentuk
aktualisasi diri guna menerapkan ilmu yang telah dimiliki ibu dan menjalin
hubungan sosial dengan orang lain dalam bidang pekerjaan yang dipilihnya
(Santrock, 2008).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menjelaskan bahwasannya ibu


tidak bekerja atau ibu rumah tangga adalah seorang ibu yang mengurus keluarganya
atau seorang wanita yang mengatur berbagai pekerjaan rumah tangga. Ibu yang
tidak bekerja memiliki tanggung jawab untuk mengatur rumah tangga. Konteks
inilah peran seorang ibu berlaku, yaitu mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh
dan pendidik anak-anaknya, dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya (Santrock, 2008).

Ibu yang tidak bekerja dapat lebih memahami bagaimana sifat dari anak-
[Link] sebagian besar waktu yang dimiliki ibu yang tidak bekerja
dihabiskan di rumah sehingga bisa memantau kondisi perkembangan anak.
Pekerjaan yang dilakukan ibu di rumah meliputi membersihkan, memasak, merawat

9
anak, berbelanja, mencuci pakaian, dan mendisiplinkan anak. Kebanyakan ibu
yang tidak bekerja seringkali harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah
sekaligus (Santrock, 2008)

Dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif Kamus Besar Bahasa Indonesia,


ibu dimaknai sebagai sosok perempuan yang mengandung, melahirkan, menyusui,
serta merawat anak, atau perempuan yang mengambil peran keibuan meskipun
tanpa ikatan biologis. Peran ibu mencakup pengasuhan, pendidikan, dan
pembentukan ikatan emosional yang mendalam dengan anak, sehingga
menjadikannya figur sentral dalam proses perkembangan awal kehidupan individu.
Peran ini dapat diwujudkan melalui dua bentuk, yakni sebagai ibu bekerja maupun
ibu rumah tangga. Ibu bekerja adalah ibu yang melakukan aktivitas di luar rumah
untuk mencari nafkah sekaligus sebagai sarana aktualisasi diri, penerapan ilmu, dan
perluasan hubungan sosial (Santrock, 2008).

Sementara itu, ibu rumah tangga merupakan ibu yang mengabdikan diri
pada pengelolaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Dengan lebih banyak waktu
yang dihabiskan di rumah, ibu rumah tangga dapat memahami kebutuhan dan
perkembangan anak secara lebih intens, meskipun aktivitas sehari-harinya kerap
melibatkan berbagai tugas domestik secara bersamaan (Santrock, 2008). Dengan
demikian, baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga sama-sama memiliki
kontribusi penting dalam keluarga, hanya berbeda dalam lingkup peran dan bentuk
pengabdian yang dijalani.

2. Pengertian Stres Pengasuhan Ibu


Penelitian Lestari (2012) stress pengasuhan merupakan kondisi psikologis
yang tidak menyenangkan dan reaksi psikologis yang muncul sebagai upaya
adaptasi terhadap tuntutan peran orang tua. Situasi tersebut adapat menjadi tekanan
yang dialami orang tua ketika mengasuh anak.

Deater-Deckard (2004) mendefinisikan bahwa stress pengasuhan sebagai


rangkaian proses yang menghasilkan reaksi psikologis dan fisiologis yang tidak
menyenangkan. Rangakain proses tersebut timbul dari usaha untuk menyesuaikan

10
diri dengan tuntutan menjadi orang tua. Stres pengasuhan menurut Berry & Jones
(1995) ialah keadaan stres serta cemasan yang berlebihan terkait dengan peran
orangtua serta hubungan antara orang tua dan anak.

Stres pengasuhan menurut Abidin dkk. (1995) adalah kondisi tertekan yang
dialami orang tua ketika tuntutan pengasuhan anak dianggap melebihi sumber daya,
kapasitas, atau dukungan yang mereka miliki. Stres ini muncul dari interaksi antara
karakteristik orang tua, karakteristik anak, dan faktor lingkungan keluarga maupun
sosial.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa stres pengasuhan


merupakan kondisi psikologis yang tidak menyenangkan, muncul sebagai reaksi
terhadap tuntutan dan tanggung jawab dalam menjalankan peran sebagai orang tua,
stres pengasuhan tersebut mencakup reaksi psikologis, serta fisiologis, sebagai
bentuk adaptasi terhadap tekanan yang timbul dari interaksi antara orang tua dan
anak. Dengan demikian, stres pengasuhan dapat dipahami sebagai kondisi penuh
tekanan yang dialami orang tua dalam melaksanakan perannya, yang intensitasnya
dipengaruhi oleh tuntutan peran, dinamika hubungan dengan anak, serta
kemampuan orang tua dalam menyesuaikan diri.

3. Perbedaan Stres Pengasuhan Ibu

Stres pengasuhan merupakan salah satu faktor psikologis yang kerap


dialami oleh ibu dalam menjalankan peran sebagai pengasuh utama anak. Bentuk
sumber, serta tingkat stres yang dialami dapat berbeda antara ibu yang bekerja
dengan ibu rumah tangga. Perbedaan ini berimplikasi pada dinamika pengasuhan
sehari-hari, tantangan yang dihadapi, serta dampak yang mungkin timbul terhadap
perkembangan anak.

Ibu bekerja menghadapi konflik peran ganda, yaitu tuntutan untuk


menjalankan kewajiban profesional sekaligus tanggung jawab domestik. Kondisi
ini seringkali menimbulkan keterbatasan waktu dalam berinteraksi dengan anak,
kelelahan, serta rasa bersalah akibat kurang optimalnya keterlibatan dalam
pengasuhan. Penelitian menunjukkan bahwa ibu bekerja cenderung memiliki

11
tingkat stres pengasuhan yang lebih tinggi dibandingkan ibu rumah tangga,
terutama karena beban kerja yang padat (Blake Berryhill dkk., 2013).

Stres pengasuhan pada ibu rumah tangga lebih sering menghadapi stres
yang bersumber dari isolasi sosial, kurangnya dukungan emosional, serta
keterbatasan ruang aktualisasi diri. Karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk
mengurus rumah tangga dan anak, mereka lebih berisiko mengalami kejenuhan,
perasaan terasing, dan beban emosional yang berat ketika tidak mendapatkan
dukungan dari pasangan atau lingkungan sosial. Penelitian menegaskan bahwa
ketiadaan dukungan emosional dari pasangan dapat meningkatkan tingkat stres ibu
dalam menjalankan pengasuhan (Song dkk., 2020).

Tantangan dalam pengasuhan baik ibu yang bekerja maupun ibu rumah
tangga memiliki tantangan khas dalam menjalankan peran pengasuhan. Ibu bekerja
menghadapi tantangan berupa manajemen waktu, beban kerja yang menuntut, serta
tekanan sosial mengenai kualitas pengasuhan. Ibu rumah tangga lebih sering
menghadapi tantangan psikososial, seperti rasa kesepian, undervaluation (perasaan
tidak dihargai), dan keterbatasan kesempatan untuk pengembangan diri. Selain
faktor tersebut, rendahnya dukungan sosial juga terbukti memperburuk stres
pengasuhan yang dialami ibu, baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja (Blake
dkk., 2013).

Secara umum, ibu bekerja cenderung mengalami stres pengasuhan akibat


tuntutan ganda dan keterbatasan waktu, sedangkan ibu rumah tangga lebih rentan
mengalami stres karena isolasi sosial dan minimnya dukungan emosional. Kedua
kondisi tersebut sama-sama memiliki potensi memengaruhi kualitas pengasuhan
dan perkembangan anak. Intervensi berupa peningkatan dukungan sosial, kebijakan
ramah keluarga, serta penguatan strategi koping adaptif sangat diperlukan guna
menekan dampak negatif stres pengasuhan.

4. Aspek-aspek Stres Pengasuhan

12
Berry & Jones (1995) mengemukakan dua aspek yang mempengaruhi stress
pengasuhan, yaitu:

a. Pleasure (kepuasan pengasuhan)

Aspek ini menggambarkan pengalaman positif yang diperoleh orang tua


selama mengasuh anak, seperti rasa bahagia, kedekatan emosional, kasih sayang,
dan kepuasan batin. Item-item dalam dimensi ini mencerminkan perasaan cinta dan
makna yang diperoleh dari menjadi orang tua. Semakin tinggi skor pleasure
menunjukkan semakin rendah tingkat stres yang dirasakan.

b. Strain (tekanan pengasuhan)


Aspek strain merujuk pada pengalaman negatif atau tekanan yang dirasakan
dalam menjalankan tanggung jawab pengasuhan. Ini meliputi perasaan kewalahan,
kurangnya fleksibilitas, beban finansial, kesulitan mengatur waktu, serta
ketidaknyamanan atau rasa malu terhadap perilaku anak. Skor strain yang tinggi
menunjukkan adanya tingkat stres pengasuhan yang lebih besar.

Deater-Deckard (2004) stres pengasuhan terdapat 3 aspek, sebagai berikut :


a. Parent distress (pengalaman stress orang tua).
Menggambarkan pengalaman stres yang dialami orang tua karena faktor
pribadi, seperti masalah emosional, beban kehidupan lain, atau rasa tidak mampu
menjalankan peran. Kondisi ini menunjukkan bagaimana karakteristik individu
dapat memperkuat rasa tertekan dalam menjalankan pengasuhan.
b. Difficult child (perilaku anak yang sulit).
Mengacu pada sifat atau perilaku anak yang membuat pengasuhan terasa
lebih berat, misalnya sering menolak, mudah marah, atau menunjukkan perilaku
mengganggu. Semakin sulit perilaku anak, semakin tinggi pula stres yang dirasakan
orang tua.
c. Parent-child dysfunctional interaction (ketidakfungsian interaksi orang tua dan
anak).
Menunjukkan hubungan yang tidak berjalan efektif antara orang tua dan
anak. Tercermin ketika orang tua merasa tidak mendapatkan respon positif dari

13
anak, atau ketika harapan orang tua tidak sesuai dengan perilaku anak, sehingga
hubungan terasa penuh ketegangan.

Aspek-aspek stres pengasuhan menurut Abidin dkk. ( 1995) terbagi menjadi


3 aspek sebagai berikut:

a. Parental Distress (Tekanan Orang Tua)


Aspek ini mencakup kondisi psikologis dan emosional orang tua sendiri
yang memengaruhi perasaan mereka dalam mengasuh anak. Termasuk perasaan
tidak kompeten, depresi, kurang dukungan sosial, konflik peran, keterbatasan
finansial, atau ketidakpuasan dalam hubungan pernikahan.
b. Parent-Child Dysfunction Interaction (Interaksi Orang Tua-Anak yang Tidak
Efektif)

Aspek ini muncul ketika orang tua merasa hubungan dengan anak tidak
sesuai harapan. Misalnya, orang tua merasa tidak memperoleh umpan balik positif
dari anak, merasa anak sulit diatur, atau tidak mendapatkan kepuasan emosional
dari hubungan tersebut.

c. Defficult Child (Anak yang Sulit)

Aspek ini berhubungan dengan karakteristik anak yang menantang bagi


orang tua. Seperti temperamen, hiperaktif, sering menuntut perhatian, sulit diatur,
atau memiliki kebutuhan khusus.

Berdasarkan berbagai pandangan ahli, stres pengasuhan dapat dipahami


sebagai pengalaman kompleks yang melibatkan kondisi orang tua, karakteristik
anak, serta kualitas hubungan di antara keduanya. Berry & Jones (1995)
menekankan dua aspek utama, yaitu pleasure (dimensi positif pengasuhan) dan
strain (tekanan pengasuhan). Deater-Deckard (2004) menguraikan stres
pengasuhan melalui tiga aspek, yakni parent distress, difficult child, dan parent–
child dysfunctional interaction. Sementara Abidin, dkk. (1995) juga membagi stres
pengasuhan ke dalam tiga aspek, diantaranya parental distress, difficult child, dan
parent–child dysfunctional interaction. Abidin, dkk. (1995) memberikan tekanan
lebih besar pada aspek parental distress, dengan menekankan faktor-faktor seperti

14
kurangnya dukungan sosial, keterbatasan finansial, konflik peran, maupun
ketidakpuasan dalam hubungan pernikahan.

Dari perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa ada kesamaan


kerangka antara Abidin, dkk. (1995) dan Deater-Deckard (2004), yaitu menekankan
tiga sumber stres: orang tua, anak, dan interaksi. Pada aspek Berry & Jones (1995)
menyoroti aspek positif (pleasure) yang tidak muncul pada dua teori lainnya,
sementara Abidin, dkk. (1995) lebih detail dalam menjelaskan faktor psikososial
yang memengaruhi tekanan orang tua. Pemahaman tentang stres pengasuhan
menjadi lebih komprehensif karena setiap ahli memberikan perspektif yang saling
melengkapi.

Penelitian ini menggunakan alat ukur Parental Stress Scale yang


dikembangkan oleh Berry & Jones (1995) dan telah diadaptasi ke konteks Indonesia
oleh Kumalasari, dkk. (2022) sehingga memungkinkan eksplorasi pengalaman stres
pengasuhan dengan mempertimbangkan dimensi positif maupun negatifnya.

5. Faktor-faktor Stres Pengasuhan

Penelitian yang dilakukan oleh Johnston (2003) faktor-faktor yang dapat


mempengaruhi persepsi dan sebagai faktor penentu stres pengasuhan yaitu:
a. Child behavioral problems
Tingkat kesulitan yang ditimbulkan oleh perilaku anak, seperti tantrum,
kesulitan mengatur diri, atau tingkah laku menantang, ternyata menjadi sumber
stres besar bagi orang tua. Perilaku yang sering muncul dan sulit dikendalikan lebih
mungkin memicu tekanan emosional dan fisik bagi pengasuh.
b. Family cohesion
Ketersediaan dukungan emosional serta kehangatan dalam keluarga
menjadi pelindung penting terhadap stres pengasuhan. Keluarga yang harmonis,
saling mendukung, dan berkomunikasi dengan baik mampu meredam tekanan yang
muncul saat menghadapi tantangan parenting.
c. Family income

15
Kondisi keuangan keluarga turut menyumbang terhadap beban stres.
Pendapatan yang rendah mempersempit kapasitas keluarga untuk mengakses
sumber daya, solusi, atau mekanisme coping, membuat orang tua lebih rentan
terhadap tekanan dalam perannya.
d. Maternal psychological well being
Kondisi mental dan emosional ibu, termasuk kestabilan psikologis secara
keseluruhan, berperan penting dalam menentukan seberapa besar stres yang
dirasakan saat mengasuh. Kesejahteraan psikologis rendah, beban peran sebagai
pengasuh menjadi lebih berat dan rentan terhadap stres.
Lestari (2012) mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat mendorong
timbulnya stres yang dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu:
a. Individu
Tingkat stres yang dialami individu dalam mengasuh anak dapat dipicu oleh
faktor pribadi, baik dari pihak orang tua maupun anak. Bagi orang tua, kesehatan
fisik seringkali menjadi pemicu utama, terutama jika mereka menderita penyakit
kronis jangka panjang. Di sisi lain, kesehatan mental dan emosional yang buruk
juga berkontribusi terhadap peningkatan stres. Sementara itu, bagi anak, faktor
individu yang memengaruhi stres pengasuhan anak meliputi masalah kesehatan
fisik dan masalah perilaku. Stres sehari-hari dalam mengasuh anak seringkali
bersumber dari masalah perilaku anak. Hal ini terutama berlaku bagi anak-anak
dengan disabilitas intelektual, yang pada dasarnya sulit diatur. Anak-anak ini
cenderung memberontak, seringkali menimbulkan kekacauan, bahkan kerusakan.
Akibatnya, orang tua yang menghadapi situasi seperti itu rentan terhadap stres
pengasuhan anak.
b. Keluarga
Pada tingkatan ini masalah keuangan dan struktur keluarga merupakan
faktor-faktor yang mendorong timbulnya stres pengasuhan. Aspek ini juga dapat
berupa pengasuhan anak yang dilakukan sendiri tanpa keterlibatan pasangan atau
karena menjadi orang tua tunggal. Selain itu hubungan yang penuh dengan konflik,
baik antar pasangan maupun antara orang tua- anak, sangat berpotensi
menimbulkan stres pengasuhan.

