0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan99 halaman

Akuntansi Aset Bersejarah Candi Prambanan

Skripsi ini membahas perlakuan akuntansi untuk aset bersejarah Candi Prambanan dengan pendekatan fenomenologis. Penelitian ini mencakup pengakuan, pencatatan, dan pelaporan aset dalam laporan keuangan, serta bagaimana data dikumpulkan melalui wawancara dan pemeriksaan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Candi Prambanan dicatat sebagai aset tetap tanpa nilai jual, sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

Diunggah oleh

ria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan99 halaman

Akuntansi Aset Bersejarah Candi Prambanan

Skripsi ini membahas perlakuan akuntansi untuk aset bersejarah Candi Prambanan dengan pendekatan fenomenologis. Penelitian ini mencakup pengakuan, pencatatan, dan pelaporan aset dalam laporan keuangan, serta bagaimana data dikumpulkan melalui wawancara dan pemeriksaan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Candi Prambanan dicatat sebagai aset tetap tanpa nilai jual, sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

Diunggah oleh

ria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK ASET BERSEJARAH

(STUDI FENOMENOLOGI PADA CANDI PRAMBANAN)

SKRIPSI

Oleh:
Nama: Rizky Amanda Febriansyah
No. Mahasiswa: 12312297

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2016
PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK ASET BERSEJARAH

(STUDI FENOMENOLOGI PADA CANDI PRAMBANAN)

SKRIPSI

Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar

Sarjana Strata-1 Program Studi Akuntansi pada Fakultas Ekonomi UII

Oleh:

Nama : Rizky Amanda Febriansyah

No. Mahasiswa : 12312297

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2016

ii
iii
iv
v
KATA PENGANTAR

Assalaamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas se gala rahmat,

rezeki, serta karunia-Nya. Semoga shalawat dan keselamatan selalu tercurah

kepada Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, sehingga skripsi ini dapat

penulis selesaikan. Skripsi ini berjudul “PERLAKUAN AKUNTA NSI UNTUK

ASET BERSEJARAH (STUDI FENOMENOLOGI PAD A CANDI

PRAMBANAN)” merupakan salah satu syarat untuk mencapai g elar Sarjana

Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

Banyak kendala dan hambatan yang dihadapi penulis dalam penyusunan

skripsiini, hingga akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan. Penyelesai an skripsi ini

tidak lepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. De ngan segala

kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terim a kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tiada hentinya serta semua

pembelajaran untuk terus menjadi lebih baik dalam menjalani hidup.

2. Bapak dan ibu yang selalu memberikan dukungan, kasih sayang, doa, nasehat,

kesabaran dan pengorbanan yang begitu luar biasa dalam setiap langkah hidup

penulis.

vi
3. Ibu Prapti Antarwiyati, Dra., M. Si., Ak., CA selaku Dosen Pembimbing

Skripsi, yang selalu dengan sabar membimbing dan memberikan arahan yang

terbaik selama skripsi ini berjalan.

4. Bapak Dr. Ir. Harsoyo, [Link]., selaku Rektor Universitas Islam Indonesia.

5. Bapak D. Agus Hardjito, Drs., [Link]., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi

U
niversitas Islam Indonesia.
6. Bap etua
Jurusan ak Dekar Urumsah, S.E., [Link]., [Link]., Ph.D selaku K

Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

7. Seluruh civitas akademika Universitas Islam Indonesia.

8. Teman-teman yang paling setia dari awal kuliah: Rere, Manda, Arvin,

Pikar,
is, Dova, Arya, Ery, Mas Fian, Mbakyen dan Dila, terima Far

kasih untuk keb


ahagiaannya.

9. Sentul squad: Daka, Avin, Afton, Tiwi, Mery, Shafrina, Sherly terima

kasih ken
angannya, sukses untuk kita.

10. Teman-teman seperjuangan dalam penyusunan skripsi: Ari, Febri , Rizky,

Tyaslainnya
dan yang sudah jadi teman diskusi dan curhat sambil antr i

bimbingan, sem
oga dilancarkan segala urusannya.

11. Pengurus KOPMA FE UII periode 2014/2015 dan 2015/201 6

khususnya teman-teman bidus 2014/2015 dan 2015/2016. Terima

kasih untuk pengalaman dan cerita yang berharga.

12. Teman-teman Akuntansi UII angkatan 2012, see you on top!

13. Semua pihak yang membantu kelancaran penyusunan skripsi ini.

vii
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayahnya bagi kita semua,

terimakasih atas do’a dan semua dukungan yang ada. Penulis menyadari bahwa

penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh Karena itu, penulis

mengharapkan saran dan kritik yang membangun bagi penulisan yang lebih baik

di masa mendatang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua

pihak yang berkepentingan.

Wassalamu’alaikumwarahmatullaahiwabarakatuh

Yogyakarta, 20 Agustus 2016


Penyusun,

Rizky Amanda Febriansyah

iiii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ........................................................................................................ i


HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ....................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... vi
DAFTA R ISI...................................................................................................................... xi
DAFTA R TABEL............................................................................................... .............. xii
DAFTA R GAMBAR ............................................................................................... ......... xii
DAFTA R LAMPIRAN............................................................................................... ...... xii
ABSTR ACT..................................................................................................................... xiii
BAB I P ENDAHULUAN ............................................................................... ....................
1 LATAR BELAKANG ....................................................................
1.1 RUMUSAN MASALAH .................................................................................... 1
1.2 FOKUS PENELITIAN ....................................................................................... 5
1.3 TUJUAN PENELITIAN ..................................................................................... 5
1.4 MANFAAT PENELITIAN................................................................................. 5
1.5 SISTEMATIKA PENULISAN ........................................................................... 6
1.6 KAJIAN PUSTAKA .............................................................................................. 6
BAB II ASET BERSEJARAH ........................................................................................ 8
2.1 1.1 Definisi Aset Bersejarah ............................................................................. 8
2. 1.2 Karakteristik Aset Bersejarah ..................................................................... 8
2. 1.3 Jenis-Jenis Aset Bersejarah ....................................................................... 10
2.1.4 Model-Model Penilaian Aset Bersejarah .................................................. 11
2. .................. 14
2.1.5 Pengakuan Aset Bersejarah....................................................................... 16
2.1.6 Penyajian dan Pengungkapan Aset Bersejarah ......................................... 21
2.1.7 MEASUREMENT THEORY ...................................................................... 21
2.2 TINJAUAN PENELITIAN TERDAHULU ..................................................... 23
2.3 MODEL BRAINWARE ANALYSIS AWAL ...................................................... 25
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................... 26
3.1 PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF ............................................... 26
3.2 PENDEKATAN FENOMENOLOGI ............................................................... 26

i
3.3 OBYEK PENELITIAN..................................................................................... 28
3.4 INSTRUMEN PENELITIAN ........................................................................... 29
3.5 JENIS DAN SUMBER DATA ......................................................................... 30
3.6 TEKNIK PENGUMPULAN DATA ................................................................ 31
3.7 PENGUJIAN KEABSAHAN DATA ............................................................... 33
3.8 TEKNIK ANALISIS DATA ............................................................................ 34
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................................................... 36
4.1 GAMBARAN UMUM PENELITIAN ............................................................. 36
4.2 PROFIL CANDI PRAMBANAN..................................................................... 37
4.3 PROFIL BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA YOGYAKARTA...... 38
4.3.1 Visi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta ....................... 41
4. 3.2 Misi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta ...................... 41
4.3.3 Strategi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta ................. 41
4.4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................................................. 42
4. 4.1 Makna Aset Bersejarah ............................................................................. 43
4. 4.2 Metode Penilaian Candi Prambanan ......................................................... 46
4. 4.3 Penyajian Dan Pengungkapan Candi Prambanan Dalam Laporan
Keuangan .................................................................................................. 49
4. 4.4 Kesesuaian Perlakuan Akuntansi Pada Candi Prambanan Dengan
Standar Akuntansi Yang Berlaku ............................................................. 51
BAB V PENUTUP ........................................................................................................... 53
5.1 KESIMPULAN ................................................................................................. 53
5.2 SARAN ............................................................................................................. 54
DAFTA R PUSTAKA ....................................................................................................... 56
LAMPI RAN...................................................................................................................... 58

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1Pendapat Mengenai Aset Bersejarah ................................................................... 8

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Brainware Analysis Awal .................................................................. 25


Gambar 3.1. Metode Analisis data.................................................................. .................. 34

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA: ........................................ 59


LAMPIRAN 2 HASIL WAWANCARA.......................................................................... 62
LAMPIRAN 3 DOKUMENTASI .................................................................................... 69
LAMPIRAN 4 LAPORAN BARANG KUASA .............................................................. 70
LAMPIRAN 5 LAPORAN REALISASI ANGGARAN.................................................. 72
LAMPIRAN 6 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN ....................................... 81
LAMPIRAN 7 SURAT BUKTI IZIN PENELITIAN ...................................................... 82

iii
ABSTRACT

This research is conducted to find out how the accounting treatment of the
Heritage Asset Candi Prambanan, how the assets is recognized, recorded, and
reported in the financial statements using phenomenological viewpoint, where the
data obtained in accordance with the facts or phenomena that occur in the field
do not always conform to the standards.
The research data was collected by the Researcher in 3 procedures, first, the
Researcher doing interviews with informants or sources of the relevant
departm ent or manager of Candi Prambanan namely the Balai Peles tarian
Cagar Budaya
Yogyakarta, third, is checking documents of the Heritage Assets
Candibanan,
Pram how it’s recognized, as what, recorded, until how the
value geof Assets
Herita is, and the last is Internet data searching Met is hods
of data
in analys
qualitative research is divided into 3 stages, first, da ta
n process,
reduction, selectio concentration, attention, abstraction and transfor
romraw
ming the the data
field,f second is the data display, presents data in the n
ormand
arrative to explain
tabels f the phenomenon under study and the last, is th
ults ofThe
e conclusion thisresstudy is the recognition of the BPCB Yogyakart
a thatbanan
CandiisPram recorded as plant asset and Candi Prambanan
value,without
is deliberate so the Heritage Asset can not be traded. The V
alue ofngthis
is inrecordi
conformity with PSAP number 07 of 2010 section 69
must beAssets
that Heritage recorded in the number of units without value

Keywords : Heritage Assets, Recognition, Recording, Assessment, C andi


Prambanan , BPCB Yogyakarta

xii
ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi untuk


aset bersejarah Candi Prambanan, bagaimana aset tersebut diakui, dicatat, dan
pelaporanya dalam laporan keuangan dengan sudut pandang fenomenologis,
dimana data yang didapatkan sesuai dengan realita atau fenomena yang terjadi di
lapangan tidak selalu sesuai dengan standar.
Data penelitian di dapatkan oleh peneliti dengan 3 cara, yang pertama adalah
Wawancara dengan informan atau narasumber dari dinas terkait atau pengelola
dari Ca ndi Prambanan yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogya karta, ketiga
adalahmemeriksa dokumen dari Aset Bersejarah Candi Prambana n, bagaimana
pengakuanya, pencatatannya sampai bagaimana penilaian dari As et
Bersejarah
ut, dan yang terakhir adalah penelusuran data di internet. Me terseb
tode da penelitian kualitatif ini dibagi
analisis
menjadi 3 tahap pertamadata da pa
ta pemilihan, pemusatan, perhatian,
reduction,pengabstraksian dan pentr proses
asar dari lapangan, kedua data
ansformasian adalah data display, menyajikan k
data uraian (naratif) mengenai esensi dari fenomena
dalam yang ditel bentuk
iti ir adalah penarikan kesimpulandan Hasil dari penelitian
yang ini adala terakh
h ihak BPCBpengakuan
Yogyakarta bahwa Candi dariPrambanan tercatat p
ian yang dilakukan BPCB Yogyakarta terhadap
sebagai aset, Candi Pram penila
banan mencatat dalam bentuk unit dan tak ternilai. yaitu Pencatatan ni dengan
lai PSAP nomor 07 tahun 2010inipasal 69 dimana Aset Bersejarah
sesuai dengan
umlahdalam
harus dicatat unit tanpa
j nilai.

Kata kunci : Aset Bersejarah, Pengakuan, Pencatatan, Penilaian, Candi


Prambanan, BPCB Yogyakarta

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Akuntansi merupakan aktivitas penjabaran dan pengukuran informasi

ekonomi dengan cara pengolahan data yang hasilnya berbentuk lapor an

keuangan yangdengan para pengguna (user).


emudian dikomunikasikan k

Berdasarkan aspek
eknis, akuntansi didefinisikan sebagai proses pencatatan, pen t

gukuranpaian-penyampaian informasi ekonomi


dan agar dapat dipakai s penyam

ebagai bilan
dasarkeputusan
pengam atau kebijakan (Horngren, 2000).

F ungsi utama dari akuntansi merupakan menyajikan lap


o ran-laporan

period ik bagi manajemen, kreditur, investor dan pihak-pihak ek


st ernal yang

disebut laporan keuangan. Secara teknis, laporan didefinisikan dalam PSAK 1

(2009) sebagai berikut:

“Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari pos isi keuangan
dan kinerja suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah
memberikan
nformasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan ar i
us
ang bermanfaat bagi kas
sebagian besar kalanganentitas
pengguna la y
poran
embuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan dalamjuga men p
unjukan
ertanggungjawaban manajemen atas penggunaan hasil sumber p
daya
ipercayakan
yang kepada mereka.”
d
Laporan posisi keuangan atau neraca merupakan salah satu hasil dari

laporan keuangan yang isinya menyajikan informasi mengenai jumlah aset,

liabilitas serta modal pada suatu periode tertentu. Aset dalam Standar Akuntansi

Keuangan (SAK) yang dibuat oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) didefinisikan

sebagai sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa

1
masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan

diperoleh perusahaan (IAI, 2007). Hines (1988 dalam Hooper et al. 2005)

menyatakan bahwa akuntansi untuk aset dalam beberapa hal terlihat memiliki

kekurangan dibandingkan dengan akuntansi untuk aspek lainnya, mengingat sifat

alamiah yang dimiliki oleh masing- masing aset tersebut. Aset bersejarah dalam

akuntansi masih menjadi hal yang polemik mengenai penyajian, penilaian, dan

pengungkapannya. Aset bersejarah ini memiliki beragam cara perolehan, antara

lain dari pembangunan, pembelian, donasi, warisan, sitaan dan juga rampasan.

