0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Praktikum Ilmu Ukur Tanah di Teknik Sipil

Dokumen ini membahas tentang Ilmu Ukur Tanah yang merupakan mata kuliah di Jurusan Teknik Sipil, mencakup pengukuran permukaan bumi dan penggunaan alat ukur modern seperti waterpass, drone, theodolite, dan total station. Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai teknik pengukuran dan pengolahan data yang diperlukan dalam proyek pembangunan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan konsep dasar pengukuran dan instrumen yang digunakan dalam survei topografi.

Diunggah oleh

laylalewlyn28
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Praktikum Ilmu Ukur Tanah di Teknik Sipil

Dokumen ini membahas tentang Ilmu Ukur Tanah yang merupakan mata kuliah di Jurusan Teknik Sipil, mencakup pengukuran permukaan bumi dan penggunaan alat ukur modern seperti waterpass, drone, theodolite, dan total station. Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai teknik pengukuran dan pengolahan data yang diperlukan dalam proyek pembangunan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan konsep dasar pengukuran dan instrumen yang digunakan dalam survei topografi.

Diunggah oleh

laylalewlyn28
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ilmu Ukur Tanah adalah salah satu mata kuliah yang dipelajari di semester
II pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung. Ilmu
Ukur Tanah atau survei dan pemetaan adalah sebagian kecil dari ilmu yang
lebih luas, yaitu ilmu geodesi. Secara ilmiah dapat diartikan menentukan
bentuk permukaan bumi, sedangkan secara praktis yaitu guna mempelajari
sebagian besar atau kecil dari permukaan bumi (Hadi, 2014). Ilmu Ukur
Tanah mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan di bawah
tanah untuk berbagai keperluan seperti pemetaan, mendeskripsikan keadaan
yang sebenarnya, penentuan posisi yang relatif sempit dan batas-batas
wilayah suatu tempat di permukaan bumi untuk kemudian
menggambarkannya pada suatu bidang datar.

Sebagaimana yang diketahui bahwa terdapat proses geomorfologi yang


merupakan suatu proses dimana permukaan bumi mengalami perubahan
bentuk dari waktu ke waktu, akibatnya topografi dan relief dari bumi berupa
tonjolan dan cekungan yang muncul akibat adanya tenaga dari luar atau
dalam bumi itu sendiri. Unsur kelengkungan tersebut dalam penggambaran
permukaan bumi dapat diabaikan melalui implementasi dari pembelajaran
mata kuliah Ilmu Ukur Tanah.

Pengukuran merupakan pengamatan terhadap besaran yang dilakukan


dengan menggunakan peralatan dalam suatu lokasi dengan beberapa
keterbatasan tertentu (Basuki, 2006). Melakukan pengukuran suatu daerah
ialah menentukan unsur-unsur jarak dan sudut dari titik yang ada di suatu
YOYOK CATUR PRASETIO
2415011094
daerah

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
2

dalam jumlah yang cukup, sehingga daerah tersebut dapat digambar dengan
skala tertentu. Pengukuran jarak dan sudut antara titik-titik yang dimaksud
bertujuan untuk menentukan posisi titik batas atau acuan pada suatu bidang
tanah.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya


pembaharuan dalam pengukuran. Hal ini ditandai dengan ketersediaan
peralatan alat ukur yang dilengkapi dengan teknologi digital terkini,
sehingga semua pengukuran dapat dilakukan secara cepat dan akurat.
Terdapat banyak jenis alat-alat ukur modern dan canggih seperti waterpass,
drone, theodolite dan total station. Kemajuan pada alat ukur tersebut sangat
membantu dalam pengukuran topografi yang memerlukan banyak waktu
dan biaya yang lebih tinggi.

Dalam semua proyek pembangunan, sebelum memulai pekerjaan teknik,


patok-patok ditempatkan di lokasi sebagai acuan dan titik-titik penting
lainnya. Pekerjaan tersebut dinamakan penentuan letak dan biasanya
dilakukan dengan menggunakan alat ukur modern dan canggih seperti
theodolite atau waterpass, jika diperlukan ketelitian yang lebih tinggi.
Penentuan letak dengan theodolite biasanya mencakup penentuan arah patok
dan penentuan sudut.

