Analisis Micro Teaching untuk Kualitas Mengajar
Analisis Micro Teaching untuk Kualitas Mengajar
E-mail: roniwiranata@[Link]
*Corresponding Author
Received: Pebruary 19, 2025 Accepted: Juny 23, 2025 Online Published: July 01, 2025
Abstrak: Micro Teaching merupakan matakuliah prasyarat yang harus dituntaskan oleh
mahasiswa pendidikan (calon guru) sebelum menempuh praktek pengalaman lapangan di
sekolah. Maka tujuan penelitian ini guna menganalisa konsep pembelajaran yang diterapkan
untuk meningkatkan kualitas mengajar pada aspek kemampuan pemahaman materi, hal ini
dilakukan agar mahasiswa dapat menjadi pengajar yang memiliki kemampuan akademik dan
professional. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif, Subyek dalam penelitian ini adalah
mahasiswa STKIP PGRI Lumajang yang telah menempuh matakuliah micro teaching dengan
Teknik pengumpulan data dengan wawacara mendalam dan observasi kegiatan pembelajaran
micro teaching. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan berdasarkan hasil
wawancara kepada dosen dan mahasiswa, konsep pembelajaran micro teaching sesuai dengan
tahapan yang harus dimiliki oleh mahasiswa terfokuskan pada kompetensi pedagogi, seperti
keterampilan Menyusun perangkat pembelajaran, keterampilam membuka sampai menutup
Pelajaran. Karakter yang ditanamkan oleh pengajar kepada calon guru bermuara pada kompetensi
professional melalui pemahaman materi yang telah diajarkan. Sistem penilaian yang digunakan
bertujuan meningkatkan kualitas mengajar yang diamati selama proses praktek mengajar
mahasiswa melalui micro teaching. Secara rinci konsep pembelajara micro teaching pengajar
telah menerapkan kemampuan mahasiswa mulai dari merancang, melaksanakan, mengamati dan
mengevaluasi selama penampilan praktek masing-masing mahasiswa.
E-mail: roniwiranata@[Link]
Abstract: Micro Teaching is a compulsory course that students (candidate of teachers) have to
complete before they can start their practical experience in schools. This research aims to
analyze the learning concepts applied, with a focus on improving the quality of teaching in terms
of the ability to understand the material, this is done so that students can become teachers who
have academic and professional skills. This type of research is descriptive and qualitative. The
subjects of this research are STKIP PGRI Lumajang students who have taken the micro-teaching
course, data collection techniques used are in-depth interviews and observation of micro-
87
DOI: [Link]
88 JURNAL PENDIDIKAN, VOLUME 34, NOMOR 2, JULI 2025
teaching learning activities. The results of this research show that overall, based on the results
of interviews with lecturers and students, the concept of micro-teaching learning is in line with
the stages that students need to have, focusing on pedagogical competencies such as skills in
preparing learning tools, skills in opening and closing lessons. The character that teachers instill
in future teachers boils down to professional competence through understanding the material
taught. The assessment system used aims to improve the quality of teaching observed during the
student teaching practice process through micro-teaching. Specifically, in the learning concept
of micro-teaching, teachers have implemented students' skills starting from planning,
implementing, observing and evaluating during each student's practical performance.
Pendahuluan
yang dilakukan diketahui bahwa, pembelajaran micro teaching sangat membantu dalam hal
menyiapkan mental mahasiswa sebelum praktek sesungguhnya di lapangan.
Keahlian yang wajib dipunyai oleh seseorang guru dalam melakukan cara
pembelajaran bersifat wajib dan harus diutamakan (Sukirman, 2012). Dengan demikian
prosedur kegiatan belajar mengajar supaya tujuannya tercapai dengan maksimal, maka guru
harus professional yang salah satunya adalah menguasai sejumlah materi, hal tersebut
merupakan faktor utama dalam penyampaian materi kepada peserta didik. Maka pada
dasarnya keterampilan dasar mengajar yang harus dimiliki oleh calon guru bisa
dikembangkan dan dipraktekkan dengan pembelajaran micro teaching, ini menjadi
penunjang bagi calon guru untuk mengembangkan kompetensinya sebelum dipraktekkan di
sekolah.
