BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Diabetes Mellitus
a. Pengertian
Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit
metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (Perkeni,
2015). Diabetes mellitus merupakan kondisi kronis dimana terjadi
kenaikan kadar glukosa dalam darah dikarenakan tubuh tidak dapat
menghasilkan atau memproduksi insulin atau tubuh tidak dapat
menggunakan insulin secara efektif IDF (2017).
b. Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi Diabetes Mellitus berdasarkan etiologi menurut Perkeni
(2015) adalah sebagai berikut :
Tabel 1 Klasifikasi Diabetes Mellitus
Tipe Keterangan
Tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke
defisiensi insulin absolut
1) Autoimun
2) Idiopatik
Tipe 2 Bervariasi, mulai yang dominan resistensi
insulin disertai defisiensi insulin relatif
sampai yang dominan defek sekresi insulin
disertai resistensi insulin
Diabetes Mellitus Keadaan diabetes atau intoleransi glukosa
Gestasional yang timbul selama masa kehamilan dan
biasanya berlangsung hanya sementara
11
Tipe lain 1) Defek genetik fungsi sel beta
2) Defek genetik kerja insulin
3) Penyakit eksokrin pankreas
4) Endokrinopati
5) Karena obat atau zat kimia
6) Infeksi
7) Sebab imunologi yang jarang
8) Sindrom genetik lain yang berkaitan
dengan DM
Sumber : Perkeni, 2015
c. Etiologi
Menurut Riyadi, (2011) etiologi dari Diabetes Mellitus antara lain :
1) Kelainan pada sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta
sampai dengan terjadinya kegagalan pada sel beta melepas
insulin
2) Faktor lingkungan sekitar yang mampu mengubah fungsi sel
beta, antara lain agen yang mampu menimbulkan infeksi, diet
dimana pemasukan karbohidrat serta gula yang diproses secara
berlebih, obesitas, dan kehamilan
3) Adanya gangguan sistem imunitas pada penderita atau
gangguan sistem imunologi
4) Adanya kelainan insulin
5) Pola hidup yang tidak sehat.
d. Patofisiologi
Menurut Decrole, E (2019) patofisiologi Diabetes Mellitus tipe 2
antara lain :
1) Resistensi Insulin
12
Resistensi insulin merupakan kondisi umum bagi orang-
orang dengan berat badan overweight atau obesitas. Insulin tidak
dapat bekerja secara optimal di sel otot, lemak dan hati sehingga
memaksa pankreas mengkompensasi untuk memproduksi
insulin lebih banyak. Ketika produksi insulinoleh sel beta tidak
adekuat guna mengkompensasi peningkatan resistensi insulin,
maka kadar glukosa darah akan meningkat, pada saatnya akan
terjadi hiperglikemi kronik. Hiperglikemia kronik pada DM tipe
2 semakin merusak sel beta di satu sisi dan memperburuk
resistensi insulin disisi lain, sehingga penyakit DM tipe 2
semakin progresif. Secara klinis, makna resistensi insulin adalah
adanya konsentrasi insulin yang lebih tinggi dari normal yang
dibutuhkan untuk mempertahankan normoglikemia. Pada
tingkat seluler, resistensi insulin menunjukkan kemampuan yang
tidak adekuat dari insulin signaling mulai dari pre reseptor,
reseptor, dan post reseptor.
2) Disfungsi Sel Beta Pankreas
Sel beta pankreas merupakan sel yang sangat penting
diantara sel lainnya seperti sel alfa, sel deta, dan sel jaringan ikat
pada pankreas. Disfungsi sel beta pankreas terjadi akib
kombinasi faktr genetik dan faktor lingkungan. Jumlah dan
kualitas sel beta pankreas dipengaruhi oleh beberapa hal antara
lain proses regenerasi dan kelangsungan hidup sel beta itu
13
sendiri, mekanisme selular sebagai pengatur sel beta, kmampuan
adaptasi sel beta ataupun kegagalan mengkompensasi beban
metabolik dan proses apoptosis sel.
Sebelum diagnosis DM tipe 2 ditegakkan, sel beta pankreas
dapat memproduksi insulin secukupnya untuk mengkompensasi
peningkatan resistensi insulin. Pada saat diagnosis DM tipe 2
ditegakkan, sel beta pankreas tidak dapat memproduksi insulin
yang adekuat untuk mengkompensasi peningkatan resistensi
insulin oleh karena pada saat itu fungsi sel beta pankreas normal
tinggal 50%.
