0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Rencana Pembelajaran Sejarah Islam Kelas IX

Dokumen ini adalah rencana pembelajaran untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Negeri 4 Boyolali, kelas IX, yang mencakup berbagai periode dalam sejarah Islam dan strategi dakwah di Indonesia. Pembelajaran dirancang dengan pendekatan yang memperhatikan karakteristik murid dan melibatkan berbagai metode pedagogis, serta penilaian yang komprehensif. Tujuan utama adalah membangun kesadaran dan kemampuan kritis peserta didik terhadap nilai-nilai Islam dan sejarahnya di Nusantara.

Diunggah oleh

bisnisagung1981
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Rencana Pembelajaran Sejarah Islam Kelas IX

Dokumen ini adalah rencana pembelajaran untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Negeri 4 Boyolali, kelas IX, yang mencakup berbagai periode dalam sejarah Islam dan strategi dakwah di Indonesia. Pembelajaran dirancang dengan pendekatan yang memperhatikan karakteristik murid dan melibatkan berbagai metode pedagogis, serta penilaian yang komprehensif. Tujuan utama adalah membangun kesadaran dan kemampuan kritis peserta didik terhadap nilai-nilai Islam dan sejarahnya di Nusantara.

Diunggah oleh

bisnisagung1981
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENDALAM

A. Informasi Umum
Satuan Pendidikan MTs Negeri 4 Boyolali
Kelas /Semester IX / Semester Gasal
Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Elemen Periode Rasulullah saw.
Periode Khulafaurasyidin
Periode Klasik (650 M-1250 M)
Periode Pertengahan (1250 M-1800 M)
Periode Islam di Nusantara
Alokasi Waktu 2 JP (2 x 40 Menit)

B. Identifikasi
Karateristik Murid Murid mempunyai Tingkat kemampuan yang heterogen dan
memiliki tipe gaya belajar yang berbeda ( auditori, visual dan
kinestetik)
Materi pelajaran Periode Islam di Nusantara
Dimensi profil Lulusan * 1. Keimanan dan ketaqwaan terhadap tuhan YME ✅
2. Kewargaan ✅
3. Kolaborasi ✅
4. Kemunikasi ✅
5. Penalaran Kritis ✅
6. Kemandirian ✅
7. Keativitas ✅
8. Kesehatan
Kurikulum Cinta 1. Cinta Allah dan Rasul ✅
2. Cinta Sesama ✅
3. Cinta Ilmu✅
4. Cinta Budaya Lokal✅
5. Cinta Perdamaian✅

C. Desain pembelajaran
Capaian Pembelajaran Fase D diperuntukan bagi peserta didik kelas VII, VIII dan IX.
Pada fase ini ada 5 fase yang menjadi tema pembelajaran, yakni
periode Rasulullah saw., periode Khulafaurasyidin, Islam pada
periode klasik, Islam pada periode pertengahan dan periode Islam
di Nusantara.

Pada periode Rasulullah saw., peserta didik mampu menganalisis


misi dan strategi dakwah Rasulullah saw. di Mekah dan Madinah
sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagai inspirasi dalam
menerapkan semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah,
ukhuwah Insaniyah, dan ukhuwah wathaniyah dalam
kebhinnekaan.
Pad a Elemen periode Khulaf aurasyidin, peserta didik mampu
menganalisis berbagai peristiwa yang terjadi pada masa
Khulafaurasyidin sebagai inspirasi dalam menerapkan sikap saling
menghargai dan menghormati perbedaan pendapat di kehidupan
masa kini dan masa depan.
Pada elemen periode klasik peserta didik mampu menganalisis
perkembangan peradaban Islam di masa Daulah Umayyah,
meneladani peran ilmuwan muslim dalam menumbuhkembangkan
kreativitas jiwa pembelajar, serta meneladani jiwa kepemimpinan
Umar bin Abdul Aziz dalam menjunjung tinggi nilai keadilan dan
prinsip demokrasi di kehidupan masa kini dan masa depan.
Menganalisis sejarah berdiri dan berkembangnya peradaban Islam
pada masa Daulah Abbasiyah, meneladani peran ilmuwan serta
ulama sebagai inspirasi dalam memajukan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan menjunjung tinggi nilai agama demi kemajuan
peradaban bangsa.
Pada periode pertengahan peserta didik mampu menganalisis
sejarah berdiri dan berkembangnya peradaban Islam pada masa
Daulah Ayyubiyah, meneladani peran ilmuwan dalam kemajuan
peradabannya, meneladani sikap keperwiraan serta kepemimpinan
Salahudin Al-Ayyubi sebagai inspirasi dalam memegang teguh
prinsip toleransi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada periode Islam di Nusantara, peserta didik mampu
menganalisis sejarah penyebaran Islam di Nusantara, peran Wali
Sanga dan pesantren dalam dakwah Islam di Nusantara, nilai-nilai
kearifan lokal, serta meneladani pendiri organisasi kemasyarakatan
Islam sebagai inspirasi dalam menumbuhkan dan merawat
nas1onalisme di lingkungannya.

