LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)
DENGAN DIAGNOSA MEDIS ASMA DI WILAYAH KERJA UPT.
PUSKESMAS KECAMATAN LABUHAN BADAS UNIT II
DISUSUN OLEH:
Nama Mahasiswa : Damhuji
NIM : 25.14901.1.002
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SAMAWA
2025
LAPORAN PENDAHULUAN
ASMA
A. Asma
1. Pengertian
Asma merupakan penyakit saluran respiratori kronik yang sering
dijumpai baik pada anak maupun dewasa. Prevalens asma pada anak
sangat bervariasi di antara negara-negara di dunia, berkisar antara 1- 18%.
Meskipun tidak menempati peringkat teratas sebagai penyebab kesakitan
atau kematian pada anak, asma merupakan masalah kesehatan yang
penting. Jika tidak ditangani dengan baik, asma dapat menurunkan kualitas
hidup anak, membatasi aktivitas sehari-hari, mengganggu tidur,
meningkatkan angka absensi sekolah, dan menyebabkan prestasi akademik
di sekolah menurun. Bagi keluarga dan sektor pelayanan kesehatan, asma
yang tidak terkendali akan meningkatkan pengeluaran biaya (UKK
respirologi, 2016).
Asma adalah penyakit multifaktorial dengan perjalanan klinis yang
bervariasi pada setiap anak dan dapat berubah seiring berjalannya waktu.
Asma tidak dapat sembuh, tetapi dapat dikendalikan agar gejala tidak
sering muncul. Komunikasi, informasi, dan edukasi kepada orang tua
merupakan kunci penting untuk mencapai asma terkendali. (UKK
respirologi, 2019).
Asma dapat menyerang semua orang, baik anak maupun dewasa.
Batasan asma yang lengkap yang dikeluarkan oleh Global Initiative for
Asthma (GINA) didefinisikan sebagai penyakit heterogen berupa
gangguan inflamasi kronik saluran nafas. Penyakit ini didefinisikan
dengan gejala berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk
yang bervariasi serta keterbatasan aliran udara yang bervariasi (Roro,
2019)
2. Penyebab
Faktor risiko yang dapat mengakibatkan asma dan memicu untuk terjadinya
serangan asma diantaranya adalah riwayat atopic keluarga. Berdasarkan
sebuah studi kohort, apabila seorang anak memiliki satu orang tua yang
memiliki alergi, maka anak tersebut memiliki kemungkinan untuk
menderita alergi sebesar 33%, dan kemungkinan alergi pada anak yang
kedua orang tuanya menderita alergi sebesar 70% (Roro, 2019).
Menurut Asra, A., & Rudiansyah, (2017).etiologi asma dapat dibagi atas :
a. Asma ekstrinsik / alergi
Asma yang disebabkan oleh alergen yang diketahui masanya sudah
terdapat semenjak anak-anak seperti alergi terhadap protein, serbuk
sari, bulu halus, binatang dan debu.
b. Asma instrinsik / idopatik
Asma yang tidak ditemukan faktor pencetus yang jelas, tetapi adanya
faktor-faktor non spesifik seperti : flu, latihan fisik, kecemasan atau
emosi sering memicu serangan asma. Asma ini sering muncul sesudah
usia 40tahun setelah menderita infeksi sinus.
c. Asma campuran
Asma yang timbul karena adanya komponen ekstrinsik dan intrinsik.
3. Patofisiologi
Suatu serangan asma merupakan akibat obstruksi jalan napas difus
reversible. Obstruksi disebabkan oleh timbulnya tiga reaksi utama yaitu
kontraksi otot-otot polos saluran napas, pembengkakan membran yang
melapisi bronkus, pengisian bronkus dengan mukus yang kental. Selain
itu, otot-otot bronkus dan kelenjar mukosa membesar, sputum yang kental,
banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara
terperangkap di dalam jaringan paru. Antibodi yang dihasilkan (IgE)
kemudian menyerang sel mast dalam paru-paru. Pemajanan ulang terhadap
antigen menyebabkan ikatan antigen dengan antibody, menyebabkan
pelepasan produk sel-sel mast (mediator) seperti histamin, bradikinin,
prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-
A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos
dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan
membran mukosa dan pembentukan mukus yang sangat banyak. Selai itu,
reseptor α dan β dari sistem saraf simpatik terletak dalam bronkus. Ketika
reseptor α adrenergik dirangsang, terjadi bronkonstriksi, bronkodilatasi
terjadi ketika reseptor β adrenergik yang dirangsang (Erin Imaniar, 2015).
