0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Matematika

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dan metode pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran matematika, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Penelitian ini berfokus pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation di SMP Negeri 2 Panyabungan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Identifikasi dan rumusan masalah serta tujuan penelitian juga diuraikan untuk memberikan arah yang jelas dalam pelaksanaan penelitian.

Diunggah oleh

Defrion Chaniago
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Matematika

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dan metode pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran matematika, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Penelitian ini berfokus pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation di SMP Negeri 2 Panyabungan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Identifikasi dan rumusan masalah serta tujuan penelitian juga diuraikan untuk memberikan arah yang jelas dalam pelaksanaan penelitian.

Diunggah oleh

Defrion Chaniago
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan mempunyai peran penting dalam meningkatkan sumber daya

manusia yaitu manusia yang beriman, mandiri, maju, cerdas, kreatif, terampil,

bertanggung jawab serta produktif. Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan

formal tempat berlangsungnya proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik

dan melatih peserta didik. Di sekolah diajarkan berbagai macam mata pelajaran dan

salah satunya mata pelajaran matematika. Mata pelajaran matematika perlu dipelajari

peserta didik dari sekolah dasar sampai sekolah menengah untuk membekali peserta

didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistimatis, kreatif, serta

kemampuan kerjasama.

Proses pembelajaran berjalan dengan baik dan lancar apabila komponen-

komponen yang terkandung dalam proses pembelajaran dilakukan dengan tepat.

Komponen-komponen proses pembelajaran yaitu tujuan pembelajaran, materi

pelajaran, alat belajar, sumber belajar, model pembelajaran yang digunakan, dan

evaluasi pembelajaran.

Tujuan pembelajaran adalah komponen yang dapat mempengaruhi

komponen lainnya. Semua komponen itu harus bersesuaian dan digunakan untuk

mencapai tujuan yang efektif dan efesien. Bila salah satu komponen tidak

bersesuaian dengan komponen lainnya, maka pelaksanaan kegiatan belajar tidak

1
akan dapat mencapai tujuan yang diharapkan Djamarah (2002:49). Hal ini peserta

didik diharapkan dapat terlibat langsung dan aktif dalam proses pembelajaran.

Tetapi pada kenyataanya, sebagian besar guru menggunakan metode

pembelajaran konvensional, sedangkan pada pembelajaran konvensional siswa

cenderung pasif dalam mengikuti pelajaran matematika karena sistim

pembelajarannya menggunakan metode ceramah dimana metode ceramah ini lebih

banyak keaktifan guru dari pada peserta didik (Djamarah, 2002:109).

Kurangnya aktivitas siswa dan minat siswa dalam belajar matematika,

karena guru yang mendominasi kegiatan pembelajaran sedangkan siswa tidak aktif.

Jika hal ini dibiarkan maka besar kemungkinan mutu pendidikan akan terus merosot

yang berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu perlu

dilakukan upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata

pembelajaran matematika. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa

adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang membuat siswa lebih aktif

sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Salah satu model pembelajaran yang

membuat siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah pembelajaran

kooperatif.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa perlu melakukan

penelitian tindakan kelas pada mata pelajaran matematika. Penelitian ini diberi

judul : “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation

(GI) dalam Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Matematika di SMP

Negeri 2 Panyabungan Tahun Pelajaran 2014/2015”.

2
B. Indentifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraiakan, maka peneliti

mengidentifikasi masalah sebagai berikut :

1. Hasil belajar siswa sebelum remedial lebih banyak yang tidak tuntas dari pada

yang tuntas.

2. Kurangnya keaktifan siswa dalam belajar.

3. Sebagian siswa tidak senang jika banyak pekerjaan rumah dari mata pelajaran

matematika.

4. Kurangnya minat dan motivasi siswa mengerjakan soal-soal yang diberikan

guru mata pelajaran matematika.

5. Siswa tidak dapat menyelesaikan soal-soal matematika yang diberikan guru.

6. Siswa kurang merespon bila ada pertanyaan dari guru.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka peneliti membatasi

masalah penelitian yaitu :

1. Keaktifan siswa pada proses pembelajaran.

2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation pada proses

pembelajaran.

3. Hasil belajar siswa.

3
D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah di atas maka

peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe group

investigation dapat meningkatkan proses pembelajaran matematika di SMP

Negeri 2 Panyabungan?

2. Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe group

investigation dapat meningkatkan hail belajar siswa di SMP Negeri 2

Panyabungan?

