IBDAL
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Tashrif Musytarak
Dosen pengampu :
Syukril Agaba Kalis Rubeda, [Link].I., [Link].
Disusun oleh :
Najwa Falahin (2023181030001)
Mela Zubaida Rahma ( 2023181020015 )
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM BADRUS SHOLEH (IAIBA)
PURWOASRI KEDIRI
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat, taufiq,
serta hidayah kepada kita, sehingga kita dapat menyelesaikan penugasan mata perkuliaha
Tashrif Musytarak ini dengan tepat waktu.
Tugas ini kami buat untuk menjelaskan materi tentang asal usul dan perkembangan
fiqih lughah. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam penyusunan makalah ini,. Khususnya kepada Bapak Syukril Agaba Kalis Rubeda,
[Link]. selaku pengampu mata perkuliahan Tashrif Musytarak yang telah membimbing kami,
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan.
Oleh sebab itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan untuk
kesempurnaan pada makalah ini. . Disamping itu, kita memohon maaf yang sebesar-
besarnya. Demikian, semoga para kalian dapat mengambil manfaat dari makalah ini
Atas perhatian dan waktunya, kami ucapkan terima kasih.
Kediri, 25 Mei 2025
Penyusun
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Bahasa Arab memegang peranan penting dalam peradaban dan perkembangan
Islam karena merupakan bahasa Al-Qur’an dan mengingat banyaknya ilmuwan Islam
yang menulis karyanya dengan bahasa Arab. Hal tersebut secara tidak langsung
menuntut kita untuk mempelajari dan mendalami bahasa Arab, ditambah lagi dengan
sangat berkembangnya bahasa Arab saat ini yang menjadikan bahasa Arab sebagai
salah satu bahasa Internasional. Bahkan sudah banyak sekolah-sekolah yang
menjadikan bahasa Arab sebagai pelajaran wajib dalam kurikulumnya.
Dalam bahasa Arab, tidak bisa dielakkan lagi bahwa kaidah memegang
peranan sangat penting didalamnya. Terutama nahwu dan shorof. Karena kaidah
menentukan bagaimana cara kita memahami bahasa tersebut dan membuat orang lain
paham dengan apa yang kita ucapkan. Salah satu dari pada kaidah-kaidah nahwu dan
shorof ialah penggantian huruf (ibdal). Oleh karena itu, didalam makalah ini penulis
akan memaparkan apa yang dimaksud penggantian huruf beserta kaidah-kaidahnya
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimksud Ibdal?
2. Apa saja huruf ibdal?
3. Apa kaidah-kaidah dalam ibdal?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu ibdal.
2. Untuk mengetahui huruf-huruf ibdal.
3. Untuk mengetahui apa saja kaidah-kaidah ibdal.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ibdal
َوَوَضَع آَخر َمَكاَنُه, اِإلبَداُل ِإَز اَلُة َح رٍف
Ibdal adalah membuang atau melepas huruf dan meletakkan huruf lain pada
tempatnya huruf yang dibuang.1
Ibdal itu menyerupai I’lal, di tinjau dari segi sama-sama melakukan perubahan,
hanya saja i’lal khusus masuk pada huruf illat sedangkan ibdal bisa masuk pada
huruf shohih dan juga huruf illat
B. Huruf huruf Ibdal
Adapun huruf ibdal itu ada 9, yaitu:2
َأْح ُر ُف اِإْلْبَداِل َهَدْأُت ُمْوِطَيا# .............................
a. Ha’
b. Dal
c. Hamzah
d. Ta’
e. Mim
f. Wawu
g. Tha’
h. Ya’
i. Alif
C. Kaidah-kaidah Ibdal
1. Mengganti huruf waw dan ya’ dengan huruf hamzah, terdapat dalam keadaan berikut :
A. Wawu dan ya’ diganti hamzah, apabila jatuh setelah alif zaidah.3
1
Musthafa al-Gholayain, Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, Juz 2 (Bairut: Dar al-Kotob al-‘Ilmiyah, 2014), hal. 81
2
Ibnu ‘Aqil, Syarah Ibnu ‘Aqil, (Surabaya: al-Haramain Jaya), hal. 193.