Keseimbangan antara reseptor α dan β adrenergik dikendalikan
terutama oleh siklik adenosine monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor α
mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan
mediator kimia yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkostriksi. Stimulasi
reseptor β mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP yang menghambat
pelepasan mediator kimia dan menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang
diajukan adalah bahwa penyekata β adrenergik terjadi pada individu
dengan Asma. Akibatnya, asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan
mediator kimia dan kontriksi otot polos (Erin Imaniar, 2015).
4. Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul (Papi, 2017) adalah:
a. Pneumotoraks
Pneumotoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga pleura
yang dicurigai bila terdapat benturan atau tusukan dada. Keadaan ini
dapat menyebabkan kolaps paru yang lebih lanjut lagi dapat
menyebabkan kegagalan napas.
b. Pneumomediastinum
Pneumomediastinum dikenal sebagai emfisema mediastinum adalah
suatu kondisi dimana uadara hadir di mediastinum. Kondisi ini dapat
disebabkan oleh trauma fisik atau situasi lain yang mengarah ke uadar
keluar dari paru- paru.
c. Atelektasis
Atelektasis adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat
penumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat
pernapasan yang sangat dangkal.
d. Bronkhitis
Bronkhitis atau radang paru-paru adalah kondisi dimana lapisan bagian
dalam dari saluran pernapasan di paru-paru yang kecil (bronkiolus)
mengalami bengkak. Selain bengkak juga terjadi peningkatan produksi
lendir. Akibatnya penderita merasa perlu batuk berulang-ulang dalam
upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan, atau merasa sulit
bernapas karena sebagian saluran udara menjadi sempit oleh adanya
lendir.
e. Gagal napas
Gagal napas terjadi bila pertukaran oksigen terhadap karbondioksida
dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan
pemebentukan karbondioksida dalam sel-sel tubuh.
5. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan jangka panjang asma anak secara umum
adalah mencapai kendali asma dan mengurangi risiko serangan,
penyempitan saluran respiratori yang menetap dan efek samping
pengobatan, sehingga menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak
secara optimal. Secara lebih rinci, tujuan yang ingin dicapai menurut UKK
respirologi, (2016). adalah:
a. Aktivitas pasien berjalan normal, termasuk bermain dan
berolahraga.
b. Gejala tidak timbul pada siang maupun malam hari.
c. Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan.
d. Efek samping obat dapat dicegah untuk tidak atau sesedikit
mungkin terjadi, terutama yang memengaruhi tumbuh kembang
anak.
Penatalaksanaan jangka panjang pada asma anak dibagi menjadi tata
laksana nonmedikamentosa dan tata laksana medikamentosa. Tata laksana
nonmedikamentosa berupa pengendalian lingkungan dan penghindaran
pencetus, sedangkan tata laksana medikamentosa yaitu obat asma dapat
dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu obat Pereda (reliever) dan obat
pengendali (controller). Obat pereda disebut juga sebagai obat pelega atau
obat serangan. Obat ini digunakan untuk meredakan serangan atau gejala
asma bila sedang timbul. Bila serangan sudah teratasi dan gejala tidak ada
lagi, maka pemakaian obat ini dihentikan (UKK respirologi, 2016).
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
Mendapatkan data identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor registrasi, dan diagnosa medis.
b. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama: klien mengeluh sesak nafas, nyeri dada.
b. Riwayat penyakit sekarang: asma, CHF, AMI, ISPA.
c. Riwayat penyakit dahulu: pernah menderita asma, CHF, AMI, ISPA, batuk.
d. Riwayat penyakit keluarga: mendapatkan data riwayat kesehatan keluarga
pasien
c. Pola kesehatan fungsional
Hal-hal yang dapat dikaji pada gangguan oksigenasi adalah :
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Bagaimana perilaku individu tersebut mengatasi masalah kesehatan, adanya
faktor risiko sehubungan dengan kesehatan yang berkaitan dengan oksigen.
b. Pola Aktivitas-latihan
Adanya kelemahan atau keletihan, aktivitas yang mempengaruhi kebutuhan
oksigenasi seseorang. Aktivitas berlebih dibutuhkan oksigen yang banyak.
