Kai terbatuk, bangkit dari lantai kamar penginapan, tubuhnya masih
terasa remuk redam, tetapi ada percikan api baru di matanya. Dia melihat
teman-temannya yang cemas mengelilinginya.
“Kai! Kau baik-baik saja?!” Haruka berseru, membantunya berdiri.
Wajahnya menunjukkan kelegaan yang luar biasa.
“Aku... aku baik-baik saja,” jawab Kai, suaranya serak. Dia menatap
telapak tangannya, seolah ada sesuatu yang kini berbeda di sana. Dia
bisa merasakan bahwa siksaan yang diterimanya tidak sia sia“Aku...
belajar banyak [Link] Itu... Sangat gila.”
Oreki, yang selama ini diam, menatap Kai dengan tatapan serius. Dia
melangkah maju dan, yang mengejutkan semua orang, memeluk Kai erat-
erat. Oreki yang biasanya dingin, logis, dan analitis, kini menunjukkan sisi
emosional yang langka. Punggung Kai terasa bergetar dalam pelukan itu.
“Kau... bodoh,” bisik Oreki, suaranya sedikit bergetar, nyaris tidak
terdengar. Ada nada ketakutan yang dalam di baliknya. “Aku sangat
khawatir. Aku... aku takut kau tidak akan kembali.”
Kai terkesiap, membalas pelukan Oreki dengan erat. Dia tidak menyangka
Oreki, sang ahli strategi yang selalu tenang, akan bereaksi seperti ini.
Selama ini, Oreki adalah fondasi rasional bagi kelompok mereka, tiang
penyangga yang tak tergoyahkan. Melihatnya begitu emosional membuat
Kai menyadari betapa oreki sangat menghargainya“Aku... aku minta maaf,
Oreki. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir.”
“Tidak apa-apa,” jawab Oreki, perlahan melepas pelukan. Matanya masih
sedikit merah, tetapi dia segera kembali ke ekspresi biasanya, meskipun
ada kehangatan yang tertinggal di kedua bola matanya . “Yang penting
kau kembali. Dan kau... kau benar-benar bertambah kuat”
Nero menepuk pundak Kai dengan senyum lebar. “Nah, itu baru Kai! Aku
tahu kau akan kembali lebih kuat! Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di
sana? Kau terlihat... berbeda. Mana-mu terasa lebih padat, seperti...
seperti permata.”nero merenung kemudian melanjutkan “hahaha
sepertinya kau menjalani pelatihan neraka selama dua hari ini”
Kai tersenyum tipis, mengingat neraka yang baru saja ia alami. “Dia...
Entitas Karma Field itu... dia memaksaku melawan diriku sendiri. Diriku
yang sempurna, yang bisa mengontrol mana cahaya dengan presisi
absolut. Aku kalah berulang kali, disembuhkan secara instan, lalu dipaksa
bertarung lagi. Ini gila, Nero! Aku merasa seperti mati ratusan kali! Rasa
sakitnya begitu nyata, tapi setiap kali aku tumbang, aku dipulihkan
kembali.”
“Melawan dirimu sendiri?” Nero terdengar tercengang. “Itu metode
pelatihan macam apa? Aku tidak bisa membayangkan aku akan dibunuh
oleh diri sendiri”
“Dia bilang aku harus belajar mengendalikan setiap partikel manaku,”
jelas Kai, matanya berbinar. “Bukan hanya memproyeksikannya, tapi
membentuknya, memadatkan. Dia bahkan menunjukkan padaku
bagaimana membuat perisai cahaya yang kokoh, tidak hanya pedang.
Cahaya... bisa lebih dari sekadar tembakan energi.”
Fuji mengangguk, ekspresinya serius. “Itu akan membuatmu jauh lebih
serbaguna, Kai. Cahaya bukan hanya untuk menyerang, tapi juga untuk
bertahan. Sebuah perisai cahaya akan sangat berharga.”
Loid, yang telah mengamati seluruh interaksi dengan seksama, akhirnya
berbicara. “Itu akan menjadi keunggulan besar untuk ujian berikutnya. Jika
kau bisa menguasainya sepenuhnya, kau akan sangat tangguh.”
