Analisis Produksi dan Impor Beras Indonesia
Analisis Produksi dan Impor Beras Indonesia
Abstrak. Produksi beras di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dan produksi
beras lebih besar daripada konsumsi masyarakat akan beras. Walaupun surplus beras di dalam
negeri namun Indonesia masih tetap melakukan impor beras. Tujuan dari penelitian ini adalah
menganalisis perkembangan produksi beras dan impor beras di Indonesia. Pendekatan penelitian
dengan menggunakan pendekatan deskriptif, dengan menggunakan data skunder yang bersumber
dari BPS. Hasil penelitian ini adalah bahwa perkembangan produksi beras dari tahun 2007-2018
berfluktuasi meningkat. Dimana produksi beras dapat mencukupi besarnya konsumsi di dalam
negeri, tetapi Indonesia masih juga impor beras. Perkembangan impor beras tahun 2007-2016
berfluktuasi meningkat. Di tahun 2017 impor beras mengalami penurunan yang sangat tinggi
sebesar -76,21% dimana impor beras sebelumnya tahun 2016 sebesar 1.283.178,5 ton menjadi
305.274,6 ton. Untuk mengurangi impor beras perlu adanya kebijakan yang dilakukan pemerintah,
bukan dari sisi produksi saja yang perlu ditingkatkan akan tetapi dari pembenahan sisi konsumsi
yaitu dengan cara mendorong masyarakat secara persuasif untuk mengkonsumsi sumber pangan
lain seperti sagu, singkong, ubi jalar, dan lain sebagainya yang menjadi potensi pangan lokal di
Indonesia.
SNK © 2019
Published by UMSU
Press. This is an open
access article under the
CC BY-NC-ND
license
.([Link]
[Link]/licenses/by-nc-
nd/4.0/).
219
Medan, 5 Oktober 2019
PUSKIBII (Pusat Kewirausahaan , Inovasi dan Inkubator Bisnis )
Fakultas Ekonomi Dan Binis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Proseding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 2019, hal 219-226
Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN 2714-8785
DOI: [Link]
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam yang tersebar di seluruh
wilayah Indonesia. Indonesia juga termasuk negara agraris, dimana pertanian merupakan sektor
yang memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari
banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang bekerja pada sektor pertanian dan bagaimana sektor
pertanian tersebut mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia (Siringo et al., 2014).
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang yang menghadapi persoalan di bidang
pertanian, khususnya persoalan pangan. Pangan adalah kebutuhan dasar yang paling esensial bagi
manusia untuk mempertahankan hidup. Tidak adanya pangan manusia tidak mungkin dapat
melangsungkan hidup dan kehidupannya dan bermasyarakat (Sari, 2014). Pemenuhan kebutuhan
pangan yang cukup merupakan salah satu penentu bagi tercapainya ketahanan pangan nasional.
Pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia adalah kebutuhan akan beras.
Sebagian besar dari penduduk Indonesia masih membutuhkan beras sebagai makanan
pokoknya. Semakin bertambahnya jumlah penduduk suatu daerah akan meningkatkan besarnya
konsumsi pangan suatu daerah sedangkan berkurangnya lahan persawahan yang berubah fungsi
menjadi perumahan atau industri dan juga adanya perubahan struktur ekonomi dari agraris ke non
agraris akan mengakibatkan turunnya produksi padi. Hingga saat ini Indonesia belum mampu
memenuhi kebutuhan beras dalam negeri sehingga masih tergantung pada impor (Sanny, 2010).
Dalam hal ketahanan pangan untuk mencapai swasembada beras menjadi prioritas
pemerintah dalam kebijakan pembangunan pertaniannya. Kebijakan swasembada beras merupakan
salah satu kebijakan utama pembangunan pertanian dan dinilai telah meningkatkan produksi beras
dan pendapatan petani. Selama beberapa dekade Indonesia telah berjuang untuk mencapai
swasembada beras namun hanya berhasil di pertengahan tahun 1980-an dan tahun 2008-2009 yang
lalu. (Sri Endang Rahayu, Mukmin Pohan, 2016)
Konteks ketahanan pangan tidak hanya menyangkut masalah ketersediaan bahan pangan
pokok bagi masyarakat saja, tetapi meliputi pula bagaimana akses kepemilikan dan akses terhadap
pangan itu oleh setiap anggota masyarakat. Dalam hal pemenuhan kebutuhan beras di Indonesia
menghadapi dilema antara upaya mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri dengan cara
peningkatan produktivitas dan impor beras, dengan upaya menjaga kestabilan harga beras agar tetap
terjangkau oleh semua pihak (Sari, 2014).
