| Vol. 3 No.
1 (2022)
167-178
Edukasi Pra Nikah sebagai Upaya Pencegahan Perceraian
Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif
Pre-Marriage Education as an Effort to Prevent Divorce
in Perspective of Islamic Law and Positive Law
Article history:
Riha Nadhifah Minnuril Jannah1, Ardillah Halim 2
12 Submitted: 24 Feb 2022
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta
Approved: 9 Apr 2022
rihanadhifah.1602@[Link] Published: 20 Apr 2022
Abstract: Marriage in the perspective of Islamic law or positive law is a sacred thing that must
be carried out as well as possible, there are several conditions that must be met as a form of
selection or a person's level of appropriateness to be eligible for marriage. The purpose of this
study seeks to explore what factors can be caused or occur as a result of pre-marital education,
as well as in the view of positive law or Islamic law. This research method is a literature study
by collecting various data related to cases of young marriage or early marriage. The results of
the study show that there are at least 3 basic points that must be prepared by someone, or
become the basis of pre-marital education, namely physical readiness, mental readiness, and
one's economic readiness. All three are basic preparations that must be prepared by someone
before getting married. If these factors are not met, they also have the potential to lead to
divorce cases, so it is important to observe them as a form of anticipation to maintain harmony
in a relationship.
Keywords: divorce; marriage; pre-marriage education; readiness.
Abstrak: Pernikahan dalam perspektif hukum Islam ataupun hukum positif merupakan sebuah
hal sakral yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, terdapat beberapa syarat yang
harus dipenuhi sebagai bentuk seleksi atau tingkat kepantasan seseorang untuk layak
melangsungkan pernikahan. Tujuan dalam penelitian ini berupaya untuk menggali faktor-
faktor apa saja yang dapat ditimbulkan akibat adanya edukasi pra nikah, serta dalam
pandangan hukum positif ataupun hukum Islam. Metode penelitian ini menggunakan studi
literatur dengan mengumpulkan berbagai data yang berhubungan dengan kasus pernikahan
usia muda atau pernikahan dini. Hasil penelitian menunjukkan setidaknya terdapat 3 poin
mendasar yang harus disiapkan oleh seseorang dari edukasi pra nikah, yaitu kesiapan fisik,
kesiapan mental, dan kesiapan ekonomi. Ketiganya menjadi hal dasar yang harus disiapkan
oleh seseorang sebelum melangsungkan pernikahan. Faktor-faktor tersebut jika tidak
terpenuhi juga berpotensi mengakibatkan kasus perceraian, sehingga penting untuk dicermati
sebagai bentuk antisipasi untuk menjaga keharmonisan dalam sebuah hubungan.
Kata kunci: edukasi pra nikah; kesiapan; perceraian; pernikahan.
P-ISSN 2715-7997 E-ISSN 2716-0750 © 2022 The Author(s).
Published by LP2M INSURI Ponorogo. This is an open access article under the CC BY-SA 4.0 license.
doi: [Link]
167
Edukasi Pra Nikah sebagai Upaya Pencegahan Perceraian
Riha Nadhifah Minnuril Jannah, Ardillah Halim.
Pendahuluan
Pernikahan pada dasarnya merupakan sebuah pengakuan atas jalinan yang terjadi antara laki-
laki dan perempuan dengan sebuah ikatan yang sah. Di Indonesia aturan tentang pernikahan
mengacu pada undang-undang hukum positif ataupun ketentuan yang berlaku pada syariat
hukum Islam bagi umat muslim. Keduanya memberikan aturan mengenai syarat dan batasan
sebuah pernikahan agar dapat dilaksanakan. Meskipun sedikit memiliki perbedaan, namun
keduanya sama-sama mengatur mengenai arti pentingnya menjaga hubungan dalam sebuah
pernikahan. Sesungguhnya tujuan dalam ikatan pernikahan bertujuan untuk menjalin hubungan
yang bahagia dunia akhirat, serta berupaya untuk menghindari segi negatif seperti perceraian
yang terjadi (Nurkholis, 2018).
Menjaga hubungan dalam sebuah pernikahan adalah hal penting, ini merupakan bentuk
upaya untuk mengantisipasi hal buruk yang terjadi pada pernikahan, yaitu sebuah perceraian
atau perpisahan. Fenomena perpisahan dalam sebuah pernikahan sering ditemukan baik dalam
pasangan yang telah matang dari segi usia, ataupun pasangan yang masuk ke dalam kategori
usia muda. Sebagai bentuk upaya pencegahan atas dampak buruk dalam pernikahan, maka
diperlukan sebuah edukasi mengenai pernikahan. Harapannya dengan edukasi tersebut dapat
memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang sebuah pernikahan, serta menjadi
pengalaman baru bagi masyarakat yang masih hendak menikah agar lebih mengetahui tentang
arti pernikahan (Musyarrafa & Khalik, 2020).
