0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan20 halaman

Pengaruh IAA, IBA, dan Rootone pada Stek Kentang

Diunggah oleh

rikojanuadi2401
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan20 halaman

Pengaruh IAA, IBA, dan Rootone pada Stek Kentang

Diunggah oleh

rikojanuadi2401
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PEMBERIAN HORMON IAA, IBA, DAN ROOTONE F

SEBAGAI PERANGSANAN PERAKARAN DENGAN BEBERAPA


KONSENTRASI TERHADAP HASIL PERTUMBUHAN STEK KENTANG
VARIETAS GRANOLA LEMBANG.

USULAN PENELITIAN

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Oleh
ADE PRADANA
201710200311110

FAKULTAS PERTANIAN-PETERNAKAN UNIVERSITAS


MUHAMMADIYAH MALANG 2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) dikenal sebagai “The King of
Vegetable” dan produksinya menempati urutan keempat dunia setelah beras, gandum dan
jagung (The International Potato Center, 2008). Kentang termasuk tanaman sayuran yang
kegunaan ubinya semakin banyak serta mempunyai peran penting bagi perekonomian
Indonesia. Tanaman kentang memiliki potensi dan prospek yang baik untuk mendukung
program diversifikasi dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan
[Link] kebutuhan kentang terjadi akibat pertumbuhan jumlah
penduduk, perubahan pola konsumsi masyarakat serta semakin meluasnya industri
pengolahan kentang. Usaha untuk meningkatkan hasil kentang masih terdapat beberapa
kendala yang dapat menghambat hasil kentang. Masalah yang saat ini menjadi perhatian
utama dalam usaha peningkatan produksi kentang di Indonesia yaitu masih terbatasnya
kuantitas bibit kentang bermutu dan berkualitas baik (Suwarno, 2008).

Kentang termasuk ke dalam lima besar sayuran utama yang diproduksi di


Indonesia. Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang
membutuhkan bahan baku kentang menyebabkan kebutuhan akan kentang terus
meningkat setiap tahunnya (Andriani, 2020). Bersumber dari data Kementrian Pertanian
produktivitas kentang di Indonesia mengalami penyusutan dan peningkatan setiap
tahunnya. Data produktivitas pada tahun 2010 sebesar 15,94 ton/ha dan tahun 2017
sebesar 15,4 ton/ha dengan hasil produksi 1,16 juta ton/ha menjadi data terendah selama
10 tahun terakhir, sedangkan data produktivitas tertinggi terdapat pada tahun 2018
sebesar 18,7 ton/ha dan tahun 2019 sebesar 19,27 ton/ha dengan hasil produksi 1,31 juta
ton/ha, sedangkan kebutuhan konsumsi kentang nasional mencapai 14 juta ton/tahun
(Direktorat Jenderal Hortikultura, 2015).
Salah satu penyebab penyusutan dan peningkatan produktivitas tersebut adalah
kurangnya ketersediaan benih yang bermutu dan bersertifikat. pemenuhan kebutuhan
bibit kentang bersertifikat secara nasional hingga kini hanya mencapai 10%, sedangkan
sisanya menggunakan bibit hasil seleksi sendiri yang berkualitas rendah. Langkah awal
dan faktor penting untuk menunjang keberhasilan budidaya kentang adalah tersedianya
benih unggul yang bermutu dalam jumlah cukup, waktu singkat, dan harga terjangkau
(Djoko, Syah, Sayekti, & Hilman, 2017).
Untuk mengatasi masalah bahan tanam dan hama/penyakit, peneliti di bidang

2
pemuliaan terus berupaya mencari varietas yang berdaya hasil tinggi dan tahan terhadap
hama dan penyakit tertentu (Djufry, Nurjanani, & Asaad, 2015). Beberapa
varietas/kultivar kentang yang telah dihasilkan oleh Balitsa Lembang yang memiliki

