BAB II
KAJIAN TEORIS
A. Paparan Teori
1. Strategi Pengendalian Emosi
a. Pengerian Emosi
Emosi adalah perasaan atau afeksi yang muncul ketika seseorang
yang sedang berada dalam suatu keadaan atau interaksi yang dianggap
penting olehnya. Emosi ditampilkan dalam bentuk perilaku yang
mengekspresikan ketidaknyamanan seseorang terhadap keadaan atau
interaksi yang sedang dialami1
Emosi merupakan reaksi yang kompleks dan mengandung
aktivitas derajat yang tinggi sehingga memunculkan perubahan perilaku,
karena pada dasarnya emosi adalah dorongan untuk bertindak.2
Emosi adalah sesuatu yang memotivasi kehidupan kita, emosi
timbul dari perasaan dapat berupa perwujudan rasa sayang, marah,
jengkel, benci dan sebagainya. Semakin hebat emosi semakin sulit untuk
membuat keputusan tentang sesuatu yang harus diungkapkan dan cara
mengungkapkannya 3
Emosi merupakan situasi stimulus yang melibatkan perubahan
pada tubuh dan wajah, aktivitas pada otak, penilaian kognitif perasaan
subjektif, dan kecenderungan melakukan sesuatu tindakan yang terdapat
disuatu kebudayaan. Seperti yang dikatakan oleh Fudyartanta bahwa
emosi adalah perasaan yang bergejolak yang seakan-akan menggetarkan
dan menggerakkan individu sehingga hal itu tampak dari luar. Misalnya,
orang yang sedang mengalami emosi marah tampak mukanya berwarna
merah padam, bibir bergetar, mata bersinar tajam, tangan mengepal-
1
Tiara Erlita dan Zainal Abidin, “Kompetensi Emosi (Ekspresi dan Pemahaman Emosi)
pada Anak Usia Prasekolah,” Jurnal Studia Insania 8, no. 2 (27 Januari 2021): 140,
[Link]
2
Ely Manizar Hm, “MENGELOLA KECERDASAN EMOSI,” t.t
3
Budi Sarasati Okta Nurvia, “Emosi dalam Tulisan,” 2021, Jurnal Psibernetika.
13
14
ngepal, dan sebagainya. Menurut Wunt dalam Fudyartanta4. Emosi ada
bermacam-macam, antara lain:
1) Emosi takut, adalah emosi darurat yang disebabkan oleh situasi yang
membahayakan. Ekspresi takut ini tampak dari luar, misalnya muka
pucat, gemeteran, dan keluar keringat dingin.
2) Terkejut, emosi ini terjadi karena seseorang atau kelompok
menghadapi situasi baru dengan tiba-tiba.
3) Marah, emosi ini terjadi karena keinginan seseorang terhalang atau
terganggu oleh situasi lain.
4) Emosi murung, hal ini sebagai variasi emosi marah. Tertawa atau
tersenyum tidak tampak, kelihatan seram mukanya, dan merengut.
5) Rasa lega, emosi ini terjadi ketika sesuatu yang diinginkan dapat
tercapai.
6) Kecewa, emosi ini terjadi karena keinginan gagal atau tertunda.
7) Emosi benci, rasa tidak senang kepada orang lain, gejala emosi ini
terlihat muka seram tanpa tidak senang. Sedangkan emosi gembira
terlihat rasa senang, suka ria, tanda muka berbinar-binar, tersenyum
dan tertawa, menari-nari dan bersorak ria.
Menurut Santoso, emosi mencakup respons fisiologis, perasaan,
proses kognitif, dan perilaku, serta merupakan penyesuaian yang dialami
setiap orang. Menurut Chaplin, emosi adalah keadaan yang dipicu oleh
situasi tertentu dan dikaitkan dengan perilaku pasrah atau defensif.
Berdasarkan definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa
emosi adalah keadaan yang mencirikan amarah, kekecewaan, kesedihan,
dan sebagainya. Lebih lanjut, perubahan fisik seseorang juga ditunjukkan
oleh emosinya.
4
Fudyartanta, ki. Psikolog Umum. (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), 339
15
b. Bentuk-Bentuk Emosi
Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra mengutip Ghom dan
Chlore yang mengatakan bahwa pada hakikatnya ada dua jenis emosi
manusia:5
1) Emosi Positif
Perasaan positif itu menyenangkan dan menenangkan. Tenang,
rileks, gembira, lucu, menyentuh, dan menyenangkan adalah beberapa
ciri emosi positif. Anda berada dalam kondisi psikologis yang positif
ketika merasa sehat.
