Asuhan Keperawatan DBD di KMB
Asuhan Keperawatan DBD di KMB
OLEH:
DWI NGESTI CHRISTIANI
NIM : 2112061
1
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)
2
Konsep Dasar
1.2 Etiologi
Penyebab penyakit DBD ini adalah “Virus Dengue” termasuk group B Arthropodborn
Virus (Arbovirusses) dan sekarang dikenal sebagai genus flavinus, family flaviridiae dan
mempunyai 4 serotype, yaitu: DEN I, DEN II, DEN III, dan DEN IV. Infeksi dengan
salah satu serotype akan menimbulkan antibody seumur hidup terhadap serotype yang
bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotype yang lain (Sukohar, 2014).
1.4 Patogenesis
Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk aedes aegypti
atau aedes albopictus. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, virus dengue akan menuju
3
organ sasaran yaitu sel kuffer hepar, endotel pembuluh darah, nodus limpaticus, sumsum
tulang serta paru-paru. Beberapa penelitian menunjukkan, sel monosit dan makrofag
mempunyai peran pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus
ke dalam sel dengan bantuan organel sel dan membentuk komponen perantara dan
komponen struktur virus. Setelah komponen struktur dirakit, virus dilepaskan dari dalam
sel. Infeksi oleh satu serotipe virus DEN menimbulkan imunitas protektif terhadap
serotipe virus tersebut, tetapi tidak ada cross protektive terhadap serotipe virus yang lain
(Soedarto, 2012).
Secara invitro, antibodi terhadap virus dengue mempunyai 4 fungsi biologis yaitu :
1. Netralisasi virus,
2. Sitolisis komplemen,
3. Antibody dependent cell-mediated cytotoxity (ADCC) , dan
4. Antibody dependent enhancement (ADE) (Soedarto, 2012)
Berdasarkan perannya, terdiri dari antibodi netralisasi atau neutralizing antibody yang
memiliki serotipe spesifik yang dapat mencegah infeksi virus, dan antibody non
netralising serotype yang mempunyai peran reaktif silang dan dapat meningkatkan infeksi
yang berperan dalam pathogenesis DBD dan DSS (Soedarto, 2012).
1.5 Patofisiologi
Patofisiologi primer DBD dan DSS adalah peningkatan akut permeabilitas vaskuler
yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam ruang ekstravaskuler, sehingga
menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah. Volume plasma menurun
lebih dari 20% pada kasus-kasus berat, hal ini didukung penemuan post mortem meliputi
efusi pleura, hemokonsentrasi dan hipoproteinemi (Maani, 2016).
Tidak terjadinya lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan bahwa perubahan
sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja singkat. Jika penderita sudah
stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi diabsorbsi dengan cepat, menimbulkan
penurunan hematokrit.
Maani, 2016 juga menyebutkan perubahan bentuk hemostasis pada demam berdarah
dengue melibatkan 3 faktor, antara lain:
1. Perubahan vaskuler,
2. Trombositopeni
3. Kelainan koagulasi.
4
Hampir semua penderita DBD mengalami peningkatan fragilitas vaskuler dan
trombositopeni, dan banyak diantaranya penderita menunjukkan koagulogram yang
abnormal (Husni, 2018).
1.6 Manifestasi Klinis
Masa inkubasi dari dengue antara 3-15 hari namun rata-rata 5-7 hari.
Tanda dini infeksi dengue, adalah:
1. Demam tinggi.
Kurniawan, 2013, menyatakan demam tinggi pada pasien DBD membentuk pola
remiten yang ditandai oleh penurunan suhu tiap hari tetapi tidak mencapai normal
dengan melebihi 0,5oC per 24 jam, pola ini merupakan tipe demam yang khas ditemui
dalam praktik pediatri, spesifik pada penyakit yang disebabkan oleh virus. Variasi
diurnal biasanya terjadi, khususnya bila demam disebabkan oleh proses infeksi
2. Facial flushing.
3. Tidak ada tanda-tanda ISPA.
4. Tidak tampak fokal infeksi.
5. Uji tourniket positif.
6. Trombositopenia.
7. Hematokrit meningkat.
5
4. Tekanan darah turun/hipotensi
5. Leukopenia (< 5000/mm3)
WHO memberikan pedoman untuk membantu menegakkan diagnosis demam
berdarah secara dini disamping menentukan derajat beratnya penyakit. Secara klinis
menunjukkan tanda-tanda, antara lain:
1. Demam mendadak tinggi.
2. Hepatomegali.
3. Perdarahan: uji rumpeleede (+), epistaksis, ptechie, hematemesis melena.
4. Syok: nadi kecil dan cepat, hipotensi disertai gelisah dan akral dingin.
6
1.9 Penatalaksanaan / Terapi
Pada dasarnya penatalaksanaan DBD bersifat supportif yaitu mengatasi kehilangan
cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat
perdarahan. Untuk merawat Klien 13 DBD dengan baik, diperlukan dokter dan
perawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai, serta bank darah yang
senantiasa siap jika diperlukan. (Demam Berdarah Dengue, FK, UI. Hal. 104).