Pada DM tipe 2 sel beta pankreas yang terpajan dengan
hiperglikemia akan memproduksi reactive oxygen species
(ROS). Peningkatan ROS yang berlebihan akan menyebabkan
kerusakan sel beta pankreas. Hiperglikemia kronik merupakan
keadaan yang dapat menyebabkan berkurangnya sintesis dan
sekresi insulin di satu sisi dan merusal sel beta secara gradual.
3) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan memegang peran penting dalam
terjadinya penyakit DM tipe 2. Faktor lingkungan tersebut
adalah adanya obesitas, banyak makan, dan kurangnya aktivitas
fisik. Peningkatan berat badan adalah faktor risiko terjadinya
DM tipe 2. Walaupun demikian sebagian besar populasi yang
mengalami obesitas tidak menderita DM tipe 2.
14
e. Manifestasi Klinis
Menurut IDF, (2017) manifestasi klinis pada pasien DM tipe 2
antara lain :
1) Sering haus dan mulut terasa kering
2) Sering buang air kecil
3) Kurang berenergi dan kelelahan yang berlebihan
4) Kesemutan atau mati rasa di tangan dan kaki
5) Infeksi jamur yang berulang di kulit
6) Lambatnya penyembuhan luka
7) Penglihatan yang kabur
Menurut Kemenkes, (2014) gejala tambahan yang mungkin timbul
antara lain :
1) Berat badan menurun cepat tanpa penyebab yang jelas
2) Gatal didaerah kemaluan wanita
3) Keputihan pada wanita
4) Luka yang sulit sembuh
5) Bisul yang hilang timbul
6) Mudah mengantuk
7) Impotensi pada laki-laki
f. Penatalaksanaan
Menurut Perkeni, (2015) tujuan penatalaksanaan secara
umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes.
Tujuan penatalaksanaan jangka pendek adalah menghilangkan
15
keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko
komplikasi akut. Tujuan jangka panjang adalah mencegah dan
menghambat progesivitas penyulit mikroangiopati dan
makroangiopati. Tujuan akhir pengelolaan DM adalah turunnya
morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut
perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat
badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara
komprehensif.
Berikut penatalaksanaan DM menurut Perkeni (2015) :
1) Edukasi
Edukai merupakan upaya pencegahan dan pengelolaan DM
secara holistik. Materi edukasi yang diberikan meliputi materi
tentang perjalanan penyakit DM, pengendalian dan pemantauan
DM secara berkelanjutan, penyulit DM dan risikonya, intervensi
farmakologis dan non-farmakologis serta target pengobatan,
interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik dan obat
antihiperglikemi oral atau insulin, cara pemantauan glukosa
darah secara mandri, mengenal gejala awal dan penanganan
hipoglikemia, pentingnya latihan jasmani yang teratur, dan
pentingnya perawatan kaki.
2) Terapi Nutrisi Medis (TNM)
TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DM tipe
2 secara komprehensif. Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-
16
65% dari total asupan energi. Asupan lemak yang dianjrkan
sekitar 20-25% dari kebutuhan kalori dan tidak diperkenankan
melebihi 30% dari total asupan energi. Protein yang dianjurkan
sebesar 10-20% total asupan energi. Asupan garam yang
dianjurkan yaitu kurang dari 2300mg perhari. Asupan serat yang
dianjurkan adalah 20-35gram/hari dari berbagai sumber bahan
makanan. Jumlah kalori yang dinjurkan besarnya 25-
30kal/kgBB ideal yang dapat bertambah atau berkurang karena
dipengaruhi oleh pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut, dan
kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Jumlah
kandungan kolestrol kurang dari 300mg/hari.
3) Latihan Jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan
secara teratur sebanyak3-5 kali perminggu selama sekitar 30-45
menit. Jeda antar latihan tidak lebih dari2 hari berturut-turut.
Latihan jasmani berguna untuk menjaga kebugaran, dapat
menurunkan bert badan, memperbaiki sensitivitas insulin,
sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan yang
dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik dengan
intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepea santai, jogging,
dan berenang. Intensitas latihan jasmani pada penyandang DM
yang relatif shat bisa ditingkatkan sedangkan pada penyandang
17
DM disertai komplikasi intensitas latihan perlu dikurangi dan
disesuaikan dengan masing-masing individu.
4) Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan
makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi
farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.
a) Golongan Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan
sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Efek samping utama
adalah hipoglikemi dan peningkatan berat badan.
b) Glinid
Golongan ini memiliki cara kerja dengan penekanan pada
peningkatan sekresi insulin fase pertama. Obat ini diabsorpsi
secara cepat setelah pemberian secara oral dan di ekskresi
secara cepat melalui hati.
c) Biguanid
Golongan biguanid memiliki 3 jenis yaitu fenformin,
buformin, dan metformin. Metformin mempunyai efek
utama mengurangi produksi glukosa hati dan memperbaiki
ambilan glukosa dijaringan perifer. Dosis metformin
diturunkan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (GFR
30-60ml/menit/1,73m2).
18
d) Tiazolidindion (TZD)
Golongan ini memiliki efek menurunkan resistesi insulin
dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa,
sehingga meningkatkan ambilan glukosa di jaringan perifer.
e) Penghambat Alfa Glukosidase
Obat ini bekerja dengan memperlambat absorpsi glukosa
dalam usus halus, sehingga mempuyai efek menurunkan
kadar glukosa darah sesudah makan. Efek samping yang
mungkin terjadi adalah berupa bloating (penumpuan gas
dalam usus) sehingga sering menimbulkan flatus.
f) Insulin
Insulin termasuk dalam antihiperglikemia suntik. Insulin di
berikan pada pasien dengan keadaan HbA1c lebih dari 9%
dengan kondisi dekompensasi metabolik, hiperglikemia
berat yang dusertai ketosis, gagal dengan kombinasi obat
hipoglikemik oral (OHO) dosis optimal, ganguan fungsi
ginjal atau hati yang berat, kontraindikasi atau alergi
terhadap OHO.
Untuk mengendalikan penyakit diabetes mellitus
Kementerian Kesehatan membentuk pos pembinaan terpadu untuk
memudahkan akses warga melakukan deteksi dini penyakit diabetes.
Menteri kesehatan menghimbau masyarakat untuk melakukan aksi
CERDIK, yaitu dengan melakukan:
19
1) Cek kesehatan secara teratur untuk mengendalikan berat badan
agar tetap ideal dan tidak berisiko mudah sakit, periksa tensi
darah, gula darah, dan kolesterol secara teratur.
2) Enyahkan asap rokok dan jangan merokok.
3) Rajin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, seperti
berolahraga, berjalan kaki, membersihkan rumah. Upayakan
dilakukan dengan benar, baik, teratur, dan terukur.
4) Diet yang seimbang dengan mengkonsumsi makanan sehat dan
gizi seimbang,konsumsi buah sayur minimal 5 porsi per hari.
Sebisa mungkin menekan konsumsi gula hingga maksimal 4
sendok makan atau 50 gram per hari. Hindari makanan atau
minuman yang manis atau berkarbonasi.
5) Istirahat yang cukup.
6) Kelola strees dengan baik dan benar.
g. Faktor Risiko Diabetes Mellitus
Menurut Kemenkes RI, (2019) faktor risiko diabetes mellitus
dibagi menjadi dua yaitu faktor risiko yang tidak bisa diubah dan
faktor risiko yang bisa diubah.
1) Faktr Risiko Yang Tidak Bisa Diubah
a) Usia lebih dari sama dengan 40 tahun
b) Mempunyai riwayat keluarga penderita DM
c) Kehamilan dengan gula darah tinggi
20
d) Ibu dengan riwayat melahirkan bayi engan berat badan lahir
lebih dari 4 kg
e) Bayi yang memiliki berat badan lahir kurang dari 2,5 kg
2) Faktr Risiko Yang Bisa Diubah
a) Kegemukan ( IMT lebih dari 23 kg/m2) dan lingkar perut
laki-laki lebih dari 90 cm dan perempuan lebih dari 80 cm
b) Kurang aktivitas fisik
c) Hipertensi/ tekanan darah tinggi (lebih dari 140/90 mmHg)
d) Dislipidemia ( kolesterol HDL laki-laki kurang dari sama
dengan 35 mg/dl dan perempuan kurang dari sama dengan
45 mg/dl, trigliserida lebih dari sama dengan 250 mg/dl
e) Riwayat penyakit jantung
f) Diet tidak seimbang
g) Merokok atau terpapar asap rokok
h. Diagnosis Diabetes Mellitus
Diagnosis DM ditegakan atas dasar pemeriksaan glukosa darah.
Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan
glukosa darah secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena.
Penggunaan darah vena atau kapiler tetap dapat dipergunakan
dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang
berbedasesuai pembakuan dari WHO.
21
Menurut Decroli, E (2019) diagnosis DM dapat ditegakkan
melalui pemeriksaan darah vena dengan sistem enzimatik dengan
hasil :
1) Gejala klasik + GDP lebih dari sama dengan 126 mg/dl
2) Gejala klasik + GDS lebih dari sama dengan 200 mg/dl
3) Gejala klasik + GD 2 jam setelah TTGO lebih dari sama
dengan mg/dl
4) Tanpa gejala klasik + 2x pemeriksaan GDP lebih dari sama
dengan 126 mg/dl
5) Tanpa gejala klasik + 2x pemeriksaan GDS lebih dari sama
dengan 200 mg/dl
6) Tanpa gejala klasik + 2x pemeriksaan GD 2 jam setelah TTGO
lebih dari sama dengan 200 mg/dl
7) HbA1c lebih dari sama dengan 6,5%
2. Dukungan Keluarga
a. Pengertian Keluarga
Menurut Friedman (2014) keluarga adalah sekumpulan
orang yang bersama-sama bersatu dengan melakukan pendekatan
emosional dan mengidentifikasi dirinya sebagai sebagian dari
keluarga. Dukungan keluarga adalah suatu proses yang terjadi
sepanjang kehidupan, sifat dan jenis dukungan keluarga berbeda
dalam tahap siklus kehidupan. Dukungan keluarga dapat berupa
dukungan sosial internal maupun dukungan sosial eksternal.
22
b. Tipe Keluarga
Menurut Friedman (2014) tipe keluarga meliputi :
1) Keluarga Inti
Keluarga inti mrupakan transformasi demografi dan sosial yang
paling signifikan yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ayah
bekerja untuk mencari nafkah dan ibu sebagai pengurus umah
tangga.
2) Keluarga Adopsi
Keluarga adopsi adalah suatu cara untuk membentuk keluarga
dengan cara menyerahkan tanggung jawab orang tua kandung
kepada orang tua adopsi secara sah dan saling menguntungkan
satu sama [Link] adopsi dilakukan karena berbagai alasan
seperti pasangan tidak dapat memiliki keturunan tapi ingin
menjadi orang tuan sehingga mengadopsi anak dari pasangan
lain.
3) Keluarga Asuh
Keluarga asuh adalah suatu layanan yang diberikan untuk
mengasuh anaknya ketika keluarga kandung sibuk dan keluarga
asuh akan memberikan keamanan dan kenyamanan pada anak.
Anak yang diasuh oleh keluarga asuh umumnya memiliki
hubungan kekerabatan seperti kakek atau neneknya.
23
4) Keluarga Orang Tua Tiri
Keluarga orang tua tiri terjadi bila pasangan yang mengalami
perceraian dan menikah lagi. Anggota kelurga termask anak
harus melaukan penyesuaian diri dengan keluarga barunya.
c. Tugas Keluarga
Menurut Friedman (2014) terdapat 7 tugas pokok keluarga antara
lain :
1) Pemeliharaan fisik keluarga dan anggota keluarga
2) Pemeliharaan berbagai sumber daya yang ada dalam keluarga
3) Pembagian tugas anggota keluarga sesuai dengan kedudukan
masing-masing
4) Sosialisasi antar keluarga baik dari segipengetahuan maupun
kesehatan
5) Pengaturan jumlah anggota keluarga
6) Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga
7) Membangkitkan dorongan dan motivasi pada anggota keluarga
Tugas kesehatan keluarga antara lain :
1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggota keluarganya
2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan kesehatan
secara tepat
3) Memberikan perawatan pada anggota keluarganya yang sakit
dan yang tidak bisa membantu dirinya sendiri
24
4) Memodifikasi lingkungan dan mempertahankan suasana dirmah
yang menguntngkan kesehatan dan perkembangan kepribadian
anggota keluarga
5) Merujuk pada fasilitas kesehatan masyarakat yang terjangkau
dan bermanfaat bagi anggota keluarga yang sakit
d. Jenis-Jenis Dukungan Keluarga
1) Dukungan Informasional
Dukungan ini merupakan dukungan yang diberikan keluarga
kepada anggota keluarganya melalui penyebaran informasi.
