Panduan Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran
Panduan Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1
a. Latar Belakang...................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................2
a. Pengertian ATP ( Alur Tujuan Pembelajaran)....................................................2
b. Kriteria Alur Tujuan Pembelajaran...................................................................2
c. Cara Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran......................................................2
d. Aspek Alur Tujuan Pembelajaran......................................................................3
e. Contoh ATP Kurikulum Merdeka TA 2025/2026.............................................5
f. Contoh CP..........................................................................................................7
BAB III PENUTUP.................................................................................................16
a. Kesimpulan .......................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................17
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia, khususnya sejak diterapkannya
Kurikulum Merdeka, menuntut guru untuk lebih mandiri dan kreatif dalam merancang
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Salah satu wujud kemandirian
tersebut adalah kemampuan guru dalam menyusun silabus dan Alur Tujuan
Pembelajaran (ATP) yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan konteks
sekolah masing-masing.
Silabus dan ATP merupakan komponen penting dalam perencanaan
pembelajaran. Melalui dokumen ini, guru dapat memetakan capaian pembelajaran,
merumuskan tujuan yang terukur, menentukan urutan materi, serta merancang
pengalaman belajar yang bermakna. Dengan adanya ATP, proses pembelajaran tidak
hanya berorientasi pada penuntasan materi, tetapi juga pada pengembangan
kompetensi dan profil pelajar Pancasila.
Namun, dalam praktiknya masih banyak guru yang mengalami kesulitan
dalam memahami esensi dan menyusun ATP secara sistematis. Sebagian guru masih
menganggap ATP sebagai dokumen administratif semata, bukan sebagai panduan
utama dalam mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan adaptif terhadap
kebutuhan siswa. Di sisi lain, penyusunan silabus dan ATP yang baik membutuhkan
pemahaman mendalam tentang struktur capaian pembelajaran (CP), tujuan
pembelajaran (TP), serta keterkaitannya dengan asesmen dan kegiatan pembelajaran
di kelas.
Buku ini disusun sebagai upaya untuk memberikan panduan praktis dan
inspiratif bagi pendidik dalam memahami, menyusun, dan mengimplementasikan
silabus serta Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) sesuai dengan semangat Kurikulum
Merdeka. Melalui penjelasan konsep, contoh penerapan, dan langkah-langkah
penyusunan yang sistematis, diharapkan buku ini dapat menjadi referensi bagi guru
untuk mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik,
relevan dengan konteks zaman, serta mendukung terwujudnya pembelajaran yang
merdeka dan bermakna.
iii
BAB II
PEMBAHASAN
iv
C. Cara Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran
Alur Tujuan Pembelajaran akan membentuk tujuan pembelajaran dari awal fase hingga
akhir fase suatu Capaian Pembelajaran. Guru dapat menyusun tujuan pembelajaran
secara kronologis sesuai urutan pembelajaran dari waktu ke waktu.
Guru juga dapat menyusun alur pembelajaran masing-masing yang memuat rangkaian
tujuan pembelajaran. Pemerintah akan membantu untuk menyediakan set alur tujuan
pembelajaran ini. Set alur ini untuk digunakan sebagai contoh pengembangan
kurikulum setiap satuan pendidikan serta panduan dalam menyusun perangkat ajar.
Secara umum, Alur Tujuan Pembelajaran mempunyai fungsi sama seperti silabus,
yaitu untuk acuan perencanaan pembelajaran. Alur Tujuan Pembelajaran ini bukan
hanya dijadikan acuan atau panduan guru, tetapi juga siswa dalam mencapai
pencapaian pembelajaran di akhir fase. Alur Tujuan Pembelajaran disusun sebagai
v
panduan atau rangkaian tujuan pembelajaran bagi guru dan siswa sejak awal hingga
akhir setiap fase dari suatu Capaian Pembelajaran (CP).
Pemerintah menetapkan capaian pembelajaran kurikulum merdeka dalam fase-fase,
yaitu fase A untuk tingkat kelas 1 dan kelas 2 SD, fase B untuk tingkat kelas 3 dan 4
SD, fase C untuk kelas 5 dan 6 SD, fase D untuk kelas 7 dan 8 SMP, fase E untuk
kelas 9 dan 10 SMA, serta fase F untuk kelas 11 dan 12 SMA.
