LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Jiwa
Dosen Pembimbing: Ns. Siti Nurjannah, [Link]., [Link].,[Link].,
Disusun Oleh :
Arneta Agil Istiqomah
2511040021
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2025
I. Masalah Utama
Risiko Bunuh Diri
II. Definisi
Risiko bunuh diri ditandai oleh beberapa perilaku observasional seperti penarikan
diri dari lingkungan sosial, pemberian barang-barang pribadi kepada orang lain,
peningkatan konsumsi alkohol atau obat-obatan, serta perubahan mendadak dalam
suasana hati (Sousa et al., 2019).
Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena pasien berada dalam keadaan
stres yang tinggi dan menggunakan koping yang maladaptif. Situasi gawat pada
bunuh diri adalah saat ide bunuh diri timbul secara berulang tanpa rencana yang
spesifik atau percobaan bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk bunuh diri. Oleh
karena itu, diperlukan pengetahuan dan keterampilan perawat yang tinggi dalam
merawat pasien dengan tingkah laku bunuh diri, agar pasien tidak melakukan
tindakan bunuh diri (Ah. Yusuf et al., 2020). Risiko bunuh diri adalah berisiko
melakukan upaya menyakiti diri sendiri untuk mengakhiri kehidupan (Tim Pokja
PPNI, 2016).
III. Rentang Respons Protektif Diri (Ah. Yusuf et al., 2020)
Adaptif Maladaptif
Peningkatan Pertumbuhan Perilaku Pencederaan Bunuh diri
Diri Peningkatan destruktif diri diri
Berisiko tak langsung
Keterangan
1. Peningkatan diri yaitu seorang individu yang mempunyai pengharapan, yakin,
dan kesadaran diri meningkat.
2. Pertumbuhan-peningkatan berisiko, yaitu merupakan posisi pada rentang yang
masih normal dialami individu yang mengalami perkembangan perilaku.
3. Perilaku destruktif diri tak langsung, yaitu setiap aktivitas yang merusak
kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada kematian, seperti
perilaku merusak, mengebut, berjudi, tindakan kriminal, terlibat dalam
rekreasi yang berisiko tinggi, penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang
secara sosial, dan perilaku yang menimbulkan stres.
4. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri yang
dilakukan dengan sengaja. Pencederaan dilakukan terhadap diri sendiri, tanpa
bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh.
Bentuk umum perilaku pencederaan diri termasuk melukai dan membakar kulit,
membenturkan kepala atau anggota tubuh, melukai tubuhnya sedikit demi
sedikit, dan menggigit jari.
5. Bunuh diri, yaitu tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk
mengakhiri kehidupan.
IV. Klasifikasi Bunuh Diri (Ah. Yusuf et al., 2020)
1. Bunuh diri egoistik
Akibat seseorang yang mempunyai hubungan sosial yang buruk.
2. Bunuh diri altruistik
Akibat kepatuhan pada adat dan kebiasaan.
3. Bunuh diri anomik
Akibat lingkungan tidak dapat memberikan kenyamanan bagi individu
V. Pengelompokan Bunuh Diri (Ah. Yusuf et al., 2020)
1. Isyarat bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin
bunuh diri, misalnya dengan mengatakan “Tolong jaga anak-anak karena saya
akan pergi jauh!” atau “Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.” Pada kondisi
ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, tetapi tidak
disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien umumnya
mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah/sedih/marah/putus asa/tidak
berdaya. Pasien juga mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang
menggambarkan harga diri rendah.
2. Ancaman bunuh diri
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, yang berisi keinginan untuk mati
disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk
melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan rencana bunuh
diri, tetapi tidak disertai dengan percobaan bunuh diri. Walaupun dalam kondisi ini
pasien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat harus dilakukan.
Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan pasien untuk melaksanakan rencana bunuh
dirinya.
3. Percobaan bunuh diri
Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai atau melukai diri untuk
mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, pasien aktif mencoba bunuh diri dengan
cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat
yang tinggi.