Selain pekerja atau surveyor di bidang konstruksi, instrumen survei


topografi juga digunakan oleh mahasiswa yang melaksanakan praktikum
Ilmu Ukur Tanah. Dalam praktikum Ilmu Ukur Tanah, mahasiswa akan
berlatih melakukan pekerjaan-pekerjaan survei dengan tujuan agar
pembelajaran yang dipelajari dapat diterapkan di lapangan dan digunakan
dalam berbagai keperluan perencanaan teknis atau keperluan bagi pekerjaan
perencanaan yang membutuhkan data-data pengukuran koordinat dan
ketinggian suatu titik di lapangan.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
3

Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan dapat memahami dengan baik


aspek- aspek terkait pengukuran menggunakan instrumen survei topografi,
yaitu waterpass, drone, theodolite dan total station.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Praktikum ini dimaksudkan sebagai sarana dan prasarana bagi mahasiswa


sebelum melakukan perencanaan teknis dalam proyek pembangunan di
lapangan tentang cara-cara pengukuran dengan menggunakan instrumen
survei topografi serta pengolahan data dengan menggunakan teori-teori
dasar dan rumus-rumus yang telah dipelajari.
Adapun tujuan dari dilaksanakannya praktikum ini, yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui cara menggunakan instrumen survei topografi yaitu
waterpass, drone, theodolite dan total station.
2. Mengetahui cara centering menggunakan alat waterpass, theodolite dan
total station.
3. Mengetahui cara menghitung poligon dan mengolah data pengukuran
lapangan untuk mencari titik koordinat.
4. Mengetahui beda tinggi suatu titik dengan titik lain yang diamati pada
permukaan tanah.

C. MANFAAT PRAKTIKUM

Adapun manfaat dari dilaksanakannya praktikum ini, yaitu sebagai berikut:


1. Sebagai penerapan dari teori-teori dasar mengenai Ilmu Ukur Tanah
terkait pekerjaan-pekerjaan survei yang telah diberikan selama kuliah.
2. Mahasiswa dapat mengetahui segala prosedur yang perlu dilakukan
dalam perhitungan atau pengolahan data pengukuran di lapangan
menggunakan alat waterpass, drone, theodolite dan total station.
3. Mahasiswa dapat mengetahui beda tinggi suatu titik dengan titik lain
yang diamati pada permukaan tanah menggunakan rumus-rumus yang
telah dipelajari
YOYOK CATUR PRASETIO
2415011094
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. PLANE SURVEYING (ILMU UKUR TANAH)

Ilmu Ukur Tanah adalah cabang dari ilmu geodesi yang secara khusus
mempelajari sebagian kecil dari permukaan bumi dengan cara melakukan
pengukuran guna mendapatkan peta. Pengukuran yang dilakukan terhadap
titik-titik detail alam maupun buatan manusia meliputi posisi horizontal (x,
y) maupun posisi vertikal (z) dari objek-objek di permukaan bumi yang
meliputi unsur-unsur alamiah seperti danau, sungai, gunung, pegunungan,
dan bukit serta unsur-unsur buatan manusia seperti jembatan, jalan, rel
kereta api, bendungan dan sebagainya.

Ilmu Ukur Tanah dianggap sebagai disiplin ilmu teknik dan seni yang meliputi
semua metoda untuk pengumpulan dan pengolahan informasi tentang
permukaan bumi dan lingkungan fisik bumi kemudian menggambarkannya
pada suatu bidang datar.

B. DEFINISI PENGUKURAN

Pengukuran merupakan pengamatan terhadap besaran yang dilakukan dengan


menggunakan peralatan dalam suatu lokasi dengan beberapa keterbatasan
tertentu (Basuki, 2006). Pengukuran didefinisikan sebagai seni penentuan
posisi relatif di atas atau di bawah permukaan bumi, berhubungan dengan
pengukuran jarak-jarak, sudut-sudut, arah-arah (vertikal dan horizontal).

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
YOYOK CATUR PRASETIO
2415011094
5

Pengukuran dilakukan guna menghasilkan ukuran-ukuran dan kontur


permukaan tanah, misalnya untuk persiapan gambar rencana (plan) atau
peta, menarik garis batas tanah, mengukur luasan dan volume tanah, dan
memilih tempat yang cocok untuk suatu proyek rekayasa.