2) Emosi Negatif
Dampak emosi negatif tidak menyenangkan, menjengkelkan,
dan merugikan. Kesedihan, kekecewaan, keputusasaan, depresi,
ketidakberdayaan, frustrasi, amarah, kebencian, dan sebagainya
adalah contoh emosi negatif. Suasana hati memburuk ketika emosi
negatif tidak terkendali dan seimbang. Selain itu, orang-orang
mengalami kondisi psikologis yang tidak nyaman dan tidak
menyenangkan ketika mereka menghadapi lebih banyak emosi negatif
seperti amarah, kebencian, kebencian, dan kekecewaan. Akibatnya,
orang-orang kesulitan untuk merasa bahagia dan puas dengan hidup
mereka.6.
Goleman menyatakan bahwa manusia memiliki beberapa jenis
emosi, yaitu; emosi takut, emosi marah, emosi senang, emosi sedih,
dan emosi iri7
3) Emosi Takut
Melarikan diri dari objek yang menakutkan bisa menjadi tanda
ketakutan. Seseorang yang takut akan sesuatu akan menghindarinya.
Orang-orang takut akan sesuatu karena mereka pikir itu bisa
5
Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra. 2003. Metodologi Penelitian
Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
6
Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi (Jakarta: Bumi Aksara,
2012), 13.
7
Goleman, Kecerdasan Emosi, ( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), 411
16
membawa bencana. Penyakit mental dapat diakibatkan oleh rasa takut
yang berlebihan.
Agar terhindar dari gangguan kejiwaan, harus menggunakan
akal sehat dalam menghadapi objek yang menakutkan
4) Emosi Marah
Seseorang yang marah terhadap orang lain disebabkan karena
ia menganggap orang tersebut bersalah terhadap dirinya. Orang yang
marah biasanya menunjukkan tingkah laku yang agresif, misalnya;
mengganggu orang yang membuatnya marah, membanting barang,
memukul orang yang membuatnya marah, bahkan bisa melakukan
pembunuhan juga yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Orang yang mudah marah (pemarah) tidak akan disukai teman bahkan
dalam menjalani hidupnya tidak ia tidak tenang.
Oleh karena itu, setiap orang harus bisa mengendalikan emosi
marah, agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ada
beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emosi
marah, yaitu: a) jika akan marah maka segeralah berfikir tentang
dampak buruk yang akan terjadi; b) berusaha menghilangkan sebab-
sebab yang menimbulkan kemarahan, misalnya jika marahnya
disebabkan orang lain maka segera memaafkan orang tersebut8
5) Emosi Senang
Ketika seseorang dapat melakukan apa yang diinginkannya
secara efektif, beradaptasi dengan baik terhadap suatu keadaan, dan
terbebas dari situasi yang berpotensi menimbulkan stres, mereka
sering kali merasa bahagia. Kegembiraan, kepuasan, dan kebahagiaan
adalah beberapa contoh perasaan positif.9
8
Rudi Mulyatiningsih, DKK, Bimbingan Pribadi-Sosial, Belajar, dan Karier, (Jakarta: PT
Grasindo, 2006), 12-14.
9
Goleman, Kecerdasan Emosi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), 411. 26
17
6) Emosi Sedih
Setiap orang yang mengalami musibah pada akhirnya akan
merasa depresi. Seseorang mungkin menangis karena kesedihan.
Salah satu cara untuk menyampaikan kesedihan adalah dengan
menangis. Selain terisak-isak, orang yang depresi mungkin akan
mengurung diri di kamar dan menghindari interaksi dengan orang
lain. Perasaan sedih seringkali diekspresikan secara berlebihan oleh
orang-orang yang tidak mampu mengendalikannya, yang dapat
membahayakan mereka.
7) Emosi Iri
Seseorang yang terus-menerus membandingkan keadaannya
dengan orang lain adalah orang yang iri. Penting untuk
mengendalikan dan mengekspresikan perasaan iri secara konstruktif.
Untuk menyamakan posisi orang yang dibandingkan, ekspresi iri yang
positif akan meningkatkan kinerja dan mendorong semangat
kewirausahaan.
Kita harus melakukan upaya yang membangun daripada yang
merusak jika kita ingin meninggikan status orang lain karena kita
menganggap mereka lebih unggul dari kita.10
c. Pengendalian Emosi
Proses mengendalikan emosi diri sendiri dikenal sebagai
pengendalian emosi. Karena emosi dapat memiliki dampak positif maupun
negatif, manajemen emosi sangatlah penting. Hal ini dikarenakan emosi
dapat diekspresikan atau tidak. Dalam kehidupan manusia, pengaturan
emosi sangatlah penting, terutama untuk meredakan stres yang disebabkan
oleh emosi yang kuat.
