0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan38 halaman

Analisis Hidrologi dan Curah Hujan

Diunggah oleh

Dedi Hermawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan38 halaman

Analisis Hidrologi dan Curah Hujan

Diunggah oleh

Dedi Hermawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Analisa Hidrologi


Hidrologi adalah bidang pengetahuan yang mempelajari kejadian-kejadia serta
penyebab air alamiah di bumi. Faktor hidrologi yang paling berpengaruh pada wilayah
huu adalah curah hujan (presipitasi). Curah hujan pada suatu daerah merupakan salah satu
faktor yang menentukan besarnya debit banjir yang terjadi pada daerah yang menerimnya (
Soemarto,1999).
Analisis hidrologi adalah kegiatan melakukan analisa hidroklimatologi dengan cara
menganalisa secara kuantitatif yang mengacu pada berbagai metode yang relevan
berdasarkan Standar Nasional Indonesia ( SNI ) yang berlaku. Analisis hidrologi ini
dilakukan guna mendapatkan karakteristik hidrologi dan meteorologi Daerah Aliran
Sungai. Dalam analisa hidrologi ini akan dihasilkan : kebutuhan tampung kolam,
ketersediaan air, dan puncak banjir desain.

2.1.1 Pemilihan Lokasi Stasiun Curah Hujan


Daerah tadah hujan dan kolam embung relatif sangat kecil sehingga perkiraan aliran
sudah cukup teliti bila diambil secara bulanan. Apalagi di daerah semi kering pada
umumnya aliran dasar tidak ada dan embung tidak dibangun di sungai. Dengan begitu
aliran masuk ke embung hanya dapat diperkirakan dari curah hujan. Curah hujan rata-rata
bulanan dihitung dari data pos hujan terdekat.
Pos hujan dipilih dengan persyaratan sebagai berikut:
a. Pilih satu pos hujan yang jaraknya terdekat dengan embung, kurang dari 10km.
b. Jika tidak ada pos hujan dengan jarak lebih kecil dari 10km, cari pos lain dengan
jarak antara 11 km sampai 20 km tetapi jumlahnya harus minimal dua pos hujan.
c. Bila kedua pos dengan jarak antara 11-20 km tidak dapat ditemukan, cari 3 pos
hujan atau lebih di sekeliling lokasi dengan jarak kurang dari 50 km.
d. Untuk P. Timor yang tersedia peta isohit tahunan, dapat digunakan bila alternatif
butir (iii) tidak dapat dilaksanakan.

5
6

2.1.2 Uji Konsistensi Hujan


Uji konsistensi berarti menguji kebenaran data lapangan yang tidak dipengaruhi
oleh kesalahan pada saat pengiriman atau saat pengukuran, data tersebut harus betul-
betul menggambarkan penomena hidrologi seperti keadaan sebenarnya dilapangan.
Dengan kata lain data hidrologi disebut tidak konsisten apabila terdapat perbedaan
antara nilai pengukuran dan nilai sebenarnya (Soewarno, 1995:23).
Uji konsistensi yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode RAPS ( Rescaled
Adjusted Partial Sums ). Cara ini dilakukan dengan cara menghitung nilai kumulatif
penyimpangannya terhadap nilai rata-rata ( mean ) dengan persamaan berikut:
S*o =0 (2-1)

S*k = ( Yi – Y ) (2-2)

dengan:
K = 1,2,3, ... , n

S**k =

Dy2 =

Pengujian dengan menggunakan data dari stasiun itu sendiri yaitu pengujian dengan
komulatif penyimpangan terhadap nilai rata-rata dibagi dengan akar komulatif rerata
penyimpangan kuadrat terhadap nilai reratanya, lebih jelas lagi bisa dilihat pada rumus,
nilai statistik Q dan R.
Nilai statistik Q dan R
Q = maks | S**k | untuk 0 k n
R = maks S**k – min S**k
Dengan:
S*o = simpangan awal
S*k = simpangan mutlak
S**k = nilai konsisten data
N = jumlah data
Dy = simpangan rata-rata
Q = nilai statistik Q untuk 0 k n
R = nilai statistik ( range )
7

Dengan melihat nilai statistik diatas maka dapat dicari nilai Q/√ dan R/√ . Hasil
yang didapat dibandingkan dengan hasil Q/√ syarat dan R/√ syarat, jika lebih kecil
maka data masih dalam batasan konsisten.
Tabel 2.1 Nilai Q/no.5 dan R/no.5
Q/√ R/√
n
90% 95% 99% 90% 95% 99%
10 1.05 1.14 1.29 1.21 1.28 1.38
20 1.10 1.22 1.42 1.34 1.43 1.60
30 1.12 1.24 1.46 1.40 1.50 1.70
40 1.13 1.26 1.50 1.42 1.53 1.74
50 1.14 1.27 1.52 1.44 1.55 1.78
100 1.17 1.29 1.55 1.50 1.62 1.86
1.22 1.36 1.63 1.62 1.75 2.00
Sumber: Harto(2009:41)

2.1.3 Analisis Debit Banjir Rencana


Perhitungan debit banjir rancangan dapat menggunakan data debit banjir atau data
hujan dengan ketentuan :
 Apabila data debit banjir tersedia cukup panjang ( > 20 tahun ), maka debit banjir
rancangan dapat langsung dihitung dengan menggunakan metode analisa
probabilitas Gumbel, Log Pearson atau Log Normal.
 Apabila yang tersedia hanya data hujan dan karakteristik DAS, maka debit banjir
rancangan dihitung dengan Metode Hidrograf Satuan/Unit Hidrograf.
Karena pada umumnya di Indonesia tidak didapatkan data debit yang kontinyu dan
panjang, maka selanjutnya di bawah ini diuraikan metode perhitungan debit banjir
rancangan dengan dengan menggunakan Metode Hidrograf Satuan Sintesis.
Sehingga dalam hal ini perhitungan debit banjir rancangan terdiri dari 3 tahapan
sebagai berikut:
a. Perhitungan curah hujan rancangan
b. Perhitungan debit banjir rancangan
c. Pengujian hasil perhitungan debit banjir rancangan
8

2.1.4 Curah Hujan Rencana


Data curah hujan dan debit merupakan data yang paling fundamental dalam
perencanaan/penelitian pembuatan embung. Ketetapan dalam memilih lokasi dan
peralatan baik curah hujan maupun debit merupakan faktor yang menentukan
kualitas data yang diperoleh. Analisis data hujan bertujuan untuk mendapatkan besaran
curah hujan dan analisis statistik yang diperhitungkan dalam perhitungan debit banjir
rencana. Data curah hujan yang dipakai untuk perhitungan dalam debit banjir adalah
hujan yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai pada waktu yang sama
(Sosrodarsono&Takeda, 1993).
Metode yang dapat dipakai dalam menganalisa curah hujan rancangan antara lain
distribusi Gumbel, Log Normal, Log Pearson III dan lain-lain.
Untuk menentukan macam analisa frekuensi, perlu dihitung parameter-parameter
statistik seperti koefisien Cs, Cv, Ck. Syarat untuk distribusi :
- E.J Gumbel : Ck = 5,4 dan Cs = 1,14
- Log Normal : Cs = 0 dan Ck = 3,0
- Log Pearson III : Cs dan Ck tidak ditentukan
Dalam perencanaan ini data hujan yang digunakan direncanakan selama 10 tahun
sejak Januari 2006 sampai Desember 2015 ( Data terlampir ). Sedangkan dari peta DAS
dipilih satu stasiun hujan yaitu Stasiun Balige.

