0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan10 halaman

Dampak Pembelajaran Daring pada Motivasi Mahasiswa

MACAN

Diunggah oleh

Hasim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan10 halaman

Dampak Pembelajaran Daring pada Motivasi Mahasiswa

MACAN

Diunggah oleh

Hasim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : HASIM ASHARI

NIM : 859540165

UPBJJ : BANDAR LAMPUNG

Masa Registrasi : 2025.2

PENGARUH PEMBELAJARAN DARING TERHADAP MOTIVASI BELAJAR


MAHASISWA PADA MASA PASCAPANDEMI: STUDI KASUS DI
UNIVERSITAS LAMPUNG

ABSTRAK

Latar Belakang: Pembelajaran daring yang diterapkan selama pandemi


COVID-19 telah mengubah paradigma pendidikan tinggi di Indonesia.
Pascapandemi, perlu dilakukan evaluasi terhadap dampak pembelajaran
daring terhadap motivasi belajar mahasiswa.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembelajaran


daring terhadap motivasi belajar mahasiswa Universitas Lampung pada
tahun 2024.

Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain


survey. Sampel penelitian sebanyak 248 mahasiswa dipilih menggunakan
teknik stratified random sampling dari berbagai fakultas. Instrumen
penelitian berupa kuesioner motivasi belajar MSLQ (Motivated Strategies for
Learning Questionnaire) yang telah diadaptasi (α = 0,89). Data dianalisis
menggunakan regresi linear sederhana dan uji t independen.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran daring


berpengaruh negatif signifikan terhadap motivasi belajar mahasiswa (β = -
0,42; p < 0,001; R² = 0,18). Rata-rata skor motivasi belajar kelompok
pembelajaran daring (M = 68,3; SD = 12,5) lebih rendah secara signifikan
dibandingkan kelompok pembelajaran tatap muka (M = 78,6; SD = 10,2);
t(246) = -7,12; p < 0,001; d = 0,91.

Kesimpulan: Pembelajaran daring pascapandemi masih berdampak negatif


terhadap motivasi belajar mahasiswa. Diperlukan strategi pembelajaran
campuran (blended learning) yang mengoptimalkan aspek sosial dan
interaktif untuk meningkatkan motivasi belajar.
Kata kunci: pembelajaran daring, motivasi belajar, pendidikan tinggi,
pascapandemi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 telah
membawa perubahan fundamental dalam sistem pendidikan. Di Indonesia,
kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran daring
diberlakukan secara masif pada Maret 2020 melalui Surat Edaran Mendikbud
Nomor 4 Tahun 2020. Perguruan tinggi di seluruh Indonesia, termasuk
Universitas Lampung, beralih dari pembelajaran tatap muka konvensional ke
pembelajaran daring sepenuhnya.

Pembelajaran daring memanfaatkan teknologi digital dan platform e-learning


untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar tanpa kehadiran fisik di
ruang kelas. Meskipun pandemi telah berakhir dan pembelajaran tatap muka
telah kembali dilaksanakan sejak akhir 2022, banyak institusi pendidikan
tinggi yang masih mempertahankan sebagian elemen pembelajaran daring
dalam format blended learning (Sadikin & Hamidah, 2020).

Motivasi belajar merupakan salah satu faktor krusial yang memengaruhi


keberhasilan akademik mahasiswa. Menurut teori Self-Determination dari
Deci dan Ryan (2000), motivasi belajar dipengaruhi oleh tiga kebutuhan
psikologis dasar: otonomi (autonomy), kompetensi (competence), dan
keterkaitan sosial (relatedness). Pembelajaran daring yang terisolasi secara
fisik berpotensi mengurangi pemenuhan kebutuhan keterkaitan sosial,
sehingga dapat berdampak pada penurunan motivasi belajar.

Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang beragam. Penelitian


Octaberlina dan Muslimin (2020) menemukan bahwa 67% mahasiswa
mengalami penurunan motivasi selama pembelajaran daring. Sebaliknya,
studi oleh Asmuni (2020) melaporkan bahwa fleksibilitas waktu dalam
pembelajaran daring justru meningkatkan motivasi belajar mandiri pada
sebagian mahasiswa. Perbedaan temuan ini mengindikasikan perlunya
penelitian lebih lanjut dengan konteks yang spesifik.

Di Universitas Lampung, pascapandemi mahasiswa masih terpapar dengan


pembelajaran daring parsial dalam beberapa mata kuliah. Namun, belum
ada penelitian sistematis yang mengukur dampak pembelajaran daring
terhadap motivasi belajar mahasiswa di institusi ini. Penelitian ini penting
untuk memberikan dasar empiris bagi pengambilan kebijakan pembelajaran
di masa depan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Apakah terdapat pengaruh pembelajaran daring terhadap motivasi


belajar mahasiswa Universitas Lampung?

2. Apakah terdapat perbedaan motivasi belajar antara mahasiswa yang


mengikuti pembelajaran daring dengan pembelajaran tatap muka?

