0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan24 halaman

Faktor Mempengaruhi Prestasi Belajar

Bab 2 PTK

Diunggah oleh

Alfan Hardiyansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan24 halaman

Faktor Mempengaruhi Prestasi Belajar

Bab 2 PTK

Diunggah oleh

Alfan Hardiyansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

8

BAB II

KAJIAN TEORI

1. Prestasi Belajar

A. Pengertian Belajar

Dalam kamus besar bahasa Indonesia dikatakan bahwa prestasi

belajar adalah hasil yang telah dicapai atau telah dikerjakan, menurut

Winkel W.S (1996 : 12) pengertian prestasi adalah bukti keberhasilan yang

dicapai. Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil

interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dalam diri

(internal) maupun dari luar diri (eksternal) individu. (Suparno. P 1997 :

130).

Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan prestasi belajar

adalah hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam periode tertentu dari

kegiatan belajar berdasar hasil suatu tes atau penilaian hasil belajar,

adapun dilihat dari kegunaannya prestasi belajar yang dicapai oleh siswa

adalah berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya perbedaan

kemampuan tiap-tiap siswa dalam belajarnya

Menurut Winkel W.S (1999 : 53) belajar adalah suatu aktifitas

mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dilingkungan yang

menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman

dalam nilai sikap. Perubahan itu bersifat konstan dan berkas. Sedang

menurut Slameto (2003 : 2) belajar adalah proses usaha yang dilakukan


9

seseorang untuk memperoleh sesuatu berubah tingkah laku yang baru

secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi

dengan lingkungannya.

Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa belajar adalah

suatu proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang sesuai dengan

aktifitas mental/psikis untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas

tingkah laku yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan

untuk memperoleh pengetahuan.

Belajar adalah proses berkesinambungan. Belajar itu adalah

proses sepanjang masa. Manusia tidak pernah berhenti belajar walaupun

sudah tua. Manusia tidak selalu melakukan proses belajar. Hal itu

dilakukan karena faktor kebutuhan. Belajar adalah proses kegiatan

interaksi antara dirinya dengan lingkungannya yang dilakukan dari lahir

sampai meninggal. Oleh karena itu, belajar merupakan proses

berkesinambungan.

B. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yaitu

prestasi dan belajar. Antara kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang

berbeda.

Pengertian prestasi menurut para ahli adalah:

1. WJS. Poerwadarminta berpendapat bahwa prestasi adalah hasil yang telah

dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya).

2. Mas’ud Khasan Abdul Qahar, memberi batasan prestasi dengan apa yang telah

diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh


10

dengan jalan keuletan kerja.

Dari pengertian prestasi yang telah dibahas sebelumnya dapat

disimpulkan bahwa pengertian prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang

telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan

jalan keuletan kerja. Sedangkan belajar adalah sebagai perubahan kelakuan

berkat pengalamandan latihan. Dan belajar membawa sesuatu perubahan itu

tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga dalam bentuk

kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, pengalaman, minat, penyesuaian

diri, pendeknya mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang

yang sedang belajar itu tidak sama lagi dengan saat sebelumnya, karena itu

lebih sanggup menghadapi kesulitan memecahkan masalah atau menambah

pengetahuanya, akan tetapi dapat pula menerapkannya secara fungsional

dalam situasi-situasi hidupnya.

Adapun pengertian belajar menurut Morgan, adalah setiap perubahan yang

relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan

atau pengalaman.

Sedangkan menurut Athur T. Jersild, belajar adalah perubahan tingkah laku

karena pengalaman dan latihan

Dari definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa ciri-ciri belajar adalah

sebagai berikut:

1. Belajar merupkan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana

perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baek, tetapi

juga ada kemungkinan mengarah kepda tingkah laku yang lebih buruk.

2. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latian atau

pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh

pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar,


11

seperti perubahan-perubahan yang terjadi pad seorang bayi.