Emosi, seperti duka, kekecewaan, amarah, atau kegembiraan,
menurut Agustian merupakan sinyal. Sukacita dan amarah merupakan
10
Rudi Mulyatiningsih, DKK, Bimbingan Pribadi-Sosial, Belajar, dan Karier, (Jakarta:
PT Grasindo, 2006), 14.
18
contoh emosi yang menyenangkan, sementara ketakutan dan amarah
merupakan contoh emosi negatif.
Menurut Hurlock, regulasi emosi adalah upaya yang berfokus
pada penekanan respons emosional terhadap stimulus dan mengubahnya
menjadi ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial.11
Santoso menegaskan bahwa salah satu upaya yang digunakan untuk
mengendalikan emosi adalah regulasi emosi. Penyesuaian diri psikologis,
atau kemampuan untuk mengenali, menerima, dan mengendalikan
perasaan seseorang, berkaitan dengan manajemen emosi.12
Sigmund Freud mengatakan bahwa mengendalikan emosi
merupakan tanda perkembangan kepribadian yang menuntukan apakah
seseorang sudah beradab atau belum. Sigmund Freud percaya bahwa
kepribadian seorang remaja yang sedang tumbuh dibentuk oleh dua faktor
kekuatan besar, yaitu untuk mencari kesenangan dan untuk menghindari
rasa sedih daan rasa tidak nyaman
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan dan
mengarahkan emosi secara positif, yaitu sebagai berikut:
1) Setiap tindakan yang akan dilakukan harus didasarkan pada akal
sehat.
2) Berpikir tentang akibat negative yang mungkin terjadi.
3) Berusahalah untuk memaafkan kesalah orang lain13
Berikut adalah beberapa mekanisme pengendalian emosi yang
digunakan dalam bidang konseling, selain beberapa teknik yang dibahas
di atas:14
11
Hurlock, E. B, Perkembangan Anak Jilid I (Edisi ke 6) (Jakarta: Erlangga, 2007), 31.
12
Santoso, A, S, Modul 10 Kepribadian Dan Emosi (Jakarta: Univertas Mercu Buana
Jakarta, 2008)
13
Rudi Mulyatiningsih, DKK, Bimbingan Pribadi-Sosial, Belajar, dan Karier, (Jakarta:
PT Grasindo, 2006), 18.
14
Akhmad Syahroni Amanullah, Mekanisme Pengendalian Emosi dalam Bimbingan dan
Konseling, Conselis: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam vol. 2, No. 01, (Lamongan: Jurnal
Bimbingan dan Konseling Islam, 2022), 9-12.
19
1) Displacement
Salah satu taktiknya adalah pengalihan, yaitu mengalihkan
energi emosional ke kegiatan yang konstruktif. Katarsis, rasionalisasi,
dan penggunaan bahasa positif adalah beberapa metode yang dapat
digunakan untuk melakukan kegiatan pengalihan.
a) Terdapat dua jenis katarsis, atau pengalihan emosi: jenis pertama
melibatkan emosi yang terang-terangan, sementara jenis kedua
melibatkan emosi yang lebih tersembunyi. Katarsis jenis kedua
paling baik digunakan dengan berfokus pada kegiatan konstruktif
seperti pekerjaan rumah, membaca, berolahraga, dan sebagainya.
b) Proses mempersiapkan pengalaman yang tidak menyenangkan
agar dipersepsikan secara positif dikenal sebagai rasionalisasi.
c) Dengan mengingat Allah, seseorang dapat menggunakan
dzikrullah, suatu teknik pengendalian emosi, untuk mengurangi
perasaan tidak menyenangkannya.
2) Mekanisme model cognitive adjustment15
Penyelarasan pengalaman dan pengetahuan yang tersimpan di
otak dengan upaya memahami isu-isu baru dikenal sebagai
penyesuaian kognitif. Model ini merupakan cara untuk mengevaluasi
sesuatu berdasarkan paradigma subjek, yang dapat dimodifikasi agar
sesuai dengan interpretasi yang diinginkan, seperti kebajikan, empati,
dan atribusi positif.
a) Atribusi positif adalah proses yang mencoba mengurangi aspek
buruk suatu masalah dengan melihatnya dari aspek positifnya.
b) Kepedulian terhadap masalah orang lain dikenal sebagai empati.
Karena empati merupakan alat yang dapat digunakan seseorang
untuk mengelola emosinya, empati juga dapat diartikan sebagai
15
Sevilla, Conserello, dkk. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Alimudin Tuwu (trj).
