0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan50 halaman

Pengaruh Pengungkapan Modal Intelektual

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan50 halaman

Pengaruh Pengungkapan Modal Intelektual

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TESIS

PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE


TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
DIMODERASI OLEH INTERGOVERNMENTAL REVENUE
DAN LEVERAGE

THE EFFECT OF INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE


ON LOCAL GOVERNMENT FINANCIAL PERFORMANCE
MODERATED BY INTERGOVERNMENTAL REVENUE AND
LEVERAGE

HISYAM ICHSAN

PROGRAM MAGISTER SAINS AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
TESIS

PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE


TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
DIMODERASI OLEH INTERGOVERNMENTAL REVENUE
DAN LEVERAGE

THE EFFECT OF INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE


ON LOCAL GOVERNMENT FINANCIAL PERFORMANCE
MODERATED BY INTERGOVERNMENTAL REVENUE AND
LEVERAGE

sebagai prasyarat untuk memeroleh gelar Magister

disusun dan diajukan oleh

HISYAM ICHSAN
P3400216025

Kepada

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
ii
iii
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : Hisyam Ichsan

Nim : P3400216025

Jurusan/Program Studi : Magister Akuntansi

menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa tesis yang berjudul

PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE TERHADAP KINERJA


KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DIMODERASI OLEH
INTERGOVERNMENTAL REVENUE DAN LEVERAGE

adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam
naskah tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan/ditulis/ diterbitkan
sebelumnya, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan
dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari ternyata di dalam naskah tesis ini dapat dibuktikan
terdapat unsur-unsur jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan
tersebut dan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 25 ayat 2 dan pasal 70).

Makassar,

Yang membuat pernyataan

Hisyam Ichsan

iv
PRAKATA

Bismillahir Rahmanir Rahim


Assalamu Alaukum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur atas rahmat serta karunia Allah Subhanahuwata’aala yang
telah memberikan segala hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan
penelitian ini dalam bentuk tesis. Tesis ini merupakan tugas akhir untuk mencapai
gelar Magister pada Program Pendidikan Magister Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin Makassar.
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan tesis ini. Ucapan terimah kasih peneliti ucapkan
kepada Rektor, Ketua Program Studi Magister Sains Akuntansi, serta Dekan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar. Ucapan terima
kasih peneliti sampaikan kepada bapak Dr. Darwis Said., S.E., Ak., [Link]. dan
bapak Dr. Sanusi Fattah, S.E., [Link]. sebagai tim penasehat atas waktu yang telah
diluangkan untuk membimbing, memberi motivasi, memberi bantuan literatur,
serta diskusi-diskusi yang telah dilakukan. Ucapan terima kasih kepada Bapak
Prof. Dr. Gagaring Pagalung, S.E., Ak., M.S., CA., Bapak Dr. Syamsuddin., S.E.,
Ak., [Link]., CA., dan Ibu Dr. Nirwana, S.E., Ak., [Link]., CA. selaku tim penguji yang
telah memberikan koreksi demi perbaikan Tesis ini.
Ucapan terima kasih kepada ayahanda Drs. Daeng Sihaka, M.M. dan
ibunda Dra. Sitti Harlina Syamsuddin yang senantiasa memberikan dukungan
moril dan materil serta doa restu kepada peneliti selama hidup peneliti khususnya
pada saat pembuatan tesis ini hingga selesai. Tidak lupa ucapan terima kasih juga
penelitian ucapkan kepada saudari peneliti yaitu Nur Fitriana, [Link]..
Ucapan terima kasih selanjutnya peneliti tujukan kepada seluruh pihak
yang telah membantu peneliti dalam pengumpulan data sehingga tesis ini dapat
diselesaikan. Ucapan terima kasih juga peneliti tujukan kepada seluruh teman-
teman sejawat terkhusus pada Program Magister Sains Akuntansi 2016 khusunya
MAKSI A 2016.
Terakhir, ucapan terimakasih kepada semua pihak yang tidak sempat
peneliti sebutkan satu persatu atas segala bantuannya selama peneliti menempuh
pendidikan. Semoga semua pihak mendapat kebaikan serta perlindungan dari-
v
Nya atas bantuan yang diberikan sehingga tesis ini dapat terselesaikan dengan
sangat baik.
Tesis ini masih jauh dari kesempurnaan walaupun menerima bantuan dari
berbagai pihak. Namun, apabila terdapat beberapa kesalahan dalam tesis ini
sepenuhnya menjadi tanggungjawab peneliti dan bukan pada pemberi bantuan.
Kritik dan saran yang membangun akan lebih menyempurnakan tesis ini.
Wassalam.

Makassar, Januari 2019


Peneliti,

HISYAM ICHSAN

vi
ABSTRAK

HISYAM ICHSAN. Pengaruh Intellectual Capital Disclosure Terhadap Kinerja


Keuangan Pemerintah Daerah Dimoderasi oleh Intergovernmental Revenue dan
Leverage. (Dibimbing oleh Darwis Said dan Sanusi Fattah).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) pengaruh intellectual
capital disclosure terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi
Selatan; (2) intergovernmental revenue dapat memoderasi pengaruh intellectual
capital disclosure terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi
Selatan; dan (3) leverage dapat memoderasi pengaruh intellectual capital
disclosure terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode tidak langsung yaitu
menggunakan data sekunder berupa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD). Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif korelasional yang
menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Teknik
analisisnya menggunakan moderated regression analysis (MRA). Unit analisis
dalam penelitian ini adalah organisasi sektor publik yaitu seluruh Pemerintah
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) intellectual capital disclosure
berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah; (2)
intergovernmental revenue memoderasi pengaruh intellectual capital disclosure
terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah; dan (3) leverage tidak memoderasi
pengaruh intellectual capital disclosure terhadap kinerja keuangan pemerintah
daerah.

Kata kunci: Intellectual capital disclosure, kinerja keuangan, intergovernmental


revenue, leverage

vii
ABSTRACT

HISYAM ICHSAN. The Effect of Intellectual Capital Disclosure on Local


Government Financial Performance Moderated by Intergovernmental Revenue
and Leverage. (Supervised by Darwis Said and Sanusi Fattah).

The research aimed at investigating: (1) the effect of intellectual capital


disclosure on the local governments financial performance; (2) that the
intergovernmental revenue could moderate the influence of the intellectual capital
disclosure on the local governments financial performance; and (3) that the
leverage could moderate the impact of the intellectual capital disclosure on the
local governments financial performance in South Sulawesi.
This research used the indirect method namely using the secondary data in
the form of Local Government Financial Reports (LGFR). This was the correlational
descriptive research elaborating the effect of the independent variables on the
dependent variable. Data were analysed using the Moderated Regression Analysis
(MRA). The research analysis units were the public sector organizations namely
all Regency/City in South Sulawesi Province.
The research results indicates that: (1) intellectual capital disclosure has the
positive and significant effect on the local governments financial performance; (2)
intergovernmental revenue moderates the influence of the intellectual capital
disclosure on the local governments financial performance; and (3) leverage does
not moderate the impact of intellectual capital disclosure on the local governments
financial performance.

Key words: Intellectual capital disclosure, financial performance,


intergovernmental revenue, leverage

viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL.................................................................................... i
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ................................. iv
PRAKATA .................................................................................................... v
ABSTRAK .................................................................................................... vii
ABSTRACT .................................................................................................. viii
DAFTAR ISI ................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................... 11
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................ 11
1.4 Kegunaan Penelitian ....................................................... 11
1.4.1 Kegunaan Teoretis............................................... 12
1.4.2 Kegunaan Praktis ................................................ 12
1.5 Sistematika Penulisan ..................................................... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 14


2.1 Tinjauan Teori dan Konsep ............................................. 14
2.1.1 Stakeholder Theory ................................................ 14
2.1.2 Resource Based View Theory ................................ 15
2.1.3 Intellectual Capital Disclosure ................................ 17
2.1.4 Intergovernmental Revenue ................................... 21
2.1.5 Leverage ................................................................ 24
2.1.6 Laporan Keuangan Sektor Publik ........................... 26
2.1.7 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah ................... 28
2.2 Tinjauan Empiris ............................................................. 30

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS ......................... 36


3.1 Kerangka Pemikiran ....................................................... 36
3.2 Hipotesis ......................................................................... 37

BAB IV METODE PENELITIAN.......................................................... 42


4.1 Rancangan Penelitian ..................................................... 42
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................... 42
4.3 Populasi .......................................................................... 42
4.4 Jenis dan Sumber Data ................................................... 43
ix
4.5 Metode Pengumpulan Data ............................................. 43
4.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ................... 43
4.7 Instrumen Penelitian........................................................ 48
4.8 Teknik Analisis Data ........................................................ 48

BAB V HASIL PENELITIAN .............................................................. 55


5.1 Analisis Statistik Desktriptif ............................................... 55
5.2 Uji Asumsi Klasik .............................................................. 57
5.2.1 Uji Normalitas ......................................................... 57
5.2.2 Uji Heteroskedastisitas ........................................... 58
5.2.3 Uji Moltikolinieritas ................................................. 58
5.3 Analisis Regresi ............................................................... 59
5.3.1 Analisis Regresi Tanpa Variabel Moderasi ............. 59
5.3.2 Analisis Regresi dengan Variabel Moderasi
Intergovernmental Revenue .................................. 60
5.3.3 Analisis Regresi dengan Variabel Moderasi
Leverage ................................................................ 62
5.4 Uji Hipotesis ..................................................................... 63

