BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Penyakit
A. Pengertian
Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak dan disertai atau
tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya
kontinuitas otak (Muttaqin, 2008). Cedera kepala merupakan cedera yang meliputi
trauma kepala, tengkorak, dan otak (Morton, 2012). Menurut Brain Injury Assosiation of
America (2006), cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala bukan bersifat
kongenital ataupun degenerative tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari
luar yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan
kerusakan kemapuan kognitif dan fungsi fisik. Jadi, cedera kepala adalah suatu kerusakan
atau trauma kepala, tengkorak, dan otak dalam substansi otak yang disertai atau tidak
disertai perdarahan interstitial yang disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari
luar.
B. Etiologi
Menurut Nurarif dan Kusuma (2015) penyebab cedera kepala dapat dilihat dari
mekanismenya yang meliputi :
1. Cedera akselerasi
Terjadi jika objek bergerak menghantam kepala yang tidak bergerak misalnya
pemukul yang menghantam kepala.
4
2. Cedera deselerasi
Terjadi jika kepala yang bergerak membentuk objek diam seperti pada kasus jatuh atau
tabrakan mobil ketika kepala membentur kaca depan mobil
3. Cedera akselasi - deselerasi
Terjadi dalam kasus kecelakan sepeda motor dan episode kekerasan fisik.
4. Cedera coup countre coup
Terjadi jika kepala terbentur yang menyebabkan otak bergerak dalam ruang kranial
dan dengan kuat mengenai tulang tengkorak yang berlawanan serta area kepala yang
pertama kali terbentur misalnya pasien yang dipukul pada belakang kepala.
5. Cedera rotasional
Terjadi jika pukulan atau benturan menyebabkan otak berputar dalam rongga
tengkorak.
C. Klasifikasi
Adapun klasifikasi cedera kepala menurut Satyanegara (2010) berdasarkan
patologis, jenis cedera, dan berat ringannya cedera adalah sebagai berikut :
a. Berdasarkan patologis
1. Cedera Kepala Primer merupakan kerusakan yang terjadi pada masa akut
(terjadi saat benturan)
2. Cedera Kepala Sekunder merupakan cedera yang menyebabkan kerusakan
otak lebih lanjut yang terjadi setelah trauma sehingga meningkatkan tekanan
5
intrakranial yang tidak terkendali, meliputi respon fisiologis cedera otak,
edema, serebral dan perubahan biokimia.
b. Berdasarkan jenis cedera :
1. Cedera kepala terbuka merupakan cedera yang menyebabkan fraktur tulang
tengkorak dan laserasi neuro durameter, cedera ini biasanya sampai
menembus tengkorak dan jaringan otak.
2. Cedera kepala tertutup adalah cedera yang dapat disamakan pada pasien
dengan gegar otak ringan dengan serebral yang luas.
c. Berdasarkan GCS
1. Cedera Kepala Ringan
a) GCS 14-15
b) Kehilangan kesadaran, amnesia kurang dari 30 menit
c) Tidak ada fraktur tengkorak dan contusio selebral.
2. Cedera Kepala Sedang
a) GCS 9-13
b) Penurunan kesadaran, amnesia lebih dari 30 menittetapi kurang dari 24 jam
dan diikuti dengan contusioselebral, laserasi serta hematome intrakranial
3. Cedera Kepala Berat
a) GCS 3-8
b) Penurunan kesadaran, amnesia lebih dari 24 jam
c) Adanya Contusio serebral, laserasidan hematoma intrakranial
D. Tanda dan Gejala
Menurut Reissner (2009), gejala klinik trauma keapala yang dapat membantu
mendiagnosa meliputi:
1. Tanda-tanda klinis yang dapat membantu mendiagnosa
a. Battle sign (warna biru/ekomosis dibelakang telinga)
b. Hemotimpanum (perdarahan didaerah timpani)
c. Periorbital ecchymosis (mata berwarna hitam tanpa trauma langsung)
d. Rhinorrhoe (cairan cerebrospinal keluar dari hidung)
6
e. Ottorhoe ( cairan serebrospinal keluar dari telinga)
2. Tanda – tanda atau gejala klinis trauma kepala ringan
a. Pasien tertidur atau kesadaran menurun selama beberapa saat kemudian sadar
kembali
b. Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan
c. Mual dan muntah
d. Gangguan tidur dan nafsu makan menurun
e. Perubahan keperibadian diri
f. Latergi
3. Tanda – tanda atau gejala klinis trauma kepala berat
a. Peningkatan TIK diotak menurun atau meningkat
b. Perubahan ukuran pupil atau unisokor
c. Trias chucing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi pernafasan)
d. Apabila meningkatnya tekanan intra kranial, terdapat pergerakan atau posisi
abnormalitas ekstremitas
Menurut ENA (2000) dalam pemeriksaan fisik tanda dan gejala yang dapat ditemukan
pada cedera kepala sebagai berikut.