Maka dari itu aset bersejarah ini dianggap unik karena memiliki ca ra

perolehan
egituyang
beragam.
b

A
set bersejarah ini digolongkan sebagai aset tetap karena aset ki b ersejarah

ini memili
kriteria sebagai aset tetap dan juga memenuhi definisi da ri aset

tetap. Akuntansi Pemerintahan (SAP) menyatakan bahwa aset tetap Standar

merupakan:
Aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
ulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau diman
“ asyarakat umum.” 2 (dua belas)
b faatkan oleh
m enurut Agustini (2011), aset bersejarah merupakan salah sa
ungi
M oleh negara. Aset tersebut sangat berharga bagi sebuah b tu aset

yang dilind
rsejarah merupakan wujud dari budaya, sejarah dan identitas angsa

karena aset be bagi

bangsa itu sendiri. Bukan hanya nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari aset

tersebut, namun juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti nilai

seni, budaya, sejarah, pendidikan, pengetahuan dan lain-lain yang harus dijaga

dan dipelihara kelestariannya.

2
Penelitian tentang akuntansi untuk aset bersejarah belum banyak dilakukan

di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2014) yang berjudul

“Perlakuan Akuntansi Untuk Aset bersejarah (Studi Pada Candi Borobudur) data

yang digunakan dalam penelitian tersebut merupakan hasil wawancara dan

mengkaji data laporan keuangan dinas pengelolaan keuangan dan aset daerah dan

balai konservasi borobudur. Kesimpulan yang dapat diambil dala m

penelitian
ut ialah bahwa aset bersejarah dikelompokkan sebagai aset b terseb

ukan sebagai
s sebagaimana yang diperdebatkan selama ini, dalam hal pen liabilita

iliaian belum ada dasyang tepat untuk aset bersejarah.


ar penilaian

Berbeda dengan di Indonesia, penelitian tentang akuntansi untuk aset

bersejarah di luar Indonesia sudah banyak dilakukan, antara lain pe nelitian yang

dilakukan di Selandia Baru oleh Hooper et al. (2005). Peneli t ian tersebut

bertujuan untuk menguji argumen konseptual mengenai akuntansi untuk aset

bersejarah dan penolakan oleh beberapa museum di Selandia Baru atas standar

yang telah ditetapkan oleh Institute of Chartered Accountants of New Zealand

(ICANZ). Hal ini disebabkan karena pihak museum beranggapan ba hwa museum

lebih menekankan pada nilai seni atas aset- aset bersejarah yang ada di

dalamnya
ilai ekonomi yang tersimpan dalam aset bersejarah tersebut.

bukan

Penelitian lain dilakukan oleh Wild (2013) di Selandia Baru. Dalam

penelitian ini, Wild mengkritik ideologi politik dan praktik model NPM (New

Public Management), dan mengkaji ulang asumsi bahwa laporan keuangan sektor

swasta berdasarkan GAAP dapat diaplikasikan untuk keuntungan publik dan

entitas nirlaba seperti HCA (Heritage, Cultural and Community Assets) serta

3
mengusulkan model pelaporan alternatif yang didasarkan pada seperangkat

budaya daripada nilai ekonomi bagi pelaporan HCA.

Pada dasarnya penelitian diatas merupakan bentuk cara dari menemukan

akuntansi yang tepat untuk aset bersejarah, bagaimanapun juga aset bersejarah

memiliki nilai baik nilai seni, nilai budaya dan nilai ekonomi. Maka dari itu

diperlukan perlakuan akuntansi yang tepat untuk aset berseja rah untuk

memberikan jaminan ketersediaan informasi yang berguna untuk p engembilan

keputusan yang relevan dengan kebutuhan dari pengguna informasi tersebut.

P enelitian dalam skripsi ini akan mereplikasi dan melanjutkan penelitian

yang t elah dilakukan oleh Anggraini (2014). Penelitian difokuskan pada perlakuan

akunta nsi yang diterapkan untuk aset bersejarah di Indonesia ba ik dari segi

pengak uan, penilaian, penyajian dan pengungkapan dalam lapora n

keuangan.
an ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan f Peneliti

enomenologi.
Prambanan dipilih sebagai setting penelitian karena Cand Candi

i kan salah satu aset bersejarah di Indonesia


Prambanan
yang sudah dikena merupa

l masyarakat Berdasarkan uraian diatas


hkan hingga mancanegara. luas maka ak ba

an dilakukan
an yang berjudul “Perlakuan Akuntansi Untuk Aset Berse peneliti

jarah (Studi
enologiFenom
Pada Candi Prambanan)”.

4
1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Bagaimana dinas dan pengelola terkait memahami makna aset bersejarah?

b. Bagaimana dinas dan pengelola terkait memahami metode penilaian Candi

Prambanan? Metode apakah yang digunakan?

c. Bagaimana dinas dan pengelola terkait menyajikan dan mengungkapkan

Candi Prambanan dalam laporan keuangan?

d. A pakah perlakuan akuntansi untuk Candi Prambanan sesuai dengan standar

akuntansi yang berlaku saat ini?

1.3 FOKUS PENELITIAN

Untuk menghindari perluasan dan timbulnya salah pengertian p enelitian

ini, maka d
iperlukan fokus terhadap masalah yang diteliti dan di anal isis.

Adapun
dari penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan ter fokus

hadap anan.
Candi Pramb

1.4 TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui apakah dinas

terkait mengetahui makna dari aset bersejarah, bagaimana metode penilaian Candi

Prambanan, bagaimana penyajian dan pengungkapan Candi Prambanan pada

laporan keuangan, serta mengetahui apakah perlakuannya sudah sesuai dengan

standar akuntansi yang berlaku.

5
1.5 MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai berikut:

a. Memberikan manfaat untuk perkembangan Teori Akuntansi selanjutnya

khususnya mengenai akuntansi aset bersejarah. Mengingat aset bersejarah

masih menjadi suatu hal yang problematik di dunia akuntansi

b. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi Pemeri ntah

ususnya
Daerah kh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam upaya peningkatan

kualitas laporan keuangan sehingga dapat mewujudkan tran sparansi dan

keandalan.

1.6 SISTEMATIKA PENULISAN

S istematika penulisan memuat uraian secara garis besar isi dari penelitian

yang b erguna untuk memudahkan dalam memahami pembahasan skripsi ini, maka

penulis akan memaparkannya secara sistematis ke dalam beberapa b ab sebagai

berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah,

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan

sistematika pembahasan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini menguraikan tentang landasan teori yang berupa

teori – teori tentang perlakuan akuntansi aset bersejarah. Di dalam

bab ini juga menjelaskan tentang tinjauan penelitian terdahulu,

pengembangan hipotesis, dan kerangka pemikiran.

6
BAB III METODE PENELITIAN

Dalam bab ini menguraikan tentang dasar penelitian, fokus

penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data,

pengujian keabsahan data dan teknik analisis data

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini menguraikan tentang hasil yang diperoleh dari

analisis data dan pembahasan hasil dari penelitian yang telah

dilakukan.

BAB V PENUTUP

Dalam bab ini menguraikan tentang kesimpulan dan saran dari

penelitian yang telah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

7
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 ASET BERSEJARAH

2.1.1 Definisi Aset Bersejarah

Banyak definisi yang menggambarkan aset bersejarah, hal tersebut

dikarenakan adanya perbedaan kriteria yang dipakai untuk menent ukan

definisi
ut. Seperti halnya kriteria yang dipakai oleh IPSAS (Internat terseb

ional Public dan Ferrone


Accounting Standards) 17 dalam Aversano Sector

(2012) ur tentang property, plant, and equipment


yang bahwa “som mengat

e assets
bed as heritage assets because are
of their cultural, environmenta descri

lor historical
ance”. Tabel dibawah menunjukkan perbedaan pendapa signific

t paraakuntansi yang tepat untuk aset


ai definisi dan perlakuan ahlibers mengen

ejarah. Tabel 2.1

Pendapat Mengenai Aset Bersejarah

Pendapat Tentang Aset


Peneliti
Bersejarah
(1988) Aset bersejarah harus di

Mautz sajikan pada


kategori terpisah dari aset sebagai
“fasilitas”
(Heritage assets must be represented in
a separate category of asset as
"facilities")
Pallot (1990), (1992) Aset bersejarah harus disajikan dalam
kategori yang terpisah dari aset sebagai

8
“aset daerah”
(Heritage assets must be represented in
a separate category of asset as
"community assets")
Carnegie dan Wolnizer (1995) Aset besejarah bukanlah aset dan akan
lebih tepat diklasifikasikan sebagai
liabilitas, atau secara alternatif disebut
sebagai fasilitas dan menyajikannya
secara terpisah.
(Heritage assets are not assets and it
would be more appropria te to classify
them as liabilities, or alternatively to
call them facilities and show them
separately)
Micallef dan Peirson (1997) Aset bersejarah tergolong dalam aset
dan dapat dimasukkan dalam neraca.
(Heritage assets are considered assets
and they can be included on the
balance sheet)
Barton (2000) ajikan dalam
Aset bersejarah harus dis
anggaran terpisah agai
seb “aset
layanan”
(Heritage assets must be represented in
a separate budget as "services assets")
Nasi et al. (2001) Aset bersejarah tidak harus disajikan
dalam neraca.
(Heritage assets should not be reported
in the balance sheet)
Christiaens (2004) Aset bersejarah harus dimasukkan
Christiaens dan Rommel (2008)
dalam neraca meskipun tidak
Rowles et al.(1998)

9
memenuhi definisi resmi.
(Heritage assets should be reported in
the balance sheet notwithstanding their
non - compliance with the official
definitions)
Sumber: Aversano dan Christiaens, 2012

Di Indonesia, aset bersejarah diatur dalam Pedoman Stand ar


Akuntansi
ntahan (PSAP). Dalam PSAP disebutkan bahwa:
Pemeri
set bersejarah merupakan aset tetap yang dimiliki atau d
“Aemerintah yang karena umur dan kondisinya aset tetap te ikuasai
oleh
ilindungi
p oleh peraturan yang berlaku dari segala macam ti rsebut
harus
apat merusak aset tetap tersebut.” d
ndakan yang
d erdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa ase

B gkan sebagai aset bukan sebagai liabilitas. Aset bersejarah m t bersejarah

digolon
jud yang dilindungi pemerintah karena didalamnya menganduerupakan aset

berwu , pendidikan, sejarah, pengetahuan dan karakteristik unik lain ng nilai seni,

budayantuk dipelihara dan dipertahankan kelestariannya. nya sehingga

patut
teristik Aset Bersejarah

2.1.2 Karak i tengah banyaknya pendapat mengenai definisi aset berseja

Dpa hal yang perlu digaris bawahi. Aversano dan Fer rah,

terdapat bebera rone

(2012) mengungkapkan bahwa aset bersejarah mempunyai beberapa

aspek yang membedakannya dengan aset- aset lain, diantaranya adalah:

1. Nilai budaya, lingkungan, pendidikan dan sejarah yang terkandung di dalam

aset tidak mungkin sepenuhnya tercermin dalam istilah moneter

1
2. Terdapat kesulitan untuk mengidentifikasi nilai buku berdasarkan harga pasar

yang sepenuhnya mencerminkan nilai seni, budaya, lingkungan, pendidikan

atau sejarah

3. Terdapat larangan dan pembatasan yang sah menurut undang-undang untuk

masalah penjualan

4. Ke beradaan aset tidak tergantikan dan nilai aset memungk inkan untuk

bertambah seiring bejalannya waktu, walaupun kondisi fisik aset memburuk

5. Terdapat kesulitan untuk mengestimasikan masa manfaat aset karena masa

manfaat yang tidak terbatas, dan pada beberapa kasus bahkan tidak bisa

didefinisikan.

6. Aset tersebut dilindungi, dirawat serta dipelihara

Keenam karakteristik di atas membuat para ahli mengalami ke sul itan

dalam tukan
menenakuntansi yang tepat bagi aset bersejarah. Aset bersejar ah

uhnya
tidak bisa diperlakukan sama dengan aset tetap lainnya, padahal as
sepen et

dalam jajaran aset tetap. Oleh karena itu, dibutuhkan meto


bersejarah masuk

pat untuk
de penilaian yangmenilai
te aset bersejarah.

2.1.3 Jenis-Jenis Aset Bersejarah

Penggunaan aset bersejarah akan berpengaruh pada pengukuran dan

penilaian aset bersejarah itu sendiri. Meskipun suatu item dalam aset bersejarah

memenuhi kriteria pengakuan aset tetap, tidak berarti bahwa semua aset

bersejarah harus diakui dalam laporan keuangan. Ada beberapa aspek yang perlu

dipertimbangakan dalam pengakuan aset bersejarah. Untuk mempermudah

pengakuan aset bersejarah terdiri dari dua jenis yaitu:

2
1. Operational Heritage Assets atau Aset Bersejarah untuk Kegiatan

Operasional

Aset bersejarah ini merupakan jenis aset yang memiliki fungsi ganda

yaitu selain sebagai bukti peninggalan sejarah, aset ini juga memiliki fungsi

sebagai tempat kegiatan operasi pemerintah sehari-hari. Misalnya digunakan

sebagai perkantoran. Jenis aset bersejarah ini perlu dikapitalisa si dan

dicatat
lam neraca
da sebagai aset tetap. Seperti yang telah diatur dalam PSAP

No.
ragraf
07 pa70.