2.1.5 Analisa Frekuensi


Dalam analisis Frekuensi data hujan atau data debit guna memperoleh nilai hujan
rencana atau debit rencana, dikenal beberapa distribusi probabilitas kontinu yang
sering digunakan, yaitu: Gumbel, Normal, Log Normal, dan Log Pearson Type lll.
a. Distribusi Probabilitas Gumbel
Jika data hujan yang dipergunakan dalam perhitungan adalah berupa sampel
(populasi terbatas), maka perhitungan hujan rencana berdasarkan Distribusi Probabilitas
Cumbel dilakukan dengan rumus-rumus berikut.
XT = X + S x K (2-3)
Keterangan rumus:
XT = hujan rencana atau debit dengan periode ulang T
X = nilai rata-rata dari data hujan (X)
S = standar deviasi dari data hujan (X)
K = faktor Frekuensi Gumbel: K =
9

Yt = reduced variate = -Ln –Ln

Sn = reduced standard deviasi


Yn = reduced mean
b. Distribusi Probabilitas Normal
Perhitungan hujan rencana berdasarkan Distribusi Probabilitas Normal, jika data
yang dipergunakan adalah berupa sampel, dilakukan dengan rumus-rumus berikut:
XT = X + K T S (2-4)
Keterangan rumus:
XT = hujan rencana dengan periode ulang T tahun
X = nilai rata-rata dari data hujan (X) mm
S = Standar deviasi dari data hijan (X) mm
KT = Faktor Frekuensi, nilainya bergantung dari T
c. Distribusi Probabilitas Log Normal
Perhitungan hujan rencana berdasarkan Distribusi Probabilitas Log Normal, jika data
yang dipergunakan adalah berupa sampel, dilakukan dengan rumus-rumus berikut;
Log XT = Log X + KT x S log X (2-5)
Keterangan rumus:
Log XT = nilai logaritmis hujan rencana dengan periode ulang T

Log X = nilai rata-rata dari log X =

S log X = deviasi standar dari log X

KT = faktor Frekuensi, nilainya bergantung dari T


d. Distribusi Probabilias Log Pearson Type III
Jika data hujan yang dipergunakan dalam perhitungan adalah berupa sampel
(populasi terbatas), maka perhitungan hujan rencana berdasarkan Distribusi Probabilitas
Gumbel dilakukan dengan rumus-rumus berikut.
Tahapan untuk menghitung hujan rancangan maksimum dengan metode Log Pearson
III adalah sebagai berikut :
 Hujan harian maksimum diubah dalam bentuk logaritma.
 Menghitung harga logaritma rata-rata dengan rumus :

(2-6)
10

 Menghitung harga simpangan baku dengan rumus :

√ (2-7)

 Menghitung harga koefisien kemiringan dengan rumus :

(2-8)

 Menghitung logaritma hujan rancangan dengan kala ulang tertentu dengan rumus :
(2-9)
 Menghitung antilog Rt untuk untuk mendapatkan curah hujan rancangan dengan
kala ulang tertentu, atau dengan membaca grafik pengeplotan Rt lawan peluang di
kertas logaritma.

2.1.6 Uji Kesesuaian Distribusi


Pemeriksaan uji kesesuaian distribusi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian data
yang tersedia dengan distribusi yang dipakai. Uji yang dipakai ada dua macam yaitu :

[Link] Uji Smirnov – Kolmogorov


Pengujian distribusi probabilitas dengan Metode Smirnov-Kolmogorof dilakukan
dengan langkah-langkah perhitungan sebagai berikut:
1. Urutkan data (Xi) dari besar ke kecil atau sebaliknya.
2. Tentukan peluang empiris masing-masing data yang sudah diurut
tersebut P(Xi) dengan rumus tertentu, rumus Weibull misalnya.
P(Xi) = (2-10)

3. Tentukan peluang teoritis masing-masing data yang sudah diurut


tersebut P'(Xi) berdasarkan persamaan distribusi probabilitas yang dipilih
(Gumbel, Normal, dan sebagainya).
4. Hitung selisih (∆Pi) antara peluang empiris dan teoritis untuk setiap
data yang sudah diurut:
∆Pi = P(Xi) – P’(Xi) (2-11)
5. Tentukan apakah ∆P, < ∆P kritis, jika "tidak" artinya Distribusi
Probabilitas yang dipilih tidak dapat diterima, demikian sebaliknya.

[Link] Uji Chi Square


Rumus yang digunakan dalam perhitungan dengan Metode Uji Chi-Kuadrat adalah
sebagai berikut:
11

X2 = (2-12)

dengan:
X2 = Parameter Chi-Kuadrat terhitung.
Ef = Frekuensi yang diharapkan sesuai dengan pembagian kelasnya.
Of = Frekuensi yang diamati pada kelas yang sama.
n = Jumlah sub kelompok
Derajat nyata atau derajat kepercayaan ( tertentu yang sering diambil daalah 5%.
Derajat kebebasan (Dk) dihitung dengan rumus:
Dk = K – (p + 1)
K = 1 + 3,3 log n (2-13)
dengan:
Dk = Derajat kebebasan
P = Banyaknya parameter, untuk uji Chi-Kuadrat adalah 2.
K = Jumlah kelas distribusi.
n = Banyaknya data
Selanjutnya distribusi probabilitas yang dipakai untuk menentukan curah hujan
rencana adalah distribusi probabilitas yang mempunyai simpangan maksimum terkecil
dan lebih kecil dari simpangan kritis, atau dirumuskan sebagai berikut:
X2 < X2cr (2-14)
Ket: X2 = parameter Chi-Kuadrat terhitung
Xcr = parameter Chi-Kuadrat Kritis
Prosedur perhitungan dengan menggunakan dengan Metode Uji Chi-Kuadrat
adalah sebagai berikut:
1. Urutkan data dari besar ke kecil atau sebaliknya.
2. Menghitung jumlah kelas.
3. Menghitung derajat kebeasan (Dk) dan X2cr.
4. Menghitung kelas distribusi.
5. Menghitung interval kelas.
6. Perhitungan nilai X2.
7. Bandingkan nilai X2 terhadap X2cr.
12

2.1.7 Distribusi Hujan Jam-jaman Metode PSA-007


Distribusi hujan jam-jaman dihitung berdasarkan PSA-007 (Bentuk Genta) , dimana
hujan tertinggi ditempatkan ditengah, hujan tertinggi kedua diletakkan disebelah kiri, hujan
tertinggi ketiga disebelah kanan, dan begitu seterusnya.
Berdasarkan hasil pengamatan di indonesia, hujan terpusat berkisar antara 5-6 jam,
oleh karena itu hujan dengan durasi 6 jam dianggap mewakili hujan maksimum yang
terjadi selama 24 jam, intensitas hujan dengan durasi 6 jam yang direkomendasikan oleh
PSA-007 dapat dilihat pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Intensitas Hujan dengan Durasi 6 jam yang disarankan oleh PSA-007
Durasi Hujan (%)
Kala Ualng
1 2 3 4 5 6 8 12 16 20 24
2 49.8 60.2 67.2 71.2 75.2 79.2 82.1 88 92.0 96.0 100
5 48 59 66 70.0 74.0 78 81.3 88 92.0 96.0 100
10 45 57 64 68.0 72.0 76 80.0 88 92.0 96.0 100
25 43 55 63 67.0 71.0 75 79.3 88 92.0 96.0 100
50 42 53 61 65.0 69.0 73 78.0 88 92.0 96.0 100
100 41 52 60 64.0 68.0 72 77.3 88 92.0 96.0 100
Sumber : Kementrian Pekerjaan Umum, 1999

2.1.8 Koefisien Pengaliran


Koefisien pengaliran adalah perbandingan antara limpasan air hujan dengan total
hujan penyebab limpasan. Pada studi ini, koefisien pengaliran ditetapkan berdasarkan
kondisi tata guna lahan. Sehingga untuk menghitung besarnya koefisien pengaliran rata-
rata digunakan rumus :
C = CP + Ct +Co + Cs + Cc (2-15)
dengan :
Cp = Komponen Cyang disebabkan oleh intensitas hujan yang bervariasi.
Ct = Komponen C yang disebabkan oleh keadaan topografi.
Co = Komponen C yang disebabkan oleh tampungan permukaan.
Cs = Komponen C yang disebabkan infiltrasi.
Cc = Komponen C yang disebabkan oleh penutup lahan.
(Sumber :Pedoman Kriteria Design Embung Kecil untuk Daerah Semi Kering di
Indonesia,1994, Design Pengairan, Dep. PU.)
13

