Koreksi Ritual di Bulan
Rajab
Sekarang telah jelas bagi kita kemuliaan bulan Rajab,
dan tiga bulan yang lain. Allah melarang kita berbuat
keharaman di bulan haram ini, namun ada hal yang
sangat kita sayangkan, sebagian besar kaum muslimin
yang ingin mengisi bulan haram ini dengan ibadah dan
ketaatan tapi karena tidak tahu dan faktor lainnya
akhirnya mereka mengisi bulan haram ini dengan
berabgai kebid’ahan. Seharusnya dalam bulan haram ini
kita dibencinya berbuat kezaliman tapi kenyataannya
bulan haram telah dicoreng dengan kebid’ahan-
kebid’ahan yang marak dilakukan oleh sebagian kaum
muslimin sendiri. Marilah kita meningkatkan rasa takut
kepada adzab-adzab Allah. Semoga Allah memaafkan
kesalahan-kesalahan kita, dan semoga Allah menambah
ilmu dan pemahaman Islam yang benar kepada kita.
***
Koreksi Ritual di Bulan Rajab
ِإَّن اْلَح ْمَد ِللِه َنْح َمُدُه َوَنْس َتِعْيُنُه َوَنْس َتْغِفُرُه َوَنُعْوُذ ِباللِه ِمْن
ُش ُرْوِر َأْنُفِسَنا َوِمْن َس ِّيَئاِت َأْعَماِلَنا َمْن َيْهِدِه اللُه َفَال ُمِضَّل
َأْش َهُد َأْن َال ِإَلَه ِإَّال اللُه َوْحَدُه َال،َلُه َوَمْن ُيْضِلْل َفَال َهاِدَي َلُه
.َش ِرْيَك َلُه َوَأْش َهُد َأَّن ُمَح َّمًدا َعْبُدُه َوَر ُس ْوُلُه
َأ َأ
َيا ُّيَها اَّلِذْيَن آَمُنوا اَّتُقوا اللَه َح َّق ُتَقاِتِه َوَال َتُمْوُتَّن ِإَّال َو ْنُتْم
ُّمْس ِلُمْوَن
َأ
َيا ُّيَها الَّناُس اَّتُقوا َر َّبُكُم اَّلِذي َخ َلَقُكْم ِمْن َنْفٍس َواِحَدٍة
َوَخ َلَق ِمْنَها َز ْوَج َها َوَبَّث ِمْنُهَما ِرَج ااًل َكِثيًر ا َوِنَس اًء َواَّتُقوا اللَه
.اَّلِذي َتَس اَءُلوَن ِبِه َوْاَألْر َح اَم ِإَّن اللَه َكاَن َعَلْيُكم َر ِقيًبا
َأ
َيا ُّيَها اَّلِذيَن آَمُنوا اَّتُقوا اللَه َوُقوُلوا َقْواًل َس ِديًدا ُيْصِلْح َلُكْم
َأ
ْعَماَلُكْم َوَيْغِفْر َلُكْم ُذُنوَبُكْم َوَمْن ُيِطِع اللَه َوَر ُس وَلُه َفَقْد َفاَز
َعِظيًما َفْوًز ا
ْل ْل َأ َأ
َفِإَّن ْصَدَق ا َحِدْيِث ِكَتاُب اللِه َوَخ ْيَر ا َهْدِي َهْدُي:َّما َبْعُد
ُمَح َّمٍد َوَش َّر ْاُألُمْوِر ُمْحَدَثاُتَها َفِإَّن ُكَّل ُمْحَدَثٍة ِبْدَعٌة َوُكَّل
الَّلُهَّم َصِّل َوَس ِّلْم َعَلى.ِبْدَعٍة َضَالَلٌة َوُكَّل َضَالَلٍة ِفي الَّناِر
َأ
َعْبِدَك َوَر ُس ْوِلَك ُمَح َّمٍد َوَعَلى آِلِه َو ْصَح اِبِه َوَمْن َتِبَعُهْم
: َأَّما َبْعُد، ِبِإْح َس اٍن ِإَلى َيْوِم الِّدْيِن
KHUTBAH PERTAMA
Kaum muslimin, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Pada kesempatan kali ini, kami nasihatkan kepada diri
kami pribadi dan kepada seluruh kaum muslimin untuk
selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan sebenar-benar takwa.
