PESERTA PPG TERTENTU TAHAP 2 TAHUN 2025
MODUL AJAR
SENI BUDAYA (SENI TARI )
FASE D/ KELAS VIII
DISUSUN OLEH :
NAMA : ROBI MAULANA, [Link].
INSTANSI : SMP NEGERI 6 PANGKALPINANG
LPTK : UNIVERSITAS ISLAM RIAU
NIM : 256141734
MODUL AJAR
UNIT 1 : NILAI DAN JENIS TARI TRADISI
INFORMASI UMUM
I. IDENTITAS MODUL
Nama Penyusun : Robi Maulana, [Link]
Satuan Pendidikan : SMP Negeri 6 Pangkal Pinang
Kelas / Kelas : VIII (Delapan) - D
Mata Pelajaran : Seni Tari
Prediksi Alokasi Waktu : 2x40 menit
Tahun Penyusunan : 2025 / 2026
II. KOMPETENSI AWAL
Pada prosedur kegiatan pembelajaran 2, peserta didik mengkaji jenis-jenis tari tradisi dari
berbagai sumber belajar baik media cetak maupun video. Kegiatan pembelajaran yang
dilakukan lebih pada penguatan kompetensi pengetahuan. Peserta didik dapat membaca
buku lebih banyak serta memberi apresiasi dengan mengamati video jenis-jenis tari
tradisi dari berbagai daerah di wilayah Indonesia. Memperhatikan fenomena atau objek
materi dengan teliti. Tujuannya agar peserta didik mendapatkan informasi tentang jenis-
jenis tari tradisi.
III. PROFIL PELAJAR PANCASILA
Beriman, bertakwa kepada Tuhan yag maha Esa, bergotong royong, bernalar kritis,
kreatif, inovatif, mandiri, berkebhinekaan global
IV. SARANA DAN PRASARANA
Video tari, power point, gambar atau foto yang disesuaikan dengan materi yang akan
disampaikan yaitu tentang konsep tari tradisi, sumber referensi berupa buku bacaan
misalnya buku yang berjudul Antropologi Tari dalam Perspektif Indonesia karya
Sumaryono (2017).
V. TARGET PESERTA DIDIK
Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami
materi ajar.
VI. MODEL PEMBELAJARAN
Blended learning melalui model pembelajaran dengan menggunakan Project Based
Learning (PBL) terintegrasi pembelajaran berdiferensiasi berbasis Social Emotional
Learning (SEL).
KOMPONEN INTI
I. TUJUAN PEMBELAJARAN
Unit pembelajaran 1 dengan judul “Nilai dan Jenis Tari Tradisi” memiliki tujuan
pembelajaran yaitu peserta didik mampu mengenal tari tradisi berdasarkan nilai dan
jenisnya dalam konteks budaya.
II. PEMAHAMAN BERMAKNA
Soedarsono (1972) membagi jenis-jenis tari tradisional menurut koreografinya menjadi 3
yaitu tari rakyat, tari klasik dan tari kreasi baru. Tari rakyat adalah tarian yang sudah
mengalami perkembangan sejak jaman masyarakat primitif sampai sekarang. Tarian
sangat sederhana dan tidak mengindahkan norma-norma keindahan dan bentuk yang
standar. Pada zaman primitif tari-tarian rakyat merupakan tarian yang sakral dan
mengandung kekuatan magis. Tari klasik adalah tarian yang telah mencapai kristalisasi
keindahan yang tinggi dan mulai ada sejak jaman masyarakat feodal. Tarian klasik
adalah tarian yang dipelihara di istana raja-raja dan bangsawan yang telah mendapat
pemeliharaan yang baik. Tari kreasi baru adalah tari yang mengalami modernisasi yang
timbul karena untuk memenuhi cita-cita gerakan romantis yang bertujuan untuk ekspresi
dan desakan batin. Di Indonesia tari kreasi baru adalah jenis tari yang koreografinya
bertolak dari tari primitif dan tari klasik. Terbentuknya tari kreasi karena dipengaruhi
oleh gaya tari dari daerah/negara lain maupun hasil kreativitas penciptanya. Menurut
fungsinya tari tradisi dibedakan menjadi 3 yaitu tari upacara, tari hiburan, dan tari
pertunjukan.
