LAPORAN
LAPORAN PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
RESPIRATORY
RESPIRATORY DISTRESS
DISTRESS SYNDROME
SYNDROME
(RDS)
(RDS) PADA
PADA BY.
BY. NY.
NY. U
U DI
DI RUANG
RUANG
NICU
NICU SHBC
SHBC
SANTOSA HOSPITAL BANDUNG
CENTRAL RUANG NICU
Perkenalan
Perkenalan Kelompok
Kelompok
Ania apriliani Mutiya widiyanti Nenden Sri Wahyuni
1 Pengertian, anatomi fisiologi RDS
2 Etiologi, klasifikasi
Isi
Isi 3 Patofisiologi dan pathway
Presentasi
Presentasi 4 Manisfestasi klinis, [Link]
Kami
Kami 5 Penatalaksanakan, komplikasi
6 Konsep dasar pengkajian
Pengertian
RDS (Respiratory Distress Syndrome) adalah penyakit yang
diderita oleh bayi baru lahir yang disebut juga dengan penyakit
hyalin membran disease dimana penyebab dari penyakit ini
diduga karena prematuritas dan penyakit ini paling banyak
diderita oleh bayi yang dilahirkan sebelum usia 28 minggu.
Syndroma gagal nafas merupakan istilah yang digunakan untuk
disfungsi pernafasan pada neonatus. gangguan ini merupakan
penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan
perkembangan maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah
surfaktan dalam paru (Marni & Rahardjo,2012).
Gambar anatomi fisiologi
sistem pernafasan
😋
Anatomi
Anatomi Faring adalah pipa berotot yang
fisiologi
berjalan dari dasar tengkorak
fisiologi sampai persambungannya dengan
oesofagus pada ketinggian tulang
rawan krikoid. Faring terbagi
menjadi 3 bagian yaitu nasofaring,
orofaring dan laringofaring
kemudian Laring, berperan untuk 🥳
😊 pembentukan suara dan untuk
melindungi jalan nafas terhadap
Dibagian bro
extrapulmon
nkus masih d
isebutpernafa
ar dan sampa san
masuknya makanan dan cairan. i memasuki p
paru disebut aru-
rn a fa s a n d ari atas intrapulmona
ry. Terakhir a
Saluran pe Paru- paru ya dalah
p a t d ir in c i s ebagai ng berada da
kebawah da torak,yang te lam rongga
g ga h id u n g , faring, rkandung da
lam susunan
berikut, ron ngan
tulang iga da
n letaknya dis
tulang-
e a , p e r ca b a isi kiri dan
laring, trak kananmedias
tinum yaitu s
ro nk us , p a ru- paru yang berada truktur blok p
b dibelakang tu adat
,a lv e o lu s ). R ongga lang dada. Pa
(bronkiolus paru berbent
uk seperti sp ru-
p is i s e la p u t lender dengan pem in s dan berisi u
hidung dila bagian udara dara
k a y a a k a n p embuluh yang memilik Antara Paru k
yang sangat dengan i tiga lobus D anan,
e r s a m b u n g an paru kiri d
darah, dan b t lender. lobus
ua
g d a n s e la p u
lapisan farin
ETIOLOGI
Menurut (Rogayyah, 2016),
penyebab terjadinya RDS atau
neonatus yang dilahirkan dengan cara Sectio Caesaria
respirasi membran disease pada ibu yang melahirkan neonatus dalam keadaan hipertensi
neonatus adalah : KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketidakmampuan paru untuk mengebangkan dan alveoli
terbuka
Bayi premature atau kurang bulan
Berat badan bayi kurang dari 2500 gram
Klasifikasi
Klasifikasi Menurut (Atika, 2019), Klasifikasi RDS dibagi menjadi 3
jenis sesuai dengan perhitungan Down Score,
Down score < 4 respiratory distres syndrome ringan
Down score 4-7 respiratory distres syndrome
sedang
Down score >7 respiratory distres syndrome berat
stafium III
Sel-sel alveolus pada paru-paru
terlihat kolaps yang ditandai Stadium 1
dengan penyusutan pengembangan
Terdapat sedikit bercak
alveolus paru dan bercak menutupi yang berbentuk
jantung dan bronkogram udara lebih retikulogranular dan
Stadium IV luas sehingga batas ruang jantung sedikit bronkogram
udara atau adanya
Paru-paru Nampak putih tidak terlihat. Stadium II udara dalam bronkus.
dan tidak dapat dilihat Adanya bercak yang homogen retikulogranular pada
secara jelas semua lapang paru kanan dan kiri dan terdapat
karena udara sudah gambaran cairan area bronkus sehingga penumpukan
menumpuk diseluruh lapang udara terlihat jelas dan meluas diarea tepian alveolus
paru. sehingga menyebabkan bayangan pada jantung dan
adanya penurunan aeresi organ paru.
