0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan26 halaman

Klasifikasi dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Diunggah oleh

fitrianilia560
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan26 halaman

Klasifikasi dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Diunggah oleh

fitrianilia560
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Diabetes Mellitus

a. Pengertian

Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit

metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena

kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (Perkeni,

2015). Diabetes mellitus merupakan kondisi kronis dimana terjadi

kenaikan kadar glukosa dalam darah dikarenakan tubuh tidak dapat

menghasilkan atau memproduksi insulin atau tubuh tidak dapat

menggunakan insulin secara efektif IDF (2017).

b. Klasifikasi Diabetes Mellitus

Klasifikasi Diabetes Mellitus berdasarkan etiologi menurut Perkeni

(2015) adalah sebagai berikut :

Tabel 1 Klasifikasi Diabetes Mellitus

Tipe Keterangan
Tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke
defisiensi insulin absolut
1) Autoimun
2) Idiopatik
Tipe 2 Bervariasi, mulai yang dominan resistensi
insulin disertai defisiensi insulin relatif
sampai yang dominan defek sekresi insulin
disertai resistensi insulin
Diabetes Mellitus Keadaan diabetes atau intoleransi glukosa
Gestasional yang timbul selama masa kehamilan dan
biasanya berlangsung hanya sementara

11
Tipe lain 1) Defek genetik fungsi sel beta
2) Defek genetik kerja insulin
3) Penyakit eksokrin pankreas
4) Endokrinopati
5) Karena obat atau zat kimia
6) Infeksi
7) Sebab imunologi yang jarang
8) Sindrom genetik lain yang berkaitan
dengan DM
Sumber : Perkeni, 2015

c. Etiologi

Menurut Riyadi, (2011) etiologi dari Diabetes Mellitus antara lain :

1) Kelainan pada sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta

sampai dengan terjadinya kegagalan pada sel beta melepas

insulin

2) Faktor lingkungan sekitar yang mampu mengubah fungsi sel

beta, antara lain agen yang mampu menimbulkan infeksi, diet

dimana pemasukan karbohidrat serta gula yang diproses secara

berlebih, obesitas, dan kehamilan

3) Adanya gangguan sistem imunitas pada penderita atau

gangguan sistem imunologi

4) Adanya kelainan insulin

5) Pola hidup yang tidak sehat.

d. Patofisiologi

Menurut Decrole, E (2019) patofisiologi Diabetes Mellitus tipe 2

antara lain :

1) Resistensi Insulin

12
Resistensi insulin merupakan kondisi umum bagi orang-

orang dengan berat badan overweight atau obesitas. Insulin tidak

dapat bekerja secara optimal di sel otot, lemak dan hati sehingga

memaksa pankreas mengkompensasi untuk memproduksi

insulin lebih banyak. Ketika produksi insulinoleh sel beta tidak

adekuat guna mengkompensasi peningkatan resistensi insulin,

maka kadar glukosa darah akan meningkat, pada saatnya akan

terjadi hiperglikemi kronik. Hiperglikemia kronik pada DM tipe

2 semakin merusak sel beta di satu sisi dan memperburuk

resistensi insulin disisi lain, sehingga penyakit DM tipe 2

semakin progresif. Secara klinis, makna resistensi insulin adalah

adanya konsentrasi insulin yang lebih tinggi dari normal yang

dibutuhkan untuk mempertahankan normoglikemia. Pada

tingkat seluler, resistensi insulin menunjukkan kemampuan yang

tidak adekuat dari insulin signaling mulai dari pre reseptor,

reseptor, dan post reseptor.

2) Disfungsi Sel Beta Pankreas

Sel beta pankreas merupakan sel yang sangat penting

diantara sel lainnya seperti sel alfa, sel deta, dan sel jaringan ikat

pada pankreas. Disfungsi sel beta pankreas terjadi akib

kombinasi faktr genetik dan faktor lingkungan. Jumlah dan

kualitas sel beta pankreas dipengaruhi oleh beberapa hal antara

lain proses regenerasi dan kelangsungan hidup sel beta itu

13
sendiri, mekanisme selular sebagai pengatur sel beta, kmampuan

adaptasi sel beta ataupun kegagalan mengkompensasi beban

metabolik dan proses apoptosis sel.

