0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan5 halaman

Komunikasi Verbal dan Non Verbal Digital

MONYET

Diunggah oleh

Hasim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan5 halaman

Komunikasi Verbal dan Non Verbal Digital

MONYET

Diunggah oleh

Hasim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : HASIM ASHARI

NIM : 859540165

UPBJJ : BANDAR LAMPUNG

Masa Registrasi : 2025.2

Peran Komunikasi Verbal dan Non Verbal di Era Digital

Transformasi Pola Komunikasi di Era Digital

Era digital telah mengubah secara fundamental cara masyarakat


berkomunikasi. Komunikasi tidak lagi didominasi oleh interaksi tatap muka,
melainkan dimediasi oleh teknologi seperti media sosial, aplikasi
perpesanan, dan platform video conference. Dalam konteks ini, komunikasi
verbal dan non verbal mengalami adaptasi signifikan.

1. Peran Komunikasi Verbal di Era Digital

Komunikasi verbal di era digital mengalami ekspansi dalam bentuk:

 Teks tertulis menjadi medium dominan melalui WhatsApp, email, dan


media sosial

 Pesan suara (voice note) yang mempertahankan elemen


paralinguistik seperti intonasi dan volume

 Video call yang menggabungkan verbal lisan dengan visual

Menurut Thurlow, Lengel, dan Tomic (2004), komunikasi digital telah


menciptakan "register bahasa baru" yang menggabungkan ciri bahasa lisan
dan tulisan. Singkatan, akronim, dan gaya bahasa informal menjadi norma
dalam komunikasi digital, mencerminkan kebutuhan akan efisiensi dan
kedekatan emosional meskipun terpisah jarak.

2. Peran Komunikasi Non Verbal di Era Digital

Komunikasi non verbal di era digital mengalami transformasi menarik:

a. Emoji dan Emoticon Berfungsi sebagai pengganti ekspresi wajah dan


gesture. Penelitian oleh Glikson, Cheshin, dan van Kleef (2018) menunjukkan
bahwa emoji dapat meningkatkan kehangatan persepsi dalam komunikasi
digital dan mengurangi ambiguitas pesan.

b. GIF dan Meme Menyampaikan emosi, reaksi, dan konteks sosial yang
sulit diekspresikan melalui teks biasa.

c. Tanda Baca dan Tipografi Penggunaan huruf kapital (menunjukkan


"berteriak"), spasi, dan tanda seru berfungsi sebagai indikator nada dan
intensitas emosi.

d. Waktu Respons Kecepatan membalas pesan menjadi isyarat non verbal


tentang minat, prioritas, dan kesopanan (Kalman & Rafaeli, 2011).

e. Status dan Kehadiran Digital Indikator "sedang mengetik", "terakhir


dilihat", atau status online menjadi bentuk komunikasi non verbal baru yang
mempengaruhi ekspektasi dan dinamika interaksi.

Interaksi Pesan Non Verbal dengan Pesan Verbal

Komunikasi efektif terjadi ketika pesan verbal dan non verbal saling
melengkapi. Menurut Knapp, Hall, dan Horgan (2013), terdapat beberapa
cara pesan non verbal berinteraksi dengan pesan verbal:

1. Repetisi (Pengulangan)

Pesan non verbal memperkuat atau mengulang pesan verbal.

Contoh:

 Mengatakan "Saya sangat senang!" disertai emoji 😊🎉

 Dalam video call, mengangguk sambil berkata "Ya, saya setuju"

2. Substitusi (Penggantian)

Pesan non verbal menggantikan pesan verbal sepenuhnya.

Contoh:

 Mengirim emoji 👍 sebagai pengganti kata "Oke" atau "Setuju"

 Mengangkat jempol dalam rapat online tanpa berbicara

 Reaction pada pesan (❤️, 😂) menggantikan komentar verbal

3. Kontradiksi (Pertentangan)
Pesan non verbal bertentangan dengan pesan verbal, sering kali
mengungkapkan perasaan sebenarnya.