BAB VI PEMBAHASAN ..................................................................... 66


6.1 Intellectual Capital Disclosure Berpengaruh Positif
Signifikan terhadap Kinerja Keuangan............................. 66
6.2 Intergovernmental Revenue Memoderasi Pengaruh
Intellectual Capital Disclosure terhadap Kinerja
Keuangan........................................................................ 68
6.3 Leverage Memoderasi Pengaruh Intellectual Capital
Disclosure erhadap Kinerja Keuangan ............................ 71

BAB VII PENUTUP .............................................................................. 74


7.1 Kesimpulan ..................................................................... 74
7.2 Implikasi .......................................................................... 75
7.3 Keterbatasan ................................................................... 75
7.4 Saran .............................................................................. 76

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 77

LAMPIRAN .......................................................................................... 82

x
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1.1 Tingkat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan Setiap
Kabupaten/Kota pada Provinsi Sulawesi Selatan................................. 8

1.2 Tingkat Kewajiban Setiap Kabupaten/Kota pada Provinsi Sulawesi


Selatan………….. ................................................................................ 9

4.1 Elemen-Elemen Intellectual Capital………….. ..................................... 45

4.2 Definisi Operasional…………............................................................... 47

5.1 Analisis Deskriptif………….. ................................................................ 55

5.2 Uji Multikolinieritas………….. ............................................................... 59

5.3 Uji Regresi Tanpa Variabel Moderasi………….. .................................. 59

5.4 Nilai R Square Uji Regresi Tanpa Variabel Moderasi………….. ........... 60

5.5 Uji Regresi dengan Variabel Moderasi Z1.. .......................................... 61

5.6 Nilai R Square Uji Regresi dengan Variabel Moderasi Z1.. .................. 61

5.7 Uji Regresi dengan Variabel Moderasi Z2………….. ............................ 62

5.8 Nilai R Square Uji Regresi dengan Variabel Moderasi Z2………….. .... 62

5.9 Hasil Uji Hipotesis Penelitian………….. ............................................... 63

6.1 Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian………….. .................. 66

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

3.1 Kerangka Pikir Penelitian ..................................................................... 36

3.2 Diagram Alur Penelitian ....................................................................... 41

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Peta Teori.......................................................................... 83

2 Hasil Analisis Statistik Deskriptif........................................ 93

3 Hasil Uji Asumsi Klasik...................................................... 94

4 Hasil Uji Regresi………..................................................... 97

xiii
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Otonomi daerah memberikan peluang besar bagi pemerintah daerah untuk

lebih mengoptimalkan kemandirian dan potensi yang dimiliki daerah, baik

menyangkut sumber daya manusia, anggaran, maupun sumber daya lain yang

merupakan bagian dari kekayaan daerah. Pemerintah daerah bertanggung jawab

mengelola sumber daya dan keuangannya sesuai dengan prinsip dan asas yang

diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pengelolaan keuangan daerah

sebagai bentuk pertanggungjawaban diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP)

No. 58 Tahun 2005 yang menegaskan bahwa pengelolaan keuangan daerah

harus dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan yang

berlaku, efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan

memperhatikan asas keadilan dan kepatuhan. Salah satu bentuk pertanggung

jawaban pemerintah daerah juga diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan

pemerintah daerah.

Menurut Halim (2007) laporan keuangan pemerintah daerah sebagai wujud

pertanggungjawaban atas pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja

daerah (APBD) mengandung pengertian sebagai suatu informasi yang

bermanfaat untuk pembuatan keputusan dan untuk menilai kinerja organisasi.

Pengukuran kinerja perlu dilakukan karena dilihat dari sifat dasar pemerintah

daerah yang merupakan organisasi sektor publik yaitu tidak mencari profit.

Harman (1997) dalam Government Performance and Result Act, A Mandate for

Strategic Planning and Performance Measurement menyatakan bahwa


2

pengukuran/penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk meningkatkan

kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas.

Perhatian besar terhadap pengukuran kinerja disebabkan oleh opini bahwa

pengukuran kinerja dapat meningkatkan efisiensi, keefektifan, penghematan dan

produktivitas pada organisasi sektor publik (Halachmi, 2005). Mardiasmo (2004)

menyebutkan bahwa pengukuran kinerja yang bersumber dari informasi finansial,

seperti laporan keuangan, diukur berdasarkan pada anggaran yang telah dibuat.

Kinerja keuangan merupakan salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk

melihat kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya dan menghasilkan

output yang diinginkan sesuai dengan sasaran yang diinginkan pemerintah

dan pihak eksternal misalnya masayarakat. Proses panjang dibutuhkan dalam

mencapai target kinerja keuangan setiap pemerintah daerah karena terdapat

kendala dalam pencapaian target tersebut sehingga berdampak pada output

yang diharapkan pemerintah daerah.

Merujuk pada Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan

Pemerintah Daerah yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),

terdapat berbagai permasalahan yang menjadi kendala dalam mencapai target

kinerja keuangan pada pemerintah daerah. Misalnya dalam pencapaian kinerja

keuangan pemerintah kota Makassar pada tahun 2016, rasio efektifitas yang

menggambarkan kemampuan daerah dalam mencapai target PAD kota

Makassar hanya memperoleh hasil sebesar 75,6% yang berarti hasil tersebut

memberikan gambaran pemerintah kota Makassar berada pada tingkat kurang

efektif. Rasio kemandirian pemerintah kota Makassar pada tahun 2016

memperoleh nilai 42,3% yang berada pada tingkat rendah. (LHP BPK, 2017)

Pemerintah kota Makassar masih menemukan berbagai permasalahan

dalam mencapai target kinerja keuangannya seperti: sebagian pendapatan


3

daerah belum memiliki database yang akurat, sumber daya aparatur

khususnya pengelolaan Pendapatan daerah masih perlu ditingkatkan,

penerimaan masyarakat terhadap aturan yang menyangkut pajak dan retribusi

belum maksimal, sarana dan prasarana pendukung pelayanan pemungutan

baik pajak dan retribusi daerah relatif masih kurang memadai, produktivitas

pemanfaatan aset/kekayaan daerah, penerimaan yang bersumber dari

perusahaan daerah masih kecil karena masih diperhadapkan dengan berbagai

masalah manajemen dan modal. Pemerintah kota Makassar juga menemukan

kendala dalam mencapai target kinerja keuangan pada pos belanja daerah

seperti: laju pertumbuhan belanja jauh melampaui pertumbuhan pendapatan;

penerimaan dana alokasi umum tidak berbanding lurus dengan peningkatan

alokasi anggaran untuk belanja gaji PNS; kebutuhan belanja operasional

penyelenggaraan pemerintahan relatif cukup besar bahkan tidak dapat ditutup

dari pendapatan asli daerah (PAD), sementara dana alokasi umum (DAU)

relatif hanya dapat menutupi penyediaan anggaran gaji; dan masih adanya

kebutuhan yang belum terakomodasi dikarenakan karena keterbatasan

sumber daya yang tersedia. (LHP BPK, 2017)

Hal serupa juga terjadi pada pemerintah daerah lainnya. Pemerintah

kabupaten Jeneponto pada tahun 2016 memperoleh nilai rasio efektifitas

sebesar 74,7% dan rasio kemandirian 6,7%. Hal tersebut dapat memberikan

gambaran bahwa tingkat kemandirian kabupaten Jeneponto berada pada

tingkat sangat rendah dan efektifitas berada pada tingkat yang kurang efektif.

(LHP BPK, 2017)

Secara umum permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah daerah

adalah belum maksimalnya pembuatan database pendapatan daerah,

kurangnya kemampuan daerah dalam memenuhi belanja yang diperlukan,


4

kurangnya sarana dan prasarana penunjang untuk mencapai target kinerja

keuangan pemerintah daerah, serta masih kurangnya kemampuan sumber

daya aparatur yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Berbagai permasalahan

yang menjadi kendala pencapaian kinerja keuangan pada pemerintah kota

Makassar dan pemerintah kabupaten Jeneponto yang disebutkan di atas

mengindikasikan pentingnya langkah taktis dalam mengatasi permasalahan

tersebut demi mencapai output yang ditargetkan oleh pemerintah daerah.

Berbagai permasalahan yang disebutkan menunjukkan bahwa kinerja

keuangan pemerintah daerah ditunjang oleh aspek keuangan dan non

keuangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah tersebut.

Pengukuran kinerja pada organisasi non profit seperti pemerintahan sangat

penting dilakukan untuk melihat sejauh mana pemerintah menjalankan tugasnya

dalam memberikan pelayanan dan melaksanakan pembangunan kepada

masayarakat. Pengukuran kinerja tidak hanya dapat diukur dengan

mempertimbangkan aspek finansial dalam suatu organisasi namun juga penting

untuk mempertimbangkan aspek non-finansial seperti intellectual capital (IC),

dimana intellectual capital ini merupakan salah satu alat ukur yang digunakan

untuk melihat kinerja. Oliveira et. al. (2014) mengamati bahwa perusahaan dengan

intangibility lebih besar menyajikan kinerja yang unggul kepada orang lain dan

bahwa intangible asset (IA) sanggup menghasilkan keunggulan kompetitif.