3
Musthafa, Jami’ al-Durus, 81
3
Lafal Asal asal fi’il
ُدَعاٌء ُدَعاٌو َيدُعو-َدَعا
بناء بناٌى َيْبَنى-َبَنى
Begitu pula alif yang berada di akhir kata dan sesudah alif zaidah juga harus diganti hamzah.
Lafal Asal Wazan
َح ْمَر اُء َح ْمَر ى سْكَر ى
Lafadz َح ْمَر ىdengan menambahkan alif mad pada sebelum akhir ((َح ْمَر اى, seperti
halnya penambahan alif mad pada lafadz ِكَتاٌب. Kemudian alif yang kedua diganti hamzah
supaya memungkin seseorang untuk mengucapkan lafadz tersebut dikarenakan keduanya
mati, maka menjadi .َح ْمَر اُء
Dan apabila wawu atau ya’ yang jatuh setelah alif zaidah tersebut diiringi atau disertai
dengan ha’ ta’nis yang bertujuan untuk membedakan mudzakkar dan muannas, maka wawu
atau ya’ tersebut juga diganti hamzah.
lafadz Asal mudzakkar Keterangan
َبَّناَءٌة َبَّناَيٌة َبَّناٌء Shighot
َمَّش اَءٌة َمَّش اَوٌة َمَّش اٌء mubalaghah
Apabila ha’ ta’nis tersebut bukan untuk membedakan mudzakkar dan muannas, maka
wawu’atau ya’ terebut ditetapkan. Contoh: ِهَداَيٌة َعَداَوٌة.
Ada beberapa pengecualian dalam hal ini :
Jika ketika waw atau ya’ terletak setelah alif yang bukan zaidah, maka tidak diganti.
Contoh : آَيٌة َو َر اِوَّيٌة
Apabila tidak berat dalam pengucapan. Contoh : َتَعاَوَنdan َتَباَيَن
4
B. Jika huruf waw dan ya’ terletak di ‘ain ism fa’il dan keduanya dii’lalkan ketika fi’l.4
Isim fa’il Asal Fi’ilnya Asal
َقاِئٌل َقاِوٌل َقاَل َقَوَل
باِئٌع َباِيٌع َباَع َبَيَع
َقاَلdan َباَعasalnya adalah َقَوَلdan َبَيَع, wawu dan ya’ tersebut berharakat dan huruf
sebelumnya berharakat fathah, maka wawu atau ya’ diganti alif
Kecuali, ketika huruf waw dan ya’ tidak dii’lalkan ketika di fi’l. Contoh : َعِوَرdan َعِيَن
2. Huruf mad zaidah diganti hamzah apabila terletak pada posisi ketiga dalam wazn َمَفاِع ٌلdi
dalam ism shohih akhir.
Huruf mad Mufrod Jamak
Alif َقاَل َدٌة َقاَل ِئُد
Wawu َعُج ْوٌز َعَج اِئُز
Ya’ َصِح ْيَفٌة َصَح اِئُف
Kecuali, yaitu jika waw/ya’ bukanlah huruf tambahan, maka tidak diganti hamzah.
Contoh : ) َمَفاَز ٌة – َمَفاِوٌز (َفاَز, َقسَوَر ٌة – َقَس اِوٌر
Adapun ketika mad zaidah yang berada di isim shahih akhir dan sebagai huruf ketiga itu
ketika di jamakkan mengikuti wazan مَفاِع ُلmenjadi mu’tal lam, maka jamak nya di ikutkan
wazan َفَعاَلى
Mufrod Jamak Asal jamak
َقِضَّيٌة َقَضاَيا َقَضاِئُي
Lafadz َقَضاَياasalnya adalah َقَضاِيُي, kemudian ya’ yang pertama diganti hamzah karena ia
bertempat setelah alif taksir ( )َقَضاِئُي, kemudian harakatnya hamzah diganti fathah, karena
untuk meringankan (( َقَضاَئُي, dalam hal ini terdapat ya’ yang berharakat dan jatuh setelah
4
Abdul Kholiq, al-Tashrif al-Isthilahi, (Nganjuk: PP. Darus Salam), 7.