2. Non-operational Heritage Assets

Non-operational Heritage Assets merupakan aset yang murni

digunakan karena nilai estetika dan nilai sejarah yang dimil iki. Berbeda

halnya dengan aset bersejarah yang digunakan untuk kegiatan op erasional,

aset ini tidak memiliki nilai ganda. Di Amerika, jenis aset ini disebut heritage

assets, sedangkan untuk aset yang digunakan utnuk kegiata


n operational

disebut multi-use heritage assets.

Jenis non operational heritage assets dibedakan menjadi tiga jeni s, yaitu :

1. Tanah dan Bangunan Bersejarah (Cultural Heritage Assets)

2. Karya Seni (Collection Type Heritage Assets)

3. Situs-situs Purbakala atau Landscape (Natural Heritage Assets)

Di Indonesia jenis aset ini tidak perlu diakui dalam neraca akan tetapi

cukup dilaporkan pada Catatan atas Laporan Keuangan seperti yang

dijelaskan dalam PSAP no. 07 paragraf 64. Pengakuan aset bersejarah yang

termasuk dalam non operational heritage assets. Namun, jenis non

3
operational heritage assets dapat diakui dalam neraca adalah jenis aset tanah

dan bangunan bersejarah yang diperoleh pada periode berjalan. Hal ini sejalan

dengan pengakuan aset bersejarah bahwa dapat diakui sebagai aset tetap

dalam neraca jika memiliki kos yang andal. Untuk menentukan kos yang

andal maka diperlukan bukti yang menunjukkan berapakah kos yang

dilekatkan pada suatu item tersebut. Selama ini alasan yang digun akan untuk

tidak mengakui non operational heritage assets adalah sanga t sulit

untuk
emperoleh
m nilai yang andal, hal ini dikarenakan :

a. Tidak ada data atau catatan atau bukti yang menunjukkan harga

perolehan sehingga entitas pemerintah sulit untuk menentukan kos yang

dilekatkan pada objek atau aset bersejarah yang berumur tua. Keandalan

untuk menentukan kos tersebut adalah dengan mengetahui ketepatan

dalam mengestimasi harga atau nilai yang dimiliki aset bersejarah

tersebut.

b. Jika kita sulit untuk menentukan keandalan nilai pada objek tersebut

maka aset bersejarah juga tidak bisa dicatat dalam neraca.

c. Adanya pertimbangan biaya dan manfaat untuk memperoleh estimasi

nilai wajar aset bersejarah yang diperoleh pada periode sebelumnya.

Bukan hal yang mudah untuk menentukan kos yang dilekatkan pada

suatu objek. Apalagi jika dikaitkan dengan nilai sejarah yang dimiliki.

Butuh waktu yang lama dan biaya yang tinggi. Nilai sejarah yang

dikapitalisasi juga kurang berguna dan kurang dapat diperbandingkan

dengan entitas lainnya karena ketidakmampuan mengukur aset bersejarah

4
yang memiliki atribut yang unik untuk diperbandingkan dengan kos yang

andal.

2.1.4 Model-Model Penilaian Aset Bersejarah

Penilaian merupakan suatu proses untuk menentukan nilai ekonomi suatu

obyek, pos, atau elemen (Statement of Financial Accounting Concepts No.5).

Penilaian biasanya digunakan untuk menunjuk proses penentuan jumla h rupiah yang

harus dilekatkan pada tiap elemen atau pos statemen keuangan pada s aat

dari penilaian aset adalah untuk merepresentasikan atribut pos-


penyajian. Tujuan

pos ungan dengan tujuan


asetlaporan keuangan dengan
yangmenggunakan b berhub

suai. yang se
asis penilaian

Aset bersejarah memiliki model penilaian (valuation) yang berb eda di setiap

negara. Perbedaan tersebut muncul disesuaikan dengan kondisi dan situ asi di masing-

masing negara. Negara- negara tersebut menganut suatu pedoman y ang mengatur

tentang akuntansi bagi aset bersejarah. Dari sekian banyak pedoman atau standar,

negara berhak memilih mana yang paling tepat diaplikasikan untu k negaranya.

Namun, karena kelonggaran peraturan tersebut mengakibatkan standar yang

digunakan di negara- negara tidak ada keseragaman. Model penilaian t ersebut

antara lain
lah:ada

1. Menurut Act Accounting Policy (2009), semua lembaga harus menggunakan

model revaluasi untuk semua aset bersejarah dan mengukur aset tersebut pada

nilai wajar. Hal ini sesuai dengan GAAP. Setelah nilai wajar aset telah

ditentukan, aset harus dinilai kembali berdasarkan siklus valuasi 3 tahun. Nilai

wajar harus didasarkan pada harga jual pasar saat ini untuk aset yang sama atau

sejenis. Namun, banyak jenis aset bersejarah yang memiliki sifat unik, sehingga

5
tidak dapat diukur berdasarkan harga jual pasar. Oleh sebab itu, nilai wajar aset

dapat diestimasi dengan pendekatan penghasilan atau biaya penggantian yang

didepresiasi. Aset dapat dinilai pada biaya penggantian dengan aset yang sama

dan tidak identik namun memberikan manfaat yang sama.

2. Menurut Generally Recognised Accounting Practice (GRAP) 103 (2011), saat

aset bersejarah diperoleh dengan tanpa biaya atau biaya nominal, aset tersebut

harus diukur pada nilai wajar pada tanggal akuisisi. Dalam men entukan

nilaiarwaj
aset bersejarah yang diperoleh dari transaksi non- exchange , suatu

entitas har
us menerapkan prinsip- prinsip atas bagian penentuan nilai waja r.

Setelah
tas dapat memilih untuk mengadopsiitu,
baik model revaluasi atau enti

model biaya sesu


ai dengan GRAP 103.

3. Menurut Financial Reporting Statements (FRS) 30 (2009), penilaia n (valuation)

aset bersejarah dapat dilakukan dengan metode apapun yang tepat dan relevan.

Pen dekatan penilaian yang dipilih nantinya diharapkan adalah su atu

penilaian yan
g dapat menyediakan informasi yang lebih relevan dan bermanfa at.

4. Me nurut Pedoman Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) 07 (2010), penilaian

kembali (revaluation) tidak diperbolehkan karena SAP menganut


penilaian aset

berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran. Dalam hal terja di

perubahan harga secara signifikan, pemerintah dapat melakukan revaluasi atas

aset yang dimiliki agar nilai aset tetap pemerintah yang ada saat ini

mencerminkan nilai wajar sekarang.

Berdasarkan keempat model penilaian di atas, secara garis besar standar

membebaskan model penilaian mana yang cocok digunakan untuk aset bersejarah

baik model penilaian kembali (revaluation) maupun model biaya. Kebebasan tersebut

6
diharapkan agar entitas dapat menyediakan informasi yang lebih relevan dan lebih

bermanfaat. Jadi, perbedaan model penilaian dianggap tidak akan menjadi

penghalang bagi sebuah entitas pengelola aset bersejarah untuk melakukan penilaian

aset bersejarah.

2.1.5 Pengakuan Aset Bersejarah

Definisi yang dimiliki oleh masing-masing negara di dunia, akan b erpengaruh

terhadap proses pengakuan aset bersejarah. Namun, untuk diakui s ebagai aset

tetap haruslah berwujud dan memiliki kriteria sebagai berikut ( f PSAP no.

7 paragra
16):

a. M emiliki masa manfaat 12 bulan

b. Bi aya perolehan dapat diukur secara andal

c. Ti dak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas

d. D iperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.

Praktik pengakuan aset bersejarah dalam laporan keuangan memiliki pola

pemikiran yang berbeda-beda di setiap negara. Berikut ini merupakan praktik

pengakuan aset bersejarah yang dilakukan oleh beberapa negara di dunia.

a. Australia

Pengakuan aset bersejarah dicatat sebagai aset dalam laporan

keuanganentitas. Aset diakui jika hanya manfaat ekonomis dari aset

kemungkinan besar (probable) akan diperoleh di masa yang akan datang dan

aset memiliki harga perolehan (cost) atau nilai lain yang diukur secara andal.

Kebanyakan aset bersejarah di Australia memenuhi kriteria pengakuan. Jika

terdapat aset yang tidak memenuhi kriteria pengakuan aset maka diperlakukan

7
sebagai aset kontijensi. Aset kontinjensi adalah aset potensial yang timbul dari

peristiwa masa lalu, dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak

terjadinya suatu peristiwa atau lebih pada masa depan yang tidak sepenuhnya

berada dalam kendali entitas.

b. Swedia

Pengakuan aset bersejarah di Swedia berkaitan dengan potensi jasa dari

aset bersejarah, meskipun tidak jarang aset bersejarah j uga sering

menghasilkan manfaat ekonomi, yang mungkin berupa tarif masuk (tiket

masuk) dan sebagainya. Oleh karena itu, pemerintah Swedia mem andang aset

bersejarah merupakan alat bagi pemerintah untuk mencapai tujua nnya dengan

melindungi dan memelihara aset bersejarah yang bernilai. Deng an demikian,

aset bersejarah sangat sesuai dengan definisi aset dan sebagai kons ekuensinya

harus dipertanggungjawabkan sebagai aset.

c. Inggris

Aset bersejarah erat kaitannya dengan pemeliharaan sejarah. Dimana

pemeliharaan tersebut terbagi menjadi non-operational heritag e assets

dan oper
ational heritage assets. Keduanya diakui sebagai aset da lam

laporan
ngan seperti dengan aset lainnya. Namun, karakteristik yang keua

dimiliki non operational heritage assets tidak praktis atau tidak tepat, maka

kategori ini tidak perlu dikapitalisasi, antara lain:

 Koleksi Museum, Galeri, dan arsip lainnya yang per 31 Maret 2000

termasuk arsip nasional

 Situs-situs purbakala, tanah pekuburan, reruntuhan, monumen dan patung.

8
Bangunan dan tanah tetap dikapitalisasi meskipun manfaat dari informasi

nilai akan datang berkurang jika manajer aset telah menerima informasi yang

memadai mengenai kondisi aset dan rancangan pemeliharaan untuk memenuhi

peran pengelolaannya (stewardship), dan manajer aset tidak dapat melepas

aset.

d. New Zealand

Aset bersejarah atau cultural assets merupakan aset yang digunakan

secara terus-menerus dalam penyediaan jasa masyarakat. Men urut PPE

(Property, Plan and Equipment) aset tetap adalah:

“are held by an entity for use in the production or supply of goods and
services, for rental to others or for administrative purposes, and may
include items held for the maintenance or repair of such assets and have
been acquired or constructed with the intention of being used on a
continuing basis”
Oleh karena itu aset bersejarah atau cultural assets yang memenuhi

definisi diatas dapat diukur secara andal diakui dalam laporan keuangan

entias.

e. Amerika Serikat

Aset bersejarah yang hanya memiliki nilai sejarah tidak


diakui dalam

laporan keuangan. Sedangkan untuk aset bersejarah yang berfungs i ganda yaitu

selain sebagai aset yang memiliki nilai sejarah namun juga untuk operasi

sehari-sehari (multi–use heritage assets) dikapitalisasi sebagai Property, Plan,

and Equipment (PP&E) dalam laporan keuangan pemerintah. Misalnya

Gedung Putih (White House). Untuk aset bersejarah seperti koleksi seni,

koleksi perpustakaan, koleksi museum yang bersejarah yang dianggap nilainya

9
tidak akan menurun dari tahun ketahun maka tidak disyaratkan untuk

dikapitalisasi dengan kondisi seperti:

 Koleksi dimiliki untuk memajukan pelayanan publik, misalnya kemajuan

pendidikan bukan untuk memperoleh keuntungan

 Koleksi harus dilindungi dan dilestarikan

 Koleksi merupakan subjek kebijakan pemiliknya (agen), alam


d hal ini

agen harus memberikan gambaran koleksi dan alasan oleksi


k tidak

dikapitalisasi.

Aset bersejarah yang tidak diakui dalam laporan keuangan dilaporkan secara

terpisah dalam Stewardship Assets sebagai suplemen laporan keua ngan

f. Indonesia

Pedoman Standar Akuntansi Pemerintah pada agraf


par 66-67

menjelaskan aset bersejarah biasanya diharapkan untuk dipertahankan dalam

waktu yang tidak terbatas. Aset bersejarah biasanya dibukt ikan

dengan
turan perundangundangan yang berlaku. Pemerintah mungkin pera

mempunyai
yak aset bersejarah yang diperoleh selama bertahun-tahun dan ban

dengan cara
olehan beragam termasuk pembelian, donasi, warisan, rampa per

san, n. Aset ini jarang dikuasai dikarenakan


ataupun
alasan kemampu sitaa

annya untuk menghasilkan aliran kas masuk, dan akan mempunyai

masalah sosial dan hukum bila memanfaatkannya untuk tujuan tersebut.

Dalam PSAP paragraf 68-69 menyatakan aset bersejarah harus disajikan

dalam bentuk unit, misalnya jumlah unit koleksi yang dimiliki atau jumlah unit

monumen, dalam Catatan atas Laporan Keuangan dengan tanpa nilai. Biaya

10
untuk perolehan, konstruksi, peningkatan, rekonstruksi harus dibebankan

sebagai belanja tahun terjadinya pengeluaran tersebut. Biaya tersebut termasuk

seluruh biaya yang berlangsung untuk menjadikan aset bersejarah tersebut

dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode berjalan. Aset bersejarah juga

memberikan potensi manfaat lainnya kepada pemerintah selain nilai

sejarahnya, sebagai contoh bangunan bersejarah digunakan untuk ruang

perkantoran. Untuk kasus tersebut, aset ini akan diterapkan prinsip prinsip yang

sama seperti aset tetap lainnya. Sedangkan untuk aset bersej arah

lainnya,
ensi manfaatnya terbatas pada karakteristik sejarahnya, s pot

ebagaicontoh
numen danmo
reruntuhan (ruins) tidak diakui sebagai aset tetap.

Pengakuan aset bersejarah berbeda-beda di masing-masing negara.

