PENERAPAN SASARAN KINERJA PEGAWAI (SKP) TERHADAP
APARATUR SIPIL NEGARA (ASN) DI KANTOR KELURAHAN
TANJUNG HULU KECAMATAN PONTIANAK
Program Studi Administrasi Publik
Kajian Manajemen Publik
Oleh:
Nur Fadilah
E1012221040
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2025
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur atas kehadirat ALLAH SWT karena atas berkah dan
Rahmat-NYA lah saya dapat menyelesaikan Proposal Penelitian ini yang berjudul
tentang “Penerapan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) Terhadap Aparatur Sipil
Negara (ASN) Di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu Kantor Kecamatan Pontianak
Timur” dengan baik dan tepat waktunya.
Keberhasilan penulisan Proposal Penelitian ini tidak terlepas dari berbagai
pihak yang telah memberikan semangat dan dukungannya kepada saya sehingga
saya dapat menyelesaikannya. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada Bapak Dosen Dr. Isdairi, M.A.B. selaku dosen
pembimbing I dan Ibu Dosen Nawang Aviani, S.S.T., M.A.P. selaku dosen
pembimbing II dalam pengerjaan Proposal Penelitian ini dan tak lupa juga kepada
orang tua, saudara, dan teman-teman yang selalu memberikan semangat dan
dukungannya.
Selaku penulis saya menyadari bahwa Proposal Penelitian ini masih jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan adanya saran dan kritik
yang dapat membangun semangat saya agar kedepannya saya bisa menjadi lebih
baik. Aamiin.
Pontianak, 06 Oktober 2025
Nur Fadilah
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 6
1.2 Identifikasi Masalah ............................................................................. 10
1.3 Fokus Penelitian ................................................................................... 10
1.4 Rumusan Masalah ................................................................................ 10
1.5 Tujuan Penelitian .................................................................................. 10
1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Manfaat Teoritis .......................................................................... 11
1.6.2 Manfaat Praktis ........................................................................... 11
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Tinjauan Teori ....................................................................................... 13
2.1.1 Aparatur Sipil Negara ................................................................. 13
2.1.2 Manajemen Sumber Daya Manusia ............................................ 14
2.1.3 Kinerja Pegawai .......................................................................... 21
2.1.4 Sasaran Kinerja Pegawai ............................................................. 28
2.2 Hasil Penelitian Yang Relavan ............................................................. 32
2.3 Alur Pikir Penelitian ............................................................................. 35
2.4 Pertanyaan Penelitian ........................................................................... 37
BAB II METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ..................................................................................... 38
3.2 Langkah-Langkah Penelitian ................................................................ 40
iii
3.3 Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.3.1 Lokasi Penelitian ......................................................................... 40
3.3.2 Waktu Penelitian ......................................................................... 41
3.4 Subjek Dan Objek Penelitian
3.4.1 Subjek Penelitian......................................................................... 41
3.4.2 Objek Penelitian .......................................................................... 42
3.5 Teknik Pengumpulan Data.................................................................... 43
3.6 Alat Pengumpulan Data ........................................................................ 46
3.7 Analisis Data
3.7.1 Keabsahan Data ........................................................................... 47
3.7.2 Teknik Analisis Data ................................................................... 49
DAFAR PUSTAKA ............................................................................................. 52
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Alur Pikir Penelitian .............................................................................. 36
Tabel 1.2 Waktu Penelitian .................................................................................... 41
v
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumber daya manusia (SDM) merupakan modal dasar utama dalam
pembangunan nasional. Oleh karena itu, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
harus senantiasa dikembangkan dan diarahkan agar dapat berperan optimal dalam
mencapai tujuan pembangunan. Keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) dapat
dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitas dan kualitas. Aspek kuantitas berkaitan
dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia, sedangkan aspek kualitas berkaitan
dengan kemampuan fisik, intelektual, serta mental individu dalam melaksanakan
tugasnya. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi hal penting
bagi setiap organisasi, terutama instansi pemerintah, karena keberhasilan organisasi
dalam mencapai tujuan sangat bergantung pada kinerja individu pegawainya.
Dalam konteks birokrasi pemerintahan, Aparatur Sipil Negara (ASN)
memiliki peran strategis sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan masyarakat,
serta perekat dan pemersatu bangsa. Oleh sebab itu, peningkatan produktivitas dan
efektivitas kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi isu penting dalam
manajemen sektor publik. Pencapaian tujuan organisasi pemerintahan tidak hanya
ditentukan oleh kelengkapan sarana dan prasarana, tetapi juga sangat bergantung
pada profesionalisme, kompetensi, dan motivasi kerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Untuk menjamin hal tersebut,
6
pemerintah perlu menerapkan sistem penilaian kinerja yang objektif, transparan,
dan akuntabel.
Dalam rangka meningkatkan kinerja dan profesionalitas Aparatur Sipil
Negara (ASN), pemerintah melakukan reformasi sistem penilaian kinerja.
Sebelumnya, penilaian kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan Daftar
Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) yang diatur dalam peraturan lama. Namun,
secara empiris, pelaksanaan DP3 cenderung hanya bersifat formalitas, memiliki
bias dan subjektivitas tinggi, serta lebih menilai aspek kepribadian dan perilaku
dibandingkan dengan capaian hasil kerja. Akibatnya, Daftar Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan (DP3) kehilangan fungsinya sebagai alat untuk menilai produktivitas dan
kualitas kinerja pegawai secara objektif.
Sebagai bentuk penyempurnaan, pemerintah kemudian memberlakukan
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja
Pegawai Negeri Sipil, yang kemudian disempurnakan melalui PP Nomor 30 Tahun
2019 tentang Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil, serta diperkuat dengan
Peraturan Menteri PANRB Nomor 6 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Kinerja
Aparatur Sipil Negara (ASN). Melalui regulasi tersebut, sistem Sasaran Kinerja
Pegawai (SKP) ditetapkan sebagai instrumen utama dalam penilaian kinerja
Aparatur Sipil Negara (ASN).
Sistem Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) membawa perubahan signifikan
karena berorientasi pada capaian hasil kerja (performance-based), bukan sekadar
penilaian subjektif dari atasan. Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) mengharuskan
7
setiap pegawai menyusun target kerja yang terukur berdasarkan indikator kinerja
yang jelas, serta mengevaluasi realisasi capaian kerja secara periodik. Dengan
sistem ini, proses penilaian menjadi lebih transparan, objektif, dan dapat digunakan
sebagai dasar pemberian penghargaan (reward), promosi jabatan, pengembangan
karier, hingga penjatuhan sanksi disiplin bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Selain
itu, penerapan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) diharapkan dapat memperkuat
budaya kerja yang produktif, profesional, dan akuntabel dalam tubuh birokrasi
pemerintahan.
Meskipun demikian, implementasi Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) di
berbagai instansi pemerintah masih menghadapi berbagai kendala. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) sering
kali belum optimal karena masih bersifat administratif, belum sepenuhnya
menggambarkan kinerja nyata, serta masih terdapat kesalahan input data dan
keterlambatan proses penilaian. Selain itu, rendahnya pemahaman teknis pegawai
dalam penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), belum terintegrasinya sistem
e-SKP, dan minimnya umpan balik dari atasan juga menjadi hambatan yang
menyebabkan penilaian belum berjalan efektif. Kondisi ini mengakibatkan proses
penilaian kinerja belum sepenuhnya mampu meningkatkan motivasi dan kualitas
kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN).
Permasalahan serupa juga berpotensi terjadi di lingkungan pemerintahan
daerah, termasuk di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu, Kecamatan Pontianak Timur.
Sebagai unit kerja yang berhubungan langsung dengan masyarakat, kelurahan
8
memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan publik yang cepat, tepat, dan
berkualitas. Oleh karena itu, aparatur kelurahan dituntut untuk memiliki kinerja
yang baik, disiplin, serta memahami sistem penilaian yang berlaku. Namun,
efektivitas pelaksanaan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) di tingkat kelurahan sering
kali belum maksimal karena keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya
pemahaman dalam penyusunan dan evaluasi Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), serta
belum optimalnya pemanfaatan teknologi informasi dalam proses penilaian.
Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Penerapan Sasaran Kinerja Pegawai terhadap Aparatur Sipil
Negara di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu Kecamatan Pontianak Timur.”
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan Sasaran Kinerja
Pegawai (SKP) dilaksanakan di lingkungan Kantor Kelurahan Tanjung Hulu,
sejauh mana Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) berkontribusi terhadap peningkatan
kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN), serta mengidentifikasi faktor-faktor yang
mendukung dan menghambat pelaksanaannya. Hasil penelitian diharapkan dapat
memberikan gambaran nyata mengenai efektivitas penerapan Sasaran Kinerja
Pegawai (SKP) dalam meningkatkan kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di
tingkat kelurahan serta menjadi bahan masukan bagi pemerintah daerah dalam
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan berorientasi pada hasil
kerja.