Lintas Disiplin Ilmu IPS, PPKn, Seni Budaya


Tujuan pembelajaran 1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya
mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam
yang telah dibangun oleh Rasulullah saw. dalam rangka
mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
2. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu
dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau,
masa kini, dan masa depan.
3. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah
secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik
terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban
umat Islam di masa lampau.
5. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil
ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani
tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena
sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain
untuk mengembangkan Kebudayaan dan peradaban Islam.
Topik Pembelajaran 1. Strategi Dakwah Islam di Indonesia Melalui Perdagangan
2. Strategi Dakwah Islam di Indonesia Melalui Perkawinan
3. Strategi Dakwah Islam di Indonesia Melalui Politik
4. Strategi Dakwah Islam di Indonesia Melalui Pendidikan
5. Strategi Dakwah Islam di Indonesia Melalui Kesenian
6. Strategi Dakwah Islam di Indonesia Melalui Tasawuf
Praktik pedagogis Diskusi Kelompok, Problem-Based Learning (PBL), Storytelling &
Role Play
Kemitraan Pembelajaran Guru IPS, Guru Seni Budaya, Guru PPKn
Lingkungan Pembelajaran Lingkungan sekolah, Lingkungan Digital
Pemanfaatan Digital YouTube, Padlet, dan Quizzizz

D. Pengalaman Belajar ( Langkah-langkah Pembelajaran)


Awal ( Mindful) 1. Guru menyapa peserta didik dengan salam hangat dan
senyum tulus.
2. Guru memandu peserta didik untuk duduk dengan
tenang, menarik napas perlahan, menutup mata sejenak,
dan menyadari kehadiran mereka secara utuh di ruang
kelas.
3. Guru memandu doa bersama, dilanjutkan dengan ajakan
membaca niat secara lisan atau dalam hati: “Ya Allah,
aku niat belajar hari ini sebagai ibadah. Bimbinglah aku
agar ilmu yang kupelajari bermanfaat bagi diriku, orang
lain, dan masa depan.”
4. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini secara
eksplisit dan reflektif. Misalnya: “Hari ini kita akan
belajar tentang strategi dakwah Islam di Nusantara. Ini
bukan hanya sejarah, tetapi juga cermin bagaimana
dakwah bisa menyesuaikan budaya, dan menjadi
pelajaran penting untuk kita sebagai generasi penerus.”
5. Guru mengajak peserta didik memikirkan satu tokoh
lokal di sekitar mereka — bisa dari lingkungan desa,
sekolah, atau keluarga — yang mereka kagumi karena
nilai-nilai kebaikan, keislaman, atau perannya dalam
masyarakat. Setelah itu, siswa diminta berbagi cerita
secara lisan atau tertulis tentang tokoh tersebut dan
alasan mereka mengaguminya.
Inti ( Meaningful) Memahami
1. Guru menyajikan video interaktif atau media digital yang
memuat permasalahan nyata terkait tantangan dan strategi
dakwah Islam di Indonesia dalam konteks budaya lokal.
2. Melalui pendekatan Problem-Based Learning (PBL),
peserta didik diajak berpikir kritis terhadap permasalahan
yang disajikan dan menuliskan pertanyaan-pertanyaan awal.
3. Guru memberi penjelasan singkat menggunakan presentasi
digital (seperti Canva atau Google Slides), lalu peserta
didik membuat catatan digital (misalnya dengan Padlet atau
Google Docs).
4. Peserta didik menyimak dengan fokus, mencatat ide pokok,
dan mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi atau
lingkungan sosial mereka.