Sta ndar yang dijadikan pedoman dalam praktik pengakuan aset bersejarah juga

dis esuaikan dengan standar yang dimiliki oleh masing-masing ne gara. Hal ini

juga berpengaruh pada pengunaan istilah aset bersejarah yang berbeda di

ma sing-masing negara. Misalnya saja untuk menunjukkan aset tetap digunakan

istilah Property, Plant and Equipment (PPE), Fixed Assets, Non-Current

Assets, Capital Assets, dan sebagainya.

Pada dasarnya, hampir semua negara menyepakati bahwa untuk aset

bersejarah yang memiliki nilai atau kos yang dapat diukur secara andal harus

tetap diakui sebagai aset tetap. Bagaimana pengakuan aset bersejarah tersebut

jika dilihat dari jenis aset bersejarah.

11
2.1.6 Penyajian dan Pengungkapan Aset Bersejarah

Penyajian dan pengungkapan aset bersejarah dijelaskan dalam PSAP No.

07 tahun 2010 paragraf 64, 68, 69 dan 70 yang berisi tentang:

1. PSAP no. 07 paragraf 64 menerangkan pemerintah tidak harus menyajikan

aset bersejarah (heritage assets) di neraca namun aset tersebut harus

iungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

2. P SAP no.07 paragraf 68 menerangkan aset bersejarah harus dis ajikan dalam

bentuk unit, misalnya jumlah unit koleksi yang dimiliki atau jumlah unit

monumen, dalam Catatan atas Laporan Keuangan dengan tanpa nilai.

3. PSAP no. 07 paragraf 69 menerangkan biaya untuk perolehan , konstruksi,

peningkatan, rekonstruksi harus dibebankan sebagai be lanja tahun

terjadinya pengeluaran tersebut. Biaya tersebut termasuk seluruh biaya yang

berlangsung untuk menjadikan aset bersejarah tersebut dalam kondisi dan

lokasi yang ada pada periode berjalan.

4. P SAP no. 07 paragraf 70 menerangkan beberapa aset ber sejarah juga

memberikan potensi manfaat lainnya kepada pemerintah selain nilai

sejarahnya, sebagai contoh bangunan bersejarah digunakan untuk ruang

perkantoran. Untuk kasus tersebut, aset ini akan diterapkan prinsip-prinsip

yang sama seperti aset tetap lainnya.

2.1.7 MEASUREMENT THEORY

Pengukuran (measurement) merupakan bagian yang sangat penting dalam

suatu penyelidikan ilmiah. Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau

label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep,

12
sedangkan atribut adalah sesuatu yang melekat pada suatu objek yang

menggambarkan sifat atau ciri yang dikandung objek tersebut (Suwardjono,

2010). Pengukuran tersebut menjadikan data yang dihasilkannya lebih informatif

dan oleh karena itu menjadi lebih bermanfaat. Teori pengukuran ini diperlukan

dalam melakukan penilaian ekonomi terhadap heritage assets yang memiliki

dimensi waktu dan unsur intrinsik yang unik. Ukuran yang digu nakan dalam

penelitian ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Kam (1990), yaitu:

1. Ukuran yang didapat secara langsung dan tidak langsung, yaitu:

a. Ukuran langsung atau utama adalah ukuran nyata dari suat u obyek

tribut
atau a yang dimiliki. Ukuran ini dapat dikaitkan dengan heritage assets

yang memiliki pasar aktif.

b. Ukuran tidak langsung atau sekunder berasal dari transformasi dari

ngka yang
sejumlah a mencerminkan ukuran langsung dari beberapa obyek atau

atribut intrinsik dari suatu ukuran tidak langsung. Ukuran ini dapat dikatkan

dengan heritage assets yang tidak memiliki pasar aktif serta y ang memiliki

eunikan historis atau seni.

2. Ukuran yang berkaitan dengan dimensi waktu ketika pengukuran itu dibuat,

yait :

a. Ukuran masa lalu

1. Ukuran masa lampau retrospektif

2. Ukuran masa lampau kontemporer

3. Ukuran masa lampau prospektif

13
b. Ukuran masa sekarang

1. Ukuran masa kini kontemporer

2. Ukuran masa kini prospektif

c. Ukuran masa depan

Seluruh ukuran masa depan menjadi ukuran prospektif

3. Pen
gukuran juga dapat berupa:
a. P
engukuran fundamental
D suai
dengan
imana suatu angka dapat diberikan kepada suatu sifat se

referensinya terhadap hukum alam dan tidak bergantung kepada pengukuran

ari variabel-variabel yang lain.

b. Pengukuran turunan

Bergantung kepada adanya pengukuran dari dua atau lebih kuantitas dan

adanya suatu teori empiris yang telah diverifikasi serta menghubungkan

uatu sifat tertentu dengan sifat yang lain.

Teori pengukuran tersebut dapat dikaitkan dengan meto de

penilaian ekono
mi dari heritage assets, dimana pemilihan teori pengukuran ya ng

diterapkan
engan sifat dan kondisi bawaan darisesuai
heritage assets yang unik d

2.2 TINJAUAN PENELITIAN TERDAHULU

Penelitian yang berfokus pada perlakuan akuntansi bagi aset bersejarah

sebenarnya sudah banyak dilakukan luar negeri maupun di indonesia. Namun,

hingga saat ini penerapan standar akuntansi yang dibuat oleh badan standar yang

berwenang belum sempurna dilakukan. Berikut beberapa penelitian terdahulu

14
yang menjadi acuan penelitian.

15
Aisa tri agustini (2011) melakukan penelitian tentang “Arah Pengakuan,

Pengukuran, Penilaian, dan Penyajian Aset Bersejarah dalam Laporan Keuangan

pada Entitas Pemerintah Indonesia (Studi Literatur) Penelitian tersebut

menghasilkan bahwa Aset bersejarah merupakan barang publik yang berharga dan

harus dapat dinilai dengan metode yang tepat. Adanya pengakuan aset bersejarah

akan m endorong pengelolaan aset bersejarah yang baik oleh entitas p engendali.

Aversano, Natalia dan Caterina Ferrone (2012). Melakuka n

penelitian“The Accounting Problem of Heritage Assets. Advanced tentang

ic Areas” Penelitian tersebut menghasilkan


Research in bahwa Tidak Scientif

ada k tentang aset bersejarah, “nilai publik” yang terkandung


definisi spesifi

dalamarah
asettidak
bersejmemiliki kejelasan, akuntansi untuk aset bersejara h

bangan selama beberapa tahun di Inggris namun masalah


mengalami perkem

yang muncul belum


bisa terpecahkan.

Anggraini (2014) melakukan penelitian tentang perlakuan aku ntansi

untuk ersejarah (Studi Fenomenologi


aset pada Pengelolaan Candi b

an tersebut menghasilkan bahwa Aset bersejarah merupakan a


Borobudur) Peneliti

set emiliki manfaat diberwujud


masa yang akan datang dalamyang
bentuk nilai m

sejarah,ahuan, pendidikan, agama dan/ilmu


atau kebudayaan yang t penget

erjadi akibat peninggalan sejarah sehingga dapat dimanfaatkan oleh

pemerintah maupun masyarakat umum yang harus dijaga dan dipelihara

kelestariannya. Belum ada dasar penilaian yang dianggap tepat untuk aset

bersejarah.

16
2.3 MODEL BRAINWARE ANALYSIS AWAL

Untuk dapat lebih memahami problematika dalam konteks pengakuan,

penilaian serta pelaporan akuntansi berkaitan dengan asset bersejarah berdasarkan

teori yang telah diuraikan, maka model brainware analysis awal adalah sebagai

berikut:

Makna Aset
Bersejarah

Jenis dan
Metode Penilaian
Karakteristik
Aset Bersejarah
Aset Bersejarah

Pengakuan Aset
Bersejarah

Pengungkapan
dan Penyajian
Aset Bersejarah
dalam Leporan
Keuangan

Catatan: arah panah tidak menunjukkan pengaruh, tetapi menunjukkan logika


penalaran bagaimana proses menentukan akuntansi untuk asset bersejarah

Gambar 2.1 Model Brainware Analysis Awal

17
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF

Untuk membangun penelitian yang baik setidaknya dibutuhkan keterkaitan

antara aspek ontology (keyakinan), epistemology (ilmu) dan metodologi yang

digunakan.

Aset bersejarah ini merupakan aset yang unik karena timbul d ari

interaksidan mengandung tidak hanya nilai ekonomi melainka


sosial n

ada nilai
,seni,
budaya
sejarah, pendidikan dan pengetahuan. Nilai ekono mi

pada arah harusnya dapat diukur dengan angka-angka


aset yang selan bersej

jutnyaukkan kedalam laporan keuangan, maka dari


dapat
itu ada aspek o dimas

ntology ari
yang mendasini.
penelitian

Atas dasar ontology tersebut maka penelitian ini dilaku kan

denganatan fenomenologi yang dikemas dalam penelitian k pendek

ualitatif
ngkat fenomena mengenai perlakuan akuntansi terhadap
dan as menga

et ilakukan oleh dinas dan pengelola


bersejarah
terkait mulai dariyang
penilai d

an, penyajian
ngungkapan
dan pe
aset bersejarah pada laporan keuangan.

3.2 PENDEKATAN FENOMENOLOGI

Pendekatan fenomenologi merupakan tradisi penelitian kualitatif yang

berakar pada filosofi dan psikologi (Moleong, 1993). Fenomenologi berasal dari

bahasa Yunani phainomenon, yang terdiri dari kata phainomai yang artinya

menampakkan diri, dan kata logos yang berarti akal budi (Roekhudin, 2013). Jadi,

18
fenomenologi adalah sebuah ilmu (akal budi) yang menampakkan diri ke dalam

bentuk pengalaman seseorang (subyek).

Fenomenologi mencoba mengungkap struktur dan makna yang terpendam

(implisit) dalam pengalaman manusia menjadi tampak jelas (eksplisit)

(Roekhudin, 2013). Pendekatan fenomenologi adalah sebuah pendekatan yang

menggunakan pengalaman hidup sebagai sebuah alat untuk memahami secara

lebih aik tentang sosial budaya, politik atau konteks sejarah dimana b

pengalaman
adi. itu terj

Pendekatan fenomenologi tepat untuk digunakan dalam peneliti an ini karena

bersinggungan dengan unsur sosial, budaya dan juga sejarah. Fokus penelitian ini

adalahpada akuntansi untuk aset bersejarah, sehingga ketiga unsur t ersebut tentu

tidak dapat dipisahkan. Dalam penelitian ini, pendekatan fenomenolo gi

digunakan untuk
enjelaskan secara lebih mendalam tentang fenomena yang m

terjadi enelitian berdasarkan pengalaman


padahidup pihak- pihak
objek
yang t p

erkait enelitian, seperti pihak


denganpengelola aset bersejarah.
objek Sebagai p

pembanding
isi dapat digunakan sebagai informan untuk menunjukkan akadem

pengalaman
merekahidup
dalam mengajarkan konsep aset.

Lester (1999) mengatakan bahwa fenomenologi pada int inya adalah

mengidentifikasi fenomena melalui apa yang dirasakan oleh seseorang dalam

sebuah situasi dan didasarkan pada paradigma pengetahuan seseorang serta

subyektivitas. Fenomenologi berasumsikan bahwa peneliti tidak mengetahui

sesuatu yang sedang diteliti oleh mereka. Peneliti berusaha untuk masuk ke dalam

dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sehingga mereka mengerti apa dan

19
bagaimana suatu pengertian itu, lalu pengertian itu dikembangkan oleh mereka di

sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari- hari. Peneliti akan mengkaji secara

mendalam isu sentral dari struktur utama suatu objek kajian. Peneliti kualitatif

harus bersifat “perspektif emic” artinya memperoleh data bukan “sebagaimana

mestinya”, bukan berdasarkan apa yang dipikirkan oleh peneliti, tetapi

berdasa
rkan sebagaimana adanya yang terjadi di lapangan, y an,
ang dialami,

dirasak dan dipikirkan oleh partisipan atau sumber data (Sugiyono di, , 2009

dalam 2013). Fenomenologi yang sesungguhnya adalah untuk men Prema

deskripsikan
daripada menjelaskan sesuatu dan berawal dari sudut pandan sesuatu

g potesis- hipotesis
yang atau dugaan- dugaan
bebas sebelumnya (Lester,
dari 19 hi

99).
EK PENELITIAN

3.3 OBY bjek penelitian adalah sasaran ilmiah untuk mendapatkan

Odan kegunaan tertentu tentang sesuatu hal objektif, valid data

dengan suatu
tujuanhal (variabel tertentu) (Sugiyono, 2014). Dalam penelit dan

reliablean
tentang
yang akan digunakan adalah Candi Prambanan sebagai sal ian

ini obyek peneliti


r yang ada di indonesia. ah

satu candi terbesa dilakukan khususnya terhadap ketua bidang


enelitian

P aset Dinas

Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah serta pengelola Candi Prambanan karena

ketua bidang aset DPKAD dan pengelola Candi Prambanan tersebut dianggap

pihak yang ahli dan memiliki informasi serta dapat memberikan data yang

diperlukan untuk penelitian mengenai perilaku akuntansi untuk aset bersejarah ini.

20
3.4 INSTRUMEN PENELITIAN

Dalam penelitian kualitatif, instrumen utama yang digunakan adalah peneliti

sendiri sebagai human instrument. Oleh karena itu kedudukan peneliti dalam

penelitian kualitatif ini merupakan perencana, pelaksana, pengumpul data,

penafsiran data, dan menjadi pelapor hasil penelitian. Sebagai instrumen utama

peneliti harus divalidasi. Validasi terhadap peneliti, meliputi; pemahaman metode

peneliti an kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan

peneliti untuk memasuki objek penelitian -baik secara akadem ik maupun

logiknya- (Sugiono,2009:305).

Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menet apkan fokus

penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengu mpulan data,

menilaikualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membua t kesimpulan

atas temuannya (Sugiono,2009:306).

