0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Kemajuan Haruka dalam Telekinesis

Diunggah oleh

fyuan7280
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Kemajuan Haruka dalam Telekinesis

Diunggah oleh

fyuan7280
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tidak jauh dari halaman belakang, di balik jendela kamar mereka, Loid,

Kai, Taku, dan Fuji yang sudah pulang secara diam-diam mengamati setiap
sesi latihan Haruka dan Oreki. Loid biasanya hanya melirik sekilas,
sementara Taku dan Fuji akan sesekali berkomentar.

Tapi Kai? Kai adalah penonton paling setia dan antusias.

“Lihat! Dia berhasil memadatkan sedikit!” bisik Kai, matanya terpaku pada
Haruka. “Aku tahu dia bisa!”

“Tentu saja dia bisa,” gumam Loid, tanpa mengalihkan pandangannya dari
buku yang dibacanya. “Haruka berbakat dia hanya butuh arah yang benar
untuk berkembang.”

“aku tidak tau oreki memiliki tingkat kesabaran seperti itu” kata Taku,
melirik Oreki yang dengan tenang menjelaskan sesuatu pada Haruka. “Aku
tidak akan bisa selama itu.”

Fuji mengangguk. “Mereka pasangan yang baik untuk belajar.”

“Pasangan yang baik untuk? Hehehe... Menurutmu hanya itu?,” Kai


tersenyum penuh arti. “Lihat bagaimana Oreki menatapnya! Itu bukan
hanya tatapan mentor kepada seorang murid, tapi Itu tatapan...
kekaguman!”

Taku dan Fuji saling pandang, lalu kembali melihat ke halaman. “Mungkin
kau benar, Kai,” kata Taku, tersenyum tipis.

“sudah lama aku tidak melihat drama seperti ini sejak kita tiba di dunia
ini!” bisik Kai bersemangat. “Aku ingin tahu siapa yang akan mengaku
duluan!”

Loid mendengus pelan, seulas senyum tipis muncul di wajahnya. Dia tahu
bahwa di balik ejekan dan kejenakaan Kai, ada kepedulian yang tulus
terhadap teman-temannya. Dan dia juga menyadari bahwa ada sesuatu
yang istimewa yang tumbuh di antara Haruka dan Oreki.

Waktu berlalu dengan cepat. Dua hari sebelum acara penerimaan murid di
Akademi Akasa, Haruka masih berjuang dengan Tingkat 1 dari Orb
Kosmiknya. Dia sudah bisa merasakan kepadatan mananya, tetapi belum
sempurna.

Malam itu, Oreki duduk di sampingnya, matanya sedikit lelah karena


begadang membimbing Haruka. “Bagaimana, Haruka? Ada kemajuan?”

Haruka menghela napas, bola telekinetik di tangannya berdenyut lemah.


“Aku merasa sudah dekat, Oreki. Tapi ada sesuatu yang masih
menghalangiku. Seperti... sebuah dinding.”
Oreki berpikir sejenak. “Dinding, ya? Mungkin kau terlalu fokus pada
‘kekuatan’. Ingat, Orb Kosmik ini juga tentang ‘Kosmik’. Luas, tanpa batas,
namun juga... sangat padat di intinya.”

“Tanpa batas tapi padat...” Haruka memejamkan mata, mengulang kata-


kata itu. Ia mencoba membayangkan Telekinesisnya menyebar ke seluruh
alam semesta, namun pada saat yang sama, semua energi itu
terkonsentrasi menjadi satu titik tak terbatas di dalam dirinya.

Ia membiarkan mana Telekinesismu mengalir bebas, tidak memaksanya


untuk padat, tetapi membiarkannya menarik esensi alam semesta di
sekitarnya. Seolah-olah mananya adalah sebuah lubang hitam yang
menyerap segalanya, dan pada saat yang sama, dia adalah inti dari
segalanya.

Tiba-tiba, Orb Kosmik di tangannya bersinar terang. Bola telekinetiknya


berdenyut dengan kekuatan yang luar biasa, memancarkan aura yang
begitu padat hingga udara di sekitarnya sedikit bergetar. Rasanya seperti
memegang bintang yang baru lahir di telapak tangannya.