Mengaplikasi
1. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok beberapa
kelompok, masing-masing mempelajari satu subtopik
strategi dakwah.
2. Peserta didik mencari dan menganalisis informasi dari
berbagai sumber (artikel, video, e-book) menggunakan
perangkat digital seperti laptop atau HP.
3. Kelompok berdiskusi dan merumuskan pemahaman
bersama, kemudian menyusun hasil diskusi dalam bentuk
peta konsep, infografis, atau slide presentasi digital atau
menggunakan canva
4. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses
diskusi dan memberikan penguatan pada pemahaman
peserta didik.

Merefleksi
1. Peserta didik melakukan refleksi individu dengan
menjawab pertanyaan reflektif melalui platform digital
seperti Google Form atau Padlet, seperti: Apa strategi
dakwah yang paling relevan untuk konteks lokalmu?
Bagaimana kamu bisa menerapkan nilai-nilai dakwah
dalam kehidupanmu?
2. Guru memandu peserta didik membuat kesimpulan
bersama, menguatkan konsep strategi dakwah dan
mengklarifikasi miskonsepsi yang muncul selama diskusi.
Penutup ( Joyful) 1. Guru mengapresiasi kontribusi siswa dan membangun
rasa percaya diri mereka.
2. Guru menyampaikan penghargaan terhadap proses,
bukan hanya hasil akhir, dengan menyoroti aspek
positif kolaborasi atau perilaku yang mencerminkan
empati.
3. Guru memberikan ringkasan atau pesan singkat untuk
menguatkan pentingnya kolaborasi dan empati.
E. Penialaian Pembelajaran (Assessment )
1. Assessment as Learning (Penilaian sebagai Observasi
Pembelajaran)
2. Assessment for Learning (Penilaian Selama Produk dan portofolio
Pembelajaran)
3. Assessment of Learning (Penilaian Hasil Test
Belajar)

Sukoharjo,……….2025
Kepala Madrasah Guru mata Pelajaran

…………………………….. ……………………………..
NIP NIP.

