BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peran penting dalam meningkatkan sumber daya
manusia yaitu manusia yang beriman, mandiri, maju, cerdas, kreatif, terampil,
bertanggung jawab serta produktif. Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan
formal tempat berlangsungnya proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik
dan melatih peserta didik. Di sekolah diajarkan berbagai macam mata pelajaran dan
salah satunya mata pelajaran matematika. Mata pelajaran matematika perlu dipelajari
peserta didik dari sekolah dasar sampai sekolah menengah untuk membekali peserta
didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistimatis, kreatif, serta
kemampuan kerjasama.
Proses pembelajaran berjalan dengan baik dan lancar apabila komponen-
komponen yang terkandung dalam proses pembelajaran dilakukan dengan tepat.
Komponen-komponen proses pembelajaran yaitu tujuan pembelajaran, materi
pelajaran, alat belajar, sumber belajar, model pembelajaran yang digunakan, dan
evaluasi pembelajaran.
Tujuan pembelajaran adalah komponen yang dapat mempengaruhi
komponen lainnya. Semua komponen itu harus bersesuaian dan digunakan untuk
mencapai tujuan yang efektif dan efesien. Bila salah satu komponen tidak
bersesuaian dengan komponen lainnya, maka pelaksanaan kegiatan belajar tidak
1
akan dapat mencapai tujuan yang diharapkan Djamarah (2002:49). Hal ini peserta
didik diharapkan dapat terlibat langsung dan aktif dalam proses pembelajaran.
Tetapi pada kenyataanya, sebagian besar guru menggunakan metode
pembelajaran konvensional, sedangkan pada pembelajaran konvensional siswa
cenderung pasif dalam mengikuti pelajaran matematika karena sistim
pembelajarannya menggunakan metode ceramah dimana metode ceramah ini lebih
banyak keaktifan guru dari pada peserta didik (Djamarah, 2002:109).
Kurangnya aktivitas siswa dan minat siswa dalam belajar matematika,
karena guru yang mendominasi kegiatan pembelajaran sedangkan siswa tidak aktif.
Jika hal ini dibiarkan maka besar kemungkinan mutu pendidikan akan terus merosot
yang berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu perlu
dilakukan upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata
pembelajaran matematika. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa
adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang membuat siswa lebih aktif
sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Salah satu model pembelajaran yang
membuat siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah pembelajaran
kooperatif.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa perlu melakukan
penelitian tindakan kelas pada mata pelajaran matematika. Penelitian ini diberi
judul : “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation
(GI) dalam Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Matematika di SMP
Negeri 2 Panyabungan Tahun Pelajaran 2014/2015”.
2
B. Indentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraiakan, maka peneliti
mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Hasil belajar siswa sebelum remedial lebih banyak yang tidak tuntas dari pada
yang tuntas.
2. Kurangnya keaktifan siswa dalam belajar.
3. Sebagian siswa tidak senang jika banyak pekerjaan rumah dari mata pelajaran
matematika.
4. Kurangnya minat dan motivasi siswa mengerjakan soal-soal yang diberikan
guru mata pelajaran matematika.
5. Siswa tidak dapat menyelesaikan soal-soal matematika yang diberikan guru.
6. Siswa kurang merespon bila ada pertanyaan dari guru.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka peneliti membatasi
masalah penelitian yaitu :
1. Keaktifan siswa pada proses pembelajaran.
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation pada proses
pembelajaran.
3. Hasil belajar siswa.
3
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah di atas maka
peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe group
investigation dapat meningkatkan proses pembelajaran matematika di SMP
Negeri 2 Panyabungan?
2. Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe group
investigation dapat meningkatkan hail belajar siswa di SMP Negeri 2
Panyabungan?
E. Tujuan Penelitian
Agar lebih jelas dan terarah dalam pelaksanaa peelitian ini, maka peneliti
merumuska tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu:
1. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran dengan menerapkan model
pembelajara kooperatif tipe group investigation di SMP Negeri 2 Panyabungan.
2. Untuk mendeskripsikan apakah dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif group investigation pada SMP Negeri 2 Panyabungan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak dalam
pendidikan di SMP negeri 2 Panyabungan yaitu:
4
1. Bagi Kepala Sekolah, sebagai bahan masukan kepada kepala sekolah dalam
peningkatan mutu pendidikan dan sebagai atasan untuk membina pelaksanaan
proses belajar mengajar yang bermutu.