Sebelum diagnosis DM tipe 2 ditegakkan, sel beta pankreas

dapat memproduksi insulin secukupnya untuk mengkompensasi

peningkatan resistensi insulin. Pada saat diagnosis DM tipe 2

ditegakkan, sel beta pankreas tidak dapat memproduksi insulin

yang adekuat untuk mengkompensasi peningkatan resistensi

insulin oleh karena pada saat itu fungsi sel beta pankreas normal

tinggal 50%.

Pada DM tipe 2 sel beta pankreas yang terpajan dengan

hiperglikemia akan memproduksi reactive oxygen species

(ROS). Peningkatan ROS yang berlebihan akan menyebabkan

kerusakan sel beta pankreas. Hiperglikemia kronik merupakan

keadaan yang dapat menyebabkan berkurangnya sintesis dan

sekresi insulin di satu sisi dan merusal sel beta secara gradual.

3) Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan memegang peran penting dalam

terjadinya penyakit DM tipe 2. Faktor lingkungan tersebut

adalah adanya obesitas, banyak makan, dan kurangnya aktivitas

fisik. Peningkatan berat badan adalah faktor risiko terjadinya

DM tipe 2. Walaupun demikian sebagian besar populasi yang

mengalami obesitas tidak menderita DM tipe 2.

14
e. Manifestasi Klinis

Menurut IDF, (2017) manifestasi klinis pada pasien DM tipe 2

antara lain :

1) Sering haus dan mulut terasa kering

2) Sering buang air kecil

3) Kurang berenergi dan kelelahan yang berlebihan

4) Kesemutan atau mati rasa di tangan dan kaki

5) Infeksi jamur yang berulang di kulit

6) Lambatnya penyembuhan luka

7) Penglihatan yang kabur

Menurut Kemenkes, (2014) gejala tambahan yang mungkin timbul

antara lain :

1) Berat badan menurun cepat tanpa penyebab yang jelas

2) Gatal didaerah kemaluan wanita

3) Keputihan pada wanita

4) Luka yang sulit sembuh

5) Bisul yang hilang timbul

6) Mudah mengantuk

7) Impotensi pada laki-laki

f. Penatalaksanaan

Menurut Perkeni, (2015) tujuan penatalaksanaan secara

umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes.

Tujuan penatalaksanaan jangka pendek adalah menghilangkan

15
keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko

komplikasi akut. Tujuan jangka panjang adalah mencegah dan

menghambat progesivitas penyulit mikroangiopati dan

makroangiopati. Tujuan akhir pengelolaan DM adalah turunnya

morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut

perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat

badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara

komprehensif.

Berikut penatalaksanaan DM menurut Perkeni (2015) :

1) Edukasi

Edukai merupakan upaya pencegahan dan pengelolaan DM

secara holistik. Materi edukasi yang diberikan meliputi materi

tentang perjalanan penyakit DM, pengendalian dan pemantauan

DM secara berkelanjutan, penyulit DM dan risikonya, intervensi

farmakologis dan non-farmakologis serta target pengobatan,

interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik dan obat

antihiperglikemi oral atau insulin, cara pemantauan glukosa

darah secara mandri, mengenal gejala awal dan penanganan

hipoglikemia, pentingnya latihan jasmani yang teratur, dan

pentingnya perawatan kaki.

2) Terapi Nutrisi Medis (TNM)

TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DM tipe

2 secara komprehensif. Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-

16
65% dari total asupan energi. Asupan lemak yang dianjrkan

sekitar 20-25% dari kebutuhan kalori dan tidak diperkenankan

melebihi 30% dari total asupan energi. Protein yang dianjurkan

sebesar 10-20% total asupan energi. Asupan garam yang

dianjurkan yaitu kurang dari 2300mg perhari. Asupan serat yang

dianjurkan adalah 20-35gram/hari dari berbagai sumber bahan

makanan. Jumlah kalori yang dinjurkan besarnya 25-

30kal/kgBB ideal yang dapat bertambah atau berkurang karena

dipengaruhi oleh pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut, dan

kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Jumlah

kandungan kolestrol kurang dari 300mg/hari.

3) Latihan Jasmani

Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan

secara teratur sebanyak3-5 kali perminggu selama sekitar 30-45

menit. Jeda antar latihan tidak lebih dari2 hari berturut-turut.