“Aku... aku mulai merasakannya, Oreki!” seru Haruka, matanya terbuka


lebar, memancarkan cahaya. “Kepadatan! Ini adalah... kepadatan yang
tak terbatas!”

Oreki tersenyum lebar. “Kau berhasil, Haruka! Itu dia! Bentuk pertama!”

Saat Orb Kosmik berdenyut dengan puncaknya, sebuah dentuman kecil


terdengar dari dalam inti mana Haruka. Sensasi itu mengalir ke seluruh
tubuhnya, memberinya kekuatan dan kejelasan yang belum pernah ia
rasakan. Mananya meluas, memberinya kendali yang jauh lebih besar atas
lingkungannya.

“Aku... aku naik tingkat!” Haruka terkesima. “Aku di Tingkat 3!”

Oreki mengangguk, bangga. “Selamat, Haruka. Sekarang, kita hanya


punya dua hari untuk membuatmu terbiasa dengan ini. Dan aku yakin kau
bisa menguasai bentuk pertamanya dengan baik.”

Haruka tersenyum, senyuman cerah di bawah cahaya bulan. Ia menatap


Oreki, dan ada sesuatu yang lebih dari sekadar rasa terima kasih di
matanya. Ada kekaguman yang dalam, dan secercah perasaan yang mulai
tumbuh, selembut embun pagi. Mereka telah menghabiskan begitu
banyak waktu bersama, berjuang melalui konsep-konsep rumit, dan di
setiap momen itu, ikatan mereka semakin kuat.

Dua hari tersisa sebelum upacara penerimaan murid Akademi Akasa.


Losmen Tamu Senja.
Di pagi hari, mereka berkumpul untuk sarapan, suasana terasa lebih
ringan dan penuh canda. Taku masih membanggakan “beberapa hidangan
permata tersembunyi” yang ia dan Fuji temukan, sementara Kai tak henti-
hentinya menggoda Loid tentang bagaimana ia menjadi “mayat hidup”
selama ketiadaan Nero.

“Aku tidak menyangka Entitas itu akan memberikan Orb Kosmik untukmu,
Haruka,” kata Nero, mengambil sepotong roti. “Dia benar-benar melihat
potensimu.”

Haruka memegang orb itu di tangannya, memancarkan cahaya kebiruan


lembut. “Aku juga terkejut. Tapi berkat Oreki, aku sudah bisa menguasai
Tingkat 1.” Ia melirik Oreki yang duduk di sebelahnya, memberikan
senyum penuh terima kasih.

Oreki mengangguk. “Tingkat 1 ‘Kepadatan Energi Telekinetik’ adalah


fondasi yang vital. Dengan ini, Haruka bisa memanipulasi objek dengan
presisi dan kekuatan yang jauh lebih besar.”

“Aku sudah mencobanya,” timpal Haruka. “Rasanya seperti... aku bisa


mengendalikan segala sesuatu di sekitarku, bahkan udara itu sendiri,
dengan kepadatan yang belum pernah kubayangkan.”

“Itu bagus,” kata Loid, tatapannya tenang. “Semakin banyak fondasi yang
kuat, semakin kita siap menghadapi apa pun di akademi.”

Rina, yang lebih banyak diam, menambahkan, “Entitas itu pasti punya
tujuan dengan setiap pelatihan kita. Ini bukan hanya untuk kekuatan
individu, tapi mungkin untuk sinergi tim.”

“Betul sekali, Rina!” seru Kai. “Bayangkan jika sihir kehampaan Loid bisa
meniadakan pertahanan musuh, sihir pembunuh Rina menargetkan titik
vital, api Nero menghancurkan dari dalam, dan petir Oreki menghentikan
pergerakan. Ditambah lagi dengan Telekinesis Haruka yang bisa
memanipulasi medan perang, angin Taku untuk kecepatan dan deteksi,
serta pertahanan Fuji yang tak tergoyahkan. Kita akan jadi tim yang tak
terkalahkan!”

