Volume 5, Nomor 2, Desember 2023
P-ISSN: 2654-4695
E-ISSN: 2654-7651
Menilik Fenomena FoMO (Fear of Missing Out)
pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau
Fitria Mayasari1,Nurrahmi2
1,2
Universitas Muhammadiyah Riau
Email: [Link]@[Link]
Abstract: As a generation that grew up in the era of internet and digital advances, millennial
generation teenagers are teenagers who are always connected to each other. The increasing
use of social media among young people has given rise to many new phenomena, such as
cancel culture, catfishing, cyberbullying, fear of missing out (FoMO), and others. One
interesting thing is the FoMO phenomenon. FoMO can interfere with someone in carrying out
activities or activities of daily life which can threaten the individual's social activities. The
aim of this research is to examine the phenomenon (Fear of Missing Out) in UMRI
Communication Science Study Program Students. This research uses a qualitative approach.
The approach used in this research is Husserl's phenomenology, which is a combination of
psychology and logic. Phenomenology builds psychological explanations and analyzes of
types of subjective mental activity, experience, and conscious action. The data collection
method uses observation and interviews on the FoMO scale. The subjects of this research
were 5 people, namely students from the UMRI Faculty of Communication Sciences who
experienced fear of missing out on moments based on the FoMO scale that had been filled in.
The research results show that the fear of missing the moment among UMRI Communication
Faculty students arises because excessive social media can make students experience FoMO,
students who experience FoMO are influenced by environmental factors and feel less satisfied
with what they have.
Keywords: FoMO; phenomenon; Instagram; student
Abstrak: Sebagai generasi yang tumbuh dalam era kemajuan internet dan digital, remaja
generasi milenial merupakan remaja yang selalu terhubung satu sama lain. Meningkatnya
penggunaan media sosial di kalangan muda menimbulkan banyak fenonema baru, seperti
cancel culture, catfishing, cyberbullying, fear of missing out (FoMO), dan lain-lain. Salah
satu yang menarik adalah fenomena FoMO. FoMO dapat mengganggu seseorang dalam
melakukan kegiatan atau aktivitas kehidupan sehari-hari yang dapat mengancam aktivitas
sosial individu tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilik fenomena (Fear of
Missing Out) pada Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMRI. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fenomenologi
Husserl, yaitu gabungan antara psikologi dan logika. Fenomenologi membangun penjelasan
dan analisis psikologis tentang tipe-tipe aktivitas mental subjektif, pengalaman, dan tindakan
sadar. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara skala FoMO.
Subjek penelitian ini sebanyak 5 orang yaitu Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UMRI
yang mengalami ketakutan akan kehilangan moment berdasarkan skala FoMO yang telah
diisi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketakutan akan kehilangan momen pada Mahasiswa
Fakultas Ilmu Komunikasi UMRI muncul karena media sosial yang berlebihan dapat
membuat mahasiswa mengalami FoMO, mahasiswa yang mengalami FoMO terpengaruh dari
faktor lingkungan mereka dan merasa kurang puas dengan apa yang mereka miliki.
Kata kunci: FoMO; fenomena; Instagram; mahasiswa
75
Pendahuluan
Perkembangan media sosial saat ini begitu pesat. Tiap tahunnya pengguna media sosial
terus meningkat. Seiring dengan munculnya beragam platform media sosial, seperti TikTok,
Instagram, Twitter, Facebook dan aplikasi lainnya. Penggunaan jejaring sosial semakin
memudahkan pengguna untuk mempresentasikan dirinya maupun untuk terus terhubung
dengan orang lain dalam berbagai hal. Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 215,63 juta orang pada
periode 2022-2023. Jumlah tersebut meningkat 2,67% dibandingkan pada periode
sebelumnya yang sebanyak 210,03 juta pengguna. Jumlah pengguna internet tersebut setara
dengan 78,19% dari total populasi Indonesia yang sebanyak 275,77 juta jiwa. Persentasenya
lebih tinggi 1,17% poin dibandingkan pada 2021-2022 yang sebesar 77,02%. Berdasarkan
jenis kelaminnya, tingkat penetrasi internet terhadap laki-laki di Indonesia sebesar 79,32%,
angkanya lebih tinggi dibandingkan penetrasi internet kepada perempuan yang sebesar
77,36%. Adapun tingkat penestrasi internet di wilayah perkotaan sebesar 77,36% pada 2022-