3
potensi hasil tinggi (20-40 ton/ha) dan tahan/toleran terhadap hama dan patogen tertentu
sepertivarietas-varietas Merbabu-17, GM-05, GM-08, Ping-06, Margahayu, Amudra,
Manohara, Repita, Krespo, Balsa, Tango, Erika, dan Fries. Penyediaan benih sumber dari
varietas unggul nasional diharapkan dapat memacu produktivitas kentang domestik,
menekan impor, menurunkan biaya produksi dengan penggunaan benih bermutu pada
harga yang relatif terjangkau. Dengan demikian pertumbuhan industri benih dan produk
kentang dapat lebih berkembang dalam mendukung penganekaragaman dan ketahanan
pangan, meningkatkan pendapatan petani, membuka peluang kerja, dan mendorong
kebijakan dalam menghargai produk domestik (Hidayat, 2011).
Umumnya, perbanyakan kentang dilakuakan secara generatif menggunakan biji
dan secara vegetatif dengan umbi. Namun metode perbanyakan ini memiliki kelemahan
seperti tingkat multiplikasi yang rendah dan beresiko tinggi adanya berbagai penyakit.
Salah satu metode alternatif untuk perbanyakan vegetatif tanaman dengan kelebihan
memiliki tingkat multiplikasi yang sangat cepat dalam waktu yang relatif singkat yaitu
dengan teknik kultur jaringan (Mohapatra & Batra, 2017). Pengembangan teknik kultur
jaringan telah menjadi dasar dalam tanaman berkualitas tinggi, bebas penyakit pada skala
masal, , serta harus tersedia dalam waktu singkat. Tujuan perbanyakan tanaman secara
kultur jaringan yang lain adalah tidak memerlukan tempat yang luas, bibit yang
dihasilkan lebih sehat, dan memungkinkan terjadinya manipulasi genetik (Munarti &
Kurniasih, 2014).
Metode kultur jaringan hanya memerlukan sedikit saja jaringan tanaman asal,
kemudian jaringan tersebut dapat diperbanyak dalam waktu singkat. Produksi metabolit
sekunder dapat ditingkatkan dengan mengkultur jaringan tersebut dalam bioreaktor.
Bioreaktor adalah suatu sistem dalam kultur jaringan yang terdiri dari suatu wadah yang
berisi media cair yang mensuplai nutrisi kepada sel, embrio, atau organ biakkan, dan di
hubungkan dengan sumber udara yang menyalurkan udara ke dalam wadah
(Agisimanto, Yunimar, & Arisah, 2011).
Zat pengatur tumbuh berfungsi untuk merangsang pembelahan sel dan mengatur
pertumbuhan dan diffrensiasi akar dan taruk (shoot) pada eksplan. Zat pengatur tumbuh
yang banyak digunakan dalam kultur jaringan yaitu auxins, cytokinin, gibberellins dan
abscissic acid. Auksin berfungsi menginduksi pembelahan sel, pemanjangan sel, apikal
dominansi, pembentukan akar adventif, dan embriogensis somatis. Auksin sintetis yang
banyak digunakan seperti 1-naphthaleneacetic acid (NAA). 2,4 dichlorophenoxyacetic
acid (2,4-D), indole-3 acetic acid (IAA), dan indolebutyric acid (IBA).

4
Zat pengatur tumbuh yang digunakan dalam pengakaran umumnya dari golongan
auksin, antara lain indole butyric acid (IBA) yang ditambahkan dalam medium dasar MS
atau medium gamborg (B5) karena lebih ekonomis (Santoso J. , 2012). Menurut hasil
Masyitho (2016) penelitian didapatkan waktu terbentuknya akar paling cepat yaitu 3 hari
dan jumlah terbanyak pada pemberian IBA dengan konsentrasi 2 mg/l. Hasil penelitian
Muhallilin (2011) juga menyatakan bahwa IBA dengan konsentrasi 1 mg/l dan 2 mg/l
menunjukkan waktu terbentuknya akar paling cepat yaitu 7 hari dan jumlah akar paling
banyak.
Berdasarkan data tersebut, maka dilaksanakannya penelitian ini diharapkan dapat
menunjang pemilihan konsentrasi penyusun media yang baik untuk pengakaran benih
kentang (Solanum tuberosum L) varietas Amudra pada sistem bioreaktor.
1.2 Perumusan Masalah
Rumusan maalah yang diangkat pada penelitian ini yaitu:
1. Apakah kombinasi variasi konsentrasi penyusun media dan zat pengatur tumbuh
IBA berpengaruh terhadap pengakaran benih kentang (Solanum tuberosum L)
varietas Amudra?
2. Bagaimana pengaruh sistem bioreaktor pada kultur kentang varietas Amudra
untuk pertumbuhan dan perkembangan planlet?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya penelitian ini yakni:
1. Mengetahui pengaruh variasi konsentrasi penyusun media dan zat pengatur
tumbuh IBA terhadap pengakaran benih kentang varietas Amudra.
2. Mengetahui pengaruh sistem bioreaktor pada kultur kentang varietas Amudra
untuk pertumbuhan dan perkembangan planlet
1.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variasi konsentrasi penyusun media dan zat pengatur tumbuh IBA
mempengaruhi pengakaran benih kentang varietas Amudra.
2. Sistem bioreaktor mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan planlet benih
kentang varietas Amudra.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Benih Kentang Varietas Amudra
Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah jenis tanaman sayuran berumur pendek,
berbentuk perdu atau semak. Kentang adalah tanaman budidaya yang berumur pendek
yaitu sekitar 90-180 hari dan hanya sekali berproduksi dalam satu masa budidaya
(Samadi, 1977).
Klasifikasi ilmiah dari tanaman kentang yang dikutip dari Setiadi (2009),
yakni: Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta (Spermatophyta)
Kelas : Magnoliophyta (Dicotyedonae/Berkeping Dua)
Subkelas : Asteridae
Ordo : Solanales/Tubiflorae (Berumbi)
Famili : Solanaceae (Berbunga terompet)
Genus : Solanum (Daun mahkota berletakan satu sama lain)
Seksi : Petota
Spesies : Solanum tuberosum
Nama binomial : Solanum tuberosum LINN. (Solanum tuberosum L.)
Kentang varietas Amudra merupakan hasil persilangan dari Shepody dan Ritex.
Kentang varietas Amudra berumur antara 90-100 hari. Varietas ini memiliki morfologi
sebagai berikut: panjang tanaman 50-60 cm, bentuk batang agak bulat, warna batang
hijau muda, bentuk daun agak bulat, warna daun hijau, warna urat utama daun hijau, tidak
berbunga, umbi berbentuk bulat dengan mata umbi dangkal, warna kulit dan daging umbi
kuning. Ketang varietas Amudra cocok untuk kentang sayur, agak tahan busuk daun
(Phytophthora infestans). Varietas ini cukup baik untuk olahan seperti keripik kentang
selain untuk sayur. Produksi kentang varietas amudra cukup tinggi yaitu 20-40 ton/ha.
Kandungan yang terdapat pada varietas ini yaitu terdapat vitamin C 18,361 mg/100 gram,
kandungan gula reduksi 0,122%, dan kandungan karbohidrat 17,070% (Balitsa, 2018).
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Kentang
Tanaman kentang tumbuh baik di daerah dataran tinggi atau pegunungan dengan
ketinggian 800 sampai 1800 meter di atas permukaan laut (dpl). Bila tumbuh di dataran
rendah (di bawah 500 m dpl), tanaman kentang sulit membentuk umbi atau hanya
terbentuk umbi yang berukuran kecil, kecuali di daerah yang mempunyai suhu malam
hari dingin (200C). Sementara itu, jika ditanam di atas ketinggian 2.000 m dpl,
pembentukan umbinya menjadi lambat. Tanaman kentang dapat tumbuh pada suhu udara

