Akuntansi Aset Bersejarah Candi Prambanan
Akuntansi Aset Bersejarah Candi Prambanan
SKRIPSI
Oleh:
Nama: Rizky Amanda Febriansyah
No. Mahasiswa: 12312297
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2016
PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK ASET BERSEJARAH
SKRIPSI
Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar
Oleh:
FAKULTAS EKONOMI
YOGYAKARTA
2016
ii
iii
iv
v
KATA PENGANTAR
Assalaamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas se gala rahmat,
kepada Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, sehingga skripsi ini dapat
skripsiini, hingga akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan. Penyelesai an skripsi ini
tidak lepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. De ngan segala
kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terim a kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tiada hentinya serta semua
2. Bapak dan ibu yang selalu memberikan dukungan, kasih sayang, doa, nasehat,
kesabaran dan pengorbanan yang begitu luar biasa dalam setiap langkah hidup
penulis.
vi
3. Ibu Prapti Antarwiyati, Dra., M. Si., Ak., CA selaku Dosen Pembimbing
Skripsi, yang selalu dengan sabar membimbing dan memberikan arahan yang
4. Bapak Dr. Ir. Harsoyo, [Link]., selaku Rektor Universitas Islam Indonesia.
5. Bapak D. Agus Hardjito, Drs., [Link]., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi
U
niversitas Islam Indonesia.
6. Bap etua
Jurusan ak Dekar Urumsah, S.E., [Link]., [Link]., Ph.D selaku K
8. Teman-teman yang paling setia dari awal kuliah: Rere, Manda, Arvin,
Pikar,
is, Dova, Arya, Ery, Mas Fian, Mbakyen dan Dila, terima Far
9. Sentul squad: Daka, Avin, Afton, Tiwi, Mery, Shafrina, Sherly terima
kasih ken
angannya, sukses untuk kita.
Tyaslainnya
dan yang sudah jadi teman diskusi dan curhat sambil antr i
bimbingan, sem
oga dilancarkan segala urusannya.
vii
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayahnya bagi kita semua,
terimakasih atas do’a dan semua dukungan yang ada. Penulis menyadari bahwa
penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh Karena itu, penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun bagi penulisan yang lebih baik
di masa mendatang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua
Wassalamu’alaikumwarahmatullaahiwabarakatuh
iiii
DAFTAR ISI
i
3.3 OBYEK PENELITIAN..................................................................................... 28
3.4 INSTRUMEN PENELITIAN ........................................................................... 29
3.5 JENIS DAN SUMBER DATA ......................................................................... 30
3.6 TEKNIK PENGUMPULAN DATA ................................................................ 31
3.7 PENGUJIAN KEABSAHAN DATA ............................................................... 33
3.8 TEKNIK ANALISIS DATA ............................................................................ 34
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................................................... 36
4.1 GAMBARAN UMUM PENELITIAN ............................................................. 36
4.2 PROFIL CANDI PRAMBANAN..................................................................... 37
4.3 PROFIL BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA YOGYAKARTA...... 38
4.3.1 Visi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta ....................... 41
4. 3.2 Misi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta ...................... 41
4.3.3 Strategi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta ................. 41
4.4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................................................. 42
4. 4.1 Makna Aset Bersejarah ............................................................................. 43
4. 4.2 Metode Penilaian Candi Prambanan ......................................................... 46
4. 4.3 Penyajian Dan Pengungkapan Candi Prambanan Dalam Laporan
Keuangan .................................................................................................. 49
4. 4.4 Kesesuaian Perlakuan Akuntansi Pada Candi Prambanan Dengan
Standar Akuntansi Yang Berlaku ............................................................. 51
BAB V PENUTUP ........................................................................................................... 53
5.1 KESIMPULAN ................................................................................................. 53
5.2 SARAN ............................................................................................................. 54
DAFTA R PUSTAKA ....................................................................................................... 56
LAMPI RAN...................................................................................................................... 58
ii
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
iii
ABSTRACT
This research is conducted to find out how the accounting treatment of the
Heritage Asset Candi Prambanan, how the assets is recognized, recorded, and
reported in the financial statements using phenomenological viewpoint, where the
data obtained in accordance with the facts or phenomena that occur in the field
do not always conform to the standards.
The research data was collected by the Researcher in 3 procedures, first, the
Researcher doing interviews with informants or sources of the relevant
departm ent or manager of Candi Prambanan namely the Balai Peles tarian
Cagar Budaya
Yogyakarta, third, is checking documents of the Heritage Assets
Candibanan,
Pram how it’s recognized, as what, recorded, until how the
value geof Assets
Herita is, and the last is Internet data searching Met is hods
of data
in analys
qualitative research is divided into 3 stages, first, da ta
n process,
reduction, selectio concentration, attention, abstraction and transfor
romraw
ming the the data
field,f second is the data display, presents data in the n
ormand
arrative to explain
tabels f the phenomenon under study and the last, is th
ults ofThe
e conclusion thisresstudy is the recognition of the BPCB Yogyakart
a thatbanan
CandiisPram recorded as plant asset and Candi Prambanan
value,without
is deliberate so the Heritage Asset can not be traded. The V
alue ofngthis
is inrecordi
conformity with PSAP number 07 of 2010 section 69
must beAssets
that Heritage recorded in the number of units without value
xii
ABSTRAK
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
Berdasarkan aspek
eknis, akuntansi didefinisikan sebagai proses pencatatan, pen t
ebagai bilan
dasarkeputusan
pengam atau kebijakan (Horngren, 2000).
“Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari pos isi keuangan
dan kinerja suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah
memberikan
nformasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan ar i
us
ang bermanfaat bagi kas
sebagian besar kalanganentitas
pengguna la y
poran
embuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan dalamjuga men p
unjukan
ertanggungjawaban manajemen atas penggunaan hasil sumber p
daya
ipercayakan
yang kepada mereka.”
d
Laporan posisi keuangan atau neraca merupakan salah satu hasil dari
liabilitas serta modal pada suatu periode tertentu. Aset dalam Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) yang dibuat oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) didefinisikan
sebagai sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa
1
masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan
diperoleh perusahaan (IAI, 2007). Hines (1988 dalam Hooper et al. 2005)
menyatakan bahwa akuntansi untuk aset dalam beberapa hal terlihat memiliki
alamiah yang dimiliki oleh masing- masing aset tersebut. Aset bersejarah dalam
akuntansi masih menjadi hal yang polemik mengenai penyajian, penilaian, dan
lain dari pembangunan, pembelian, donasi, warisan, sitaan dan juga rampasan.