Salah seorang ulama Tabi’in, Tholaq bin Habib
mengatakan, ketika beliau memahami arti takwa kepada
Allah. Beliau berkata, “Takwa adalah engkau beramal
dalam ketaatan kepada Allah di atas petunjuk dari Allah
dengan mengharap pahala dari Allah. Dan engkau
meninggalkan maksiat kepada Allah di atas petunjuk
dari Allah karena takut adzab Allah.”
Demikian makna takwa kepada Allah yang harus kita
tanamkan dalam dada kita, sehingga ketika mendengar
kalimat “bertakwalah” maka kita teringat perintah-
perintah Allah yang harus kita kerjakan dan larangan-
larangan Allah yang harus kita jauhi, di atas ilmu dan
iman dengan mengharap pahala dari takut siksa-Nya.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Allah telah melimpahkan kepada kita nikmat yang sangat
banyak. Di antara nikmat yang kita sering lupa
mensyukurinya adalah nikmat waktu dan kesempatan.
Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing,
sudahkah kita mengisi hari-hari kita dengan ketaatan
kepada Allah Ta’ala.
Ketahuilah wahai saudaraku! Sekarang ini kita berada di
bulan yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
mengharamkan kezaliman pada empat bulan yang
haram, bulan-bulan yang mulia. Perhatikanlah firman-
Nya pada surat At-Taubah ayat 36.
ِإَّن ِع َّدَة الُّش ُهْوِر ِع ْنَد اللِه اْثَنا َعَش َر َش ْهًر ا ِفْي ِكَتاِب اللِه َيْوَم
َأ َأل
َخ َلَق الَّس مَاَواِت َوْا ْرَض ِمْنَهآ ْر َبَعٌة ُح ُر ٌم َذِلَك الِّدْيُن اْلَقِّيُم
َفَالَتْظِلُمْوا ِفْيِهَّن َأْنُفَس ُكْم َوَقاِتُلوا اْلُمْش ِرِكْيَن َكآَّفًة َكَما
َأ
ُيَقاِتُلْوَنُكْم َكآَّفًة َواْعَلُمْوا َّن اللَه َمَع اْلُمَّتِقْيَن
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah
dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia
menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan
haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka
janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan
yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu
semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu
semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa.”
Yang dimaksud dengan empat bulan haram adalah Dzul
Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tafsir tentang
mulianya empat bulan ini ketika haji wada’, beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ِإَّن الَز َماَن َقِد اْس َتَداَر َكَهْيَئِتِه َيْوَم َخ َلَق اللُه الَس َمَواِت
الَس َنُة ِاْثَنا َعَش َر َش ْهًر ا ِمْنَها َأْر َبَعُة ُح ُر ٍم َثاَل ٌث، َواَألْرَض
ُذْو الَقْعَدِة َوُذْو الِحَّجِة َوالُمَح َّر ُم َوَر َجُب ُمَضُر اَّلِذْي: ُمَتَوِلَياٌت
َبْيَن ُج َماَدى َوَش ْعَباِن
“Sesungguhnya waktu itu berputar seperti bentuknya
pada hari diciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada
dua belas bulan, di dalamnya ada empat bulan haram,
tiga bulan beruturut-turut yaitu: Dzul Qo’dah, Dzul
Hijjah, Muharrom, dan Rajab yang diagungkan yang
berada di antara Jumada Tsani dan Syaban.” (HR.
Bukhari, no.5550 dan Muslim, no.1679)
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Sekarang telah jelas bagi kita kemuliaan bulan Rajab,
dan tiga bulan yang lain. Allah melarang kita berbuat
keharaman di bulan haram ini, namun ada hal yang
sangat kita sayangkan, sebagian besar kaum muslimin
yang ingin mengisi bulan haram ini dengan ibadah dan
ketaatan tapi karena tidak tahu dan faktor lainnya
akhirnya mereka mengisi bulan haram ini dengan
berabgai kebid’ahan. Seharusnya dalam bulan haram ini
kita dibencinya berbuat kezaliman tapi kenyataannya
bulan haram telah dicoreng dengan kebid’ahan-
kebid’ahan yang marak dilakukan oleh sebagian kaum
muslimin sendiri. Marilah kita meningkatkan rasa takut
kepada adzab-adzab Allah. Semoga Allah memaafkan
kesalahan-kesalahan kita, dan semoga Allah menambah
ilmu dan pemahaman Islam yang benar kepada kita.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, di antara
kebid’ahan-kebid’ahan yang dilakukan pada bulan Rajab
adalah:
Pertama, mengadakan peringatan Isra Miraj.
