BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pengertian Minat belajar
Minat secara etimologis berasal dari Bahasa Inggris interest yang berarti tertarik.
Menurut Syah (2013: 133) “minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu”. Jika seseorang telah memiliki keinginan yang
besar terhadap suatu hal maka apapun akan dilakukannya.
Djamarah (2011: 166) berpendapat bahwa minat adalah kecenderungan yang
menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Adapun minat
menurut Slameto (2010: 180) adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu
hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Dapat dikatakan bahwa siswa yang memiliki
minat belajar akan merasa senang mengerjakan segala sesuatu termasuk mengikuti
pelajaran tanpa adanya tekanan dari siapapun.
Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap
sesuatu dipelajari dan mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan
minat-minat baru. Jadi minat terhadap sesuatu diperoleh dari hasil belajar dan menyokong
belajar selanjutnya. Walaupun minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan hal yang
hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum menyatakan bahwa minat
akan membantu seseorang mempelajarinya.
Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas, maka disimpulkan bahwa minat belajar
matematika adalah kecenderungan rasa lebih suka terhadap pelajaran matematika,
sehingga siswa tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran matematika.
2.1.2 Indikator Minat belajar
Menurut Slameto (2010: 180) beberapa indikator minat belajar meliputi: perasaan
senang, ketertarikan, penerimaan, dan keterlibatan siswa. Sedangkan menurut Maria
(2015: 5) ada 4 indikator minat yaitu, perhatian, perasaan senang atau tidak senang,
kesadaran, dan kemauan.
Dari pemaparan tentang indikator minat di atas, maka dalam penelitian ini
indikator minat yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Perasaan senang
Apabila seorang siswa memiliki perasaan senang terhadap pelajaran tertentu maka
tidak akan ada rasa terpaksa untuk belajar. Misalnya senang mengikuti pelajaran, tidak
ada perasaan bosan, dan hadir saat pelajaran.
2. Perhatian
Perhatian adalah konsentrasi siswa terhadap pengamatan dan pengertian, dengan
mengabaikan yang lain. Siswa memiliki minat pada objek tertentu maka dengan
sendirinya akan memperhatikan objek tersebut. Contoh: mendengarkan penjelasan guru
dan mencatat materi.
4
5
3. Ketertarikan
Ketertarikan merupakan suatu keadaan dimana siswa memiliki daya dorong
terhadap sesuatu benda, orang, kegiatan atau pengalaman. Contoh: antusias dalam
mengikuti pelajaran, tidak menunda tugas dari guru.
4. Keterlibatan siswa
Keterlibatan siswa merupakan akibat yang muncul dari rasa ketertarikan siswa
terhadap sesuatu. Contoh: aktif dalam diskusi, aktif bertanya, dan aktif menjawab
pertanyaan dari guru.
2.1.3 Prestasi Belajar
[Link] Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar menurut Syah (2013: 139) adalah hasil yang telah dicapai dari
suatu kegiatan yang berupa tingkah laku yang dialami subyek belajar di dalam suatu
interaksi dengan lingkungannya. Prestasi belajar merupakan hasil evaluasi pendidikan
yang dicapai oleh siswa setelah menjalani proses pendidikan secara formal dalam jangka
waktu tertentu dan hasil belajar tersebut berupa angka-angka (Sumadi Suryabrata, 2006:
6).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012: 1101) prestasi belajar adalah
penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran,
lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang
dicapai seseorang setelah menjalani suatu proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan
nilai .
[Link] Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Menurut Ahmadi dan Supriyono (2013: 138), prestasi belajar dipengaruhi oleh
banyak faktor antara lain:
1. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang meliputi:
a. Faktor jasmaniah (fisiologis)
Yaitu faktor yang sifatnya bawaan atau yang diperoleh, misalnya
penglihatan, pendengaran, struktur tubuh. Faktor jasmaniyah ini sangat
mempengaruhi di dalam menentukan prestasi belajar siswa karena belajar
dibutuhkan jasmani yang sehat, dengan jasmani yang sehat siswa akan mudah
untuk menerima atau memahami pembelajaran yang disampaikan guru dengan
baik,sehingga prestasi yang dicapai juga meningkat.
b. Faktor psikologis terdiri atas:
1) Faktor intelektif yang meliputi kecerdasan, kecakapan yang dimiliki.
2) Faktor non-intelektif yang meliputi unsur kepribadian, kebiasaan, emosi
minat, motivasi.