16
c. Lingkungan
Stres dalam pengasuhan anak dapat muncul sebagai kondisi jangka pendek,
situasional, atau bahkan insidental, terutama jika pemicunya terutama berasal dari
lingkungan. Namun, jika kondisi ini tidak segera ditangani atau dikelola secara
efektif, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi masalah jangka panjang.
Martin & Colbert (1997) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi
stres pengasuhan, diantaranya:

a. Karakter orang tua

Kepribadian ketika menjadi orang tua, individu akan membawa sifat – sifat
pribadi dan melakukan pengasuhan sesuai dengan kepribadian mereka.

1) Developmental history

Gaya pengasuhan yang diadopsi oleh orang tua dapat dibentuk melalui
pembelajaran langsung atau dipengaruhi oleh pengalaman hubungan awal yang
membentuk perkembangan sosial dan emosional mereka. Secara umum, orang tua
cenderung membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang serupa dengan cara
mereka dibesarkan semasa kecil.

2) Belief

Dalam konteks pengasuhan anak, orang tua biasanya memiliki perspektif


subjektif mereka sendiri tentang perkembangan dan proses pembelajaran anak-anak
mereka. Perspektif ini dapat mencakup hal-hal seperti jadwal harian mereka,
evaluasi mereka terhadap peran dominan genetika versus pengaruh lingkungan,
ekspektasi mereka terhadap dinamika interaksi orang tua-anak, dan refleksi pribadi
mereka tentang apakah mereka merasa berhasil atau tidak mampu sebagai orang
tua. Secara keseluruhan, keyakinan ini membentuk nilai-nilai yang dipegang orang
tua dan bagaimana mereka bertindak dalam pengasuhan anak.

3) Pengetahuan

17
Orang tua memperoleh pengetahuan dari buku, orang dewasa lainnya,
majalah, dan sumber lainnya. Dari beberapa penelitian, menunjukkan bahwa
orang dewasa dengan pengalaman merawat anak mempunyai pengetahuan yang
lebih tinggi, dan lebih baik dalam pemecahan masalah yang terjadi dalam
hubungan orang tua – anak.

b. Karakter anak
1) Tempramen, seorang anak yang pendiam dan penurut serta mudah
beradaptasi akan mendapat pengasuhan yang berbeda dari anak yang
rewel dan kaku.
2) Jenis kelamin, jenis kelamin akan mempengaruhi proses menjadi orang
tua, karena orang tua dan masyarakat memilki harapan yang berbeda
untuk anak laki – laki dan perempuan
3) Kemampuan, kemampuan anak dapat membuat perbedaan dalam
bagaimana orang tua berinteraksi dengan anak – anak. Terkait dengan
kemampuan kognitif, motorik halus dan motorik kasar, emosi, serta
kemampuan anak dalam bersosialisasi.
4) Usia, usia anak merupakan faktor yang penting untuk dipertimbangkan
dalam proses pengasuhan karena mempengaruhi tugas membesarkan
anak dan harapan orang tua. Perkembangan fisik, intelektual, dan social
anaknya menentukan tingkat kemandirian dan kemampuan untuk
berkomunikasi dan sejauh mana anak dipengaruhi oleh orang – orang
disektitarnya.
c. Karakter demografik
1) Sosial – budaya, perkembangan orang tua dan anak dipengaruhi oleh
konteks yang meliputi hubungan dengan orang lain, aturan dan nilai –
nilai budaya. Mengacu pada nilai – nilai budaya dan adat istiadat yang
mempengaruhi orang tua dalam melakukan pengasuhan.
2) Status sosial – ekonomi, status social ekonomi yang dilihat dari
pekerjaan, pendapatan, dan pendidikan orang tua. Mempengaruhi proses

18
pengasuhan yang disebabkan oleh sikap keuangan dan berbagai
pengasuhan
3) Struktur keluarga, ukuran keluarga, usia, jarak anak – anak dalam
keluarga, jumlah orang tua di rumah dan urusan kelahiran anak – anak
menggambarkan apa yang dikenal sebagai sebuah keluarga. Sebagai
contoh, perlakuan orang tua terhadap anak sulung dan anak bungsu
berbeda, begitu pula harapan orang tua pada anak sulung dan anak
bungsu yang juga berbeda.
4) Dukungan sosial, ada beberapa alasan dukungan social dapat
mempengaruhi stres pengasuhan, pertama, ketika orang tua dapat berbagi
pikiran dan perasaan tentang pengasuhan dan masalah kehidupan lainnya
dengan orang lain, mereka cenderung merasa lebih baik tentang diri
mereka sendiri. Kedua, peran jaringan social menawarkan dukungan
seperti bantuan perawatan anak dan saran tentang pengasuhan. Ketiga,
teman dan keluarga berfungsi sebagai model pengasuhan.
5) Hubungan pernikahan, kualitas hubungan pernikahan akan
mempengaruhi kesejahteraan emosional dari orang tua. Salah satu
pasangan dapat saling memberi saran tentang pengasuhan dan berbagi
peran dalam pengasuhan anak.
Stres pengasuhan merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh
beragam faktor, baik yang bersumber dari orang tua, anak, maupun lingkungan sekitar.
Johnston (2003) menekankan empat faktor utama yang menentukan persepsi dan
tingkat stres pengasuhan, yaitu child behavioral problems (perilaku anak yang
menantang), family cohesion (kohesi atau keharmonisan keluarga), family income
(kondisi ekonomi keluarga), dan maternal psychological well-being (kesejahteraan
psikologis ibu). Faktor-faktor ini menggambarkan keseimbangan antara tantangan
eksternal yang muncul dari anak dan kondisi internal keluarga serta ibu sebagai
pengasuh utama.
Lestari (2012) menjelaskan bahwa stres pengasuhan dapat muncul dari tiga
tingkatan, yakni individu (meliputi kondisi fisik dan mental orang tua maupun anak),

19
keluarga (misalnya keuangan, konflik, atau peran sebagai orang tua tunggal), dan
lingkungan (situasi sosial yang menekan baik jangka pendek maupun panjang).
Sementara itu, Martin dan Colbert (1997) menguraikan lebih rinci dengan
mengelompokkan faktor ke dalam tiga kategori besar: karakter orang tua (riwayat
perkembangan, keyakinan, pengetahuan, dan kepribadian), karakter anak
(temperamen, usia, jenis kelamin, dan kemampuan), serta faktor demografik (nilai
sosial-budaya, status sosial ekonomi, struktur keluarga, dukungan sosial, dan kualitas
hubungan pernikahan).
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa stres pengasuhan tidak hanya
dipengaruhi oleh satu aspek tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi
multidimensional antara karakteristik anak, kondisi internal orang tua, dinamika
keluarga, dan faktor sosial-demografik yang lebih luas. Pemahaman komprehensif
mengenai faktor-faktor ini sangat penting agar intervensi pengasuhan dapat
disesuaikan dengan kebutuhan nyata keluarga, baik melalui penguatan dukungan
sosial, peningkatan kesejahteraan psikologis orang tua, maupun pengelolaan perilaku
anak.
5. Dampak Stres Pengasuhan

Stres pengasuhan pada ibu berpengaruh negatif terhadap perkembangan


anak usia dini. Pengaruh tersebut tidak hanya langsung, tetapi juga diperantarai
oleh kondisi ibu. Semakin tinggi stres pengasuhan, semakin besar kemungkinan
ibu mengalami depresi yang kemudian berdampak pada tumbuh kembang anak.
Selain itu, ketahanan keluarga terbukti berperan penting sebagai faktor pelindung,
karena mampu memperkuat maupun memperlemah hubungan antara stres
pengasuhan, depresi ibu, dan perkembangan anak pada tahap awal hingga akhir
(Pan dkk., 2025).

Stres pengasuhan dapat menimbulkan kelelahan emosional, rasa tidak


berdaya, hingga menurunnya rasa percaya diri ibu dalam mengasuh anak.
Penelitian pada ibu bekerja yang memiliki anak usia prasekolah menunjukkan
bahwa konflik peran ganda antara pekerjaan dan pengasuhan meningkatkan stres,
apalagi ketika interaksi hangat dengan anak terbatas. Sebaliknya, intervensi

20
berupa pelatihan pengasuhan positif terbukti meningkatkan efikasi orang tua
sehingga mampu mengurangi stres pengasuhan (Sari & Andayani, 2021)

Bagi anak, stres pengasuhan ibu berpengaruh pada pola perilaku sehari-
hari. Anak prasekolah yang diasuh dengan pola kurang konsisten atau penuh
tekanan lebih sering menunjukkan temper tantrum. Penelitian di Bengkulu
menegaskan bahwa pola asuh demokratis mampu menurunkan risiko tantrum,
sementara pola otoriter dan permisif justru memperburuk kondisi tersebut (Sari.,
dkk 2022)

Selain tantrum, stres orang tua juga berkaitan dengan kebiasaan makan
anak. Sebuah studi di Taman Kanak-kanak Arengkoe Pagal mengungkapkan
bahwa gaya pengasuhan berkorelasi kuat dengan munculnya masalah makan pada
anak prematur. Anak-anak yang dibesarkan dengan pendekatan otoriter atau
permisif lebih cenderung menolak makanan, dibandingkan dengan mereka yang
dibesarkan secara demokratis (Nggarang & Bodus, 2019).

perilaku anak yang sulit seperti sering tantrum atau menolak makan
menambah beban emosional ibu, sehingga memperkuat stres pengasuhan. Jika
lingkaran ini tidak diputus, maka terjadi siklus negatif yang merugikan baik ibu
maupun anak. Intervensi berbasis positive parenting terbukti dapat memutus
siklus ini dengan cara meningkatkan kelekatan ibu-anak dan memperkuat
kemampuan ibu dalam menghadapi perilaku anak secara lebih adaptif (Sari &
Andayani, 2021)

Dampak stres pengasuhan pada ibu dan anak menunjukkan adanya


keselarasan maupun kesenjangan. Dari sisi keselarasan, mayoritas penelitian
menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat stres pengasuhan, semakin besar pula
risiko munculnya dampak negatif pada ibu seperti kelelahan emosional, depresi,
dan menurunnya rasa percaya diri yang kemudian berimbas pada perkembangan
anak. Dampak pada anak prasekolah juga konsisten, terutama dalam bentuk
perilaku bermasalah seperti temper tantrum dan kesulitan makan, yang dapat
memperkuat kembali stres pengasuhan ibu (Pan dkk., 2025; Sari & Andayani,
2021; Sari dkk., 2022; Nggarang & Bodus, 2019).

21
Kesenjangan dalam temuan terkait faktor perantara dan pelindung.
Beberapa studi menunjukkan bahwa ketahanan keluarga mampu memperlemah
dampak negatif stres pengasuhan terhadap perkembangan anak, sementara studi
lain menekankan pentingnya pola asuh demokratis dan intervensi positive
parenting sebagai faktor protektif. Menunjukkan bahwa tidak semua keluarga
dengan tingkat stres tinggi otomatis menghasilkan dampak buruk pada anak,
karena adanya variasi dalam sumber daya keluarga, dukungan sosial, serta strategi
pengasuhan yang digunakan.

B. Regulasi Emosi
1. Pengertian Emosi

Emosi dipahami sebagai respon multidimensi yang melibatkan proses


fisiologis, kognitif, pengalaman subjektif, ekspresi perilaku, serta konteks sosial,
yang muncul dari interaksi individu dengan lingkungannya. Emosi bersifat dinamis,
berkembang seiring waktu, dan secara inheren terkait dengan upaya regulasi yaitu
bagaimana seseorang memengaruhi kemunculan, intensitas, pengalaman, dan
ekspresi emosinya (Gross & Ford, 2024)

Salovey & Sluyter (dalam Nisfiannoor & Kartika, 2004) mengukur emosi
adalah perasaan atau pengaruh yang meliputi campuran antara sifat fisiologis
(contohnya, detak jantung yang cepat) dan tingkah laku yang terlihat (contohnya,
senyuman atau seringai).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa emosi memiliki


peranan penting dalam kehidupan manusia karena menjadi dasar dalam merasakan,
merespons, dan memberikan makna terhadap berbagai peristiwa. Emosi
memungkinkan seseorang untuk merasakan kebahagiaan, kesedihan, rasa malu,
maupun reaksi lain terhadap pengalaman sehari-hari. Emosi tidak hanya bersifat
subjektif, tetapi juga melibatkan aspek fisiologis seperti perubahan detak jantung
serta aspek perilaku yang tampak, seperti ekspresi wajah atau gerakan tubuh.
Dengan demikian, emosi merupakan fenomena kompleks yang mencakup perasaan,

22
kondisi fisiologis, dan perilaku, serta berperan besar dalam membentuk pengalaman
dan interaksi sosial manusia.

2. Pengertian Regulasi Emosi

Regulasi emosi merupakan proses dimana individu memengaruhi emosi


yang mereka alami, bagaimana individu mengalaminya, dan bagaimana mereka
mengungkapkannya. Proses ini mencakup penggunaan berbagai strategi secara
sadar maupun tidak sadar untuk meningkatkan, mempertahankan, atau menurunkan
satu atau lebih komponen dari respons emosional, yang meliputi perasaan, perilaku,
dan respons fisiologis (Gross, 2002).

Regulasi emosi ialah kapasitas untuk mengontrol dan menyesuaikan emosi


yang timbul pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu tujuan.
Regulasi emosi yang tepat meliputi kemampuan untuk mengatur perasaan, reaksi
fisiologis, kognisi yang berhubungan dengan emosi, dan reaksi yang berhubungan
dengan emosi (Shaffer, 2005). Regulasi emosi sebagai kemampuan individu untuk
memonitor, mengevaluasi dan memodifikasi reaksi emosional untuk mencapai
tujuan (Thompson, 1994).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa regulasi emosi


merupakan kemampuan penting yang dimiliki individu untuk mengelola,
mengontrol, dan menyesuaikan emosi dalam berbagai situasi agar dapat mencapai
tujuan secara optimal. Regulasi emosi mencakup upaya untuk meminimalisir emosi
negatif dan menjaga emosi positif, menyesuaikan intensitas emosi melalui
pengaturan perasaan, reaksi fisiologis, dan kognisi yang terkait, serta memonitor,
mengevaluasi, dan memodifikasi reaksi emosional yang. Dengan demikian,
regulasi emosi dapat dipahami sebagai proses multidimensional yang membantu
individu berfungsi secara adaptif dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam
mencapai tujuan jangka panjang.

