TESIS
PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE
TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
DIMODERASI OLEH INTERGOVERNMENTAL REVENUE
DAN LEVERAGE
THE EFFECT OF INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE
ON LOCAL GOVERNMENT FINANCIAL PERFORMANCE
MODERATED BY INTERGOVERNMENTAL REVENUE AND
LEVERAGE
HISYAM ICHSAN
PROGRAM MAGISTER SAINS AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
TESIS
PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE
TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
DIMODERASI OLEH INTERGOVERNMENTAL REVENUE
DAN LEVERAGE
THE EFFECT OF INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE
ON LOCAL GOVERNMENT FINANCIAL PERFORMANCE
MODERATED BY INTERGOVERNMENTAL REVENUE AND
LEVERAGE
sebagai prasyarat untuk memeroleh gelar Magister
disusun dan diajukan oleh
HISYAM ICHSAN
P3400216025
Kepada
PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
ii
iii
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Hisyam Ichsan
Nim : P3400216025
Jurusan/Program Studi : Magister Akuntansi
menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa tesis yang berjudul
PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL DISCLOSURE TERHADAP KINERJA
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DIMODERASI OLEH
INTERGOVERNMENTAL REVENUE DAN LEVERAGE
adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam
naskah tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan/ditulis/ diterbitkan
sebelumnya, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan
dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari ternyata di dalam naskah tesis ini dapat dibuktikan
terdapat unsur-unsur jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan
tersebut dan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 25 ayat 2 dan pasal 70).
Makassar,
Yang membuat pernyataan
Hisyam Ichsan
iv
PRAKATA
Bismillahir Rahmanir Rahim
Assalamu Alaukum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur atas rahmat serta karunia Allah Subhanahuwata’aala yang
telah memberikan segala hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan
penelitian ini dalam bentuk tesis. Tesis ini merupakan tugas akhir untuk mencapai
gelar Magister pada Program Pendidikan Magister Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin Makassar.
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan tesis ini. Ucapan terimah kasih peneliti ucapkan
kepada Rektor, Ketua Program Studi Magister Sains Akuntansi, serta Dekan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar. Ucapan terima
kasih peneliti sampaikan kepada bapak Dr. Darwis Said., S.E., Ak., [Link]. dan
bapak Dr. Sanusi Fattah, S.E., [Link]. sebagai tim penasehat atas waktu yang telah
diluangkan untuk membimbing, memberi motivasi, memberi bantuan literatur,
serta diskusi-diskusi yang telah dilakukan. Ucapan terima kasih kepada Bapak
Prof. Dr. Gagaring Pagalung, S.E., Ak., M.S., CA., Bapak Dr. Syamsuddin., S.E.,
Ak., [Link]., CA., dan Ibu Dr. Nirwana, S.E., Ak., [Link]., CA. selaku tim penguji yang
telah memberikan koreksi demi perbaikan Tesis ini.
Ucapan terima kasih kepada ayahanda Drs. Daeng Sihaka, M.M. dan
ibunda Dra. Sitti Harlina Syamsuddin yang senantiasa memberikan dukungan
moril dan materil serta doa restu kepada peneliti selama hidup peneliti khususnya
pada saat pembuatan tesis ini hingga selesai. Tidak lupa ucapan terima kasih juga
penelitian ucapkan kepada saudari peneliti yaitu Nur Fitriana, [Link]..
Ucapan terima kasih selanjutnya peneliti tujukan kepada seluruh pihak
yang telah membantu peneliti dalam pengumpulan data sehingga tesis ini dapat
diselesaikan. Ucapan terima kasih juga peneliti tujukan kepada seluruh teman-
teman sejawat terkhusus pada Program Magister Sains Akuntansi 2016 khusunya
MAKSI A 2016.
Terakhir, ucapan terimakasih kepada semua pihak yang tidak sempat
peneliti sebutkan satu persatu atas segala bantuannya selama peneliti menempuh
pendidikan. Semoga semua pihak mendapat kebaikan serta perlindungan dari-
v
Nya atas bantuan yang diberikan sehingga tesis ini dapat terselesaikan dengan
sangat baik.
Tesis ini masih jauh dari kesempurnaan walaupun menerima bantuan dari
berbagai pihak. Namun, apabila terdapat beberapa kesalahan dalam tesis ini
sepenuhnya menjadi tanggungjawab peneliti dan bukan pada pemberi bantuan.
Kritik dan saran yang membangun akan lebih menyempurnakan tesis ini.
Wassalam.
Makassar, Januari 2019
Peneliti,
HISYAM ICHSAN
vi
ABSTRAK
HISYAM ICHSAN. Pengaruh Intellectual Capital Disclosure Terhadap Kinerja
Keuangan Pemerintah Daerah Dimoderasi oleh Intergovernmental Revenue dan
Leverage. (Dibimbing oleh Darwis Said dan Sanusi Fattah).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) pengaruh intellectual
capital disclosure terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi
Selatan; (2) intergovernmental revenue dapat memoderasi pengaruh intellectual
capital disclosure terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi
Selatan; dan (3) leverage dapat memoderasi pengaruh intellectual capital
disclosure terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode tidak langsung yaitu
menggunakan data sekunder berupa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD). Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif korelasional yang
menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Teknik
analisisnya menggunakan moderated regression analysis (MRA). Unit analisis
dalam penelitian ini adalah organisasi sektor publik yaitu seluruh Pemerintah
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) intellectual capital disclosure
berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah; (2)
intergovernmental revenue memoderasi pengaruh intellectual capital disclosure
terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah; dan (3) leverage tidak memoderasi
pengaruh intellectual capital disclosure terhadap kinerja keuangan pemerintah
daerah.
Kata kunci: Intellectual capital disclosure, kinerja keuangan, intergovernmental
revenue, leverage
vii
ABSTRACT
HISYAM ICHSAN. The Effect of Intellectual Capital Disclosure on Local
Government Financial Performance Moderated by Intergovernmental Revenue
and Leverage. (Supervised by Darwis Said and Sanusi Fattah).
The research aimed at investigating: (1) the effect of intellectual capital
disclosure on the local governments financial performance; (2) that the
intergovernmental revenue could moderate the influence of the intellectual capital
disclosure on the local governments financial performance; and (3) that the
leverage could moderate the impact of the intellectual capital disclosure on the
local governments financial performance in South Sulawesi.
This research used the indirect method namely using the secondary data in
the form of Local Government Financial Reports (LGFR). This was the correlational
descriptive research elaborating the effect of the independent variables on the
dependent variable. Data were analysed using the Moderated Regression Analysis
(MRA). The research analysis units were the public sector organizations namely
all Regency/City in South Sulawesi Province.
The research results indicates that: (1) intellectual capital disclosure has the
positive and significant effect on the local governments financial performance; (2)
intergovernmental revenue moderates the influence of the intellectual capital
disclosure on the local governments financial performance; and (3) leverage does
not moderate the impact of intellectual capital disclosure on the local governments
financial performance.
