Bab Satu.
Eleanore adalah wanita yang dingin.
Begitu orang-orang di sekitar menyebutkan dirinya.
Memiliki latar belakang pendidikan militer sejak usianya
masih tujuh tahun, dan berpindah ke dunia intelijen saat
usianya masih remaja, membuatnya tumbuh menjadi anak
yang tidak mudah merasakan perasaan yang normalnya orang
lain rasakan.
Di usianya yang ke dua puluh enam tahun kini, ia
memutuskan untuk bergabung dengan agensi Elit Bayangan
Lee, sebuah organisasi pembunuh rahasia milik keluarganya
sendiri.
Di organisasi itu, Eleanore nyaris setiap hari menjalankan
misi. Entah itu pembunuhan yang diperlukan untuk
kepentingan keluarga mereka, pengintaian untuk
mengumpulkan data, hingga adu senjata dengan lawan dari
organisasi mereka jika diperlukan.
Eleanore bukanlah jenis wanita yang biasa. Hidupnya
dikelilingi oleh hal-hal yang tidak sembarang orang
memilikinya, hingga tidak semua orang itu mampu untuk
memahaminya.
Oleh karena itu Eleanore pun tidak masalah jika kebanyakan
orang yang tidak memahaminya itu membencinya.
“Kamu tahu itu menyebalkan setiap kali kamu melawan
ucapan orang lain? Belajarlah untuk menutup mulutmu kalau
tidak diperlukan, Ely,” ucap dari salah satu teman—ah, tidak,
wanita sebayanya yang kebetulan sering bergaul dengannya
di pesta ketika ia menghadiri perjamuan bangsawan. Dia
menyeret Eleanore pergi, setelah Eleanore merusak suasana
pesta dengan ucapannya yang dianggap tidak pantas.
Padahal Eleanore hanya berkata, “Calon tunanganmu terlihat
menjijikan.” Kepada salah satu teman—kenalan wanitanya
yang memamerkan cincin pertunangannya dan menunjuk
kepada tunangannya yang lima belas tahun lebih tua.
Sebenarnya mereka terlihat baik-baik saja. Pernikahan
memang dilandasi keinginan harta dan kekuasaan, tentu saja,
dan itu hal biasa di lingkungan bangsawan, namun Eleanore
hanya spontan berkomentar sebab ia melihat pria itu
memang menjijikan. Rambutnya yang beruban, kulitnya yang
keriput, senyumnya yang mesum, Eleanore merasa melihat
hama.
“It’s not about you, Ely. Biarkan saja orang lain bahagia
dengan pilihannya. Apa harus kamu berkomentar persis di
depan wajahnya sampai dia malu? Di mana sopan
santunmu?”
“Aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan. Memang
kalian siapa melarangku berkomentar? Selain itu dia
memamerkan tunangannya padaku juga. Lalu, dia ingin apa?
Ingin aku memuji tunangannya, atau cincinnya, mengatakan
wah itu luar biasa padahal menjijikan?” Eleanore
memalingkan wajah arogan. “Kalau dia memamerkannya
maka dia siap dengan pujian dan kritik atau hinaan
kepadanya. Dia tidak bisa mengontrol mulut siapa pun dan
pikiran siapa pun kan? Berhenti coba mengatur aku.”
Joella, perempuan itu, menggelengkan kepala tak percaya
mendengar ucapannya. “Kamu tahu itulah yang membuatmu
sama sekali tidak diterima di lingkungan ini?
Kesombonganmu yang merasa bisa melakukan apa pun.
Karena itulah semua orang membencimu. Semua orang tidak
menyukaimu bahkan kalau ayahmu adalah Alexander Lee.”
“Semua orang tidak menyukaiku karena aku anaknya
Alexander Lee. Semua orang menjilatku karena aku anaknya
Alexander Lee. Itu termasuk dirimu.” Eleanore tersenyum
tipis. “Sekarang lebih baik kita akhiri ini. Sejak awal bukan aku
yang ingin bergabung denganmu. Kalianlah yang memohon
agar aku bergabung dengan kalian. Kalian tidak suka dengan
sikapku? Maka enyah dari hadapanku. Selamat tinggal.”
Eleanore berpaling. Beranjak pergi meninggalkan mantan
temannya itu untuk menikmati sisa pesta sendirian.
Ia tak peduli dengan perasaan orang lain. Ia juga tidak peduli
dengan apa yang mereka pikirkan. Ia sudah cukup lelah
mengurus hidupnya sendiri.