Kemampuan dasar mengajar harus dipahami mulai dari kemampuan membuka sampai
menutup Pelajaran, menjelaskan materi Pelajaran, penggunaan model pembelajaran,
medianya juga harus sesuai dengan karakter dan suasana kelas, kemapuan mengelola kelas,
mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan pemahaman siswa, memberikan penguatan
kepada siswa dan keterampilan lainnya agar pembelajaran memberikan suasana yang
menyengkan. Pembelajaran yang menyenangkan akan berdampak pada aktivitas yang baik
sehingga tujuannya dapat tercapai. Kemampuan dasar mengajar yang bagus dapat dilihat dari
aspek membuka sampai menutup Pelajaran serta pemanfaatan waktu (Sutisnawati, 2017).
Durasi pembelajaran menentukan kualitas prosesnya yang mengarah pada proses yang
sistematis. Penguasaan keterampilan atau kemapuan dasar mengajar dapat berdampak pada
kesiapan mental guru saat mengajar, kewibawaan, dan keprofesionalan didalam kelas.
Matakuliah micro teaching harus ditempuh mahasiswa kependidikan akan
memberikan pengalaman di bidang keguruan, program tersebut telah dikonsep oleh Dosen
pengampu seperti menentukan Materi serta alur praktikan mengajar secara sistematis,
kesempatan praktek ke 2 jika mahasiswa dikategorikan kurang maksimal dengan mengikuti
kuliah micro teaching tambahan. Semakin sering praktik maka akan semakin menguasai
kemampuan mengajarnya (Usman, 2013). Guru model dapat berlatih serta memahami
keahlian membimbing wajib terletak pada situasi yang terkendali, memahami sebagian
keahlian membimbing, mendapatkan keyakinan diri dalam membimbing dengan
meningkatkan serta memahami keahlian membimbing yang baik, dan memberikan penilaian
kepada teman sejawat berdasarkah dari lembar observasi yang digunakan.
Kualitas mengajar mengajar mahasiswa dipandang perlu dipersiapkan, kecakapan
ataupun kemampuan mengajar hal tersebut berkaitan dengan kemampuan menjelaskan
materi pembelajaran. Materi pembelajaran haruslah dikuasai agar mahasiswa bisa lebih yakin
diri dikala tampil dihadapan peserta didik. Semakin percaya diri bisa juga menguasai control
kelas yang baik. Jika itu betul dipersiapakan maka kualitas mengajar akan dapat terbentuk
sejak mereka menempuh matakuliah micro teaching di kampus, dimana keterampilan itu
merupakan bekal mahasiswa. Kualitas mengajar juga sangat ditentukan dari pelatihan seperti
praktik atau micro teaching, dan kualitas mengajar guru merupakan komponen penting dalam
pembelajaran karena itu juga akan mempengaruhi capaian pembelajaran yang berkualitas
(Mukroni, 2017).
Kebaruan dalam penelitian ini adalah peningkatan kualitas praktek mengajar yang
menekankan pada pemahaman materi dan penguasaan kelas praktek serta melakukan
identifikasi kesusahan mahasiswa dalam menguasai materi pelajaran yang diperlukan
pembimbingan intensif dari dosen. Selain itu riset ini bisa dijadkan sumber pengetahuan
dalam pemanfaatan micro teaching dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa keguruan
melalui konsep pembelajaran yang inovatif dan membangun Tingkat percaya diri mahasiswa,
sehingga ini dapat memberikan kontribusi untuk calon guru yang lebih kompeten.
Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam riset ini adalah deskriptif kualitatif, maka untuk bisa
menjawab fokus penelitian dengan mendeskripsikan kegiatan pembelajaran micro teaching
yang telah dikonsepkan oleh STKIP PGRI Lumajang dengan fokus pada peningkatan kualitas
mengajar melalui pemahaman materi mahasiswa. Menurut sidiq dalam (Rahmah et al., 2024)
penelitian kualitatif akan menghasilkan perosedur penelitian berdasarkan proses yang
dilakukan, selain itu Teknik yang baik untuk melihat permasalahan yang ada, sehingga
penelitian ini dikonsepkan, dikategorikan dan dideskripsikan atas dasar fenomena yang
terjadi secara langsung di lapangan. (Rijali, 2018) Analisis data kualitatif dapat dilakukan
setelah pengumpulan data, data akan dapat diproses reduksi data sampai pada penyimpulan,
hal tersebut merupakan konsep satu kesatuan dalam penelitian ini.