2023. Persentasenya pun lebih baik ketimbang di wilayah perdesaan yang sebesar 79,79%.
Sebagai informasi, APJII bersama SRA Consulting melakukan survei terhadap 8.510
responden di seluruh Indonesia pada 10-27 Januari 2023. Survei ini dilakukan menggunakan
metode multistage random sampling dengan tingkat toleransi kesalahan (margin of error)
1,14% dan tingkat kepercayaan 95%. ([Link]
Remaja Indonesia paling banyak menggunakan internet dibandingkan kelompok usia
lainnya. Ini terlihat dari hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di
mana tingkat penetrasi internet di kelompok usia 13-18 tahun mencapai 99,16% pada tahun
2021-2022. Posisi kedua ditempati oleh kelompok usia 19-34 tahun dengan tingkat penetrasi
internet sebesar 98,64%. Tingkat penetrasi internet di rentang usia 35-54 tahun sebesar
87,30%. Tingkat penetrasi internet di kelompok umur 5-12 tahun sebesar 62,43%. Sedangkan
persentasenya di usia 55 tahun ke atas hanya sebesar 51,73%. ([Link]
Meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan muda menimbulkan banyak
fenonema baru, seperti cancel culture, catfishing, cyberbullying, fear of missing out (FoMO)
dan lain-lain. Salah satu yang menarik adalah fenomena FoMO. FoMO pada dasarnya
mengacu pada ketakutan yang luas dan berlebihan, dimana individu tersebut akan
menganggap bahwa ia akan kehilangan kesempatan untuk berinteraksi sosial dan tidak dapat
meraih manfaat yang lebih luas (Przybylski et al., 2013). Penelitian (Ayas, 2013)
menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara kecanduan internet terhadap depresi
dan kesendirian serta kurangnya korelasi antara kecanduan internet dengan self-esteem. Hal
ini menunjukkan semakin tinggi kecanduan internet maka semakin mungkin individu
mengalami gangguan depresi dan kesendirian. Selanjutnya penelitian (Rizki, dkk : 2018)
menunjukkan bahwa media sosial dapat menyebabkan seseorang mengalami FoMO. Adapun
dampak yang ditimbulkan dari ketakutan akan kehilangan momen yang dialami seseorang
antara lain tidak perduli terhadap diri sendiri dan sekitar, karena sibuk dengan smartphone,
terganggunya waktu tidur, terganggunya waktu makan, tidak dapat sepenuhnya menikmati
kebersamaan di dunia nyata dan cenderung merasa kurang dengan apa yang ia miliki.
FoMO dapat mengganggu seseorang dalam melakukan kegiatan atau aktivitas
kehidupan sehari-hari yang dapat mengancam aktivitas sosial individu tersebut, media sosial
76
itu sendiri menjadi wadah untuk menghabiskan waktu bahkan untuk mengikuti kehidupan dan
aktivitas orang lain dan mengabaikan aktivitas diri sendiri demi mengetahui kegiatan yang
orang lain lakukan. Permasalahan yang terjadi seiring perkembangan waktu yang terjadi pada
masyarakat terkait aspek-aspek sosial budaya. FoMO yang timbul akibat kebiasaan yang
dilakukan berulang-ulang sehingga membuat ketergantungaan seseorang agar tidak tertinggal
informasi di media sosial menjadi permasalahan sosial budaya di kalangan masyarakat.
Kota Pekanbaru salah satu kota di Indonesia yang signifikan penggunaan internetnya
dengan jenis konten yang diakses adalah media sosial. Jika dikaitkan dengan fenomena
FoMO, maka masyarakat Kota Pekanbaru termasuk ke dalam masyarakat yang menghabiskan
waktunya untuk mengakses media sosial, dan dapat diasumsikan hal tersebut sudah masuk ke
dalam kategori FoMO, hal ini dibuktikan dari hasil penelitian terdahulu (M. Ali Hasan : 2021)
yang menunjukkan bahwa gambaran FoMO di media sosial pada masyarakat Kota Pekanbaru
khususnya mahasiswa yang ada di Kota Pekanbaru, sebagian besar berada pada tingkat FoMO
sedang dengan jumlah 171 atau 41,8% dan tingkat FoMO terendah adalah kategori sangat
tinggi berjumlah 14 atau 3,4% dari 409 subjek penelitian pada tahun 2021.
Hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti mengenai fenomena FoMO ternyata
juga terjadi pada mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Pekanbaru seperti
di Universitas Muhammadiyah Riau. Merujuk pada penemuan-penemuan di lapangan bahwa
ditemui banyak mahasiswa-mahasiswa yang sedang sibuk dengan gadgetnya. Mereka
menggunakan gawainya untuk membuka media sosial, hal ini dilakukan tidak hanya di dalam
kelas perkuliahan saja tetapi juga dilakukan di luar kelas yang masih mejadi lingkungan
kampus, seperti di Perpustakaan, lorong kelas, di depan ruang kelas, di taman, di masjid, di
kantin ataupun di ruang publik lainnya yang berada di kampus, bahkan banyak terdapat
beberapa mahasiswa yang sedang live di tiktok ataupun instagram, ditemui banyak mahasiswa
yang sedang sibuk membuka ponselnya bahkan ada yang sembari mengisi daya ponselnya,
seakan tidak bisa terlepas dari gadget yang digunakannya. Mereka memanfaatkan gadgetnya
untuk tetap terhubung dengan media sosial. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini
adalah untuk menilik fenomena FoMO (Fear of Missing Out) yang terjadi pada Mahasiswa
Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, untuk mencari dan menemukan
pengertian atau pemahaman tentang fenomena mengenai apa yang dialami oleh subjek
penelitian, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa dalam suatu latar yang
berkonteks khusus dan alamiah (Lexy J Moleong, 2016). Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah fenomenologi Husserl, yaitu gabungan antara psikologi dan logika.
Fenomenologi membangun penjelasan dan analisis psikologis tentang tipe-tipe aktivitas
mental subjektif, pengalaman, dan tindakan sadar.
Teknik untuk pengumpulan data merupakan cara yang dilakukan untuk memperoleh
data dan keterangan-keterangan yang diperlukan di dalam penelitian. Teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara skala FoMO.
Subjek dalam penelitian ini yaitu mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMRI dengan kriteria
(1) Mahasiswa Ilmu Komunikasi Usia 18-24 Tahun, (2) Informan sering menggunakan gadget
77
dalam aktivitas sehari-hari, (3) Aktif dalam media sosial dan (4) Memiliki waktu untuk di
wawancarai dan dimintai informasi.