Key words: Intellectual capital disclosure, financial performance,
intergovernmental revenue, leverage
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL.................................................................................... i
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ................................. iv
PRAKATA .................................................................................................... v
ABSTRAK .................................................................................................... vii
ABSTRACT .................................................................................................. viii
DAFTAR ISI ................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................... 11
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................ 11
1.4 Kegunaan Penelitian ....................................................... 11
1.4.1 Kegunaan Teoretis............................................... 12
1.4.2 Kegunaan Praktis ................................................ 12
1.5 Sistematika Penulisan ..................................................... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 14
2.1 Tinjauan Teori dan Konsep ............................................. 14
2.1.1 Stakeholder Theory ................................................ 14
2.1.2 Resource Based View Theory ................................ 15
2.1.3 Intellectual Capital Disclosure ................................ 17
2.1.4 Intergovernmental Revenue ................................... 21
2.1.5 Leverage ................................................................ 24
2.1.6 Laporan Keuangan Sektor Publik ........................... 26
2.1.7 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah ................... 28
2.2 Tinjauan Empiris ............................................................. 30
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS ......................... 36
3.1 Kerangka Pemikiran ....................................................... 36
3.2 Hipotesis ......................................................................... 37
BAB IV METODE PENELITIAN.......................................................... 42
4.1 Rancangan Penelitian ..................................................... 42
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................... 42
4.3 Populasi .......................................................................... 42
4.4 Jenis dan Sumber Data ................................................... 43
ix
4.5 Metode Pengumpulan Data ............................................. 43
4.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ................... 43
4.7 Instrumen Penelitian........................................................ 48
4.8 Teknik Analisis Data ........................................................ 48
BAB V HASIL PENELITIAN .............................................................. 55
5.1 Analisis Statistik Desktriptif ............................................... 55
5.2 Uji Asumsi Klasik .............................................................. 57
5.2.1 Uji Normalitas ......................................................... 57
5.2.2 Uji Heteroskedastisitas ........................................... 58
5.2.3 Uji Moltikolinieritas ................................................. 58
5.3 Analisis Regresi ............................................................... 59
5.3.1 Analisis Regresi Tanpa Variabel Moderasi ............. 59
5.3.2 Analisis Regresi dengan Variabel Moderasi
Intergovernmental Revenue .................................. 60
5.3.3 Analisis Regresi dengan Variabel Moderasi
Leverage ................................................................ 62
5.4 Uji Hipotesis ..................................................................... 63
BAB VI PEMBAHASAN ..................................................................... 66
6.1 Intellectual Capital Disclosure Berpengaruh Positif
Signifikan terhadap Kinerja Keuangan............................. 66
6.2 Intergovernmental Revenue Memoderasi Pengaruh
Intellectual Capital Disclosure terhadap Kinerja
Keuangan........................................................................ 68
6.3 Leverage Memoderasi Pengaruh Intellectual Capital
Disclosure erhadap Kinerja Keuangan ............................ 71
BAB VII PENUTUP .............................................................................. 74
7.1 Kesimpulan ..................................................................... 74
7.2 Implikasi .......................................................................... 75
7.3 Keterbatasan ................................................................... 75
7.4 Saran .............................................................................. 76
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 77
LAMPIRAN .......................................................................................... 82
x
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.1 Tingkat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan Setiap
Kabupaten/Kota pada Provinsi Sulawesi Selatan................................. 8
1.2 Tingkat Kewajiban Setiap Kabupaten/Kota pada Provinsi Sulawesi
Selatan………….. ................................................................................ 9
4.1 Elemen-Elemen Intellectual Capital………….. ..................................... 45
4.2 Definisi Operasional…………............................................................... 47
5.1 Analisis Deskriptif………….. ................................................................ 55
5.2 Uji Multikolinieritas………….. ............................................................... 59
5.3 Uji Regresi Tanpa Variabel Moderasi………….. .................................. 59
5.4 Nilai R Square Uji Regresi Tanpa Variabel Moderasi………….. ........... 60
5.5 Uji Regresi dengan Variabel Moderasi Z1.. .......................................... 61
5.6 Nilai R Square Uji Regresi dengan Variabel Moderasi Z1.. .................. 61
5.7 Uji Regresi dengan Variabel Moderasi Z2………….. ............................ 62
5.8 Nilai R Square Uji Regresi dengan Variabel Moderasi Z2………….. .... 62
5.9 Hasil Uji Hipotesis Penelitian………….. ............................................... 63
6.1 Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian………….. .................. 66
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
3.1 Kerangka Pikir Penelitian ..................................................................... 36
3.2 Diagram Alur Penelitian ....................................................................... 41
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 Peta Teori.......................................................................... 83
2 Hasil Analisis Statistik Deskriptif........................................ 93
3 Hasil Uji Asumsi Klasik...................................................... 94
4 Hasil Uji Regresi………..................................................... 97
xiii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Otonomi daerah memberikan peluang besar bagi pemerintah daerah untuk
lebih mengoptimalkan kemandirian dan potensi yang dimiliki daerah, baik
menyangkut sumber daya manusia, anggaran, maupun sumber daya lain yang
merupakan bagian dari kekayaan daerah. Pemerintah daerah bertanggung jawab
mengelola sumber daya dan keuangannya sesuai dengan prinsip dan asas yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pengelolaan keuangan daerah
sebagai bentuk pertanggungjawaban diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP)
No. 58 Tahun 2005 yang menegaskan bahwa pengelolaan keuangan daerah
harus dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku, efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan asas keadilan dan kepatuhan. Salah satu bentuk pertanggung
jawaban pemerintah daerah juga diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan
pemerintah daerah.
Menurut Halim (2007) laporan keuangan pemerintah daerah sebagai wujud
pertanggungjawaban atas pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja
daerah (APBD) mengandung pengertian sebagai suatu informasi yang
bermanfaat untuk pembuatan keputusan dan untuk menilai kinerja organisasi.
Pengukuran kinerja perlu dilakukan karena dilihat dari sifat dasar pemerintah
daerah yang merupakan organisasi sektor publik yaitu tidak mencari profit.
Harman (1997) dalam Government Performance and Result Act, A Mandate for
Strategic Planning and Performance Measurement menyatakan bahwa
2
pengukuran/penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk meningkatkan
kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas.
Perhatian besar terhadap pengukuran kinerja disebabkan oleh opini bahwa
pengukuran kinerja dapat meningkatkan efisiensi, keefektifan, penghematan dan
produktivitas pada organisasi sektor publik (Halachmi, 2005). Mardiasmo (2004)
menyebutkan bahwa pengukuran kinerja yang bersumber dari informasi finansial,
seperti laporan keuangan, diukur berdasarkan pada anggaran yang telah dibuat.
Kinerja keuangan merupakan salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk
melihat kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya dan menghasilkan
output yang diinginkan sesuai dengan sasaran yang diinginkan pemerintah
dan pihak eksternal misalnya masayarakat. Proses panjang dibutuhkan dalam
mencapai target kinerja keuangan setiap pemerintah daerah karena terdapat
kendala dalam pencapaian target tersebut sehingga berdampak pada output
yang diharapkan pemerintah daerah.
Merujuk pada Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),
terdapat berbagai permasalahan yang menjadi kendala dalam mencapai target
kinerja keuangan pada pemerintah daerah. Misalnya dalam pencapaian kinerja
keuangan pemerintah kota Makassar pada tahun 2016, rasio efektifitas yang
menggambarkan kemampuan daerah dalam mencapai target PAD kota
Makassar hanya memperoleh hasil sebesar 75,6% yang berarti hasil tersebut
memberikan gambaran pemerintah kota Makassar berada pada tingkat kurang
efektif. Rasio kemandirian pemerintah kota Makassar pada tahun 2016
memperoleh nilai 42,3% yang berada pada tingkat rendah. (LHP BPK, 2017)
Pemerintah kota Makassar masih menemukan berbagai permasalahan
dalam mencapai target kinerja keuangannya seperti: sebagian pendapatan
3
daerah belum memiliki database yang akurat, sumber daya aparatur
khususnya pengelolaan Pendapatan daerah masih perlu ditingkatkan,
penerimaan masyarakat terhadap aturan yang menyangkut pajak dan retribusi
belum maksimal, sarana dan prasarana pendukung pelayanan pemungutan
baik pajak dan retribusi daerah relatif masih kurang memadai, produktivitas
pemanfaatan aset/kekayaan daerah, penerimaan yang bersumber dari
perusahaan daerah masih kecil karena masih diperhadapkan dengan berbagai
masalah manajemen dan modal. Pemerintah kota Makassar juga menemukan
kendala dalam mencapai target kinerja keuangan pada pos belanja daerah
seperti: laju pertumbuhan belanja jauh melampaui pertumbuhan pendapatan;
penerimaan dana alokasi umum tidak berbanding lurus dengan peningkatan
alokasi anggaran untuk belanja gaji PNS; kebutuhan belanja operasional
penyelenggaraan pemerintahan relatif cukup besar bahkan tidak dapat ditutup
dari pendapatan asli daerah (PAD), sementara dana alokasi umum (DAU)
relatif hanya dapat menutupi penyediaan anggaran gaji; dan masih adanya
kebutuhan yang belum terakomodasi dikarenakan karena keterbatasan
sumber daya yang tersedia. (LHP BPK, 2017)
Hal serupa juga terjadi pada pemerintah daerah lainnya. Pemerintah
kabupaten Jeneponto pada tahun 2016 memperoleh nilai rasio efektifitas
sebesar 74,7% dan rasio kemandirian 6,7%. Hal tersebut dapat memberikan
gambaran bahwa tingkat kemandirian kabupaten Jeneponto berada pada
tingkat sangat rendah dan efektifitas berada pada tingkat yang kurang efektif.
(LHP BPK, 2017)
Secara umum permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah daerah
adalah belum maksimalnya pembuatan database pendapatan daerah,
kurangnya kemampuan daerah dalam memenuhi belanja yang diperlukan,
4
kurangnya sarana dan prasarana penunjang untuk mencapai target kinerja
keuangan pemerintah daerah, serta masih kurangnya kemampuan sumber
daya aparatur yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Berbagai permasalahan
yang menjadi kendala pencapaian kinerja keuangan pada pemerintah kota
Makassar dan pemerintah kabupaten Jeneponto yang disebutkan di atas
mengindikasikan pentingnya langkah taktis dalam mengatasi permasalahan
tersebut demi mencapai output yang ditargetkan oleh pemerintah daerah.
Berbagai permasalahan yang disebutkan menunjukkan bahwa kinerja
keuangan pemerintah daerah ditunjang oleh aspek keuangan dan non
keuangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah tersebut.
Pengukuran kinerja pada organisasi non profit seperti pemerintahan sangat
penting dilakukan untuk melihat sejauh mana pemerintah menjalankan tugasnya
dalam memberikan pelayanan dan melaksanakan pembangunan kepada
masayarakat. Pengukuran kinerja tidak hanya dapat diukur dengan
mempertimbangkan aspek finansial dalam suatu organisasi namun juga penting
untuk mempertimbangkan aspek non-finansial seperti intellectual capital (IC),
dimana intellectual capital ini merupakan salah satu alat ukur yang digunakan
untuk melihat kinerja. Oliveira et. al. (2014) mengamati bahwa perusahaan dengan
intangibility lebih besar menyajikan kinerja yang unggul kepada orang lain dan
bahwa intangible asset (IA) sanggup menghasilkan keunggulan kompetitif.