3. Untuk dapat disebut sebagai belajar, maka perubahan itu harus relatif

mantap, harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup

panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan

dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari

suatu periode yang mungkin berlansung berhari-hari, berbulan-bulan,

ataupun bertahun-tahun.

C. Faktor - faktor Yang Mempengaruhi Pretasi Belajar

Menurut Roestiyah NK dalam bukunya “Masalah-masalah Ilmu Keguruan”

faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa di bagi menjadi dua yaitu:

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri anak
sendiri.

Faktor internal meliputi dua aspek yaitu aspek fisiologis (yang

bersifat jasmaniah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).


1) Aspek fisiologis

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai

tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya. Dapat

mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti

pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai

pusing-pusing kepala dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif)

sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang maksimal atau tidak

berbekas.

Kondisi oragan-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera

pendengar dan indera penglihatan, juga sangat mempengaruhi

kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan,


12

khususnya yang disajikan di dalam kelas.

Untuk mengetahui kemungkinan timbulnya masalah mata dan telinga di

atas, guru seyogyanya bekerjasama dengan pihak sekolah untuk

memperoleh bantuan pemeriksaan rutin (periodik) dari dinas-dinas

kesehatan setempat. Kiat lain yang tak kalah penting untuk

mengatasi masalah kekurang sempurnaan pendengaran dan

penglihatan siswa-siswa tertentu ialah dengan menempatkan mereka di

deretan bangku terdepan secara bijaksana. Artinya, seorang pendidik

tidak perlu menunjukan sikap dan alas an (apalagi di depan umum)

bahwa mereka ditempatkan di depan kelas karena mata atau telinga

mereka kurang baek.

2). Aspek psikologis

Banyak factor yang termasuk aspek psikologis yang dapat

mempengaruhi kuantitas dan kualitas pemebelajaran siswa diantaranya

adalah :

a) Intelegensi siswa

Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai

kemempuan psikofisik rangsangan atau penyesuaian diri dengan

lingkungan dengan cara yang tepat. Sedangkan Bimo Walgito,

memdefinisikan intelegensi dengan daya menyesuaikan diri dengan

keadaan baru dengan mempergunakan alat- alat berfikir menurut

tujuanya.

Setiap individu mempunyai intelegensi yang berbeda-beda,

maka individu yang satu dengan individu yang lain tidak sama

kemampuanya dalam memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.


13

Ada dua pandangan mengenai perbedaan intelegensi yaitu

pandangan yang menekankan pada perbedaan kualitatif dan

pandangan yang menekankan pada perbedaan kuantitatif. Pandangan

yang pertama berpendapat bahwa perbedaan intelegensi satu dengan

yang lainya memang secara kualitatif berbeda, sedangkan pandangan

yang kedua berpendapat bahwa perbedaan intelegensi satu dengan

yang lainya disebabkan semata- mata karena perbedaan materi yang

diterima atau diproses belajarnya.

Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tidak dapat

diragukan lagi, karena sangat menentukan keberhasilan belajar siswa.

Hal ini berarti, bahwa semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang

siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih kesuksesan.

Kemudian sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi

seorang siswa maka semakin kecil peluangnya di dalam memperoleh

kesuksesan.

b) bakat
Pengertian bakat menurut para ahli adalah sebagai berikut :

Pengertian bakat yang pertama adalah kemampuan untuk

24
belajar. Yang kedua yaitu gejala kondisi kemampuan seseorang yang

relatif sifatnya, yang salah satu aspek pentingnya adalah kesiapan untuk

memperoleh kecakapan - kecakapan yang potensial sedangkan aspek

lainya adalah kesiapan untuk mengembangkan minat dengan

menggunakan kecakapan tersebut.

Bakat dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar siswa.