Menurut WHO:
1. DBD derajat I
a. Minm banyak (1,5-2 liter perhari) Kompres hangat
b. Jika klien muntah-muntah infus RL / Asering.
2. DBD derajat II
a. Minum banyak (1,5-2 liter perhari)
b. Infus RL / Asering
3. DBD derajat III
a. Infus RL /Asering 20 ml atau 20 cc/kg/BB/jam
4. DBD derajat IV
a. Infus RL / Asering tetapi diguyur atau dicor terlebih dahulu sampai nadi
teraba dan tekanan darah sudah mulai terukur
b. Bila ada panas atau demam berikan kompres hangat dan paracetamol
c. Bila ada perdarahan, tes Hb, jika Hb 10
d. Bila terdapat infeksi sekunder atau renjatan yang berulang-ulang berikan
antibiotik
e. Bila terjadi kesadaran menurun dengan kejang-kejang berikan
dexamethasone
7
1) Identifikasi penyebab hipertermi (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas,
penggunaan inkubator)
2) Monitor suhu tubuh
3) Monitor haluaran urine
4) Monitor komplikasi akibat hipertermi
5) Sediakan lingkungan yang dingin
6) Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hyperhidrosis (keringat
berlebih)
7) Lakukan pendinginan eksternal (misal: selimut hipotermia atau kompres pada dahi,
leher, dada, abdomen dan aksila)
8) Anjurkan klien untuk tirah baring atau bedrest
9) Kolaborasi: terapi obat sesuai indikasi (Tim pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
8
2. Konsep Dasar ASKEP
PENGKAJIAN
a. Tujuan
Melakukan pengkajian atau anamnesis untuk membuat sekumpulan suatu
penjelasan dari subyektif didapatkan dari klien mengenai kasus kesehata yang
dialami klien hingga melaksanakan anjangsana ke pelayanan kesehatan
(Manurung, 2018). Identitas klien yang harus diteliti meliputi:
1) Nama dan tempat tinggal pasien
2) Usia pasien
3) Berat badan pasien
9
4) Aktivitas pasien
b. Keluhan utama
3) Riwayat kesehatan keluarga Menurut patologi penyakit DBD tidak dijatuhkan dari
riwayat sakit keluarga, namun diperlukan informasi apakah ada anggota keluarga lain
dalam satu lingkungan yang sedang mengalami DBD.
5) Riwayat psikologi Melihat klien DBD apakah dirinya merasa takut dengan
keadaannya sekarang. Dapat diketahui selama dirawat di rumah sakit dari tingkah
laku dan kepribadiannya, karena tidak menutup kemungkian penderita DBD merasa
sakitnya mampu menularkan ke orang lain disekitarnya. 6) Pemeriksaan status nutrisi
a) Kerutinan makan dan minum pasien b) Jenis makanan dan porsinya mencukupi c)
Pola makan pasien selama 3x24 sebelum sakit d) Berat badan pasien normal/tidak
normal e) Persepsi pasien berdasarkan kebutuhan metabolik f) Faktor pencernaan:
nafsu makan pasien, rasa dan bau, kebersihan gigi, kebersihan mukosa mulut, kondisi
mual dan muntah, hambatan makanan, adanya riwayat alergi makanan
10
c) Gigi dan mulut Kondisi gigi dan mulut bersih, caries/tidak, lidah warna merah/pucat,