1. Kesulitan bicara 13. Bradikardi
2. Kesulitan mendengar 14. Pucat
3. Kesulitan memahami 15. Suara nafas tambahan (snoring,
4. Kelemahan gurgling)
5. Kelumpuhan 16. Peningkatan respirasi
6. Kehilangan kordinasi 17. Adanya obstruksi jalan nafas
7. Tremor 18. Penggunaan otot bantu pernafasan
8. Diplopia 19. Hematoma
9. Nyeri 20. Sianosis
10. Alergi 21. Tubuh memperlihatkan adanya
11. Amnesia fraktur, dislokasi, dan laserasi
12. Tekanan darah menurun
7
E. Patofisiologi
Cedera kepala dapat menyebabkan kerusakan pada ekstra kranial, tulang kranial,
serta intra kranial. Pada ekstra kranial cedera kepala dapat menyebabkan terputusnya
kontinuitas jaringan kulit, otot, dan vesikuler sehingga terjadi perdarahan. Perdarahan
tersebut dapat menyebabkan peningkatan tekanan intracranial (Musliha, 2010). Cedera
kepala juga menyebabkan perdarahan hematoma, terputusnya jaringan kontinuitas
jaringan kulit, otot, dan vesikuler dapat juga menyebabkan gangguan suplai darah
sehingga menyebabkan iskemia dan hipoksia (Nurhidayat, 2009). Pada saat otot
mengalami hipoksia tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses
metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Jika terjadi dilatasi
pembuluh darah, akan menyebabkan edema pada otak yang menyebabkan terjadinya
ketidakefektifan perfusi jaringan otak. (Musliha, 2010)
Apabila cedera kepala menyebabkan kerusakan pada intrakranial maka dapat
menyebabkan peningkatan TIK dapat menyebabkan nyeri akut. (Musliha, 2010). Jika
terjadi trauma pada intra kranial dapat menyebabkan kerusakan sel otak sehingga dapat
menyebabkan autoregulasi dan edema serebral menyebabkan pasien menjadi kejang .
Gangguan ini juga dapat menyebabkan hilangnya kesadaran saat penderita mengalami
penurunan kesadaran akan timbul sumbatan jalan nafas berupa snoring, gurgling, dan
yang menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan nafas (Musliha, 2010)
8
F. Pathway
Cedera Kepala
Tulang Kranial Intrakranial
Peningkatan TIK
Gangguan Suplai darah Nyeri akut Kerusakan sel otak
Perubahan auto
Iskemia regulasi, edema
serebral
Hipoksia Kejang
Penurunan
Proses metabolic kesadaran
anaerob
Obstruksi jalan
nafas
Dilatasi pembuluh
(snoring,gargling)
darah
Ketidakefektifan
Edema Otak bersihan jalan nafas
Risiko ketidakefektifan
perfusi jaringan otak
9
G. Komplikasi
Menurut Ginshery (2007), komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan cedera
kepala adalah
1. Kebocoran cairan cerebrospinal
Hal ini dapat terjadi jika hubungan antara rongga subaraknoid dan telinga tengah atau
sinus paranasal akibat sinus basis hanya kecil dan tertutup jaringan otak, maka hal ini
tidak akan terjadi dan pasien mungkin akan mengalami meningitis dikemudian hari
2. Epilepsi pasca trauma
Terjadi pada pasien yang mengalami kejang awal (dalam minggu pertama pasca
cedera) amnesia pasca trauma yang lama (lebih dari 24 jam) fraktur depresi cranium
3. Sindrom pasca concusi
Nyeri kepala, vertigo, depresi, gangguan konsentrasi dapat menetap bahkan setelah
cedera kepala ringan. Vertigo dapat terjadi akibat cedera vestibular.
