0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan30 halaman

Asuhan Keperawatan DBD di KMB

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan Demam Berdarah Dengue (DBD), termasuk pengertian, etiologi, cara penularan, patogenesis, manifestasi klinis, klasifikasi, pemeriksaan diagnostik, dan penatalaksanaan. DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, dengan gejala utama demam tinggi, nyeri otot, dan trombositopenia. Penatalaksanaan bersifat suportif, dengan fokus pada pengelolaan cairan dan pemantauan kondisi pasien.

Diunggah oleh

dwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan30 halaman

Asuhan Keperawatan DBD di KMB

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan Demam Berdarah Dengue (DBD), termasuk pengertian, etiologi, cara penularan, patogenesis, manifestasi klinis, klasifikasi, pemeriksaan diagnostik, dan penatalaksanaan. DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, dengan gejala utama demam tinggi, nyeri otot, dan trombositopenia. Penatalaksanaan bersifat suportif, dengan fokus pada pengelolaan cairan dan pemantauan kondisi pasien.

Diunggah oleh

dwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

OLEH:
DWI NGESTI CHRISTIANI
NIM : 2112061

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


PATRIA HUSADA BLITAR
2023

1
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)

Telah disetujui Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Ny. A


Pasien dengan Demam Berdarah Dengue

NAMA : Dwi Ngesti Christiani


NIM : 2112061
Hari : Jumat
Tanggal : 20/10/2023
Mengetahui,
Pembimbing Lahan Pembimbing Intitusi

(Widya Dwi Pratiwi, S. Kep. Ns.) (Yeni Kartikasari., [Link].)

2
Konsep Dasar

Demam Berdarah Dengue

1.1 Pengertian DBD


Merupakan penyakit yang terdapat pada anak dan remaja atau orang dewasa dengan
gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah 2 hari
pertama (Mansjour, 2021)

1.2 Etiologi

Penyebab penyakit DBD ini adalah “Virus Dengue” termasuk group B Arthropodborn
Virus (Arbovirusses) dan sekarang dikenal sebagai genus flavinus, family flaviridiae dan
mempunyai 4 serotype, yaitu: DEN I, DEN II, DEN III, dan DEN IV. Infeksi dengan
salah satu serotype akan menimbulkan antibody seumur hidup terhadap serotype yang
bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotype yang lain (Sukohar, 2014).

1.3 Cara Penularan


Terdapat 3 faktor yang berperan pada penularan infeksi dengue, yaitu: manusia, virus,
dan faktor perantara. Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
Nyamuk Aedes Albopictus, Aedes Polinesiensis dan beberapa spesies yang lain dapat
pula menularkan virus dengue tetapi kurang berperan. Nyamuk aedes tersebut dapat
menularkan virus dengue kepada manusia, baik secara langsung yaitu setelah menggigit
orang yang sedang mengalami viremia, maupun secara tidak langsung yaitu setelah
melalui masa inkubasi didalam tubuhnya selama 8-10 hari (Ekstrinsic Incubation Period).
Pada manusia diperlukan waktu 4- 6 hari (Instrinsic Incubation Period) sebelum menjadi
sakit setelah virus masuk kedalam tubuh. Pada nyamuk, sekali virus dapat masuk dan
berkembang biak didalam tubuhnya, maka nyamuk tersebut dapat menularkan virus
selama hidupnya (infektif). Sedangkan pada manusia, penularan dapat terjadi pada saat
tubuh dalam keadaaan viremia yaitu antara 3-5 hari. (Sukohar, 2014)

1.4 Patogenesis
Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk aedes aegypti
atau aedes albopictus. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, virus dengue akan menuju