23
3. Apek-aspek Regulasi Emosi

Aspek-aspek regulasi menurut Gross & John (2003) meliputi:

a. Cognitive Reapraisal (Penilaian ulang kognitif)


Perubahan cara seseorang berpikir tentang suatu situasi untuk mengubah
respons emosionalnya. Contohnya, seseorang mungkin mencoba melihat sisi positif
dari situasi yang sulit atau mengubah perspektifnya untuk mengurangi dampak
emosionalnya.
b. Expressive Suppresion (Penekanan Ekspresif)
Upaya untuk menekan atau menyembunyikan ekspresi emosi, baik secara
internal maupun eksternal. Contohnya, seseorang mungkin berusaha untuk tidak
menunjukkan kesedihan atau kemarahan yang dirasakannya.
Aspek – aspek regulasi emosi menurut Goleman, dkk (2006) ada empat
aspek yang digunakan untuk menentukan kemampuan regulasi emosi seseorang
yaitu:

a. Stategies to emotion regulation(strategies)

Keyakinan individu untuk dapat mengatasi suatu masalah, memiliki


kemmapuan untuk menemukan sautu cara yang dapat mengurangi emosi negatif
dan dapat dengan cepat menenangkan diri kembali setelah merasakan emosi yang
berlebihan.

b. Enganging in goal directed behavior (goals)

Kemampuan individu untuk tidak terpengaruh oleh emosi negatif yang


dirasakannya sehingga dapat tetap berfikir dan melakukan sesuatu dengan baik.

c. Control emotional responses (impulse)

Kemmapuan individu untuk dapat mengontrol emosis yang dirasakannya


dan respon emosi yang ditampilkan (respon fisiologis, tingkah laku dan nada suara),
sehingga individu tidak akan merasakan emosi yang berelbihan dan menunjukkan
respon emosi yang tepat.

24
d. Acceptance of emotional response (acceptance)

Kemampuan individu untuk menerima suatu peristiwa yang menimbulkan


emosi negatif dan tidak merasa malu merasakan emosi tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, regulasi emosi merupakan kemampuan individu


dalam mengelola, menyesuaikan, dan merespons emosi secara adaptif agar tetap
dapat berfungsi optimal dalam kehidupan sehari-hari. Gross & John (2003)
mengemukakan dua strategi utama regulasi emosi, yaitu cognitive reappraisal
(penilaian ulang kognitif) dan expressive suppression (penekanan ekspresif).
Goleman dkk. (2006) menambahkan empat aspek yang lebih rinci, yakni strategies
(keyakinan individu untuk mengatasi emosi negatif), goals (kemampuan tetap
fokus pada tujuan meski mengalami emosi negatif), impulse (kemampuan
mengendalikan reaksi emosional), dan acceptance (kemampuan menerima emosi
negatif tanpa penolakan atau rasa malu).

4. Faktor – faktor Regulasi Emosi

Gross & Thompson (2007) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
regulasi emosi seseorang, di antaranya adalah:

a. Individu

Regulasi emosi sangat dipengaruhi oleh karakteristik individu. Kepribadian


misalnya, menjadi dasar dalam menentukan kecenderungan strategi yang
digunakan. Orang dengan tingkat neurotisisme tinggi lebih sering mengalami emosi
negatif, sehingga cenderung menekan atau mengulang-ulang emosi tersebut
(rumination). Sebaliknya, individu dengan ekstraversi lebih mudah menggunakan
strategi adaptif seperti cognitive reappraisal dengan menafsirkan ulang makna
situasi agar lebih positif.

Selain kepribadian, usia juga berperan. Anak-anak masih sangat bergantung


pada orang tua dalam mengatur emosinya, remaja mulai mandiri namun emosinya
belum stabil, orang dewasa lebih matang dalam mengelola emosi, sedangkan lansia
cenderung lebih selektif terhadap situasi sosial dan berfokus pada pengalaman

25
emosional yang positif. Faktor lain seperti jenis kelamin dan kondisi psikologis-
biologis juga penting. Laki-laki sering kali didorong norma sosial untuk menekan
emosi, sementara perempuan lebih ekspresif namun lebih rentan terhadap
rumination. Individu dengan gangguan depresi atau kecemasan pun mengalami
kesulitan menggunakan strategi adaptif karena pola pikir yang kaku atau
hipersensitivitas terhadap ancaman.

b. Faktor Kontekstual atau Lingkungan

Lingkungan sosial dan budaya menjadi penentu penting dalam regulasi


emosi. Norma budaya mengarahkan bagaimana emosi boleh diekspresikan. Budaya
kolektivis seperti di Asia menekankan harmoni sosial, sehingga individu lebih
sering menekan emosi negatif demi menjaga hubungan. Sebaliknya, budaya
individualis di Barat lebih memberi ruang untuk ekspresi terbuka. Selain budaya,
situasi sosial juga menentukan. Misalnya, di tempat kerja seseorang mungkin
menahan amarah demi menjaga profesionalitas, sedangkan di rumah ia bisa lebih
bebas mengekspresikan perasaannya. Dukungan sosial pun terbukti memengaruhi
regulasi emosi. Kehadiran pasangan, keluarga, atau teman yang suportif dapat
mengurangi tekanan emosional dan mendorong penggunaan strategi adaptif.
Sebaliknya, ketiadaan dukungan sosial sering membuat seseorang lebih bergantung
pada strategi maladaptif seperti avoidance atau suppression.

c. Faktor Strategi Regulasi Emosi

Gross dan Thompson (2007) mengembangkan Process Model of Emotion


Regulation yang membagi strategi ke dalam dua kelompok besar, yakni antecedent-
focused dan response-focused. Strategi antecedent-focused digunakan sebelum
emosi berkembang penuh. Misalnya, seseorang dapat menghindari situasi yang
berpotensi memicu emosi (situation selection), mengubah kondisi agar lebih
terkendali (situation modification), mengalihkan perhatian (attentional
deployment), atau menafsirkan ulang peristiwa dengan cara yang lebih adaptif
(cognitive reappraisal). Sementara itu, strategi response-focused dilakukan setelah
emosi muncul. Bentuknya dapat berupa menekan ekspresi emosi (suppression) atau

26
mengatur respons fisiologis, misalnya melalui latihan relaksasi dan pernapasan.
Setiap strategi memiliki dampak yang berbeda. Reappraisal umumnya
meningkatkan kesehatan psikologis, sementara suppression cenderung
berhubungan dengan peningkatan stres fisiologis dan relasi sosial yang lebih buruk.

d. Faktor Interpersonal

Regulasi emosi juga terjadi melalui interaksi sosial, bukan hanya proses
internal individu. Anak kecil, misalnya, mengandalkan orang tua untuk
menenangkan emosinya, sebuah proses yang disebut co-regulation. Pada orang
dewasa, berbagi pengalaman emosional dengan teman atau pasangan (social
sharing) sering kali membantu mengurangi intensitas emosi negatif. Dalam
hubungan romantis, regulasi emosi bahkan bersifat timbal balik, di mana pasangan
saling memengaruhi keadaan emosional masing-masing. Dukungan interpersonal
ini menjadi kunci penting dalam menjaga keseimbangan emosional dan mencegah
penggunaan strategi maladaptif.

Brener dan Salovey (dalam Salovey & Mayer, 1997) mengungkapkan


beberapa faktor yang dapat memengaruhi regulasi emosi, sebagai berikut:

1. Persepsi dan Penilaian Emosi

Kemampuan untuk mengenali, mengidentifikasi, serta memahami emosi


pada diri sendiri maupun orang lain. Meliputi keterampilan membaca ekspresi
wajah, bahasa tubuh, atau nada suara. Individu yang baik dalam faktor ini lebih
mudah menyadari apa yang ia rasakan dan menangkap perasaan orang lain.

2. Menggunakan Emosi untuk Memfasilitasi Pikiran

Faktor ini menekankan bagaimana emosi digunakan sebagai sumber


informasi untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Emosi
positif dapat meningkatkan kreativitas, sedangkan emosi negatif dapat membuat
seseorang lebih kritis dan detail dalam berpikir.

27
3. Memahami Emosi

Kemampuan untuk memahami penyebab, perubahan, dan konsekuensi dari


suatu emosi. Termasuk kemampuan membedakan emosi yang mirip (misalnya
kecewa vs sedih) serta memahami transisi emosi (misalnya marah yang berubah
menjadi rasa bersalah).

4. Mengatur Emosi

Faktor ini merupakan inti regulasi emosi, yaitu kemampuan untuk


mengendalikan, menyesuaikan, dan mengelola emosi, baik emosi diri sendiri
maupun emosi orang lain. Regulasi emosi mencakup kemampuan menenangkan
diri saat marah, mengurangi kecemasan, serta memberi dukungan emosional pada
orang lain.

Berdasarkan paparan di atas, Gross & Thompson (2007) menekankan


bahwa regulasi emosi dipengaruhi oleh faktor individu, konteks sosial-budaya,
strategi regulasi, dan interaksi interpersonal, sehingga bersifat dinamis dan
situasional. Sementara itu, Brener & Salovey (dalam Salovey & Mayer, 1997) lebih
menekankan kompetensi intrapersonal, yakni kemampuan mengenali, memahami,
menggunakan, dan mengatur emosi.

Keduanya selaras dalam menekankan pentingnya regulasi emosi bagi


kesejahteraan psikologis, namun berbeda fokus: Gross & Thompson menyoroti
proses dan konteks, sedangkan Brener & Salovey menekankan kapasitas dasar
individu. Sintesis keduanya menunjukkan bahwa regulasi emosi adalah kombinasi
antara kompetensi personal dan pengaruh lingkungan, yang bersama-sama
membentuk kemampuan seseorang mengelola emosi secara adaptif.

5. Dampak Regulasi Emosi

Kemampuan regulasi emosi merupakan salah satu faktor penting dalam


pengasuhan anak usia prasekolah. Pada ibu, regulasi emosi yang baik berfungsi
sebagai pelindung terhadap stres pengasuhan. Penelitian menunjukkan bahwa ibu
yang mampu mengelola emosi negatif, seperti marah atau frustrasi ketika

28
menghadapi perilaku anak, memiliki tingkat stres pengasuhan yang lebih rendah.
Sebaliknya, ibu dengan regulasi emosi yang lemah lebih rentan mengalami
kelelahan emosional dan konflik dengan anak (Gina & Fitriani, 2020)

Dampak positif regulasi emosi ibu juga terlihat dalam pola asuh yang
diterapkan. Ibu dengan regulasi emosi adaptif cenderung menerapkan pola asuh
demokratis, yang mendorong komunikasi dan empati dalam interaksi dengan
anak. Mengurangi risiko munculnya perilaku bermasalah, seperti tantrum atau
penolakan makan. Sebaliknya, regulasi emosi yang buruk dapat memicu pola asuh
otoriter atau permisif, yang justru memperburuk perilaku bermasalah anak (Sari
dkk., 2022)
Bagi anak prasekolah, regulasi emosi orang tua, khususnya ibu, berperan
langsung terhadap perkembangan kemampuan emosi mereka. Studi tentang
respon ibu terhadap emosi negatif anak menemukan bahwa respon suportif,
seperti memberi kenyamanan atau membantu anak memahami perasaannya,
berkorelasi positif dengan kemampuan regulasi emosi anak. Sebaliknya, respon
yang tidak suportif, misalnya mengabaikan atau memarahi anak saat marah,
membuat anak kesulitan belajar mengenali dan mengendalikan emosinya
(Herdiana dkk., 2023)
Regulasi emosi anak prasekolah yang baik berkontribusi pada kemampuan
sosial, seperti berbagi, bekerja sama, dan membentuk relasi positif dengan teman
sebaya. Diperkua t oleh penelitian mengenai mindful parenting, yang menekankan
bahwa kesadaran emosional ibu dalam berinteraksi dengan anak membantu anak
mengembangkan kelekatan emosional yang sehat dan keterampilan sosial yang
matang (Rahayu & Wulan, 2025)
Regulasi emosi ibu tidak hanya berdampak pada kesehatan psikologis ibu
sendiri, tetapi juga memengaruhi kualitas pengasuhan dan perkembangan emosi
anak prasekolah. Ibu mampu mengelola emosinya dengan baik, anak lebih mudah
belajar regulasi emosi dan mengembangkan keterampilan sosial yang sehat.
Sebaliknya, regulasi emosi yang buruk pada ibu berpotensi menciptakan pola asuh
tidak adaptif, yang dapat menghambat perkembangan emosional anak.

29
C. Dukungan Sosial
1. Pengertian Dukungan Sosial
Dukungan sosial adalah persepsi individu mengenai ketersediaan dukungan
dari tiga sumber penting: keluarga, teman, dan orang penting lainnya (significant
others) ketika mereka membutuhkan (Zimet dkk., 1988).
Wills, sebagaimana dikutip dalam Sarafino dan Smith (2014), menjelaskan
bahwa dukungan sosial melibatkan perasaan nyaman, perhatian, apresiasi, atau
bantuan yang diberikan oleh individu atau kelompok lain. Dukungan ini dapat
berasal dari berbagai sumber, mulai dari pasangan, anggota keluarga, teman dekat,
rekan kerja, hingga dokter atau organisasi masyarakat. Dengan dukungan semacam
ini, seseorang dapat merasa dicintai, diperhatikan, dan dihargai.
Sementara itu, Uchino (dalam Sarafino & Smith, 2014) menyatakan bahwa
dukungan sosial merupakan bentuk penerimaan dari orang atau kelompok lain,
yang diwujudkan dalam perasaan nyaman, perhatian, apresiasi, atau bantuan
lainnya. Individu merasa dicintai, diperhatikan, dan dibantu. Kehadiran dukungan
sosial ini juga menciptakan perasaan dicintai, diperhatikan, dan menjadi bagian
integral dari suatu kelompok, termasuk saling mendukung saat dibutuhkan.
Dengan mempertimbangkan berbagai definisi tersebut, penelitian ini
merujuk pada definisi dukungan sosial Uchino sebagaimana dikutip dalam Sarafino
dan Smith, yaitu penerimaan dari orang atau kelompok lain dalam bentuk
kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan lain yang membuat seseorang
merasa dicintai, diperhatikan, dan dibantu. Dukungan ini pada akhirnya membuat
seseorang merasa dicintai, diperhatikan, dan terintegrasi dalam kelompok, dengan
saling membela ketika dibutuhkan.
2. Aspek-aspek Dukungan Sosial
Aspek – aspek dukungan sosial terdiri dari tiga dimensi utama Zimet,
dkk.(1988), yaitu:
a. Dukungan dari Keluarga (Family Support)
Aspek ini merujuk pada sejauh mana individu merasa bahwa keluarganya
memberikan perhatian, kasih sayang, dan bantuan yang dibutuhkan. Dukungan dari

30
keluarga sering kali menjadi dasar utama dalam pembentukan kepercayaan diri,
kesejahteraan psikologis, serta adaptasi sosial.
b. Dukungan dari Teman (Friends Support)

Dukungan teman mencakup bantuan emosional dan sosial yang diberikan


oleh teman sebaya, baik dalam bentuk kehadiran, empati, maupun bantuan konkret
saat individu menghadapi masalah. Aspek ini penting terutama dalam masa remaja
dan dewasa muda, dimana hubungan pertemanan menjadi semakin bermakna.

c. Dukungan dari Orang yang Spesial (Significant Other Support)

Aspek ini mencerminkan keberadaan seseorang yang dianggap istimewa


oleh individu (misalnya pasangan, sahabat dekat, guru, atau mentor) yang menjadi
sumber kenyamanan, perhatian, dan kasih sayang secara emosional.

