0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan19 halaman

Pengertian dan Ciri-Ciri Belajar

Dokumen ini membahas pengertian belajar, ciri-ciri, tujuan, prinsip-prinsip, aktivitas, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar. Belajar didefinisikan sebagai proses perubahan perilaku yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu, hasil belajar diukur dari perubahan tingkah laku siswa yang mencakup keterampilan, pengetahuan, dan sikap.

Diunggah oleh

Kamaludin Mustofa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan19 halaman

Pengertian dan Ciri-Ciri Belajar

Dokumen ini membahas pengertian belajar, ciri-ciri, tujuan, prinsip-prinsip, aktivitas, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar. Belajar didefinisikan sebagai proses perubahan perilaku yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu, hasil belajar diukur dari perubahan tingkah laku siswa yang mencakup keterampilan, pengetahuan, dan sikap.

Diunggah oleh

Kamaludin Mustofa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar
1. Pengertian belajar menurut beberapa ahli
Menurut Sugianto (2010:23) belajar adalah serangkaian kegiatan
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungan baik dari
aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.
Sementara menurut Yamin (dalam Sugianto, 2010:3) belajar adalah
proses perubahan perilaku yang diakibatkan oleh interaksi dengan
lingkungan. Kegiatan belajar dengan berinteraksi dengan lingkungan ini,
tidak hanya menanamkan pengetahuan dalam otak (kognisi), akan tetapi
mendapat keterampilan (psikomotorik), dan menumbuhkan nilai dan sikap
(afektif).
Adapun menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:156) belajar adalah
proses melibatkan siswa secara orang perorang sebagai satu kesatuan
organisme sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan,
dan sikap.
Sedangkan belajar menurut Gagne (dalam Suprijono, 2010:2) adalah
perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui
aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari
proses pertumbuhan seseorang secara alamiah.
Dari beberapa pengertian belajar menurut para ahli di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku
(kognitif, afektif, dan psikomotorik) seseorang menjadi lebih baik melalui
pengalaman.

2. Ciri-ciri belajar
Menurut Sugianto (2010:7) ada 5 ciri belajar, antara lain:
a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change
behavior). Bahwa hasil belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku.

6
b. Perubahan perilaku relative permanen. Bahwa perubahan tingkah laku
yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak
berubah-rubah.
c. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat
proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat
potensial.
d. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
e. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan.

3. Tujuan belajar
Menurut Sugianto (2010:11) ada 3 tujuan belajar, diantaranya:
a. Untuk mendapat pengetahuan.
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir. Pemilikan
pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai yang tidak dapat
dipisahkan. Dengan kata lain tidak dapat mengembangkan kemampuan
berpikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berpikir
akan memperkaya pengetahuan. Tujuan inilah yang memiliki
kencenderungan lebih besar perkembangannya di dalam kegiatan
belajar. Dalam hal ini peran guru sebagai pengajar lebih menonjol.
b. Penanaman konsep dan keterampilan.
Penanaman konsep atau merumuskan konsep, juga memerlukan
suatu keterampilan. Baik keterampilan yang bersifat jasmani maupun
rohani. Keterampilan jasmaniah adalah keterampilan-keterampilan yang
dapat dilihat, diamati, sehingga akan menitik beratkan pada
keterampilan gerak/penampilan dari anggota tubuh seseorang yang
sedang belajar. Sedangkan keterampilan rohani lebih rumit, karena
tidak selalu berurusan dengan masalah-masalah keterampilan yang
dapat dilihat bagaimana ujung pangkalnya, tetapi lebih abstrak,
menyangkut persoalan-persoalan penghayatan-penghayatan, dan
keterampilan berpikir serta kreativitas untuk menyelesaikan dan
merumuskan suatu masalah atau konsep.

7
c. Pembentukan sikap.
Dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak
didik guru harus lebih bijak dan hati-hati dalam pendekatannya. untuk
itu dibutuhkan kecakapan mengarahkan motivasi dan berpikir dengan
tidak lupa menggunakan pribadi guru itu sendiri sebagai contoh atau
model.

4. Prinsip-Prinsip Belajar
Menurut Suprijono ada 3 prinsip belajar, yaitu:
a. Perubahan perilaku, perubahan perilaku sebagai hasil belajar memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1) Sebagai hasil tindakan rasional instrumental yaitu perubahan yang
disadari
2) Kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku lainnya
3) Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup
4) Positif atau berakumulasi
5) Aktif atau sebagai usaha yang direncanakan dan dilakukan
6) Permanen atau tetap
7) Bertujuan dan terarah
8) Mencakup keseluruhan atau potensi kemanusiaan.
b. Belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena didorong kebutuhan
dan tujuan yang ingin dicapai.
c. Belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya
adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.