3
organ sasaran yaitu sel kuffer hepar, endotel pembuluh darah, nodus limpaticus, sumsum
tulang serta paru-paru. Beberapa penelitian menunjukkan, sel monosit dan makrofag
mempunyai peran pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus
ke dalam sel dengan bantuan organel sel dan membentuk komponen perantara dan
komponen struktur virus. Setelah komponen struktur dirakit, virus dilepaskan dari dalam
sel. Infeksi oleh satu serotipe virus DEN menimbulkan imunitas protektif terhadap
serotipe virus tersebut, tetapi tidak ada cross protektive terhadap serotipe virus yang lain
(Soedarto, 2012).
Secara invitro, antibodi terhadap virus dengue mempunyai 4 fungsi biologis yaitu :
1. Netralisasi virus,
2. Sitolisis komplemen,
3. Antibody dependent cell-mediated cytotoxity (ADCC) , dan
4. Antibody dependent enhancement (ADE) (Soedarto, 2012)
Berdasarkan perannya, terdiri dari antibodi netralisasi atau neutralizing antibody yang
memiliki serotipe spesifik yang dapat mencegah infeksi virus, dan antibody non
netralising serotype yang mempunyai peran reaktif silang dan dapat meningkatkan infeksi
yang berperan dalam pathogenesis DBD dan DSS (Soedarto, 2012).
1.5 Patofisiologi
Patofisiologi primer DBD dan DSS adalah peningkatan akut permeabilitas vaskuler
yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam ruang ekstravaskuler, sehingga
menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah. Volume plasma menurun
lebih dari 20% pada kasus-kasus berat, hal ini didukung penemuan post mortem meliputi
efusi pleura, hemokonsentrasi dan hipoproteinemi (Maani, 2016).
Tidak terjadinya lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan bahwa perubahan
sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja singkat. Jika penderita sudah
stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi diabsorbsi dengan cepat, menimbulkan
penurunan hematokrit.
Maani, 2016 juga menyebutkan perubahan bentuk hemostasis pada demam berdarah
dengue melibatkan 3 faktor, antara lain:
1. Perubahan vaskuler,
2. Trombositopeni
3. Kelainan koagulasi.

4
Hampir semua penderita DBD mengalami peningkatan fragilitas vaskuler dan
trombositopeni, dan banyak diantaranya penderita menunjukkan koagulogram yang
abnormal (Husni, 2018).
1.6 Manifestasi Klinis
Masa inkubasi dari dengue antara 3-15 hari namun rata-rata 5-7 hari.
Tanda dini infeksi dengue, adalah:
1. Demam tinggi.
Kurniawan, 2013, menyatakan demam tinggi pada pasien DBD membentuk pola
remiten yang ditandai oleh penurunan suhu tiap hari tetapi tidak mencapai normal
dengan melebihi 0,5oC per 24 jam, pola ini merupakan tipe demam yang khas ditemui
dalam praktik pediatri, spesifik pada penyakit yang disebabkan oleh virus. Variasi
diurnal biasanya terjadi, khususnya bila demam disebabkan oleh proses infeksi

Gambar 2.1 Pola Demam Remiten

2. Facial flushing.
3. Tidak ada tanda-tanda ISPA.
4. Tidak tampak fokal infeksi.
5. Uji tourniket positif.
6. Trombositopenia.
7. Hematokrit meningkat.

Indikator fase syok:


1. Hari sakit ke 4-5
2. Suhu turun
3. Nadi cepat tanpa demam

5
4. Tekanan darah turun/hipotensi
5. Leukopenia (< 5000/mm3)
WHO memberikan pedoman untuk membantu menegakkan diagnosis demam
berdarah secara dini disamping menentukan derajat beratnya penyakit. Secara klinis
menunjukkan tanda-tanda, antara lain:
1. Demam mendadak tinggi.
2. Hepatomegali.
3. Perdarahan: uji rumpeleede (+), epistaksis, ptechie, hematemesis melena.
4. Syok: nadi kecil dan cepat, hipotensi disertai gelisah dan akral dingin.

1.7 Klasifikasi DBD


Beberapa klasifikasi DBD berdasarkan derajat atau tingkatan penyakit, antara lain:
1. Derajat I (Ringan)
terdapat demam mendadak selama 2-7 hari disertai gejala klinis lain dengan
manifestasi perdarahan ringan: uji toruniket +
2. Derajat II
ditemukan pula perdarahan kulit dan manifestasi perdarahan lain.
3. Derajat III
ditemukan tanda-tanda dini renjatan
4. Derajat IV
termasuk DSS dengan nadi dan tekanan darah yang tidak terukur.