Rina, yang biasanya diam, kini menambahkan dengan nada datar namun
penuh makna, “Dia telah melalui neraka dan kembali. Itu akan
membuatmu lebih tangguh secara mental juga. Semoga kau
dipertemukan kembali dengan pangeran Aerion di ujian ketiga”
Sisa malam itu mereka habiskan dengan mendengarkan cerita Kai tentang
pengalaman mengerikannya di karma Field, dan bagaimana ia perlahan-
lahan mulai memahami kontrol mana yang sesungguhnya.
Saat yang lain mendengar KAI menyebutkan bahwa tingkat entitas itu
berada di tingkat 8 mereka semua terkejut dan berkeringat dingin
“sepertinya jika kita kalah dalam pertempuran secara menyedihkan kita
akan menjalani pelatihan neraka seperti KAI” gumam Taku, yang lainnya
yang mendengar memasang wajah pucat
“sudahlah kita hanya bisa memberikan yang terbaik untuk kedepannya,
jika kita dipanggil ke karma field anggap saja itu sebagai berkah bukan
hukuman” ucap Nero menenangkan yang lain
Lalu Mereka juga membahas strategi untuk ujian ketiga. Mereka tahu
bahwa ujian ini akan menjadi lebih sulit, terutama dengan berkurangnya
jumlah peserta dan peningkatan persaingan yang akan datang.
hari berikutnya, kelompok Loid fokus pada persiapan intensif. Mereka
menjual kristal mana mereka di pasar, mendapatkan banyak koin emas
yang tak terduga. Dengan uang itu, mereka membeli ramuan penyembuh,
ramuan pemulih mana tingkat tinggi, dan beberapa perlengkapan esensial
yang lebih baik.
Loid: Memeriksa katana miliknya, membersihkannya, dan melapisi
bilahnya dengan mana kegelapan yang kini terasa lebih responsif dan
kuat. Ia juga berlatih mengalirkan mana kegelapan ke seluruh tubuhnya
untuk meningkatkan kecepatan dan refleks.
Haruka: Membeli lebih banyak pisau lempar tipis yang ringan namun
tajam total 15 pisau dan berlatih mengendalikan semuanya sekaligus
dengan telekinesisnya. Ia melatih akurasi dan kecepatan, serta
kemampuan untuk mengubah arah pisau di tengah udara.
Nero: Membeli sarung tangan kulit yang diperkuat dengan sulaman tahan
api untuk melindungi tangannya dari panas apinya sendiri. Dia juga
mencari beberapa bahan langka yang bisa ia gunakan untuk ramuan yang
meningkatkan kekuatan dan stabilitas apinya, menciptakan Bola Api
Pembakar yang lebih terkonsentrasi.
Oreki: Membeli gulungan sihir yang lebih kompleks tentang analisis mana
dan beberapa generator petir mini yang bisa ia aktifkan dari jarak jauh.
Dia juga melatih kemampuan analisisnya untuk memindai kelemahan
lawan dengan lebih cepat.
Rina: Mengasah pisau pembunuhannya hingga setajam silet, dan
membeli pakaian yang lebih fleksibel, gelap, serta memiliki kantung
tersembunyi untuk menyamarkan gerakan dan menyimpan senjatanya. Ia
juga melatih kecepatan dan ketepatan serangannya.
Fuji: Membeli beberapa material tanah yang telah diinfus mana untuk
berlatih membentuk penghalang dan pilar tanah yang lebih kuat, tahan
lama, dan mampu muncul lebih cepat. Dia juga melatih kemampuan
merasakan getaran tanah dengan lebih sensitif.
Taku: Membeli gelang pergelangan tangan yang bisa meningkatkan
kontrol mana anginnya. Dia berlatih menciptakan pusaran angin yang
lebih stabil, fokus, dan memiliki daya potong yang lebih besar, serta
mempercepat pergerakan dan refleksnya dengan hembusan angin kecil.
Kai: tidak membeli perlengkapan apapun , ia terus berlatih di sudut
kamar. Ia tidak lagi memancarkan cahaya yang menyebar, tetapi
mengonsentrasikannya, membentuk pedang cahaya kecil yang padat di
telapak tangannya, atau perisai cahaya mini yang bisa ia pegang. Dia
tidak ingin ada yang tahu seberapa jauh peningkatannya sampai saat
yang tepat.