6
antara 15°C sampai 22°C. Suhu optimum pertumbuhan kentang yakni 18°C sampai 20°C
dengan kelembaban udara 80 sampai 90%. Proses pembentukan umbi sangat dipengaruhi
oleh suhu tanah yang rendah pada malam hari, yang akan merangsang timbulnya hormon
pembentukan umbi pada tanaman. Hormon ini akan diteruskan ke ujung stolon atau bakal
umbi. Suhu tanah optimal bagi pembentukan umbi yang normal berkisar 15-18ᴼ C.
Pertumbuhan umbi akan sangat terhambat apabila suhu tanah kurang dari 10ᴼ C dan lebih
dari 30ᴼ C (Kementan, 2013).
Di daerah tropis basah seperti di Indonesia, hari pendek disertai suhu tinggi akan
mendorong pembentukan umbi yang optimal. Sebaliknya, bila hari lebih panjang
pembentukan umbi akan terhambat, hal terburuk yakni tanaman tidak menghasilkan umbi
(Sunarjono, 2007).
2.3 Bioreactor
Bioreaktor adalah suatu alat atau sistem berbentuk bejana yang dapat mendukung
aktivitas agensia biologis. Bioreaktor yang digunakan biasanya terbuat dari bahan yang
tidak bereaksi de ngan aktivitas biokimia yang terjadi di dalam bioreaktor seperti gelas
atau stainless steel (Saraswati, 2012).
Bioreaktor memiliki beberapa keuntungan dalam membiakkan sel-sel tanaman
secara massal yaitu; (1) Mampu lebih baik mengendalikan kultur suspensi sel dalam
sekala komersial dengan parameter-parameter yang sudah jelas untuk produksi organ
dalam sekala besar termasuk fitokimia, (2) kondisi yang stabil dan konstan pada berbagai
tahap operasi bioreaktor , (3) penanganan kultur mulai dari inokulasi hgingga panen
mudah dan cepat, (4) penyerapan nutrisi lebih tinggi karena keseragaman medium dan
kontak langsung sel dan medium menstimulasi laju multiplikasi yang lebih tinggi, dan (5)
menghasilkan benih bebas penyakit dan pestisida yang identik dengan sel induknya
(Agisimanto, Yunimar, & Arisah, 2011).
Penggunaan media cair akan meningkatkan frekuensi sentuhan media dan organ
tanaman. Organ selalu dalam selimut media. Hai ini yang memudahkan serapan nutrisi
untuk pertumbuhan yang aktif. Di dalam sistem bioreaktor, insersi udara yang
berketerusan ke dalam media, menyebabkan konsentrasi udara atmosfir (CO2 dan O2 )
lebih tinggi di dalam media. Metabolisme di dalam sel yang lebih banyak bersifat
oksidatif akan sangat aktif atas kehadiran udara. Kehadiran udara di dalam sistem sel
akan berkorelasi positif dengan meningkatnya metabolisme aerobik sel tanaman Udara
yang mengalirsecara terus menerus atau dengan frekuensi tertentu bergantung genotip,
menyebabkan pergerakan media yang teratur. Pergerakan ini menjaga homogenitas media
dan keseragaman nutrisi di setiap sisi ruang kultur (Agismanto, 2015).