Nero tertawa. “Jangan terlalu bersemangat, mungkin kau hanya berfikir


terlalu jauh”

“menurutku tidak, sepertinya entitas itu memang ingin kita saling


melengkapi” ucap Rina

“ yah apa pun itu yang jelas untuk sekarang kita harus mencari tau apa
yang diinginkan entitas itu dari akademi Akasa ini” ucap Nero
mengingatkan tentang tujuan utama mereka masuk ke akademi Akasa

Yang lainnya juga mengangguk


Setelah sarapan, mereka kembali mempersiapkan diri untuk upacara
penerimaan. Loid memeriksa pakaian dan katana memastikan semuanya
sudah dikemasi dengan rapi. Rina mengasah pisau dan memeriksa
kelengkapan senjatanya, meskipun ia tahu tidak akan menggunakannya
hari itu. Taku dan Fuji memastikan pakaian mereka nyaman dan bersih.

Nero menghabiskan waktunya untuk menyelaraskan kembali tiga api


barunya, memastikan transisinya mulus dan tanpa cela. Api Nirvana di inti
mananya berdenyut stabil, seperti jantung yang berdetak dengan irama
sempurna. Ia bisa merasakan setiap goresan kecil di tubuhnya pulih
dengan cepat berkat Api Kehidupan. Dia bahkan sempat membantu loid
untuk membereskan barang barang mereka

Oreki duduk di sudut, matanya memejam. Dia tidak hanya mengulas teori
sihir, tetapi juga mempraktikkan “Petir Penghancur” barunya. Setiap kali
ia membuka telapak tangannya, petir hitam kecil berderak, merenggut
mana di sekitarnya. Itu adalah sihir yang mengerikan, lahir dari
pemahaman akan kehampaan dan kerusakan.

Sementara itu, Haruka masih tenggelam dalam Orb Kosmiknya. Oreki


kembali duduk di sampingnya, membimbingnya untuk memahami Tingkat
1 dengan lebih dalam.

“Cobalah manipulasi sesuatu di kejauhan, Haruka,” kata Oreki. “Tidak


perlu benda berat, cukup pena di meja sana.”

Haruka mengulurkan tangannya, memfokuskan mananya yang kini terasa


padat. Pena itu sedikit bergetar, lalu melayang. Namun, gerakannya
masih [Link] tidak biasa dengan mana dari tekekinesis yang terlalu
padat

“Kau terlalu memaksakan kekuatan,” Oreki menjelaskan. “Ingat, ini


tentang kepadatan, bukan hanya kekuatan kasar. Pikirkan mana
Telekinesismu sebagai jaring yang sangat halus namun tak terpatahkan.
Rasakan setiap seratnya. Kemudian, dengan kepadatan itu, kau bisa
mengendalikan objek dengan sentuhan yang paling ringan.”

Haruka menarik napas dalam, memejamkan mata lagi. Ia membiarkan


mananya menyebar, bukan untuk mendorong, tetapi untuk
“menyelubungi” pena itu. Ketika ia membuka matanya dan
menggerakkan tangannya, pena itu bergerak dengan mulus dan anggun
di udara, seolah ditarik oleh benang tak terlihat.

“Aku... aku berhasil!” Haruka berseru, terkesima.

Oreki tersenyum. “Itu karena kau mulai memahami sifat dari manamu.
Kepadatan Telekinesis bukan hanya untuk kekuatan, tapi juga untuk
presisi dan kendali.”
Haruka yang masih bersemangat tanpa sadar memeluk oreki dengan
sangat erat “terima kasih oreki tanpa mu aku pasti akan tertinggal dari
yang lain”

“oh ok ok, tapi bisakah kamu melonggarkan pelukannya ini sangat


menyiksa” gumam oreki, wajahnya sangat merah seperti kepiting rebus

Haruka yang tersadar langsung melepaskan pelukan itu lalu keduanya


saling terdiam canggung ,

“ Sialan untung saja tekad milikku sangat kuat” gumam oreki dalam hati
dia masih membayangkan gundukan itu menyentuhnya

Haruka merasakan Perasaan yang selama ini hanya berupa kekaguman


dan rasa terima kasih, kini mulai bermetamorfosis menjadi sesuatu yang
lebih dalam. Ia tahu bahwa bukan hanya sihirnya yang berkembang,
tetapi juga hatinya.