3. Seberapa besar kontribusi pembelajaran daring terhadap variasi


motivasi belajar mahasiswa?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis pengaruh pembelajaran daring terhadap motivasi belajar


mahasiswa Universitas Lampung.

2. Membandingkan tingkat motivasi belajar antara mahasiswa yang


mengikuti pembelajaran daring dengan pembelajaran tatap muka.

3. Mengukur besaran kontribusi pembelajaran daring terhadap variasi


motivasi belajar mahasiswa.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi


pada pengembangan teori motivasi belajar dalam konteks pembelajaran
digital, khususnya di Indonesia.

Manfaat Praktis:

1. Bagi institusi: Memberikan dasar empiris untuk merumuskan kebijakan


pembelajaran yang lebih efektif.

2. Bagi dosen: Memberikan wawasan tentang strategi meningkatkan


motivasi mahasiswa dalam pembelajaran daring.

3. Bagi mahasiswa: Meningkatkan kesadaran tentang faktor-faktor yang


memengaruhi motivasi belajar mereka.
1.5 Hipotesis Penelitian

H₁: Terdapat pengaruh negatif yang signifikan dari pembelajaran daring


terhadap motivasi belajar mahasiswa (β < 0; p < 0,05).

H₂: Rata-rata motivasi belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran


daring lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang
mengikuti pembelajaran tatap muka (μ₁ < μ₂; p < 0,05).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran Daring

2.1.1 Definisi Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring (online learning) adalah metode pembelajaran yang


menggunakan jaringan internet dengan aksesibilitas, konektivitas,
fleksibilitas, dan kemampuan untuk memunculkan berbagai jenis interaksi
pembelajaran (Moore, Dickson-Deane, & Galyen, 2011). Pembelajaran daring
dapat dilakukan secara sinkron (real-time) maupun asinkron (tidak real-
time).

Menurut Anderson (2008), pembelajaran daring yang efektif harus


memenuhi tiga bentuk interaksi: (1) interaksi mahasiswa-konten, (2)
interaksi mahasiswa-dosen, dan (3) interaksi mahasiswa-mahasiswa. Ketiga
bentuk interaksi ini berkontribusi pada keberhasilan pembelajaran.

2.1.2 Karakteristik Pembelajaran Daring

Karakteristik pembelajaran daring menurut Rusman (2012) meliputi:

1. Interaktivitas: Tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak

2. Kemandirian: Fleksibilitas waktu dan tempat belajar

3. Aksesibilitas: Sumber belajar dapat diakses kapan saja

4. Pengayaan: Materi dapat diperkaya dengan berbagai media

2.1.3 Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Daring

Kelebihan:

 Fleksibilitas waktu dan tempat (Bao, 2020)


 Efisiensi biaya transportasi dan akomodasi

 Pengembangan literasi digital mahasiswa

 Akses ke sumber belajar yang lebih luas

Kekurangan:

 Keterbatasan interaksi sosial langsung (Dhawan, 2020)

 Ketergantungan pada infrastruktur teknologi

 Memerlukan disiplin diri yang tinggi

 Kurangnya pengawasan langsung

2.2 Motivasi Belajar

2.2.1 Definisi Motivasi Belajar

Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada mahasiswa


yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku dengan
beberapa indikator atau unsur yang mendukung (Uno, 2016). Pintrich dan
Schunk (2002) mendefinisikan motivasi belajar sebagai proses yang
memberikan energi, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku belajar.

2.2.2 Teori Motivasi Belajar

Self-Determination Theory (SDT)

Teori ini dikembangkan oleh Deci dan Ryan (2000) yang menyatakan bahwa
motivasi intrinsik muncul dari tiga kebutuhan psikologis dasar:

1. Otonomi (autonomy): Kebutuhan untuk merasa memiliki kendali


atas tindakan sendiri

2. Kompetensi (competence): Kebutuhan untuk merasa mampu dan


efektif

3. Keterkaitan (relatedness): Kebutuhan untuk merasa terhubung


dengan orang lain

Dalam konteks pembelajaran daring, pemenuhan ketiga kebutuhan ini dapat


terganggu karena berkurangnya interaksi sosial langsung dan pengawasan
yang kurang intensif.

Achievement Goal Theory


Teori ini membedakan motivasi menjadi:

 Mastery goal: Fokus pada penguasaan materi dan pengembangan


kompetensi

 Performance goal: Fokus pada pencapaian nilai dan perbandingan


dengan orang lain

Elliot dan McGregor (2001) menemukan bahwa mastery goal lebih stabil dan
menghasilkan hasil belajar yang lebih baik dalam jangka panjang.

