0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan48 halaman

Pengertian dan Faktor Pembelajaran Aqidah

BAB 2 SKRIPSI

Diunggah oleh

willi.yesar11
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan48 halaman

Pengertian dan Faktor Pembelajaran Aqidah

BAB 2 SKRIPSI

Diunggah oleh

willi.yesar11
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

A. Pembelajaran Aqidah Akhlak

1. Pengertian Belajar

Mengenai pengertian belajar banyak ahli yang merumuskan dan

membuat penafsirannya, namun sering pula penafsiran tersebut berbeda

terutama dalam redaksinya akan tetapi esensinya sama. Pendapat-pendapat

tersebut antara lain :

Dimyati dan Mudjiono (2006 : 43) mengemukakan sebagai berikut :

Belajar merupakan suatu proses internal yang kompleks, yang terlibat

dalam proses internal tersebut adalah yang meliputi unsur afektif, dalam matra

afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, interes, apresiasi, dan penyesuain

perasaan sosial.

Sardiman (2008 : 8) mengemukakan :

Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan

serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta

belajar itu akan lebih baik jika si subjek mengalami dan melakukannya.

Menurut Pandangan Skinner yang dikutip oleh Dimyati dan Mujiono

dalam bukunya dikatakan bahwa :

13
2

Belajar adalah suatu perilaku, pada saat orang belajar maka

responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka

responsnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut : 1)

kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar 2)

respons si pelajar dan 3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respons

tersebut. Pemerkuat stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai

ilustrasi, perilaku respons si pelajar yang baik diberi hadiah. Sebaliknya,

perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.

Sedangkan menurut pendapat Syaiful Bahri Djamarah,

mengemukakan bahwa “Belajar adalah perubahan perilaku berkat pengalaman

dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang

menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap; bahkan menyangkut

segenap aspek organisme atau pribadi”. Pelaksanaan Belajar merupakan

kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah orang

memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas

tersebut adalah dari 1) stimulus yang berasal dari lingkungan dan 2) kognitif

yang dilakukan oleh pelajar, dengan demikian pelaksanaan belajar adalah

proses kognitif yang mengubah stimulus lingkungan, melewati pengolahan

informasi menjadi kapabilitas baru.

Berlandaskan pada Undang-Undang Dasar 1945 ayat 31 yang

berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran, pemerintah

mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistim pengajaran nasional, yang


3

diatur dengan undang-undang” maka dalam upaya ini sangat diperlukan

adanya sistem pembelajaran.

Secara umum pembelajaran diartikan sebagai salah satu tindakan

dalam upaya pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua

arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar

dilakukan oleh peserta didik atau murid (Sagala, 2007: 61). Pembelajaran

menurut Dimyati dan Mudjiono adalah kegiatan guru secara terprogram dalam

desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang

menekankan penyediaan sumber belajar (Sagala, 2007: 62).

Dari berbagai pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa :

a. Pelaksanaan belajar merupakan suatu kegaiatan belajar yang dilakukan

oleh guru dan peserta didik, sehingga dengan kegiatan tersebut terjadinya

perubahan tingkah laku, yang mana perubahan itu dapat mengarah kepada

yang baik juga dapat mengarah kepada yang buruk

b. Pada saat belajar respon seseorang akan baik dan meninggi dan pada saat

tidak belajar respon seseorang akan menurun.

c. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan

pengalaman.

d. Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku individu melalui interaksi

dengan lingkungan.

e Pelaksanaan belajar merupakan inti dari kegiatan dalam pendidikan,

karena pelaksanaan belajar merupakan implementasi dari teori pendidikan.


4

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Menurut Muhibbin Syah (1999:130) faktor-faktor yang mempengaruhi

belajar secara global dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :

a. Faktor Internal Siswa

1) Aspek Fisiologis

Kondisi umum jasmani yang menandai tingkat kebugaran

tubuh dan badan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan

intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Sebaliknya kondisi organ

tubuh yang lemah, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif)

sehingga materi yang dipelajarinya kurang atau tidak berbekas.

Demikian juga organ-organ khusus siswa seperti tingkat kesehatan

indera pendengar, dan indera penglihat sangat mempengaruhi siswa

dalam menyerap informasi dan pengetahuan khususnya yang di

sajikan di kelas.

2) Aspek Psikologis

Banyak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas

perolehan pembelajaran siswa melalui aspek psikologis antara lain :

a. Inteligensi siswa, tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa

tidak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan

belajar siswa, semakin tinggi kemampuan inteligensi siswa

semakin besar peluangnya untuk meraih sukses.


5

b. Sikap, adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa

kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (respon tendency)

dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek orang, barang dan

sebagainya.

c. Bakat siswa, kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk

mencapai keberhasilan di masa yang akan datang. Bakat juga

merupakan kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu

tanpa banyak tergantung pada pendidikan dan latihan.

d. Minat, merupakan kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau

keinginan yang besar terhadap sesuatu.

e. Motivasi siswa, Motivasi (dorongan) siswa untuk melakukan

tindakan belajar baik dorongan dari dalam maupun dari luar siswa.

a. Faktor-Faktor Intern Yang Mempengaruhi Belajar

Didalam membicarakan faktor intern ini, akan di bahas menjadi

tiga faktor, yaitu: faktor jasmaniayah, faktor psikologis, dan faktor

kelelahan.

1) faktor jasmaniah

a). faktor kesehatan

sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta

bagian bagiannya/bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan

atau hal sehat kesehatan seseorang berpengaruh terhadap

belajarnnya.
6

Proses belajar seseorang akan tergangu jika kesehatan

seseorang tergangu, selain itu juga akan cepat lelah bersemangat,

mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah

ataupun ada gangguan-ganguan/kelainan-kelainan fungsi alat

indranya serta tubuhnya.

Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah

mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara

selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja,

belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga rekreasi dan ibadah.

b). Cacat tubuh.

Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang

baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan.

Cacat atau berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli,

patah kaki, dan patah tulang, lumpuh dan lain-lain.

Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar siswa

yang cacat belajarnya juga terganggu. Jika hal ini terjadi,

hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau

diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi

pengaruh kecacatannya itu.

2) Faktor psikologis.

Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong

kedalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor


7

itu adalah: inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan

dan kelelahan.

a) Inteligensi

inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis

yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikn kedalam

situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui

menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif,

mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.

Inteligensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan

belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai

tingkat inteligensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada

siswa yang mempunyai inteligensi yang rendah.

b) Perhatian

Perhatian menurut Gazali adalah keaktipan jiwa yang di

pertingi, jiwa itupun semata-mata tujuan kepada suatu obyek

(benda/hal) atau sekumpulan obyek. Untuk dapat menjamin

hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian

terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak

menjadi perhatian siswa, maka timbulah kebosanan, sehimgga

ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik,

usahakanlah bahan paelajaran itu sesuai hobi atau bakatnya.