5
huruf yang berharakat fathah, maka ya’ diganti alif ((َقَضاَءا, kemudian hamzah diganti ya’ ((
َقَضاَيا.5
[Link] huruf alif terdapat di tengah dua waw/ya’ yang berada dalam wazn َمَفاِع ٌلdan
terdapat pada ism shohih akhir. Maka huruf waw/ya’ yang kedua diganti dengan hamzah
Mufrad Jamak Asal
َاّوَل َاَواِئَل َاَواِوُل
َس ِّيٍد َس َياِئَد َس َياِوُد
َنِّيٍف َنَياِئَف َنَياِوُف
Kecuali, Jika wazn َمَفاِئيٌل, maka huruf waw/ya’ tidak boleh diganti hamzah.
Contoh : َطاُوٌو – َطَواِويٌس
Apabila lam fi’lnya dii’lalkan, maka jamaknya atas wazn asli dari kata َز َواَياdan semisalnya
adalah َز َواِيٌيatas wazn َفَواِع ٌل. Dengan ya’ pertama berharakat kasrah. Kemudian harakat
kasrahnya diganti menjadi fathah, dan ya’ yang kedua diganti alif karena huruf sebelumnya
berharakat fathah. Contoh : َرِوَّيٌة – َرَواَيا َز اِوَّيٌة – َز َواَيا
4. Apabila ada wawu yang berharokat dhammah dan berada sesudah huruf yang sukun atau
sesudah huruf yang dibaca dhammah pula, maka wawu boleh diganti hamzah dan boleh pula
ditetapkan (tidak diganti hamzah). Tetapi yang diganti lebih baik dari pada yang tidak.
Mufrad Diganti hamzah Tetap
َأ َأ
َداٌر ْدُؤُر ْدُوُر
َح اٌل حُؤْوٌل ُح ُوْوٍل
[Link] dalam sebuah kata diawali dengan dua huruf waw ()واو, maka واوyang pertama
diganti dengan hamzah, selama واوyang kedua bukan pengganti dari الف الَمَفاَعَلَة
Lafadz Asal Mufrod
5
Abdullah bin Sholih, Dalil al-Salik Ila Alfiyah Ibn Malik Juz 3, (Dar al-Muslim), 305.
6
َأَواِصُل َوَواِصُل َواِصَلٌة
َأ
َواِع ُد َوَواِع ُد َواِع َدٌة
Adapun jika wawu yang kedua tadi merupakan gantian (berasal) dari alifnya ُمَفاَعَلٌة,
maka wawu yang pertama boleh ditetapkan dan boleh diganti hamzah.
lafadz tetap Diganti hamzah Keterangan
َواَفى ُأ
ُوْوِفَي ْوِفَي
ُأ Mabni Majhul
َواَقى ُوْوِقَي ْوِقَي
[Link] fa’ fi’l dalam wazn ِإفَتَعَل adalah waw/ya’ maka keduanya diganti
dengan ta’. Begitu juga dalam wazn ِإفِتَعاٌل
Lafal Asal Diganti ta’ Di idghomkan
إَّتَصَل إوَتَصَل ِاْتَتَصَل إَّتَصَل
إَّتَس َر إْيَتَس َر ِاْتَتَس َر إَّتَس َر
إَّتَقى إوَتَقى ِاْتَتَقى إَّتَقى
Yang demikian tadi dengan syarat bahwa ya’ tersebut tidak berasal (gantian) dari
hamzah. Kalau ya’ berasal dari hamzah, maka tidak boleh diganti ta’.
Lafal Asal
إْيَتَمَر إئَتَمَر
Namun ada juga yang diganti ta’, tetapi hukumnya sedikit.
Lafal Asal Asalnya asal
ِإَّتَز َر ِإْيَتَز َر ِإْئَتَز َر
7
[Link] fa’ fi’l dalam wazn ِإفَتَعَلadalah berupa tsa’ maka ta’nya wajib diganti tsa’
kemudian diidghamkan.
Lafal Asal
ِاَّثَقَب ِاْثَتَقَب
[Link] fa’nya berupa dal, dzal, atau za’, maka huruf ta’nya wajib diganti dal
Lafal Asal
ِإَّدَعى ِإْدَتَعى
ِإْذَدَكَر ِإْذَتَكَر
ِإْزَدَهى ِإْزَتَهى
[Link] apabila fa’nya berupa shad, dhad, tha’, atau dzha’, maka ta’nya wajib diganti tha’.
