SATUAN ACARA PENYULUHAN
“INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)”
Topik : Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Sasaran : Pengunjung Puskesmas
Hari/Tanggal : Kamis, 18 September 2025
Waktu : 09.15-09.45 WIT
Tempat : Puskesmas Waihaong
Metode : Penyuluhan dan Tanya jawab
Pemateri : Sandra de
A. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan, sasaran mampu memahami dan mengaplikasikan materi penyuluhan
dalam kehidupan sehari-hari.
B. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan masyarakat mampu:
1. Memahami pengertian ISPA
2. Mengenali penyebab ISPA
3. Memahami tanda dan gejala ISPA
4. Mengetahui faktor –faktor yang mempengaruhi ISPA
5. Mengetahui yang mempengaruhi ISPA
6. Mengetahui cara pencegah ISPA
7. Mengetahui prinsip-prinsip perawatan ISPA
8. Mengetahui cara pengobatan ISPA
Kegiatan Penyuluhan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan
1 5 Menit Pembukaan:
- Mengucapkan Salam
- Memperkenalkan diri
- Menjelaskan topik dan tujuan pendidikan kesehatan
- Apersepsi dengan cara menggali pengetahuan yang dimiliki masyarakat
tentang penyakit ISPA
2 20 menit Pelaksanaan:
- Penyampaian materi
- Masyarakat memperhatikan penjelasan tentang penyakit ISPA
- Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya mengenai materi yang
disampaikan
3 5 menit Penutup:
- menutup pertemuan dengan menyimpulkan materi yang telah dibahas
- Memberikan salam penutup
[Link]
a. Peserta dapat menjelaskan pengertian ISPA
b. Peserta dapat menjelaskan penyebab ISPA
c. Peserta dapat menyebutkan tanda dan gejala ISPA
d. Peserta dapat menjelaskan faktor –faktor yang mempengaruhi ISPA
e. Peserta dapat menjelaskan yang mempengaruhi ISPA
f. Peserta dapat menjelaskan cara pencegah ISPA
g. Peserta dapat menyebutkan prinsip-prinsip perawatan ISPA
h. Peserta dapat menjelaskan cara pengobatan ISPA
i. Peserta dapat menjelaskan Klasifikasi ISPA
j. Peserta dapat menjelaskan Manifestasi ISPA
k. Peserta dapat menjelaskan Komplikasi ISPA
l. Peserta dapat menjelaskan cara pengobatan ISPA
SATUAN ACARA PENYULUHAN
“INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)”
Topik : Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Sasaran : Masyarakat
Hari/Tanggal : Kamis 25 September 2025
Waktu : 09.15-09.45 WIT
Tempat : Kelurahan Waihaong
Metode : Penyuluhan dan Tanya jawab
Pemateri : Sandra Dewi Tawainella
C. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan, sasaran mampu memahami dan mengaplikasikan materi penyuluhan
dalam kehidupan sehari-hari.
D. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan masyarakat mampu:
1. Memahami pengertian ISPA
2. Mengenali penyebab ISPA
3. Memahami tanda dan gejala ISPA
4. Mengetahui faktor –faktor yang mempengaruhi ISPA
5. Mengetahui yang mempengaruhi ISPA
6. Mengetahui cara pencegah ISPA
7. Mengetahui prinsip-prinsip perawatan ISPA
8. Mengetahui cara pengobatan ISPA
Kegiatan Penyuluhan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan
1 5 Menit Pembukaan:
- Mengucapkan Salam
- Memperkenalkan diri
- Menjelaskan topik dan tujuan pendidikan kesehatan
- Apersepsi dengan cara menggali pengetahuan yang dimiliki masyarakat
tentang penyakit ISPA
2 20 menit Pelaksanaan:
- Penyampaian materi
- Masyarakat memperhatikan penjelasan tentang penyakit ISPA
- Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya mengenai materi yang
disampaikan
3 5 menit Penutup:
- menutup pertemuan dengan menyimpulkan materi yang telah dibahas
- Memberikan salam penutup
E. Evaluasi
a. Peserta dapat menjelaskan pengertian ISPA
b. Peserta dapat menjelaskan penyebab ISPA
c. Peserta dapat menyebutkan tanda dan gejala ISPA
d. Peserta dapat menjelaskan faktor –faktor yang mempengaruhi ISPA
e. Peserta dapat menjelaskan yang mempengaruhi ISPA
f. Peserta dapat menjelaskan cara pencegah ISPA
g. Peserta dapat menyebutkan prinsip-prinsip perawatan ISPA
h. Peserta dapat menjelaskan cara pengobatan ISPA
SATUAN ACARA PENYULUHAN
“INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)”
Topik : Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Sasaran : Pengunjung Puskesmas
Hari/Tanggal : Kamis, 18 September 2025
Waktu : 09.15-09.45 WIT
Tempat : Puskesmas Waihaong
Metode : Penyuluhan dan Tanya jawab
Pemateri : Titin S Rumakeffing,[Link] Ns
F. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan, sasaran mampu memahami dan mengaplikasikan materi penyuluhan
dalam kehidupan sehari-hari.
G. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan masyarakat mampu:
9. Memahami pengertian ISPA
10. Mengenali penyebab ISPA
11. Memahami tanda dan gejala ISPA
12. Mengetahui faktor –faktor yang mempengaruhi ISPA
13. Mengetahui yang mempengaruhi ISPA
14. Mengetahui cara pencegah ISPA
15. Mengetahui prinsip-prinsip perawatan ISPA
16. Mengetahui cara pengobatan ISPA
Kegiatan Penyuluhan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan
1 5 Menit Pembukaan:
- Mengucapkan Salam
- Memperkenalkan diri
- Menjelaskan topik dan tujuan pendidikan kesehatan
- Apersepsi dengan cara menggali pengetahuan yang dimiliki masyarakat
tentang penyakit ISPA
2 20 menit Pelaksanaan:
- Penyampaian materi
- Masyarakat memperhatikan penjelasan tentang penyakit ISPA
- Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya mengenai materi yang
disampaikan
3 5 menit Penutup:
- menutup pertemuan dengan menyimpulkan materi yang telah dibahas
- Memberikan salam penutup
H. Evaluasi
m. Peserta dapat menjelaskan pengertian ISPA
n. Peserta dapat menjelaskan penyebab ISPA
o. Peserta dapat menyebutkan tanda dan gejala ISPA
p. Peserta dapat menjelaskan faktor –faktor yang mempengaruhi ISPA
q. Peserta dapat menjelaskan yang mempengaruhi ISPA
r. Peserta dapat menjelaskan cara pencegah ISPA
s. Peserta dapat menyebutkan prinsip-prinsip perawatan ISPA
t. Peserta dapat menjelaskan Penatalaksana ISPA
MATERI ISPA
1. Pengertian ISPA
ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut yang diadaptasi dari istilah dalam bahasa
inggris Acute Respiratory Infection (ARI) yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran
napas mulai dari hidung (saluran napas atas) hingga alveoli (saluran napas bawah) termasuk jaringan lain
seperti sinus, rongga telinga Tengah dan pleura. Pengertian lain dari ISPA adalah penyakit yang
menyerang saluran pernafasan baik pernafasan atas maupun bawah yang biasanya bersifat menular dan
dapat menyebabkan berbagai penyakit lain. Penyakit yang ditimbulkan dari ISPA dapat berupa penyakit
disertai gejala maupun penyakit yang tidak disertai gejala dimulai dari infeksi ringan hingga yang parah
dan berakibat fatal dan dampak yang diakibatkan bergantung pada penyebab, faktor lingkungan dan
factor pejamu dari ISPA tersebut. (Masriadi, 2017).
2. Penyebab ISPA
Etiologi atau penyebab ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab
ISPA antara lain berasla dari genus streptokokus, stafiokokus, pneumokokus, hemofilus, bordetelia dan
karinebakterium (Khin,M.T, 2005). Sedangkan virus penyebab ISPA yang paling sering dikaitkan adalah
rhinovirus. Terdapat banyak virus lain yang menyebabkan ISPA seperti respiratory syncytial virus (RSV),
human metapneumovirus, coronaviruses, coxsackieviruses, influenza, parainfluenza, dan adenoviruses.
Tanda dan gejala umum ISPA meliputi demam, batuk (kering atau berdahak), pilek atau hidung
tersumbat, sakit tenggorokan, bersin, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta tubuh terasa lemas atau
kelelahan. Gejala bisa bervariasi tergantung pada bagian saluran pernapasan yang terinfeksi, dan pada
kasus yang lebih parah, bisa terjadi sesak napas atau kesulitan bernapas.
3. Tanda dan Gejala Umum ISPA
Demam: Peningkatan suhu tubuh di atas normal bisa menjadi tanda respons tubuh terhadap
infeksi.