Orang yang biasa olahraga, memiliki peningkatan aktivitas metabolisme tubuh
dan kebutuhan oksigen.
c. Pola istirahat-tidur
Adanya gangguan oksigenasi menyebabkan perubahan pola istirahat.
d. Pola nutrisi metabolic
Kebiasaan diit buruk seperti obesitas akan mempengaruhi oksigenasi karena
ekspansi paru menjadi pendek. Klien yang kurang gizi, mengalami kelemahan
otot pernafasan.
e. Pola eliminasi
Perubahan pola defekasi (darah pada feses, nyeri saat devekasi), perubahan
berkemih (perubahan warna, jumlah, frekuensi)
f. Pola kognitif dan perceptual
Rasa kecap lidah berfungsi atau tidak, gambaran indera pasien terganggu atau
tidak, penggunaaan alat bantu dalam penginderaan pasien.
g. Pola konsep diri
Keadaan social yang mempengaruhi oksigenasi seseorang (pekerjaan, situasi
keluarga, kelompok sosial), penilaian terhadap diri sendiri (gemuk/ kurus).
h. Pola Koping
Adanya stress yang memengaruhi status oksigenasi pasien.
i. Pola seksual-reproduksi
Perilaku seksual setelah terjadi gangguan oksigenasi dikaji
j. Pola peran hubungan
Kebiasaan berkumpul dengan orang-orang terdekat yang memiliki
kebiasaan merokok sehingga mengganggu oksigenasi seseorang.
k. Pola Nilai dan Kepercayaan
Status ekonomi dan budaya yang mempengaruhi oksigenasi, adanya
pantangan atau larangan minuman tertentu dalam agama pasien.
d. Pemeriksaan fisik
1) Kesadaran: kesadaran menurun
2) TTV: peningkatan frekuensi pernafasan, suhu tinggi
3) Head to toe
a) Mata: Konjungtiva pucat (karena anemia), konjungtiva sianosis (karena
hipoksemia), konjungtiva terdapat petechie (karena emboli atau endokarditis)
b) Mulut dan bibir: Membran mukosa sianosis, bernafas dengan mengerutkan
mulut
c) Hidung : Pernafasan dengan cuping hidung
d) Dada: Retraksi otot bantu nafas, pergerakan tidak simetris antara dada kanan
dan kiri, suara nafas tidak normal.
e) Pola pernafasan: pernafasan normal (apneu), pernafasan cepat
(tacypnea), pernafasan lambat (bradypnea)
e. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan memantau analisa gas darah
arteri dan pemeriksaan diagnostik foto thorak, EKG.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul pada klien dengan gangguan oksigenasi adalah:
a) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi mukus berlebih
b) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasiatau hiperventilasi
c) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
3. Rencana Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi mukus berlebih
Diagnosa Keperawatan Tujuan Keperawatan Rencana Tindakan
(NANDA) ( NOC ) (NIC )
Bersihan jalan nafas Status Respirasi : jalan nafas Manajemen jalan nafas
tidak efektif paten/lancar Jaga kepatenan jalan nafas : buka jalan
berhubungan dengan : Status Respirasi :Ventilasi nafas, suction, fisioterapi dada sesuai
efektif indikasi
Produksi Mukus
Identifikasi kebutuhan insersi jalan nafas
Berlebih Status Respirasi : Pertukaran gas
buatan
Efektif
Data Subyektif Monitor pemberian oksigen, vital sign tiap
Tidak terjadi aspirasi
Klien mengatakan : .........jam
Monitor status respirasi : adanya suara
Sesak nafas Setelah dilakukan asuhan keperawatan
nafas tambahan.