1.8 Pemeriksaan Diagnostik


1. Pada DBD dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi Laboratorium:
a. Trombositopenia (< 100.000/mm3).
b. Hemokonsentrasi (kadar HCT > 20% dari normal)
2. Air Seni, mungkin ditemukan albuminnya ringan
3. Uji Serologi memakai serum ganda yaitu: serum diambil pada masa akut dan
konvalesen yaitu uji peningkatan komplemen (PK), uji netralisasi (MT), dan uji
dengue blok. Pada uji ini dicari kenaikan antibodi (antidengue) minimal 4 kali
4. Isolasi virus, yang diperiksa adalah darah Klien dan jaringan

6
1.9 Penatalaksanaan / Terapi
Pada dasarnya penatalaksanaan DBD bersifat supportif yaitu mengatasi kehilangan
cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat
perdarahan. Untuk merawat Klien 13 DBD dengan baik, diperlukan dokter dan
perawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai, serta bank darah yang
senantiasa siap jika diperlukan. (Demam Berdarah Dengue, FK, UI. Hal. 104).
Menurut WHO:
1. DBD derajat I
a. Minm banyak (1,5-2 liter perhari) Kompres hangat
b. Jika klien muntah-muntah infus RL / Asering.
2. DBD derajat II
a. Minum banyak (1,5-2 liter perhari)
b. Infus RL / Asering
3. DBD derajat III
a. Infus RL /Asering 20 ml atau 20 cc/kg/BB/jam
4. DBD derajat IV
a. Infus RL / Asering tetapi diguyur atau dicor terlebih dahulu sampai nadi
teraba dan tekanan darah sudah mulai terukur
b. Bila ada panas atau demam berikan kompres hangat dan paracetamol
c. Bila ada perdarahan, tes Hb, jika Hb 10
d. Bila terdapat infeksi sekunder atau renjatan yang berulang-ulang berikan
antibiotik
e. Bila terjadi kesadaran menurun dengan kejang-kejang berikan
dexamethasone

1.10 Perencanaan keperawatan adalah tindakan keperawatan yang dipilih untuk


membantu klien dalam mencapai hasil dan tujuan yang diharapkan (Doenges,
Moorhouse & Geissler, 2012). Menurut Nursalam (2013) dan Tim pokja SIKI DPP
PPNI (2018), perencanaan keperawatan pada kasus DBD yaitu:
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (virus dalam darah/viremia).
Kriteria hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal (suhu tubuh : 36,5 – 37,5oC,
nadi : 80- 100x/menit, tekanan darah : 110/70-120/80mmHg) dan anak tidak lemah.
Rencana tindakan:

7
1) Identifikasi penyebab hipertermi (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas,
penggunaan inkubator)
2) Monitor suhu tubuh
3) Monitor haluaran urine
4) Monitor komplikasi akibat hipertermi
5) Sediakan lingkungan yang dingin
6) Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hyperhidrosis (keringat
berlebih)
7) Lakukan pendinginan eksternal (misal: selimut hipotermia atau kompres pada dahi,
leher, dada, abdomen dan aksila)
8) Anjurkan klien untuk tirah baring atau bedrest
9) Kolaborasi: terapi obat sesuai indikasi (Tim pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Pathway Hipertermia Pada DBD

8
2. Konsep Dasar ASKEP

PENGKAJIAN
a. Tujuan
Melakukan pengkajian atau anamnesis untuk membuat sekumpulan suatu
penjelasan dari subyektif didapatkan dari klien mengenai kasus kesehata yang
dialami klien hingga melaksanakan anjangsana ke pelayanan kesehatan
(Manurung, 2018). Identitas klien yang harus diteliti meliputi:
1) Nama dan tempat tinggal pasien
2) Usia pasien
3) Berat badan pasien

9
4) Aktivitas pasien

b. Keluhan utama

1) Riwayat kesehatan sekarang Sebagai pendukung keluhan utama, mengajukan


pertanyaan dalam bentuk yang ringkas dan padat baik pada orang tua ataupun anak.

2) Riwayat kesehatan sebelumnya Sebagai pendukung dalam meneliti apakah


sebelumnya pernah mengalami penyakit DBD atau penyakit lain yang menyertai
penyakit DBD.

3) Riwayat kesehatan keluarga Menurut patologi penyakit DBD tidak dijatuhkan dari
riwayat sakit keluarga, namun diperlukan informasi apakah ada anggota keluarga lain
dalam satu lingkungan yang sedang mengalami DBD.