9
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan judul yang peneliti ambil yaitu Penerapan Sasaran Kinerja
Pegawai (SKP) Terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) Di Kantor Kelurahan
Tanjung Hulu Kecamatan Pontianak Timur, maka peneliti memutuskan untuk
mencari tahu apakah di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu sudah menerapkan Sasaran
Kinerja Pegawai (SKP) dalam meningkatkan kinerja pegawai serta mencari tahu
faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaanya.
1.3 Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada Penerapan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP)
Terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu
Kecamatan Pontianak Timur Kota Pontianak berdasarkan penelitian yang akan
dilakukan di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu.
1.4 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana kinerja dan
perilaku Aparatur Sipil Negara (ASN) Di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu
Kecamatan Pontianak Timur berdasarkan hasil dari Menerapkan Sasaran Kinerja
Pegawai (SKP)?
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kinerja Aparatur Sipil Negara
(ASN) Di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu Kecamatan Pontianak Timur
berdasarkan hasil dari Menerapkan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP).
10
1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teori
dan konsep dalam bidang Administrasi Publik, khususnya terkait dengan
manajemen sumber daya manusia (SDM) sektor publik, penilaian kinerja, dan
implementasi kebijakan pemerintah di tingkat kelurahan. Penelitian ini juga dapat
menguji dan memvalidasi secara empiris konsep dan mekanisme kerja dari
Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) sebagai alat ukur kinerja individu ASN, serta
mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas penerapannya.
1.6.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Kantor Kelurahan Tanjung Hulu
a. Evaluasi dan Perbaikan Kebijakan: Penelitian ini menyediakan data dan
analisis faktual mengenai pelaksanaan SKP di Kantor Kelurahan, yang
dapat digunakan oleh Kepala Kelurahan dan jajaran untuk
mengevaluasi efektivitas penerapan SKP.
b. Peningkatan Kinerja Pegawai: Hasil identifikasi terhadap kendala dan
faktor pendukung penerapan SKP dapat menjadi masukan konkret
untuk merumuskan strategi perbaikan, pelatihan, dan pendampingan,
sehingga kualitas dan kuantitas kinerja ASN di Kelurahan dapat
meningkat.
c. Optimalisasi Sumber Daya Manusia: Membantu Kelurahan dalam
memahami sejauh mana SKP telah berkorelasi dengan pencapaian
11
tujuan organisasi, sehingga pengambilan keputusan terkait promosi,
mutasi, dan pengembangan karir ASN menjadi lebih objektif dan
berdasarkan kinerja.
2. Bagi Peneliti (Mahasiswa)
a. Pengembangan Wawasan Akademik: Memperoleh pengetahuan
mendalam dan pengalaman langsung dalam menganalisis fenomena
Administrasi Publik, khususnya mengenai sistem manajemen kinerja
ASN.
b. Pemenuhan Syarat Kelulusan: Menyelesaikan salah satu syarat utama
untuk memperoleh gelar sarjana pada program studi terkait.
12
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Tinjauan Teori
2.1.1 Aparatur Sipil Negara
Tenaga kerja di instansi pemerintah pusat dan daerah dikenal dengan
sebutan Aparatur Sipil Negara (ASN). Terbukti dari banyaknya lamaran yang
masuk saat rekrutmen dibuka, Aparatur Sipil Negara menjadi salah satu profesi
yang paling banyak diminati. Aparatur Sipil Negara sendiri terbagi menjadi dua
golongan, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan
Perjanjian Kerja (PPPK). Aparatur Sipil Negara adalah Aparatur Sipil Negara yang
memiliki Nomor Induk Pegawai (NIP) nasional yang diangkat menjadi tenaga kerja
tetap oleh Pejabat Pelaksana Tugas (PPK). Sedangkan Pegawai Pemerintah dengan
Perjanjian Kerja adalah pegawai Aparatur Sipil Negara yang diangkat menjadi
pegawai dengan perjanjian kerja oleh Pejabat Pelaksana Tugas sesuai dengan
kebutuhan instansi pemerintah dan ketentuan Undang-undang Aparatur Sipil
Negara.
Secara umum, Aparatur Sipil Negara adalah orang yang dipilih dan diangkat
untuk melaksanakan fungsi pemerintahan, dan honorariumnya ditetapkan
berdasarkan peraturan perundang-undangan. Menurut Undang-undang Nomor 20
Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, seseorang harus memenuhi sejumlah
persyaratan untuk dapat diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara. Dijelaskan bahwa
Aparatur Sipil Negara adalah pegawai pemerintah dan pegawai negeri sipil yang
diangkat oleh Pejabat Pelaksana Tugas Administrator Kepegawaian dan diberi
13
tugas pada jabatan pemerintahan atau tugas negara lainnya, serta penghasilannya
ditetapkan berdasarkan undang-undang..
Tugas dan peran Aparatur Sipil Negara (ASN) tertuang dalam Undang-
undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, Pasal 10 dan Pasal
11. Berikut ini adalah fungsinya:
1. Melaksanakan kebijakan pemerintah
2. Melaksanakan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah
3. Memantapkan dan memperkokoh persatuan dan kesatuan.
Sedangkan Aparatur Sipil Negara (ASN) bertugas:
1. Melaksanakan kebijakan publik yang ditetapkan oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
2 Memberikan pelayanan publik yang kompeten dan unggul.
3 Memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
2.1.2 Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Organisasi memiliki berbagai sumber daya sebagai “input” untuk diubah
menjadi “output” berupa produk atau jasa. Sumber daya manusia tersebut meliputi
modal atau uang, teknologi untuk mendukung proses produksi, metode atau strategi
yang digunakan untuk beroperasi, manusia dan sebagainya. Di antara berbagai
sumber daya tersebut, manusia atau Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan
unsur yang paling penting. Untuk merencanakan, mengelola, dan mengendalikan
14
sumber daya manusia, dalam hal ini diperlukan suatu alat manajemen yang disebut
manajemen sumber daya manusia (SDM).
Manajemen sumber daya manusia dapat diartikan sebagai suatu proses dan
kebijakan dalam suatu perusahaan. Sebagai suatu proses, misalnya Chushway
(1994:13) mendefinisikan Manajemen Sumber Daya Manusia sebagai 'bagian dari
proses yang membantu organisasi mencapai tujuannya'. Pernyataan ini dapat
diterjemahkan sebagai bagian dan proses yang membantu organisasi mencapai
tujuannya. Fokus Manajemen Sumber Daya Manusia terletak pada upaya
mengelola Sumber Daya Manusia dalam dinamika interaksi antara organisasi dan
pekerja yang memiliki kepentingan yang berbeda. Menurut Stoner (1995:4)
Manajemen Sumber Daya Manusia mencakup Sumber Daya Manusia secara
produktif dalam mencapai tujuan organisasi dan memasarkan serta memuaskan
kebutuhan pekerja secara individual..
Sementara itu, Guest mengklaim bahwa strategi manajemen Sumber Daya
Manusia organisasi difokuskan pada pencapaian standar hasil kerja setinggi
mungkin, dedikasi karyawan, fleksibilitas organisasi, dan penyatuan komponen
organisasi. Menurut pemahaman ini, tingkat di mana organisasi mencapai kesatuan
gerakan di antara semua unit organisasi, tingkat komitmen karyawan terhadap
pekerjaan dan organisasi mereka, tingkat di mana organisasi toleran terhadap
perubahan sehingga dapat membuat keputusan dan mengambil tindakan dengan
cepat, dan tingkat kualitas "hasil" yang dihasilkan oleh organisasi semuanya dapat
digunakan untuk mengukur efektivitas kebijakan Sumber Daya Manusia dalam
berbagai bentuknya..
15
2. Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Manajemen sumber daya manusia memiliki sejumlah tujuan utama. Kelima
fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
A. Mengorganisasikan Kebutuhan Sumber Daya Manusia
Setidaknya ada dua tugas utama yang terlibat dalam perencanaan
permintaan Sumber Daya Manusia, khususnya:
1. Merencanakan dan memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja jangka
pendek dan jangka panjang organisasi.
2. Untuk memastikan tugas, tujuan, kemampuan, pengetahuan, dan
keterampilan yang dibutuhkan.
Untuk melakukan tugas Manajemen Sumber Daya Manusia secara efektif,
kedua peran ini diperlukan.
B. Menyelaraskan Personel dengan Persyaratan Organisasi
Langkah berikutnya adalah mengisi posisi yang tersedia setelah kebutuhan
sumber daya manusia telah diidentifikasi.
1. Perekrutan calon pekerja potensial adalah salah satu dari dua tugas yang
diperlukan untuk tahap penempatan staf.
