0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Nilai Karakter dalam Upin dan Ipin

Penelitian ini menganalisis nilai-nilai karakter yang terkandung dalam serial kartun 'Upin dan Ipin' dan relevansinya dengan pendidikan karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh nilai karakter, yaitu cinta tanah air, kerja keras, peduli sesama, kreatif, jujur, toleransi, dan tanggung jawab yang dapat digunakan sebagai media untuk menanamkan pendidikan karakter pada anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengamatan terhadap adegan dan dialog dalam kartun tersebut.

Diunggah oleh

saepulllohhh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Nilai Karakter dalam Upin dan Ipin

Penelitian ini menganalisis nilai-nilai karakter yang terkandung dalam serial kartun 'Upin dan Ipin' dan relevansinya dengan pendidikan karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh nilai karakter, yaitu cinta tanah air, kerja keras, peduli sesama, kreatif, jujur, toleransi, dan tanggung jawab yang dapat digunakan sebagai media untuk menanamkan pendidikan karakter pada anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengamatan terhadap adegan dan dialog dalam kartun tersebut.

Diunggah oleh

saepulllohhh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No.

3 September 2022

Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No. 3 September 2022

[Link]

ISSN 2776-5865 (online)

NILAI-NILAI KARAKTER PADA SERIAL KARTUN “UPIN DAN


IPIN” RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER
YULI CAHYANINGRUM1*, INTAN RAHMAWATI2, KISWOYO3
1,2,3Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan,

Universitas PGRI Semarang


* yulicahyaningrum26@[Link]
Abstract
Informasi Latar belakang yang mendorong penelitian ini adalah semakin merosotnya
Artikel karakter yang dimiliki oleh-oleh anak-anak bangsa sekarang. Langkah-
_______________ langkah alternatif untuk mengatasi kemrosotan karakter yaitu dengan
Dikirim: 15 Maret2022 menggunakan media film tayangan televisi adalah salah satu aspek yang
Direvisi: 6 Juni 2022
mempengaruhi pendidikan karakter salah satu animasi film yang dijadikan
Diterima: 3 Agustus 2022
obyek adalah serial film kartun Upin dan Ipin.
_______________
Kata Kunci: Nilai,
Fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan
Pendidikan karakter, Upin karakter yang terkandung dalam serial film kartun Upin dan Ipin serta
dan Ipin relevansinya dengan pendidikan karakter. Tujuan dalam penelitian ini
adalah untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter dalam serial film
kartun Upin dan Ipin serta relevansinya dengan pendidikan karakter.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif
deskriptif. Sumber data penelitian ini bersumber dari serial film kartun
Upin dan Ipin. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah gambar
adegan dan tindakan yang menggambarkan nilai-nilai pendidikan karakter
pada serial kartun film Upin dan Ipin.
Hasil penelitian adalah serial film kartun Upin dan Ipin mengandung tujuh
nilai karakter, yaitu cinta tanah air, kerja keras, peduli sesama, kreatif, jujur,
toleransi, tanggung jawab. Ketujuh nilai karakter tersebut relevansinya
dalam serial film kartun Upin dan Ipin yaitu cinta tanah air yang
ditunjukkan dengan bangga memperkenalkan makanan khas daerah, kerja
keras yang ditunjukkan dengan bekerja berjualan ayam untuk menghasilkan
uang, peduli sesama yang ditunjukkan dengan memberi makanan dengan
ikhlas kepada yang membutuhkan, kreatif yang ditunjukkan dengan
memanfaatkan waktu luang untuk membuat berbagai kerajinan dari kelapa,
jujur yang ditunjukkan dengan mengambil uang yang bukan miliknya,
toleransi yang ditunjukkan dengan menghargai kepercayaan orang lain,
tanggung jawab yang ditunjukkan dengan membayar denda atas kesalahan
yang dibuat.
Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut, saran yang dapat disampaikan
adalah agar serial film kartun Upin dan Ipin dapat digunakan sebagai salah
satu cara untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai karakter pada
anak.