Pada tahun 1984-1986 Indonesia pernah menjadi swasembada beras sedangkan sekarang
menjadi negara pengimpor beras. Tahun 2005 Indonesia merupakan negara peringkat ketiga sebagai
produsen beras terbesar setelah China dan India. Hal ini menunjukkan betapa besarnya padi yang
dihasilkan oleh Indonesia pada waktu itu. Indonesia sempat menjadi salah satu negara produsen padi
terkemuka di dunia. Di tahun 2014, Indonesia menjadi produsen beras terbesar di dunia setelah
China dan India (Sri Endang Rahayu, Mukmin Pohan, 2016). Tetapi beberapa tahun terakhir
Indonesia perlu mengimpor sekitar 3 juta ton beras setiap tahunnya, terutama dari Thailand dan
Vietnam, untuk mengamankan cadangan beras negara (Febriaty, 2016).
Berikut data lima negara produsen beras terbesar dunia pada tahun 2014 (Sri Endang Rahayu
dan Mukmin Pohan, 2015) :
220
Medan, 5 Oktober 2019
PUSKIBII (Pusat Kewirausahaan , Inovasi dan Inkubator Bisnis )
Fakultas Ekonomi Dan Binis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Proseding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 2019, hal 219-226
Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN 2714-8785
DOI: [Link]
Indonesia merupakan urutan ketiga sebagai produsen beras terbesar di dunia setelah China dan
India, dimana Indonesia menghasilkan produksi beras sebesar 70.600.000 Ton per tahun. Produksi
beras dalam negeri diharapkan dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakat Indonesia karena
dengan berhasilnya pemenuhan beras dalam negeri berarti pemerintah tidak memerlukan tindakan
untuk mengimpor beras dari negara lain.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa produksi padi di Indonesia menurut provinsi 5
tahun terakhir dari kurun waktu 2014-2018 meningkat dari tahun ke tahun, dengan persentasi
peningkatan yaitu sebesar 2,33%. Jawa Timur adalah propinsi yang paling besar menghasilkan beras
sebesar 13.000.475 ton di tahun 2018 dan disusul oleh Jawa Barat yang menghasilkan beras sebesar
12.494.919 ton di tahun 2018.
Indonesia yang mempunyai berbagai potensi dan persoalan yang berkaitan dengan pangan,
sehingga sangat menarik untuk melakukan pengamatan. Perkembangan sektor pertanian di lahan
pasang surut, pertambahan jumah penduduk, pemerataan pembangunan, peningkatan produktivitas
dan taraf hidup masyarakat. Pemamfaatan dan pengembangan lahan pasang surut secara optimal
akan memberikan sumbangan besar terhadap pencapaian dan pelestarian swasembada pangan
khususnya beras.
Beras adalah komoditas strategis dan merupakan pangan pokok bangsa Indonesia. Konsumsi
beras setiap tahun selalu meningkat seiring dengan laju penambahan jumlah penduduk. Upaya untuk
mengurangi laju konsumsi beras dengan aneka ragaman pangan lokal tetapi tampaknya selalu
mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah kebijakan untuk tetap menjaga besaran
stok cadangan beras nasional yang mencukupi untuk masa satu sampai tiga bulan ke depan.
Cadangan beras tersebut berguna dalam keadaan darurat seperti bencana alam, gagal panen,
paceklik untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga pangan dalam negeri tersebut. Kekurangan
cadangan makanan membuat pemerintah mengadakan impor beras dari negara yang berpenghasil
beras, seperti negara Vietnam dan Thailand.