Keluarga sebagai tempat dalam memberi semangat serta
pengawasan terhadap kegiatan harian misalnya pada pasien DM
yang harus melakukan kontrol rutin sehingga keluarga harus
senantiasa mengingatan klien untuk kontrol. Keluarga juga harus
memonitor dan mengingatkan agar pasien DM dapat teratur
dalam pemeriksaan kadar gula darah.
2) Dukungan Instrumental
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis
dan konkrit. Tujuan dukungan ini adalah meringankan beban
bagi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan
melalui bantuan fasilitas.
3) Dukungan Emosional Dan Harga Diri
Dukungan ini mencakup empati, kepedulian, dan perhatian
dari orang yang bersangkutan kepada anggota keluarga yang
25
mengalmi masalah kesehatan. Dukungan emosonal dan harga
diri juga dapat memberkan semangat dalam berperilaku
kesehatan, sebagai contohnya adalah dukungan yang dapat
diberikan pada pasien DM dalam menjalani pengobatan dan
rutin melakukan kontrol gula darah.
e. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kesehatan
Tiga aspek yang mempengaruhi dukungan keluarga terhadap
kesehatan secara langsung maupun tidak langsung, antara lain:
1) Aspek Perilaku
Dukungan keluarga dapat mempengaruhi perubahan perilaku
seseorang
2) Aspek Psikologis
Dukungan keluarga dapat meningkatkan dan membangun harga
dir seseorang dan meyediakan hubungan yang saling
memuaskan.
3) Aspek Fisiologis
Dukungan keluarga dapat membantu mengatasi respon fight or
flight dan dapat memperkuat sustem imun seseorang.
f. Manfaat Dukungan Keluarga
Manfaat dukungan keluarga terhadap kesehatan antara lain
adalah menurunnya mortalitas, lebih mudah sembuh dari sakit,
meningkatkan fungsi kognitif, fisik, dan psikologi. Selain itu
26
pengaruh positif dari dukungan keluarga adalah terdapat ada
penyesuaian terhadap kejadian kehidupan yang penuh dengan stress.
g. Peran Keluarga dalam Perawatan Pasien DM
Peran keluarga dalam perawatan DM sangat penting untuk
meminimalkan terjadinya komplikasi yang dapat muncul,
memperbaiki kadar gula darah seta meningkatkan kualitas hidup
pasien DM. Peran keluarga dibagi dalam berbagai aspek yaitu
penyuluhan, perencaaan makan, latihan jasmani, terapi farmakologi,
monitoring kadar gula darah serta perawatan kaki DM. Hal itu sangat
penting untuk mempertahankan, memotivasi, dan meningkatkan,
perannya dalam perawatan pasien DM.
3. Keteraturan Kontrol
a. Pengertian
Kontrol dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti
pemantauan, pengawasan, dan pengendalian. Pasien yang masih
dalam masa pengobatan perlu dipantau dan diawasi kembali
kesehatannya, seperti perkembangan dari terapi yang sudah dijalani
untuk mencapai target atau sasaran dari terapi tersebut.
Kontrol rutin adalah kepatuhan pasien dalam berobat,
dimana pengobatan tersebut sudah ditentukan oleh petugas layanan
kesehatan. Teratur adalah kegiatan yang dilakukan secara rutin dan
berkelanjutan. Jadi dapat disimpulkan bahwa rutin kontrol adalah
kegiatan yang menjadi keharusan bagi setiap orang yang menderita
27
suatu penyakit terutama kontrol rutin setiap bulannya. Keteraturan
kontrol sangat penting dilakukan bagi pasien diabetes mellitus.