5. Aktivitas Belajar
Pada dasarnya, semua anak memiliki potensi yang dapat
dikembangkan dalam bentuk kompetensi. Keunikaan karakteristik anak
dapat dilihat dari latar belakang keluarganya, percepatan perkembangan,
potensi, gaya belajar, dan sistem nilai yang diyakini. Meskipun karaktristik

8
yang unik namun mereka memiliki kesamaan, yaitu sikap ingin tahu, sikap
kreatif, sikap belajar aktif.
Pada Depdiknas 2003 (dalam Sugianto, 2010:18) aktivitas
(pengalaman) belajar dalam mencapai kompetnsi sesuai dengan
kompetensi seseorang antara lain:
a. Pengalaman mental, pada aktivitas (pengalaman) belajar melalui
pengalaman mental, biasnya siswa memperoleh informasi melalui indra
dengar dan lihat, separti membaca buku, mendengarkan ceramah,
menonton televisi. pengalaman belajar melalui indra dengar diperlukan
kemampuan abstraksi dan konsentrasi penuh.
b. Pengalaman fisik, pengalaman belajar dengan melakukan aktivitas fisik
meliputi kegiatan pengamatan, percobaan, penelitian, dan beberapa
bentuk kegiatan praktis lainnya. Secara umum, anak (siswa) dapat
memanfaatkan seluruh inderanya ketika mengganti informasi melalui
pengalaman fisik.
c. Pengalaman sosial, pengalaman belajar sosial akan lebih bermanfaat
kalau masing-masing siswa diberi peluang untuk berinteraksi satu sama
lain. Misalnya: bertanya, menjawab, berkomentar, menanggapi
jawaban, mendemonstrasikan dan lain sebagainya.

6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar


Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar menurut Syaiful, (dalam
Sugianto 2010 : 24)
a. Faktor lingkungan
1) Lingkungan alam adalah lingkungan tempat tinggal seseorang (anak
didik) hidup dan berusaha. Kondisi lingkungan yang sejuk dan
tenang diakui sebagai kondisi lingkungan yang kondusif bagi
terlaksananya kegiatan belajar yang menyenangkan.
2) Lingkungan sosial budaya
Lingkungan sosial budaya yang terbentuk dalam masyarakat sekitar
juga mendatangkan problem tersendiri bagi kehidupan peserta didik.

9
Gedung sekolah yang berada di lingkungan yang bising
menimbulkan kondisi sekolah kurang kondusif bagi proses belajar.
b. Faktor instrumental
1) Kurukulum adalah serangkaian rencana kegiatan yang harus
dilakukan peserta didik, untuk mencapai tujuan yang optimal.
Dengan adanya kurikulum penyelenggaraan pendidikan memiliki
sasaran yang jelas sebagai tolak ukur keberhasilanya.
2) Program
Program sekolah disusun untuk dijalankan agar pelaksanaan
pendidikan berlangsung sistematis sehingga kegiatan belajar peserta
didik secara efektif dan efisien mencapai tujuan yang optimal
berdasarkan ketepatan badan nasional standar pendidikan.
3) Sarana dan fasilitas
Dengan adanya sarana dan prasarana belajar yang baik dan
menyenangkan akan dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta
didik, dan berbagai permasalahan belajar dapat dihindari.
4) Guru
Kehadiran guru dalam kegiatan belajar peserta didik dalam proses
pembelajaran sangat mutlak diperlukan. Guru yang profesional lebih
mengedepankan kualitas dalam menjalankan tugasnya, agar peserta
didik secara efektif dan efesien mencapai tujuan belajarnya.
c. Faktor kondisi fisiologis
Bahwa kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap
kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar
jasmaniahnya akan berlainan belajarnya dari orang dalam keadaan
kelelahan. Selain itu kondisi panca indra, terutama mata untuk melihat
dan telinga untuk mendengar mempunyai pengaruh yang besar terhadap
proses belajar.
d. Faktor kondisi psikologis
Psikologis merupakan faktor utama dalam menentukan intensitas
belajar seseorang, yang juga didukung oleh faktor luar. yang termasuk

10
faktor psikologis antara lain: minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan
kemampuan kognitif.