Batuk: Bisa bersifat batuk kering atau batuk berdahak.
Pilek atau Hidung Tersumbat: Hidung berair, tersumbat, atau terasa tidak nyaman adalah
gejala umum.
Sakit Tenggorokan: Rasa sakit, gatal, atau tidak nyaman di tenggorokan, terutama saat
menelan.
Bersin: Sering bersin adalah salah satu gejala yang umum.
Sakit Kepala: Bisa menyertai ISPA akibat demam atau ketegangan otot.
Nyeri Otot dan Sendi: Tubuh terasa nyeri dan pegal-pegal karena peradangan akibat infeksi.
Kelelahan: Tubuh terasa lemas dan lelah karena energi digunakan untuk melawan infeksi.
Gejala ISPA yang Lebih Serius (Perlu ke Dokter)
Beberapa gejala ISPA bisa menjadi tanda kondisi yang lebih parah, seperti:
Sesak Napas atau Kesulitan Bernapas: Ini adalah gejala serius yang menunjukkan infeksi
mungkin telah mencapai paru-paru.
Batuk Berdahak dengan Darah, Kuning, atau Hijau: Perubahan warna pada dahak bisa
menandakan infeksi yang lebih parah.
Demam Tinggi: Demam yang tidak turun dengan obat penurun panas bisa memerlukan perhatian
medis.
Kebingungan atau Penurunan Kesadaran: Ini adalah tanda bahaya yang memerlukan
pertolongan medis segera.
4. Faktor – factor yang mempengaruhi ISPA
Faktor ISPA mencakup faktor risiko lingkungan seperti polusi udara, asap rokok, dan tempat
ramai, serta faktor risiko individu seperti sistem imun lemah (karena penyakit kronis, gangguan
imun, atau usia), kurang gizi, kurang istirahat, dan status imunisasi yang tidak lengkap. Kontak
langsung dengan penderita ISPA juga menjadi penyebab penularan penyakit ini.
Faktor Risiko Lingkungan
Kualitas Udara Buruk: Tinggal di lingkungan yang kualitas udaranya rendah atau terpapar
polusi udara meningkatkan risiko ISPA.
Asap Rokok: Merokok atau terpapar asap rokok secara langsung dapat menyebabkan ISPA.
Kondisi Lingkungan: Sering berada di tempat ramai atau fasilitas umum, serta tinggal di
lingkungan dengan ventilasi udara yang buruk, dapat meningkatkan risiko penularan.
Faktor Risiko Individu
Sistem Imun Lemah:
Orang dengan daya tahan tubuh rendah, baik karena penyakit kronis seperti HIV/AIDS, diabetes, asma,
atau kondisi lain yang melemahkan imun, memiliki risiko lebih tinggi.
Usia:
ISPA lebih sering menyerang anak-anak dan balita karena sistem kekebalan tubuh mereka belum
berkembang sempurna.
Status Imunisasi:
Pemberian imunisasi yang tidak lengkap dapat membuat anak lebih rentan terhadap penyakit ISPA.
Status Gizi:
Kurang gizi atau konsumsi makanan tidak bergizi juga dapat meningkatkan risiko seseorang terserang
ISPA.
Kurang Istirahat dan Stres:
Kurang tidur yang berlebihan dan stres berat dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Penyakit Kronis:
Memiliki penyakit kronis seperti asma, diabetes, penyakit jantung, ginjal, atau hati dapat meningkatkan
risiko ISPA.
Faktor Penularan
Kontak Langsung: Penularan ISPA, terutama yang disebabkan oleh virus dan bakteri, dapat
terjadi melalui kontak langsung dengan percikan air liur penderita saat batuk, bersin, atau
berbicara.
5. Cara mencegah ISPA
Untuk mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), lakukan pola hidup sehat seperti rajin
mencuci tangan, hindari menyentuh wajah, gunakan masker di tempat ramai, pastikan ventilasi
rumah baik, makan makanan bergizi, istirahat cukup, dan vaksinasi sesuai rekomendasi. Jauhi
juga orang sakit dan hindari merokok untuk melindungi diri dari infeksi.
1. Jaga Kebersihan Diri
Cuci tangan secara rutin: Gunakan sabun dan air mengalir, terutama setelah beraktivitas di
tempat umum atau sebelum makan.
Hindari menyentuh wajah: Virus dan bakteri dapat masuk ke tubuh melalui mata, hidung, dan
mulut.