Mereka juga menghabiskan waktu di perpustakaan, mencoba mencari
informasi tentang ujian ketiga, tetapi informasinya sangat terbatas dan
dijaga ketat. Mereka hanya tahu bahwa ini adalah “Ujian Kekuatan
Individu dan Adaptasi”, tetapi detail persisnya masih misterius.
Pada fajar hari keempat, mereka kembali ke Arena Ujian. Kali ini,
suasananya jauh lebih megah dan tegang. Jumlah peserta jauh berkurang,
hanya sekitar 500 orang, tetapi kualitas mana yang terpancar dari mereka
terasa jauh lebih kuat. Namun, yang paling mencolok adalah kehadiran
para bangsawan, pejabat tinggi, dan bahkan beberapa orang tua dari
peserta di tribun kehormatan.
Di tribun atas, berjejer kursi-kursi mewah dari emas dan permata, dihiasi
ukiran naga dan Phoenix. Di sana duduk para tokoh paling berpengaruh di
Kota Akasa, memancarkan aura kekuasaan dan prestise.
Raja Valerius Agung: Seorang pria paruh baya dengan mahkota megah
bertabur permata, memancarkan aura kekuasaan yang tak terbantahkan.
Matanya yang tajam memandang arena dengan ekspresi tenang namun
penuh penilaian. Di sampingnya adalah Ratu Aeris, wanita anggun dengan
tatapan dingin dan aura sihir es yang samar. Mereka adalah simbol
kekuatan dan tradisi.
Duke Zephyr: Ayah dari Putri Seraphina, seorang pria dengan janggut
abu-abu terawat dan mata yang memancarkan kecerdasan taktis, duduk
tegak dengan aura seorang ahli strategi. Ia sesekali tersenyum bangga
pada putrinya.
Countess Eldoria: Seorang wanita berambut merah menyala dengan
jubah sutra mahal, terkenal sebagai matriark keluarga sihir api terkemuka.
Matanya seperti api, mengamati setiap detail dengan minat yang intens,
mencari bakat yang menjanjikan.
Lord frangky Pyrion: Ayah dari Kaelen, seorang pria berwajah keras
dengan seringai merendahkan. Matanya yang gelap menyapu para
peserta, berlama-lama pada kelompok Loid dengan tatapan tidak suka.
“Lihatlah, mereka masih di sini,” gumamnya, cukup keras agar putranya
mendengarnya. “Entah sihir kotor apa yang mereka gunakan.” Putranya,
Kaelen, hanya mengangguk, menyeringai sombong.
Beberapa kepala keluarga sihir terkemuka lainnya, Jenderal dari Pasukan
Penjaga Kerajaan, dan anggota Dewan Tetua Akademi juga hadir, masing-
masing memancarkan aura mana yang kuat dan berpengaruh, mewakili
pilar-pilar kekuasaan di Akasa.
Di antara mereka, Pangeran Aerion dan Putri Seraphina juga duduk,
mengamati kerumunan peserta dengan ekspresi yang sulit diuraikan.
Pangeran Aerion sesekali melirik ke arah kelompok Loid, terutama Kai. Ada
sedikit rasa ingin tahu dan mungkin sedikit kekaguman yang tersembunyi
di matanya. Putri Seraphina masih mempertahankan ekspresi dinginnya,
namun sesekali melirik Loid, seolah masih memikirkan sihir kegelapan
anehnya.
Suara Dekan Alarion kembali menggema di arena, lebih formal dan penuh
wibawa dari sebelumnya. “Selamat datang kembali, para peserta yang
berani! Dan selamat datang kepada para tamu kehormatan kami, Yang
Mulia Raja dan Ratu, para bangsawan terhormat, dan para pemimpin Kota
Akasa!”
Sorakan bergema, tetapi lebih terstruktur dan berkelas kali ini, sesuai
dengan kehadiran para bangsawan.
“Hari ini, kita akan memulai Ujian Ketiga: Ujian Kekuatan Individu dan
Adaptasi!” Dekan mengumumkan, suaranya penuh semangat. “Kalian
akan berhadapan dengan serangkaian tantangan yang dirancang untuk
menguji tidak hanya kemampuan sihir individu kalian, tetapi juga
kecerdasan, adaptasi, dan ketahanan dalam situasi yang paling sulit!”