Aspek aspek dukungan sosial menurut House (dalam Andarini & Fatma,
2013), yaitu:

a. Dukungan emosional, dukungan berupa empati, perhatian, kasih sayang, dan


kepedulian dari orang lain. Bentuk dukungan ini membuat individu merasa
dicintai, diperhatikan, dan dihargai sehingga menumbuhkan rasa aman serta
menurunkan perasaan terisolasi.
b. Dukungan penghargaan, dukungan berupa pemberian penghargaan, penilaian
positif, dorongan, dan validasi. Dukungan ini meningkatkan harga diri individu
karena merasa dirinya bernilai dan mampu menghadapi masalah.
c. Dukungan instrumental, dukungan berupa saran, nasehat, arahan, atau
informasi yang relevan untuk membantu individu memahami dan
menyelesaikan masalah. Informasi yang tepat dapat menjadi pedoman dalam
pengambilan keputusan dan mengurangi ketidakpastian.
d. Dukungan informatif, dukungan dalam bentuk bantuan nyata atau praktis,
seperti bantuan finansial, material, atau tenaga. Misalnya membantu pekerjaan
rumah, memberi pinjaman uang, atau menemani saat menghadapi situasi sulit.
Dukungan ini sangat penting untuk mengurangi beban langsung yang dirasakan
individu..

31
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek dukungan sosial
keluarga yaitu dukungan emosional dan penghargaan, dukungan instrumental,
dukungan informatif, dukungan persahabatan, dukungan jaringan dan dukungan
tidak terlihat.

3. Faktor – faktor Dukungan Sosial


Sarafino & Smith (2014) mengemukakan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi dukungan sosial adalah:
a. Penerima dukungan
Individu tidak mungkin dapat menerima dukungan jika mereka tidak
berhubungan dengan individu lain, individu tidak dapat memberikan bantuan jika
individu tersebut tidak memberi tahu bahwa dirinya membutuhkan bantuan.
Beberapa individu tidak cukup asertif untuk meminta bantuan, mereka merasa
haruslah mandiri atau tidak ingin memberatkan individu lain dan merasa tidak
nyaman jika harus berbagi rahasia mereka.
b. Pemberi dukungan
Pemberi dukungan tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan penerima
dukungan, atau mereka sendiri sedang berada dalam situasi yang menekan dan
membutuhkan bantuan untuk diri sendiri atau mungkin tidak sensitif (peduli)
dengan keadaan orang lain.
c. Komposisi dan struktur jaringan sosial

Individu yang mendapatkan dukungan sosial juga bergantung pada


komposisi dan stuktur jaringan [Link] hubungan yang individu miliki
dengan orang- orang dalam keluarga dan masyarakat.

Taylor (2009) menjelaskan Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan sosial


yaitu:

a. Dukungan Emosional

Dukungan berupa ungkapan kasih sayang, perhatian, empati, dan


kepedulian yang diberikan oleh orang-orang terdekat. Membuat individu merasa
dicintai, dihargai, dan tidak sendirian saat menghadapi kesulitan.

32
b. Dukungan Penghargaan

Dukungan yang menekankan pada pemberian penghargaan, dorongan, dan


penilaian positif dari orang lain. Bentuk dukungan ini meningkatkan rasa percaya
diri dan membuat individu merasa mampu menghadapi tantangan.

c. Dukungan Informasional

Dukungan yang diberikan dalam bentuk saran, nasehat, arahan, atau


informasi yang bermanfaat dalam memecahkan masalah. Informasi yang tepat
dapat mengurangi kebingungan serta memberi kejelasan dalam mengambil
keputusan.

d. Dukungan Instrumental

Dukungan yang diberikan dalam bentuk saran, nasehat, arahan, atau


informasi yang bermanfaat dalam memecahkan masalah. Informasi yang tepat
dapat mengurangi kebingungan serta memberi kejelasan dalam mengambil
keputusan.

e. Dukungan Iaringan Sosial

Dukungan yang timbul dari keberadaan jaringan sosial, yaitu rasa memiliki
kelompok atau komunitas yang dapat menjadi tempat berbagi pengalaman,
memberi rasa keterhubungan, serta memperluas sumber daya sosial dan emosional.

Berdasarkan pandangan Sarafino & Smith (2014) dan Taylor (2009),


dukungan sosial dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari sisi individu maupun
lingkungannya. Dari sisi penerima, kesiapan untuk terbuka dan meminta bantuan
sangat menentukan apakah dukungan dapat diterima. Sementara itu, pemberi
dukungan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya, sensitivitas, serta kondisi
psikologis mereka sendiri. Selain itu, struktur dan komposisi jaringan sosial juga
menjadi penentu penting karena luasnya relasi keluarga maupun masyarakat akan
memperbesar peluang mendapatkan dukungan.

33
Sejalan dengan itu, Taylor (2009) menekankan bahwa dukungan sosial tidak
hanya bersifat emosional, tetapi juga mencakup penghargaan, informasi, bantuan
instrumental, hingga dukungan jaringan sosial. Kombinasi dari berbagai bentuk
dukungan tersebut dapat meningkatkan rasa dicintai, memperkuat harga diri,
memberikan arahan dalam memecahkan masalah, serta menyediakan bantuan nyata
dan rasa keterhubungan. Dengan demikian, dukungan sosial dapat dipahami
sebagai hasil interaksi antara kesiapan individu, ketersediaan pemberi bantuan,
serta kualitas hubungan sosial yang terjalin, yang secara keseluruhan berfungsi
melindungi individu dari tekanan psikologis dan meningkatkan kesejahteraan.

4. Dampak Dukungan Sosial

Sarafino dkk. (2014) menjelaskan bahwa dukungan sosial memiliki dampak


positif terhadap kondisi fisik maupun psikis seseorang, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Dukungan ini memberikan kenyamanan, rasa aman, dan
meningkatkan kesejahteraan psikologis, sehingga individu lebih mampu
menghadapi situasi menekan. Pada ibu yang mengalami stres pengasuhan,
dukungan sosial dari pasangan, keluarga, maupun lingkungan sekitar dapat
mengurangi beban emosional dan fisik, sehingga ibu dapat menjalankan perannya
dengan lebih adaptif.

Deater-Deckard (2004) menegaskan bahwa dukungan sosial memengaruhi


kualitas interaksi orang tua–anak. Orang tua dengan stres tinggi tetapi tidak
memiliki dukungan sosial yang cukup cenderung bersikap keras, otoriter, atau tidak
responsif. Sebaliknya, ketika dukungan emosional (misalnya pemahaman, empati)
dan dukungan instrumental (misalnya bantuan menjaga anak atau pekerjaan rumah)
tersedia, kualitas hubungan ibu–anak meningkat.

Penelitian di Indonesia juga mendukung. Gina & Fitriani (2020)


menemukan bahwa ibu bekerja yang memperoleh dukungan sosial, terutama dari
pasangan, lebih mampu mengendalikan stres pengasuhan dan mengelola emosinya,
sehingga interaksi dengan anak tetap hangat. Sementara itu, penelitian Herdiana,
dkk. (2023) menunjukkan bahwa dukungan ibu dalam menghadapi emosi negatif

34
anak usia 3–5 tahun berperan penting dalam membantu anak mengembangkan
regulasi emosi. Menunjukkan bahwa dukungan sosial tidak hanya melindungi
kesehatan psikologis ibu, tetapi juga berkontribusi langsung pada perkembangan
emosi anak.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial memiliki


peran ganda: pertama, membantu ibu mengurangi stres pengasuhan dan
meningkatkan efikasi diri, dan kedua, menciptakan pola pengasuhan yang lebih
konsisten, responsif, serta hangat. Dalam konteks anak usia prasekolah, kondisi ini
penting karena masa tersebut merupakan periode pembentukan keterampilan emosi
dan sosial yang akan berpengaruh hingga tahap perkembangan selanjutnya.

D. Hubungan Antara Stres Pengasuhan dengan Regulasi Emosi dan


Dukungan Sosial
Stres pengasuhan merupakan bentuk tekanan psikologis yang muncul ketika
tuntutan peran sebagai orang tua tidak sejalan dengan kemampuan yang dimiliki
untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan
tertekan, cemas, dan kewalahan, sehingga berpengaruh pada pola pengasuhan yang
diberikan kepada anak (Deater-Deckard, 2004). Tingginya tingkat stres pengasuhan
pada ibu, baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga, tidak hanya berdampak pada
kesejahteraan psikologis ibu, tetapi juga berimplikasi pada kualitas interaksi dengan
anak. Dalam konteks ini, regulasi emosi dan dukungan sosial dipandang sebagai
dua faktor penting yang berperan dalam menurunkan maupun memperburuk tingkat
stres pengasuhan.
Regulasi emosi merujuk pada kemampuan individu untuk mengenali,
memahami, serta mengendalikan emosi yang dirasakan sehingga dapat
menyesuaikan respons emosional sesuai dengan tuntutan situasi (Gross, 2002;
2007). Ibu yang memiliki keterampilan regulasi emosi yang baik akan lebih mampu
menghadapi tekanan pengasuhan dengan sikap positif, mampu menunda reaksi
emosional yang impulsif, serta menilai situasi dari sudut pandang yang lebih
adaptif. Sejalan dengan penelitian Eramadhani dan Fitriani (2022) yang
menunjukkan bahwa regulasi emosi berpengaruh signifikan terhadap tingkat stres

35
pengasuhan. Temuan tersebut diperkuat oleh Apprilianti (2024) yang menemukan
adanya hubungan negatif antara regulasi emosi dan stres pengasuhan pada ibu
bekerja, di mana semakin tinggi regulasi emosi maka semakin rendah tingkat stres
pengasuhan yang dialami. Dengan demikian, regulasi emosi dapat berfungsi
sebagai mekanisme internal yang melindungi ibu dari dampak negatif tekanan
pengasuhan.
Selain regulasi emosi, faktor eksternal berupa dukungan sosial juga
memainkan peran penting dalam menurunkan tingkat stres pengasuhan. Dukungan
sosial mencakup bantuan emosional, informasi, maupun instrumental yang
diberikan oleh pasangan, keluarga, teman sebaya, serta lingkungan sosial yang lebih
luas (Evalista dkk., 2022). Dukungan ini memberikan rasa aman, dihargai, serta
keyakinan bahwa ibu tidak sendirian dalam menghadapi peran pengasuhan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ibu yang memperoleh dukungan sosial
memadai cenderung memiliki tingkat stres pengasuhan yang lebih rendah
(Fatkuriyah dkk., 2022; Vitoasmara dkk., 2024). Bahkan, meskipun stres
pengasuhan tinggi, dukungan sosial yang kuat terbukti dapat menurunkan dampak
negatif stres terhadap kesejahteraan psikologis ibu (Evalista dkk., 2022). Dengan
demikian, dukungan sosial dapat dipandang sebagai faktor protektif eksternal yang
memperkuat kemampuan ibu dalam mengelola tekanan pengasuhan sehari-hari.
Keterkaitan antara stres pengasuhan, regulasi emosi, dan dukungan sosial
bersifat dinamis dan saling melengkapi. Regulasi emosi berfungsi sebagai
mekanisme internal yang memungkinkan ibu merespons secara adaptif terhadap
tuntutan pengasuhan, sementara dukungan sosial menyediakan sumber daya
eksternal yang memperkuat resiliensi ibu dalam menghadapi tekanan. Apabila
regulasi emosi rendah dan dukungan sosial terbatas, maka risiko munculnya stres
pengasuhan yang tinggi semakin besar. Sebaliknya, kombinasi regulasi emosi yang
baik dan dukungan sosial yang memadai akan menurunkan tingkat stres
pengasuhan secara signifikan serta menciptakan pola pengasuhan yang lebih sehat
dan responsif terhadap kebutuhan anak.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa regulasi emosi dan
dukungan sosial memiliki kontribusi penting dalam menentukan tinggi rendahnya

36
stres pengasuhan. Kedua faktor ini perlu dipertimbangkan secara bersamaan karena
tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi psikologis ibu, tetapi juga terhadap
kualitas pengasuhan dan perkembangan anak. Oleh sebab itu, penelitian mengenai
stres pengasuhan pada ibu bekerja dan ibu rumah tangga menjadi relevan untuk
dilakukan, terutama dalam konteks membandingkan peran regulasi emosi dan
dukungan sosial dalam menurunkan beban stres yang dialami ibu dalam
menjalankan fungsi pengasuhan.
E. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan kerangka konsep yang telah dijelaskan pada
pembahasan sebelumnya, maka rumusan hipotesis pada penelitian ini adalah:

“Ada perbedaan antara stres pengasuhan pada ibu rumah tangga dan ibu yang
bekerja ditinjau dari regulasi emosi dan dukungan sosial”

37
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variable

Untuk menguji hipotesis, akan dilakukan identifikasi variabel penelitian.


Dalam penelitian ini terdapat dua macam variabel, yaitu variabel tergantung dan
variabel bebas. Variable yang digunakan dalam penelitian yaitu:

a. Variable Bebas (X1): Regulasi Emosi


(X2): Dukungan Sosial
b. Variable Tergantung (Y): Stres Pengasuhan

B. Definisi Oprasional
1. Stres Pengasuhan

Stres pengasuhan ialah keadaan stres serta cemas yang berlebihan terkait
dengan peran orang tua serta hubungan antara orang tua dan anak. Stres pengasuhan
juga diartikan kondisi tertekan yang dialami orang tua ketika tuntutan pengasuhan
anak dianggap melebihi sumber daya, kapasitas, atau dukungan yang mereka miliki.
Stres ini muncul dari interaksi antara karakteristik orang tua, karakteristik anak, dan
faktor lingkungan keluarga maupun sosial (Abidin dkk., 1995; Berry & Jones,
1995). Pengukuran skala stres pengasuhan akan diukur dengan skala stres
pengasuhan dari Berry & Jones (1995), Parental Stress Scale (PSS) memiliki dua
dimensi, yaitu dimensi positif (pleasure) aspek ini menggambarkan pengalaman
positif yang diperoleh orang tua selama mengasuh anak, seperti rasa bahagia,
kedekatan emosional, kasih sayang, dan kepuasan batin dan dimensi negatif (strain)
aspek strain merujuk pada pengalaman negatif atau tekanan yang dirasakan dalam
menjalankan tanggung jawab pengasuhan. Ini meliputi perasaan kewalahan,
kurangnya fleksibilitas, beban finansial, kesulitan mengatur waktu, serta
ketidaknyamanan atau rasa malu terhadap perilaku anak.

38
Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek berarti semakin tinggi stres
pengasuhan pada ibu, sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh subjek berarti
semakin rendah stres pengasuhan pada ibu.

2. Regulasi Emosi

Regulasi emosi dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk


mengelola perasaannya, dengan tujuan utama mengurangi munculnya emosi
negatif sekaligus mempertahankan emosi positif. Konsep ini mengacu pada
bagaimana individu dipengaruhi oleh emosi yang mereka alami, serta bagaimana
mereka merespons dan mengekspresikannya. Lebih lanjut, regulasi emosi
melibatkan penyesuaian respons terhadap berbagai faktor yang tidak berkaitan
langsung dengan ekspresi emosi itu sendiri, sebagaimana dijelaskan oleh Gross
pada tahun 2002.

Ketika seseorang memiliki regulasi emosi yang baik, mereka cenderung


mampu mengendalikan situasi yang dihadapi, memilih dengan bijak, berpikir
positif terhadap masalah yang muncul, dan tetap fokus pada solusi, sebagaimana
dinyatakan oleh Gross pada tahun 2007.