4) Riwayat sosial ekonomi Menggali aktivitas klien dalam bersosialisasi dilingkungan


rumah, dikhawatirkan klien menyenangi berkumpul dengan teman sebayanya,
lantaran banyaknya orang sekitar yang mengalami DBD bermula dari lingkungan
sekitar rumah yang tidak sehat dan atau padat penduduk.

5) Riwayat psikologi Melihat klien DBD apakah dirinya merasa takut dengan
keadaannya sekarang. Dapat diketahui selama dirawat di rumah sakit dari tingkah
laku dan kepribadiannya, karena tidak menutup kemungkian penderita DBD merasa
sakitnya mampu menularkan ke orang lain disekitarnya. 6) Pemeriksaan status nutrisi
a) Kerutinan makan dan minum pasien b) Jenis makanan dan porsinya mencukupi c)
Pola makan pasien selama 3x24 sebelum sakit d) Berat badan pasien normal/tidak
normal e) Persepsi pasien berdasarkan kebutuhan metabolik f) Faktor pencernaan:
nafsu makan pasien, rasa dan bau, kebersihan gigi, kebersihan mukosa mulut, kondisi
mual dan muntah, hambatan makanan, adanya riwayat alergi makanan

2.5 Pengkajian a. Head To Toe


1) Kepala dan leher
a) Rambut Kondisi rambut warna hitam/lainnya, tipis/lebat, kebersihan,
bercabang/tidak, tampak sehat /tidak, berminyak /kering, gatal/ tidak, dipotong pendek /
dibiarkan panjang.
b) Mata Konjungtiva merah/pucat, Sklera putih/kuning, nampak sayu/segar, Pupil
isokor/reflek cahaya sebutkan diameter

10
c) Gigi dan mulut Kondisi gigi dan mulut bersih, caries/tidak, lidah warna merah/pucat,
mukosa bibir kering, bibir nampak pecah-pecah sianosis bibir ada atau tidak, tumbuh
gigi di usia berapa (sebutkan)
d) Pembesaran kelenjar tiroid Ada/tidak ada
2. Dada
a) Pernafasan: Frekuensi nafas: cepat/tidak Ritme : normal/tidak (sebutkan hasil
observasi) Pernafasan cuping hidung: ya/tidak Kedalaman irama: dalam/dangkal Bunyi
pernafasan tambahan ya/tidak. Suara nafas (sebutkan jenisnya) Penggunaan otot Bantu :
ya/tidak Batuk: ya/tidak
1. Sirkulasi
a) Irama apical Suara jantung: tunggal/tidak, sebutkan suara jantung tambahan bila
ada Ritme: normal/tidak (sebutkan hasil observasi) Akral: hangat/dingin,
kering/lembab/basah
b) Warna kulit Wajah: tampak pucat/segar Kulit: hitam/putih/langsat, bersih/kotor
2. Abdomen :
a) Inspeksi: Bentuk simetris, acites/tidak, bersih/tidak, ada lesi/tidak ada Umbilikus
bersih/tidak, hematome/tidak ruam/kemerahan: Ya/tidak, Ptechie: ya/tidak
b) Palpasi akral hangat, turgor sedang, tidak teraba distensi abdomen, tidak teraba
penumpukan masa di vesika urinari
c) Perkusi Nyeri ketok dan nyeri lepas daerah epigastric: ada/tidak Suara (sebutkan)
d) Auskultasi bising usus 11x/mnt
3. Genitalia:
a) Vulva Warna merah muda/pucat/coklat, luka: ya/tidak, Keluaran ada/tidak ada,
Varises: ya/tidak, Oedem/tidak
b) Kebersihan : Bersih/tidak, dan bentuknya simetris/tidak
c) Anus Hemoroid: ya/tidak lecet / kemerahan: ya/tidak Observasi balance cairan:
sebutkan hasil evaluasi balance cairan tiap 24 jam
4. Ektremitas :
a) Turgor kulit : baik/sedang/rendah,
b) Akral: hangat/dingin dan lembab/kering
c) Warna pucat dan disertai ruam-ruam bintik kemerahan di ekstrimitas atas bawah,
perut, dada, dan punggung.
d) Varises: ada/tidak ada
e) Oedem: ada/tidak ada