III. PERTANYAAN PEMANTIK
Peserta didik didorong untuk merumuskan pertanyaan sesuai dengan kegiatan yang
dilakukan yaitu mengamati gambar dan video jenis tari tradisi menurut koreografi dan
fungsinya beserta keunikan gerak tari
IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN KE-1
Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)
● 1. Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk
● mengikuti proses pembelajaran. Pemberian ucapan salam,
● melakukan doa sebelum pembelajaran dimulai, dan mengecek
● kehadiran peserta didik.
● 2. Guru melakukan apersepsi dengan menanyakan seni tari yang
● pernah peserta didik lihat baik secara langsung ataupun tidak
● langsung melalui media seperti televisi.
● 3. Guru menyampaikan indikator pembelajaran yang akan dicapai
● pada kegiatan pembelajaran 2.
Kegiatan Inti (90 Menit)
1. Mengamati.
Peserta didik melakukan orientasi dengan mengamati gambar dan video jenis-jenis
tari tradisi dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia, sebelum peserta didik dapat
mengategorikan jenisjenis tari tari tradisi menurut fungsinya dan keunikan geraknya.
2. Menanya.
Peserta didik didorong untuk merumuskan pertanyaan sesuai dengan kegiatan yang
dilakukan yaitu mengamati video jenis tari tradisi menurut fungsinya beserta
keunikannya
3. Mengumpulkan informasi.
Peserta didik berdiskusi dengan temannya tentang jenis-jenis tari tradisi menurut
fungsinya dan keunikan geraknya dari berbagai sumber seperti buku, video atau
dokumen.
4. Mengasosiasi.
Peserta didik membentuk kelompok, kemudian menguji hipotesis dari hasil diskusi
dengan temannya berdasarkan pengumpulan data dari berbagai sumber pustaka. Hasil
hipotesis dikerjakan dalam lembar kerja peserta didik.
5. Mengomunikasikan.
Peserta didik menuliskan hasil laporan diskusinya serta mempresentasikan hasil
diskusi di depan kelas tentang mengategorisasikan jenis-jenis tari tradisi berdasarkan
fungsinya dan Keunikan geraknya.
Kegiatan Penutup (10 Menit)
● Bersama-sama peserta didik menyimpulkan jenis-jenis tari tradisi berdasarkan
fungsinya dan keunikan geraknya.
● Melakukan refleksi dengan menanyakan kepada peserta didik tentang tari tradisi yang
disukai, sehingga muncul rasa bangga terhadap tari tradisi yang ada di Indonesia.
● Penugasan untuk kegiatan pembelajaran berikutnya tentang Ruang, Tenaga Dan
waktu dalam tari tradisi.
V. ASESMEN / PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN
Untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran pada unit 1 ini, berikut ini adalah
instrumen yang dapat digunakan dalam fase pembelajaran mengalami, mencipta, berpikir
dan bekerja artistik, dan refleksi, serta berdampak sebagai berikut.
Fase mengalami
Dalam fase ini guru dapat menggunakan format penilaian unjuk kerja dengan skala
penilaian beserta rubriknya, seperti berikut.