Jakart: UI Press Stinnet,N,.
20
pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah dan kondisi
mental orang lain.
c) Menolong seseorang yang sedang berjuang dalam hidup adalah
tindakan altruisme. Rasa empati yang kuat terhadap kesulitan
yang dialami seseorang merupakan fondasi altruisme.
3) Self talk
Tindakan berbicara, mengobrol, dan berdialog dengan diri
sendiri dikenal sebagai self-talk. Self-talk dapat sangat memengaruhi
kehidupan seseorang dalam berbagai cara, termasuk kesadaran diri
melalui evaluasi kebiasaan, pelatihan berpikir dan bertindak positif,
membuat penilaian yang tepat, menghindari keputusan terburu-buru,
dan mengejar keinginan.
4) Wudhu
Menurut Imam Al-Ghazali, salah satu emosi yang paling
berbahaya adalah amarah. Amarah melemahkan kemampuan berpikir
seseorang, dan hati mengendalikan perilakunya. Nabi Muhammad
(saw) menyatakan dalam sebuah hadis bahwa setan adalah sumber
amarah dan terbuat dari api. Air digunakan untuk memadamkan api.
Salah seorang di antara kalian hendaknya mencuci tangannya ketika
ia marah. Berwudhu dapat menenangkan emosi dan menetralkan
amarah, memulihkan kejernihan dan ketenangan pikiran seseorang.
5) Dep breatbing
Dalam praktik kerja sosial, teknik pernapasan dalam dapat
digunakan. Melalui pengendalian pernapasan, metode relaksasi ini
menurunkan kondisi emosional yang dialami klien.
6) Strategi coping Strategi
Tindakan yang dilakukan seseorang untuk mengelola,
menerima, atau menguasai keadaan tak terduga dikenal sebagai
metode koping. Taktik ini mencakup memaafkan diri sendiri dan
orang lain. Memaafkan tidak mengurangi nilai diri kita; sebaliknya,
21
memaafkan dapat menenangkan jiwa dan emosi kita serta menjaga
hubungan yang damai dengan orang lain.
Dalam uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Strategi
pengendalian emosi adalah cara-cara yang dapat dilakukan untuk
mengelola dan mengendalikan respons emosional agar tidak
merugikan diri sendiri maupun orang lain. Beberapa strategi efektif
meliputi:
1. Menghilangkan pikiran buruk dan fokus mencari solusi daripada
membiarkan emosi negatif berlarut-larut.
2. Menulis jurnal emosi untuk mengenali pola pemicu dan
memahami perasaan yang muncul.
3. Berolahraga secara rutin untuk merangsang pelepasan hormon
endorfin yang memperbaiki suasana hati.
4. Melakukan refleksi diri dan kesadaran (self-awareness) untuk
mengetahui penyebab emosi sehingga dapat memilih bagaimana
cara menanggapinya.
5. Teknik pernapasan dan meditasi mindfulness untuk
menenangkan diri saat emosi memuncak.
6. Memilih situasi atau lingkungan yang tidak memicu emosi
negatif dan melakukan modifikasi lingkungan jika perlu.
7. Menghadapi kenyataan dan menafsirkan ulang situasi secara
positif untuk mengurangi ketegangan emosional.
Dalam konteks psikologi, coping strategy (strategi
penanggulangan) juga penting untuk mengelola stres dan emosi
dengan cara yang adaptif, serta melakukan pengalihan atau
perubahan kognitif sesuai realitas yang dihadapi.
Secara Islam, ada pula cara meredam emosi dan amarah yang
menekankan pada kontrol diri dan pengendalian emosi melalui sikap
sabar dan pengampunan.
22
Strategi-strategi ini bisa diterapkan secara konsisten untuk
meningkatkan kemampuan pengendalian emosi dan menjaga
kesehatan menta
2. Keharmonisan Pasangan Yang Baru Berumah Tangga
Keharmonisan pasangan yang baru berumah tangga adalah kondisi di
mana suami dan istri dapat membangun hubungan yang langgeng dan bahagia
melalui komunikasi yang sehat, saling pengertian, penghargaan, dan kerja
sama. Komunikasi yang sehat menjadi fondasi utama untuk saling memahami
pikiran dan perasaan satu sama lain, sehingga masalah dapat diselesaikan
dengan baik. Selain itu, menunjukkan penghargaan untuk hal-hal kecil yang
dilakukan pasangan dan menjaga sikap baik saat menghadapi perbedaan
pendapat dapat memperkuat keharmonisan. Faktor lain yang mendukung
keharmonisan adalah saling mendengarkan dengan empati, keterbukaan dalam
mengungkapkan perasaan, serta kemampuan mengelola konflik dan tekanan
baik dari pasangan maupun masyarakat. 16.
