BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pembelajaran
Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang
ada di sekitar peserta didik. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan
kepada pencapaian tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman yang
diciptakan guru. Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan
berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Sebagian
terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. (Rusman,
2013:85).
James O. Whitaker dalam Rusman (2013:85) mengatakan, “Belajar adalah
proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan
pengalaman”. Kata “diubah” merupakan kata kunci pendapatnya Whitaker, sehingga
dari kata tersebut mengandung makna bahwa belajar adalah sebuah perubahan yang
direncanakan secara sadar melalui suatu program yang disusun untuk menghasilkan
perubahan perilaku positif tertentu. Intinya bahwa belajar adalah proses perubahan.
Menurut Rusman (2013:93), “Pembelajaran pada hakikatnya merupakan
proses interaksi antara guru dengan peserta didik, baik interasksi secara langsung
seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan
menggunakan berbagai media pembelajaran”. Perbedaan interaksi tersebut yang
membuat kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
pola pembelajaran.
8
9
Kemudian Sudjana dalam Rusman (2013:94) mengemukakan tentang
pengertian pembelajaran bahwa, “ Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya
yang sistematik dan tindakan sengaja untuk menciptakan kegiatan interaksi edukatif
antara dua pihak, yaitu antara peserta didik (warga belajar) dan pendidik (sumber
belajar) yang melakukan kegiatan membelajaran”.
Dari beberapa pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa kata kunci dari
belajar adalah perubahan perilaku peserta didik yang diterima setelah mendapatkan
perlakuan pembelajaran dari guru (pendidik). Sedangkan pembelajaran pada
dasarnya merupakan suatu proses interaksi komunikasi antara sumber belajar, guru,
dan peserta didik.
2.2 Hasil Belajar
Menurut Rusman (2013:123), “Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman
yang diperoleh peserta didik di dalamnya mencakup ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Belajar tidak hanya penguasaan konsep teori mata pelajaran saja, tapi
juga penguasaan kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat-bakat, penyesuaian sosial,
macam-macam keterampilan, cita-cita, keinginan dan harapan”. Hal tersebut senada
dengan pemdapat. Hamalik dalam Rusman (2013:123) mengatakan, “Hasil belajar
itu dapat terlihat dari terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga
perbaikan perilaku. Misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara
utuh”.
Belajar merupakan proses yang kompleks dan terjadinya perubahan perilaku
pada saat proses belajar diamati pada perubahan perilaku peserta didik setelah
10
dilakukan penilaian. Guru harus dapat mengamati terjadinya perubahan tingkah laku
tersebut setelah dilakukan penilaian. Tolak ukur keberhasilan peserta didik biasanya
berupa nilai yang diperolehnya. Nilai itu diperoleh setelah peserta didik melakukan
proses belajar dalam jangka waktu tertentu dan selanjutnya mengikuti tes akhir.
Kemudian dari tes itulah guru menentukan prestasi belajar peserta didiknya.
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan, bahwa hasil belajar yaitu
berupa tingkat pengetahuan, sikap positif dan keterampilan yang diperoleh setelah
kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil belajar menjadi baik dan sesuai harapan
apabila seorang guru siap dalam melaksanakan kegiatan.
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Munadi dalam Rusman (2013:124) mengatakan faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar meliputi faktor internal dan eksternal.
2.3.1 Faktor Internal
1. Faktor Fisiologi
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kondisi kesehatan yang prima, tidak
dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan
sebagainya. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi peserta didik dalam
menerima materi pelajaran.
2. Faktor Psikologis
Setiap individu dalam hal ini peserta didik pada dasarnya memiliki kondisi
psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi hasil
11
belajarnya. Beberapa faktor psikologis meliputi intelegensi (IQ), perhatian,
minat, bakat, motif, motivasi, kognitif, dan daya nalar peserta didik.
2.3.2 Faktor Eksternal
Faktor eksternal dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu: faktor keluarga,
sekolah, dan masyarakat, sebagai berikut:
1. Faktor Keluarga
a. Cara orang tua mendidik; Slameto (2010:61) menjelaskan:
“Mendidik anak terlalu keras, memaksa dan mengejar-ngejar anaknya
untuk belajar, adalah pendidikan yang salah. Anak tersebut akan
diliputi ketakutan dan akhirnya benci terhadap pelajaran tersebut,
bahkan jika tekanan atau paksaan yang diberikan terlalu keras, maka
memungkinkan anak terkena gangguan jiwa akibat tekanan tersebut”.