Tabel 1.12 Penilaian Unjuk Kerja Pada Fase Mengalami Pada Prosedur Kegiatan
Pembelajaran 1
Penilaian
No Aspek yang dinilai
20 15 10
1 Kejelasan tentang pengertian tari tradisi
2 Identifikasi tari tradisi
3 Fungsi tari tradisi
4 Ciri-ciri tari tradisi
5 Contoh tari tradisi
Total
Tabel 1.13 Rubrik Fase Mengalami Pada Prosedur Kegiatan Pembelajaran 1
Penilaian
No Aspek yang dinilai
20 15 10
1 Kejelasan tentang Jika peserta didik Jika peserta didik Jika peserta didik
pengertian tari tradisi mampu mampu mampu
menjelaskan 3 menjelaskan 2 menjelaskan 1
pengertian tari pengertian tari pengertian tari
tradisi menurut tradisi menurut tradisi menurut
para ahli para ahli para ahli
2 Identifikasi tari Jika peserta didik Jika peserta didik Jika peserta didik
tradisi mampu mampu mampu
menjelaskan 3 menjelaskan 2 menjelaskan 1
identifikasi tari identifikasi tari identifikasi tari
tradisi tradisi tradisi
3 Fungsi tari tradisi Jika peserta didik Jika peserta didik Jika peserta didik
mampu mampu mampu
menjelaskan 3 menjelaskan 2 menjelaskan 1
Fungsi tari tradisi Fungsi tari tradisi Fungsi tari tradisi
4 Ciri-ciri tari tradisi Jika peserta didik Jika peserta didik Jika peserta didik
mampu mampu mampu
menjelaskan 3 ciri- menjelaskan 2 ciri- menjelaskan 1 ciri-
ciri tari tradisi ciri tari tradisi ciri tari tradisi
5 Contoh tari tradisi Jika peserta didik Jika peserta didik Jika peserta didik
mampu mampu mampu
menjelaskan 10 menjelaskan 7 menjelaskan 5
contoh tari tradisi contoh tari tradisi contoh tari tradisi
Total
Tabel 1.14 Penilaian Unjuk Kerja Fase Mengalami pada Prosedur Kegiatan
Pembelajaran 2
Penilaian
No Aspek yang dinilai
20 15 10 5
1 Ciri-ciri tari rakyat dan contohnya
2 Ciri–ciri tari klasik dan contohnya
3 Ciri–ciri tari kreasi baru dan contohnya
4 Ciri-ciri tari upacara dan contohnya
5 Ciri-ciri tari hiburan dan contohnya
Total
Tabel 1.15 Rubrik pada Fase Mengalami pada Prosedur Kegiatan Pembelajaran 2
Penilaian Skor Aspek yang diamati
1 20 Jika peserta didik mampu menjelaskan secara lengkap tentang ciri-ciri
tari (7 ciri) dan contohnya minimal 7 contoh
2 15 Jika peserta didik mampu menjelaskan secara lengkap tentang ciri-ciri
tari (5 ciri) dan contohnya minimal 5 contoh
3 10 Jika peserta didik mampu menjelaskan secara lengkap tentang ciri-ciri
tari (3 ciri) dan contohnya minimal 3 contoh
4 5 Jika peserta didik mampu menjelaskan secara lengkap tentang ciri-ciri
tari (2 ciri) dan contohnya minimal 2 contoh
Tabel 1.16 Penilaian Unjuk Kerja Fase Mengalami pada Prosedur Kegiatan
Pembelajaran 3
Penilaian
No Aspek yang dinilai
25 20 15 10
1 Jenis tari tradisi yang mengandung aspek nilai intrinsik-
artistik
2 Jenis tari tradisi yang mengandung aspek nilai kognitif
3 Jenis tari tradisi yang mengandung aspek nilai hidup
4 Jenis tari tradisi yang tidak mengandung aspek nilai
apapun
5 Jenis tari tradisi yang mengandung aspek nilai intrinsik-
artistik
Total
Tabel 1.17 Rubrik Fase Mengalami Pada Prosedur Kegiatan Pembelajaran 3
Penilaian Skor Aspek yang diamati
1 25 Jika Peserta didik mampu menjelaskan secara lengkap tentang 6 jenis
tari tradisi berdasrkan masing-masing aspek
2 20 Jika Peserta didik mampu menjelaskan secara lengkap tentang 6 jenis
tari tradisi berdasrkan masing-masing aspek
3 15 Jika Peserta didik mampu menjelaskan secara lengkap tentang 4 jenis
tari tradisi berdasrkan masing-masing aspek
4 10 Jika Peserta didik mampu menjelaskan secara lengkap tentang 2 jenis
tari tradisi berdasrkan masing-masing aspek
Tabel 1.18 Penilaian Diskusi Kelompok
Penilaian diskusi kelompok
Kelompok
Nama
Kelas
Tanggal Pengamatan
Materi pokok
Petunjuk menilai 1. Lingkarilah nilai yang dianggap sesuai dengan kondisi peserta
didik di setiap kategori.