Lafal Asal
ِإْصَطَفى ِإْصَذَفى
ِإْضَطَجَع ِإْضَتَجَع
ِإَّطَر َد ِإْطَتَر َد
[Link] juga di idghomkan setelah mengganti dal dan tha’, dengan huruf yang sejenis
dengan huruf yang jatuh sebelumnya. Contoh:
Lafadz Asal
ِاَّذَكَر ِاْذَدَكَر
ِاَّصَفى ِاْصَطَفى
[Link] sebaliknya, yaitu dengan mengganti huruf tsa’ dengan ta’, dzal dengan dal, dzha’
dengan tha’. Contoh:
Lafal Asal
ِاَّتَقَب ِاْثَتَقَب
ِاَّدَكَر ِاْذَدَكَر
اَّطَلَم ِاْظَطَلَم
8
[Link] dalam wazn َتَفَّعَل, َتَفاَعَل, dan َتَفعَلَلfa’ fi’lnya adalah , ط, ض, ص, ز, د, ذ,ث
ظ, maka ta’ dalam wazn َتَفَّعَل, َتَفاَعَل, dan َتَفعَلَلboleh diganti menjadi huruf yang
sejenis dengan huruf setelahnya, kemudian huruf pengganti ta’ tadi diidghamkan ke
dalam huruf sesudahnya. Sesudah demikian maka sulit dibaca karena huruf pertamanya
berupa huruf yang sukun, maka wajib mendatangkan hamzah washal.
Ta’ disamakan
Menambahkan
dengan huruf
Lafadz Asal hamzah
sesudahnya dan
washol
diidgomkan
ِاَّثاَقَل َتَثاَقَل َّثاَقَل ِاَّثاَقَل
ِاَّدَثَر َتَدَّثَر َّدَّثَر ِاَّدَّثَر
ِاَّذَكَر َتَذَّكَر َّذَّكَر ِاَّذَّكَر
ِاَّزَّيَن َتَزَّيَن َّزَّيَن ِاَّزَّيَن
ِاَّصَّبَر َتَصَّبَر َّصَّبَر ِاَّصَّبَر
ِاَّضَّر َع َتَضَّر َع َّضَّر َع ِاَّضَّر َع
ِاَّطَّر َب َتَطَّر َب َّطَّر َب ِاَّطَّر َب
ِاَّظَّلَم َتَظَّلَم َّظَّلَم ِاَّظَّلَم
Dan terkadang tidak berupa huruf-huruf yang telah disebutkan di atas.
Contoh: ِاَّش اَج َرdan ِاَّسَمَع
[Link] terdapat ta’ yang berharakat sukun yang terletak sebelum dal ()د, maka harus
diganti dengan dal()د.
Lafal Asal Jamak dari
ِع َّداٍن ِع ْتَداِن َعُتْوٍد
[Link] terdapat nun sukun yang terletak setelah huruf ba’ atau mim, maka diganti
menjadi mim.
Lafal Di baca
ِإْنَمَح ى ِإَّمَح ى
9
ُس ْنَبل ُسْمَبل
Penggantian hanya dalam pelafalan, tidak dalam penulisan.
[Link] mim ( )مpada kalimat َفٌّمmerupakan pengganti dari huruf waw()و, karena kata
aslinya adalah ُفوٌه, jamak dari َأفَواٌهyang kemudian huruf هnya dibuang, dan
huruf waw diganti dengan huruf mim. Apabila diidhafahkan maka kembali ke bentuk aslinya.
Lafal Asal Jamaknya
َأ
َفٍم ُفْوٌه ْفَواٍه
Dan pada saat lafal tersebut dimudhafkan, maka huruf mim boleh dikembalikan
berupa huruf aslinya yaitu wawu, dan boleh huruf mim sebagai pengganti wawu tadi
ditetapkan.
Lafal Keterangan
هَذا ُفْوَك Mim dikembalikan berupa wawu
َهَذا َفُمَك Mim sebagai pengganti wawu
ditetapkan
10
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
11
DAFTAR PUSTAKA
Gholayain (al), Musthafa. (2014). Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, Juz 2. Bairut: Dar al-Kotob
al-‘Ilmiyah,
Ibnu ‘Aqil , Syarah Ibnu ‘Aqil. Surabaya: al-Haramain Jaya.
Kholiq, Abdul. al-Tashrif al-Isthilahi. Nganjuk: PP. Darus Salam.
Sholih, Abdullah b. Dalil al-Salik Ila Alfiyah Ibn Malik Juz 3. Dar al-Muslim.
12