11
f) Reflek lutut : tidak dilakukan pemeriksaan

2.6 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan bentuk pertimbangan klinis yang didapat


dari responden manusia mengenai hambatan kesehatan atau prosedur kehidupan dan
kerumitan respon dari individu, keluarga, sekelonpok, atau kumpulan komunitas (DPP
Tim Pokja SDKI, 2017). diagnosa yang banyak ditemukan pada pasien anak dengan
demam berdarah dengue, antara lain:

1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (mis. Infeksi ) dibuktikan dengan


suhu tubuh diatas nilai normal. (D. 0103)
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D. 0077)
3. Resiko syok dibuktikan dengan kekurangan volume cairan (D. 0039)
4. Risiko perdarahan dibuktikan dengan gangguan koagulasi (mis. Trombositopenia)
( D.0012)
5. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan
dibuktikan dengan berat badan menurun 10% dibawah rentang ideal (D. 0019)
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan (D. 0056)

12
13
14
DAFTAR PUSTAKA

Aini, Nur. (2018). Teori Model Keperawatan Beserta Aplikasinya Dalam Keperawatan.
Malang: Universitas Muhammadya.

Claudia, Rindi Nava. (2020). Asuhan Keperwatan Pada Anak Bronkopneumonia Dengan
Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Bershian Jalan Nafas di Ruang Nusa Indak Atas
RSUD dr. Slamet Garut. Repository Universitas Bhakti Kencana Bandung.
[Link]
7.116%20RINDY%20NAFA%20CLAUDIA-1- [Link]?sequence=1&isAllowed=y

Dinas Kesehatan Kota Kupang. 2017. Profil Kesehatan Kota Kupang Tahun 2017. Kupang :
Pemerintah Kota Kupang

Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2014. Kupang : Dinas Kesehatan

Mahayaty, Lina. (2020). Aplikasi Model Keperawatan Comfort Kolcaba Dalam Asuhan
Keperawatan Pada Anak Dengan Kerusakan Integritas Kulit.
[Link]

Ngastiyah. 2012. Perawatan Anak Sakit, Edisi 2. Jakarta : EGC

Nursalam. (2014). Manajemen Keperawatan: Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional


Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Indikator Diagnostik Edisi 1. Jakarta Selatan: Dewan Pengurud Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.

15
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKes PATRIA HUSADA BLITAR

A. PENGKAJIAN DATA DASAR & FOKUS


Pengkajian tgl : 17/10/2023 Jam : 09.00

Tanggal MRS : 17/10/2023 No. RM :755315

Ruang/Kelas : Melati/III Dx. Masuk : Trombositopenia

I. Identitas

Nama : Ny. A Jenis Kelamin :P

Umur : 40 Th Status Perkawinan : Kawin

Agama : Islam Penanggung Biaya : BPJS

Pendi dikan : SMA


Pekerjaan : IRT

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Alamat : Jl. Kangean 5/3, Sananwetan, Kota Blitar

II. Riwayat Sakit dan Kesehatan


Keluhan utama: demam naik turun 4 hari, mual
Riwayat penyakit saat ini: pasien mngatakan demam naik turun selama 4 hari, kapala pusing,
mual tiap makan minum
Penyakit yang pernah diderita: tidak ada
Riwayat alergi: Ya √Tidak Jelaskan: -
III. ROS
Observasi Pemeriksaan Fisik (ROS: Review of System)
Keadaan Umum: Baik √Sedang Lemah Kesadaran: Compos mentis
Tanda vital: TD:110780mmHg Nadi:96x/m Suhu Badan:38 C RR: 22x/m
IV. Pernafasan B1 (Breath)
Pola nafas irama: √Teratur Tidak teratur
Jenis: Dispnoe Kusmaul Ceyne Stokes Lain-lain: Eupnea
Suara nafas: √Vesikuler Stridor Wheezing Ronchi Lain-lain:-
Sesak nafas: Ya √Tidak Batuk: Ya Tidak
Masalah: -