PATOFISIOLOGI
Menurut (Lilis, 2016), Faktor yang memicu atau resiko
terjadinya
Rspiratory Distress Syndrome pada bayi prematur Membran hyaline yang meliputi alveoli
atau kurang bulan disebabkan oleh alveoli masih kecil dibentuk dalam satu setengah jam setelah
sehingga sulit berkembang,
lahir. Epithelium mulai membaik dan
Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru surfantA
sehingga daya pengembangan paru (compliance) mulai dibentuk pada 36-72 jam setelah
menurun hingga 25% dari kapasitas normal, lahir. proses penyembuhan ini adalah
pernafasan menjadi berat sehingga kejadian shunting
intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat kompleks pada bayi immatur dan mengalami
yang menyebabkan hipoventilasi dan pada tahapan sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan
lebih lanjut menyebabkan asidosis respiratorik. dari ibu chorioamnioitis atau infeksi pada
air ketuban sering berlanjut menjadi
Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan
barotrauma atau volutrauma dan toksisitas oksigen, Bronchopulmonal Displasia (BPD)
menyebabkan kerusakan pada endothelial dan epithelial gaambaran radiologi tampak adanya
sel jalan napas bagian distal sehingga menyebabkan retikulogranular karena atelektasis.
eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah.
Memiliki berat badan lahir rendah
☺️
dikarenakan usia kehamilan yang
masih premature.
Takipnea laju nafas > 60 x/menit,
normal laju nafas 40 x/menit.
Manisfestasi klinis Terdapat sianosis karena
kekurangan suplai oksigen
Berat atau ringannya gejala klinis pada penyakit
didalam tubuh sehingga terjadi
Respiratory Distress Syndrom ini sangat
penurunan suhu tubuh.
dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Semakin
Pernafasan dangkal sehingga
rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin
terlihat adanya retraksi dinding
berat gejala klinis yang ditunjukan. Gejala dapat
dada suprasternal dan substernal.
tampak beberapa jam setelah kelahiran. Grunting adanya suara merintih
pada saat ekspirasi.
Neonatus menggunakan
pernafasan cuping hidung.
Pemeriksaan
penunjang
Menurut Warman (2012) pemeriksaan penunjang
Respiratory Distress Syndrom sebagai berikut :
Tes Kematangan Paru
Analisa Gas Darah
Darah Rutin
Radiografi Thorax
Periksa saturasi oksigen dengan menggunakan
oksimetri untuk menuntukan hipoksia dan banyaknya
kebutuhan oksigen.
Penatalaksanaan secara
keperawatan Penatalaksanaan medis
Menurut (Lilis, 2016), penatalakasanaan neonatus dengan gangguan
pernafasan atau RDS adalah sebagai berikut :
Penatalaksanaan keperawatan secara umum diantaranya Pemberian surfaktan merupakan salah satu terapi rutin yang
: diberikan pada bayi prematur dengan RDS. Sampai saat ini ada dua
a. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi pilihan terapi surfaktan, yaitu natural surfaktan yang berasal dari
bayi, yang paling sering dan bila bayi tidak dalam hewan dan surfaktan sintetik bebas protein, dimana surfaktan
natural secara klinik lebih efektif.
keadaan dehidrasi berikan Pemantauan nilai gas darah arteri, Hb, Ht, Eritrosit, Leukosit serta
infus dektrosa 1 0% bilirubin.
1) Pantau selalu tanda vital Lakukan transfusi darah bila perlu.
2) Jaga patensi jalan nafas Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlu untuk
3) Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal mempertahankan homeostasis dan menghindarkan dehidrasi.
) Berikan obat yang diperlukan Pengobatan yang biasa diberikan selama
b. Jika bayi mengalami apneu fase akut penyakit RDS adalah:
1) Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
diperlukan Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan
2) Lakukan penilaian lanjut menurunkan caiaran paru
Fenobarbital digunakan apabila bayi terdapat kejang.