Orang tua perlu melakukan pendekatan yang menyenangkan,
mengapresiasi, namun tetap tegas dalam batas yang telah ditentukan.
b. Relasi antar anggota keluarga; Wujud relasi yang diharapkan adalah adanya
kasih sayang dan pengertian antar anggota keluarga.
c. Suasana rumah; adalah situasi atau kejadian yang sering terjadi dalam
keluarga. Suasana rumah yang tegang, ribut dan sering cek-cok, pertengkaran
antara anggota keluarga atau dengan keluarga lain menyebabkan anak
menjadi bosan di rumah, suka keluar, sehingga menghambat cara belajar
anak.
d. Keadaan ekonomi keluarga; Anak yang sedang belajar membutuhkan fasilitas
belajar yang memadai untuk mendukung pencapaian belajarnya. Jika fasilitas
belajar yang dibutuhkan kurang memadai, maka anak akan kesulitan belajar.
12
e. Pengertian Orang Tua; orang tua yang tidak membebani pekerjaan rumah
berlebihan kepada anak, dorongan semangat, dan komunikasi baik dengan
sekolah atau guru dapat membantu anak dalam belajar.
f. Latar belakang kebudayaan; tingkat pendidikan atau kebiasaan dalam
keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Oleh karena itu, perlu
ditanamkan kebiasaan belajar yang baik bagi anak sejak dini.
2. Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar,
kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah,
pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan
tugas rumah.
3. Faktor Masyarakat
a. Kegiatan siswa dalam masyarakat; akan membawa dampak baik bagi
kepribadian anak, namun bila terlalu banyak dan tidak bijaksana mengatur
waktu maka akan menghambat belajarnya (Slameto, 2010:70).
b. Media masa; seperti bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, novel, komik,
dan sebagainya yang memberi pengaruh baik maupun buruk terhadap belajar
anak.
c. Teman bergaul;
d. Bentuk kehidupan masyarakat; tatanan masyarakat yang baik seperti
masyarakat yang terpelajar, beragama, dan sebagainya membawa pengaruh
baik bagi psoses belajar, begitupun sebaliknya.
13
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar seseorang
atau hasil akhir yang dicapai seseorang melalui kegiatan belajar dipengarui oleh
berbagai hal, yaitu pengaruh dari dalam diri seseorang (internal) dan pengaruh dari
luar dari seseorang (eksternal). Adapun yang terjadi faktor internal yang diuraikan di
atas adalah religiusitas dan konsep diri sedangkan faktor ekstenal yang dapat
mempengaruhi hasil belajar adalah dukungan sosial. Sedangkan menurut Tu’u
(2004:78) beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam
mencapai hasil belajar yang baik, antara lain:
1. Faktor kecerdasan.
Tinggi rendahnya kecerdasan yang dimiliki siswa sangat menentukan
keberhasilannya mencapai hasil belajar.
2. Faktor bakat.
Bakat-bakat yang dimiliki siswa apabila diberi kesempatan untuk dikembangkan
dalam pembelajaran akan dapat mencapai hasil belajar yang diharapkan.
3. Faktor minat dan perhatian.
Minat adalah kecenderungan yang besar terhadap sesuatu. Perhatian adalah
melihat dan mendengar dengan baik serta teliti terhadap sesuatu. Minat dan
perhatian yang tinggi pada mata pelajaran akan memberi dampak baik bagi hasil
belajar siswa.
4. Faktor motif.
Motif selalu selalu mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan
seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Apabila dalam belajar, siswa
14
mempunyai motif yang baik dan kuat, hal ini akan memperbesar usaha dan
kegiatannya mencapai hasil belajar yang tinggi.
5. Faktor cara belajar.
Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh cara belajar siswa. Cara belajar
yang efisien memungkinkan mencapai hasil belajar lebih tinggi dibandingkan
dengan cara belajar yang tidak efektif.
6. Faktor lingkungan keluarga.
Keluarga merupakan salah satu potensi yang besar dan positif memberi pengaruh
pada hasil siswa. Terutama dalam hal mendorong, memberi semangat, dan
memberi teladan yang baik kepada anaknya.
7. Faktor sekolah.
Sekolah merupakan faktor pendidikan yang sudah terstruktur, memiliki sistem,
dan organisasi secara baik bagi penanaman nilai-nilai etika, moral, mental,
spiritual, disiplin dan ilmu pengetahuan.
Pencapaian prestasi belajar yang baik tidak hanya diperoleh dari tingkat
kecerdasan dan input seseorang saja tetapi juga didukung oleh lingkungan keluarga
dan motivasi pada diri seseorang tersebut. Tu’u (2004:81) mengatakan bahwa
suasana keluarga yang mendorong anak untuk maju, selain itu lingkungan sekolah
yang tertib, teratur dan disiplin merupakan pendorong dalam proses pencapaian hasil
belajar.
15
2.4 Pendidikan
Pendidkan merupakan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah
dan madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu
dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan sebagainya. Pendidikan dapat
berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti di
sekolah, madrasah, dan intitusi-intitusi lainnya (Syah, 2010:11).
UUD No 20 Th 2003 pasal 1, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah aktivitas
dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dan kemampuan sikap,
kecerdasan, serta ketrampilannya dalam mencapai tujuan pendidikan yang diperoleh
dari suatu lembaga pendidikan.