Sputum tak bisa keluar selama …… x 24 jam :
Identifikasi sumber alergi : obat,makan an,
Data Obyektif Klien mampu mengidentifikasi dan
dll, dan reaksi yang biasa terjadi
Batuk tidak efektif mencegah faktor yang dapat
Monitor respon alergi selama 24 jam
Dispnea /Orthopnea/ menghambat jalan nafas
Ajarkan/ diskusikan dgn klien/keluraga
Sianosis Menunjukkan jalan nafas yang paten :
untuk menghindari alergen
Perubahan ritme & klien tidak merasa tercekik, tidak
Ajarkan tehnik nafas dalam dan batuk
frekuensi pernafasan terjadi aspirasi, frekuensi pernafasan
efektif
Gelisah dalam rentang normal : Dewasa:16-
Pertahankan status hidrasi untuk
Suara nafas tambahan : 20/mnt
Tidak ada suara nafas abnormal menurunkan viskositas sekresi
Kolaborasi dgn Tim medis : pemberian O2,
rales ,crakles,ronkhi, Mampu mengeluarkan sputum dari obat bronkhodilator, obat anti allergi, terapi
wheezing jalan nafas nebulizer, insersi jalan nafas, dan
Sputum produktif Menunjukkan pertukaran gas efektif pemeriksaan laboratorium: AGD
Karakteristik - pH : 7.35 – 7.45 Penghisapan jalan nafas
sputum:…… Tentukan kebutuhan penghisapan sekret
- PaCO2 : 35 – 45 %
TD… mmHg melalui oral maupun tracheal
N :…. x/mnt - PaO2 : 85 – 100 % Monitor saturasi oksigen klien dan status
hemodinamik selama dan setelah
RR……. x mnt - BE : + 2 s/d – 2 meq/L penghisapan
S.…. C
Catat tipe dan jumlah sekresi
- SaO2 : 96-97 % ( perifer)
Pencegahan Aspirasi
Tidak ada dyspnea dan sianosis, Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk,
mampu bernafas dengan mudah muntah dan kemampuan menelan.
Menunjukkan ventilasi adekuat Tinggikan posisi kepala tempat tidur 30-45
Ekspansi dinding dada simetris, tidak derajad setelah makan, untuk mencegah
ada : penggunaan otot-otot nafas aspirasi dan mengurangi dispnea.
tambahan, retraksi dinding dada, nafas
cuping hidung, dyspnea, taktil fremitus
Nama Perawat
(.............................................)
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi atau hiperventilasi
Diagnosa Keperawatan Tujuan Keperawatan Rencana Tindakan
(NANDA) ( NOC ) (NIC )
Pola Status pernafasan : ventilasi Manajemen Jalan Nafas
Nafas tidak efektif adekuat Atur posisi tidur untuk memaksimalkan
berhubungan ventilasi.
dengan : Jaga kepatenan jalan nafas: suction, batuk
Status Tanda Vital Stabil
efektif
Kaji TTV, dan adanya sianosis
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
Hiperventilasi Pertahankan pemberian O2 sesuai
:selama.......x 24 jam
Hypoventilasi kebutuhan
Sesak nafas berkurang sampai dengan
Deformitas tulang, Kaji adanya penurunan ventilasi dan
hilang
dinding dada bunyi nafas tambahan, kebutuhan insersi
Ekspirasi dada simetris
Penurunan energi / jalan nafas: ET, TT
Tidak ada penggunaan otot bantu
kelelahan: Anemia Tentukan lokasi dan luasnya krepitasi di
pernafasan, tidak ada nafas
Disfungsi neuro tulang dada
pendek Bunyi nafas tambahan
muscular: GBS Kaji peningkatan kegelisahan, ansietas
tidak ada (wheezing, ronchi, )
Kerusakan dan tersengal-sengal
Tidak ada nyeri dan cemas
musculoskeletal: Cedera Monitor pola pernafasan (Bradipnea,
TTV dalam batas normal;
Tulang Belakang takipnea, hiperventilasi): kecepatan,
- Suhu: 36,3-37,4 C
Posisi tubuh yg tidak irama, kedalaman, dan usaha respirasi
- Nadi: Bayi: 140x /menit
sesuai Monitor tipe pernafasan : Kusmaul,
Anak 2th: 120x /menit
Nyeri
Obesitas Anak 4th: 100x /menit Cheyne Stokes, Biot
Anak 10-14th:85- 90x /mnt. Ajarkan teknik relaksasi kpd klien dan
Laki2dewasa:60-70x/ menit keluarga.
Data Subyektif
[Link]-85x /mnt Kolaborasi Tim medis : untuk program
terapi, pemberian oksigen, obat
Klien mengatakan : Dewasa : 80-85x /menit bronkhodilator, obat nyeri cairan,
- TD : nebulizer, tindakan/ pemeriksaan medis,
Sesak nafas
Bayi syst. 60-80 mmHg pemasangan alat bantu nafas,, dan
Nafas pendek
Anak > 10th: 90/60 mmHg fisioterapi
Cemas
Umur 10-30 th: 110/75 mmHg ..................................