Oleh karenanya hal yang bijaksana apabila orang tua memaksakan


14

kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian

tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki anaknya

itu. Pemaksaan kehendak terhadap siswa dan juga ketidaksadaran

siswa terhadap bakatnya sendiri sehingga ia memilih jurusan keahlian

tertentu yang sebenarnya bukan bakatnya akan berpengaruh buruk

terhadap kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Adakalannya

seseorang mempunyai bakat yang terpendam. Untuk mengetahui bakat

yang terpendam ini dapat dilakukan bermacam - macam test antara

lain : test ketajaman indera, test kecepatan gerak, test kekuatan dan

koordinasi, test temperamen dan karakter, dan test penalaran dan

kemampuan belajar.

c). Minat siswa

Minat dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa dalam

bidang- bidang studi tertentu, misalnya: seseorang yang menaruh

minat besar terhadap matematika akan memusatkan perhatianya

lebih banyak daripada siswa lainya.

Kemudian, karena pemusatan perhatianya yang intensif terhadap

materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk lebih giat,

dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.

d) Sikap siswa

L. Crow dan A. Crow mengartikan sikap dengan ketepatan hati atau

kecenderungan (kesiapan, kehendak hati, tendensi) untuk bertindak

terhadap obyek menurut karakteristiknya sepanjang yang kita kenal.

Sikap siswa yang positif terutama kepada guru dan mata

pelajaranya merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar


15

siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap guru dan mata

pelajaranya, apalagi jika disertai dengan kebencian kepada guru

tersebut, dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.

e) Motivasi

Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal

tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa

untuk melakukan belajar. Persoalan menegenai motivasi dalam

belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat

ditingkatkan. Demikian pula belajar mengajar seorang anak didik akan

berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar. Nasution mengatakan

motivasi adalah ”segala daya yang mendorong seseorang untuk

melakukan sesuatu”.

Sedangkan Sardiman mengatakan bahwa ”motivasi adalah

menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan

sesuatu”. Dalam perkembanganya motivasi dapat dibedakan menjadi

dua macam yaitu (a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi

ekstrinsik. Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang

bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran

sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi

ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar

diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan

kegiatan belajar.
b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa


16

dikelompokan menjadi 3 faktor yaitu : faktor keluarga, faktor

sekolah, dan faktor masyarakat.

1). Faktor keluarga


Pengertian keluarga menurut para ahli adalah : Suatu kesatuan

sosial terkecil yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial.

Unit satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan

kelompok terkecil dalam masyarakat. Keluarga akan memberi

pengaruh kepada siswa yang belajar yaitu berupa : cara orang tua

mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga,

keadaan ekonomi keluarga, penegrtian orang tua dan latar belakang

kebudayaan.

2). Faktor Sekolah

Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup

metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa

dengan siswa, kedisiplinan sekolah, sarana dan prasarana sekolah,

waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan bangunan sekolah,

metode belajar, dan tugas rumah.

3). Faktor Masyarakat


Abu Ahmadi mendefinisikan masyarakat dengan suatu kelompok

yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat

istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkunganya.

Sedangkan Wahyu memberikan batasan masyarakat dengan setiap

manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga

mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka

sebagai kesatuan sosial dengan batas yang dirumuskan dengan

jelas.
17

D. Pendekatan Model Kooperatif

a. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif / cooperatif learning merupakan

pembelajaran yang secara sadar mengembangkan interaksi yang saling

asuh antara siswa untuk menghindari ketersinggungan dan permusuhan

menurut Slavin (1995) Pembelajaran kooperatif secara intensif, atas

dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami

konsep-konsep yang sulit apakah mereka saling mendiskusikan konsep-

konsep tersebut.

Pembelajaran cooperatif merupakan kegiatan pembelajaran yang

menggunakan kelompok kecil sehingga siswa bekerja dan belajar satu

sama lain untuk mencapai tujuan kelompok. Di dalam belajar cooperatif

siswa berdiskusi dan saling membantu serta mengajak satu sama lain

untuk memahami isi materi pelajaran (Johnson dan Johnson, 1991 : 6).