Intangible asset merupakan sumber daya yang berharga, langka, dan tidak
mungkin disalin atau tergantikan yang akan menjadi sumber keunggulan kompetitif
yang tahan lama (Kozak M., 2011). Baik dianalisis dari sudut pandang kualitatif
dan kuantitatif, pandangan mengenai modal intelektual (IC) sangat menentukan
kemampuan kontribusi secara ekonomi atau keuntungan (Suciu, et. al., 2011).
Investasi modal berbasis pengetahuan atau modal intelektual dianggap sebagai
sumber yang paling penting dan tentunya dapat menunjang kinerja dari organisasi.
5
Bentuk implikasi dari sebuah budaya organisasi yang kuat dapat dilihat dari
penerapan intellectual capital dalam organisasinya. Sebuah budaya organisasi
yang kuat yang diharapkan dapat selalu mempertahankan dan menciptakan nilai-
nilai inti organisasi mereka baik pada aspek manusia, struktur, serta relasinya.
Modal intelektual (IC) merupakan pengetahuan kolektif yang tertanam dalam
personil, rutinitas organisasi dan hubungan jaringan organisasi (Stewart, 1997;
Kong dan Prior, 2008). Dengan kata lain, merujuk karya sejumlah ilmuan di
lapangan, IC umumnya diambil untuk mencakup tiga komponen yang saling terkait
utama: modal manusia (HC), modal relasional (RC), dan modal struktural (SC)
(Bontis, 1998; Stewart, 1997).
Pengungkapan intellectual capital sering digunakan sebagai alat ukur
organisasi. Salah satu alasannya adalah karena dalam menentukan kinerja
organisasi, intellectual capital tidak hanya berfokus pada pengukuran finansial
tetapi mempertimbangkan pengukuran non finansial, seperti human capital,
structural capital dan external capital. Human capital dalam hal ini berkaitan
dengan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, intuisi dan sikap dari karyawan.
Structural capital terdiri dari berbagai komponen seperti hak paten, konsep, model,
dan komputer atau sistem administrasi. Sedangkan external capital merupakan
modal pelanggan yang berarti berkaitan dengan hubungan organisasi dengan
pelanggan atau pihak-pihak eksternal.
IC dapat diukur dengan indikator yang mengarah ke efek terhadap IAS dan
kinerja serta keberhasilan organisasi (Jordao dan Almeida, 2017). Grajkowska
(2011) dan Maditinos et. al. (2011) melakukan penelitian model kuantitatif untuk
mengukur IC, berdasarkan indikator kinerja keuangan dan nilai perusahaan.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa modal intelektual diakui sebagai
sumber penting bahwa organisasi perlu mengembangkan untuk mendapatkan
keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Kong dan Prior, 2008). Chen et al.
6
(2005) juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara intellectual
capital dengan kinerja keuangan. Penelitan lain dilakukan oleh Gogan et. al. (2016)
menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara intellectual capital
dengan kinerja keuangan.
Pentingnya penerapan modal intelektual di sektor publik adalah karena
fakta bahwa intangible bahkan lebih memiliki andil dalam entitas sektor publik
daripada perusahaan swasta; pertama, karena administrasi publik cenderung
memiliki beberapa tujuan yang bersifat non-keuangan; kedua, karena di antara
sumber daya produktif seperti sumber daya manusia, modal intelektual, bahan
baku dan mesin, badan administrasi publik secara intensif menggunakan SDM dan
modal intelektual, yang tidak berwujud; dan akhirnya, karena produk akhir dari
publik administrasi layanan, dan ini pada dasarnya tidak berwujud (Serrano et al.,
2003). Di samping itu, sektor publik menempatkan manusia (pegawai) sebagai
modal utama dan terfokus pada hasil tidak berwujud (Wall, 2005).
Guthrie et. al. (2012) menemukan bahwa sektor publik merupakan salah satu
wilayah tujuan penelitian IC. Literatur akuntansi menekankan pentingnya
mengukur, visualisasi, dan pelaporan IC untuk meningkatkan kontrol manajemen
dan proses pengendalian strategis yang berkaitan dengan kedua organisasi baik
swasta maupun non profit (Mouritsen et. al., 2001). Dari awal organisasi sektor
publik telah menjadi bagian dari pengembangan IC, seperti berpartisipasi dalam
mengembangkan pedoman pernyataan IC Denmark (Mouritsen et. al., 2001).
Manajemen modal intelektual telah diusulkan sebagai pendekatan manajerial baru
dalam organisasi non-profit (Kong dan Prior, 2008). Manajemen dalam sektor
publik yang modern menawarkan prioritas utama pada kebutuhan publik dan
kualitas pelayanan, yang memeberikan pembenaran mengenai membangun
inisiatif memasukkan manajemen modal intelektual sebagai pendekatan baru
untuk membantu efisiensi dan efektifitas dalam fungsi publik. Hanya beberapa
7
organisasi masyarakat telah mengambil tantangan mencoba untuk mengukur,
mengelola, dan melaporkan aset tidak berwujud (Ramirez, 2010). Konsep-konsep
baru yang berasal dari new public managemenet (NPM), terutama yang
berhubungan dengan efisiensi, efektivitas dan penghematan, telah memberikan
kontribusi positif dalam elaborasi dari pandangan yang lebih ke arah administrasi
pemerintahan, konteks di mana konsep-konsep yang berkaitan dengan modal
intelektual dapat dimasukkan (Bossi, 2003). Dragonetti dan Roos (1998)
menunjukkan bahwa jawaban yang mungkin untuk mengukur utilitas publik berasal
dari penerapan manajemen modal intelektual.
Pengaruh aspek non-finansial dalam hal ini modal intelektual terhadap
kinerja keuangan tentu saja harus didukung pula oleh aspek keuangan. Terdapat
banyak faktor keuangan yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan namun yang
menarik adalah intergovernmental revenue dan leverage. Pada umumnya
pemerintah daerah di Indonesia menempatkan intergovernmental revenue (dana
perimbangan) sebagai salah satu sumber utama penerimaan daerah termasuk
pada daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Patrick (2007) menyebutkan
intergovernmental revenue sebagai salah satu pendapatan pemerintah daerah
yang berasal dari transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam
rangka membiayai kegiatan pemerintah daerah. Beberapa penelitian telah
mengkaji pengaruh intergovernmental revenue terhadap kinerja keuangan
pemerintah daerah. Hasil penelitan Andirfa (2016) menyebutkan dana
perimbangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah
daerah. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budianto dan
Alexander (2016) menyatakan bahwa dana perimbangan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah baik secara parsial maupun
simultan. Hasil penelitian berbeda dilakukan Sesotyaningtyas (2012) yang
8
menyimpulkan bahwa intergovernmental revenue tidak berpengaruh terhadap
kinerja keuangan pemerintah daerah.
Tabel 1.1 Tingkat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan Setiap
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Periode Januari s.d.
Desember 2016
DANA
NO. KABUPATEN/KOTA PAD PERIMBANGAN
1 Makassar Rp [Link] Rp [Link].282
2 Gowa Rp 187176.036.300 Rp [Link].037
3 Takalar Rp 95,625.946.515 Rp [Link]
4 Jeneponto Rp [Link] Rp [Link]
5 Bantaeng Rp [Link] Rp [Link]
6 Bulukumba Rp [Link] Rp [Link].437
7 Selayar Rp [Link] Rp [Link]
8 Maros Rp [Link] Rp [Link].537
9 Pangkajene Kepulauan Rp [Link] Rp [Link].971
10 Barru Rp [Link] Rp [Link]
11 Pare-pare Rp [Link] Rp [Link]
12 Sidenreng Rappang Rp [Link] Rp [Link]
13 Pinrang Rp [Link] Rp [Link].024
14 Enrekang Rp [Link] Rp [Link]
15 Tana Toraja Rp [Link] Rp [Link]
16 Toraja Utara Rp [Link] Rp [Link]
17 Bone Rp [Link] Rp [Link].554
18 Soppeng Rp [Link] Rp [Link].517
19 Wajo Rp [Link] Rp [Link].788
20 Sinjai Rp 79.491.453. 854 Rp [Link]
21 Luwu Rp [Link] Rp 994.0067.307.808
22 Palopo Rp [Link] Rp [Link]
23 Luwu Utara Rp [Link] Rp [Link]
24 Luwu Timur Rp [Link] Rp [Link].235
Sumber: Hasil olah data, 2018 (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah)
Dari tabel 1.1 di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat ketergantungan
pemerintah daerah di Sulawesi Selatan terhadap pemerintah pusat masih sangat
tinggi. Kemampuan pemerintah daerah untuk membiayai operasionalnya masih
sangat kurang jika hanya bergantung pada PAD. Hal tersebut mengindikasikan
dana perimbangan menjadi faktor penentu kinerja keuangan pemerintah daerah.
9
Daerah yang memiliki tingkat ketergantungan pada pemerintah pusat terendah
adalah pemerintah kota Makassar dan daerah yang memiliki tingkat
ketergantungan pada pemerintah pusat tertinggi adalah pemerintah kabupaten
Jeneponto.
Faktor keuangan lain yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan adalah
leverage. Leverage berhubungan dengan kemampuan pemerintah daerah
menutupi biaya atau bebannya dengan menggunakan ekuitas. Pemerintah daerah
yang memiliki tingkat leverage yang besar menunjukkan pemerintah daerah tidak
mampu dalam membiayai operasionalnya sehingga akan mempengaruhi kinerja
keuangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sumarjo (2010)
menunjukkan leverage berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Kusumawardani
(2012) menunjukkan bahwa size, kemakmuran, ukuran legislatif, leverage secara
simultan mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah. Minarsih (2015)
menyimpulkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja pemerintah
daerah.