Rubrik penilaian untuk meningkatkan kualitas mengajar yang dinilai oleh pengajar dan
teman sejawat. Aspek penilaian, indikator penilaian dan deskripsi dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel 1 Indikator penilaian kemampuan mengajar
No Aspek yang Indikator Deskriptor
di Nilai
1 Membuka • Membuka/Menutup Pelajaran
Pelajaran • Salam/Doa
• Kehadiran siswa
• Mengaitkan penguasaan materi kedalam
kehidupan siswa dengan materi
sebelumnya
2 Kegiatan Penggunaan Metode • Metode yang digunakan telah melibatkan
Inti aktivitas siswa untuk lebih aktif,
melakukan tahapan pembelajaran sesuai
dengan tujuan yang akan dicapai
• Metode melibatkan siswa untuk
bekerjasama dengan siswa lain atau
disebut learning community
• Metode yang digunakan melibatkan
peserta didik dalam mengeksplorasi dan
meperluas pemahamannya
• Menggunakan berbagai media
• Membangun suasana kelas yang
kondusif dalam menciptakan
pembelajaran yang lebih menyenangkan
Materi Pelajaran • Materi yang disajikan sesuai dengan kompetensi
dasar dan indikator Pelajaran
• Materi sangat akurat (sesuai dengan teori)
• Materi dikembangkan dari modul
Hasil Penelitian
melukiskan kapasitas, style, serta akuisisi berlatih mahasiswa yang sanggup menciptakan
akibat pada pandangan keahlian serta pandangan wawasan, dan akibat pendamping pada
pandangan tindakan. Evaluasi kesiapan mahasiswa dicoba oleh dosen serta teman sejawat
mahasiswa pada dikala aktivitas cara perkuliahan berbentuk praktek micro teaching.
Hasil wawancara “dosen dan teman sejawat menilai dari cara membuka materi di
dalam kelas penguasaan materi, penggunaan model dan media pembelajaran sampai pada
menutup Pelajaran”
Sistem penilaian micro teaching berdasarkan rubrik dan aspek keterampilan dengan
menciptakan suasana pembelajaran yang baik agar tujuan untuk menciptakan peningkatan
kualitas mengajar bagi mahasiswa. Dilihat dari penilaian kepada guru model pada saat
praktik, mahasiswa sangat antusias dikarenakan mereka sudah mengetahui dari awal terkait
apa yang akan dinilai dan bagaimana cara mereka menyiapkan sebelum ditunjuk untuk
praktek mengajar kepada teman sejawatnya.
Pembahasan
Kegiatan pembelajaran micro teaching disiapkan oleh dosen dengan perjanjian pada
kontrak kuliah, mahasiswa (guru model) harus mempersiapkan perangkat pengajaran,
melaksanakan dan mengevaluasi teman sejawat. Perangkat pembelajaran berperan sebagai
panduan ataupun penyumbang arah untuk seseorang guru. Perihal itu berarti sebab cara
pembelajaran merupakan suatu yang sitematis serta beraturan. Penyusunan RPP yang
didalamnya memuat pendekatan seorang guru/calon guru kepada peserta didik, strategi
dalam melaksanakan micro teaching, metode pembelajaran, serta alat pembelajaran wajib
dicocokkan dengan kurikulum bersumber pada standar yang sudah didetetapkan dengan cara
nasional. Seorang guru wajib pandai- pandai memilah pendekatan, strategi, tata cara, serta
alat penataran supaya penataran dapat berjalan dengan efisien serta berdaya dalam
pembelajaran saat ini.
Pembelajaran micro teaching ialah mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa
STKIP PGRI Lumajang semester 6 prodi pembelajaran ekonomi selaku ketentuan mata
kuliah PPL pada semester 7. Penerapan micro teaching sebagai dorongan guna penerapan
PPL. kepastian penerapan micro teaching di STKIP PGRI Lumajang yang ditetapkan oleh
dosen pengampu mata kuliah itu, mahasiswa diwajibkan mengenakan busana gelap putih tiap
pertemuan, membuat RPP serta wajib memakai alat penataran atau materi didik yang menarik
dikala aplikasi micro teaching.