Kalian pikir apa yang Eleanore lakukan selama hidupnya
selama ini? Menjalani pendidikan militer sejak usianya tujuh
tahun, membuatnya pagi, siang dan malam harus berlatih
fisik keras sampai ia muntah-muntah kelelahan. Sepulang dari
sekolah ia langsung mengikuti kelas tambahan untuk
mengejar nilai akademiknya. Dan malam harinya setelah
makan malam ia menghabiskan waktunya sebentar dengan
orang tuanya sebelum ia tertidur lelap.
Di masa remaja, setelah ia berpindah ke dunia intelijen, ia
pun mengorbankan seluruh waktunya untuk belajar.
Mengasah kemampuan intelijennya mulai dari
mengumpulkan data, menganalisis data, memprediksi dan
melenyapkan ancaman, belajar psikologi manusia, menjaga
arsip negara, berkutat dengan siber dan teknologi, hingga
geopolitik dan diplomasi. Ia diminta untuk membatasi
interaksinya dengan dunia luar, menghapus identitasnya
sebagai anak dari ayahnya untuk kepentingan tugas, dan
sekarang setelah dewasa ia pun harus sering berhati-hati
demi kepentingan organisasi.
Kalian tahu? Energinya habis untuk melakukan semua hal
penting itu, hingga untuk menjaga perasaan sepele seseorang
ia tak mampu. Memang apa salahnya kalau ia berkata itu
menjijikan? Apakah kalau ia berkata itu luar biasa maka si
menjijikan itu akan berubah jadi luar biasa?
Tidak bukan?
Yasudah.
***
Sepulang dari pesta, Eleanore memutuskan untuk langsung
memasuki kamarnya untuk beristirahat. Ia merasa lelah
setelah menghabiskan waktu berjam-jam di pesta, meskipun
sebenarnya ia adalah ekstrovert yang cukup suka dengan
keramaian.
Eleanore baru saja melucuti dress merah di tubuhnya ketika
pintu kamarnya diketuk perlahan, dan sosok Sanya, ibunya,
muncul dari luar. Wanita itu berdiri di ambang pintu, melipat
kedua tangannya di dada, lalu berkata, “Mama dengar kamu
membuat masalah di pesta.”
“Masalah?” Eleanore mengangkat sebelah alisnya. Berpaling
melihat ibunya dengan tampang yang seakan tidak mengerti
apa masalahnya.
Sanya, ibunya, tersenyum menahan tawa melihat tingkah
polos arogan putri semata wayangnya. Wanita itu berkata,
“Kamu menghina temanmu menjijikan saat dia memamerkan
pertunangannya. Itu tindakan yang salah dan tidak sopan,
Ely.”
“Ah, itu? Dari mana Mama tahu?” Eleanore bereaksi tidak
peduli.
“Tentu saja semua orang membicarakanmu. Semua orang
sekarang berkata kamu tidak dididik dengan benar sampai
mulutmu setajam itu kepada orang yang sedang bahagia.”
“Baperan sekali. Kalau dia ingin baperan suruh dia berhenti
hidup di dunia.” Eleanore berjalan santai menuju lemari
pakaiannya, hanya dengan pakaian dalam di tubuhnya, untuk
mengambil dress tidurnya. “Lalu kenapa? Mama ingin marah
padaku?”
“Untuk apa? Mama juga tidak peduli pada perasaan mereka.”
Sanya tertawa pelan. Namun tatapan wanita itu cermat.
“Hanya saja, Mama tidak suka mendengar orang-orang
mencela dan menghinamu. Tidak semua orang juga mengerti
keadaanmu, Ely. Sopan santun tidak ada salahnya.”
“Aku tidak berharap dimengerti. Selain itu mereka tidak
sepenting itu untuk aku sopan santun. Dan, memangnya apa
salahku?”
“Kalau orang lain mengejekmu jelek apa perasaanmu baik-
baik saja?”
Eleanore memasang dress ke tubuhnya. Merapikan rambut
panjang sepinggangnya lalu menoleh dan mengangkat
bahunya. “Aku tidak merasa jelek jadi … fuck them.”
Sanya menggelengkan kepala dan hanya bisa tertawa.
Eleanore memang mirip sekali dengan ayahnya. Kepercayaan
diri dan keangkuhannya mendarah daging. Tidak ada yang
bisa membantahnya kecuali diri mereka sendiri.
“Baiklah, terserah padamu. Lagipula orang-orang juga hanya
berani bicara di belakang. Mereka tidak ada berani bicara
kalau ada Papamu. Tapi, Mama hanya ingin bertanya satu
hal.”
“Apa?” Eleanore menjatuhkan dirinya di tepi ranjang.
Memfokuskan pandangannya kepada sang Mama yang masih
betah diambang pintu, alih-alih masuk ke dalam.