Tabel 1. Data Informan
No Inisial Nama Usia Keterangan
1 VS 20 Aktif di medsos
2 ND 24 Aktif di medsos
3 RK 21 Aktif di medsos
4 AP 21 Aktif di medsos
5 MIP 23 Aktif di medsos
Sumber: Data Peneliti, 2023
Hasil dan Pembahasan
Fear of Missing Out merupakan sebuah fenomena yang terjadi ketika seseorang
menganggap orang lain memiliki pengalaman atau aktivitas yang lebih berharga dan
menyenangkan. Hal tersebut menyebabkan rasa iri dan keinginan untuk terus mencari tahu
mengenai yang orang lain lakukan. FoMO merupakan sindrom kecemasan sosial yang
ditandai dengan keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain
(Przypylsky, A.K., Murayama, K., DeHan, C.R & Gladwell, V, 2013).
Istilah FoMO dalam jurnal (Carolina Monica & Gayes Mahestu, 2020) merupakan
sebuah ketakutan dan kecemasan dari seseorang yang merasa bahwa akan ada sebuah
kejadian menarik dan menyenangkan yang akan terjadi di suatu tempat sehingga
menimbulkan keinginan kompulsif dari seseorang untuk mengharuskan dirinya berada di
lokasi dan ikut mengalami kejadian yang ada di sana. FoMO tidak termotivasi dari apa yang
akan didapatkan namun dari apa yang akan terlewatkan dari lingkungan sekitar. Fear of
Missing Out atau FoMO merupakan salah satu fenomena dimana individu merasakan
ketakutan ketika tertinggal informasi yang beredar di media sosial (Yusriyah, 2021).
(Przypylsky, A.K., Murayama, K., DeHan, C.R & Gladwell, V, 2013) menyatakan bahwa
mereka yang mengalami FoMO di media sosial ternyata mengalami pemuasan kebutuhan,
mood, dan kepuasan hidup yang rendah dalam kehidupan nyata. Keterikatan dengan media
sosial tertentu sampai menimbulkan fenomena FoMO menjadi sangat berbahaya karena
individu bisa berprilaku irasional untuk mengatasi FoMO-nya, misal untuk terus melakukan
pemantauan obsesif terhadap media sosial saat mengemudikan kendaraan. Bagi individu
semacam ini terasa tidak bisa terpisahkan sedikitpun dari smartphone dan media sosial
sasaran, dan merasa galau jika tidak tahu berita terbaru atau bila ada teman yang
mempertanyakan mengapa ia tidak tahu berita terbaru. Konsekuensi negatif dari FoMO bagi
remaja adalah masalah identitas diri, kesepian, gambaran diri negatif, perasaan inadekuat,
perasaan terpinggirkan, dan iri hati.
Individu yang mengalami FoMO cenderung memiliki rasa cemas disaat teman-
temannya dapat melakukan sesuatu yang lebih, mengetahui sesuatu yang baru, atau memiliki
hal yang lebih banyak dibandingkan dirinya. Sebagai dampak dari perkembangan teknologi
dan internet, sindrom ini telah membawa manusia pada posisi determinasi terhadap kebutuhan
akan telekomunikasi. Situs media sosial telah menjadi faktor yang berkontribusi besar
terhadap sensasi FoMO. Orang mengembangkan perasaan dan emosi negatif dari situs media
78
sosial karena iri terhadap postingan dan kehidupan orang lain. Media sosial telah menciptakan
tempat yang mudah diakses dan pusat bagi orang-orang yang update untuk mencari tahu apa
yang dilakukan orang lain pada saat itu.
Seperti yang dikemukakan (Kotler, Kevin Lane Keller, 2012) media sosial adalah
sarana bagi konsumen untuk berbagi informasi teks, gambar, video dan audio dengan satu
sama lain dan perusahaan dan sebaliknya. Penelitian ini akan menggunakan teori
fenomenologi sebagai landasan berpikir untuk dapat menjawab rumusan masalah. Teori ini
merupakan teori yang berhubungan dengan pengalaman hidup seseorang untuk mempelajari
bagaimana secara subjektif merasakan pengalaman dan memberikan makna dari fenomena
tersebut.
Secara etimologis, fenomenologi berasal dari kata Yunani yaitu phainomenon merujuk
pada arti yang menampak. Fenomena adalah fakta yang disadari dan masuk ke dalam
pemahaman manusia. Sehingga objek ada dalam relasi kesadaran (Kuswarno Engkus, 2009).
Fenomenologi menurut Husserl adalah gabungan antara psikologi dan logika. Fenomenologi
membangun penjelasan dan analisis psikologis tentang tipe-tipe aktivitas mental subjektif,
pengalaman, dan tindakan sadar. Namun, pemikiran Husserl tersebut masih membutuhkan
penjelasan yang lebih lanjut khususnya mengenai “model kesengajaan”. Pada awalnya,
Husserl mencoba untuk mengembangkan filsafat radikal atau aliran filsafat yang menggali
akar-akar pengetahuan dan pengalaman. Hal ini didorong oleh ketidakpercayaan terhadap
aliran positivistik yang dinilai gagal memanfaatkan peluang membuat hidup lebih bermakna
karena tidak mampu mempertimbangkan masalah nilai dan makna. Fenomenologi berangkat
dari pola pikir subjektivisme yang tidak hanya memandang dari suatu objek yang tampak
namun berusaha menggali makna di balik setiap gejala tersebut.
Saat ini fenomenologi dikenal sebagai suatu disiplin ilmu yang kompleks, karena
memiliki metode dan dasar filsafat yang komprehensif dan mandiri. Fenomenologi juga
dikenal sebagai pelopor pemisah antara ilmu sosial dari ilmu alam, yang mempelajari struktur
tipe-tipe kesadaran yang dinamakan dengan “kesengajaan” oleh Husserl. Struktur kesadaran
dalam pengelaman pada akhirnya membuat makna dan menentukan isi dari penampakannya.