2. Bagi guru Matematika, bermanfaat sebagai bahan masukan tentang pentingnya
pemilihan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran untuk
meningkatkan hasil belajar siswa.
5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Proses Pembelajaran
1. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara siswa
dengan guru dan siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola
pikir yang menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan. Guru berperan
sebagai komunikator, siswa sebagai komunikan, dan materi yang
dikomunikasikan berisi pesan dari ilmu pegetahuan. Dalam komunikasi banyak
arah dalam pembelajaran, peran-peran tersebut bisa berubah, yaitu antara guru
dengan siswa dan sebaliknya, serta antara siswa dengan siswa. Selanjutnya
Trianto (2009:17) mengemukakan bahwa “pembelajaran hakekatnya adalah
usaha sadar dari seseorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan
interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan
yang diharapkan”.
Selain itu Benny A. Pribadi dalam bukunya mengungkapkan beberapa
pendapat para ahli mengenai defenisisi pembelajaran sebagai berikut:
1) Gagne mendefenisikan pembelajaran sebagai “a set events embedded in
purposeful activities that facilitate learning” artinya” pembelajaran adalah
serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk
memudahkan terjadinya proses belajar”
6
2) Smith dan Ragan (1993) berpendapat bahwa “pembelajaran adalah
pengembangan dan penyampaian informasi dan kegiatan yang diciptakan
untuk menfasilitasi pencapaian tujuan”
3) Miarso (2005) memaknai istilah bahwa “pembelajaran adalah sebagai
aktivitas atau kegiatan yang berfokus pada kondisi dan kempentingan
pembelajar (learner centered)”.
4) Dick dan Carey (2005) mendefenisikan bahawa “Pembelajaran sebagai
rangkain peristiwa atau kegiatan yang disampaikan secara terstruktur dan
terencana dengan menggunakan sebuah atau beberapa jenis media.”
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah
proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar
dalam diri individu. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan suatu hal yang
yang bersifat eksternal dan sengaja dirancang untuk mendukung terjadinya
proses belajar internal dalam diri individu.
2. Efektivitas Pembelajaran
Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah
pelaksananan proses belajar mengajar (Sadiman, 1987). Trianto mengemukakan
ada empat pembelajaran yang efektif apabila memenuhi persyaratan utama
keefektifan pembelajaran, yaitu:
1) Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM.
2) Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi diantara siswa.
7
3) Ketetapan antara kandungan materi ajar dengan kemampuan siswa (orientasi
keberhasilan belajar) diutamakan.
4) Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, mengembangkan
struktur yang mendukung butir(2), tanpa mengabaikan butir(4).
(Soemosasmito,1988)
3. Perspektif Pembelajaran yang Sukses
Smith dan Ragan dalam Pribadi (2009:18-19) mengemukakan
beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan proses
pembelajaran yaitu:
1) Afektif
Afektif adalah pembelajaran yang mampu membawa siswa mencapai tujuan
pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan.
2) Efesien
Efesien mempunyai makna yaitu aktivitas pembelajaran yang berlangsung
menggunakan waktu dan sumber daya yang relatif sedikit.
3) Menarik
Menarik artinya pembelajaran diciptakan menjadi peristiwa yang menarik
agar mampu meningkatkan minat dan motivasi balajar.
Pandangan lain tentang kriteria atau perspektif pembelajaran yang
berhasil atau sukses dikemukakan oleh Heinich dan kawan-kawan(2005) yaitu:
1) Peranan siswa (Aktive participation)
8
Proses belajar akan berlangsung efektif jika siswa terlibat secara aktif dalam
tugas-tugas bermakna, dan berinteraksi dengan materi pelajaran secara
intensif. Keterlibatan mental siswa dalam melakukan proses belajar akan
memperbesar kemungkinan terjadinya proses belajar dalam diri seseorang.
2) Latihan (practice)
Latihan yang dilakukan dalam berbagai konteks dapat memperbaiki tingkat
daya ingat atau retensi. Latihan juga dapat memperbaiki kemampuan siswa
untuk mengamplikasikan pengetahuan dan ketrampilan yang baru dipelajari.
Tugas-tugas belajar berupa pemberian latihan akan dapat meningkatkan
penguasaan siswa terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari.