Untuk mengukur regulasi emosi, digunakan skala yang dikembangkan oleh


Gross dan John pada tahun 2003, yang membaginya menjadi dua strategi utama.
Pertama, penilaian ulang kognitif, yang melibatkan perubahan cara berpikir
tentang suatu peristiwa untuk mengubah respons emosional. Kedua, penekanan
ekspresif, yang melibatkan penekanan atau penyembunyian ekspresi emosi, baik
secara internal maupun eksternal.

Secara umum, skor regulasi emosi yang tinggi menunjukkan bahwa ibu
semakin terampil dalam mengelola dan mengendalikan emosinya. Sebaliknya,
skor yang rendah menunjukkan bahwa ibu mengalami kesulitan dalam hal ini.

3. Dukungan Sosial

Dukungan sosial dapat didefinisikan sebagai bentuk bantuan atau dukungan


yang diterima, baik melalui kata-kata maupun tindakan nyata, dari orang lain.

39
Konsep ini lebih lanjut merujuk pada perasaan atau persepsi seseorang tentang
ketersediaan kenyamanan, perhatian, dan bantuan saat dibutuhkan. Dukungan ini
dapat datang dari pasangan, anggota keluarga, teman, atau bahkan organisasi
masyarakat. Orang yang mengalami dukungan sosial yang kuat cenderung percaya
bahwa mereka dicintai, dihargai, dan merupakan bagian integral dari jaringan
sosial, seperti keluarga atau komunitas, sebagaimana diusulkan oleh Evalista dan
rekan-rekannya pada tahun 2022.

Untuk mengukur hal ini, skala dukungan sosial yang dikembangkan oleh
Zimet dan timnya pada tahun 1988 digunakan. Skala ini menilai beberapa sumber
dukungan, termasuk dukungan dari keluarga, yang mencakup kualitas hubungan
dan kedekatan dengan mereka; dukungan dari teman, yang mengukur kepuasan
terhadap persahabatan mereka; dan dukungan dari orang terdekat, yaitu bantuan
yang diterima dari orang spesial yang dianggap penting dalam hidup.

Secara umum, jika seseorang memiliki skor dukungan sosial yang tinggi,
tingkat stres pengasuhan ibu cenderung lebih rendah. Sebaliknya, skor yang rendah
dapat membuat seorang ibu lebih rentan terhadap stres dalam mengasuh anak.

C. Populasi, Sample dan Teknik Pengambilan Sample (Sampling)


1. Populasi

Sugiyono (2013) menjelaskan bahwa populasi yaitu jumlah seluruh objek


yang memiliki karakteristik dan kualitas tertrntu yang akan diteliti. Populasi tidak
hanyak berupa orang atau jumlah yang ada pada objek/subjek, tetapi merupakan
keseluruhan sifat/karakteristik yang dimiliki oleh objek/subjek tersebut. Populasi
penelitian ini adalah ibu pada posyandu yang berada pada Desa Sendangagung,
baik ibu rumah tangga maupun ibu yang bekerja, yang berjumlah 243 orang.

2. Sample

Sugiyono (2013) menjelaskan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi


dan karakteristiknya. Populasi yang besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari
seluruh populasi, misalnya karena keterbatasan sumber daya, tenaga, atau waktu,
maka peneliti dapat menggunakan sampel dari populasi yang ada. Apa yang

40
diperoleh dari sampel dapat diterapkan pada populasi. Sampel dari populasi harus
benar-benar representatif. Populasi penelitian ini cukup besar, maka untuk
menghasilkan data valid menggunakan perhitungan sampel oleh Isaac dan
Michael. Sampel menggunakan tabel penentuan jumlah sampel yang
dikembangkan Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan 1% (Sugiyono, 2013).

3. Sample

Sugiyono (2013) menjelaskan sampel adalah bagian dari jumlah dan


karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel yang diambil haruslah
representatif, artinya memiliki karakteristik yang sama atau mirip dengan populasi
induknya, sehingga apa yang didapat dari sampel dapat digeneralisasikan untuk
seluruh populasi. . Penelitian ini menggunakan quota sampling merupakan teknik
sampling dengan menggunakan pendapat pribadi peniliti (personal judgement)
untuk memilih sampel yang didasarkan pada pengetahun sebelumnya tentang
populasi dan tujuan khusus. Penelitiann dengan tujuan agar sampel dapat
mewakili atau representatif terhadap populasi. Adapun sampel dalam penelitian
ini sebanyak 150 warga yang terdapat pada Posyandu Desa Sendangagung Kec.
Pamotan Kab. Rembang.
D. Mtode Pengumpuan Data

Sugiyono (2013) menjelaskan bahwa skala merupakan suatu teknik


pengumpulan data dengan cara responden diberikan serangkaian pertanyaan atau
pernyataan tertulis yang harus dijawab. Penelitian ini menggunakan skala untuk
mengumpulkan data dari responden yang telah ditentukan. Skala tersebut
mencakup pernyataan mengenai stres pengasuhan, regulasi emosi dan dukungan
sosial pada ibu bekerja dan ibu rumah tangga berbentuk skala psikologi. Skala
pengukuran merupakan suatu standar untuk menentukan acuan untuk menentukan
interval antar alat ukur untuk memperoleh data kuantitatif pada saat digunakan
(Sugiyono, 2013). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala
stres pengasuhan, skala regulasi emosi dan skala dukungan sosial.

41
1. Stres Pengasuhan
Variable stres pengasuhan akan diukur menggunakan skala Kumalasari,
dkk (2022) yang didasari oleh dua aspek Berry & Jones (1995) yaitu, Pleasure
(kepuasan pengasuhan) dan Strain (tekanan pengasuhan).
Penelitian ini menggunakan skala likert yang tersusun dalam bentuk suatu
pernyataan favorable dan unfavorable. Skala likert adalah skala pengukuran yang
dikembangkan oleh Likert yang terdiri dari setidaknya empat pernyataan yang
digabungkan menjadi skor/nilai yang mewakili karakteristik individu seperti
pengetahuan, sikap dan perilaku (Sugiyono, 2013). Setiap item pernyataan
memiliki empat kemungkinan jawaban: Sangat Sesuai, Sesuai, Tidak Sesuai dan
Sangat Tidak Sesuai. Aitem favorable pilihan Sangat Sesuai akan mendapat skor
empat, pilihan Sesuai mendapat skor tiga, pilihan Tidak Sesuai mendapat skor dua,
dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor satu. Aitem unfavorable pilihan
Sangat Sesuai akan mendapat skor satu, pilihan Sesuai mendapat skor dua, pilihan
Tidak Sesuai mendapat skor tiga, dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor
empat. Skala stres pengasuahan dapat dilihat pada tabel 1:
Tabel 1. Blueprint Skala Stres Pengasuhan
Aitem
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Pleasure - 9 9
2. Strain 9 - 9

Total 18

2. Regulasi Emosi

Variable regulasi emosi diukur menggunakan skala Radde, dkk (2021)


yang didasari dua aspek Gross & John (2003) yaitu Cognitive Reapraisal
(Penilaian ulang kognitif) dan Expressive Suppresion (Penekanan Ekspresif).
Penelitian ini menggunakan skala likert yang tersusun dalam bentuk suatu
pernyataan favorable dan unfavorable. Skala likert adalah skala pengukuran yang
dikembangkan oleh Likert yang terdiri dari setidaknya empat pernyataan yang
digabungkan menjadi skor/nilai yang mewakili karakteristik individu seperti
pengetahuan, sikap dan perilaku (Sugiyono, 2013). Setiap item pernyataan

42
memiliki empat kemungkinan jawaban: Sangat Sesuai, Sesuai, Tidak Sesuai dan
Sangat Tidak Sesuai. Aitem favorable pilihan Sangat Sesuai akan mendapat skor
empat, pilihan Sesuai mendapat skor tiga, pilihan Tidak Sesuai mendapat skor dua,
dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor satu. Aitem unfavorable pilihan
Sangat Sesuai akan mendapat skor satu, pilihan Sesuai mendapat skor dua, pilihan
Tidak Sesuai mendapat skor tiga, dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor
empat. Skala regulasi emosi dapat dilihat pada tabel 2:
Tabel 2. Blueprint Skala Regulasi Emosi
Aitem
No Aspek Jumlah
Favorable

1. Cognitive Reapraisal 6 6
2. Expressive Suppresion 4 4

Total 10
3. Dukungan Sosial
Variable dukungan sosial diukur menggunakan skala dukungan sosial
Sulistiani, dkk (2022) yang didasari oleh tiga aspek Zimet, dkk (1988) yaitu
Dukungan dari Keluarga (Family Support), Dukungan dari Teman (Friends
Support) dan Dukungan dari Orang yang Spesial (Significant Other Support).

Penelitian ini menggunakan skala likert yang tersusun dalam bentuk suatu
pernyataan favorable dan unfavorable. Skala likert adalah skala pengukuran yang
dikembangkan oleh Likert yang terdiri dari setidaknya empat pernyataan yang
digabungkan menjadi skor/nilai yang mewakili karakteristik individu seperti
pengetahuan, sikap dan perilaku (Sugiyono, 2013). Setiap item pernyataan
memiliki empat kemungkinan jawaban: Sangat Sesuai, Sesuai, Tidak Sesuai dan
Sangat Tidak Sesuai. Aitem favorable pilihan Sangat Sesuai akan mendapat skor
empat, pilihan Sesuai mendapat skor tiga, pilihan Tidak Sesuai mendapat skor dua,
dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor satu. Aitem unfavorable pilihan
Sangat Sesuai akan mendapat skor satu, pilihan Sesuai mendapat skor dua, pilihan
Tidak Sesuai mendapat skor tiga, dan pilihan Sangat Tidak Sesuai mendapat skor
empat. Skala regulasi emosi dapat dilihat pada tabel 3:

43
Tabel 3. Blueprint Skala Dukungan Sosial
Aitem
No Aspek Jumlah
Favorable

1. Family Support 4 4
2. Friends Support 4 4
3. Significant Other Support 4 4
Total 12

E. Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas

Sugiyono (2013) menyatakan validitas adalah instrumen yang valid, artinya


instrumen yang digunakan untuk memperoleh data (pengukuran) adalah valid.
Valid juga memiliki arti bahwa instrumen tersebut dapat mengukur apa yang ingin
diukur. Validitas tes atau validitas alat ukur adalah seberapa baik suatu tes
mengukur apa yang hendak diukur yang memiliki arti derajat fungsi pengukuran
suatu tes atau derajat ketelitian suatu tes (Azwar, 2016)

Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi. Validitas isi
adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur apa isi atau konsep yang akan
diukur (Azwar, 2012).. Keputusan validitas isi dilakukan dengan meminta
penilaian dari pihak kompeten (experts judgement) seperti para ahli. Experts
judgment dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing skripsi.
2. Reliabilitas
Reliabilitas dalam konteks pengukuran mengacu pada tingkat keandalan
atau konsistensi hasil yang diperoleh, yang menunjukkan seberapa akurat
instrumen tersebut bekerja, sebagaimana dijelaskan oleh Azwar pada tahun 2012.
Sugiyono (2013) menambahkan bahwa reliabilitas dapat didefinisikan sebagai
kemampuan suatu instrumen untuk memberikan data yang serupa ketika
digunakan berulang kali pada objek yang sama. Menurut Azwar (2012),

44
reliabilitas ini dinyatakan melalui koefisien numerik yang berkisar antara 0 hingga
1. Semakin dekat koefisien dengan 1, semakin tinggi tingkat reliabilitasnya,
sedangkan semakin dekat dengan 0, semakin rendah reliabilitasnya.
Dalam penelitian ini, pengujian reliabilitas dilakukan dengan
menggunakan koefisien Cronbach's Alpha, dibantu dengan perangkat lunak SPSS
versi 27.0. Metode ini digunakan untuk mengestimasi nilai koefisien reliabilitas
keseluruhan dan untuk menilai tingkat reliabilitas setiap item.

F. Teknik Analisis

Penelitian ini menggunakan teknik analisis uji non-parametrik Kruskal–


Wallis, yaitu metode statistic non-parametrik yang digunakan untuk
membandingkan perbedaan antara tiga atau lebih kelompok independen.. Tujuan
utama analisis ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang
memengaruhi suatu hasil, membuat prediksi nilai di masa depan, dan memahami
kekuatan hubungan antarvariabel tersebut. Untuk mengetahui perbedaan antara
stres pengasuhan ibu sebagai wanita karir dan ibu sebagai ibu rumah tangga ditinjau
dari regulasi emosi dan dukungan sosial menggunakan SPSS (Statistical Product
and Service Solution).

45
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian


1. Orientasi Kancah Penelitian
Orientasi kancah penelitian diposisikan sebagai salah satu langkah yang wajib
dilakukan sebelum melakukan penelitian dan bertujuan untuk memprediksi
penelitian agar tetap bisa berjalan tanpa adanya hambatan. Penelitian ini harus
diawali dengan melakukan observasi pendahuluan terhadap populasi penelitian.
Penelitian ini menggunakan tempat di Posyandu Desa Sendangagung, Kec. Pamotan
Kab. Rembang Jawa Tengah.
Populasi yang peneliti gunakan yaitu sebanyak 243 ibu yang aktif mengikuti
posyandu. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan stress
pengasuhan pada ibu bekerja dan ibu rumah tangga ditinjau dari regulasi emosi dan
dukungan sosial.

Pertimbangan peneliti memilih posyandu menjadi tempat penelitian, yaitu


a. Karakteristik subjek penelitian memenuhi syarat dalam pencapaian tujuan
penelitian.
b. Terdapat permasalahn yang berhubungan dengan judul penelitian
c. Lokasi penelitian mudah untuk mendapatkan akeses, sehingga peneliti lebih
mudah dalam melakukan proses penelitian.
2. Persiapan Peneltian

Persiapan penelitian ini bertujuan untuk mempermudah proses penelitian dan


meminimalisir kesalahan. Untuk meraih gelar ini, peneliti perlu untuk
mempersiapkan perizinan melalui Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan
Agung Semarang dan Menyusun alat ukur yang digunakan dalam penelitian.
Langkah-langkah persetujuan dalam penelitian ini yaitu:

46
a. Persiapa Perizinan

Perizinan penelitian adalah bagian penting yang harus dilakukan sebelum


penelitian dilakukan. Penulis mengajukan surat permohonan perizinan penelitian di
bidan Desa Sendangagung. Pada tanggal 7 November 2025 penulis melaksanakan
penagmbilan data dengan nomor surat 169/C.1/[Link]/X/2025. Penulis
melaksanakan penelitian dengan membagikan link google from kepada ibu yang
aktif dalam posyandu.

b. Penyusunan Alat Ukur

Skala psikologis merupakan instrument yang di dalamnya berisikan beberapa


pertanyaan yang disusun sedemikian rupa sehingga pembelajaran psikologis dapat
menggunakan metode-metode yang mencerminkan aspek dari variable dan penelitian
yang kemudian akan diubah menjadi item pertanyaan (Azwar, 2016).

Terdapat tiga skala psikologi yang akan dipakai dalam pelaksanaan


penelitiaan ini, yaitu skala stress penngasuhan, skala regulasi emosi dan skala
dukungan sosial. Skala ini berisi Kumpulan pernyataan yang mengharuskan
responden penelitian untuk menjawab.