PENDAHULUAN
Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang kaya akan nilai-nilai kebangsaan. Kekayaan dari
nilai-nilai kebangsaan tercermin dalam keanekaragaman sosial, politik, budaya, dan bahasa

390
Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No. 3 September 2022

melalui kerukunan dan kebersamaan hidup, musyawarah mencapai mufakat, gotong royong,
tenggang rasa dan pastinya kepercayaan kepada Allah SWT. Karakter bangsa merupakan
pilar penting dan diibaratkan sebagai kemudi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pendidikan karakter merupakan warisan luhur bangsa Indonesia. Sejak lama dalam
kehidupan keseharian para pendiri bangsa ini sudah mengajarkan kepada generasi muda
tentang karakter terhadap bangsa.
Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU
Sisdiknas) dalam pasal 3 ditegaskan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab”. Pasal inilah yang sepertinya selama ini dijadikan sebagai salah
satu tonggak untuk memayungi berjalannya pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan
di Indonesia. (Samani dan Hariyanto, 2011:26).
Dengan demikian, sangat jelas bahwa undang-undang ini mengamanatkan dan
menegaskan arti penting pendidikan sebagai agen peningkatan kualitas anak bangsa, baik
dalam aspek penguasaan pengetahuan (intelektual) maupun aspek nilai etika dan budaya
(karakter).
Wacana pentingnya pendidikan karakter kembali menguat dan menjadi bahan
perhatian sebagai respons atas berbagai persoalan bangsa terutama masalah moral seperti
korupsi, kekerasan, kejahatan, perkelahian antar pelajar, bentrok antar etnis dan perusakan
lingkungan yang cenderung meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan karakter
ini belum terimplementasikan dengan baik kepada masyarakat terutama kepada anak didik di
semua jenjang pendidikan.
Pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk
mengembangkan karakter yang baik (good character) berlandaskan kebajikan-kebajikan inti
(core virtues) yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat (Saptono,
2011:23). Selain itu menurut Kurniawan (2013: 13) pendidikan karakter merupakan kegiatan
yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam memfasilitasi dan membantu peserta didik
untuk mengetahui hal-hal yang baik dan luhur, mencintainya, memiliki kompetensi
intelektual, berpenampilan menarik dan memiliki kemauan yang keras untuk
memperjuangkan kebaikan dan keluruhan serta dapatmengambil keputusan secara bijak.
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki sesorang atau sekelompok orang atau bangsa.
Ciri khas itu asli, mengakar pada kepribadian seseorang atau bangsa, dan menjadi sumber
energi seseorang untuk bersikap, dalam ucapan dan tindakan. Ciri khas karakter adalah nilai-
nilai yang secara universal memberi kebaikan atau keutamaan untuk semua.
Manusia berkarakter adalah manusia yang dalam perilaku dan segala hal yang
berkaitan dengan aktivitas hidupnya sarat dengan nilai-nilai kebaikan. Manusia semacam ini
bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi selalu berusaha memperbaiki segala
bentuk kesalahannya dan terus-menerus memperbaiki diri dari waktu ke waktu (Naim,
2020:60).
Langkah-langkah alternatif yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah
kemerosotan karakter adalah melalui dunia pendidikan pada seluruh jenjang pendidikan.
Pendidikan dinilai dapat menjadi alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan
membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif,
pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi penerus bangsa dalam
berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya
dan karakter bangsa. Memang disadari bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya
dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di