Edukasi mengenai sebuah pernikahan menjadi sebuah poin penting yang harus
dilaksanakan, baik secara formal melalui lembaga pemerintah yang ditunjuk, secara informal
melalui keluarga, ataupun non formal. Terdapat pemberian edukasi tentang pernikahan yang
dapat dilaksanakan sebagai modal atau edukasi pra nikah. Edukasi ini dapat berupa pembinaan
yang mampu mengarahkan dalam kesiapan seseorang dalam melangsungkan pernikahan,
terlepas pernikahan usia muda dalam status diversi (pernikahan di bawah usia yang ditentukan
undang-undang) ataupun pernikahan memang usia muda yang sah secara ketentuan undang-
undang (Nadeak et al., 2019).
Edukasi tentang pernikahan, pada dasarnya dapat dilaksanakan dengan berbagai cara
beragam. Salah satunya upaya yang seringkali disebut dengan pendidikan pra nikah dalam
sebuah pernikahan. Pendidikan pra nikah tentunya dapat dilaksanakan oleh semua pihak, tanpa
terkecuali orang tua atau kerabat dekat. Upaya edukasi ini dapat menjadi sebuah hal yang sangat
efektif, namun juga tergantung dengan sejauh mana tingkat kepedulian orang tua. Pemahaman
orang tua sebagai edukasi informal atau non formal tentang pernikahan menjadi hal penting,
jika pemahaman orang tua rendah, maka juga akan sulit dalam memberikan pemahanan, serta
jika pemahaman orang tua bagus, maka juga akan berimbas kepada pemahaman anak (Maulida
& Safrida, 2020).
Ketentuan atau dasar tentang pernikahan sendiri pada hukum positif yang terbaru, yaitu
tertuang dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang
168
| Vol. 3 No. 1 (2022)
167-178
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pada undang-undang ini secara mendasar
pernikahan harus dilaksanakan pada usia 19 tahun, baik bagi laki-laki atau perempuan.
Sedangkan salah satu ayat Al-Qur’an yang sering menjadi rujukan tentang pernikahan yaitu
pada Surah Ar-Rum ayat 21, yang mana terjemahan ayat tersebut berbunyi sebagai berikut:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan
untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia
menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
Hukum positif ataupun hukum Islam pada dasarnya telah menjelaskan edukasi tentang
pernikahan. Meskipun dalam taraf mendasar, namun hal ini juga menandakan bahwa
pernikahan merupakan sebuah hal yang harus dipelajari. Misalnya pada ketentuan undang-
undang secara tidak langsung muatan tersebut merupakan sebuah materi, begitu juga dalam
Surah Ar-Rum ayat 21, juga memberikan penegasan-penegasan tentang keharusan yang ada
dalam sebuah pernikahan.
Pemberian edukasi dalam perspektif hukum Islam, sebenarnya juga tidak hanya terpaku
pada ayat Al-Qur’an saja melainkan juga terdapat beberapa hadis yang menjelaskan mengenai
edukasi pra nikah. Edukasi ini menjadi sebuah acuan dasar untuk memilih pasangan terbaik,
dalam beberapa hadis yang populer utamanya memberikan penjelasan ketika seorang laki-laki
memilih pasangannya ataupun seorang wanita memilih calon imamnya. Dalam perspektif Islam
telah memberikan pengajaran, dalam sebuah pernikahan juga harus dilaksanakan dengan proses
yang sesadar-sadarnya karena ikatan yang dijalankan merupakan sebuah hal sakral dalam
mencapai kebahagiaan (Fathur & Alfa, 2019).
Pemberian edukasi tentang pernikahan menjadi sebuah upaya dalam memberikan
pendidikan dan pengalaman, baik yang akan terjadi ataupun yang seharusnya dipersiapkan
dalam sebuah pernikahan. Hal ini juga berhubungan dengan kesiapan fisik, mental, dan
ekonomi seseorang. Kesiapan seseorang dalam menjalani sebuah pernikahan menjadi alasan
pentingnya edukasi pra nikah menjadi hal yang penting. Di sisi yang lain, edukasi pra nikah
juga menjadi hal yang dapat memberikan pemahaman tentang pergaulan bebas. Namun pada
konteks penelitian ini secara khusus pada sisi kesiapan seseorang untuk melangsungkan
pernikahan yang sesuai dengan ketentuan hukum positif dan hukum syariah (Indrawati et al.,
2021).
Konsep edukasi pra nikah diartikan sebagai upaya pemberian pemahaman tentang
pernikahan sebelum terjadinya akad. Pemberian edukasi pra nikah ini menjadi salah satu ujung
tombak, salah satu persiapan yang matang dalam melaksanakan pernikahan. Pemberian
pemahaman ini selayaknya dapat memberikan gambaran mengenai hal apa saja yang dapat
dilaksanakan dan hal apa yang dilarang dalam sebuah pernikahan. Edukasi pra nikah yang
dilaksanakan kepada seseorang juga merupakan sebuah bentuk pemberian pengalaman. Karena
dengan belum pernahnya seseorang melaksanakan sesuatu, maka penting untuk ditempa agar
mendapatkan pengalaman baru meskipun melalui pendidikan (Helmawati, 2014).