E. Tujuan Penelitian

Agar lebih jelas dan terarah dalam pelaksanaa peelitian ini, maka peneliti

merumuska tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu:

1. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran dengan menerapkan model

pembelajara kooperatif tipe group investigation di SMP Negeri 2 Panyabungan.

2. Untuk mendeskripsikan apakah dengan menerapkan model pembelajaran

kooperatif group investigation pada SMP Negeri 2 Panyabungan dapat

meningkatkan hasil belajar siswa.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak dalam

pendidikan di SMP negeri 2 Panyabungan yaitu:

4
1. Bagi Kepala Sekolah, sebagai bahan masukan kepada kepala sekolah dalam

peningkatan mutu pendidikan dan sebagai atasan untuk membina pelaksanaan

proses belajar mengajar yang bermutu.

2. Bagi guru Matematika, bermanfaat sebagai bahan masukan tentang pentingnya

pemilihan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran untuk

meningkatkan hasil belajar siswa.

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Proses Pembelajaran

1. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara siswa

dengan guru dan siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola

pikir yang menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan. Guru berperan

sebagai komunikator, siswa sebagai komunikan, dan materi yang

dikomunikasikan berisi pesan dari ilmu pegetahuan. Dalam komunikasi banyak

arah dalam pembelajaran, peran-peran tersebut bisa berubah, yaitu antara guru

dengan siswa dan sebaliknya, serta antara siswa dengan siswa. Selanjutnya

Trianto (2009:17) mengemukakan bahwa “pembelajaran hakekatnya adalah

usaha sadar dari seseorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan

interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan

yang diharapkan”.

Selain itu Benny A. Pribadi dalam bukunya mengungkapkan beberapa

pendapat para ahli mengenai defenisisi pembelajaran sebagai berikut:

1) Gagne mendefenisikan pembelajaran sebagai “a set events embedded in

purposeful activities that facilitate learning” artinya” pembelajaran adalah

serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk

memudahkan terjadinya proses belajar”

6
2) Smith dan Ragan (1993) berpendapat bahwa “pembelajaran adalah

pengembangan dan penyampaian informasi dan kegiatan yang diciptakan

untuk menfasilitasi pencapaian tujuan”

3) Miarso (2005) memaknai istilah bahwa “pembelajaran adalah sebagai

aktivitas atau kegiatan yang berfokus pada kondisi dan kempentingan

pembelajar (learner centered)”.

4) Dick dan Carey (2005) mendefenisikan bahawa “Pembelajaran sebagai

rangkain peristiwa atau kegiatan yang disampaikan secara terstruktur dan

terencana dengan menggunakan sebuah atau beberapa jenis media.”

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah

proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar

dalam diri individu. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan suatu hal yang

yang bersifat eksternal dan sengaja dirancang untuk mendukung terjadinya

proses belajar internal dalam diri individu.

2. Efektivitas Pembelajaran

Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah

pelaksananan proses belajar mengajar (Sadiman, 1987). Trianto mengemukakan

ada empat pembelajaran yang efektif apabila memenuhi persyaratan utama

keefektifan pembelajaran, yaitu:

1) Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM.

2) Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi diantara siswa.

7
3) Ketetapan antara kandungan materi ajar dengan kemampuan siswa (orientasi

keberhasilan belajar) diutamakan.

4) Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, mengembangkan

struktur yang mendukung butir(2), tanpa mengabaikan butir(4).

(Soemosasmito,1988)

3. Perspektif Pembelajaran yang Sukses

Smith dan Ragan dalam Pribadi (2009:18-19) mengemukakan

beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan proses

pembelajaran yaitu:

1) Afektif

Afektif adalah pembelajaran yang mampu membawa siswa mencapai tujuan

pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan.

2) Efesien

Efesien mempunyai makna yaitu aktivitas pembelajaran yang berlangsung

menggunakan waktu dan sumber daya yang relatif sedikit.

3) Menarik

Menarik artinya pembelajaran diciptakan menjadi peristiwa yang menarik

agar mampu meningkatkan minat dan motivasi balajar.

Pandangan lain tentang kriteria atau perspektif pembelajaran yang

berhasil atau sukses dikemukakan oleh Heinich dan kawan-kawan(2005) yaitu:

1) Peranan siswa (Aktive participation)

8
Proses belajar akan berlangsung efektif jika siswa terlibat secara aktif dalam

tugas-tugas bermakna, dan berinteraksi dengan materi pelajaran secara

intensif. Keterlibatan mental siswa dalam melakukan proses belajar akan

memperbesar kemungkinan terjadinya proses belajar dalam diri seseorang.