Peringatan Isra’ Mi’raj merupakan perayaan tahunan
yang selalu diramaikan oleh sebagian besar kaum
muslimin. Mereka menetapkan bahwa malam tanggal
dua puluh tujuh Rajab adalah malam Isra’ Mi’raj.
Jamaah Sholat Jumat yang dimuliakan Allah.
Kalau kita tilik sejarah kehidupan kekasih kita, Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kita
temukan berbagai pendapat di kalangan para ulama,
tidak ada kepastian terjadinya malam yang sangat mulia
itu, ada yang mengatakan terjadi pada tanggal 22 Jumada
Ula, ada yang mengatakan terjadi satu atau dua tahun
sebelum hijriah dan ada pula yang mengatakan terjadi
enam belas bulan sebelum hijriah. Jika demikian adanya
lalu manakah yang mereka jadi patokan dalam
merayakan malam Isra’ Mi’raj mereka? Ini adalah bukti
nyata akan salahnya acara peringatan tahunan ini.
Anggaplah memang malam Isra’ Mi’raj itu terjadi pada
tanggal dua puluh tujuh Rajab, tetapi apakah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dan
memerintahkan kita merayakan malam tersebut?! Tidak
ada dalil shahih menunjukkan bahwa Rasulullah
mensyariatkan peringatan Isra’ Mi’raj.
Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
sahabatnya tidak pernah merayakan malam tersebut!
Lalu ajaran siapakah yang kita amalkan? Jika kita tetap
mengadakan perayaan setelah kita tahu bathilnya ibadah
ini, maka secara tidak langsung kita telah mengaku diri
kita lebih tahu syariat Islam dari pada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mengapa kita tidak mencukupkan diri dengan syariat
yang telah jelas kebenarannya, bersungguh-sunguh dan
ikhlas mengamalkan sunah-sunah kekasih kita, Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita bertanya
kepada diri kita masing-masing, apa yang menjadikan
kita tidak puas dengan syariat Nabi kita sehingga perlu
ibadah-ibadah tambahan yang pada hakikatnya adalah
boomerang yang menghantam kita di akhirat kelak,
naudzu billahi mindzalik.
Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah.
Kedua: Amalan bid’ah berikutnya adalah
puasa di awal bulan Rajab.
Ketahuilah wahai saudaraku! Puasa adalah salah satu
bentuk ibadah, dan setiap ibadah harus memiliki
landasan syar’i jika tidak memiliki dalil maka dia adalah
bid’ah yang bisa merusak agama dan pelakunya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Tidak ada
dalil yang shahih yang bisa dijadikan hujjah atas
keutamaan puasa di awal bulan Rajab, dan
mengkhususkan ibadah shalat malam pada bulan
tersebut.”
Namun hal ini tidaklah berarti tidak ada sama sekali
puasa pada bulan ini, syariat puasa Senin-Kamis dan
puasa Daud atau puasa bidh (puasa tiga hari setiap bulan,
tanggal 13,14,15) tetap berlaku berdasarkan keumuman
hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketiga: Amalan bid’ah ketiga adalah shalat Ragha’ib,
yaitu shalat pada malam Jumat yang pertama di bulan
Rajab.
Imam Suyuthi menegaskan kebid’ahan shalat Ragha’ib
ini dalam kitabnya Al-Amru bil Itiba’ wannahyu anil
ibtida, Hal. 167. Beliau mengatakan, “Ketahuilah,
semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya
mengagungkan hari ini dan malamnya, adalah hal yang
diada-adakan dalam syariat Islam setelah tahun yang
keempat ratusan. Hadis-hadis yang diriwayatkan di
dalamnya adalah hadis-hadis maudhu’ menurut
kesepakatan para ulama.
Demikian pula yang ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu
Hajar, Imam Ad-Dzahabi, Ibnu Qoyyim Al-Jauzi, Ibnu
Taimiyyah dan ulama yang lainnya.
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat yang dimuliakan
Allah.
Marilah kita mengingat kembali bahwa semua ibadah
tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
kecuali jika ibadah tersebut ikhlas dan mutaba’ah
(mencontoh) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sebagaimana yang ditegaskan dalam sabdanya,
َأ
َمْن َعِمَل َعَماًل َلْيَس َعَلْيِه ْمُر َنا َفُهَو َر ٌّد
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang
bukan dari urusan kami maka amalan tersebut akan
tertolak.” (HR. Bukhari, no.2697 dan Muslim, no.1618)
Demikianlah yang bisa kami sampaikan pada khutbah
yang pertama ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita
semua.