2. Memilih pelamar atau kandidat berdasarkan kualifikasi yang mereka
rasakan.
Ketersediaan karyawan potensial baik dari dalam maupun luar perusahaan
(internal dan eksternal) biasanya menjadi fokus utama proses rekrutmen dan
seleksi.
16
C. Penilaian Kinerja
Kegiatan ini dilakukan setelah calon atau pelamar dipekerjakan dalam
kegiatan organisasi. Organisasi menentukan bagaimana sebaiknya bekerja
dan kemudian memberi penghargaan atas kinerja yang dicapainya. Namun,
perusahaan juga harus menentukan apakah ada contoh kinerja yang buruk,
di mana karyawan tidak mampu memenuhi sasaran kinerja yang ditetapkan.
Evaluasi kinerja ini terdiri dari dua tugas utama, yaitu sebagai berikut:
1. Perilaku karyawan dinilai dan dievaluasi.
2. Analisis perilaku dan motivasi karyawan. Baik penilai maupun yang
dinilai menganggap tugas evaluasi kinerja ini sangat menantang, dan
rentan terhadap perselisihan.
D. Meningkatkan Kualitas Tempat Kerja dan Kualitas Karyawan
Tiga strategi kegiatan saat ini menjadi penekanan manajemen sumber daya
manusia, khususnya:
1. Mengidentifikasi, membuat, dan melaksanakan inisiatif pelatihan dan
pengembangan bagi sumber daya manusia untuk meningkatkan kinerja
dan kemampuan pekerja.
2. Meningkatkan standar tempat kerja, khususnya melalui peningkatan
keseimbangan kehidupan kerja dan program produktivitas.
3. Memperbaiki kondisi fisik kerja guna memaksimalkan kesehatan dan
keselamatan pekerja.
Peningkatan aspek fisik dan non-fisik di tempat kerja merupakan salah satu
hasil yang dapat dicapai melalui penerapan ketiga teknik tersebut.
17
E. Meningkatkan Efektivitas Hubungan di Tempat Kerja
Setelah tenaga kerja yang dibutuhkan terpenuhi, perusahaan melakukan
perekrutan, pemberian kompensasi, dan menciptakan lingkungan yang
membuat karyawan merasa terlibat dan nyaman. Oleh karena itu,
perusahaan juga harus menetapkan pedoman untuk mencapai hubungan
kerja yang produktif. Dalam hal ini, terdapat tiga tugas utama, yaitu sebagai
berikut:
1. Memahami dan menegakkan hak-hak karyawan.
2. Menegosiasikan dan menyusun protokol untuk mengajukan keluhan
karyawan.
3. Meneliti kegiatan yang terkait dengan manajemen sumber daya
manusia
Masalah yang harus diselesaikan dalam tugas besar ketiga ini sangat krusial.
Protes yang kerap terjadi di banyak perusahaan Indonesia pada akhirnya
akan terjadi jika organisasi tidak berhati-hati dalam menangani setiap
masalah yang berkaitan dengan hak-hak pekerja..
3. Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia
Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia yang tepat sangat sulit
dirumuskan karena sifatnya yang bervariasi dan bergantung pada tahap
perkembangan yang terjadi pada masing-masing tujuan. Cushway menyatakan
bahwa berikut ini adalah tujuan manajemen sumber daya manusia:
18
1. Pastikan perusahaan memiliki karyawan yang bermotivasi tinggi dan
pekerja keras yang selalu siap beradaptasi terhadap perubahan dan
menjalankan persyaratan hukum mereka dengan memberikan pertimbangan
manajemen saat membuat kebijakan Sumber Daya Manusia.
2. Mengimplementasikan dan menjaga semua kebijakan dan prosedur Sumber
Daya Manusia (SDM) yang memungkinkan organisasi mampu mencapai
tujuannya.
3. Berkontribusi pada pengembangan organisasi dan strategi secara
keseluruhan, khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan sumber
daya manusia (SDM).
4. Menawarkan bantuan dan situasi yang memungkinkan para manajer lini
untuk memenuhi tujuan mereka.
5. Menangani krisis hubungan karyawan dan situasi yang menantang untuk
memastikan bahwa hal tersebut tidak menghalangi perusahaan dalam
mencapai tujuannya.
6. Membangun saluran komunikasi antara manajemen perusahaan dan
stafnya.
7. Melindungi prinsip dan standar organisasi dalam manajemen sumber daya
manusia.
Schuler dan kawan-kawan. menyatakan bahwa manajemen sumber daya
manusia, paling tidak, memiliki tiga tujuan utama, yaitu sebagai berikut:
19
1. Meningkatkan tingkat produksi
2. Meningkatkan standar hidup di tempat kerja
3. Memverifikasi apakah perusahaan telah mematuhi persyaratan hukum
Salah satu tujuan organisasi yang paling penting adalah produktivitas.
Dalam situasi ini, peningkatan produktivitas organisasi dapat dibantu oleh
manajemen sumber daya manusia. Bisnis yang telah mencapai tingkat produktivitas
tinggi memiliki strategi manajemen sumber daya manusia yang khas. Keunikan
khusus ini berkaitan dengan keadaan di mana:
1. Organisasi membatasi peran SDM menurut tingkat partisipasinya di dalam
pembuatan keputusan bisnis yang mengimplementasikan strategi bisnis.
Organisasi memfokuskan penggunaan sumber daya yang tersedia
dicurahkan pada fungsi-fungsi Sumber Daya Manusia dalam mengatasi
setiap masalah sebelum menambah program baru atau mencari sumber daya
tambahan.
2. Staf Sumber Daya Manusia organisasi berinisiatif untuk membuat program
dan berkomunikasi dengan manajemen ini.
3. Manajemen lini berbagai tanggung jawab untuk seluruh program Sumber
Daya Manusia.
4. Staf perusahaan berbagi tanggung jawab untuk perumusan kebijakan
Sumber Daya Manusia dan administrasi program pada seluruh tingkatan
organisasional.
20
2.1.3 Kinerja Pegawai
1. Pengertian Kinerja
Kinerja karyawan sering diartikan sebagai perubahan dalam pekerjaan yang
dilakukan karyawan, dan biasanya digunakan sebagai dasar atau titik acuan untuk
evaluasi karyawan dalam suatu perusahaan. Pencapaian tujuan perusahaan dimulai
dengan kinerja yang baik. Oleh karena itu, upaya harus dilakukan untuk
meningkatkan kinerja karyawan karena kinerja juga menentukan tercapainya tujuan
organisasi.
Kinerja menurut Uha (dalam Suntoro 2017:212) adalah hasil kerja yang
dilakukan oleh individu atau kelompok individu dalam suatu organisasi sesuai
dengan peran dan tanggung jawabnya masing-masing untuk mencapai tujuan
organisasi secara legal, moral, dan etika. Menurut Hariati (dalam Mangkunegara
2015:5) kinerja adalah hasil usaha individu baik secara kuantitas maupun kualitas
dalam melaksanakan tugas sesuai dengan yang diberikan [Link]
menurut Usman (dalam Hikmah 2011:487) merupakan hasil usaha dan kemajuan
seseorang dalam bidang yang bersangkutan. Kinerja atau dalam bahasa Inggris
disebut performance identik dengan prestasi kerja. Kinerja selalu menjadi indikator
keberhasilan suatu organisasi dan anggotanya. Upaya untuk mencapai peningkatan
kinerja disebut dengan kinerja. Kinerja merupakan hasil akhir dari kegiatan kerja
dalam suatu perusahaan (dalam Robbins dan Coulter 2010:188).
Menurut Mangkunegara (2009:67) kinerja merupakan hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam
melaksanakannya. sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Rivai
21
(2004:309) mencoba mempertegas tentang pengertian kinerja yaitu merupakan
hasil yang konkret yang dapat diamati dan diukur. Kinerja menurut Wirawan
(2009:5) merupakan hasil dari fungsi atau indikator suatu pekerjaan atau profesi
selama kurun waktu tertentu. Kinerja merupakan hasil yang dicapai oleh seorang
individu ketika ia menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan kepadanya sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Menurut Sedarmayanti (2011:260)
menyatakan bahwa: “kinerja merupakan terjemahan dari kata performance yang
berarti hasil kerja seorang pekerja, suatu proses manajemen atau suatu organisasi
secara keseluruhan, yang mana hasil kerja tersebut dapat ditunjukkan secara
konkret dan dapat diukur (dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan
sebelumnya).
Beberapa definisi kinerja mengarah pada kesimpulan bahwa kinerja adalah
hasil dari upaya atau gambaran apakah suatu organisasi telah mampu menerapkan
kebijakan dan kegiatan sesuai dengan visi dan misinya sendiri. Kinerja juga dapat
didefinisikan sebagai hasil kerja karyawan yang memenuhi standar dan kriteria
yang telah ditentukan dalam jangka waktu tertentu.