Dari balik celah pintu, Kai berbisik , “ haha teman kita sepetinya
mendapatkan jekpot hahaha”

Loid hanya menggelengkan kepala, namun sudut bibirnya terangkat


membentuk senyum tipis. Fuji menepuk punggung Kai, “Tenang, Kai.
Mereka butuh privasi.” Taku mengintip dengan semangat, matanya
berbinar.

Pagi upacara penerimaan murid baru Akademi Akasa tiba, membawa


serta langit biru jernih dan udara yang dipenuhi aroma mana yang kuat.
Di gerbang utama Akademi yang menjulang tinggi, terbuat dari pualam
putih berkilauan dengan ukiran naga dan garuda , 50 murid baru
berkumpul. Mereka mengenakan pakaian terbaik mereka, wajah-wajah
dipenuhi harapan dan kegugupan.

Kelompok Loid berdiri di antara kerumunan, namun aura mereka jelas


berbeda. Tidak ada kegugupan yang menguar dari mereka, melainkan
ketenangan yang mendalam, hasil dari pelatihan intensif dan pengalaman
bertahan hidup yang brutal. Pakaian mereka mungkin sederhana, tetapi
mata mereka memancarkan kekuatan yang ditempa.

Nero merapikan kerah jubah Loid yang sedikit miring, dengan senyum
tipis. “nah sekarang Sudah rapi, mayat hidup.”

Loid hanya mengangguk, namun ada kelembutan tak terlihat dalam


tatapannya. “Terima kasih, Nero.”

“Aku tidak percaya kita sudah sampai di sini,” bisik Haruka, memegang
“Rasanya seperti baru kemarin kita tersesat di hutan.”
“Itu karena kita sudah tumbuh jauh lebih kuat, Haruka,” kata Oreki, berdiri
di sampingnya, suaranya tenang dan meyakinkan. “Jangan ragu pada
dirimu.”

Rina melirik ke sekeliling, matanya yang tajam mengamati wajah-wajah di


kerumunan. “Banyak mana yang kuat di sini. Dan beberapa yang...
familiar.”

“Tentu saja!” seru Kai, antusias. “Ini Akademi Akasa! Pasti banyak orang
hebat. Aku penasaran siapa yang akan menjadi teman sekamar kita!”

Fuji menepuk bahu Taku. “Siap-siap untuk petualangan baru, Taku.”

Taku mengangguk penuh semangat. “Pasti! Aku pasti akan menemukan


setiap makanan enak yang tersembunyi di akademi ini”

Di tengah keramaian, perhatian kelompok Loid teralihkan pada beberapa


figur yang menonjol. Lyra, dengan aura ilusi yang samar-samar beriak di
sekelilingnya, berdiri bersama beberapa pengikutnya. Tatapannya
bertemu dengan Loid, dan seulas senyum licik muncul di bibirnya. Sebuah
ancaman yang tidak terucap, namun penuh janji akan intrik.

“Sepertinya dia tidak menyerah untuk membuat masalah,” gumam Nero,


tangannya sedikit mengepal. “Aura ilusinya lebih pekat sekarang.”

Loid hanya mengangguk. “Dia masih menyimpan dendam denganku dan


sepertinya dia juga sudah berada di tingkat 3”

Kemudian, di sisi lain kerumunan, muncul Pangeran Aerion Valerius,


dengan rambut pirang keemasan dan aura cahaya yang gemilang. Dia
berjalan dengan anggun, menyapa beberapa calon murid dengan ramah.
Di sebelahnya, Putri Seraphina Zephyr, dingin dan angkuh, auranya
sekuat badai yang menusuk.