Latihan jasmani berguna untuk menjaga kebugaran, dapat

menurunkan bert badan, memperbaiki sensitivitas insulin,

sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan yang

dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik dengan

intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepea santai, jogging,

dan berenang. Intensitas latihan jasmani pada penyandang DM

yang relatif shat bisa ditingkatkan sedangkan pada penyandang

17
DM disertai komplikasi intensitas latihan perlu dikurangi dan

disesuaikan dengan masing-masing individu.

4) Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan

makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi

farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.

a) Golongan Sulfonilurea

Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan

sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Efek samping utama

adalah hipoglikemi dan peningkatan berat badan.

b) Glinid

Golongan ini memiliki cara kerja dengan penekanan pada

peningkatan sekresi insulin fase pertama. Obat ini diabsorpsi

secara cepat setelah pemberian secara oral dan di ekskresi

secara cepat melalui hati.

c) Biguanid

Golongan biguanid memiliki 3 jenis yaitu fenformin,

buformin, dan metformin. Metformin mempunyai efek

utama mengurangi produksi glukosa hati dan memperbaiki

ambilan glukosa dijaringan perifer. Dosis metformin

diturunkan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (GFR

30-60ml/menit/1,73m2).

18
d) Tiazolidindion (TZD)

Golongan ini memiliki efek menurunkan resistesi insulin

dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa,

sehingga meningkatkan ambilan glukosa di jaringan perifer.

e) Penghambat Alfa Glukosidase

Obat ini bekerja dengan memperlambat absorpsi glukosa

dalam usus halus, sehingga mempuyai efek menurunkan

kadar glukosa darah sesudah makan. Efek samping yang

mungkin terjadi adalah berupa bloating (penumpuan gas

dalam usus) sehingga sering menimbulkan flatus.

f) Insulin

Insulin termasuk dalam antihiperglikemia suntik. Insulin di

berikan pada pasien dengan keadaan HbA1c lebih dari 9%

dengan kondisi dekompensasi metabolik, hiperglikemia

berat yang dusertai ketosis, gagal dengan kombinasi obat

hipoglikemik oral (OHO) dosis optimal, ganguan fungsi

ginjal atau hati yang berat, kontraindikasi atau alergi

terhadap OHO.

Untuk mengendalikan penyakit diabetes mellitus

Kementerian Kesehatan membentuk pos pembinaan terpadu untuk

memudahkan akses warga melakukan deteksi dini penyakit diabetes.

Menteri kesehatan menghimbau masyarakat untuk melakukan aksi

CERDIK, yaitu dengan melakukan:

19
1) Cek kesehatan secara teratur untuk mengendalikan berat badan

agar tetap ideal dan tidak berisiko mudah sakit, periksa tensi

darah, gula darah, dan kolesterol secara teratur.

2) Enyahkan asap rokok dan jangan merokok.

3) Rajin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, seperti

berolahraga, berjalan kaki, membersihkan rumah. Upayakan

dilakukan dengan benar, baik, teratur, dan terukur.

4) Diet yang seimbang dengan mengkonsumsi makanan sehat dan

gizi seimbang,konsumsi buah sayur minimal 5 porsi per hari.

Sebisa mungkin menekan konsumsi gula hingga maksimal 4

sendok makan atau 50 gram per hari. Hindari makanan atau

minuman yang manis atau berkarbonasi.

5) Istirahat yang cukup.

6) Kelola strees dengan baik dan benar.

g. Faktor Risiko Diabetes Mellitus

Menurut Kemenkes RI, (2019) faktor risiko diabetes mellitus

dibagi menjadi dua yaitu faktor risiko yang tidak bisa diubah dan

faktor risiko yang bisa diubah.

1) Faktr Risiko Yang Tidak Bisa Diubah

a) Usia lebih dari sama dengan 40 tahun

b) Mempunyai riwayat keluarga penderita DM

c) Kehamilan dengan gula darah tinggi

20
d) Ibu dengan riwayat melahirkan bayi engan berat badan lahir

lebih dari 4 kg

e) Bayi yang memiliki berat badan lahir kurang dari 2,5 kg

2) Faktr Risiko Yang Bisa Diubah

a) Kegemukan ( IMT lebih dari 23 kg/m2) dan lingkar perut

laki-laki lebih dari 90 cm dan perempuan lebih dari 80 cm

b) Kurang aktivitas fisik

c) Hipertensi/ tekanan darah tinggi (lebih dari 140/90 mmHg)

d) Dislipidemia ( kolesterol HDL laki-laki kurang dari sama

dengan 35 mg/dl dan perempuan kurang dari sama dengan

45 mg/dl, trigliserida lebih dari sama dengan 250 mg/dl

e) Riwayat penyakit jantung

f) Diet tidak seimbang

g) Merokok atau terpapar asap rokok

h. Diagnosis Diabetes Mellitus

Diagnosis DM ditegakan atas dasar pemeriksaan glukosa darah.

Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan

glukosa darah secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena.

Penggunaan darah vena atau kapiler tetap dapat dipergunakan

dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang

berbedasesuai pembakuan dari WHO.

21
Menurut Decroli, E (2019) diagnosis DM dapat ditegakkan

melalui pemeriksaan darah vena dengan sistem enzimatik dengan

hasil :

1) Gejala klasik + GDP lebih dari sama dengan 126 mg/dl

2) Gejala klasik + GDS lebih dari sama dengan 200 mg/dl

3) Gejala klasik + GD 2 jam setelah TTGO lebih dari sama

dengan mg/dl

4) Tanpa gejala klasik + 2x pemeriksaan GDP lebih dari sama

dengan 126 mg/dl

5) Tanpa gejala klasik + 2x pemeriksaan GDS lebih dari sama

dengan 200 mg/dl

6) Tanpa gejala klasik + 2x pemeriksaan GD 2 jam setelah TTGO

lebih dari sama dengan 200 mg/dl

7) HbA1c lebih dari sama dengan 6,5%

2. Dukungan Keluarga

a. Pengertian Keluarga

Menurut Friedman (2014) keluarga adalah sekumpulan

orang yang bersama-sama bersatu dengan melakukan pendekatan

emosional dan mengidentifikasi dirinya sebagai sebagian dari

keluarga. Dukungan keluarga adalah suatu proses yang terjadi

sepanjang kehidupan, sifat dan jenis dukungan keluarga berbeda

dalam tahap siklus kehidupan. Dukungan keluarga dapat berupa

dukungan sosial internal maupun dukungan sosial eksternal.

22
b. Tipe Keluarga

Menurut Friedman (2014) tipe keluarga meliputi :

1) Keluarga Inti

Keluarga inti mrupakan transformasi demografi dan sosial yang

paling signifikan yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ayah

bekerja untuk mencari nafkah dan ibu sebagai pengurus umah

tangga.

2) Keluarga Adopsi

Keluarga adopsi adalah suatu cara untuk membentuk keluarga

dengan cara menyerahkan tanggung jawab orang tua kandung

kepada orang tua adopsi secara sah dan saling menguntungkan

satu sama [Link] adopsi dilakukan karena berbagai alasan

seperti pasangan tidak dapat memiliki keturunan tapi ingin

menjadi orang tuan sehingga mengadopsi anak dari pasangan

lain.

3) Keluarga Asuh

Keluarga asuh adalah suatu layanan yang diberikan untuk

mengasuh anaknya ketika keluarga kandung sibuk dan keluarga

asuh akan memberikan keamanan dan kenyamanan pada anak.

Anak yang diasuh oleh keluarga asuh umumnya memiliki

hubungan kekerabatan seperti kakek atau neneknya.

23
4) Keluarga Orang Tua Tiri

Keluarga orang tua tiri terjadi bila pasangan yang mengalami

perceraian dan menikah lagi. Anggota kelurga termask anak

harus melaukan penyesuaian diri dengan keluarga barunya.

c. Tugas Keluarga

Menurut Friedman (2014) terdapat 7 tugas pokok keluarga antara

lain :

1) Pemeliharaan fisik keluarga dan anggota keluarga

2) Pemeliharaan berbagai sumber daya yang ada dalam keluarga

3) Pembagian tugas anggota keluarga sesuai dengan kedudukan

masing-masing

4) Sosialisasi antar keluarga baik dari segipengetahuan maupun

kesehatan

5) Pengaturan jumlah anggota keluarga

6) Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga

7) Membangkitkan dorongan dan motivasi pada anggota keluarga

Tugas kesehatan keluarga antara lain :

1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggota keluarganya

2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan kesehatan

secara tepat

3) Memberikan perawatan pada anggota keluarganya yang sakit

dan yang tidak bisa membantu dirinya sendiri

24
4) Memodifikasi lingkungan dan mempertahankan suasana dirmah

yang menguntngkan kesehatan dan perkembangan kepribadian

anggota keluarga

5) Merujuk pada fasilitas kesehatan masyarakat yang terjangkau

dan bermanfaat bagi anggota keluarga yang sakit

d. Jenis-Jenis Dukungan Keluarga

1) Dukungan Informasional

Dukungan ini merupakan dukungan yang diberikan keluarga

kepada anggota keluarganya melalui penyebaran informasi.