7
2.5 Media dan ZPT
Media kultur jaringan tersusun dari berbagai unsur hara makro dan mikro,
vitamin, gula, asam amino, N-organik, zat pengatur tumbuh, buffer organik, senyawa
alami kompleks, dan arang aktif. Media dasar MS (Murashige dan Skoog) banyak
digunakan untuk kultur media padat maupun cair. Keistimewaan media dasar MS adalah
kandungan nitrat, kalium, dan amoniumnya yang tinggi. Manipulasi formulasi media
dasar dan zat pengatur tumbuh dapat mengoptimalkan aktivitas pembelahan sel untuk
multiplikasi tunas (Lestari, 2008) . Vitamin memiliki fungsi katalis dalam sistem enzim
tanaman dan diperlukan dalam jumlah kecil. Vitamin yang terdapat pada media MS
terdiri atas glisin (2.0 mg L -1), niasin (0.5 mg L -1 ), piridoksin-HCL (0.5 mg L -1 ), dan
Tiamin-HCL (0.1 mg L -1 ) (Murashige & Skoog, 1962) .
Hormon tumbuh terdapat dua macam, yaitu fitohormon dan zat pengatur tumbuh
eksogen yang dibuat oleh manusia atau sintesis. Beberapa golongan senyawa organik
(fitohormon) merupakan zat-zat penggerek atau pemacu yang mengawali reaksi-reaksi
biokimia mengubah komposisi di dalam tanaman. Perubahan komposisi kimia tersebut,
terjadilah pembentukan organ-organ tanaman seperti tunas, daun, akar, dan bunga
(Ardigusa & Sukma, 2015). Zat pengatur tumbuh berfungsi untuk merangsang
pembelahan sel dan mengatur pertumbuhan dan diffrensiasi akar dan taruk (shoot) pada
eksplan. Zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan yaitu auxins,
cytokinin, gibberellins dan abscissic acid. Auksin berfungsi menginduksi pembelahan sel,
pemanjangan sel, apikal dominansi, pembentukan akar adventif, dan embriogensis
somatis. Auksin sintetis yang banyak digunakan seperti 1-naphthaleneacetic acid (NAA).
2,4 dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D), indole-3 acetic acid (IAA), dan indolebutyric
acid (IBA).
IBA (Indole Butyric Acid) merupakan gollongan auksin yang berperan dalam
proses pembelahan dan pemanjangan sel dengan cara mempengaruhi pengendoran atau
pelenturan dinding sel. IBA merupakan jenis auksin yang paling sering digunakan dalam
menginduksi akar dibandingkan jenis auksin lainnya, karena kemampuan yang tinggi
dalam menginisiasi perakaran (Arlianti, Syahi, Kristina, & Rostiana, 2013).

8
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

3.1.1 Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan mulai tanggal 23 November 2020


hinggga 23 Januari 2020

3.1.2 Tempat Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian dilakukan di Laboratorium In Vitro Pusbang Biotek


Universitas Muhammmadiyah Malang dan screen house, Pujon.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat yang digunakan yaitu bioreactor tipe Air-Lift, botol scott 500 ml, air
compressor, selang silicone hose, air filler, pisau bedah, gunting, pinset, petridish,
autoklaf, oven, pH meter, microwave, spatula, bak, pisau bedah, erlenmayer ukuran 500
ml, tabung ukur 500 ml, botol semprot, bunsen, LAF, paranet, sprayer, seedbag,
penggaris, ember, sikat serta alat dokumentasi.

3.2.2 Bahan

Bahan yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung antara lain adalah kentang
planlet varietas Amudra, media MS cair, IBA 1 mg/l dan 2 mg/l, aquades steril, alkohol
96%, alkohol 70%, NaOH 1 N, HCl 1 N, Clorox 10%, plastic wrap, tisu, aluminium foil,
kertas saring, cocopeat, arang sekam, fungisida sistemik, sabun cuci piring, dan kertas
label.

3.3 Rancangan Percobaan

Terdapat 2 tahap penelitian sehingga menggunakan dua rancangan percobaan.

3.3.1. Rancangan Percobaan Tahap Inokulasi Eksplan

Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Sederhana


dengan 6 perlakuan, 4 kali ulangan dan 10 sampel tiap perlakuan. Rancangan percobaan
disajikan dalam tabel sebagai berikut:

9
Tabel 1. Rancangan Percobaan Penelitian
Perlakuan
P1 P2 P3 P4 P5 P6
I P1 (I) P2 (I) P3 (I) P4 (I) P5 (I) P6 (I)
Ulangan II P1 (II) P2 (II) P3 (II) P4 (II) P5 (II) P6 (II)
III P1 (III) P2 (III) P3 (III) P4 (III) P5 (III) P6 (III)
IV P1 (IV) P2 (IV) P3 (IV) P4 (IV) P5 (IV) P6 (IV)

Keterangan :

P1 = IBA 0 mg/l + Bioreaktor


P2 = IBA 0 mg/l + non-Bioreaktor
P3 = IBA 1 mg/l + Bioreaktor
P4 = IBA 1 mg/l + non-Bioreaktor
P5 = IBA 2 mg/l + Bioreaktor
P6 = IBA 2 mg/l + non-Bioreaktor

3.3.2. Rancangan Percobaan Tahap Aklimatisasi

Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial


dengan 4 perlakuan, 6 kali kelompok ulangan tiap perlakuan. Rancangan percobaan
disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 2. Rancangan Percobaan Penelitian Lapang