8

c) Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk

memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan

yang di minatai seseorang, diperhatikan terus menerus yang

disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian,

karena perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang

lama) dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang,

sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang dan dari

situ di peroleh kepuasan.

d) Bakat

Bakat atau aptitude menurut Hilgard adalah: “the cape

city to learn”. Denan perkataan lain bakat adalah kemampuan

untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi

kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Orang yang

berbakat mengetik, misalnya akan lebih cepat dapat mengetik

dengan lebih lancar dibandingkan dengan orang lain yang

kurang/tidak berbakat dibidang itu.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa bakat itu

mempengaruhi belajar. Jika badan pelajaran yang dipelajari

siswa sesuai dengan bakatnya lebih baik karena ia senang

belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam

belajarnya itu. Adalah penting untuk mengetahui bakat siswa


9

dan menempatkan siswa belajar di sekolah yang sesuai dengan

bakatnya.

e) Motif

Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yanag

akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari

atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat,

sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu

sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.

f) Kematangan.

Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam

pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap

untuk melaksanakan kecakapan baru. Misalnya anak dengan

kakinya sudah siap untuk berjalan, tangan dan jari-jarinya sudah

siap untuk melukis, dan otaknya sudah siap untuk berpikir

abstrak, dan lain-lain. Kematangan belum berarti anak dapat

melaksanakan kegiatan terus menerus, untuk itu diperlukan

latihan-latihan dan pelajaran. Dengan kata lain anak yang sudah

siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya

sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jiga anak sudah

siap (matang). Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan

itu tergantung dari kematangan dan belajar.


10

g) Kesiapan

kesiapan atau readdines menurut Jamies Draver

adadalah: preparedness to respond or react. Kesiapan adalah

kesediaan untuk memberi response atau bereaksi. Kesediaan itu

timbul dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan

kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk

melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan

dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan badanya

sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

3) Faktor kelelahan.

Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan

tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan jasmani

dan kelelahan rohani (bersifat psikis).

Kelelahan rohani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh

dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelahan

jasmani terjadi karena terjadi kekacauan subtansi sisa pembakaran

didalam tubuh, sehingga darah tidak/kurang lancar pada bagian-

bagian tertentu.

Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan

kebosanan, sehingga minat dorongan untuk menghasilkan sesuatu

hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan

pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah-olah otak


11

kehabisan daya untuk bekerja. Kelelahan rohani dapat terjadi terus

menerus memikirkan masalah yang dianggap berat tanpa istirahat,

menghadapi hal-hal yang selalu sama/konstan tanpa ada variasi.

Dan mengerjakan sesuatu karena terpaksa dan tidak sesuai dengan

bakat, minat, dan perhatiannya.

Dari uraian di atas dapatlah dimengerti bahwa kelelahan itu

mempengaruhi belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik

haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam

belajarnya. Sehinga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari

kelelahan.

Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani dapat

dibilangkan dengan cara-cara sebagai berikut.

1). Tidur

2). Istirahat

3). Mengusahakan variasi dalam belajar, juga dalam bekerja.

4). Mengunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan

predaran darah, misalnya obat gosok.

5). Rekreasi dan ibadah yang teratur.

6). Olahraga secara teratur dan

7). Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi

syarat syarat keehatan, misalnya yang memenuhi empat

sehat lima sempurna.


12

8). Jika kelelahan sangat serius cepat-cepat menghubungi

seorang ahli, misalnya dokter, psikiater, konselor dan lain-

lain.

b. Faktor-faktor Eksternal Siswa

Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah

dikelompokan menjadi 3 faktor, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah,

dan faktor masyarakat. Uraian berikut membahas ketiga faktor

tersebut :

1).Faktor keluarga.

Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari

keluarga berupa: cara oran tua mendidik, relasi antara anggota

keluarga suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.

a). Cara orang tua mendidik.

Cara orang tua mendidik anaknya besar

pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Hal ini jelas dan

dipertegas oleh sutjipto wirowidjojo dengan pernyataannya

yang menyatakan bahwa: keluarga adalah lembga pendidikan

yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya

untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat

menentukan untuk pendidikan dalam pernyataan diatas,

dapatlah difahami betapa pentingnya peranan keluarga


13

didalam pendidikan anaknya. Cara orang tua mendidik anak-

anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya.

b). Relasi antaranggota keluarga

Relasi antaranggota keluarga yang terpenting adalah

relasi orang tua dengan anaknya. Selain itu relasi anak

dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang

lainpun turut mempengaruhi belajar anak. Wujud relasi itu

misalnya apakah hubungan itu penuh dengan kasih sayang

dan pengertian, ataukah diliputi oleh kebencian, sikap yang

terlalu keras, ataukah sikap yang acuh tak acuh dan

sebagainya. Begitu juga jika relasi anak dengan saudaranya

atau dengan anggota keluarga yang lain tidak baik, akan

adapat menimbulkan problem yang sejenis.

c). Suasana rumah

suasana rumah dimaksudkan sebagai situasi atau

kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga

dimana anak berada dan belajar. Suasana rumah juga

merupakan faktor yang penting yang tidak termasuk faktor

yang disengaja. Suasana rumah yang gaduh/ramai dan

semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang

belajar. Suasan tersebut dapat terjadi pada keluarga yang

benar yang terlalu banyak penghuninya. Suasana rumah yang


14

tegang, ribut dan sering terjadi cekcok, pertengkaran antar

anggota keluarga atau dengan keluarga lain menyebabkan

anak menjadi bosan dirumah, suka keluar rumah (ngluyur),

akibatnya belajarnya kacau.

d). Keadaan ekonomi keluarga.

Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya

dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain harus

terpenuhi kebutuhan pokoknya, misal makan, pakaian,

perlindungan kesehatan dan lain-lain membutuhkan fasilitas

belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat

tulis-menulis, buku-buku dan lain-lain. Fasilitas belajar itu

hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup

uang.

e). Pengertian orang tua.

Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang

tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-

tugas di rumah. Kadan-kadang anak mengalami lemah

semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan

mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan yang

dialami anak di sekolah. Kalau perlu menghubungi guru

anaknya, untuk mengetahui perkembangannya.


15

f). Latar belakang kebudayaan.

Tingkat pendidikan atau kebiasaan didalam

keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu

kepada anak ditanamkan kebiasa-kebiasaan yang baik, agar

mendorong semangat anak untuk belajar.

2). Faktor sekolah.

Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini

mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan

siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan

waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode

belajar dan tugas rumah. Berikut ini dibahas faaktor-faktor

tersebut satu persatu.

a) Metode mengajar

Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang

harus dilalui di dalam mengajar. Mengajar sendiri itu

menurut Ign. S. Ulih Bukti Karo Karo adalah menyajikan

bahan pelajaran oleh oarang kepada oarang lain agar orang

lain itu menerima, menguasai dan mengembangkannya. Di

dalam lembaga pendidikan, oarang lain yang disebut di atas

disebut sebagai murid/siswa dan mahasiswa, yang dalam

proses belajar agar dapat menerima menguasai dan lebih-

lebih mengembangkan bahan pelajaran itu, maka cara-cara


16

mengajar serta cara belajar haruslah setepat-tepatnya dan

seefesien serta seefektif mungkin.

b). Kurikulum.

Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan

yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar

adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima,

menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Jelaslah

bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa.

Kurikukulum yang kuarang baik berpengaruh tidak baik

terhadap belajar.

Kurikulum yang tidak baik itu misalnya kurikulum

yang terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai

dengan bakat, minat dan perhatian siswa. Perlu diingat

bahawa sistem instruksional sekarang menghendaki proses

belajar mengajar yang mementingkan kebutuhan siswa. Guru

perlu mendalami siswa dengan baik, harus mempunyai

perencanaan yang mendetail, agar dapat melayani belajar

siswa secara individual. Kurikulum sekarang belum dapat

memberikan pedoman prencanaan yang demikian.


17

c). Relasi guru dengan siswa.

Proses belajar terjadi antara guru dengan siswa.

Proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam

proses itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi

oleh relasinya dengan gurunya.

Di dalam relasi (guru dengan siswa) yang baik,

siswa akan menyukai gurunya,juga akan menyukai mata

pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha

mempelajari sebaik-baiknya. Ia segan mempelajari mata

pelajaran yang diberikannya, akibatnya pelajarannya tidak

maju.

Guru yang kurang berinteraksi dengan siswa

secara akrab, menyebabkan proses belajar-mengajar itu

kurang lancar. Juga siswa merasa jauh dari guru, maka segan

berpartisipasi secara aktif dalam belajar.

d). Relasi Siswa dengan Siswa

Guru yang kurang mendekati siswa dan kurang

bijaksan, tidak akan melihat bahwa di dalam kelas ada grup

yang saling bersaing secara tidak sehat. Jiwa kelas tidak

terbina bahkan hubungan masing-masing siswa tidak tampak.

Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah

laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai


18

rasa rendah diri atau sedang mempunyai tekanan-tekanan

batin, akan diasingkan dari kelompok. Akibatnya makin

parah masalahnya dan akan mengganggu belajarnya. Lebih-

lebih lagi ia menjadi malas untuk masuk sekolah dengan

alasan-alasan yang tidak-tidak karena di sekolah mengalami

perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman-temannya.

Jika hal ini terjadi, segeralah siswa diberi pelayanan

bimbingan dan penyuluhan kedalam kelompoknya.

Menciptakan relasi yang baik antar siswa adalah

perlu, agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap

belajar siswa.

e). Disiplin Sekolah.

Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan

kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar.

Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam

mengajar dengan melaksanakan tata tertib, kedisiplinan

pegawai/karyawan dalam pekerjaan administrasi dan

kebersihan/keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan

lain-lain, kedisiplinan kepala sekolah dalam mengelola

seluruh staf beserta siswa-siswanya, dan kedisplinan tim BP

dalam pelayanannya kepada siswa.


19

f). Alat pelajaran.

Alat pelajaran erat hubunganya dengan cara belajar

siswa,karena alat pelajaran yang di pakai oleh guru pada

waktu mengajar dipakai oleh siswa juga untuk menerima

bahan yang diajarkan itu. Alat pelajaran yang lengkap dan

tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang

diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima

pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan menjadi

lebih giat dan lebih maju.

g). Waktu Sekolah.

Waktu sekolah ialah waktu terjadinya proses

belajar mengajar di sekolah, waktu itu dapat pagi hari, siang,

sore/malam hari. Waktu sekolah juga dapat mempengaruhi

belajar siswa. Jika terjadi siswa terpaksa masuk sekolah di

sore hari, sebenarnya kurang dapat dipertanggungjawabkan.

Di mana siswa harus beristirahat, tapi terpaksa masuk

sekolah, hingga mereka mendengarkan pelajaran sambil

mengantuk dan sebagainya. Sebaliknya siswa belajar di pagi

hari, pikiran masih segar, jasmani dalam kondisi yang baik.

Jika siswa bersekolah pada kondisi badannya sudah

lelah/lemah, misalnya pada siang hari, akan mengalami

kesulitan di dalam menerima pelajaran. Kesulitan itu


20

disebabkan karena siswa sukar berkonsentrasi dan berpikir

pada kondisi badan yang lemah tadi. Jadi memilih waktu

sekolah yang tepat akan memberi pengaruh yang positif

terhadap belajar.

h). Standar Peljaran di Atas Ukuran.

Guru berpendirian untuk mempertahankan

wibawanya, perlu memberi pelajaran di atas setandar.

Akibatnya siswa merasa kurang mampu dan takut kepada

guru. Bila banyak siswa yang tidak berhasil dalam

mempelajari mata pelajarannya, guru semacam itu merasa

senang. Tetapi berdasarkan teori belajar, yang mengingat

perkembangan psikis dan kepribadian siswa yang berbeda

beda, hal tersebut tidak boleh terjadi. Guru dalam menuntut

penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siswa

masing-masing. Yang penting tujuan yang telah dirumuskan

dapat tercapai.

i). Keadaan Gedung

Dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi

karakteristik mereka masing-masing menuntut keadaan

gedung dewasa ini harus memadai di dalam setiap kelas.

Bagaimana mungkin mereka dapat belajar dengan enak,

kalau kelas itu tidak memadai bagi setiap siswa.


21

j). Metode Belajar.

Banyak siswa melaksanakan cara belajar yang

salah. Dalam hal ini perlu pembinaan dari guru. Dengan cara

belajar yang tepat akan efektif pula hasil belajar siswa itu.

Juga dalam pembagian waktu untuk belajar. Kadan-kadang

siswa belajar tidak teratur, atau terus-menerus, karena besok

akan tes. Dengan belajar demikian siswa akan kurang

beristirahat, bahkan mungkit dapat jatuh sakit. Maka perlu

belajar secara teratur setiap hari, dengan pembagian waktu

yang baik, memilih cara belajar yang tepat dan cukup

istirahat akan meningkatkan hasil belajar.

k). Tugas Rumah.

Waktu belajar terutama adalah di sekolah, di

samping untuk belajar waktu di rumah biarlah digunakan

untuk kegiatan-kegiatan lain. Maka diharapkan guru jangan

terlalu banyak memberi tugas yang harus dikerjakan di

rumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu lagi untuk

kegaiatan yang lain.

3) Faktor Masyarakat.

Masyarakat juga merupakan faktor ekstern yang juga

berpengaruh tehadap belajar siswa. Pengaruh ini terjadi karena

keberadaanya siswa dalam masyarakat. Pada urain berikut ini


22

penulis membahas tentang kegiatan siswa dalam masyarakat, di

bahas tentang kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media,

teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat, yang

semuanya mempengaruhi belajar.

a). Kegiatan Siswa Dalam Masyarakat.

Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat

menguntungkan terhadap kehidupan pribadinya. Tetapi jika

siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu

banyak, misalnya berorganisasi, kegiatan-kegiatan sosial,

keagamaan dan lain-lain, belajarnya akan terganggu, lebih-

lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya.

Perlulah kiranya membatasi kegiatan siswa dalam

masyarakat supaya jangan sampai mengganggu belajarnya.

Jika mungkin memilih kegiatan yang mendukung belajar.

Kegiatan itu misalnya kursus bahasa inggris, PKK Remaja,

kelompok diskusi dan lain sebagainya.

b). Mass Media

Yang termasuk mass media adalah bioskop, radio, TV,

surat kabar, majalah, buku-buku komik-komik dan lain-lain.

Semuanya itu ada dan beredar dalam masyarakat.

Mass media yang baik memberi pengaruh yang baik

terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya


23

mass media yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap

siswa. Sebagai contoh, siswa yang suka nonton film atau

membaca cerita-cerita detektif, pergaulan bebas percabulan,

akan berkecenderungan untuk berbuat seperti tokoh yang di

kagumi dalam cerita itu, karena pengaruh dari jalan

ceritanya. Jika tidak ada kontrol dan pembinaan dari orang

tua (bahkan pendidik), pastilah semangat belajarnya

menurun dan bahkan mundur sama sekali.

Maka perlu kiranya siswa mendapat bimbingan dan

kontrol yang cukup bijaksana dari pihak orang tua dan

pendidik, baik di dalam keluarga sekolah dan masyarakat.

c). Teman Bergaul.

Pengaruh-pengaruh dari teman bergaul siswa lebih

cepat masuk dalam jiwanya dari pada yang kita duga.

Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap

diri siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek

pasti mempengaruhi yang bersifat buruk juga.

Teman bergaul yang tidak baik misalnya yang suka

bergadang, keluyuran pecandu roko, film, minum-minum,

lebi-lebih lagi teman bergaul lawan jenis yang moral,

pejinah, pemabuk dan lain-lain, pastilah akan menyeret


24

siswa ke ambang bahaya dan pastilah belajarnya jadi

berantakan.

Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka perlulah

diusahakan agar siswa memiliki teman bergaul yang baik-

baik dan pembinaan pergaulan yang baik serta pengawasan

dari orang tua dan pendidik harus cukup bijaksana (jangan

terlalu ketat tapi juga jangan lengah).

d). Bentuk Kehidupan Masyarakat

Kehidupan masyarakat sekitar siswa juga berpengaruh

terhadap belajar siswa. Masyarakat yang terdiri dari orang-

orang yang tidak belajar, penjudi, suka mencuri dan

mempunyai kebiasaan yang tidak baik, akan berpengaruh

jelek kepada anak (siswa) yang berada di situ. Anak/siswa

tertarik untuk ikut berbuat seperti yang dilakukan orang-

orang disekitarnya. Akibatnya belajarnya terganggu dan

bahkan anak/siswa kehilangan semangat belajar karena

perhatiannya semula terpusat kepada pelajaran berpindah

kepada perbuatan-perbuatan yang selalu dilakukan orang-

orang di sekitarnya yang tidak baik tadi. Sebaliknya jiga

lingkungan anak adalah oaran-oarang terpelajar yang baik-

baik, mereka mendidik dan menyekolahkan anak-anaknya,

antusias dengan cita-cita yang luhur akan masa depan


25

anaknya, anak/siswa terpaengaruh juga ke hal-hal yang

dilakukan oleh orang-orang lingkunganya. Pengaruh itu

dapat mendorong semangat anak/siswa untuk belajar lebih

giat lagi.

Adalah perlu untuk mengusahakan lingkungan yang

baik agar dapat memberi pengaruh yang positif terhadap

anak/siswa sehingga dapat belajar dengan sebaik-baiknya.

3. Ruang Lingkup Pelajaran Aqidah Akhlak

Berkenaan dengan aqidah, Dr. Ibrahim Muhammad bin Abdullah

AlBuraikan menuliskan dalam bukunya yang berjudul Pengantar Studi Aqidah

Islam bahwa arti aqidah adalah perbuatan hati seorang hamba. Melalui hal ini

kemudian Aqidah didefnisikan sebagai ‘keimanan yang tidak mengandung

kontra’. Kata ‘tidak mengandung kontra’ berarti: tidak ada 1920 sesuatu selain

iman di dalam hati seorang hamba, tidak ada asumsi selain bahwa ia beriman

kepada-Nya. Sedangkan Akhlak adalah budi pekerti, watak, tabi’at.

Pelajaran Aqidah Akhlaq yang dipelajari di MTs Rofi’atul fikri

Sajira dapat mengarahkan pada pencapaian kemampuan dasar peserta didik

untuk dapat memahami rukun iman secara ilmiah serta pengamalan dan

pembiasaan berakhlaq islami, untuk dapat dijadikan landasan dalam

kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal jenjang pendidikan berikutnya.

Dalam silabus materi pelajaran aqidah akhlak terdapat klasifikasi

ruang lingkup pelajaran aqidah akhlaq yang meliputi :


26

a. Aspek Aqidah

Aspek aqidah ini meliputi sub-sub aspek : kebenaran aqidah

islam, hubungan aqidah akhlaq, keesaan Allah SWT, kekuasaan Allah

SWT, Allah Maha Pemberi Rizqi, Maha Pengasih Penyayang, Maha

Pengampun dan Penyantun Maha Benar, Maha Adil, dengan argumen dalil

naqli dan aqli, menyakini bahwa Muhammad Saw adalah Rasul terakhir,

menyakini kebenaran Al-Qur’an dengan dalil aqli dan naqli, meyakini

qadlo dan qadar, hubungan usaha dan doa, hubungan perilaku manusia

dengan terjadinya bencana alam disertai argumen dalil aqli dan naqli.

Berikut penjelasan dalam Al-Quran dan Hadist :

‫ْل‬ ‫ْل‬ ‫ْل‬ ‫اَّل َّل‬ ‫اَل‬


‫َتْعُبُدوَن ِإ ال ـَه َوِبا َواِلَدْيِن ِإْح َس اًنا َوِذي ا ُقْر َبٰى َوا َيَتاَمٰى‬

‫َواْلَمَس اِكيِن َوُقوُلوا ِللَّناِس ُح ْس ًنا‬

Artinya: “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah

kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.

Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia,” (QS Al-Baqarah: 83)

‫ “ِإَّن ِلُكِّل ِدْيِن ُخ ُلًقا‬: -‫صلى الله عليه وسلم‬- ‫قال رسوُل اللِه‬

‫َوُخ ُلُق اإلسالَم اْلَحَياُء‬

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya setiap

agama memiliki akhlak, dan akhlak Islami adalah rasa malu,” (HR Ibnu

Majah).
27

b. Aspek Akhlak

Aspek akhlak yang meliputi : Beradab secara islam dalam

bermusyawarah untuk membangun demokrasi, berakhlaq terpuji kepada

orang tua, guru, ulil amri dan waliyullah, untuk memperkokoh integritas

dan kredibilitas pribadi, memperkokoh kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara, bersedia melanjutkan misi utama rasul dalam

membawa perdamaian, terbiasa menghindari akhlaq tercela yang dapat

merusak tatanan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara seperti

membunuh, merampok, mencuri, menyebar fitnah, membuat kerusuhan,

mengonsumsi/mengedarkan narkoba, dan malas bekerja.

c. Aspek Kisah Keteladanan

Aspek kisah keteladanan yang meliputi : mengapresiasi dan

meneladani sifat dan perilaku sahabat utama Rasulullah Saw dengan

landasan argumen yang kuat.

Kompetensi bidang studi aqidah akhlaq berisi sekumpulan

kemapuan minimal yang harus dikuasai peserta didik selama menempuh

pendidikan. Kompetensi ini berorientasi pada perilaku afektif dan

psikomotorik dengan dukungan pengetahuan kognitif dalam rangka

memperkuat aqidah serta meningkatkan kualitas akhlaq sesuai dengan

ajaran islam. Kompetensi bidang studi aqidah akhlaq di Madrasah

Tsanawiyah (MTs) adalah sebagai berikut :


28

1). Memahami dan meyakini hakikat aqidah islam dan akhlaq islam serta

mampu menganalisis secara ilmiah hubungan dan implementasinya

dalam kehidupan sehari-hari :

a). Menghayati makna hakiki aqidah islam

b). Mewujudkan hakekat makna akhlaq dalam kehidupan sehari-hari

c). Menunjukkan hubungan fungsional antara aqidah dan akhlaq

d). Meyakini Allah dengan argumen yang kuat dan benar

e) Terbiasa beradab terpuji

2). Memahami dan meyakini hakikat iman kepada malaikat serta mampu

menganalisisnya secara ilmiah dan terbiasa berakhlaq terpuji dan

menghindari akhlaq tercela dalam kehidupan sehari-hari.

a). Meyakini hakikat keberadaan malaikat Allah dengan argumen

yang kuat

b). Terbiasa melakukan akhlaq terpuji dalam kehidupan sehari-hari

c). Menghindari akhlaq tercela dalam kehidupan sehari-hari

d). Meyakini kebenaran kitab-kitab Allah dengan argumentasi yang

kuat.

3) Memahami dan meyakini hakikat iman kepada rasul dan beriman

kepada hari akhir serta mampu menganalisis secara ilmiah dan

bersikap terpuji memperkokoh kehidupan masyarakat dalam

kehidupan sehari-hari.

a). Menunjukkan iman kepada rasul-rasul Allah


29

b). Terbiasa berakhlaq terpuji dalam kehidupan sehari-hari

c). Meyakini makna iman kepada hari akhir

4). Memahami dan meyakini hakikat iman kepada qadlo dan qadar serta

mampu menganalisis secara ilmiah dan terbiasa berakhlak terpuji

terhadap bangsa dan negara dan menghindari akhlaq tercela dalam

kehidupan sehari-hari.

a). Meyakini hakikat beriman kepada qodlo dan qadar

b) Terbiasa berprilaku terpuji terhadap lingkungan sekitarnya

c) Terbiasa menghindari akhlaq tercela.

4. Indikator Pembelajaran Aqidah Akhlak

Secara konseptual siswa akan berprilaku baik jika pelaksanaan

belajar Aqidah Akhlaknya baik, hal ini tentunya memiliki indikator atau

sesuatu yang bisa diukur. Dan yang menjadi indikator dalam pembelajaran

Aqidah Akhlak meliputi :

a. Persiapan, meliputi :

1). Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran

2). Melakukan pre test

3). Memberikan motivasi belajar kepada siswa

b. Kegiatan, meliputi :

1). Penjelasan tentang materi pembelajaran

2). Tanya jawab dengan siswa


30

c. Evaluasi, meliputi :

1). Pembahasan Ulang

2). Melakukan tes

B. Perilaku Siswa MTs Rofi’atul Fikri Sajira

1. Pengertian Perilaku

Perilaku dan individu merupakan satu kesatuan karena perilaku

merupakan manifestasi dari kegiatan individu. Sebelum kita mempelajari

perilaku, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu tentang individu.

Individu berasal dari bahasa Yunani ” Individuum”. Yang berarti

sesuatu yang tidak dapat dipisahkan selama berstatus sebagai individu

(manusia itu masih hidup) maka aspek fisik dan psikis itu membentuk satu

kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, dan akan terpisah apabila

individu telah meninggal.

Sebagaimana dikemukakan oleh Nana Syaodih Sukmadinata (2003 :

40) menyebutkan bahwa, “Perilaku (behavior) adalah segala manifestasi

hayati atau manifestasi hidup individu, yaitu semua ciri-ciri yang menyatakan

bahwa individu manusia itu hidup. Perilaku itu bukan hanya mencakup hal-

hal yang diamati, tetapi hal-hal yang tersembunyi”.

Contoh dari perilaku atau kegiatan yang tidak dapat diamati adalah

berpikir, mengingat, mengkhayal, membayangkan, menghayati, merasakan,

sedangkan yang dapat diamati adalah berjalan, menulis, mencangkul, tertawa,

menangis dan lain-lain.


31

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata perilaku atau kegiatan individu

dikelompokkan menjadi tiga kategori:

1. Kegiatan kognitif, yaitu kegiatan yang berkenaan dengan penggunaan

pikiran atau rasio di dalam mengenal, memahami dan memecahkan

masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.

2. Kegiatan afektif yaitu kegiatan yang berkenaan dengan penghayatan,

perasaan, sikap, moral dan lain-lain.

3. Kegiatan psikomotor, yaitu kegiatan yang menyangkut aktivitas-aktivitas

yang mengundang gerakan-gerakan motorik.

Perilaku juga merupakan sinonim dari kata ” Akhlak ” yang berasal

dari bahasa Arab, bentuk jamak dari khuluq yang artinya tabiat, budi pekerti,

watak. Tingkah laku atau akhlak adalah sikap seseorang yang

dimanifestasikan ke dalam perbuatan. Sikap seseorang mungkin saja tidak

digambarkan dalam perbuatan tidak tercermin dalam perilakunya sehari-hari

dengan kata lain kemungkinan adanya kontradiksi antara sikap dan tingkah

laku. Oleh karena itu meskipun secara teoritis hal itu terjadi tetapi dipandang

dari sudut ajaran Islam hal itu tidak boleh terjadi atau kalaupun terjadi

termasuk iman yang rendah. Membicarakan akhlak berarti kita membicarakan

masalah kepribadian karena kepribadian adalah penting untuk menerangkan

masalah perilaku, karena dalam kenyataannya sering dijumpai orang-orang

yang menunjukkan perilaku seperti tenang dan pasif atau aktif agresif.
32

Pengertian istilah kepribadian banyak para ahli memberikan

pendapatnya yang berbeda-beda seperti: Ilmu watak, ilmu perangi atau

karakterologi, teori kepribadian dan psikologi kepribadian. Perbedaan istilah

tersebut disebabkan hanya karena berbedanya sudut pandang yang digunakan

masing-masing.