B. Pengertian Hasil Belajar


Menurut Suprijono (2010:5) menyatakan bahwa hasil belajar adalah
pola-pola perbuatan, nilai-nilai, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.
Sementara menurut Sudjana (2012:3) hasil belajar adalah perubahan
tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Sedangkan menurut Horwart Kingsley (dalam Sudjana, 2012 : 22)
membagi tiga macam kemampuan (hasil belajar) yaitu: (1) keterampilan dan
kebiasaan, (2) pengetahuan dan pengarahan, (3) sikap dan cita-cita. Ketiga
hasil belajar (kemampuan) itulah yang harus dimiliki oleh siswa. Hasil belajar
ini dapat dilihat dari dua sisi, seperti yang dikemukakan oleh Dimyati dan
Mudjiono (1990). Ia memandang dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru.
Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang
lebih baik bilah dibanding pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan
mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, efektif, dan
psikomotor. Sedangkan dari sisi guru hasil belajar merupakan saat
terselesaikannya bahan pelajaran. (Setiaji, 2012: 5).
Demikian juga dengan Gagne (dalam Suprijono, 2011:5) membagi 5
hasil belajar berupa:
1. Informasi verbal yaitu kapasibilitas mengungkapkan pengetahuan dalam
bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
2. Ketrampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan
lambang.
3. Teknik kogntif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kogitifnya sendiri.
4. Ketrampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dan urusan dan koordinasi, sehingga terwujud ototisme gerak
jasmani.

11
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan
penilaian terhadap obyek tersebut.
Dari berbagai keseluruan pendapat diatas maka dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku seseorang setelah
mereka belajar baik perubahan kognitif, afektif maupun psikomotorik.
Yang harus diingat, hasil belajar adalah perubahan perilaku secara
keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja.
Hasil belajar memiliki peran penting dalam proses pembelajaran.
Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi
kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan
belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut
guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut,
baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Hasil belajar digunakan
guru sebagai ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan
pendidikan.

C. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar


Pembelajaran matematika merupakan suatu kegiatan atau upaya untuk
memfasilitasi siswa dalam mempelajari matematika. Dalam pelaksanaan
pembelajaran, tugas guru sebagai fasilitator, sedangkan siswa mengkonstruksi
sendiri pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya.
Istilah matematika diambil dari bahasa yunani mathematike yang
berarti “relating to learning ”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema
yang berarti pengetahuan atau ilmu. Mathematika berhubungan sangat erat
dengan kata mathanein yang mengandung arti belajar (Suherman, 2003: 15-
16).
Johnson dan Rising dalam Suherman (2003:17) mengatakan bahwa
matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang
logik. Matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang
didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol

12
dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai
bunyi.
Matematika sebagai ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang dengan
amat pesat baik materi maupun kegunaanya. Matematika dalam Kurikulum
Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah adalah matematika sekolah.
Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu
matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar (SD dan SLTP) dan
Menengah (SLTA dan SMK).
Fathani (2008:72-74) menyebutkan empat ciri khas Matematika
Sekolah.
a. Penyajian
Penyajian matematika disesuaikan dengan perkembangan intelektual
siswa.
b. Pola pikir
Pembelajaran matematika sekolah dapat menggunakan pola pikir deduktif
maupun pola pikir induktif. Hal ini disesuaikan dengan topik bahasan dan
tingkat intelektual siswa.
c. Semesta pembicaraan
Semakin meningkat tahap perkembangan intelektual siswa, semestanya
pun semakin diperluas.
d. Tingkat keabstrakan
Tingkat keabstrakan matematika menyesuaikan dengan tingkat
perkembangan intelektual siswa. Di Sekolah Dasar, dimungkinkan untuk
mengkonkretkan objek–objek matematika agar siswa lebih memahami
pelajaran.
Suherman,dkk. (2003:56-57) menyebutkan bahwa fungsi Matematika
Sekolah ada tiga.
a. Sebagai alat
Matematika sebagai alat dimaksudkan untuk membantu memecahkan
masalah dalam mata pelajaran lain, dunia kerja, atau dalam kehidupan