Tabel 2.3. Harga Komponen C oleh Faktor Intensitas Hujan


Intensitas Hujan (mm/jam) Cp
< 25 0.05
25- 50 0.15
50 -75 0.25
> 75 0.30
Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:4.23)

Tabel 2.4. Harga Komponen C oleh Faktor Topografi


Keadaan topografi Kemiringan m/km Ct
Curam dan tidak rata 200 0.10
Berbukit-bukit 100-200 0.05
Landai 50-100 0.00
Hampir datar 0-50 0.00
Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:4.24)

Tabel 2.5. Harga Komponen C oleh Faktor Tampungan Permukaan


Tampungan Permukaan Cp
1. Daerah pengaliran yang curam, sedikit despresi permukaan 0.10
2. Daerah pengaliran yang sempit dengan sistem teratur 0.05
3. Tampungan dan aliran permukaan yang berarti; terdapat kolam 0.05
4. Sungai berkelok-kelokmdengan usaha pelestarian lahan 0.00
Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:4.24)

Tabel 2.6. Harga Komponen C oleh Faktor Infiltrasi


Kemampuan Infiltrasi Tanah K ( cm/dt ) [Link]
Infiltrasi besar (tidak terdapat penutup lahan ) < 10-5 0.25
-5 -6
Infiltrasi lambat ( lempung ) 10 – 10 0.20
Infiltrasi sedang ( loam ) 10-3 – 10-4 0.10
Infiltrasi cepat ( pasir tebal, tanah beragregat baik ) > 10-3 0.05
Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:4.24)
14

Tabel 2.7. Harga Komponen C oleh Faktor Penutup Lahan


Keadaan topografi Cp
1. Tidak terdapat tanaman yang efektif 0.25
2. Terdapat padang rumput yang baik sebesar 10% 0.20
3. Terdapat padang rumput yang baik sebesar 50%, ditanami
0.10
atau banyak pepohonan
4. Terdapat padang rumput yang baik sebesar 90%, hutan 0.05
Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:4.24)

2.1.9 Debit Banjir Rancangan


Dalam merencanakan suatu banguna air, diperlukan perkiraan besarnya banjir yang
mungkin terjadi pada lokasi tersebut. Untuk itu diperlukan suatu periode pengamatan debit
banjir yang cukup, agar estimasi yang dilakukan akan mendekati keadaan yang
sebenarnya. Dalam perencanaan embung, karena tidak tersedianya pengamatan debit
banjir dilokasi embung, maka perkiraan debit banjir rancangan dianalisa berdasarkan data
curah hujan yang ada.

[Link] Hidrograf Satuan Sintetik metode Nakayasu


Untuk menentukan hidrograf satuan daerah pengaliran sungai yang tidak terpasang
stasiun AWLR (Automatic Water Level Recorder), dapat digunakan hidrograf sintetik
“Nakayasu” (buku hidrologi untuk pengairan).
Parameter yang memepengaruhi unit hidrograf adalah:
1. Tenggang waktu dari permukaan hujan sampai puncak hidrograf (time to peak
mangnitube).
2. Tenggang waktu dari titik berat sampai titik berat hidrograf (time log).
3. Tenggang waktu hidrograf (time base of hydrograph).
4. Luas daerah pengaliran.
5. Panjang alur sungai utama terpanjang (leght of longest channel).
6. Koefisien pengaliran (run off coefficient).
Nakayasu dari Jepang telah menyelidiki hidrograf satuan pada beberapa sungai di
Jepang. Ia membuat rumusan hidrograf satuan sintetik dari hasil penyelidikannya tersebut.
Rumus dari hidrograf satuan Nakayasu adalah:
CA . Ro
Qp  (2 – 16)
3,6(0,3Tp  T0,3 )
15

Dengan : Qp = debit puncak banjir (m3/dt)


Ro = hujan satuan (mm)
Tp = tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)
T0,3 = waktu yang di perlukan oleh penurunan debit, dari debit puncak
sampai menjadi 30% dari debit puncak (jam)
CA = luas daerah pengaliran sampai outlet (km2)
Untuk menentukan Tp dan T0,3 digunakan pendekatan rumus sebagai berikut :
Tp = tg + 0,8 tr
T0,3 = α tg
Tr = 0,5 tg sampai tg
tg adalah time lag yaitu waktu antara hujan sampai debit puncak banjir (jam). tg
dihitung dengan ketentuan sebagai berikut :
 sungai dengan panjang alur L > 15 km : tg =0,4 + 0,058 L
 sungai dengan panjang alur L < 15 km : tg = 0,21 L0,7
Perhitungan T0,3 menggunakan ketentuan:
α = 2 pada daerah pengaliran biasa
α = 1,5 pada bagian naik hidrograf lambat, dan turun cepat
α = 3 pada bagian naik hidrograf cepat, dan turun lambat
 Pada waku naik : 0 < t < Tp
Qa = (t/Tp)2,4 (2 – 17)
dimana Qa adalah limpasan sebelum mencapai debit puncak (m3/dt)
 Pada kurva turun (decreasing limb)
a. selang nilai : 0 ≤ t ≤ (Tp + T0,3)
t Tp 
T0 , 3
Qd1 = Qp.0,3 (2 – 18)
b. selang nilai : (Tp + T0,3) ≤ t ≤ (Tp + T0,3 + 1,5 T0,3)
t Tp 0,5T0 , 3 
Qd2 = Qp.0,3 1, 5T0 , 3
(2 – 19)
c. selang nilai : t > (Tp + T0,3 + 1,5 T0,3)
t Tp 1,5T0 , 3 
Qd3 = Qp.0,3 2T0 , 3
(2 – 20)
16

i
tr
t

Qp

0,3 Qp
0,32 Qp

Tp T0,3 1,5 T0,3

Gambar 2.1 Hidrograf Satuan Sintesis Metode Nakayasu


Sumber : Soemarto (1987 : 168)

[Link] Hidrograf Satuan Sintetik metode Snyder


Hidrograf satuan snyder ditentukan secara cukup baik dengan tinggi d = 1 cm, dan
dengan ketiga unsur yang lain, yaitu Qp (m3/detik), Tb serta tr (jam).

Gambar 2.2 Hidrograf Satuan Sintesis Metode Snyder


Sumber : Soemarto (1987 : 165)
Unsur-unsur hidrograf tersebut dihubungkan dengan:
A = luas daerah pengaliran (km2)
L = panjang aliran utama (km)
Lc = jarak antara titik berat daerah pengaliran dengan pelepasan (outlet) yang diukur
sepanjang aliran utama
Dengan unsur-unsur tersebut diatas SNYDER membuat rumus-rumusnya seperti
berikut:
tp = Ct ( L Lc )0,3 (2-21)
17

tr = (2-22)

Qp = 2,78 (2-23)

Tb = 72 + 3 tp (2-24)
Koefisien-koefisien Ct dan Cp harus ditentukan secara empiris, karena besarnya
berubah-ubah antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Besarnya C t = 0,75 – 3,00,
sedangkan besarnya Cp = 0,90 – 1,40.

[Link] Hidrograf Satuan Sintetik metode Gama 1


HSS Gama l diteliti dan dikembangkan berdasarkan perilaku 30 DAS di Pulau
Jawa oleh Sri Harto. Bagian-bagian dari HSS Gama 1 adalah bagian naik, puncak, dan
bagian turun.
Unsur-unsur HSS Gama 1 meliputi: waktu puncak (Tr), debit puncak (Qp), dan Waktu
dasar (Tb).