Ketika pengukuran sudah dilakukan, maka tahapan selanjutnya adalah


melakukan pengolahan hasil-hasil pengukuran menggunakan perhitungan-
perhitungan, yaitu perhitungan jarak, sudut, azimut (azimuth) dan koordinat.
Pengukuran jarak bisa dilaksanakan secara langsung menggunakan pita
ukur, bisa juga secara tidak langsung menggunakan theodolite dan rambu
ukur (cara optis) atau dengan Electronic Distance Measurement/EDM (cara
elektronis).

Jarak antara dua buah titik di muka bumi dalam Ilmu Ukur Tanah
merupakan jarak terpendek antara kedua titik tersebut yang dipengaruhi oleh
perletakannya, yaitu pada bidang datar, bidang miring atau bidang tegak.
Pada bidang datar disebut jarak datar, pada bidang miring disebut jarak
miring, dan pada bidang tegak disebut jarak tegak atau tinggi. Adapun
satuan panjang yang digunakan dalam survei pengukuran jarak yaitu satuan
meter (m).

Sudut horizontal dapat dihitung dengan dua cara, yaitu dari selisih dua
bacaan horizontal dan selisih dua azimut (azimuth). Bacaan horizontal
biasanya didapatkan dari pengukuran theodolite. Dengan cara tertentu
theodolite dapat menghasilkan bacaan horizontal yang sekaligus sebagai
azimut (azimuth) dua titik, sedangkan penentuan beda tinggi dapat
dilakukan dengan menggunakan alat waterpass yang ditentukan dengan
garis-garis vizier (sumbu teropong) horizontal yang ditunjukkan ke rambu-
rambu ukur yang vertikal.

Dalam pekerjaan survei, perlu ditentukan garis arah referensi. Tujuan


ditetapkannya garis arah referensi adalah untuk memberi orientasi bagi
semua garis survei. Berdasarkan ketelitian pengukurannya, ilmu geodesi
YOYOK CATUR PRASETIO
2415011094
6

terbagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut:

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
7

1. Geodetic surveying, yaitu suatu survei yang memperhitungkan


kelengkungan bumi atau kondisi yang sebenarnya. Geodetic surveying
biasanya digunakan dalam pengukuran daerah yang luas dengan
menggunakan bidang hitung yaitu bidang lengkung.
2. Plane surveying, yaitu suatu survei yang dilakukan dengan mengabaikan
kelengkungan bumi dan mengasumsikan bumi sebagai bidang datar.
Plane surveying biasanya digunakan untuk pengukuran daerah yang
tidak luas dengan menggunakan bidang hitung yaitu bidang datar.

C. INSTRUMEN SURVEI TOPOGRAFI

1. Waterpass

Waterpass adalah alat yang digunakan untuk mengukur beda ketinggian


dari satu titik acuan ke acuan berikutnya. Waterpass dilengkapi dengan
kaca dan gelembung kecil di dalamnya. Untuk memeriksa apakah
waterpass telah terpasang dengan benar perhatikan gelembung kaca
berbentuk bulat (gelembung nivo). Apabila gelembung tepat berada di
tengah, artinya waterpass telah terpasang dengan benar. Waterpass
mempunyai nivo sebagai penyama ketinggian, lensa objektif, lensa
okuler dan penangkap cahaya (Zulzulaidy, 2013).

a. Instrumen Pendukung Waterpass


Dalam penggunaan waterpass diperlukan kelengkapan alat lain.
Kelengkapan utama adalah statif. Unting-unting, yaitu digunakan
sebagai sentring dan penepatan alat ukur waterpass tepat di atas titik
yang diukur. Rambu ukur atau bak ukur, yaitu digunakan sebagai
indikasi suatu ukuran yang setiap benangnya mengindikasikan
ukuran 1 cm dan selang-seling bernotasi E mengindikasikan ukuran
5 cm.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
8

b. Bagian-bagian Alat Waterpass

Gambar 1. Bagian-bagian alat waterpass.

1. Teropong, fungsinya sebagai alat untuk membidik. Bagian yang


harus terlihat dalam pembidikan adalah benang diafragma.
2. Vizier, fungsinya sebagai alat pengarah bidikan sebelum
dilakukan pembidikan melalui teropong.
3. Nivo kotak, digunakan sebagai indikasi yang menandai sumbu
utama atau sumbu satu dalam keadaan tegak. Bila gelembung
nivo berada di tengah artinya sumbu utama dalam keadaan
sentring atau tegak.
4. Tiga sekrup pendatar, berfungsi untuk membantu pengaturan
gelembung nivo kotak agar tepat berada di tengah.