Alur ini menjadi panduan guru dan siswa untuk melaksanakan capaian pembelajaran
di akhir fase tersebut. Tujuan pembelajaran disusun secara kronologis berdasarkan
urutan pembelajaran dari waktu ke waktu.
Pada saat guru menyusun alur tujuan pembelajaran, guru berhak untuk menyusun alur
pembelajaran masing-masing yang terdiri dari rangkaian tujuan pembelajaran. Akan
tetapi guru tetap perlu memperhatikan beberapa set alur yang telah digunakan
pemerintah sebagai contoh pengembangan kurikulum yang siap digunakan.
vi
1. Fase: C
7
perubahan iklim; system tata surya Mengidentifikasi letak dan kondisi geografis negara 7. Memprediksi fenomena gelombang bunyi dan
dan kaitannya dengan rotasi dan Indonesia melalui peta konvensional/digital cahaya dalam kehidupan sehari-hari
revolusi bumi; letak dan kondisi Memahami dan mengambil pelajaran atau 8. Mengidentifikasi letak dan kondisi geografis
geografis negara Indonesia melalui keteladanan dari sejarah di provinsi tempat negara Indonesia melalui peta
peta konvensional/digital; sejarah di tinggalnya konvensional/digital
provinsi tempat tinggalnya; Menganalisis pemahaman terhadap nilai-nilai 9. Memahami dan mengambil pelajaran atau
keragaman budaya nasional yang kearifan lokal yang berlaku di wilayahnya keteladanan dari sejarah di provinsi tempat
dikaitkan dengan konteks
Menghubungkan nilai-nilai kearifan lokal dengan tinggalnya
kebinekaan berdasarkan
konteks kebinekaan budaya nasional [Link] pemahaman terhadap nilai-nilai
pemahaman terhadap nilai-nilai
Mengamati ekonomi masyarakat di lingkungan kearifan lokal yang berlaku di wilayahnya
kearifan lokal yang berlaku di
sekitar [Link] nilai-nilai kearifan lokal
wilayahnya; serta kegiatan ekonomi
masyarakat dan ekonomi kreatif di Mempraktikkan kegiatan ekonomi kreatif di dengan konteks kebinekaan budaya nasional
lingkungan sekitarnya lingkungan sekitar [Link] ekonomi masyarakat di lingkungan
sekitar
Keterampilan Proses [Link] kegiatan ekonomi kreatif di
Mengamati lingkungan sekitar
Mempertanyakan dan
memprediksi
Merencanakan dan melakukan
penyelidikan secara mandiri
Memproses serta menganalisis
data dan informasi
Mengevaluasi dan refleksi
Mengomunikasikan hasil
Catatan:
8
CAPAIAN PEMBELAJARAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR
Institusi : NAMA SEKOLAH
Mata Pelajaran : IPAS
Kelas : FASE B
Tahun Pelajaran :
9
dalam pembelajaran IPAS akan melatih sikap ilmiah (keingintahuan yang tinggi,
kemampuan berpikir kritis, analitis dan kemampuan mengambil kesimpulan yang tepat)
yang melahirkan kebijaksanaan dalam diri peserta didik.
Sebagai negara yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, melalui IPAS diharapkan
peserta didik menggali kekayaan kearifan lokal terkait IPAS termasuk menggunakannya
dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu, fokus utama yang ingin dicapai dari
pembelajaran IPAS di SD/MI/Program Paket A bukanlah pada seberapa banyak konten
materi yang dapat diserap oleh peserta didik, akan tetapi dari seberapa besar kompetensi
peserta didik dalam memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki. Dengan mempertimbangkan
bahwa anak usia SD/MI/Program Paket A masih melihat segala sesuatu secara apa
adanya, utuh dan terpadu maka pembelajaran IPA dan IPS disederhanakan menjadi satu
mata pelajaran yaitu IPAS. Hal ini juga dilakukan dengan pertimbangan anak usia
SD/MI/Program Paket A masih dalam tahap berpikir konkrit/sederhana, holistik,
komprehensif, dan tidak detail.