Gambar 2.3 Bagian-bagian HSS Gama 1


Sumber : I Made K (2011 : 141)
Parameter DAS yang diperlukan dalam perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis
Cama 1 adalah sebagai berikut:
1. Luas DAS (A).
2. Panjang alur sungai utama (L).
3. Jarak antara titik berat DAS dengan outlet yang diukur disepanjang aliran utama
(Lc).
4. Kemiringan memanjang dasar sungai (S).
5. Kerapatan jaringan drainase (D), yaitu perbandingan antara panjang total aliran
sungai (jumlah panjang sungai semua tingkat) dengan luas DAS.
6. Faktor sumber (SF), yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai tingkat 1
dengan jumlah panjang sungai semua tingkat.
18

7. Frekuensi sumber (SN), yaitu perbandingan jumlah pangsa sungai tingkat 1 dengan
jumlah pangsa sungai semua tingkat.
8. Faktor lebar (WF), yaitu perbandingan antara lebar DAS yang diukur di titik sungai
yang beriarak 0,751 dari titik kontrol (WU) dan lebar DAS yang diukur di. titik
sungai yang berjarak 0,251dari titik kontrol atau outlet (WL).
9. RUA, adalah perbandingan antara AU dan A.
AU = luas DAS disebelah hulu garis yang ditarik tegak lurus terhadap garis hubung
antara titik kontrol ( outlet ) dengan titik di sungai yang terdekat dengan titik
berat DAS
A = luas total DAS
10. Faktor simetri (SlM)
SIM = WF x RU (2-25)
- SIM > 50, artinya DAS melebar di hulu dan menyempit di hilir.
- SIM < 50, artinya DAS menyempit di hulu dan melebar di hilir
Rumus-rumus yang dipergunakan dalam menurunkan HSS Gama 1 adalah sebagai
berikut:
3
1. Tr = 0,43 x + 1,0665 x SIM = 1,2775 (2-26)

2. Tb = 27,4132 x Tr 0,1457 x S -0,0986 x SN 0,7344 x RUA 0,2574 (2-27)


0,5886 -0,4008 0,2381
3. Qp = 0,1836 x A x Tr x JN (2-28)
4. K = 0,561 x A 0,1793 x S -0,1446 x SF -1,0897 x D 0,0452 (2-29)
5. Qt = Qp x e(-t/K) (2-30)
Keterangan tambahan rumus:
- Tr = waktu puncak (jam)
- Tb = waktu dasar ( jam )
- Qp = debit puncak hidrograf ( m3/detik)
- Qt = debit pada bagian turun hidrograf (m3/detik)
-K = tampungan (jam)
- JN = jumlah pertemuan sungai
 Input data DAS yang dibutuhkan :
- Luas DAS (A).
- Luas DAS hulu (AU).
- Panjang aliran utama (L).
- Lebar DAS di titik 0,25 L dari outlet (WL).
19

- Lebar DAS di titik 0,75 L dari outlet (WU).


- Kemiringan memanjang dasar sungai (S).
- Panjang sungai semua tingkat (LN).
- Panjang sungai semua tingkat 1 (L1).
- Jumlah pertemuan sungai (JN).
- Pangsa sungai tingkat 1 (P1).
- Pangsa sungai semua tingkat (PN).

2.2 Ketersediaan Aliran Sungai


2.2.1 Metode F.J Mock
Pada dasarnya pendekatan dengan metode ini, mempertimbangkan faktor curah hujan,
evapotranspirasi, keseimbangan air di permukaan tanah dan kandungan air tanah.
Prinsip perhitungan ini adalah bahwa hujan yang jatuh di atas tanah (presipitasi)
sebagian akan hilang karena penguapan (evaporasi), sebagian akan hilang menjadi aliran
permukaan (direct run off) dan sebagian akan masuk tanah (infiltrasi). Infiltrasi
mula mula menjenuhkan permukaan (top soil) yang kemudian menjadi perkolasi dan
akhirnya keluar ke sungai sebagai base flow.i
Adapun prosedur perhitungan metode Mock sebagai berikut:
a. Hujan
Nilai hujan 10 harian ( P ) dan jumlah hari hujan didapat dari pencatat data hujan harian
(mm) dan jumlah hari hujan pada bulan yang bersangkutan.
b. Evapotranspirasi Terbatas
 Curah hujan bulanan (P) dalam mm dan jumlah hari hujan ( n ) yang terjadi pada
bulan yang bersangkutan.
 Evapotranspirasi terbatas adalah evapotranspirasi aktual dengan
mempertimbangkan kondisi vegetasi dan permukaan tanah serta frekuensi curah
hujan

E = Ep x xm (2-31)

dengan:
E = Perbedaan antara evapotranspirasi potensial dengan evapotranspirasi Terbatas
Ep = Evapotranspirasi potensial
d = Jumlah hari kering atau tanpa hujan dalam 1 bulan
m = Prosentase lahan yang tak tertutup vegetasi, ditaksir dari peta tata
guna tanah
20

- 0 % untuk lahan dengan hutan lebat


- 0 % pada akhir musim hujan, dan bertambah 10 % setiap bulan kering untuk
lahan dengan hutan sekunder
- 10 - 40 % untuk lahan yang tererosi
- 30 - 50 % untuk lahan pertanian yang diolah (sawah/ladang)
Berdasarkan frekuensi curah hujan di Indonesia dan sifat infiltrasi dan penguapan dari
tanah permukaan di dapat hubungan:
d = 1,5 ( 18 – n ) atau d = 27 – 1,5n (2-32)
n = jumlah hari hujan dalam sebulan
Sehingga dari kedua persamaan (2-18) dan (2-19) diperoleh:
Ep = ( ) x ( 18 – h ) (2-33)

Et = ET0 – E
Et = evapotranspirasi terbatas (mm)
Soil surplus adalah volume air yang masuk ke permukaan tanah.
Soil surplus = (P - Et) - Soil storage dan = 0 jika defisit (P - Et) > dari soil storage.
Initial storage adulah volume air pada saat permulaan mulainya. Ditaksir sesuai
dengan keadaan musim, seandainya musim hujan bisa sama dengan soil moisture
capacity dan lebih kecil dari pada musim kemarau.
c. Keseimbangan Air di permukaan Tanah
Curah hujan yang mencapai permukaan
ds = P – Et (2-34)
Harga positif bila P > Et, air masuk kedalam tanah
Harga negatif bila P < Et, sebagian air tanah akan keluar, terjadi defisit. Perubahan
kandungan air tanah, soil storage (ds) = selisih antara Soil Moisture Capacity
bulan sekarang dengan bulan sebelumnya. Soil moisture capacity ini ditaksir
berdasarkan kondisi porositas lapisan tanah atas dari catchment area. Biasanya
ditaksir 60 s/d 250 mm, yaitu kapasitas kandungan air dalam tanah per M2. Jika
porositas tanah lapisan atas tersebut makin besar, maka, soil moisture capacity akan
makin besar pula
d. Debit dan Simpanan Air Tanah
Koefsien infiltrasi (I) ditaksir berdasarkan kondisi porositas tanah dan
kemiringan daerah pengaliran
21

Lahan yang porous maka infiltrasi akan besar, lahan yang terjal dimana air
tidak sempat terinfiltrasi ke dalam tanah maka koefisien infiltra si akan kecil.
Besarnya koefisien infiltrasi leblh kecil dari 1 (satu).
Rumus – rumus simpanan air tanah
In = WS x I (2-35)
Vn = k. V (n-1) + 0,5 ( 1 + k ) In
DVn = Vn – V (n-1)
Dengan:
Vn = Volume air tanah
Vn-1 = Volume air tanah bulan ke ( n-1 )
I = Koefisien infiltrasi
DVn = Perubahan volume air tanah bulan ke-n
A = Volume tmpungan per bulan
In = Infiltrasi volume air yang masuk ke dalam tanah
Aliran dasar = infiltrasi - perubahan volume aliran air dalam
Tanah ( m3/10hari )
Aliran permukaan = water surplus – infiltrasi ( m3/10hari )
Aliran Sungai = aliran permukaan + aliran dasar
Debit efektif = aliran sungai dinyatakan dalam m3/10hari.