Belajar cooperatif juga mempunyai pengertian sebagai strategi

yang digunakan untuk membantu siswa menemukan kekhususan dan

hubungan antar individu dalam kelompok. Belajar cooperatif lebih dari

sekedar kerja kelompok. Di dalam belajar cooperatif setiap anggota

kelompok saling membagi ide, belajar bersama, dan bertanggung jawab

terhadap keberhasilan anggota lain pada kelompoknya, sebagaimana

terhadap dirinya sendiri (Kauchhak, 1998 ; Slavin, 1990). Berdasarkan

beberapa keunggulan metode pembelajaran yang dapat digunakan, maka


18

pembelajaran cooperatif dalam penelitian ini dipilih peneliti karena

metode ini mempunyai ciri khas sebagai berikut.

Terdapat tiga karakteristik untuk semua jenis pembelajaran

cooperatif yang di kemukakan oleh Kauchak dan Slavin (1998 : 235)

sebagai berikut :

1) Tujuan kelompok (Group golas), yaitu menghargai anggota

kelompok dari kemampuan yang tidak sama untuk bekerja sama dan

saling membantu sama lain untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2) Tanggung jawab individual (Individual accountability), mempunyai

pengertian bahwa setiap anggota kelompok memberikan keinginan

untuk menguasai materi. Siswa yang dilibatkan dalam mengajar

cooperatif akan memahami bahwa mereka diharapkan untuk belajar

dan melakukan aktivitas bersama-sama serta dapat menunjukkan

bahwa mereka dapat memahami isi materi yang diajarkan.

3) Kesempatan yang sama untuk sukses (Equal opportunity for

success) mempunyai pengertian bahwa setiap anggota kelompok

mempunyai kesempatan yang sama untuk menguasai materi

pelajaran dan mendapatkan penghargaan diri dari kemampuan yang

dicapainya. Beberapa komponen untuk menentukan

keberhasilan penggunaan model ini menurut Johnson dan Johnson

(1991 : 56-59) dapat dicapai dengan memperhatikan lima komponen

sebagai berikut :

1 Saling bergantung positif (positif interdependence)


19

Setiap anggota kelompok harus ada rasa saling bergantung secara

positif, mempunyai rasa satu untuk semua, merasa akan sukses jika

siswa yang juga sukses. Dengan demikian, materi pelajaran tugas

kegiatan kelompok haruslah mencerminkan aspek bergantung.

2 Interaksi langsung (face to face interaction)

Komunikasi verbal antar siswa yang didukung oleh saling

ketergantungan positif diharapkan akan menghasilkan hasil belajar

yang baik. Posisi siswa mengharuskan mereka bertatap muka satu

sama lain dan berorientasi secara langsung, saling berhadap dan saling

membantu dalam pencapain belajar, serta menyumbangkan pikirannya

dalam memecahkan masalah. Selain itu, siswa juga harus

mengembangkan keterampilan berkomunikasi secara efektif.

3 Pertanggung jawaban secara individual (individual accountability and

personal responsibility)

Penguasaan bahan ajar secara individu selaku anggota kelompok

sangat menentukan sumbangan, dukungan dan bantuan yang diberikan

untuk anggota lain di dalam kelompoknya. Dengan demikian, setiap

anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari bahan ajar

dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok.

4 Keterampilan berinteraksi antarindividual dan kelompok

(interpersonal and small group skill)

Keterampilan sosial sangat penting dalam belajar cooperatif yang


20

harus diajarkan kepada siswa. Siswa harus dimotivasi untuk bekerja

sama dan berkolaborasi dalam memahami konsep-konsep yang sulit.

5 Proses Kelompok (group processing)

Efektifitas dalam belajar kelompok ini dapat dilakukan dengan

cara melakukan pembagian tugas untuk memimoin secara bergantian.