Dekan mengangkat tongkatnya, dan sebuah layar mana besar muncul di
tengah arena, menampilkan daftar.
“Untuk ujian ini, kami juga telah menyiapkan hadiah yang layak bagi
mereka yang menunjukkan keunggulan luar biasa! Poin Kontribusi
Akademi ini adalah kunci untuk mengakses fasilitas dan peluang terbaik di
Akademi Akasa!”
Hadiah Ujian Ketiga:
* Peringkat 1: 500 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 2: 400 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 3: 350 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 4: 325 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 5: 300 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 6: 275 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 7: 250 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 8: 225 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 9: 200 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 10: 175 Poin Kontribusi Akademi
* Peringkat 11-20 mendapatkan 140 poin kontribusi akademi
Para peserta berbisik-bisik penuh semangat. Poin kontribusi adalah
sesuatu yang sangat diincar oleh semua orang, karena menentukan
kemudahan akses mereka di Akademi.
“Ujian ini akan berlangsung dalam beberapa tahap eliminasi,” lanjut
Dekan. “Tahap pertama adalah Ujian battle royal! Kalian akan dilemparkan
ke dalam arena yang terfragmentasi, dan kalian harus mengalahkan
lawan-lawan kalian untuk [Link] terdapat 10 arena battle royal dan
dimasing masing arena hanya untuk 6 orang saja yang bisa lolos”
Gelombang kegugupan menyapu kerumunan. Dari 500 menjadi 6 besar
dalam 1 arena? Itu berarti persaingan sangat ketat dan brutal.
“Detail tantangan pertama akan muncul di kristal pelacak kalian!
Sekarang, persiapkan diri kalian!”
Pilar-pilar kristal di arena kembali bersinar, dan para peserta mulai diacak
ke dalam zona-zona tempur individu yang berbeda. Kristal pelacak di
tangan mereka menampilkan instruksi dan peta zona.
“Kita terpisah!” seru Haruka, terkejut. Kristalnya menunjukkan ia berada
di zona yang berbeda dari Loid.
“Sistemnya individu!” kata Loid, ekspresinya serius. “Kita harus berjuang
sendiri!”
Meskipun sedikit terpencar di zona yang berbeda, enam anggota
kelompok Loid tetap berada di area yang saling berdekatan. Mereka bisa
melihat arena-arena lain yang terbentuk di samping mereka.
Tiba-tiba, lantai arena mulai bergeser. Dinding-dinding batu raksasa naik
dari tanah, memisahkan arena menjadi berbagai “labirin” dan “zona
tempur” yang lebih kecil. Tiap peserta kini berada di arena individual
mereka, dikelilingi oleh dinding batu setinggi puluhan meter.
Loid menemukan dirinya di dalam sebuah arena melingkar dengan
permukaan yang tidak rata, dipenuhi dengan pilar-pilar batu yang runtuh
dan bayangan pekat. Dari bayangan, dua siluet mulai bergerak. Lawan-
lawannya telah muncul.
“Ini pertarungan bebas,” gumam Loid, tangannya meraih katana. Aura
kegelapan miliknya langsung menyelimuti katana miliknya, menarik
perhatian tidak hanya lawan-lawannya di arena, tetapi juga tatapan tajam
dari para bangsawan di tribun kehormatan yang bisa melihatnya melalui
proyeksi mana.
Lawan pertama Loid adalah seorang penyihir tanah yang agresif,
melancarkan paku-paku tanah dari tanah, dan seorang penyihir petir yang
gesit.
Loid tidak melakukan hal yang mencolok. Dia menggunakan katana
miliknya dengan kecepatan mematikan, melesat di antara paku-paku
tanah yang melesat. Dia menangkis serangan petir dengan bilahnya yang
diselimuti kegelapan. Setiap gerakannya efisien, setiap tebasannya
presisi. Dia menggunakan sihir kegelapannya untuk mempercepat
reaksinya, menciptakan bayangan tipis untuk membaur dan menyerang
titik buta lawan. Aura kegelapan yang menyelimutinya selalu menarik
perhatian, membuat lawan-lawannya sedikit ragu, merasakan bahaya
yang tak terduga.