2) Latihan (practice)

Latihan yang dilakukan dalam berbagai konteks dapat memperbaiki tingkat

daya ingat atau retensi. Latihan juga dapat memperbaiki kemampuan siswa

untuk mengamplikasikan pengetahuan dan ketrampilan yang baru dipelajari.

Tugas-tugas belajar berupa pemberian latihan akan dapat meningkatkan

penguasaan siswa terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari.

3) Perbedaan individual (individual differences)

Setiap individu memiliki karakteristik untuk membedakan dari individu yang

lain. Setiap individu memiliki potensi yang perlu dikembangkan secara

optimal. Dalam hal ini tugas guru atau instruktur adalah mengembangkan

potensi yang dimiliki oleh individu seoptimal mungkin melalaui proses

pembelajaran yang berkualitas.

4) Umpan balik (feedback)

Umpan balik sangat diperlukan oleh siswa untuk mengetahui kemampuan

dalam mempelajari materi pelajaran yang benar. Umpan balik dapat

diberikan dalam pengetahuan tentang hasil belajar (learning outcomes) yang

telah dicapai siswa setelah menempuh program aktivitas pembelajaran.

Informasi dan pengetahuan tentang hasil belajar akan memacu seseorang

untuk berprestasi lebih baik lagi.

9
5) Konteks nyata (realistic context)

Siswa perlu mempelajari materi pelajaran yang berisi pengetahuan dan

keterampilan yang dapat diterapkan dalam sebuah situasi yang nyata. Siswa

yang mengetahui kegunaan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari

akan memiliki motivasi tinggi untuk mencapai tujuan pembelajaran.

6) Interaksi sosial (social interaction)

Interaksi sosial sangat diperlukan oleh siswa agar dapat memperoleh

dukungan sosial dalam belajar. Interaksi yang berkesinambungan dengan

sejawat atau sesama siswa akan memungkinkan siswa untuk melakukan

konfirmasi terhadap pengetahuan dan keterampilan yang sedang dipelajari.

B. Belajar Matematika

Belajar adalah suatu proses dimana perilaku seseorang mengalami

perubahan sebagai akibat pengalaman. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Gagne

dalam Agus Suprijono (2009:2) yang menyatakan bahwa : “Belajar adalah

perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas.

Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumtumbuhan

seseorang secara alamiah”. Dengan demikian belajar matematika adalah aktifitas

yang dilakukan seseorang dalam rangka perubahan ilmu pengetahuan dalam bidang

matematika.

Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang memegang peranan

penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Matematika juga merupakan ilmu

eksakta yang memiliki cara tersendiri dalam mempelajarinya. Hal ini dikarenakan

10
topik-topik dalam matematika tersusun secara hierarki dan ketat mulai dari yang

mudah, sedang, sukar dan hingga pada paling sukar. Matematika sekolah terdiri atas

bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-

kemampuan dan membentuk pribadi siswa serta terpandu kepada perkembangan

IPTEK. Belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pembelajaran diarahkan

pada konsep-konsep dan struktur yang termuat dalam pokok bahasn yang diajarkan.

Hudoyo dalam Diana (2002:10) menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih

berhasil jika sipelajar menemukan sendiri pola hubungan dan struktur dari materi,

dan hal ini akan menjadi materi yang dipelajari bertahan dalam ingatan.

C. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian siswa, dan

perubahan yang dimaksud adalah perubahan tingkah laku seperti peningkatan

kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, kerampilan, data pikir, dan

kemampuan yang lain. Nasution dalam Harefa (2008:6) menyatakan bahwa “Hasil

belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan saja

perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga pengetahuan untuk membentuk

kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penguasaan dan penghargaan dalam diri

pribadi yang belajar”. Sejalan dengan itu Anas dalam Harefa (2010:11) menyatakan

bahwa “Hasil belajar adalah tingkat penguasaan peserta didik terhadap tujuan-tujuan

khusus yang ingin dicapai dalam unit-unit program pengajaran atau tingkat

pencapaian terhadap tujuan-tujuan umum pengajaran”. Hasil belajar ini akan dapat

diketahui setelah dilakukan suatu tes yang berguna untuk mengukur tingkat

11
kemampuan siswa. Djamarah (2002:120) mengemukakan yang menjadi petunjuk

bahwa suatu proses pembelajaran berhasil adalah hal-hal berikut :

1) Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi,

baik secar individu maupun kelompok.

2) Perilaku yamg digariskan dalam tujuan pembelajaran yang telah dicapai oleh

siswa, baik secara individu maupun kelompok.

Lebih lanjut Bloom dalam Agus Suprijono (2009:6) mengemukakan

hasil belajar siswa mencakup kemampuan yakni : “Ranah Kognitif, Afektif dan

Psikomotor”.