Diskusi kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan. Masing-

masing kelompok beranggotakan 4-5 siswa yang memiliki kemampuan

akademik heterogen sehingga dalam satu kelompok terdapat satu siswa

berkemampuan tinggi dua siswa berkemampuan sedang, dan dua siswa

lagi berkemampuan rendah.

b. Langkah-langkah Pembelajaraan Kooperatif

Terdapat 6 (enam) langkah utama dalam menerapkan model

pembelajaran kooperatif, sebagai berikut :

(a) Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai

dalam mata pelajaran yang dipelajari dan memberikan motivasi belajar

kepada peserta didik.

(b) Guru menyampaikan informasi kepada peserta didik, baik dengan

peragaan (demonstrasi) atau teks.

(c) Siswa dikelompokan ke dalam kelompok-kelompok belajar.

(d) Bimbingan kelompok-kelompok belajar pada saat peserta didik bekerja

sama dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas mereka.

(e) Setiap akhir pembelajaran guru mengadakan evaluasi untuk

mengetahui penguasaan materi pelajaran oleh peserta didik yang telah


21

dipelajari.

(f) Hasil penelitian tersebut disampaikan guru kepada kelompok, agar

anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang

memerlukan bantuan. Nilai kelompok didasarkan oleh rata-rata hasil

belajar semua. Oleh karena itu, tiap anggota kelompok harus

memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok.

c. Model Pembelajaran kooperatif tipe STAD

Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model Student

Team Achievement Divisions (STAD). ), STAD dikembangkan oleh

Slavin dan rekan-rekan sejawatnya di Hopkins University. Pendekatan ini

merupakan pendekatan yang paling sederhana dan paling mudah

dipahami. Guru yang menggunakan STAD menyajikan informasi

akademis baru kepada siswa setiap minggu atau secara reguler, baik

melalui presentasi verbal atau teks. Siswa di kelas tertentu dibagi menjadi

beberapa kelompok atau tim belajar dari kedua gender (laki-laki dan

perempuan), dari berbagai rasial atau etnis dan dengan prestasi rendah,

rata-rata, dan tinggi. Anggota tim menggunakan worksheets atau alat

belajar lain untuk menguasai berbagai materi akademis dan kemudian

saling membantu untuk mempelajari berbagai materi melalui tutoring,

saling memberikan kuis, atau melaksanakan diskusi tim. Secara individual,

siswa diberi kuis mingguan atau dua minggu tentang berbagai materi

akademis. Kuis-kuis diskor dan masing-masing individu diberi skor

kemajuan untuk mengetahui perkembangan siswa.


22

Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini memiliki ciri utama yaitu

memotivasi siswa dalam satu kelompok untuk saling memberi semangat,

saling bekerja sama dan saling membantu untuk menuntaskan informasi

atau keterampilan yang sedang dipelajari untuk menghadapi kuis individu.

Pembelajaran kooperatif ini juga menekankan adanya sebuah penghargaan

sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar. Adanya penghargaan

tersebut dapat memotivasi siswa untuk lebih baik dalam menghadapi kuis

individu yaitu memperoleh skor terbaik.

Terdapat lima komponen utama dalam pembelajaran STAD antara lain

sebagai berikut (dalam Mohamad Nur, 2005:20):

1) Presentasi Kelas

Presentasi kelas dalam STAD berbeda dari pengajaran biasa

hanya pada presentasi tersebut harus jelas-jelas memfokuskan pada

unit STAD. Dengan cara ini, siswa menyadari bahwa mereka

harus sungguh-sungguh memperhatikan presentasi kelas tersebut,

karena dengan begitu akan membantu mereka mengerjakan kuis

dengan baik, dan skor kuis mereka menentukan skor timnya.

2) Kerja Tim

Tim atau kelompok tersusun dari 4-5 siswa yang mewakili

heterogenitas dalam kinerja akademik, jenis kelamin, dan suku. Fungsi

utama tim adalah menyiapkan anggotanya agar berhasil menghadapi

kuis. Kerja tim tersebut merupakan ciri terpenting STAD. Tim

tersebut menyediakan dukungan teman sebaya untuk kinerja


23

akademik yang memiliki pengaruh berarti pada pembelajaran, serta

tim menunjukkan saling peduli dan hormat, hal itulah yang memiliki

pengaruh berarti pada hasil-hasil belajar.