2. Penilaian = (Total skor penilaian : Total skor maksimal) x 100
3. Indikator rubik penilaian diskusi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.19 Rubrik Indikator Penilaian Diskusi Kelompok
Deskripsi indikator
Kriteria
Baik (3) Cukup (2) Kurang (1)
Memperhatikan Selalu memperhatikan Masih perlu diingatkan Sering diingatkan
ketika temannya untuk meperhatikan untuk memperhatikan
menjelaskan dan ketika temannya teman yang sedang
berbicara menjelaskan dan berbicara, namun
berbicara berulang kali tidak
mendengarkan
Mendengarkan Selalu mendengarkan Mendengarkan Sering diingatkan
teman ketika berbicara temannya berbicara, untuk mendengarkan
namun masih perlu teman yang sedang
diingatkan untuk berbicara, namun
mendengarkan berulang kali tidak
mendengarkan
Komunikasi Mampu Mampu Kesulitan dalam
mengomunikasikan ide mengomunikasikan ide mengomunikasikan ide
gagasan secara kritis gagasan secara kritis, gagasan dan sulit
namun sulit untuk menerima pendapat
menerima pendapat teman
dari teman
Kerjasama Mampu berpartisipasi Mampu berpartisipasi Tidak melakukan
aktif, dan memberikan aktif dalam kegiatan upaya untuk
argument yang relevan diskusi, namun berpartisipasi dalam
seringkali argumen kegiatan diskusi,
nya tidak tepat tampak acuh tak acuh
Toleransi Mampu bertoleransi Memiliki rasa toleransi Tidak memiliki
dengan teman dengan teman toleransi dengan teman
berdiskusi berdiskusi, namun berdiskusi
terkadang tidak peka
Tabel 1.20 Rubrik penilaian Diskusi
Butir penilaian
Nama
No peserta Memperhatikan Mendengarkan Komunikasi Kerjasama Toleransi
didik
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
Catatan: berilah tanda centang (√) pada bagian yang memenuhi kriteria
Total skor penilaian x 100
Cara memperoleh rata-rata nilai akhir =
Total skor maksimal
Kolom aspek diisi dengan angka sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1 = Kurang, 2
= Cukup, 3 = Baik
Fase Mencipta
Dalam hal ini guru dapat menggunakan format penilaian seperti berikut.
Tabel 1.21 Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian
No Aspek yang dinilai
25 20 15 10
1 Ide/gagasan
2 Kreativitas
3 Kesesuaian materi dan prosedur
4 Presentasi
Total
Tabel 1.22 Rubrik Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian Skor Aspek yang diamati
1 25 Jika Peserta didik mampu mengelompokkan gerak tari tradisi
berdasarkan nilai dan jenisnya dengan lengkap
2 20 Jika Peserta didik hanya mampu mengelompokkan gerak tari tradisi
berdasarkan nilai
3 15 Jika Peserta didik hanya mampu mengelompokkan gerak tari tradisi
berdasarkan jenisnya
4 10 Jika Peserta didik kurang mampu mengelompokkan gerak tari tradisi
berdasarkan nilai dan jenisnya
Berpikir dan Bekerja Artistik
Dalam fase ini guru dapat menilai kemampuan peserta didik dalam mendiskusikan dalam
kelompok gerak tari tradisi berdasarkan nilai dan jenisnya. Melalui kegiatan ini, juga
guru dapat menilai memampuan peserta didik dalam proses berfikir kreatif dalam
mengeksplorasi ide gagasan dan kemampuan kreativitas. Guru dapat menggunakan
format penilaian seperti berikut.
Tabel 1.23 Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian
No Aspek yang dinilai
25 20 15 10
1 Ide/gagasan
2 Kreativitas
3 Kesesuaian materi dan prosedur
4 Presentasi
Total
Tabel 1.24 Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian Skor Aspek yang diamati
1 25 Jika Peserta didik mampu memberikan alasan dengan jelas tentang
pengelompokkan gerak tari tradisi berdasarkan nilai dan jenisnya dengan
lengkap
2 20 Jika Peserta didik hanya mampu memberikan alasan tentang
pengelompokkan gerak tari tradisi berdasarkan nilai
3 15 Jika Peserta didik hanya mampu memberikan alasan tentang
pengelompokkan gerak tari tradisi berdasarkan jenisnya
4 10 Jika Peserta didik kurang mampu memberikan alasan tentang
pengelompokkan gerak tari tradisi berdasarkan nilai dan jenisnya
Merefleksi
Dalam fase merefleksi guru dapat menilai kemampuan pesera didik dalam
mendiskusikan tentang pengalaman penting yang didapat, manfaat serta tindak lanjut
setelah mendapatkan materi nilai-nilai yang terkandung dalam tari tradisi. Guru dapat
menggunakan format penilaian seperti berikut.