Berdasarkan hasil temuan yang dilakukan oleh peneliti melalui wawancara kepada
mahasiswa yang sudah melakukan dan yang belum melakukan praktik mengajar pada mata
kuliah micro teaching ini. Hasil dari Analisa peneliti membuktikan bahwasannya guru model
dalam hal ini adalah mahasiswa STKIP PGRI Lumajang ada beberapa permasalahan yagn
dihadapi seperti: (1) Kurang percaya diri, hal ini disebabkan beberapa faktor seperti
kurangnya penguasaan materi, kurang siap, dan kurang terbiasa sehingga guru model kurang
pecaya diri dan cenderung lebih sering membuat kesalahan seperti blank dalam
menyampaikan matei, volume suara tidak stabil atau kurang jelas, gugup dan lupa materi. (2)
Kesulitan menentukan strategi atau metode, hal ini dikarenakan mahasiswa belum memiliki
pengalaman dalam menggunakan model yang disesuaikan dengan karakter dan materinya.
(3) Kesulitan melakukan apersepsi, ini disebabkan karena mahasiswa belum terbiasa tampil
secara individu di depan kelas. (4) Kesulitan menjelaskan materi. Pada praktiknya mahasiswa
kesusahan dalam menarangkan modul, perihal ini disebabkan minimnya uraian mahasiswa
kepada modul yang hendak diajarkan. Dari kasus ini hendak memunculkan kasus yang lain
semacam tujuan penataran yang tidak berhasil ataupun teratasi, kesusahan dalam
merumuskan penataran serta mahasiswa pula hendak kesusahan dalam melaksanakan
penilaian. Micro teaching memiliki manfaat yang luar biasa dalam mengembangkan
kemampuan mengajar mahasiswa kependidikan/keguruan, Perihal ini searah dengan riset
yang dicoba oleh (Betaubun et al., 2024) mahasiswa mampu menguasai karakteristik peserta
didik, membuka menutup pelajaran hingga mengevaluasi pembelajaran.
Peran dosen dan mahasiswa dalam penelitian ini 1) memberikan pemahaman bagi
guru model selama proses pembelajaran micro teaching, sehingga dosen dapat memberikan
saran yang membangun untuk meningkatkan kualitas mengajar serta kedisiplinan
mahasiswa. 2) memberikan penilaian bagi guru model sesuai dengan rubrik penilaian serta
menilai perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh mahasiswa sebelum praktik dimulai.
Sedangkan observer dari teman sejawat mahasiswa memiliki peran dalam menilai
dari hasil pengamatan dengan lembar observasi yang telah disiapkan oleh dosen. Pihak
observer menilai dari awal sampai akhir yang ditampilkan oleh guru model, masing-masing
guru model diamati dan dinilai oleh 2 observer (teman sejawat)
1. Mencatat hasil penilaian dari guru model sesuai dengan rubrik penilian
2. Memberikan masukan kepada guru model terkait apa yang perlu ditingkatkan
3. Mencatat hasil observasi sedetail mungkin dan disampaikan setelah guru model
selesai mengajar (praktik)
Peran dosen disini membantu untuk mengembangkan kemampuan mengajar guru
model Perihal ini searah dengan riset yang dicoba oleh (Sri Irawati & Irdam Idrus, 2019)
bahwa tugas dosen memiliki paradigma memperkaya tentang membelajarkan mahasiswa
sehingga mampu memosisikan mahasiswa dalam pembelajaran.
Instrument penilaian yang digunakan tersebut berisikan butir-butir indikator
keterampilan yang meliputi: a). Kehadiran. b). Tugas akhir, video pembelajaran. c).
Kesiapan, documen dan penguasaan materi ajar. d). Kemampuan membuka dan menutup
kelas. e). Kemampuan menguasai kelas. f). Kemampuan komunikasi(penggunaan bahasa).