1. Skala Stres Pengasuhan

Skala stres pengasuhan menggunakan skala yang diadaptsi oleh Kumalasari,


dkk. (2022) skala ini didasarkan pada teori dari (Berry & Jones, 1995). Kriteria dari
skala ini terdiri dari beberapa aspek, yaitu: Pleasure (kepuasan pengasuhan) dan
Strain (tekanan pengasuhan). Aspek Pleasure (kepuasan pengasuhan) memiliki 8
aitem yang menjadi aitem favorable. Aspek Strain (tekanan pengasuhan) memiliki
10 aitem yang menjadi aitem unfavorable. Distribusi penomoran dari variable stress
pengasuhan ditunjukkan pada Tabel 4

47
Tabel 4. Distribusi Penomoran Skala Stres Pengasuhan
Aitem
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

1. Pleasure - 1, 2, 5, 6, 7, 8, 8
17, 18
2. Strain 3, 4, 10, 11, - 10
12, 13, 14,
15, 16

Total 18

2. Skala Regulasi Emosi


Skala regulasi emosi menggunakan skala yang diadaptasi oleh Radde, dkk.
(2021) sakala ini didasarkan pada teori dari (Gross & John, 2003). Kriteria dari skala
ini terdiri dari beberapa aspek, yaitu: Cognitive Reapraisal (Penilaian ulang
kognitif) dan Expressive Suppresion (Penekanan Ekspresif). Aitem pada skala
regulasi emsoi berjumlah 10 aitem, yang terdiri dari 6 aitem favorable dan 4 aitem
unfavorable. Distribusi penomoran dari variable regulasi emosi ditunjukkan pada
Tabel 5.
Tabel 5. Distribusi Penomoran Skala Regulasi Emosi
Aitem
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Cognitive Reapraisal 1, 2, 3, 4, 5, 6 - 6
2. Expressive Suppresion 7, 8, 9, 10 - 4

Total 10

3. Skala Dukungan Sosial

Skala dukungan sosial ini menggunakan skala yang diadaptasi oleh


Sulistiani, dkk. (2022) didasarkan pada teori dari (Zimet dkk., 1988). Kriteria dari
skala ini terdiri dari beberapa aspek yaitu: Dukungan dari Keluarga (Family
Support), Dukungan dari Teman (Friends Support), dan Dukungan dari Orang yang
Spesial (Significant Other Support). Aitem pada skala dukungan sosial berjumlah
12 aitem, dimana semua aitem merupakan favorable. Distribusi penomoran dari
variable dukungan sosaial pada Tabel 6.

48
Tabel 6. Distribusi Penomoran Skala Dukungan Sosial
Aitem
No Aspek Jumlah
Favorable

1. Family Support 3, 4, 8, 11 4
2. Friends Support 6, 7, 9, 12 4
3. Significant Other Support 1, 2, 5, 10 4
Total 12
c. Uji Daya Beda Item

Uji daya beda item bertujuan menilai kemampuan tiap butir dalam
membedakan responden berkemampuan tinggi atau rendah, sehingga hanya butir
dengan daya pembeda baik yang dipertahankan. Daya beda aitem dikatankan tinggi
apabila koefisien korelasi aitem ≥ 0,30 (Azwar, 2016). Berikut penjabaran tiap
variable

1. Stres Pengasuhan

Hasil analisis daya beda menunjukkan bahwa dari 18 aitem, 14 aitem memiliki
daya beda tinggi dengan keofisien berkisar antara 0,307 hingga 0,621 dan 4 aitem
memiliki daya beda rendah antara 0,151 hingga 0,247. Reliabilitas dengan 18 aitem
menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,842. Reliabilitas Cronbach’s Alpha
meningkat menjadi 0,854 dengan 14 aitem. Pengujian setelah eliminasi aitem gugur
juga menunjukkan peningkatan korelasi antar aitem, dengan nilai berkisaran 0,330
hingga 0,621.

Tabel 7. Distribusi Penomoran Skala Stres Pengasuhan


Aitem
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Pleasure - 1, 2, 5, 6, 7, 8, 8
17, 18
2. Strain 3*, 4*, 9*, - 10
10*, 11, 12,
13, 14, 15, 16

Total 18
*aitem gugur

49
2. Regulasi Emosi

Hasil analisis daya beda menunjukkan bahwa 10 aitem memiliki daya beda yang
tinggi dengan koefisien 0,441 hingga 0,584. Seluruh aitem menunjukkan kualitas
deskriminatif yang baik. Reliabilitas skala stres pengasuhan dengan 10 item
menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,822.

Tabel 8. Distribusi Penomoran Skala Regulasi Emosi


Aitem
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Cognitive Reapraisal 1, 2, 3, 4, 5, 6 - 6
2. Expressive Suppresion 7, 8, 9, 10 - 4

Total 10

3. Dukungan Sosial

Hasil analisis daya beda menunjukkan bahwa 10 aitem memiliki daya beda yang
tinggi dengan koefisien 0,373 hingga 0,728. Seluruh aitem menunjukkan kualitas
deskriminatif yang baik. Reliabilitas skala stres pengasuhan dengan 12 item
menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,911.

Tabel 9. Distribusi Penomoran Skala Dukungan Sosial


Aitem
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Family Support 3, 4, 8, 11 - 4
2. Friends Support 6, 7, 9, 12 - 4
3. Significant Other Support 1, 2, 5, 10 - 4
Total 12

50
B. Hasil Penelitian

1. Analisis Karakteristik Responden

Analisis karakteristik responden dilakukan untuk memberikan gambaran

umum mengenai profil responden dalam penelitian ini. Karakteristik yang

dianalisis meliputi usia, pekerjaan, pendidikan, jumlah anak dan lama menikah.

Tabel 4.1 Hasil Analisis Karakteristik Responden


Usia Responden Frekuensi Persentase (%)
20-29 tahun 110 45.3%
30-39 tahun 121 49.8%
> 40 tahun 12 4.9%
Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
Ibu rumah tangga 145 59.7%
Ibu bekerja 98 40.3%
Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
SD 4 1.6%
SMP 45 18.5%
SMA 102 42%
D3 22 9.1%
S1 70 28.8%
Jumlah Anak Frekuensi Persentase (%)
1 anak 106 43.6%
2 anak 97 39.9%
3 anak 33 13.6%
4 anak 5 2.1%
6 anak 2 0.8%
Lama Menikah Frekuensi Persentase (%)
1-5 tahun 141 58%
6-10 tahun 53 21.8%
> 10 tahun 49 20.2%
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan hasil analisis karakteristik responden, mayoritas ibu yang

menjadi peserta posyandu di Desa Sendangagung berada pada rentang usia 30–39

tahun dengan persentase sebesar 49,8%, diikuti oleh kelompok usia 20–29 tahun

51
sebanyak 45,3%, sedangkan kelompok usia di atas 40 tahun hanya sebesar 4,9%.

Menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia produktif dan

masih aktif dalam mengasuh anak balita. Berdasarkan status pekerjaan, lebih dari

setengah responden merupakan ibu rumah tangga yaitu sebesar 59,7%, sementara

sisanya sebesar 40,3% adalah ibu bekerja. Kondisi ini menggambarkan bahwa

kegiatan posyandu di desa tersebut banyak diikuti oleh ibu yang memiliki waktu

lebih fleksibel di rumah.

Dari segi pendidikan, tingkat pendidikan responden didominasi oleh lulusan

SMA sebanyak 42%, diikuti oleh lulusan S1 sebesar 28,8%, dan SMP sebesar

18,5%. Hanya sebagian kecil responden yang berpendidikan D3 (9,1%) serta SD

(1,6%). Mengindikasikan bahwa mayoritas ibu di Desa Sendangagung memiliki

tingkat pendidikan menengah hingga tinggi, yang berpotensi berpengaruh terhadap

pengetahuan dan sikap mereka dalam mengasuh anak. Berdasarkan jumlah anak,

responden dengan satu anak menempati proporsi terbesar yaitu 43,6%, diikuti oleh

dua anak sebesar 39,9%, sedangkan ibu dengan tiga anak atau lebih memiliki

persentase yang jauh lebih kecil. Kondisi ini mencerminkan bahwa sebagian besar

keluarga di wilayah tersebut cenderung memiliki jumlah anak yang relatif sedikit.

Selain itu, jika dilihat dari lama pernikahan, mayoritas responden telah

menikah selama 1–5 tahun dengan persentase 58%, diikuti oleh 6–10 tahun sebesar

21,8%, dan lebih dari 10 tahun sebesar 20,2%. Temuan ini menunjukkan bahwa

sebagian besar responden termasuk dalam kelompok ibu muda yang baru menjalani

kehidupan rumah tangga, sehingga kemungkinan besar mereka masih aktif dalam

52
mencari informasi dan mengikuti kegiatan posyandu untuk mendukung tumbuh

kembang anak mereka.

2. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik dari variabel-variabel

dalam penelitian ini, yaitu Stress Pengasuhan (Y), Dukungan Sosial (X1) dan

Regulasi Emosi (X1). Statistik deskriptif seperti rata-rata, median, modus, dan

standar deviasi digunakan untuk memberikan gambaran umum mengenai distribusi

data masing-masing variabel.

Tabel 4.2 Hasil Analisis Statistik Deskriptif


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Stress Pengasuhan (Y) 243 14 68 42.65 11.642
Dukungan Sosial (X2) 243 27 84 61.88 11.168
Regulasi Emosi (X1) 243 28 70 47.45 8.553
Valid N (listwise) 243
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, diketahui bahwa jumlah

responden dalam penelitian ini adalah 243 orang. Variabel stres pengasuhan (Y)

memiliki nilai minimum sebesar 14 dan maksimum 68, dengan nilai rata-rata

(mean) sebesar 42,65 dan standar deviasi 11,642. Nilai rata-rata ini menunjukkan

bahwa tingkat stres pengasuhan pada ibu di Desa Sendangagung berada pada

kategori sedang, yang berarti sebagian besar ibu mengalami stres pengasuhan dalam

tingkat yang wajar. Meskipun demikian, nilai standar deviasi yang relatif besar

menunjukkan adanya keragaman yang cukup tinggi di antara responden dalam hal

tingkat stres pengasuhan yang dialami.

53
Selanjutnya, pada variabel dukungan sosial (X2) diperoleh nilai minimum 27

dan maksimum 84, dengan rata-rata sebesar 61,88 dan standar deviasi 11,168. Nilai

rata-rata yang tergolong tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar ibu

mendapatkan dukungan sosial yang baik, baik dari keluarga, pasangan, teman,

maupun lingkungan sosial lainnya. Mengindikasikan bahwa dukungan sosial

berpotensi menjadi faktor pelindung terhadap stres pengasuhan yang dialami oleh

para ibu.

Sementara itu, variabel regulasi emosi (X1) memiliki nilai minimum 28 dan

maksimum 70, dengan nilai rata-rata sebesar 47,45 serta standar deviasi 8,553.

Rata-rata tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan regulasi emosi para ibu

berada pada tingkat sedang, yang berarti sebagian besar ibu mampu mengelola

emosi dengan cukup baik dalam menghadapi situasi pengasuhan anak. Nilai standar

deviasi yang moderat juga menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan regulasi

emosi antarresponden tidak terlalu besar.

3. Uji Instrumen Penelitian

a. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel.

Jika r hitung > r tabel, maka item tersebut dianggap valid.

1) Stress Pengasuhan (Y)

Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas Stress Pengasuhan (Y)


Hasil Uji Validitas
Item Pertanyaan r-tabel Keterangan
Sig. r-hitung
Pertanyaan 1 0.000 0.484 0.138 Valid
Pertanyaan 2 0.000 0.433 0.138 Valid
Pertanyaan 3 0.000 0.458 0.138 Valid

54
Pertanyaan 4 0.000 0.496 0.138 Valid
Pertanyaan 5 0.000 0.516 0.138 Valid
Pertanyaan 6 0.000 0.643 0.138 Valid
Pertanyaan 7 0.000 0.626 0.138 Valid
Pertanyaan 8 0.000 0.628 0.138 Valid
Pertanyaan 9 0.000 0.619 0.138 Valid
Pertanyaan 10 0.000 0.651 0.138 Valid
Pertanyaan 11 0.000 0.659 0.138 Valid
Pertanyaan 12 0.000 0.668 0.138 Valid
Pertanyaan 13 0.000 0.652 0.138 Valid
Pertanyaan 14 0.000 0.691 0.138 Valid
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan hasil uji validitas pada variabel stres pengasuhan, seluruh 14

item pernyataan menunjukkan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.000 dengan nilai r-

hitung berkisar antara 0.458 hingga 0.691. Jika dibandingkan dengan nilai r-tabel

sebesar 0.138, seluruh item memiliki r-hitung yang lebih besar dari r-tabel dan nilai

signifikansinya berada di bawah 0.05. Dengan demikian, semua butir pertanyaan

dinyatakan valid. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh item dalam instrumen

pengukuran stres pengasuhan memiliki tingkat keandalan yang baik dalam

mengukur tingkat stres yang dialami ibu di posyandu Desa Sendangagung. Artinya,

setiap pernyataan dalam kuesioner mampu merefleksikan dimensi stres pengasuhan

secara konsisten dan dapat digunakan dalam tahap analisis selanjutnya.

2) Dukungan Sosial (X2)

Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas Dukungan Sosial (X2)


Hasil Uji Validitas
Item Pertanyaan r-tabel Keterangan
Sig. r-hitung
Pertanyaan 1 0.000 0.742 0.138 Valid
Pertanyaan 2 0.000 0.775 0.138 Valid
Pertanyaan 3 0.000 0.710 0.138 Valid

55
Pertanyaan 4 0.000 0.761 0.138 Valid
Pertanyaan 5 0.000 0.754 0.138 Valid
Pertanyaan 6 0.000 0.750 0.138 Valid
Pertanyaan 7 0.000 0.673 0.138 Valid
Pertanyaan 8 0.000 0.773 0.138 Valid
Pertanyaan 9 0.000 0.708 0.138 Valid
Pertanyaan 10 0.000 0.757 0.138 Valid
Pertanyaan 11 0.000 0.731 0.138 Valid
Pertanyaan 12 0.000 0.495 0.138 Valid
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan hasil uji validitas pada variabel dukungan sosial,

diperoleh bahwa seluruh 12 item pernyataan memiliki nilai signifikansi 0.000 dan

nilai r-hitung antara 0.495 hingga 0.775, yang seluruhnya lebih besar daripada nilai

r-tabel sebesar 0.138. Dengan demikian, seluruh item pertanyaan dinyatakan valid.

Hasil ini menunjukkan bahwa setiap pernyataan yang digunakan dalam mengukur

tingkat dukungan sosial dari keluarga, teman, maupun lingkungan telah terbukti

secara statistik mampu merepresentasikan variabel dukungan sosial dengan baik.

Dengan kata lain, instrumen ini dapat dipercaya untuk menilai sejauh mana

dukungan sosial berperan dalam memengaruhi stres pengasuhan ibu di Desa

Sendangagung.

3) Regulasi Emosi (X1)

Tabel 4.5 Hasil Uji Validitas Regulasi Emosi (X1)


Hasil Uji Validitas
Item Pertanyaan r-tabel Keterangan
Sig. r-hitung
Pertanyaan 1 0.000 0.595 0.138 Valid
Pertanyaan 2 0.000 0.627 0.138 Valid
Pertanyaan 3 0.000 0.674 0.138 Valid
Pertanyaan 4 0.000 0.642 0.138 Valid
Pertanyaan 5 0.000 0.657 0.138 Valid
Pertanyaan 6 0.000 0.645 0.138 Valid
Pertanyaan 7 0.000 0.686 0.138 Valid

56
Pertanyaan 8 0.000 0.587 0.138 Valid
Pertanyaan 9 0.000 0.626 0.138 Valid
Pertanyaan 10 0.000 0.664 0.138 Valid
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan hasil uji validitas terhadap variabel regulasi emosi, diketahui

bahwa seluruh 10 item pertanyaan memiliki nilai signifikansi sebesar 0.000 dan

nilai r-hitung berkisar antara 0.587 hingga 0.686. Seluruh nilai r-hitung tersebut

lebih tinggi dari r-tabel 0.138, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua butir

pertanyaan valid. Mengindikasikan bahwa setiap item dalam instrumen regulasi

emosi memiliki kemampuan yang baik dalam mengukur kemampuan responden

untuk mengelola dan mengendalikan emosi mereka dalam konteks pengasuhan.