169
Edukasi Pra Nikah sebagai Upaya Pencegahan Perceraian
Riha Nadhifah Minnuril Jannah, Ardillah Halim.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa edukasi pra nikah menjadi proses atau upaya
penting yang dapat memberikan perubahan atau transformasi pengetahuan mengenai nilai-nilai
dan keterampilan tentang pernikahan. Konsep ini juga menjadi bentuk refleksi atas pemahaman
sebelum pernikahan dilakukan dan rancangan ketika telah dijalin sebuah pernikahan.
Pendidikan pra nikah menjadi hal penting sebagai pembelajaran dalam menjalani hubungan
yang harmonis. Secara mendasar yang harus dipahami dalam edukasi pra nikah yaitu tujuan
utama dalam pernikahan adalah untuk mencapai kebahagiaan, serta berjalan dengan ketentuan
aturan yang berlaku pada undang-undang ataupun hukum Islam.
Manfaat yang diharapkan dalam pendidikan pra nikah yaitu terbentuknya pemahaman
seseorang dalam menjalani ikatan atau hubungan dengan damai, bahagia, dan tentram. Pada
pandangan yang sederhana, keluarga bahagia tidak dapat terwujud tanpa adanya sebuah
pendidikan atau pengalaman dan kebiasaan yang baik. Maka dari itu edukasi pra nikah menjadi
sebuah dasar bagi seseorang sebelum melaksanakan sebuah pernikahan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Ramadhan yang
menjelaskan bahwa edukasi menjadi salah satu aspek penting, dalam penelitiannya yang
mengkaji edukasi pernikahan usia muda dan permasalahannya menjelaskan mengenai
pengalaman yang berhubungan dengan sebuah pernikahan, baik dari sisi Islam ataupun hukum
positif (Ramadhan et al., 2021). Penelitian yang dilaksanakan Permadi yang menjelaskan
mengenai pembentukan keluarga yang tangguh juga dimulai dari sebuah edukasi atau
pendidikan tentang pernikahan. Dengan edukasi yang diberikan, maka akan menjadi sebuah
pengalaman bagi pihak yang menerimanya. Dari kedua penelitian tersebut dapat dijelaskan
bahwa betapa pentingnya sebuah edukasi pra nikah sebagai bentuk upaya untuk menjaga
keluarga yang harmonis dan langgeng (Angga Permadi et al., 2021).
Perbedaan penelitian ini berada letak arti pentingnya edukasi dinilai dari sudut pandang
hukum positif ataupun hukum Islam. Kedua perspektif ini menunjukkan poin yang sama yaitu
sama-sama sepakat dan menyatakan pentingnya adanya sebuah edukasi awal tentang
pernikahan. Meskipun cara atau edukasi yang dilaksanakan memiliki perbedaannya masing-
masing sesuai dengan anjurannya. Pandangan dalam hukum positif ataupun hukum Islam pada
dasarnya juga mengajarkan mengenai konsep yang baik dalam sebuah pernikahan, termasuk
dengan berbagai aturan yang menjadi sebuah pedoman dalam melangsungkan ikatan
pernikahan.
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu membahas mengenai bagaimana pentingnya
edukasi pra nikah sebagai upaya mencegah perceraian dalam perspektif hukum positif ataupun
hukum Islam. Tujuan dalam penelitian ini berupaya untuk menggali faktor-faktor apa saja yang
dapat ditimbulkan akibat adanya edukasi pra nikah, serta dalam pandangan hukum positif
ataupun hukum Islam.
170
| Vol. 3 No. 1 (2022)
167-178
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi litetatur dengan tema edukasi pra
nikah sebagai upaya mencegah perceraian dalam perspektif hukum positif ataupun hukum
Islam dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, ayat Al-Qur’an tentang
pernikahan Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 21, Al-Qur’an Surah Ad-Dzariyat ayat 49, Al-Quran
Surah Al-Baqarah ayat 235, dan Al-Qur’an Surah Al-Furqon ayat 67, serta artikel ilmiah yang
relevan dengan kajian dalam penelitian ini.
Analisis data dalam penelitian ini mengacu pada konsep analisis deduktif yang sesuai
dengan prinsip studi literatur. Dengan prinsip analisis deduktif, maka kajian dimulai dari
masalah umum ke khusus. Artinya, peneliti mengumpulkan sebanyak-banyaknya artikel yang
mengkaji tentang edukasi pra nikah dan pernikahan dalam perspektif hukum positif dan hukum
Islam atau peneliti menggali data dan pengumpulan dilaksanakan secara umum dan luas terlebih
dahulu sebelum kemudian digali dan disimpulkan ke dalam bentuk khusus, yaitu menjawab
mengenai faktor-faktor apa saja yang dapat ditimbulkan atau terjadi akibat adanya edukasi pra
nikah, serta dalam pandangan hukum positif ataupun hukum Islam.