Beberapa strategi praktis untuk menjaga keharmonisan termasuk
meluangkan waktu untuk berbicara bersama, menurunkan ego, menghadapi
konflik dengan jujur dan sabar, serta saling memberikan dukungan emosional.
Penting juga untuk beradaptasi terhadap perubahan peran dalam rumah tangga
dan mengatur keuangan bersama dengan bijak. Dalam konteks agama dan
spiritual, menjalin hubungan harmonis dengan Allah juga dianggap sangat
penting bagi keharmonisan rumah tangga.
Pasangan yang harmonis umumnya ditandai oleh para anggotanya yang
berupaya mewujudkan kedamaian, cinta kasih, dan kebahagiaan bagi semua,
sekaligus memahami dan menjalankan hak serta tanggung jawab mereka sesuai
peran dan kedudukannya. Hubungan yang sehat antar anggota pasangan
merupakan ciri pasangan yang damai. Hubungan ini dapat menjadi sumber
hiburan, motivasi, dan dukungan bagi kreativitas, yang semuanya bermanfaat
bagi individu, pasangan, masyarakat, dan umat manusia secara
16
Hello Sehat (2025) menjelaskan cara menjaga rumah tangga harmonis dengan
komunikasi sehat, penghargaan, dan kebaikan antar pasangan.
23
[Link] para anggota pasangan terutama pasangan yang baru
berumah tangga dapat melaksanakan tanggung jawab masing-masing dengan
rasa tenang, maka kondisi sinergi yang dilandasi oleh rasa cinta dan kasih
sayang dapat diartikan sebagai keharmonisan rumah tangga.
Agar generasi berikutnya dapat melampaui generasi sebelumnya,
fungsi-fungsi pasangan harus terus berjalan dengan lancar. Berikut ini
beberapa fungsi pasangan:
a. Fungsi Keagamaan
Penting untuk menanamkan kehidupan beragama kepada anak-
anak dan anggota pasangan, serta mendorong satu sama lain untuk selalu
menaati ajaran agama dan menjauhi dosa demi mencegah dosa. Prinsip-
prinsip agama diwariskan kepada anak-anak dan cucu melalui pasangan,
dan orang tua sangat penting dalam pendidikan anak-anak mereka.
Mengutip mandat agama untuk mendukung pasangan,
b. Fungsi Biologis
Dengan cara ini, pasangan dapat berfungsi sebagai tempat untuk
memenuhi kebutuhan dasar para anggotanya guna mendukung
pertumbuhan dan perkembangan mereka yang sehat.
c. Fungsi Ekonomonis
Setiap anggota pasangan mampu menyesuaikan dan mengelola
ketersediaan sumber daya pasangan serta pemenuhan kebutuhan yang
berhubungan dengan proses biologis.
Pernikahan di bawah umur biasanya belum siap secara finansial
karena sang suami belum sepenuhnya mampu menafkahi istrinya karena
belum memiliki pekerjaan tetap.
d. Fungsi Pendidikan
Lembaga kunci dalam peran ini yang menanamkan nilai-nilai
budaya dan agama kepada anak-anak adalah pasangan. Anak-anak yang
menerima pendidikan ini akan lebih siap menghadapi kesulitan apa pun
17
Departemen Agama RI, “Membangun Keluarga Harmonis”, (Jakarta: Penerbit Aku
Bisa, 2012),
24
yang mungkin muncul di masa depan. Namun, pendidikan di sini
mencakup lebih dari sekadar pertumbuhan kemampuan fisik, intelektual,
dan spiritual seseorang.
e. Fungsi Sosial
Peran ini melibatkan pasangan yang memimpin para anggotanya
ke dalam masyarakat yang lebih besar, mengajari mereka cara berbicara,
bersosialisasi dengan tepat, dan membantu orang lain yang membutuhkan.
f. Fungsi Komunikasi
Dalam peran ini, Pasangan harus memastikan bahwa komunikasi
di dalam pasangan dan bahkan dengan individu lain mudah, sopan, dan
sehat.