2. Tujuan Kinerja
Menurut Mardiasmo (2009), keberhasilan implementasi program yang
terukur akan memotivasi pencapaian keberhasilan tersebut. Evaluasi kinerja yang
berkelanjutan memberikan informasi yang berharga untuk tujuan jangka panjang
dan kemajuan yang berkelanjutan. Terdapat berbagai aplikasi untuk sistem
pengukuran kinerja, termasuk:
22
a. Meningkatkan komunikasi strategis yang lebih efektif.
b. Pengukuran keberhasilan yang adil dalam hal uang dan non-uang sehingga
dapat dimasukkan ke dalam kampanye untuk mengembangkan rencana.
c. Memotivasi manajer tingkat menengah dan bawah untuk mencapai
keselarasan tujuan dengan mempertimbangkan kepentingan mereka.
d. Sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan sesuai dengan preferensi
individu dan kecakapan kelompok yang rasional..
Peneliti dapat menyimpulkan dari tujuan-tujuan ini bahwa tujuan penilaian
kinerja adalah untuk menyediakan informasi yang komprehensif tentang
pencapaian kinerja dan bukan sekadar pelaporan keuangan. Jadi kesimpulannya,
akuntabilitas kerja adalah tanggung jawab instansi pemerintah untuk
mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program dan
kegiatan dalam mencapai misi dan tujuan organisasi. ini mencakup
pertanggungjawaban terhadap pemangku kepentingan, pencapaian target, dan
penggunaan anggaran secara efektif dan efisien.
3. Indikator Kinerja
Menurut Robbins (2006:260), ada enam indikator untuk mengukur kinerja
karyawan, yaitu:
A. Kualitas Pekerjaan
Kualitas pekerjaan diukur dari kesempurnaan tugas yang berkaitan dengan
keterampilan dan bakat karyawan serta pendapat mereka tentang mutu
pekerjaan yang mereka lakukan.
23
B. Kuantitas Kerja
Jumlah yang dihasilkan yang dinyatakan dalam kuantitas adalah jumlah
yang ditunjukkan dalam satuan dan siklus kegiatan yang dilakukan.
C. Ketepatan Waktu
Menyelesaikan tugas sesuai jadwal dan memanfaatkan waktu luang untuk
kegiatan lain.
D. Efektivitas
Mengoptimalkan jumlah pemanfaatan sumber daya organisasi saat ini
(tenaga kerja, dana, bahan baku) untuk meningkatkan hasil setiap unit dalam
penggunaan sumber daya.
E. Komitmen
Komitmen adalah sejauh mana seorang karyawan dapat memenuhi tugas
dan kewajibannya terhadap organisasi atau perusahaan.
4. Penilaian Kinerja
Alat penilaian kerja dapat digunakan untuk mengevaluasi karyawan yang
diketahui mampu melaksanakan tugasnya untuk perusahaan. Salah satu komponen
utama dari evaluasi penilaian kerja adalah metode yang digunakan untuk
membandingkan kinerja kerja individu dengan standar kinerja standar. Menurut
temuan tersebut, inti dari evaluasi kinerja adalah praktik berkelanjutan untuk
mengevaluasi mutu pekerjaan individu dan inisiatif untuk meningkatkan kinerja
individu dalam perusahaan. Menurut Certo (Ilyas, 2001), evaluasi kinerja adalah
proses mengevaluasi hasil kerja yang ditunjukkan terhadap pencapaian target
24
sistem manajemen dan proses pelacakan aktivitas pribadi pada saat tertentu.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap signifikansi kinerja adalah:
a. Setiap orang yang bekerja ingin memiliki kesempatan untuk meningkatkan
keterampilan kerja mereka semaksimal mungkin.
b. Orang ingin menerima penghargaan dan prestasi karena melakukan
pekerjaan terbaik mereka.
c. Setiap orang ingin penilaian kinerja mereka dilakukan secara tidak
memihak.
Oleh karena itu, evaluasi kinerja kerja sangat penting bagi pertumbuhan
sumber daya manusia suatu organisasi. Selain itu, berbagai keuntungan dari
penilaian kinerja akan ditunjukkan, termasuk::
a. Perbaikan Kinerja
Penilaian kinerja dapat dijadikan umpan balik bagi karyawan, manajer dan
departemen sumber daya manusia untuk memperbaiki kinerja karyawan.
b. Penyesuaian Kompensasi
Dalam menentukan kenaikan upah, pemberian bonus dan berbagai macam
bentuk kompensasi, maka penilaian kinerja dapat dijadikan indikator bagi
para pengambil keputusan.
c. Keputusan Penempatan
Penilaian kinerja juga dapat dijadikan dasar dalam melakukan promosi,
transfer dan penurunan jabatan.
25
d. Kebutuhan Pelatihan dan Pengembangan
Hendaknya setiap karyawan mampu mengembangkan diri karena kinerja
yang buruk menunjukkan bahwa karyawan membutuhkan pelatihan dan
pengembangan.
e. Program Pengembangan Karir
Proses pengambilan keputusan terhadap kekhususan karir dan karyawan
dapat dibantu dengan umpan balik dari kinerja.
f. Penyimpangan Proses Staffing.
Kekuatan dan kelemahan proses pengadaan karyawan di dalam organisasi
atau perusahaan dapat tercermin dan kinerja yang baik atau buruk.
g. Ketidakakuratan Informasi
Rencana SDM, informasi analisis pekerjaan atau hal-hal yang berhubungan
dengan sistem manajemen sumber daya manusia merupakan ukuran dari
penilaian kinerja yang buruk.
h. Kesalahan Rancangan Pekerjaan
Rancangan pekerjaan yang keliru merupakan gejala dari penilaian kinerja
yang buruk.
i. Kesempatan Kerja yang Sama
Keputusan penempatan internal dapat dilakukan tanpa adanya perbedaan
jika penilaian kinerja dilakukan acara akurat.
26
j. Tantangan Eksternal
Faktor kesehatan, kondisi keuangan merupakan faktor di luar lingkungan
kerja yang dapat mempengaruhi penilaian kinerja.
5. Metode Penilaian Kinerja
Terdapat dua pendekatan yang digunakan saat melakukan evaluasi kinerja:
1. Teknik yang berfokus pada masa lalu. Pendekatan ini menggunakan
sejumlah strategi, seperti:
a. Strategi yang memberi peringkat evaluasi kinerja karyawan dari
terendah hingga tertinggi.
b. Metode untuk mengkarakterisasi kinerja dan sifat karyawan.
c. Metode yang menggunakan tinjauan lapangan untuk mengevaluasi
kinerja karyawan.
2. Teknik yang berfokus pada masa depan. Metode ini juga menggunakan
beberapa teknik, termasuk:
a. Penilaian diri dengan melakukan pengembangan organisasi melalui
pengembangan diri karyawan.
b. Penilaian psikologis dengan menilai aspek motivasi, emosional, dan
intelektual.
c. Mengidentifikasi kemampuan manajemen untuk masa depan.
d. Mengidentifikasi dan mempersiapkan individu yang berpotensi untuk
mengisi posisi strategis di masa depan, guna memastikan
kesinambungan kepemimpinan dan kompetensi organisasi.
27
2.1.4 Sasaran Kerja Pegawai (SKP)
1. Pengertian Sasaran Kerja Pegawai (SKP)
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 6 Tahun 2022, salah satu sasaran yang digunakan untuk
menilai kinerja Aparatur Sipil Negara setiap tahun adalah Sasaran Kinerja Pegawai
(SKP). Sasaran Kinerja Pegawai tidak hanya sebagai alat penilaian kinerja, tetapi
juga dapat digunakan untuk mengukur capaian kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS)
dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Sasaran Kinerja Pegawai
memuat tugas pokok Aparatur Sipil Negara, disertai tujuan dan cita-cita yang harus
dicapai. Sasaran Kinerja Pegawai merupakan salah satu alat yang digunakan untuk
menilai kinerja Aparatur Sipil Negara. Dengan demikian, instansi terkait dapat
menilai kinerja Aparatur Sipil Negara baik secara kualitatif maupun statistik dengan
menggunakan Sasaran Kinerja Pegawai.
2. Tujuan Sasaran Kinerja Pegawai
SKP atau Sasaran Kinerja Pegawai merupakan suatu hal yang penting dalam
lingkungan kerja pemerintahan. Tujuan dibuatnya SKP di antaranya adalah sebagai
berikut.
1. Menjamin bahwa setiap Aparatur Sipil Negara yang ada di instansi
pemerintahan bisa dinilai secara objektif.
2. Memastikan seorang Aparatur Sipil Negara bisa mendapatkan pembinaan
yang tepat dari instansinya bekerja.