3) Perbedaan individual (individual differences)
Setiap individu memiliki karakteristik untuk membedakan dari individu yang
lain. Setiap individu memiliki potensi yang perlu dikembangkan secara
optimal. Dalam hal ini tugas guru atau instruktur adalah mengembangkan
potensi yang dimiliki oleh individu seoptimal mungkin melalaui proses
pembelajaran yang berkualitas.
4) Umpan balik (feedback)
Umpan balik sangat diperlukan oleh siswa untuk mengetahui kemampuan
dalam mempelajari materi pelajaran yang benar. Umpan balik dapat
diberikan dalam pengetahuan tentang hasil belajar (learning outcomes) yang
telah dicapai siswa setelah menempuh program aktivitas pembelajaran.
Informasi dan pengetahuan tentang hasil belajar akan memacu seseorang
untuk berprestasi lebih baik lagi.
9
5) Konteks nyata (realistic context)
Siswa perlu mempelajari materi pelajaran yang berisi pengetahuan dan
keterampilan yang dapat diterapkan dalam sebuah situasi yang nyata. Siswa
yang mengetahui kegunaan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari
akan memiliki motivasi tinggi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
6) Interaksi sosial (social interaction)
Interaksi sosial sangat diperlukan oleh siswa agar dapat memperoleh
dukungan sosial dalam belajar. Interaksi yang berkesinambungan dengan
sejawat atau sesama siswa akan memungkinkan siswa untuk melakukan
konfirmasi terhadap pengetahuan dan keterampilan yang sedang dipelajari.
B. Belajar Matematika
Belajar adalah suatu proses dimana perilaku seseorang mengalami
perubahan sebagai akibat pengalaman. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Gagne
dalam Agus Suprijono (2009:2) yang menyatakan bahwa : “Belajar adalah
perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas.
Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumtumbuhan
seseorang secara alamiah”. Dengan demikian belajar matematika adalah aktifitas
yang dilakukan seseorang dalam rangka perubahan ilmu pengetahuan dalam bidang
matematika.
Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang memegang peranan
penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Matematika juga merupakan ilmu
eksakta yang memiliki cara tersendiri dalam mempelajarinya. Hal ini dikarenakan
10
topik-topik dalam matematika tersusun secara hierarki dan ketat mulai dari yang
mudah, sedang, sukar dan hingga pada paling sukar. Matematika sekolah terdiri atas
bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-
kemampuan dan membentuk pribadi siswa serta terpandu kepada perkembangan
IPTEK. Belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pembelajaran diarahkan
pada konsep-konsep dan struktur yang termuat dalam pokok bahasn yang diajarkan.
Hudoyo dalam Diana (2002:10) menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih
berhasil jika sipelajar menemukan sendiri pola hubungan dan struktur dari materi,
dan hal ini akan menjadi materi yang dipelajari bertahan dalam ingatan.
C. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian siswa, dan
perubahan yang dimaksud adalah perubahan tingkah laku seperti peningkatan
kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, kerampilan, data pikir, dan
kemampuan yang lain. Nasution dalam Harefa (2008:6) menyatakan bahwa “Hasil
belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan saja
perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga pengetahuan untuk membentuk
kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penguasaan dan penghargaan dalam diri
pribadi yang belajar”. Sejalan dengan itu Anas dalam Harefa (2010:11) menyatakan
bahwa “Hasil belajar adalah tingkat penguasaan peserta didik terhadap tujuan-tujuan
khusus yang ingin dicapai dalam unit-unit program pengajaran atau tingkat
pencapaian terhadap tujuan-tujuan umum pengajaran”. Hasil belajar ini akan dapat
diketahui setelah dilakukan suatu tes yang berguna untuk mengukur tingkat
11
kemampuan siswa. Djamarah (2002:120) mengemukakan yang menjadi petunjuk
bahwa suatu proses pembelajaran berhasil adalah hal-hal berikut :
1) Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi,
baik secar individu maupun kelompok.
2) Perilaku yamg digariskan dalam tujuan pembelajaran yang telah dicapai oleh
siswa, baik secara individu maupun kelompok.
Lebih lanjut Bloom dalam Agus Suprijono (2009:6) mengemukakan
hasil belajar siswa mencakup kemampuan yakni : “Ranah Kognitif, Afektif dan
Psikomotor”.
Setidaknya ada enam ranah kognitif Bloom dalam Sandroto (2009:35)
yaitu :
1) Ingatan/Recall
Mengacu kepada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah
dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting
adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.
