0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan3 halaman

Cerpen Persahabatan: Ujian dan Dukungan

Diunggah oleh

ayuretno527
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan3 halaman

Cerpen Persahabatan: Ujian dan Dukungan

Diunggah oleh

ayuretno527
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Cerpen Persahabatan “Sahabat Sekolah”


Namaku Sinta Putri, aku sangat senang dengan pelajaran Bahasa Indonesia
dan Biologi. Aku mempunyai sahabat yang unik bernama Aulia, dan aku
bingung dengannya. Dikarenakan sahabatku orang yang sangat sensitif.

Menurut dia, aku tidak boleh suka dengan kedua pelajaran tersebut. Padahal
itu hakku. Suatu waktu disaat pelajaran bahasa inggris, tidak tahu mengapa
tiba-tiba aku suka dengan pelajaran tersebut.

Mungkin juga karena guru yang mengajarkan mempunyai cara penyampaian


yang baik. Otomatis aku juga mulai aktif di kelas saat pelajaran bahasa
inggris.

Teng teng teng, bunyi bel sekolah, waktu istirahat tiba. Saat itu aku langsung
menghampiri Aulia untuk mengajaknya ke kantin. “Aul, ke kantin yuk?” ajakku.
“Ngga, aku ngga mau lagi sahabatan sama kamu!” jawabnya sembari buang
muka.

Awalnya kejadian seperti itu hanya sekali dan kita berdua balikan seperti
semula. Tetapi lama-kelamaan terjadi hal yang serupa. Sangat aneh

Aulia bukannya mengerti perasaanku, justru bikin aku kesal. Ceritanya


begini, waktu Ujian Tengah Semester (UTS) dia kesusahan menjawab soal
pelajaran Biologi, disaat itu dia melihat ke arahku. Aku dan Aulia tidak satu
bangku, Aulia tepat di depan tempat aku duduk.

“Sin, kamu tahu enggak nomor 5 essay? minta jawabannya dong satu aja!”
tanya Aulia sembari memohon. “Udah si, ini kan bukan ulangan biasa!”
jawabku. “Yah kamu..” sembari jengkel. Aku cuek saja akan hal itu dan
berharap bahwa dia akan intropeksi diri.

Coba bayangkan, dia sudah membuatku sakit hati dan dia ingin meminta
jawaban UTS. Beberapa hari kemudian hasil nilai UTS Biologi dibagikan dan
diumumkan.

Aku mendapat nilai 90 sedangkan Aulia mendapat nilai 75. Aku bisa melihat
tatapan iri di sahabatku itu, dan aku sadar bahwa bersahabat dengan orang
yang suka iri hati adalah hal yang susah.

2. Cerpen Persahabatan “Berbagi Kasih dengan


Sahabat”
Namaku Riko, seorang siswa SMP kelas IX asal Bogor. Aku memiliki sahabat
bernama Andre, yang merupakan teman setia dan sekelas sejak di bangku
sekolah dasar.

Hari ini adalah hari Sabtu, di mana mata pelajaran hanya tiga mapel. Pada
mapel terakhir, yakni Bahasa Inggris, semua berjalan seperti biasa. Hari telah
menunjukkan pukul 13.20, tandanya sebentar lagi akan pulang.
Tiba-tiba pintu kelas diketok oleh seseorang. Ketika Bu Guru membukanya,
ternyata yang datang adalah Pak Imron, pamannya Andre, adek kandung dari
ibunya.

"Tok..tok..tok.." suara ketukan pintu berbunyi.

"Iya, silakan masuk..." sambut Bu Guru.

"Permisi bu, saya izin menjemput Andre untuk membawanya pulang..." ucap
Pak Imron.

"Ada persoalan apa ya Pak…?" Tanya Bu guru.

"Begini bu, keluarga Andre baru saja mengalami musibah, rumahnya


kebakaran dan semuanya habis dimakan api. Untungnya tidak ada korban
jiwa sedikit pun..." sambung Pak Imron.

Tiba-tiba seisi kelas panik bercampur sedih, dan aku melihat wajah Andre
tampak kesedihan yang begitu mendalam. Kemudian Bu Guru mengizinkan
Andre untuk pulang.

Ketika bel pulang berbunyi, aku mengimbau seluruh teman sekelas untuk
jangan pulang dulu. Aku mengajak mereka semua untuk melakukan
penggalangan dana kepada seluruh lapisan guru dan siswa/i di sekolah mulai
besok.

Sepulang dari sekolah besok, aku juga mengajak mereka untuk melakukan
penggalangan di tepi jalan raya. Tanpa pikir panjang, semua teman sekelas
setuju.

Setelah penggalangan di sekolah dan tepi jalan raya selesai, aku dan teman-
teman sangat bersyukur karena dana yang terkumpul cukup banyak, yakni 16
juta rupiah. Aku dan teman-teman langsung menuju kediaman Andre dan
keluarganya.

Sesampainya di sana, aku melihat kesedihan Andre dan keluarganya begitu


mengiris hati, mengingat semua isi rumah habis dilalap api.

"Assalamualaikum Bu, Pak, Ndre, aku dan teman-teman mengucapkan bela


sungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah yang kalian hadapi. Ini, ada
sedikit bantuan dari teman-teman dan saudara, semoga bisa meringankan
beban kamu dan keluarga ya, Ndre..." ucapku.

Andre tampak sedikit senang dan kemudian langsung memeluk kami semua,
seraya berkata…

"Terima kasih banyak teman-teman atas bantuannya. Terima kasih juga atas
kehadiran dan ucapan belasungkawanya. Semoga Allah Swt. membalas
semua kebaikan kalian dan para penyumbang..." tuntas Andre.

Kami pun berkumpul dan mencoba menghibur Andre dan keluarganya hingga
menjelang sore.

Anda mungkin juga menyukai