Tabel 1.2 Tingkat Kewajiban Setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan Periode Januari s.d. Desember 2016
NO. KABUPATEN/KOTA KEWAJIBAN EKUITAS
1 Makassar Rp [Link] Rp [Link].650
2 Gowa Rp [Link] Rp [Link].413
3 Takalar Rp [Link] Rp [Link].695
4 Jeneponto Rp [Link] Rp [Link].563
5 Bantaeng Rp [Link] Rp [Link].719
6 Bulukumba Rp [Link] Rp [Link].274
7 Selayar Rp [Link] Rp [Link].196
8 Maros Rp [Link] Rp [Link].705
9 Pangkajene Kepulauan Rp [Link] Rp [Link].967
10 Barru Rp [Link] Rp [Link].528
11 Pare-pare Rp [Link] Rp [Link].952
12 Sidenreng Rappang Rp [Link] Rp [Link].438
13 Pinrang Rp [Link] Rp [Link].072
14 Enrekang Rp [Link] Rp [Link].675
15 Tana Toraja Rp [Link] Rp [Link].315
10
Lanjutan…
NO. KABUPATEN/KOTA KEWAJIBAN EKUITAS
16 Toraja Utara Rp [Link] Rp [Link].875
17 Bone Rp [Link] Rp [Link].140
18 Soppeng Rp [Link] Rp [Link].271
19 Wajo Rp [Link] Rp [Link].433
20 Sinjai Rp [Link] Rp [Link].532
21 Luwu Rp [Link] Rp [Link].365
22 Palopo Rp [Link] Rp [Link].940
23 Luwu Utara Rp [Link] Rp [Link]
24 Luwu Timur Rp [Link] Rp [Link].509
Sumber: Hasil olah data, 2018 (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah)
Tabel 1.2 di atas menunjukkan bahwa pemerintah daerah juga bergantung
pada tingkat kewajiban untuk membiayai operasionalnya. Dapat dilihat pemerintah
daerah yang memiliki tingkat kewajiban tertinggi adalah pemerintah kota Makassar
dan yang daerah yang memiliki tingkat kewajiban terendah adalah pemeritah
kabupaten Toraja Utara. Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi tinggi
atau rendahnya kewajiban setiap daerah tetapi hal tersebut sudah
mengindikasikan bahwa pemerintah daerah juga masih membutuhkan
pembiayaan untuk memenuhi kegiatan operasionalnya. Dapat disimpulkan bahwa
leverage juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan kinerja
keuangan daerah.
Berdasarkan pemaparan sebelumnya penelitian intellectual capital pada
sektor publik masih dirasakan kurang dan terdapat inkonsistensi hasil penelitian
mengenai pengaruh leverage dan intergovernmental revenue terhadap kinerja
keuangan. Pengungkapan intellectual capital secara teoritis dapat mempengaruhi
kinerja keuangan pemerintah daerah apalagi bila ditunjang oleh aspek keuangan
seperti leverage dan intergovernmental revenue memberikan motivasi untuk
dilakukan penelitian selanjutnya demi memperoleh hasil pengujian terbaru. Dasar
Penelitian ini adalah berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Farah dan
11
Abouzeid (2017), Jordao dan Almeida (2017), serta Sesotyaningtyas (2012)
berdasarkan dukungan Stakeholder Theory dan Resource Based View Theory.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang
menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah intellectual capital berpengaruh terhadap kinerja keuangan
pemerintah daerah di Sulawesi Selatan?
2. Apakah intergovernmental revenue dapat memoderasi pengaruh intellectual
capital terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan?
3. Apakah leverage dapat memoderasi pengaruh intellectual capital terhadap
kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui beberapa hal sebagai berikut.
1. Pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di
Sulawesi Selatan.
2. Intergovernmental revenue dapat memoderasi pengaruh intellectual capital
terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan.
3. Leverage dapat memoderasi pengaruh intellectual capital terhadap kinerja
keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan beberapa kegunaan. Kegunaan
penelitian terdiri dari kegunaan teoretis, praktis, dan kebijakan.
12
1.4.1 Kegunaan Teoretis
Hasil penelitian ini dapat memberikan bukti empiris mengenai pengaruh
intellectual capital, intergovernmental revenue, dan leverage terhadap kinerja
keuangan. Selain itu, penelitian ini menyediakan ruang ilmiah untuk
mengembangkan penelitian lanjutan mengenai intellectual capital dan kinerja
keuangan.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan penelitian ini dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dan referensi dalam pengembangan sistem
pemerintahan. Penelitian ini juga dapat menjadi bahan acuan untuk penelitian
intellectual capital dan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.
1.5 Sistematika Penulisan
Penelitian ini disusun berdasarkan pada pedoman penulisan tesis dan
disertasi yang ditulis oleh Program Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Hasanuddin (2013). Sistematika penulisan disajikan ke dalam
tujuh bab.
BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini diuraikan latar belakang peneliti
mengangkat topik penelitian ini, selain itu dalam bab ini dijelaskan mengenai
intellectual capital pada sektor publik.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini memuat uraian sistematik
tentang teori, konsep, pemikiran, dan hasil penelitian terdahulu yang ada
hubungannya dengan penelitian yang dilakukan.
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Dalam bab ini akan
dijelaskan mengenai kajian teoritis dan empiris dalam suatu kerangka pemikiran.
Selanjutnya berdasarkan kerangka pemikiran tersebut dibangun kerangka
13
konseptual yang menggambarkan hubungan antara konsep yang diteliti. Dalam
bab ini juga dijelaskan mengenai pengembangan hipotesis yang diteliti.
BAB IV METODE PENELITIAN. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai
rancangan penelitian, variabel penelitian dan definisi operasional, bagaimana
penentuan sampel, penentuan jenis dan sumber data, metode pengumpulan data,
instrumen penelitian, dan metode analisis data.
BAB V HASIL PENELITIAN. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai
deskripsi data dan hasil penelitian.
BAB VI PEMBAHASAN. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai pengaruh
variabel independen yaitu intellectual capital dan variabel moderasi yaitu
intergovernmental revenue dan leverage terhadap variabel dependen yaitu kinerja
keuangan pemerintah daerah. Selanjutnya akan dijelaskan juga pengaruh variabel
moderasi yaitu intergovernmental revenue dan leverage dalam memoderasi
hubungan antara variabel independen yaiu intellectual capital dengan variabel
dependen yaitu kinerja keuangan pemerintah daerah.
BAB VII PENUTUP. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan,
implikasi, keterbatasan, dan saran penelitian.
14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori dan Konsep
Dalam menilai kinerja keuangan pada intitusi publik khususnya pemerintah
daerah, tidak menutup kemungkinan adanya faktor-faktor penentu yang dapat
memengaruhinya baik faktor keuangan maupun faktor non-keuangan. Dalam
melihat pengaruh faktor-faktor tersebut, peneliti menggunakan pendekatan melalui
teori yang ada.
2.1.1 Stakeholder Theory
Stakeholder theory atau lebih dikenal sebagai teori stakeholder adalah
sebuah teori yang memberikan gambaran kepada pihak-pihak mana saja
perusahaan harus bertanggung jawab. Manajemen sebuah organisasi diharapkan
melakukan aktivitas berdasarkan tujuan organisasi sesuai dengan keinginan
stakeholder dan melaporkan aktivitas-aktivitas tersebut kepada stakeholder. Teori
ini menyatakan bahwa seluruh stakeholder memiliki hak untuk disediakan
informasi tentang bagaimana aktivitas organisasi mempengaruhi mereka, bahkan
ketika mereka memilih untuk tidak menggunakan informasi tersebut dan bahkan
ketika mereka tidak dapat secara langsung memainkan peran yang konstruktif
dalam kelangsungan hidup organisasi (Deegan, 2004).
Deegan (2004) menyatakan bahwa teori stakeholder menekankan
akuntabilitas organisasi jauh melebihi kinerja keuangan atau ekonomi sederhana.
Freeman (2001) dalam mengembangkan teori stakeholder memperkenalkan
konsep stakeholder dalam dua model, yaitu (a) model kebijakan dan perencanaan
dan (b) model tanggung jawab sosial perusahaan dari manajemen stakeholder.
Pada model pertama konsep stakeholder, fokusnya adalah mengembangkan dan
15
mengevaluasi persetujuan keputusan strategis perusahaan dengan kelompok-
kelompok yang dukungannya diperlukan untuk kelangsungan usaha perusahaan.
Dapat dikatakan bahwa, dalam model ini, teori stakeholder berfokus pada cara-
cara yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengelola hubungan
perusahaan dengan stakeholder-nya. Sementara dalam model kedua,
perencanaan perusahaan dan analisis diperluas dengan memasukkan pengaruh
eksternal yang mungkin berlawanan bagi perusahaan. Kelompok-kelompok yang
berlawanan ini termasuk badan regulator (government) dengan kepentingan
khusus yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan sosial.
