0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Dokumen ini mencakup peristiwa penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk Bandung Lautan Api, perjanjian Linggarjati, dan agresi militer Belanda. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan pertempuran, Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan internasional melalui serangkaian perundingan dan perjanjian. Konferensi Meja Bundar menjadi puncak dari perjuangan diplomasi yang mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Diunggah oleh

aulianisa250206
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Dokumen ini mencakup peristiwa penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk Bandung Lautan Api, perjanjian Linggarjati, dan agresi militer Belanda. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan pertempuran, Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan internasional melalui serangkaian perundingan dan perjanjian. Konferensi Meja Bundar menjadi puncak dari perjuangan diplomasi yang mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Diunggah oleh

aulianisa250206
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

6.

Bandung Lautan Api (24 Maret 1946)

Di Bandung, Sekutu menuntut rakyat menyerahkan senjata dan mengosongkan kota. Daripada melihat
Bandung jatuh ke tangan musuh, rakyat memutuskan membumihanguskan kota bagian selatan.

Pada malam 24 Maret 1946, api membakar rumah, gedung, dan fasilitas penting. Bandung benar-benar
menjadi “lautan api”.

Peristiwa ini menunjukkan pengorbanan luar biasa rakyat Bandung yang rela kehilangan tempat tinggal demi
mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

7. Perjanjian Linggarjati (10–15 November 1946)

Setelah banyak pertempuran, Inggris mendorong diadakannya perundingan antara Indonesia dan Belanda.
Perundingan ini berlangsung di Linggarjati, Cirebon.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Sutan Syahrir, sedangkan Belanda oleh van Mook. Akhirnya dicapai
kesepakatan:

Belanda mengakui secara de facto kekuasaan RI di Jawa, Madura, dan [Link] dan Belanda sepakat
membentuk Negara Indonesia [Link]-Belanda masuk ke dalam Uni Indonesia-Belanda.

Meskipun pengakuan ini terbatas, perjanjian Linggarjati menjadi awal langkah Indonesia mendapat pengakuan
internasional.

8. Pertempuran Margarana (20 November 1946, Bali)

Tidak lama setelah perundingan Linggarjati, perlawanan fisik juga berkobar di Bali. I Gusti Ngurah Rai bersama
pasukan Ciung Wanara menolak dominasi Belanda.

Mereka melakukan perlawanan terbuka. Dalam pertempuran di Margarana, seluruh pasukan memilih puputan
(berjuang sampai mati). Ngurah Rai dan seluruh prajuritnya gugur.

Walaupun tragis, Margarana menjadi simbol perlawanan rakyat Bali yang tidak pernah menyerah demi
kemerdekaan.

9. Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947)

Belanda merasa tidak puas dengan hasil Linggarjati. Mereka ingin merebut kembali wilayah Indonesia.

Pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan serangan militer besar-besaran ke Jawa dan Sumatra, dikenal
sebagai Agresi Militer Belanda I atau “Politionele Actie”.

Indonesia melawan dengan perang gerilya. Walaupun Belanda menguasai beberapa daerah penting, dunia
internasional mengecam keras. PBB lalu membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) yang beranggotakan Australia,
Belgia, dan Amerika Serikat untuk menengahi.

10. Perjanjian Renville (17 Januari 1948)

Perundingan baru dilakukan di atas kapal USS Renville yang berlabuh di Jakarta. Delegasi Indonesia dipimpin
Amir Sjarifuddin, Belanda oleh van Mook, dan KTN sebagai penengah.

Hasil perjanjian ini membuat posisi Indonesia makin sulit:

Belanda menguasai wilayah yang lebih luas (garis van Mook).


Tentara Indonesia harus mundur ke Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Walau terasa pahit, perjanjian ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap dipandang sebagai pihak resmi dalam
diplomasi internasional.

11. Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948)

Belanda kembali melanggar perjanjian dengan menyerang ibu kota Yogyakarta.

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan serangan besar. Presiden Soekarno, Hatta, dan tokoh lainnya
ditangkap. Namun, Jenderal Soedirman yang sedang sakit tetap memimpin perang gerilya dengan tandu di
hutan.

Meskipun ibu kota jatuh, semangat rakyat tidak padam.

12. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) (1948–1949)

Ketika Yogyakarta jatuh dan pemimpin RI ditawan, Sjafruddin Prawiranegara mendirikan PDRI di
[Link] berfungsi menjalankan pemerintahan, menjaga hubungan diplomasi, dan mengkoordinasi
[Link] PDRI membuktikan bahwa Republik Indonesia masih ada, sehingga Belanda
gagal menghapus eksistensi RI.

13. Perjanjian Roem–Royen (7 Mei 1949)

Tekanan internasional semakin kuat, terutama dari Amerika Serikat dan PBB. Belanda terpaksa kembali ke
meja perundingan.

Delegasi Indonesia dipimpin Mohammad Roem, sementara Belanda dipimpin Jan Herman van Roijen.

Isi perjanjian:

Belanda setuju mengembalikan Yogyakarta kepada RI.

Tokoh RI yang ditawan dibebaskan.

Indonesia menghentikan perang gerilya.

Akan diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB).

Perjanjian ini membuka jalan menuju pengakuan kedaulatan penuh Indonesia.

14. Konferensi Meja Bundar (23 Agustus – 2 November 1949)

Sebagai tindak lanjut Roem–Royen, diadakan KMB di Den Haag, Belanda.

Pesertanya:

Delegasi Indonesia dipimpin Mohammad Hatta.

Delegasi Belanda dipimpin van Maarseveen.

Delegasi BFO (Negara-negara boneka buatan Belanda) dipimpin Sultan Hamid II.

UNCI sebagai penengah.

Hasilnya:

Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.


Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).

Dibentuk Uni Indonesia-Belanda.

Masalah Irian Barat ditunda penyelesaiannya.

KMB menjadi puncak perjuangan diplomasi. Indonesia akhirnya diakui sebagai negara berdaulat di mata dunia.

Anda mungkin juga menyukai