Hasil Penelitian
Edukasi pra nikah pada dasarnya menjadi sebuah langkah persiapan dalam hal menikah atau
ketika akan melangsungkan pernikahan. Meski demikian edukasi pra nikah merupakan sebuah
pendidikan yang harus dilaksanakan sedini mungkin, bisa diberikan dalam bangku sekolah
formal, nonformal, ataupun informal. Dampak edukasi pra nikah bukan sekadar memberikan
dampak positif bagi seseorang ketika nanti telah memiliki ikatan resmi atau pernikahan, namun
lebih luas lagi bagi kalangan remaja juga menjadi sebagai edukasi tentang seks diluar
pernikahan.
Kasus lemahnya edukasi pra nikah yang terjadi juga memberikan dampak pada tingginya
kasus seks bebas hingga tingginya kasus pernikahan usia dini atau masuk ke dalam pernikahan
yang melalui jalur dispensasi nikah. Ini menjadi sebuah persoalan dan menjadi arti pentingnya
sebuah edukasi pra nikah yang harus dilaksanakan. Banyak kasus pernikahan di luar ketentuan
hukum positif maupun hukum Islam yang terjadi. Pada konteks hukum positif yaitu pernikahan
yang terjadi tidak terpenuhinya syarat usia, sedangkan dalam segi hukum Islam faktor kesiapan
mental dan fisik seseorang yang belum terpenuhi (Natalia et al., 2021).
Langkah atau upaya edukasi pra nikah menjadi sebuah hal penting yang dapat menjadi
sebuah filter dan penyaring yang lebih ketat lagi bagi seseorang yang hendak melangsungkan
pernikahan. Dalam sudut pandang hukum Islam, secara sederhana pernikahan dapat
dilangsungkan ketika seseorang telah baligh, namun di sisi yang lain juga ditegaskan dalam
Islam bahwa pernikahan juga harus dilaksanakan dengan sadar, kesiapan jasmani dan rohani
yang siap, serta ditempuh dengan jalan yang baik. Maka dari uraian ini batasan usia pernikahan
171
Edukasi Pra Nikah sebagai Upaya Pencegahan Perceraian
Riha Nadhifah Minnuril Jannah, Ardillah Halim.
dalam Islam lebih mudah, namun dengan syarat dan ketentuan yang lebih sulit yang menjadi
tanggung jawab langsung kepada Allah Swt (Shufiyah, 2018).
Pada perspektif mendasar baik dalam hukum positif ataupun hukum Islam edukasi pra
nikah juga menjadi sebuah upaya untuk memberikan pemahaman mengenai usia yang tepat
bagi seseorang untuk dapat melangsungkan pernikahan. Kematangan usia menjadi faktor
penting yang dapat mempengaruhi berbagai faktor yang akan terjadi dalam sebuah pernikahan.
Maka ini menjadi hal penting, usia dapat memberikan dampak kepada berbagai faktor yang
dapat memicu kelangsungan sebuah ikatan dalam pernikahan. Meskipun bukan merupakan
jaminan namun batas usia dapat menjadi penentuan dasar tentang kesiapan seseorang dalam
melangsungkan ikatan pernikahan (Rahmawati, 2020).
Dari berbagai uraian tersebut kemudian edukasi pra nikah yang dilaksanakan menjadi
sebuah konsep perencanaan dan persiapan dalam pernikahan. Ini menjadi hal mendasar yang
penting dilaksanakan dalam memberikan pemahaman tentang pernikahan. Persiapan tersebut
nantinya akan menjadi sebuah hal penting, dalam melangsungkan sebuah ikatan resmi dalam
sebuah pernikahan. Perencanaan dan kesiapan dalam pernikahan pada dasarnya menjadi dasar
dalam persiapan fisik, mental, dan ekonomi bagi seseorang.
Edukasi Kesiapan Fisik
Pertama berhubungan dengan kesiapan fisik, kesiapan ini dalam berbagai faktor yang komplit,
mulai dari kematangan usia, kesehatan, hingga kesehatan alat reproduksinya. Persiapan ini tentu
akan memberikan dampak pada hubungan yang harmonis bagi seseorang. Karena ketika
seseorang tersebut akan menikah, maka terdapat banyak faktor fisik yang akan menjadi
penunjangnya.
Kesiapan fisik juga penting untuk dilakukan pemeriksaan, ini menjadi hal yang instan.
Namun dalam persiapan yang lebih jauh lagi tentu saja seseorang harus menjaga diri ketika
masih menyandang status lajang, sehingga ketika melaksanakan pernikahan dapat memberikan
kondisi fisik yang maksimal. Maka dalam menjaga kondisi fisik harus dilaksanakan sejak dini,
bahkan ketika masih remaja dan belum akan menikah (Najah et al., 2021).