Kegiatan ekspor impor berguna untuk meningkatkan perekonomian suatu negara dan
meningkatkan hubungan luar negeri antara kedua negara yang melakukan kegiatan ekspor impor
tersebut. Indonesia melakukan kegiatan ekspor impor untuk memenuhi akan kebutuhan pangan
dalam negerinya agar tercipta stabilitas pasokan dan harga pangan dalam negeri.
Beras merupakan komoditi utama di negara Indonesia. Indonesia berada di peringkat ketiga
produsen padi terbesar. Pernyataan itu membuktikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara
penghasil padi terbesar di dunia. Faktanya Indonesia mengimpor beras dari luar negeri, karena
pemerintah tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan untuk masyarakat Indonesia.
221
Medan, 5 Oktober 2019
PUSKIBII (Pusat Kewirausahaan , Inovasi dan Inkubator Bisnis )
Fakultas Ekonomi Dan Binis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Proseding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 2019, hal 219-226
Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN 2714-8785
DOI: [Link]
Inilah pentingnya dengan adanya perdagangan internasional, dimana suatu negara yang
kekurangan barang di dalam negeri dapat mengimpor barang dari luar negeri. Perdagangan
internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk lain
atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu-
individu), antar individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah satu negara dengan
pemerintah negara lain (Sri Endang Rahayu dan Mukmin Pohan, 2015).
Menurut (Tambunan, 2001), perdagangan internasional adalah perdagangan antara atau lintas
negara yang meliputi kegiatan ekspor dan impor. Perdagangan internasional dibagi menjadi dua
kategori, yakni perdagangan barang dan perdagangan jasa.
Kebijakan impor beras di Indonesia dilakukan oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik
(Perum BULOG). Perum BULOG merupakan lembaga pemerintah yang bertugas untuk
menyediakan stok pangan bagi masyarakat pada harga yang terjangkau di semua daerah,
mengendalikan harga pangan di tingkat produsen dan konsumen, melaksanakan pengamanan Harga
Pembelian Pemerintah (HPP), mengelola cadangan pangan pemerintah, dan distribusi pangan pokok
bagi golongan masyarakat miskin (raskin). Dari latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka
tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menganalisis perkembangan produksi beras di Indonesia dan
2. Menganalisis perkembangan impor beras di Indonesia.
222
Medan, 5 Oktober 2019
PUSKIBII (Pusat Kewirausahaan , Inovasi dan Inkubator Bisnis )
Fakultas Ekonomi Dan Binis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Proseding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 2019, hal 219-226
Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN 2714-8785
DOI: [Link]
Produksi beras periode tahun 2007-2017 berfluktuasi meningkat. Hanya pada tahun 2011 dan
2014 mengalami penurunan yaitu sebesar -1,09% dan -0,60%. Pertumbuhan produksi beras yang
paling besar terjadi pada tahun 2009 sebesar 13,22%. Pada masa awal pemerintahan Jokowi di tahun
2015 sampai tahun 2017 produksi beras mengalami peningkatan. Ini adalah hasil konsistensi
program peningkatan produksi beras dengan adanya bantuan benih, pendampingan, alat mesin
pertanian, jaminan harga untuk petani serta embung dengan menampung air hujan di musim hujan
dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.
Bila dilihat dari sisi konsumsi beras, konsumsi beras terus mengalami peningkatan dimana
trend yang terjadi selalu mengikuti pertumbuhan jumlah penduduk setiap tahunnya. Data BPS
menunjukkan penduduk Indonesia tahun 2018 mencapai 265 juta jiwa atau meningkat sebesar 12,8
juta jiwa dibanding jumlah penduduk tahun 2014 yang berjumlah 252,2 juta jiwa. Jika di rata-rata,
jumlah penduduk bertambah 3,2 juta jiwa atau tumbuh 1,27% per tahun.