Keluarga sebagai tempat dalam memberi semangat serta

pengawasan terhadap kegiatan harian misalnya pada pasien DM

yang harus melakukan kontrol rutin sehingga keluarga harus

senantiasa mengingatan klien untuk kontrol. Keluarga juga harus

memonitor dan mengingatkan agar pasien DM dapat teratur

dalam pemeriksaan kadar gula darah.

2) Dukungan Instrumental

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis

dan konkrit. Tujuan dukungan ini adalah meringankan beban

bagi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan

melalui bantuan fasilitas.

3) Dukungan Emosional Dan Harga Diri

Dukungan ini mencakup empati, kepedulian, dan perhatian

dari orang yang bersangkutan kepada anggota keluarga yang

25
mengalmi masalah kesehatan. Dukungan emosonal dan harga

diri juga dapat memberkan semangat dalam berperilaku

kesehatan, sebagai contohnya adalah dukungan yang dapat

diberikan pada pasien DM dalam menjalani pengobatan dan

rutin melakukan kontrol gula darah.

e. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kesehatan

Tiga aspek yang mempengaruhi dukungan keluarga terhadap

kesehatan secara langsung maupun tidak langsung, antara lain:

1) Aspek Perilaku

Dukungan keluarga dapat mempengaruhi perubahan perilaku

seseorang

2) Aspek Psikologis

Dukungan keluarga dapat meningkatkan dan membangun harga

dir seseorang dan meyediakan hubungan yang saling

memuaskan.

3) Aspek Fisiologis

Dukungan keluarga dapat membantu mengatasi respon fight or

flight dan dapat memperkuat sustem imun seseorang.

f. Manfaat Dukungan Keluarga

Manfaat dukungan keluarga terhadap kesehatan antara lain

adalah menurunnya mortalitas, lebih mudah sembuh dari sakit,

meningkatkan fungsi kognitif, fisik, dan psikologi. Selain itu

26
pengaruh positif dari dukungan keluarga adalah terdapat ada

penyesuaian terhadap kejadian kehidupan yang penuh dengan stress.

g. Peran Keluarga dalam Perawatan Pasien DM

Peran keluarga dalam perawatan DM sangat penting untuk

meminimalkan terjadinya komplikasi yang dapat muncul,

memperbaiki kadar gula darah seta meningkatkan kualitas hidup

pasien DM. Peran keluarga dibagi dalam berbagai aspek yaitu

penyuluhan, perencaaan makan, latihan jasmani, terapi farmakologi,

monitoring kadar gula darah serta perawatan kaki DM. Hal itu sangat

penting untuk mempertahankan, memotivasi, dan meningkatkan,

perannya dalam perawatan pasien DM.

3. Keteraturan Kontrol

a. Pengertian

Kontrol dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti

pemantauan, pengawasan, dan pengendalian. Pasien yang masih

dalam masa pengobatan perlu dipantau dan diawasi kembali

kesehatannya, seperti perkembangan dari terapi yang sudah dijalani

untuk mencapai target atau sasaran dari terapi tersebut.

Kontrol rutin adalah kepatuhan pasien dalam berobat,

dimana pengobatan tersebut sudah ditentukan oleh petugas layanan

kesehatan. Teratur adalah kegiatan yang dilakukan secara rutin dan

berkelanjutan. Jadi dapat disimpulkan bahwa rutin kontrol adalah

kegiatan yang menjadi keharusan bagi setiap orang yang menderita

27
suatu penyakit terutama kontrol rutin setiap bulannya. Keteraturan

kontrol sangat penting dilakukan bagi pasien diabetes mellitus.