Tujuan dari keteraturan kontrol ini adalah untuk mendeteksi sejak
dini kemungkinan komplikasi yang dapat timbul. Menurut Perkeni
(2019) keteraturan kontrol glukosa darah merupakan deteksi dini
yang akan memberikan kesempatan untuk pengobatan dan
pencegahan komplikasi yang efektif sehingga konsentrasi glukosa
darah dapat selalu dikendalikan dengan baik. Dengan rutin kontrol
teratur diharapkan agar komplikasi dari diabetes mellitus dapat
dicegah atau dihambat. Pasien yang teratur kontrol ke pelayanan
kesehatan adalah pasien yang berobat ke layanan kesehatan
setidaknya satu kali dalam sebulan. Sedangkan kategori pasien tidak
teratur kontrol adalah pasien yang tidak melakukan pengobatan
selama 2 bulan terakhir (Permenkes RI, 2016). Perkeni menyatakan
bahwa 5 pilar pengendalian diabetes mellitus tipe 2 meliputi:
manajemen diri, manajemen jasmani, manajemen farmakologi,
edukasi, dan kontrol rutin atau monitoring kadar gula darah.
b. Manfaat
Menurut Perkeni, (2019) manfaat dari teratur kontrol gula darah
adalah :
1) Menjaga keselamatan penyandang diabetes
2) Membantu upaya perubahan gaya hidup
3) Membantu dalam pengambilan keputusan
28
4) Membantu menyesuaikan dosis insulin atau obat hipoglikemik
oral
c. Frekuensi Kontrol
Pasien diabetes mellitus pada umumnya dapat mengatur
jadwal kontrol rutin mereka. Kontrol secara rutin ke dokter perlu
dilakukan agar pasien diabetes mellitus mendapatkan informasi
tentang poin-poin pengobatan lain.
Pasien DM tipe 2 dianjurkan untuk melakukan kontrol gula
darah minimal 1 bulan sekali. Pasien DM dapat kontrol lagi ketika
obat yang diberikan dalam pengobatan sebelumnya sudah habis.
Periode awal pengobatan, pasien DM harus kontrol 1 sampai 3 bulan
hingga kadar gula darah mereka sudah terkontrol dan dalam keadaan
stabil. Selanjutnya, pasien DMM dapat melakukan kontrol selama 4
sampai 6 bulan sekali. Apabila kadar gula darah masih tinggi dan
tidak terkontrol serta timbul komplikasi yang semakin memburuk,
maka pasien DM harus sering kontrol ke dokter. Frekuensi kontrol
juga dapat ditentukan melalui kesepakatan dan diskusi antara pasien
DM dengan dokter atau petugas kesehatan (Perkeni, 2019).
Selain rutin kontrol, pasien DM harus memeriksakan diri
setiap setahun sekali untuk melakukan pemeriksaan secara
menyeluruh terutama untuk mengetahui lebih lanjut fungsi ginjal,
ada tidaknya penyempitan pembuluh darah pada jantung, gangguan
fungsi syaraf serta kondisi retina pasien DM.
29
d. Faktor yang Mempengaruhi Keteraturan Kontrol
Menurut Elmita, (2019) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
keteraturan kontrol pada pasien DM antara lain :
1) Tingkat Pendidikan
Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan
tingkah laku. Dengan pendidikan yang tinggi biasanya seseorang
memiliki banyak pengetahuan tentang kesehatan. Oleh karena
itu, seseorang diharapkan dapat berperilaku sehat seperti
mencegah dirinya terkena suatu penyakit (Rismayanti etc, 2016)
2) Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi keteraturan kontrol kadar gula darah. Dukungan
keluarga merupakan indikator yang kuat yang dapat
memberikan suatu dampak positif terhadap peraawatan diri pada
pasien DM. Semakin tinggi nilai dukungan keluarga semakin
tinggi nilai kualitas hidup pasien DM (Priharianto, 2014).
Keluarga merupakan bagian dari pasien yang paling dekat.
Pasien akan merasa senang dan nyaman apabila mendapat
peratian dan dukungan dai keluarganya. Dengan dukungan
tersebut akan menimblkan kepercayaan dirinya untuk
menghadapi dan mengelola penyakit dengan baik, serta pasien
mau menuruti saran-saran yang diberikan oleh keluarga untuk
penunjang pengelolaan penyakitnya. Dukungan dari keluarga
30
(dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan
emosional dan harga diri) dengan kualitas hidup mennjukkan
semakin tinggi nilai dukungan keluarga semakin tinggi nilai
kualitas hidup pasien DM. Keluarga memiliki peranan penting
dalam mendukung manajemen DM. Rendahnya konflik,
hubungan baik antara anggota keluarga serta komunikasi yang
baik berperan dalam meningkatkan kepatuhan dan keteraturan
kontrol gula darah pasien DM. Terlebih dukungan dari pasangan
juga berpengaruh terhadap manajemen diabetes mellitus.