Maka dari itu aset bersejarah ini dianggap unik karena memiliki ca ra
perolehan
egituyang
beragam.
b
A
set bersejarah ini digolongkan sebagai aset tetap karena aset ki b ersejarah
ini memili
kriteria sebagai aset tetap dan juga memenuhi definisi da ri aset
merupakan:
Aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
ulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau diman
“ asyarakat umum.” 2 (dua belas)
b faatkan oleh
m enurut Agustini (2011), aset bersejarah merupakan salah sa
ungi
M oleh negara. Aset tersebut sangat berharga bagi sebuah b tu aset
yang dilind
rsejarah merupakan wujud dari budaya, sejarah dan identitas angsa
bangsa itu sendiri. Bukan hanya nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari aset
seni, budaya, sejarah, pendidikan, pengetahuan dan lain-lain yang harus dijaga
2
Penelitian tentang akuntansi untuk aset bersejarah belum banyak dilakukan
“Perlakuan Akuntansi Untuk Aset bersejarah (Studi Pada Candi Borobudur) data
mengkaji data laporan keuangan dinas pengelolaan keuangan dan aset daerah dan
penelitian
ut ialah bahwa aset bersejarah dikelompokkan sebagai aset b terseb
ukan sebagai
s sebagaimana yang diperdebatkan selama ini, dalam hal pen liabilita
bersejarah di luar Indonesia sudah banyak dilakukan, antara lain pe nelitian yang
dilakukan di Selandia Baru oleh Hooper et al. (2005). Peneli t ian tersebut
bersejarah dan penolakan oleh beberapa museum di Selandia Baru atas standar
(ICANZ). Hal ini disebabkan karena pihak museum beranggapan ba hwa museum
lebih menekankan pada nilai seni atas aset- aset bersejarah yang ada di
dalamnya
ilai ekonomi yang tersimpan dalam aset bersejarah tersebut.
bukan
penelitian ini, Wild mengkritik ideologi politik dan praktik model NPM (New
Public Management), dan mengkaji ulang asumsi bahwa laporan keuangan sektor
entitas nirlaba seperti HCA (Heritage, Cultural and Community Assets) serta
3
mengusulkan model pelaporan alternatif yang didasarkan pada seperangkat
akuntansi yang tepat untuk aset bersejarah, bagaimanapun juga aset bersejarah
memiliki nilai baik nilai seni, nilai budaya dan nilai ekonomi. Maka dari itu
diperlukan perlakuan akuntansi yang tepat untuk aset berseja rah untuk
yang t elah dilakukan oleh Anggraini (2014). Penelitian difokuskan pada perlakuan
akunta nsi yang diterapkan untuk aset bersejarah di Indonesia ba ik dari segi
keuangan.
an ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan f Peneliti
enomenologi.
Prambanan dipilih sebagai setting penelitian karena Cand Candi
an dilakukan
an yang berjudul “Perlakuan Akuntansi Untuk Aset Berse peneliti
jarah (Studi
enologiFenom
Pada Candi Prambanan)”.
4
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
ini, maka d
iperlukan fokus terhadap masalah yang diteliti dan di anal isis.
Adapun
dari penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan ter fokus
hadap anan.
Candi Pramb
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui apakah dinas
terkait mengetahui makna dari aset bersejarah, bagaimana metode penilaian Candi
5
1.5 MANFAAT PENELITIAN
ususnya
Daerah kh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam upaya peningkatan
keandalan.
S istematika penulisan memuat uraian secara garis besar isi dari penelitian
yang b erguna untuk memudahkan dalam memahami pembahasan skripsi ini, maka
berikut:
BAB I PENDAHULUAN
sistematika pembahasan.
6
BAB III METODE PENELITIAN
dilakukan.
BAB V PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
definisi
ut. Seperti halnya kriteria yang dipakai oleh IPSAS (Internat terseb
e assets
bed as heritage assets because are
of their cultural, environmenta descri
lor historical
ance”. Tabel dibawah menunjukkan perbedaan pendapa signific
8
“aset daerah”
(Heritage assets must be represented in
a separate category of asset as
"community assets")
Carnegie dan Wolnizer (1995) Aset besejarah bukanlah aset dan akan
lebih tepat diklasifikasikan sebagai
liabilitas, atau secara alternatif disebut
sebagai fasilitas dan menyajikannya
secara terpisah.
(Heritage assets are not assets and it
would be more appropria te to classify
them as liabilities, or alternatively to
call them facilities and show them
separately)
Micallef dan Peirson (1997) Aset bersejarah tergolong dalam aset
dan dapat dimasukkan dalam neraca.
(Heritage assets are considered assets
and they can be included on the
balance sheet)
Barton (2000) ajikan dalam
Aset bersejarah harus dis
anggaran terpisah agai
seb “aset
layanan”
(Heritage assets must be represented in
a separate budget as "services assets")
Nasi et al. (2001) Aset bersejarah tidak harus disajikan
dalam neraca.
(Heritage assets should not be reported
in the balance sheet)
Christiaens (2004) Aset bersejarah harus dimasukkan
Christiaens dan Rommel (2008)
dalam neraca meskipun tidak
Rowles et al.(1998)
9
memenuhi definisi resmi.
(Heritage assets should be reported in
the balance sheet notwithstanding their
non - compliance with the official
definitions)
Sumber: Aversano dan Christiaens, 2012
digolon
jud yang dilindungi pemerintah karena didalamnya menganduerupakan aset
berwu , pendidikan, sejarah, pengetahuan dan karakteristik unik lain ng nilai seni,
patut
teristik Aset Bersejarah
Dpa hal yang perlu digaris bawahi. Aversano dan Fer rah,
1
2. Terdapat kesulitan untuk mengidentifikasi nilai buku berdasarkan harga pasar
atau sejarah
masalah penjualan
4. Ke beradaan aset tidak tergantikan dan nilai aset memungk inkan untuk
manfaat yang tidak terbatas, dan pada beberapa kasus bahkan tidak bisa
didefinisikan.
dalam tukan
menenakuntansi yang tepat bagi aset bersejarah. Aset bersejar ah
uhnya
tidak bisa diperlakukan sama dengan aset tetap lainnya, padahal as
sepen et
pat untuk
de penilaian yangmenilai
te aset bersejarah.