2. Drone

Perkembangan teknologi terkait peralatan serta kompleksitas pekerjaan


survei pemetaan dari waktu ke waktu semakin meningkat, salah satunya
ditandai dengan berkembangnya teknologi untuk menunjang kegiatan
survei dan pemetaan adalah Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau
secara umum disebut dengan Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Pemetaan dengan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) merupakan suatu
strategi atau cara untuk pemetaan dengan skala besar dengan waktu yang
lebih cepat dan efisien.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
9

Drone adalah wahana yang dilengkapi sistem pengendali terbang melalui


gelombang, navigasi presisi Ground Positioning System (GPS) dan
elektronik kontrol penerbangan sehingga mampu terbang sesuai
perencanaan terbang (autopilot). Drone memungkinkan untuk melakukan
pelacakan posisi dan orientasi dari sensor yang diimplementasikan dalam
sistem lokal atau koordinat global (Eisenbeiss, 2009).

Penggunaan drone menghasilkan gambar atau citra dengan resolusi


spasial yang besar, tidak terkendala awan, karena pengoperasiannya pada
ketinggian di bawah. Menurut Bahar (2016), klasifikasi drone atas dasar
sayapnya dibagi menjadi dua, yaitu multicopter dan fixed wing. Fixed
wing memiliki bentuk seperti pesawat terbang biasa yang dilengkapi
sistem sayap, sedangkan multicopter yaitu jenis drone yang
memanfaatkan putaran baling-baling untuk terbang.

a. Titik Pusat Pemetaan Drone


Sistem sumbu pemotretan udara terbagi dalam tiga pusat foto udara
yang dapat dipakai untuk mengetahui apakah sebuah foto udara
tersebut benar-benar vertikal, agak condong, atau condong. Tiga titik
pusat tersebut adalah titik dasar, titik isosenter, dan titik nadir.
Ketiga titik sistem pusat sumbu ini memiliki tipe distorsi dan
pergeseran yang berbeda menyebar secara radial dari masing-masing
titik. Titik dasar (principal point) merupakan titik dasar dimana suatu
garis tegak lurus yang diproyeksikan melalui pusat lensa memotong
gambar foto. Principal point merupakan pusat geometri dan
dianggap berimpit dengan titik-titik pusat foto lainnya yang
ditunjukan oleh perpotongan sumbu x dan sumbu y.

b. Perencanaan Pemotretan Udara


Sebelum melakukan suatu misi pemotretan udara menggunakan
pesawat model Unmanned Aerial Vehicle (UAV) ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan agar hasil pengambilan gambar atau data
yang
YOYOK CATUR PRASETIO
2415011094
10

dibutuhkan sesuai dengan yang diinginkan. Salah satu faktor teknis


dalam pemotretan udara adalah penentuan skala foto. Skala peta
biasanya diartikan sebagai perbandingan antara jarak di dalam peta
dan jarak yang sebenarnya, sedangkan dalam foto udara skala yang
dimaksud adalah perbandingan antara panjang fokus kamera (f)
dengan tinggi terbang pesawat terhadap bidang rata-rata tanah (H).

Keberhasilan suatu proyek fotogrametri juga dipengaruhi oleh foto


yang memiliki kualitas baik Perencanaan jalur terbang untuk luas
area tertentu, perlu diperhatikan agar gambar yang dihasilkan
memiliki kualitas yang lebih baik. Jalur terbang yang dibuat pada
area yang dipetakan disesuaikan dengan teknik atau pola pemotretan
yang diinginkan.

c. Bagian-bagian Alat Drone

Gambar 2. Bagian-bagian alat drone.

1. Propeller atau prop merupakan baling-baling yang dipakai untuk


memberikan daya angkat pada drone. Fungsi lainnya yaitu
berperan dalam pengendalian arah dan keseimbangan.
2. Gimbal merupakan sistem stabilisasi yang berasal dari kamera.
Berfungsi untuk stabilisasi dalam pengambilan foto atau video
dari faktor eksternal di udara seperti guncangan angin.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
11

3. Landing skid atau kaki drone digunakan dalam pendaratan ketika


pemetaan sudah selesai dilakukan.
4. Camera atau kamera merupakan alat yang dipakai untuk
menampilkan image atau gambar yang dipakai untuk melihat,
memotret dan melakukan recording video.