LAMPIRAN 1 : MATERI PEMBELAJARAN


A. Strategi Dakwah Islam di Indonesia
Masyarakat Asia Tenggara telah mempunyai peradaban yang tinggi sebelum kedatangan
Islam. Hal demikian dikarenakan kawasan Asia Tenggara terdiri dari negara-negara yang
memiliki kesamaan budaya dan agama. Negara-negara ini, termasuk Indonesia telah
memiliki kontak dengan peradaban bangsa India dan Cina. Tidak hanya dalam aspek
peradabannya saja, tetapi juga adat istiadat, agama dan kepercayaan. Dalam bidang sastra,
ditemukan buku-buku (kitab) kuno seperti kitab suluk yang mengisahkan perjalanan
seorang sufi agar memperoleh ilmu sejati. Kitab lain adalah Kitab Sutasoma, Kitab Negara
Kertagama, dan sebagainya. Paparan tersebut menggambarkan bahwa masyarakat
Indonesia sebelum menerima agama Islam telah mempunyai agama dan kepercayaan yaitu
agama Hindu, Budha, selain animisme dan dinamisme yang telah berkembang lama
sebelumnya. Agama Islam tersebar di seluruh wilayah Indonesia secara periodik, bertahap
dan dengan strategi dakwah yang damai, menyesuaikan diri terhadap adat istiadat penduduk
tanpa paksaan dan kekerasan. Strategi penyebaran agama Islam dilakukan dalam berbagai
media atau jalan, baik melalui perdagangan, pernikahan, pendidikan, ajaran sufi juga
melalui kesenian. Hal ini lah yang menyebabkan agama Islam mudah diterima, faktor lain
adalah agama Islam memberi penghargaan pada sesama manusia dengan tidak
membedakan harkat derajat dan martabat. Menurut Uka Tjandra Sasmita proses masuknya
Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Perdagangan
Strategi dakwah penyebaran agama Islam melalui media perdagangan merupakan
awal proses Islamisasi di Indonesia yaitu pada abad ke-7 M hingga abad ke-16 M,
bangsa Indonesia kedatangan para pedagang Islam dari Arab, Persia, dan India.
Mereka melakukan kegiatan perdagangan di Indonesia dan menjalin hubungan
dagang antara masyarakat Indonesia. Penyebaran agama Islam melalui perdagangan
selain lebih menguntungkan juga sangat efektif dan sesuai dengan karakter
masyarakat wilayah pesisir. Jalur Islamisasi melalui perdagangan dikatakan
menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam aktifitas ini. Para
bupati di pesisir pulau Jawa banyak yang memeluk agama Islam sehingga
memudahkan para pedagang muslim dalam berdakwah. Pada saat itu perdagangan
internasional sebagian besar dikuasai pedagang muslim.
2. Perkawinan
Pedagang muslim yang masuk ke Indonesia dilihat dari segi ekonomi, mereka
mempunyai status sosial yang lebih dibandingkan penduduk pribumi. Interaksi
antara penduduk pribumi dan pedagang muslim yang intens tidak jarang diteruskan
dengan adanya perkawinan antara kaum pribumi dengan para pedagang muslim.
Selanjutnya dalam prosesi perkawinan pihak pribumi harus mengucapkan kalimat
syahadat sehingga perkawinan ini menjadi media yang efektif dalam penyebaran
agama Islam. Contoh para ulama yang melakukan pernikahan dengan masyarakat
pribumi di antaranya adalah:
Raden Rakhmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, perkawinan antara Sunan
Gunung Jati dengan putri Kawungaten, perkawinan antara Raja Brawijaya dengan
putri Campa yang beragama Islam kemudian berputera Raden Patah yang pada
akhirnya menjadi raja Demak.
3. Politik
Proses Islamisasi melalui media politik dilakukan secara bertahap dan
berkesinambungan antara penguasa dan pemerintahan, setelah penguasa atau
rajanya masuk Islam hampir pasti rakyatnya juga masuk Islam (contoh di Maluku
dan Sulawesi). Selain itu ada kerajaan Islam yang melakukan penaklukan terhadap
kerajaan-kerajaan non-Islam dan kemenangan membuat masyarakat secara bertahap
masuk Islam.
4. Pendidikan
Penyebaran agama Islam melalui pendidikan yang berupa pesantren. Pesantren
menjadi media yang efektif dalam proses Islamisasi di Indonesia. Pesantren selain
mengajarkan ilmu agama juga keterampilan hidup yang lain. Selain itu juga menjadi
tempat menempa ilmu untuk para calon juru dakwah agama Islam. Di antara
lembaga pendidikan atau pesantren pada masa awal perkembangan Islam adalah
pesantren yang didirikan Sunan Ampel dan juga Sunan Giri yang terkenal sampai
pulau Maluku. Selain itu di lembaga pendidikan pesantren, murid yang sudah
selesai belajar akan dikirim untuk berdakwah ke seluruh penjuru Indonesia.
5. Kesenian
Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah dengan mengadakan
pertunjukan seni gamelan dan wayang. Sebagaimana di ketahui bahwa kesenian
wayang dan gamelan digunakan Walisongo dalam mengembangkan ajaran Islam.
Cara seperti ini banyak ditemui di Yogyakarta, Solo, Cirebon, dan lain-lain. Seni
gamelan banyak digemari masyarakat Jawa dan ini tentu dapat mengundang
masyarakat berkumpul dan selanjutnya dilaksanakan dakwah Islam.
6. Tasawuf
Para Sufi mengajarkan tasawuf yang diramu dengan ajaran yang sudah dikenal oleh
masyarakat Indonesia. Seorang sufi biasa dikenal dengan hidup dalam
kesederhanaan, mereka selalu menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup
bersama di tengah-tengah masyarakatnya. Banyak hal yang penting untuk diketahui
mengapa agama Islam berkembang pesat dan mudah diterima oleh masyarakat
Indonesia antara lain:
a. Agama Islam bersifat terbuka, sehingga penyiaran dan pengajaran agama
Islam dapat dilakukan oleh setiap orang Islam.
b. Penyebaran Agama Islam dilakukan dengan cara damai.
c. Islam tidak mengenal diskriminasi dan tidak membedakan kedudukan
seseorang dalam masyarakat.
d. Perayaan-perayaan dalam agama Islam dilakukan dengan sederhana.
e. Dalam Islam dikenal adanya kewajiban mengeluarkan zakat yang bertujuan
untuk menciptakan kesejahteraan kehidupan masyarakatnya dengan adanya
kewajiban zakat bagi yang mampu.
LAMPIRAN 2 : SOAL PENILAIAN