penilaian aset bersejarah itu sendiri. Meskipun suatu item dalam aset bersejarah
memenuhi kriteria pengakuan aset tetap, tidak berarti bahwa semua aset
bersejarah harus diakui dalam laporan keuangan. Ada beberapa aspek yang perlu
2
1. Operational Heritage Assets atau Aset Bersejarah untuk Kegiatan
Operasional
Aset bersejarah ini merupakan jenis aset yang memiliki fungsi ganda
yaitu selain sebagai bukti peninggalan sejarah, aset ini juga memiliki fungsi
dicatat
lam neraca
da sebagai aset tetap. Seperti yang telah diatur dalam PSAP
No.
ragraf
07 pa70.
digunakan karena nilai estetika dan nilai sejarah yang dimil iki. Berbeda
aset ini tidak memiliki nilai ganda. Di Amerika, jenis aset ini disebut heritage
Jenis non operational heritage assets dibedakan menjadi tiga jeni s, yaitu :
Di Indonesia jenis aset ini tidak perlu diakui dalam neraca akan tetapi
dijelaskan dalam PSAP no. 07 paragraf 64. Pengakuan aset bersejarah yang
3
operational heritage assets dapat diakui dalam neraca adalah jenis aset tanah
dan bangunan bersejarah yang diperoleh pada periode berjalan. Hal ini sejalan
dengan pengakuan aset bersejarah bahwa dapat diakui sebagai aset tetap
dalam neraca jika memiliki kos yang andal. Untuk menentukan kos yang
dilekatkan pada suatu item tersebut. Selama ini alasan yang digun akan untuk
untuk
emperoleh
m nilai yang andal, hal ini dikarenakan :
a. Tidak ada data atau catatan atau bukti yang menunjukkan harga
dilekatkan pada objek atau aset bersejarah yang berumur tua. Keandalan
tersebut.
b. Jika kita sulit untuk menentukan keandalan nilai pada objek tersebut
Bukan hal yang mudah untuk menentukan kos yang dilekatkan pada
suatu objek. Apalagi jika dikaitkan dengan nilai sejarah yang dimiliki.
Butuh waktu yang lama dan biaya yang tinggi. Nilai sejarah yang
4
yang memiliki atribut yang unik untuk diperbandingkan dengan kos yang
andal.
Penilaian biasanya digunakan untuk menunjuk proses penentuan jumla h rupiah yang
harus dilekatkan pada tiap elemen atau pos statemen keuangan pada s aat
suai. yang se
asis penilaian
Aset bersejarah memiliki model penilaian (valuation) yang berb eda di setiap
negara. Perbedaan tersebut muncul disesuaikan dengan kondisi dan situ asi di masing-
masing negara. Negara- negara tersebut menganut suatu pedoman y ang mengatur
tentang akuntansi bagi aset bersejarah. Dari sekian banyak pedoman atau standar,
negara berhak memilih mana yang paling tepat diaplikasikan untu k negaranya.
antara lain
lah:ada
model revaluasi untuk semua aset bersejarah dan mengukur aset tersebut pada
nilai wajar. Hal ini sesuai dengan GAAP. Setelah nilai wajar aset telah
ditentukan, aset harus dinilai kembali berdasarkan siklus valuasi 3 tahun. Nilai
wajar harus didasarkan pada harga jual pasar saat ini untuk aset yang sama atau
sejenis. Namun, banyak jenis aset bersejarah yang memiliki sifat unik, sehingga
5
tidak dapat diukur berdasarkan harga jual pasar. Oleh sebab itu, nilai wajar aset
didepresiasi. Aset dapat dinilai pada biaya penggantian dengan aset yang sama
aset bersejarah diperoleh dengan tanpa biaya atau biaya nominal, aset tersebut
harus diukur pada nilai wajar pada tanggal akuisisi. Dalam men entukan
nilaiarwaj
aset bersejarah yang diperoleh dari transaksi non- exchange , suatu
entitas har
us menerapkan prinsip- prinsip atas bagian penentuan nilai waja r.
Setelah
tas dapat memilih untuk mengadopsiitu,
baik model revaluasi atau enti
aset bersejarah dapat dilakukan dengan metode apapun yang tepat dan relevan.
penilaian yan
g dapat menyediakan informasi yang lebih relevan dan bermanfa at.
aset yang dimiliki agar nilai aset tetap pemerintah yang ada saat ini
membebaskan model penilaian mana yang cocok digunakan untuk aset bersejarah
baik model penilaian kembali (revaluation) maupun model biaya. Kebebasan tersebut
6
diharapkan agar entitas dapat menyediakan informasi yang lebih relevan dan lebih
penghalang bagi sebuah entitas pengelola aset bersejarah untuk melakukan penilaian
aset bersejarah.
terhadap proses pengakuan aset bersejarah. Namun, untuk diakui s ebagai aset
tetap haruslah berwujud dan memiliki kriteria sebagai berikut ( f PSAP no.
7 paragra
16):
a. Australia
kemungkinan besar (probable) akan diperoleh di masa yang akan datang dan
aset memiliki harga perolehan (cost) atau nilai lain yang diukur secara andal.
terdapat aset yang tidak memenuhi kriteria pengakuan aset maka diperlakukan
7
sebagai aset kontijensi. Aset kontinjensi adalah aset potensial yang timbul dari
peristiwa masa lalu, dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak
terjadinya suatu peristiwa atau lebih pada masa depan yang tidak sepenuhnya
b. Swedia
masuk) dan sebagainya. Oleh karena itu, pemerintah Swedia mem andang aset
bersejarah merupakan alat bagi pemerintah untuk mencapai tujua nnya dengan
aset bersejarah sangat sesuai dengan definisi aset dan sebagai kons ekuensinya
c. Inggris
dan oper
ational heritage assets. Keduanya diakui sebagai aset da lam
laporan
ngan seperti dengan aset lainnya. Namun, karakteristik yang keua
dimiliki non operational heritage assets tidak praktis atau tidak tepat, maka
Koleksi Museum, Galeri, dan arsip lainnya yang per 31 Maret 2000
8
Bangunan dan tanah tetap dikapitalisasi meskipun manfaat dari informasi
nilai akan datang berkurang jika manajer aset telah menerima informasi yang
aset.
d. New Zealand
“are held by an entity for use in the production or supply of goods and
services, for rental to others or for administrative purposes, and may
include items held for the maintenance or repair of such assets and have
been acquired or constructed with the intention of being used on a
continuing basis”
Oleh karena itu aset bersejarah atau cultural assets yang memenuhi
definisi diatas dapat diukur secara andal diakui dalam laporan keuangan
entias.
e. Amerika Serikat
laporan keuangan. Sedangkan untuk aset bersejarah yang berfungs i ganda yaitu
selain sebagai aset yang memiliki nilai sejarah namun juga untuk operasi
Gedung Putih (White House). Untuk aset bersejarah seperti koleksi seni,
9
tidak akan menurun dari tahun ketahun maka tidak disyaratkan untuk
dikapitalisasi.