Intangible asset merupakan sumber daya yang berharga, langka, dan tidak

mungkin disalin atau tergantikan yang akan menjadi sumber keunggulan kompetitif

yang tahan lama (Kozak M., 2011). Baik dianalisis dari sudut pandang kualitatif

dan kuantitatif, pandangan mengenai modal intelektual (IC) sangat menentukan

kemampuan kontribusi secara ekonomi atau keuntungan (Suciu, et. al., 2011).

Investasi modal berbasis pengetahuan atau modal intelektual dianggap sebagai

sumber yang paling penting dan tentunya dapat menunjang kinerja dari organisasi.
5

Bentuk implikasi dari sebuah budaya organisasi yang kuat dapat dilihat dari

penerapan intellectual capital dalam organisasinya. Sebuah budaya organisasi

yang kuat yang diharapkan dapat selalu mempertahankan dan menciptakan nilai-

nilai inti organisasi mereka baik pada aspek manusia, struktur, serta relasinya.

Modal intelektual (IC) merupakan pengetahuan kolektif yang tertanam dalam

personil, rutinitas organisasi dan hubungan jaringan organisasi (Stewart, 1997;

Kong dan Prior, 2008). Dengan kata lain, merujuk karya sejumlah ilmuan di

lapangan, IC umumnya diambil untuk mencakup tiga komponen yang saling terkait

utama: modal manusia (HC), modal relasional (RC), dan modal struktural (SC)

(Bontis, 1998; Stewart, 1997).

Pengungkapan intellectual capital sering digunakan sebagai alat ukur

organisasi. Salah satu alasannya adalah karena dalam menentukan kinerja

organisasi, intellectual capital tidak hanya berfokus pada pengukuran finansial

tetapi mempertimbangkan pengukuran non finansial, seperti human capital,

structural capital dan external capital. Human capital dalam hal ini berkaitan

dengan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, intuisi dan sikap dari karyawan.

Structural capital terdiri dari berbagai komponen seperti hak paten, konsep, model,

dan komputer atau sistem administrasi. Sedangkan external capital merupakan

modal pelanggan yang berarti berkaitan dengan hubungan organisasi dengan

pelanggan atau pihak-pihak eksternal.

IC dapat diukur dengan indikator yang mengarah ke efek terhadap IAS dan

kinerja serta keberhasilan organisasi (Jordao dan Almeida, 2017). Grajkowska

(2011) dan Maditinos et. al. (2011) melakukan penelitian model kuantitatif untuk

mengukur IC, berdasarkan indikator kinerja keuangan dan nilai perusahaan.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa modal intelektual diakui sebagai

sumber penting bahwa organisasi perlu mengembangkan untuk mendapatkan

keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Kong dan Prior, 2008). Chen et al.
6

(2005) juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara intellectual

capital dengan kinerja keuangan. Penelitan lain dilakukan oleh Gogan et. al. (2016)

menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara intellectual capital

dengan kinerja keuangan.

Pentingnya penerapan modal intelektual di sektor publik adalah karena

fakta bahwa intangible bahkan lebih memiliki andil dalam entitas sektor publik

daripada perusahaan swasta; pertama, karena administrasi publik cenderung

memiliki beberapa tujuan yang bersifat non-keuangan; kedua, karena di antara

sumber daya produktif seperti sumber daya manusia, modal intelektual, bahan

baku dan mesin, badan administrasi publik secara intensif menggunakan SDM dan

modal intelektual, yang tidak berwujud; dan akhirnya, karena produk akhir dari

publik administrasi layanan, dan ini pada dasarnya tidak berwujud (Serrano et al.,

2003). Di samping itu, sektor publik menempatkan manusia (pegawai) sebagai

modal utama dan terfokus pada hasil tidak berwujud (Wall, 2005).

Guthrie et. al. (2012) menemukan bahwa sektor publik merupakan salah satu

wilayah tujuan penelitian IC. Literatur akuntansi menekankan pentingnya

mengukur, visualisasi, dan pelaporan IC untuk meningkatkan kontrol manajemen

dan proses pengendalian strategis yang berkaitan dengan kedua organisasi baik

swasta maupun non profit (Mouritsen et. al., 2001). Dari awal organisasi sektor

publik telah menjadi bagian dari pengembangan IC, seperti berpartisipasi dalam

mengembangkan pedoman pernyataan IC Denmark (Mouritsen et. al., 2001).

Manajemen modal intelektual telah diusulkan sebagai pendekatan manajerial baru

dalam organisasi non-profit (Kong dan Prior, 2008). Manajemen dalam sektor

publik yang modern menawarkan prioritas utama pada kebutuhan publik dan

kualitas pelayanan, yang memeberikan pembenaran mengenai membangun

inisiatif memasukkan manajemen modal intelektual sebagai pendekatan baru

untuk membantu efisiensi dan efektifitas dalam fungsi publik. Hanya beberapa
7

organisasi masyarakat telah mengambil tantangan mencoba untuk mengukur,

mengelola, dan melaporkan aset tidak berwujud (Ramirez, 2010). Konsep-konsep

baru yang berasal dari new public managemenet (NPM), terutama yang

berhubungan dengan efisiensi, efektivitas dan penghematan, telah memberikan

kontribusi positif dalam elaborasi dari pandangan yang lebih ke arah administrasi

pemerintahan, konteks di mana konsep-konsep yang berkaitan dengan modal

intelektual dapat dimasukkan (Bossi, 2003). Dragonetti dan Roos (1998)

menunjukkan bahwa jawaban yang mungkin untuk mengukur utilitas publik berasal

dari penerapan manajemen modal intelektual.

Pengaruh aspek non-finansial dalam hal ini modal intelektual terhadap

kinerja keuangan tentu saja harus didukung pula oleh aspek keuangan. Terdapat

banyak faktor keuangan yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan namun yang

menarik adalah intergovernmental revenue dan leverage. Pada umumnya

pemerintah daerah di Indonesia menempatkan intergovernmental revenue (dana

perimbangan) sebagai salah satu sumber utama penerimaan daerah termasuk

pada daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Patrick (2007) menyebutkan

intergovernmental revenue sebagai salah satu pendapatan pemerintah daerah

yang berasal dari transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam

rangka membiayai kegiatan pemerintah daerah. Beberapa penelitian telah

mengkaji pengaruh intergovernmental revenue terhadap kinerja keuangan

pemerintah daerah. Hasil penelitan Andirfa (2016) menyebutkan dana

perimbangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah

daerah. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budianto dan

Alexander (2016) menyatakan bahwa dana perimbangan berpengaruh signifikan

terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah baik secara parsial maupun

simultan. Hasil penelitian berbeda dilakukan Sesotyaningtyas (2012) yang


8

menyimpulkan bahwa intergovernmental revenue tidak berpengaruh terhadap

kinerja keuangan pemerintah daerah.

Tabel 1.1 Tingkat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan Setiap
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Periode Januari s.d.
Desember 2016

DANA
NO. KABUPATEN/KOTA PAD PERIMBANGAN
1 Makassar Rp [Link] Rp [Link].282
2 Gowa Rp 187176.036.300 Rp [Link].037
3 Takalar Rp 95,625.946.515 Rp [Link]
4 Jeneponto Rp [Link] Rp [Link]
5 Bantaeng Rp [Link] Rp [Link]
6 Bulukumba Rp [Link] Rp [Link].437
7 Selayar Rp [Link] Rp [Link]
8 Maros Rp [Link] Rp [Link].537
9 Pangkajene Kepulauan Rp [Link] Rp [Link].971
10 Barru Rp [Link] Rp [Link]
11 Pare-pare Rp [Link] Rp [Link]
12 Sidenreng Rappang Rp [Link] Rp [Link]
13 Pinrang Rp [Link] Rp [Link].024
14 Enrekang Rp [Link] Rp [Link]
15 Tana Toraja Rp [Link] Rp [Link]
16 Toraja Utara Rp [Link] Rp [Link]
17 Bone Rp [Link] Rp [Link].554
18 Soppeng Rp [Link] Rp [Link].517
19 Wajo Rp [Link] Rp [Link].788
20 Sinjai Rp 79.491.453. 854 Rp [Link]
21 Luwu Rp [Link] Rp 994.0067.307.808
22 Palopo Rp [Link] Rp [Link]
23 Luwu Utara Rp [Link] Rp [Link]
24 Luwu Timur Rp [Link] Rp [Link].235
Sumber: Hasil olah data, 2018 (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah)

Dari tabel 1.1 di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat ketergantungan

pemerintah daerah di Sulawesi Selatan terhadap pemerintah pusat masih sangat

tinggi. Kemampuan pemerintah daerah untuk membiayai operasionalnya masih

sangat kurang jika hanya bergantung pada PAD. Hal tersebut mengindikasikan

dana perimbangan menjadi faktor penentu kinerja keuangan pemerintah daerah.


9

Daerah yang memiliki tingkat ketergantungan pada pemerintah pusat terendah

adalah pemerintah kota Makassar dan daerah yang memiliki tingkat

ketergantungan pada pemerintah pusat tertinggi adalah pemerintah kabupaten

Jeneponto.

Faktor keuangan lain yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan adalah

leverage. Leverage berhubungan dengan kemampuan pemerintah daerah

menutupi biaya atau bebannya dengan menggunakan ekuitas. Pemerintah daerah

yang memiliki tingkat leverage yang besar menunjukkan pemerintah daerah tidak

mampu dalam membiayai operasionalnya sehingga akan mempengaruhi kinerja

keuangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sumarjo (2010)

menunjukkan leverage berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Kusumawardani

(2012) menunjukkan bahwa size, kemakmuran, ukuran legislatif, leverage secara

simultan mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah. Minarsih (2015)

menyimpulkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja pemerintah

daerah.