Dengan demikian, instrumen ini layak digunakan untuk menganalisis hubungan

antara regulasi emosi dengan stres pengasuhan pada ibu di Desa Sendangagung.

b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas diterapkan untuk mengetahui konsisten alat ukur, alat ukur

yang dipakai dapat diandalkan dan tetap stabil jika pengukuran tersebut diulang.

Pengujian yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan teknik alpha cronbach.

Reliabilitas instrumen dianggap terbukti jika memiliki koefisien reliabilitas > 0,7.

Artinya pengukuran relatif konsisten jika dilakukan pengukuran ulang.

Tabel 4.6 Hasil Uji Reliabilitas


Nilai Cronbach's Batas
Variabel Penelitian Keterangan
Alpha Nilai
Stress Pengasuhan (Y) 0.854 0.7 Reliabel
Dukungan Sosial (X2) 0.911 0.7 Reliabel
Regulasi Emosi (X1) 0.832 0.7 Reliabel
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

57
Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada Tabel 4.6, diketahui bahwa seluruh

variabel penelitian memiliki nilai Cronbach’s Alpha di atas batas minimal 0,7,

sehingga masing-masing dinyatakan reliabel. Variabel stres pengasuhan (Y) sebesar

0,854,Variabel Dukungan Sosial (X2) yaitu 0,911, dan variabel regulasi emosi (X1)

sebesar 0,832. Secara keseluruhan, hasil uji reliabilitas ini memperkuat keyakinan

bahwa seluruh instrumen penelitian telah memenuhi kriteria keandalan yang

memadai, sehingga layak digunakan dalam analisis tahap berikutnya.

4. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dalam pemelitian ini untuk mengetahui apakah data pada

variabel berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini

menggunakan bantuan program SPSS melalui uji Kolmogorov-smirnov. Data

dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 0,05.

Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas


Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Stress Pengasuhan (Y) .113 243 <,001 .973 243 <,001
Dukungan Sosial (X2) .055 243 .076 .983 243 .004
Regulasi Emosi (X1) .102 243 <,001 .979 243 .001
a. Lilliefors Significance Correction
Sumber: Data Primer di Olah SPSS
Berdasarkan hasil uji normalitas yang ditampilkan pada Tabel 4.7, terlihat

bahwa nilai signifikansi pada ketiga variabel lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05).

Menunjukkan bahwa distribusi data tidak normal. Dengan demikian, asumsi

normalitas tidak terpenuhi, sehingga penggunaan uji parametrik seperti ANOVA

faktorial menjadi kurang tepat untuk data penelitian ini.

58
b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varians antar kelompok

data bersifat sama (homogen) atau tidak. Uji ini menggunakan Levene’s Test of

Equality of Error Variances dengan dasar pengambilan keputusan:

• Jika nilai signifikansi (Sig.) > 0,05 → varians data homogen.

• Jika nilai signifikansi (Sig.) < 0,05 → varians data tidak homogen.

Tabel 4.8 Hasil Uji Homogenitas


Levene's Test of Equality of Error Variancesa,b
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
Stress Pengasuhan Based on Mean 3.498 21 25 .002
(Y) Based on Median 1.922 21 25 .060
Based on Median and 1.922 21 4.413 .262
with adjusted df
Based on trimmed mean 3.385 21 25 .002
Tests the null hypothesis that the error variance of the dependent variable is equal across groups.
a. Dependent variable: Stress Pengasuhan (Y)
b. Design: Intercept + Regulasi_Emosial + Dukungan_Sosial + Regulasi_Emosial *
Dukungan_Sosial
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan hasil uji multikolinearitas pada Tabel 4.8, terlihat bahwa nilai

signifikansi berdasarkan mean sebesar 0,002 (< 0,05). Menunjukkan bahwa varians

antar kelompok tidak homogen. Dengan demikian, asumsi homogenitas juga tidak

terpenuhi.

Dikarenakan hasil uji asumsi menunjukkan bahwa data penelitian tidak

berdistribusi normal dan tidak homogen, maka analisis tidak dapat dilanjutkan

menggunakan uji parametrik (ANOVA faktorial). Sebagai gantinya, penelitian ini

menggunakan uji non-parametrik Kruskal–Wallis sebagai alternatif.

59
Uji Kruskal–Wallis dipilih karena mampu menguji perbedaan median

variabel dependen (Stress Pengasuhan) berdasarkan kelompok pada variabel

independen (Regulasi Emosi dan Dukungan Sosial) tanpa mengharuskan data

berdistribusi normal atau memiliki varians yang sama.

Uji ini dilakukan secara terpisah untuk masing-masing variabel bebas, karena

Kruskal–Wallis hanya mendukung satu faktor uji dalam satu waktu.

5. Uji Hipotesis Penelitian

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui pengaruh regulasi emosi (X1) dan

dukungan sosial (X2) terhadap stres pengasuhan (Y) pada ibu di Desa

Sendangagung. Karena data tidak berdistribusi normal dan varians antar kelompok

tidak homogen, maka analisis dilakukan menggunakan uji non-parametrik

Kruskal–Wallis sebagai pengganti ANOVA faktorial.

a. Pengaruh Regulasi Emosi (X1) dengan Stres Pengasuhan (Y)

Tabel 4.9 Hasil Uji Kruskal-Wallis H


Test Statisticsa,b
Stress Pengasuhan (Y)
Kruskal-Wallis H 36.963
df 2
Asymp. Sig. <,001
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Regulasi Emosi
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan hasil uji Kruskal–Wallis pada Tabel 4.9, diperoleh nilai Chi-

Square (H) sebesar 36.963 dengan derajat bebas (df = 2) dan nilai signifikansi p <

0.001. Karena nilai p lebih kecil dari 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat

60
perbedaan tingkat stres pengasuhan yang signifikan berdasarkan kategori regulasi

emosi.

Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa regulasi emosi

berpengaruh terhadap stres pengasuhan diterima. Artinya, semakin tinggi

kemampuan ibu dalam mengatur emosi, maka semakin rendah tingkat stres

pengasuhan yang dialami.

b. Pengaruh Dukungan Sosial (X20 dengan Stres Pengasuhan (Y)

Tabel 4.10 Hasil Uji Kruskal-Wallis H


Test Statisticsa,b
Stress Pengasuhan (Y)
Kruskal-Wallis H 8.832
df 2
Asymp. Sig. .012
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Dukungan Sosial
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan tabel diatas, diketahui hasil uji Kruskal–Wallis pada Tabel 4.10

menunjukkan bahwa nilai Chi-Square (H) sebesar 8.832 dengan df = 2 dan nilai

signifikansi p = 0.012. Karena p < 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat

perbedaan tingkat stres pengasuhan yang signifikan berdasarkan kategori dukungan

sosial.

Dukungan sosial berpengaruh signifikan terhadap stres pengasuhan. Ibu yang

memiliki dukungan sosial tinggi cenderung mengalami tingkat stres pengasuhan

yang lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang memiliki dukungan sosial rendah.

61
c. Pengaruh Regulasi Emosi*Dukungan Sosial dengan Stres Pengasuhan

Tabel 4.11 Hasil Uji Kruskal-Wallis H


Test Statisticsa,b
Stress Pengasuhan (Y)
Kruskal-Wallis H 56.017
df 8
Asymp. Sig. <,001
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: X1*X2
Sumber: Data Primer di Olah SPSS

Berdasarkan hasil uji Kruskal–Wallis pada Tabel 4.11, diperoleh nilai Chi-

Square (H) sebesar 56.017 dengan derajat bebas (df = 8) dan nilai signifikansi p <

0.001. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05, maka terdapat perbedaan

tingkat stres pengasuhan yang signifikan berdasarkan kombinasi kategori regulasi

emosi dan dukungan sosial.

Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh interaksi

antara regulasi emosi dan dukungan sosial terhadap stres pengasuhan diterima.

Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat stres pengasuhan ibu tidak hanya dipengaruhi

oleh satu faktor secara terpisah, tetapi juga oleh kombinasi keduanya. Ibu dengan

regulasi emosi tinggi dan dukungan sosial tinggi cenderung memiliki stres

pengasuhan yang lebih rendah dibandingkan kombinasi lainnya.

62
C. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat stres

pengasuhan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga jika ditinjau dari regulasi

emosi dan dukungan sosial. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan

uji non-parametrik Kruskal–Wallis, karena data penelitian tidak memenuhi asumsi

normalitas dan homogenitas berdasarkan hasil uji Kolmogorov–Smirnov dan

Levene’s Test (p < 0,05). Dengan demikian, Kruskal–Wallis dipilih sebagai

alternatif dari ANOVA faktorial untuk menguji perbedaan tiga variabel bebas secara

bersamaan terhadap stres pengasuhan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan

dalam tingkat stres pengasuhan berdasarkan regulasi emosi, dukungan sosial, serta

status pekerjaan ibu. Dengan nilai signifikansi di bawah 0,05, maka seluruh

hipotesis kerja (H₁) diterima, sedangkan hipotesis nol (H₀) ditolak.

Hasil uji menunjukkan nilai p = 0.000 < 0.05, yang berarti terdapat

perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Berdasarkan nilai mean rank,

ibu bekerja memiliki rata-rata stres pengasuhan yang lebih tinggi dibandingkan ibu

rumah tangga. Ibu bekerja menghadapi beban psikologis yang lebih besar karena

harus menyeimbangkan peran profesional dan domestik secara bersamaan.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Apreviadizy & Puspitacandri (2017) yang

menyebutkan bahwa ibu bekerja mengalami stres lebih tinggi dibandingkan ibu

tidak bekerja karena tuntutan waktu dan energi yang lebih berat.

Hasil uji Kruskal–Wallis menunjukkan nilai Chi-Square = 18.246 dengan p

= 0.000. Artinya, terdapat perbedaan stres pengasuhan berdasarkan tingkat regulasi

63
emosi. Ibu dengan regulasi emosi rendah memiliki stres pengasuhan tertinggi,

sedangkan ibu dengan regulasi emosi tinggi memiliki stres pengasuhan terendah.

Menunjukkan bahwa kemampuan mengelola dan menilai ulang emosi berperan

penting dalam mengurangi tekanan [Link] ini mendukung penelitian

Eramadhani dkk. (2022) dan Apprilianti (2024) yang membuktikan bahwa semakin

baik kemampuan regulasi emosi, semakin rendah tingkat stres pengasuhan yang

dialami ibu, karena individu mampu mengubah cara pandang terhadap situasi

menekan menjadi lebih positif

Nilai Chi-Square = 15.332 dengan p = 0.001 menunjukkan adanya

perbedaan yang signifikan. Ibu dengan dukungan sosial rendah memiliki tingkat

stres pengasuhan yang paling tinggi. Ibu dengan dukungan sosial tinggi memiliki

stres pengasuhan yang rendah. Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian

Fatkuriyah dkk. (2022) dan Vitoasmara dkk. (2024) yang menegaskan bahwa

dukungan sosial berfungsi sebagai buffer terhadap stres. Dukungan emosional,

penghargaan, serta bantuan instrumental dari pasangan dan keluarga dapat

menurunkan tekanan pengasuhan yang dirasakan ibu.

Nilai Chi-Square = 56.017 (p = 0.000) menunjukkan bahwa kombinasi

regulasi emosi dan dukungan sosial secara bersama-sama berpengaruh signifikan

terhadap stres pengasuhan. Kelompok ibu bekerja dengan regulasi emosi rendah

dan dukungan sosial rendah menunjukkan skor stres pengasuhan paling tinggi.

Sebaliknya, ibu rumah tangga dengan regulasi emosi tinggi dan dukungan sosial

tinggi memiliki stres pengasuhan paling rendah. Membuktikan bahwa stres

64
pengasuhan merupakan hasil interaksi antara faktor internal (kemampuan regulasi

emosi) dan faktor eksternal (dukungan sosial).

Temuan ini menguatkan model Transactional Theory of Stress (Lazarus &

Folkman, 1984) yang menyatakan bahwa stres timbul akibat ketidakseimbangan

antara tuntutan lingkungan dan kemampuan individu dalam menanganinya.

Regulasi emosi berfungsi sebagai bentuk coping strategy internal, sedangkan

dukungan sosial sebagai coping eksternal yang membantu ibu mengurangi tekanan

dari luar.

Dalam konteks pengasuhan, ibu bekerja mengalami tekanan ganda karena

harus menyeimbangkan tuntutan profesional dengan peran domestik, sedangkan

ibu rumah tangga lebih banyak menghadapi tekanan emosional akibat rutinitas, rasa

bosan, atau kurangnya pengakuan sosial. Regulasi emosi dan dukungan sosial

tinggi, kedua kelompok ini mampu menekan stres pengasuhan hingga tingkat

minimal

D. Kelemahan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa kelemahan

penelitian sebagai berikut

a. Desain Penelitian Bersifat Cross-Sectional

Penelitian hanya dilakukan pada satu waktu pengambilan data, sehingga

hasilnya hanya menggambarkan kondisi stres pengasuhan, regulasi emosi, dan

dukungan sosial pada saat itu saja. Perubahan yang mungkin terjadi seiring waktu,

misalnya akibat faktor perkembangan anak atau kondisi pekerjaan, tidak dapat

terpantau.

65
b. Instrumen Pengukuran Menggunakan Self-Report

Pengisian skala dilakukan oleh responden sendiri, sehingga hasilnya sangat

bergantung pada kejujuran dan pemahaman responden terhadap setiap item

pernyataan. Memungkinkan munculnya bias sosial (social desirability bias), di

mana responden cenderung memberikan jawaban yang dianggap baik oleh

masyarakat.

c. Keterbatasan Lokasi dan Representativitas Sampel

Sampel penelitian diambil hanya dari satu wilayah, yaitu Desa Sendangagung,

Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang. Kondisi sosial, budaya, dan ekonomi

di wilayah lain kemungkinan berbeda, sehingga hasil penelitian ini belum dapat

digeneralisasikan secara luas untuk populasi ibu di daerah lain.

66
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji Kruskal–Wallis, maka

dapat disimpulkan beberapa hal berikut:

1. Terdapat perbedaan tingkat stres pengasuhan antara ibu bekerja dan ibu rumah

tangga. Ibu bekerja menunjukkan tingkat stres pengasuhan yang lebih tinggi

dibandingkan ibu rumah tangga. Disebabkan oleh peran ganda yang harus

dijalani, yaitu tanggung jawab profesional di tempat kerja sekaligus tanggung

jawab pengasuhan di rumah.

2. Regulasi emosi berpengaruh terhadap stress pengasuhan. Ibu yang memiliki

regulasi emosi tinggi menunjukkan tingkat stres pengasuhan yang rendah,

karena mampu menilai dan mengendalikan emosinya secara adaptif ketika

menghadapi situasi menekan dalam pengasuhan anak.