Jika teori ini dikaitkan dengan jenis pengungkapan yang dilakukan oleh
perusahaan, maka perusahaan akan melakukan pengungkapan yang
dilakukannya sesuai dengan kepentingan stakeholder yang paling berpengaruh
terhadap kelangsungan kehidupan perusahaan. Salah satu jenis pengungkapan
yang semakin banyak dilakukan oleh organisasi saat ini adalah pengungkapan
mengenai intellectual capital yang dimiliki oleh organisasi. Saat ini pengungkapan
intellectual capital ini tidak hanya dilakukan oleh organisasi-organisasi sektor privat
saja, tetapi juga telah banyak dilakukan dalam sektor publik. Belakangan ini
instansi-instansi pemerintah telah mekakukan pengungkapan berupa intellectual
capital dalam laporan keuangan mereka untuk memberikan pertanggungjwaban
yang lebih transparan dan akuntabel kepada masyarakat. Dengan semakin
transparannya informasi keuangan instansi pemerintah diharapkan nantinya
masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai kinerja instansi pemerintah,
terutama yang berkaitan dengan kinerja keuangan.
2.1.2 Resources Based View Theory
Teori resources based view adalah teori yang mengemuka menjelang tahun
1990-an dalam bidang manajemen strategis. Resources based view theory (RBV)
merupakan salah satu pendekatan kontemporer yang dominan digunakan untuk
16
melakukan analisis mengenai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dari
sebuah organisasi. Mulyono (2013) menyatakan bahwa resource based theory ini
mencoba untuk menjelaskan mengapa dalam industri yang sama ada perusahaan
yang sukses sementara banyak yang tidak sukses. Premis utama yang digunakan
dalam resource based theory adalah bahwa perusahaan bersaing berdasarkan
basis sumber daya dan kemampuan mereka (Peteraf dan Bergen, 2003).
Peteraf dan Bergen (2003) menyatakan dalam tulisannya bahwa pandangan
berbasis sumber daya (resource based view) menekankan bahwa sumber daya
perusahaan sebagai faktor fundamental penentu keunggulan dan kinerja
kompetitif organisasi. Pandangan ini mengadopsi dua asumsi untuk menganalisis
sumber keunggulan kompetitif. Pertama, model ini mengasumsikan bahwa
perusahaan dalam suatu industri (atau strategis) mungkin heterogen sehubungan
dengan kumpulan sumber daya yang mereka kontrol. Kedua, diasumsikan bahwa
heterogenitas sumber daya dapat bertahan seiring waktu karena sumber daya
yang digunakan untuk menerapkan strategi perusahaan tidak sempurna di seluruh
perusahaan (beberapa sumber daya tidak bisa diperdagangkan di pasar dan sulit
untuk menumpuk dan meniru).
Chun (2016) mengatakan bahwa dorongan utama resource based view
adalah perusahaan bersifat heterogen, dan heterogenitas ini mencakup
pengembangan keterampilan dan kemampuan untuk mengakses dan
mengendalikan sumber daya. Dalam tulisannya tersebut Resource based view
memiliki implikasi langsung pada tingkat aspirasi perusahaan, seperti perusahaan
harus membuat keputusan tentang sumber daya apa yang harus dikeluarkan dan
dengan cara apa tergantung atas apa tujuan perusahaan dianggap paling penting.
Resource based view dapat membantu menjelaskan dimana dan kapan sebuah
perusahaan dapat memutuskan sumber daya yang lebih sedikit akan cukup, dan
di mana lebih banyak sumber daya yang diperlukan untuk mengembangkan
17
keunggulan kompetitif yang berkesinambungan untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Oleh sebab itu, secara garis besar resource based view theory ini
menjelaskan bahwa sebuah perusahaan atau organisasi tidak dapat berharap
untuk membeli atau mengambil keunggulan bersaing berkelanjutan yang dimiliki
suatu organisasi lain, karena keunggulan tersebut merupakan sumber daya yang
langka, sukar ditiru, dan tidak tergantikan. Dalam resource based view, salah satu
keunggulan yang dimiliki oleh organisasi yang berkaitan dengan keunggulan
bersaing yang berkelanjutan, salah satu faktor penentunya berasal dari sumber
daya internal perusahaan yang salah satu komponen dari sumber daya internal ini
adalah human capital.
RBT dapat menjelaskan bahwa perusahaan dengan kemampuan mengelola
intellectual capital dengan maksimal dalam hal ini seluruh sumber daya yang
dimiliki perusahaan, baik karyawan (human capital), aset fisik (physical capital)
maupun structural capital dapat menciptakan nilai bagi perusahaan tersebut.
Asumsi dari teori ini adalah bagaimana perusahaan mendapatkan nilai tambah
(value added) dengan mengelola sumber daya yang dimilikinya sesuai dengan
kemampuan perusahaan. Penciptaan nilai tambah bagi perusahaan akan
berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
2.1.3 Intellectual Capital Disclosure
Istilah intellectual capital dikemukakan pertama kali oleh Galbrait pada tahun
1969. Ia menuliskan sebuah surat kepada temannya yang bernama Michael
Kalecki, isi surat tersebut adalah:” I wonder if you realize how much those of us
the world around have owed to the intellectual capital you have provided over the
last decades” (Bontis, 2001).
Sebagai sebuah konsep, intellectual capital merujuk pada aset tidak
berwujud (intangible assets) atau tidak kasat mata (invisible), yang berhubungan
18
dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan
(Rupidara, 2008). Jadi di dalam intellectual capital terkandung beberapa aspek
non-keuangan yang tidak memiliki nilai materil.
Terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli mengenai
intellectual capital. Stewart (1997) mendefinisikan intellectual capital sebagai “The
sum of everything everybody in your company knows that gives you a competitive
edge in the market place. It is intellectual capital material-knowledge, information,
intellectual property, experience-that can be put to use to create wealth”. Guthrie
dan Petty (2000) memberikan definisi intellectual capital sebagai “…instrumental
in the determination of enterprise value and national economic performance”. Li et
al. (2008) juga memberikan pendapat mengenai definisi intellectual capital sebagai
“…the possession of knowledge and experience, professional knowledge and skill,
good relationship, and technological capacities, which when applied will give
organizations competitive advantages”.
Berdasarkan definisi-definisi yang telah diungkapkan oleh para ahli tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa intellectual capital merupakan aset tidak berwujud
berupa pengetahuan, teknologi, inovasi, sistem operasional, serta hubungan yang
baik dengan pelanggan yang dapat menimbulkan nilai lebih bagi organisasi.
Sampai saat ini belum terdapat teori tunggal yang dapat dijadikan landasan utama
dalam menggambarkan secara utuh mengenai intellectual capital disebabkan
sulitnya mengukur intangible asset secara kuantitatif.
Suwardjono (2005) mendefinisikan pengungkapan merupakan sebuah
konsep, metode dan media tentang bagaimana informasi akuntansi disampaikan
kepada pihak yang berkepentingan. Pengungkapan (disclosure) berhubungan
dengan penjelasan mengenai hal-hal bersifat informatif yang dianggap penting dan
bermanfaat bagi pemakai selain apa yang dapat digambarkan melalui nilai-nilai
akuntansi keuangan. Secara umum, tujuan pengungkapan adalah untuk
19
menyajikan informasi yang dirasa perlu dalam mencapai tujuan pelaporan
keuangan dan untuk melayani berbagai pihak dimana mereka mempunyai
kepentingan yang berbeda-beda (Suwardjono, 2005).
Pengungkapan dibagi menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (mandatory)
dan pengungkapan sukarela (voluntary). Pengungkapan intellectual capital
merupakan pengungkapan yang bersifat sukarela. Sifat pengungkapan intellectual
capital yang sukarela membuat organisasi memiliki kebebasan dalam
mengungkapkan karena tidak diharuskan oleh regulasi. Keleluasaan tersebut
menyebabkan terjadinya keragaman dalam kualitas pengungkapan sukarela
diantara perusahaan publik (Marwata, 2001).
Beberapa penelitian mengembangkan model pengukuran dan
pengungkapan intellectual capital. Hal tersebut diungkapkan Schneider dan
Samkin (2008) yang menyebutkan penelitian intellectual capital dilakukan di
Australia (Ghutri et al. 1999; Ghutrie dan Petty 2000), Kanada (Bontis 2001),
Irlandia (Brennan 2001), Italia (Bozzolan et al. 2003), New Zealand (Wong dan
Gardner 2005), Singapura (Firer dan Williams 2005), Sri Lanka (Abeysekera dan
Guthrie 2001, 2005), Swedia (Olsson 2001) dan Inggris (Williams 2001).
Awal mulai intellectual capital berkembang di Indonesia sejak munculnya
PSAK No.19 (revisi 2000) mengenai aset tidak berwujud. Menurut PSAK No. 19,
sesuatu hal dapat digolongkan sebagai aset tidak berwujud jika memenuhi kriteria
di bawah ini: (a) aset tersebut dapat diidentifikasi, (b) aset tersebut tidak
mempunyai wujud fisik, (c) aset tersebut dimiliki dan di bawah kontrol perusahaan,
(d) aset tersebut dapat dijual, disewakan, dan dipertukarkan kepada pihak lainnya,
atau untuk tujuan administratif, dan (d) harga perolehan aset tersebut dapat diukur
secara andal.