VI. Proses Terjandinya Masalah (Patofisiologis)
A. Proses Terjadinya Perilaku Bunuh Diri (Ah. Yusuf et al., 2020)
Niat Penjabaran Tindakan
Motivasi Krisis bunuh diri
gagasan bunuh diri
Jetitan minta
Hidup atau Konsep tolong
mati bunuh diri Catatan
bunuh diri
Setiap upaya percobaan bunuh diri selalu diawali dengan adanya motivasi untuk
bunuh diri dengan berbagai alasan, berniat melaksanakan bunuh diri,
mengembangkan gagasan sampai akhirnya melakukan bunuh diri. Oleh karena itu,
adanya percobaan bunuh diri merupakan masalah keperawatan yang harus
mendapatkan perhatian serius. Sekali pasien berhasil mencoba bunuh diri, maka
selesai riwayat pasien. Untuk itu, perlu diperhatikan beberapa mitos (pendapat yang
salah) tentang bunuh diri
B. Faktor Risiko (Ah. Yusuf et al., 2020)
1. Menurut Hatton, Valente, dan Rink, 1977 (dikutip oleh Shiver,
1986)
No. Perilaku/Gejala Intensitas Risiko
Rendah Sedang Berat
1. Cemas Rendah Sedang Tinggi atau
panik
2. Depresi Rendah Sedang Berat
3. Isolasi/menarik Perasaan depresi Perasaan tidak Tidak berdaya,
diri yang samar, berdaya, putus putus asa, protes
tidak menarik asa, menarik diri pada diri sendiri
diri
4. Fungsi sehari- Umumnya baik Baik pada Tidak baik pada
hari pada semua beberapa semua aktivitas
aktivitas aktivitas
5. Sumber-sumber Beberapa Sedikit Kurang
6. Strategi koping Umumnya Sebagian Sebagian besar
konstruktif konstruktif konstruktif
7. Orang Beberapa Sedikit atau -
penting/dekat hanya satu
8. Pelayanan Tidak, sikap Ya, umumnya Bersikap
psikiater yang positif memuaskan negative
lalu terhadap
pertolongan
9. Pola hidup Stabil Sedang (stabil- Tidak stabil
tidak stabil)
10. Pemakaian Tidak sering Sering Terus menerus
alcohol dan obat
11. Percobaan Tidak atau yang Dari tidak Dari tidak
bunuh diri tidak fatal sampai dengan sampai berbagai
sebelumnya cara yang agak cara yang fatal
fatal
12. Disorientasi dan Tidak ada Beberapa Jelas atau ada
disorganisasi
13. Bermusuhan Tidak atau Beberapa Jelas atau ada
sedikit
14. Rencana bunuh Samar, kadang- Sering Sering dan
diri kadang ada dipikirkan, konstan
pikiran, tidak ada kadang-kadang dipikirkan
rencana ada ide unuk dengan rencana
merencanakan yang spesifik
2. Menurut SIRS (Suicidal Intention Rating Scale)
Skor 0 : Tidak ada ide bunuh diri yang lalu dan sekarang.
Skor 1 : Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh diri, tidak
mengancam bunuh diri.
Skor 2 : Memikirkan bunuh diri dengan aktif, tidak ada
percobaan bunuh diri.
Skor 3 : Mengancam bunuh diri, misalnya, “Tinggalkan saya
sendiri atau saya bunuh diri”.
Skor 4 : Aktif mencoba bunuh diri
3. Menurut Stuart dan Sundeen (1987)
Faktor Risiko Tinggi Risiko Rendah
Umur > 45 tahun dan remaja 25-45 tahun atau < 12
tahun
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
Status Perkawinan Cerai, pisah, janda/duda Kawin
Jabatan Professional Pekerja kasar
Pekerjaan Pengangguran Pekerja
Penyakit kronis Kronik, terminal Tidak ada yang serius
Gangguan mental Depresi, halusinasi Gangguan kepribadian
4. Menurut Tim Pokja PPNI (2016) SDKI
a. Gangguan perilaku (mis. euphoria mendadak setelah depresi),
perilaku mencari senjata berbahaya, membeli obat dalam jumlah
banual, membuat surat warisan)
b. Demografi (Mis. Lanisa, status perceraian, janda/duda, ekonomi
rendah, pengangguran)
c. Gangguan fisik (mis. nyeri kronis,penyakit terminal)
d. Masalah sosial (mis. berduka, tidak berdaya, putus asa, kesepian,
kehilangan hubungan yang penting, isolasi sosial)
e. Gangguan psikologis (mis. penganiayaan masa kanak-kanak,
riwayat bunuh diri sebelumnya, remaja homoseksual, gangguan
psikiatrik, penyakit piskiatrik, penyalahgunaan zat)
C. Faktor Perilaku (Ah. Yusuf et al., 2020)
1. Ketidakpatuhan
Ketidakpatuhan biasanya dikaitkan dengan program pengobatan yang
dilakukan (pemberian obat). Pasien dengan keinginan bunuh diri
memilih untuk tidak memperhatikan dirinya.