3) Kuis

Dalam mengerjakan kuis siswa tidak dibenarkan saling

membantu selama kuis berlangsung. Hal ini menjamin agar

siswa secara individual bertanggung jawab untuk memahami

bahan ajar tersebut.

4) Skor Perbaikan Individual

Setiap siswa dapat menyumbang poin maksimum kepada

timnya dalam sistem penskoran, namun tidak seorang siswa pun dapat

melakukan seperti itu tanpa menunjukkan perbaikan atas kinerja masa

lalu. Setiap siswa diberikan sebuah skor dasar, yang dihitung dari

kinerja rata-rata siswa pada kuis serupa sebelumnya. Kemudian

siswa memperoleh poin untuk timnya didasarkan pada berapa

banyak skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka.

5) Penghargaan Tim

Tim dapat memperoleh penghargaan apabila skor rata-rata mereka

melampaui kriteria tertentu. Skor tim dihitung berdasarkan presentase

nilai tes mereka melebihi nilai tes sebelumnya.

d. Kelebihan dan Kekurangan Model Kooperatif Tipe STAD

Kelebihan dalam penggunaan pendekatan pembelajaran ini

adalah sebagai berikut:


24

1) Mengembangkan serta menggunakan keterampilan berpikir kritis

dan kerjasama kelompok.

2) Menyuburkan hubungan antara pribadi yang positif di antara siswa

yang berasal dari ras yang berbeda.

3) Menerapkan bimbingan oleh teman.

4) Menciptakan lingkungan yang menghargai nilai ilmiah.

Kelemahan penggunaan pendekatan pembelajaran ini adalah:

1) Sejumlah siswa mungkin bingung karena belum terbiasa dengan

perlakuan seperti ini.

2) Guru pada permulaan akan membuat kesalahan-kesalahan dalam

pengelolaan kelas, akan tetapi usaha yang terus menerus akan dapat

terampil menerapkan metode ini.

Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD:

1) Kelompokkan siswa dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga

sampai dengan lima orang. Anggota-anggota kelompok dibuat heterogen

meliputi karakteristik kecerdasan, kemampuan awal bahasa Indonesia,

motivasi belajar, jenis kelamin, ataupun latar belakang etnis yang

berbeda.

2) Kegiatan pembelajaran dimulai dengan presentasi guru dalam

menjelaskan pelajaran berupa paparan masalah, pemberian data,

pemberian contoh. Tujuan presentasi adalah untuk mengenalkan konsep

dan mendorong rasa ingin tahu siswa.

3) Pemahaman konsep dilakukan dengan cara siswa diberi tugas- tugas


25

kelompok. Mereka boleh mengerjakan tugas-tugas tersebut secara

serentak atau saling bergantian menanyakan kepada temannya yang lain

atau mendiskusikan masalah dalam kelompok. atau apa saja untuk

menguasai materi pelajaran tersebut. Para siswa tidak hanya dituntut

untuk mengisi lembar jawaban tetapi juga untuk mempelajari konsepnya.

Anggota kelompok diberitahu bahwa mereka dianggap belum selesai

mempelajari materi sampai semua anggota kelompok memahami

materi pelajaran tersebut.

4) Siswa diberi tes atau kuis individual dan teman sekelompoknya tidak

boleh menolong satu sama lain. Tes individual ini bertujuan untuk

mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap suatu konsep dengan cara

siswa diberikan soal yang dapat diselesaikan dengan cara menerapkan

konsep yang dimiliki sebelumnya.