g. Fungsi Penyelamatan
Agar tidak meninggalkan generasi yang lemah (baik jasmani,
rohani, iman, ilmu, kondisi fisik, ekonomi, dan sebagainya), maka
keluarga dalam kapasitas ini harus senantiasa mempertimbangkan kualitas
generasi mendatang.18
a) Langkah – Langkah Mengharmoniskan Rumah Tangga
Rumah tangga merupakan tempat curhat, tempat bernaung, tempat
menghilangkan keresahan hati, penuh ketentraman, kedamaian dan solusi
untuk menyelesaikan semua permasalahan ketika terjadi masalah di
luarumah.19 Langkah-langkah untuk membangun keluarga harmonis,
diantaranya :20
1) Melestarikan Kehidupan Beragama Dalam Keluarga
Karena menanamkan prinsip-prinsip moral dan etika yang
dapat memperkuat persatuan keluarga, keyakinan agama penting
untuk ditanamkan dalam keluarga. Rumah tangga yang tidak memiliki
18
Departemen Agama RI, “Membangun Keluarga Harmonis”, (Jakarta: Penerbit Aku
Bisa, 2012), 5.
19
Ahmad Sainul, “Konsep Keluarga Harmonis Dalam Islam”, JurnalAl-Maqasid, Vol.4,
No. 1,Januari-Juni 2018, 92.
20
Ahmad Sainul, “Konsep Keluarga Harmonis Dalam Islam”, 93.
25
prinsip-prinsip agama lebih rentan mengalami perselisihan dan
pertikaian.
2) Meluangkan waktu yang cukup untuk bersama keluarga Selalu
Untuk memastikan pasangan Anda merasa diperhatikan dan
betah di rumah, selalu luangkan waktu untuk keluarga Anda, meski
hanya untuk berkumpul, makan bersama, menemani, dan
mendengarkan keluh kesah pasnagan Anda.
3) Komunikasi yang baik antar anggota keluarga
Masalah apa pun, baik yang muncul di dalam maupun di luar
rumah, dapat diselesaikan dengan komunikasi yang efektif. Landasan
keharmonisan dalam rumah tangga adalah komunikasi.
4) Saling menghargai antar pasangan
Mengakui perubahan yang terjadi dan mendidik anak-anak
tentang cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
5) Minimnya Konflik
Ketika suatu masalah muncul dalam keluarga yang damai,
setiap orang mencoba memikirkan solusi terbaik dan menanganinya
dengan tenang.
6) Adanya Ikatan Yang Erat Antar Anggota Keluarga
Anggota keluarga yang saling menghormati, berkomunikasi
dengan baik, dan menghabiskan waktu bersama dapat membentuk ikatan
yang kuat.
Akan ada konsekuensi hukum jika akad nikah yang sah dilakukan
sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah. Kebahagiaan hidup berumah tangga
akan tercapai dengan cara ini, karena hak dan tanggung jawab suami istri
dalam keluarga akan mendatangkan ketenteraman dan kedamaian hati.21
Untuk menjaga dan meningkatkan keharmonisan dan kedekatan dalam
keluarga, maka diperlukan tindakan-tindakan berikut ini:
21
Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat, 155
26
1) Mempunyai kepercayaan dan iman kepada Tuhan Setiap
Disertai rasa percaya dan keyakinan kepada Tuhan, setiap
suami istri harus memiliki hati yang cukup fleksibel untuk memenuhi
tuntutan pernikahan. Pola pikir ini membuka pintu bagi
perkembangan lebih lanjut ke arah keunggulan yang lebih besar dalam
menangani setiap masalah pernikahan.
2) Mengasihi Pasangan
Kita mendapatkan sesuatu ketika pasangan kita merasa tidak
berharga atau tidak nyaman. Kesejahteraan pasangan kita karenanya
menjadi fokus utama dalam semua perkataan, perbuatan, dan perilaku
kita. Melakukan yang terbaik untuk pasangan kita adalah syarat untuk
mencintai mereka.22
3) Kejujuran
Dalam membangun keharmonisan, tak ada jalan yang lebih
baik daripada kejujuran. Sikap murah hati terhadap kenyataan harus
berjalan seiring dengan kejujuran ini. Ketika komunikasi terputus,
kesetiaan yang telah susah payah dibangun antara suami dan istri pun
hancur karena kepalsuan lebih kuat daripada kejujuran.
4) Kesetiaan
Kesetiaan harus mencakup lebih dari sekadar bertahan. Waktu,
kesetiaan verbal, kegigihan dalam situasi sulit, motivasi, dan sikap
adalah semua aspek kesetiaan. Bahkan ketika pasangan kita gagal atau
melakukan kesalahan, kita tetap perlu setia.
5) Murah Hati Dan Pengampun
Saling melengkapi melalui pengampunan dan kemurahan hati
sangatlah penting bagi suami istri, karena keengganan dan
kekeraskepalaan kita untuk memaafkan merupakan salah satu
pembunuh terbesar keharmonisan pernikahan. Secinta dan setaat apa
22
Bungaran Antonius Simanjuntak, Harmonious Family, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor
Indonesia, 2013), 102.