H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut ENA (2000), pemeriksaan penunjang yang di perlukanpada pasien dengan
cedera kepala meliputi:
1. CT scan ( Computerized Tomography Scanner)
Mengidentifikasi luasnya lesi, pendarahan, determinan, ventrikuler, danperubahan
jaringan otak.
2. MRI ( Magnetic Resonance Imaging)
Digunakan sebagai gambaran pencitraan bagian badan yang diambil dengan
menggunakan daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan tersebut..
3. Rontgen thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral)
Rontgen thoraks menyatakan akumulasiudara/cairan pada area pleural.
4. Analisa Gas Darah (AGD/Astrup)
Analisa gas darah (AGD/Astrup) adalah satu tes diagnostik untuk menentukan status
respirasi. Status respirasi yang dapat digambarkan melalui pemeriksaan AGD ini
adalah status oksigenasi dan status asam basa.
10
5. X-Ray
Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis
(perdarahan/edema).
I. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan
Penatalaksanaan saat awal trauma pada cedera kepala selain dari faktor
mempertahankan fungsi ABC (Airway, Breathing, Circulation) dan menilai status
neurologis (Disability, Exposure), maka faktor yang harus diperhitungkan adalah
mengurangi sistematika serebri yang terjadi. Keadaan ini dapat dibantu dengan
pemberian oksigen. Selain itu bisa dilakukan tindakan meninggikan kepala 30 0 untuk
menghindari peningkatan tekanan intrakranial (ENA, 2000). Adapun penatalaksanaan
yang dapat dilakukan oleh perawat yaitu :
1. Monitor airway, breathing, dan circulation
2. Atur pemberian oksigen tambahan
3. Lakukan pembersihan jalan napas pasien
4. Monitor ventilasi pasien
5. Kolaborasi dengan tenaga medis lain untuk mengurangi peningkatan tekanan
intrakranial
a. Diuretik untuk mengurangi cairan yang terdapat di otak
b. Tingkatkan aliran vena dengan cara meninggikan posisi kepala dari tempat tidur,
posisikan kepala dan leher dengan tepat
c. Hiperventilasi untuk mengurangi aliran darah ke otak : tidak adanya ukuran
tekanan intrakranial, hiperventilasi harus dilakukan untuk pasien yang
menunjukkan tanda-tanda spesifik dari tekanan intrakranial seperti herniasi otak
dan kerusakan neurologis progresif.
6. Memastikan tekanan perfusi jaringan serebral yang memadai (tujuannya untuk
meningkatkan tekanan arteri rata-rata untuk mengkompensasi kenaikan tekanan
intrakranial)
a. Monitor tekanan darah
11
b. Tekanan darah didukung oleh pemberian cairan intravena (untuk mencegah
terjadinya penurunan tekanan darah)
7. Menurunkan kebutuhan metabolisme otak dengan
a. Mempertahankan normothernia
b. Mencegah kejang
c. Gunakan obat ledokain untuk mengurangi respon saat penghisapan
8. Monitor status neurologis pasien
9. Siapkan untuk melakukan tindakan operasi
10. Kolaborasi untuk mencegah komplikasi yang terjadi (jika ada komplikasi)
a. Inisiasi anti konvulsan
b. Inisiasi anti inflamasi (steroid)
Selama di UGD dan sebelum dilakukan intubasi, pasien diberikan terapi oksigen
dengan sungkup, dipasang neck collar, posisi sedikit head up, infus ringerfundin 100
cc/jam, serta dimonitor ketat tanda-tanda vital. Pasien kondisi stabil pascaintubasi dan
dibawa ke ruang radiologi untuk pemeriksaan CT-scan dan penunjang lainnya (Christanto
dkk, 2015). Pengelolaan cedera kepala yang baik harus dimulai dari tempat kejadian,
selama transportasi, di instalasi gawat darurat, hingga dilakukannya terapi definitif.