A. Penilaian Awal ( Penilaian Diagnostik)


1. Menurutmu, bagaimana awal mula Islam masuk ke Indonesia?
2. Sebutkan salah satu tokoh atau kelompok yang kamu tahu ikut menyebarkan Islam di
Indonesia!
3. Bagaimana cara dakwah Islam dilakukan di masa awal penyebaran? Apakah dengan
kekerasan atau pendekatan damai? Mengapa menurutmu demikian?
4. Pernahkah kamu melihat contoh dakwah di lingkungan sekitar (desa, keluarga, media
sosial)?
B. Penilaian selama proses Pembelajaran ( Penilaian Formatif)
1. Setelah menayangkan google slide atau canva mengenai strategi dakwah penyebaran
Islam, guru memberikan pertanyaan mengenai materi yang ditayangkan seperti:
a. Melalui apa saja proses masuknya Islam di Indonesia?
b. Bagian mana yang membuatmu tertarik dengan proses masuknya Islam di Indonesia?
Mengapa?
2. Guru mengamati proses siswa dalam membuat Canva memberikan bimbingan dan umpan
balik.
C. Penilaian Akhir (Sumatif)
1. Strategi dakwah melalui perdagangan sangat berperan penting dalam penyebaran Islam di
Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh aktivitas para pedagang Muslim di Nusantara yang tidak
hanya berdagang tetapi juga menyampaikan nilai-nilai Islam. Apa keunggulan utama
strategi ini dibanding strategi dakwah lainnya?
A. Pedagang Muslim memiliki pengaruh besar terhadap para penguasa setempat.
B. Strategi ini memungkinkan Islam disebarkan secara luas tanpa adanya paksaan.
C. trategi ini menjangkau kalangan elite kerajaan yang memiliki kekuasaan.
D. Penyebaran Islam hanya berpusat di pelabuhan utama sebagai jalur perdagangan.
E. Strategi ini memanfaatkan kebiasaan masyarakat yang sudah mengenal tasawuf.
2. Salah satu faktor keberhasilan dakwah melalui strategi politik adalah peran para raja yang
masuk Islam. Apa dampak dari masuknya para raja ke dalam agama Islam terhadap proses
dakwah di masyarakat?
A. Para raja membangun masjid besar di wilayah mereka untuk memaksakan kepercayaan
baru.
B. Agama Islam hanya dianut oleh kalangan bangsawan tanpa pengaruh signifikan ke
rakyat.
C. Rakyat lebih mudah menerima Islam karena pengaruh raja sebagai pemimpin mereka.
D. Penyebaran Islam menjadi terbatas hanya di kalangan kerajaan dan militer.
E. Perubahan sistem pemerintahan menjadi lebih otoriter untuk mendukung dakwah.
3. Strategi dakwah melalui pendidikan menjadi salah satu cara yang efektif untuk
menyebarkan Islam. Apa yang menjadikan pendidikan sebagai strategi yang berkelanjutan
dalam proses dakwah Islam?
A. Pendidikan hanya melibatkan kalangan elite yang lebih mudah dipengaruhi.
B. Pendidikan menghasilkan individu yang mampu menyebarkan dakwah lebih luas.
C. Strategi ini menekankan pengajaran ilmu tasawuf yang menarik perhatian masyarakat.
D. Proses pendidikan terbatas pada pesantren sehingga sulit dijangkau masyarakat umum.
E. Sistem pendidikan Islam lebih menekankan penghafalan Al-Qur'an tanpa penjelasan.
4. Strategi dakwah melalui perkawinan menjadi media penyebaran Islam yang unik.
Mengapa strategi ini dinilai efektif dalam konteks masyarakat tradisional Indonesia?
A. Perkawinan hanya melibatkan kalangan bangsawan sehingga cepat tersebar.
B. Perkawinan memberikan kesempatan untuk mengajarkan Islam secara langsung kepada
pasangan.
C. Perkawinan mempererat hubungan antar kelompok masyarakat yang berbeda budaya.
D. Strategi ini mengutamakan penyebaran Islam melalui penyatuan ekonomi keluarga.
E. Perkawinan memungkinkan tersebarnya ajaran Islam secara sistematis melalui
perjanjian kerajaan.
5. Tasawuf menjadi salah satu strategi dakwah yang sangat populer di Indonesia pada masa
awal penyebaran Islam. Apa alasan tasawuf dapat diterima dengan baik oleh masyarakat
Indonesia yang sebelumnya menganut kepercayaan lokal?
A. Ajaran tasawuf memiliki kemiripan dengan konsep spiritual dalam kepercayaan lokal.
B. Tasawuf menekankan kekuasaan Allah yang bertentangan dengan kepercayaan lokal.
C. Ajaran tasawuf hanya diterapkan di kalangan ulama dan pemuka agama.
D. Dakwah tasawuf memanfaatkan perdagangan sebagai medianya.
E. Tasawuf memprioritaskan ajaran hukum Islam daripada nilai spiritual.