3) Faktor Edukasi
Faktor edukasi berpengaruh terhadap perilaku dan sikap dari
pasien DM. Edukasi DM adalah pelatihan atau pedidikan
mengenai diabetes untuk menambah informasi dan kemampuan
pasien DM dalam menangani penyakitnya. Hal tersebut
memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman para pasien
DM terhadap penyakit yang dideritanya, yang mana perilaku
tersebut dilakukan untuk mencapai kondisi tubuh yang sehat
yang dapat menyesuaikan dengan kondisi psikisnya serta dapat
meningkatlan kualitas hidup pasien DM. Pasien DM yang
mendapat edukasi yang baik dari tenaga kesehatan akan
berdampak positif terhadap dirinya. Pasien tersebut akan rutin
memeriksakan kadar gula darahnya secara teratur. Pasien DM
perlu mendapatkan informasi minimal yang diberikan setelah
31
diagnosis DM ditegakkan mencakup pengetahuan dasar tentang
DM, pemantauan secara mandiri, penyebab kadar glukosa darah
tinggi, obat hipoglikemi oral, perencanaan diet, perawatan,
kegiatan jasmani, tanda hipoglikemi, dan komplikasi. Pasien
DM yang telah mempunyai pengetahuan cukup tentang DM,
kemudian selanjutnya mengubah perilakunya sehingga dapat
mengendalikan kondisi penyakitnya dan dapat meningkatkan
kualitas hidup pasien DM.
4) Faktor Ekonomi
Pasien DM dengan ekonomi rendah dapat memanfaatkan kartu
jaminan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah untuk
mengontrolkan kadar gula darahnya. Dengan fasilitas berupa
kartu jaminan tersebut akan membantu meringankan biaya
kesehatan bagi pasien DM dengan ekoomi rendah. Sebaliknya
untuk pasien DM dengan tingkat ekonomi mampu melakukan
upaya mengontrolkan kesehatannya dengan pemeriksaan
kesehatan secara rutin.
5) Akses Terhadap Pelayanan Kesehatan
Akses yang cukup dekat dengan fasilitas kesehatan akan
membuat pasien DM melakukan pemantauan gula darah. Waktu
dan jarak tempuh juga merupakan faktor yang mempengaruhi
keteraturan kontrol gula darah. Pasien yang DM yang
mempunyai tempat tinggal lebih dekat dengan fasilitas
32
kesehatan tentunya lebih muah untuk mengakses pelayanan
kesehatan.
33
B. Kerangka Teori
1. Kelainan sel beta
pankreas
2. Faktor lingkungan
3. Gangguan sistem DM
imunitas
4. Kelainan insulin
5. Pola hidup tidak
Penatalaksanaan :
sehat
1. Edukasi
2. Terapi nutrisi
3. Latihan jasmani
4. Terapi farmakologis
Dukungan keluarga :
1. Dukungan 1. Faktor pendidikan
Pemeriksaan
informasional 2. Faktor edukasi
kadar gula darah
2. Dukungan 3. Faktor ekonomi
secara teratur
instrumental 4. Akses terhadap
3. Dukungan pelayanan
emosional dan kesehatan
harga diri
Meningkatkan kualitas
hidup pasien DM
[Link]
Gambar KerangkaTeori
Teori1
Gambar 1. Kerangka Teori
Sumber : Riyadi (2011), Friedman (2014), Perkeni (2015), Rismayanti etc
(2016), Perkeni (2019), Elmita (2019), dan Decroli (2019)Kerangka Konsep
34
C. Kerangka Konsep
Dukungan keluarga :
1. Dukungan
informasional
2. Dukungan Teratur
instrumental Keteraturan
3. Dukungan Kontrol Gula
emosional dan Darah
harga diri
Tidak
teratur
1. Faktor pendidikan
2. Faktor edukasi
3. Faktor ekonomi
4. Akses terhadap pelayanan kesehatan
Gambar 2. Kerangka Konsep
Keterangan :
: Diteliti
: Tidak diteliti
35
A. Hipotesis
Hipotesis yang diharapkan peneliti dari penelitian ini adalah:
H1 : Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan keteraturan kontrol
glukosa darah pada pasien DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Bantul I
36