Menurut Gordon W. Alfort yang dikutip oleh Ngalim Purwanto

“Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem

kejiwaragaan yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan

terhadap lingkungan”. Pada Prinsipnya suatu kepribadian yang dapat dilihat

adalah pola keseluruhan tingkah laku seseorang yang diperlihatkan. Ny. Y.

Singgih Gunarsa/Singgih D. Gunarsa mengemukakan:

Kepribadian sering digambarkan dari keseluruhan pola tingkah laku

seseorang pada setiap tahap perkembangannya. Kepribadian dapat dikatakan

mencakup semua aspek perkembangan seperti perkembangan fisik, motorik,

mental, sosial, moral akan tetapi melebihi semua perkembangan aspek-aspek

jiwa badan yang menyebabkan adanya kesatuan dalam aspek tingkah laku dan

tindakan seseorang. Dan pembentukan pola kepribadian ini melalui suatu

proses interaksi dalam dirinya sendiri dengan pengaruh-pengaruh dari

lingkungan luar.

Dengan demikian sifat yang dapat diukur dalam kepribadian adalah

perangkat ciri yang ditampilkan oleh seseorang. Kepribadian setiap manusia


33

terbentuk melalui suatu proses, bukan suatu hal yang statis dan tidak tertutup.

Proses berlangsungnya kepribadian itu tidak secara sekaligus, tetapi

terbentuknya secara berangsur-angsur karena sesuatu yang berkembang. Oleh

itu kepribadian sangat ditentukan oleh berbagai faktor dalam

pembentukannya.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pembentukan perilaku,

di antaranya adalah faktor keluarga, pendidikan sekolah dasar dan pendidikan

agama.

Faktor pertama adalah keluarga, di mana pendidikan anak akan di

mulai dari keluarga yang di dalamnya terdapat ayah ibu sebagai orang tua,

karena begitu anak lahir mereka berada dalam suci dan bersih bagaikan kertas

kosong, apa yang di tulis dalam kertas itu akan bergantung kepada siapa yang

menulisnya, karena orang tuanyalah yang bertanggung jawab atas pendidikan

anak - anaknya, sebagaimana sabda Rasulallah SAW. Yang di riwayatkan oleh

Imam Bukhori, sebagai berikut :


‫َأ‬
‫ُك ُّل َمْوُل ْوٍد ُيْوَل ُد َعلَى اْلِفْط َر ِة َف َبَواُه ُيَهِّوَداِن ِه َاْو ُيَنِّص َر اِنِه َاْو‬
‫ُيَمِّج َس اِنِه‬
)‫(رواه البخارى‬
34

Artinya “Setiap anak yang di lahirkan atas dasar fitrah, maka ibu bapaknyalah

yang meyahudikannya atau yang menashranikannya, atau memajusikannya”.

(1998:309)

Dalam hal ini Zakiyah Darajat (1999 : 71), berpendapat yang sama

dengan pernyataan di atas bahwa :

Orang tua adalah pembina pribadi yang utama dalam hidup anak.

Kepribadian mereka, cara hidup mereka merupakan unsur - unsur pendidikan

dalam pribadi anak yang sedang bertumbuh, sikap anak terhadap guru agama

dan pendidikan agama di sekolah sangat dipengaruhi sikap orang tuanya

terhadap guru agama dan guru agama khususnya.

Dalam upaya menjaga fitrah ini orang tua harus memiliki modal yang

utama yaitu cinta dan kelemahlembutan, kalau anak mempunyai kesalahan,

orang tua boleh saja mengkritik, namun tidak boleh sampai merusak harga diri

anak dan tidak membuatnya tidak percaya diri, memang ada tabiat - tabiat

khusus yang di dapat seorang anak sejak di lahirkan. Namun pola asuh

orang tua dan pengaruh lingkungan yang akan membentuk "cetakan" emosi

seorang anak yang akan berpengaruh besar pada prilaku sehari - hari.

Jika memperhatikan hadist dan pendapat Zakiyah Darajat di atas,

maka jelaslah hubungan orang tua dengan anaknya. yang nyata berpengaruh

bagi jiwa simak, hubungan yang serasi penuh pengertian dan kasih sayang akan

membawa pada pembinaan pribadi anak.


35

Faktor yang kedua adalah pendidikan di sekolah dasar, faktor ini

merupakan kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina anak setelah

orang tua. Jika cara guru (guru agama dan guru umum) di sekolah dasar

mempunyai persyaratan kepribadian dan kemampuan untuk membina pribadi

anak. maka anak yang tadinya tumbuh ke arah yang tidak baik, dapat segera

di perbaiki, dan anak yang semula mudah mempunyai dasar yang baik dari

rumah dapat di lanjutkan pembinaan dengan cara yang lebih baik. Zakiyah

Darajat mengatakan (1999 : 72) :

Sekolah dasar betul-betul merupakan dasar pembinaan pribadi anak,

apabila pembinaan pribadi anak terlaksana dengan baik maka si anak akan

memasuki masa remaja dengan mudah dan pembinaan pribadi di masa remaja

itu tidak akan mengalami kesukaran, maka ia akan mengalami masa remaja

yang sulit dan pembinaan pribadi akan sangat sukar.

Sebagaimana penjelasan di atas, maka pendidikan di sekolah

dasar merupakan dasar pula bagi pembinaan sikap dan jiwa bagi si anak.

Apabila guru di sekolah dasar mampu membina sikap positif terhadap anak

dan berhasil dalam membentuk pribadi anak dan akhlak anak maka untuk

mengembangkan sikap itu ada masa remaja akan menjadi lebih mudah.

Faktor yang selanjutnya adalah pendidikan agama, pendidikan

agama merupakan dorongan dari dalam untuk menimbulkan kesadaran pada

diri anak, apabila anak di berikan pendidikan agama sejak dini, maka ia akan
36

tumbuh menjadi individu yang baik, dan tingkah lakunya merupakan cerminan

dari iman dan taqwa. Iman dan takwa yang terdapat dalam sikap individu

mengandung tenaga “rohaniah” yang besar dan mempunyai ciri - ciri sebagi

berikut :

a. Iman merupakan potensi rohaniah manusia yang menjalin hubungan

erat dengan Tuhan yang dijadikan sumber tenaga penggerak

manusia itu sendiri.

b. Iman merupakan pola keyakinan pribadi manusia yang melandasi

gerak dan tingkah lakunya dalam segala iklim kehidupan. Oleh

karena itu dengan sikap optimis. makhluk Tuhan pasti akan

membantu makhluk yang sungguh - sungguh dalam usahanya.

c. Iman merupakan sumber tenaga batin manusia yang dapat menjadi

daya yang bernilai “penghibur” bagi yang sedang di rundung duka

nestapa, dan sekaligus pula menjadi penyuluh “obor” dalam

mencari pemecahan masalah yang di hadapi manusia.