Data Obyektif
Umur 30-40 th: 125/85 mmHg
Penurunan
Umur 40-60 th: 140/90 mmHg
tekanan Nama Perawat
Umur > 60 th: 150/90 mmHg
inspirasi/ekspirasi
- Eupnoe (pernafasan normal)
Penggunaan otot bantu
- Respirasi:
nafas
Bayi: 30-50xmenit
Nafas cuping hidung
Balita: 30-40x/menit
Ekspirasi memanjang
Anak: 22x/menit (............................................)
Pernafasan nasal faring
Dewasa: 10-18 x/ mnt
Dyspnea/Orthopnea
RR.............x mnt
Nadi:...........x mnt
Tipe Pernafasan :
Kusmaul, Biot,
Cheynestokes.
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
Diagnosa Keperawatan Tujuan Keperawatan Rencana Tindakan
(NANDA) ( NOC ) (NIC )
Gangguan pertukaran gas Status respirasi : Pertukaran gas Manajemen jalan nafas
adekuat Kaji bunyi paru, frekuensi,
berhubungan dengan :
Status respirasi : Ventilasi efektif kedalaman, usaha nafas, dan produksi
pemasukan oksigen yang
Keseimbangan elektrolit dan asam sputum.
tidak adekuat
basa Identifikasi kebutuhan insersi jalan nafas,
Data Subyektif dan siapkan klien untuk tindakan ventilasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
Klien mengatakan : mekanik sesuai indikasi
selama …. x 24 jam :
Monitor vital sign tiap ...jam, adanya
Sakit kepala Menunjukkan pertukaran gas efektif
sianosis, dan efektifitas pemberian oksigen
Gangguan penglihatan / - pH : 7.35 – 7.45
yang dilembabkan.
visual : pandangan kabur
- PaCO2 : 35 – 45 % Jelaskan penggunaan alat bantu yang
Kelelahan
dipakai klien : oksigen, mesin penghisap,
Sesak nafas - PaO2 : 85 – 100 % dan alat bantu nafas
Merasa kebingungan
Ajarkan tehnik nafas dalam, batuk efektif
- BE : + 2 s/d – 2 meq/L
Lakukan tindakan untuk mengurangi
Data Obyektif - SaO2 : 96-97 % konsumsi oksigen : kendalikan demam,
Dispnea Tidak ada dyspnea dan sianosis, nyeri, ansietas, dan tingkatkan periode
Takikardi mampu bernafas dengan mudah istirahat yang adekuat
Sianosis Menunjukkan ventilasi adekuat, Kolaborasi dgn Tim medis : pemberian O2,
Gelisah ekspansi dinding dada simetris, suara obat bronkhodilator, terapi nebulizer /
Hipoksia(penurunan nafas bersih, tidak ada : penggunaan inhaler, insersi jalan nafas
otot-otot nafas tambahan, retraksi Manajemen Elektrolit & Asam-basa
Pertahankan kepatenan IV line, dan
balance cairan
PO2) dinding dada, nafas cuping hidung, Monitor status mental, elektrolit, dan
Hiperkarbia(peningkatan dyspnea, taktil fremitus abnormalitas serum
PCO2) TTV dalam batas normal Monitor tanda-tanda gagal nafas : hasil
Irama / Menunjukkan orientasi kognitif baik, AGD abnormal, kelelahan
frekuensi dan status mental adekuat Berikan terapi oksigen sesuai indikasi
kedalaman nafas Menunjukkan keseimbangan elektrolit Monitor status neurologi dan atau
abnormal dan asam basa neuromuskular : tingkat kesadaran dan
Tensi...............mmHg Na : 135 – 145 meq/L adanya kebingungan, parestesia, kejang
RR...................x /mnt Cl : 100-106 meq /L Kolaborasi dengan Tim medis untuk
Nadi.............x/mnt K : 3,5 – 5.5 meq/L pemeriksaan AGD, pencegahan dan
SpO2...................% Mg :1,5 – 2,5 meq / L penanganan asidosis dan alkalosis:
AGD / BGA abnormal Ca : 8,5- 10,5 meq /L Respiratorik & Metabolik
BUN : 10-20 mg/dl Hemodynamic regulation
Monitor status hemodinamik: saturasi
oksigen, nadi perifer, capillary refill, suhu
dan warna ekstremitas, edema, distensi JVP
Kolaborasi dgn Tim Medis untuk obat
vasodilator dan atau vasokonstriktor
Nama Perawat
(..........................................)