2. Faktor eksternal meliputi:
a. Faktor sosial yang terdiri atas:
1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan sekolah
3) Lingkungan masyarakat
4) Lingkungan kelompok
b. Faktor budaya seperti adat istiadat, dan kesenian
6
Sedangkan menurut Sukmadinata (2003: 162) faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar siswa, yaitu:
1. Faktor-faktor dari dalam diri individu
a. Aspek jasmaniah, yaitu aspek yang mencakup kondisi dan kesehatan jasmani.
b. Aspek rohaniah, yaitu aspek yang menyangkut kondisi kesehatan psikis,
kemampuan intelektual, sosial, psikomotorik serta kondisi afektif dan kognitif
dari individu.
c. Kondisi intelektual, yaitu yang menyangkut tingkat kecerdasan, bakat-bakat baik
bakat sekolah maupun bakat pekerjaan.
d. Kondisi sosial, yaitu yang menyangkut hubungan siswa dengan orang lain, baik
guru, teman, orang tuanya maupun orang-orang lainnya.
2. Faktor-faktor lingkungan
a. Keluarga, yaitu yang meliputi keadaan rumah dan ruang tempat belajar, sarana
dan prasarana belajar yang ada.
b. Sekolah, yaitu yang meliputi lingkungan sekolah, sarana dan prasarana belajar
yang ada, sumber-sumber belajar dan media belajar.
c. Masyarakat, yaitu dimana warganya memiliki latar belakang pendidikan yang
cukup, terdapat lembaga-lembaga pendidikan dan sumber-sumber belajar
didalamnya akan memberikan pengaruh yang positif terhadap semangat dan
perkembangan belajar generasi muda.
Setelah diketahui dari bermacam-macam prestasi belajar, dan faktor-faktor belajar
yang mempengaruhi siswa maka dapat disimpulkan bahwa siswa masing-masing
mempunyai cara belajar dan sifat yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang mereka
masing-masing dan tentunya akan mengakibatkan prestasi belajar yang diperoleh mereka
berbeda.
2.1.4 Model Problem Based Learning (PBL)
[Link] Pengertian Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning adalah seperangkat model mengajar yang menggunakan
masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi,
dan pengaturan diri (Eggen & Kauchak, 2012: 307). Sedangkan menurut Amir (2009: 21)
Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah merupakan strategi
pembelajaran yang dirancang dengan masalah-masalah yang menuntut siswa
mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan
masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berprestasi
dalam tim.
Dari definisi PBL di atas dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning
adalah suatu model pembelajaran yang berbasis pada masalah, sehingga siswa dilatih
untuk dapat menemukan pemecahan dari masalah tersebut agar memperoleh pengetahuan
dan pemahaman sendiri. Dalam proses PBL, sebelum pembelajaran dimulai, siswa
akan diberikan masalah-masalah. Masalah yang diberikan adalah masalah yang
memiliki konteks dengan dunia nyata. Dari masalah yang diberikan ini, siswa
bekerja sama dengan kelompoknya, mencoba memecahkannya dengan pengetahuan
yang mereka miliki dan sekaligus mencari informasi-informasi yang baru yang relevan
untuk solusinya.
7
[Link] Karakteristik PBL
Adapun karakteristik yang dimiliki oleh model PBL menurut Fogarty dalam
Hamruni (2009: 206) antara lain:
a. Belajar dimulai dari permasalahan
b. Permasalahan yang diberikan harus berhubungan dengan dunia nyata siswa,
c. Mengorganisasikan pembelajaran diseputar permasalahan, bukan diseputar disiplin
ilmu
d. Memberikan tanggung jawab yang besar dalam membentuk dan menjalankan secara
langsung proses belajar mereka sendiri,
e. Menggunakan kelompok kecil,
f. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari,dalam bentuk
produk dan kinerja
[Link] Langkah-langkah PBL
Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran PBL menurut Arends dalam
Ngalimun (2013: 95) terbagi menjadi 5 fase, seperti pada tabel di bawah ini:
Fase-fase Aktivitas pendidik
Fase 1 : Menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang
Mengorientasikan diperlukan dan memotivasi siswa untuk terlibat
siswa pada masalah aktif padaaktivitaspemecahan masalah yang dipilih
Fase 2 : Membantu siswa membatasi dan mengorganisasi
Mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah
siswa untuk belajar yang dihadapi
Fase 3 : Mendorong siswa mengumpulkan informasi yang
Membimbing sesuai, melaksanakan eksperimen, dan mencari
penyelidikan individu penjelasan dan pemecahan
maupun kelompok
Fase 4 : Membantu siswa merencanakan dan menyiapkan
Mengembangkan dan karya yang sesuai, seperti laporan, rekaman, video
mempresentasikan hasil dan model-model serta membantu mereka untuk
karya berbagi tugas dengan temannya
Fase 5 : Membantu siswa melakukan refleksi terhadap
Menganalisis dan penyelidikan dan proses-proses yang digunakan
mengevaluasi proses selama berlangsungnya pemecahan masalah
pemecahan masalah
Tabel 2.1 Fase pembelajaran PBL
(Sumber : Ngalimun, 2013:96)
[Link] Kelebihan dan Kelemahan PBL
Sebagai suatu model pembelajaran, model Problem Based Learning (PBL)
mempunyai beberapa kelebihan diantaranya:
a. Realistis dengan kehidupan nyata siswa
b. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa.
c. Memupuk sifat inkuiri siswa.
d. Retensi konsep menjadi kuat.
e. Memupuk kemampuan problem solving.