3) Bila terjadi kejang potong kejang segera periksa kadar Metilksantin (teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan
gula untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
darah Terapi surfaktan: surfaktan sintetik diberikan melalui sisi pada tube
4) Pemberian nutrisi adekuat endotracheal dalam 2x suntikan bolus, contoh: Exosurf, Infasurf,
Alveofac
Narkotik/benzodiazepin untuk mengurangi nyeri dan
ketidaknyamanan pada bayi, contoh: Lorazepam dan Fentanyl.
Komplikasi
Menurut Cecily & Sowden (2009) Komplikasi RDS yaitu:
Kebocoran udara (Pneumothoraks, pneumomediastinum, pneumoperikardium, pneumoperitonium,
emfisema subkutan, emfisema interstisial pulmonal).
Perdarahan pulmonal.
Penyakit paru kronis pada bayi 5%-10%.
Apnea.
Hipotensi sistemik .
Anemia.
Infeksi (pneumonia, septikemia, atau nosocomial.
Konsep
Dasar Keperawatan
Konsep dasar keperawatan
Diagnosa
Pengkajian Analisa data keperawatan
Pengkajian merupakan dasar utama Analisa data dilakukan berdasarkan hasil penemuan
1. Pola nafas tidak efektif b.d penurunaan energi/
kelelahan, keterbatasan pengembangan otot (D.0005
proses keperawatan yang akan dari pengkajian dan anamnesa pasien. hal. 26).
Problem (P atau masalah) yang merupakan 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
membantu dalam penentuan status perubahan membran alveolar-kapiler (D.0003 hal. 22).
gambaran keadaan pasien dimana tingkat
kesehatan dan kebutuhan pasien 3. Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan
keperawatan diberikan. aliran keateri/vema (D.009 hal.37).
serta merumuskan diagnosa. Etiologi (E atau peyebab) merupakan keadaan yang 4. Hiportermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak pada
kulit (D.0140 hal 302).
menunjukan penyebab dari masalah kesehatan yang 5. Defisit nutrisi b.d Ketidakmampuan mneghisap dan
Kegiatan utama dalam tahap memberikan arah terhadap terapi keperawatan, hal penurunan mobilitas usus (D. 0019 hal. 56).
tersebut berdasarkan patofisiologi. Sign and 6. Resiko Jatuh Tinggi berhubungan dengan Usia < 2
pengkajian ini yaitu pengumpulan tahun (D.0136 hal.294).
symptom (S atau tanda dan gejala) adalah ciri dari
data, pengelompokan data, dan 7. Resiko ketidakseimbangan cairan b.d imanuritas
tanda dan gejala yang merupakan indormasi yang (D.0040hal.294).
analisis data guna perumusan diperlukan untukmerumuskan diagnosis 8. Resiko Infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh
(D.0142hal.304).
diagnosis keperawatan. keperawatan.
Konsep dasar keperawatan
Implementasi Evaluasi
Intervensi keperawatan keperawatan
keperawatan
Implementasi merupakan rangkaian kegiatan Evaluasi merupakan langkah
yang dilakukan oleh perawat untuk
terakhir dalam menilai apakah
membantu pasien dari masalah kesehatan
yang dihadapi menuju kesehatan yang baik, tindakan keperawatan yang
dengan menjabarkan kriteria hasil yang dilakukan telah membantu
Terlampir diharapkan. Proses implementasi harus fokus memperbaiki masalah. Pada tahap
pada kebutuhan pasien, faktor lain yang
evaluasi, perawat dapat
mempengaruhi kebutuhan keperawatan,
strategi implementasi keperawatan dan mengetahui bagaimana diagnosa
aktivitas komunikasi (Dinarti & Muryanti, keperawatan, rencana tindakan
2017). dan implementasi yang telah
dicapai (Ali, 2018).
Kesimpulan
dapat disimpulkan bahwa Respiratory
Distress Syndrome merupakan
gangguan pada sistem pernafasan
yang disebabkan keterlambatan
perkembangan maturitas paru atau
tidak adekuatnya jumlah surfaktan
dalam paru.
Semoga bermanfaat ☺️
Ada yang mau bertanya ?