5) Hasil tes kuis selanjutnya dibandingkan dengan rata-rata sebelumnya dan

poin akan diberikan berdasarkan tingkat keberhasilan siswa mencapai

atau melebihi kinerja sebelumnya. Poin ini selanjutnya dijumlahkan

untuk membentuk skor kelompok.

6) Setelah itu memberikan penghargaan kepada kelompok yang terbaik

presentasinya atau yang telah memenuhi kriteria tertentu. Penghargaan

dapat berupa hadiah, pujian, tambahan nilai dan lain-lain.

E. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

a. Pengertian IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata


26

pelajaran di SD. Trianto (2010:171) mengemukakan bahwa IPS

merupakan integrasi berbagai cabang-cabang ilmu sosial seperti

sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. IPS

dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan

satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu

sosial.

Wiyono (Tasrif, 2008: 2) mengemukakan bahwa IPS adalah mata

pelajaran yang mempelajari manusia dalam semua aspek kehidupan

dan interaksinya dalam masyarakat. Selanjutnya Depdiknas (Tasrif,

2008: 2) juga memberikan definisi IPS sebagai mata pelajaran yang

mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian

geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi dan tata negara

dengan menampilkan permasalahan sehari-hari.

Konsep dasar IPS meliputi 1) interaksi, 2) saling ketergantungan,

3) kesinambungan dan perubahan, 4) keragaman/ kesamaan/ perbedaan,

5) konflik dan konsensus, 6) pola, 7) tempat, 8) kekuasaan, 9) nilai

kepercayaan, 10) keadilan dan pemerataan, 11) kelangkaan, 12)

kekhususan, 13) budaya, 14) nasionalisme (Etin Solihatin, 2009: 15-

21). Jadi IPS merupakan mata pelajaran

yang mengkaji tentang manusia, kehidupan sosial dan

berbagai permasalahannya.

b. Tujuan Pendidikan IPS

Tujuan pendidikan IPS adalah mendidik dan memberi bekal


27

kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai

dengan bakat, minat kemampuan dan lingkungannya serta berbagai

bekal siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

(Trianto, 2010: 174). Selanjutnya Trianto (2010: 176) juga

mengemukakan tujuan utama ilmu pengetahuan sosial adalah untuk

mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah

sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif

terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan terampil

mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa

dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.

Sapriya (2009: 12) mengemukakan IPS di tingkat Sekolah Dasar pada

dasarnya bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik sebagai

warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledges), ketrampilan

(skills), sikap dan nilai (attitudes and values) yang dapat digunakan

sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah pribadi/ masalah

sosial serta kemampuan mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam

berbagai kegiatan kemasyarakatan agar menjadi warga negara yang

baik. Berdasarkan UU Sisdiknas Pasal 37 disebutkan bahwa bahan

kajian ilmu pengetahuan sosial antara lain, ilmu bumi, sejarah,

ekonomi, kesehatan dan sebagainya dimaksudkan untuk

mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan

analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat (Sapriya,

2009 :45)
28

Jadi pembelajaran IPS di SD bertujuan untuk

mengembangkan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap, nilai

dan analisis siswa terhadap masalah sosial sehingga siswa peka dan

mampu mengatasi masalah sosial yang menimpa diri maupun

masyarakatnya yang pada akhirnya akan menjadi seorang warga negara

yang baik.

c. Strategi Pembelajaran IPS

Dick dan Carey (Trianto, 2010: 179) mengatakan bahwa strategi

pembelajaran menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu set

bahan pembelajaran dan prosedur–prosedur yang digunakan bersama

bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada

siswa. Ia menyebutkan 5 komponen dalam strategi pembelajaran yaitu,

kegiatan prapembelajaran, penyajian informasi, partisipasi siswa, tes

dan tindak lanjut.

Gagne dan Briggs (Trianto, 2010: 179) menyebutkan urutan

pembelajaran yaitu 1) memberikan motivasi atau menarik perhatian 2)

menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa 3) mengingatkan

kompetensi prasyarat 4) memberi stimulus (masalah, topik, konsep) 5)

memberi petunjuk belajar 6) menumbuhkan penampilan siswa 7)

memberi umpan balik 8) menilai penampilan 9) menyimpulkan.