Pengelolaan yang benar dan tepat akan mempengaruhi outcome pasien (Hendrizal dkk,
2014). Penatalaksanaan di rumah sakit pertama adalah resusitasi dan stabilisasi,
pembebasan jalan nafas, pemberian oksigen, resusitasi cairan dan pemberantasan kejang
telah dilakukan. Pada waktu dalam perjalanan transportasi ke rumah sakit kedua
resusitasi dan stabilisasi untuk mencegah cedera sekunder tetap dilakukan (Basuki dkk,
2016)
12
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
A. Pengakajian
Menurut ENA (2000), pengkajian dibagi menjadi 2 tahapan, yaitu pengkajian
primer dan pengkajian sekunder. Pengkajian primer merupakan data dasar dari seluruh
intervensi kegawatdaruratan yang diberikan dalam perawatan pasien, sedangkan
pengkajian sekunder merupakan data kelanjutan dari pengkajian primer yang bertujuan
untuk menemukan seluruh abnormalitas atau cidera. berikut pengkajian primer dan
sekunder berdasarkan uraian diatas.
1. Pengkajian primary survey
Semua faktor yang dikaji dalam pengkajian primer adalah semua kondisi yang
kritis atau mengancam nyawa dan menyimpang dari norma yang membutuhkan
tindakan segera. Pengkajian primer termasuk pengkajian airway (Jalan napas),
breathing (pernapasan), circulation (sirkulasi), disabillity (ketidakmampuan), dan
exposure (gambaran tubuh). Secara teori, data yang terdapat pada pasien dengan
cidera kepala yaitu :
a. Airway
Pada airway, ditemukan adanya obstruksi jalan napas berupa suara napas
tambahan (snoring,gargling), adanya obstruksi jalan napas, kesulitan bicara.
b. Breathing
Pengkajian pola nafas ditemukan respirasi, penggunaan otot bantu pernapasan.
c. Circulation
Pada pemeriksaan circulation didapatkan data berupa tekanan darah menurun,
bradikardi, pucat, sianosis, hematoma, hemotimpanum, trias chusing.
d. Disability
Pada pemeriksaan disability didapatkan data pasien tertidur/kesadaran menurun
selama beberapa saat kemudian sadar, letargi, diplopia, kehilangan koordinasi,
kesulitan memahami, kesulitan mendengar, peningkatan TIK di otak menurun/
meningkat, amnesia, perubahan ukuran pupil (unisokor).
13
e. Eksposure
Pada pemeriksaan eksposure inspeksi umum tubuh akan memperlihatkan adanya
fraktur, dislokasi, laserasi, kelemahan, tremor, battle sign, periorbital
ecchymosis, pergerakan posisi abnormal ekstremitas.
2. Pengkajian sekundery
Menurut ENA (2000) pengkajian sekunder meliputi
a. SAMPLE
1) Sign and Symptom
Nyeri pada bagian yang mengalami cedera, kesulitan berbicara, kesulitan
mendengar, kelemahan, kelumpuhan, kehilangan koordinasi, bradikardi,
tekanan darah menurun, amnesia, pucat , hematoma, cemas, diplopia.
2) Allergy
Dikaji apakah pasien mengalami alergi obat,a tau makanan.
3) Medication
Ditanyakan adanya riwayat pengobatan sebelum ke rumah sakit.
4) Past Medical History
Ditanyakan adanya riwayat penyakir kronis seperti diabetes militus,
hipertensi, dan status imunisasi tetanus
5) Last Oral Intake
Tanyakan kapan terakhir makan, mencegah terjadinya muntah, dan untuk
keperluan anastesi.