mukosa bibir kering, bibir nampak pecah-pecah sianosis bibir ada atau tidak, tumbuh
gigi di usia berapa (sebutkan)
d) Pembesaran kelenjar tiroid Ada/tidak ada
2. Dada
a) Pernafasan: Frekuensi nafas: cepat/tidak Ritme : normal/tidak (sebutkan hasil
observasi) Pernafasan cuping hidung: ya/tidak Kedalaman irama: dalam/dangkal Bunyi
pernafasan tambahan ya/tidak. Suara nafas (sebutkan jenisnya) Penggunaan otot Bantu :
ya/tidak Batuk: ya/tidak
1. Sirkulasi
a) Irama apical Suara jantung: tunggal/tidak, sebutkan suara jantung tambahan bila
ada Ritme: normal/tidak (sebutkan hasil observasi) Akral: hangat/dingin,
kering/lembab/basah
b) Warna kulit Wajah: tampak pucat/segar Kulit: hitam/putih/langsat, bersih/kotor
2. Abdomen :
a) Inspeksi: Bentuk simetris, acites/tidak, bersih/tidak, ada lesi/tidak ada Umbilikus
bersih/tidak, hematome/tidak ruam/kemerahan: Ya/tidak, Ptechie: ya/tidak
b) Palpasi akral hangat, turgor sedang, tidak teraba distensi abdomen, tidak teraba
penumpukan masa di vesika urinari
c) Perkusi Nyeri ketok dan nyeri lepas daerah epigastric: ada/tidak Suara (sebutkan)
d) Auskultasi bising usus 11x/mnt
3. Genitalia:
a) Vulva Warna merah muda/pucat/coklat, luka: ya/tidak, Keluaran ada/tidak ada,
Varises: ya/tidak, Oedem/tidak
b) Kebersihan : Bersih/tidak, dan bentuknya simetris/tidak
c) Anus Hemoroid: ya/tidak lecet / kemerahan: ya/tidak Observasi balance cairan:
sebutkan hasil evaluasi balance cairan tiap 24 jam
4. Ektremitas :
a) Turgor kulit : baik/sedang/rendah,
b) Akral: hangat/dingin dan lembab/kering
c) Warna pucat dan disertai ruam-ruam bintik kemerahan di ekstrimitas atas bawah,
perut, dada, dan punggung.
d) Varises: ada/tidak ada
e) Oedem: ada/tidak ada
11
f) Reflek lutut : tidak dilakukan pemeriksaan
12
13
14
DAFTAR PUSTAKA
Aini, Nur. (2018). Teori Model Keperawatan Beserta Aplikasinya Dalam Keperawatan.
Malang: Universitas Muhammadya.
Claudia, Rindi Nava. (2020). Asuhan Keperwatan Pada Anak Bronkopneumonia Dengan
Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Bershian Jalan Nafas di Ruang Nusa Indak Atas
RSUD dr. Slamet Garut. Repository Universitas Bhakti Kencana Bandung.
[Link]
7.116%20RINDY%20NAFA%20CLAUDIA-1- [Link]?sequence=1&isAllowed=y
Dinas Kesehatan Kota Kupang. 2017. Profil Kesehatan Kota Kupang Tahun 2017. Kupang :
Pemerintah Kota Kupang
Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Timur Tahun 2014. Kupang : Dinas Kesehatan
Mahayaty, Lina. (2020). Aplikasi Model Keperawatan Comfort Kolcaba Dalam Asuhan
Keperawatan Pada Anak Dengan Kerusakan Integritas Kulit.
[Link]
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Indikator Diagnostik Edisi 1. Jakarta Selatan: Dewan Pengurud Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.