27
pun pasangan kita, pada akhirnya mereka akan melakukan kesalahan
dan menyakiti kita.23
6) Cinta Suami Dan Istri
Cinta adalah perasaan manusiawi, yang dimulai dengan
pertemuan antara seorang pria dan seorang wanita. Keduanya bergetar
dan merasakan luapan cinta di saat yang bersamaan. Akhirnya, suami
dan istri bersatu dan saling bergantung. Pada akhirnya, kehidupan
kedua individu tersebut dipenuhi dengan sukacita, kebahagiaan,
keindahan, ketenangan, dan spiritualitas.24
b) Faktor Ketidak Harmonisan Rumah Tangga
Masalah harus dihadapi, dan terkadang tak terhindarkan. Namun,
keharmonisan rumah tangga dapat mengakibatkan perselisihan dalam
keluarga dan kemungkinan menghambat perkembangan pasangan.
Keharmonisan rumah tangga terhambat oleh faktor-faktor berikut:25
1) Pasangan suami istri tersebut sangat bergantung kepada orang tuanya,
sehingga dalam menyelesaikan permasalahan mereka meniru
tindakan orang tuanya yang pernah dialami, dan tidak berani
mengambil keputusan yang menyangkut rumah tangganya tanpa
terlebih dahulu meminta nasihat kepada orang tuanya.
2) Keluarga suami istri terlalu banyak ikut campur dalam urusan anak
mereka yang sudah menikah
3) Suami dan istri tidak dengan tulus berusaha menyelesaikan setiap
masalah di rumah.
4) Istri dan suami tidak memberikan kemandirian satu sama lain.
5) Perbedaan latar belakang kebudayaan dan sosial ekonomi
B. Kerangka Berikir
Pernikahan adalah fondasi bagi keberlangsungan rumah tangga dalam
masyarakat. Wajar jika pasangan suami istri ingin bersama seumur hidup dan
23
Bungaran Antonius Simanjuntak, HarmoniousFamily, 103
24
Fathi Muhammad, Petunjuk Mencapai Kebahagiaan Dalam Pernikahan,
(Jakarta:Amzah, 2005), 7.
25
Syahrul Mustofa, Hukum Pencegahan, 94.
28
merasa bahagia dalam ikatan mereka. Kenikmatan pernikahan dibutuhkan oleh
kedua belah pihak; hal ini tidak terjadi begitu saja. Setiap pasangan dalam
pernikahan mendambakan keutuhan pernikahan. Usia saat menikah dan
kematangan emosional adalah dua dari sekian banyak variabel yang memengaruhi
kenikmatan pernikahan.
Mempertahankan pernikahan yang baik membutuhkan kedewasaan
emosional. Menyelesaikan perselisihan pernikahan mungkin sulit jika salah satu
atau kedua belah pihak belum dewasa secara emosional. Banyak pasangan bahkan
memilih untuk berpisah atau bercerai. Kemampuan untuk menjadi mandiri—yaitu,
membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut tanpa
bergantung pada orang lain merupakan kualitas pribadi yang matang secara
emosional, menurut Katkovsky & Garlow (1976).26 Individu yang matang secara
emosional dapat menerima kenyataan, baik yang baik maupun yang buruk, dalam
hidup mereka. Orang yang matang secara emosional fleksibel dan dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan apapun.
Dengan kemampuan menyeimbangkan, seseorang yang matang secara
emosional akan mampu menyeimbangkan pemenuhan kebutuhannya sendiri dan
kebutuhan pasangannya. Seseorang dapat mengenali perasaan pasangannya dan
menjadi peka terhadapnya dengan mampu berempati dan bereaksi sesuai dengan
itu. Selain itu, kemampuan mengendalikan amarah menunjukkan bahwa seseorang
yang matang secara emosional akan mampu mengendalikan emosinya dan
mengendalikan cara mereka mengekspresikan amarah. 27
Faktor lain dalam kepuasan pernikahan adalah kedewasaan. Salah satu
faktor yang memengaruhi kepuasan pernikahandan keharmonisan adalah usia
pasangan saat menikah. Karena orang yang dewasa mampu berpikir optimis dan
memiliki kedewasaan untuk menghadapi setiap masalah yang muncul. Lebih lanjut,
seiring bertambahnya usia, seseorang akan mampu membuat keputusan yang tepat
26
Azeez, E. P. A. (2013). Employed women and marital satisfaction: a study among female
nurses. International Journal of Management and Social Sciences Research, 2(11), 17- 26.