Adapun kelemahan model Problem Based Learning (PBL) diantaranya:
a. Membutuhkan persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep yang kompleks).
8
b. Sulitnya mencari masalah yang relevan.
c. Sering terjadi perbedaan pemahaman konsep.
d. Memerlukan waktu yang cukup lama dalam prose penyelidikan.
Untuk mengantisipasi kelemahan dari model PBL tersebut guru hendaknya
memperbanyak referensi buku yang menunjang terutama dalam membuat soal yang
relevan, memberikan penjelasan yang detail agar siswa memahami peermasalahan dengan
baik.
2.2 Kajian Penelitian yang Relevan
Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain, sebagai berikut :
1) Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Adi Nugroho yang berjudul
“Peningkatan minat dan komunikasi belajar matematika dengan strategi
pembelajaran problem based learning pada siswa kelas VII SMP Negeri 02
Banyudono tahun ajaran 2014/2015”. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan
minat dan komunikasi belajar matematika yang dapat dilihat dari: 1) memperhatikan
guru di kelas sebelum tindakan 33,33%, siklus I 36,36%, siklus II 63,63%, siklus III
66,66, dan siklus IV 90,90%, 2) memiliki kemauan untuk mencari solusi
penyelesaian soal sebelum tindakan 0%, siklus I 21,21%, siklus II 33,33%, siklus III
60,60%, dan siklus IV 84,84%, 3) aktif di dalam kelas sebelum tindakan 0%, siklus I
15,15%, siklus II 27,27%, siklus III 48,48%, dan siklus IV 90,90% 4) berani
mengajukan pertanyaan sebelum tindakan 12,12%, siklus I 18,18%, siklus II
30,30%, siklus III 36,36%, dan siklus IV 66,66% 5) mengemukakan pendapat
sebelum tindakan 6,06%, siklus I 15,15%, siklus II 27,27%, siklus III 48,48%, dan
siklus IV 63,63% 6) menjawab pertanyaan sebelum tindakan 18,18%, siklus I
18,18%, siklus II 36,36%, siklus III 60,60%, dan siklus IV 78,78%. Berdasarkan
hasil ini dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran Problem Based
Learning dapat meningkatkan minat dan komunikasi belajar matematika.
2) Penelitian yang dilakukan oleh Septi Wahyuni yang berjudul “Peningkatan
kemandirian belajar dan prestasi belajar matematika melalui model pembelajaran
PBL (Problem Based Learning) pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Rawalo”. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa kemandirian belajar dan prestasi belajar siswa
mengalami peningkatan. Kemandirian belajar siswa mengalami peningkatan yaitu
dari nilai rata-rata 2,89 pada siklus I menjadi 2,98 pada siklus II dan dari siklus II
nilai rata-rata menjadi 3,01 pada siklus III. Sedangkan untuk prestasi
belajarmatematika mengalami peningkatan yaitu dari nilai rata-rata 66,03 pada siklus
I menjadi 71,93 pada siklus II dan dari siklus II nilai rata-rata menjadi 81,08 pada
siklus III. Berdasarkan data-data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran PBL (problem based learning) dapat meningkatkan kemandirian
belajar dan prestasi belajar matematika siswa kelas VII G SMP Negeri 1 Rawalo
pada pokok bahasan segiempat.
2.3 Kerangka Berpikir
Masih banyaknya siswa yang menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit,
membuat siswa kurang begitu berminat terhadap pelajaran matematika. Berdasarkan hasil
wawancara dan angket yang diberikan menunjukkan bahwa minat siswa masih rendah.
Selain minat, masalah yang dihadapi adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Dimana
9
hanya sekitar 50% siswa yang memenuhi KKM. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar adalah dengan model Problem Based
Learning. Dengan model Problem Based Learning siswa diberikan masalah-masalah
yang berkaitan dengan kehidupan, memupuk sifat inkuiri siswa dan juga memupuk
kemampuan problem solving siswa. Sehingga diharapkan dengan kemamppuan
pemecahan masalah yang telah dimiliki siswa dapat meningkatkan minat dan prestasi
belajar siswa.
Secara skematis, kerangka berpikir dapat ditunjukkan seperti gambar di bawah ini
Masalah Tindakan Hasil
Kurangnya Penerapan model Minat dan
minat belajar Problem Based prestasi belajar
Learning (PBL)
matematika matematika siswa
atau
Prestasi yang pembelajaran meningkat
masih di berbasis masalah
bawah KKM
2.4 HipotesisPenelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir, maka hipotesis penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan minat dan prestasi
belajar matematika pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Ponorogo tahun pelajaran
2018/2019.