Contoh:

 Mengatakan "Saya baik-baik saja" tetapi ekspresi wajah terlihat


murung dalam video call

 Menulis "Tidak masalah" dengan jeda waktu balasan sangat lama yang
menunjukkan ketidaknyamanan

 Menurut Mehrabian (1971), ketika terjadi kontradiksi, orang cenderung


lebih percaya pada isyarat non verbal

4. Komplemen (Pelengkap)

Pesan non verbal menambah nuansa atau detail pada pesan verbal.

Contoh:

 Mengatakan "Terima kasih banyak" disertai emoji 🙏💖 menunjukkan


gratitude yang lebih dalam

 Menjelaskan sesuatu dengan bantuan gesture tangan dalam video


conference

 Menggunakan intonasi suara dalam voice note untuk menekankan


bagian penting pesan

5. Aksentuasi (Penekanan)

Pesan non verbal menekankan bagian tertentu dari pesan verbal.

Contoh:

 Menulis "SANGAT penting" dengan huruf kapital

 Menggunakan bold atau italic untuk menekankan kata kunci

 Menaikkan volume suara saat berbicara dalam panggilan video

 Mengulang emoji berkali-kali untuk intensitas: "Lucu sekali!!! 😂😂😂"

6. Regulasi (Pengaturan)

Pesan non verbal mengatur alur komunikasi.


Contoh:

 Indikator "sedang mengetik..." memberi tahu lawan bicara untuk


menunggu

 Kontak mata dalam video call menunjukkan giliran berbicara

 Mengangkat tangan dalam webinar untuk meminta kesempatan


bertanya

Tantangan Komunikasi di Era Digital

Meskipun teknologi menyediakan berbagai cara untuk menggantikan isyarat


non verbal tradisional, beberapa tantangan tetap ada:

1. Kehilangan Konteks Paralinguistik: Komunikasi teks kehilangan


intonasi, nada, dan ritme bicara yang penting untuk interpretasi makna
(Byron, 2008).

2. Ambiguitas: Emoji dapat diinterpretasikan berbeda-beda tergantung


konteks budaya dan personal.

3. Kelelahan Digital: Komunikasi video yang berkepanjangan


menimbulkan "Zoom fatigue" karena beban kognitif ekstra untuk
menginterpretasi isyarat non verbal yang terbatas (Bailenson, 2021).

4. Kesalahpahaman: Tanpa isyarat non verbal yang lengkap, pesan


dapat disalahartikan, terutama sarkasme atau humor.

Kesimpulan

Di era digital, komunikasi verbal dan non verbal tetap memegang peran
krusial, meskipun dalam bentuk yang teradaptasi. Masyarakat
mengembangkan "literasi digital" baru untuk mengompensasi keterbatasan
medium digital. Emoji, GIF, tipografi, dan timing menjadi ekuivalen digital
dari ekspresi wajah, gesture, dan prosodi dalam komunikasi tatap muka.

Pemahaman yang baik tentang bagaimana pesan non verbal melengkapi


pesan verbal menjadi kunci komunikasi efektif di era digital. Kesadaran akan
potensi kesalahpahaman mendorong komunikator untuk lebih eksplisit
dalam mengungkapkan maksud dan lebih sensitif dalam menginterpretasi
pesan orang lain.
Referensi

Bailenson, J. N. (2021). Nonverbal overload: A theoretical argument for the


causes of Zoom fatigue. Technology, Mind, and Behavior, 2(1).
[Link]

Byron, K. (2008). Carrying too heavy a load? The communication and


miscommunication of emotion by email. Academy of Management Review,
33(2), 309-327. [Link]

Glikson, E., Cheshin, A., & van Kleef, G. A. (2018). The dark side of a smiley:
Effects of smiling emoticons on virtual first impressions. Social Psychological
and Personality Science, 9(5), 614-625.
[Link]

Kalman, Y. M., & Rafaeli, S. (2011). Online pauses and silence: Chronemic
expectancy violations in written computer-mediated communication.
Communication Research, 38(1), 54-69.
[Link]

Knapp, M. L., Hall, J. A., & Horgan, T. G. (2013). Nonverbal communication in


human interaction (8th ed.). Wadsworth Cengage Learning.

Mehrabian, A. (1971). Silent messages. Wadsworth Publishing Company.

Thurlow, C., Lengel, L., & Tomic, A. (2004). Computer mediated


communication: Social interaction and the internet. Sage Publications.

Anda mungkin juga menyukai