Kesiapan kesehatan tenaga juga menjadi faktor penting, karena dalam melangsungkan
sebuah pernikahan seseorang juga harus melaksanakan pernikahan dengan mandiri tanpa
melibatkan pihak lain dalam urusan rumah tangganya. Karena suami atau istri memiliki
fungsinya masing-masing sebagai pasangan, yaitu suami berhak untuk menegur istri dan
memberikan kebutuhan jasmani dan rohani, sedangkan istri juga berhak untuk mendapatkan
nafkah lahir dan batin serta memiliki kewajiban untuk mematuhi suami. Maka mengacu ulasan
tersebut menjadikan hal yang penting arti dari kesehatan fisik pasangan suami istri yang harus
disiapkan dalam sebuah ikatan pernikahan (Abdurrahman et al., 2020).
172
| Vol. 3 No. 1 (2022)
167-178
Pemahaman mengenai konsep fisik dalam hukum Islam mengacu pada Al-Qur’an Surah
Ad-Dzariyat ayat 49 yang Artinya “Dan segala sesuatu itu Kami (Allah) jadikan berpasang-
pasangan, agar kamu semua mau berfikir.” Ayat tersebut memberikan gambaran tentang orang
berfikir, termasuk dalam pernikahan juga harus dilaksanakan dengan baik agar tercipta rasa
yang damai dan tentram, anjuran ayat tersebut kemudian menjelaskan dalam sebuah
perkawinan harus dan mutlak dibutuhkan sikap kematangan atau kedewasaan, baik fisik
maupun mental.
Konsep fisik dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan kemudian
dijelaskan mempelai laki-laki atau wanita kemudian diperbolehkan menikah pada usia 19 tahun.
Ketika seseorang yang menikah belum berusia 19 tahun maka akan terdapat persyaratan lain
karena masuk ke dalam kategori pernikahan di bawah umur, sehingga harus mengajukan
permohonan dispensasi kawin ke pengadilan agama. Perbandingan antara hukum Islam dan
hukum positif sama-sama menjelaskan tentang tujuan utama dalam sebuah pernikahan harus
memiliki kematangan agar ikatan yang dijalankan dapat berjalan dengan baik.
Kesehatan fisik tersebut pada dasarnya juga harus dijaga secara konsisten ketika
menjalani rumah tangga, sehingga kesehatan fisik ini bukan ketika pra nikah saja, melainkan
pasca nikah juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan agar kondisi keluarga tetap
berjalan harmonis. Dengan kondisi yang sehat, maka seluruh fungsi dalam rumah tangga akan
berjalan sebagaimana mestinya (Sunarti et al., 2021).
Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya edukasi kesiapan fisik
seseorang, hal ini akan dapat berguna bukan hanya ketika pra nikah saja melainkan pasca nikah.
Dengan kesadaran penuh mengenai faktor penting fisik dalam menunjang kehidupan sehari-
hari dalam menjalani rumah tangga, maka kondisi kesehatan menjadi hal penting. Jika terjadi
kondisi yang tidak sehat, maka penting untuk segera dilakukan tindakan pengobatan sebagai
upaya dalam menjaga kondisi fisik.
Edukasi Kesiapan Mental
Kesiapan mental menjadi faktor penting bagi seseorang yang harus tertata sebelum mengarungi
sebuah ikatan resmi berupa pernikahan. Mental akan erat berhubungan dengan kondisi batin
seseorang, ataupun sesuatu hal yang tidak terlihat dari kondisi seseorang. Mentalitas dalam
pernikahan akan menjadi sesuatu yang sangat penting yang mampu memberikan dampak
kepada pola pikir seseorang. Kondisi mental seseorang akan menentukan kelangsungan sebuah
hubungan, karena akan menjadikan seseorang lebih tenang dalam menghadapi berbagai
persoalan yang terjadi.
Kondisi mental juga akan memberikan dampak kepada kedewasaan seseorang, dalam
pernikahan pola pikir yang dewasa atau bijaksana menjadi penting. Dengan kedewasaan maka
seseorang akan memiliki kelebihan dalam cara berpikir dan mengambil tindakan tertentu.
173
Edukasi Pra Nikah sebagai Upaya Pencegahan Perceraian
Riha Nadhifah Minnuril Jannah, Ardillah Halim.
Dewasanya seseorang maka ia akan lebih bijak dalam mengambil keputusan dan ketika
membuat sebuah pilihan-pilihan terbaik dalam rumah tangganya (Wulandari et al., 2018).