Di arena lain, Nero meraung, melemparkan Bola Api Pembakar yang
meledak hebat ke arah lawannya. Sarung tangan barunya bersinar,
memperkuat cengkeramannya pada api. Api birunya lebih panas dan
stabil, membakar apapun yang ada di dekatnya. Lawannya, seorang
penyihir air, kewalahan menghadapi intensitas apinya.
Haruka melayang anggun di arena pasir. Lima belas pisau terbangnya
berputar di sekelilingnya, menari seperti penari kematian. Dia
mengendalikan mereka dengan telekinesisnya, mengirimkan rentetan
serangan presisi ke arah dua lawannya, seorang penyihir angin dan
seorang pejuang pedang. Pisau-pisau itu melesat, membelok di udara,
dan menyerang dari berbagai sudut, memaksa lawan-lawannya terus
bertahan.
Oreki, dengan ketenangannya yang biasa, menganalisis lawan-lawannya:
seorang pengguna sihir ilusi dan seorang pejuang berkekuatan fisik besar.
Dia menggunakan gulungan sihirnya untuk memanggil jaring petir,
mengganggu sirkuit mana penyihir ilusi, sementara generator petir
mininya melepaskan kejutan listrik yang membuat pejuang fisik itu
terhuyung. Dia tidak mengandalkan kekuatan mentah, melainkan
kecerdasan dan efisiensi.
Rina bergerak seperti hantu di arena yang penuh dengan bayangan. Pisau
pembunuhannya adalah perpanjangan tangannya. Dia menyelinap di
antara celah pertahanan lawannya, seorang penyihir cahaya dan seorang
pemanah, muncul dan menghilang dalam bayangan. Setiap serangannya
menyasar titik vital, akurat dan mematikan, namun tidak pernah
berlebihan. Dia tidak mencari sorotan, hanya kemenangan efisien.
Fuji membangun pertahanan kokoh di arenanya. Dinding-dinding tanah
naik dan runtuh, menjebak dan mengurung lawannya, seorang penyihir
api dan seorang pemanah jarak jauh. Dia menggunakan mana yang telah
disempurnakan untuk menciptakan penghalang yang tak tergoyahkan dan
paku-paku tanah yang muncul tiba-tiba dari bawah, memaksa lawannya
terus bergerak dan kewalahan.
Kai, di arenanya, menghadapi dua lawan: seorang penyihir suara dan
seorang pejuang tinju baja. Dia bergerak dengan hati-hati, memancarkan
cahaya samar di sekelilingnya yang membantunya menghindari serangan
sonik dan pukulan keras. Dia menggunakan beberapa Pedang Cahaya
Murni yang tidak mencolok, hanya cukup untuk memberikan tekanan dan
memaksa lawannya mundur. Dia tidak menggunakan Perisai Cahaya yang
baru dia pelajari, tidak ingin menarik perhatian terlalu banyak. Dia hanya
fokus untuk menang, bukan pamer. Dia masih menyimpan rahasia
kekuatan barunya, menunggunya meledak di saat yang paling krusial.
Pertarungan berlanjut di seluruh arena yang terfragmentasi. Satu per
satu, peserta gugur, disinari cahaya yang menarik mereka keluar dari
arena. Para bangsawan di tribun menyaksikan dengan seksama, mencatat
setiap bakat yang menonjol, dan tentu saja, perhatian mereka tak pernah
lepas dari Loid dan aura kegelapannya.
Ketika batas waktu hampir habis, suara Dekan Alarion kembali
menggema. “Waktu habis! Semua peserta yang masih berdiri, selamat!
Kalian telah berhasil melewati tahap eliminasi awal!”
Dinding-dinding arena mulai runtuh, dan 60 peserta yang tersisa kini
berdiri di arena utama yang luas. Kelompok Loid semuanya berhasil lolos,
meskipun kelelahan. Mereka saling menatap, ada rasa lega, kebanggaan,
dan antisipasi untuk tantangan berikutnya.
Mereka menatap wajah-wajah peserta lain yang lolos Pangeran Aerion dan
Putri Seraphina, Lord Kaelen Pyrion, dan beberapa wajah baru yang kuat
yang telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam pertarungan
individu. Persaingan semakin ketat, dan ujian yang sesungguhnya baru
saja akan dimulai.