Keterangan :
Y1 = (arang sekam+cocopeat) + Bioreaktor
Y2 = (arang sekam+cocopeat) + non-Bioreaktor
Y3 = (arang sekam+kompos) + Bioreaktor
Y4 = (arang sekam+kompos) + non-Bioreaktor

10
Berikut gambar denah percobaan penelitian pada tahap lapang:

Perlakuan
Y1 Y2 Y3 Y4
I
Y1 I Y2 I Y3 I Y4 I

II
Y1 II Y2 II Y3 II Y4 II

Ulangan III
Y1 III Y2 III Y3 III Y4 III

IV
Y1 IV Y2 IV Y3 IV Y4 IV

V
Y1 V Y2 V Y3 V Y4 V

VI
Y1 VI Y2 VI Y3 VI Y4 VI

Gambar 1. Petak Rancangan Percobaan

3.5 Metode Pelaksanaan

3.5.1 Sterilisasi Alat

Sterilisasi alat yang akan digunakan dimulai dengan menyiapkan sesuai


kebutuhan antara lain botol scott, petridish, erlenmayer dan tabung ukur. Alat-alat
tersebut kemudian di basahi dengan air bersih dan dicuci menggunakan sabun cuci piring,
kemudian menyikatnya pada setiap sisi lalu dibilas dengan air mengalir.
Alat yang telah dicuci kemudian direndam dalam 2 liter larutan clorox 10%
selama 24 jam. Selanjutnya alat dibilas kembali menggunakan air mengalir. Botol
ditiriskan pada tempat yang sejuk dengan cara dibalik. Setelah alat-alat tersebut kering
dimasukkan dalam plastik PP (Polypropylene) kemudian ditutup rapat dengan karet
gelang.

11
Sterilisasi menggunakan autoclave yang telah diisi aquades sesuai dengan batas
yang telah ditentukan. Alat-alat yang telah dimasukkan dalam plastik PP dimasukkan
dalam autoclave lalu ditutup hingga rapat. Membuka tutup katup pada autoclave.
Langkah selanjutnya yakni menyalakan kompor dengan kebesaran maksimum. Apabila
suhu telah mencapai 90oC, katup yang terbuka harus tetap ditutup agar suhu cepat naik
121oC dengan tekanan 17.1 psi. Mengatur waktu selama 1 jam setelah tekanan pada
autoclave mencapai 1 atm. Mematikan kompor setelah 1 jam dan mendiamkan alat
hingga dingin. Alat yang telah dingin kemudian dikeluarkan dari autoclave dan disimpan
pada ruangan steril.
Alat yang telah disterilisasi dalam autoclave kemudian di letakkan dalam LAF
dan di lakukan penyinaran UV selama 45 menit. Kemudian alat dirangkai dan di
autoclave lagi selama 60 menit pada suhu 121oC (Sinta, dkk., 2014).

3.5.2 Pembuatan Media

Media dasar yang digunakan yakni Murashige dan Skoog (MS) dengan tekstur
cair. Media MS dibuat dengan mengambil larutan stok yang sudah tersedia di dalam
laboratorium kultur jaringan UMM. Media MS cair yang telah siap kemudian
dimasukkan ke dalam botol scot 1000 ml, ditutup rapat lalu disterilisasi.

3.5.3 Sterilisasi Media

Media MS dimasukkan ke dalam botol scott kemudian ditutup rapat hingga tidak
ada rongga udara. Botol kemudian diletakkan di dalam keranjang besi. Media MS
distrelisasi dalam autoklaf bersuhu selama 10 menit dengan tekanan 1 atm. Setelah dingin
media dikeluarkan dari autoklaf dan siap untuk digunakan.

3.5.4 Persiapan Planlet

Planlet yang digunakan adalah tunas diambil dari planlet dengan kondisi sehat
dan steril. Planlet dipotong sebanyak 4 nodul pada bagian meristem pucuk. Bagian
meristem dipilih karena lebih cepat tumbuh dengan tingkat pembelahan sel yang tinggi
dan mampu tumbuh dengan seragam. Planlet dipotong menggunakan pisau bedah daiats
petridish.

3.5.5 Menyiapkan Bioreactor

Menyiapkan botol bioreactor sejumlah perlakuan. Satu perlakuan memiliki 4


botol bioreactor yang berbeda (sebagai ulangan). Satu botol bioreactor berisi planlet
sampel dan satu botol bioreactor berisi media MS cair sesuai dengan perlakuan.

12
Gambar 2. Sistemika bioreactor

Keterangan:
a. PTFE air filler
b. Selang Silicone hose
c. Botol boreactor planlet
d. Planlet
e. media
f. Selang Silicone hose udara masuk
g. pompa

Botol bioreactor dihubungkan dengan air compressor/pompa melalui selang


silicone hose. Tekanan udara yang diberikan pompa kedalam bioreactor akan
mengalirkan udara ke dalam botol. Aliran udara di saring oleh PTFE filter sehingga
udara masuk tidak membawa patogen.