3. Memastikan instansi dapat mendorong setiap ASN bekerja keras.
28
3. Hasil Sasaran Kinerja Pegawai
Pejabat penilai kinerja akan mengukur capaian kinerja organisasi untuk
menetapkan predikat kinerja pegawai, di antaranya:
1. Istimewa, apabila melampau target
2. Baik, apabila sesuai dengan target
3. Cukup/butuh perbaikan, apabila sudah berprogres namun butuh perbaikan
4. Kurang, apabila di bawah target
5. Sangat kurang, apabila jauh di bawah target
Di samping itu, SKP juga akan menghasilkan rating bagi pegawai yang
merupakan hasil dari pertimbangan hasil kerja serta perilakunya. Rating tersebut di
antaranya:
1. Diatas ekspektasi
2. Sesuai ekspektasi
3. Dibawah ekspektasi
4. Konsekuensi Bagi Aparatur Sipil Negara Yang Tidak Mencapai
Sasaran Kinerja Pegawai
Aparatur Sipil Negara yang tidak mencapai Sasaran Kinerja Pegawai akan
menerima sanksi sesuai Peraturan Pemerintahan Nomor 94 Tahun 2021, yakni:
1. Aparatur Sipil Negara mendapat hukum sedang, apabila pencapaian target
kerja 25 sampai 50 persen pada akhir tahun.
29
2. Aparatur Sipil Negara mendapat hukuman berat, apabila target kinerja
tahunannya kurang dari 25 persen..
5. Unsur-unsur Sasaran Kinerja Pegawai
Berikut adalah beberapa unsur yang terdapat dalam sebuah Sasaran Kinerja
Pegawai agar Aparatur Sipil Negara dinilai secara objektif:
1. Kegiatan Tugas Jabata
Kegiatan tugas jabatan merupakan komponen pertama dari target kinerja
pegawai. Tugas, tanggung jawab, dan wewenang jabatan Aparatur Sipil
Negara dirujuk dalam kegiatan tugas jabatan yang merupakan komponen
target kinerja pegawai. Setiap tugas yang diuraikan di sini berkaitan dengan
komponen utama dan pendukung suatu jabatan dan terhubung dengan
rencana kerja tahunan, visi, dan tujuan instansi.
2. Angka Kredit
Nilai kredit merupakan item berikutnya dalam Target Kinerja Pegawai.
Untuk setiap uraian tugas yang ditetapkan dalam Target Kinerja Pegawai,
seorang Aparatur Sipil Negara harus memenuhi nilai kredit. Selain itu,
berbagai tindakan yang diselesaikan oleh Aparatur Sipil Negara selama satu
tahun dimasukkan dalam nilai kredit. Komponen utama dan tambahan dari
kewajiban kerja pegawai Aparatur Sipil Negara juga dimasukkan dalam
nilai kredit ini.
3. Target
Yang terakhir dalam penilaian kinerja pegawai Sasaran adalah target.
Sasaran merupakan hasil penilaian kinerja Aparatur Sipil Negara yang
30
terbagi dalam tiga kategori, yaitu kurang, baik, dan sangat baik. Persyaratan
target Sasaran Kinerja Pegawai juga mencakup waktu, kuantitas, dan
kualitas yang berkaitan dengan sifat, karakteristik, dan jenis kegiatan yang
dilakukan oleh Aparatur Sipil Negara..
6. Tahap Penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai
Sasaran Kinerja Pegawai tidak bisa dibuat secara individu oleh masing-
masing Aparatur Sipil Negara. Dirangkum dari Badan Kepegawaian Negara
(BKN), berikut adalah gambaran tahap penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai:
1. Melihat Keseluruhan Organisasi Sesuai Unit Kerja
Tahap paling pertama adalah penyelarasan sasaran strategis instansi ke unit
kerja di bawahnya. Penyelarasan ini dilakukan sesuai dengan pohon
kinerja/matriks penyelarasan sasaran strategis/peta proses bisnis.
2. Menetapkan Ekspresi Hasil Kerja Dan Perilaku Kerja
Hasil kerja primer dan sekunder merupakan dua kategori hasil kerja yang
dapat dijadikan dasar penilaian. Sementara beberapa hasil kerja
menunjukkan tingkat prioritas rendah, hasil kerja primer merupakan hasil
kerja yang menunjukkan tingkat prioritas tinggi. Nilai-nilai dasar Aparatur
Sipil Negara moral, berorientasi pada pelayanan, akuntabel, harmonis,
loyal, adaptif, dan kolaboratif berfungsi sebagai dasar penilaian perilaku
kerja. Selain itu, pemimpin juga dapat memberikan ekspektasi khusus
terhadap perilaku kerja yang harus ditunjukkan pegawai.
31
3. Menyusun Indikator Kerja Utama
Pimpinan instansi atau pimpinan unit kerja kemudian harus menyusun
indikator kerja utama beserta manualnya. Dokumen ini merupakan rincian
dari indikator keberhasilan yang harus dicapai oleh pegawai, memuat
informasi seperti: rencana hasil kerja, ukuran keberhasilan dan tujuan.
4. Menyusun Strategi Pencapaian Hasil Kerja
Tahap terakhir dari penyusunan SKP adalah penyusunan strategi untuk
mencapai target-target yang sudah ditentukan. Setelah memahami apa yang
akan dicapai di level instansi dan unit kerja, penjabat pemimpin tinggi dan
pemimpin unit kerja perlu menyusun strategi pencapaian hasil kerja untuk
setiap target. Strategi pencapaian hasil kerja berupa: outcame, output dan
layanan.
2.2 Hasil Penelitian Yang Relavan
Penulisan ini merupakan salah satu upaya peneliti dalam rangka menambah
sumber mengenai permasalahan yang di teliti atau mengenai salah satu masalah
yang akan dikaji. Beberapa hasil penelitian sebelumnya, sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Andi Sakti yang berjudul Efektivitas
Penerapan Sasaran Kinerja Pegawai Di Dinas Kependudukan Dan
Pencatatan Sipil Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Utara. Pada
penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif.
“Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat
deskripsi tentang situasi atau peristiwa” (Suryabrata sumandi, 2008). Dalam
melaksanakan penelitian deskriptif tidak perlu mencari atau menjelaskan
32
keterkaitan, menguji hipotesis, serta mendapatkan makna dan implikasi
dalam menemukan hal tersebut juga dapat mencakup metode deskriptif.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Travers dalam Moh. Nazir 2014)
mengatakan “metode deskriptif bertujuan untuk menggambarkan sifat
sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa
sebab sebab dari suatu gejala tertentu”. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah observasi, dokumentasi dan wawancara. Setelah data
yang di perlukan sudah ada kemudian peneliti menggabungkannya dengan
teknik triangulasi. Dalam penelitian ini, digunakan teknik analisis
berdasarkan teori yang dijelaskan oleh Sutrisno (2019), yang terdiri dari
lima dimensi utama yaitu produktivitas, efisiensi, kepuasan, adaptasi, dan
pengembangan.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Budiawan Bimantoro Aji yang berjudul
Sistem Penilaian Kinerja Berbasis Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) Di
Lingkungan Sekretariat Daerah Kota Banjarbaru. Pada penelitian ini,
peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini dilakukan dalam rangka
menggambarkan mengenai kebijakan dalam pemberian pembinaan dengan
penilaian kinerja pegawai berbasis Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) yang
diambil oleh Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah
(BKPPD) Kota Banjarbaru.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Luky Wahyu Saputra dan Ardana Putri
Farahdiansari yang berjudul Penerapan Sasaran Kinerja Pegawai Dalam
33
Meningkatkan Kinerja Pegawai Dan Produktivitas Di PPSDM Migas Cepu.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan
pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan secara
mendalam proses penerapan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) di PPSDM
Migas Cepu serta menelaah dampaknya terhadap peningkatan kinerja
pegawai dan produktivitas lembaga. Pendekatan kualitatif dipilih karena
sesuai untuk menelusuri fenomena secara holistik dan mendalam melalui
interpretasi terhadap makna, persepsi, serta pengalaman subjek penelitian di
lingkungan kerja.
4. Penelitian oleh Sahrul Ilham berjudul "Analisis Kinerja Pegawai Negeri
Sipil di Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten
Karimun" menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan
melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memahami
penerapan sistem evaluasi kinerja di instansi tersebut. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa aspek kuantitas, kualitas, dan waktu kerja pegawai
masih kurang baik, menandakan adanya kelemahan dalam pengelolaan
kinerja. Namun, aspek biaya dinilai cukup baik, mencerminkan efisiensi
anggaran yang telah diperhitungkan. Temuan penting lainnya adalah adanya
subjektivitas dalam penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), di mana
penilaian dari atasan tidak sepenuhnya berdasarkan capaian kerja,
melainkan dipengaruhi oleh faktor personal atau administratif. Hal ini dapat
mengurangi efektivitas evaluasi kinerja dan berdampak pada motivasi serta
profesionalisme pegawai.