Beberapa peneliti telah menawarkan model untuk mengukur seberapa jauh
kualitas dari intellectual capital disclosure dalam annual report. Secara garis besar,
20
dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan, intellectual capital terbagi
menjadi tiga aspek pokok yang telah dikembangkan oleh peneliti-peneliti
sebelumnya (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Ketiga aspek tersebut adalah:
1. Human Capital (Employee Competence)
Human capital merupakan lifeblood dalam intellectual capital (Sawarjuwono
dan Kadir, 2003). Komponen ini mencakup kompetensi dan pengetahuan individu
yang ditunjukkan oleh karyawan perusahaan. Beberapa karakteristik yang
dimasukkan dalam human capital/employee competence antara lain: know-how,
employee education programs, vocational qualification, work-related knowledge,
cultur diversity, entrepreneurial innovativeness, equal employment opportunities,
executive compenzation plan, training programs, dan union activity (Schneider
[Link]., 2008).
2. Structural Capital/Internal Capital
Structural capital merupakan kemampuan organisasi atau perusahaan
dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung
usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja
bisnis secara keseluruhan (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Internal capital
mencakup: intellectual property, management philosophy, management
processes, corporate culture/value, information/networking system, financial
relation, dan promotional tools (Schneider et al., 2008).
3. Relational Capital/External Capital
Elemen ini merupakan komponen modal intelektual yang memberikan nilai
secara nyata. Relational capital merupakan hubungan yang harmonis yang dimiliki
oleh perusahaan dengan para mitranya (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Menurut
Schneider et al. (2008) pengukuran external capital pada pemerintah daerah
meliputi: brand, ratepayer database, ratepayer demographics, ratepayer
21
satisfiction, backlog work, distribution channel, business collaboration, licensing
agreement, dan quality standard.
Konsep intellectual capital diyakini mempunyai peran penting dalam upaya
meningkatkan value of firm dan kinerja perusahaan baik sekarang maupun masa
depan (Ulum dan Ghozali 2006). Unsur-unsur dalam intellectual capital seperti
structural capital, costumer capital, dan human capital belum banyak diperhatikan
oleh perusahaan, padahal unsur-unsur tersebut merupakan elemen pembangun
intellectual capital yang sangat penting bagi perusahaan (Suwarjuwono dan Kadir
2003).
Manfaat pengungkapan intellectual capital adalah dengan penggunaaan
ilmu pengetahuan dan teknologi maka akan dapat diperoleh bagaimana cara
menggunakan sumber daya lainnya secara efisien dan ekonomis, yang nantinya
akan memberikan keunggulan bersaing (Rupert, 1998). Manfaat lainnya
disampaikan oleh Suwarjuwono dan Kadir (2003) bahwa intellectual capital
dianggap sebagai aset utama perusahaan karena dapat memberikan value added
bagi perusahaan tersebut sehingga perlu untuk diungkapkan. Manfaat intellectual
capital membuat manajer/pimpinan lebih mampu untuk mengelola modal
intelektual, karena apabila tidak diungkapkan maka ada risiko bahwa hal itu tidak
akan mendapatkan perhatian yang cukup (Guthrie dan Petty, 2000).
Pengungkapan intellectual capital telah dilakukan oleh beberapa peneliti
diantaranya Suhardjanto dan Wardhani (2010) yang menemukan bahwa
pengungkapan intellectual capital pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek
Indonesia sebesar 35%. Yunanto (2010) meneliti tentang pengungkapan
intellectual capital di sektor publik di Indonesia dengan hasil 17,9 %.
2.1.4 Intergovernmental Revenue
Intergovernmental revenue adalah pendapatan yang diterima pemerintah
daerah yang berasal dari sumber eksternal dan tidak memerlukan adanya
22
pembayaran kembali (Patrick, 2007). Intergovernmental revenue biasa dikenal
dengan dana perimbangan (Suhardjanto et al., 2010). Dana perimbangan adalah
dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah
untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005, dana perimbangan
dibentuk untuk mendukung pendanaan program otonomi. Dana perimbangan
meliputi dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dan dana bagi
hasil (DBH). Dana perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu daerah
dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan
sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan daerah serta untuk
mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar daerah.
Dana Alokasi Umum (DAU) adalah sejumlah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada setiap Daerah Otonom
(provinsi/kabupaten/kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana
pembangunan. Dana Alokasi Umum (DAU) bertujuan untuk pemerataan
kemampuan keuangan antar daerah yang dimaksudkan untuk mengurangi
ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan formula
yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah. DAU suatu daerah
ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap) suatu daerah, yang
merupakan selisih antara kebutuhan daerah (fiscal need) dan potensi daerah
(fiscal capacity). Alokasi DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi
kebutuhan fiskal kecil akan memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya,
daerah yang potensi fiskalnya kecil, namun kebutuhan fiskal besar akan
memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut
menegaskan fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal.
Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah alokasi dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara kepada provinsi/kabupaten/kota tertentu dengan tujuan untuk
23
mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Pemerintahan Daerah dan
sesuai dengan prioritas nasional. Dana Alokasi Khusus (DAK) dimaksudkan untuk
membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus pada daerah tertentu yang
merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk
membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang
belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan
pembangunan daerah.
DBH adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagihasilkan kepada
daerah berdasarkan angka persentase tertentu. Pengaturan DBH dalam Undang-
Undang ini merupakan penyelarasan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000. Dana Bagi Hasil (DBH) adalah
dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada
Pemerintah Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan
daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Kebijakan perimbangan keuangan ditekankan pada empat tujuan utama,
yaitu:
1. Memberikan sumber dana bagi daerah otonom untuk melaksanakan urusan
yang diserahkan yang menjadi tanggung jawabnya;
2. Mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah dan antar pemerintah daerah;
3. Meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan publik dan mengurangi
kesenjangan kesejahteraan dan pelayanan publik antar daerah; serta
4. Meningkatkan efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya
daerah, khususnya sumber daya keuangan.
Pada aspek hubungan pemerintah pusat dan daerah ini Elmi (2002)
mengungkapkan bahwa dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan akan
24
terjadi pembagian keuangan yang adil dan rasional. Artinya bagi daerah-daerah
yang memiliki kekayaan sumber daya alam akan memperoleh bagian pendapatan
yang jumlahnya lebih besar sedangkan daerah-daerah lainnya akan
mengutamakan bagian dari DAU dan DAK (Julitawati, 2012).
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi. Dengan adanya era desentralisasi,
pengawasan keuangan terhadap pemerintah daerah harus lebih efektif dilakukan
oleh pemerintah pusat agar tercipta suasana pemerintahan daerah yang
transparan dan akuntabel. Pengawasan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan
membentuk Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang
melaksanakan fungsi pengawasan keuangan internal dan Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) yang melakukan fungsi pengawasan eksternal (Cahyat, 2004).
Dengan adanya dana suntikan dari pemerintah pusat, diharapkan dapat
memperlancar jalannya pemerintahan di tingkat daerah. Dana ini dipergunakan
untuk pendanaan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam rangka pelayanan
publik. Dengan adanya pelayanan publik yang memadai dan tepat sasaran
membuktikan bahwa pemerintah daerah tersebut memiliki kinerja keuangan yang
baik (Sesotyaningtyas, 2012).
2.1.5 Leverage
Leverage berhubungan dengan penggunaan aset atau dana dimana
penggunaan aset tersebut digunakan untuk menutupi segala kewajiban yang
dimiliki pemerinth daerah. Penelitian yang dilakukan Weill (2003) mengungkapkan
bahwa leverage merupakan proporsi yang menggambarkan besarnya utang
pemerintah dari pihak eksternal dibandingkan dengan ekuitas sendiri. Hal ini
mengindikasikan bahwa jika jumlah utang lebih besar daripada ekuitas maka hal
25
tersebut menggambarkan bahwa sumber utama pendanaan entitas tersebut
berasal dari pihak eksternal (Perwitasari, 2010).
Di dalam sektor publik, rasio utang atau leverage sangat penting bagi
kreditor dan calon kreditor potensial pemerintah daerah dalam membuat
keputusan pemberian kredit. Rasio ini akan digunakan oleh kreditor untuk
mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. Rasio
ini digunakan untuk bagian dari setiap rupiah ekuitas dana yang dijadikan jaminan
untuk keseluruhan kewajiban. Rasio ini juga mengindikasikan seberapa besar
pemerintah daerah terbebani oleh kewajibannya. Jika rasio ini tinggi, maka
pemerintah daerah mungkin sudah kelebihan utang dan harus dicari jalan untuk
mengurangi utang (Sesotyaningtyas, 2012).
Utang daerah atau pinjaman daerah dapat bersumber dari:
1. Pemerintah pusat, berasal dari APBN termasuk dana investasi pemerintah,
penerusan pinjaman dalam negeri dan/atau penerusan pinjaman luar negeri.
2. Pemerintah daerah lain.
3. Lembaga keuangan Bank, yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai
tempat kedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. Lembaga keuangan bukan Bank, yaitu lembaga pembiayaan yang berbadan
hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
5. Masyarakat, berupa obligasi daerah yang diterbitkan melalui penawaran umum
kepada masyarakat di pasar modal dalam negeri.
