5.
Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM): Kasus/Masalah Pelanggaran HAM di Indonesia
dan Penyelesaiannya Pembunuhan Marsinah (1993) Marsinah adalah seorang buruh pabrik dan
aktivis pada zaman Orde Baru yang tewas karena penyiksaan. Pada tanggal 3-4 Mei 1998, Marsinah
beserta rekan-rekannya melakukan demonstrasi karena pabrik tempatnya bekerja tidak menaikkan
upah sesuai edaran gubernur Jawa Timur. Pada siang tanggal 5 Mei, 13 teman Marsinah ditangkap
Kodim Sidoarjo atas tuduhan penghasutan kepada para buruh agar tidak masuk kerja. Rekan-
rekannya mendapat paksaan untuk mengundurkan diri. Marsinah pun datang ke Kodim untuk
menanyakan di mana keberadaan rekan-rekannya. Malamnya, Marsinah menghilang dan tidak ada
yang tahu keberadaannya. Marsinah baru ditemukan pada tanggal 8 Mei 1993 dalam keadaan
meninggal dan berdasarkan hasil autopsi ia mengalami penyiksaan berat.
6. Geopolitik Indonesia: Kasus/ Masalah Perkembangan Wilayah Indonesia Berdasarkan Wawasan
Nusantara
Dalam lingkup wawasan nusantara, ada berbagai masalah yang menjadi sorotan publik. Salah
satunya adalah yang akan kita bahas dalam pengangkatan kasus saat ini, yaitu ‘Sengketa Budaya –
Indonesia vs Malaysia’. Mengapa kita mengangkat kasus ini? Karena kita pasti sudah tidak asing lagi
dengan sengketa budaya yang berhubungan dengan negara tetangga yaitu Malaysia. Sengketa ini
sudah berlangsung sejak lama (tahun 1960) dan masih diperdebatkan hingga sekarang. Kedutaan
besar Malaysia di Jakarta kerap kali menjadi sasaran pengunjukrasa yang marah dan para
pengunjukrasa mengatakan ‘Malaysia mencuri budaya Indonesia’. Salah seorang pelajar Indonesia di
Monash University Malaysia mengatakan “Di Malaysia ketika saya membawa teman – teman saya ke
museum, ini adalah batik Jogja, batik Solo. Ini bukanlah berasal dari Negara Anda (Malaysia). Ia
menjelaskan kepada teman – temannya bahwa semua itu berasal dari negaranya sendiri yaitu
Indonesia bukan milik Negara Malaysia.
Masalah kepemilikan budaya sudah mendera hubungan kedua negara tersebut. Pada 2007 iklan
dewan pariwisata Malaysia yang menampilkan Tari Bali memicu ancaman dari Indonesia,bahkan
Indonesia mau membawa ke pengadilan atas pelanggaran hak cipta. Malaysia pun meminta maaf
dan masalah hak cipta pun tidak berlanjut. Menurut Sejarawan Budaya, EddinKhoo “ide kepemilikan
budaya di kawasan Asia Tenggara adalah sesuatu yang konyol. Ketegangan ini muncul, akibat
kurangnya pemahaman bersama soal masa lalu kita secara regional dan gografis”. Ikatakan budaya
Malaysia dan Indonesia sudah lama sebelum keduanya terbentuk. Meski praktik dan bentuk budaya
hampir mirip, namun ada yang sedikit perbedaan, perbedaan inilah yang menjadi celah untuk
permasalahan muncul. Pada akhir 2012 muncul permasalahan soal Tari Tor – Tor dan Musik
Gordansabilan. Sementara 2008 ada kontroversi klaim Malaysia yang menyatakan batik adalah milik
mereka. Dr. Faris Noor, Analis Politic Universitas Nangyang Tech, Malaysia, “Memang Batik berasal
dari Jawa, tapi menurut sejarahnya batik kemudian menyebar di seluruh Asia Tenggara. Seluruh Asia
Tenggara mengambil batik Indonesia karena kami menghargai batik Indonesia. Ini sumbangan Jawa
kepada dunia. Jadi ini bukan kasus pencurian. Jika ada, itu adalah pengakuan cerdas budaya orang
Jawa. Perselisihan menyangkut siapa pemilik budaya telah memperlebar kesenjangan antara kedua
negara yang dipandang sebagai pilar ASEAN. Pertentangan ini mempengaruhi ASEAN yang ingin
maju sebagai kawasan yang progresif. Masalah kepemilikan budaya merupakan bukti dari identitas
kuat yang dibangun negara – negara ASEAN terhadap warga negaranya.
Banyak tantangan bagi ASEAN untuk mewujudkan visinya bagi warganya untuk merangkul
komunitas ini. Salah satu tantangan utamanya adalah kesenjangan ekonomi yang dialami oleh
masyarakat di negara yang tergabung dalam ASEAN. Agar bisa bergerak maju ASEAN harus
memerankan peran yang lebih besar dalam membagun kerja sama antar negara yang tergabung
dalam ASEAN agar tidak timbul adanya suatu perpecahan antar negara dalam membangun wilayah
Asia Tenggara.
Solusi:
1. Pelaksanaan kehidupan politik yang diatur dalam undang – undang, seperti UU Partai Politik, UU
Pemilihan Umum, dan UU Pemilihan Presiden. Pelaksanaan Undang – Undang tersebut harus sesuai
hukum dan mementingkan persatuan bangsa. Contohnya seperti dalam pemilihan Presiden, anggota
DPR, dan Kepala Daerah harus menjalankan prinsip demokratis dan keadilan, sehingga tidak
menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.
2. Pelaksanaan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia harus sesuai dengan hukum
yang berlaku. Seluruh bangsa Indonesia harus mempunyai dasar hukum yang sama bagi setiap warga
negara, tanpa pengecualian. Di Indonesia terdapat banyak produk hukum yang dapat diterbitkan
oleh provinsi dan kabupaten dalam bentuk peraturan daerah (perda) yang tidak bertentangan
dengan hukum yang berlaku secara nasional.
3. Mengembangkan sikap hak asasi manusia dan sikap pluralisme untuk mempersatukan berbagai
suku, agama, dan bahasa yang berbeda, sehingga menumbuhkan sikap toleransi.
4. Memperkuat komitmen politik terhadap partai politik dan lembaga pemerintahan untuk
meningkatkan semangat kebangsaan, persatuan dan kesatuan.
5. Meningkatkan peran Indonesia dalam kancah internasional dan memperkuat korps diplomatik
sebagai upaya penjagaan wilayah Indonesia terutama pulau-pulau terluar dan pulau kosong.
7. Geostrategi Indonesia: Kasus/Masalah yang Mengancam Ketahanan Nasional dan solusinya.
Laut Indonesia. Dia mengungkapkan potensi terakhir adalah kerawanan di laut Indonesia, TNI
bertanggung jawab atas kerawanan laut Indonesia dari ancaman dari luar dan dalam. Hadi
mengatakan bukti dari ancaman di wilayah laut yaitu perampokan bersenjata dan penculikan di
wilayah perairan Filipina Selatan yaitu sekitar Laut Sulu oleh kelompok Abu Sayyaf. Kerawanan di
laut sebagai negara kepulauan Indonesia bertanggungjawab atas keselamatan dan keamanan di
wilayah laut yang menjadi yurisdiksinya termasuk pada laut-laut bebas yang berbatasan langsung
dengan wilayah tersebut