2. Pencederaan diri
Cedera diri adalah sebagai suatu tindakan membahayakan diri sendiri
yang dilakukan dengan sengaja. Pencederaan diri dilakukan terhadap
diri sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah
untuk melukai tubuh.
3. Perilaku bunuh diri
Biasanya dibagi menjadi tiga kategori, yaitu sebagai berikut.
a. Ancaman bunuh diri, yaitu peringatan verbal dan nonverbal bahwa
orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang
tersebut mungkin menunjukkan secara verbal bahwa ia tidak akan
berada di sekitar kita lebih lama lagi atau mungkin juga
mengomunikasikan secara nonverbal melalui pemberian hadiah,
merevisi wasiatnya, dan sebagainya.
b. Upaya bunuh diri, yaitu semua tindakan yang diarahkan pada diri
sendiri yang dilakukan oleh individu yang dapat mengarahkan
pada kematian jika tidak dicegah.
c. Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan
atau terabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan yang
tidak benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda
tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.
D. Faktor Presdisposisi (Ah. Yusuf et al., 2020)
Mengapa individu terdorong untuk melakukan bunuh diri? Banyak
pendapat tentang penyebab dan atau alasan termasuk hal-hal berikut.
1. Kegagalan atau adaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres.
2. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal atau gagal melakukan hubungan yang berarti.
3. Perasaan marah atau bermusuhan. Bunuh diri dapat merupakan
hukuman pada diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.
5. Tangisan minta tolong.
Lima domain faktor risiko menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif diri sepanjang siklus kehidupan, yaitu sebagai berikut.
1. Diagnosis psikiatri
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan
bunuh diri mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga
gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk bunuh diri
yaitu gangguan afektif, skizofrenia, dan penyalahgunaan zat.
2. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya risiko
bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
3. Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan
yang dini, dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor
penting yang berhubungan dengan bunuh diri.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
risiko penting untuk perilaku destruktif.
5. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara serotonegik, opiatergik, dan
dopaminergik menjadi media proses yang dapat menimbulkan
perilaku merusak diri.
Faktor penyebab tambahan terjadinya bunuh diri antara lain sebagai
berikut (Cook dan Fontaine, 1987).
1. Penyebab bunuh diri pada anak
a. Pelarian dari penganiayaan dan pemerkosaan.
b. Situasi keluarga yang kacau.
c. Perasaan tidak disayangi atau selalu dikritik
d. Gagal sekolah.
e. Takut atau dihina di sekolah.
f. Kehilangan orang yang dicintai.
g. Dihukum orang lain.
2. Penyebab bunuh diri pada remaja.
a. Hubungan interpersonal yang tidak bermakna.
b. Sulit mempertahankan hubungan interpersonal.
c. Pelarian dari penganiayaan fisik atau pemerkosaan.
d. Perasaan tidak dimengerti orang lain.
e. Kehilangan orang yang dicintai.
f. Keadaan fisik.
g. Masalah dengan orang tua.
h. Masalah seksual.
i. Depresi.
3. Penyebab bunuh diri pada mahasiswa.
a. Self ideal terlalu tinggi.
b. Cemas akan tugas akademik yang terlalu banyak.
c. Kegagalan akademik berarti kehilangan penghargaan dan
kasih sayang orang tua.
d. Kompetisi untuk sukses.
4. Penyebab bunuh diri pada usia lanjut.
a. Perubahan status dari mandiri ke ketergantungan.
b. Penyakit yang menurunkan kemampuan berfungsi.
c. Perasaan tidak berarti di masyarakat.
d. Kesepian dan isolasi sosial.
e. Kehilangan ganda, seperti pekerjaan, kesehatan, pasangan.
f. Sumber hidup bergantung.
E. Faktor Presipitasi (Ah. Yusuf et al., 2020)
1. Psikososial dan klinik
a. Keputusasaan
b. Ras kulit putih
c. Jenis kelamin laki-laki
d. Usia lebih tua
e. Hidup sendiri
2. Riwayat
a. Pernah mencoba bunuh diri.
b. Riwayat keluarga tentang percobaan bunuh diri.
c. Riwayat keluarga tentang penyalahgunaan zat.