2.2.2 Parameter Karakteristik DAS


Dalam metode FJ. Mock terdapat lima parameter yang menggambarkan karakteristik
DAS yang besar pengaruhnya terhadap keluaran sistem, yakni:
1. Singkapan lahan
Singkapan lahan disesuaikan dengan penggunaan tata guna lahan, Prosentasi
singkapan lahan ini berpengaruh terhadap evapotranspirasi.
Tabel 2.8 Singkapan Lahan sesuai Tata Guna Lahan
No Jenis Penggunaan Lahan m (%)
1 Hutan lebat 0
2 Lahan yang terisolasi 10 – 40
3 Lahan pertanian yang diolah 30 - 50
Sumber: Hadisusanto (2010:231)
22

2. Koefisien infiltrasi
Koefisien infiltrasi ditentukan berdasarkan porositas tanah, kemiringan daerah
pengaliran dan keadaan geologi.
Tabel 2.9 Koefisien infiltrasi berdasarkan jenis batuan (Ci)
No Jenis Batuan Ci
1 Vulkanik muda 0,30 – 0,50
2 Vulkanik tua, muda dan sedimen 0,15 – 0,25
3 Batu pasir 0,15
4 Sedimen lanau, batu cukup kedap 0,15
5 Batu gamping 0,30 – 0,50
Sumber: Kurniawan (2009:14)
3. Kapasitas kelembapan tanah (SMC)
Banyaknya air yang dapat dikandung oleh tanah merupakan kapasitas kelembapan
tanah (Sosrodarsono, 1987:72). Pada simulasi Mock kapasitas kelembapan ditentukan
berdasarkan kelembapan tanah tersebut. Misalnya, untuk tanah dengan kelembapan
tanah maksimum 25% maka kapasitas tanah tersebut 25 cm air pada tanah seluas 1 m2.
Biasanya kelembapan tanah ditaksir berkisar antara 50 sampai 250 mm per m2.
4. Initial storage
Initial storage adalah besarnya volume air pada saat awal perhitungan
5. Faktor Resesi Air tanah
Dalam perhitungan kandungan air tanah terdapat faktor resesi air tanh (k) yakni
perbandingan air tanah pada suatu bulan dengan aliran air tanah pada awal bulan.

2.2.3 Sedimentasi
Pendekatan terbaik untuk menghitung laju sedimentasi adalah dengan
pengukuran sedimen transpor (transport sediment) di lokasi tapak Embung. Namun
karena pekerjaan tersebut belum pernah dilakukan, maka estimasi sedimentasi yang
tejadi dilakukan dengan perhitungan empiris, yaitu dengan metode USLE.

2.2.4 Laju Erosi dan Sediment Yield Metode USLE


Untuk memperkirakan laju sedimentasi pada DAS Bonan Dolok digunakan
metode Wischmeier dan Smith. Metode ini akan menghasilkan perkiraan besarnya erosi
gross. Untuk menetapkan besarnya sedimen yang sampai di lokasi Embung, erosi gross
akan dikalikan dengan ratio pelepasan sedimen (sediment delivery ratio). Metode
23

Wischmeier dan Smith atau yang lebih dikenal dengan metode USLE (Universal
Soil Losses Equation) telah diteliti lebih lanjut jenis tanah dan kondisi di Indonesia oleh
Balai Penelitian Tanah Bogor. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju sedimentasi adalah
sebagai berikut :
- Erosivitas hujan
- Erodibilitas tanah
- Panjang dan kemiringan lereng
- Konservasi tanah dan pengelolaan tanaman
- Laju erosi potensial
- Laju sedimen potensial
Tidak semua sedimen yang dihasilkan oleh erosi aktual menjadi sedimen, dan ini
tergantung dari nisbah antara volume sedimen hasil erosi aktual yang mampu mencapai
aliran sungai dengan volume sedimen yang bisa diendapkan dari lahan diatasnya (SDR).

SDR = + 0,08683 A-0,2018 (2-36)

dimana:
SDR = nisbah pelepasan sedimen, nilainya 0 < SDR < 1
A = luas daerah aliran sungai
S = kemiringan lereng rata-rata permukaan DAS (%)
n = koefisien kekasaran manning
Pendugaan laju sedimen potensial yang terjadi di suatu DAS dihitung dengan
persamaan Weishmeier dan Smith, 1958 sebagai berikut:
Spot = Ea x SDR (2-37)
dimana:
SDR = Sediment Delivery Ratio
Spot = sedimentasi potensial
Ea = erosi aktual

2.3 Neraca Air


Perhitungan neraca air dilakukan untuk mengecek apakah air yang tersedia
cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan air irigasi atau tidak. Perhitungan neraca air
ini pada akhirnya akan menghasilkan kesimpulan mengenai :
a. Pola tanam akhir yang akan dipakai untuk jaringan irigasi yang sedang di
rencanakan
24

b. Penggambaran akhir daerah proyek irigasi.


Ada tiga unsur pokok dalam perhitungan Neraca Air yaitu:
a. Kebutuhan Air
b. Tersedianya Air
c. Neraca Air

2.4 Kapasitas Tampungan Efektif


2.4.1 Daya Tampungan oleh Topografi (VP)
Yang dimaksud daya tampungan oleh topografi (VP) adalah besarnya volume
maksimum kolam embung yang terbentuk karena dibangunnya suatu embung. Setelah
lokasi dan as embung ditentukan, maka perlu menghitung volume total waduk. Harus di
cari luas yang dibatasi oleh masing – masing kantur dengan planimeter. Kemudian dicari
volume yang dibatesi oleh 2 garis kontur yang berurutan. Akan di ambil satu contoh seperti
terlihat pada Gambar 2.4. misalnya elevasi dasar sungai yang akan menjadi dasar waduk
adalah +100,00 sedangkan elevasi permukaan waduk penuh air adalah +130,00.
Dengan mengetahui luasan pada interval elevasi kontur tertentu, maka didapatkan juga
volume tampungan waduk untuk tiap interval elevasi. Dengan demikian dapat
digambarkan kurva kapasitas tampungan waduk atau lengkung kapasitas waduk.

Muka air Banjir Mercu Pelimpah


Muka air Normal
Tampungan Efektif

Saluran
Tampungan Mati Pengambil
an

Gambar 2.4. Zona-zona Tampungan Waduk

2.4.2 Lengkung Kapasitas Waduk


Lengkung kapasitas waduk merupakan suatu kurva yang menggambarkan hubungan
antara luas muka air, volume dengan elevasi. Dengan kurva ini maka nantinya akan
diketahui besarnya tampungan pada elevasi tertentu, sehingga ketinggian muka air yang
25

diperlukan dapat ditemukan untuk mendapatkan besranya volume tampungan pada suatu
elevasi tertentu, kurva ini juga bisa digunakan untuk menentukan besarnya kehilangan air
akibat perkolasi yang dipengaruhi oleh luas muka airpada elevasi tertentu (Soedibyo,
1993).

Gambar 2.5 Grafik Lengkung Kapasitas Waduk


Dari persamaan lengkung kapasitas waduk, maka persamaan luas genangan waduk
dapat ditentukan menurut persamaan:
A = Ch . S n (2-38)
Dengan:
A = luas muka air waduk (km2)
S = volume tampungan total (m3)
Ch = koefisien ( didapatkan dari persamaan lengkung kapasitas y = αxb )

2.5 Perencanaan Teknis Embung


2.5.1 Tipe Tubuh Embung
Tubuh Embung dapat didesain menurut beberapa tipe yaitu :
1. tipe urugan homogen
2. tipe urugan majemuk
3. tipe pasangan batu atau beton
4. tipe komposit
Pemilihan tipe tersebut diatas tergantung dari jenis pondasi, panjang/bentuk lembah,
dan bahan bangunan yang tersedia di tempat. Tubuh embung bertipe urugan ( homogen
dan majemuk ) dapat dibangun pada pondasi tanah atau batu, sedangkan tipe pasangan batu
atau beton hanya dapat dibangun pada pondasi batu. Disamping itu tipe pasangan batu atau
26

beton karena mahal hanya disarankan bila lembah sempit ( bentuk V ) dimana kedua
tebingnya curam dan terdiri dari material batu. Bilamana lembah panjang/lebar dan terdiri
dari material batu maka tubuh embung akan lebih murah bilamana dipilih tipe komposit.