Menurut Suprihadi Saputro, Zainul Abidin, dan I Wayan Sutama

(2000: 23) strategi pembelajaran adalah serangkaian dari keseluruhan

tindakan strategis guru dalam merealisasikan perwujudan kegiatan


29

pembelajaran aktual yang efektif dan efisien untuk pencapaian tujuan

pembelajaran. Menurut Ruminiati (2007: 23) strategi pembelajaran

adalah suatu prosedur yang digunakan oleh guru dalam proses

pembelajaran sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang

telah ditetapkan. Sedangkan menurut Gulo (2004: 2) strategi

pembelajaran adalah suatu seni dan ilmu untuk membawakan

pengajaran di kelas sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah

ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka strategi

pembelajaran adalah tindakan strategis yang dilakukan oleh guru

dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai.

d. Ruang Lingkup IPS di SD

Tasrif (2008: 4) membagi ruang lingkup IPS menjadi

beberapa aspek berikut :

a. Ditinjau dari ruang lingkup hubungan mencakup hubungan

sosial, hubungan ekonomi, hubungan psikologi, hubungan

budaya, hubungan sejarah, hubungan geografi, dan hubungan

politik.

b. Ditinjau dari segi kelompoknya adalah dapat berupa keluarga,

rukun tetangga, kampong, warga desa, organisasi masyarakat dan

bangsa.

c. Ditinjau dari tingkatannya meliputi tingkat local, regional dan

global.
30

d. Ditinjau dari lingkup interaksi dapat berupa kebudayaan, politik

dan ekonomi.

Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi: Manusia, tempat,

lingkungan, Waktu, keberlanjutan, perubahan, Perilaku ekonomi

dan kesejahteraan

4. Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan

Ada beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Dyah Suryani (2011) dengan judul

“Implementasi Model Cooperative Learning Tipe Student Team

Achievement Division (STAD) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar

Siswa Kelas VI SD IPS Angkasa Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran

2010/2011”, menyimpulkan bahwa: pelaksanaan pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam mata

pelajaran kegiatan ekonomi dapat meningkatkan motivasi belajar

Siswa.

2. Penelitian Mariana Purnawati (2011) dengan judul “Penerapan Model

Pembelajaran Kooperatif Teknik Student Team Achievement Division

(STAD) untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar dan Hasil Belajar

Akuntansi Pada Siswa Kelas V Program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

SD Kristen Salatiga Tahun Ajaran 2010/2011”. Kesimpulan

penelitian yaitu, penerapan model pembelajaran tipe STAD dapat

meningkatkan Keaktifan Siswa

5. Kerangka Berpikir
31

Disebabkan masih rendahnya prestasi belajar siswa pada

pembelajaran IPS di kelas IV SDN Sirnagalih 5 Kecamatan Tamansari

Kabupaten Bogor dan masih kurang baiknya proses pembelajaran yang

diterapkan selama ini, pengunaan metode ceramah yang menyebabkan prestasi

belajar siswa masih rendah. Maka pemecahan masalah yang dipilih adalah

dengan mencoba memperbaiki model pembelajaran, yaitu dengan metode

kooperatif tipe STAD maka diharapkan bisa meningkatkan prestasi belajar

siswa kelas IV SDN Sirnagalih 5 Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor

dalam pembelajaran IPS.

6. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka teroritik di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis

tindakan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penerapan model pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran dapat

meningkatkan minat belajar.

2. Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan daya ingat terhadap

materi ajar yang disampaikan guru.

3. Model pembelajaran kooperatif dapat membangkitkan motivasi siswa

dalam menerima materi ajar.

Model pembelajaran kooperatif dapat mengaktifkan siswa dalam mengikuti

materi pelajaran.

Anda mungkin juga menyukai