0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan16 halaman

Penanganan dan Pencegahan Rabies

Rabies adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Lyssavirus, ditularkan melalui gigitan hewan terinfeksi dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera. Gejala muncul dalam tiga tahap, dengan peluang bertahan hidup yang sangat kecil setelah gejala neurologis muncul. Pencegahan dilakukan melalui vaksinasi hewan dan tindakan cepat setelah gigitan, serta program nasional 'Indonesia Bebas Rabies 2030'.

Diunggah oleh

Ella Cahyati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan16 halaman

Penanganan dan Pencegahan Rabies

Rabies adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Lyssavirus, ditularkan melalui gigitan hewan terinfeksi dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera. Gejala muncul dalam tiga tahap, dengan peluang bertahan hidup yang sangat kecil setelah gejala neurologis muncul. Pencegahan dilakukan melalui vaksinasi hewan dan tindakan cepat setelah gigitan, serta program nasional 'Indonesia Bebas Rabies 2030'.

Diunggah oleh

Ella Cahyati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASKEP

PENYAKIT
MENULAR RABIES
KELOMPOK 4
DEFINISI
Rabies adalah penyakit infeksi akut pada sistem saraf
pusat yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus.
Penyakit ini termasuk ke dalam kelompok zoonosis
karena dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus
rabies menyerang sistem saraf pusat dan
menyebabkan ensefalitis (peradangan otak) yang
berujung pada kematian bila tidak ditangani segera
(Kementerian Kesehatan RI, 2023
PENYEBAB DAN MEKANISME
DAN PENULARAN
Virus penyebab rabies berada dalam air liur
hewan yang terinfeksi. Mekanisme penularan
utama adalah melalui gigitan hewan penular
rabies (GHPR) seperti anjing, kucing, dan monyet.
Virus masuk ke tubuh melalui luka gigitan dan
menuju sistem saraf pusat dengan cara bergerak
sepanjang serabut saraf menuju otak.
FAKTOR RISIKO PENULARAN RABIES
MENURUT STUDI PUTRI (2023):
1. Tidak melakukan pembersihan luka setelah gigitan.
2. Tidak mendapatkan vaksin anti rabies (VAR).
3. Hewan penular tidak divaksinasi.
[Link] air liur hewan rabies pada kulit yang
terluka. Tidak melakukan pembersihan luka setelah
gigitan.
GEJALA KLINIS RABIES
PADA MANUSISA
Rabies memiliki masa inkubasi 1–3 bulan. Gejala rabies muncul
bertahap
1. Tahap Prodromal: demam, lemas, sakit kepala, nyeri pada bekas
gigitan, gelisah.
[Link] Neurologis: pasien menunjukkan tanda hidrofobia (ketakutan
pada air), aerofobia (ketakutan terhadap angin), kejang otot, perubahan
perilaku, dan agresif (Nugraha & Sari, 2022).
[Link] Paralitik: kelumpuhan otot-otot pernapasan dan kematian.
Pada tahap neurologis, peluang pasien bertahan hidup sangat kecil
(Kemenkes RI, 2023).
PATOFISIOLOGI
Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang
terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan
lainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang
melalui jilatan. Virus akan berpindah dari tempatnya
masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis
dan otak, dimana mereka berkembangbiak.
Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf
menuju ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan SOP Kementerian
Kesehatan RI (2023):

1. Cuci luka dengan sabun dan air mengalir minimal 15


menit.
2. Berikan antiseptik pada luka.
3. Segera ke fasilitas kesehatan.
4. Berikan VAR dan SAR sesuai tingkat keparahan luka.
PENCEGAH DAN ELIMINASI RABIES
DI INDONESIA

Upaya pencegahan rabies dilakukan melalui:


1. Vaksinasi hewan penular rabies.
2. Eliminasi populasi anjing liar di daerah endemis.
3. Edukasi masyarakat mengenai bahaya rabies.
4. Pelaporan kejadian gigitan hewan penular rabies
ke puskesmas. Indonesia menjalankan program
nasional “Indonesia Bebas Rabies 2030”
(Kemenkes RI, 2023)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Elektroensefalogram ( EEG ) : dipakai unutk membantu
menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
2. Pemindaian CT : untuk mendeteksi perbedaan kerapatan
jaringan.
3. Magneti resonance imaging ( MRI ) :berguna untuk
memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht
bila menggunakan pemindaian CT.
4. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk
mengevaluasi kejang.
5. Uji laboratorium
PENGKAJIAN
Pengkajian mengena: Pengkajian Fisik Neurologik :

[Link] Pernafasan [Link] – tanda vital


[Link] Nutrisi [Link] kepala
[Link] Neurosensori [Link] pupil
[Link] Neurosensori [Link] kesadaran
[Link] [Link]
[Link] Ego [Link] kejang
[Link] sensoris
[Link]
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pola nafas berhubungan dengan afiksia
2. Gangguan pola nutrisi berhubungan dengan penurunan
refleks menelan
3. Demam berhubungan dengan viremia
4. Cemas (keluarga) berhubungan kurang terpajan
informasi
5. Resiko cedera berhubungan dengan kejang dan
kelemahan
6. Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka
INTERVENSI
2. Gangguan pola nutrisi berhubungn dengan penurunan
refleks menelan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan


kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, dengan kriteria hasil :
pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan
porsi yang diberikan /dibutuhkan.
Intervensi
Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang
dialami pasien.
Berikan makanan yang mudah ditelan
Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi
sering.
Ukur berat badan pasien setiap minggu.
EVALUASI

evaluasi merupakan penilaian akhir yang


dilakukan perawat setelah diberikan
implementasi atau tindakan keperawatan.
Diharapkan hasil yang didapatkan semua keluhan
dan gejala2 yang dialami pasien membaik. Dan
mengikuti kriteria hasil yang ditentukan di
intervensi
KESIMPULAN
Rabies merupakan penyakit akut dan mematikan yang
menyerang sistem saraf pusat dan ditularkan melalui
gigitan hewan penular rabies seperti anjing, kucing, dan
monyet. Setelah gejala klinis muncul, peluang pasien
bertahan hidup sangat kecil. Penyakit ini dapat dicegah
melalui vaksinasi hewan penular rabies serta tindakan
cepat dan tepat setelah gigitan, termasuk mencuci luka
dan pemberian vaksin anti rabies.
THANK YOU

Anda mungkin juga menyukai