2.2.3 Indikator Motivasi Belajar

Menurut Pintrich et al. (1991), indikator motivasi belajar dalam MSLQ


meliputi:

1. Nilai intrinsik: Kepuasan internal dari belajar

2. Nilai ekstrinsik: Orientasi pada nilai dan penghargaan

3. Nilai tugas: Persepsi tentang pentingnya materi

4. Keyakinan kontrol: Kepercayaan bahwa usaha menentukan hasil

5. Efikasi diri: Kepercayaan pada kemampuan sendiri

6. Kecemasan ujian: Tingkat kecemasan saat menghadapi evaluasi

2.3 Pengaruh Pembelajaran Daring terhadap Motivasi Belajar

Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara pembelajaran daring


dengan motivasi belajar:

Penelitian yang Menunjukkan Pengaruh Negatif:

Dhawan (2020) menemukan bahwa isolasi sosial dalam pembelajaran daring


mengurangi motivasi belajar mahasiswa di India. Demikian pula, penelitian
Bao (2020) di China menunjukkan penurunan engagement mahasiswa
sebesar 34% selama pembelajaran daring penuh.

Di Indonesia, Octaberlina dan Muslimin (2020) melaporkan bahwa 67%


mahasiswa mengalami penurunan motivasi karena masalah koneksi internet,
kurangnya interaksi dengan dosen, dan minimnya pengawasan.

Penelitian yang Menunjukkan Pengaruh Positif:


Sebaliknya, García dan Weiss (2020) menemukan bahwa fleksibilitas
pembelajaran daring meningkatkan motivasi belajar mahasiswa yang
memiliki tanggung jawab pekerjaan atau keluarga. Pembelajaran asinkron
memberikan otonomi yang lebih besar, memenuhi kebutuhan SDT.

Penelitian Mixed:

Hodges et al. (2020) menemukan bahwa dampak pembelajaran daring


bersifat individual, tergantung pada karakteristik mahasiswa seperti disiplin
diri, literasi digital, dan dukungan lingkungan belajar di rumah.

2.4 Kerangka Berpikir

Berdasarkan tinjauan teori dan penelitian terdahulu, kerangka berpikir


penelitian ini adalah:

Pembelajaran Daring Motivasi Belajar

(Variabel Independen) ───────→ (Variabel Dependen)

Indikator: Indikator:

- Frekuensi pembelajaran daring - Nilai intrinsik

- Durasi pembelajaran daring - Nilai ekstrinsik

- Platform yang digunakan - Nilai tugas

- Jenis interaksi - Keyakinan kontrol

- Efikasi diri

- Kecemasan ujian

Variabel Kontrol:

- Jenis kelamin

- Semester

- IPK

- Akses internet
Pembelajaran daring diduga berpengaruh negatif terhadap motivasi belajar
karena:

1. Berkurangnya interaksi sosial langsung (mengurangi relatedness)

2. Kurangnya pengawasan dan feedback langsung (mengurangi


competence)

3. Kendala teknis yang menghambat proses belajar

4. Kelelahan digital (digital fatigue)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post


facto dan comparative-causal. Pendekatan kuantitatif dipilih karena
penelitian ini bertujuan menguji hipotesis tentang pengaruh dan perbedaan
antarvariabel menggunakan analisis statistik (Creswell, 2014).

Desain ex post facto digunakan karena variabel independen (pembelajaran


daring) tidak dimanipulasi oleh peneliti, tetapi sudah terjadi secara alami.
Desain comparative-causal digunakan untuk membandingkan motivasi
belajar antara kelompok mahasiswa yang mengikuti pembelajaran daring
dengan pembelajaran tatap muka.

3.2 Populasi dan Sampel

Populasi: Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa aktif Universitas


Lampung tahun akademik 2024/2025 yang berjumlah 24.567 mahasiswa
dari 8 fakultas.

Sampel: Penentuan ukuran sampel menggunakan rumus Slovin:

$$n = \frac{N}{1 + N(e)^2}$$

di mana:

 n = ukuran sampel

 N = ukuran populasi (24.567)

 e = margin of error (0,05)


$$n = \frac{24.567}{1 + 24.567(0,05)^2} = \frac{24.567}{1 + 61,42} = \
frac{24.567}{62,42} = 393,52 ≈ 394$$

Dengan mempertimbangkan potensi drop out responden sebesar 15%, maka


ukuran sampel menjadi:

$$n_{adjusted} = \frac{394}{1 - 0,15} = \frac{394}{0,85} = 463,53 ≈


464$$

Namun, dalam pelaksanaannya, peneliti berhasil mendapatkan 248


responden yang memenuhi kriteria dan mengisi kuesioner secara lengkap.

Teknik Sampling: Teknik sampling yang digunakan adalah stratified


random sampling dengan fakultas sebagai strata. Proporsi sampel dari setiap
fakultas dihitung menggunakan rumus:

$$n_i = \frac{N_i}{N} \times n$$

di mana:

 nᵢ = jumlah sampel dari strata i

 Nᵢ = jumlah populasi pada strata i

 N = total populasi

 n = total sampel

Distribusi sampel dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Fakultas

Fakult Popul Persent Sampel Sampel


as asi ase Target Aktual

FKIP 5.230 21,28% 99 54

FH 3.456 14,07% 65 36

FEB 4.123 16,78% 78 41

Fisip 2.890 11,76% 55 29

Teknik 3.678 14,97% 69 38


Fakult Popul Persent Sampel Sampel
as asi ase Target Aktual

Pertani
2.345 9,54%
an

Anda mungkin juga menyukai