Pembelajaran di SD/MI/Program Paket A perlu memberikan peserta didik kesempatan
untuk melakukan eksplorasi, investigasi dan mengembangkan pemahaman terkait
lingkungan di sekitar nya. Jadi mempelajari fenomena alam serta interaksi manusia dengan
alam dan antar manusia sangat penting dilakukan di tahapan ini.
10
5. memahami persyaratan yang diperlukan peserta didik untuk menjadi anggota suatu
kelompok masyarakat dan bangsa serta- 177 - memahami arti menjadi anggota
masyarakat bangsa dan dunia, sehingga dia dapat berkontribusi dalam menyelesaikan
permasalahan yang berkaitan dengan dirinya dan lingkungan di sekitarnya; dan
6. mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep di dalam IPAS serta
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
ELEMEN DESKRIPSI
Pemahaman Ilmu pengetahuan mengambil peran penting dalam mengembangkan
IPAS (sains dan teori-teori yang membantu kita memahami bagaimana dunia kita
sosial) bekerja. Lebih jauh lagi, ilmu pengetahuan telah membantu kita
mengembangkan teknologi dan sistem tata kelola yang mendukung
terciptanya kehidupan yang lebih baik. Dengan menguasai ilmu
pengetahuan kita dapat melakukan banyak hal untuk menyelesaikan
permasalahan atau menghadapi tantangan yang ada.
11
ELEMEN DESKRIPSI
Memiliki pemahaman IPAS merupakan bukti ketika seseorang memilih
dan mengintegrasikan pengetahuan ilmiah yang tepat untuk
menjelaskan serta memprediksi suatu fenomena atau fakta dan
menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi yang berbeda.
Pengetahuan ilmiah ini berkaitan dengan fakta, konsep, prinsip,
hukum, teori dan model yang telah ditetapkan oleh para ilmuwan.
Keterampilan Dalam profil Pelajar Pancasila, disebutkan bahwa peserta didik
proses Indonesia yang bernalar kritis mampu memproses informasi baik
kualitatif maupun kuantitatif secara objektif, membangun keterkaitan
antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan
menyimpulkannya. Dengan memiliki keterampilan proses yang baik
maka profil tersebut dapat dicapai.
Keterampilan proses adalah sebuah proses intensional dalam
melakukan diagnosa terhadap situasi, memformulasikan
permasalahan, mengkritisi suatu eksperimen dan menemukan
perbedaan dari alternatif-alternatif yang ada, mencari opini yang
dibangun berdasarkan informasi yang kurang lengkap, merancang
investigasi, menemukan informasi, menciptakan model, mendebat
rekan sejawat menggunakan fakta, serta membentuk argumen yang
koheren (Linn, Davis, & Bell 2004). Inkuiri sangat direkomendasikan
sebagai bentuk pendekatan dalam pengajaran karena hal ini terbukti
membuat peserta didik lebih terlibat dalam pembelajaran (Anderson,
2002).
Dalam pengajaran IPAS, terdapat dua pendekatan pedagogis:
pendekatan deduktif dan induktif (Constantinou [Link], 2018). Peran
guru dalam pendekatan deduktif adalah menyajikan suatu konsep
berikut logika terkait dan memberikan contoh penerapan. Dalam
pendekatan ini, peserta didik diposisikan sebagai pembelajar yang
pasif (hanya menerima materi). Sebaliknya, dalam pendekatan induktif,
peserta didik diberikan kesempatan yang lebih leluasa untuk
melakukan observasi, melakukan eksperimen dan dibimbing oleh guru
untuk membangun konsep berdasarkan pengetahuan yang dimiliki
(Rocard, [Link]., 2007).
Pembelajaran berbasis inkuiri memiliki peran penting dalam pendidikan
sains (e.g. Blumenfeld et al., 1991; Linn, Pea, & Songer, 1994; National
Research Council, 1996; Rocard et al., 2007). Hal ini didasarkan pada
pengakuan bahwa sains secara esensial didorong oleh pertanyaan,
proses yang terbuka, kerangka berpikir yang dapat
dipertanggungjawabkan, dan dapat diprediksi.