“Pangeran Aerion... auranya semakin murni,” bisik Kai, matanya sedikit


menyipit. “Aku merasakan dia juga telah mencapai tingkat 3 .” Ada
kekaguman bercampur dengan tekad untuk melampaui.

“Putri Seraphina juga,” tambah Rina. “Auranya lebih stabil dan tajam.”

Dan yang terakhir kaelen berjalan dengan beberapa pengikut


dibelakangnya aura yang di pancarkan oleh kaelen juga tambah kuat dan
dia juga sudah mencapai tingkat 3

“Kaelen,” desis Loid, mananya sedikit bergejolak. K

“Inti mananya... sudah pulih?” Oreki bergumam, alisnya berkerut.


“dengan tingkat kerusakan seperti itu ternyata dapat dipulihkan .”
“Dia pasti menggunakan Elixir Penyembuh Jiwa,” gumam Nero. “Obat itu
sangat langka dan bisa memulihkan inti mana yang rusak parah.”

Kaelen menyeringai, matanya bertemu dengan Loid. Ada kilatan


permusuhan yang intens, lebih dari sekadar persaingan. Dia berjalan
mendekat, berhenti tepat di depan kelompok Loid.

“Lihatlah ini,” Kaelen mencibir, suaranya dingin dan penuh ancaman.


“Para ‘petani’ yang berhasil merangkak masuk. Yang secara kebetulan
lolos, tapi aku akan memberitahu satu hal, Loid. Inti manaku sudah pulih.
Dan itu berkat ‘hadiah’ darimu.” Kaelen menekankan kata ‘hadiah’
dengan nada mengejek. “Kau membuatku lebih kuat. Sekarang, aku akan
pastikan kau membayar atas apa yang kau lakukan padaku.”

“sepertinya kau belum puas Dengan hadiah yang aku berikan terakhir
kali, Kaelen,” jawab Loid, suaranya tenang, namun aura kehampaan di
sekelilingnya sedikit menekan. “Tapi jika kau ingin merasakannya lagi aku
tidak keberatan untuk memberi hadiah yang sama kepadamu”

“Sombong sekali,” Kaelen mendengus. “Kita akan lihat siapa yang tertawa
terakhir di akademi ini.” Dia meludah ke samping, lalu berbalik dan
bergabung dengan rombongannya.

“Sialan dia!” Nero mengepalkan tangannya. “Beraninya dia mengatakan


hal seperti itu setelah kau merusak inti mananya!”

“yah walaupun sekarang itu sudah sembuh berkat eliksir” ucap oreki

“Jangan ladeni, Nero,” kata Loid, menatap ke arah Kaelen. “Biarkan saja
anjing yang mengonggong tidak akan mengigit”

Tepat pukul sembilan pagi, gerbang Akademi terbuka lebar. Para murid
baru berbondong-bondong masuk ke Aula Agung. Itu adalah ruangan
kolosal dengan langit-langit berkubah tinggi yang dihiasi konstelasi
bintang, dan lantai marmer yang memantulkan cahaya. Ribuan kursi
berjejer rapi.

Di panggung utama, berdiri Dekan Alarion yang agung, ditemani oleh


beberapa profesor senior dan tokoh penting lainnya. Setelah pidato
pembukaan singkat tentang sejarah Akademi dan pentingnya menjadi
penyihir yang bertanggung jawab, Dekan Alarion mengangkat tongkatnya.

“Sekarang, saya akan mengumumkan murid baru yang berhasil meraih


peringkat pertama dalam ujian masuk tahun ini!” Suaranya bergema di
seluruh aula. “Dia adalah seorang pemudi yang menunjukkan penguasaan
sihir angin yang luar biasa, kendali mana yang sempurna, dan potensi
yang tak terbatas. Berikan tepuk tangan meriah untuk... Putri Seraphina
Zephyr!”
Gemuruh tepuk tangan membahana. Putri Seraphina melangkah maju,
ekspresi dingin namun angkuh di wajahnya. Ada aura kebanggaan yang
jelas dari setiap gerakannya.