Tabel 1.25 Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian
No Aspek yang dinilai
25 20 15 10
1 Ide/gagasan
2 Kreativitas
3 Kesesuaian materi dan prosedur
4 Presentasi
Total
Tabel 1.26 Rubrik Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian Skor Aspek yang diamati
1 25 Jika Peserta didik mampu menjelaskan manfaat dengan jelas tentang
pengelompokkan gerak tari tradisi berdasarkan nilai dan jenisnya dengan
lengkap
2 20 Jika Peserta didik hanya mampu menjelaskan manfaat tentang
pengelompokkan gerak tari tradisi berdasarkan nilai
3 15 Jika Peserta didik hanya mampu menjelaskan manfaat tentang
pengelompokkan gerak tari tradisi berdasarkan jenisnya
4 10 Jika Peserta didik kurang mampu menjelaskan manfaat tentang
pengelompokkan gerak tari tradisi berdasarkan nilai dan jenisnya
Dalam fase ini guru dapat menilai sikap dari peserta didik yang mencerminkan sikap
kritis, kreatif, inovatif, dan sikap saling bekerjasama antar peserta didik. Adapun rubrik
penilaian yang dapat digunakan yaitu sebagai berikut.
Tabel 1.27 Rubrik Indikator Skor Penilaian Sikap
Penilaian Sikap
Nama :
Kelas :
Materi Pokok :
Petunjuk pengamatan
1. Lingkarilah nilai yang dianggap sesuai dengan kondisi peserta didik di setiap kategori.
2. Penilaian dilakukan dengan memberikan deskripsi terhadap hasil penilaian.
3. Indikator rubik penilaian dapat dilihat pada tabel berikut.
Indikator
No Aspek penilaian
1 2 3
1 Sikap kritis Selalu ingin tahu, Selalu ingin tahu Tidak ingin tau dan
bertanya, dan namun tidak berani tidak bertanya
mencoba bertanya
melakukannya
sendiri
2 Kreatif Selalu memiliki ide Memiliki ide, namun Tidak memiliki ide
dan menuangkannya tidak dituangkan dan tidak melakukan
dalam gerak dalam gerak gerak
3 Inovatif Melakukan gerakan Melakukan gerakan, Tidak melakukan
yang selalu berbeda namun selalu sama gerakan
dari sebelumnya
4 Bekerjasama Mengajak semua Berdiskusi dengan Tidak berdiskusi
teman untuk teman, namun tidak dengan teman
berdiskusi semua
VI. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Guru memberikan berbagai sumber informasi berupa buku, artikel, dan video
pertunjukan tari pada peserta didik. Mengajak peserta didik untuk mendiskusikan hal-hal
yang sulit dipahami dan perlu ditanyakan lebih lanjut dilakukan di luar jam pelajaran.
VII. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK
Setelah guru melakukan serangkaian dalam prosedur kegiatan pembelajaran pada unit 1,
lakukanlah refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan melalui pertanyaan-
pertanyaan berikut.
Tabel 1.11 Tabel Refleksi Guru
Nilai ukur
No Pernyataan Alasan
Ya Tidak
1 Apakah peserta didik merasa senang setelah
mengikuti kegiatan pelajaran nilai dan jenis tari
tradisi?
2 Apakah guru merasa kesulitan atau kendala dalam
setiap prosedur kegiatan pembelajaran yang
dilakukan?
3 Apakah peserta didik mampu mendeskripsikan
tentang konsep tari tradisi?
4 Apakah peserta didik dapat menyebutkan jenis-
jenis tari tradisi?
5 Apakah peserta didik dapat menyebutkan nilai
yang terkandung dalam tari tradisi?
6 Apakah peserta didik mampu mencari contoh-
contoh gerak tari tradisi?
7 Apakah peserta didik mampu mengelompokkan
gerak tari tradisi menurut jenisnya?
8 Apakah peserta didik mampu mengelompokkan
gerak tari tradisi berdasarkan nilai yang
terkandung?
9 Apakah peserta didik mampu mendiskusikan
dalam kelompok gerak tari tradisi berdasarkan
nilai dan jenisnya?
10 Apakah peserta didik mampu mendiskusikan
tentang pengalaman penting yang dadapat,
manfaat serta tindak lanjut setelah mendapatkan
materi nilai-nilai yang terkandung dalam tari
tradisi?