Fenomenologi adalah ilmu tentang penampakan fenomena. Artinya, semua perbincangan
tentang esensi dibalik penampakan dibuang jauh-jauh. Ilmu tentang penampakan berarti ilmu
tentang apa yang menampakkan diri pada pengalaman subyek. Tak ada penampakan yang
tidak dialami, hanya dengan berkonsentrasi pada apa yang tampak dalam pengalaman, maka
esensi dapat dirumuskan dengan jernih (Adian, 2010).
Fenomena dapat dipandang dari dua sudut. Pertama, fenomena selalu menunjuk ke luar
atau berhubungan dengan realitas di luar pikiran. Kedua, fenomena dari sudut kesadaran kita,
karena fenomenologi selalu berada dalam kesadaran kita. Oleh karena itu dalam memandang
fenomena harus terlebih dahulu melihat penyaringan rasio, sehingga mendapatkan kesadaran
yang murni.
Kehadiran media sosial sebagai sarana komunikasi dapat memberikan kebebasan bagi
setiap individu untuk mengekspresikan diri, memberikan dan menerima informasi atau
menimbulkan masalah baru terkait fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Selain itu fungsi
media juga sebagai sarana untuk membangun hubungan atau relasi. Berdasarkan fungsi media
sosial dan perkembangan media sosial menjadikan media sosial sebagai kebutuhan sehari-hari
79
bagi masyarakat terkhusus kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas
Muhammadiyah Riau (UMRI) yang hidup di era digital, membuat mereka terbiasa
berhubungan dengan media sosial. Membuat gaya hidupnya dapat berubah. Tidak hanya itu
tuntutan dari dunia perkuliahan juga membuat mahasiswa harus tetap adaptif dengan media
sosial agar dapat survive di tengah perubahan dan persaingan arah dunia kerja yang semakin
cepat.
Disisi lain media sosial membawa dampak negatif. Salah satu isu yang eksis dan tren
yang sedang terjadi saat ini dapat kita lihat dari interaksi secara langsung cenderung menurun
karena setiap orang sibuk dengan kehidupan maya, yang dipicu dengan adanya
ketergantungan dari media sosial sehingga mereka lupa dengan kehidupan mereka yang
sebenarnya. Banyaknya mahasiswa yang bersifat apatis dengan lingkungan sekitarnya.
Mereka sering mengabaikan hal yang terjadi di sekitar mereka. Dan lebih mementingkan
kehidupan di media sosialnya. Mereka merasa cemas karena merasa tertinggal tidak update.
Kondisi ini disebut Fear of Missing Out (FoMO). FoMO didefinisikan sebagai rasa takut
ketika tidak berhubungan dengan individu lain melalui media sosial.
Istilah FoMO ini tanpa disadari dirasakan oleh tiap individu dan saling memengaruhi
satu sama lain di lingkungan masyarakat. Hal ini terjadi dikarenakan media sosial sudah
menjadi kebutuhan dan gaya hidup sehari-hari masyarakat. Media sosial juga dijadikan ajang
untuk mendapatkan validasi dari teman-teman media sosial, sehingga tidak heran kita sering
melihat dalam kehidupan sehari-hari beberapa masyarakat yang sibuk dengan diri sendiri
untuk mengakses sosial medianya disegala tempat dan situasi. Bahkan tidak jarang tempat
yang mengharuskan mereka untuk bersosialisasi di lingkungan kampus atau tempat umum
[Link] media sosial yang sering diakses oleh individu pengidap FoMO
biasanya mereka menggunakan media sosial yang terkoneksi langsung orang terdekat serta
serta dunia luar yang memiliki berbagai fitur seperti Facebook, Instagram, Twitter (X), dan
TikTok.
Pada penelitian ini pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh subjek dinilai penting
karena berkaitan dengan fenomena yang diteliti kemudian dikategorikan dan diklasifikasikan
berdasarkan tema tertentu sehingga membantu peneliti menganalisis fenomena yang dikaji.
Tema-tema tersebut menjadi patokan peneliti untuk menilik fenomena FoMO (Fear of
Missing Out) pada Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau,
sehingga dapat menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan.
Subjek VS (Usia 20 tahun)
Subjek VS merupakan mahasiswa aktif di kampus, selama kuliah pernah terlibat di
organisasi kampus seperti BEM Fakultas, Hima Prodi maupun kegiatan lainnya. Dalam media
sosial subjek VS menggunakan berbagai media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok,
dan media sosial lainnya, yang membuat subjek VS tidak bisa membendung dirinya untuk
mengikuti tren. Subjek VS selalu melakukan berbagai cara untuk terlihat baik terkhusus di
media sosial. Semua aktivitas-aktivitas subjek VS selalu diperlihatkan di media sosial. Subjek
VS selalu melakukan pemantauan di media sosial seperti nge-scroll media sosial melihat apa
yang orang lain lakukan dan terlihat subjek VS sangat ingin untuk mengikuti tren tersebut.
Tiada kata jenuh untuk subjek VS untuk menghabiskan waktu dengan media sosialnya,
80
bahkan subjek VS sampai lupa waktu membuka media sosial. Disaat bangun tidurpun yang
pertama kali subjek VS lakukan adalah mengecek handphone dengan membuka media
sosialnya. Subjek VS bahkan sempat menggunggah story di media sosialnya. Dalam setiap
harinya subjek VS pasti membuat story di media sosialnya. Subjek VS ingin dilihat baik oleh
orang lain.