Aset bersejarah yang tidak diakui dalam laporan keuangan dilaporkan secara
f. Indonesia
dengan
turan perundangundangan yang berlaku. Pemerintah mungkin pera
mempunyai
yak aset bersejarah yang diperoleh selama bertahun-tahun dan ban
dengan cara
olehan beragam termasuk pembelian, donasi, warisan, rampa per
dalam bentuk unit, misalnya jumlah unit koleksi yang dimiliki atau jumlah unit
monumen, dalam Catatan atas Laporan Keuangan dengan tanpa nilai. Biaya
10
untuk perolehan, konstruksi, peningkatan, rekonstruksi harus dibebankan
dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode berjalan. Aset bersejarah juga
perkantoran. Untuk kasus tersebut, aset ini akan diterapkan prinsip prinsip yang
sama seperti aset tetap lainnya. Sedangkan untuk aset bersej arah
lainnya,
ensi manfaatnya terbatas pada karakteristik sejarahnya, s pot
ebagaicontoh
numen danmo
reruntuhan (ruins) tidak diakui sebagai aset tetap.
Sta ndar yang dijadikan pedoman dalam praktik pengakuan aset bersejarah juga
dis esuaikan dengan standar yang dimiliki oleh masing-masing ne gara. Hal ini
bersejarah yang memiliki nilai atau kos yang dapat diukur secara andal harus
tetap diakui sebagai aset tetap. Bagaimana pengakuan aset bersejarah tersebut
11
2.1.6 Penyajian dan Pengungkapan Aset Bersejarah
2. P SAP no.07 paragraf 68 menerangkan aset bersejarah harus dis ajikan dalam
bentuk unit, misalnya jumlah unit koleksi yang dimiliki atau jumlah unit
12
sedangkan atribut adalah sesuatu yang melekat pada suatu objek yang
dan oleh karena itu menjadi lebih bermanfaat. Teori pengukuran ini diperlukan
dimensi waktu dan unsur intrinsik yang unik. Ukuran yang digu nakan dalam
penelitian ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Kam (1990), yaitu:
a. Ukuran langsung atau utama adalah ukuran nyata dari suat u obyek
tribut
atau a yang dimiliki. Ukuran ini dapat dikaitkan dengan heritage assets
ngka yang
sejumlah a mencerminkan ukuran langsung dari beberapa obyek atau
atribut intrinsik dari suatu ukuran tidak langsung. Ukuran ini dapat dikatkan
dengan heritage assets yang tidak memiliki pasar aktif serta y ang memiliki
2. Ukuran yang berkaitan dengan dimensi waktu ketika pengukuran itu dibuat,
yait :
13
b. Ukuran masa sekarang
3. Pen
gukuran juga dapat berupa:
a. P
engukuran fundamental
D suai
dengan
imana suatu angka dapat diberikan kepada suatu sifat se
b. Pengukuran turunan
Bergantung kepada adanya pengukuran dari dua atau lebih kuantitas dan
penilaian ekono
mi dari heritage assets, dimana pemilihan teori pengukuran ya ng
diterapkan
engan sifat dan kondisi bawaan darisesuai
heritage assets yang unik d
hingga saat ini penerapan standar akuntansi yang dibuat oleh badan standar yang
14
yang menjadi acuan penelitian.
15
Aisa tri agustini (2011) melakukan penelitian tentang “Arah Pengakuan,
menghasilkan bahwa Aset bersejarah merupakan barang publik yang berharga dan
harus dapat dinilai dengan metode yang tepat. Adanya pengakuan aset bersejarah
akan m endorong pengelolaan aset bersejarah yang baik oleh entitas p engendali.
dalamarah
asettidak
bersejmemiliki kejelasan, akuntansi untuk aset bersejara h
kelestariannya. Belum ada dasar penilaian yang dianggap tepat untuk aset
bersejarah.
16
2.3 MODEL BRAINWARE ANALYSIS AWAL
teori yang telah diuraikan, maka model brainware analysis awal adalah sebagai
berikut:
Makna Aset
Bersejarah
Jenis dan
Metode Penilaian
Karakteristik
Aset Bersejarah
Aset Bersejarah
Pengakuan Aset
Bersejarah
Pengungkapan
dan Penyajian
Aset Bersejarah
dalam Leporan
Keuangan
17
BAB III
METODE PENELITIAN
digunakan.
Aset bersejarah ini merupakan aset yang unik karena timbul d ari
ada nilai
,seni,
budaya
sejarah, pendidikan dan pengetahuan. Nilai ekono mi
ntology ari
yang mendasini.
penelitian
ualitatif
ngkat fenomena mengenai perlakuan akuntansi terhadap
dan as menga
an, penyajian
ngungkapan
dan pe
aset bersejarah pada laporan keuangan.
berakar pada filosofi dan psikologi (Moleong, 1993). Fenomenologi berasal dari
bahasa Yunani phainomenon, yang terdiri dari kata phainomai yang artinya
menampakkan diri, dan kata logos yang berarti akal budi (Roekhudin, 2013). Jadi,
18
fenomenologi adalah sebuah ilmu (akal budi) yang menampakkan diri ke dalam
lebih aik tentang sosial budaya, politik atau konteks sejarah dimana b
pengalaman
adi. itu terj
bersinggungan dengan unsur sosial, budaya dan juga sejarah. Fokus penelitian ini
adalahpada akuntansi untuk aset bersejarah, sehingga ketiga unsur t ersebut tentu
digunakan untuk
enjelaskan secara lebih mendalam tentang fenomena yang m
pembanding
isi dapat digunakan sebagai informan untuk menunjukkan akadem
pengalaman
merekahidup
dalam mengajarkan konsep aset.
sesuatu yang sedang diteliti oleh mereka. Peneliti berusaha untuk masuk ke dalam
dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sehingga mereka mengerti apa dan
19
bagaimana suatu pengertian itu, lalu pengertian itu dikembangkan oleh mereka di
sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari- hari. Peneliti akan mengkaji secara
mendalam isu sentral dari struktur utama suatu objek kajian. Peneliti kualitatif
berdasa
rkan sebagaimana adanya yang terjadi di lapangan, y an,
ang dialami,
dirasak dan dipikirkan oleh partisipan atau sumber data (Sugiyono di, , 2009
deskripsikan
daripada menjelaskan sesuatu dan berawal dari sudut pandan sesuatu
g potesis- hipotesis
yang atau dugaan- dugaan
bebas sebelumnya (Lester,
dari 19 hi
99).