Peneliti sebagai instrumen atau alat penelitian karena mempu nyai ciri-ciri

sebagai berikut:

1. Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari

lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian,

2. Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan

dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus,

3. Tiap situasi merupakan keseluruhan artinya tidak ada suatu instrumen berupa

test atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia,

21
4. Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan

pengetahuan sematadan untuk memahaminya, kita perlu sering merasakannya,

menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita,

5. Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia

dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan

arah pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika,

6. Han ya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan b erdasarkan

data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan se gera sebagai

balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan at au

iono 2009:
perlakuan (Sug 308).

3.5 JENIS DAN SUMBER DATA

Berdasarkan jenisnya data dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data

sekunder. Data primer dalam penelitian berupa informasi mengenai perlakuan

akuntansi untuk Candi Prambanan. Dalam hal ini berkaitan dengan pihak dinas

pengelolaan keuangan dan aset daerah sleman khususnya ketua bid ang aset dan

ketua unit prambanan selaku pengelola. Data primer ini akan dipe roleh

elakukan
dengan cara m wawancara dengan pihak-pihak tersebut terka it

perlakuan akuntansi untuk Candi Prambanan. Data-data tersebut berupa:

a. Pemahaman dinas pengelola keuangan dan aset daerah (DPKAD) khususnya

kepala bidang aset dan pihak pengelola Candi Prambanan mengenai aset

bersejarah.

b. Cara pengakuan, penyajian dan pengungkapan aset bersejarah pada laporan

keuangan.

22
Untuk mendapatkan data primer tersebut, peneliti menggunakan metode

wawancara. Wawancara dilakukan untuk dapat menghasilkan data kualitatif yang

mendalam. Dalam konteks penelitian dengan basis fenomenologi, untuk melihat

langsung fenomena yang sedang diamati, keterlibatan peneliti di dalam objek

yang diteliti melalui partisipasi langsung adalah cara yang dianjurkan (Roekhudin,

2013 alam Anggraini, 2014).

Metode wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah

ktur dan wawancara tak terstruktur. Wawancara terstru


wawancara terstru

ktur cara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan


adalah wawan

aan yang akan diajukan (Moleong, 2010). Wawancara ters


pertanyaan- pertany

trukturunakan daftar pertanyaan dari Masitta (2015)


akanlihat lampiran mengg

1. cara tak terstruktur digunakan untuk mendapatkan infor


Sedangkan wawan

masi am melalui sumber yang mendalami situasi secara


dan lebih men mendal

getahuiasiakan
yanginform
sedang diperlukan oleh pewawancara.

Untuk mendapatkan data sekunder, digunakan metode analisis dokumen.

Dokumen tersebut didapatkan langsung dari dinas dan pengelo la terkait.

Dokumen yang paling berkompeten untuk dijadikan data penduku ng penelitian

adalah annual report khususnya yang berhubungan dengan aset bers ejarah. Selain

annual report, artikel di media online juga dapat menjadi sumber data sekunder.

3.6 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dilakukan dengan

cara sebagai berikut:

23
a. Library Research (penelitian kepustakaan)

Pengumpulan data-data dari literatur, sumber-sumber lain untuk

memperoleh data-data yang berhubungan dengan fenomena tertentu dengan

cara membaca dan mempelajari fenomena tersebut. Pada konteks ini,

mengumpulkan data terkait dengan peraturan pemerintah mengenai perlakuan

aset bersejarah dan juga standar akuntansi pemerintahan.

b. Interview (wawancara)

Peneliti melakukan wawancara terhadap informan yang merupakan pihak

dinas pengelolaan keuangan dan aset daerah sleman khususnya ketua bidang

aset dan ketua unit prambanan selaku pengelola. Wawancara tersebut

dilakukan untuk memperoleh pemahaman secara menyeluruh da n

mendalam
ait dengan perlakuan akuntansi untuk aset bersejarah, dalam h terk

al ini
di berupa
Prambanan.
Can

c. Dokumentasi

Dokumentasi dilakukan untuk memperkuat bukti bahwa wawancara

benar-benar dilakukan oleh informan serta memperkuat pernyat aan informan

dalam wawancara penelitian. Dokumentasi penelitian ini dilak ukan setelah

wawancara selesai dilakukan.

d. Penelusuran Data Online

Penelusuran data online dilakukan untuk mencari annual report dari

Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Keuangan Daerah dan PT Taman Wisata

Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Penggunaan metode ini

memudahkan dalam pencarian data annual report karena data tersebut tidak

24
lagi dalam bentuk lembaran kertas merupakan dalam bentuk softcopy. Metode

ini meningkatkan keefisiensian dak kefektifan penelitian ini.

3.7 PENGUJIAN KEABSAHAN DATA

Dalam penelitian kualitatif, instrumen utamanya adalah manusia, karena itu

yang diperiksa adalah keabsahan datanya. Data yang terkumpul akan di cek ulang

oleh p eneliti pada subjek data yang terkumpul dan jika kurang sesuai peneliti

mengadakan perbaikan untuk membangun derajat kepercayaan pa da

informasi
elah diperoleh. Oleh sebab
yangitu, dalam penelitian ini melak t

ukan teknik
lasi untuk
Triangu
mencari kevaliditasan suatu data yang terkumpul.

Teknik triangulasi adalah menjaring data dengan menyilangk an

iperoleh agar data yang didapatkanyang


informasi lebih lengkap dan sesuai d

dengan kan. Teknik triangulasi dapat dikelompokkan


yang menjadi 3 yakni diharap

; , Triangulasi pengumpulan
Triangulasi
data dan Triangulasi waktu. tekni sumber

k igunakan adalahtriangulasi
pendekatan triangulasi sumber
yang
untuk men d

gungkap
alisis data. Selanjutnya pendekatan triangulasi
dandilakukan men mengan

urut: dut pandang pejabat dinas pendapatan, pengelolaan keuan

1. Suerah sebagai pengarah dan pengawasan pengelolaan ase gan dan

aset da t bersejarah

khususnya Candi Prambanan.

2. Sudut pandang pejabat PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan

Ratu Boko sebagai pengelola dari Candi Prambanan.

3. PSAP no. 07 tahun 2010.

25
3.8 TEKNIK ANALISIS DATA

Metode analisis data merupakan suatu proses yang digunakan untuk

memahami menganalisis dan mengungkapkan fenomena dari suatu kejadian dan

mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian. Berbeda dengan

penelitian kuantitatif, metode analisis data dalam penelitian kualitatif lebih

kompleks dan melibatkan penalaran induktif dan deduktif, serta d eskripsi dan

interpretasi sehingga tidak dapat diuji secara statistik. Tidak adan ya pedoman

yang pasti untuk menganalisis data yang diperoleh melalui w awancara

menyebabkan analisis data kualitatif lebih memerlukan daya kreatif

serta kema
mpuan intelektual yang tinggi (Anggraini, 2014). Secara u mum,

metode data pada penelitian kualitatif dibagi menjadi dua bagian, pe analisis

rtama duction dan kedua adalah data display. Jika digambarkan,


data m re

etode analisis
da penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:

data pa

Data Collection Data Display

Data Reduction
Conclusions
drawing/verify
:
ing

Gambar 3.1. Metode Analisis data

a. Reduksi Data (data reduction)

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian,

pengabstraksian, dan pentransformasian data kasar dari lapangan (Basrowi dan

Suwandi, 2008). Mereduksi berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok

dan memfokuskan pada hal-hal yang penting. Kemudian data yang tidak
26
relevan akan dipisahkan dari data yang relevan. Melalui reduksi data ini

diharapkan data yang digunakan benar-benar data yang valid.

b. Penyajian Data (data display)

Miles dan Huberman (1992) dalam Anggraini (2014) menyarankan agar data

ditampilkan dengan baik melalui tabel, charts, networks dan format gambar

lainnya saat menarik kesimpulan. Hal ini berfungsi untuk membe ri kemudahan

dalam membaca dan menarik kesimpulan. Selain untuk memuda hkan, format

tabel, charts, networks dan format gambar lainnya juga dapat menarik perhatian

pembaca. Dalam penelitian ini data disajikan dalam bentuk ur


aian (naratif)

me genai esensi dari fenomena yang diteliti.

c. Penarikan kesimpulan

Langkah terakhir dalam analisis data kualitatif adalah penarikan

kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan yang diharapkan dalam penelitian ini

adalah adanya temuan baru terkait perlakuan akuntansi untuk as et

bersejarah
susnya khu
pada pengelolaan Candi Prambanan.

Setelah dapat ditarik kesimpulan, peneliti meminta informan untuk

membaca kembali hasilnya. Hal ini bertujuan untuk me nghindari

kesalahpahaman antara peneliti dan informan sehingga informasi yang

dihasilkan sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan, atau minimal

sesuai berdasarkan data yang diperoleh peneliti di lapangan. Hal ini disebut

dengan langkah verifikasi.

27
BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 GAMBARAN UMUM PENELITIAN

Pada bab ini, akan dipaparkan fokus dari penelitian yaitu perlakuan

akuntansi untuk aset bersejarah pada Candi Prambanan. P enelitian ini

menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi.

Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Cand i

merupakan salah satu candi hindu terbesar di indonesia.


Prambanan yang

Data diambil
menggunakan metode wawancara. Wawancara dilakukan dengan

pada olaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD)


Dinas
dan PT Taman Pengel

Wisataudur, Prambanan dan Ratu BokoCandi


selaku pengelola Candi Pram Borob

[Link] lapangan ternyata DPKAD tidak


Akan mencatat mengenai as tetapi

et bersejarah pada PT T
laporan keuangan yang dibuatnya. Sedangkan dalam

aman Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko hanya


Wisata
mencatat dari se Candi

gi sewa lahanCandi
keting dan tic
Prambanan.

Pencatatan mengenai bentuk fisik aset dari Candi Prambanan di lakukan oleh

Balai Peninggalan Cagar Budaya Yogyakarta (BPCB). Oleh karena it u wawancara

kemudian dilakukan ke BPCB Yogyakarta dengan Ibu Manggar Sari Ayuati

selaku ketua unit prambanan dan juga Ibu Sulistyani selaku bagian keuangan di

BPCB Yogyakarta. Dengan demikian triangulasi data juga mengalami perubahan,

yaitu dari sudut pandang ketua unit prambanan, sudut pandang bagian keuangan

BPCB Yogyakarta dan sudut pandang PSAP no. 07 tahun 2010.

28
4.2 PROFIL CANDI PRAMBANAN

Candi Prambanan merupakan kompleks candi hindu terbesar di Indonesia

yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Kompleks candi ini terletak di kecamatan

Prambanan, Sleman dan kecamatan Prambanan, Klaten, kurang lebih 17 kilometer

timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 1 20 kilometer

selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tenga h dan Daerah

Istimewa Yogyakarta. Letaknya sangat unik, Candi Prambanan terlet ak di wilayah

administrasi desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan p intu masuk

komple
ks Candi Prambanan terletak di wilayah adminstrasi desa Tlogo,

Prambanan, Klaten.

Menurut sejarah, Candi Prambanan dibangun atas perintah Sri Maharaja

Rakai Pikatan. Hal ini terungkap dengan ditemukannya Prasasti Si wagrha


a yang

berangk
tahun Saka 778 (856 Masehi) dan ditulis oleh Rakai Pik hli atan

[Link]
Para A (ilmu Purbakala) sepakat untuk mengait k an

PrasastihaSiwagr
dengan sejarah Candi Prambanan. Hal ini dikarenakan pa da

salah diuraikan secara rinci suatu gugusan


satu candi yang bernama S baitnya

iwagrha atau Siwalaya.

De Casparis yang berhasil membaca Prasasti Siwagrha dan membagi isi

prasasti menjadi dua bagian, yaitu: bagian yang berkaitan dengan pendirian

bangunan suci dan bagian yang berhubungan dengan peresmian serta penetapan

tanah perdikan (Sima).

29
Pada bagian pertama disebutkan, bahwa setelah keadaan menjadi damai,

sang raja memerintahkan pembuatan sebuah dharma (kompleks atau gugusan

candi). Gugusan candi tersebut mempunyai pagar keliling. Di setiap pintunya

dijaga oleh Dwarapala yang tampak sangat menakutkan. Terdapat bangunan-

bangunan kecil yang berderet-deret dan bersap-sap mengitari candi induk,

bentuknya sama, tingginya sama, demikian pula maksudnya. Bangun an-bangunan

kecil ini disebut Candi Perwara, semua berjumlah 224 buah.

Pada bagian kedua Prasasti Siwagrha, disebutkan bahwa pada hari Kamis

Wage tanggal 11 bulan margasira tahun Saka 778 (11 November 856 Masehi)

bangunan kuil selesai dibangun dan diresmikan patung dewanya. Setelah kuil

Siwalaya itu selesai seluruhnya dalam kemegahan yang menakjubkan, dialihkan

aliran sungai sehingga airnya menyususri sisi-sisi halaman candi. Tanah yang

menjadi batas-batas percandian diresmikan. Selain itu ditetapkan pula

sawah-yang
sawah
menjadi “sawah dharma” bagi kuil Siwa.

Prasasti Siwagrha dan Prasasti Kedu (Prasasti Matiasih) tahun 907 Masehi,

memuat daftar lengkap raja-raja Dinasti Sanjaya. Dari prasasti tersebut dapat

diketahui bahwa yang memerintahkan pembangunan Candi Pramban an adalah

Sri Mahara
ja Rakai Pikatan.

4.3 PROFIL BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA YOGYAKARTA

Pelestarian peninggalan purbakala telah berlangsung sejak abad ke 18, pada

awalnya kegiatan ini hanya bersifat individu dan meningkat menjadi suatu

kelompok. Dengan adanya kegiatan tersebut berdirilah Bataviaasch Genootschap

Van Kusten en Wetenscheppen pada tahun 1778. pada abad ke 19 kegiatan ini

30
mulai berkembang dengan pesat dalam bidang penelitian, Observasi,

Pemeliharaan, Pengamanan, Pendokumentasian, Inventarisasi, Penggambaran,

Penggalian, maupun Pemugaran bangunan kuno maka terbentuklah lembaga

swasta pada tahun 1885 yaitu Archaeologische Vereeniging yang di pimpin oleh

Ir. J.W. Ijzerman.