Lingkungan sehari-hari yang dihadapi subjek VS rata-rata pengguna aktif media sosial
maka dari itu subjek VS terbawa kebiasaan itu sampai subjek VS mengalami sindrom FoMO
dan lagi karena kebutuhan saat ini yang mengharuskan seseorang menggunakan gadget untuk
media belajar. Gadget ini dimanfaatkan untuk mencari informasi terkait pembelajarannya,
maka mau tidak mau seseorang pasti akan kenal dnegan media sosial, mecari tahu apa yang
sedang tren atau marak dibicarakan di media sosial, seperti apa yang dialami oleh subjek VS.
subjek VS tidak bisa jauh dari gadgetnya walau hanya sedetik saja. Subjek VS selalu
membawa gadgetnya kemanapun dia pergi. Aktivitas itu dilakukan sejak bangun tidur,
sebagaimana hasil wawancara berikut:
“Aku tu gak pernah lekang dari hp, mungkin 10 kali lebih lah aku buka tutup hp,
bangun tidur yang aku cari duluan itu hp, kadang sampe berjam-jam aku
keasyikan main hp baru baru lah aku beranjak dari tempat tidur, kalo gak mikirin
kuliah ya asyik sama hp aja” (wawancara dengan VS, 13 Oktober 2023).
Subjek ND (Usia 24 tahun)
Subjek ND juga merupakan mahasiswa aktif di kampus yang juga mengikuti beberapa
organisasi di kampus. Subjek ND merupakan seorang pengguna aktif media sosial. Subjek
ND selalu mengikuti perkembangan yang ada di media sosial dan tidak pernah lepas dengan
gadgetnya, selalu ingin tahu apa yang orang lain lakukan di media sosial. Pernah subjek ND
suatu waktu melihat sebuah fenomena yang sedang tren di TikTok dan mendapatkan banyak
perhatian dari netizen. Subjek ND berusaha untuk menirunya agar subjek ND juga
mendapatkan pengakuan dari netizen bahwa subjek ND tren di media sosial. Hal ini
menunjukkan bahwa subjek ND akan berusaha melakukan segala cara agar dikenal oleh orang
banyak. Subjek ND juga tidak pernah lupa untuk menceritakan momen-momen kesehariannya
di media sosial.
Subjek ND merasa semua bisa dilakukan di smartphone, subjek ND tidak bisa lepas
dari smartphone-nya. Subjek ND selalu membawa smartphone ke mana-mana. Menurutnya
dengan adanya smartphone subjek ND bisa menghibur dirinya. Tanpa harus keluar kamar
subjek ND bisa nonton melalui media sosial, mencari informasi yang sedang tren, bahkan
belanjapun bisa dilakukan tanpa harus terjun ke tokonya. Lingkungan yang ada disekitar
subjek juga merupakan pengguna aktif media sosial sehingga subjek ND juga mengikuti yang
yang ada di sekitarnya. Subjek ND tidak ingin dibilang sebagai orang yang “kudet” (kurang
update). Subjek ND merasa bahwa smartphone adalah bagian dari hidupnya.
Dalam kesehariannya, ND mengaku alasan mengakses media sosial dikarenakan bosan
dan kesepian karena anggota keluarga terkadang tidak ada waktu untuk berinteraksi, keluarga
ND sibuk bekerja. Dimana di pagi hari sudah berangkat kerja dan pulang kerja di sore hari.
Sesampainya di rumah sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Namun hal ini orang
81
tua berusaha tetap mengontrol aktivitas anak-anaknya di rumah, dan berusaha selalu
melakukan interaksi. Berikut petikan wawancara peneliti dengan ND:
“Aku sehari ngescroll media sosial lebih dari 7 jam. Habis gatau juga mau
ngapain kan? di rumah bosan sendirian, mama kerja, papa kerja, kakak saya
kerja. Jadi di rumah tu iya jarang lah komunikasi, kayak kakak balik kerja masuk
kamar, kita gak sekamar, kalo mama dan papa ya adalah dikit-dikit ngomong
gitukan, kegiatan saya di rumah kalo malem ya scroll sosmed, non stop tu liatin
medsos sampe terkantuk-kantuk, iya ilangin bosan. Mama papa tu sukak khawatir
kok aku main hp mulu kapan belajar nya? kapan tidur nya ? kapan istirahatnya”
(wawancara dengan ND, 13 Oktober 2023).
Subjek RK (Usia 21 tahun)
Subjek RK merupakan pengguna aktif media sosial. Subjek RK merasa gelisah kalau
tidak memegang gadget meskipun itu hanya sedetik. setiap harinya subjek RK menghabiskan
waktunya dengan membuka media sosial. Di kampus-pun subjek RK membuka media
sosialnya disaat proses belajar dilaksanakan. Subjek RK takut akan tertinggal informasi hal
ini dikarenakan subjek RK terlalu sering bermain media sosial. Ada yang membuat subjek RK
merasa tidak nyaman disaat ia tidak membuka media sosialnya. Kebiasaan buruk subjek RK
ketika sudah bertemu media sosialnya, ia selalu lupa waktu dan tidak memedulikan yang ada
di sekitarnya hanya berfokus dengan media sosialnya.