[Link]
l_Satisfaction_A_Study_among_Female_Nurs
27
Titik Triwulan Tutik, Hukum Pedata dalam Sistem Hukum Nasional , Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2008
29
dan bijaksana, mempertimbangkan berbagai masalah, mempertimbangkan pro dan
kontra dengan pengetahuan yang memadai, serta menjadi mandiri. Dikombinasikan
dengan penalaran yang kuat, kedewasaan emosional dan kedewasaan akan
memampukan mereka untuk menghadapi tantangan hidup dengan mudah, yang
pada akhirnya akan menghasilkan kebahagiaan dalam pernikahan.
Pengendalian emosi
1. Displacement
2. Mekanisme model cognitive
adjustment
3. Self talk
4. Wudhu Keharmonisan pasangan
Strategi
5. Dep breatbing yang baru berumah tangga
6. Strategi coping Strategi
7. Menghadapi kenyataan dan
menafsirkan ulang situasi
secara positif untuk
mengurangi ketegangan
emosional.
Usia
Pernikahan
30
C. Hubungan Antar Variabel
1. Variabel Bebas (X): Strategi Pengendalian Emosi
Strategi pengendalian emosi adalah cara bagi orang (pasangan suami
istri) untuk mengendalikan dan mengatur perasaan mereka sehingga tidak
menimbulkan konflik atau ketegangan dalam pernikahan mereka.
2. Variabel Terikat (Y): Keharmonisan Pasangan Baru Berumah Tangga
Hubungan yang sehat dan menyenangkan tercermin dalam tingkat
kedamaian, saling pengertian, kolaborasi, dan kepuasan yang terjalin dalam
sebuah keluarga. Inilah yang dikenal sebagai keharmonisan pasangan.
3. Hubungan Kedua Variabel
Tingkat keharmonisan pasangan sangat ditentukan oleh teknik
pengelolaan emosi mereka. Karena mereka mampu menangani perselisihan
dan tekanan emosional dengan baik, pasangan yang mampu mengendalikan
emosi cenderung memiliki hubungan yang lebih harmonis dan solid serta
saling mendukung.
Berikut adalah skema diagram yang menggambarkan hubungan antar variabel:
Strategi Pengendalian
Emosi (X)
(Komunikasi Terbuka,
Teknik Relaksasi, Dll)
Pengaruh Positif
Keharmonisan Pasangan (Y)
(Kepuasan Hubungan,
Komunikasi Efektif,
Pengelolaan Konflik)
31
Penjelasan diagram di atas sebagai berikut :
1. Strategi Pengendalian Emosi (X) berfungsi sebagai faktor yang
memengaruhi Keharmonisan Pasangan (Y).
2. Ketika pasangan baru berumah tangga menerapkan strategi pengendalian
emosi yang efektif, mereka dapat meningkatkan aspek-aspek keharmonisan
dalam hubungan mereka
3. Pengaruh ini bersifat positif, artinya semakin baik strategi yang diterapkan,
semakin tinggi tingkat keharmonisan yang dicapai
Dengan pemahaman ini, diharapkan dapat dilakukan penelitian yang lebih
mendalam mengenai bagaimana strategi pengendalian emosi dapat berkontribusi
pada keharmonisan pasangan yang baru menikah
D. Hipotesis
1. Hipotesis Alternatif (Ha):
Keharmonisan pasangan yang baru menikah dipengaruhi secara positif
oleh teknik-teknik manajemen emosi. Tingkat keharmonisan dalam rumah
tangga pasangan meningkat seiring dengan efektivitas teknik-teknik
pengaturan emosi mereka.
2. Hipotesis Nol (Ho):
Keharmonisan pasangan yang baru menikah tidak terpengaruh oleh
teknik-teknik pengelolaan emosi. Hal ini menunjukkan bahwa keharmonisan
pernikahan tidak terpengaruh oleh teknik-teknik pengelolaan emosi.
3. Penjelasan Hipotesis
a. Hipotesis alternatif menyatakan bahwa pasangan yang menerapkan
strategi pengendalian emosi secara efektif akan mengalami keharmonisan
yang lebih tinggi dalam rumah tangga mereka, karena mereka mampu
mengelola konflik, stres, dan emosi negatif dengan baik.
b. Hipotesis nol menyatakan bahwa tidak ada hubungan atau pengaruh antara
strategi pengendalian emosi dan keharmonisan pasangan, sehingga hasil
penelitian akan menunjukkan bahwa keharmonisan tidak dipengaruhi oleh
kemampuan mengendalikan emosi