Tabel 1.2 Tingkat Kewajiban Setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi


Selatan Periode Januari s.d. Desember 2016
NO. KABUPATEN/KOTA KEWAJIBAN EKUITAS
1 Makassar Rp [Link] Rp [Link].650
2 Gowa Rp [Link] Rp [Link].413
3 Takalar Rp [Link] Rp [Link].695
4 Jeneponto Rp [Link] Rp [Link].563
5 Bantaeng Rp [Link] Rp [Link].719
6 Bulukumba Rp [Link] Rp [Link].274
7 Selayar Rp [Link] Rp [Link].196
8 Maros Rp [Link] Rp [Link].705
9 Pangkajene Kepulauan Rp [Link] Rp [Link].967
10 Barru Rp [Link] Rp [Link].528
11 Pare-pare Rp [Link] Rp [Link].952
12 Sidenreng Rappang Rp [Link] Rp [Link].438
13 Pinrang Rp [Link] Rp [Link].072
14 Enrekang Rp [Link] Rp [Link].675
15 Tana Toraja Rp [Link] Rp [Link].315
10

Lanjutan…
NO. KABUPATEN/KOTA KEWAJIBAN EKUITAS
16 Toraja Utara Rp [Link] Rp [Link].875
17 Bone Rp [Link] Rp [Link].140
18 Soppeng Rp [Link] Rp [Link].271
19 Wajo Rp [Link] Rp [Link].433
20 Sinjai Rp [Link] Rp [Link].532
21 Luwu Rp [Link] Rp [Link].365
22 Palopo Rp [Link] Rp [Link].940
23 Luwu Utara Rp [Link] Rp [Link]
24 Luwu Timur Rp [Link] Rp [Link].509
Sumber: Hasil olah data, 2018 (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah)

Tabel 1.2 di atas menunjukkan bahwa pemerintah daerah juga bergantung

pada tingkat kewajiban untuk membiayai operasionalnya. Dapat dilihat pemerintah

daerah yang memiliki tingkat kewajiban tertinggi adalah pemerintah kota Makassar

dan yang daerah yang memiliki tingkat kewajiban terendah adalah pemeritah

kabupaten Toraja Utara. Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi tinggi

atau rendahnya kewajiban setiap daerah tetapi hal tersebut sudah

mengindikasikan bahwa pemerintah daerah juga masih membutuhkan

pembiayaan untuk memenuhi kegiatan operasionalnya. Dapat disimpulkan bahwa

leverage juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan kinerja

keuangan daerah.

Berdasarkan pemaparan sebelumnya penelitian intellectual capital pada

sektor publik masih dirasakan kurang dan terdapat inkonsistensi hasil penelitian

mengenai pengaruh leverage dan intergovernmental revenue terhadap kinerja

keuangan. Pengungkapan intellectual capital secara teoritis dapat mempengaruhi

kinerja keuangan pemerintah daerah apalagi bila ditunjang oleh aspek keuangan

seperti leverage dan intergovernmental revenue memberikan motivasi untuk

dilakukan penelitian selanjutnya demi memperoleh hasil pengujian terbaru. Dasar

Penelitian ini adalah berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Farah dan
11

Abouzeid (2017), Jordao dan Almeida (2017), serta Sesotyaningtyas (2012)

berdasarkan dukungan Stakeholder Theory dan Resource Based View Theory.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang

menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Apakah intellectual capital berpengaruh terhadap kinerja keuangan

pemerintah daerah di Sulawesi Selatan?

2. Apakah intergovernmental revenue dapat memoderasi pengaruh intellectual

capital terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan?

3. Apakah leverage dapat memoderasi pengaruh intellectual capital terhadap

kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui beberapa hal sebagai berikut.

1. Pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di

Sulawesi Selatan.

2. Intergovernmental revenue dapat memoderasi pengaruh intellectual capital

terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan.

3. Leverage dapat memoderasi pengaruh intellectual capital terhadap kinerja

keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan beberapa kegunaan. Kegunaan

penelitian terdiri dari kegunaan teoretis, praktis, dan kebijakan.


12

1.4.1 Kegunaan Teoretis

Hasil penelitian ini dapat memberikan bukti empiris mengenai pengaruh

intellectual capital, intergovernmental revenue, dan leverage terhadap kinerja

keuangan. Selain itu, penelitian ini menyediakan ruang ilmiah untuk

mengembangkan penelitian lanjutan mengenai intellectual capital dan kinerja

keuangan.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan penelitian ini dapat dijadikan

sebagai bahan pertimbangan dan referensi dalam pengembangan sistem

pemerintahan. Penelitian ini juga dapat menjadi bahan acuan untuk penelitian

intellectual capital dan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.

1.5 Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun berdasarkan pada pedoman penulisan tesis dan

disertasi yang ditulis oleh Program Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Hasanuddin (2013). Sistematika penulisan disajikan ke dalam

tujuh bab.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini diuraikan latar belakang peneliti

mengangkat topik penelitian ini, selain itu dalam bab ini dijelaskan mengenai

intellectual capital pada sektor publik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini memuat uraian sistematik

tentang teori, konsep, pemikiran, dan hasil penelitian terdahulu yang ada

hubungannya dengan penelitian yang dilakukan.

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Dalam bab ini akan

dijelaskan mengenai kajian teoritis dan empiris dalam suatu kerangka pemikiran.

Selanjutnya berdasarkan kerangka pemikiran tersebut dibangun kerangka


13

konseptual yang menggambarkan hubungan antara konsep yang diteliti. Dalam

bab ini juga dijelaskan mengenai pengembangan hipotesis yang diteliti.

BAB IV METODE PENELITIAN. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai

rancangan penelitian, variabel penelitian dan definisi operasional, bagaimana

penentuan sampel, penentuan jenis dan sumber data, metode pengumpulan data,

instrumen penelitian, dan metode analisis data.

BAB V HASIL PENELITIAN. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai

deskripsi data dan hasil penelitian.

BAB VI PEMBAHASAN. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai pengaruh

variabel independen yaitu intellectual capital dan variabel moderasi yaitu

intergovernmental revenue dan leverage terhadap variabel dependen yaitu kinerja

keuangan pemerintah daerah. Selanjutnya akan dijelaskan juga pengaruh variabel

moderasi yaitu intergovernmental revenue dan leverage dalam memoderasi

hubungan antara variabel independen yaiu intellectual capital dengan variabel

dependen yaitu kinerja keuangan pemerintah daerah.

BAB VII PENUTUP. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan,

implikasi, keterbatasan, dan saran penelitian.


14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori dan Konsep

Dalam menilai kinerja keuangan pada intitusi publik khususnya pemerintah

daerah, tidak menutup kemungkinan adanya faktor-faktor penentu yang dapat

memengaruhinya baik faktor keuangan maupun faktor non-keuangan. Dalam

melihat pengaruh faktor-faktor tersebut, peneliti menggunakan pendekatan melalui

teori yang ada.

2.1.1 Stakeholder Theory

Stakeholder theory atau lebih dikenal sebagai teori stakeholder adalah

sebuah teori yang memberikan gambaran kepada pihak-pihak mana saja

perusahaan harus bertanggung jawab. Manajemen sebuah organisasi diharapkan

melakukan aktivitas berdasarkan tujuan organisasi sesuai dengan keinginan

stakeholder dan melaporkan aktivitas-aktivitas tersebut kepada stakeholder. Teori

ini menyatakan bahwa seluruh stakeholder memiliki hak untuk disediakan

informasi tentang bagaimana aktivitas organisasi mempengaruhi mereka, bahkan

ketika mereka memilih untuk tidak menggunakan informasi tersebut dan bahkan

ketika mereka tidak dapat secara langsung memainkan peran yang konstruktif

dalam kelangsungan hidup organisasi (Deegan, 2004).

Deegan (2004) menyatakan bahwa teori stakeholder menekankan

akuntabilitas organisasi jauh melebihi kinerja keuangan atau ekonomi sederhana.

Freeman (2001) dalam mengembangkan teori stakeholder memperkenalkan

konsep stakeholder dalam dua model, yaitu (a) model kebijakan dan perencanaan

dan (b) model tanggung jawab sosial perusahaan dari manajemen stakeholder.

Pada model pertama konsep stakeholder, fokusnya adalah mengembangkan dan


15

mengevaluasi persetujuan keputusan strategis perusahaan dengan kelompok-

kelompok yang dukungannya diperlukan untuk kelangsungan usaha perusahaan.

Dapat dikatakan bahwa, dalam model ini, teori stakeholder berfokus pada cara-

cara yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengelola hubungan

perusahaan dengan stakeholder-nya. Sementara dalam model kedua,

perencanaan perusahaan dan analisis diperluas dengan memasukkan pengaruh

eksternal yang mungkin berlawanan bagi perusahaan. Kelompok-kelompok yang

berlawanan ini termasuk badan regulator (government) dengan kepentingan

khusus yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan sosial.