Tutup mulut saat batuk atau bersin: Gunakan tisu atau lengan baju agar tidak menyebarkan
kuman ke orang lain.
2. Perkuat Sistem Kekebalan Tubuh
Makan makanan bergizi: Perbanyak konsumsi buah, sayuran, dan makanan kaya vitamin untuk
meningkatkan daya tahan tubuh.
Istirahat yang cukup: Tidur selama 7-8 jam per hari membantu tubuh memulihkan diri.
Olahraga teratur: Aktivitas fisik membantu menjaga kebugaran tubuh dan memperkuat
kekebalan.
Berhenti merokok: Merokok dapat melemahkan saluran pernapasan dan sistem kekebalan tubuh.
3. Jaga Lingkungan dan Hindari Penularan
Ventilasi rumah baik:
Pastikan sirkulasi udara di rumah atau tempat kerja lancar untuk mengurangi risiko penularan kuman.
Hindari kontak dengan orang sakit:
Jauhi orang yang menunjukkan gejala ISPA untuk mencegah penularan.
Gunakan masker:
Kenakan masker saat berada di tempat umum, keramaian, atau saat kualitas udara buruk untuk
melindungi diri.
Vaksinasi:
Dapatkan vaksin influenza atau pneumonia sesuai rekomendasi untuk melindungi dari infeksi serius.
6. Cara Mencega ISPA
Prinsip perawatan ISPA meliputi pereda gejala seperti pemberian obat pereda nyeri dan demam,
dekongestan, serta terapi non-farmakologis seperti minum cukup air, istirahat, dan menghirup uap
hangat. Prinsip lainnya adalah memperkuat sistem imun melalui nutrisi yang baik dan tetap
terhidrasi, serta pencegahan komplikasi dan penularan dengan menjaga kebersihan dan
menghindari kontak dengan penderita.
1. Pereda Gejala
Obat-obatan:
Dokter dapat meresepkan dekongestan untuk hidung tersumbat, antihistamin untuk alergi, atau
obat pereda nyeri dan demam seperti parasetamol atau ibuprofen.
Terapi non-farmakologis:
Minum cukup air: Membantu mengencerkan dahak dan mencegah dehidrasi.
Istirahat yang cukup: Penting untuk pemulihan.
Menghirup uap hangat: Dapat membantu melegakan saluran pernapasan.
Kompres hangat (tepid sponge): Cara efektif menurunkan demam pada anak.
Irigasi nasal: Menggunakan cairan garam untuk membersihkan saluran hidung.
2. Dukungan Sistem Imun
Asupan cairan: Pastikan tubuh terhidrasi dengan minum air putih atau cairan lain yang disukai.
Nutrisi yang baik: Berikan makanan yang teratur untuk menjaga energi tubuh.
Madu: Bisa diberikan pada anak usia di atas 1 tahun untuk membantu mengatasi gejala ISPA.
3. Pencegahan Komplikasi dan Penularan
Mencuci tangan: Lakukan pembersihan tangan secara teratur, terutama setelah kontak dengan
sekresi pernapasan.
Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin: Gunakan tisu, saputangan, atau masker untuk
mengurangi penyebaran droplet.
Menghindari kontak langsung: Batasi interaksi dengan penderita ISPA.
Pemeriksaan oleh dokter: Segera ke dokter jika gejala tidak membaik atau memburuk, atau jika
ada gejala yang mengkhawatirkan seperti sesak napas parah.
4. Pemberian Antibiotik/Antiviral (sesuai anjuran dokter)
Antibiotik:
Hanya diberikan jika ISPA disebabkan oleh bakteri dan diresepkan oleh dokter. Penting untuk
menghabiskan seluruh dosis antibiotik sesuai resep.
Antiviral:
Biasanya tidak diperlukan, namun bisa direkomendasikan oleh dokter untuk pasien berisiko
tinggi seperti bayi, lansia, atau orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah, terutama pada kasus
influenza.
7. Cara Pengobatan ISPA
Untuk menyembuhkan ISPA, istirahat cukup, perbanyak minum air putih, dan konsumsi makanan
sehat untuk memperkuat daya tahan tubuh. Obat-obatan seperti pereda nyeri (parasetamol),
dekongestan, atau obat batuk dapat digunakan sesuai gejala, sementara antibiotik hanya diberikan
oleh dokter jika penyebabnya adalah bakteri. Jika gejala ISPA tidak membaik atau semakin
parah, segera periksakan diri ke dokter.