15
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKes PATRIA HUSADA BLITAR
I. Identitas
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Alamat : Jl. Kangean 5/3, Sananwetan, Kota Blitar
16
V. Kardiovaskuler B2 (Blood)
Irama jantung: √Reguler Irreguler S1/S2 tunggal:√Ya Tidak
Nyeri dada: Ya √Tidak
Bunyi jantung:√Normal Murmur Gallop lain-lain: -
CRT: √<2dt >2dt
Akral: Hangat √Panas Dingin kering Dingin basah
Masalah:-
VI. Persyarafan B3 (Brain) Penginderaan
GCS: Eye: 4 Verbal:5 Motorik:6 Total: 15
Reflek fisiologis: √Patela √Triceps √Biceps Lain-lain:-
Refleks patologis:Babinsky Brudzinky Kernig Lain-lain:-
Lain-lain:
Istirahat/tidur: 7 jam/hari Gangguan tidur: -
Masalah: -
Penglihatan (mata)
Pupil: √Isokor Anisokor Lain-lain:
Sclera/Konjungtiva Anemis Ikterus Lain-lain:-
Pendengaran/Telinga
Gangguan pandangan: Ya √Tidak Jelaskan:-
Lain-lain:
Penciuman (Hidung)
Bentuk: √Normal Tidak Jelaskan:-
Gangguan Penciuman: Ya √Tidak Jelaskan:-
Lain-lain:
Masalah:-
VII. Perkemihan B4 (Bladder)
Kebersihan: √Bersih Kotor
Urine: Jumlah cc/hr: 800 Warna: Kuning, Pekat Bau: Khas Urine
Alat bantu (Kateter, dll): √Tidak ada
Kandung kencing:Membesar: Ya √Tidak
Nyeri Tekan:Ya √Tidak
Gangguan: Anuria Oliguria Retensi Inkontinensia
Nokturi Lain-lain:-
Masalah: -
17
VIII. Pencernaan B5 (Bowel)
Nafsu makan: Baik √ Menurun Frekuensi: 1x/hari
Porsi makan Habis √Tidak Ket: habis ¾ porsi
Minum: 600cc/hari Jenis: Air putih
Mulut dan Tenggorokan
Mulut: √Bersih Kotor Berbau
Mukosa √Lembab Kering Stomatitis
Tenggorokan: Nyeri Telan Kesulitan menelan Pembesaran tonsil lain-lain: dbn
Abdomen
Perut: √Tegang Kembung Ascites Nyeri,Lokasi:-
Peristalik: 15x/menit
Pembesaran hepar:Ya √Tidak
Pembesaran Lien:Ya √Tidak
Buang air besar: 1x/hari Teratur: √Ya Tidak
Konsistensi:Lembek Bau:Khas feses Warna: Kuning
Lain-lain: Mual
Masalah: Resiko Defisit Nutrisi
18
Masalah:-
XI. Personal Higiene
Mandi: 1x/hr Sikat gigi: 2x/hr
Keramas: 2x/mg Memotong kuku: 1x/mg
Ganti pakaian: 1x/hr
Masalah: -
XII. Psiko-sosio-spiritual
Orang yang paling dekat: pasien dekat dengan suaminya
Hubungan dengan teman dan lingkungn sekitar: pasien dapat bersosialisasi dengan pasien
dalam satu ruangan, meskipun pasien bedrest
Kegiatan ibadah: pasien tetap berdoa di tempat tidur
Konsep Diri: Pasien menerima penyakit dan berharap segera sembuh
Masalah: -
XIII. Data Penunjang
19
MCHC 34.5 g/L 32.0-36.0
Laaju Endap Darah 14.0 mm/jam < 20
Imunoserologi
IgG Dengue Positif Negatif
IgM Dengue Positif Negatif
Antigen SARS CoV -2 NEGATIF NEGATIF
20
XIV. Terapi
Inf RL 20 tpm
Inj OMZ 2x40
Inj ondansentron 3 x 4
Inj santagesik 3x1
(Dwi Ngesti C)
21
ANALISA DATA
22
PRIORITAS MASALAH
23
RENCANA KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Hipertermi berhubungan dengan Setelah dilakukan intervensi keperawatan Manajemen Hipertermia (1.15506)
proses penyakit selama 3x4 24 jam maka termoregulasi
Observasi:
(D.0130)
membaik dengan kriteria hasil :
1. Identiikasi penyebab hipertermia
1. Menggigil menurun
2. Mengukur suhu tubuh
2. Kulit merah menurun
Terapeutik:
3. Suhu tubuh membaik
3. Sediakan lingkungan yang dingin
(L.14134)
4. Longgarkan pakaian
S: 37.5 0C, kulit agak kemerahan S: 36.5 0C, kulit tidak ada kemarahan
A: Masalah teratasi sebagian A: Masalah teratasi
p: lanjutkan intervensi 23478 P: Intervensi dilanjutkan: No 78
I: memantau suhu I:
2 (17/10/2023) (18/10/2023)
S: Pasien mengatakan masih mual S: Pasien mengatakan masih mual
O: porsi makan 2 sendok, muntah 3x O: porsi makan ½ porsi, muntah 1x
sehari tiap habis makan minum, sehari, minum ½ gelas 3x sehari
minum ½ gelas
A: Masalah teratasi sebagian
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan: No 145
P: Intervensi dilanjutkan: No 12345
I: memantau mual muntah
I: memantau mual muntah
memantau porsi makan
memantau porsi makan
Mengidentifikasi makanan yang disukai
Mengidentifikasi makanan yang
Mengajarkan keterampilan koping
disukai untuk penyelesaian masalah
Mengajarkan keterampilan koping perilaku makan
untuk penyelesaian masalah
perilaku makan