EK PENELITIAN
dengan suatu
tujuanhal (variabel tertentu) (Sugiyono, 2014). Dalam penelit dan
reliablean
tentang
yang akan digunakan adalah Candi Prambanan sebagai sal ian
P aset Dinas
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah serta pengelola Candi Prambanan karena
ketua bidang aset DPKAD dan pengelola Candi Prambanan tersebut dianggap
pihak yang ahli dan memiliki informasi serta dapat memberikan data yang
diperlukan untuk penelitian mengenai perilaku akuntansi untuk aset bersejarah ini.
20
3.4 INSTRUMEN PENELITIAN
sendiri sebagai human instrument. Oleh karena itu kedudukan peneliti dalam
penafsiran data, dan menjadi pelapor hasil penelitian. Sebagai instrumen utama
logiknya- (Sugiono,2009:305).
penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengu mpulan data,
Peneliti sebagai instrumen atau alat penelitian karena mempu nyai ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari
2. Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan
3. Tiap situasi merupakan keseluruhan artinya tidak ada suatu instrumen berupa
test atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia,
21
4. Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan
data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan se gera sebagai
iono 2009:
perlakuan (Sug 308).
Berdasarkan jenisnya data dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data
akuntansi untuk Candi Prambanan. Dalam hal ini berkaitan dengan pihak dinas
pengelolaan keuangan dan aset daerah sleman khususnya ketua bid ang aset dan
ketua unit prambanan selaku pengelola. Data primer ini akan dipe roleh
elakukan
dengan cara m wawancara dengan pihak-pihak tersebut terka it
kepala bidang aset dan pihak pengelola Candi Prambanan mengenai aset
bersejarah.
keuangan.
22
Untuk mendapatkan data primer tersebut, peneliti menggunakan metode
yang diteliti melalui partisipasi langsung adalah cara yang dianjurkan (Roekhudin,
getahuiasiakan
yanginform
sedang diperlukan oleh pewawancara.
adalah annual report khususnya yang berhubungan dengan aset bers ejarah. Selain
annual report, artikel di media online juga dapat menjadi sumber data sekunder.
23
a. Library Research (penelitian kepustakaan)
b. Interview (wawancara)
dinas pengelolaan keuangan dan aset daerah sleman khususnya ketua bidang
mendalam
ait dengan perlakuan akuntansi untuk aset bersejarah, dalam h terk
al ini
di berupa
Prambanan.
Can
c. Dokumentasi
memudahkan dalam pencarian data annual report karena data tersebut tidak
24
lagi dalam bentuk lembaran kertas merupakan dalam bentuk softcopy. Metode
yang diperiksa adalah keabsahan datanya. Data yang terkumpul akan di cek ulang
oleh p eneliti pada subjek data yang terkumpul dan jika kurang sesuai peneliti
informasi
elah diperoleh. Oleh sebab
yangitu, dalam penelitian ini melak t
ukan teknik
lasi untuk
Triangu
mencari kevaliditasan suatu data yang terkumpul.
; , Triangulasi pengumpulan
Triangulasi
data dan Triangulasi waktu. tekni sumber
k igunakan adalahtriangulasi
pendekatan triangulasi sumber
yang
untuk men d
gungkap
alisis data. Selanjutnya pendekatan triangulasi
dandilakukan men mengan
aset da t bersejarah
25
3.8 TEKNIK ANALISIS DATA
kompleks dan melibatkan penalaran induktif dan deduktif, serta d eskripsi dan
interpretasi sehingga tidak dapat diuji secara statistik. Tidak adan ya pedoman
serta kema
mpuan intelektual yang tinggi (Anggraini, 2014). Secara u mum,
metode data pada penelitian kualitatif dibagi menjadi dua bagian, pe analisis
etode analisis
da penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:
data pa
Data Reduction
Conclusions
drawing/verify
:
ing
dan memfokuskan pada hal-hal yang penting. Kemudian data yang tidak
26
relevan akan dipisahkan dari data yang relevan. Melalui reduksi data ini
Miles dan Huberman (1992) dalam Anggraini (2014) menyarankan agar data
ditampilkan dengan baik melalui tabel, charts, networks dan format gambar
lainnya saat menarik kesimpulan. Hal ini berfungsi untuk membe ri kemudahan
dalam membaca dan menarik kesimpulan. Selain untuk memuda hkan, format
tabel, charts, networks dan format gambar lainnya juga dapat menarik perhatian
c. Penarikan kesimpulan
bersejarah
susnya khu
pada pengelolaan Candi Prambanan.
sesuai berdasarkan data yang diperoleh peneliti di lapangan. Hal ini disebut
27
BAB IV
Pada bab ini, akan dipaparkan fokus dari penelitian yaitu perlakuan
Data diambil
menggunakan metode wawancara. Wawancara dilakukan dengan
et bersejarah pada PT T
laporan keuangan yang dibuatnya. Sedangkan dalam
gi sewa lahanCandi
keting dan tic
Prambanan.
Pencatatan mengenai bentuk fisik aset dari Candi Prambanan di lakukan oleh
selaku ketua unit prambanan dan juga Ibu Sulistyani selaku bagian keuangan di
yaitu dari sudut pandang ketua unit prambanan, sudut pandang bagian keuangan
28
4.2 PROFIL CANDI PRAMBANAN
yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Kompleks candi ini terletak di kecamatan
selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tenga h dan Daerah
komple
ks Candi Prambanan terletak di wilayah adminstrasi desa Tlogo,
Prambanan, Klaten.
berangk
tahun Saka 778 (856 Masehi) dan ditulis oleh Rakai Pik hli atan
[Link]
Para A (ilmu Purbakala) sepakat untuk mengait k an
PrasastihaSiwagr
dengan sejarah Candi Prambanan. Hal ini dikarenakan pa da
prasasti menjadi dua bagian, yaitu: bagian yang berkaitan dengan pendirian
bangunan suci dan bagian yang berhubungan dengan peresmian serta penetapan
29
Pada bagian pertama disebutkan, bahwa setelah keadaan menjadi damai,
Pada bagian kedua Prasasti Siwagrha, disebutkan bahwa pada hari Kamis
Wage tanggal 11 bulan margasira tahun Saka 778 (11 November 856 Masehi)
bangunan kuil selesai dibangun dan diresmikan patung dewanya. Setelah kuil
aliran sungai sehingga airnya menyususri sisi-sisi halaman candi. Tanah yang
sawah-yang
sawah
menjadi “sawah dharma” bagi kuil Siwa.