6) Event Leading Injury
Kaji mekanisme terjadinya cedera.
b. Pemeriksaan Fisik Terfokus
Pada pemeriksaan fisik terfokus, dilakukan pemeriksaan head to toe
dengan metode inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi yang memprioritaskan
bagian-bagian tubuh yang berkaitan dengan cedera kepala pasien (Musliha,
2010). Pada pemeriksaan cedera kepala, difokuskan pada inspeksi, ada tidaknya
luka pada kepala dan tidaknya perdarahan baik itu rhinorrhea dan ototrhea,
fraktur, atau dislokasi. Papa palpasi dikaji ada atau tidaknya nyeri tekan.
14
c. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium merupakan analisis biokimia terhadap
perubahan fungsi yang timbul sebagai akibat dari penyakit tertentu, baik
susunan kimia, maupun mekanisme biokimia tubuh (Gunawan, 2009). Pada
cedera kepala pemeriksaan laboratorium terfokus yaitu pemeriksaan analisa gas
darah (AGD) untuk mengetahui adanya masalah ventilasi perfusi atau
oksigenasi yang dapat menigkatkan tekanan intra kranial.
B. Diagnosa Keperawatan
Menurut NANDA NIC-NOC (2013), diagnosa yang mungkin muncul pada cedera
kepala adalah
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan materi asing dalam
jalan nafas ditandai dengan adanya obstruksi pada jalan nafas berupa pangkal lidah
jatuh kebelakang dan adanya penumpukan cairan, adanya suara nafas tambahan
(gurgling, snoring), kesulitan berbicara dan sianosis.
2. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan trauma kepala
3. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik ditandai dengan klien tampak
meringis, gelisah dan melaporkan nyeri secara verbal
C. Perencanaan
Perencanaan keperawatan didefinisikan sebagai berbagai perawatan, berdasarkan
penilaian klinis dan pengetahuan, yang dilakukan oleh seorang perawat untuk
meningkatkan hasil pasien. dengan menggunakan pengetahuan keperawatan, perawat
melakukan 2 intervensi yaitu mandiri atau independen dan kolaborasi/interdisipliner
missal: dokter, terapi fisik (NANDA, 2015), berikut prioritas diagnosa keperawatan pada
kasus cedera kepala
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubiungan dengan materi asing dalam
jalan nafas ditandai dengan adanya obstruksi pada jalan nafas berupa pangkal lidah
jatuh kebelakang dan adanya penumpukan cairan, adanya suara nafas tambahan
(gurgling, snoring), kesulitan berbicara dan sianosis.
2. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan trauma kepala
15
3. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik ditandai dengan klien tampak
meringis, gelisah dan melaporkan nyeri secara verbal
Tabel 1.1 Rencana Asuhan Keperawatan
No Dx Kriteria Hasil Intervensi
1 Setelah diberikan asuhan Mandiri :
keperawatan selama 3x5 menit
1. Kaji jalan nafas
diharapkan tidak ada obstruksi
Rasional:
jalan nafas dengan kriteria hasil :
Obstruksi mungkin disebabkan oleh
1. Jalan nafas paten,cairan akumulasi,sisa cairan dan perdarahan
dapat dikeluarkan 2. Lakukan pengisapan cairan dengan
2. Tidak terdapat suara nafas suction, batasi durasi pengisapan dengan
tambahan(gurgling,snorin 15 detik
g) Rasional: untuk mengurangi secret,cairan
3. Tidak terjadi sianosis dan perdarahan yang terjadi jalan nafas.
3. Lakukan fingerswab
Rasional : untuk mengeluarkan benda
asing yang menyumbat jalan nafas
Kolaborasi :
4. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemasangan neckolar.
Rasional : memberikan fiksasi posisi yang
tepat untuk memperlancar jalan nafas
5. Kolaborasi dalam pemasangan
orofaringeal airway.