3.5.7 Inokulasi Eksplan

Planlet yang telah disiapkan kemudian ditanam dalam media MS cair + IBA
dalam botol scott. Jumlah sampel dalam satu perlakuan sebanyak 10 sampel. Planlet
diletakkan di atas cawan petri dalam LAF, kemudian memotong planlet pada bagian
ujung meristem sepanjang 4 nodul/buku menggunakan scalpel blade. Eksplan
dimasukkan ke dalam botol scott menggunakan pinset untuk menjaga eksplan tetap steril.
Pengamatan dilakukan selama 1 bulan.

3.5.8 Aklimatisasi

Aklimatisasi dimulai dengan menyeterilkan media tanam terlebih dahulu. Media


tanam yang digunakan adalah cocopeat dan arang sekam. Kedua media tersebut dicampur
dengan perbandingan 1:1. Media yang telah tercampur ditambahkan dengan bahan kimia
berbahan aktif dazomet (merk dagang basamid), kemudian diaduk hingga rata dan diberi

13
air hingga mencapai kapasitas lapang. Media ditutup rapat menggunakan terpal dan
disimpan selama 10 hari. Penyimpanan bertujuan untuk dekomposisi media.

Setelah 10 hari, terpal dibuka dan media diremahkan untuk menghilangkan gas
yang masih tersisa dan media tanam kembali dibasahi air. Media tanam lalu dipindahkan
dalam seedbag, Media disiram dan dirawat selama 7 hari. Penyiangan dilakukan untuk
menjaga media agar tetap subur terhindar gulma. Tujuan sterilisasi media tanam yaitu
untuk menghilangkan segala jenis mikroorganisme yang terdapat pada media tanam
sehingga bibit tumbuh lebih optimal.

3.5.9 Persiapan Bibit

Bibit kentang dikeluarkan dalam botol kultur dan direndam dalam pestisida
selama 5 menit. Bibit kentang kemudian dipindahkan dan direndam dalam larutan atonik
selama 5 menit. Memotong bagian pangkal akar untuk memisahkan bagian batang dan
akar. Bibit kentang yang digunakan adalah bagian tunas dan daun. Akar dapat
mengakibatkan kontaminasi media setelah dikeluarkan dari dalam botol, sehingga tidak
perlu digunakan.

3.5.10 Penanaman Bibit Kentang

Bibit di tanam pada seedbag dengan media yang telah disiapkan. Memilih stek
kentang yang sehat, ditandai dengan warna daun hijau, berdaun minimal 3 helai, umur
stek 2-3 minggu setelah tanam dan batang yang kokoh. Menusuk lubang bawah tray agar
bibit kentang dapat mudah diambil saat dilakukan pindah tanam. Media tanam dibasuh
dengan air hingga kapasitas lapang. Melubangi media tanam dalam seedbag dengan jarak
tanam yang digunakan yaitu 10 cm x 10 cm. Mengambil bibit kentang kemudian
menanamnya di lubang-lubang yang telah disiapkan. Menekan media tersebut hingga
padat agar tanaman kokoh dan menancap dengan kuat. Menyamakan arah daun dan tinggi
tanaman agar seragam pertumbuhannya.

3.5.11 Perawatan Bibit

Perawatan bibit dimulai dari melakukan penyiraman, menyiangi gulma,


pembumbunan dan melakukan pemupukan hingga pengendalian hama dan penyakit
tanaman.

a. Penyiraman

Penyiraman awal setelah penanaman dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali pada pagi
dan sore hari selama satu minggu. Pada kondisi kering dilakukan setiap hari selama

14
kurang lebih 2 minggu. Kemudian interval penyiraman dapat dilakukan 2-3 hari sekali.
Penyiraman dilakukan dengan cara konvensional yakni menggunakan sprayer.

b. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Hama yang menyerang tanaman kentang pada umumnya adalah serangga, lalat dan
kutu kebul, juga terdapat jamur dan fungi karena screen house yang lembab. Pestisida
yang digunakan untuk mengendalikan hama adalah insektisida berbahan aktif abamektin,
sedangkan pestisida untuk mengendalikan serangan fungi menggunakan fungisida
berbahan aktif mankozep dan clorotanoil.
Pengaplikasian pestisida dimulai umur 5-7 hari setelah tanam diulangi 2 kali
seminggu hingga tanaman berumur 14 hari setelah tanam. Dosis insektisida 1 ml/liter dan
fungisida 1 gram/liter. Penyemprotan dilakukan apabila terdapat serangan hama dan
penyakit. Menyemprotkan pestisida di area bawah daun tanaman secara menyamping,
sehingga dalam 1 seedbag penyemprotan dilakukan sebanyak 2 kali, dari samping kanan
dan kiri.