Setidaknya ada enam ranah kognitif Bloom dalam Sandroto (2009:35)

yaitu :

1) Ingatan/Recall

Mengacu kepada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah

dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting

adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.

2) Pemahaman

Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat

di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berpikir yang rendah.

3) Penerapan

Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang

sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaa aturan,

prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi

dari pemahaman.

12
4) Analisis

Mengacu kepada kemampuan menguraiakn materi ke dalam komponen-

komponen atau faktor penyebabnya, dan mampu memahami hubungan di antar

bagian yang satu dengan yang lain sehingga struktur dan kemampuan berpikir

yang lebih tinggi dari pada aspek pemahaman maupun penerapan.

5) Sintesis

Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen

sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini

memerlukan kemampuan yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan berpikir

yang lebih tinggi dari kemampuan sebelumnya.

6) Evaluasi

Mengacu kepada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai

materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berpikir

yang tinggi.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi

dan keterampilan, serta perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah

satu aspek potensi kemampuan kemanusiaan saja.

D. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation

1. Pengertian

Pembelajaran kooperatif menurut Isjoni (2007:16) adalah suatu model

pembelajaran digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang

13
brpusat pada siswa ( studend oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan

yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, tidak dapat bekerja sama

dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain”. Senada

dengan itu Nurhadi ( 2004:112) mengemukakan bahwa; “Pembelajaran

kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan

kelompok kecil; siswa untuk bekerjasama dalam mamaksimalkan kondisi

belajar untuk mencapai tujuan belajar”.

Sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation

adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan peserta didik

dimana peserta didik secara berkelompok mengalami dan melakukan kegiatan

dengan aktif sehingga dapat menemukan konsep tentang materi pelajaran

(Slavin 2010:217). Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation ini

memiliki dua bagian, yaitu desain model dan implementasi model. Desain

model lebih menekankan pada perancangan terhadap berbagai aspek dan

langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran,

sedangkan implementasi model lebih menekankan pada realisasi berbagai aspek

dan langkah-langkah pembelajaran yang telah dirancang dalam desainnya.

Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui pengembangan desain

model pembelajaran kooperatif tipe group investigation adalah pengembangan

kemampuan berfikir kreatif siswa, berkenan dengan aspek-aspek kelancaran,

keluwesan, orisinil, dan kolaborasi. Materi pembelajaran dikembangkan

berdasarkan program pembelajaran sebagaimana yang tertera dalam silabus

14
dengan strategi penyajian materi pembelajaran mengutamakan pembentukan

konsep.

2. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe group investigation

Dalam pembelajaran ini Sharan dalam Trianto (2009:80)

mengemukakan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan model

pembelajaran kooperatif tipe group investigation, sebagai berikut: “(a) Memilih

topik, (b) Perencanaan kooperatif, (c) Implementasi, (d) Anasilis dan sintesis,

(e) Presentasi hasil final, dan (f) Evaluasi.” Lebih lanjut Slavin (2010:218-219)

menguraikan beberapa tahap yang dilakukan peserta didik dalam bekerja yaitu:

1) Mengidentifikasi Topik dan mengatur Murid ke dalam kelompok:

a) Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik, dan

mengkategorikan saran-saran.

b) Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik

yang telah mereka pilih.

c) Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus

bersifat heterogen.

d) Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitas

pengaturan.

2) Merencanakan tugas yang akan dipelajari

a) Melaksanakan Para siswa merencanakan bersama mengenai apa yang

dipelajari.

b) Pembagian tugas.

15
3) Investigasi

a) Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat

kesimpulan.

b) Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang

dilakukan kelompoknya.

c) Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensistesis

semua gagasan.

4) Menyiapkan Laporan Akhir

a) Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari proyek

mereka.

b) Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan

bagaimana akan membuat presentasi mereka.

c) Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk

menkoordinasikan rencana-rencana presentasi.

5) Mempresentasikan Laporan Akhir

a) Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam

bentuk.

b) Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendergarnya secara

aktif.

c) Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan

presentasi bardasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh

seluruh angota kelas.

6) Evaluasi

16
a) Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut,

mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai keefektifan

pengalaman-pegalaman mereka.

b) Guru dan peserta didik bekolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran.

c) Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling

tinggi.

17
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Objek Tindakan

Sebagai objek tindakan pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini

adalah:

1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation.

2. Peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran

kooperatif tipe group investigation.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian tindakan kelas ini adalah di Kelas VIII.2 SMP

Negeri 2 Panyabungan yang beralamat di Jl. Ade Irma Suryani Kelurahan Kayu

Jati Kecamatan Panyabungan Kota (di Belakang Rumah Sakit Umum

Panyabungan).

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah semua siswa Kelas

VIII.2 SMP Negeri 2 Panyabungan yang aktif belajar pada tahun pelajaran

2014/2015.

18
C. Waktu dan Lamanya Tindakan

1. Waktu Tindakan

Sesuai dengan rencana, maka tindakan dilaksanakan pada semester

ganjil tahun pelajaran 2014/2015. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini

disesuaikan dengan jadwal di sekolah.

2. Lamanya Tindakan

Pelaksanaan tindakan dilakukan kurang lebih dua bulan, setiap siklus

direncanakan 2x pertemuan dan 1x pertemuan ujian harian berupa tes hasil

belajar.

D. Prosedur Pelaksanaan Tindakan

1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Ada

beberapa tahapan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, yaitu:

a. Perencanaan (Planning), meliputi :

1) Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan

smenggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation.

2) Menyiapkan bahan ajar.

3) Menyusun tes hasil belajar berdasarkan kisi-kisi tes.

19
b. Tindakan (Action)

Berpedoman dari perencanaan di atas maka peneliti melaksanakan tindakan

(action) sesuai dengan perencanaan (planning).

c. Pengamatan (Observation)

Selama proses pembelajaran untuk setiap siklus, guru mata pelajaran

sebagai pengamat memperhatikan kesesuaian langkah-langkah

pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe group

investigation dan mengisi lembar pengamatan.

d. Refleksi (reflection)

Refleksi dilakukan dalam 2 (dua) tahap :

1) Setiap akhir pertemuan dalam siklus dilakukan refleksi

2) Setelah tindakan selesai dilaksanakan pada siklus pertama akan

dilaksanakan evaluasi tindakan kemudian membahas evaluasi tersebut

guna memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan tindakan

berikut.

2. Instrumen Penelitian

Untuk mengumpulkan data pada penelitian ini digunakan instrumen.

Beberapa instrumen dalam penelitian ini, sebagai berikut:

a. Lembaran Observasi, terdiri

1) Lembar Observasi Siswa, diguanakan untuk melihat aktifitas siswa

dalam belajar.

20
2) Lembar Observasi Guru, digunakan untuk pengamatan proses belajar

mengajar yang dilakukan guru/peneliti.

b. Lembar Pedoman Wawancara, digunakan untuk mendapatkan data siswa

dengan wawancara.

c. Tes Hasil Belajar, digunakan untuk mengetahui peingkatan hasil belajar

siswa.

E. Teknik Analisis Data

1. Lembaran Observasi

Lembaran observasi menggunakan skala likert dengan kriteria: SB =

Sangat baik (4), B = Baik (3), C = Cukup (2), dan K = kurang (1), kemudian

diolah dalam dengan rumus:

Jumlah hasil pengamatan


Persentase pengamatan= x 1 00 %
Jumlah siswa

b. Pengolahan Hasil Lembar Wawancara

Lembar panduan wawancara responden siswa dalam bentuk pertanyaan-

partanyaan yang diolah secara kualitatif dengan menarasikannya.

c. Tes Hasil Belajar

Hasil belajar siswa diperoleh dari tes hasil belajar berbentuk tes uraian diolah

menggunakan rumus:

21
Selanjutnya, nilai siswa dapat diperoleh dengan menjumlahkan nilai setiap soal.

Dengan rumus sebagai berikut:

NA = ∑ NSS

= NSS1 + NSS2 + NSS3 +… + NSSi

Keterangan:

NA = nilai akhir setiap siswa

∑ NSS = jumlah nilai perolehan siswa untuk setiap butir soal

NSS = nilai setiap butir soal

i = banyak butir soal

22
DAFTAR PUSTAKA

David Narudin, 2009 Pembelajaran Kooperatif Metode GI, (Online) [Link]

[Link],di akses 29 Juli 2014.

Isjoni, 2007, Cooperatif Learning Mengembangkan Kemampuan belajar

Berkelompok, Alfabeta, Bandung.

Made Wena, 2009, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Pt Bumi

Aksara, Jakarta

Sanjaya, Wina, 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses pendidikan,

Kencana, Jakarta.

Suprijono, Agus, 2009. Cooperative Learning, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Trianto, 2009, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif Konsep, Landasan,

dan Implementasinya pada KTSP, Kencana, Jakarta.

Zain dan Djamarah, 2002. Strategi Belajar [Link] Cipta, Jakarta

23

Anda mungkin juga menyukai