3. Theodolite

Theodolite adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk
menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Di
dalam theodolite sudut yang dapat dibaca bisa sampai pada satuan
second. Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan
pada suatu dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar
mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horizontal
untuk dibaca. Teleskop tersebut juga dipasang pada piringan kedua dan
dapat diputar- putar mengelilingi sumbu horizontal, sehingga
memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca. Kedua sudut tersebut dapat
dibaca dengan tingkat ketelitian sangat tinggi (Farrington, 1997).

a. Instrumen Pendukung Theodolite


Dalam melakukan survei dengan menggunakan alat theodolite
dibutuhkan alat tambahan sebagai instrumen pendukung dalam
pengukuran yang akan dilakukan di lapangan. Kelengkapan utama
adalah statif yang berfungsi sebagai tempat dudukan alat dan untuk
menstabilkan theodolite. Unting-unting, yaitu digunakan sebagai
sentring dan untuk memproyeksikan suatu titik pada pita ukur di
permukaan tanah. Rambu ukur atau bak ukur, yaitu digunakan
sebagai indikasi suatu ukuran.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
12

b. Bagian-bagian Alat Theodolite

Gambar 3. Bagian-bagian alat theodolite.

1. Klem pengunci vertikal, berfungsi untuk menggerakkan


teropong secara vertikal ke arah rambu ukur (objek).
2. Klem pengunci lingkaran horizontal, berfungsi untuk mengunci
alat agar tidak dapat diputar secara horizontal.
3. Klem pengatur fokus benang, berfungsi untuk memperjelas
benang pada lensa (benang bagian atas, tengah, dan bawah).
4. Sekrup pengatur nivo, berfungsi untuk mengatur posisi gelembung
nivo agar berada di titik tengah.
5. Nivo tabung, berfungsi untuk mengatur posisi sumbu II agar
berada pada posisi horizontal, diatur dengan menggunakan tiga
sekrup pendatar.
6. Nivo kotak, berfungsi untuk mengatur posisi sumbu utama agar
berada pada posisi vertikal.
7. Display dan papan tombol, berfungsi untuk pembacaan skala
lingkaran vertikal dan horizontal.
8. Handle, berfungsi sebagai pegangan tangan pada alat.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
13

4. Total Station

Total station merupakan alat pengukur jarak, kemiringan, ketinggian, dan


sudut (sudut horizontal dan sudut vertikal) secara otomatis. Total station
dilengkapi dengan memori internal, sehingga data pengukuran sudut dan
jarak dapat disimpan untuk kemudian diunduh dan diolah secara
computerize. Kemampuan dasarnya adalah dapat melakukan pengkuran
dengan rentang jarak yang jauh, cepat, dan akurat. Alat ini dikembangkan
dengan memprioritaskan kenyamanan maksimal kerja pada pengguna.

Kelebihan penggunaan total station, yaitu:


1. Akurasi pengukuran tinggi.
2. Perhitungan koordinat cepat dan akurat
3. Pengumpulan informasi (data) yang relatif cepat.
4. Lebih banyak pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Peralatan total station memiliki instrumen pendukung, berupa:


1. triple prism.
2. single prism
3. statif, dan
4. pole.

Kekurangan penggunaan total station, yaitu: (1) penggunaannya tidak


memberikan hard copy catatan lapangan. Oleh karena itu, mungkin sulit
bagi surveyor untuk melihat dan memeriksa pekerjaan saat survei, (2)
untuk pemeriksaan survei secara keseluruhan, pengguna harus
menyiapkan gambar menggunakan perangkat lunak yang sesuai, (3) total
station tidak boleh digunakan untuk pengamatan matahari tanpa filter
khusus dan, (4) untuk menggunakan total station diperlukan biaya yang
tidak murah serta membutuhkan tenaga kerja yang terampil.

Total station dikembangkan dengan memprioritaskan kenyamanan maksimal


kerja pada pengguna. Total station mengukur sudut dan jarak ke

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
14

berbagai titik yang disurvei melalui koordinat (x, y, dan z atau utara,
timur, dan elevasi) relatif terhadap total station dihitung menggunakan
fungsi trigonometrik/geometris.

a. Bagian-bagian Alat Total Station

Gambar 4. Bagian-bagian alat total station.