d. Apabila di padu dengan takwa. maka iman menjadi daya kekuatan

yang bersifat protektif (melindungi) terhadap segala malapetaka

yang mengancam hidupnya. Oleh karena itu iman dan taqwa

merupakan variasi batin yang dapat menjauhkan manusia dari segala

tingkah laku yang merugikan diri sendiri dan orang lain dalam

masyarakat.

e. Perpaduan iman dan takwa dalam diri manusia adalah menjadi


37

”kompas” yang dapat membawa manusia kepada usaha menyadari

diri, serta mendalami makna hidup yang hakiki sebagi makhluk

Allah. Cakrawala pandangan semakin meluas dan dalam menghayati

serta mengamalkan amal khaliknya di dalam kancah perjuangan

hidup masyarakat ([Link]. 1998 : 3)

Dari uraian di atas penulis berkesimpulan bahwa semakin baik

pendidikan agama yang di miliki oleh individu akan sangat berpotensi

untuk menjadikan individu tersebut memiliki perilaku yang baik.

Untuk menjadikan seorang individu yang berperilaku baik, maka

dibutuhkan pendidikan agama yang secara terus menerus dan diberikan

sedini mungkin, baik dari faktor keluarga, pendidikan sekolah dasar dan

pendidikan agama. Ketiga faktor ini harus di sinergiskan dalam satu

kesamaan visi dan tanggung jawab, kalau tidak pendidikan apapun yang

diberikan tidak akan menjadikan anak menjadi lebih baik.

Secara mental anak-anak mudah di ajar mengendalikan dan mengontrol

ekspresi emosinya, kemampuan ini diperoleh lewat peniruan dan pembiasaan,

pemahaman keagamaan mulai diserap secara rasional berdasarkan kaidah-

kaidah logika yang berpedoman pada indikator alam semesta sebagai

manifestasi keagungan Tuhan.


38

3. Macam-Macam Prilaku

Secara garis besar ada 2 (dua) hal yang termasuk kategori prilaku

siswa yaitu prilaku terpuji dan prilaku tercela. Adapun yang harus

diperhatikan agar kita berperilaku baik dalam menjalankan kehidupan sehari-

hari, yakni :

1. Menjalankan sifat-sifat terpuji meliputi

a. Rajin

Rajin adalah suatu perilaku giat, yang mengarah pada suatu

tujuan. Secara umum rajin digambarkan sebagai hubungan antar

upaya dengan hasil nyata melalui kegiatan kinerja yang sebenarnya.

(A. Tabrani Rusyan, dkk ; 2000 : 41)

b. Jujur

Jujur merupakan sifat utama dan kunci dalam pergaulan.

Jujur yaitu dapat dipercaya, yakni perkataan, dan perbuatan sesuai

dengan kebenaran (A. Tabrani Rusyan, dkk ; 2000 : 48)

c. Sabar

Sabar yaitu tabah, tahan cobaan. Orang yang sabar akan tahan

dalam menerima hal-hal yang tidak disenangi atau tidak mengenakan

dengan ridho dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

d. Berani

Berani yang terpuji dalam agama adalah berani yang tetap

sesuai dengan tuntutan agama yang suci disertai dengan


39

kebijaksanaan, karena berani yang tidak disertai kebenaran dan

kebijaksanaan, dapat menjerumuskan dan menjurus kepada tindakan

kejam dan tidak berperikemanusiaan atau cenderung perbuatannya

merendahkan harga diri orang lain

Ciri-ciri orang yang berani antara lain adalah mundur kalau

dicela, tidak memerlukan pujian, terus terang mengakui kesalahan,

tabah dalam menghadapi masalah, tanggung jawab, berpendirian tetap

dan bersemangat tinggi. (A. Tabrani Rusyan, dkk ; 2000 : 51 -52)

e. Sopan santun

Perilaku sopan santun dalam kegiatan sehari-hari antara lain:

1). Selalu menaati perintah Tuhan Yang Maha Esa serta menjauhi

segala larangan-Nya dan menaati perintah kedua orang tua

disertai dengan rasa cinta dan hormat.

2). Selalu berbicara benar

3) Menjaga kesopanan (A. Tabrani Rusyan, dkk ; 2005 : 53)

f. Taat

Taat dalam menjalankan segala perintah Tuhan Yang Maha Esa

dan meninggalkan segala larangan-Nya. Menjalankan perintah dan

meninggalkan larangan-Nya disebut ibadah.

Menurut A. Tabrani Rusyan, dkk (2000 : 61), mengatakan

perbuatan yang mencerminkan ketaatan dan kepatuhan beribadah

meliputi :
40

1). Menyelenggarakan kegiatan keagamaan dalam berbagai kehidupan,

misalnya ;

a). Membiasakan diri bersikap, berucap dan berbuat baik

b). Bakti sosial di panti sosial dan kerja bakti dengan masyarakat

c). Bakti dan taat pada orang tua, guru dan orang yang lebih tua.

2). Membiasakan mengoreksi diri dari perbuatan yang selaras dengan

ketentuan agama dan negara.

g. Saling Menghormati

Segala sikap, perbuatan, tingkah laku serta tutur kata harus

dijaga untuk tidak menyinggung, menyakiti dan melukai perasaan

anggota masyarakat lain. Betapa sakit dan luka hati orang apabila ia

menerima perlakuan yang kurang adil. (A. Tabrani Rusyan, dkk ; 2000

: 65).

h. Teliti, Hemat dan Ikhlas

Akibat kurang teliti orang bisa menyesal berkepanjangan,

bahkan dapat mendatangkan celaka bagi orang lain, dalam bidang

apapun kita diperintahkan untuk tetap teliti.

Hemat artinya berhati-hati dalam menggunakan sesuatu.

Berhemat bisa dilakukan oleh siapa pun, asalkan mampu

Melaksanakannya.

Ikhlas adalah perbuatan yang timbul karena keinginan sendiri,

bukan karena perintah atau paksaan orang lain, sebab jika kita beramal
41

dengan tidak ikhlas, maka amal kita sia-sia (A. Tabrani Rusyan, dkk ;

2000 : 68).

i). Tanggung jawab

Tanggung jawab di sini yaitu apa yang dikatakan, siapa yang

mengatakan, akan diterima sebagai kepatuhan bersama, asalkan sesuai

dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (A. Tabrani

Rusyan,dkk ; 2000 : 70)

j). Mandiri

Menurut A Tabrani Rusyan, dkk (2000 :70), ciri-ciri Siswa

yang memiliki kepribadian yang mandiri diantaranya ;

1). Memiliki cita-cita

2) Memanfaatkan kesempatan

3). Kesiapan pengetahuan dan keterampilan

4). Percaya pada diri sendiri

5). Berusaha keras untuk meraih sukses

2. Menjauhi sifat-sifat tercela

a. Perbuatan munafik adalah perbuatan seseorang yang tidak dapat

dipakai untuk pedoman, sebab orang munafik itu suka berubah

pendirian. Ciri-ciri orang munafik di antaranya :

1). Pendusta yakni apa yang dikatakan tidak sesuai dengan

kenyataan dan bertentangan dengan kata hatinya.