[Link] Urugan tanah homogen


Tubuh embung dapat didesain sebagai urugan homogen, dimana bahan urugan
seluruhnya atau sebagai besar hanya menggunakan satu macam material saja yaitu
lempung atau tanah berlempung.
Tubuh embung yang didesain dengan tipe ini harus memperhatikan kemiringan lereng
dan muka garis preatik atau rembesan. Kemiringan lereng umumnya cukup landai terutama
untuk menghindari terjadinya longsoran di lereng udik pada kondisi surut cepat serta
menjaga stabilitas lereng hilir urugan pada kondisi rembesan langgeng.

Gambar 2.6 Urugan homogen


Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:5.10)

[Link] Urugan majemuk


Tubuh embung dapat didesain sebagai urugan majemuk apabila tersedia material
urugan lebih dari satu macam. Urugan terdiri dari urugan kedap air, urugan semi kedap air
( transisi ) dan urugan lulus air.
Urugan kedap air atau inti kedap air umumnya dari lempung atau tanah berlempung,
dan ditempatkan vertikal didesain di bagian tengah. Tanah bahan urugan inti harus
mengandung lempung minimal 25% ( perbandingan berat ). Bagian inti tanah dilindungi
dengan urugan semi kedap air dibagian udik dan hilirnya. Sedangkan bagian paling luar
27

terdiri dari urugan lulus air. Dengan susunan seperti itu koefisien kelulusan air dan gradasi
material berubah secara bertahap, makin keluar makin besar.
Apabila tanah bahan inti tidak dapat diperoleh di tempat, maka inti dapat dibuat dari
bahan substitusi, misal : beton atau semen tanah. Bila bahan substitusi dipakai maka inti
menjadi relatif tipis, tebal minimal 0,60 m, dan disebut dinding diafragma.

Gambar 2.7 Urugan majemuk


Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:5.12)

[Link] Pasangan batu/beton


Apabila pondasi tubuh embung terdiri dari satuan batu, maka tubuh embung dapat
dibuat dari pasangan batu atau beton. Pada lembah yang sempit atau curam, berbentuk V,
tubuh embung tipe ini umumnya didesain menjadi satu dengan bangunan pelimpah yang
terbuat dari material yang sama.
Agar keamanan terhadap stabilitas dapat terpenuhi maka tubuh embung didesain
berbentuk “graviti”, sehingga stabilitasnya dapat diperoleh dari berat strukturnya sendiri.
Tubuh bagian hilir didesain dengan kemiringan tidak lebih curam dari IH : IV, sedang
tingginya maksimum diambil 7,00 m dari galian pondasi.
28

Gambar 2.8 Urugan batu


Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:5.13)

[Link] Komposit
Tipe komposit dibangun pada pondasi yang terdiri dari satuan batu, dengan lembah
yang cukup panjang. Bangunan pelimpah dibangun menjadi satu dengan tubuh embung.
Bangunan pelimpah didesain sebagai pelimpah dari pasangan batu atau beton, sednag
tubuh embung dibangun di kiri kanan pelimpah yang dapat didesain sebagai urugan
homogen atau urugan majemuk.
Penetapan suatu tipe tubuh bendung yang sesuai dengan tempat kedudukan yang
sesuai dengan tempat kedudukan embung dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini :
1. Kualitas serta kuantitas dari bahan tubuh embung yang terdapat di daerah sekitar
embung yang akan dikembangkan.
2. Kondisi pengerjaan terhadap bahan tubuh embung, meliputi cara penggalian,
pengolahan, pengangkutan dan sebagianya.
3. Kondisi lapangan tanah pondasi pada kedudukan embung.

2.5.2 Tinggi Tubuh Embung


Tinggi tubuh embng harus ditentukan dengan mempertimbangkan kebutuhan
tampungan air, dan keamanan tubuh embung terhadap peluapan oleh banjir.
Hd = Hk + Hb + Hf + 0,25 (2-39)
Hd = tinggi tubuh embung desain (m)
Hk = tinggi muka air kolam pada kondisi penuh (m)
Hb = tinggi tampungan banjir (m)
Hf = tinggi jagaan (m)
29

Angka 0,25 merupakan angka untuk antisipasi terhadap penurunan tubuh embung.
Besarnya tinggi jagaan dapat ditentukan dari standart seperti pada tabel berikut:
Tabel 2.10 Tinggi Jagaan Embung
NO Tipe Tubuh Embung Tinggi Jagaan
Urugan homogen dan
1 0,5 m
majemuk
2 pasangan batu/beton 0m
3 Komposit 0,5 m
Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:5.6)

2.5.3 Lebar Mercu Embung


Guna memperoleh lebar minimum mercu bendungan, biasanya dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
B = 3, 6 . H1/3 – 3 (2 – 40)
Dimana:
B = lebar mercu embung (m)
H = tinggi embung (m)
Atau berdasarkan pada pedoman kriteria seperti ditunjukkan tabel berikut ini:
Tabel 2.11 Standart Lebar Puncak Embung
Tipe Tinggi (m) Lebar Puncak (m)
< 5,00 2,00
Urugan
5,00 – 10,00 3,00
Pasangan batu/beton Sampai maksimal 7,00 1,00
Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:5.4)

2.5.4 Kemiringan Lereng Tubuh Embung


Dalam Pedoman kriteria desai embung kecil untuk daerah semi kering di indonesia.
Kemiringan lereng urugan telah diberikan suatu ketetapan sebagai berikut :
30

Tabel 2.12 Kemiringan Lereng Urugan untuk Tinggi Maksimum 10 m


Kemiringan lereng vertikal : horisontal
Material Urugan Material Umum
Hulu Hilir
CH, CI, SC, GC,
1. Urugan Homogen 1:3 1 : 2,25
GM, SM
2. Urugan Majemuk
a. Urigan batu dengan Pecahan batu 1 : 1,5 1 : 1,25
inti lempung
b. Kerikil- kerikal dengan Kerikil - kerikal 1 : 2,5 1 : 1,75
inti lempung
Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:5.5)
Kemiringan lereng tubuh embung urugan dapat pula ditentukan melalui persamaan.
Persamaan untuk menetukan kemiringan tersebut adalah :
m  k .
FS hulu  .tg  1,1 (2 – 41)
1  k .m

nk
FS hilir  .tg  1,1 (2 – 42)
1  k .n
Dimana:
FShulu = faktor keamanan lereng bagian hulu
FShilir = faktor keamanan lereng bagian hilir
m = kemiringan lereng hulu
n = kemiringan lereng hilir
k = koefisien gempa
ᴓ = sudut geser dalam

2.6 Perencanaan Bangunan Pelimpah


Secara umum tipe pelimpah yang dapat diterapkan pada embung adalah:
1. Pelimpah tipe saluran terbuka.
2. Pelimpah tipe ogee (overflow) dengan peredam energi USBR tipe 1.
Pelimpah tipe saluran terbuka dipilih bilamana tubuh embung bertipe urugan. Pelimpah ini
harus diletakkan terpisah dengan tubuh embung dan dapat dibangun di atas bukit tanah
atau batu.
31

Bilamana pondasi berjenis batu sehingga tubuh embung dipilih dari tipe pasangan
batu/beton atau komposit, maka pelimpah akan bertipe ogee. Pelimpah jenis ini dibangun
menyatu dengan tubuh embung.