34
2.3 Alur Pikir Penelitian
Menurut Widayat dan Amarullah (2002) kerangka pikir atau juga disebut
sebagai kerangka konseptual merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang
penting. Sedangkan Menurut Sugiono (2019) kerangka berpikir merupakan model
konseptual yang menunjukkan bagaimana suatu teori berhubungan dengan berbagai
aspek yang sudah diidentifikasi.
Dari laporan Sasaran Kinerja Pegawai yang peneliti dapat Di Kantor
Kelurahan Tanjung Hulu, tertera bahwa hasilnya baik semua. Ini merupakan hasil
yang sangat disukai oleh atasan yang menilainya, tetapi biarpun nilai di atas
memenuhi ekspektasi, pasti ada satu atau dua kendala dalam pembuatan Sasaran
Kinerja Pegawai, dari penilaian kinerja maupun perilaku pegawai, yang dimana dari
sumber anonim yang peneliti dengar, terkadang atasan melimpahkan pembuatan
SKP kepada pegawai yang tidak bertanggung jawab dalam pembuatan SKP ini,
adapun nilai baik yang tertera di data adalah suruhan atasan agar di kemudian hari
ketika si pegawai naik jabatan tidak ada hal yang menyulitkannya.
Dalam penelitian ini, peneliti akan mencari tahu apakah di Kantor
Kelurahan Tanjung Hulu sudah menerapkan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dalam
meningkatkan kinerja. Dengan menggunakan indikator kerja yang dimana indikator
kerja tersebut ada tujuh, yaitu: Kuantitas Kerja, Kualitas Kerja, Pengetahuan
Tentang Pekerjaan, Perencanaan Kegiatan, Otoritas “Wewenang”, Disiplin dan
inisiatif.
35
PENERAPAN SASARAN KINERJA PEGAWAI TERHADAP
APARATUR SIPIL NEGARA DI KANTOR KELURAHAN TANJUNG
HULU KECAMATAN PONTIANAK TIMUR
Identifikasi Masalah
Berdasarkan judul yang peneliti ambil yaitu Penerapan Sasaran Kinerja Pegawai
(SKP) Terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) Di Kantor Kelurahan Tanjung
Hulu Kecamatan Pontianak Timur, maka peneliti memutuskan untuk mencari
tahu apakah di Kantor Kelurahan Tanjung Hulu sudah menerapkan Sasaran
Kinerja Pegawai (SKP) dalam meningkatkan kinerja pegawai serta mencari tahu
faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaanya.
Indikator kinerja Pegawai Menurut Robbins (2006:260), ada tujuh indikator
untuk mengukur kinerja karyawan yaitu :
1. Kuantitas Kerja
2. Kualitas Kerja
3. Pengetahuan Tentang Pekerjaan
4. Perencanaan Kegiatan
5. Otoritas “Wewenang”
6. Disiplin
7. inisiatif
OUTPUT:
Untuk mengetahui hasil kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) Di Kantor
Kelurahan Tanjung Hulu Kecamatan Pontianak Timur berdasarkan hasil dari
Menerapkan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP).
TABEL 1.1 ALUR PIKIR PENELITIAN
36
2.4 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan hasil perumusan masalah serta
kerangka pikir yang telah dijabarkan dan dijelaskan sebelumnya pertanyaan untuk
penelitian ini adalah:
1. Bagaimana sistem penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) mempengaruhi
Kuantitas Kerja di Kelurahan Tanjung Hulu?
2. Bagaimana sistem penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) mempengaruhi
Kualitas Kerja di Kelurahan Tanjung Hulu?
3. Bagaimana sistem penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) mempengaruhi
Pengetahuan Tentang Pekerjaan di Kelurahan Tanjung Hulu?
4. Bagaimana sistem penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) mempengaruhi
Perencanaan Kegiatan di Kelurahan Tanjung Hulu?
5. Bagaimana sistem penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) mempengaruhi
Otoritas “Wewenang” di Kelurahan Tanjung Hulu?
6. Bagaimana sistem penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) mempengaruhi ke-
Disiplin di Kelurahan Tanjung Hulu?
7. Bagaimana sistem penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) mempengaruhi
Inisiatif Pegawai di Kelurahan Tanjung Hulu?
37
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif
dengan pendekatan deskriptif yaitu melalui wawancara semi terstruktur,
pengumpulan data dokumen, triangulasi dari sumber luar, dan studi pustaka. Miles
dan Huberman (1994) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif deskriptif bertujuan
untuk memahami fenomena sosial melalui pengumpulan dan analisis data yang
tidak berbentuk angka. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan
dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan. Metode ini sangat berguna dalam penelitian terkait
evaluasi kinerja Aparatur Sipil Negara karena dapat menggambarkan sistem
Sasaran Kinerja Pegawai secara menyeluruh berdasarkan persepsi dan pengalaman
pegawai.
Bogdan dan Biklen (1992) juga menjelaskan bahwa penelitian kualitatif
deskriptif menekankan pada pemahaman mendalam tentang suatu fenomena dalam
konteksnya. Peneliti tidak berusaha untuk menguji hipotesis secara statistik,
melainkan untuk menginterpretasikan bagaimana suatu sistem atau kebijakan
diterapkan dalam praktiknya. Dalam konteks Kinerja Aparatur Sipil Negara
berdasarkan Sasaran Kinerja Pegawai ini, memungkinkan peneliti untuk menggali
bagaimana subjektifitas atasan, kualitas pengelolaan data, dan pelimpahan proses
penilaian mempengaruhi efektivitas sistem evaluasi kinerja pegawai.
38
Creswell (2014) Creswell menekankan bahwa penelitian kualitatif
berorientasi pada eksplorasi masalah melalui perspektif individu yang terlibat. Ia
menguraikan bahwa pendekatan triangulasi data, seperti yang penulis gunakan
dengan wawancara, dokumentasi, dan sumber eksternal, dapat meningkatkan
validitas hasil penelitian. Dengan menggabungkan berbagai sumber informasi,
penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih akurat tentang efektivitas
Sasaran Kinerja Pegawai dan mengurangi bias dalam analisis.
Sugiyono (2016) Dalam bukunya tentang metode penelitian kualitatif,
Sugiyono menjelaskan bahwa penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk
memahami, menganalisis, dan menginterpretasikan fenomena sosial tanpa
melakukan pengujian hipotesis secara kuantitatif. Ia juga menekankan pentingnya
analisis induktif, di mana kesimpulan penelitian dibuat berdasarkan pola yang
muncul dari data yang dikumpulkan, bukan dari asumsi awal. Dalam penelitian
tentang Kinerja Aparatur Sipil Negara berdasarkan Sasaran Kinerja Pegawai,
pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menemukan pola dalam sistem
evaluasi kinerja yang mungkin belum teridentifikasi sebelumnya.
Dengan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini bertujuan untuk
menggambarkan dan menganalisis bagaimana sistem evaluasi kinerja Aparatur
Sipil Negara di Kelurahan Tanjung Hulu Kecamatan Pontianak Timur berjalan,
termasuk kendala dalam pengelolaan data, subjektifitas dalam pemberian Sasaran
Kinerja Pegawai, serta pelimpahan proses penilaian. Pendekatan ini cocok untuk
menggambarkan fenomena secara holistik dan memberikan analisis berbasis
39
interpretasi data kualitatif, yang dapat membantu dalam mengembangkan
rekomendasi kebijakan atau sistem evaluasi berbasis bukti.
3.2 Langkah-langkah Penelitian
Dalam tahap ini, penelitian diawali dengan penentuan tujuan utama, yaitu
mengevaluasi efektivitas sistem Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) bagi Aparatur Sipil
Negara (ASN) di Kelurahan Tanjung Hulu, Kecamatan Pontianak Timur. Selain itu,
perumusan pertanyaan penelitian dilakukan dengan mengacu pada prinsip
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) untuk memahami bagaimana
transparansi dan objektivitas dalam penilaian Sasaran Kinerja Pegawai dapat
ditingkatkan. Kemudian peneliti membuat bab-bab di atas dengan mencari data
melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Yang hasil akhirnya menjadi
sebuah laporan penelitian, yang dalam konteks ini disebut dengan praktikum II.
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berada di Kelurahan Tanjung Hulu, Kecamatan
Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Pemilihan lokasi ini
didasarkan pada kebutuhan untuk menganalisis metode penilaian menggunakan
Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) bagi Aparatur Sipil Negara di tingkat kelurahan
serta mengidentifikasi tantangan yang muncul dalam proses penilaian kinerja.