DAFTAR PUSTAKA
Badan Litbang Kesehatan, K. K. R. (2018).
Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf. In Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan.
Brunner & Suddarth. 2016. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Cahyaningsih, N. (2009). Hemodialisa: Panduan Praktis Perawatan Gagal Ginjal.
Yogyakarta: Mitra Cendekia Press
Fida’ Husain, & Ika Silvitasari. (2020). Management Keperawatan Mengurangi Rasa Haus
Pada Pasien Dengan Chronic Kidney Disease : Literature Review. Infokes: Jurnal
Ilmiah Rekam Medis Dan Informatika Kesehatan.
Firdaus, R. B. (2016). Upaya penatalaksanaan pola nafas tidak efektif Pada pasien chronic
kidney disease di RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro. D3 Keperawatan Fakultas Ilmu
Kesehatan.
Fradilla, N. (2009). Gagal Ginjal Kronik. Jakarta: Salemba Medika
Hidayat & Uliyah. 2015. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Edisi 2. Jakarta: Salemba
medika.
Kartikasari, D. (2017). Asuhan Keperawatan pada Klien Gagal Ginjal Kronik Dengan
Masalah Gangguan Pertukaran Gas. 93(I), 259.
Kusmiyanti, Y., Kesehatan, K., Indonesia, R., Surakarta, P. K., & Keperawatan,
(2019). Meningkatkan Keefektifan Pola Napas Pada Pasien Chronic Kidney
Disease ( Ckd ).
Luyckx, V. A., Tonelli, M., & Stanifer, J. W. (2018). The global burden of kidney disease
and the sustainable development goals. Bulletin of the World Health Organization.
Murharyati, A. (2020). Asuhan Keperawatan Pasien Gagal Ginjal Kronik ( GGK ) Dalam
Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis Istirahat Dan Tidur Nursing Care For Patients With
Chronic Kidney Failure In Accomplishing The Physiological Needs Of Relaxation And
Sleep Lecturer of Undergraduate. Keperawatan, 9.
Muttaqin, A. dan Sari, K. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika
Muttaqin (2014). Asuhan keperawatan klien dengan gangguan pernafasan. Salemba Medika:
Jakarta.
Nahas, M. E & Adeera, L. (2020). Chronic Kidney Disease: A Practical Giodeto
Understanding and Management. USA: Oxford University Press
Nurarif, H & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Beerdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) NIC-NOC. Medi
Action: Jogjakarta.
Nursalam. (2008). Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Jakarta: Salemba Medika
Pratiwi. 2016. Hiperventilasi (Napas Berlebih) Saat Panik, Berbahaykah?. (online),
[Link] diakses
tanggal 27 Agustus 2016.
Purwanti, A. M. D., Hartoyo, M., & M., W. (2016). Efektifitas Tehnik Relaksasi Nafas
Dalam dan Posisi Tripod Terhadap Laju Pernafasan Pasien PPOK Di RS H. Soewondo
Kendal. Karya Ilmiah.
Putra, G., Wenas, F., & Laoh, M. (2020). Posisi Lateral Kanan Meningkatkan Saturasi
Oksigen Pada Pasien CHF Dengan Gangguan Pola Napas Tidak Efektif.
Savitri, T. (2017). Mengenal Gangguan Hipoventilasi: Saat Napas Terasa Pendek Atau
Lambat. (online), [Link]
hipoventilasi/, diakses 27 Agustus 2019.
Smeltzer & Bare. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth. Vol:1.
Jakarta: EGC
Smeltzer, S. C & Bare, B. G. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta: EGC.
Sudoyo A. W., Setyohadi, B., Alwi, I. (2015). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi
V. Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.
Tarwoto & Wartonah. (2015). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan, edisi 5.
Jakarta: SalembaMedika.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (Definisi
dan Indikator Diagnostik). Dewan Pengurus Pusat PPNI: Jakarta
Windiramadhan, A. P., Sicilia, A. G., Afirmasari, E., Hartati, S., Platini, H., & Hamidah.
(2020). Efusi Pluera Di Ruang Perawatan Penyakit Dalam Fresia 2 RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung. Jurnal Perawat Indonesia.
WHO. (2019). World Health Orrganization e-journal Keperawatan. Diakses pada 16 Februari
2022