Jika teori ini dikaitkan dengan jenis pengungkapan yang dilakukan oleh

perusahaan, maka perusahaan akan melakukan pengungkapan yang

dilakukannya sesuai dengan kepentingan stakeholder yang paling berpengaruh

terhadap kelangsungan kehidupan perusahaan. Salah satu jenis pengungkapan

yang semakin banyak dilakukan oleh organisasi saat ini adalah pengungkapan

mengenai intellectual capital yang dimiliki oleh organisasi. Saat ini pengungkapan

intellectual capital ini tidak hanya dilakukan oleh organisasi-organisasi sektor privat

saja, tetapi juga telah banyak dilakukan dalam sektor publik. Belakangan ini

instansi-instansi pemerintah telah mekakukan pengungkapan berupa intellectual

capital dalam laporan keuangan mereka untuk memberikan pertanggungjwaban

yang lebih transparan dan akuntabel kepada masyarakat. Dengan semakin

transparannya informasi keuangan instansi pemerintah diharapkan nantinya

masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai kinerja instansi pemerintah,

terutama yang berkaitan dengan kinerja keuangan.

2.1.2 Resources Based View Theory

Teori resources based view adalah teori yang mengemuka menjelang tahun

1990-an dalam bidang manajemen strategis. Resources based view theory (RBV)

merupakan salah satu pendekatan kontemporer yang dominan digunakan untuk


16

melakukan analisis mengenai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dari

sebuah organisasi. Mulyono (2013) menyatakan bahwa resource based theory ini

mencoba untuk menjelaskan mengapa dalam industri yang sama ada perusahaan

yang sukses sementara banyak yang tidak sukses. Premis utama yang digunakan

dalam resource based theory adalah bahwa perusahaan bersaing berdasarkan

basis sumber daya dan kemampuan mereka (Peteraf dan Bergen, 2003).

Peteraf dan Bergen (2003) menyatakan dalam tulisannya bahwa pandangan

berbasis sumber daya (resource based view) menekankan bahwa sumber daya

perusahaan sebagai faktor fundamental penentu keunggulan dan kinerja

kompetitif organisasi. Pandangan ini mengadopsi dua asumsi untuk menganalisis

sumber keunggulan kompetitif. Pertama, model ini mengasumsikan bahwa

perusahaan dalam suatu industri (atau strategis) mungkin heterogen sehubungan

dengan kumpulan sumber daya yang mereka kontrol. Kedua, diasumsikan bahwa

heterogenitas sumber daya dapat bertahan seiring waktu karena sumber daya

yang digunakan untuk menerapkan strategi perusahaan tidak sempurna di seluruh

perusahaan (beberapa sumber daya tidak bisa diperdagangkan di pasar dan sulit

untuk menumpuk dan meniru).

Chun (2016) mengatakan bahwa dorongan utama resource based view

adalah perusahaan bersifat heterogen, dan heterogenitas ini mencakup

pengembangan keterampilan dan kemampuan untuk mengakses dan

mengendalikan sumber daya. Dalam tulisannya tersebut Resource based view

memiliki implikasi langsung pada tingkat aspirasi perusahaan, seperti perusahaan

harus membuat keputusan tentang sumber daya apa yang harus dikeluarkan dan

dengan cara apa tergantung atas apa tujuan perusahaan dianggap paling penting.

Resource based view dapat membantu menjelaskan dimana dan kapan sebuah

perusahaan dapat memutuskan sumber daya yang lebih sedikit akan cukup, dan

di mana lebih banyak sumber daya yang diperlukan untuk mengembangkan


17

keunggulan kompetitif yang berkesinambungan untuk mencapai tujuan

perusahaan.

Oleh sebab itu, secara garis besar resource based view theory ini

menjelaskan bahwa sebuah perusahaan atau organisasi tidak dapat berharap

untuk membeli atau mengambil keunggulan bersaing berkelanjutan yang dimiliki

suatu organisasi lain, karena keunggulan tersebut merupakan sumber daya yang

langka, sukar ditiru, dan tidak tergantikan. Dalam resource based view, salah satu

keunggulan yang dimiliki oleh organisasi yang berkaitan dengan keunggulan

bersaing yang berkelanjutan, salah satu faktor penentunya berasal dari sumber

daya internal perusahaan yang salah satu komponen dari sumber daya internal ini

adalah human capital.

RBT dapat menjelaskan bahwa perusahaan dengan kemampuan mengelola

intellectual capital dengan maksimal dalam hal ini seluruh sumber daya yang

dimiliki perusahaan, baik karyawan (human capital), aset fisik (physical capital)

maupun structural capital dapat menciptakan nilai bagi perusahaan tersebut.

Asumsi dari teori ini adalah bagaimana perusahaan mendapatkan nilai tambah

(value added) dengan mengelola sumber daya yang dimilikinya sesuai dengan

kemampuan perusahaan. Penciptaan nilai tambah bagi perusahaan akan

berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2.1.3 Intellectual Capital Disclosure

Istilah intellectual capital dikemukakan pertama kali oleh Galbrait pada tahun

1969. Ia menuliskan sebuah surat kepada temannya yang bernama Michael

Kalecki, isi surat tersebut adalah:” I wonder if you realize how much those of us

the world around have owed to the intellectual capital you have provided over the

last decades” (Bontis, 2001).

Sebagai sebuah konsep, intellectual capital merujuk pada aset tidak

berwujud (intangible assets) atau tidak kasat mata (invisible), yang berhubungan
18

dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan

(Rupidara, 2008). Jadi di dalam intellectual capital terkandung beberapa aspek

non-keuangan yang tidak memiliki nilai materil.

Terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli mengenai

intellectual capital. Stewart (1997) mendefinisikan intellectual capital sebagai “The

sum of everything everybody in your company knows that gives you a competitive

edge in the market place. It is intellectual capital material-knowledge, information,

intellectual property, experience-that can be put to use to create wealth”. Guthrie

dan Petty (2000) memberikan definisi intellectual capital sebagai “…instrumental

in the determination of enterprise value and national economic performance”. Li et

al. (2008) juga memberikan pendapat mengenai definisi intellectual capital sebagai

“…the possession of knowledge and experience, professional knowledge and skill,

good relationship, and technological capacities, which when applied will give

organizations competitive advantages”.

Berdasarkan definisi-definisi yang telah diungkapkan oleh para ahli tersebut

maka dapat disimpulkan bahwa intellectual capital merupakan aset tidak berwujud

berupa pengetahuan, teknologi, inovasi, sistem operasional, serta hubungan yang

baik dengan pelanggan yang dapat menimbulkan nilai lebih bagi organisasi.

Sampai saat ini belum terdapat teori tunggal yang dapat dijadikan landasan utama

dalam menggambarkan secara utuh mengenai intellectual capital disebabkan

sulitnya mengukur intangible asset secara kuantitatif.

Suwardjono (2005) mendefinisikan pengungkapan merupakan sebuah

konsep, metode dan media tentang bagaimana informasi akuntansi disampaikan

kepada pihak yang berkepentingan. Pengungkapan (disclosure) berhubungan

dengan penjelasan mengenai hal-hal bersifat informatif yang dianggap penting dan

bermanfaat bagi pemakai selain apa yang dapat digambarkan melalui nilai-nilai

akuntansi keuangan. Secara umum, tujuan pengungkapan adalah untuk


19

menyajikan informasi yang dirasa perlu dalam mencapai tujuan pelaporan

keuangan dan untuk melayani berbagai pihak dimana mereka mempunyai

kepentingan yang berbeda-beda (Suwardjono, 2005).

Pengungkapan dibagi menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (mandatory)

dan pengungkapan sukarela (voluntary). Pengungkapan intellectual capital

merupakan pengungkapan yang bersifat sukarela. Sifat pengungkapan intellectual

capital yang sukarela membuat organisasi memiliki kebebasan dalam

mengungkapkan karena tidak diharuskan oleh regulasi. Keleluasaan tersebut

menyebabkan terjadinya keragaman dalam kualitas pengungkapan sukarela

diantara perusahaan publik (Marwata, 2001).

Beberapa penelitian mengembangkan model pengukuran dan

pengungkapan intellectual capital. Hal tersebut diungkapkan Schneider dan

Samkin (2008) yang menyebutkan penelitian intellectual capital dilakukan di

Australia (Ghutri et al. 1999; Ghutrie dan Petty 2000), Kanada (Bontis 2001),

Irlandia (Brennan 2001), Italia (Bozzolan et al. 2003), New Zealand (Wong dan

Gardner 2005), Singapura (Firer dan Williams 2005), Sri Lanka (Abeysekera dan

Guthrie 2001, 2005), Swedia (Olsson 2001) dan Inggris (Williams 2001).

Awal mulai intellectual capital berkembang di Indonesia sejak munculnya

PSAK No.19 (revisi 2000) mengenai aset tidak berwujud. Menurut PSAK No. 19,

sesuatu hal dapat digolongkan sebagai aset tidak berwujud jika memenuhi kriteria

di bawah ini: (a) aset tersebut dapat diidentifikasi, (b) aset tersebut tidak

mempunyai wujud fisik, (c) aset tersebut dimiliki dan di bawah kontrol perusahaan,

(d) aset tersebut dapat dijual, disewakan, dan dipertukarkan kepada pihak lainnya,

atau untuk tujuan administratif, dan (d) harga perolehan aset tersebut dapat diukur

secara andal.