Rasional: pemasangan OPA dilakukan
untuk membuka jalan nafas dan
16
memudahkan melakukan penghisapan
cairan di mulut
2 Setelah diberikan asuhan Mandiri :
keperawatan selama 2x30 menit
1. Kaji status neurologis yang berhubungan
diharapkan perfusi jaringan
dengan tanda peningkatan TIK terutama
adekuat dengan kriteria hasil :
GCS
1. Tidak terdapat penurunan Rasional : Hasil dari pengkajian dapat
kesadaran diketahui secara dini adanya tanda tanda
2. TTV dalam batas normal peningkatan TIK sehingga dapat
TD:110/60-130/90 mmHg menentukan arah tindakan selanjutnya
S : 36,5 – 37,5 serta manfaat untuk menentukan lokasi
N : 80-100 kali per menit perluasan dan perkembangan kerusakan
RR : 16-24 kali permenit 2. Monitor TTV setiap jam sampai pasien
stabil.
Rasional : Dapat mendeteksi secara dini
tanda peningkatan TIK misalnya
hilangnya autoregulasi dapat mengikuti
kerusakan paskularisasi selendral
[Link] yang tidak teratur dapat
menunjukan lokasi adanya gangguan
serebral
3. Berikan posisi headup dengan sudut 30
derajat tanpa bantal.
Rasional : posisi kepala dengan sudut 30
derajat dari kaki akan meningkatkan daqn
memperlancar aliran balik vena ke kepala
sehingga mengurangi serebrum dan
mencegah penekanan pada saraf medulla
spinalis yang menambah TIK.
17
Kolaborasi :
4. Berikan O2 tambahan
Rasional : mengurangi hipokremia yang
dapat meningkatkan fasoditoksi serebri
volume darah dan TIK
5. Berikan obat obatan antiedema sesuai
indikasi
Rasional : manitol atau gliserol
merupakan cairan hipertonis yang berguna
untuk menarik cairan intraseluler atau
ekstraseluler.
Lasix untuk meningkatkan ekskresi
natrium dan cairan yang berguna untuk
mengurangi edema otak
3 Setelah diberikan asuhan Mandiri :
keperawatan selama 4x15 menit
1. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan
diharapkan nyeri berkurang atau
pereda nyeri non farmakologi dan non
hilang dengan kriteria hasil :
infasif.
1. Pasien tidak tampak Rasional : pendekatan dengan
meringis menggunakan relaksasi dan
2. Pasien tidak tampak nonfarmakologi lainya telah menunjukan
gelisah keefektifan dalam mengurangi nyeri
3. Pasien mengatakan nyeri 2. Ajarkan relaksasi : teknik untuk
hilang atau berkurang menurunkan ketegangan otot rangka ,yang
dapat menurunkan intensitas nyeri dan
juga tingkatkan relaksasi masase.
Rasional : akan melancarkan peredaran
darah sehingga kebutuhan O2 oleh
jaringan akan terpenuhi dan akan
18
mengurangi nyeri
3. Ajarkan metode distraksi selama nyeri
akut.
Rasional : mengalihkan perhatian
nyerinya ke hal hal yang menyenangan
4. Berikan kesempatan waktu istirahat bila
terasa nyeri dan berikan posisi yang
nyaman misalnya saat tidur di
belakangnya dipasang bantal kecil
Rasional : istirahat akan merelaksasi
semua jaringan sehinnga akan
meningkatkan kenyamanan
5. Tingkatkan pengetahuan tentang
penyebab nyeri dan menghubungkan
berapa lama nyeri akan berlangsung.
Rasional : Pengetahuan yang akan
dirasakan membantu mengurangi nyeri
dan dapat membantu mengembangkan
kepatuhan klien terhadap rencana teraiutik
6. Observasi skala nyeri dan respon motoric
klien, 30 menit setelah pemberian obat
analgetik untuk mengkaji efektivitas
setiap 1 sampai 2 jam setelah tindakan
perawatan selama 1 sampai 2 hari.
Rasional : Pengkajian yang optimal dpat
membantu perawat untuk melakukan
intervensi yang benar dan tepat.
Kolaborasi :
19
7. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian obat analgetik Rasional :
Anlagetik akan memblok lintasn nyeri
sehingga membantu mengurangi rasa
nyeri.
20