Pemerintah daerah yang memiliki leverage yang besar maka diprediksi
memiliki tingkat resiko yang besar. Leverage menggambarkan struktur modal yang
dimiliki perusahaan sehingga dapat terlihat tingkat resiko tidak tertagihnya utang
(Perwitasari, 2010).
26
2.1.6 Laporan Keuangan Sektor Publik
Bastian (2010) mendefinisikan laporan keuangan sektor publik sebagai
representasi posisi keuangan dari sejumlah transaksi yang dilakukan oleh suatu
entitas sektor publik. Menurut Bastian (2010), bentuk dan penyusunan laporan
keuangan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sifat lembaga sektor
publik, sistem pemerintahan suatu negara, mekanisme pengelolaan keuangan,
dan sistem anggaran negara.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan, laporan keuangan pemerintah terdiri dari laporan
pelaksanaan anggaran (budgetary reports), laporan finansial dan CaLK. Laporan
pelaksanaan anggaran terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Laporan
Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL). Laporan keuangan terdiri dari Neraca,
Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan Laporan Arus
Kas (LAK).
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan
pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD.
Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan
penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah
dalam satu periode pelaporan. Dalam penyajian laporan realisasi anggaran
setidaknya harus memuat unsur pendapatan, LRA, belanja, transfer,
surplus/defisit-LRA, pembiayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran.
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL)
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL)
menyajikan informasi kenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun
pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
3. Neraca
27
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai
aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Neraca menyajikan secara
komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos kas dan setara kas, investasi
jangka pendek, piutang pajak dan bukan pajak, persediaan, investasi jangka
panjang, aset tetap, kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang,dan
ekuitas.
4. Laporan Operasional (LO)
Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang
menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah
pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode
pelaporan. Unsur yang dicakup secara langsung dalam Laporan Operasional
terdiri dari pendapatan-LO, beban, transfer, dan pos-pos luar biasa.
5. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) menyajikan informasi kenaikan atau
penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
6. Laporan Arus Kas (LAK)
Laporan arus kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas
operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris yang menggambarkan saldo awal,
penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah pusat/daerah selama
periode tertentu. Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari
penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai
berikut.
a. Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum
Negara/Daerah.
b. Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara
Umum Negara/Daerah.
28
7. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari
angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan
SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Laporan
Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang
kebijakan akuntansi yang dipergunakan, penyajian informasi yang diharuskan dan
dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-
pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan
keuangan, seperti kewajiban kontijensi dan komitmen-komitmen lainnya.
2.1.7 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Kinerja dapat diartikan sebagai aktivitas terukur dari suatu entitas selama
periode tertentu sebagai bagian dari ukuran keberhasilan pekerjaan (Azhar, 2008).
Kinerja merupakan pencapaian atas apa yang direncanakan, baik oleh pribadi
maupun organisasi (Hamzah, 2008). Menurut Halim (2007), “kinerja keuangan
daerah atau kemampuan daerah merupakan salah satu ukuran yang dapat
digunakan untuk melihat kemampuan daerah dalam menjalankan otonomi
daerah”.
Harman (1997) dalam Government Performance and Result Act, A Mandate
for Strategic Planning and Performance Measurement menyatakan bahwa
pengukuran/penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk meningkatkan
kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran kinerja secara
berkelanjutan akan memberikan umpan balik, sehingga terjadi upaya perbaikan
secara terus menerus untuk mencapai tujuan dimasa mendatang (Bastian, 2006).
Penilaian/pengukuran kinerja terhadap lembaga atau organisasi tidak hanya
berlaku pada lembaga atau organisasi yang berorientasi profit saja, melainkan
juga perlu dilakukan pada lembaga atau organisasi non komersial. Hal ini
dilakukan dengan maksud agar dapat mengetahui sejauh mana pemerintah
29
menjalankan tugasnya dalam roda pemerintahan dalam melaksanakan
pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat dengan menyampaikan laporan
pertanggungjawaban keuangan (Sesotyaningtyas, 2012). Perhatian yang besar
terhadap pengukuran kinerja disebabkan oleh opini bahwa pengukuran kinerja
dapat meningkatkan efisiensi, keefektifan, penghematan dan produktivitas pada
organisasi sektor publik (Halachmi, 2005).
Menurut Mardiasmo (2004) pengukuran kinerja dilakukan untuk memenuhi
tiga maksud. Pertama, dimaksudkan untuk membantu memperbaiki kinerja
pemerintah. Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk dapat membantu pemerintah
berfokus pada tujuan dan sasaran program unit kerja. Hal ini pada akhirnya akan
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemerintah daerah dalam pemberian
pelayanan publik. Kedua, dimaksudkan untuk pengalokasian sumber daya dan
pembuatan keputusan. Ketiga, dimaksudkan untuk mewujudkan
pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.
Pengukuran kinerja dinilai sangat penting untuk menilai akuntabilitas
organisasi dalam menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik. Akuntabilitas
bukan sekedar kemampuan yang menunjukan bagaimana uang publik
dibelanjakan, akan tetapi meliputi kemampuan yang menunjukkan bahwa uang
publik tersebut telah dibelanjakan secara ekonomis, efisien dan efektif.
Masyarakat tentunya tidak mau terus menerus ditarik pungutan sementara
pelayanan yang mereka terima tidak ada kualitas dan kuantitasnya (Mardiasmo,
2004). Dengan demikian, pengukuran kinerja keuangan pemerintah daerah adalah
sesuatu yang memang penting untuk dilakukan. Pengukuran kinerja juga
merupakan salah satu kunci sukses dari pembaruan dalam sektor publik (Greiling,
2005).
Untuk mengetahui prestasi sebuah organisasi tertentu memerlukan ukuran
atau kriteria sebagai indikator keberhasilan yang ingin dicapai. Menurut Halim
30
(2007), didalam penilaian indikator kinerja sekurang-kurangnya ada empat tolak
ukur penilaian kinerja keuangan pemerintah daerah yaitu, (1) Penyimpangan
antara realisasi anggaran dengan target yang ditetapkan dalam APBD, (2)
Efisiensi biaya, (3) Efektivitas program, (4) Pemerataan dan keadilan. Menurut
Mahsun (2006) dalam konteks pemerintahan sebagai sektor publik, ada beberapa
aspek yang dapat dinilai kinerjanya, yaitu:
1. Kelompok Masukan (Input)
2. Kelompok Proses (Proccess)
3. Kelompok Keluaran (Output)
4. Kelompok Hasil (Outcome)
5. Kelompok Manfaat (Benefit)
6. Kelompok Dampak (Impact).
Fokus pengukuran kinerja sektor publik justru terletak pada outcome dan
bukan input dan proses, outcome yang dimaksudkan adalah outcome yang
dihasilkan oleh individu ataupun organisasi secara keseluruhan, outcome harus
mampu memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat menjadi tolak ukur
keberhasilan organisasi sektor publik. Salah satu alat untuk menganalisis kinerja
pemerintah daerah adalah dengan melakukan analasis rasio keuangan
pemerintah daerah. Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan
membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan
periode sebelumnya sehingga dapat diketahui kecenderungan yang terjadi (Halim,
2007).
2.2 Tinjauan Empiris
Penelitian terkait Intellectual Capital dan kinerja keuangan saat ini semakin
berkembang, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya penelitian yang
dipublikasikan terkait dengan topik penelitian tersebut. Salah satu penelitian yang
31
membahas mengenai dampak Intellectual Capital terhadap kinerja dipublikasikan
oleh Ming-Chin Chen, et. al. (2005), yang meneliti mengenai hubungan antara
intellectual capital, Nilai Pasar Perusahaan, dan Kinerja Keuangan. Penelitiannya
tersebut menunjukkan hasil bahwa modal intelektual perusahaan memiliki dampak
positif pada nilai pasar dan kinerja keuangan, dan dapat menjadi indikator kinerja
keuangan di masa depan. Beberapa publikasi lainnya juga menemukan hasil yang
serupa dengan penelitian Ming-Chin Chen, et. al. (2005), yakni terdapat hubungan
positif antara Intellectual Capital dan kinerja keuangan (Gogan, et. al., 2016;
Jordão dan Almeida, 2017; Fathi et. al., 2013; dan Shahzad et. al., 2014).
Penelitian mengenai Intellectual Capital yang ada saat ini juga semakin
berkembang, dimana penelitian yang ada tidak lagi hanya sebatas pada hubungan
langsung antara Intellectual Capital dan kinerja organisasi, tetapi juga telah
menambahkan variabel moderasi didalamnya. Kamukama et. al. (2011) dengan
penelitian berjudul Competitive Advantage: Mediator of Intellectual Capital and
Performance. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh mediasi
keunggulan kompetitif dalam hubungan antara modal intelektual dan kinerja
keuangan di lembaga-lembaga keuangan mikro Uganda. Hasil penelitian ini
menunjukkan keunggulan kompetitif secara signifikan signifikan memediasi
hubungan antara modal intelektual dan kinerja keuangan dan meningkatkan
hubungan antara kedua variabel tersebut sebear 22,4 persen di lembaga-lembaga
keuangan mikro Uganda. Selanjutnya temuan menerima hubungan secara parsial
mediasi antara modal intelektual, keunggulan kompetitif dan kinerja keuangan.