391
Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No. 3 September 2022

masyarakat. (Hidayatulloh, 2017:44). Pendidikan karakter bukan hanya sekedar mengajarkan


mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan
kebiasaan tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif)
tentang mana yang benar dan mana yang salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik
dan terbiasa melakukannya (psikomotor) (Gunawan, 2017:27).
Selain peran orang tua dan lingkungan, tayangan televisi merupakan salah satu aspek
yang mempengauhi pembentukan karakter. Ditengah maraknya tayangan telivisi yang
beredar di Indonesia, banyak tayangan televisi yang tidak layak untuk ditonton anak-anak.
Melalui tayangan televisi anak dapat belajar dengan lebih cepat. Tetapi apabila tayangan
yang dikosumsi anak tidak sesuai tentunya dapat membentuk dampak negatif terhadap
pembentukan karakter anak karena anak cenderung mencontoh apa yang dilihatnya. Begitu
pula sebaliknya, jika suatu tayangan memiliki nilai-nilai positif yang dapat digunakan dalam
kehidupan sehari-hari, tentunya akan mempermudah dalam poses pendidikan karakter.
(Septyawan, 2018:54).
Pendidikan karakter di keluarga akan memberi landasan bagi kehidupan di masa
mendatang. Pendidikan karakter dapat diperoleh anak-anak ketika melihat televisi. Apabila
anak-anak belajar melalui TV, mereka tidak hanya mengamati acaranya dengan tenang,
melainkan mereka juga memperhatikan perubahan-perubahan gambar yang terjadi. Demikian
pula mereka memperhatikan susunan kata-kata dan teks yang ada (Darwanto, 2011:136).
Salah satu inovasi dalam penanaman nilai pendidikan karakter kepada peserta didik
adalah dengan menggunakan media film kartun. Dewasa ini media film kartun begitu mudah
dikonsumsi oleh para generasi muda, dari sekian banyak kartun yang beredar, serial kartun
Upin dan Ipin adalah salah satu yang mengandung banyak nilai-nilai pendidikan karakter.
Film animasi asal malaysia ini berkisah tentang anak kembar bernama Upin dan Ipin
yang lucu, polos, cerdas dan juga menggemaskan. Film Animasi Upin dan Ipin yang akan
dijadikan objek penelitian ini sangat banyak menggambarkan karakter anak-anak yang dapat
dijadikan pembelajaran oleh anak-anak bahkan oleh orang dewasa [Link] dan Ipin
bercerita tentang kehidupan lucu dua anak kembar bernama Upin dan Ipin dengan teman-
temannya.
Tingkah lucu dan menggemaskan mereka sangat menarik dan memberikan banyak
sekali pembelajaran dari keseharian mereka yang mudah dimengerti dan dipahami. Dimana
ada adegan mereka bermain, bersekolah, belajar agama, sifat toleransi dan lain-lain. Dalam
animasi upin dan ipin memiliki latar belakang di sebuah perkampungan kecil dimana budaya
yang ditampilkan mirip dengan budaya yang ada di indonesia sehingga cocok bila diterapkan
pada anak-anak usia didik di Indonesia.
Pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghafal materi soal ujian, dan teknik-
teknik menjawabnya, pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Karakter tidak terbentuk
secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan
kekuatan yang ideal (Gunawan, 2017:29). Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai
media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha,
dan media masa.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul Nilai-Nilai Karakter Pada Serial Kartun Upin dan Ipin Relevansinya Dengan
Pendidikan Karakter.

METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif, pada pendekatan
kualitatif memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan
satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia, atau pola-pola yang dianalisis
gejala-gejala budaya dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan

392
Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No. 3 September 2022

untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku (Sugiyono, 2015). Metode ini
merupakan prosedur penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang [Link] dapat dikatakan bahwa
pendekatan deskriptif kualitatif adalah penelitian untuk menjelaskan atau menggambarkan
data-data yang tidak bersifat numerik namun data-data yang bersifat deskriptif atau kata-kata.
Penelitian ini untuk mendeskripsikan data-data mengenai pendidikan karakter yang
terkandung dalam film serial kartun Upin dan Ipin.
Penelitian deskriptif adalah penelitian non eksperimen, penelitian tidak dilakukan di
lapangan. Setting penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan mengumpulkan
kajian pustaka. Peneliti meneliti nilai karakter dalam film animasi dengan nara sumber
penelitiannya adalah tiga siswa kelas II, guru Sekolah Dasar dan Dosen Universitas PGRI
Semarang. Sedangkan latar waktu penelitian dilakukan pada bulan februari 2021. Peneliti
melakukan pengamatan pada beberapa episode film serial kartun Upin dan Ipin yang di
dalamnya terkandung nilai pendidikan karakter.
Sumber data penelitian yang digunakan yaitu sumber data primer dan sekunder.
Sumber primer merupakan sumber yang memberikan data langsung yang merupakan objek
kajian dalam penelitian ini (Moleong, 2013:215). Sumber data dalam penelitian ini adalah
beberapa responden yang melakukan pengamatan terhadap film serial kartun Upin dan Ipin
serta ahli yang memberikan pengarahan terhadap penelitian yang dilakukan. Sumber
sekunder merupakan data yang digunakan sebagai pelengkap dari data primer. Selain itu,
sumber data ini digunakan untuk menunjang penelaahan data-data yang dihimpun dan
sebagai pembanding data-data primer (Moleong, 2013:216). Dalam hal ini data sekunder
yang digunakan sebagai bahan penguat, pembanding, serta penjelasan dari jabaran data
primer.
Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrumen penelitian, yaitu menggunakan
pedoman wawancara, lembar observasi, studi pustaka dan dokumentasi.

Observasi
Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati secara lebih mendalam berbagai
adegan dan dialog yang menggambarkan nilai karakter pada serial film kartun Upin dan Ipin.
Setelah itu menganalisa adegan atau dialog sesuai dengan indikator yang telah dibuat oleh
peneliti. Kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti sebagai observer. Observasi ini
dilakukan secara berulang-ulang sampai mendapatkan hasil yang jenuh.

Wawancara
Wawancara yaitu cara untuk memperoleh informasi dengan bertanya langsung pada pihak
yang bersangkutan. Tipe wawancara yang digunakan adalah tipe directive interview
(wawancara terarah) dengan mempergunakan pertanyaan yang sudah disiapkan terlebih
dahulu. Wawancara dilakukan terhadap Guru SD serta siswa kelas II yang berkaitan dengan
penanaman nilai pendidikan karakter. Selain itu juga dilakukan wawancara dengan ahli,
bapak Zainal Arifin [Link], [Link] yang berkaitan dengan pendidikan karakter agar penelitian
ini lebih terarah.

Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan sebagai pendukung dalam penelitian. Tujuan dari dokumentasi itu
sendiri agar menjadi penguat dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian ini akan
dilakukan pengamatan terhadap serial film kartun Upin dan Ipin , catatan dan bukti dalam
video serta buku-buku yang berkaitan dengan penelitian

393
Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No. 3 September 2022

Studi Pustaka
Studi pustaka dalam penelitian ini diperoleh dengan cara mengumpulkan data dari berbagai
sumber pustaka diantaranya untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter, peneliti
mengumpulkan data dari beberapa buku pendidikan karakter. Kemudian untuk mendapatkan
data mengenai nilai-nilai pendidikan karakter dalam film serial kartun Upin dan Ipin, peneliti
melakukan analisis terhadap isi film tersebut. Data-data yang telah terkumpul baik dari buku
maupun film selanjutnya dikategorisasikan dan diklasifikasikan ke dalam bab-bab dan sub-
bab dengan pembahasan dalam penelitian ini.

Reduksi Data
Sugiyono (2015),mengemukakan bahwa reduksi data adalah dari proses analisis yaitu untuk
mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal yang tidak penting dan
mengatur data. Dalam penelitian ini, proses reduksi data dengan melakukan pemilihan
terhadap data yang telah terkumpul dengan menyeleksi beberapa data yang terkait dengan
nilai pendidikan karakter dan menghapus data yang kurang terkait dengan penelitian

Penyajian Data
Sugiyono (2015),mengemukakan bahwa, Penyajian data merupakan susunan informasi dari
hasil reduksi data yang kemudian disajikan untuk diambil suatu kesimpulan. Sajian data ini
disusun secara sistematis dan menyeluruh tentang permasalahan yang diteliti. Sehingga
peneliti dapat menguasai data, adapun data tersebut disajikan secara deskriptif yang
didasarkan pada aspek yang teliti.