12
ELEMEN DESKRIPSI
Oleh karenanya peserta didik perlu mendapatkan pengalaman
personal dalam menerapkan inkuiri saintifik agar aspek fundamental
IPAS ini dapat membudaya dalam dirinya (Linn, Songer, & Eylon, 1996;
NRC, 1996).
Menurut Ash (2000) dan diadopsi dari Murdoch (2015), sekurang-
kurangnya ada enam keterampilan inkuiri yang perlu dimiliki peserta
didik.
1. Mengamati
Mengamati sebuah fenomena dan peristiwa merupakan awal
dari proses inkuiri yang akan terus berlanjut ke tahapan
berikutnya. Pada saat melakukan pengamatan, peserta didik
memperhatikan fenomena dan peristiwa dengan saksama,
mencatat, serta membandingkan informasi yang dikumpulkan
untuk melihat persamaan dan perbedaannya. Pengamatan bisa
dilakukan langsung atau menggunakan instrumen lain seperti
kuesioner, wawancara.
2. Mempertanyakan dan memprediksi
Peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan tentang
hal-hal yang ingin diketahui pada saat melakukan pengamatan.
Pada tahap ini peserta didik juga menghubungkan pengetahuan
yang dimiliki dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari
sehingga bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan
hukum sebab akibat.
3. Merencanakan dan melakukan penyelidikan
Setelah mempertanyakan dan membuat prediksi berdasarkan
pengetahuan dan informasi yang dimiliki, peserta didik membuat
rencana dan menyusun langkah-langkah operasional
berdasarkan referensi yang benar.
Peserta didik dapat menjawab pertanyaan dan membuktikan
prediksi dengan melakukan penyelidikan. Tahapan ini juga
mencakup identifikasi dan inventarisasi faktor-faktor operasional
baik internal maupun eksternal di lapangan yang mendukung
dan menghambat kegiatan. Berdasarkan perencanaan tersebut,
peserta didik mengambil data dan melakukan serangkaian
tindakan yang dapat digunakan untuk mendapatkan temuan-
temuan.
4. Memproses, menganalisis data dan informasi
Peserta didik memilih dan mengorganisasikan informasi yang
diperoleh. Ia menafsirkan informasi yang didapatkan dengan
13
ELEMEN DESKRIPSI
jujur dan bertanggung jawab. Selanjutnya, menganalisis
menggunakan alat dan metode yang tepat, menilai relevansi
informasi yang ditemukan dengan mencantumkan referensi
rujukan, serta menyimpulkan hasil penyelidikan.
5. Mengevaluasi dan refleksi
Pada tahapan ini peserta didik menilai apakah kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan tujuan yang direncanakan atau tidak.
Pada akhir siklus ini, peserta didik juga meninjau kembali proses
belajar yang dijalani dan hal-hal yang perlu dipertahankan
dan/atau diperbaiki pada masa yang akan datang. Peserta didik
melakukan refleksi tentang bagaimana pengetahuan baru yang
dimilikinya dapat bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan sekitar dalam perspektif global untuk masa depan
berkelanjutan.
6. Mengomunikasikan hasil
Peserta didik melaporkan hasil secara terstruktur melalui lisan
atau tulisan, menggunakan bagan, diagram maupun ilustrasi,
serta dikreasikan ke dalam media digital dan non-digital untuk
mendukung penjelasan. Peserta didik lalu mengomunikasikan
hasil temuannya dengan mempublikasikan hasil laporan dalam
berbagai media, baik digital dan atau non digital. Pelaporan
dapat dilakukan berkolaborasi dengan berbagai pihak.
14
CAPAIAN PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN SOSIAL (IPAS)
FASE B (UMUMNYA UNTUK KELAS III DAN IV SD/MI/PROGRAM PAKET A)
15
ELEMEN CAPAIAN PEMBELAJARAN
Di akhir fase ini, peserta didik menjelaskan tugas, peran, dan
tanggung jawab sebagai warga sekolah serta mendeskripsikan
bagaimana interaksi sosial yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan
sekolah. Peserta didik mengidentifikasi ragam bentang alam dan
keterkaitannya dengan profesi masyarakat.
Peserta didik mampu menunjukkan letak kota/kabupaten dan provinsi
tempat tinggalnya pada peta konvensional/digital. Peserta didik
mendeskripsikan keanekaragaman hayati, keragaman budaya,
kearifan lokal dan upaya pelestariannya.