16
V. Kardiovaskuler B2 (Blood)
Irama jantung: √Reguler Irreguler S1/S2 tunggal:√Ya Tidak
Nyeri dada: Ya √Tidak
Bunyi jantung:√Normal Murmur Gallop lain-lain: -
CRT: √<2dt >2dt
Akral: Hangat √Panas Dingin kering Dingin basah
Masalah:-
VI. Persyarafan B3 (Brain) Penginderaan
GCS: Eye: 4 Verbal:5 Motorik:6 Total: 15
Reflek fisiologis: √Patela √Triceps √Biceps Lain-lain:-
Refleks patologis:Babinsky Brudzinky Kernig Lain-lain:-
Lain-lain:
Istirahat/tidur: 7 jam/hari Gangguan tidur: -
Masalah: -
Penglihatan (mata)
Pupil: √Isokor Anisokor Lain-lain:
Sclera/Konjungtiva Anemis Ikterus Lain-lain:-
Pendengaran/Telinga
Gangguan pandangan: Ya √Tidak Jelaskan:-
Lain-lain:
Penciuman (Hidung)
Bentuk: √Normal Tidak Jelaskan:-
Gangguan Penciuman: Ya √Tidak Jelaskan:-
Lain-lain:
Masalah:-
VII. Perkemihan B4 (Bladder)
Kebersihan: √Bersih Kotor
Urine: Jumlah cc/hr: 800 Warna: Kuning, Pekat Bau: Khas Urine
Alat bantu (Kateter, dll): √Tidak ada
Kandung kencing:Membesar: Ya √Tidak
Nyeri Tekan:Ya √Tidak
Gangguan: Anuria Oliguria Retensi Inkontinensia
Nokturi Lain-lain:-
Masalah: -

17
VIII. Pencernaan B5 (Bowel)
Nafsu makan: Baik √ Menurun Frekuensi: 1x/hari
Porsi makan Habis √Tidak Ket: habis ¾ porsi
Minum: 600cc/hari Jenis: Air putih
Mulut dan Tenggorokan
Mulut: √Bersih Kotor Berbau
Mukosa √Lembab Kering Stomatitis
Tenggorokan: Nyeri Telan Kesulitan menelan Pembesaran tonsil lain-lain: dbn
Abdomen
Perut: √Tegang Kembung Ascites Nyeri,Lokasi:-
Peristalik: 15x/menit
Pembesaran hepar:Ya √Tidak
Pembesaran Lien:Ya √Tidak
Buang air besar: 1x/hari Teratur: √Ya Tidak
Konsistensi:Lembek Bau:Khas feses Warna: Kuning
Lain-lain: Mual
Masalah: Resiko Defisit Nutrisi

IX. Muskuloskeletal/Integumen B6 (Bone)


Kemampuan pergerakan sendi: √Bebas Terbatas
Kekuatan otot:
5 5
5 5
Kulit:
Warna Kulit: Ikterus Sianotik Kemerahan Pruritus tangan dan kaki
Turgor: √Baik Sedang Jelek
Oedema: Ada √Tidak ada Lokasi: kedua tangan dan kaki
Lain-lain: -
Masalah: Ptekie pada lengan kanan dan kiri
X. Endokrin
Tyroid Membesar: Ya √Tidak
Hiperglikemia: Ya √Tidak
Hipoglikemia: Ya √Tidak
Luka Gangren: Ya √Tidak
Lain-lain: -

18
Masalah:-
XI. Personal Higiene
Mandi: 1x/hr Sikat gigi: 2x/hr
Keramas: 2x/mg Memotong kuku: 1x/mg
Ganti pakaian: 1x/hr
Masalah: -
XII. Psiko-sosio-spiritual
Orang yang paling dekat: pasien dekat dengan suaminya
Hubungan dengan teman dan lingkungn sekitar: pasien dapat bersosialisasi dengan pasien
dalam satu ruangan, meskipun pasien bedrest
Kegiatan ibadah: pasien tetap berdoa di tempat tidur
Konsep Diri: Pasien menerima penyakit dan berharap segera sembuh
Masalah: -
XIII. Data Penunjang