Campur tangan pemerintah Hindia Belanda secara langsung ya itu di

terbentuknya Oudheidkundige Dienst In Nederlansch Indie


tandai dengan pada

tanggal 1913. Badan ini merupakan lembaga resmi pemerintah y

14 Juni.J Krom. pada tahun 1950 kantor pusat Oudheidkundige Diensang dipimpin

oleh Nli, setahun kemudian terbentuklah Integrasi Jawatan Pur t

at di Jakarta dengan nama Dinas Purbakala. mulai tahun


dihidupkan kemba

bakala ala dipimpin oleh putra Indonesia, yaitu Soekmono


yang dan d berpus

1953 Peninggalan Sejarah Purbakala (SPSP). Dinas Purbak

i beri nama Suaka


a tahun 1975 di bidang organisasi terjadi perubahan struk

Pad bagi menjadi dua unit, antara lain bersifat teknis administras tur

enelitian.
kegiatan, yaitu di Lembaga yang mengelola administrasi operasi i

orat Sejarah Purbakala


operasional dan (DSP) dan lembaga yang mengel p

onal adalah Direkt

ola kegiatan penelitian adalah Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan

Nasional (P4N). Pada tahun 1985 Surat Keputusan dari Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan No.0645/0/1985 terdapat perubahan pada organisasi

yaitu adanya Seksi Perlindungan dan Seksi Pemeliharaan. Tepatnya tanggal

7 Desember 1989 Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) SPSP didirikan di berbagai

daerah keseluruhan ada 9, yaitu :


31
1. Prambanan untuk wilayah Propinsi Jawa Tengah.

2. Bogem untuk wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

3. Mojokerto untuk wilayah Propinsi Jawa Timur.

4. Gianyar untuk wilayah Propinsi Bali, NTB, NTT, dan Timor Timur.

5. Ujung pandang untuk wilayah Propinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi

Ten

6. Ban dan
Sumatra
ggara.
Uta
da Aceh untuk wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh
7.
Bat ra.

8. u Sangkar untuk wilayah Sumatra Barat dan Riau. Jam


kulu.
bi untuk wilayah Propinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Beng
9. Ser dan
Daerahang untuk wilayah Propinsi Banten, Jawa Barat, Lampung,

Khusus Ibu kota Jakarta.

Kemu dian pada tahun 2002 Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata

mengel uarkan keputusan mengenai perubahan SPSP menjadi Bala i

Pelestarian Penin
ggalan Purbakala (BP3) dan saat ini BP3 diganti menjadi Bal ai

Pelestarian
Budaya (BPCB). Pada akhir tahun 2008 Departemen Keb Cagar

udayaan
satadan Pariwi 3 (tiga) buah BPCB, yaitu :
menambah

1. BPCB Ternate untuk wilayah Maluku dan Papua.

2. BPCB Samarinda untuk wilayah Kalimantan.

3. BPCB Gorontalo untuk wilayah Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi

Utara.

Dengan demikian jumlah BPCB se-Indonesia berjumlah 12 UPT.

32
4.3.1 Visi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta

Adapun visi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta sebagai

berikut:

“Terwujudnya Pelestarian dan Pemanfaatan Peninggalan di DIY secara

Berkelanjutan Dalam Menghadapi Tantangan Sistem Global di Tengah

Kehidupan Antar Bangsa.”

4.3.2 Misi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta alai

Misi BPelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta: eningkatkan

1. Mpengelolaan (pelestarian dan pemanfaatan) rbakala peninggalan

pueningkatkan pelindungan, penyidikan dan pengamanan

2. M rbakala peninggalan

pueningkatkan registrasi dan penetapan peninggalan purbakala

3. Meningkatkan pemeliharaan peninggalan purbakala

4. Meningkatkan pemugaran peninggalan purbakala

5. Meningkatkan bimbingan penyuluhan dan pendokumentasian

6. M rbakala peninggalan

pu

7. Meningkatkan tata laksana perkantoran yang akuntabel dan tangguh

4.3.3 Strategi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta

Dalam rangka mencapai visi dan misinya, Balai Pelestarian Cagar Budaya

Yogyakarta merumuskan strategi dengan tujuan dan sasaran yang tercapai dengan

maksimal, antara lain :

33
1. Mengembangkan sikap kritis terhadap nilai-nilai peninggalan purbakala

(benda cagar budaya) dalam rangka membangun kesadaran masyarakat untuk

mewujudkan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat pendidikan, budaya

dan pariwisata

2. Perubahan paradigma pelestarian benda cagar budaya yang semula hanya

berorientasi pada pelestarian menjadi pelestarian dan pema nfaatan yang

berwawasan pada kebutuhan jangka panjang

3. Mengembangkan sikap kritis terhadap produk hukum yang terkait dengan

upaya pelestarian dan pemanfatan benda cagar budaya

4. Mendorong terwujudnya produk peraturan daerah dalam rangka perlindungan

benda cagar budaya yang berorientasi skala kawasan

5. Pengaturan tata ruang pada kawasan lindung dan budidaya berkaitan dengan

upya pelestarian benda cagar budaya

6. Melakukan pendekatan parsipatoris dalam rangka meningkatkan peran serta

masyarakat

4.4 ANA LISIS DAN PEMBAHASAN

Analisis data dilakukan menggunakan metode triangulasi data denga n pendekatan

triangulasi sumber untuk mengungkap dan menganalisis data. Selanjutnya

triangulasi data dilakukan menurut:

1. Sudut pandang ketua unit prambanan Balai Pelestarian Cagar Budaya

Yogyakarta sebagai pengelola Candi Prambanan.

34
2. Sudut pandang bagian keuangan Balai Pelestarian Cagar Budaya

Yogyakarta

3. Sudut pandang PSAP no. 07 tahun 2010

4.4.1 MAKNA ASET BERSEJARAH

[Link] Pengertian Aset Bersejarah

Sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2010 ent


t ang cagar

budaya pada bab 1 pasal 1 bahwa:

“cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa


benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya,
situs
agarcbudaya dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di a ir yang
perlu
ilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi d
sejarah,
engetahuan, pendidikan, agama, dan/atau
ilmu kebudayaan m p
elalui
enetapan
proses

p
arkan ketentuan tersebut, maka aset bersejarah termasuk dal
Berdas am
udaya karena aset bersejarah memenuhi kriteria sebagai ase
golongan cagar b t
ikan yaitu memiliki nilai historis, pengetahuan, pendidikan
yang perlu dilestar ,
yaan.
agama dan kebuda
alam akuntansi mengenai aset bersejarah, Carnegie dan wol
D ni zer
dapat bahwa aset bersejarah bukan merupakan aset melainkan
(1995) berpen
m liabilitas. Pendapat tersebut membuat perdebatan
digolongkan kedala

mengenai penggolongan dari aset bersejarah. Karenanya berbagai penelitian yang

berkenaan dengan aset bersejarah berusaha mengungkapkan aset bersejarah

digolongkan sebagai aset atau liabilitas. Berdasarkan keterangan yang

didapat dari BPCB Yogyakarta Aset bersejarah dicatat sebagai aset dan

termasuk dalam kategori Barang Milik Negara (BMN).

35
Aset bersejarah dapat dimaknai sebagai manfaat dimasa yang akan datang

dalam bentuk nilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/ atau

kebudayaan yang terjadi akibat peninggalan sejarah sehingga perlu dijaga

kelestariannya. Konsekuensinya, entitas pengelola memiliki kewajiban untuk

melestarikannya bukan untuk mengeksploitasinya demi kepentingan komersial.

Aset bersejarah lebih dimaknai dari aspek non moneter bukan aspek moneter.

[Link] Kriteria Aset Bersejarah

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2010 kriteria agar

suatu enda dapat diakui sebagai aset bersejarah apabila:

a. Be rusia 50 tahun atau lebih;

b. ewakili masa gaya paling singkat 50 tahun;

c. M emiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendid ikan,

n/ataudakebudayaan; dan
agama,

d. emiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Aset bersejarah sendiri dapat berupa:

a. Benda Cagar Budaya

Suatu benda yang digolongkan kedalam benda cagar budaya itu berupa

benda alam dan/atau benda buatan manusia yang dimanfaatkan oleh

manusia, serta sisa-sisa biota yang dapat dihubungkan dengan kegiatan

manusia dan/atau dapat dihubungkan dengan sejarah manusia, bersifat

bergerak maupun tidak bergerak dan merupakan kesatuan atau kelompok.

36
b. Bangunan Cagar Budaya

Bangunan yang digolongkan kedalam bangunan cagar budaya itu harus

memiliki unsur tunggal atau banyak dan berdiri bebas atau menyatu dengan

format alam.

c. Struktur Cagar Budaya

Struktur yang dapat digolongkan struktur cagar budaya ini harus mempunyai

kriteria yang sama dengan kriteria dari bangunan cagar budaya.

d. Situs Dan Kawasan Cagar Budaya

Situs dan kawasan yang digolongkan kedalam situs dan ka wasan cagar

budaya harus mengandung benda cagar budaya atau struktur budaya dan

menyimpan informasi pada masa lalu.

[Link] Penjelasan Hukum Mengenai Aset Bersejarah

Di indonesia penjelasan hukum mengenai aset bersejarah terc antum

dalam dua
aturan
perpemerintah yaitu dari segi ekonomi berupa PSAP No mor

07 tahun
an dari segi sejarah berupa Undang-Undang Republik Indones

2010 d 010 tentang cagar budaya. Kedua peraturan tersebut pada i ia Nomor

11 tahundan
2 tujuan yang sama yaitu untuk mengatur pengelola ntinya

punya makna an

dari aset bersejarah.

[Link] Tugas Atau Fungsi BPCB Terhadap Aset Bersejarah

Tugas atau Fungsi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta ini

adalah sebagai pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya.

37
a. Pelindungan Cagar Budaya

BPCB Yogyakarta selaku pengelola Candi Prambanan berkewajiban

melakukan pelindungan cagar budaya, pelindungan disini memiliki arti

mencegah kerusakan karena faktor manusia atau alam yang dapat merubah

keutuhan dari situs Candi Prambanan.

b. Pengembangan Cagar Budaya

Pengembangan situs cagar budaya khususnya disini Candi Pram banan

upa penelitian yang berguna untuk perkembangan ilmu pen


dapat ber

a pengembangan teknologi, dapat juga berupadan


getahuan revitalisasi jug

bali fungsi ruang, nilai budaya, dan penguatan


yaitu menatainformasi c kem

giatan-kegiatan tersebut terlebih dahulubudaya.


agar harus mendapa Ke

t erintah daerah
izin dari pemdan juga pihak pengelola yang menaunginya.

c. Pemanfaatan

Pemanfaatan disini berarti lingkungan dari situs Candi Pram banan

anfaatkan
dapat dim sebagai tempat dilaksanakanya kegiatan s eperti

tunjukan,
gelar per kegiatan budaya, dan juga dapat dimanfaatkan se bagai

[Link]
obyek

4.4.2 MET DE PENILAIAN CANDI PRAMBANAN

Penilaian untuk aset bersejarah hingga saat ini masih menjadi perdebatan

mengenai bagaimana cara penilaian yang tepat. Untuk menilai aset bersejarah

perlu melihat nilai intangible dari aset bersejarah seperti nilai sejarah, nilai

kelangkaan, nilai pemanfaatan, nilai keunikan, nilai keutuhan, nilai kondisi bahan,

nilai jenis bahan, nilai simbolik, nilai garapan dan nilai estetika. Pada Candi

38
Prambanan pun belum ditemukan cara yang tepat untuk melakukan penilaiannya.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan ketua unit Prambanan diperoleh

informasi sebagai berikut:

“Hingga saat ini belum ada cara penilaian yang tepat untuk benda cagar
budaya, pada tahun 2014 Kemendikbud mulai mengkaji cara valuasi untuk
benda cagar budaya, kajian ini diberi judul Valuasi Candi Prambanan
Sebagai Aset Nasional sehingga saat ini Candi Prambanan dicatat dalam
bentuk dan ditulis tak ternilai dalam laporan”. (Ibu MSA, Ketua
Unit P
rambanan)
Selain itu ketua unit juga menyampaikan:

“Untuk mengetahui siapa yang berhak menentukan nilai ekonomi benda


bersejarah tersebut belum diketahui, BPCB Yogyakarta sebagai pengelola
tidak berani untuk menentukan nilai ekonomi aset bersejarah dikarekan
BPCB Yogyakarta belum mempunyai kurator yang istilahnya bisa menilai
benda bersejarah, kalau sebagai acuan BPCB Yogyakarta pernah
menggunakan nilai dari kolektor benda bersejarah karena dulu ketika ada
pelelangan kepala budha kolektor menawarnya dengan harga Rp.
50.000.000,-.” (Ibu MSA, Ketua Unit Prambanan)
Berdasarkan kutipan diatas maka diperoleh informasi sebagai berikut
:

jian mengenai valuasi aset bersejarah mulai dilakukan pada ta


1. Ka hun 2014
ntuk menentukan nilai ekonomi benda bersejarah diperlukan
2. U kurator yang
ampu menilai aset bersejarah
m
bagai acuan, BPCB Yogyakarta menggunakan nilai saat pelel
3. Se angan kepala
dha kepada para kolektor aset bersejarah seharga Rp.50.000.0
Bu
00,-

4. Saat ini untuk Candi Prambanan dicatat dalam bentuk unit dan tak ternilai

Kajian Valuasi Candi Prambanan Sebagai Aset Nasional nantinya

diharapkan akan dijadikan pedoman untuk menilai benda bersejarah lainnya,

namun hingga saat ini kajian tesebut belum menemukan titik terang dan masih

terus dikaji soal penilaian yang tepat untuk aset bersejarah. Pada keterangan

39
tersebut dalam melakukan penilaian aset bersejarah BPCB Yogyakarta pernah

menggunakan nilai dari kolektor benda bersejarah. Penggunaan nilai tersebut

tidak mempunyai landasan dan juga belum tentu mereka telah mempertimbangkan

unsur-unsur intangible seperti unsur kelangkaan, nilai pemanfaatan, nilai kondisi

dan lain-lain. Sehingga saat ini penilaian yang dilakukan oleh BPCB Yogyakarta

yaitu encatatnya dalam bentuk unit dan tak ternilai.