Gambar 2.9 Denah pelimpah tipe saluran terbuka


Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:6.7)

Gambar 2.10 Potongan memanjang pelimpah


Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:6.7)

Gambar 2.11 Potongan melintang pelimpah


Sumber : Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil (1997:6.7)
32

2.6.1 Hidraulika
[Link] Dimensi hidraulik tubuh pelimpah

Besar aliran yang meluap sempurna melalui mercu pelimpah dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus :
Q = CBH1,5
dimana:
Q = aliran yang melalui mercu ( m3/dt )
= puncak banjir 50 tahunan
B = lebar / panjang mercu pelimpah ( m )
H = tinggi air di kolam = tinggi tekanan diatas mercu ( m )
H maksimum = 0,75 m untuk tubuh embung tipe komposit
= 1,00 m untuk tubuh embung tipe pasangan/beton
C = koefisien aliran untuk ambang lebar ( = 1,80 )
Dengan rumus diatas dapat ditentukan/dipilih lebar pelimpah B :

B= (2-43)

[Link] Perhitungan hidraulik peredam energi


Perhitungan hidraulik pada kolam peredam energi USBR Tipe I daopat menggunakan
langkah berikut ini :
1. Kecepatan aliran di udik lantai peredam energi ( sebelum loncatan ) dapat dihitung
menggunakan rumus :

V1 =√

V1 =√
d1 =√ (2-44)

2. Nilai Froude
F1 =√ (2-45)

3. Tinggi air sesudah loncatan


2
= 0,5 ( √ –1) (2-46)

4. Panjang kolam peredam energi dapat diperoleh dengan menggunakan grafik yang
menggambarkan hubungan antara nilai Froude dan ratio L dan d1.
33

2.7 Analisis Stabilitas Tubuh Embung


2.7.1 Analisis Stabilitas Terhadap Rembesan
Tubuh embung dan pondasinya harus mamou mempertahankan diri terhadap gaya –
gaya yang mengalir melalui celah – celah antara butiran tanah pembantuk tubuh embung
dan pondasinya. Untuk mengetahui daya tahan tubuh embung terhadap gaya yang timbul,
maka perlu analisa mengenai hal – hal sebagai berikut:

1. Formasi garis rembesan dalam tubuh embung


2. Kapasitas air filter yang melalui embung.
3. Kemungkinan terjadi, yang disebabkan oleh gaya – gaya hidro dinamis dalam
aliran filtrasi.

2.7.2 Formasi Garis Depresi


Ditinjau dari sudut pelaksanaan pembangunannya, embung homogen merupakan
embung yang paling sederhana dibandingkan dengan type-type lainnya, akan tetapi
senantiasa dihadapkan pada problema stabilitas tubuh embung tersebut. Hal tersebut
disebabkan karena di seluruh tubuh embung yang terletak di bawah garis depresi
(seepage line), senantiasa dalam kondisi jenuh, sehingga daya dukung, kekuatan
geser serta sudut luncur alamiyahnya menurun pada tingkat-tingkat yang paling
rendah. Berhubung dengan hal-hal tersebut di atas, maka embung homogen akan
menguntungkan hanya untuk embung yang relatif rendah. Tetapi untuk embung
yang lebih tinggi dari 6 s/d 7 meter, maka suatu sistem drainage telah diperlukan pada
bagian hllir tubuh bendungan tersebut, guna menurunkan garis depresinya. Beberapa
contoh sistem drainage pada bendungan homogen secara skematis:

Gambar 2.12 Contoh Skema Konstruksi Drainage


Sumber: Sosrodarsono, 1977
34

2.7.3 Penggambaran Garis Rembesan Secara Grafis


Formasi garis depresi pada zone kedap air suatu bendungan dapat diperoleh
dengan metode Casagrande. Apabila angka permeabilitas vertikalnya (k.) berbeda dengan
angka permeabilitas horizontalnya (kh), maka akan ter jadi def ormasi garis depresi
dengan mengurangi koordinat horizontalnya sebesar √ kali.

Gambar 2.13. Skema Formasi Garis Depresi


Sumber: Sosrodarsono, 1977
Garis depresi dapat doperoleh dengan persamaan parabola sebagai berikut:

x = (2-47)

atau
y =√ (2-48)
dan
y0 =√ –d (2-49)

2.7.4 Kontrol Keamanan Dari Bahaya Piping


Agar gaya-gaya hidrodinamis yang timbul pada aliran filtrasi tidak menyebabkan
gejala sufosi dan sembulan, maka kecepatan aliran filtrasi dalam tubuh bendungan tidak
boleh terlalu besar. Parameter yang menentukan kecepatan aliran filtrasi ini adalah
kemiringan ebergi (gradient hidraulis) aliran filtrasi tersebut, dimana:

(2 - 50)

dengan:
V = kecepatan aliran pada bidang keluarnya rembesan
k = koefisienpermeabilitas
i = gradient hidrolis
∆h = tekanan rerata (perbdaan tinggi tekan air di huu dan di hilir)
35

L = panjang rerata berkas elemen aliran filtrasi.


Gradien hidrolis tersebut tidak boleh lebih besar dari gradient hidrolis kritis, yaitu
keadaan dimana keadaan tegangan air pori edemikian besar sehingga menghapus tegangan
efektif tanah, dalam hal ini butir-butir tanah akan terseret aliran.

2.7.5 Perhitungan Stabilitas terhadap Longsor Tubuh Main Dam


Runtuhnya suatu bendungan urugan biasanya dimulai dengan terjadinya gejala
longsoran baik pada lereng bagian hulu maupun bagian hilir, yang disebabkan kurang
memadainya stabilitas kedua lereng tersebut.
Maka dalam pembangunan bendungan utama tipe urugan, stabilitas lereng-lerengnya
merupakan kunci dari stabilitas tubuh bendungan secara menyeluruh.
Dengan demikian pada perencanaan bendungan urugan harus diadakan perkiraan yang
cermat terhadap faktor-faktor yang mungkin berpengaruh terhadap stabilitas lereng, serta
kombinasi pembebanan yang paling tidak menguntungkan.
Dalam perencanaan ini akan digunakan metode Irisan Bidang Luncur Bundar Fellinius
untuk menganalisa stabilitas lereng.
Dengan persamaan angka keamanan sebagai berikut.

(GEMPA) (2 – 51)

dengan:
Fs = angka faktor keamanan
C = angka kohesi material
W = berat beban
N = W cos α (beban komponen vertikal)
T = W sin α (beban komponen horizontal)
U = tekanan air pori
Ne = N x faktor gempa (N x e)
Te = T x faktor gempa (T x e)
= sudut geser dalam material

2.7.6 Analisis Stabilitas Lereng Metode Fellenius


Metode Fellenius (Ordinary Method of Slice) diperkenalkan pertama oleh Fellenius
(1927,1936) berdasarkan bahwa gaya memiliki sudut kemiringan paralel dengan dasar
irisan FK dihitung dengan keseimbangan momen. Fellenius mengemukakan metodenya
dengan menyatakan asumsi bahwa keruntuhan terjadi melalui rotasi dari suatu blok tanah
36

pada permukaan longsor berbentuk lingkaran (sirkuler) dengan titik O sebagai titik pusat
rotasi. Metode ini juga menganggap bahwa gaya normal P bekerja ditengah-tengah slice.
Diasumsikan juga bahwa resultan gaya-gaya antar irisan pada tiap irisan adalah sama
dengan nol, atau dengan kata lain bahwa resultan gaya-gaya antar irisan diabaikan.
Jadi total asumsi yang dibuat oleh metode ini adalah:
 Posisi gaya normal P terletak di tengah alas irisan : n
 Resultan gaya antar irisan sama dengan nol : n – 1 Total : 2n – 1
Dengan anggapan-anggapan ini maka dapat diuji persamaan keseimbangan momen
untuk seluruh irisan terhadap titik pusat rotasi dan diperoleh suatu nilai Faktor Keamanan.