Beberapa peneliti telah menawarkan model untuk mengukur seberapa jauh

kualitas dari intellectual capital disclosure dalam annual report. Secara garis besar,
20

dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan, intellectual capital terbagi

menjadi tiga aspek pokok yang telah dikembangkan oleh peneliti-peneliti

sebelumnya (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Ketiga aspek tersebut adalah:

1. Human Capital (Employee Competence)

Human capital merupakan lifeblood dalam intellectual capital (Sawarjuwono

dan Kadir, 2003). Komponen ini mencakup kompetensi dan pengetahuan individu

yang ditunjukkan oleh karyawan perusahaan. Beberapa karakteristik yang

dimasukkan dalam human capital/employee competence antara lain: know-how,

employee education programs, vocational qualification, work-related knowledge,

cultur diversity, entrepreneurial innovativeness, equal employment opportunities,

executive compenzation plan, training programs, dan union activity (Schneider

[Link]., 2008).

2. Structural Capital/Internal Capital

Structural capital merupakan kemampuan organisasi atau perusahaan

dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung

usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja

bisnis secara keseluruhan (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Internal capital

mencakup: intellectual property, management philosophy, management

processes, corporate culture/value, information/networking system, financial

relation, dan promotional tools (Schneider et al., 2008).

3. Relational Capital/External Capital

Elemen ini merupakan komponen modal intelektual yang memberikan nilai

secara nyata. Relational capital merupakan hubungan yang harmonis yang dimiliki

oleh perusahaan dengan para mitranya (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Menurut

Schneider et al. (2008) pengukuran external capital pada pemerintah daerah

meliputi: brand, ratepayer database, ratepayer demographics, ratepayer


21

satisfiction, backlog work, distribution channel, business collaboration, licensing

agreement, dan quality standard.

Konsep intellectual capital diyakini mempunyai peran penting dalam upaya

meningkatkan value of firm dan kinerja perusahaan baik sekarang maupun masa

depan (Ulum dan Ghozali 2006). Unsur-unsur dalam intellectual capital seperti

structural capital, costumer capital, dan human capital belum banyak diperhatikan

oleh perusahaan, padahal unsur-unsur tersebut merupakan elemen pembangun

intellectual capital yang sangat penting bagi perusahaan (Suwarjuwono dan Kadir

2003).

Manfaat pengungkapan intellectual capital adalah dengan penggunaaan

ilmu pengetahuan dan teknologi maka akan dapat diperoleh bagaimana cara

menggunakan sumber daya lainnya secara efisien dan ekonomis, yang nantinya

akan memberikan keunggulan bersaing (Rupert, 1998). Manfaat lainnya

disampaikan oleh Suwarjuwono dan Kadir (2003) bahwa intellectual capital

dianggap sebagai aset utama perusahaan karena dapat memberikan value added

bagi perusahaan tersebut sehingga perlu untuk diungkapkan. Manfaat intellectual

capital membuat manajer/pimpinan lebih mampu untuk mengelola modal

intelektual, karena apabila tidak diungkapkan maka ada risiko bahwa hal itu tidak

akan mendapatkan perhatian yang cukup (Guthrie dan Petty, 2000).

Pengungkapan intellectual capital telah dilakukan oleh beberapa peneliti

diantaranya Suhardjanto dan Wardhani (2010) yang menemukan bahwa

pengungkapan intellectual capital pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek

Indonesia sebesar 35%. Yunanto (2010) meneliti tentang pengungkapan

intellectual capital di sektor publik di Indonesia dengan hasil 17,9 %.

2.1.4 Intergovernmental Revenue

Intergovernmental revenue adalah pendapatan yang diterima pemerintah

daerah yang berasal dari sumber eksternal dan tidak memerlukan adanya
22

pembayaran kembali (Patrick, 2007). Intergovernmental revenue biasa dikenal

dengan dana perimbangan (Suhardjanto et al., 2010). Dana perimbangan adalah

dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah

untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005, dana perimbangan

dibentuk untuk mendukung pendanaan program otonomi. Dana perimbangan

meliputi dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dan dana bagi

hasil (DBH). Dana perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu daerah

dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan

sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan daerah serta untuk

mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar daerah.

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah sejumlah dana yang bersumber dari

pendapatan APBN yang dialokasikan kepada setiap Daerah Otonom

(provinsi/kabupaten/kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana

pembangunan. Dana Alokasi Umum (DAU) bertujuan untuk pemerataan

kemampuan keuangan antar daerah yang dimaksudkan untuk mengurangi

ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan formula

yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah. DAU suatu daerah

ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap) suatu daerah, yang

merupakan selisih antara kebutuhan daerah (fiscal need) dan potensi daerah

(fiscal capacity). Alokasi DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi

kebutuhan fiskal kecil akan memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya,

daerah yang potensi fiskalnya kecil, namun kebutuhan fiskal besar akan

memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut

menegaskan fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal.

Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah alokasi dari Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara kepada provinsi/kabupaten/kota tertentu dengan tujuan untuk


23

mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Pemerintahan Daerah dan

sesuai dengan prioritas nasional. Dana Alokasi Khusus (DAK) dimaksudkan untuk

membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus pada daerah tertentu yang

merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk

membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang

belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan

pembangunan daerah.

DBH adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagihasilkan kepada

daerah berdasarkan angka persentase tertentu. Pengaturan DBH dalam Undang-

Undang ini merupakan penyelarasan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun

1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir

dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000. Dana Bagi Hasil (DBH) adalah

dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada

Pemerintah Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan

daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Kebijakan perimbangan keuangan ditekankan pada empat tujuan utama,

yaitu:

1. Memberikan sumber dana bagi daerah otonom untuk melaksanakan urusan

yang diserahkan yang menjadi tanggung jawabnya;

2. Mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dan pemerintah

daerah dan antar pemerintah daerah;

3. Meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan publik dan mengurangi

kesenjangan kesejahteraan dan pelayanan publik antar daerah; serta

4. Meningkatkan efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya

daerah, khususnya sumber daya keuangan.

Pada aspek hubungan pemerintah pusat dan daerah ini Elmi (2002)

mengungkapkan bahwa dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan akan


24

terjadi pembagian keuangan yang adil dan rasional. Artinya bagi daerah-daerah

yang memiliki kekayaan sumber daya alam akan memperoleh bagian pendapatan

yang jumlahnya lebih besar sedangkan daerah-daerah lainnya akan

mengutamakan bagian dari DAU dan DAK (Julitawati, 2012).

Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN

yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam

rangka pelaksanaan desentralisasi. Dengan adanya era desentralisasi,

pengawasan keuangan terhadap pemerintah daerah harus lebih efektif dilakukan

oleh pemerintah pusat agar tercipta suasana pemerintahan daerah yang

transparan dan akuntabel. Pengawasan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan

membentuk Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang

melaksanakan fungsi pengawasan keuangan internal dan Badan Pemeriksa

Keuangan (BPK) yang melakukan fungsi pengawasan eksternal (Cahyat, 2004).

Dengan adanya dana suntikan dari pemerintah pusat, diharapkan dapat

memperlancar jalannya pemerintahan di tingkat daerah. Dana ini dipergunakan

untuk pendanaan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam rangka pelayanan

publik. Dengan adanya pelayanan publik yang memadai dan tepat sasaran

membuktikan bahwa pemerintah daerah tersebut memiliki kinerja keuangan yang

baik (Sesotyaningtyas, 2012).

2.1.5 Leverage

Leverage berhubungan dengan penggunaan aset atau dana dimana

penggunaan aset tersebut digunakan untuk menutupi segala kewajiban yang

dimiliki pemerinth daerah. Penelitian yang dilakukan Weill (2003) mengungkapkan

bahwa leverage merupakan proporsi yang menggambarkan besarnya utang

pemerintah dari pihak eksternal dibandingkan dengan ekuitas sendiri. Hal ini

mengindikasikan bahwa jika jumlah utang lebih besar daripada ekuitas maka hal
25

tersebut menggambarkan bahwa sumber utama pendanaan entitas tersebut

berasal dari pihak eksternal (Perwitasari, 2010).

Di dalam sektor publik, rasio utang atau leverage sangat penting bagi

kreditor dan calon kreditor potensial pemerintah daerah dalam membuat

keputusan pemberian kredit. Rasio ini akan digunakan oleh kreditor untuk

mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. Rasio

ini digunakan untuk bagian dari setiap rupiah ekuitas dana yang dijadikan jaminan

untuk keseluruhan kewajiban. Rasio ini juga mengindikasikan seberapa besar

pemerintah daerah terbebani oleh kewajibannya. Jika rasio ini tinggi, maka

pemerintah daerah mungkin sudah kelebihan utang dan harus dicari jalan untuk

mengurangi utang (Sesotyaningtyas, 2012).

Utang daerah atau pinjaman daerah dapat bersumber dari:

1. Pemerintah pusat, berasal dari APBN termasuk dana investasi pemerintah,

penerusan pinjaman dalam negeri dan/atau penerusan pinjaman luar negeri.

2. Pemerintah daerah lain.

3. Lembaga keuangan Bank, yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai

tempat kedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Lembaga keuangan bukan Bank, yaitu lembaga pembiayaan yang berbadan

hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara

Kesatuan Republik Indonesia.

5. Masyarakat, berupa obligasi daerah yang diterbitkan melalui penawaran umum

kepada masyarakat di pasar modal dalam negeri.