“Terima kasih, Dekan Alarion,” kata Seraphina, suaranya jernih dan


berwibawa, namun tetap dengan nada dingin yang khas. “Merupakan
suatu kehormatan besar bagi saya untuk berdiri di sini hari ini. Saya
percaya bahwa Akademi Akasa adalah tempat di mana kita semua,
terlepas dari latar belakang kita, dapat tumbuh dan mencapai potensi
tertinggi kita. Saya menantikan untuk belajar dan bersaing dengan kalian
semua. Semoga kalian semua bisa mengikutiku, meskipun aku meragukan
kemampuan kebanyakan dari kalian.”

Ucapan terakhir Seraphina, meskipun terdengar angkuh, disambut dengan


bisikan kekaguman dan sedikit ketakutan dari para murid lain. Aura es
yang terpancar darinya memang mengintimidasi.

Pengeran Aerion mendekati kelompok loid “ Yo sudah satu bulan lebih


sejak pertama kali kita bertemu bagaimana kabar kalian?” tanya
pengeran Aerion dengan senyuman khasnya

“Kami baik baik saja pengeran” jawab KAI

Pangeran Aerion melihat semua anggota kelompok loid dan kemudian


berhenti di Nero dia kemudian bertanya “ apakah lukamu sudah sembuh?
Aku yakin lukamu itu cukup parah”

“yah walaupun lukaku tadi sangat parah tapi berkat guru kami aku
berhasil memperbaikinya” jawab Nero seadanya

“tadinya aku ingin memberikan eliksir penyembuh jiwa kepadamu tapi


sepertinya itu tidak perlu” ucap pengeran Aerion

“Terimakasih atas perhatiannya pangeran, tapi itu memang tidak perlu”


jawab loid singkat

“Haha baiklah baiklah aku tidak akan menganggu kalian lagi” ucap
pengeran Aerion lalu menatap KAI kemudian dia melanjutkan “aku harap
kau ingat janjimu “

“tentu saja kapanpun kau siap aku akan menerimanya” jawab KAI
tersenyaum

Setelah berbasa-basi singkat pengeran Aerion akhirnya pergi

Setelah pidato seraphina, Dekan melanjutkan dengan pengumuman


pembagian asrama dan kelas. Kelompok Loid, tidak mengherankan,
ditempatkan di asrama yang sama dan kelas yang sama, menandakan
bahwa Akademi telah mengenali kekuatan dan kebersamaan mereka.
Saat mereka berjalan menuju asrama, Loid merasa mana di dalam dirinya
bergejolak. Bukan karena marah, tetapi karena antisipasi. Kaelen adalah
ancaman yang nyata, dan kekuatan yang baru saja ia peroleh akan diuji.
Ia juga bisa merasakan Lyra yang terus-menerus mengawasinya.

“Loid,” bisik Nero, meliriknya. “Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja,” jawab Loid. “Hanya... ada banyak hal yang harus
dihadapi. Kaelen, Lyra, dan semua yang ada di akademi ini.”

“Tapi kita punya satu sama lain, Loid,” kata Haruka, memeluk lengannya.
“Kita sudah melewati yang lebih buruk.”

“Benar!” Taku menambahkan. “Kita ini tim! Delapan kekuatan yang tak
terkalahkan!”

Rina, yang biasanya pendiam, kini menunjukkan sedikit senyum. “Dan


dengan kekuatan baru kita, aku yakin kita bisa mengatasi apa pun.”

Oreki mengangguk. “Analisis menunjukkan bahwa peluang kita sangat


tinggi. Selama kita bekerja sama.”

Kai menepuk punggung Loid. “Jangan khawatir, Loid! Kalau ada yang
berani macam-macam, aku akan kebutaan mereka dengan Ribuan Pedang
Cahayaku!”

Loid melihat wajah-wajah teman-temannya. Keyakinan, dukungan, dan


ikatan yang telah mereka bangun. Dia tahu mereka benar. Tidak peduli
seberapa besar ancaman yang datang dari Kaelen atau Lyra, atau
tantangan yang akan diberikan Akademi Akasa, dia tidak sendirian.

Anda mungkin juga menyukai