َأ َأ
َفاْذُكُر وِني ْذُكْر ُكْم.ُعْوُذ ِباللِه ِمَن الَّش ْيَطاِن الَّرِج ْيِم
َواْش ُكُر وا ِلي َواَل َتْكُفُر وِن
َوَنَفَعِنْي َوِإَّياُكْم ِبَما،َباَر َك اللُه ِلْي َوَلُكْم ِفي اْلُقْر آِن اْلَعِظْيِم
َأ َأ
ُقْوُل َما َتْسَمُعْوَن َو ْس َتْغِفُر.ِفْيِه ِمَن اآْل َياِت َوالِّذْكِر اْلَح ِكْيِم
َفاْس َتْغِفُرْوُه، اللَه ِلْي َوَلُكْم َوِلَس اِئِر اْلُمْس ِلِمْيَن ِمْن ُكِّل َذْنٍب
ِإَّنُه ُهَو ْالَغُفْوُر الَّر ِح ْيُم.
KHUTBAH KEDUA
ْل َأ ْل َل ْل
ا َح ْمُد ِللِه َر ِّب ا َعا ـَأِمْيَن َ ،مَر َنا ِباِّتَباِع ِصَأَر اِطِه َأا ـُمْس َتِقْيِم
َل ْل
َوَنَهاَنا َعِن اِّتَباِع ُس ُبِل ْصَح اِب ا ـَج ِح ْيِمَ ،و ْش َهُد ْن َال ِإ َه ِإَّال
َأ َأ
اللُه َوْحَدُه َال َش ِرْيَك َلُه اْلـَمِلُك اْلَبُّر الَّر ِح ْيُم َ ،و ْش َهُد َّن
ُمَح َّمًدا َعْبُدُه َوَر ُس ْوُلُه َبَّلَغ ْالَبَالَغ اْلـُمِبْيَن َوَقاَل َ :عَلْيُكْم
ِبُس َّنِتي َوُس َّنِة اْلُخ َلَفاِء الَّر اِشِدْيَن َصَّلى اللُه َعَلْيِه َوَعَلى آِلِه
َأ
َو ْصَح اِبِه اَّلِذْيَن َتَلَّقْوا َعْنُه الِّدْيَن َوَبَّلُغْوُه ِلْلُمْس ِلِمْيَنَأ َوَمْن
َ:تِبَعُهْم ِبِإْح َس اٍن ِإَلى َيْوِم الِّدْيِن َوَس َّلَم َتْس ِلْيًما َكِثْيًر اَّ ،ما َبْعُد
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah.
Pada khutbah kedua ini kembali kita ingatkan akan
kesempurnaan Islam ini dalam firman-Nya,
َأ َأ
اْلَيْوَم ْكَمْلُت َلُكْم ِديَنُكْم َو ْتَمْمُت َعَلْيُكْم ِنْعَمِتي َوَر ِضيُت
َلُكُم ْاِإلْس َالَم ِديًنا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.
Al-Maidah: 3)
Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan nikmat Allah yang
terbesar bagi umat ini, di mana Allah menyempurnakan
agama mereka, maka mereka tidak butuh kepada agama
selainnya, dan tidak butuh pula kepada Nabi selain Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh karena
itu Allah menjadikannya sebagai penutup para nabi dan
diutus-Nya kepada manusia dan jin. Tidak ada kehalalan
kecuali apa yang dihalalkan, tidak ada keharaman
melainkan apa yang diharamkan dan tidak ada agama
kecuali apa yang disyariatkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir,
2:15)
Perlu pula dipahami bahwa tidak ada suatu amalan pun
yang bisa mendekatkan seseorang ke surga melainkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
menjelaskannya dan tidak pula ada suatu amalan yang
bisa menjauhkan seseorang dari neraka melainkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
menjelaskannya, sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam nyatakan dalam sabdanya,
َما َبِقَي َش ْي ٌء ُيَقِّر ُب ِمَن الَجَّنِة َوُيَباِع ُد ِمَن الَّناِر ِإاَّل َوَقْد ُبِّيَن
َلُكْم
“Tidak ada sesuatupun yang bisa mendekatkan
seseorang ke surga dan menjauhkan dari neraka
melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (HR.
Ahmad, 5:153 dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam
Shahihah, 4:416)
Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah.