2) Pemahaman
Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat
di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berpikir yang rendah.
3) Penerapan
Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang
sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaa aturan,
prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi
dari pemahaman.
12
4) Analisis
Mengacu kepada kemampuan menguraiakn materi ke dalam komponen-
komponen atau faktor penyebabnya, dan mampu memahami hubungan di antar
bagian yang satu dengan yang lain sehingga struktur dan kemampuan berpikir
yang lebih tinggi dari pada aspek pemahaman maupun penerapan.
5) Sintesis
Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen
sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini
memerlukan kemampuan yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan berpikir
yang lebih tinggi dari kemampuan sebelumnya.
6) Evaluasi
Mengacu kepada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai
materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berpikir
yang tinggi.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi
dan keterampilan, serta perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah
satu aspek potensi kemampuan kemanusiaan saja.
D. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation
1. Pengertian
Pembelajaran kooperatif menurut Isjoni (2007:16) adalah suatu model
pembelajaran digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang
13
brpusat pada siswa ( studend oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan
yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, tidak dapat bekerja sama
dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain”. Senada
dengan itu Nurhadi ( 2004:112) mengemukakan bahwa; “Pembelajaran
kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan
kelompok kecil; siswa untuk bekerjasama dalam mamaksimalkan kondisi
belajar untuk mencapai tujuan belajar”.
Sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation
adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan peserta didik
dimana peserta didik secara berkelompok mengalami dan melakukan kegiatan
dengan aktif sehingga dapat menemukan konsep tentang materi pelajaran
(Slavin 2010:217). Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation ini
memiliki dua bagian, yaitu desain model dan implementasi model. Desain
model lebih menekankan pada perancangan terhadap berbagai aspek dan
langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran,
sedangkan implementasi model lebih menekankan pada realisasi berbagai aspek
dan langkah-langkah pembelajaran yang telah dirancang dalam desainnya.
Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui pengembangan desain
model pembelajaran kooperatif tipe group investigation adalah pengembangan
kemampuan berfikir kreatif siswa, berkenan dengan aspek-aspek kelancaran,
keluwesan, orisinil, dan kolaborasi. Materi pembelajaran dikembangkan
berdasarkan program pembelajaran sebagaimana yang tertera dalam silabus
14
dengan strategi penyajian materi pembelajaran mengutamakan pembentukan
konsep.
2. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe group investigation
Dalam pembelajaran ini Sharan dalam Trianto (2009:80)
mengemukakan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe group investigation, sebagai berikut: “(a) Memilih
topik, (b) Perencanaan kooperatif, (c) Implementasi, (d) Anasilis dan sintesis,
(e) Presentasi hasil final, dan (f) Evaluasi.” Lebih lanjut Slavin (2010:218-219)
menguraikan beberapa tahap yang dilakukan peserta didik dalam bekerja yaitu:
1) Mengidentifikasi Topik dan mengatur Murid ke dalam kelompok:
a) Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik, dan
mengkategorikan saran-saran.
b) Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik
yang telah mereka pilih.
c) Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus
bersifat heterogen.
d) Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitas
pengaturan.
2) Merencanakan tugas yang akan dipelajari
a) Melaksanakan Para siswa merencanakan bersama mengenai apa yang
dipelajari.
b) Pembagian tugas.
15
3) Investigasi
a) Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat
kesimpulan.
b) Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang
dilakukan kelompoknya.
c) Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensistesis
semua gagasan.
4) Menyiapkan Laporan Akhir
a) Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari proyek
mereka.
b) Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan
bagaimana akan membuat presentasi mereka.
c) Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk
menkoordinasikan rencana-rencana presentasi.
5) Mempresentasikan Laporan Akhir
a) Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam
bentuk.
b) Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendergarnya secara
aktif.
c) Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan
presentasi bardasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh
seluruh angota kelas.
6) Evaluasi
16
a) Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut,
mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai keefektifan
pengalaman-pegalaman mereka.
b) Guru dan peserta didik bekolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran.
c) Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling
tinggi.
17
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Objek Tindakan
Sebagai objek tindakan pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini
adalah:
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation.
2. Peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe group investigation.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian tindakan kelas ini adalah di Kelas VIII.2 SMP
Negeri 2 Panyabungan yang beralamat di Jl. Ade Irma Suryani Kelurahan Kayu
Jati Kecamatan Panyabungan Kota (di Belakang Rumah Sakit Umum
Panyabungan).