“Kamu tidak mengatakan itu karena kamu iri kan?”
“Apa?” Wajah Eleanore seketika berubah mendengar
pertanyaan Sanya. Ia hampir menjatuhkan rahangnya,
keningnya berkerut dan ekspresi ‘omong kosong apa yang
Mama bicarakan’ tidak dapat ia sembunyikan.
Sanya tertawa lagi dan lagi melihatnya. “Well, kamu tahu
kan? Terkadang seseorang membenci karena iri. Kamu adalah
satu-satunya wanita di umur seusiamu, di lingkungan ini, yang
belum punya pasangan. Mama khawatir kamu iri dan
melampiaskannya pada temanmu. Mungkin?”
“Hah?”
“Oke, tidak. Mama mengerti.” Sanya beranjak dari pintu,
menarik pintu tersebut kembali tertutup rapat dan
meninggalkan kamar Eleanore.
“Selamat tidur, sayang.”
Eleanore hampir menatap pintu kamar dan jejak kehadiran
Sanya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Antara ingin
mencela namun itu ibunya, ingin menyumpah namun lagi-lagi
itu ibunya.
Eleanore tidak habis pikir. Mengapa rasa jijik malah dikaitkan
dengan iri? Untuk apa ia merasa iri kepada sesuatu yang juga
bisa ia miliki jika ia mau?
Ucapan Sanya tidaklah salah. Eleanore nyatanya memang
belum punya pasangan dan ia menjadi satu-satunya, di antara
semua wanita sebayanya, yang sampai detik ini belum
memiliki kekasih. Apalagi tunangan atau calon suami.
Namun itu semua bukan karena ia tak laku. Sejak kecil
ayahnya tidak membolehkannya. Eleanore tidak boleh jatuh
cinta kepada pria lain. Satu-satunya yang boleh ia cintai
dalam hidupnya ini hanyalah Alexander Lee, ayahnya, dan
Maximilian Alexander Lee, saudara kembarnya.
Sejak kecil Eleanore tidak pernah merasakan yang namanya
jatuh cinta kepada pria lain, oleh karena itu juga ia tak pernah
memiliki pria disamping itu juga menjadi peraturan mutlak
dalam hidupnya.
Bagi Eleanore itu adalah aturan yang masuk akal. Pada
kenyataannya, di dunia ini memang tidak ada yang lebih baik
mencintai, menyayangi, merelakan seluruh dunia ini
untuknya lebih dari ayah dan saudara kembarnya.
Oleh karena itu Eleanore juga tidak menginginkannya. Bahkan
meskipun ia bisa melanggar peraturan ayahnya kalau
memang ia ingin. Ia pun sudah seringkali menerima lamaran.
Entah dari sesama bangsawan di tanah bangsawan, non-
bangsawan kaya dari luar, hingga anggota keluarga kerajaan
dari Timur Tengah, yang semuanya ditolak mentah-mentah
oleh ayahnya.
Tidak ada alasan untuk ia merasa iri pada seseorang, yang
tunangannya saja bahkan tidak lebih baik dari seekor anjing di
matanya.
Ada-ada saja Sanya.
***
Hunter Darian suka menghabiskan waktunya jauh dari istana.
Ia benci ketika ia harus duduk menjalankan kewajibannya
sebagai Putra Mahkota, yang membuatnya seakan-akan
bekerja dibawah kepentingan orang lain.
Hunter benci ketika ia harus bernapas untuk seseorang yang
bahkan tidak ia pedulikan hidup dan matinya.
Lahir menjadi anggota keluarga kerajaan mungkin adalah
kesalahan terbesar dari semesta untuknya. Bukannya ia
menolak kekuasaan, namun bukankah itu menyebalkan jika ia
harus memikirkan masa depan negara? Mengapa ia harus
peduli dengan nasib kerajaannya? Mengapa ia harus
menanggung beban ratusan juta nyawa manusia yang tidak
ingin ia pedulikan?
Mahkotanya adalah beban bagi Hunter. Meskipun ia
menyukai kekuasaannya dan ia suka melakukan hal semena-
mena sesuka hatinya.
“Kakak tahu Kakak seharusnya pergi ke psikiater?” Tristan,
adiknya, berkomentar untuk kesekian kalinya melihat
kelakuan sang Putra Mahkota. “Kakak sudah berusia tiga
puluh dua tahun. Apa lagi yang menghalangi Kakak untuk
bersikap sedikit lebih dewasa?”
“Bersikap lebih dewasa apa maksudmu?” Hunter menyahut.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tipis yang ia
baca.