3.6 Variabel pengamatan

Pengamatan dilakukan pada 3 tahap, pertama pada tahap inokulasi eksplan, tahap
kedua adalah sub kultur I dan tahap ketiga adalah sub kultur II. Pengamatan tahap
pertama memiliki interval waktu 2 bulan, begitupun pada tahap kedua dan ketiga
sehingga didapatkan lama waktu penelitian adalah 6 bulan dengan pengambilan data
setiap 7 hari sekali. Variabel yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Persentase Planlet Hidup

Persentase planlet hidup dihitung secara manual kemudian dimasukkan kedalam


rumus sebagai berikut:

Ʃ planlet hidup
Ʃ total planlet (planlet hidup +
Persentase planlet hidup: x100%
planlet mati)

2. Jumlah Tunas

Pengamatan parameter jumlah tunas dihitung secara manual. Jumlah tunas dihitung
pada setiap sampel yang telah tumbuh pada bagian planlet.

3. Panjang Akar Primer

Panjang akar diukur mulai dari pangkal akar hingga ujung akar menggunakan
penggaris besi stainless steel. Pengukuran dilakukan di dalam LAF dalam keadaan steril.

4. Panjang Tunas

15
Panjang tunas pada pengamatan ialah mulai dari pangkal tunas hingga ujung tunas.
Pengamatan menggunakan penggaris stainless steel di dalam LAF secara steril.

5. Jumlah Daun Majemuk

Jumlah daun dihitung secara manual dengan spesifikasi pemilihan daun majemuk.

6. Jumlah Ruas

Jumlah ruas dihitung secara manual untuk mengetahui kecepatan pertumbuhan


planlet.

7. Persentase dan Morfologi Planlet yang Mengalami Vitrifikasi (Vitrous)

Pengamatan visual dilakukan secara manual (dengan mata telanjang) pada bagian
planlet yang mengalami vitrifikasi. Gejala pada planlet yang vitrous adalah fenotip
planlet bagian daun atau tunas berubah menjadi bening seperti gelas (glassy). Keadaaan
planlet vitrous diikuti dengan nekrosis dan kematian jaringan planlet. Jumlah planlet yang
mengalami vitrifikasi dihitung secara manual kemudian dimasukkan kedalam rumus
persentase sebagai berikut:

Ʃ planlet
Persentase planlet vitrous
vitrous Ʃ
= x100%

total planlet

8. Morfologi Vigor Planlet


Morfologi vigor planlet diamati secara visual menggunakan mata telanjang.
Pengamatan vigor planlet didasarkan pada bentuk tunas yang segar dan tinggi (tunas tidak
kerdil), daun memiliki warna hijau segar dan tidak terdapat nekrosis atau menggulung
serta akar tumbuh optimum. Pengkelasan kekuatan planlet benih menurut (Fatonah, 2011)
digolongkan atas:
Vigor : untuk planlet yang tumbuh kuat
Less vigor : untuk planlet yang tumbuh kurang kuat
Non vigor : untuk planlet yang tumbuh lemah
Death : untuk planlet yang tidak tumbuh
3.7 Analisis Data
3.7.1 Analisis Data Kuantitatif
Analisis ragam menggunakan uji F. Apabila perlakuan menunjukkan pengaruh
berbeda nyata terhadap hasil pengamatan, maka dilakukan analisis uji lanjut Duncan
Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%.
3.7.2 Analisis Data Kualitatif

16
Analisis data kualitatif digunakan pada sajian hasil pengamatan morfologi.
Gambar hasil pengamatan diambil menggunakan kamera digital sehingga didapatkan
kualitas maksimal.
3.8 Cara Penafsiran Hasil
3.8.1 Penafsiran Hasil pada Analisis Data Kuantitatif
Penafsiran hasil penelitian dilakukan dengan interpretasi data berdasarkan hasil
yang didapatkan dalam analisis uji ragam. Interpretasi dilakukan pada setiap parameter
pengamatan yang dilakukan.
3.8.2 Penafsiran Hasil pada Analisis Data Kualitatif
Penafsiran hasil analisis data secara kualitatif adalah menggunakan analisis
deskriptif dari pengambilan gambar hasil penelitian sesuai variabel pengamatan. Analisis
dilakukan secara naratif dengan mendiskripsikan secara terperinci dan ilmiah.

3.9 Teknik Pengambilan Kesimpulan

Data yang telah diolah dan dianalisis kemudian dibandingkan dengan literatur
penunjang untuk dapat menarik kesimpulan sesuai dengan penelitian terdahulu dan
kesesuaian pada hasil di lapang. Sehingga didapatkan pembuktian dari hipotesis
penelitian.

17
BAB VI

JADWAL KEGIATAN
Kegiatan penelitian dilaksanakan selama 2 bulan mulai tanggal 23 November
2020 hingga 23 Jnauari 2020. Jadwal kegiatan disajikan dalam bentuk tabel sebagai
berikut:
Tabel 3. Jadwal Kegiatan Penelitian

Kegiatan Bulan-1 Bulan-2


1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan alat
2. Sterilisasi alat
3. Pembuatan media
4. Sterilisasi media
6. Inokulasi eksplan
7. Pengamatan dan pengumpulan data
8. Persiapan aklimatisasi
9. Persiapan media tanam di lapang
10. Persiapan bibit kentang
11. Perawatan
a. penyiraman
b. penyiangan
12. Pengamatan dan pengumpulan data

18
DAFTAR PUSTAKA
Agisimanto, D., Yunimar, & Arisah, H. (2011). Bioreaktor dan Biopriming Mendukung
Kemandirian Perbenihan Nasional Menjamin Keberlanjutan Produksi
Tanaman. Iptek Hortikultura, 7, 8-11.