Tujuan dari keteraturan kontrol ini adalah untuk mendeteksi sejak

dini kemungkinan komplikasi yang dapat timbul. Menurut Perkeni

(2019) keteraturan kontrol glukosa darah merupakan deteksi dini

yang akan memberikan kesempatan untuk pengobatan dan

pencegahan komplikasi yang efektif sehingga konsentrasi glukosa

darah dapat selalu dikendalikan dengan baik. Dengan rutin kontrol

teratur diharapkan agar komplikasi dari diabetes mellitus dapat

dicegah atau dihambat. Pasien yang teratur kontrol ke pelayanan

kesehatan adalah pasien yang berobat ke layanan kesehatan

setidaknya satu kali dalam sebulan. Sedangkan kategori pasien tidak

teratur kontrol adalah pasien yang tidak melakukan pengobatan

selama 2 bulan terakhir (Permenkes RI, 2016). Perkeni menyatakan

bahwa 5 pilar pengendalian diabetes mellitus tipe 2 meliputi:

manajemen diri, manajemen jasmani, manajemen farmakologi,

edukasi, dan kontrol rutin atau monitoring kadar gula darah.

b. Manfaat

Menurut Perkeni, (2019) manfaat dari teratur kontrol gula darah

adalah :

1) Menjaga keselamatan penyandang diabetes

2) Membantu upaya perubahan gaya hidup

3) Membantu dalam pengambilan keputusan

28
4) Membantu menyesuaikan dosis insulin atau obat hipoglikemik

oral

c. Frekuensi Kontrol

Pasien diabetes mellitus pada umumnya dapat mengatur

jadwal kontrol rutin mereka. Kontrol secara rutin ke dokter perlu

dilakukan agar pasien diabetes mellitus mendapatkan informasi

tentang poin-poin pengobatan lain.

Pasien DM tipe 2 dianjurkan untuk melakukan kontrol gula

darah minimal 1 bulan sekali. Pasien DM dapat kontrol lagi ketika

obat yang diberikan dalam pengobatan sebelumnya sudah habis.

Periode awal pengobatan, pasien DM harus kontrol 1 sampai 3 bulan

hingga kadar gula darah mereka sudah terkontrol dan dalam keadaan

stabil. Selanjutnya, pasien DMM dapat melakukan kontrol selama 4

sampai 6 bulan sekali. Apabila kadar gula darah masih tinggi dan

tidak terkontrol serta timbul komplikasi yang semakin memburuk,

maka pasien DM harus sering kontrol ke dokter. Frekuensi kontrol

juga dapat ditentukan melalui kesepakatan dan diskusi antara pasien

DM dengan dokter atau petugas kesehatan (Perkeni, 2019).

Selain rutin kontrol, pasien DM harus memeriksakan diri

setiap setahun sekali untuk melakukan pemeriksaan secara

menyeluruh terutama untuk mengetahui lebih lanjut fungsi ginjal,

ada tidaknya penyempitan pembuluh darah pada jantung, gangguan

fungsi syaraf serta kondisi retina pasien DM.

29
d. Faktor yang Mempengaruhi Keteraturan Kontrol

Menurut Elmita, (2019) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

keteraturan kontrol pada pasien DM antara lain :

1) Tingkat Pendidikan

Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan

tingkah laku. Dengan pendidikan yang tinggi biasanya seseorang

memiliki banyak pengetahuan tentang kesehatan. Oleh karena

itu, seseorang diharapkan dapat berperilaku sehat seperti

mencegah dirinya terkena suatu penyakit (Rismayanti etc, 2016)

2) Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi keteraturan kontrol kadar gula darah. Dukungan

keluarga merupakan indikator yang kuat yang dapat

memberikan suatu dampak positif terhadap peraawatan diri pada

pasien DM. Semakin tinggi nilai dukungan keluarga semakin

tinggi nilai kualitas hidup pasien DM (Priharianto, 2014).

Keluarga merupakan bagian dari pasien yang paling dekat.

Pasien akan merasa senang dan nyaman apabila mendapat

peratian dan dukungan dai keluarganya. Dengan dukungan

tersebut akan menimblkan kepercayaan dirinya untuk

menghadapi dan mengelola penyakit dengan baik, serta pasien

mau menuruti saran-saran yang diberikan oleh keluarga untuk

penunjang pengelolaan penyakitnya. Dukungan dari keluarga

30
(dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan

emosional dan harga diri) dengan kualitas hidup mennjukkan

semakin tinggi nilai dukungan keluarga semakin tinggi nilai

kualitas hidup pasien DM. Keluarga memiliki peranan penting

dalam mendukung manajemen DM. Rendahnya konflik,

hubungan baik antara anggota keluarga serta komunikasi yang

baik berperan dalam meningkatkan kepatuhan dan keteraturan

kontrol gula darah pasien DM. Terlebih dukungan dari pasangan

juga berpengaruh terhadap manajemen diabetes mellitus.