2.5 Orang Tua
Orang tua merupakan pendidik utama bagi anak-anak mereka, karena dari
merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian, bentuk utama
dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua adalah komponen
keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, merupakan hasil dari sebuah ikatan
pernikahan yang sah sehingga membentuk sebuah keluarga. “Keluarga diartikan
16
sebagai suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih dari hubungan dengan
pertalian darah”. (Arifin, 2009:41)
Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan penting dan berpengaruh
atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada
disampingnya. Ibu merupakan orang pertama yang dikenal dan menjadi teman yang
dipercayai seorang anak. Segala sesuatu yang dilalukan seorang ibu akan diikuti dan
dipercaya oleh anaknya. Pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula. Ayah memiliki
peranan penting dalam mendidik anaknya karena ayah sebagai kepala keluarga yang
mengambil keputusan. Ayah bertugas memenuhi nafkah keluarga dan bertanggung
jawab membiayai pendidikan anak-anaknya.
2.6 Tingkat Pendidikan Orang Tua
Menurut Fuad Ihsan (2003:18), tingkat atau jenjang pendidikan adalah tahap
pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta
didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran.
Tingkat pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi.
a. Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang memberikan dasar
pengembangan kepribadian dalam masyarakat dan melandasi untuk mengikuti
jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar wajib diikuti oleh setiap warga
Negara untuk memperoleh pengetahuan dasar, nilai dan sikap dasar dan ketrampilan-
ketrampilan dasar.
17
b. Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Jenjang
pendidikan menengah digunakan untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti
pendidikan tinggi. Fungsi pendidikan menengah adalah menyiapkan peserta didik
menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan timbal balik dengan
lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar.
c. Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan lanjutan pendidikan menengah yang
diselenggarakan untuk menyiapkan peserta untuk menjadi anggota masyarakat yang
memiliki kemampuan akademik atau professional yang dapat menerapkan,
mengembangkan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
Tingkat pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan tinggi. Orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab
dalam mendidik anak-anaknya agar mampu menghadapi perkembangan zaman yang
semakin hari semakin canggih. Kesadaran dan tanggung jawab mendidik dan
membina anak secara terus menerus perlu untuk dikembangkan kepada setiap orang
tua. Para orang tua harus membekali pengetahuan dengan teori-teori pendidikan
modern yang sesuai dengan perkembangan zaman agar generasi berikutnya memiliki
kualitas yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
2.7 Fungsi Tingkat Pendidikan Orang Tua
Dalam keluarga, orang tua mempunyai peranan yang sangat penting terhadap
kemajuan keluarganya yang meliputi pendidikan anak-anaknya. Setiap orang tua
18
memiliki keinginan agar anak-anaknya tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang
berprestasi dalam pendidikan. Orang tua ingin agar anak-anak mereka dapat meraih
prestasi yang maksimal di sekolah.
Menurut Ihsan (2003:18), fungsi lembaga pendidikan orang tua sebagai
berikut :
1. Merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak, pengalaman ini
merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan berikutnya.
Kehidupan keluarga sangat penting , sebab pengalaman masa kanak-
kanak akan memberikan warna pada perkembangan berikutnya.
2. Pendidikan di lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional
anak untuk tumbuh dan berkembang. Kehidupan emosional sangat
penting dalam pembentukan pribadi anak. Hubungan emosional yang
kurang dan berlebihan akan banyak merugikan perkembangan anak.
3. Di dalam keluarga akan terbentuk pendidikan moral. Keteladanan orang
tua di dalam bertutur sapa dan berprilaku sehari-hari akan menjadi
wahana pendidikan moral bagi anak didalam keluarga tersebut, guna
membentuk manusia susila.
4. Di dalam keluarga akan tumbuh sikap tolong menolong, tenggang rasa,
sehingga tumbuhlah kehidupan keluarga yang damai dan sejahtera. Setiap
anggota keluarga memiliki sikap sosial yang mulia, dengan cara yang
demikian akan menjadi wahana pembentukan manusia sebagai makhluk
sosial.
5. Keluarga merupakan lembaga yang memang berperan dalam meletakkan
dasar-dasar pendidikan agama. Keluarga terbiasa membawa anaknya
kemasjid merupakan langkah yang bijaksana dari keluarga dalam upaya
pembentukan anak sebagai manusia yang religius.
6. Di dalam konteks membangun anak sebagai makhluk individu diarahkan
agar anak dapat mengembangkan dan menolong dirinya sendiri.
Orang tua yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi dan pengalaman
banyak tentunya akan mempengaruhi gaya kepemimpinannya di dalam keluarga.
Sebab semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua maka akan bertambah luas
pandangan dan wawasannya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa fungsi
tingakat pendidikan orang tua dalam keluarga salah satu langkah untuk memajukan
kepemimpinannya dalam keluarga, terutama dalam mendidik anak-anaknya.