Agismanto, D. (2015). Teknologi Bioreaktor Fasilitas Kemandirian Perbenihan


Hortikultura. Iptek Hortikultura, No. 11.

Andriani, F. S. (2020). PRODUKSI BENIH KENTANG (Solanum tuberosum L.) DI


HIKMAH FARM PANGALENGAN BANDUNG JAWA BARAT. Skripsi.

Ardigusa, Y., & Sukma, D. (2015). Pengaruh paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan
perkembangan tanaman sanseviera (Sanseviera trifasciata Laurentii). Jurnal
Hortikultura Indonesia, 6(1): 45.

Arlianti, T., Syahi, S. F., Kristina, N., & Rostiana, O. (2013). PENGARUH AUKSIN
IAA, IBA, DAN NAA TERHADAP INDUKSI PERAKARAN TANAMAN
STEVIA (Stevia rebaudiana) SECARA IN VITRO. Bul. Littro, Volume 24,
Nomor 2 : 57-62.

Djoko, M. M., Syah, J. A., Sayekti, A. L., & Hilman, Y. (2017). Kelas Benih Kentang
(Solanum tuberosum L.) Berdasarkan Pertumbuhan, Produksi, dan Mutu Produk.
Jurnal Hortikultura, Vol. 27 No. 2, 209-216.

Djufry, a., Nurjanani, & Asaad, M. (2015). KAJIAN ADAPTASI VARIETAS UNGGUL
KENTANG TROPIKA PRODUKSI TINGGI DAN TAHAN PENYAKITDI
KABUPATEN BANTAENG SULAWESI SELATAN. Jurnal Agrotan, 1(2), 19-
32.

Hidayat, I. M. (2011). Produksi Benih Sumber (G0) Beberapa Varietas Kentang dari
Umbi Mikro. Jurnal Hortikultura, 21(3), 197-205.

Hoque, M. E. (2010). In vitro tuberization in potato (Solanum tuberosum L.) . Plant


Omics Journal , 3 (1), 7-11.

KEMENTAN, K. P. (2013).Syarat Tumbuh Kentang. Jakarta: Kementerian Perrtanian.

Lestari, E. (2008). Kultur Jaringan : Menjawab Persoalan Pemenuhan Kebutuhan Akan


Peningkatan Kualitas Bibit Unggul dan Perbanyakan Secara Besar-besaran.
Bogor: Penerbit Akamedia.

Masyitho, D. (2016). Perbanyakan Akar Ginseng Jawa (TalinumpaniculatumGaertn.)


Pada Variasi Konsentrasi Media Cair dan Zat Pengatur Tumbuh Menggunakan
Eksplan Batang Secara In vitro. Universitas Airlangga, skripsi.

Mohapatra, P. P., & Batra, V. (2017). Tissue Culture of Potato (Solanum tuberosum L.):
A Review. [Link], 6 Number 4, 489-495.

19
Muhallilin. (2011). Induksi Akar dari Eksplan Bawang Putih (Allium sativum L) "Umbi
Seribu Manfaat" Dalam Media Cair Secara In Vitro. Universitas Airlangga,
Skripsi.

Munarti, & Kurniasih, S. (2014). Pengaruh Konsentrasi IAA dan BAP Terhadap
Pertumbuhan Stek Mikro Kentang Secara In Vitro. Jurnal Pendidikan Biologi,
FKIP, Universitas Pakuan, Vol I No. 1.

Murashige, T., & Skoog, F. (1962). A Revised Medium for Rapid Growth and Bioassays
with Tobacco Tissue Cultures. New York (US): Springer Verlag.

Samadi, B. (1977). Usaha Tani Kentang. Yogyakarta: Kanisius.

Santoso, J. (2012). Pengaruh konsentrasi benzyl amino purin (BAP) dan indole butyric
acid (IBA) terhadap pertumbuhan tunas dan perakaran kina (Cinchona ledgeriana
Moens) dalam kultur in vitro. Jurnal Penelitian Teh dan Kina, 15(1), 40-49.

Santoso, U., & Nursandi, F. (2001). Kultur Jaringan Tanaman. Malang: UMM Press.

Saraswati, R. D. (2012). Kajian Potensi Penggunaan Bioreaktor Senyawa Ajmalisin Suatu


Contoh Produksi Metabolit Sekunder Tanaman Obat. Jurnal Kefarmasian
Indonesia, Vol 2.1 : 28-34.

Yuniarti, N., M. Zanzibar, Megawati, & Budi. (2014). Perbandingan Vigoritas Benih
Acacia mangium Hasil Pemuliaan Dan Yang Belum Dimuliakan. Jurnal
Penelitian Kehutanan Wallacea, 3(1), 57-64.

Sunarjono, H. 2007. Petunjuk Praktis Budidaya Kentang. Agromedia Pustaka. Jakarta

20

Anda mungkin juga menyukai