Jika dihitung dari tingkat konsumsi beras per kapita, ternyata dari data BPS menunjukkan
penurunan. Tahun 2017 konsumsi beras adalah sebesar 114,6 kg per kapita per tahun, sementara
tahun sebelumnya mencapai 124,89 kg per kapita per tahun. Bandingkan dengan rerata konsumsi di
China yang hanya 90 kg, India 74 kg, Thailand 100 kg dan Philipina 100 kg (Sri Endang Rahayu,
Mukmin Pohan, 2016). Jika dilihat dari data total konsumsi beras di tahun 2018 mengalami
peningkatan yaitu menjadi 33.470.000 ton dibandingkan tahun 2015 sebesar 33.300.000 ton. Ini
disebabkan karena jumlah penduduk semakin meningkat di tahun 2018 yang mencapai 265 juta
jiwa.
223
Medan, 5 Oktober 2019
PUSKIBII (Pusat Kewirausahaan , Inovasi dan Inkubator Bisnis )
Fakultas Ekonomi Dan Binis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Proseding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 2019, hal 219-226
Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN 2714-8785
DOI: [Link]
Begitu juga dengan kebutuhan akan beras di Indonesia, setiap tahunnya untuk memenuhi
kebutuhan beras, Indonesia sampai tahun 2017 masih tetap impor beras walaupun sudah mengalami
penurunan di tahun 2017.
Jumlah impor mengalami fluktuasi dari periode tahun 2007 sampai tahun 2017. Pada tahun
2011 mengalami pertumbuhan impor beras yang paling besar sebesar 300% atau 2750476,2 ton,
tetapi mengalami penurunan di tahun 2012 dan 2013 masing-masing sebesar -34,18% (1810372,3
ton) dan -73,89% (472664,7 ton) dan impor beras mengalami penurunan yang cukup besar di tahun
2017 yaitu sebesar -76,21% atau menjadi 305274,6 ton.
224
Medan, 5 Oktober 2019
PUSKIBII (Pusat Kewirausahaan , Inovasi dan Inkubator Bisnis )
Fakultas Ekonomi Dan Binis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Proseding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 2019, hal 219-226
Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN 2714-8785
DOI: [Link]
Jika impor beras dilihat menurut negara asal, Indonesia mengimpor beras yang paling banyak
dari tahun 2010 sampai tahun 2016 adalah Vietnam, Thailand dan India sedangkan tahun 2017 yang
terbanyak dari Thailand, Pakistan dan India. Faktor yang menyebabkan peningkatan impor beras
adalah stok beras yang belum mencukupi kebutuhan/konsumsi masyarakat. Menurut (Sanny, 2010)
“Kebutuhan beras nasional tidak terpenuhi oleh produksi beras dalam negeri karena itu kita masih
selalu mengimpor beras. Padahal dari data yang ada bahwa produksi beras lebih besar dibandingkan
dengan konsumsi beras. Hingga tahun 2018 konsumsi beras Indonesia sebesar 33.470.000 ton
sementara produksi beras mencapai 46.500.000 ton. Ada surplus beras sebesar 13.030.000 ton.
Namun Indonesia masih juga mengimpor beras dari negara lain terutama dari Thailand dan Pakistan
di tahun 2018 sebesar 305.247,6 ton.
Kebijakan impor beras inilah yang selalu menimbulkan perdebatan publik. Berbagai respon
masyarakat ketika pemerintah melakukan impor beras. Berbagai komentar baik yang pro maupun
kontra dilontarkan di berbagai media. Salah satu penyebab masih impor beras adalah untuk
cadangan beras karena adanya faktor cuaca. Seperti yang terjadi pada tahun 2015 anomali cuaca
akibat EI Nino yang memperparah kondisi kebutuhan pangan yang menyebabkan produksi beras
menurun. Kemudian faktor yang lain untuk stok beras dan stabilitas pangan yaitu banyaknya lahan
sawah yang beralih fungsi, seperti menjadi pemukiman penduduk dan berubah menjadi industri-
industri. Namun kebijakan impor ini juga akan menjadi ancaman bagi kedaulatan pangan nasional
karena terlalu menggantungkan kebutuhan dasar pada negara lain.
Alasan pemerintah mengapa impor beras adalah agar harga beras didalam negeri tetap stabil.
Walaupun ada pendapat yang mengatakan naiknya harga beras disebabkan ulah oknum spekulan.