Gambar 2.14 Lereng dengan busur lingkaran bidang longsor


diperlihatkan suatu lereng dengan sistem irisan untuk berat sendiri massa tanah (W)
serta analisis komponen gaya-gaya yang timbul dari berat massa tanah tersebut, yang
terdiri dari gayagaya antar irisan yang bekerja di samping kanan irisan (Er dan Xt). Pada
bagian alas irisan, gaya berat (W) diuraikan menjadi gaya reaksi normal Pw yang bekerja
tegak lurus alas irisan dan gaya tangensial Tw yang bekerja sejajar irisan. Besarnya lengan
gaya (W) adalah x = R sin α, dimana R adalah jari-jari lingkaran longsor dan sudut α
adalah sudut pada titik O yang dibentuk antara garis vertikal dengan jari-jari lingkaran
longsor.
Dengan menggunakan prinsip dasar serta asumsi-asumsi yang telah dikemukakan di
atas, maka selanjutnya dapat diuraikan analisis Faktor Keamanannya sebagai berikut:
Kriteria Keruntuhan Mohr–Coulomb:
s = c’ + σ’ tan Ø’ (1)
dengan: s = Kuat geser tanah
c’ = Kohesi tanah efektif
σ’ = Tegangan normal efektif
Ø’ = sudut geser dalam tanah efektif
37

Tegangan Normal Efektif dinyatakan sebagai:


σ’ = σ - u (2 – 52)
dengan: σ = Tegangan normal total
u = Tekanan air pori
Kemudian tegangan normal total yang bekerja pada bidang longsor dinyatakan sebagai:
σ= (2 – 53)

dengan: Pw = Gaya normal akibat berat sendiri tanah


l = lebar alas irisan
1 = satu satuan lebar bidang longsor
Substitusi persamaan (2-65) ke dalam persamaan (2-64) menghasilkan :
s = c’ + (σ – u) tan Ø’ (2-54)
dan substitusi persamaan (2-65) pada persamaan (2-66) menghasilkan :
s = c’ + ( – u ) tan Ø (2-55)
Agar supaya lereng menjadi stabil maka gaya-gaya yang diperlukan untuk
mengakibatkan longsor haruslah lebih kecil dari pada gaya-gaya yang ada sehingga faktor
keamanan akan menjadi lebih besar atau sama dengan satu.
Dengan kata lain:

FK= (2-56)

dengan: FK > 1,5 menunjukkan lereng stabil


FK = 1,5 kemungkinan lereng tidak stabil
FK < 1,5 menunjukkan lereng tidak stabil
Atau dalam bentuk rumus dinyatakan sebagai:
F= (2-57)

Dan tegangan geser adalah:


τ= (2-58)

Gaya geser yang diperlukan adalah:


S=τ.l.1 (2-59)
dengan:
s = Tegangan geser
S = Gaya geser
Jika persamaan (2-70) disubstitusikan pada persamaan (2-711), maka diperoleh:
S= (2-60)
38

Atau:
S= (s . l) (2-61)

Dengan mensubstitusi persamaan (2-66) ke dalam persamaan (2-72), diperoleh:


S=[ { c’ + { - u}tan Ø’ ) 1 ] (2-62)

S=[ { c’.l + { - u.l}tan Ø’ ) ] (2-63)

S=[ { c’.l + { Pw - u.l}tan Ø’ ) ] (2-64)

Komponen gaya tangensial atau gaya yang bekerja sejajar irisan (Tw) adalah:
Tw = τ . l . 1 (2-65)
Substitusi persamaan (2-69) pada persamaan (2-77) menghasilkan:
Tw = l . 1 (2-66)
Persamaan (2-77) identik dengan persamaan (2-71) sehingga Tw dapat dinyatakan
sebagai:
Tw = S (2-67)
Dengan memasukkan harga s dari persamaan (2-76) maka persamaan (2-79) dapat
dinyatakan kembali menjadi:
Tw=[ { c’.l + { Pw - u.l}tan Ø’ ) ] (2-68)

Komponen gaya normal (Pw) yang bekerja pada pusat alas irisan akibat berat
sendiri tanah (W) adalah:
Pw = W . cos α (2-69)
Komponen gaya tangensial (Tw) akibat berat massa tanah adalah:
Tw = W . sin α (2-70)
Selanjutnya dengan menguji kesetimbangan momen dari seluruh irisan terhadap titik
pusat rotasi yaitu titik O maka diperoleh suatu bentuk persamaan:
∑M=0 (2-71)
∑ W . lw - ∑ Tw . R = 0 (2-72)
dengan: lw = x = R. sin α
Tw=[ { c’.l + { Pw - u.l}tan Ø’ ) ] (2-73)

Dengan memasukkan nilai lw dan Tw ke dalam persamaan (22) diperoleh:


∑ W . R sin α - [ { c’.l + { Pw - u.l}tan Ø’ ) ] R=0 (2-74)

∑ W . R sin α = [ { c’.l + { Pw - u.l}tan Ø’ ) ] R (2-75)

∑ W . sin α = [ { c’.l + { Pw - u.l}tan Ø’ ) ] (2-76)


39

F pada ruas kanan ditukarkan dengan komponen momen l gaya penggerak longsor yaitu
∑ W sin α maka diperoleh suatu persamaan Faktor Keamanan sebagai berikut:

FK= (2-77)

Selanjutnya dengan mensubstitusikan besarnya nilai komponen gaya normal akibat berat
tanah (W) pada persamaan (2-81) ke dalam persamaan (2-90) maka diperoleh
Persamaan Faktor Keamanan akibat berat tanah (W) sebagai berikut:

FMw= (2-78)

Ini merupakan rumus dasar Faktor Keamanan akibat berat sendiri tanah (W) yang
dirumuskan oleh Fellenius yang didapat dengan cara meninjau kesetimbangan momen
seluruh irisan terhadap titik pusat rotasi O.
Nilai Faktor Keamanan ini adalah sama dengan perbandingan antara seluruh
komponen momen penahan longsor dengan momen penyebab longsor untuk seluruh
irisan yang dapat dinyatakan sebagai berikut:

FMw = (2-79)

(Anderson dan Richard, 1987)

2.7.7 Penentuan Koefisien Gempa


Desain suatu embung tipe urugan yang menahan air dalam volume yang besar harus
mempertimbangkan faktor keamanan terhadap pengaruh kegempaan. Untuk itu nilai
koefisien gempa suatu daerah dapat ditentukan dengan persamaan berikut :
Ad
k= (2 – 80)
g
dimana:
k = koefisien gempa
Ad = percepatan gempa terkoreksi (cm/dt2)
g = percepatan gravitasi (cm/dt2)
sedangkan, Ad = z . AC . v (2 – 81)
Dimana:
z = koefisien zona
AC = percepatan gempa dasar (Tabel 2.12)
v = faktor koreksi (Tabel 2.13)
40

Tabel 2.13 Faktor Koreksi Pengaruh Jenis Tanah / Batuan


Jenis Batuan Dasar Faktor Korelasi
(v)
Batuan 0,8
Dilluvium 1,00
Alluvium 1,10
Alluvium lunak 1,20
Sumber : Analisis stabilitas bendungan tipe urugan akibat beban gempa, 2004

2.7.8 Menentukan Lokasi Titik Pusat Bidang Longsor


Menentukan letak pusat busur longsor kritis terhadap stabilitas lereng digunakan guna
mengurangi jumlah coba-coba.
Garis PQ adalah pusat busur longsor tanah homogen, dengan Q diperoleh dari menarik
garis sepanjang H kebawah dari kaki tanggul dan 4.5H jarak mendatar seperti gambar 2.15
Titik P ditentukan dari bantuan sudut α1 dan α2, seperti pada tabel 2.15.

Gambar 2.15 Letak Pusat Busur Longsor Kritis Terhadap Stabilitas Lereng
41

Tabel 2.14 Sudut-sudut petunjuk menurut Fellenius


Sudut-sudut petunjuk
Kemiringan
α1 α2
1:1 27,5 37
1:2 25 35
1:3 25 35
1:4 25 35
1:6 25 35
Sumber: Garg (1980:985)

Setelah lokasi titik pusat bidang longsornya ditentukan, titik kritis bisa digambarkan,
kecuali pada beberapa keadaan seperti ini:
a. Jika nilai sudut geser kecil, busur lingkaran harus melewati kaki tanggul.
b. Jika lapisan keras berada pada kedalaman dangkal dibawah bendungan, busur
lingkaran tidak boleh melewati lapisan keras.
c. Susut geser antara 0-15o dan kemiringan lereng kurang dari 53o. Titik kritis akan
jatuh pada garis vertikal melalui pusat lereng.
42

Halaman ini sengaja dikosongkan

Anda mungkin juga menyukai