Janganlah berlebih-lebihan dalam agama karena ghuluw
(berlebih-lebihan) merupakan salah satu penyebab
hancurnya agama. Allah dan Rasul-Nya memperingatkan
agar tidak ghuluw dalam agama, perhatikan firman Allah
Ta’ala,
َياَأْهَل اْلِكَتاِب َال َتْغُلوا ِفي ِديِنُكْم َوَال َتُقوُلوا َعَلى اللِه ِإَّال
اْلَح َّق
“Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas
dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan
terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An-Nisa: 171)
Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sangat wanti-wanti melarang ghuluw dalam agama
sebagaimana sabdanya,
ِإَّياُكْم َوالُغُلَّو ِفي الِّدْيِن َفِإَّنَما َأْهَلَك َمْن َكاَن َقْبَلُكْم الُغُلُّو ِفي
الِّدْيِن
“Jauhkanlah oleh kalian ghuluw (berlebih-lebihan)
dalam agama, sesungguhnya sebab binasa kaum
sebelum kalian ialah ghuluw dalam agama.” (HR. Ibnu
Majah, no.3029, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam
Ash-Shahihah, 3:279)
Jangan pula kita menganggap amalan para sahabat itu
kurang sehingga perlu ditambah dengan amalan-amalan
bid’ah. Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sederhana
tetapi di atas sunah lebih baik daripada bersungguh-
sungguh dalam kebid’ahan. Alangkah bagusnya apa
yang disampaikan sahabat yang mulia Abu Darda dan
Abdulloh Ibnu Mas’ud.
ِإْقِتَصاُد ِفي الُس َّنِة َخ ْيٌر ِمْن اْج ِتَهاِد ِفي الِبْدَعِة
“Sederhana dalam Sunnah lebih baik daripada sungguh-
sungguh di atas kebid’ahan.”
Demikianlah yang bsia kami sampaikan pada khutbah
kali ini, mudah-mudahan apa yang kami sampaikan ini
bermanfaat bagi kita semuanya. Akhirnya kepada Allah-
lah kita memohon agar diberikan kemantapan dalam
beramal shalih dan kepada-Nya kita minta agar
dijauhkan dari segala macam kebid’ahan sehingga apa
yang kita lakukan benar-benar menjadi bekal kita dalam
memasuki kehidupan akhirat.
الَّلُهَّم َصِّل َوَس ِّلْم َعَلى َعْبِدَك َوَر ُس ْوِلَك ُمَح َّمٍد َوَعَلى آِلِه
َأ َأ َأ
َو ْصَح اِبِه ْج َمِعْيَن َواْرَض الَّلُهَّم َعِن اْلـُخ َلَفاِء الَّر اِشِدْيَن ِبْي
َبْكٍر َوُعَمَر َوُعْثَماَن َوَعِلي َوَعْن َجِمْيِع الَّصَح اَبِة َوالَّتاِبِعْيَن
َل
ـَأُهْم ِبِإْح َس اٍن ِإلَى َيْوَم الِّدْيِن
الَّلُهَّم َأِع َّز ْاِإلْس َالَم َواْلـُمْس ِلِمْيَن َو ِذَّل الِّش ْر َك َواْلـُمْش ِرِكْيَن .
َأ َأ
َوَدِّمْر ْعَداَء الِّديِن َ ،واْنُصْر ِع َباَدَك اْلـُمَوِّحِدْيَن .الَّلُهَّم ْصِلْح
َأ
ْ .ح َواَل اْلـُمْس ِلِمْيَن في ُكِّل َمَكاٍن
الَّلُهَّم اْغِفْر ِلْلُمْس ِلِمْيَن َواْلـُمْس ِلَماِت َواْلـُمْؤِمِنْيَن
َواْلـُمْؤِمَناِت ْاَألْحَياِء ِمْنُهْم َوْاَألْمَواِت ِ ،إَّنُه َس ِمْيٌع ُمِج ْيُب
الَّدَعَواِت َ ،ر َّبَنا آِتَنا ِفي الُّدْنَيا َح َس َنًة َوِفي اآْل ِخ َر ِة َح َس َنًة َوِقَنا
َ.عَذاَب الَّناِر
ِع َباَد اللِه … اْذُكُر وا اللَه اْلَعِظْيَم اْلـَج ِلْيَل َيْذُكْر ُكْم َواْش ُكُرْوُه
َأ
َ.عَلى ِنَعِمِه َيِزْدُكْم َ ،وَلِذْكُر اللِه ْكَبُر َ ،واللُه َيْعَلُم َما َتْصَنُعْوَن