Selain itu, Kelurahan Tanjung Hulu dipilih karena memiliki struktur organisasi
pemerintahan yang relevan dengan fokus penelitian, memungkinkan peneliti untuk
memperoleh data langsung dari pegawai kelurahan, dokumen administrasi terkait
40
Sasaran Kinerja Pegawai, serta wawancara dengan sumber eksternal guna
melakukan triangulasi data.
3.3.2 Waktu Penelitian
Waktu Penelitian
No. Jenis Kegiatan
Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus
1. Penyusunan Outline
2. Usulan Penelitian
3. Revisi Usulan Penelitian
Seminar Usulan
4.
Penelitian
5. Pelaksanaan Penelitian
6. Bimbingan Skripsi
7. Ujian Skripsi
Tabel 1.2 Waktu Penelitian
3.4 Subjek dan Objek Penelitian
3.4.1 Subjek Penelitian
Sugiyono (2013:397–399) menyatakan bahwa subjek penelitian adalah
mereka yang terlibat dalam penelitian (informan atau sumber) yang memberikan
pengetahuan tentang sampel data penelitian. Kualitas objek penelitian dapat
dijelaskan oleh informasi yang mungkin diberikan oleh subjek penelitian mengenai
data penelitian. Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan
adalah purposive sampling, dan snowball sampling. Seperti telah dikemukakan
bahwa, purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan
pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang
41
dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai
penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial
yang diteliti. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data,
yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan
karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu memberikan
data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai
sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar,
seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar.
Dari kesimpulan di atas maka, peneliti menggunakan teknik pengambilan
sampel Non-probability sampling yang sering digunakan dalam metode kulitatif
yaitu puposive sampling dan snowball sampling. dari purposive sampling peneliti
mendapat informan yaitu si penilai SKP yang dimana penilai SKP adalah informan
yang sangat tahu dalam penilaian kinerja pegawainya dan perilaku pegawainya.
sementara melalui teknik snowball sampling peneliti memperoleh informan yang
mengetahui seluk beluk pembuatan SKP (walaupun orang ini bukan penilai atau
pembuat SKP yang sebenarnya) yang dimana informan ini akan membuat peneliti
mendapatkan sumber data yang lebih banyak dan memuaskan.
3.4.2 Objek Penelitian
Objek penelitian merupakan suatu kondisi yang menggambarkan atau
menjelaskan situasi dari objek yang akan diteliti untuk memperjelas gambaran
penelitian secara keseluruhan. Menurut Supriati (2012 : 38) objek penelitian adalah
variabel yang diteliti oleh penulis di tempat penelitian dilakukan. Objek penelitian
dalam penelitian ini adalah menganalisis Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
42
Berdasarkan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) Di Kelurahan Tanjung Hulu
Kecamatan Pontianak Timur.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan
langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian
adalah mendapatkan data Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik
pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang di uraikan
sebagai berikut.
1. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan
untuk mengumpulkan data primer yang dibutuhkan dengan melakukan
pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Menurut Nasution dalam
Sugiyono (2013:226) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar dari
semua ilmu pengetahuan.
Penulis melakukan observasi untuk memperjelas data yang
diperoleh. Pada penelitian ini observasi dilakukan untuk mengetahui fakta
tentang keadaan sebenarnya yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini,
observasi penelitian menunjukkan bahwa meskipun kinerja ASN di
Kelurahan Tanjung Hulu cukup baik dalam mencapai target SKP, tetapi
terdapat beberapa kendala dalam sistem evaluasi kinerja. Pengelolaan data
kinerja masih lemah, menghambat transparansi dan akurasi dalam penilaian.
Selain itu, subjektifitas dalam pemberian nilai SKP terlihat jelas, di mana
43
atasan cenderung memberikan nilai tinggi tanpa mempertimbangkan
capaian kerja aktual, yang dapat mengurangi motivasi pegawai.
Proses penilaian SKP juga terkadang dilimpahkan kepada pegawai
itu sendiri, menurunkan kredibilitas evaluasi dan membuka peluang
manipulasi data. Lingkungan kerja yang kurang mendukung serta
kurangnya supervisi turut memengaruhi efektivitas pencapaian target SKP.
Selain itu, ditemukan kesenjangan antara regulasi dan praktik di lapangan,
di mana standar evaluasi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor
30 Tahun 2019 belum sepenuhnya diterapkan. Temuan ini mengindikasikan
perlunya reformasi sistem evaluasi SKP, termasuk penerapan teknologi
dalam pemantauan kinerja, penilaian berbasis kompetensi, serta penguatan
akuntabilitas dalam sistem penilaian ASN.
2. Wawancara
Menurut Esterberg dalam Sugiyono (2013:231) mendefinisikan
wawancara sebagai pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi
dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dibangun makna dalam suatu
topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data
apabila penulis ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan
permasalahan yang perlu diteliti. Oleh karena itu, dalam penelitian ini
penulis melakukan wawancara langsung kepada informan untuk
mendapatkan data primer. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi
pustaka yaitu memperoleh data dari jurnal, artikel, dan sumber internet.
44
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang
memerlukan komunikasi langsung antara peneliti dengan subjek atau
responden, menurut Riyanto (2010:82). Berbeda dengan wawancara
terstruktur, penulis penelitian ini memilih menggunakan wawancara tidak
terstruktur yang pelaksanaannya lebih fleksibel. Karena penulis merupakan
salah satu unsur informasi yang akan dikumpulkan dari wawancara tidak
terstruktur ini, maka ia lebih memperhatikan apa yang dikatakan responden.
Menurut Esterberg dalam Sugiyono (2013:233) wawancara tidak
terstruktur merupakan wawancara yang bebas atau terbuka dimana penulis
tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara
sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan data. Pedoman wawancara
yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan
ditanyakan. Wawancara ini digunakan untuk melakukan penelitian yang
lebih mendalam tentang subyek yang diteliti.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan media aplikasi yang
dapat menghubungkan percakapan antara si peneliti dan informan.
Informan penelitian yang sudah dipilih dengan teknik purpusive sampling
dan snowball sampling. Penulis menanyakan beberapa hal yang
berhubungan dengan pokok permasalahan sesuai dengan pedoman
wawancara yang telah dibuat. Dimana pedoman wawancara yang telah
dibuat sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2019
tentang Kinerja Pegawai Negri Sipil. Dalam melakukan wawancara, penulis
45
mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh
informan.
3. Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2013:240) dokumen merupakan catatan
peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen dapat berupa tulisan, gambar atau
karya-karya monumental dari seseorang. Hasil penelitian lebih kredibel
apabila didukung oleh foto, karya tulis akademik dan karya seni yang telah
adajg. Sumber referensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2019 tentang Kinerja Pegawai Negri
Sipil. Dalam penelitian ini, dokumentasi dilakukan dengan cara
mengumpulkan data-data seperti meminta dokumen atau arsip mengenai
Kinerja ASN berdasarkan SKP di Kelurahan Tanjung Hulu Kecamatan
Pontianak Timur pemakaian buku-buku maupun literatur yang sesuai
bahasan, website, dan bukti berupa gambar atau foto-foto dari subjek
pengamatan.
3.6 Alat Pengumpulan Data
Instrumen utama dalam penelitian ini adalah penulis sendiri. Dalam hal ini,
penulis mengumpulkan dan mencari data atau informasi menggunakan instrumen
berupa panduan wawancara kepada informan atau pihak-pihak yang terkait,
melakukan observasi lapangan, dan dokumentasi. Adapun instrumen yang
mendukung penelitian ini antara lain sebagai berikut:
46
1. Observasi
Menggunakan catatan lapangan, di mana peneliti mencatat secara sistematis
bagaimana sistem SKP diterapkan, termasuk pola interaksi pegawai,
mekanisme pengelolaan data kinerja, serta dinamika hubungan kerja dalam
organisasi.
2. Wawancara
Menggunakan panduan wawancara semi-terstruktur, yang memungkinkan
peneliti mendapatkan informasi mendalam dari pegawai kelurahan terkait
proses evaluasi SKP, tantangan dalam sistem penilaian kinerja, serta
perspektif mereka terhadap transparansi dan objektivitas dalam evaluasi.
3. Dokumentasi
Menggunakan analisis dokumen, seperti laporan kinerja ASN, rekam jejak
SKP, serta regulasi administrasi yang berkaitan dengan sistem penilaian
pegawai. Data dokumentasi ini memberikan bukti nyata terkait praktik
penilaian yang telah diterapkan, memungkinkan penelitian untuk
membandingkannya dengan teori MSDM dan regulasi yang ada.