Memang tidak dipungkiri, ketergantungan masyarakat terhadap beras yang sangat besar,
menyebabkan para oknum dapat dengan mudah mempermainkan harga pasar. Harga beras yang
tinggi tidak bisa kita lihat sebagai keuntungan bagi petani, tetapi harus dilihat dari sisi kerugiannya
karena petani tidak hanya berperan sebagai produsen tetapi juga berperan sebagai konsumen.
Menurut penulis permasalahan akan kebutuhan pangan terutama beras harus dibenahi baik
dari sisi produksi maupun dari sisi konsumsi. Upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi padi
selama ini selalu menghadapi kendala seperti serangan hama, perubahan iklim, konversi lahan
sawah, berkurangnya kesuburan tanah dan sumber air terbatas yang menghambat dalam peningkatan
produksi padi.
Meskipun data produksi padi meningkat setiap tahun, tetapi harga beras terus bergejolak naik
dapat menjadi sinyal bahwa selama ini produksi lebih kecil dari jumlah konsumsi sedangkan
konsumsi beras akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Untuk
mencukupi kebutuhan pangan penduduk dengan meningkatkan produksi hanya akan dicapai dalam
jangka pendek tetapi dalam jangka panjang tantangan peningkatan produksi akan lebih besar. Oleh
sebab itu tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi tetapi juga harus diikuti dengan
membenahi sisi konsumsi. Pemerintah perlu mendorong masyarakat secara persuasif untuk
mengkonsumsi sumber pangan lain seperti sagu, singkong, ubi jalar, dan lain sebagainya yang
menjadi potensi pangan lokal di Indonesia.
SIMPULAN
1. Produksi beras dari tahun 2007-2018 berfluktuasi meningkat yang besarnya melebihi
kebutuhan/konsumsi beras di dalam negeri.
225
Medan, 5 Oktober 2019
PUSKIBII (Pusat Kewirausahaan , Inovasi dan Inkubator Bisnis )
Fakultas Ekonomi Dan Binis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Proseding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 2019, hal 219-226
Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN 2714-8785
DOI: [Link]
2. Impor beras dari tahun2007-2018 berfluktuasi menurun. Meskipun surplus beras namun
Indonesia masih impor beras dari negara lain.
3. Perlu adanya kebijakan dari pemerintah untuk mengurangi impor beras yaitu bukan dari sisi
produksi saja tetapi dari sisi konsumsi.
REFERENSI
Febriaty, H. (2016) ‘Analisis Perkembangan Impor Beras Di Indonesia’, EKONOMIKAWAN: Jurnal
Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, 16(2), pp. 134–141. doi:
10.30596/ekonomikawan.v16i2.941.
Sanny, L. (2010) ‘Analisis Produksi Beras di Indonesia’, Binus Business Review, 1(1), p. 245. doi:
10.21512/bbr.v1i1.1072.
Sari, R. K. (2014) ‘Analisis Impor Beras di Indonesia’, 3(2), p. 320. Available at:
[Link]
Siringo, H. B. et al. (2014) ‘Analisis Keterkaitan Produktivitas Pertanian Dan Impor Beras Di
Indonesia’, Jurnal Ekonomi dan Keuangan, 2(8), pp. 488–499.
Sri Endang Rahayu, Mukmin Pohan, H. F. (2016) Perekonomian Indonesia. Medan: Perdana
Publishing.
Sri Endang Rahayu dan Mukmin Pohan (2015) Ekonomi Internasional. Medan: UMSU Press.
Swastika, D. K. . et al. (2007) ‘MELALUI EFISIENSI PEMANFAATAN LAHAN SAWAH dan
tadah hujan ) yang terus berlangsung di Jawa , sehingga pertumbuhan produksi kebutuhan
lahan untuk perumahan dan areal pabrik . Irawan ( 2003 ) melaporkan’, Jurnal Analisis
Kebijakan Pertanian, 5(1), pp. 36–52.
Tambunan, T. T. (2001) Transformasi Ekonomi di Indonesia. Jakarta. Jakarta: Salemba Empat.
226
Medan, 5 Oktober 2019
PUSKIBII (Pusat Kewirausahaan , Inovasi dan Inkubator Bisnis )
Fakultas Ekonomi Dan Binis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara