0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan1 halaman

Keberanian Meninggalkan Rumah

Diunggah oleh

m.muflifanggara09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan1 halaman

Keberanian Meninggalkan Rumah

Diunggah oleh

m.muflifanggara09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Cerpen: Rumah yang Tak Pernah Pergi

Senja di Desa Ranting Merdu selalu datang dengan warna jingga yang lembut, seolah Tuhan
sengaja menorehkannya untuk menenangkan hati siapa pun yang memandang. Alya,
seorang gadis yang gemar menulis, duduk di beranda rumah kayunya sambil membawa
buku lusuh yang selalu menemaninya sejak kecil. Hari itu, angin berhembus pelan
membawa aroma tanah basah setelah hujan sore, membuatnya semakin larut dalam
imajinasi.

Alya sedang menyelesaikan cerita tentang seorang anak yang berjuang mencari arti rumah.
Namun entah mengapa, beberapa hari terakhir ia merasa buntu. Setiap kata yang ditulisnya
terasa kurang bermakna, seolah hatinya menyimpan sesuatu yang belum tersampaikan.
Kehidupan di desa begitu damai, tetapi justru kedamaian itulah yang membuatnya ragu. Ia
mencintai kampung halamannya, namun mimpinya terlalu besar untuk terus tinggal di
sana.

Di tengah lamunannya, terdengar suara langkah kaki di halaman. Ternyata itu Arga, sahabat
masa kecilnya yang baru kembali setelah merantau bertahun-tahun. 'Kamu masih suka
menulis rupanya,' ujar Arga sambil tersenyum. Alya membalasnya dengan senyum tipis,
tetapi ada getar aneh di hatinya yang tak ia mengerti.

Keduanya duduk berdampingan menikmati semilir angin. Arga bercerita tentang kota besar,
tentang kesibukan, hiruk-pikuk, dan berbagai impian yang terus dikejar orang-orang hingga
lupa menikmati hidup. Alya mendengarkan dengan penuh perhatian. Meski ia merindukan
dunia luar, ia juga takut kehilangan ketenangan yang selama ini ia miliki.

'Alya,' kata Arga tiba-tiba, 'kalau kamu ingin pergi mengejar mimpi, pergilah. Desa ini tidak
akan hilang. Aku juga kembali karena sadar bahwa pulang adalah bagian dari perjalanan.'
Kata-kata itu terasa sederhana, tapi masuk dalam hatinya seperti kunci yang membuka
pintu lama.

Malam itu, setelah Arga pulang, Alya menatap langit gelap penuh bintang. Ia sadar bahwa
ketakutannya bukan karena ia tak siap pergi, melainkan karena ia takut tak punya tempat
untuk kembali. Tapi kini, ia tahu jawabannya: rumah selalu ada selama ada orang yang
menanti.

Esok paginya, Alya menutup buku catatannya dan menuliskan akhir cerita yang sejak lama
ia cari. Cerita tentang keberanian meninggalkan zona nyaman, namun tetap menjaga tempat
pulang. Dengan senyum mantap, ia memutuskan untuk merantau dan mengejar mimpinya
sendiri. Dan sebelum keberangkatannya, ia mengirim pesan singkat pada Arga: 'Terima
kasih telah mengingatkanku bahwa rumah tidak pernah benar-benar pergi.'

Anda mungkin juga menyukai