13
sehari-hari yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan
siswa.
b. Sebagai pola pikir
Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk
memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang
dimiliki dan tidak dimiliki dari sekumpulan objek yang pada akhirnya
mereka akan menarik kesimpulan dari pengalamannya tersebut.
c. Sebagai ilmu
Guru harus mampu menunjukkan bahwa matematika selalu mencari
kebenaran dan bersedia meralat kebenaran yang semen tara diterima bila
ditemukan kesempatan utuk mencoba mengembangkan penemuan-
penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang sah.
Menurut Heruman (2008:2-3), konsep–konsep pada kurikulum
matematika SD dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar.
a. Penanaman konsep dasar (penanaman konsep) yaitu pembelajaran suatu
konsep baru matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep
tersebut. Pembelajaran penanaman konsep dasar merupakan jembatan
yang harus dapat menghubungkan kemampuan kognitif siwa yang konkret
dengan konsep baru matematika yang abstrak.
b. Pemahaman konsep bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep
matematika. Pemahaman konsep terdiri atas dua pengertian. Pertama,
merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dalam satu
pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pemahaman konsep dilakukan
pada pertemuan yang berbeda, tetap i masih merupakan lanjutan dari
penanaman konsep.
c. Pembinaan keterampilan bertujuan agar siswa lebih terampil dalam
menggunakan berbagai konsep matematika.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah
suatu pola berpikir, suatu alat, suatu seni, dan suatu bahasa yang
menggunakan istilah untuk didefinisikan. Matematika yang diajarkan di
sekolah disebut matematika sekolah. Matematika sekolah mempunyai

14
beberapa karakteristik yang menunjukkan ciri khasnya serta mempunyai tiga
fungsi yaitu sebagai alat, pola pikir, dan ilmu. Agar pembelajaran matematika
dapat mencapai hasil yang optimal maka harus disesuaikan dengan tingkat
perkembangan siswa dan sesuai dengan konsep-konsep kurikulum matematika
sekolah.

D. Pembelajaran Hubungan Antar Satuan Panjang di SD


Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang
diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Pengukuran adalah
satu dari yang paling luas digunakan aplikasinya dalam matematika dan
menjembatani dua hal / materi utama dalam matematika sekolah yaitu
geometri dari bilangan (Any Winarsih dkk, 2008: 8).
Untuk membandingkan atau mengukur panjang benda diperlukan alat
ukur. Untuk mengukur panjang buku, pensil, jari, dapat digunakan penggaris.
Untuk mengukur lebar lantai, tinggi rumah, dan meja dapat digunakan
meteran atau rol meter.
Satuan baku yang dipakai untuk ukuran panjang adalah km, hm, dam, m,
dm,cm, dan mm.

Gambar 2.1: Tangga satuan panjang

km = kilometer m = meter mm = milimeter


hm = hektometer dm = desimeter
dam = dekameter cm = sentimeter

15
Dari tangga satuan tersebut didapat:
1km = 10 hm
1 hm = 10 dam
l dam = 10 m, dan seterusnya.
Setiap naik 1 dibagi 10; 2 dibagi 100; 3 dibagi 1000 dst
Contoh :
1 cm = …..m (cm ke m naik 2 tangga sehingga dibagi 100)
1 cm : 100 = 0,01 m
Setiap turun 1 tangga dikali 10; 2 tangga dikali 100; 3 tangga dikali 1000 dst
Contoh :
1 m = ……mm (m ke mm turun 3 tangga sehingga dikali 1000)
1 x 1000 mm = 1000 mm

E. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)


Pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru dalam dunia
pendidikan. Pada awalnya pembelajaran kooperatif digunakan untuk tujuan-
tujuan tertentu seperti: tugas-tugas atau laporan kelompok. Dalam kelas
kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, dan berargumen
untuk mencapai pemahaman yang maksimal.
Model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran
dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara
kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur
kelompoknya yang bersifat heterogen.
Model pembelajaran menurut Suprijono (2010:46) ialah pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas
maupun tutorial.
Trianto (2010:53) mengemukakan bahwa model pembelajaran
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar
tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran
dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.

16
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
menekankan belajar sebagai proses dialog interaktif. Menurut Lie (2010:28),
pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang menekankan bahwa
manusia adalah mahkluk sosial.
Adapun menurut Solihatin dan Raharjo (2008:5), model pembelajaran
kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam
mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di
masyarakat, sehingga dengan bekerja secara bersama-sama di antara sesama
anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas dan perolehan
belajar.
Landasan pemikiran model pembelajaran kooperatif adalah teori
konstruktivis. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan
lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling
berdiskusi dengan temannya. Di dalam kelas kooperatif, iswa belajar bersama
dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang
sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, uku/ras, dan satu sama
lain saling membantu. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota
kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru dan
saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.
Selama belajar secara kooperatif siswa tetap tinggal dalam kelompoknya
selama beberapa kali pertemuan.
Ibrahim, dkk (2000:6-7) menyebutkan bahwa model pembelajaran
kooperatif memiliki empat ciri utama yaitu:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan
materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang,
dan rendah.
c. Anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang
berbeda-beda.
d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