LAMPIRAN 3 : RUBRIK PENILAIAN


Berikut adalah rubrik penilaian untuk aspek proses, produk, dan refleksi yang
dijelaskan dalam Perencanaan Pembelajara:

A. Penilaian Proses (Diskusi Kelompok)

Aspek Kriteria (4) Kriteria (3) Kriteria (2) Kriteria (1)

Semua anggota Sebagian


Hanya
aktif besar anggota Tidak ada
beberapa
berkontribusi, berkontribusi kolaborasi;
Kolaboras bekerja sama anggota yang
dengan baik sebagian
i dengan berkontribusi
dan besar
baik, dan dan ada
menghargai anggota
mengharg ketegangan
pendapat. pasif.
ai Menyampaikan dalam kerja
Menyampaikan Tidak
ide dengan baik, Komunikasi
ide dengan jelas, berkomunika
namun tidak sering tidak jelas
Komunika
sopan, dan saling si dengan
si selalu sopan atau kurang
mendukung. baik, kurang
atau sopan.
mendukung. sopan.
Setiap siswa aktif Sebagian Hanya Hampir semua
Partisipas
sepanjang besar siswa sebagian siswa tidak
i
kegiatan. aktif. siswa yang aktif.

B. Penilaian Produk (Hasil Kelompok)


Aspek Kriteria (4) Kriteria (3) Kriteria (2) Kriteria (1)

Produk sangat Produk tidak


Produk cukup Produk
Kreativitas kreatif, menunjukka
kreatif dan kurang
inovatif, dan n
menarik. kreatif.
menarik. kreativitas.

Aspek Kriteria (4) Kriteria (3) Kriteria (2) Kriteria (1)

Semua sifat
aturan sinus Sebagian besar Banyak
Ketepatan dan cosinus Hampir
konsep disajikan konsep yang
Konsep disajikan semua
dengan benar. kurang tepat.
dengan benar. konsep
salah.
Produk cukup
Produk Produk
terstruktur, Produk sangat
Keterpadu terstruktur, jelas, namun beberapa kurang
an tidak
dan mudah terstruktur
bagian kurang terstruktur.
dipahami. dan sulit
jelas.
dipahami.
C. Penilaian Refleksi
Aspek Kriteria (4) Kriteria (3) Kriteria (2) Kriteria (1)

Jawaban Tidak ada


Jawaban sangat Jawaban cukup
dangkal dan upaya untuk
Isi mendalam, mendalam,
kurang merefleksikan
Refleksi mencakup namun kurang
mencerminkan proses
analisis diri dan analisis
proses pembelajaran.
kelompok. diri/kelompok.
pembelajaran.
Mengapresiasi Tidak ada
Mengapresiasi Mengapresia
beberapa apresiasi
Apresia semua anggota anggota
si sedikit
untuk
si dengan alasan anggota
dengan alasan anggota
jelas. tanpa alasan.
kurang jelas. kelompok.
Skala Nilai
 4 = Sangat Baik
 3 = Baik
 2 = Cukup
 1 = Perlu Perbaikan

Anda mungkin juga menyukai