Menurut subjek RK, seseorang harus memiliki media sosial karna menurutnya
seseorang yang tidak memilliki media sosial seperti diasingkan dan dianggap “kudet”. Media
sosial yang subjek RK gunakan untuk mencari sebuah informasi, melihat yang orang lain
lakukan, melihat tren atau fenomena-fenomena terbaru yang terjadi. Subjek RK akan meniru
atau mengikuti tren-tren yang sedang viral di media sosial. Selain itu, ketika subjek RK ingin
mengerjakan tugas kuliahnya, ia tidak perlu keluar rumah, atau bertemu dengan teman-
temannya di luar, menurutnya cukup dikerjakan di rumah dengan bantuan smartphone. Hal ini
yang membuat smartphone penting dimiliki oleh seseorang. Berikut petikan wawancara
peneliti dengan RK:
“Aku kalo tu di keluarga terkesan cuek, jarang banget berbaur di rumah tu, aku
keseringan nongkrong di kamar, dunia aku ya di kamar, kalo udah di rumah buat
keluar tu males banget, bawaannya pengen di kamar aja main HP. Dalam sehari
lebih dari 5 jam aku mengakses sosmed” (wawancara dengan RK, 13 Oktober
2023).
Di rumah, subjek RK tidak peduli apa yang dilakukan orang tua, bahkan kakaknya di
rumah. Subjek RK tidak peduli jika harus seharian di dalam kamar bermain media sosial,
karna itu membuatnya senang, bahkan juga subjek RK sampai kelupaan waktu dan bergadang
bermain media sosialnya. Ia pun tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana, subjek RK
hanya fokus dengan sesuatu yang lagi tren di media sosial.
Subjek AP (Usia 21 tahun)
Subjek AP merupakan salah satu mahasiswa aktif yang berprestasi di kampus. Subjek
AP juga merupakan salah satu pengguna aktif media sosial. Subjek AP sangat aktif di media
sosial Instagram. Setiap harinya subjek AP selalu mengunggah story di Instagramnya. Subjek
82
AP merupakan seseorang yang sangat mengikuti tren. Subjek AP tidak ingin terlihat
tertinggal dengan apa yang dilakukan orang lain di media sosial. Subjek AP tidak bisa jauh
dari smartphone-nya. Saat berkumpul dengan teman-temannya, ia tidak bisa lepas dari
smartphone. Bahkan disaat subjek AP kehabisan kuota internet, subjek AP sesegera mungkin
untuk mengisi kuota internetnya. Menurutnya ia tidak bisa absen seharipun untuk tidak
membuka media sosial. Berikut petikan wawancara peneliti dengan informan AP:
“Sosial media banget, akutu lebih memperhatikan lingkungan sekitar yang seusia
ama aku, tapi bukan berarti aku ga pernah berinteraksi dengan orang yang
usianya di atas aku ya. Di lingkungan sekitar aku misal di komplek perumahan
aku, aku tetap lakukan komunikasi. Iya aku ga melulu sibuk di hp aja. Tapi ya
memang aku pribadi ngerasa gamau ketinggalan dari remaja-remaja lain. Selalu
ingin upgrade diri” (wawancara, 13 Oktober 2023).
Menurut subjek AP dengan selalu berinteraksi di media sosial dapat membuat dirinya
tidak ketinggalan dari teman-temannya atau remaja-remaja lain. Meskipun subjek AP
mengakui bahwa dirinya tidak terlalu sibuk dengan gadgetnya. Ia juga sering berinterasi
dengan lingkungan sekitarnya. Subjek AP sangat tergantung dengan kemudahan yang
ditawarkan smartphone seperti kemudahan berbelanja. Subjek AP sangat suka berbelanja
online seperti melalui Shopee. Ia sering berbelanja fashion dan ingin memperlihatkan dirinya
di hadapan orang lain dengan fashion-fashion-nya yang setiap hari berganti “ootd”nya.
Menurut subjek AP media sosial mempermudah segalanya. Dengan media sosial ia bisa
berkomunikasi dengan keluarganya yang jauh, dengan teman-temannya tanpa harus bertemu,
dan lain sebagainya. Subjek AP merasa cemas jika ia merasa tertinggal oleh sebuah informasi
atau sebuah fenomena yang sedang viral. Ia merasa dirinya harus selalu update. Oleh sebab
itu subjek AP tidak bisa terlepas dari smartphone-nya.
Subjek MIP (Usia 23 tahun)
Subjek MIP merupakan mahasiswa aktif di kampus. Di kampus subjek MIP sering
melakukan komunikasi dengan teman-teman seusianya. Subjek MIP merasa tidak pernah puas
dengan apa yang orang lain lakukan. Sehingga ia ingin sekali melakukan upgrade diri.
Menurut subjek MIP media sosial media paling nyaman untuk melakukan interaksi. Di
manapun subjek MIP berada ia tidak bisa lepas dari rasa cemas dan ketakutan agar tidak
ketinggalan informasi dan berusaha tetap terhubung dengan apa yang orang lain lakukan.
Bahkan kecanduan internet yang subjek MIP lakukan membawa dampak buruk seperti
melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Hal ini dikarenakan subjek MIP terlalu
memikirkan aktivitas-aktivitasnya di media sosial.
“Keseharian aku pasti ada dong interaksi dengan teman-teman di kampus tidak
sesering beinteraksi di media sosial sih, kalo lagi ngumpul bareng tu aku sukak
live di Instagram”(wawancara dengan MIP, 13 Oktober 2023).
Subjek MIP rutin menggunakan media sosial, tidak terkontrol sehingga tidak mengenal
keterbatasan waktu dan tempat, tanpa disadari kebiasaan ini menjadi candu dan
mempengaruhi hubungan subjek dengan lingkungannya termasuk dengan teman-temannya
dan keluarganya. Subjek MIP paling aktif di media sosial TikTok. Subjek MIP juga ingin
83
terlihat keren di hadapann netizen. Bahkan setiap hari subjek MIP melakukan live streaming
di akun TikTok-nya untuk mendapatkan pengakuan dari netizen yang menontonnya.