Pada penelitian terdahulu mengenai aset bersejarah yang dilakukan oleh

Masitta(2015) pada Museum Ronggowarsito menyatakan bah kanwa Penilaian

dilaku dengan dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti k elangkaan,

master piece, nilai sejarah, nilai estetika, keunikan dan tingkat kekuno an.

Penilaian
ut ditentukan ketika terjadi transaksi yang disebut penyelam terseb

atan an dilakukan oleh Tim Penilai serta didokumentasikan


koleksi. dalam Penilai

bentuk Penilaian Koleksi. Penilaian tersebut


Berita hanya didasarkan pada Acara

estimasi dan tim


si dari persep
penilai.

Kesulitan dalam melakukan penilaian terhadap Candi Prambanan sebagai

aset be rsejarah dapat dikaitkan dengan makna aset bersejarah. As et bersejarah

merupakan warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda c agar budaya,

bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya d an kawasan

cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya

karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,

dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Makna ini mengindikasikan

bahwa aset bersejarah tidak langsung berkaitan dengan aspek ekonomi sehingga

40
tidak mudah untuk menilai besarnya jumlah rupiah yang melekat pada aset

bersejarah termasuk Candi Prambanan.

Teori pengukuran versi Campbell (1928 dalam Kam 1992), menyatakan

bahwa pengukuran berkaitan dengan penentuan angka-angka yang

menggambarkan sifat-sifat sistem material dan bilangan-bilangan didasarkan pada

hukum yang mengatur tentang sifat-sifat obyeknya. Candi Prambanan sebagai aset

bersejarah memiliki sifat-sifat unik yang tidak berkaitan dengan angka moneter

tetapi ebih
l berkaitan dengan nilai kesejarahannya.

Temuan tersebut sejalan dengan argumen Aversano dan Christiaens (2012)

yang b erpendapat bahwa aset bersejarah berbeda dengan aset pada umumnya

karena aset tersebut tidak dapat diproduksi ulang, digantikan da n juga tidak

memungkinkan kondisinya untuk diperdagangkan. Lebih lanjut, H ooper et al.

(2005) meyakini bahwa aset bersejarah lebih berkaitan dengan nilai kesejarahan

yang ada di dalamnya bukan nilai ekonomi yang tersimpan dalam aset bersejarah

tersebut.

4.4.3 PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN CANDI PRAMBANA N

DALAM LAPO
RAN KEUANGAN

Penyajian dan Pengungkapan Candi Prambanan secara spesifik tercantum

dalam laporan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara

(SIMAK BMN) khususnya di Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran

Barang Bersejarah, dalam laporan tersebut aset bersejarah dibagi kedalam 3 jenis

yaitu peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, dan aset tetap lainnya. (lihat

lampiran 4) yang juga diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan keuangan

41
khususnya pada pengungkapan lainnya, dalam laporan tersebut aset bersejarah

dicatat dalam bentuk unit (lihat lampiran 6). Untuk penyajiannya Candi

Prambanan dicatat dalam bentuk unit dan tak ternilai. Pada laporan simak BMN

dan Catatan Atas Laporan Keuangan, BPCB Yogyakarta mencatat seluruh aset

bersejarah yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah candi yang terdapat

pada Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebanyak 316 unit sed angkan

pada komple
ks Candi Prambanan sendiri terdapat 240 unit. Total candi di

kompleks
Prambanan
Candi terbagi menjadi 16 candi pada zona 1, dan 224 can di

pada zona
un hingga saat ini pada zona 2 baru terdapat 4 candi yang

2. Nam masih berupa batu yang belum tersusun. Pada laporan te di pugar

dan sisanya
anan digolongkan kedalam aset bersejarah bukan aset tetap a rsebut

Candi Pramb
. Masa manfaat dari aset bersejarah sendiri tidak bisa di tau

aset tung dari bagaimana perawatantetap


yang dilakakukan di masa seka lainnya

ukur Penyajian dan pengungkapan yang dilakukan


karenaBPCB Yogyak tergan

rang. cu pada Peraturan Pemerintah nomor 71 tahun 2010 tent

arta tersebut
nsi Pemerintah. Suatu Aset bersejarah pastinya juga memer

menga eperti biaya perawatan, perbaikan, pemugaran dan lain-lain. B ang Standar

Akunta unnya tidak selalu sama atau disebut biaya variabel yang ter lukan biaya-

biaya s iaya

tersebut tiap tah

masuk dalam biaya operasional dari BPCB Yogyakarta. Biaya operasional

tersebut secara spesifik dicantumkan dalam laporan realisasi anggaran yang

dibuat oleh BPCB Yogyakarta (lihat lampiran 5). Seperti yang disampaikan

oleh Ketua Unit Prambanan berikut:

42
“Mengenai biaya-biaya yang dikeluarkan itu setiap tahun bisa berbeda-beda
tergantung kebutuhan dari benda cagar budaya tersebut seperti apakah butuh

43
perbaikan, pemugaran dan sebagainya. Kalau biaya tetapnya ada biaya gaji
karyawan dan perawatan. Biaya-biaya tersebut masuk kedalam biaya
operasional.” (Ibu MSA, Ketua Unit Prambanan)
Penyajian dan pengungkapan yang dilakukan oleh BPCB Yogyakarta atas

Candi Prambanan merupakan pertanggung jawaban pemerintah kepada

masyarakat untuk melaporkan segala bentuk aset negara yang dimiliki oleh

pemerintah. Pemerintah yang merupakan entitas non profit-oriented tentu

berbeda perusahaan yang profit-oriented. Penyajian dan pengung dengan

kapan anan yang dilakukan oleh BPCB Yogyakarta


Candi dalam lapor Pramb

an keuangan
ntuk menunjukan akuntabilitas hanya
pengelolaannya, bukan untuk u

menunjukan nilaiPrambanan
ari Candi d dan bagaimana metode penilaiannya.

4.4.4 KESESUAIAN PERLAKUAN AKUNTANSI PADA CANDI PR AMBANAN

DENGAN STANDAR AKUNTANSI YANG BERLAKU

Suatu perlakuan akuntansi memerlukan pedoman atau acuan untuk

diterapkan, begitu juga dengan perlakuan akuntansi untuk aset berse jarah.

BPCB arta
Yogyak
sebagai pihak yang melakukan pelaporan terkait Cand i

Prambanan
ikan dan mengungkapkannya dalam bentuk unit dan tak ter menyaj

nilai. Hal2010 paragraf itu


engan PSAP no.07 tahun sesuai
68 yang menerangka d

n bahwa:

“Aset bersejarah harus disajikan dalam bentuk unit, misalnya jumlah unit
koleksi yang dimiliki atau jumlah unit monumen, dalam Catatan atas
Laporan Keuangan khususnya pada bagian pengungkapan lainnya dengan
tanpa nilai.”
Selain itu pada laporan keuangan BPCB Yogyakarta juga mencatat biaya yang

berkaitan dengan pengelolaan Candi Prambanan sebagai biaya operasional.

44
Pengakuan biaya tersebut sesuai dengan PSAP np.07 tahun 2010 paragraf 69 yang

menerangkan bahwa:

“biaya untuk perolehan, konstruksi, peningkatan, rekonstruksi harus


dibebankan sebagai belanja tahun terjadinya pengeluaran tersebut. Biaya
tersebut termasuk seluruh biaya yang berlangsung untuk menjadikan aset
bersejarah tersebut dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode
berjalan.”
Hal i ni menunjukkan pelaporan yang dilakukan oleh BPCB Yogy akarta selaku

pengelola dari Candi Prambanan sudah sesuai dengan standar ak untansi yang

berlaku.

45
BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Aset bersejarah merupakan suatu warisan budaya yang bersifat kebendaan

berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar bud aya, situs

cagar budaya dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di ai r yang

perlu dilestar
ikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi s ejarah,

ilmu penget
ahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui prose s

penetapan.
Pihak BPCB Yogyakarta mengakui aset bersejarah seba

um dalam daftar aset pada laporan Sistem Manajemen dgai aset dan

tercant milik negara (SIMAK BMN) khususnya di Laporan B an akuntansi

barang na Semesteran Barang Bersejarah, dalam laporan tersebut as


arang Kuasa

Penggukedalam 3 jenis yaitu peralatan dan mesin, gedung dan bangu et

bersejarah
ainnya yang juga diungkapkan dalam Catatan Atas Lapor dibagi

nan, nya pada dan aset


pengungkapan lainnya, tetap tersebut as
dalam laporan l

an keuangan
dalam bentuk unit . Aset bersejarah di indonesia memiliki khusus

et bersejarah dicatat

acuan hukum yaitu undang-undang nomor 10 tahun 2010 dan PSAP no.07 tahun

2010.

Metode penilaian untuk Candi Prambanan hingga saat ini masih dalam

kajian yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)

yang diberi judul “Valuasi Candi Prambanan Sebagai aset Nasional” kajian ini

dimulai pada tahun 2014, namun hingga saat ini belum menemui titik temu

46
sehingga untuk penilaian, penyajian, dan pengungkapan Candi Prambanan yang

47
dilakukan BPCB Yogyakarta yaitu dengan mencatatnya dalam satuan unit dan

ditulis tak ternilai.

Penyajian dan pengungkapan Candi Prambanan secara spesifik dijelaskan

dalam Sistem Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN)

khususnya di Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran Barang Bersejarah

dan di ungkapkan pada Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) kh ususnya pada

bagian pengungkapan lainnya

Pada laporan tersebut BPCB Yogyakarta mencatat seluruh aset bersejarah

yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah candi yang t e rdapat pada

DaerahIstimewa Yogyakarta adalah sebanyak 316 unit sedangkan pa da kompleks

Candi Prambanan sendiri terdapat 240 unit.

Perlakuan akuntansi yang dilakukan BPCB Yogyakarta dengan

mencatatnya dalam bentuk unit dan tak ternilai sudah sesuai dengan PSAP no.

f 68. Sehingga bisa dikatakan perlakuan akuntansi yang dit


7 paragra erapkan

Yogyakarta sudah sesuai dengan standar akuntansi yang berla


oleh BPCB ku saat

sia.
ini di Indone

5.2 SARAN

Adapun saran yang diajukan untuk penelitian selanjutnya adalah sebagai

berikut :

1. Memperluas objek penelitian sehingga tidak terfokus pada candi saja tetapi

juga aset bersejarah dalam bentuk lainnya seperti bangunan bersejarah atau

benda-benda bersejarah yang terdapat pada museum.

48
2. Memperluas fokus penelitian sehingga tidak hanya mengenai penilaian,

penyajian, dan pengungkapannya saja tetapi juga melihat bagaimana akun-

akun yang berkaitan dengan aset bersejarah seperti biaya-biaya yang

digunakan untuk perawatan ataupun keuntungan yang diperoleh dari

pemanfaatan aset bersejarah.

3. M emperluas acuan standar yang berlaku tidak hanya di indones ia tetapi

andar
juga st internasional mengenai aset bersejarah yang nantinya bi
sa diterapkan

diindonesia.

49
DAFTAR PUSTAKA

Act Accounting Policy. (2009). Heritage and Community Assets:Measurement of


Heritage and Community Asset.

Agustini, Aisa Tri. (2011). “Arah Pengakuan, Pengukuran, Penilaian, dan


Penyajian Aset Bersejarah dalam Laporan Keuangan pada Entitas
Pemerintah Indonesia (Studi Literatur), Skripsi, Fakultas Ekonomi, Jurusan
Akuntansi, Universitas Jember, Jember.

Anggraini, Fauziah, G. (2014). PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK ASET


BERSEJARAH (Studi Fenomenologi pada Pengelolaan Cand
iBorobudur). S
kripsi. Semarang : Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas
iponegoro.
D
moro, Mega. (2010). Adopsi International Financial Repo
Anjas Kebutuhan atau Paksaan?” Studi Kasus Pada PT. Garrt Standard:
“ndonesia, Skripsi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Jurusa uda Airlines
Iniversitas Diponegoro, Semarang. n Akuntansi,
U
m. Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 T
Anoni udaya entang Cagar
B
Khilda F. (2013). Professional Judgement: Fenomena Di Bali
Arifah,nternational Financial Reporting Standards Dalam Aset k Penerapan
Iaporan Keuangan (Studi Fenomenologi Pada Kantor akunt Tetap Pada
Lemarang dan Jakarta), Tesis, Fakultas Ekonomika dan Bis an Publik di
Skuntansi, Universitas Diponegoro, Semarang. nis, Magister
A
no, Natalia dan Johan, C. (2012). Governmental Financial
Aversa eritage Assets in The Perspective of User Needs. Social Scie Reporting of
Hetwork. [Link] Diakses tanggal 29 Mei [Link] Research
N
no, Natalia dan Caterina F. (2012). The Accounting Problem
Aversa ssets. Advanced Research in Scientific Areas. of Heritage
A

Basrowi dan Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka


Cipta.

Bungin, M. Burhan. (2009). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi,


Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
Financial Reporting Statements (FRS) 30 .2009. Heritage Assets. Accounting

Standards Board United Kingdom.

Generally Recognised Accounting Practice (GRAP). 2011, National treasury.

50
Hooper, Keith, Kate Kearins, dan Ruth Green. (2005). Knowing “the price of
everything and the value of nothing” : accounting for heritage
[Link], Auditing & Accountability Journal. Vol. 18 No.3,
pp.410-433.