3. Diagnostis
a. Penyakit medis umum
b. Psikosis
c. Penyalahgunaan zat
F. Penatalaksanaan
1. Terapi elektrokonvulasi
2. Obat-obatan prikoterapi dan antiprepesan
3. Terapi kognitif
4. Terapi keluarga
G. Pohon Masalah
Perilaku Kekerasan Affect
Risiko Bunuh Diri Core Problem
Harga Diri Rendah Causa
[Link] dan Masalah Keperawatan
A. Data (Subjektif dan Objektif)
1. Subyektif
a. Pasien mengatakan ingin mati saja karena merasa hidupnya sudah
tidak berguna lagi
b. Pasien mengatakan bahwa pasien mencoba mengakhiri hidupnya
dengan cara meminum obat racun hama tanaman dan menusukan
pisau ke perut bagian kanannya,
c. Keluarga pasien mengatakan pasien tdak mau makan selama kurang
lebih satu minggu karena ingin mati saja.
2. Obyektif
a. Pasien tampak sedih dan tidak bersemangat dalam menjalani
aktifitasnya,
b. Pembicaraan pasien lambat dan terlihat lebih sering melamun
dan diam.
c. Terdapat luka ditubuh
B. Data Yang Perlu Dikaji Lebih Lanjut (Fitria, 2019)
1. Subjektif
a. Mengungkapkan keinginan bunuh diri.
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
d. Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari
keluarga.
e. Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat
yang mematikan.
f. Mengungkapkan adanya konflik interpersonal.
g. Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan saat
kecil.
2. Objektif
a. Implusif
b. Menunjukan perilaku mencurigakan (biasanya menjadi sangat
patuh)
c. Ada riwayat penyakit mental (depresi, psikosis, dan
penyalahgunaan alkohol)
d. Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit terminal)
e. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau
kegagalan dalam karier)
f. Umur 15-19 tahun atau diatas 45
g. Status perkawinan yang tidak harmonis
C. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko bunuh diri
2. Harga diri rendah
3. Perilaku kekerasan
VIII. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa Perencanaan
Keperawatan Luaran (SLKI) Intervensi (DIKI)
Risiko Bunuh Diri (D. 135) Kontrol Diri (L. 09076) Manajemen Mood (I. 09289)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam O:
diharapkan maslaah pasien mengenai kontrol diri dapat - Identifikasi mood (mis. tanda gejala, riwayat penyakit)
menurun, dengan kriteria hasil - Identifikasi risiko keselamatan diri atau orang lain
1. Verbalisasi ancaman kepada orang lain (5) - Monitor fungsi kognitif (mis. konsentrasi, memori,
2. Verbalisasi umpatan (5) kemampuan membuat keputusan)
3. Perilaku menyerang (5) - Monitor aktivitas dan tingkat stimulasi lingkungan
4. Perilaku melukai diri sendiri/orang lain (5) T:
5. Perilaku merusak lingkungan sekitar (5) - Fasilitasi pengisian kuesioner self-report (mis. back
6. Perilaku agresif/amuk (5) depression inventory, skala status fungsional), jika perlu
7. Bicara ketus (5) - Berikan kesempatan untuk menyampaikan perasaan
dengan cara yang tepat (mis. sandsack, terapi seni,
aktivitas fisik)
E:
- Jelaskan tentang gangguan mood dan penggunaannya
- Anjurkan beroeran aktif dalam pengobatan dan
rehabilitas, jika perlu
- Anjurkan rawat inap sesuai indikasi (mis. risiko
keselamatan, defisit perawatan diri, masalah fisik)
- Ajarkan memonitor mood secara mandiri (mis. skala
tingkat 1-10, membuat jurnal)
- Ajarkan keterampilan koping dan penyelesaian masalah
baru
K:
- Kolaborasi pemberian obat, jika perlu
- Rujuk untuk psikoterapi (mis. perilaku, hubungan
interpersonal, keluarga, kelompok), jika perlu
DAFTAR PUSTAKA
Ah. Yusuf, Fitryasari PK, R., & Nihayati, H. E. (2020). Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Salemba Medika.
Fitria, N. 2019. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta: Salemba
Medika
Sousa, G. S., Perrelli, J. G. A., & Mangueira, S. O. (2019). Validation by experts
of risk of suicide nursing diagnosis in the elderly. Revista Brasileira de
Enfermagem, 72(4), 935–942.
[Link]
Mulyani, A., & Fridiana. 2019. Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Fenomena
Bunuh Diri Di Gunungkidul. Sosietas. 8(2), 510–516.
Tim Pokja PPNI. 2018. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja PPNI. 2018. Standart Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja PPNI. 2018. Standart Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.