Kesehatan mental menjadi sebuah keharusan, jika terjadi gangguan mental selayaknya
juga segera dilakukan upaya pengobatan dengan mendatangi seorang yang ahli dalam
bidangnya. Dengan mental yang baik, seseorang akan dapat menjalani kehidupannya
sebagaimana kehidupan normal yang dapat dilaksanakan pada umumnya. Sementara ketika
terjadi gangguan, ini dapat mengganggu dan memberikan dampak buruk pada sebuah hubungan
ataupun individual, khususnya dalam sebuah pernikahan (Disa Astrina & Prima, 2021).
Mental yang buruk akan memberikan dampak negatif kepada individu dalam menjalani
hubungannya, khususnya dalam menjalin hubungan pernikahan. Kesehatan mental yang tidak
stabil potensial menjadi seseorang hilang kontrol dan keluar dari batasannya. Dalam beberapa
kasus terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga yang diakibatkan oleh gangguan mental. Ini
kemudian menjadi masalah yang serius hingga terjadi perceraian bahkan hingga laporan
kepolisian pada ranah hukum (Israfil et al., 2021). Kesiapan mental tertulis dalam Al-Qur’an
Surah Al-Baqarah ayat 235 yang berarti
"Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu, dengan sindiran, atau
kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui
bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu nengadakan
janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada
mereka) perkataan yang ma'ruf. dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk
beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui
apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah
Mahapengampun lagi Mahapenyantun.”
Ayat tersebut menjelaskan mengenai prinsip meminang yaitu sangat dekat dengan
pemahaman mental seseorang, karena jika seseorang tersebut tidak dalam kondisi yang sadar
maka juga tidak akan memahami mengenai sebuah pinangan. Hal ini sejalan dengan Undang-
Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan yang menjelaskan mempelai laki-laki atau
wanita kemudian diperbolehkan menikah pada usia 19 tahun, pada usia ini mental seseorang
mulai tertata dengan baik termasuk secara psikologis.
Seseorang yang memiliki gangguan mental juga sangat potensial untuk terganggu
kesehatan dalam menjalani sebuah hubungan. Kondisi mental juga akan sangat berhubungan
erat dengan kondisi psikologis seserang, sehingga sangat penting kondisi kesehatan mental
seseorang dalam sebuah hubungan rumah tangga. Antara pasangan suami istri penting untuk
menjalani sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing. Jika dalam hal ini terjadi
kesalahan, maka akan berakibat buruk kepada kesehatan hubungan tersebut (Aini & Afdal,
2020).
Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mental menjadi bagian penting
dalam sebuah hubungan bahkan mental juga akan memberikan dampak kepada terjadinya
174
| Vol. 3 No. 1 (2022)
167-178
berbagai dampak buruk, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, hingga tidak berjalannya
fungsi rumah tangga dengan baik, sehingga sangat penting bagi sebuah pasangan untuk saling
menjaga kondisi mental, baik ketika masa pra nikah atau setelah resmi menjalani hubungan
suami istri dalam ikatan pernikahan yang sah sesuai hukum positif dan hukum syariah.
Edukasi Kesiapan Ekonomi
Kesiapan ekonomi menjadi faktor yang penting dalam sebuah hubungan rumah tangga, kondisi
ekonomi akan memberikan berbagai faktor, khususnya dalam aspek pemenuhan kebutuhan.
Tidak jarang karena gangguan kondisi ekonomi yang tidak siap memberikan dampak kepada
keharmonisan dalam rumah tangga, sehingga penting bagi seseorang untuk memahami aspek
kesiapan ekonomi sebelum melangsungkan pernikahan atau menjalin ikatan yang resmi.
Kondisi ekonomi meskipun tidak secara langsung berhubungan dengan internal
seseorang, namun kondisi ekonomi dapat memberikan pengaruh kepada kondisi atau keadaan
dalam menjalani sebuah hubungan. Pemenuhan kebutuhan yang tidak tercukupi dengan baik
akan menjadi pemicu ketidakpuasan, sehingga penting disadari bahwa salah satu faktor
terpenting yang harus disiapkan sebelum atau ketika telah menjalin ikatan yang resmi dalam
pernikahan adalah kondisi ekonomi (Syepriana et al., 2018).
Meskipun kondisi ekonomi bukan merupakan hal yang mutlak dan menjadi sebuah
keharusan atas kebahagiaan seseorang, namun juga ditemukan banyak kasus perceraian yang
bermula dari kondisi ekonomi yang tidak mapan. Banyaknya kasus tersebut kemudian menjadi
sebuah indikasi penting mengenai ekonomi dan kasus perceraian. Kondisi ekonomi sangat
berpengaruh dan menjadi pemicu tingginya kasus perceraian yang terjadi (Desliana et al.,
2021).
Konsep kemapanan kondisi ekonomi bagi seseorang yang hendak menjalankan
pernikahan tidak ditemukan secara rinci, namun anjuran mencari rezeki merupakan sebuah
keharusan bagi setiap manusia sesuai dengan Al-Qur’an Surah Al-Furqon ayat 67, ayat tersebut
memiliki arti “dan termasuk ciri dari hamba Allah yang Maha Pengasih, yang apabila
menginfakkan/membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, mereka
membelanjakannya di antara keduanya secara wajar.” Ayat tersebut secara umum menjelaskan
bahwa setiap manusia juga harus tetap berusaha untuk bekerja dan mencari rezeki.