Penarikan Kesimpulan
Sugiyono (2015),mengemukakan bahwa, Simpulan yang dibuat perlu diverifikasi dengan
cara melihat dan mempertanyakan kembali meninjau sepintas pada catatan yang diperoleh
untuk mendapatkan pemahaman yang lebih tepat. Penarikan simpulan didasarkan penulis
pada penyesuaian data yang telah terkumpul yang dihubungkan dengan teori-teori yang
berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Sehingga dapat diketahui relevansinya film
kartun Upin dan Ipin dengan nilai-nilai pendidikan karakter.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian pada serial film kartun Upin dan Ipin dilaksanakan pada bulan Januari sampai
Februari 2021. Dalam temuan hasil penelitian, peneliti juga wawancara kepada siswa kelas II,
guru kelas II dan juga dosen. Berikut merupakan hasil dari peneliti setelah melakukan
penelitian melalui observasi, wawancara, dokumentasi serta studi pustaka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga narasumber yang merupakan 3 siswa
sekolah dasar kelas II yang bernama Daffa Khairul Azam, Fajar Adi Saputra, Viona Silva
Febiola, guru SD Negeri Sawah Besar 01 kota Semarang yang bernama Ibu Alberta Budi
Lestari [Link] dan dosen Universitas PGRI Semarang bapak Zainal Arifin, [Link], [Link]
terkait pendidikan karakter serta pengamatan terhadap hasil penelitian penulis, diperoleh
bahwa pendidikan karakter merupakan pembelajaran sejak dini yang ditunjukkan dengan
sikap yang positif dan baik yang muncul dari diri anak-anak agar terbiasa menerapkan sikap
tersebut kepada orang tua, guru dan lingkungan sekitarnya. Penanaman pendidikan karakter
sangat penting, karena anak lebih banyak belajar di sekolah sehingga di sekolah anak-anak
ditanamkan nilai pendidikan karakter. Selain di sekolah penanaman pendidikan karakter juga
dapat diperoleh melalui tayangan film yang mengandung nilai-nilai pendidikan karakter.
Menurut narasumber jenis tayangan yang baik untuk ditonton anak-anak adalah tayangan
film yang memang dibuat untuk anak dan karakternya positif, selain itu anak-anak harus

394
Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No. 3 September 2022

didampingi orang tua untuk mengarahkan anak-anak belajar hal-hal positif yang ada dalam
tayangan tersebut. Salah satu tayangan film yang dapat digunakan untuk menanamkan nilai
pendidikan karakter adalah film kartun.
Menurut narasumber dari 3 siswa, guru sekolah dasar dan dosen Universitas PGRI
Semarang mengungkapkan bahwa serial film kartun Upin dan Ipin mengandung banyak nilai
karakter, sehingga keduanya berpendapat bahwa serial film kartun Upin dan Ipin layak untuk
ditonton oleh anal-anak. Narasumber juga mengungkapkan bahwa serial film kartun Upin dan
Ipin memiliki nilai-nilai pendidikan karakter yang kental dengan kehidupan sehari-hari yaitu
kejujuran, kerjasama, religi, keberanian, toleransi dan cinta tanah air. Hal tersebut sesuai
dengan hasil penelitian yang diperkuat berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber.
Dengan demikian serial film kartun Upin dan Ipin layak untuk ditonton dan dapat digunakan
dalam penanaman nilai pendidikan karakter untuk anak-anak.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap beberapa episode film serial
kartun Upin dan Ipin ternyata banyak ditemukan nilai karakter yang terkandung dalam film
serial kartun Upin dan Ipin tersebut. Nilai pendidikan karakter tersebut antara lain yaitu nilai
karakter cinta tanah air, kerja keras, peduli sesama, kreatif, jujur, toleransi dan tanggung
jawab.
Episode “Sahabat Pena” menceritakan mengenai Kak Ros yang akan didatangi
sahabat penanya yang berasal dari negara Jepang. Untuk itu Kak Ros berusaha belajar
membuat makanan khas Jepang yang akan dihidangkannya, namun setelah mendapat nasehat
dari Opah untuk menghidangkan makanan khas negara Malaysia, dan dinasehati agar
mengenalkan makanan khas negara sendiri supaya orang asing juga mengenal makanan khas
negara sendiri maka Kak Ros membuat makanan khas Malaysia. Episode ini menggambarkan
nilai karakter cinta tanah air, karena setiap individu harus mempunyai rasa memiliki dan
bangga dengan negaranya sendiri.
Episode “Cari dan Simpan” menceritakan mengenai Upin dan Ipin yang ingin
mempunyai uang, namun dengan jalan meminjam temannya Ihsan. Mereka ditegur oleh Kak
Ros karena salah dalam caranya mendapatkan uang dan Kak Ros menasehati mereka supaya
dapat bekerja agar mendapatkan uang sendiri dari usahanya. Akhirnya mereka berusaha
bekerja dengan membantu Mail berjualan ayam di pasar yang akhirnya mendapatkan uang
dari jerih payahnya sendiri. Episode ini menggambarkan nilai karakter kerja keras yang harus
dilakukan untuk mendapatkan uang.
Episode “Indahnya Syawal” menceritakan mengenai Upin dan Ipin yang disuruh
Opah untuk memberikan makanan kepada Tok Dalang, namun di tengah perjalanan karena
Upin dan Ipin bertemu dengan anak kecil yang mencuri rambutan milik Tok Dalang maka
mereka mengejar anak itu. Setelah mendapatkan anak kecil itu ternyata dia tidak memiliki
makanan untuk dimakan dan ternyata anak ini miskin, maka Upin dan Ipin memberikan
makanan yang seharusnya untuk Tok Dalang diberikan kepada anak itu. Episode ini
menggambarkan nilai karakter peduli sesama dengan memberikan sesuatu yang dibutuhkan
oleh orang lain.
Episode “Pokok Seribu Guna” menceritakan mengenai Upin dan Ipin yang mengisi
liburannya dengan belajar membuat berbagai kerajinan dari kelapa di kebun milik Tok
Dalang. Setelah diajari membuat berbagai kerajinan dari kelapa oleh Tok Dalang, Upin dan
Ipin membuat sandal dari tempurung kelapa yang ditunjukkan kepada Kak Ros dan Opah.
Mereka mendapat pujian dari Opah, dan melalui kreatifitasnya mereka maka mereka bersama
Mail menjual berbagai kerajinan dari kelapa tersebut. Episode ini menggambarkan nilai
karakter kreatif yang harus dimiliki dalam kehidupan.
Episode “Cuai, cuai,cuai” menceritakan mengenai Upin dan Ipin yang menemukan
uang di jalan. Mereka berniat untuk menggunakan uang itu membeli ice cream milik Kak
Ros yang karena kesalahan mereka maka ice cream tersebut meleleh. Namun setelah teringat