11 Apakah peserta didik mampu mendeskripsikan
dampak sikap setelah mendapatkan materi nilai-
nilai yang terkandung dalam tari tradisi?
Mengetahui, Pangkal Pinang, 28 Agustus 2025
Kepala SMPN 6 Pangkal Pinang Guru Seni Budaya
ZULAIHANI, S. Pd Robi Maulana, [Link]
NIP. 198211272008042001
LAMPIRAN- LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Tabel 1.3 LKPD Kegiatan Pembelajaran
SEBUTKAN FUNGSI DAN KEUNIKAN TARI TRADISI DARI VIDEO YANG DI
AMATI
TARI KECAK TARI PIRING TARI CAMPAK
LAMPIRAN 2
BAHAN BACAAN GURU DAN PESERTA DIDIK
Pada prosedur kegiatan pembelajaran 2, peserta didik mengkaji jenis-jenis tari tradisi dari
berbagai sumber belajar baik media cetak maupun video. Kegiatan pembelajaran yang
dilakukan lebih pada penguatan kompetensi pengetahuan. Peserta didik dapat membaca buku
lebih banyak serta memberi apresiasi dengan mengamati video jenis-jenis tari tradisi dari
berbagai daerah di wilayah Indonesia. Memperhatikan fenomena atau objek materi dengan
teliti. Tujuannya agar peserta didik mendapatkan informasi tentang jenis-jenis tari tradisi.
Soedarsono (1972) membagi jenis-jenis tari tradisional menurut koreografinya menjadi 3
yaitu tari rakyat, tari klasik dan tari kreasi baru. Tari rakyat adalah tarian yang sudah
mengalami perkembangan sejak jaman masyarakat primitif sampai sekarang. Tarian sangat
sederhana dan tidak mengindahkan norma-norma keindahan dan bentuk yang standar.
Pada zaman primitif tari-tarian rakyat merupakan tarian yang sakral dan mengandung
kekuatan magis. Tari klasik adalah tarian yang telah mencapai kristalisasi keindahan yang
tinggi dan mulai ada sejak jaman masyarakat feodal. Tarian klasik adalah tarian yang
dipelihara di istana raja-raja dan bangsawan yang telah mendapat pemeliharaan yang baik.
Tari kreasi baru adalah tari yang mengalami modernisasi yang timbul karena untuk
memenuhi cita-cita gerakan romantis yang bertujuan untuk ekspresi dan desakan batin. Di
Indonesia tari kreasi baru adalah jenis tari yang koreografinya bertolak dari tari primitif dan
tari klasik. Terbentuknya tari kreasi karena dipengaruhi oleh gaya tari dari daerah/negara lain
maupun hasil kreativitas penciptanya. Menurut fungsinya tari tradisi dibedakan menjadi 3
yaitu tari upacara, tari hiburan, dan tari pertunjukan.
1. Tari Tradisi Sebagai Upacara Ritual/Keagamaan
Di dalam kehidupan keagamaan sejak zaman Hindu masyarakat Indonesia telah
menggunakan tari-tarian sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan. Contohnya, di Bali
masih banyak dijumpai tari-tarian yang dilakukan di tempat ibadah agama Hindu (Pura)
sebagai sarana komunikasi pemeluk Hindu dengan para dewa. Tari Rejang adalah tari
wanita di Bali yang memiliki kadar ritual yang sangat tinggi. Tari kelompok ini berfungsi
sebagai tari penyambutan kedatangan para dewa, yang diundang untuk turun ke pura
(bangunan keagamaan), yang biasanya lalu disusul dengan tari Baris.
Tari Baris merupakan tari putra yang dibawakan oleh kelompok pria dewasa, yang
biasanya ditampilkan setelah tari Rejang usai. Tari Baris juga berfungsi sebagai tari
penyambutan kepada para dewa yang diundang pada upacara Piodalan. Sudah barang
tentu tari Rejang dan tari Baris merupakan tari sakral yang dipersembahkan kepada para
dewa pada upacara Piodalan. Penyelenggaranya juga memerlukan tempat terpilih, hari
terpilih, penari terpilih, dilengkapi seperangkat sesaji, busana khas, dan bukan merupakan
pertunjukan yang mementingkan penampilan secara estetis (Soedarsono, 2011). Jenis
tarian seperti inilah yang dimaksudkan dengan fungsi tari sebagai sarana keagamaan. Di
daerah lain juga, ada tarian untuk tolak bala dan meminta hujan.