Pandangan hukum positif melalui Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang
Perkawinan juga memberikan gambaran batasan usia minimal yaitu 19 tahun menjadi usia yang
dipandang telah memiliki kompetensi untuk bekerja. Ditambah pada usia ini seseorang remaja
juga telah memiliki identitas resmi penduduk. Secara persyaratan administrasi remaja usia di
atas 19 tahun dipandang telah memiliki persyaratan dan kompetensi yang dapat melaksanakan
sebuah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupannya.
175
Edukasi Pra Nikah sebagai Upaya Pencegahan Perceraian
Riha Nadhifah Minnuril Jannah, Ardillah Halim.
Persoalan dalam ekonomi yang dialami dalam sebuah hubungan juga akan memberikan
dampak buruk, misalnya ketika aspek pemenuhan kebutuhan tidak terpenuhi, maka ini akan
menjadi persoalan lahiriah oleh sebuah pasangan. Kesejahteraan ekonomi juga dapat menjadi
indikator dalam mengukur kebahagiaan seseorang. Dengan tolak tersebut, maka kondisi
ekonomi menjadi sebuah hal penting yang harus dipikirkan seseorang sebelum melaksanakan
atau memiliki ikatan resmi yaitu pernikahan (Arifin et al., 2022).
Dari berbagai uraian di atas kondisi ekonomi menjadi faktor penting yang harus terpenuhi
dengan baik dalam sebuah hubungan pernikahan. Persoalan ekonomi sangat rentan dalam
memicu terjadinya persoalan-persoalan lain dalam sebuah rumah tangga, sehingga hal ini harus
menjadi perhatian baik pada masa pra nikah ataupun ketika tengah menjalani hubungan suami
istri dalam ikatan rumah tangga.
Simpulan
Hukum positif ataupun hukum Islam sama-sama memandang persiapan dalam sebuah
pernikahan merupakan sebuah hal yang penting. Keduanya sama-sama sepakat bahwa
seseorang yang hendak menikah selayaknya mendapatkan edukasi mengenai pernikahan.
Setidaknya terdapat tiga hal mendasar yang harus disiapkan oleh seseorang, atau menjadi dasar
dari edukasi pra nikah yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental, dan kesiapan ekonomi seseorang.
Ketiganya menjadi kesiapan mendasar yang harus disiapkan oleh seseorang sebelum
melangsungkan pernikahan. Namun kesiapan tersebut juga harus tetap dijadikan sebuah
komitmen dan dijalankan secara konsisten meskipun tengah memasuki masa pasca nikah.
Referensi
Abdurrahman, F., Mudjiran, M., & Ardi, Z. (2020). HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA
TENTANG KELUARGA HARMONIS DENGAN KESIAPAN MENIKAH. Jurnal Neo
Konseling, 2(4). [Link]
Aini, H., & Afdal, A. (2020). Analisis Kesiapan Psikologis Pasangan dalam Menghadapi
Pernikahan. Jurnal Aplikasi IPTEK Indonesia, 4(2), 136–146.
[Link]
Angga Permadi, B., Ramiati, E., Alfani, R., Azizah, N., & MASYARAKAT TANGGUH
DESA BANYUANYAR KECAMATAN KALIBARU Benny Angga Permadi, D. DI.
(2021). EDUKASI PERNIKAHAN DINI UNTUK MEWUJUDKAN KELUARGA
DAN MASYARAKAT TANGGUH DI DESA BANYUANYAR KECAMATAN
KALIBARU. ABDI KAMI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 146–157.
[Link]
Arifin, I., Nurhidayat, A., Santoso, M. P., Elektronika, P., Surabaya, N., & Mekatronika, T.
(2022). PENGARUH PERNIKAHAN DINI DALAM KEHARMONISAN
176
| Vol. 3 No. 1 (2022)
167-178
KELUARGA. Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman, 8(2), 66–80.
[Link]
Asrori, A. (2015). BATAS USIA PERKAWINAN MENURUT FUKAHA DAN
PENERAPANNYA DALAM UNDANG-UNDANG PERKAWINAN DI DUNIA
MUSLIM. AL-’ADALAH, 12(2), 807–826.
[Link]
Desliana, D., Ibrahim, D., & Adil, M. (2021). Pandangan Tokoh Masyarakat terhadap
Pernikahan Dini pada Remaja Etnis Melayu di Kota Palembang. Intizar, 27(1), 17–31.