395
Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No. 3 September 2022

dengan nasehat Opah untuk jangan mengambil barang yang bukan milik kita, karena tidak
berkah maka mereka berdua hanya menyimpan dan menunggu siapa tahu ada pemiliknya
yang mencari uang tersebut. Tak lama kemudian Ah Tong datang dan menanyakan apakah
mengetahui uang 100 ringgit miliknya yang hilang. Upin dan Ipin mengatakan kalau mereka
berdua yang menemukannya dan mengembalikannya kepada Ah Tong. Episode ini
menggambarkan nilai karakter jujur yang ditunjukkan dengan mengembalikan uang yang
bukan miliknya dan diserahkan kepada yang memilikinya.
Episode “Rindu Opah” menceritakan Upin dan Ipin yang menawarkan kue kepada
teman-temannya. Karena pada saat itu bulan puasa maka teman-temannya tidak bisa mencoba
kue itu, namun Jarjit yang mempunyai kepercayaan lain malah memakan kue itu. Akhirnya
Jarjit mendapat teguran dari Meimei yang juga memiliki kepercayaan lain agar menghormati
teman-temannya yang lagi puasa agar tidak makan di depan teman-temannya yang lagi puasa.
Episode ini menggambarkan nilai karakter toleransi dengan menghormati agama dan
kepercayaan orang lain.
Episode “Cuai, cuai, cuai” menceritakan mengenai Ipin yang teledor dalam
meletakkan buku cerita yang dipinjamnya dari perpustakaan keliling di sekolah. Sampai pada
waktu harus mengembalikan buku tersebut Ipin tidak bisa mengembalikan buku itu dan
akhirnya kena denda 10 ringgit untuk menganti buku cerita yang dipinjamnya. Ipin
menggunakan uang tabungannya untuk membayar denda tersebut. Episode ini
menggambarkan nilai karakter tanggung jawab terhadap kesalahan yang telah dibuatnya.

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan mengenai
mengenai nilai pendidikan karakter dalam film serial kartun Upin dan Ipin, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam film serial kartun Upin dan Ipin
adalah: Cinta tanah air dalam episode Sahabat Pena, Kerja keras dalam episode Cari dan
Simpan, Peduli sesama dalam episode Indahnya Syawal, Kreatif dalam episode Pokok
Seribu Guna, Jujur dalam episode Cuai, cuai, cuai, Toleransi dalam episode Rindu Opah,
Tanggung jawab dalam episode Cuai, cuai, cuai.
2. Relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam film serial kartun Upin dan Ipin dengan
pendidikan karakter yaitu : cinta tanah air yang ditunjukkan dengan bangga
memperkenalkan makanan khas negara sendiri, kerja kerja yang ditunjukkan dengan
bekerja berjualan ayam untuk menghasilkan uang, peduli sesama yang ditunjukkan dengan
memberi makanan dengan ikhlas kepada yang membutuhkan, kreatif yang ditunjukkan
dengan memanfaatkan waktu luang untuk membuat berbagai kerajinan dari kelapa, jujur
yang ditunjukkan dengan mengembalikan uang yang bukan miliknya, toleransi yang
ditunjukkan dengan menghargai kepercayaan orang lain, tanggung jawab yang
ditunjukkan dengan membayar denda atas kesalahan yang dibuat.

DAFTAR PUSTAKA

Darwanto. 2011. Televisi sebagai Media Pendidikan .Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Gunawan, Heri. 2017. Pendidikan Karakter: Konsep Dan Implementasi. Bandung: Alfabeta.
Hidayatulloh Agung, 2017. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Dalam Film
“Adit & Sopo Jarwo”. Jurnal Thufula. Vol. 5. No. 1. p: 43-63.
Kurniawan, Syamsul. 2013. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: ARR-RUZZ MEDIA
Moleong, J Lexy.. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ngainun Naim. 2020. Character Building. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

396
Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 3 No. 3 September 2022

Samani, Muchlas dan Hariyanto. 2011. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung:
Remaja Rosdakarya
Saptono. 2011. Dimensi-Dimensi Pendidikan Karakter. Salatiga: Esensi
Septyawan, Dony. 2018. Analisis Film Upin & Ipin Dalam Penanaman Karakter Peduli
Sosial. Jurnal Sinektik. Volume 1 Nomor 1. Prodi PGSD Universitas Slamet Riyadi.
ISSN 2620-6560: p.53-65.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

397

Anda mungkin juga menyukai