Berdasarkan beberapa petikan wawancara yang dilakukan pada informan penelitian di
atas dapat disimpulkan, bahwasanya subjek yang merupakan mahasiswa-mahasiswa Fakultas
Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) yang terdeteksi FoMO, dalam
kesehariannya melakukan interaksi bersama teman-temannya di kampus dengan situasi dan
kondisi yang beragam seperti sedang makan di kantin, sedang nongkrong di taman kampus,
sedang menunggu dosen, dan lain sebagainya. Namun mereka tidak pernah lepas dari media
sosial-nya. Mereka ingin selalu terhubung dengan media sosial. Mahasiswa FoMO seakan-
akan menjadikan media sosial sebagai kebutuhan primer.
Informan yang terdeteksi FoMO, dengan adanya hubungan emosional yang terjalin
membuatnya kerap kali memperhatikan postingan teman-temannya di media sosial. Di mana
mereka tertarik untuk mencari tahu apa kegiatan yang dilakukan oleh teman-temannya di
sosial media. Manusia memiliki fitrah di mana tidak pernah merasa puas dan selalu ingin
lebih, sehingga menimbulkan perasaan iri hati dalam diri mereka. Di mana mereka selalu
merasa tidak puas dengan kehidupan yang mereka jalani karena adanya keterbatasan pada diri
mereka. Subjek rutin menggunakan media sosial, tidak terkontrol sehingga tidak mengenal
keterbatasan waktu dan tempat, tanpa disadari kebiasaan ini menjadi candu dan
mempengaruhi hubungan mahasiswa dengan lingkungannya, termasuk dengan teman-
temannya, anggota keluarganya dan lain-lain.
Semua subjek merupakan pengguna aktif smartphone dan media sosial. Dalam
kehidupan sehari-hari subjek menghabiskan banyak waktu dengan smartphone dan media
sosialnya. Media sosial dapat menyebabkan seseorang mengalami sindrom FoMO. Ada
subjek yang mengabaikan perkuliahannya, lupa dengan waktu dan tempat, tidak memedulikan
lingkungan sekitarnya. Media sosial yang berlebihan dapat membuat subjek mengalami
FoMO, subjek yang mengalami FoMO terpengaruh dari faktor lingkungan mereka.
Durasi penggunaan media sosial mayoritas berada pada durasi + 10 jam/hari. Seperti
yang dikatakan (Gezgin, 2017) menyebutkan tingkat FoMO lebih tinggi pada seseorang yang
menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial terutama bagi seseorang yang
menghabiskan waktu sekitar 5-7 jam/hari. Artinya, 5 orang informan dalam penelitian ini
memiliki kebutuhan yang tinggi untuk mengakses media sosial dalam sehari dan termasuk
dalam kategori terpapar FoMO. Gambaran keseharian mahasiswa terdeteksi FoMO
menyatakan ia tidak bisa lepas dari yang namanya media sosial dan selalu update dengan
segala hal yang ada di media sosial.
Timbulnya pengalaman subjek dalam penggunaan media secara berlebihan membuat
subjek tidak sadar bahwa ia mengalami sindrom FoMO. Hal ini dibuktikan oleh beberapa
penelitian yang menyatakan bahwa FoMO memiliki hubungan dengan media sosial. Semakin
sering ia menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-harinya, maka semakin tinggi
tingkat FoMO seseorang (Przypylsky, A.K., Murayama, K., DeHan, C.R & Gladwell, V,
2013). Dari data di lapangan, juga menunjukkan bahwa subjek menggunakan smartphone dan
media sosial berawal dari lingkungan sekitar yang juga tidak lepas dari media sosial.
Sehingga membuat subjek terus ingin selalu meng-update dirinya dan tetap terhubung dengan
media sosial. Lebih lanjut dijelaskan bahwa penggunaan media sosial, seseorang mengakses
84
media sosialnya hingga ratusan kali setiap harinya (Manning, 2016). Hal ini disebabkan
subjek terlalu bergantung dengan kemudahan yang ditawarkan oleh smartphone. Bagi remaja
yang mengalami FoMO, menganggap media sosial itu penting untuk dimiliki karena
menurutnya dengan memosting momen-momen kesehariannya di media sosial dapat
menjadikan bukti bahwa mereka akan mendapatkan pengakuan dari teman-temannya di media
sosial.
Dampak yang timbul dari ketakutan dan kecemasan akan kehilangan momen yang
dialami subjek antara lain terganggunya waktu tidur (bergadang), terganggunya waktu
perkuliahan atau belajar, terganggunya waktu bersama keluarga, tidak perduli terhadap
lingkungannya, tidak dapat sepenuhnya menikmati kebersamaan di dunia nyata karena sibuk
dengan media sosialnya dan bahkan cenderung merasa kurang puas dengan apa yang mereka
miliki. Fenomena ini terbukti berdampak pada gaya hidup generasi milenial saat ini.
Penelitian yang dilakukan (yaputri, Dindin & Haris, 2022) meneliti tentang hubungan antara
fenomena Fear of Missing Out (FoMO) dengan perilaku konsumen, kepada 125 orang
milenial berusia 20 hingga 38 tahun, menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian
ini menemukan adanya korelasi positif antara FoMO dengan perilaku konsumen di kalangan
generasi milenial.
Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwasanya subjek yang
merupakan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah
Riau (UMRI) yang terdeteksi FoMO, dalam kesehariannya melakukan interaksi bersama
teman-temannya di kampus dengan situasi dan kondisi yang beragam seperti sedang makan di
kantin, sedang nongkrong di taman kampus, sedang menunggu dosen, dan lain sebagainya.
Namun mereka tidak pernah lepas dari media sosial-nya. Mereka ingin selalu terhubung
dengan media sosial. Mahasiswa FoMO seakan-akan menjadikan media sosial sebagai
kebutuhan primer. Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menyebabkan Fear of
Missing Out (FoMO) yang membuat seseorang dapat mengalami perasaan takut dan cemas
akan ketinggalan sebuah informasi atau fenomena yang sedang tren. Hal ini terjadi karena
adanya pengaruh dari eksternal atau pengaruh lingkungan di sekitarnya yang membuat subjek
terbawa suasana di lingkungannya. Subjek sebaiknya mengetahui bagaimana gejala, faktor
yang memengaruhi dan dampak dari Fear of Missing Out (FoMO) agar dapat dilakukan
pencegahan atau mengurangi gejala pada diri sendiri.
Referensi
Abdulloh Ali Hasan Muhammad. (2018) .Gambaran Fear of Missing Out (FoMO) pada
Mahasiswa Pekanbaru. Pekanbaru.
Adian. (2010). Pengantar Fenomenologi. Depok.
Ahmad Thoriq Alfan, dkk (2022). Prilaku Investasi dan Pengguna Media Sosial : FOMO dan
Keterbukaan Diri di Media Sosial. Jurnal Masharif al-Syariah: Jurnal Ekonomi dan
Perbankan Syariah. Volume 7, No. 4. [Link]
Ayas, T & Mehmed. (2013). Relation Between Depression, Loneliness, Self-Esteem and
Internet Addiction. Reseacrhgate, 283-290.
85
Cahyadi, A (2021). Gambaran Fenomena Fear Of Missing Out (Fomo) Pada Generasi Z Di
Kalangan Mahasiswa. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya,(02),149-154.
[Link]
Carolina. M., & Gayes, M. (2020). Prilaku Komunikasi Remaja dengan Kecenderungan
FoMo. Riset Komunikasi, 69-92.
[Link]. From Retrieved from: https:// [Link].
Gezgin. (2017). Social Networks. Journal of Education and Practice,, 156–168.
Henderi, M. Y., Yuliana, I. Graha. (2007). Pengertian Media Sosial. Retrieved from
([Link]
Judithya Anggita Savitri. (2019). Fear of Missing Out dan Kesejahteraan Psikologis Individu
Pengguna Media Sosial di Usia Emerging Adulthood. Acta Psychologia, Volume 1
Nomor 1, 2019, Halaman 87-96. Available online at:
[Link]
Kotler, P. Kevin. L. K. (2012). Marketing Management, 14th Edition. United States of
Amerika: Pearson.
Kuswarno, E. (2009). Tradisi Fenomenologi pada Penelitian Komunikasi. Bandung: Widya
Pendjajaran.
Laporan Survei Internet APJII. (2022). From Retrieved from: [Link]
Manning, A., (2016). Teens are crippled by social media-fueled foMO. Redrieved from
[Link]
Moleong., L. J. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. bandung: Remaja Rosdakarya.
Nadzirah,S.,Fitriani,W & Yeni,P. (2022). Dampak Sindrom Fomo Terhadap Interaksi Sosial
Pada Remaja. Intelegensia: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 10, No.01,54-60.
[Link]
Putri, L. S., Purnama, D. H., & Idi, A. (2019). Gaya hidup mahasiswa pengidap Fear of
missing out di kota palembang. Jurnal Masyarakat & Budaya, 21(2), 129–148.
[Link]
Przypylsky, A.K., Murayama, K., DeHan, C.R & Gladwell, V. (2013). Motivational,
Emotional and Behavioral Corrrelates of fear of missing out. Computer in Human
Behavior, 1841-1848.
Rizki Setiawan Akbar, dkk. (2018).Ketakutan Akan Kehilangan Momen (FOMO) pada
Remaja Kota Samarinda. sikostudia : Jurnal Psikologi Vol 7, No 2.
Sarina, dkk. (2023). Self Esteem dan Sindrom Fear of Missing Out Mahasiswa Psikologi.
Jurnal Sublimapsi vol 4(1). Universitas Halu Oleo.
Siradjuddin Syukri, dkk. (2023). Fear of Missing Out (Sebuah Tinjauan Fenomenologi di
Universitas Mandala Waluya). Jurnal Janaloka. Vol. 1(1).
[Link]
Siti Nuriyah Fatkhul Jannah. (2022). Gelaja Fear of Missing Out dan Adiksi Media Sosial
Remaja Putri di Era Covid-19. Jurnal Paradigma : Jurnal Multidisipliner Mahasiswa
Pascasarjana Indonesia, Vol. 3 No.1. UIN Syarif Hidayatullah, Banten.
Sulastri, S., & Sylvia, I. (2022). Hambatan Interaksi Sosial Mahasiswa Terindikasi Fear of
Missing Out (FoMO) (Studi Kasus: Mahasiswa FIS UNP). Jurnal Perspektif, 5(3),
324–332. [Link]
Yaputri, M.S.,Dindin., D.,& Haris., H. (2022). Phenomenon And Consumptive Behavior In
Millennials. Journal of Social Science, 116-124.
Yusriyah, A. (2021). Kecanduan Media Sosial (FoMO) pada Generasi Milenial. Audience:
Jurnal Ilmu Komunikasi, 86 - 106.
86