Prasasti Siwagrha dan Prasasti Kedu (Prasasti Matiasih) tahun 907 Masehi,
memuat daftar lengkap raja-raja Dinasti Sanjaya. Dari prasasti tersebut dapat
Sri Mahara
ja Rakai Pikatan.
awalnya kegiatan ini hanya bersifat individu dan meningkat menjadi suatu
Van Kusten en Wetenscheppen pada tahun 1778. pada abad ke 19 kegiatan ini
30
mulai berkembang dengan pesat dalam bidang penelitian, Observasi,
swasta pada tahun 1885 yaitu Archaeologische Vereeniging yang di pimpin oleh
14 Juni.J Krom. pada tahun 1950 kantor pusat Oudheidkundige Diensang dipimpin
Pad bagi menjadi dua unit, antara lain bersifat teknis administras tur
enelitian.
kegiatan, yaitu di Lembaga yang mengelola administrasi operasi i
Nasional (P4N). Pada tahun 1985 Surat Keputusan dari Menteri Pendidikan
4. Gianyar untuk wilayah Propinsi Bali, NTB, NTT, dan Timor Timur.
Ten
6. Ban dan
Sumatra
ggara.
Uta
da Aceh untuk wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh
7.
Bat ra.
Kemu dian pada tahun 2002 Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
Pelestarian Penin
ggalan Purbakala (BP3) dan saat ini BP3 diganti menjadi Bal ai
Pelestarian
Budaya (BPCB). Pada akhir tahun 2008 Departemen Keb Cagar
udayaan
satadan Pariwi 3 (tiga) buah BPCB, yaitu :
menambah
Utara.
32
4.3.1 Visi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta
berikut:
2. M rbakala peninggalan
6. M rbakala peninggalan
pu
Dalam rangka mencapai visi dan misinya, Balai Pelestarian Cagar Budaya
Yogyakarta merumuskan strategi dengan tujuan dan sasaran yang tercapai dengan
33
1. Mengembangkan sikap kritis terhadap nilai-nilai peninggalan purbakala
dan pariwisata
5. Pengaturan tata ruang pada kawasan lindung dan budidaya berkaitan dengan
masyarakat
34
2. Sudut pandang bagian keuangan Balai Pelestarian Cagar Budaya
Yogyakarta
didapat dari BPCB Yogyakarta Aset bersejarah dicatat sebagai aset dan
35
Aset bersejarah dapat dimaknai sebagai manfaat dimasa yang akan datang
dalam bentuk nilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/ atau
Aset bersejarah lebih dimaknai dari aspek non moneter bukan aspek moneter.
n/ataudakebudayaan; dan
agama,
Suatu benda yang digolongkan kedalam benda cagar budaya itu berupa
36
b. Bangunan Cagar Budaya
memiliki unsur tunggal atau banyak dan berdiri bebas atau menyatu dengan
format alam.
Struktur yang dapat digolongkan struktur cagar budaya ini harus mempunyai
Situs dan kawasan yang digolongkan kedalam situs dan ka wasan cagar
budaya harus mengandung benda cagar budaya atau struktur budaya dan
dalam dua
aturan
perpemerintah yaitu dari segi ekonomi berupa PSAP No mor
07 tahun
an dari segi sejarah berupa Undang-Undang Republik Indones
2010 d 010 tentang cagar budaya. Kedua peraturan tersebut pada i ia Nomor
11 tahundan
2 tujuan yang sama yaitu untuk mengatur pengelola ntinya
punya makna an
Tugas atau Fungsi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta ini
37
a. Pelindungan Cagar Budaya
mencegah kerusakan karena faktor manusia atau alam yang dapat merubah
t erintah daerah
izin dari pemdan juga pihak pengelola yang menaunginya.
c. Pemanfaatan
anfaatkan
dapat dim sebagai tempat dilaksanakanya kegiatan s eperti
tunjukan,
gelar per kegiatan budaya, dan juga dapat dimanfaatkan se bagai
[Link]
obyek
Penilaian untuk aset bersejarah hingga saat ini masih menjadi perdebatan
mengenai bagaimana cara penilaian yang tepat. Untuk menilai aset bersejarah
perlu melihat nilai intangible dari aset bersejarah seperti nilai sejarah, nilai
kelangkaan, nilai pemanfaatan, nilai keunikan, nilai keutuhan, nilai kondisi bahan,
nilai jenis bahan, nilai simbolik, nilai garapan dan nilai estetika. Pada Candi
38
Prambanan pun belum ditemukan cara yang tepat untuk melakukan penilaiannya.
“Hingga saat ini belum ada cara penilaian yang tepat untuk benda cagar
budaya, pada tahun 2014 Kemendikbud mulai mengkaji cara valuasi untuk
benda cagar budaya, kajian ini diberi judul Valuasi Candi Prambanan
Sebagai Aset Nasional sehingga saat ini Candi Prambanan dicatat dalam
bentuk dan ditulis tak ternilai dalam laporan”. (Ibu MSA, Ketua
Unit P
rambanan)
Selain itu ketua unit juga menyampaikan:
4. Saat ini untuk Candi Prambanan dicatat dalam bentuk unit dan tak ternilai
namun hingga saat ini kajian tesebut belum menemukan titik terang dan masih
terus dikaji soal penilaian yang tepat untuk aset bersejarah. Pada keterangan
39
tersebut dalam melakukan penilaian aset bersejarah BPCB Yogyakarta pernah
tidak mempunyai landasan dan juga belum tentu mereka telah mempertimbangkan
dan lain-lain. Sehingga saat ini penilaian yang dilakukan oleh BPCB Yogyakarta
master piece, nilai sejarah, nilai estetika, keunikan dan tingkat kekuno an.