Di daerah keraton Kasunan Surakarta setiap penobatan raja (upacara pengetan
jumenengan) yang diadakan sekali dalam satu tahun selalu dipentaskan tarian pusaka jenis
Bedhaya yang disebut Bedhaya Ketawang. Tari Bedhaya Ketawang dengan demikian
termasuk tarian sakral yang tidak mungkin dipentaskan di luar tembok keraton dan di luar
konteks upacara sakral tersebut (Sumaryono, 2017).
2. Tari Pergaulan
Tari Pergaulan adalah jenis tari tradisional yang berfungsi untuk menciptakan
kegembiraan, kemeriahan suasana pada upacara-upacara adat perkawinan. Jenis-jenis tari
pergaulan terdapat di hampir kelompok suku di Indonesia. Pada intinya jenis tari
pergaulan adalah berupa tarian berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan yang secara
tematik menggambarkan keakraban hubungan dua manusia lain jenis tersebut. Di
Kalimantan terdapat jenis tari pergaluan yang disebut Manasai, sedangkan di kalangan
suku Batak (Sumatera Utara) tari pergaulan yang bernama tari Tor-tor Boru atau tari
Pemudi. Berbeda dengan Jawa, tari pergaulan tersebut bernama tari Tayub, dan di Jawa
Barat disebut Ketuk Tilu, selain Ketuk Tilu, istilah yang populer tari pergaulan di Jawa
Barat adalah tari Ronggeng (Sumaryono, 2017)
3. Tari Tradisi Sebagai Seni Pertunjukan/Tontonan
Dari berbagai macam tari daerah terdapat jenis tari yang berfungsi sebagai tari pertunjukan
atau tontonan yaitu jenis tarian yang dihadirkan hanya sebagai hiburan semata. Dengan
menyaksikan atraksi-atraksi pada sebuah tarian diharapkan penonton akan merasa
terhibur. Jenis tarian ini banyak dijumpai di seluruh wilayah nusantara. Hampir setiap
daerah memiliki tarian seperti ini.
Tari sebagai seni pertunjukan, penyajiannya selalu mempertimbangkan nilai-nilai artistik,
sehingga penikmat dapat memperoleh pengalaman estetis dari hasil pengamatannya.
Misalnya bila kita menikmati tarian istana Bedaya dan Srimpi yang nampak halus-lembut
tetapi memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Apabila kita dalam mengamati kurang serius,
kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali rasa ngantuk dan jenuh.
LAMPIRAN 3
GLOSARIUM
Apresiasi : kegiatan mengartikan serta menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni, serta
menjadi sensitif mengenai gejala estetis dan artistik, sehingga dapat menikmati dan
menilai karya tersebut secara semestinya.
Audio visual : teknologi atau alat pengantar pesan yang bersifat suara dan gambar (sesuatu
yang dapat dipandang).
Baya mangap : yaitu jari empat merapat lurus, ibu jari membuka kesamping.
Gedheg (putaran) : yaitu sikap kepala ditekan ke belakang dan berakhir condhong ke
samping kanan.
Gedheg lenggutan : yaitu sikap kepala ditarik ke belakang dan menjulur ke depan.
Gedheg manthuk : yaitu sikap kepala yang menjulur ke depan dan kepala menekan leher.
Gedheg ula ngelangi : yaitu sikap kepala condong ke kanan dan condong ke kiri.
Gedrugan : yaitu membunyikan gongseng.
Gejegan : kedua kaki menggeser ke samping dengan langkah kecil.
Gerak distorsif : merupakan pengolahan gerak melalui proses perombakan dari aslinya dan
merupakan salah satu proses stilasi.
Gerak feminim : disebut juga gerak wanita, merupakan gerak yang condong memakai
volume yang menyudut atau menyempit serta berkesan halus, mudah dan gesit.
Gerak maskulin : disebut juga gerak laki-laki, merupakan kebalikan dari gerak feminim
yakni gerak yang condong memakai volume gerak atau ruangan yang luas
memberikan kegagahannya dengan kesankesan patah-patah dan kuat.
Gerak non representatif : yaitu gerakan yang tidak menggambarkan apapun kecuali semata-
mata mengandalkan kemampuan dari tubuh dalam menterjemahkan pola ruang dan
waktunya yang khas.