2) Sombong, angkuh, penakut.


42

3). Pengkhianat yakni orang yang suka membocorkan rahasia orang

lain demi keuntungannya.

4). Kikir dan bermuka dua (A. Tabrani Rusyan, dkk ; 2000 : 77).

b. Fitnah merupakan berita bohong atau desah desus tentang seseorang

dengan maksud – maksud yang tidak baik. Fitnah di sini digambarkan

sebagai usaha menimbulkan kekacauan, merampas harta, menyakiti

atau mengganggu kebebasan beragama.

c. Pemalas artinya tidak mau bekerja

d. Ujub adalah membanggakan diri. Orang yang memiliki sifat ujub

senantiasa membanggakan segala kehidupan yang dimiliki, lupa

bahwa manusia diciptakan Allah dengan segala kelebihan dan

kekurangannya. Menurut (A. Tabrani Rusyan, dkk ; 2000 : 81), ujub

dan takabur adalah dua sifat tercela yang selalu berdampingan. Ujub

dan takabur merupakan penyakit hati berupa kebanggaan dan

kesombongan atas nikmat yang diberikan Allah.

e. Riya adalah sifat yang suka menampilkan diri dalam beramal, agar

amal tersebut dilihat orang dengan maksud ingin mendapat simpati

atau pujian.

f. Sombong artinya merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, baik

keturunan, kekayaan, kepandaian, kedudukan dan sebagainya.

g. Iri hati atau dengki, adalah perasaan benci atau tidak senang kepada

seseorang.
43

h. Khianat adalah menyia-siakan kepercayaan orang. Khianat yaitu sifat

orang yang munafik.

i. Tamak atau serakah adalah orang yang berada dalam hidup yang

berkecukupan, tapi tetap merasa bahwa harta bendanya itu tidak cukup

untuk hidupnya.

j. Buruk sangka adalah suatu perbuatan yang sangat tidak baik. Sebab

buruk sangka di sini artinya memiliki hati dan prasangka yang tidak

baik pada orang lain, yang mana orang yang disangka tersebut belum

tentu tidak baik.

Dari uraian-uraian yang telah diuraikan tadi penulis akan

menjelaskan bagaimana membedakan orang yang berperilaku baik

dengan orang yang berperilaku menyimpang.

1. Cara-cara berperilaku yang baik

a. Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Kita sebagai orang yang beriman dan bertakwa dalam

berperilaku sehari-hari harus Melaksanakan budi pekerti yang baik

sebagai berikut :

1) Dalam kehidupan bermasyarakat

a) Saling menghormati sesama manusia dalam pergaulan sehari-

hari

b) Menaati segala peraturan yang berlaku


44

c) Selalu membina kerukunan, keamanan, ketertiban dalam

kehidupan di masyarakat.

2) Dalam kehidupan sehari-hari

a) Menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa dan menjauhi

segala larangan-Nya.

b) Melaksanakan ibadah sesuai dengan agama masing-masing

c) Toleransi (A. Tabrani Rusyan, dkk ; 2000 : 73).

b. Berbuat baik sesama manusia disekitar lingkungan

1) Menghormati guru

2) Berbuat baik kepada orang tua

3) Berbuat baik pada saudara, tetangga, teman

4) Membiasakan berbuat baik pada orang lemah.

2. Perilaku Menyimpang

Penyimpangan sebagai perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan

diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam

masyarakat. Dengan kata lain perilaku menyimpang adalah perbuatan

yang mengabaikan norma, yang terjadi apabila seseorang atau sekelompok

orang tidak mematuhi patokan-patokan yang berlaku di masyarakat

4. Indikator Perilaku Siswa

Pada prinsipnya, prilaku siswa meliputi : segenap ranah psikologis

yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun

demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya


45

ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan prilaku siswa itu

ada yang bersifat Intangible (tak dapat diraba). Oleh karena itu, yang dapat

dilakukan guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan

tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan

perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta

maupun yang berdimensi rasa.

Secara spesifik indikator prilaku siswa adalah sebagai berikut:

a. Yang berhubungan dengan perkataan, meliputi :

1). Dengan teman

2). Dengan guru

3) . Kepada yang lebih tua

b. Yang berhubungan dengan penampilan, meliputi :

1). Cara berpakaian

2). Cara Berjalan

3). Cara memandang

c. Yang berhubungan dengan perbuatan, meliputi :

1. Menolong Orang

2. Mengerjakan Tugas

3. Kerja bakti di Sekolah


46

C. Kerangka Berpikir

Pendidikan Aqidah Akhlak merupakan mata pelajaran pokok di sekolah

dalam pembentukan dan pembinaan kepribadian siswa. Perilaku baik siswa

adalah manifestasi dari keberhasilan pembelajaran pada mata pelajaran ini.

Karena pembelajaran di sekolah merupakan di mana untuk menghasilkan

perubahan dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa.

Peran proses pembelajaran Aqidah Akhlak akan memiliki makna dan

pengaruh yang besar terhadap perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh

karena pembelajaran Aqidah Akhlak harus mampu menjalankan fungsinya agar

perilaku siswa tumbuh dan berkembang dengan baik dan berguna di kemudian

hari. Di sinilah letak pentingnya pembelajaran Aqidah Akhlak bagi siswa.

Tercipta atau tidaknya perilaku siswa yang baik akan bergantung dan

dipengaruhi oleh pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian bahwa keterkaitan

variabel X dengan variabel Y cukup kuat, hubungan kedua variabel di atas dapat

penulis gambarkan dalam skema hubungan sebagai berikut:


47

Gamabr 1

Skema Hubungan Pembelajaran Aqidah Akhlak Dengan Perilaku Siswa

Variabel X Variabel Y
Pelaksanaan Belajar Perilaku Siswa
Aqidah Akhlak

1. Persiapan 1. Perkataan

2. Kegiatan 2. Penampilan

3. Evaluasi 3. Perbuatan

D. Hipotesis

Perilaku siswa salah satunya dipengaruhi oleh faktor kehidupan agama

keluarga yang dilakukan oleh siswa. Beranjak dari asumsi teoritik tersebut,

penelitian ini akan bertolak dari hipotesis semakin baik pembelajaran Aqidah

Akhlak, akan semakin baik pula perilaku siswa. Sebaliknya semakin rendah atau

semakin jelek pembelajaran Aqidah Akhlak, maka semakin jelek pula perilaku

siswa. Hipotesis statistiknya sebagai berikut :

Ho : rxy = 0; Tidak ada hubungan antara pelaksanaan belajar aqidah akhlak

dengan perilaku siswa.


48

Ha : rxy > 0; Terdapat hubungan antara antara pelaksanaan belajar aqidah

akhlak dengan perilaku siswa.

Anda mungkin juga menyukai