3) Faktor Edukasi

Faktor edukasi berpengaruh terhadap perilaku dan sikap dari

pasien DM. Edukasi DM adalah pelatihan atau pedidikan

mengenai diabetes untuk menambah informasi dan kemampuan

pasien DM dalam menangani penyakitnya. Hal tersebut

memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman para pasien

DM terhadap penyakit yang dideritanya, yang mana perilaku

tersebut dilakukan untuk mencapai kondisi tubuh yang sehat

yang dapat menyesuaikan dengan kondisi psikisnya serta dapat

meningkatlan kualitas hidup pasien DM. Pasien DM yang

mendapat edukasi yang baik dari tenaga kesehatan akan

berdampak positif terhadap dirinya. Pasien tersebut akan rutin

memeriksakan kadar gula darahnya secara teratur. Pasien DM

perlu mendapatkan informasi minimal yang diberikan setelah

31
diagnosis DM ditegakkan mencakup pengetahuan dasar tentang

DM, pemantauan secara mandiri, penyebab kadar glukosa darah

tinggi, obat hipoglikemi oral, perencanaan diet, perawatan,

kegiatan jasmani, tanda hipoglikemi, dan komplikasi. Pasien

DM yang telah mempunyai pengetahuan cukup tentang DM,

kemudian selanjutnya mengubah perilakunya sehingga dapat

mengendalikan kondisi penyakitnya dan dapat meningkatkan

kualitas hidup pasien DM.

4) Faktor Ekonomi

Pasien DM dengan ekonomi rendah dapat memanfaatkan kartu

jaminan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah untuk

mengontrolkan kadar gula darahnya. Dengan fasilitas berupa

kartu jaminan tersebut akan membantu meringankan biaya

kesehatan bagi pasien DM dengan ekoomi rendah. Sebaliknya

untuk pasien DM dengan tingkat ekonomi mampu melakukan

upaya mengontrolkan kesehatannya dengan pemeriksaan

kesehatan secara rutin.

5) Akses Terhadap Pelayanan Kesehatan

Akses yang cukup dekat dengan fasilitas kesehatan akan

membuat pasien DM melakukan pemantauan gula darah. Waktu

dan jarak tempuh juga merupakan faktor yang mempengaruhi

keteraturan kontrol gula darah. Pasien yang DM yang

mempunyai tempat tinggal lebih dekat dengan fasilitas

32
kesehatan tentunya lebih muah untuk mengakses pelayanan

kesehatan.

33
B. Kerangka Teori

1. Kelainan sel beta


pankreas
2. Faktor lingkungan
3. Gangguan sistem DM
imunitas
4. Kelainan insulin
5. Pola hidup tidak
Penatalaksanaan :
sehat
1. Edukasi
2. Terapi nutrisi
3. Latihan jasmani
4. Terapi farmakologis

Dukungan keluarga :
1. Dukungan 1. Faktor pendidikan
Pemeriksaan
informasional 2. Faktor edukasi
kadar gula darah
2. Dukungan 3. Faktor ekonomi
secara teratur
instrumental 4. Akses terhadap
3. Dukungan pelayanan
emosional dan kesehatan
harga diri

Meningkatkan kualitas
hidup pasien DM

[Link]
Gambar KerangkaTeori
Teori1
Gambar 1. Kerangka Teori

Sumber : Riyadi (2011), Friedman (2014), Perkeni (2015), Rismayanti etc

(2016), Perkeni (2019), Elmita (2019), dan Decroli (2019)Kerangka Konsep

34
C. Kerangka Konsep

Dukungan keluarga :
1. Dukungan
informasional
2. Dukungan Teratur
instrumental Keteraturan
3. Dukungan Kontrol Gula
emosional dan Darah
harga diri
Tidak
teratur

1. Faktor pendidikan
2. Faktor edukasi
3. Faktor ekonomi
4. Akses terhadap pelayanan kesehatan

Gambar 2. Kerangka Konsep

Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti

35
A. Hipotesis

Hipotesis yang diharapkan peneliti dari penelitian ini adalah:

H1 : Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan keteraturan kontrol

glukosa darah pada pasien DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Bantul I

36

Anda mungkin juga menyukai