Gerak representatif : yaitu gerakan yang diangkat atas dasar usaha imitative dari berbagai
objek tertentu sehingga gerakan yang dipresentasikan memiliki kemiripan dengan
objek tersebut.
Gerak stilatif : merupakan gerak yang telah mengalami proses pengolahan (penghalusan)
yang mengarah pada bentuk-bentuk yang indah.
Gobesan : yakni sikap kepala menggeleng.
Improvisasi : penciptaan atau pertunjukan sesuatu (pembawaan puisi, musik, tari, dan
sebagainya) tanpa persiapan lebih dahulu.
Kritik tari : uraian pembahasan serta penilaian suatu kenyataan unsurunsur karya tari untuk
mempertimbangkan baik buruknya sehingga dapat menjadi bahan evaluasi bagi
koreografer maupun bagi khalayak seni tari pada umumnya.
Kritikus : istilah umum yang merujuk kepada seseorang yang memiliki keahlian dalam
menyampaikan pertimbangan, melakukan pengkajian dan pembahasan tentang baik
atau buruknya sesuatu.
Kualitas gerak : merupakan efek gerak yang dihasilkan akibat dari cara penggunaan tenaga
seperti: gerak mengayun, gerak perkusi, gerak bergetar, gerak lamban, dan gerak
menahan.
Labas : yaitu gerak berjalan.
Level gerak : tingkat ketinggian yang mampu dijangkau oleh penari saat melakukan suatu
gerakan, bisa tinggi, sedang, dan rendah.
Ngithing : yaitu jari tengah dan ibu jari menekuk bertemu, yang lain menekuk sedikit.
Pola lantai : garis yang harus dilalui oleh penari saat melakukan gerak tari.
Psikomotor : adalah satu ranah yang menilai keterampilan (skill) atau kemampuan
melakukan sesuatu setelah seseorang menerima pembelajaran pada bidang tertentu.
Ragam gerak : berbagai bentuk dan jenis gerak yang muncul dari tubuh manusia serta
mempunyai makna untuk dipahami oleh orang lain.
Rangsang visual : adalah rangsangan yang timbul karena melihat sesuatu gambar, obyek,
pola, wujud, dan sebagainya.
Sirigan : yaitu berjalan maju mundur dengan langkah kecil.
Supit urang terbuka : yaitu jari telunjuk dan ibu jari menekuk hampir bertemu, yang lain
lurus merapat.
Supit urang tertutup : yaitu jari telunjuk dan ibu jari bertemu, yang lain lurus.
Tanjek : yaitu gerak berdiri dengan menggerakkan kaki kanan dengan gongseng.
Tolehan : yakni gerak gedheg kepala yang merupakan sikap pandangan topeng.
Visual : sesuatu yang dapat dilihat dengan indra penglihatan mata.
LAMPIRAN 4
DAFTAR PUSTAKA
▪ Fitri Daryanti, Wida Rahayuningtyas, 2021, Buku Panduan Guru Seni Tari Untuk SMP
Kelas VIII, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Jakarta.
▪ Fitri Daryanti, Wida Rahayuningtyas, 2021, Seni Tari Untuk SMP Kelas VIII, Badan
Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,
Riset, dan Teknologi, Jakarta.
▪ Iswantara, Nur. 2016. Kritik Seni Seni Kritik. Semarang: Gigih Pustaka Mandiri.
▪ Jazuli, M. [Link] Seni Budaya; Suplemen Pembelajaran Seni Tari. Semarang:
Universitas Negeri Semarang Press.
▪ Kussudiardja, Bagong. 2000. Bagong Kussudiardja; Dari Klasik Hingga Kontemporer.
Yogyakarta: Padepokan Press.
▪ Masunah, Juju, dan Narawati. 2012. Seni dan Pendidikan Seni. Bandung: P4ST UPI.
▪ Murgianto, Sal, 1986. Pengetahuan Elementer Tari danBeberapa Masalah Tari. Jakarta:
Direktorat Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan
▪ Sedyawati, Edi. Dkk. 1986. Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah Tari.
Jakarta: Direktorat Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
▪ Soedarsono. 1986. Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari dalam Pengetahuan
Elemen Tari dan Beberapa Masalah Tari. Jakarta: Direktorat Kesenian.