“Bersikap lebih dewasa dengan memikirkan sedikit tanggung
jawab Kakak. Putra Mahkota mana yang sepanjang hari dalam
seminggu hanya duduk membaca buku-buku porno itu
bukannya menghadiri rapat dengan dewan bangsawan?”
Hunter otomatis mengangkat wajahnya. Ia menyingkirkan
buku tipis yang ia baca karena merasa tersinggung dengan
kata porno. Kurang ajar sekali. Padahal Hunter hanya
membaca kamasutra, yang isinya adalah tentang filsafat dan
seni kehidupan—walau memang sebagian besar adalah
tentang hubungan seksual.
Namun, semua orang punya selera bukan?
“Aku sudah meluangkan waktuku untuk bernapas di sekitar
istana. Memang aku harus melakukan apa lagi selain itu?
Kalau aku meluangkan waktu untuk mengikuti rapat istana,
memang kalian akan mendapat hujan emas dari langit?”
“Kakak benar-benar sakit jiwa, Kakak tahu?”
Macan kumbang bermata emas milik Hunter yang ia beri
nama Thorne itu berjalan mendekat setelah mendengar
Tristan. Macan itu mencondongkan wajahnya kepada Hunter,
yang membuat Hunter mengulurkan tangan menepuk puncak
kepalanya, sebelum Thorne mendelik ke arah Tristan.
Tristan yang merasa diancam hanya bisa menghela napas dan
menggelengkan kepala. Tidak tuan tidak peliharaan, sama-
sama tidak waras.
“Tapi aku serius dengan Kakak. Kakak sudah menghindari
rapat hampir sebulan ini. Kakak bahkan tidak melakukan apa-
apa. Kakak memangnya ingin jadi apa kalau terus seperti ini?”
“Jadi apa pun yang membuatku berhenti mendengar
celotehanmu.” Hunter kembali mengangkat bukunya.
Melanjutkan bacaan filsafatnya yang sangat penting untuk
diserap daripada rapat yang Tristan katakan.
Kesal dengan tingkahnya, Tristan menyeletuk, “Suatu saat istri
Kakak akan muak dan berkata bahwa dia menyesal menikahi
Kakak. Lihat saja tingkah Kakak yang membuat semua orang
sakit kepala.”
“Sebelum berkata begitu carikan dulu aku istri yang cukup
menarik untuk aku nikahi.”
“Memang ada yang mau dengan Kakak?”
“Memang aku mau dengan mereka?”
Jika bukan karena tekanan darahnya yang melonjak dan
Tristan sudah merasa ingin batuk darah, sungguh ia pasti
meledak mendengar Hunter. Benar-benar tanpa rasa
bersalah. Dia selalu merasa bahwa dirinya yang paling di atas,
hingga dia arogan dan tidak ingin memikirkan hal yang tidak
penting baginya.
Masalahnya dia adalah Putra Mahkota. Dia adalah satu-
satunya yang bisa menjadi Putra Mahkota, hingga ketika
semua orang geram pun mereka tidak punya pilihan lain
selain menerimanya.
Tristan menghela napas. Berusaha meredam kedongkolannya
dan melihat sang kakak lagi yang kini telah bersandar kepada
Thorne, binatang buas, peliharaannya.
Sejujurnya, itu adalah bohongan, ketika Tristan berkata
bahwa Hunter adalah pria yang tidak diinginkan oleh semua
wanita.
Lihat saja perawakannya yang mampu bersaing dengan
garangnya macan kumbang. Kulit kecokelatan terbakar
matahari, sepasang mata gelap predator yang tegas
mengintimidasi, tubuh kekar dengan otot dan urat-urat yang
menonjol dibawah kulitnya, dan ketampanan yang membuat
siapa pun wanita rela berlutut di hadapannya hanya untuk
diludahi.
Hunter Darian memanglah wujud kesombongan yang tidak
terbantahkan. Dia bukan jenis pria yang sombong padahal dia
tidak memiliki apa-apa. Dia sombong karena dia tahu dia
memiliki segalanya. Dia sombong karena dia tahu bahkan jika
orang lain membencinya semua orang akan tetap berusaha
menyukai dan memujanya.
Dia adalah wujud dari kesempurnaan. Kesempurnaan yang
penuh dengan cacat namun tetap terliat sempurna di mata
siapa pun yang memandangnya.
Terkadang Tristan bertanya-tanya siapa gerangan suatu saat
wanita yang mampu menaklukan hati kakaknya. Dia pasti
adalah wanita yang luar biasa, sekaligus juga wanita yang
sangat malang karena mendapatkan wujud bajingan seperti
Hunter Darian.
Tristan sangat menantikannya.
***