LAPORAN PENDAHULUAN
RESUSITASI JANTUNG PARU
NAMA : HALIMAH TUSSAKDIAH
NIM : PO71201230158
KELAS : 3B D4 KEPERAWATAN
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES JAMBI
TAHUN 2025/2026
RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)
A. DEFINISI
Suatu usaha atau tindakan dengan cara massage jantung luar untuk
mengembalikan fungsi jantung dan paru yang mengalami gangguan
pernafasan secara mendadak guna kelangsungan hidup pasien.
B. TUJUAN
1. Mengembalikan fungsi jantung dan paru (pernafasan) untuk kelangsungan
hidup pasien.
2. Memberikan bantuan sirkulasi dan pernafasan yang adekuat sampai
keadaan henti jantung teratasi atau pasien dinyatakan meninggal.
C. PERALATAN
1. Troley emergency lengkap dengan obat obatan seperti S A, epineprine,
dopamin, levophed, bicnat, glucosum, kortikosteroid, Cairan infus RL,
NACL 0,9 %, Dextran L.
2. PMR terdiri dari ambubag, gudel, face mask, selang oksigen, tong spatel.
3. Papan resusitasi
4. Monitor EKG siap pakai.
5. DC Shock siap pakai.
6. Suction siap pakai.
D. PERSIAPAN PASIEN
1. Klien tidur datar dan telentang tanpa bantal beralaskan papan resusitasi.
2. Keluarga diberitahu penjelasan tentang fungsi tindakan yang akan
dilakukan
E. LANGKAH-LANGKAH TINDAKAN
No Tindakan Rasionalisasi
1. Perawat cuci tangan Mencegah infeksi nasokomial
2. Petugas menggunakan alat pelindung
diri ( masker, handschoen ).
4. Cek kesadaran klien dengan Mencegah perpindahan
memanggil nama pasien dan mikroorganisme
menggoyangkan bahu pasien /
mencubit klien. Bila tidak ada respon
mintalah pertolongan
5. Tindakan RJP dilakukan oleh satu Bantuan untuk mengembalikan
tim yang terdiri dari minimal 4 orang fungsi jantung dan paru yang
yaitu mengalami gangguan secara
mendadak
1. Satu orang leader (Dokter /
Perawat) yang memberi instruksi
dan memimpin jalannya RJP.
2. Satu orang perawat untuk
memberi ventilasi atau
bertanggung jawab melakukan
ventilasi buatan.
3. Satu orang perawat untuk
kompresi bertanggung jawab
melakukan external cardiac
massage.
4. Satu orang perawat untuk
sirkulator bertanggung jawab
merekam EKG monitor ,memberi
obat emergency, melakukan
suction
6. Nilai monitor EKG dan melihat Mengetahui kondisi klien
pernafasan klien
7. Bila klien tidak bernafas lakukan
sistem bantuan hidup dasar (Air
Way). Mencegah obstruksi jalan nafas oleh
lidah pada klien yang tidak sadar dan
1. Membuka jalan nafas dengan
mencegah gigi palsu tertelan bila ada
head lift chin lift.
2. Melepaskan gigi palsu jika ada.
3. Membebaskan jalan nafas dan
sumbatan dengan melakukan
suction
4. Memasang gudel.
8. Perawat dan dokter mencuci tangan Mencegah infeksi nasokomial
(kalau memungkinkan) dan
menggunakan alat pelindung terdiri
dari masker dan sarung tangan
9. Mengkaji kesadaran klien dengan Mengkaji tingkat kesadaran klien
memanggil nama klien dan
menggoyangkan bahu klien. Bila
tidak ada respon lanjutkan ke tahap
berikutnya, aktifkan sistim
emergency / code blue.
10. Jika klien masih tetap tidak bernafas, Berikan bantuan oksigen pada klien
beri nafas buatan dengan ambubag
sebanyak 12X/menit secara perlahan.
Pertimbangkan untuk tindakan
intubasi dan pasang ventilator
mekanik.
11. Jika arteri karotis tetap tidak teraba
lakukan kompresi jantung luar Menghindari cidera / fraktur IGA
dengan cara penolong berdiri
disebelah kiri klien melakukan
penekanan dada / sternum dengan
cara meluruskan siku, beban pada
bahu kompresi dilakukan ke arah
tulang belakang lebih kurang 5
sampai 6 cm.
Anak
1. Penekanan menggunakan satu
pangkal telapak tangan
Posisi tangan yang benar akan
2. Kedalaman tekanan 2-3 cm
menurunkan terjadinya injury
3. Frekuensi penekanan 80-100 kali
/mnt
Bayi
1. Punggung bayi diletakkan pada
lengan bawah kiri penolong,
sedangkan tangan kiri memegang
lengan atas bayi sambil meraba
arteri brachialis
2. Jari tangan dan telunjuk kanan
penolong menekan dada bayi pada
posisi sejajar putting susu 1 cm ke
bawah
3. Kedalaman tekanan 1-2 cm
Perbandingan kompresi jantung dan
baging 5 : 1
12. Periksa denyut jantung klien dengan arteri karotis masih tetap teraba
cara meraba arteri karotis 5 – 10 walaupun arteri perifer tidak teraba.
detik dileher klien dan mencari Adanya arteri karotis adalah kntra
trachea 2 – 3 jari selanjutnya indikasi dilakukan kompresi
dilakukan perabaan bergeser ke
lateral sampai menemukan batas
trachea dengan otot samping leher
(tempat lokasi arteri karotis berada).
13. Lakukan kombinasi nafas buatan dan Jumlah kompresi per menit yang
kompresi jantung luar dengan efektif menentukan cardiac output
perbandingan 30 : 2 untuk dewasa, 1
atau 2 penolong, 15: 2 pada bayi,
anak 30 : 2 (1 penolong) 15 : 2 (2
penolong)
14 Memberikan therapy dengan Untuk memberikan therapi kejut
menggunakan energi dilakukan pada listrik
pasien henti jantung / cardiac arrest
yang disebabkan oleh ventrikel
fibrilasi (VF) atau ventrikel takikardi
nanpa nadi ( VT ).
15. Memberikan obat obatan sesuai Membantu proses penyembuhan
instruksi dokter.
16. Setiap 5 siklus (150 X kompresi dan Untuk mengevaluasi keberhasilan
10 X ventilsi) lakukan evaluasi. ( ± 2 resusitasi jantung paru
menit)
17. Bila nafas belum ada pertimbangkan Memberiakan bantuan nafas dengan
untuk pemasangan intubasi kompresi alat bantu mekanik
dilanjutkan dengan kecepatan 100
x/menit.
18. Rapihkan klien dan alat-alat Memberi rasa nyaman klien dan
memudahkan melakukan tindakan
19. Perawat / dokter cuci tangan Mencegah infeksi nasokomial
20. Catat tindakan yang sudah dilakukan Untuk mdokumentasi keperawata
dalam catatan keperawatan
F. PENDOKUMENTASIAN
Catat semua tindakan yang telah dilakukan kedalam asuhan keperawatan dan
informed consen.
G. KOMPLIKASI
1. Patah Tulang Sternum
2. Patah Tulang Iga
3. Distensi Lambung
H. DAFTAR PUSTAKA
Setyo, Ika. dkk. 2019. Pertolongan Pertama Gawat Darurat. Malang : UB
Press