Hasil Lab 17/10/2023


PEMERIKSAAN HASIL UNIT NILAI RUJUKAN
Hematologi Lengkap
Hemoglobin 11.80 g/dL 13.0-17.0
Leukosit 8.100 /uL 4.000-11.000
Trombosit 96.000 /uL 150.000-450.000
PCV 35.5 % laki-laki 40-54%
perempuan 35-47 %
Eritrosit 3970000 /Cmm 4500.000-6500.000
Hitung Jenis
Eosinofil 0 % 2-4
Basofil 0 % 0-1
STAB 0 %
Neutrofil 86 % 50-70
Limfosit 11 % 25-40
Monosit 3 % 2-8
MCV 86.9 fL 80.0-97.0
MCH 30.0 pg 27.0-30.0

19
MCHC 34.5 g/L 32.0-36.0
Laaju Endap Darah 14.0 mm/jam < 20
Imunoserologi
IgG Dengue Positif Negatif
IgM Dengue Positif Negatif
Antigen SARS CoV -2 NEGATIF NEGATIF

Hasil lab Tgl 18/10/2023


PEMERIKSAAN HASIL UNIT NILAI RUJUKAN
Hematologi Lengkap
Hemoglobin 11.50 g/dL 13.0-17.0
Leukosit 8.600 /uL 4.000-11.000
Trombosit 70.000 /uL 150.000-450.000
PCV 36.4 % laki-laki 40-54%
perempuan 35-47 %
Eritrosit 3100000 /Cmm 4500.000-6500.000
Hitung Jenis
Eosinofil 0 % 2-4
Basofil 0 % 0-1
STAB 0 %
Neutrofil 85 % 50-70
Limfosit 11 % 25-40
Monosit 3 % 2-8
MCV 85.9 fL 80.0-97.0
MCH 30.0 pg 27.0-30.0
MCHC 32.5 g/L 32.0-36.0

20
XIV. Terapi

Inf RL 20 tpm
Inj OMZ 2x40
Inj ondansentron 3 x 4
Inj santagesik 3x1

Blitar, 20 Oktober 2023


Ners

(Dwi Ngesti C)

21
ANALISA DATA

No Data (Symptom) Penyebab (Etiologi) Masalah (Problem)


.

1. DS :Pasien badan terasa panas virus dengue Hipertermi



DO:akral panas, menggigil
viremia
S: 38 0C, kulit wajah kemerahan

Hipertemi

2. DS :Pasien mengatakan mual dan virus dengue nausea



- Nafsu makan menurun
viremia
DO:

- Membran mukosa pucat
aktivasi koagulasi
- BB: 50 kg
- Intake: makan3/4 porsi,
Mual
minum sehri 3 gelas
belimbing(600 cc)

22
PRIORITAS MASALAH

1. Hipertermi b.d proses penyakit

2. Nausea b.d iritasi lambung

23
RENCANA KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Hipertermi berhubungan dengan Setelah dilakukan intervensi keperawatan Manajemen Hipertermia (1.15506)
proses penyakit selama 3x4 24 jam maka termoregulasi
Observasi:
(D.0130)
membaik dengan kriteria hasil :
1. Identiikasi penyebab hipertermia
1. Menggigil menurun
2. Mengukur suhu tubuh
2. Kulit merah menurun
Terapeutik:
3. Suhu tubuh membaik
3. Sediakan lingkungan yang dingin
(L.14134)
4. Longgarkan pakaian

5. Basahi atau kipasi permukaan tubuh

6. Lakukan pendinginan eksternal ( kompres dingin


pada dahi,leher,dada,abdomen,aksila)

Edukasi : 7. Anjurkan tirah baring

Kolaborasi : 8. Kolaborasi pemberian cairan dan


elektrolit intravena inf RL 20 tpm

2 Nausea b.d iritasi lambung Setelah dilakukan intervensi


keperawatan selama 1 x 24 jam, Manajemen Mual (I.03117)
[SDKI D.0076] maka tingkat nausea menurun,
dengan kriteria hasil:
Observasi

 Identifikasi pengalaman mual


1. Perasaan ingin muntah menurun
 Identifikasi isyarat nonverbal
ketidaknyamanan (mis: bayi, anak-anak,
L.08065 dan mereka yang tidak dapat
berkomunikasi secara efektif)
 Identifikasi dampak mual terhadap
kualitas hidup (mis: nafsu makan,
aktivitas, dan tidur)
 Identifikasi antiemetik untuk mencegah
mual (kecuali mual pada kehamilan)
 Monitor mual (mis: frekuensi, durasi,
dan tingkat keparahan)
Terapeutik