3.7 Analisis Data
3.7.1 Teknik Keabsahan Data
Menurut Sugiyono (2013:270) uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif
meliputi uji, credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal),
dependability (reliabilitas), dan comfirmability (obyektivitas). Penelitian ini
menggunakan uji kredibilitas (dapat dipercaya), yaitu suatu kriteria yang dirancang
untuk melakukan penelitian sedemikian rupa, sehingga derajat keyakinan terhadap
47
hasil penelitian dapat dicapai dengan menunjukkan derajat keyakinan terhadap
temuan melalui bukti-bukti yang diajukan penulis tentang kebenaran hasil
penelitian. Berikut beberapa teknik yang digunakan untuk menjamin keabsahan
data dalam penelitian:
1. Triangulasi
Teknik ini digunakan untuk membandingkan informasi dari berbagai
sumber, seperti wawancara pegawai kelurahan, observasi langsung, serta
analisis dokumen SKP. Dengan menggabungkan data dari berbagai metode,
penelitian dapat mengurangi bias dan meningkatkan validitas temuan.
2. Kredibilitas (Credibility)
Melibatkan keterlibatan peneliti yang mendalam dalam proses
pengumpulan data untuk memastikan bahwa informasi yang diperoleh
benar-benar mencerminkan realitas di lapangan. Teknik seperti wawancara
mendalam dan konfirmasi data dari sumber eksternal dapat meningkatkan
kredibilitas hasil penelitian.
3. Transferabilitas (Transferability)
Keabsahan data dapat ditingkatkan dengan memastikan bahwa hasil
penelitian bisa diterapkan dalam konteks lain. Dengan mendeskripsikan
sistem SKP secara jelas dan membandingkannya dengan penelitian
terdahulu, penelitian ini dapat memberikan wawasan yang relevan bagi
instansi lain di luar Kelurahan Tanjung Hulu.
48
4. Dependabilitas (Dependability)
Konsistensi dalam pengumpulan dan analisis data menjadi faktor utama
dalam memastikan keabsahan. Dokumentasi proses penelitian yang rinci
serta penggunaan metode analisis yang jelas memungkinkan penelitian
dapat direplikasi dan diuji ulang oleh peneliti lain.
5. Konfirmabilitas (Confirmability)
Untuk memastikan bahwa hasil penelitian bebas dari bias pribadi peneliti,
digunakan pendekatan reflektif, di mana temuan penelitian diperiksa
kembali melalui diskusi dengan pihak lain atau dengan mengevaluasi
kesesuaian data yang telah dikumpulkan.
3.7.2 Teknik Analisis Data
Sugiyono (2013:244) mendefinisikan analisis data sebagai proses
memeriksa informasi dari catatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi dengan
cara mengklasifikasikan, mengkarakterisasi, mensintesis, dan menyusunnya ke
dalam pola; memutuskan apa yang penting dan akan diperiksa; dan menarik
kesimpulan yang mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain. Menganalisis
data kualitatif bersifat induktif, artinya dimulai dengan data dan berkembang
menjadi hipotesis. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan beberapa
kali: sebelum, selama, dan setelah kerja lapangan selesai.
Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan penulis adalah
model Miles and Huberman. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan
saat dan setelah proses pengumpulan data selesai dalam jangka waktu tertentu.
49
Penulis menganalisis respons narasumber pada saat wawancara. Setelah
menjelaskan respons narasumber, jika masih dianggap kurang, penulis akan
mengajukan pertanyaan yang sama berulang-ulang hingga informasi dianggap
dapat diandalkan. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display,
dan conclusion drawing/verification (Sugiyono, 2013:246).
Menurut Sugiyono (2013:247-252), teknik analisis pada penelitian ini
penulis menggunakan tiga prosedur perolehan data. Pada penelitian ini
menggunakan tiga tahapan penelitian:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Karena banyaknya data yang terkumpul di lapangan, maka data tersebut
perlu didokumentasikan dengan cermat dan menyeluruh. Semakin banyak
waktu yang dihabiskan penulis di lapangan, semakin bernuansa dan rumit
data tersebut. Oleh karena itu, diperlukan minimalisasi data dan analisis data
yang cepat. Reduksi data memerlukan peringkasan, pemilihan informasi
utama, pemusatan perhatian pada elemen-elemen utama, dan pencarian tren
dan tema. Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan
gambaran yang lebih jelas dan memudahkan penulis untuk mengumpulkan
data tambahan dan mencarinya jika diperlukan. Lebih mudah untuk memilih
data yang dianggap penting atau data yang berlebihan dan kurang relevan
dalam penyelidikan ini.
2. Data Display (Penyajian Data)
Penjelasan singkat, diagram alir, bagan, dan korelasi antarkategori adalah
beberapa contoh penyajian data dalam penelitian kualitatif. Visualisasi data
50
akan mempermudah pemahaman tentang apa yang terjadi dan perencanaan
kerja selanjutnya berdasarkan pemahaman tersebut. Tabel dan penjelasan
ringkas adalah format penyajian yang digunakan dalam penelitian ini.
3. Conclusion Drawing/Verification
Menurut Miles dan Huberman, kesimpulan dan verifikasi merupakan
langkah ketiga dalam analisis data kualitatif. Temuan awal masih tentatif
dan dapat direvisi jika bukti yang meyakinkan tidak diberikan pada tahap
pengumpulan data berikutnya. Meskipun demikian, jika penulis kembali ke
lapangan untuk mengumpulkan data dan kesimpulan yang ditarik pada hasil
didukung oleh fakta yang andal dan konsisten, maka temuan yang ditarik
dapat dipercaya.
Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif, kesimpulan itu sendiri dapat
menjawab masalah yang muncul sejak awal, tetapi bisa juga tidak. Seperti yang
telah disebutkan sebelumnya, masalah dan rumusan masalah dalam penelitian
kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian
dilakukan di lapangan. Dalam penelitian kualitatif, kesimpulan adalah temuan baru
yang belum pernah dibuat sebelumnya. Setelah penelitian dilakukan, temuan
tersebut dapat mencakup gambaran ambigu dari suatu objek yang dapat dijelaskan
oleh teori yang ditemukan. Hipotesis juga diharapkan dapat berfungsi sebagai
panduan untuk penelitian selanjutnya.
51
DAFTAR PUSTAKA
Saputra, Imam. 2016. Analisis Kinerja Pegawai Pada Kantor Kecamatan Tampan
Pekanbaru. Skripsi, Universitas Islam Riau.
Priyono dan Marnis. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Zifatama Publisher.
Mukti, Eva Aulia, dan Noviyanti. 2024. "Analisis Penilaian Kinerja Pegawai
Negeri Sipil Di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya". Inovant, 3 (4): 97-
111.
Andriani, Nepi, Ananda Nur Amalia, dan Syamsul Hidayat. 2025. "Analisis Hasil
Sasaran Kinerja Pegawai pada BPSIP Banten." MASMAN: Master
Manajemen, 3 (1): 109-116.
Aprilia, Kartika Dwi. 2023. Evaluasi Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) Pada Dinas
Pertanian Dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur. Skripsi,
Universitas Bhayangkara Surabaya.
Permadi, D. S. (2022). Transformasi sistem penilaian kinerja pegawai negeri sipil.
Diakses dari Dani Suluh Permadi.
Badan Kepegawaian Negara. (2025). Perencanaan SKP ASN Tahun 2025: Langkah
penting menuju kinerja yang optimal. Diakses dari BKN.
Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (2019). PP No. 30 Tahun 2019 tentang
Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil. Diakses dari SetKab.
Manullang, M. (2002). Dasar-Dasar Manajemen (keenam belas). Gadjah Mada
University Press.
Mukarom. Zaenal dan Muhibudin Wijaya Laksana, 2018. Manajemen Pelayanan
Pubik.
Gava MediaSatibi Iwan. (2023). Manajemen Publik Dalam Perspektif Teoritik dan
Empirik. Unpas Press.
52
Sinambela, L. P. (2008). Reformasi Pelayanan Publik, Teori, Kebijakan, dan
Implementasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Silaen, Novia Ruth dan Kawan-kawan. (2021). Kinerja Karyawan. Cetakan
pertama Mei, 2021. Widina Bhakti Persada Bandung
Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Saputra, L. W., & Farahdiansari, A. P. (2025). Penerapan Sasaran Kinerja Pegawai
dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai dan Produktivitas di PPSDM Migas
Cepu. Competence: Journal of Management Studies, 19(2), Oktober. ISSN:
2541-2655 (Online), 1907-4824 (Print).
Aji, B. B. (2022). Sistem Penilaian Kinerja Berbasis Sasaran Kinerja Pegawai
(SKP) di Lingkungan Sekretariat Daerah Kota Banjarbaru. Journal on
Education, 5(1), 1057–1064.
Sakti, A. (n.d.). Efektivitas Penerapan Sasaran Kinerja Pegawai di Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Luwu Utara Provinsi
Sulawesi Selatan (Skripsi, Program Studi Manajemen Sumber Daya
Manusia Sektor Publik). Universitas Terbuka.
53