3. Dukungan sosial berpengaruh signifikan terhadap stres pengasuhan.

Ibu dengan dukungan sosial tinggi dari pasangan, keluarga, atau teman

memiliki stres pengasuhan yang lebih rendah dibandingkan ibu dengan

dukungan sosial rendah. Dukungan ini memberikan rasa aman, penghargaan,

dan bantuan nyata dalam menghadapi tekanan pengasuhan.

4. Terdapat interaksi antara regulasi emosi dan dukungan sosial terhadap stres

pengasuhan. Kombinasi regulasi emosi tinggi dan dukungan sosial tinggi

menghasilkan tingkat stres pengasuhan paling rendah, sedangkan kombinasi

67
regulasi emosi rendah dan dukungan sosial rendah menghasilkan stres

pengasuhan paling tinggi.

B. SARAN

1. Saran bagi Peneliti Selanjutnya

a. Penelitian berikutnya disarankan menggunakan desain longitudinal agar dapat

melihat dinamika stres pengasuhan, regulasi emosi, dan dukungan sosial dalam

rentang waktu tertentu, terutama seiring pertumbuhan anak.

b. Disarankan memperluas cakupan wilayah dan jumlah sampel, agar hasil

penelitian lebih representatif dan dapat digeneralisasikan untuk ibu di berbagai

latar sosial-budaya

c. Gunakan metode campuran (mixed methods), yaitu menggabungkan

pendekatan kuantitatif dan kualitatif, agar hasil analisis lebih kaya dan mampu

menggambarkan pengalaman subjektif ibu dalam menghadapi stres

pengasuhan.

2. Saran bagi Ibu Rumah Tangga dan Ibu Sebagai Wanita Karir

a. Ibu Sebagai Wanita Karier

1) Penting untuk melatih kemampuan regulasi emosi, misalnya melalui teknik

relaksasi, mindfulness, atau penilaian ulang kognitif agar dapat menekan

emosi negatif saat menghadapi anak setelah bekerja.

2) Membangun komunikasi yang sehat dengan pasangan dan keluarga agar

tanggung jawab pengasuhan dapat dibagi secara proporsional.

3) Menjaga kualitas waktu bersama anak lebih penting daripada jumlah waktu

semata.

68
b. Bagi Ibu Rumah Tangga

1) Membangun kesadaran diri (self-awareness) bahwa peran ibu rumah tangga

memiliki nilai dan kontribusi penting bagi keluarga, sehingga tidak merasa

rendah diri dibandingkan ibu bekerja.

2) Meningkatkan keterampilan pengelolaan diri dan mencari kegiatan positif

di luar rutinitas rumah tangga agar tidak merasa terisolasi secara sosial.

69
LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Analisis Karakteristik Responden

70
Lampiran 2. Hasil Analisis Statistik Deskriptif

Lampiran 3. Uji Validitas Instrumen

Variabel Stress Pengasuhan (Y)

71
Variabel Dukuangan Sosial (X2)

Variabel Regulasi Emosi (X1)

72
Lampiran 4. Uji Reliabilitas

Variabel Stress Pengasuhan (Y)

Variabel Dukuangan Sosial (X2)

Variabel Regulasi Emosi (X1)

Lampiran 5. Hasil Uji Normalitas

Lampiran 6. Hasil Uji Homogenitas

73
Lampiran 7. Hasil Uji Kruskal-Wallis H

Pengaruh Regulasi Emosi dengan Stres Pengasuhan

Pengaruh Dukungan Sosial dengan Stres Pengasuhan

Pengaruh Regulasi Emosi*Dukungan Sosial dengan Stres Pengasuhan

74
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, R. R. (1995). Parenting Stress Index: Professional Manual (3rd ed.).


Psychological Assessment Resources.

Abidin, R. R., & Brunner, J. F. (1995). Development of a Parenting Alliance


Inventory. Journal of Clinical Child Psychology, 21(1), 31–40.
[Link]

Aisyah. (2024). Gambaran parenting stres pada ibu yang menikah di usia muda
terhadap perilaku kekerasan pada anak usia dini. Indonesian Journal of
Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini, 1(1), 123–129.
[Link]

Andarini, S. R., & Fatma, A. (2013). Hubungan antara distress dan dukungan
sosial dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa dalam menyusun
skripsi. Jurnal Psikologi, 2(2), 159–179.

Anthony, L. G., Antonius, B., Glanville, D. N., & Naiman, D. (2009). The
relationship between parenting stress, parenting behaviour and
preschoolers' social competence and behaviour problems in the classroom.
Infant and Child Development, 18(6), 238–254. [Link]

Apprilianti, A. (2024). Hubungan antara regulasi emosi dengan stres pengasuhan


pada ibu yang bekerja. Retrieved from
[Link]
[Link]

Apreviadizy, P., & Puspitacandri, A. (2017). Perbedaan stres ditinjau dari ibu
bekerja dan ibu tidak bekerja. Jurnal Psikologi Tabularasa, 9(1), 58–65.
[Link]
.pdf
Asiyadi, I. P., & Jannah, M. (2021). Hubungan antara parenting stress dengan
parenting self-efficacy pada ibu yang memiliki anak disabilitas intelektual.
Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(5), 1–11.
[Link]

Azwar, S. (2016). Penyusunan skala psikologi (Edisi ke-2, pp. 1–169). Pustaka
Pelajar.

Babetin, K. (2020). The birth of a mother: A psychological transformation. Journal


of Prenatal and Perinatal Psychology and Health, 34(5).

75
Berry, J. O., & Jones, W. H. (1995). The Parental Stress Scale: Initial psychometric
evidence. Journal of Social and Personal Relationships, 12(3), 463–472.
[Link]

Berryhill, M. B. (2018). Single mothers’ home-based school involvement: A


longitudinal analysis. Infant Mental Health Journal, 34(2), 187–202.
[Link]

Cao, Y., Zhang, Q., & Zhao, L. (2024). Association between parents’ perceived
social support and children’s psychological adjustment: A cross-sectional
study. BMC Psychology, 12(1), 135. [Link]
01217-9

Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering
hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310–357.
[Link]

Deater-Deckard, K. (2004). Parenting Stress. Yale University Press.


[Link]

Eramadhani, G. F., & Fitriani, Y. (2022). Regulasi emosi dan parenting stress pada
ibu bekerja. Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan, 1(1), 96.
[Link]

Evalista, M., Razak, A., & Lukman. (2022). Pengaruh stres pengasuhan dan
dukungan sosial keluarga sebagai variabel moderator terhadap
kebahagiaan ibu. Metapsikologi: Jurnal Ilmiah Kajian Psikologi, 1(1), 1–
8. [Link]

Fatkuriyah, L., Madyaning Nastiti, E., Putri, K. A. K., Sudhana, H., & Rosalina, A.
B. (2022). Factors related to parenting stress among mothers with preschool
aged children. Jurnal Kesehatan Dr. Soebandi, 10(1), 7–16.
[Link]
Gina, F., & Fitriani, Y. (2020). Regulasi emosi dan parenting stress pada ibu
bekerja. Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan, 2(2), 96–102.

Goleman, D., Boyatzis, R., & McKee, A. (2006). Kepemimpinan berdasarkan


kecerdasan emosi (Cetakan ke-4). Gramedia Pustaka Utama.

Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review.


Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
[Link]

76
Gross, J. J. (2002). Emotion regulation: Affective, cognitive, and social
consequences. Psychophysiology, 39(3), 281–291.
[Link]

Gross, J. J., & Ford, B. Q. (Eds.). (2024). Handbook of Emotion Regulation (3rd
ed.). Guilford Press.

Gross, J. J., & John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion regulation
processes: Implications for affect, relationships, and well-being. Journal of
Personality and Social Psychology, 85(2), 348–362.
[Link]

Gross, J. J., & Thompson, R. A. (2007). Emotion regulation: Conceptual


foundations. In J. J. Gross (Ed.), Handbook of Emotion Regulation (pp. 3–
24). Guilford Press.

Hapidah. (2018). Perbedaan tingkat stres kerja antara ibu rumah tangga pekerja
publik dan pekerja domestik. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 7(2), 87–
94.

Herdiana, D., Agustiani, H., & Qodariah, L. (2023). Respon ibu menghadapi emosi
negatif anak dan regulasi emosi anak usia 3–5 tahun. Martabat: Jurnal
Perempuan dan Anak, 6(2), 271–294.
[Link]

Jessika, A., Nurwidawati, Riskiana, L., Indrawati, E. S., Evalista, M., Razak, A., ...
Ruhadini, A. (2022). Hubungan antara dukungan sosial orangtua dengan
regulasi emosi pada siswa kelas VIII MTsN Bawu Jepara. Jurnal EMPATI,
1(1), 1–5. [Link]

Johnston, C., Hessl, D., Blasey, C., Eliez, S., Erba, H., Dyer-Friedman, J., Glaser,
B., & Reiss, A. L. (2003). Factors associated with parenting stress in
mothers of children with fragile X syndrome. Journal of Developmental &
Behavioral Pediatrics, 24(4), 267–275. [Link]
200308000-00009

Junaidi, H. (2017). Pemandangan ibu rumah tangga: Stereotipe perempuan


pengangguran. Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). (2022).


Perempuan Indonesia (Vol. 8, No. 1, pp. 1–296).

Kim, H. J., Park, E., & Lee, K. (2022). The moderating effect of social support on
parental stress and depression among mothers of children with disabilities.

77
International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(4),
2238. [Link]

Kumalasari, D., Gani, I. A. A., & Fourianalistyawati, E. (2022). Adaptasi dan


properti psikometri Parental Stress Scale versi Bahasa Indonesia. Jurnal
Psikologi Ulayat, 9(2), 332–353. [Link]

Leung, D. W., & Tsang, S. K. (2010). The relationship between parental stress and
child behavior problems: The mediating role of parenting style. Journal of
Child and Family Studies, 19(6), 682–689. [Link]
009-9350-6

Lestari, S. (2012). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik


dalam keluarga. Kencana.

Martin, C. A., & Colbert, K. K. (1997). Parenting: A life span perspective.


McGraw-Hill.

Meliana, O. (2019). Perlukah pendidikan tinggi bagi seorang ibu rumah tangga?
Binus University. [Link]
tinggi-bagi-seorang-ibu-rumah-tangga/

Nggarang, B. N., & Bodus, O. J. (2019). Hubungan pola asuh orang tua dengan
perilaku sulit makan anak usia prasekolah di Taman Kanak-Kanak
Arengkoe Pagal. Jurnal Wawasan Kesehatan, 4(1), 15–22.
Nisfiannoor, M., & Kartika, Y. (2004). Hubungan antara regulasi emosi dan
penerimaan kelompok teman sebaya pada remaja. Jurnal Psikologi, 2(2),
160–178.

Pan, B., Gong, Y., Wang, Y., Miao, J., Zhao, C., & Li, Y. (2025). The impact of
maternal parenting stress on early childhood development: The mediating
role of maternal depression and the moderating effect of family resilience.
BMC Psychology, 13(1), 15. [Link]

Pratiwi, D. A. (2021). Hubungan antara regulasi emosi dengan stres pengasuhan


pada ibu bekerja. Jurnal Psikologi dan Pendidikan, 8(4), 56–65.

Putra Hayat, A. (2022). Persepsi pola pengasuhan ibu bekerja dan tidak bekerja:
Studi kasus di Gondokusuman Kota Yogyakarta. Jurnal Pelita PAUD, 6(2),
310–320. [Link]
Putri, R. A. (2022). Peran dukungan sosial terhadap stres pengasuhan pada ibu
dengan anak usia dini. Jurnal Empati, 11(2), 112–121.

78
Rachmayani, F. (2018). Stres pengasuhan pada ibu bekerja ditinjau dari konflik
peran ganda dan dukungan sosial. Jurnal Psikologi Insight, 10(1), 14–25.

Rahayu, S., & Wulan, H. (2025). Dampak mindful parenting terhadap regulasi
emosi anak dalam pola asuh orang tua. Asian Journal of Multidisciplinary
Research, 1(3), 114–121. [Link]

Radde, H. A., Nurrahmah, A. N., & Saudi, N. A. (2021). Uji validitas konstruk dari
Emotion Regulation Questionnaire versi Bahasa Indonesia dengan
menggunakan confirmatory factor analysis. Jurnal Psikologi Karakter,
1(2), 156–160.

Santrock, J. W. (2008). Life-span development. McGraw-Hill Higher Education.

Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2014). Health psychology (8th ed.). John Wiley &
Sons.

Sari, D. R. A., Ramlis, R., & Sutrisna, M. (2022). Hubungan pola asuh orang tua
dengan kejadian temper tantrum pada anak prasekolah (usia 3–6 tahun) di
PAUD IT Auladuna 1 Kota Bengkulu. Journal of Nursing and Public Health,
10(1), 1–8.

Sari, M. F., & Andayani, B. (2021). Efektivitas pengasuhan positif untuk


menurunkan stres pengasuhan ibu bekerja dengan anak usia prasekolah.
Gadjah Mada Journal of Professional Psychology, 7(2), 174–186.
[Link]

Sari, N., & Rachmawati, R. (2020). Hubungan dukungan sosial dan stres
pengasuhan pada ibu anak prasekolah. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan,
8(2), 95–104.

Shaffer, D. (2005). Perkembangan sosial dan kepribadian. Erlangga.

Song, S., Yamashita, N., & Kim, J. (2020). Bodeum: Encouraging working parents
to provide emotional support for stay-at-home parents in Korea.
Proceedings of the 14th International Conference on Pervasive Computing
Technologies for Healthcare (pp. 38–49). ACM.
[Link]
Sugiyono, D. (2013). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan.
Alfabeta.
Supriatin, S., Halimah, A., Yudistira, Leksonowati, S. S., & Erawan, T. (2024). The
influence of parenting styles of working and non-working mothers on

79
children’s independence. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 10(2), 851–858.
[Link]

Thompson, R. A. (1994). Emotion regulation: A theme in search of definition.


Monographs of the Society for Research in Child Development, 59(2–3),
25–52. [Link]

Utami, R. (2020). Dukungan sosial, regulasi emosi, dan stres pengasuhan pada ibu
bekerja. Psikostudia: Jurnal Psikologi, 9(1), 23–32.
[Link]

Vitoasmara, K., Saputri, M. E., Larasati, N., Putri, N. K., & Ratnawati, O. (2024).
Parenting stres ibu bekerja pada kesehatan mental anak. Jurnal Mahasiswa
Ilmu Kesehatan, 2(4), 15–26.

Webb, L. K., Stone, P. R., & Johnson, D. (2010). Pengaturan emosi ibu dan
masalah perilaku anak dalam keluarga dengan anak kecil. Jurnal Isu
Keluarga, 31(10), 1293–1314.

Wibowo, A., & Saidiyah, S. (2019). Proses pengasuhan ibu bekerja. Jurnal
Psikologi Integratif, 1(1), 105–123.

Yuliani, F. (2019). Pengaruh regulasi emosi dan dukungan sosial terhadap stres
pengasuhan pada ibu dengan anak usia prasekolah. Jurnal Psikologi
Pendidikan dan Perkembangan, 8(3), 198–209.
Zhang, W., Liu, H., & Chen, L. (2020). Emotion regulation and parent distress:
Getting at the heart of parenting. Frontiers in Psychology, 11, 1453.
[Link]

Zimet, G. D., Dahlem, N. W., Zimet, S. G., & Farley, G. K. (1988). The
Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Journal of Personality
Assessment, 52(1), 30–41. [Link]

80

Anda mungkin juga menyukai