Peserta didik mengenal keragaman budaya, kearifan lokal, sejarah
(baik tokoh maupun periodisasinya) di provinsi tempat tinggalnya serta
menghubungkan dengan konteks kehidupan saat ini. Peserta didik
mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, mengenal nilai
mata uang dan mendemonstrasikan bagaimana uang digunakan untuk
mendapatkan nilai manfaat/ memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
Keterampilan 1. Mengamati
proses Di akhir fase ini, peserta didik mengamati fenomena dan peristiwa
secara sederhana dengan menggunakan pancaindra dan dapat
mencatat hasil pengamatannya.
2. Mempertanyakan dan memprediksi
Dengan menggunakan panduan, peserta didik mengidentifikasi
pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah dan membuat
prediksi berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.
3. Merencanakan dan melakukan penyelidikan Dengan panduan,
peserta didik membuat rencana dan melakukan langkah-langkah
operasional untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.
Menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan mengutamakan
keselamatan. Peserta didik menggunakan alat bantu pengukuran
16
ELEMEN CAPAIAN PEMBELAJARAN
untuk mendapatkan data yang akurat.
4. Memproses, menganalisis data dan informasi Mengorganisasikan
data dalam bentuk tabel dan grafik sederhana untuk menyajikan
data dan mengidentifikasi pola. Peserta didik membandingkan
antara hasil pengamatan dengan prediksi dan memberikan
alasan yang bersifat ilmiah.
5. Mengevaluasi dan refleksi
Mengevaluasi kesimpulan melalui perbandingan dengan teori yang
ada. Menunjukkan kelebihan dan kekurangan proses penyelidikan.
6. Mengomunikasikan hasil
Mengomunikasikan hasil penyelidikan secara lisan dan tertulis
dalam berbagai format.
17
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Silabus dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) merupakan komponen penting dalam
perencanaan pembelajaran yang berfungsi sebagai panduan bagi guru dalam melaksanakan
proses belajar yang efektif, efisien, dan berorientasi pada peserta didik. Penyusunan ATP
menuntut guru untuk memahami capaian pembelajaran (CP), tujuan pembelajaran (TP), serta
hubungan keduanya dengan kegiatan dan asesmen pembelajaran.
ATP disusun secara sistematis, logis, dan kronologis agar mencerminkan urutan
perkembangan kompetensi siswa dari fase awal hingga akhir. Dalam Kurikulum Merdeka,
ATP membantu guru untuk tidak sekadar menuntaskan materi, tetapi mengarahkan
pembelajaran menuju penguatan karakter, keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan
pembentukan Profil Pelajar Pancasila.
Selain itu, ATP juga menjadi pedoman bagi guru untuk mengembangkan strategi, media, dan
metode pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan serta karakteristik
peserta didik. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip penyusunan ATP secara
benar, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, adaptif terhadap
perubahan zaman, dan mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional.
18
DAFTAR PUSTAKA
1. Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2021). A Taxonomy for Learning, Teaching, and
Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. New York:
Longman.
2. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah.
(2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
3. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Capaian
Pembelajaran Sekolah Dasar (SD) dalam Kurikulum Merdeka. Jakarta:
Kemendikbudristek.
4. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Buku Saku Guru:
Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan Modul Ajar. Jakarta: Pusat Kurikulum
dan Pembelajaran.
5. Murdoch, K. (2021). The Power of Inquiry: Teaching and Learning with Curiosity,
Creativity and Purpose in the Contemporary Classroom. Melbourne: Seastar Education.
6. National Research Council. (2021). Inquiry and the National Science Education
Standards: A Guide for Teaching and Learning. Washington, DC: National Academies
Press.
7. Rocard, M., et al. (2021). Science Education Now: A Renewed Pedagogy for the Future
of Europe. Brussels: European Commission.
8. Sammel, A. (2021). Developing Critical Science Literacy: Engaging Learners in Making
Sense of Science. New York: Routledge.
9. Yanitsky, O. (2022). Sociological and Environmental Dimensions of the Anthropocene.
London: Springer Nature.
19