Perawatan di Rumah
Istirahat Cukup:
Beristirahat yang cukup membantu tubuh melawan infeksi dan mempercepat pemulihan.
Perbanyak Cairan:
Minum banyak air putih, jus, atau minuman hangat seperti teh lemon untuk membantu
mengencerkan dahak dan mencegah dehidrasi.
Uap Air Hangat:
Menghirup uap dari air panas yang ditambahkan sedikit minyak kayu putih dapat membantu
meredakan hidung tersumbat dan batuk.
Posisi Tidur:
Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dari tubuh dapat membantu memperlancar pernapasan.
Kumur Air Garam:
Berkumur dengan air garam dapat membantu meredakan sakit tenggorokan.
Makanan Sehat:
Konsumsi makanan bergizi, terutama buah-buahan dan sayuran, untuk meningkatkan daya tahan
tubuh.
Pengobatan Medis
Obat Simptomatik:
Dokter mungkin akan memberikan obat pereda demam dan nyeri (seperti parasetamol),
dekongestan untuk hidung tersumbat, atau obat batuk sesuai jenis batuk yang dialami.
Antibiotik:
Obat ini hanya akan diresepkan oleh dokter jika penyebab ISPA adalah infeksi bakteri, karena
penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri.
Antivirus:
Untuk kasus ISPA tertentu seperti influenza, dokter bisa meresepkan obat antivirus.
Terapi Oksigen:
Pada ISPA berat seperti pneumonia, terapi oksigen mungkin diperlukan untuk membantu
pernapasan.
8. Klasifikasi ISPA
Di dalam buku manajemen terpadu balita sakit (MTBS) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia tahun 2015, ISPA diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu :
a. ISPA dengan pneumonia berat dengan gejala batuk dan sukar bernafas diiringi dengan
tarikan dada ke dalam atau saturasi oksigen >90%
b. ISPA dengan pneumonia dengan gejala batuk atau sukar bernafasdiiringi dengan nafas
cepat. Dikatakan nafas cepat apabila pernafasan lebih dari 40 kali permenit pada anak
usia 12-59 bulan.
c. ISPA bukan pneumonia dengan gejala batuk atau sukar bernafastidak diiringi dengan
tanda pada ISPA pneumonia berat dan ISPA pneumonia.
9. Manifetasi klinis ISPA
Gejala ISPA termasuk bersin, hidung tersumbat, rinorea, tenggorokan terasa gatal atau sakit, mata berair,
dan batuk tidak berdahak sesekali, dapat terjadi demam pada bayi dan balita. Gejala biasanya bertahan
selama 5-7 hari, terkadang bisa lebih lama pada anak usia prasekolah.
10. Komplikasi ISPA
Komplikasi yang umum terjadi dengan persentase sebesar 5% pada anak penderita ISPA adalah otitis
media. (Kliegman, 2016). ISPA yang perlu diwaspadai adalah radang tenggorokan atau pharingitis dan
radang telinga atau otitis.
11. Penatalaksanaan ISPA
Yang dapat dilakukan ibu di rumah yaitu mengatasi panas atau demam pada anak dengan memberikan
obat tablet paracetamol dan melakukan pengontrolan suhu tubuh anak serta mengompres anak dengan
menggunakan kain bersih, dengan cara celupkan pada air tiga kali sehari sampai demam pada anak
membaik. Batuk dapat diatasi dengan obat yang aman yaitu ramuan tradisional yang terbuat dari jeruk
nipis setengah sendok teh dicampur dengan kecap atau madu setengah sendok teh (madu tidak dianjurkan
diberikan pada anak dibawah 12 bulan) dan diberikan tiga kali sehari. Pemberian makanan yang cukup
dan memenuhi kebutuhan anak balita, pemberian makan pada anak dengan porsi sedikit namun sering,
terlebih apabila anak disertai muntah berikan lebih sering diiringi pemberian cairan seperti air putih, jus
dsb untuk mengencerkan dahak dan mengatasi kekurangan cairan pada anak
(Suryanti, 2016)
Sebagai upaya mengatasi sesak yaitu dengan memberikan terapi uap air
dan minyak kayu putih sebagai upaya membebaskan jalan napas anakanak dengan ISPA. Langkah-
langkahnya siapkan air hangat dalam baskom dan berikan tetesan minyak kayu putih dalam air lalu
anjurkan anak untuk mengirup uap.