Penilaian micro teaching STKIP PGRI Lumajang dilakukan dengan cara adil serta
objektive (global) oleh team evaluasi. Evaluasi micro teaching memakai pendekatan
authentic assessment ialah dengan memperhitungkan kesiapan mahasiswa serta aplikasi
micro teaching dengan cara utuh. Adapun metode evaluasi praktek micro teaching memakai
lembar evaluasi yang sudah dibuat oleh dosen. Pihak yang memperhitungkan ialah dosen
serta mahasiswa (observer). Tiap diakhir praktek guru model pada mata kuliah micro
teaching dosen yang sudah memberikan masukan atau saran pada para mahasiswa yang
sudah maju pada praktek micro teaching, tujuannya supaya pada pertemuan selanjutnya
praktikan micro teaching lebih baik.
pertanyaan, pengelolaan kelas, mengevaluasi dan menutup pembelajaran, semua aspek itu
untuk mengukur kualitas mengajar guru model. Dosen memiliki peran dalam membimbing,
mengarahkan, menyarankan, mengembangkan karakter keguruan mahasiswa dan menilai
hasil penampilan guru model, sedangkan observer dari teman sejawat mahasiswa. Sistem
penilaian yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran micro teaching fokus utama dari
rubrik dan aspek kompetensi pedagodi serta professional keguruan, hal ini telah dilakukan di
lingkungan kampus untuk meningkatkan kualitas mengajar mahasiswa.
Daftar Rujukan
Asmita, E., Witarsa, & Warneri. (2019). Analisis Kompetensi Guru Dalam Proses Pembelajaran
Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di Sma. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran …, 8(12), 1–
8.
[Link]
[Link]/jpdpb/article/viewFile/37786/75676584185
Betaubun, M., Fitriani, F., Rokhmah, D. E. L., & Manauhutu, F. Y. (2024). Persepi Manfaat Micro
Teaching Terhadap Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Dalam Aspek Pedagogik
Dan Kepribadian. JURNAL PENDIDIKAN DASAR PERKHASA: Jurnal Penelitian
Pendidikan Dasar, 10(1), 317–328. [Link]
Mukroni, S. (2017). Pengaruh Kualitas Pembelajaran Guru Ekonomi terhadap Kepuasan Siswa di
SMA Negeri 2 Sentajo Raya. Pekbis Jurnal, 9(2), 140–150.
Rahmah, M., Rosyid, A., Vonti, L. H., Yani, I., & Adela, A. (2024). Efektifitas pembelajaran
microteaching terhadap kemampuan kompetensi calon guru. Jurnal Pendidikan Dasar,
15(2), 316–323.
Rijali, A. (2018). Analisis Data Kualitatif. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 17(33), 81–95.
[Link]
Sholekah, W., Utomo, S. W., & Astuti, E. (2021). Pengaruh Praktik Pengalaman Lapangan Dan
Prestasi Belajar Terhadap Minat Menjadi Guru Akuntansi. JAK (Jurnal Akuntansi) Kajian
Ilmiah Akuntansi, 8(2), 213–222. [Link]
Sri Irawati, & Irdam Idrus. (2019). Peran Dosen Dalam Mengembangkan Karakter Mahasiswa.
Talenta Conference Series: Science and Technology (ST), 2(2), 800–810.
[Link]
Sukirman, D. (2012). Pembelajaran Micro-teaching. In Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama RI. Kementerian Agama RI. [Link]
10
Sutisnawati, A. (2017). Analisis Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Calon Guru Sekolah
Dasar. Jurnal MPD, 8(1), 15–24.
Suwarto, S. (2005). Pengaruh Ukuran Sampel dari Model Logistik terhadap Estimasi
Parameter Item. Jurnal Pendidikan, 14(2).
Suwarto, S. (2012). Tingkat Kesulitan, Daya Beda, dan Reliabilitas Tes Menurut Teori Tes
Klasik. Jurnal Pendidikan, 16(2).
Suwarto. (2013). Difficulty, Difference, and Reliability Level of New Student Selection
Test for Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo University. National Seminar on
Science Education. 652- 658.
Suwarto. (2013). Pengembangan Tes Diagnostik Dalam Pembelajaran. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Suwarto. (2016). The Biology Test Characteristic of 7th Grade by The Period of The Odd