 Kendalikan faktor lingkungan penyebab


mual (mis: bau tidak sedap, suara, dan
rangsangan visual yang tidak
menyenangkan)
 Kurangi atau hilangkan keadaan
penyebab mual (mis: kecemasan,
ketakutan, kelelahan)
 Berikan makanan dalam jumlah kecil
dan menarik
 Berikan makanan dingin, cairan bening,
tidak berbau, dan tidak berwarna, jika
perlu
Edukasi

 Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup


 Anjurkan sering membersihkan mulut,
kecuali jika merangsang mual
 Anjurkan makanan tinggi karbohidrat,
dan rendah lemak
 Ajarkan penggunaan teknik non
farmakologis untuk mengatasi mual
(misrelaksasi, terapi music)
Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian obat antiemetik,


Inj ondansentron 3 x 4
IMPLEMENTASI

Tgl’ No. Jam Implementasi Evaluasi


Dx
17/10/2023 1 07.00 melakukan pemeriksaan suhu S : terasa panas agak
tubuh menurun
membantu melonggarkan pakaian
07.30 O:akral hangat, tida
pasien
membantu kompres dingin pada enggigil
08.00 dahi leher axila
S: 37.5 0C, kulit agak
09.00 menganjurkan minum banyak kemerahan
A: Masalah teratasi
sebagian
p: lanjutkan intervensi
23478

17/10/2023 2 Manajemen mual S: Pasien mengatakan


masih mual
07.00 Memonitor asupan dan keluarnya
makanan dan cairan serta O: nafsu makan pasien

kebutuhan kalori menurun, nampak pucat,


makan minum ¼ porsi
07.30 Mengidentifikasi status nutrisi
A: Masalah belum teratasi
Mengidentifikasi makanan yang
08.00 disukai P: Intervensi dilanjutkan:
Mendiskusikan perilaku makan No. 1,2,3,4,5
yang sesuai
08.15 Menganjurkan makan minum
08.30 sedikit tapi sering, rendah lemak,
tinggi karbohidrat
08.45 Mengajarkan keterampilan
koping untuk penyelesaian masalah
perilaku makan
09.00 Berkolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrien yang dibutuhkan,
rendah lemak
09.10 injeksi ondan 1amp iv.
CATATAN PERKEMBANGAN

No. Dx. HARI I HARI II


1. S : terasa panas agak menurun S : terasa panas agak menurun

O:akral hangat, tida enggigil O:akral hangat, tida enggigil

S: 37.5 0C, kulit agak kemerahan S: 36.5 0C, kulit tidak ada kemarahan
A: Masalah teratasi sebagian A: Masalah teratasi
p: lanjutkan intervensi 23478 P: Intervensi dilanjutkan: No 78

I: memantau suhu I:

membantu melonggarkan pakaian menganjurkan minum banyak


pasien menganjurkan banyak istirahat
membantu kompres dingin pada dahi
leher axila
E: tetap menganjurkan bnyak minum dan
menganjurkan minum banyak banyak istirahat
E: masih subfebris, kompres dingin
dan anjurkan banyak minum

2 (17/10/2023) (18/10/2023)
S: Pasien mengatakan masih mual S: Pasien mengatakan masih mual
O: porsi makan 2 sendok, muntah 3x O: porsi makan ½ porsi, muntah 1x
sehari tiap habis makan minum, sehari, minum ½ gelas 3x sehari
minum ½ gelas
A: Masalah teratasi sebagian
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan: No 145
P: Intervensi dilanjutkan: No 12345
I: memantau mual muntah
I: memantau mual muntah
memantau porsi makan
memantau porsi makan
Mengidentifikasi makanan yang disukai
Mengidentifikasi makanan yang
Mengajarkan keterampilan koping
disukai untuk penyelesaian masalah
Mengajarkan keterampilan koping perilaku makan
untuk penyelesaian masalah
perilaku makan

E: mengajarkan makan dan minum E: memotivasi makan dan minum sedikit


sedikit tapi sering , makan selagi tapi sering , makan selagi hangat
hangat, mual muntah berkurang,
porsi makan habis 1/2 mual muntah berkurang, porsi makan
habis 1porsi

Anda mungkin juga menyukai