1. Pengunci tribach, fungsinya untuk mempermudah


dan mengarahkan alat agar tepat berada di titik
fokus.
2. Centering optical, fungsinya untuk membidik titik sasaran untuk
memastikan alat sudah sentring.
3. Sekrup pengunci horizontal, fungsinya untuk mengunci alat agar
tidak dapat diputar secara horizontal.
4. Sekrup pengunci vertikal, fungsinya untuk mengunci sekrup
vertikal.
5. Vizier, fungsinya sebagai alat pengarah bidikan sebelum
dilakukan pembidikan melalui teropong.
6. Telescope eyepiece, fungsinya untuk mengatur fokus benang
silang.
7. Telescope focusing knob, fungsinya untuk mengatur fokus objek.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
15

D. POLIGON

Poligon atau traverse berasal dari dua kata, poly yang berarti banyak dan gonos
yang berarti sudut. Poligon adalah metode pengadaan kerangka dasar
pemetaan horizontal dengan membuat bangun segi banyak yang diukur
dengan semua jarak dan sudutnya. Sebagai kerangka dasar, posisi atau
koordinat titik poligon harus diketahui atau ditentukan secara teliti. Poligon
dapat mengikuti berbagai bentuk medan pengukuran, mulai dari yang paling
sederhana, misalnya berupa segitiga hingga bentuk kompleks misalnya segi
n dengan variasi loop (n adalah jumlah titik poligon yang tak terbatas).

Pengukuran poligon harus memenuhi kriteria atau persyaratan tertentu seperti


koordinat awal, semua sudut diukur dan semua jarak diukur. Poligon
bertujuan untuk penentuan posisi dan dari titik-titik koordinat yang diukur di
lapangan. Adapun tujuan dari pengukuran poligon, yaitu sebagai berikut:
1. Memperbanyak koordinat titik-titik sebagai basic titik pada daerah ukur
yang diperlukan untuk ketepatan pembuatan peta.
2. Sebagai kerangka pemetaan dan kerangka horizontal pada daerah
pengukuran.
3. Penetapan letak posisi koordinat tetap pada suatu daerah pengukuran.
4. Penetapan teknik dan bentuk pengukuran yang disesuaikan dengan
medan yang diukur.
5. Memudahkan dalam perhitungan, kontrol jarak dan sudut, dan ploting
peta.

Berdasarkan bentuk kerangka poligon, pada prinsipnya poligon dapat dibedakan


menjadi dua macam, yaitu:
1. Poligon terbuka adalah poligon yang titik awal pengukuran tidak
menjadi titik akhir atau merupakan dua titik yang berbeda. Pengukuran
poligon terbuka biasanya digunakan untuk mengukur jalan, sungai,
maupun irigasi. Poligon terbuka terbagi menjadi dua bentuk, yaitu
poligon terbuka terikat sempurna dan poligon terbuka tidak terikat
sempurna. Teknik
YOYOK CATUR PRASETIO
2415011094
16

pengukuran poligon terbuka dapat dibedakan dengan menjadi tiga, yaitu


pengukuran poligon terbuka yang tidak terikat tidak tetap, pengukuran

poligon terbuka yang terikat tidak tetap, dan pengukuran poligon terbuka
yang terikat titik tetap sempurna.

Gambar 5. Poligon terbuka.

2. Poligon tertutup adalah rangkaian titik-titik dimana pengukuran titik


awal dan titik akhirnya sama, artinya rangkaian pengukuran yang
dilakukan kembali ke titik semula. Poligon tertutup memberikan
pengecekan pada sudut-sudut dan jarak tertentu yang merupakan suatu
pertimbangan yang sangat penting. Dalam pengukuran poligon, besar
nilai pada titik sudut pertama akan sama dengan besar nilai pada titik
sudut terakhir. Poligon tertutup biasanya digunakan dalam pengukuran
titik kontur, luas lahan dan kepemilikan tanah.

Gambar 6. Poligon tertutup.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
17

Pengukuran poligon yang diterapkan dalam praktikum ini adalah


pengukuran poligon tertutup. Peralatan yang digunakan berupa
waterpass, theodolite dan total station. Prosedur percobaan yang
dilakukan pertama, yaitu memasang lima patok di lima titik yang akan
membentuk poligon.

YOYOK CATUR PRASETIO


2415011094
18

Anda mungkin juga menyukai