Horngren, Charles T; Foster, George; and Datar, Srikant M. (2000). Cost


Accounting: A Managerial Emphasis, Upper Saddle River, New Jersey:
Prentice Hall.
Ikatan Akuntansi Indonesia. 2009. ED PSAK No. 01 (Revisi 2009). Jakarta:
Salemba Empat

Departement National Treasury Republic of South Africa

Kam, Vernon. (1990). Accounting Theory. Singapore: Kin Keong Printing


Co. te. Ltd Moleong, Lexy J, Dr. 2010. Metodologi Penelitia
P andung: PT. Remaja Rosdakarya. n Kualitatif.
B
, M. R. (2015). Problematika Akuntansi Heritage Assets:
Masittaenilaian Dan Pengungkapannya Dalam Laporan Keuangan Pengakuan,
Pada Pengelolaan Museum Jawa Tengah Ronggowarsito). (Studi Kasus
p
B. B., dan A. M Huberman. (1992). Analisa Data Kualitatif
Miles, ress. . Jakarta: UI
P
man Standar Akuntansi Pemerintah. (2011). Nomor 07: Aset Tet
Pedo ap
di, I. Putu. (2013). “Akuntansi sebagai Pembentuk
Prema enomenologi pada Penggunaan Angka Akuntansi sebaMitos (Studi
F inerja”. Skripsi S-1, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, gai Penilai
K iponegoro, Semarang. Universitas
D
no. (2009). Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualit
Sugio . Bandung: Alfa Beta. atif dan R &
D
djono. 2010. Teori Akuntansi: Pengungkapan dan Sarana Inter
Suwar pretatif. Edisi
Ketiga. BPFE, Yogyakarta.

Syahdin, Fajarullah, A. dan Patunru, A. A. (2012). Economic Valuation of World


Heritage Site: A Case Study of Chandi Borobudur.
[Link] Diakses tanggal 3 Maret 2016.

Wild, Susan. (2013). Accounting for Heritage, Cultural, and Community Assets-
Alternative Metrics from a New Zealand Maori Educational Institution.
AABFJ Vol. 7 No. 1.

51
LAMPIRAN

58
LAMPIRAN 1

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA:

Rumusan Masalah Pertanyaan Penelitian

1 Bagaimana dinas 1. Apa pengertian dari aset bersejarah menurut

dan pengelola terkait pemahaman anda?

memahami makna 2. Aset bersejarah digolongkan sebagait aset atau

asebersejarah? kewajiban?

3. Kriteria apa sajakah yang harus dipenuhi agar

suatu benda dapat diakui sebagai aset bersejarah?

4. Apa sajakah jenis dan bentuk dari asetbersejarah?

5. Adakah penjelasan hukum mengenai aset

bersejarah?

6. Apa sajakah tugas atau fungsi dinas Anda terhadap

heritage assets?

2 Bagaimana dinas 7. Bagaimana cara menilai atau valuasi ekonomi aset

dan pengelola terkait bersejarah?

memahami metode 8. Mengapa menggunakan cara tersebut?

penilaian Candi 9. Menurut anda, sudah tepatkah cara tersebut?

Prambanan? Metode 10. Kapan dilakukan penentuan nilai ekonomi dari

apakah yang aset tersebut?

digunakan? 11. Adakah ketentuan khusus dalam menilai aset

bersejarah?

59
12. Apakah setiap daerah memiliki metode penilaian

dan standar nilai ekonomi yang sama?

13. Siapakah yang berhak menentukan nilai

ekonomi tersebut?

14. Apakah dalam penyusunannya

mempertimbangkan aspek seperti telah

masterpiece, nilai sejarah, nilai esteti kelangkaan,

dan tingkat kekunoan? ka, keunikan

3 Bagaimana dinas 15. Siapakah yang melakukan pelaporannya?

dan pengelola terkait 16. Apakah aset bersejarah Candi Prambanan disajikan

menyajikan dan dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca)? Atau

mengungkapkan hanya disajikan dalam Catatan atas Laporan

Candi Prambanan Keuangan?

dalam laporan 17. Apakah Aset bersejarah Candi Prambanan

ke angan? digolongkan sebagai aset bersejarah atau aset tetap

u atau aset tetap lainnya?

18. Bagaimana pos akun aset bersejarah dalam laporan

keuangan?

19. Apakah sumber atau pedoman hukum

yang digunakan?

20. Bagaimana dengan biaya-biaya yang

dikeluarkan dalam upaya pengelolaan koleksi,

konservasi koleksi, serta pembinaan dan

pengembangan Candi

60
Prambanan?

21. Dapatkah mengestimasi masa manfaat

aset bersejarah Candi Prambanan?

4 Apakah perlakuan 22. Dalam PSAP No. 7 terdapat peraturan “Aset

akuntansi untuk bersejarah harus disajikan dalam bentuk unit,

Candi Prambanan misalnya jumlah unit koleksi/monumen yang

uai
ses dengan dimiliki, dalam Catatan atas Lapora n Keuangan

standar akuntansi dengan tanpa nilai”, apakah sudah diterapkan? Jika

yang berlaku saat belum, alasannya?

ini?

Sumber: Masitta (2015)

61
LAMPIRAN 2

HASIL WAWANCARA

NARASUMBER

Narasumber 1 :

Nama : Manggar Sari Ayuati

Jabatan : Ketua Unit Prambanan

Narasumber 2 :

Nama : Sulistiyani

Jabatan : Bagian Keuangan

HASIL WAWANCARA

1. Apa pengertian dari aset bersejarah menurut pemahaman anda?

Ja aban:
w
uai dengan Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2010 tentang
Ses cagar budaya
a bab 1 pasal 1 bahwa cagar budaya adalah warisan bu
pad daya

bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya,

struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya di darat

dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki

nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau

kebudayaan melalui proses penetapan. (Narasumber 1)

1
2. Aset bersejarah digolongkan sebagai aset atau kewajiban?

Jawaban:

Aset bersejarah pada pelaporan BPCB Yogyakarta termasuk kedalam bagian

aset pada daftar aset. (Narasumber 1)

3. Kriteria apa sajakah yang harus dipenuhi agar suatu benda dapat diakui sebagai

aset bersejarah?

Ja aban:
w
uai dengan Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2010 tentang
Ses cagar budaya
a bab 3 pasal 5, bahwa benda, bangunan, atau struktur dap
pad at
gai benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, atau st
diusulkan seba
daya apabila memenuhi kriteria:
ruktur cagar bu
Berusia 50 (Lima Puluh) tahun atau lebih;
a.
Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun;
b.
Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendi
c. dikan, agama
dan/atau kebudayaan; dan

Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. (N


d. arasumber 1)
sajakah jenis dan bentuk dari aset bersejarah?
4. Apa
aban:
Ja
w

Sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya

disebutkan bahwa cagar budaya terdiri dari benda cagar budaya, bangunan

cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar

budaya. (Narasumber 1)

2
5. Adakah penjelasan hukum mengenai aset bersejarah?

Jawaban:

Ada, aset bersejarah atau cagar budaya dijelaskan dalam Undang-Undang RI

Nomor 11 tahun 2010 (Narasumber 1)

6. Apa sajakah tugas atau fungsi dinas Anda terhadap aset bersejarah?

Ja
w aban:

BPCB Yogyakarta disini mempunyai fungsi sebagai p elindungan,

pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya. (Narasumber 1)

7. Bagaimana cara menilai atau valuasi ekonomi aset bersejarah?

Ja aban:
w
ini untuk menilai atau valuasi ekonomi aset bersejarah atau
Saat cagar budaya
ng dalam kajian yang sudah dimulai sejak tahun 2014, k
seda ajian valuasi
onomi aset bersajarah ini memiliki judul “Valuasi Candi Pramb t
ek an an Sebagai
Nasional”. Pada saat ini pelaporan untuk aset bersejarah dis tuk
Ase ajikan dalam
unit dan tak ternilai selagi menunggu hasil dari kajian val
ben uasi
sebut. (Narasumber 1)
ekonomi ter
ngapa menggunakan cara tersebut?
8. Me
aban:
Ja
w

Karena untuk saat ini belum ada cara valuasi yang tepat untuk aset bersejarah

sehingga aset bersejarah dicatat dalam bentuk unit dan ditulis tak ternilai.

(Narasumber 2)

9. Menurut anda, sudah tepatkah cara tersebut?

Jawaban:
3
Pencatatan dalam bentuk unit dan ditulis tak ternilai dirasa sudah tepat untuk

saat ini. (Narasumber 2)

10. Kapan dilakukan penentuan nilai ekonomi dari aset tersebut?

Jawaban:

Kajian mengenai valuasi ekonomi aset bersejarah sudah dilakukan dari tahun

20

11. A 14, namun hingga saat ini belum selesai. (Narasumber 1)

Ja dakah ketentuan khusus dalam menilai aset bersejarah?

w aban:

Untuk menilai aset bersejarah perlu melihat dari nilai intangi ble dari aset

bersejarah tersebut seperti nilai sejarah, nilai kelangkaan, nilai p emanfaatan,

nilai keunikan, nilai keutuhan, nilai kondisi bahan, nilai jenis bahan, nilai

simbolik, nilai garapan dan nilai estetika. (narasumber 1)

12. Apakah setiap daerah memiliki metode penilaian dan standar nilai

ekonomi yan
g sama?

Ja aban:
w
setiap daerah memiliki metode penilaian dan standar nilai
Ya, ekonomi yg
a yaitu mencatat aset bersejarah dalam bentuk unit dan dituli
sam s tak
asumber 1)
ternilai. (nar

13. Siapakah yang berhak menentukan nilai ekonomi tersebut?

Jawaban:

Untuk mengetahui siapa yang berhak menentukan nilai ekonomi benda

bersejarah tersebut belum diketahui, BPCB Yogyakarta sebagai pengelola

tidak berani untuk menentukan nilai ekonomi aset bersejarah dikarekan BPCB
4
Yogyakarta belum mempunyai kurator yang isitilahnya bisa menilai benda

bersejarah, kalau sebagai acuan BPCB Yogyakarta pernah menggunakan nilai

dari kolektor benda bersejarah karena dulu ketika ada pelelangan kepala budha

kolektor menawarnya dengan Rp. 50.000.000,-. (Narasumber 1)

14. Apakah dalam penyusunannya telah mempertimbangkan aspek

seperti
angkaan,
kel masterpiece, nilai sejarah, nilai estetika, keunikan dan

tingkat
unoan?
kek

Ja aban:
w
dah, dalam memvaluasi nilai ekonomi aset berse
Su jarah perlu
mpertimbangkan aspek-aspek tersebut. (Narasumber 1)
me
pakah yang melakukan pelaporannya?
15.
aban:
Sia
aporan dilakukan oleh BPCB Yogyakarta (Narasumber 2)
Ja
kah aset bersejarah Candi Prambanan disajikan dalam La
w
angan (Neraca)? Atau hanya disajikan dalam Catatan a
Pel
angan?
16. Apa poran
aban:
Posisi Keu tas
CB Yogyakarta menyajikan aset bersejarah secara spesifik
Laporan Keu

Ja
w

BP p ada laporan

Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK

BMN) khususnya di Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran Barang

Bersejarah yang juga diungkapkan dalam CALK pada bagian pengungkapan

5
lainnya. (Narasumber 2)

6
17. Apakah Aset bersejarah Candi Prambanan digolongkan sebagai aset

bersejarah atau aset tetap atau aset tetap lainnya?

Jawaban:

Ya, Candi Prambanan digolongkan sebagai aset bersejarah. (Narasumber 2)

18. Bag
aimana pos akun aset bersejarah dalam laporan keuangan?
Ja
w aban:

Dalam laporan keuangan BPCB Yogyakarta aset bersejarah tid ak

disajikan seca di laporan keuangan. (Narasumber 2)


ra spesifik

19. Apakah sumber atau pedoman hukum yang digunakan?

Ja aban:
w
mber hukum atau pedoman yang digunakan dalam pelap
Su o ran adalah
turan Pemerintah nomor 71 tahun 2010 tentang Standa
Pera r Akuntansi
erintah. (Narasumber 2)
Pem
aimana dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam upaya
20. Bag pengelolaan
eksi, konservasi koleksi, serta pembinaan dan pengemba
kol ngan Candi
banan?
Pram
aban:
Ja
w

Mengenai biaya-biaya yang dikeluarkan itu setiap tahun bisa berbeda-beda

tergantung kebutuhan dari benda cagar budaya tersebut seperti apakah butuh

perbaikan, pemugaran dan sebagainya. Kalau biaya tetapnya ada biaya gaji

karyawan dan perawatan. Biaya-biaya tersebut masuk kedalam biaya

operasional. (Narasumber 1)
7
21. Dapatkah mengestimasi masa manfaat aset bersejarah Candi Prambanan?

Jawaban:

Masa manfaat aset bersejarah tidak bisa diestimasi karena tergantung dari

perwatan yang dilakukan sekarang, apabila perawatan dilakukan secara rutin

maka masa manfaat dari aset bersejarah tersebut juga bisa lebih lama.

(Narasumber 1)

22. Dalam PSAP No. 7 terdapat peraturan “Aset bersejarah harus dis ajikan

tuk unit, misalnya jumlah unit koleksi/monumen yang di


dalam ben

atan atas Laporan Keuangan dengan tanpa nilai”,


miliki, dalam apakah suda Cat

belum, alasannya?
h diterapkan? Jika

Ja aban:
w
dah diterapkan, aset bersejarah disajikan dalam bentuk unit
Su t etapi dalam
oran SIMAK BMN khususnya di Laporan Baranag Kua
lap sa Pengguna
esteran Barang Bersejarah. (Narasumber 2)
Sem

8
LAMPIRAN 3

DOKUMENTASI

9
71
LAMPIRAN 5

LAPORAN REALISASI ANGGARAN

72
73
74
75
76
77
78
79
80
LAMPIRAN 6

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

BAGIAN PENGUNGKAPAN LAINNYA

81

Anda mungkin juga menyukai