[Link]
Disa Astrina, Y., & Prima. A. (2021). Gambaran Kesiapan Mental Wanita yang Menikah
dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di Kota Bukittinggi. Jurnal Pendidikan
Tambusai, 5(3), 7236–7242. [Link]
Dyah, A. S. H. (2018). PERAN PENDIDIKAN PRA NIKAH DALAM MEMBANGUN
KESIAPAN MENIKAH DAN MEMBENTUK KELUARGA SAKINAH (Studi Kasus Di
Lembaga Klinik Nikah “KLIK” Cabang Ponorogo). Umpo Repository.
[Link]
Fathur, R., & Alfa, M. A. (2019). PERNIKAHAN DINI DAN PERCERAIAN DI
INDONESIA. Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS), 1(1), 49–56.
[Link]
Helmawati. (2014). Pendidikan Keluarga Teoretis dan Praktis. Remaja Rosdakarya.
Indrawati, S., Santosa, A. B., & Sasmita, A. R. (2021). Edukasi Kepada Masyarakat Tentang
Tata Cara Permohonan Dispensasi Kawin sebagai Upaya Perlindungan Hukum
Perkawinan Dibawah Umur. Surya Abdimas, 5(3), 199–204.
[Link]
Israfil, I., Salad, M., Aminullah, A., & Subakti, S. (2021). Penyuluhan Pra Nikah Dalam
Perspektif Islam Sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan Tentang Pernikahan Islam.
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service), 3(2), 92–98.
[Link]
Maulida, D., & Safrida, S. (2020). Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Pencegahan Seks
Pranikah. Jurnal Komunikasi Global, 9(1), 97–114.
[Link]
Musyarrafa, N. I., & Khalik, S. (2020). BATAS USIA PERNIKAHAN DALAM ISLAM;
Analisis Ulama Mazhab Terhadap Batas Usia Nikah. Shautuna: Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Perbandingan Mazhab Dan Hukum.
[Link]
Nadeak, B., Deliviana, E., Sormin, E., Naibaho, L., & Juwita, C. P. (2019). Pembinaan
Ketahanan Pernikahan dan Keharmonisan Keluarga dengan Tema “The Family
Relationship and Intimacy.” JURNAL Comunità Servizio : Jurnal Terkait Kegiatan
177
Edukasi Pra Nikah sebagai Upaya Pencegahan Perceraian
Riha Nadhifah Minnuril Jannah, Ardillah Halim.
Pengabdian Kepada Masyarakat, Terkhusus Bidang Teknologi, Kewirausahaan Dan
Sosial Kemasyarakatan, 1(2), 179–185. [Link]
Najah, U., Desyanty, E. S., & Widianto, E. (2021). Kontribusi Program Pembinaan Calon
Pengantin Terhadap Kesiapan Berumah Tangga Bagi Masyarakat Kota Malang. Aksara:
Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 7(3), 1303–1312.
[Link]
Natalia, S., Sekarsari, I., Rahmayanti, F., & Febriani, N. (2021). Resiko Seks Bebas dan
Pernikahan Dini Bagi Kesehatan Reproduksi Pada Remaja. Journal of Community
Engagement in Health, 4(1), 76–81. [Link]
Nurkholis. (2018). PENETAPAN USIA DEWASA CAKAP HUKUM BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG DAN HUKUM ISLAM. YUDISIA : Jurnal Pemikiran Hukum
Dan Hukum Islam, 8(1), 75–91. [Link]
Rahmawati. (2020). Batas Usia Minimal Pernikahan (Studi Komparatif Hukum Islam dan
Hukum Positif). Syakhsia : Jurnal Hukum Perdata Islam, 21(1), 85–110.
[Link]
Ramadhan, M. A., Yazid, F., Luthfiy, E. S., & Rosdiana, R. (2021). EDUKASI PERNIKAHAN
USIA MUDA DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN PERMASALAHANYA
MELALUI WEBINAR. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat LPPM UMJ.
[Link]
Shufiyah, F. (2018). Pernikahan Dini Menurut Hadis dan Dampaknya. Jurnal Living Hadis,
3(1), 47–70. [Link]
Sunarti, G. (2021). USIA MINIMAL KAWIN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 16
TAHUN 2019 ATAS PERUBAHAN UNDANG- UNDANG NOMOR I TAHUN 1974
TENTANG PERKAWINAN DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH MURSHALAH.
Qiyas : Jurnal Hukum Islam Dan Peradilan, 7(2).
[Link]
Syepriana, Y., Wahyudi, F., & Himawan, A. B. (2018). GAMBARAN KARAKTERISTIK
KESIAPAN MENIKAH DAN FUNGSI KELUARGA PADA IBU HAMIL USIA
MUDA. DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN
DIPONEGORO), 7(2), 935–946. [Link]
Wulandari, C. (2018). Pencegahan Meningkatnya Angka Pernikahan Dini dengan Inisiasi
Pembentukan Kadarkum di Dusun Cemanggal Desa Munding Kecamatan Bergas. Jurnal
Pengabdian Hukum Indonesia (Indonesian Journal of Legal Community Engagement)
JPHI, 1(1), 31–40. [Link]
178