Penilaian
ut ditentukan ketika terjadi transaksi yang disebut penyelam terseb
bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya d an kawasan
karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,
bahwa aset bersejarah tidak langsung berkaitan dengan aspek ekonomi sehingga
40
tidak mudah untuk menilai besarnya jumlah rupiah yang melekat pada aset
hukum yang mengatur tentang sifat-sifat obyeknya. Candi Prambanan sebagai aset
bersejarah memiliki sifat-sifat unik yang tidak berkaitan dengan angka moneter
tetapi ebih
l berkaitan dengan nilai kesejarahannya.
yang b erpendapat bahwa aset bersejarah berbeda dengan aset pada umumnya
karena aset tersebut tidak dapat diproduksi ulang, digantikan da n juga tidak
(2005) meyakini bahwa aset bersejarah lebih berkaitan dengan nilai kesejarahan
yang ada di dalamnya bukan nilai ekonomi yang tersimpan dalam aset bersejarah
tersebut.
DALAM LAPO
RAN KEUANGAN
dalam laporan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara
Barang Bersejarah, dalam laporan tersebut aset bersejarah dibagi kedalam 3 jenis
yaitu peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, dan aset tetap lainnya. (lihat
41
khususnya pada pengungkapan lainnya, dalam laporan tersebut aset bersejarah
dicatat dalam bentuk unit (lihat lampiran 6). Untuk penyajiannya Candi
Prambanan dicatat dalam bentuk unit dan tak ternilai. Pada laporan simak BMN
dan Catatan Atas Laporan Keuangan, BPCB Yogyakarta mencatat seluruh aset
bersejarah yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah candi yang terdapat
pada Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebanyak 316 unit sed angkan
pada komple
ks Candi Prambanan sendiri terdapat 240 unit. Total candi di
kompleks
Prambanan
Candi terbagi menjadi 16 candi pada zona 1, dan 224 can di
pada zona
un hingga saat ini pada zona 2 baru terdapat 4 candi yang
2. Nam masih berupa batu yang belum tersusun. Pada laporan te di pugar
dan sisanya
anan digolongkan kedalam aset bersejarah bukan aset tetap a rsebut
Candi Pramb
. Masa manfaat dari aset bersejarah sendiri tidak bisa di tau
arta tersebut
nsi Pemerintah. Suatu Aset bersejarah pastinya juga memer
menga eperti biaya perawatan, perbaikan, pemugaran dan lain-lain. B ang Standar
Akunta unnya tidak selalu sama atau disebut biaya variabel yang ter lukan biaya-
biaya s iaya
dibuat oleh BPCB Yogyakarta (lihat lampiran 5). Seperti yang disampaikan
42
“Mengenai biaya-biaya yang dikeluarkan itu setiap tahun bisa berbeda-beda
tergantung kebutuhan dari benda cagar budaya tersebut seperti apakah butuh
43
perbaikan, pemugaran dan sebagainya. Kalau biaya tetapnya ada biaya gaji
karyawan dan perawatan. Biaya-biaya tersebut masuk kedalam biaya
operasional.” (Ibu MSA, Ketua Unit Prambanan)
Penyajian dan pengungkapan yang dilakukan oleh BPCB Yogyakarta atas
masyarakat untuk melaporkan segala bentuk aset negara yang dimiliki oleh
an keuangan
ntuk menunjukan akuntabilitas hanya
pengelolaannya, bukan untuk u
menunjukan nilaiPrambanan
ari Candi d dan bagaimana metode penilaiannya.
diterapkan, begitu juga dengan perlakuan akuntansi untuk aset berse jarah.
BPCB arta
Yogyak
sebagai pihak yang melakukan pelaporan terkait Cand i
Prambanan
ikan dan mengungkapkannya dalam bentuk unit dan tak ter menyaj
n bahwa:
“Aset bersejarah harus disajikan dalam bentuk unit, misalnya jumlah unit
koleksi yang dimiliki atau jumlah unit monumen, dalam Catatan atas
Laporan Keuangan khususnya pada bagian pengungkapan lainnya dengan
tanpa nilai.”
Selain itu pada laporan keuangan BPCB Yogyakarta juga mencatat biaya yang
44
Pengakuan biaya tersebut sesuai dengan PSAP np.07 tahun 2010 paragraf 69 yang
menerangkan bahwa:
pengelola dari Candi Prambanan sudah sesuai dengan standar ak untansi yang
berlaku.
45
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar bud aya, situs
perlu dilestar
ikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi s ejarah,
ilmu penget
ahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui prose s
penetapan.
Pihak BPCB Yogyakarta mengakui aset bersejarah seba
um dalam daftar aset pada laporan Sistem Manajemen dgai aset dan
bersejarah
ainnya yang juga diungkapkan dalam Catatan Atas Lapor dibagi
an keuangan
dalam bentuk unit . Aset bersejarah di indonesia memiliki khusus
et bersejarah dicatat
acuan hukum yaitu undang-undang nomor 10 tahun 2010 dan PSAP no.07 tahun
2010.
Metode penilaian untuk Candi Prambanan hingga saat ini masih dalam
yang diberi judul “Valuasi Candi Prambanan Sebagai aset Nasional” kajian ini
dimulai pada tahun 2014, namun hingga saat ini belum menemui titik temu
46
sehingga untuk penilaian, penyajian, dan pengungkapan Candi Prambanan yang
47
dilakukan BPCB Yogyakarta yaitu dengan mencatatnya dalam satuan unit dan
dalam Sistem Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN)
dan di ungkapkan pada Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) kh ususnya pada
yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah candi yang t e rdapat pada
mencatatnya dalam bentuk unit dan tak ternilai sudah sesuai dengan PSAP no.
sia.
ini di Indone
5.2 SARAN
berikut :
1. Memperluas objek penelitian sehingga tidak terfokus pada candi saja tetapi
juga aset bersejarah dalam bentuk lainnya seperti bangunan bersejarah atau
48
2. Memperluas fokus penelitian sehingga tidak hanya mengenai penilaian,
andar
juga st internasional mengenai aset bersejarah yang nantinya bi
sa diterapkan
diindonesia.
49
DAFTAR PUSTAKA
50
Hooper, Keith, Kate Kearins, dan Ruth Green. (2005). Knowing “the price of
everything and the value of nothing” : accounting for heritage
[Link], Auditing & Accountability Journal. Vol. 18 No.3,
pp.410-433.
Wild, Susan. (2013). Accounting for Heritage, Cultural, and Community Assets-
Alternative Metrics from a New Zealand Maori Educational Institution.
AABFJ Vol. 7 No. 1.
51
LAMPIRAN
58
LAMPIRAN 1
asebersejarah? kewajiban?
bersejarah?
heritage assets?
bersejarah?
59
12. Apakah setiap daerah memiliki metode penilaian
ekonomi tersebut?
dan pengelola terkait 16. Apakah aset bersejarah Candi Prambanan disajikan
keuangan?
yang digunakan?
pengembangan Candi
60
Prambanan?
uai
ses dengan dimiliki, dalam Catatan atas Lapora n Keuangan
ini?
61
LAMPIRAN 2
HASIL WAWANCARA
NARASUMBER
Narasumber 1 :
Narasumber 2 :
Nama : Sulistiyani
HASIL WAWANCARA
Ja aban:
w
uai dengan Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2010 tentang
Ses cagar budaya
a bab 1 pasal 1 bahwa cagar budaya adalah warisan bu
pad daya
struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya di darat
1
2. Aset bersejarah digolongkan sebagai aset atau kewajiban?
Jawaban:
3. Kriteria apa sajakah yang harus dipenuhi agar suatu benda dapat diakui sebagai
aset bersejarah?
Ja aban:
w
uai dengan Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2010 tentang
Ses cagar budaya
a bab 3 pasal 5, bahwa benda, bangunan, atau struktur dap
pad at
gai benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, atau st
diusulkan seba
daya apabila memenuhi kriteria:
ruktur cagar bu
Berusia 50 (Lima Puluh) tahun atau lebih;
a.
Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun;
b.
Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendi
c. dikan, agama
dan/atau kebudayaan; dan
disebutkan bahwa cagar budaya terdiri dari benda cagar budaya, bangunan
cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar
budaya. (Narasumber 1)
2
5. Adakah penjelasan hukum mengenai aset bersejarah?
Jawaban:
6. Apa sajakah tugas atau fungsi dinas Anda terhadap aset bersejarah?
Ja
w aban:
Ja aban:
w
ini untuk menilai atau valuasi ekonomi aset bersejarah atau
Saat cagar budaya
ng dalam kajian yang sudah dimulai sejak tahun 2014, k
seda ajian valuasi
onomi aset bersajarah ini memiliki judul “Valuasi Candi Pramb t
ek an an Sebagai
Nasional”. Pada saat ini pelaporan untuk aset bersejarah dis tuk
Ase ajikan dalam
unit dan tak ternilai selagi menunggu hasil dari kajian val
ben uasi
sebut. (Narasumber 1)
ekonomi ter
ngapa menggunakan cara tersebut?
8. Me
aban:
Ja
w
Karena untuk saat ini belum ada cara valuasi yang tepat untuk aset bersejarah
sehingga aset bersejarah dicatat dalam bentuk unit dan ditulis tak ternilai.
(Narasumber 2)
Jawaban:
3
Pencatatan dalam bentuk unit dan ditulis tak ternilai dirasa sudah tepat untuk
Jawaban:
Kajian mengenai valuasi ekonomi aset bersejarah sudah dilakukan dari tahun
20
w aban:
Untuk menilai aset bersejarah perlu melihat dari nilai intangi ble dari aset
nilai keunikan, nilai keutuhan, nilai kondisi bahan, nilai jenis bahan, nilai
12. Apakah setiap daerah memiliki metode penilaian dan standar nilai
ekonomi yan
g sama?
Ja aban:
w
setiap daerah memiliki metode penilaian dan standar nilai
Ya, ekonomi yg
a yaitu mencatat aset bersejarah dalam bentuk unit dan dituli
sam s tak
asumber 1)
ternilai. (nar
Jawaban:
tidak berani untuk menentukan nilai ekonomi aset bersejarah dikarekan BPCB
4
Yogyakarta belum mempunyai kurator yang isitilahnya bisa menilai benda
dari kolektor benda bersejarah karena dulu ketika ada pelelangan kepala budha
seperti
angkaan,
kel masterpiece, nilai sejarah, nilai estetika, keunikan dan
tingkat
unoan?
kek
Ja aban:
w
dah, dalam memvaluasi nilai ekonomi aset berse
Su jarah perlu
mpertimbangkan aspek-aspek tersebut. (Narasumber 1)
me
pakah yang melakukan pelaporannya?
15.
aban:
Sia
aporan dilakukan oleh BPCB Yogyakarta (Narasumber 2)
Ja
kah aset bersejarah Candi Prambanan disajikan dalam La
w
angan (Neraca)? Atau hanya disajikan dalam Catatan a
Pel
angan?
16. Apa poran
aban:
Posisi Keu tas
CB Yogyakarta menyajikan aset bersejarah secara spesifik
Laporan Keu
Ja
w
BP p ada laporan
5
lainnya. (Narasumber 2)
6
17. Apakah Aset bersejarah Candi Prambanan digolongkan sebagai aset
Jawaban:
18. Bag
aimana pos akun aset bersejarah dalam laporan keuangan?
Ja
w aban:
Ja aban:
w
mber hukum atau pedoman yang digunakan dalam pelap
Su o ran adalah
turan Pemerintah nomor 71 tahun 2010 tentang Standa
Pera r Akuntansi
erintah. (Narasumber 2)
Pem
aimana dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam upaya
20. Bag pengelolaan
eksi, konservasi koleksi, serta pembinaan dan pengemba
kol ngan Candi
banan?
Pram
aban:
Ja
w
tergantung kebutuhan dari benda cagar budaya tersebut seperti apakah butuh
perbaikan, pemugaran dan sebagainya. Kalau biaya tetapnya ada biaya gaji
operasional. (Narasumber 1)
7
21. Dapatkah mengestimasi masa manfaat aset bersejarah Candi Prambanan?
Jawaban:
Masa manfaat aset bersejarah tidak bisa diestimasi karena tergantung dari
maka masa manfaat dari aset bersejarah tersebut juga bisa lebih lama.
(Narasumber 1)
22. Dalam PSAP No. 7 terdapat peraturan “Aset bersejarah harus dis ajikan
belum, alasannya?
h diterapkan? Jika
Ja aban:
w
dah diterapkan, aset bersejarah disajikan dalam bentuk unit
Su t etapi dalam
oran SIMAK BMN khususnya di Laporan Baranag Kua
lap sa Pengguna
esteran Barang Bersejarah. (Narasumber 2)
Sem
8
LAMPIRAN 3
DOKUMENTASI
9
71
LAMPIRAN 5
72
73
74
75
76
77
78
79
80
LAMPIRAN 6
81