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah semua siswa Kelas
VIII.2 SMP Negeri 2 Panyabungan yang aktif belajar pada tahun pelajaran
2014/2015.
18
C. Waktu dan Lamanya Tindakan
1. Waktu Tindakan
Sesuai dengan rencana, maka tindakan dilaksanakan pada semester
ganjil tahun pelajaran 2014/2015. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini
disesuaikan dengan jadwal di sekolah.
2. Lamanya Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilakukan kurang lebih dua bulan, setiap siklus
direncanakan 2x pertemuan dan 1x pertemuan ujian harian berupa tes hasil
belajar.
D. Prosedur Pelaksanaan Tindakan
1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Ada
beberapa tahapan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, yaitu:
a. Perencanaan (Planning), meliputi :
1) Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan
smenggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation.
2) Menyiapkan bahan ajar.
3) Menyusun tes hasil belajar berdasarkan kisi-kisi tes.
19
b. Tindakan (Action)
Berpedoman dari perencanaan di atas maka peneliti melaksanakan tindakan
(action) sesuai dengan perencanaan (planning).
c. Pengamatan (Observation)
Selama proses pembelajaran untuk setiap siklus, guru mata pelajaran
sebagai pengamat memperhatikan kesesuaian langkah-langkah
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe group
investigation dan mengisi lembar pengamatan.
d. Refleksi (reflection)
Refleksi dilakukan dalam 2 (dua) tahap :
1) Setiap akhir pertemuan dalam siklus dilakukan refleksi
2) Setelah tindakan selesai dilaksanakan pada siklus pertama akan
dilaksanakan evaluasi tindakan kemudian membahas evaluasi tersebut
guna memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan tindakan
berikut.
2. Instrumen Penelitian
Untuk mengumpulkan data pada penelitian ini digunakan instrumen.
Beberapa instrumen dalam penelitian ini, sebagai berikut:
a. Lembaran Observasi, terdiri
1) Lembar Observasi Siswa, diguanakan untuk melihat aktifitas siswa
dalam belajar.
20
2) Lembar Observasi Guru, digunakan untuk pengamatan proses belajar
mengajar yang dilakukan guru/peneliti.
b. Lembar Pedoman Wawancara, digunakan untuk mendapatkan data siswa
dengan wawancara.
c. Tes Hasil Belajar, digunakan untuk mengetahui peingkatan hasil belajar
siswa.
E. Teknik Analisis Data
1. Lembaran Observasi
Lembaran observasi menggunakan skala likert dengan kriteria: SB =
Sangat baik (4), B = Baik (3), C = Cukup (2), dan K = kurang (1), kemudian
diolah dalam dengan rumus:
Jumlah hasil pengamatan
Persentase pengamatan= x 1 00 %
Jumlah siswa
b. Pengolahan Hasil Lembar Wawancara
Lembar panduan wawancara responden siswa dalam bentuk pertanyaan-
partanyaan yang diolah secara kualitatif dengan menarasikannya.
c. Tes Hasil Belajar
Hasil belajar siswa diperoleh dari tes hasil belajar berbentuk tes uraian diolah
menggunakan rumus:
21
Selanjutnya, nilai siswa dapat diperoleh dengan menjumlahkan nilai setiap soal.
Dengan rumus sebagai berikut:
NA = ∑ NSS
= NSS1 + NSS2 + NSS3 +… + NSSi
Keterangan:
NA = nilai akhir setiap siswa
∑ NSS = jumlah nilai perolehan siswa untuk setiap butir soal
NSS = nilai setiap butir soal
i = banyak butir soal
22
DAFTAR PUSTAKA
David Narudin, 2009 Pembelajaran Kooperatif Metode GI, (Online) [Link]
[Link],di akses 29 Juli 2014.
Isjoni, 2007, Cooperatif Learning Mengembangkan Kemampuan belajar
Berkelompok, Alfabeta, Bandung.
Made Wena, 2009, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Pt Bumi
Aksara, Jakarta
Sanjaya, Wina, 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses pendidikan,
Kencana, Jakarta.
Suprijono, Agus, 2009. Cooperative Learning, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Trianto, 2009, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif Konsep, Landasan,
dan Implementasinya pada KTSP, Kencana, Jakarta.
Zain dan Djamarah, 2002. Strategi Belajar [Link] Cipta, Jakarta
23