Pemerintah daerah yang memiliki leverage yang besar maka diprediksi

memiliki tingkat resiko yang besar. Leverage menggambarkan struktur modal yang

dimiliki perusahaan sehingga dapat terlihat tingkat resiko tidak tertagihnya utang

(Perwitasari, 2010).
26

2.1.6 Laporan Keuangan Sektor Publik

Bastian (2010) mendefinisikan laporan keuangan sektor publik sebagai

representasi posisi keuangan dari sejumlah transaksi yang dilakukan oleh suatu

entitas sektor publik. Menurut Bastian (2010), bentuk dan penyusunan laporan

keuangan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sifat lembaga sektor

publik, sistem pemerintahan suatu negara, mekanisme pengelolaan keuangan,

dan sistem anggaran negara.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar

Akuntansi Pemerintahan, laporan keuangan pemerintah terdiri dari laporan

pelaksanaan anggaran (budgetary reports), laporan finansial dan CaLK. Laporan

pelaksanaan anggaran terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Laporan

Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL). Laporan keuangan terdiri dari Neraca,

Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan Laporan Arus

Kas (LAK).

1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan

pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD.

Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan

penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah

dalam satu periode pelaporan. Dalam penyajian laporan realisasi anggaran

setidaknya harus memuat unsur pendapatan, LRA, belanja, transfer,

surplus/defisit-LRA, pembiayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran.

2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL)

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL)

menyajikan informasi kenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun

pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

3. Neraca
27

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai

aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Neraca menyajikan secara

komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos kas dan setara kas, investasi

jangka pendek, piutang pajak dan bukan pajak, persediaan, investasi jangka

panjang, aset tetap, kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang,dan

ekuitas.

4. Laporan Operasional (LO)

Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang

menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah

pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode

pelaporan. Unsur yang dicakup secara langsung dalam Laporan Operasional

terdiri dari pendapatan-LO, beban, transfer, dan pos-pos luar biasa.

5. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)

Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) menyajikan informasi kenaikan atau

penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

6. Laporan Arus Kas (LAK)

Laporan arus kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas

operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris yang menggambarkan saldo awal,

penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah pusat/daerah selama

periode tertentu. Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari

penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai

berikut.

a. Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum

Negara/Daerah.

b. Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara

Umum Negara/Daerah.
28

7. Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari

angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan

SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Laporan

Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang

kebijakan akuntansi yang dipergunakan, penyajian informasi yang diharuskan dan

dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-

pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan

keuangan, seperti kewajiban kontijensi dan komitmen-komitmen lainnya.

2.1.7 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Kinerja dapat diartikan sebagai aktivitas terukur dari suatu entitas selama

periode tertentu sebagai bagian dari ukuran keberhasilan pekerjaan (Azhar, 2008).

Kinerja merupakan pencapaian atas apa yang direncanakan, baik oleh pribadi

maupun organisasi (Hamzah, 2008). Menurut Halim (2007), “kinerja keuangan

daerah atau kemampuan daerah merupakan salah satu ukuran yang dapat

digunakan untuk melihat kemampuan daerah dalam menjalankan otonomi

daerah”.

Harman (1997) dalam Government Performance and Result Act, A Mandate

for Strategic Planning and Performance Measurement menyatakan bahwa

pengukuran/penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk meningkatkan

kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran kinerja secara

berkelanjutan akan memberikan umpan balik, sehingga terjadi upaya perbaikan

secara terus menerus untuk mencapai tujuan dimasa mendatang (Bastian, 2006).

Penilaian/pengukuran kinerja terhadap lembaga atau organisasi tidak hanya

berlaku pada lembaga atau organisasi yang berorientasi profit saja, melainkan

juga perlu dilakukan pada lembaga atau organisasi non komersial. Hal ini

dilakukan dengan maksud agar dapat mengetahui sejauh mana pemerintah


29

menjalankan tugasnya dalam roda pemerintahan dalam melaksanakan

pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat dengan menyampaikan laporan

pertanggungjawaban keuangan (Sesotyaningtyas, 2012). Perhatian yang besar

terhadap pengukuran kinerja disebabkan oleh opini bahwa pengukuran kinerja

dapat meningkatkan efisiensi, keefektifan, penghematan dan produktivitas pada

organisasi sektor publik (Halachmi, 2005).

Menurut Mardiasmo (2004) pengukuran kinerja dilakukan untuk memenuhi

tiga maksud. Pertama, dimaksudkan untuk membantu memperbaiki kinerja

pemerintah. Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk dapat membantu pemerintah

berfokus pada tujuan dan sasaran program unit kerja. Hal ini pada akhirnya akan

meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemerintah daerah dalam pemberian

pelayanan publik. Kedua, dimaksudkan untuk pengalokasian sumber daya dan

pembuatan keputusan. Ketiga, dimaksudkan untuk mewujudkan

pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.

Pengukuran kinerja dinilai sangat penting untuk menilai akuntabilitas

organisasi dalam menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik. Akuntabilitas

bukan sekedar kemampuan yang menunjukan bagaimana uang publik

dibelanjakan, akan tetapi meliputi kemampuan yang menunjukkan bahwa uang

publik tersebut telah dibelanjakan secara ekonomis, efisien dan efektif.

Masyarakat tentunya tidak mau terus menerus ditarik pungutan sementara

pelayanan yang mereka terima tidak ada kualitas dan kuantitasnya (Mardiasmo,

2004). Dengan demikian, pengukuran kinerja keuangan pemerintah daerah adalah

sesuatu yang memang penting untuk dilakukan. Pengukuran kinerja juga

merupakan salah satu kunci sukses dari pembaruan dalam sektor publik (Greiling,

2005).

Untuk mengetahui prestasi sebuah organisasi tertentu memerlukan ukuran

atau kriteria sebagai indikator keberhasilan yang ingin dicapai. Menurut Halim
30

(2007), didalam penilaian indikator kinerja sekurang-kurangnya ada empat tolak

ukur penilaian kinerja keuangan pemerintah daerah yaitu, (1) Penyimpangan

antara realisasi anggaran dengan target yang ditetapkan dalam APBD, (2)

Efisiensi biaya, (3) Efektivitas program, (4) Pemerataan dan keadilan. Menurut

Mahsun (2006) dalam konteks pemerintahan sebagai sektor publik, ada beberapa

aspek yang dapat dinilai kinerjanya, yaitu:

1. Kelompok Masukan (Input)

2. Kelompok Proses (Proccess)

3. Kelompok Keluaran (Output)

4. Kelompok Hasil (Outcome)

5. Kelompok Manfaat (Benefit)

6. Kelompok Dampak (Impact).

Fokus pengukuran kinerja sektor publik justru terletak pada outcome dan

bukan input dan proses, outcome yang dimaksudkan adalah outcome yang

dihasilkan oleh individu ataupun organisasi secara keseluruhan, outcome harus

mampu memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat menjadi tolak ukur

keberhasilan organisasi sektor publik. Salah satu alat untuk menganalisis kinerja

pemerintah daerah adalah dengan melakukan analasis rasio keuangan

pemerintah daerah. Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan

membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan

periode sebelumnya sehingga dapat diketahui kecenderungan yang terjadi (Halim,

2007).

2.2 Tinjauan Empiris

Penelitian terkait Intellectual Capital dan kinerja keuangan saat ini semakin

berkembang, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya penelitian yang

dipublikasikan terkait dengan topik penelitian tersebut. Salah satu penelitian yang
31

membahas mengenai dampak Intellectual Capital terhadap kinerja dipublikasikan

oleh Ming-Chin Chen, et. al. (2005), yang meneliti mengenai hubungan antara

intellectual capital, Nilai Pasar Perusahaan, dan Kinerja Keuangan. Penelitiannya

tersebut menunjukkan hasil bahwa modal intelektual perusahaan memiliki dampak

positif pada nilai pasar dan kinerja keuangan, dan dapat menjadi indikator kinerja

keuangan di masa depan. Beberapa publikasi lainnya juga menemukan hasil yang

serupa dengan penelitian Ming-Chin Chen, et. al. (2005), yakni terdapat hubungan

positif antara Intellectual Capital dan kinerja keuangan (Gogan, et. al., 2016;

Jordão dan Almeida, 2017; Fathi et. al., 2013; dan Shahzad et. al., 2014).

Penelitian mengenai Intellectual Capital yang ada saat ini juga semakin

berkembang, dimana penelitian yang ada tidak lagi hanya sebatas pada hubungan

langsung antara Intellectual Capital dan kinerja organisasi, tetapi juga telah

menambahkan variabel moderasi didalamnya. Kamukama et. al. (2011) dengan

penelitian berjudul Competitive Advantage: Mediator of Intellectual Capital and

Performance. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh mediasi

keunggulan kompetitif dalam hubungan antara modal intelektual dan kinerja

keuangan di lembaga-lembaga keuangan mikro Uganda. Hasil penelitian ini

menunjukkan keunggulan kompetitif secara signifikan signifikan memediasi

hubungan antara modal intelektual dan kinerja keuangan dan meningkatkan

hubungan antara kedua variabel tersebut sebear 22,4 persen di lembaga-lembaga

keuangan mikro Uganda. Selanjutnya temuan menerima hubungan secara parsial

mediasi antara modal intelektual, keunggulan kompetitif dan kinerja keuangan.