17
Menurut Ibrahim, dkk. (2000:7-10) model pembelajaran kooperatif
memiliki tiga tujuan penting dalam pembelajaran yang hendak dicapai.
a. Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa
dalam tugas-tugas akademik. Model ini unggul dalam membantu siswa
memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini
menunjukkan bahwa model kooperatif telah dapat meningkatkan
penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang
berhubungan dengan hasil belajar.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda
latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain
atas tugas-tugas bersama.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting dari pembelajaran kooperatif ialah mengajarkan kepada
siswa tentang keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Pengembangan
keterampilan sosial bertujuan mengurangi tingkat pertikaian antar individu
yang dapat mengakibatkan tindak kekerasan atau ketidakpuasan.
Menurut Suprijono (2010: 58-62), untuk mencapai hasil yang
maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan.
a. Saling ketergantungan positif
Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif harus ada
dua pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang
ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok
secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut.
b. Tanggung jawab perseorangan
Tanggung jawab perseorangan adalah kunci untuk menjamin semua
anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama. Artinya, setelah
mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus dapat
menyelesaikan tugas yang sama.

18
c. Interaksi promotif
Unsur ini penting karena dapat menghasilkan ketergantungan positif. Ciri-
ciri interaksi positif adalah saling membantu secara efektif dan efisien,
saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan, saling
mengingatkan, dan saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan.
d. Komunikasi antaranggota
Untuk mengorganisasikan kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan, siswa
harus saling mengenal dan mempercayai, berkomunikasi secara akurat dan
tidak ambisius.
e. Pemrosesan kelompok
Pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan kelompok,
dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan
kegiatan dari anggota kelompok. Siapa dari anggota kelompok yang
membantu dan yang tidak membantu.
Unsur pembelajaran kooperatif yang diterapkan harus didukung
lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pembelajaran kooperatif agar
mencapai hasil yang optimal. Suprijono (2010:67) menyebutkan ada sembilan
lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pembelajaran kooperatif.
a. Memberikan kesempatan terjadinya belajar berdemokrasi.
b. Menciptakan iklim sosio emosional yang positif.
c. Meningkatkan penghargaan siswa pada pembelajaran akademik dan
mengubah norma-norma yang terkait dengan prestasi.
d. Mempersiapkan siswa belajar mengenai kolaborasi dan berbagai
keterampilan sosial.
e. Memberi peluang terjadinya proses partisipasi aktif siswa dalam belajar
dan terjadinya dialog interaktif.
f. Memfasilitasi terjadinya learning to live together.
g. Menumbuhkan produktivitas dalam kelompok.
h. Mengubah peran guru dari center stage performance menjadi koreografer
kelompok.
i. Menumbuhkan kesadaran para siswa.

19
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang
menitikberatkan terhadap kerjasama antar siswa untuk mencapai hasil yang
optimal dan tujuan bersama. Agar model pembelajaran kooperatif dapat
berlangsung secara optimal maka unsur–unsur dari pembelajaran kooperatif
harus dipenuhi oleh semua anggota kelompok dan lingkungan belajar yang
mendukung. Tujuan dari pembelajaran ini selain meningkatkan keterampilan
sosial juga mampu meningkatkan prestasi belajar/hasil akademik siswa, dan
penerimaan terhadap perbedaan individu.

F. Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)


Prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidaklah berubah meskipun
mempunyai beberapa variasi dalam penerapannya. Beberapa tipe model
pembelajaran kooperatif yaitu Think Pair and Share (TPS), Jigsaw, Group
Investigation (GI), dan Numbered Heads Together (NHT). NHT adalah jenis
pembelajaran kooperatif yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa
dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber
yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. Trianto (2007:62) menyebutkan
bahwa NHT pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagan untuk
melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam
suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran.
Menurut Herdian (2009), pembelajaran kooperatif tipe NHT
merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada
struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan
memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Salah satu
interaksi antara siswa dengan guru dalam pembelajaran yaitu:
mengajukan pertanyaan, dan menjawab.
Pendapat lain tentang NHT adalah dari Nur. Menurut Nur (2011:78),
NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok, ciri khasnya
adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya,