Selain itu, Soewarno (2011) juga mencoba menguji hubungan antara Intellectual
Capital dan kinerja keuangan dengan menempatkan ukuran, jenis industri, dan
leverage sebagai variabel moderating. Hasil penelitiannya tersebut menunjukkan
bahwa Intellectual Capital berpengaruh terhadap Kinerja Organisai (Return On
Assets atau ROA maupun Market to Book Value atau MB), namun tidak
32
berpengaruh terhadap Kinerja Keungan Organisasi (Assets Turn Over atau ATO).
Kemudian, Leverage dapat memoderasi hubungan antara Intellectual Capital dan
Kinerja Keuangan Organisasi (ROA dan MB).
Patrick (2007) dengan judul penelitian The Determinants of Organizational
Innovativeness: The Adoption of GASB 34 in Pennsylvania Local Government.
Penelitian ini menggunakan model inovasi organisasi Everett Rogers' (2003) yang
disesuaikan untuk mengidentifikasi karakteristik organisasi pemerintah daerah
Pennsylvania yang telah mengadopsi GASB 34. Model ini menggunakan tiga
komponen organisasi (budaya organisasi, struktur organisasi, dan lingkungan
eksternal) yang sering dikaitkan dengan adopsi inovasi. Hasil penelitian ini
menunjukkan enam variabel yang kurang kuat terkait dengan adopsi seperti
spesialisasi pekerjaan, diferensiasi fungsional, intensitas administrasi,
ketersediaan sumber daya, transfer dana, dan pembiayaan utang yang terkait
dengan adopsi, tetapi kekuatan dari asosiasi adalah ringan sampai sedang.
Di sektor publik sendiri, penelitian terkait Intellectual Capital pada awalnya
dimulai dari penelitian yang dilakukan oleh Ramírez (2010) mempublikasikan
penelitiannya yang bertopik Intellectual Capital di sektor publik, dalam
penelitiannya tersebut menawarkan pandangan praktis tentang bagaimana
mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola modal intelektual dari entitas publik.
Temuan penelitiannya tersebut menyebutkan dalam paradigma institusional baru,
pengetahuan dan nilai-nilai tak berwujud menjadi sumber utama keunggulan
kompetitif bagi entitas publik. Unsur-unsur ini, ketika dikelola dengan baik, adalah
faktor-faktor untuk sukses dalam entitas publik. Itulah sebabnya mengapa manajer
publik terus mencari alat-alat baru untuk peningkatan yang efektif dalam kinerja
lembaga-lembaga publik, dan salah satu alat ini adalah model manajemen modal
intelektual. Farah dan Abouzeid (2017) juga telah melakukan penelitian terkait
dengan topik Intellectual Capital, namun berbeda dengan penelitian yang telah
33
dilakukan oleh Ramírez (2010), mereka mencoba untuk melihat pengaruh modal
intelektual pada kinerja organisasi di sektor publik dan mempelajari keterkaitan
antara variabel modal intelektual. Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya
manusia, modal sosial dan organisasi dalam meningkatkan kinerja dalam
organisasi diteliti. Hasil menunjukkan bentuk-bentuk modal diteliti dapat saling
berhubungan dan mampu memberikan pengaruh positif terhadap kinerja
organisasi.
Di sektor publik penelitian terkait topik Intellectual Capital tidak hanya
terbatas pada keterkaitan Intellectual Capital dengan kinerja keuangan saja, tetapi
juga telah meluas pada pengungkapan Intellectual Capital itu sendiri. Penelitian
yang telah dipublikasikan terkait topik tersebut adalah penelitian Schneider dan
Samkin (2008) dengan judul penelitian Intellectual Capital Reporting by the New
Zealand Local Government Sector. Penelitian ini membangun indeks ICD melalui
proses konsultasi pemangku kepentingan partisipatif untuk mengembangkan
sejauh mana indeks pengungkapan dan kualitas pelaporan modal intelektual di
laporan tahunan 2004/2005 dari 82 pemerintah daerah di Selandia Baru. Indeks
tersebut terdiri 26 item dibagi menjadi tiga kategori: modal internal, modal
eksternal, dan human capital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaporan
modal intelektual oleh pemerintah daerah bervariasi, item yang paling dilaporkan
adalah gabungan usaha/kolaborasi bisnis dan proses manajemen, sedangkan
item yang paling sedikit dilaporkan adalah intelektual properti dan perizinan
perjanjian. Kategori yang paling dilaporkan modal intelektual adalah kas internal,
diikuti oleh modal eksternal, modal manusia adalah kategori paling sering
dilaporkan.
Penelitian yang sedang berkembang di sektor publik saat ini, tidak hanya
berkisar pada pengaruh intellectual capital dan kinerja keuangan saja, tetapi juga
telah merambah pada pembahasan mengenai intergovermental revenue atau
34
lebih dikenal di Indonesia sebagai dana perimbangan. Andirfa, dkk. (2016)
melakukan penelitian mengenai Pengaruh Belanja Modal, Dana Perimbangan,
dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Kinerja Keuangan, yang mana dalam
penelitiannya tersebut, ia memperoleh hasil bahwa belanja modal, dana
perimbangan dan pendapatan asli daerah (PAD) secara simultan memiliki
pengaruh terhadap kinerja keuangan. Namun hasil pengujian secara parsial, dana
perimbangan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan daerah pada
Pemerintah Kabupaten dan Kota di Provinsi Aceh. Hasil serupa juga ditemukan
oleh Budianto dan Alexander (2016) menunjukan bahwa pendapatan asli dearah
(PAD) dan dana perimbangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan
pemerintah daerah baik secara simultan maupun parsial. Kedua penelitian ini juga
mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Renas (2014),
Sesotyaningtyas (2012) dan Kusumawardani (2012).
Sumarjo (2010), mempublikasikan penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
(Studi Empiris pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia). Penelitian
ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris adanya pengaruh karakteristik
pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia.
Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 125 pemerintah daerah
kabupaten/kota di Indonesia tahun 2008 dengan menggunakan metode analisis
regresi berganda. Hasil yang ditunjukkan penelitian ini adalah ukuran pemerintah
daerah, leverage, dan intergovernmental revenue berpengaruh terhadap kinerja
keuangan pemerintah daerah.
Kusumawardani (2012), melakukan penelitian mengenai pengaruh size,
kemakmuran, ukuran legislatif, dan leverage terhadap kinerja keuangan. Analisis
data dalam penelitian ini menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa size, kemakmuran, ukuran legislatif, leverage mempengaruhi
35
kinerja keuangan pemerintah daerah sebesar 31,5%. Hasil yang berbeda
ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Minarsih (2015) juga melakukan
penelitian terkait Pengaruh Size, Wealth, Leverage, dan Intergovernmental
Revenue Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa variable size, wealth, leverage dan intergovernmental
revenue tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah secara
parsial untuk rasio efisiensi. Sedangkan untuk model kedua, hanya variabel
leverage dan intergovernmental revenue yang berpengaruh secara parsial
terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah untuk rasio efektivitas.
Setyaningrum dan Syafitri (2012) dengan judul penelitian Analisis Pengaruh
Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan
Keuangan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 620 LKPD
Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2008-2009. Hasil penelitian ini menunjukkan
umur administratif pemerintah daerah, kekayaan pemerintah daerah, dan ukuran
legislatif memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pengungkapan
LKPD, sedangkan intergovernmental revenue memiliki pengaruh negatif yang
signifikan.
Weill (2003), melakukan penelitian terkait Leverage dan kinerja organisasi.
Penelitian ini berusaha memberikan bukti empiris baru pada isu tata kelola
perusahaan utama: hubungan antara leverage dan kinerja perusahaan. Peneliti
membawa dua perbaikan besar untuk literatur ini dengan menerapkan teknik-
teknik efisiensi untuk mendapatkan ukuran kinerja bagi perusahaan dari beberapa
negara (Perancis, Jerman dan Italia). Kemudian penelitian dilanjutkan ke regresi
kinerja perusahaan pada berbagai set variabel termasuk leverage. Hasil penelitian
ini menemukan bukti campuran tergantung pada negara: hubungan antara
leverage dan kinerja perusahaan negatif signifikan di Italia, hubungan antara
leverage dan kinerja perusahaan adalah positif signifikan di Perancis dan Jerman.
BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, tinjauan pustaka, dan hasil
penelitian terdahulu disusunlah kerangka konseptual. Kerangka pemikiran
penelitian ini pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep
yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan, dalam hal
ini adalah keterkaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Penelitian ini
akan dilakukan pengujian mengenai pengaruh intellectual capital terhadap
kinerja keuangan pemerintah daerah yang dimoderasi oleh intergovernmental
revenue dan leverage. Penelitian ini akan menguji intergovernmental revenue
dan leverage yang memoderasi hubungan antara intellectual capital terhadap
kinerja keuangan pemerintah daerah.
Secara ringkas pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan
pemerintah daerah dengan pemoderasi intergovernmental revenue dan leverage
dapat dijelaskan oleh kerangka pemikiran sebagai berikut.
Intergovernmental
Revenue (Z1)
Intellectual capital Kinerja Keuangan
Disclousures (X) (Y)
Leverage (Z2)
Sumber: Replikasi atas beberapa penelitian terdahulu (Soewarno, 2011;
Sesotyaningtyas, 2012; Farah dan Abouzeid, 2017)
Gambar 3.1 Kerangka Pikir Penelitian
36