Selain itu, Soewarno (2011) juga mencoba menguji hubungan antara Intellectual

Capital dan kinerja keuangan dengan menempatkan ukuran, jenis industri, dan

leverage sebagai variabel moderating. Hasil penelitiannya tersebut menunjukkan

bahwa Intellectual Capital berpengaruh terhadap Kinerja Organisai (Return On

Assets atau ROA maupun Market to Book Value atau MB), namun tidak
32

berpengaruh terhadap Kinerja Keungan Organisasi (Assets Turn Over atau ATO).

Kemudian, Leverage dapat memoderasi hubungan antara Intellectual Capital dan

Kinerja Keuangan Organisasi (ROA dan MB).

Patrick (2007) dengan judul penelitian The Determinants of Organizational

Innovativeness: The Adoption of GASB 34 in Pennsylvania Local Government.

Penelitian ini menggunakan model inovasi organisasi Everett Rogers' (2003) yang

disesuaikan untuk mengidentifikasi karakteristik organisasi pemerintah daerah

Pennsylvania yang telah mengadopsi GASB 34. Model ini menggunakan tiga

komponen organisasi (budaya organisasi, struktur organisasi, dan lingkungan

eksternal) yang sering dikaitkan dengan adopsi inovasi. Hasil penelitian ini

menunjukkan enam variabel yang kurang kuat terkait dengan adopsi seperti

spesialisasi pekerjaan, diferensiasi fungsional, intensitas administrasi,

ketersediaan sumber daya, transfer dana, dan pembiayaan utang yang terkait

dengan adopsi, tetapi kekuatan dari asosiasi adalah ringan sampai sedang.

Di sektor publik sendiri, penelitian terkait Intellectual Capital pada awalnya

dimulai dari penelitian yang dilakukan oleh Ramírez (2010) mempublikasikan

penelitiannya yang bertopik Intellectual Capital di sektor publik, dalam

penelitiannya tersebut menawarkan pandangan praktis tentang bagaimana

mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola modal intelektual dari entitas publik.

Temuan penelitiannya tersebut menyebutkan dalam paradigma institusional baru,

pengetahuan dan nilai-nilai tak berwujud menjadi sumber utama keunggulan

kompetitif bagi entitas publik. Unsur-unsur ini, ketika dikelola dengan baik, adalah

faktor-faktor untuk sukses dalam entitas publik. Itulah sebabnya mengapa manajer

publik terus mencari alat-alat baru untuk peningkatan yang efektif dalam kinerja

lembaga-lembaga publik, dan salah satu alat ini adalah model manajemen modal

intelektual. Farah dan Abouzeid (2017) juga telah melakukan penelitian terkait

dengan topik Intellectual Capital, namun berbeda dengan penelitian yang telah
33

dilakukan oleh Ramírez (2010), mereka mencoba untuk melihat pengaruh modal

intelektual pada kinerja organisasi di sektor publik dan mempelajari keterkaitan

antara variabel modal intelektual. Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya

manusia, modal sosial dan organisasi dalam meningkatkan kinerja dalam

organisasi diteliti. Hasil menunjukkan bentuk-bentuk modal diteliti dapat saling

berhubungan dan mampu memberikan pengaruh positif terhadap kinerja

organisasi.

Di sektor publik penelitian terkait topik Intellectual Capital tidak hanya

terbatas pada keterkaitan Intellectual Capital dengan kinerja keuangan saja, tetapi

juga telah meluas pada pengungkapan Intellectual Capital itu sendiri. Penelitian

yang telah dipublikasikan terkait topik tersebut adalah penelitian Schneider dan

Samkin (2008) dengan judul penelitian Intellectual Capital Reporting by the New

Zealand Local Government Sector. Penelitian ini membangun indeks ICD melalui

proses konsultasi pemangku kepentingan partisipatif untuk mengembangkan

sejauh mana indeks pengungkapan dan kualitas pelaporan modal intelektual di

laporan tahunan 2004/2005 dari 82 pemerintah daerah di Selandia Baru. Indeks

tersebut terdiri 26 item dibagi menjadi tiga kategori: modal internal, modal

eksternal, dan human capital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaporan

modal intelektual oleh pemerintah daerah bervariasi, item yang paling dilaporkan

adalah gabungan usaha/kolaborasi bisnis dan proses manajemen, sedangkan

item yang paling sedikit dilaporkan adalah intelektual properti dan perizinan

perjanjian. Kategori yang paling dilaporkan modal intelektual adalah kas internal,

diikuti oleh modal eksternal, modal manusia adalah kategori paling sering

dilaporkan.

Penelitian yang sedang berkembang di sektor publik saat ini, tidak hanya

berkisar pada pengaruh intellectual capital dan kinerja keuangan saja, tetapi juga

telah merambah pada pembahasan mengenai intergovermental revenue atau


34

lebih dikenal di Indonesia sebagai dana perimbangan. Andirfa, dkk. (2016)

melakukan penelitian mengenai Pengaruh Belanja Modal, Dana Perimbangan,

dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Kinerja Keuangan, yang mana dalam

penelitiannya tersebut, ia memperoleh hasil bahwa belanja modal, dana

perimbangan dan pendapatan asli daerah (PAD) secara simultan memiliki

pengaruh terhadap kinerja keuangan. Namun hasil pengujian secara parsial, dana

perimbangan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan daerah pada

Pemerintah Kabupaten dan Kota di Provinsi Aceh. Hasil serupa juga ditemukan

oleh Budianto dan Alexander (2016) menunjukan bahwa pendapatan asli dearah

(PAD) dan dana perimbangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan

pemerintah daerah baik secara simultan maupun parsial. Kedua penelitian ini juga

mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Renas (2014),

Sesotyaningtyas (2012) dan Kusumawardani (2012).

Sumarjo (2010), mempublikasikan penelitiannya yang berjudul Pengaruh

Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

(Studi Empiris pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia). Penelitian

ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris adanya pengaruh karakteristik

pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia.

Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 125 pemerintah daerah

kabupaten/kota di Indonesia tahun 2008 dengan menggunakan metode analisis

regresi berganda. Hasil yang ditunjukkan penelitian ini adalah ukuran pemerintah

daerah, leverage, dan intergovernmental revenue berpengaruh terhadap kinerja

keuangan pemerintah daerah.

Kusumawardani (2012), melakukan penelitian mengenai pengaruh size,

kemakmuran, ukuran legislatif, dan leverage terhadap kinerja keuangan. Analisis

data dalam penelitian ini menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa size, kemakmuran, ukuran legislatif, leverage mempengaruhi


35

kinerja keuangan pemerintah daerah sebesar 31,5%. Hasil yang berbeda

ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Minarsih (2015) juga melakukan

penelitian terkait Pengaruh Size, Wealth, Leverage, dan Intergovernmental

Revenue Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa variable size, wealth, leverage dan intergovernmental

revenue tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah secara

parsial untuk rasio efisiensi. Sedangkan untuk model kedua, hanya variabel

leverage dan intergovernmental revenue yang berpengaruh secara parsial

terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah untuk rasio efektivitas.

Setyaningrum dan Syafitri (2012) dengan judul penelitian Analisis Pengaruh

Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan

Keuangan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 620 LKPD

Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2008-2009. Hasil penelitian ini menunjukkan

umur administratif pemerintah daerah, kekayaan pemerintah daerah, dan ukuran

legislatif memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pengungkapan

LKPD, sedangkan intergovernmental revenue memiliki pengaruh negatif yang

signifikan.

Weill (2003), melakukan penelitian terkait Leverage dan kinerja organisasi.

Penelitian ini berusaha memberikan bukti empiris baru pada isu tata kelola

perusahaan utama: hubungan antara leverage dan kinerja perusahaan. Peneliti

membawa dua perbaikan besar untuk literatur ini dengan menerapkan teknik-

teknik efisiensi untuk mendapatkan ukuran kinerja bagi perusahaan dari beberapa

negara (Perancis, Jerman dan Italia). Kemudian penelitian dilanjutkan ke regresi

kinerja perusahaan pada berbagai set variabel termasuk leverage. Hasil penelitian

ini menemukan bukti campuran tergantung pada negara: hubungan antara

leverage dan kinerja perusahaan negatif signifikan di Italia, hubungan antara

leverage dan kinerja perusahaan adalah positif signifikan di Perancis dan Jerman.
BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, tinjauan pustaka, dan hasil

penelitian terdahulu disusunlah kerangka konseptual. Kerangka pemikiran

penelitian ini pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep

yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan, dalam hal

ini adalah keterkaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Penelitian ini

akan dilakukan pengujian mengenai pengaruh intellectual capital terhadap

kinerja keuangan pemerintah daerah yang dimoderasi oleh intergovernmental

revenue dan leverage. Penelitian ini akan menguji intergovernmental revenue

dan leverage yang memoderasi hubungan antara intellectual capital terhadap

kinerja keuangan pemerintah daerah.

Secara ringkas pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan

pemerintah daerah dengan pemoderasi intergovernmental revenue dan leverage

dapat dijelaskan oleh kerangka pemikiran sebagai berikut.

Intergovernmental
Revenue (Z1)

Intellectual capital Kinerja Keuangan


Disclousures (X) (Y)

Leverage (Z2)

Sumber: Replikasi atas beberapa penelitian terdahulu (Soewarno, 2011;


Sesotyaningtyas, 2012; Farah dan Abouzeid, 2017)

Gambar 3.1 Kerangka Pikir Penelitian

36

Anda mungkin juga menyukai