20
tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya
itu.
Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru
menggunakan struktur empat fase sebagai sintaks NHT. Menurut Trianto
(2007:62–63) sintaks pembelajaran kooperatif tipe NHT terdiri dari empat
langkah.
a. Penomoran
Dalam fase ini, guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-6 orang dan
kepada setiap anggota kelompok diberi nomor 1-6.
b. Pengajuan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat
bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya
atau berbentuk arahan.
c. Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan
meyakinkan tiap anggota dalam kelompok mengetahui jawabannya.
d. Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya
sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan
untuk seluruh kelas.
Setiap pendekatan, strategi, model pembelajaran maupun tipe dari
model tersebut memiliki kelebihan masing-masing, begitu juga dengan tipe
NHT. Hill dalam Ali (2010) menyebutkan ada sembilan kelebihan NHT.
a. Dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
b. Mampu memperdalam pamahaman siswa
c. Menyenangkan siswa dalam belajar
d. Mengembangkan sikap positif siswa
e. Mengembangkan sikap kepemimpinan siswa
f. Mengembangkan rasa ingin tahu siswa
g. Meningkatkan rasa percaya diri siswa
h. Mengembangkan rasa saling memiliki

21
i. Serta mengembangkan keterampilan untuk masa depan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa NHT sebagai salah satu
tipe model pembelajaran kooperatif merupakan variasi untuk meningkatkan
pemahaman siswa. NHT terdiri dari empat sintaks yaitu:
penomoran, pengajuan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab. NHT
memiliki beberapa kelebihan yaitu dapat meningkatkan prestasi belajar siswa,
mengembangkan sikap positif siswa, mengembangkan sikap kepemimpinan,
dan memperdalam pemahaman siswa.

G. Kerangka Berpikir
Matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap paling sulit
oleh sebagian besar siswa. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya alat peraga
untuk menunjang keberhasilan siswa dalam belajar. Siswa merasa kesulitan
dalam memahami konsep-konsep yang dijelaskan oleh guru. Kurang adanya
variasi dalam pembelajaran dan kurangnya keterampilan guru dalam
memberikan bimbingan kepada siswa juga membuat prestasi belajar belum
optimal.
Model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan
sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya
menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu
terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga
cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Dalam pelaksanaan
pembelajaran setelah siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok secara
heterogen, masing–masing siswa menempatkan dirinya sesuai dengan
kelompok yang telah ditentukan. Selanjutnya tiap siswa dalam satu kelompok
diberi nomor yang berbeda dengan anggota yang lain. Kemudian masing–
masing kelompok mendiskusikan bersama Lembar Kerja Siswa yang
diberikan guru, mereka saling bekerja sama untuk menyelesaikan dan
mengajari anggota kelompok yang belum mengetahui cara mengerjakannya.
Selanjutnya guru memanggil salah satu nomor dari beberapa kelompok secara
random untuk menyampaikan hasil jawaban dari pekerjaan yang telah

22
didiskusikan bersama. Kemudian guru memanggil salah satu nomor dari
kelompok lain untuk memberi tanggapan dilanjutkan pemberian umpan
balik/penguatan oleh guru. Sebelum mengerjakan evalusi, semua siswa
merangkum materi yang telah dipelajari dan memperoleh kesempatan untuk
menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Langkah terakhir adalah menarik
kesimpulan secara bersama–sama antara guru dengan siswa.
Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
diharapkan prestasi belajar siswa meningkat. Tanggung jawab siswa terbina
dengan baik, ketergantungan negatif terhadap siswa lain berkurang karena
adanya sistem panggil tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Siswa akan
terlibat dalam pembelajaran secara totalitas.
Adapun kerangka berpikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Pembelajaran yang dilakukan masih satu arah


(konvensional)
Kondisi awal
2. Penggunaan model yang kurang maksimal
sehingga berpengaruh pada hasil belajar siswa.

Menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe


Pelaksanaan NHT sehingga siswa terlibat dalam pembelajaran
PTK secara totalitas. Langkah NHT: penomoran,
mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan
menjawab.

Kondisi 1. Aktivitas belajar siswa meningkat.


Akhir 2. Hasil belajar siswa meningkat.

Gambar 2.2: Kerangka Berpikir dari Penelitian

23
H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil suatu hipotesis tindakan
bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan prestasi
belajar matematika pada materi hubungan antar satuan panjang untuk siswa
kelas IIIB SDN 1 Kutorejo Tuban

24

Anda mungkin juga menyukai